Perpustakaan UIN IB
1.43K subscribers
83 photos
10 videos
82 files
167 links
Nomor Pokok Perpustakaan : 1371092D0000002
Download Telegram
_"Allah Subhanahuwata'ala memberi kita rasa takut agar dengan itu kita menjaga kehidupan; bukan untuk menghancurkan dan merusak kehidupan. Dia tidak memberi kita rasa takut agar hidup kita menderita dan susah."_

Said Nursi, Al-Maktubat, hlm. 696
*Musuh Hakiki*

*Prinsip Ketiga:* Jika engkau menginginkan permusuhan, musuhilah rasa permusuhan yang ada di hatimu. Berjuanglah untuk memadamkan api permusuhan itu dan cabutlah hingga akar-akarnya. Berusahalah memusuhi musuh yang paling tangguh dan paling berbahaya bagimu, yaitu hawa nafsu yang ada di dalam dirimu. Perangilah keinginan hawa nafsu dan berusahalah memperbaikinya; jangan malah engkau memusuhi orang-orang mukmin karena dorongan hawa nafsu itu. Jika engkau masih menginginkan permusuhan, musuhilah orang-orang kafir dan zindik. Jumlah mereka sangat banyak. Ketahuilah bahwa tabiat cinta adalah layak untuk dicintai, sebagaimana sifat permusuhan pantas dimusuhi sebelum yang lainnya.

Jika engkau ingin mengalahkan musuhmu, balaslah perbuatan buruknya dengan kebaikan. Dengan itu, api permusuhan bisa padam. Sebaliknya, jika engkau membalas keburukannya dengan keburukan yang serupa, permusuhan di antara kalian akan bertambah kuat. Seandainya engkau secara lahiriah berhasil mengalahkan musuhmu dengan perbuatan buruk yang serupa, hatinya akan dipenuhi kebencian terhadapmu sehingga permusuhan akan terus berlanjut. Sementara itu, membalasnya dengan kebaikan akan membuatnya menyesal dan bisa pula ia menjadi sahabat karibmu. Sebab, pada dasarnya tabiat seorang mukmin adalah mulia.

Jika engkau memuliakannya, ia akan tunduk kepadamu dan menjadi saudaramu. Bahkan seandainya ia hina secara lahiriah, ia tetaplah mulia dilihat dari sisi keimanannya. Seorang penyair mengatakan:
وإذا أنت أكرمت الكريمة ملكته
وإن أنت أكرمت اللئيم تمردا.
_Jika engkau memuliakan orang mulia, ia akan tunduk; Jika engkau memuliakan orang hina, ia akan memberontak._

Ya, kenyataan membuktikan bahwa ketika engkau berkata kepada orang jahat, “Engkau orang baik,” sering kali itu akan medorongnya menjadi baik. Sebaliknya, jika engkau mengatakan kepada orang baik, “Kamu orang jahat,” mungkin saja itu membuatnya menjadi jahat. Oleh karena itu, pasanglah telinga terhadap prinsip-prinsip suci al-Qur’an berikut ini:
وإذا مروا باللغو مروا كراما (٧٢)
_“Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan yang tidak berguna, mereka berlalu dengan menjaga kehormatannya.” (QS. al-Furqân [25]: 72)._
وإن تعفوا وتصفحوا وتغفروا فإن الله غفور رحيم (١٤)
_“Dan jika kalian memaafkan, bersikap lapang, serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Taghâbun [64]: 14)._ Dengan mengikuti prinsip al-Qur’an di atas dan yang lain nya, kesuksesan dan kebahagiaan akan tercapai.

Badiuzzaman Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 445-446
*Dengki: Dampak Dan Obatnya*

*Prinsip Keempat:* Orang yang hatinya dipenuhi dengan kedengkian dan permusuhan terhadap sesama mukmin, selain menzalimi saudaranya seiman, sesungguhnya ia sedang menzalimi dirinya sendiri. Lebih dari itu, ia melampaui batas kasih sayang Ilahi. Sebab, dengan kedengkian dan permusuhan tersebut, ia menjatuhkan diri ke dalam penderitaan yang pedih, dan penderitaan itu bertambah pedih bila melihat musuhnya mendapatkan kenikmatan; ia pun tersiksa akibat rasa takut terhadap sang musuh.

Jika permusuhan itu muncul akibat kedengkian, balasannya adalah siksa yang pedih. Sebab, kedengkian membuat si pendengki lebih sakit daripada yang didengki. Kedengkian dapat membakar pelakunya dengan kobaran apinya, sementara orang yang didengki tidak dirugikan atau hanya menderita sedikit kerugian.

Obat kedengkian adalah si pendengki harus merenungkan akibat dari kedengkiannya dan hendaknya ia menyadari bahwa kekayaan, kekuatan, kedudukan, dan hal-hal duniawi yang dinikmati orang yang didengkinya hanya bersifat sementara dan fana; manfaatnya pun sedikit, namun tantangannya besar. Adapun jika kedengkian timbul akibat faktor-faktor yang bersifat ukhrawi, sebenarnya itu bukanlah suatu kedengkian. Kalaupun ada perasaan dengki yang timbul pada hal-hal yang bersifat ukhrawi, bisa jadi si pendengki termasuk orang yang berlaku riya, di mana hal itu akan menghapus amal ukhrawinya di du nia. Atau, si pendengki berprasangka buruk terhadap orang yang didengkinya sehingga ia menzaliminya.

Kemudian, orang yang mendengki sebenarnya tidak rela terhadap takdir dan rahmat Allah. Sebab, ia merasa kecewa atas karunia-Nya terhadap orang yang didengkinya dan merasa senang atas malapetaka yang menimpanya. Artinya, ia seakan-akan mengkritik takdir dan rahmat Allah. Sebagaimana diketahui bahwa barangsiapa mengkritik takdir Allah, ia laksana orang yang menanduk gunung; dan barangsiapa memprotes rahmat dan karunia Ilahi, ia akan terhalang darinya.

Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 446-447
*Hindarilah Sikap Permusuhan*

Jika engkau benar-benar mencintai dirimu, jangan berikan peluang bagi sifat permusuhan dan dendam yang sangat berbahaya bagi kehidupan pribadi untuk merasuk ke dalam hatimu. Kalaupun keduanya sudah terlanjur masuk dan telah bersemayam di dalamnya, hendaknya engkau mengabaikan keduanya. Renungkanlah ucapan al-Hâfizh Syirazî, sosok yang memilik basirah yang mampu menembus kedalaman hakikat, berikut ini:
دنيا نه متاعيستى كه أرزد بنزاعى
_Sesungguhnya dunia beserta isinya bukanlah barang berharga yang pantas diperselisihkan._

Jika dunia yang besar beserta isinya saja tidak bernilai seperti itu, apalagi dengan hal-hal kecil lainnya. Renungkan pula perkataan beliau:
آسايش دو كيتى تفسير اين دو حرفست
بادويتان مروت با دشمنان مدارا
_Kedamaian dan keselamatan di kedua alam bergantung pada dua hal:_
_Keluhuran budi terhadap kawan, serta perlakuan bijak terhadap lawan._

Barangkali engkau akan mengatakan, “Hal itu di luar kemampuanku. Sebab, rasa permusuhan telah terlanjur tertanam dalam fitrahku. Aku tidak punya pilihan lain. Di samping itu, mereka telah melukai perasaanku dan menyakitiku sehingga aku tidak bisa memaafkan mereka.” Jawabannya: Jika akhlak buruk tidak terwujud dalam bentuk perbuatan dan tidak menjadi dasar sebuah tindakan seperti gibah misalnya, serta pelakunya menyadari kesalahannya itu, maka hal itu tidak membahayakan. Selama engkau tidak memiliki pilihan lain dalam hal tersebut, dan engkau tidak bisa mengelak dari permusuhan tadi, maka kesadaran dalam hal menyadari kekurangan dan kesalahan itu akan membebaskanmu―dengan izin Allah―dari akibat buruk permusuhan yang tertanam dalam dirimu. Sebab, hal itu dianggap sebagai penyesalan yang tersirat, taubat yang tersembunyi, dan istigfar maknawi.

Pembahasan ini kami tulis memang untuk memperoleh istigfar yang bersifat maknawi ini sehingga orang mukmin tidak menganggap kebatilan sebagai kebenaran, serta tidak memperlihatkan kebatilan lawannya yang sebenarnya berada di pihak yang benar.

Aku pernah mengalami suatu kasus yang pantas untuk direnungkan. Suatu hari, aku melihat seorang ilmuwan mengkritik seorang ulama, sampai-sampai ia berani mengafirkannya. Kritiknya itu disebabkan adanya perselisihan di antara keduanya dalam persoalan politik. Namun, pada waktu yang sama, ilmuwan tersebut memuji seorang munafik yang memiliki kesamaan pandangan politik dengannya. Peristiwa ini benar-benar menggoncangku. Lalu aku katakan:
أعوذ بالله من الشيطان والسياسة.
_Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan dan fitnah politik._ Sejak saat itu, aku menarik diri dari kancah politik.

Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 448-450
*Permusuhan Dan Perpecahan Membahayakan Kehidupan Sosial*

*Aspek Kelima:*

Barangkali ada yang mengatakan bahwa ada hadis yang menyatakan bahwa perbedaan pendapat di antara umat Islam adalah rahmat. Hadis itu berbunyi:
اِخْتِلَافُ اُمَّت۪ى رَحْمَةٌ
_Perbedaan (pendapat) di antara umatku adalah rahmat._
(1) Bukankah perbedaan pendapat itu akan menimbulkan perpecahan, sikap partisan, dan munculnya banyak pendapat?!
(2) Di sisi lain, perbedaan ini bisa menyelamatkan kaum awam dari kezaliman kaum elit yang zalim. Jika kaum elit dari sebuah desa atau kota bersatu, mereka akan menindas kaum awam. Namun, jika terjadi perpecahan di antara kaum elit itu, orang awam yang terzalimi bisa berlindung kepada salah satu pihak.

Sebagai jawaban atas pertanyaan pertama, kami ingin menegaskan bahwa perbedaan yang disebutkan dalam hadis adalah perbedaan yang bersifat positif dan membangun. Artinya, tiap-tiap pihak berusaha membenahi dan mempromosikan manhaj dan pendapatnya, tanpa berupaya menjatuhkan dan menolak manhaj orang lain. Setiap pihak pun berupaya menyempurnakan dan melakukan perbaikan terhadap manhaj pihak lain. Adapun perbedaan yang negatif adalah upaya untuk menghancurkan pihak lain dengan sikap partisan dan permusuhan. Bentuk perselisihan ini ditolak oleh hadis tersebut. Pasalnya, pihak-pihak yang terlibat dalam konflik tidak sanggup melakukan suatu hal yang positif dan membangun.

Sebagai jawaban atas pertanyaan kedua, kami katakan bahwa jika sikap partisan dilakukan atas nama kebenaran, ini bisa menjadi tempat perlindungan bagi orang yang mencari haknya. Namun, pada zaman sekarang ini, sikap partisan hanya terjadi karena motif-motif pribadi dan atas nama nafsu ammârah sehingga menjadi tempat perlindungan bagi orang-orang yang tidak adil, bahkan menjadi sandaran bagi mereka. Seandainya setan mendatangi salah satu pihak yang berbeda pendapat, lalu ia mendukung dan sepakat dengan pendapat pihak tersebut, niscaya pihak tersebut akan memuji dan mendoakannya. Namun sebaliknya, jika pada pihak yang berseberangan dengannya terdapat sosok yang seperti malaikat, pihak tersebut akan melaknat dan menyudutkannya.

Badiuzzaman Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 450-451
*Cinta Dan Benci Karena Allah*

(3) Selanjutnya, hakikat kebenaran akan tampak jelas dengan adanya adu pemikiran dan perbedaan pendapat.

Adapun jawaban atas pertanyaan ketiga, beradunya pemikiran dan tukar pandangan demi kebenaran dan untuk mencapai hakikat dapat terwujud jika perbedaannya terletak dalam hal sarana, sementara asas dan tujuan-tujuannya sama. Perbedaan ini mampu memberikan sumbangsih besar dalam menyingkap kebenaran dan menguak berbagai sisinya dengan jelas.

Namun, jika tukar pikiran dilakukan demi motif-motif pribadi dan untuk bertindak sewenang-wenang, menyombongkan diri, memenuhi keinginan nafsu yang lalim, serta mengejar ketenaran dan popularitas, maka sinar kebenaran tidak akan berkilau dalam tukar pikiran seperti ini. Justru yang lahir hanyalah api fitnah. Seharusnya mereka bersatu dalam tujuan, namun karena bukan atas nama kebenaran, maka pemikiran mereka tidak menemukan titik temu di dunia ini, sehingga muncullah sikap melampaui batas dan lahirlah sejumlah perpecahan yang tidak bisa diatasi. Kondisi dunia saat ini menjadi buktinya.

Kesimpulannya, jika tindakan dan perilaku seorang mukmin
tidak sejalan dengan prinsip-prinsip mulia yang digariskan oleh hadis Nabi, yaitu:
اَلْحُبُّ في اللّٰهِ، وَالْبُغْضُ فِى اللّٰهِ
_“Cinta karena Allah dan benci karena Allah,”_. serta menyerahkan semua urusan kepada Allah, maka kemunafikan dan perpecahan akan terus mendominasi. Ya, siapa pun yang tidak menjadikan prinsip-prinsip dasar tersebut sebagai pedoman, ia justru akan melakukan kezaliman meskipun sedang mendambakan keadilan.

Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 451
*Peristiwa Yang Penuh Ibrah*

Dalam suatu peperangan, Imam Ali _radiallahu anhu_ terlibat perang tanding dengan salah seorang jawara kaum musyrik. Ia berhasil mengungguli dan menjatuhkan lawannya. Ketika Imam Ali ra hendak membunuhnya, ia meludahi wajah Imam Ali ra. Akhirnya, Imam Ali ra membebaskan dan meninggalkannya. Orang musyrik itu pun memandang aneh sikap Imam Ali ra dan bertanya, “Mengapa engkau tidak membunuhku?” Imam Ali menjawab, “Awalnya, aku ingin membunuhmu karena Allah. Namun, ketika engkau meludahiku, aku pun marah. Karena pengaruh nafsu telah menodai keikhlasanku, aku pun tidak jadi membunuhmu.”

“Semestinya kelakuanku lebih memancing kemarahanmu sehingga engkau segera membunuhku. Jika agamamu begitu suci dan tulus, sudah pasti ia adalah agama yang benar,” ujar orang musyrik itu.

Dalam peristiwa yang lain, seorang penguasa yang adil memecat seorang hakim ketika melihatnya marah saat melakukan eksekusi potong tangan terhadap pencuri. Jika hakim itu memotong tangan pencuri demi tegaknya syariat dan hukum Ilahi, maka ia seharusnya menunjukkan rasa kasihan terhadapnya dan memotong tangannya tanpa menunjukkan kemarahan dan kasih sayang. Karena nafsu mempunyai andil dalam keputusan tersebut, sementara nafsu menafikan kemurnian keadilan, sang hakim pun dicopot dari jabatannya.

Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 452
*Penyakit Dan Kondisi Sosial Umat Islam Yang Memilukan*

Suku paling primitif pun bisa mengerti kondisi bahaya yang mengancam sehingga mereka melupakan konflik internal mereka dan menggalang persatuan untuk menghadapi serangan musuh dari luar. Jika mereka yang primitif saja bisa mewujudkan kemaslahatan sosial, mengapa mereka yang mengemban misi pengabdian dan dakwah Islam tidak dapat melupakan permusuhan sepele di antara mereka sehingga membuka jalan bagi musuh yang tak terhitung jumlah nya untuk menyerang umat Islam?! Padahal musuh telah menyatukan barisan dan mengepung umat Islam dari segala penjuru. Kondisi ini tentu sebuah kemunduran yang mencemaskan, kemerosotan yang memilukan, dan penghianatan terhadap kehidupan sosial umat Islam.

Berkaitan dengan kondisi tersebut, akan kukisahkan sebuah cerita yang mengandung pelajaran.

Terdapat dua marga dari suku Hasnan yang menyimpan rasa permusuhan hingga memakan korban lebih dari lima puluh orang. Akan tetapi, bila ancaman dari luar datang, yaitu dari suku Sabkan atau Haydaran, kedua marga tersebut bahu-membahu secara total dan melupakan permusuhan di antara mereka guna memukul mundur serangan musuh dari luar tersebut. Wahai orang-orang yang beriman! Tahukah kalian berapa banyak kelompok musuh yang siap menyerang kaum mukmin?! Terdapat lebih dari seratus kelompok yang mengepung Islam dan umat Islam, seperti rangkaian lingkaran yang saling bertautan. Namun, ketika kaum muslim seharusnya bahu-membahu untuk membendung serangan dari pihak musuh, setiap kelompok dalam umat Islam hanya mementingkan kepentingan kelompoknya, seakan-akan membuka jalan bagi terbukanya semua pintu untuk para musuh sehingga dapat menembus pertahanan Islam. Apakah hal ini pantas bagi umat Islam?

Jika kalian ingin menghitung lingkaran musuh yang mengepung Islam, mereka adalah kaum sesat, kaum ateis, hingga dunia kaum kafir, bencana, dan kondisi dunia yang tidak stabil. Semuanya menjadi lingkaran yang saling bertautan dan membentuk tujuh puluh lingkaran. Semuanya hendak mencelakakan kalian dan ingin membalas dendam atas kalian.

Untuk menghadapi musuh-musuh bebuyutan tersebut, kalian hanya memiliki satu senjata yang ampuh, satu parit pertahanan yang tepercaya, dan satu benteng yang kokoh, yaitu ukhuwah Islamiyah, persaudaraan antar-umat Islam. Jadi, sadarlah dan ketahuilah, wahai umat Islam, bahwa mengguncang benteng Islam dengan permusuhan dan alasan-alasan yang sepele sangat bertolak belakang dengan hati nurani dan kemaslahatan umat Islam secara keseluruhan.

Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 452-454.
*Urgensi _Ukhuwah Islamiyah_ Dalam Kehidupan Sosial*

Disebutkan dalam beberapa hadis Nabi bahwa orang-orang seperti Dajjal dan Sufyani, yang memimpin orang-orang zindik dan kaum ateis pada akhir zaman, memanfaatkan perselisihan di antara kaum muslim dan umat manusia serta memanfaatkan ambisi duniawi mereka sehingga mereka mampu menghancurkan umat manusia hanya dengan sedikit kekuatan, menebarkan kekacauan, serta membelenggu umat Islam.

Wahai kaum mukmin! Jika kalian benar-benar menginginkan kehidupan yang mulia, dan menolak menjadi tawanan kehinaan, sadarlah dan kembalilah pada akal sehatmu. Masuklah ke dalam benteng suci ukhuwah Islamiyah yang diamanatkan firman Allah:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ اِخْوَةٌ ..... (١٠)
_“Sesungguhnya orang-orang yang beriman bersaudara.”_ (QS. al-Hujurât [49]: 10).

Bentengilah dirimu dengannya dari serangan kaum zalim yang memanfaatkan perselisihan internal di antara kalian. Jika tidak, kalian tidak akan sanggup membela hak-hak kalian dan melindungi kehidupan kalian. Sebab, sangat jelas bahwa seorang anak kecil dapat memukul jatuh dua pendekar yang sedang bertarung; sebuah kerikil pun dapat menaik-turunkan timbangan yang berisi dua gunung yang sepadan.

Wahai kaum mukmin! Kekuatanmu akan hilang akibat kepentingan pribadi, egoisme, dan sikap partisan. Kekuatan kecil pun sanggup membuat kalian mengalami kehinaan dan kehancuran. Jika kalian benar-benar mempunyai komitmen terhadap kehidupan sosial umat Islam, jadikanlah prinsip mulia berikut ini sebagai pedoman hidup:
اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ الْمَرْصُوصِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
_“Orang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, yang saling mendukung satu sama lain._

Dengan berpegang pada prinsip tersebut, engkau akan terbebas dari kehinaan dunia dan selamat dari kepedihan akhirat.

Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 454-455
*Rahmat Allah Merupakan Perantara Paling Agung Untuk Menggapai Keagungan-Nya*

*Rahasia Keenam:* Wahai manusia yang berkutat dalam kelemahan dan kepapaan, jika engkau ingin memahami rahmat Allah sebagai perantara yang paling agung dan pembela yang paling bisa diharapkan, maka ketahuilah bahwa rahmat tersebut merupakan perantara yang paling kuat untuk bisa sampai kepada Penguasa Yang Mahaagung, yang bintang dan atom secara bersama-sama tunduk kepada-Nya sebagai prajurit yang patuh dalam segenap keteraturan yang sempurna.

Penguasa Yang Agung dan Mulia tersebut adalah Pemelihara alam semesta yang tak pernah meminta bantuan seluruh makhluk-Nya. Dia adalah Mahakaya dan Mahamutlak yang sama sekali tidak pernah membutuhkan makhluk dan alam semesta dari aspek apa pun, di mana seluruh alam semesta di bawah perintah dan pengaturan-Nya, taat pada kebesaran dan keperkasaan-Nya, serta merendahkan diri pada keagungan-Nya.

Wahai manusia, rahmat tersebut bisa mengangkat derajatmu untuk sampai kepada Dzat Yang Kaya dan bisa membuatmu menjadi “kekasih” Sang Penguasa Abadi Yang Agung itu. Bahkan, ia bisa mengangkatmu menuju kedudukan hamba yang mendapat seruan-Nya yang agung serta menjadikanmu sebagai hamba yang dimuliakan dan dicintai oleh-Nya.

Akan tetapi, sebagaimana engkau tidak akan sampai ke matahari karena engkau jauh darinya, bahkan engkau takkan bisa mendekat kepadanya. Cahayanya hanya bisa memberikan tampilan dan gambaran matahari tersebut kepadamu lewat perantaraan cermin. Demikian pula, kita sangat jauh dari Dzat yang Mahasuci, Matahari azali dan Abadi, tidak bisa mendekati-Nya, tetapi cahaya rahmat Allah membuat Dia dekat kepada kita.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 212-213
*Manifestasi Nama _Ar-Rahmân_ Dalam Diri Manusia*

Dalam Hadis Nabi sebelumnya terdapat sebuah isyarat bahwa dalam diri manusia dan makhluk hidup lainnya ada berbagai tampilan yang menunjukkan sifat kasih sayang Allah, ia berposisi sebagai cermin yang menampakkan manifestasi Allah SWT. Posisi manusia sebagai bukti atas Allah SWT sangat jelas dan kuat, di mana kejelasan dan kekuatannya menyerupai cermin yang memantulkan bayangan matahari.

Sebagaimana cermin tadi bisa disebut matahari sebagai isyarat bahwa ia sangat terang dan betul-betul menunjukkan keberadaan matahari, demikian pula kita bisa mengatakan— seperti yang telah disebutkan oleh Hadis Nabi sebelumnya —bahwa dalam diri manusia terdapat gambaran _ar-Rahmân_. Hal itu sebagai isyarat bahwa manusia benar-benar menunjukkan nama _ar-Rahmân_, sangat sesuai dengan nama-Nya itu, serta mempunyai ikatan yang kuat dengan-Nya.

Atas dasar itulah kalangan moderat dari penganut paham _Wahdatul wujud_ berkata, _“Lâ Maujûda Illâ Huwa”_ (Yang ada hanyalah Dia) sebagai perlambang adanya kesesuaian yang sempurna.

Wahai Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dengan kebenaran _Bismillâhirrahmânirrahîm_, kasihi kami sesuai dengan sifat kasih-Mu. Beri kami pemahaman tentang berbagai rahasia _Bismillâhirrahmânirrahîm_ sesuai dengan sifat sayang-Mu.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 211-212
*Manifestasi Nama Ar-Rahmân Dalam Diri Manusia Dan Di Alam Semesta*

Semua kondisi Allah, seluruh sifat-Nya, serta semua nama-nama-Nya harus dilihat dengan kacamata perumpamaan dan alegori, sesuai dengan kandungan ayat yang berbunyi:
ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤﺜَﻞُ ﺍﻟﺎَﻋْﻠﻰ ﻓﻰِ ﺍﻟﺴَّﻤﻮﺍﺕِ ﻭَﺍﻟﺎﺭْﺽِ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰﻳﺰُ ﺍﻟﺤَﻜِﻴﻢُ
_“Dia memiliki perumpamaan yang paling tinggi di langit dan di bumi. Dia Mahamulia dan Mahabijaksana._ (QS. arRûm [30]: 27).

Artinya, perumpamaan dan alegori tersebut dipakai dalam memperhatikan segala kondisi-Nya. Nah, Hadis Nabi di atas memiliki maksud mulia yang sangat banyak. Di antaranya bahwa manusia tercipta dalam suatu bentuk yang menampakkan manifestasi nama _ar-Rahmân_ secara utuh. Pada rahasia-rahasia sebelumnya, kami telah menjelaskan bahwa sebagaimana nama _ar-Rahmân_ tampak dari pancaran tampilan seribu satu nama Allah yang ada pada wajah alam semesta.

Dan sebagaimana _ar-Rahmân_ terpampang dalam manifestasi _rubûbiyah_-Nya yang tak terhingga yang terdapat di muka bumi, maka demikian pula Allah SWT memperlihatkan hal itu pada manusia dalam skala yang lebih kecil. Sementara, yang Allah tampakkan di bumi dan di alam bentuknya lebih luas dan lebih besar.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 210-211
*Tidak Ada yang Serupa dengan Allah SWT*

*Rahasia Kelima:* Dalam sebuah riwayat disebutkan:
"إنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ على صُورةِ الرَّحْمَنِ"
_“Allah menciptakan Adam dalam bentuk ar-Rahmân (Dzat Yang Maha Pengasih).”_

Hadis ini oleh sebagian kalangan sufi ditafsirkan secara aneh, tidak sesuai dan tidak sejalan dengan kaidah-kaidah keimanan. Bahkan, sebagian orang yang sedang tenggelam dalam cinta kepada Tuhan, melihat wajah maknawi manusia dengan pandangan sebagai bentuk _ar-Rahmân_.

Ketika mereka yang tenggelam dalam cinta kepada Tuhan itu sedang berada dalam kondisi tidak sadar, maka ucapan-ucapan mereka yang berseberangan dengan hakikat yang ada bisa jadi dimaafkan. Tetapi, orang-orang yang sadar menolak dengan tegas makna-makna yang bertentangan dengan dasar-dasar keimanan tersebut. Jika ada seseorang yang menerimanya, berarti ia telah jatuh ke dalam lembah kesalahan dan berseberangan dengan kebenaran.

Ya, Dzat yang mengelola semua urusan alam dan mengatur semua persoalannya secara mudah seperti mengelola istana atau rumah; Dzat yang menggerakkan bintang-bintang dan benda-benda langit seperti menggerakkan atom dengan penuh hikmah dan sangat gampang; dan Dzat yang semua atom tunduk pada-Nya, bekerja sesuai perintah-Nya, dan patuh terhadap hukum-Nya; Dialah Allah SWT Yang Mahasuci!

Sebagaimana Dia suci dari segala bentuk kemusyrikan; tidak memiliki sekutu, lawan, dan padanan, Dia juga tidak memiliki bentuk, tidak ada yang mirip dengan-Nya, dan tidak ada yang menyerupai-Nya, sesuai dengan ayat al-Qur’an:
﴿ﻟﻴﺲ ﻛَﻤِﺜْﻠِﻪ ﺷﺊٌ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺴَّﻤﻴﻊُ ﺍﻟﺒَﺼﻴﺮُ﴾
_“Tidak ada yang serupa dengan-Nya, Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat”_ (QS. asy-Syurâ [42]: 11).

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 209-210
*Kunci Termulia Untuk Membuka Kekayaan Rahmat Ilahi*

*Kesimpulan:* Penjaga pintu kekayaan rahmat Ilahi dan sosok termulia yang menyerukannya adalah Rasul SAW. Sebagaimana kunci termulia untuk membuka kekayaan tersebut adalah kalimat Basmalah, _Bismillâhirrahmânirrahîm_, dan pembuka paling lembut adalah salawat atas Rasul SAW.

ﺍﻟﻠّٰﻬﻢ ﺑﺤﻖ ﺃﺳﺮﺍﺭ ﴿ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠّٰﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ﴾ ﺻﻞِّ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻣَﻦ ﺃﺭﺳﻠﺘﻪ ﺭﺣﻤﺔ ﻟﻠﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻛﻤﺎ ﻳﻠﻴﻖ ﺑﺮﺣﻤﺘﻚ ﻭﺑﺤﺮﻣﺘﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ، ﻭﺍﺭﺣﻤﻨﺎ ﺭﺣﻤﺔ ﺗﻐﻨﻴﻨﺎ ﺑﻬﺎ ﻋﻦ ﺭﺣﻤﺔ ﻣﻦ ﺳﻮﺍﻙ ﻣﻦ ﺧﻠﻘﻚ.. ﺁﻣﻴﻦ.
_Ya Allah, dengan kebenaran rahasia Bismillâhirrahmânirrahîm, limpahkanlah salawat atas sosok yang Engkau utus sebagai rahmat bagi alam semesta, sesuai dengan rahmat-Mu dan kemuliaannya; juga atas keluarga dan seluruh sahabatnya. Kasihilah kami dengan kasih yang membuat kami tak membutuhkan belas kasih selain-Mu. Amin._

﴿ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻟﺎَ ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَﺎ ﺍِﻟّﺎ ﻣﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜﻴﻢ﴾


Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 214-215
*Pendekatan Dakwah Risalah Nur*

Di sini dituliskan sebuah jawaban penting dari sebuah pertanyaan yang sangat urgen. Dalam pelajaran yang beliau sampaikan 40 tahun yang lalu, “Said Lama” menyebutkan lewat firasatnya berbagai pelajaran Risalah Nur yang luar biasa berikut pengaruhnya seolah-olah ia melihatnya secara langsung.

Banyak yang bertanya kepadaku dan kepada sejumlah saudaraku di mana mereka masih terus bertanya: “Mengapa Risalah Nur tidak terkalahkan dalam menghadapi gempuran banyak penentang, filsuf yang keras kepala, dan pengusung kesesatan? Padahal dalam batas tertentu, dengan sekuat tenaga, mereka telah berusaha menghalangi penyebaran jutaan buku Islam yang sangat bernilai; berusaha menjauhkan banyak orang, terutama kalangan pemuda baik-baik dari berbagai hakikat iman dengan cara memberikan sejumlah sarana kesesatan sekaligus melenakan mereka dengan kenikmatan duniawi.

Berupaya mematahkan kekuatan Risalah Nur lewat berbagai bentuk pengkhianatan, sejumlah serangan, beragam kebohongan, menyebarkan propaganda palsu, menakut-nakuti dan menghasut mereka agar menjauh darinya. Meskipun demikian, Risalah Nur tetap tersebar. Apa rahasia yang membuatnya bisa tersebar luas sehingga salinan yang sebagian besarnya hanya ditulis tangan mencapai 600 ribu salinan di mana ia tersebar secara sangat luas dan diterima oleh orang-orang dengan penuh antusias serta ditelaah, baik di dalam maupun di luar negeri dengan suka cita?

Jawaban atas banyak pertanyaan senada adalah sebagai berikut: Sesungguhnya Risalah Nur yang merupakan tafsir al-Qur’an al-Karim yang hakiki, lewat penjelasan kemukjizatan sejumlah maknanya yang agung, menerangkan bahwa dalam kesesatan terdapat neraka maknawi di dunia ini, sementara dalam iman terdapat surga maknawi.

Ia menjelaskan bahwa kemaksiatan, kerusakan, dan kesenangan yang terlarang berisi derita maknawi yang sangat pedih, sementara kebaikan, perbuatan terpuji, dan pengamalan sejumlah hakikat agama melahirkan berbagai kebahagiaan maknawi yang menyerupai kenikmatan surga. Dengan cara seperti itu, Risalah Nur menyelamatkan kaum fasik dan sesat yang masih memiliki akal dari kubangan kesesatan.

Badiuzzaman Said Nursi, *Khutbah Syamiyah*, hlm. 3-4
*Menyingkap Derita Dibalik Kenikmatan Dunia Yang Terlarang*

Pada zaman ini terdapat dua kondisi yang menakutkan:
*Pertama:* Kecenderungan dan perasaan buta manusia tidak melihat akibat dari perbuatan. Ia lebih memilih satu gram kesenangan duniawi daripada satu kuintal kenikmatan ukhrawi. Perasaan semacam ini sekarang telah mendominasi akal pikiran manusia. Oleh karena itu, jalan satu-satunya untuk menyelamatkan orang fasik dari kefasikannya adalah dengan menyingkap derita yang dirasakan pada kenikmatan itu sendiri seraya membantu untuk bisa mengalahkan perasaannya yang buta itu.

Sebab, pada masa ini meskipun manusia mengetahui berbagai kenikmatan akhirat yang berharga seperti intan permata, namun ia lebih memilih berbagai kenikmatan dunia yang rendah laksana serpihan kaca yang mudah pecah. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh ayat al-Qur’an:
{یَسۡتَحِبُّونَ ٱلۡحَیَوٰةَ ٱلدُّنۡیَا عَلَى ٱلۡـَٔاخِرَةِ . . .}
[سُورَةُ إِبۡرَاهِيمَ: ٣]
_“Mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat”._ (QS. Ibrahim [14]: 3).

Atas dasar itu dan karena sangat mencintai dunia, orang-orang beriman mengikuti kalangan sesat. Nah, jalan satu-satunya untuk menyelamatkan mereka dari bahaya tersebut adalah memperlihatkan derita dan siksa neraka di dunia. Itulah pendekatan yang digunakan oleh Risalah Nur. Kekufuran yang demikian hebat pada masa sekarang ini, berbagai kesesatan yang bersumber dari penyimpangan ilmu pengetahuan modern, dan sikap berpaling yang bersumber dari kefasikan yang terus-menerus menjadikan persentase orang yang mau mengambil pelajaran adalah satu berbanding sepuluh. Atau mungkin satu berbanding dua puluh.

Hal itu setelah ia diperkenalkan kepada Sang Pencipta, diberikan bukti keberadaan neraka jahanam serta diancam dengan siksanya agar mau menghindari keburukan dan kejahatan. Namun manusia berdalih, “Allah Maha Pengampun dan Maha penyayang. Neraka jahanam sangat jauh.” Setelah itu ia terus dalam permainan dan senda guraunya sehingga kalbunya kalah dan ruhnya runtuh menghadapi kungkungan syahwat.

Badiuzzaman Said Nursi, *Khutbah Syamiyah*, hlm. 4-6
*Transformasi Makna Dengan Pandangan Iman*

Risalah Nur menerangkan sejumlah akibat buruk dan pedih yang diakibatkan oleh kekufuran dan kesesatan di dunia ini dalam sebagian besar perbandingan yang dilakukan. Ia berusaha menjauhkan manusia yang paling mengikuti hawa nafsunya dan paling menentang, dari kubangan kenikmatan terlarang dan kefasikan mereka. Ia juga mendorong orang-orang yang memiliki akal untuk mengetuk pintu tobat dan meminta ampunan.

Misalnya sejumlah perbandingan sederhana yang terdapat dalam “Kalimat Keenam, Ketujuh, dan Kedelapan, serta perbandingan panjang yang terdapat dalam Mauqif Ketiga dari “Kalimat Ketiga Puluh Dua”. Semua perbandingan tersebut menggiring manusia yang paling fasik dan sesat untuk memiliki rasa takut serta untuk mau menerima petunjuk dan nasihat yang ada. Sebagai contoh, di sini kita akan menjelaskan secara singkat berbagai hakikat yang dilihat oleh Said lama saat melakukan perjalanan imajiner lewat perenungan terhadap ayat an-Nur. Penjelasan rincinya terdapat di bagian kelima dari Surat Kedua Puluh Sembilan dari buku al-Maktûbât. Anda bisa merujuk kepada bagian tersebut.

Kesimpulannya adalah sebagai berikut: Ketika melakukan perjalanan imajiner tersebut, aku melihat dunia hewan; dunia yang membutuhkan rezeki dan makanan. Ketika merenungkannya dari sisi filsafat materialisme, dunia hewan tadi memperlihatkan sebuah alam yang sangat menakutkan berikut kelemahan dan ketidakberdayaan yang terdapat di dalamnya, di samping rasa butuh dan laparnya yang amat sangat. Ketika melihatnya dengan pandangan kaum yang sesat dan lalai, aku melontarkan teriakan yang menyiratkan kepedihan dan kesedihan.

Tiba-tiba aku melihat alam tersebut dengan perspektif iman dan hikmah al-Qur’an. Seketika nama _ar-Rahman_ muncul dari gugusan bintang _ar-Razzaq_ laksana mentari yang sangat terang. Ia menyinari alam makhluk yang lapar dan malang itu dengan cahaya rahmatnya.

Badiuzzaman Said Nursi, *Khutbah Syamiyah*, hlm. 6-7
*Melihat Dengan Kacamata Iman*

Kemudian aku melihat alam lain dalam dunia hewan tersebut, yaitu alam anak-anak mereka yang masih kecil di mana tampak sangat lemah dan tak berdaya. Ia diliputi oleh kegelapan yang menyakitkan. Ia menyeru setiap manusia untuk memberikan perhatian dan kasih sayang padanya. Saat melihat dengan pandangan kaum yang sesat, aku berteriak dengan berkata, “Alangkah kasihannya!” Namun tiba-tiba keimanan memberiku sebuah kaca mata yang dengannya aku bisa melihat terbitnya nama _ar-Rahim_ dari gugusan bintang kasih sayang Tuhan.

Ia menebarkan cahayanya yang indah sehingga mengubah alam yang menyedihkan tadi menjadi alam yang menyenangkan. Ia juga mengubah keluh kesah dan kesedihan yang muncul dari mataku menjadi air mata kebahagiaan dan syukur kepada Tuhan. Lalu tampak pula bagiku dunia manusia yang laksana layar bioskop. Kutatap ia dengan pandangan kaum yang se­sat, aku melihatnya sebagai dunia yang gelap dan menakutkan. Akupun tak mampu menguasai diri sehingga melontarkan teriakan pilu dari relung hati yang paling dalam seraya berkata, “Sungguh celaka!”

Pasalnya, harapan dan angan-angan manusia yang terbentang abadi, imajinasi mereka yang meliputi alam, hasrat dan potensi fitri mereka yang merindukan keabadian, surga, dan kebahagiaan yang kekal, bakat alamiah yang tak terbatas dan rasa butuh mereka yang mengarah pada tujuan tak terbatas, serta kondisi mereka yang meskipun lemah harus menghadapi banyak serangan, musibah, dan musuh yang tak terkira.

Meskipun demikian, usia mereka amat singkat, kehidupan mereka dipenuhi dengan kerisauan, merasakan pahitnya penantian maut setiap hari, bahkan setiap saat, menghadapi kesulitan hidup dan pedihnya perpisahan yang menyakitkan hati dan melukai perasaan, di samping bahwa mereka melihat kubur dengan pandangan kaum yang lalai laksana pintu menuju kegelapan abadi; di mana mereka dilemparkan ke dalamnya satu persatu, kelompok demi kelompok.”

Badiuzzaman Said Nursi, *Khutbah Syamiyah*, hlm. 7-8
*Surga Dalam Iman dan Neraka Dalam Kesesatan*

Begitulah pada saat aku melihat alam manusia ini tenggelam dalam kegelapan semacam itu, seketika dari dalam relung hati, jiwa, dan akal, bahkan dengan seluruh perasaan dan partikel wujudku, aku nyaris menangis sambil berteriak. Tiba-tiba cahaya dan iman yang bersumber dari al-Qur’an menghancurkan pandangan sesat di atas. Ia memberikan kepada akalku sebuah penglihatan yang tajam sehingga aku bisa melihat asmaul husna. Ia laksana mentari yang terbit dari gugusan bintangnya.

Nama Allah _“al-Âdil”_ kulihat ia muncul dari gugusan bintang _“al-Hakîm”._ Nama _ar-Rahmân_ muncul dari gugusan bintang _“al-Karim”._ Nama _ar-Rahîm_ muncul dari gugusan bintang _“al-Ghafûr”._ Nama _al-Bâ’its_ muncul dari gugusan bintang _“al-Wârits”._ Nama _al-Muhyî_ muncul dari gugusan bintang _“al-Muhsin”._ Nama _ar-Rabb_ muncul dari gugusan bintang _“al-Mâlik”._ Dengan cahayanya yang terang, nama-nama tersebut menerangi berbagai alam yang sangat banyak dalam dunia manusia yang gelap. Ia mengubahnya menjadi alam yang bersinar terang.

Di samping itu, lewat jendela yang di­buka menuju alam akhirat, ia melenyapkan kondisi nerakanya. Ia menebarkan cahaya ke seluruh sisi alam manusia yang gelap. Ketika itulah aku berucap segala puji dan syukur bagi Allah sebanyak partikel alam. Dengan _ainul yaqin_ aku melihat dan dengan _ilmul yaqin_ aku mengetahui bahwa *dalam iman terdapat surga maknawi. Sebaliknya, dalam kesesatan terdapat neraka maknawi di dunia.*

Badiuzzaman Said Nursi, *Khutbah Syamiyah*, hlm. 8-9
*Manusia Diciptakan Untuk Menyempurnakan Diri Dengan Belajar Dan Berdoa*

Sementara itu, manusia tidak demikian. Ketika datang ke dunia, manusia dalam kondisi butuh belajar segala hal. Sebab, ia benar-benar tidak mengetahui tentang seluruh rambu-rambu kehidupan. Bisa jadi dalam dua puluh tahun sekalipun ia masih belum memahami seluk-beluk kehidupannya secara keseluruhan. Bahkan, bisa jadi ia butuh belajar sepanjang hidupnya. Apalagi ia dikirim ke dunia dalam kondisi sangat lemah di mana ia baru mampu berdiri tegak setelah berusia dua tahun. Ia juga baru bisa membedakan baik dan buruk setelah berumur lima belas tahun. Ia juga tidak dapat mewujudkan manfaat dan maslahat untuk dirinya serta tidak mampu menghindarkan bahaya kecuali dengan bekerjasama dan berasosiasi dalam kehidupan sosial umat manusia.

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa tugas alamiah manusia adalah menyempurnakan diri dengan “belajar”, yakni meningkatkan diri dengan jalan mencari ilmu dan pengetahuan, serta melaksanakan ubudiah dengan “doa”, yakni menyadari dan bertanya pada dirinya, “Lewat rahmat dan kasih sayang siapa diriku diatur dengan penuh
hikmah? Lewat kemurahan siapa aku tumbuh dengan berhias kasih sayang? Dengan kelembutan siapa aku mendapatkan nutrisi dalam bentuk demikian sempurna?” Ia melihat bahwa tugas sebenarnya ialah berdoa, bersimpuh, meminta, dan berharap lewat lisan kepapaan dan ketidakberdayaan kepada Sang Pemberi segala kebutuhan guna memenuhi semua pinta dan hajatnya yang tak mampu diraih oleh tangannya.

Hal ini berarti bahwa tugas utamanya adalah terbang dengan dua sayap “ketidakberdayaan dan kefakiran” menuju kedudukan ubudiah yang mulia. Jadi, manusia dihadirkan ke alam ini untuk menyempurnakan diri lewat pengetahuan dan doa. Sebab, segala sesuatu bergantung pada pengetahuan sesuai dengan esensi dan potensi yang ada. Landasan, sumber, cahaya, dan roh semua ilmu yang hakiki adalah makrifatullah (mengenal Allah) sebagaimana inti dari landasan tersebut adalah iman kepada Allah ٍٍٍSWT.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 13-14
*Kelemahan Dan Kefakiran Menjadi Sarana Mendekatkan Diri Kepada Allah*

Karena manusia akan menghadapi berbagai jenis ujian, musibah, dan serangan musuh yang jumlahnya tak terhingga sedang ia sama sekali tak berdaya. Ia juga memiliki banyak permintaan dan kebutuhan sementara kondisinya sangat papa, maka tugas fitrinya setelah beriman adalah berdoa. Doa merupakan inti ibadah. Sebagaimana anak kecil yang tak mampu mewujudkan atau merealisasikan keinginannya hanya bisa menangis dan meratap, yakni meminta dengan lisan kelemahannya entah dalam bentuk ucapan ataupun perbuatan hingga maksudnya tercapai.

Demikian pula dengan manusia yang merupakan makhluk hidup paling halus, paling lemah, dan paling fakir. Ia laksana anak kecil yang lemah. Karena itu, ia harus berlindung di haribaan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta bersimpuh di hadapan-Nya entah dengan menangis seraya menunjukkan kelemahannya, atau berdoa lewat kefakirannya hingga keinginannya terpenuhi. Ketika itulah, ia menunaikan syukur atas pertolongan, pengabulan, dan penundukan Tuhan.

Namun jika manusia berkata dengan angkuh seperti anak kecil yang dungu, “Aku mampu menundukkan segalanya dan mengendalikannya dengan pemikiran dan pengaturanku,” padahal hal itu jauh diluar batas kemampuannya, maka semua itu tidak lain merupakan sikap kufur terhadap nikmat Allah, pembangkangan besar yang bertentangan dengan fitrahnya, serta menjadi sebab yang menjadikannya layak mendapat siksa.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 14-15