*Hidup Hemat dan Tidak berlebihan*
Ayat al-Qur’an yang berbunyi:
وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ
_"Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan"_ (QS. Al-A'raf [7] :31)
ditafsirkan oleh Ibnu Sina, Platonya kaum muslimin, rujukan para dokter, dan guru besar filsafat, dari sudut pandang kedokteran, lewat bait-bait di bawah ini:
﴿ﺟَﻤَﻌْﺖُ ﺍﻟﻄِّﺐَّ ﻓِﻲ ﺑَﻴْﺘَـﻴْﻦِ ﺟَﻤْﻌًﺎﻭَﺣُﺴْﻦُ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِ ﻓِﻰ ﻗِﺼَﺮِ ﺍﻟْﻜَﻠَﺎﻡِ﴾
﴿ﻓَﻘَﻠِّﻞْ ﺇﻥْ ﺃﻛَﻠْﺖَ ﻭَﺑَـــــﻌْــــﺪَ ﺃﻛْﻠٍﺘَﺠَﻨَّﺐْ ﻭَﺍﻟﺸِّــﻔَـﺎﺀُ ﻓِﻰ ﺍْﻟﺎِﻧْﻬِﻀَــﺎﻡِ﴾
﴿ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨُّﻔُﻮﺱِ ﺃﺷَﺪُّ ﺣَﺎﻟًﺎ ﻣِﻦْ ﺍﺩْﺧَﺎﻝِ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ.﴾
_"Kukumpulkan inti pengobatan hanya pada dua bait kata-kata yang baik terletak pada ungkapan singkat"_
_"Kurangi makanmu dan berhentilah sesudah itu kesehatan tubuh terletak pada perut yang kempis"_
_"Kondisi yang paling membebani diri ini kalau ia diisi makanan terus-menerus."_
Said Nursi, Al-Lama'at hlm. 282-283.
Ayat al-Qur’an yang berbunyi:
وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ
_"Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan"_ (QS. Al-A'raf [7] :31)
ditafsirkan oleh Ibnu Sina, Platonya kaum muslimin, rujukan para dokter, dan guru besar filsafat, dari sudut pandang kedokteran, lewat bait-bait di bawah ini:
﴿ﺟَﻤَﻌْﺖُ ﺍﻟﻄِّﺐَّ ﻓِﻲ ﺑَﻴْﺘَـﻴْﻦِ ﺟَﻤْﻌًﺎﻭَﺣُﺴْﻦُ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِ ﻓِﻰ ﻗِﺼَﺮِ ﺍﻟْﻜَﻠَﺎﻡِ﴾
﴿ﻓَﻘَﻠِّﻞْ ﺇﻥْ ﺃﻛَﻠْﺖَ ﻭَﺑَـــــﻌْــــﺪَ ﺃﻛْﻠٍﺘَﺠَﻨَّﺐْ ﻭَﺍﻟﺸِّــﻔَـﺎﺀُ ﻓِﻰ ﺍْﻟﺎِﻧْﻬِﻀَــﺎﻡِ﴾
﴿ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨُّﻔُﻮﺱِ ﺃﺷَﺪُّ ﺣَﺎﻟًﺎ ﻣِﻦْ ﺍﺩْﺧَﺎﻝِ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ.﴾
_"Kukumpulkan inti pengobatan hanya pada dua bait kata-kata yang baik terletak pada ungkapan singkat"_
_"Kurangi makanmu dan berhentilah sesudah itu kesehatan tubuh terletak pada perut yang kempis"_
_"Kondisi yang paling membebani diri ini kalau ia diisi makanan terus-menerus."_
Said Nursi, Al-Lama'at hlm. 282-283.
*Urgensi Bersyukur Kepada Allah*
*RISALAH SYUKUR*
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحٖيمِ
وَ اِنْ مِنْ شَىْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ
Al-Qur’an penuh dengan penjelasan yang menakjubkan serta di banyak ayat ia mendorong makhluk untuk bersyukur. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut:
اَفَلَا يَشْكُرُونَ اَفَلَا يَشْكُرُونَ
_“Tidakkah mereka bersyukur? Tidakkah mereka bersyukur?”_ (QS. Yâsîn [36]: 35 dan 73).
وَسَنَجْزِى الشَّاكِرٖينَ
_“Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”_ (QS. Ali Imran [3]: 145).
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزٖيدَنَّكُمْ
“Jika kalian bersyukur niscaya Kami tambahkan untuk kalian.” (QS. Ibrahim [14]: 7).
بَلِ اللّٰهَ فَاعْبُدْ وَ كُنْ مِنَ الشَّاكِرٖينَ
_“Tetapi sembahlah Allah dan jadilah orang yang bersyukur.”_ (QS. az-Zumar [39]: 66).
Dari ayat-ayat di atas jelas bahwa amal paling mulia yang dituntut oleh Sang Pencipta Yang Maha Penyayang dari hamba adalah bersyukur. Secara tegas dan jelas, al-Qur’an mengajak manusia untuk bersyukur serta menempatkannya dalam posisi yang sangat penting sekaligus menjelaskan bahwa sikap enggan bersyukur merupakan bentuk pendustaan dan pengingkaran terhadap berbagai nikmat ilahi.
Sebanyak 31 kali al-Qur’an memberikan ancaman menakutkan dalam surah ar-Rahman lewat ayat:
فَبِاَىِّ اٰلَٓاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
_“Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian dustakan?!”_ Al-Qur’an menunjukkan bahwa sikap enggan bersyukur merupakan bentuk pendustaan dan pengingkaran.
Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 53-54*
*RISALAH SYUKUR*
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحٖيمِ
وَ اِنْ مِنْ شَىْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ
Al-Qur’an penuh dengan penjelasan yang menakjubkan serta di banyak ayat ia mendorong makhluk untuk bersyukur. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut:
اَفَلَا يَشْكُرُونَ اَفَلَا يَشْكُرُونَ
_“Tidakkah mereka bersyukur? Tidakkah mereka bersyukur?”_ (QS. Yâsîn [36]: 35 dan 73).
وَسَنَجْزِى الشَّاكِرٖينَ
_“Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”_ (QS. Ali Imran [3]: 145).
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزٖيدَنَّكُمْ
“Jika kalian bersyukur niscaya Kami tambahkan untuk kalian.” (QS. Ibrahim [14]: 7).
بَلِ اللّٰهَ فَاعْبُدْ وَ كُنْ مِنَ الشَّاكِرٖينَ
_“Tetapi sembahlah Allah dan jadilah orang yang bersyukur.”_ (QS. az-Zumar [39]: 66).
Dari ayat-ayat di atas jelas bahwa amal paling mulia yang dituntut oleh Sang Pencipta Yang Maha Penyayang dari hamba adalah bersyukur. Secara tegas dan jelas, al-Qur’an mengajak manusia untuk bersyukur serta menempatkannya dalam posisi yang sangat penting sekaligus menjelaskan bahwa sikap enggan bersyukur merupakan bentuk pendustaan dan pengingkaran terhadap berbagai nikmat ilahi.
Sebanyak 31 kali al-Qur’an memberikan ancaman menakutkan dalam surah ar-Rahman lewat ayat:
فَبِاَىِّ اٰلَٓاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
_“Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian dustakan?!”_ Al-Qur’an menunjukkan bahwa sikap enggan bersyukur merupakan bentuk pendustaan dan pengingkaran.
Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 53-54*
*Tujuan Penciptaan Entitas*
Sebagaimana al-Qur’an al-Hakim menerangkan bahwa syukur adalah hasil dan tujuan penciptaan, demikian halnya dengan alam yang laksana al-Qur’an besar juga memperlihatkan bahwa hasil terpenting dari penciptaan seluruh entitas adalah syukur. Hal itu karena bila diperhatikan dengan seksama akan diketahui bahwa: Bentuk dan komposisi alam telah didesain dan dibuat dalam satu model dan corak tertentu di mana ia menghasilkan dan membuahkan syukur. Segala sesuatu dari satu sisi mengarah kepada syukur.
Bahkan seolah-olah buah terpenting dari pohon penciptaan adalah syukur. Dan bahkan seolah-olah produk termulia yang dihasilkan oleh pabrik alam adalah syukur. Hal itu karena kita melihat bahwa “entitas alam” telah dibentuk dalam satu model dan pola yang menyerupai lingkaran besar, sementara kehidupan dicipta guna memerankan titik pusat di dalamnya. Maka kita melihat seluruh entitas melayani dan mengarah pada kehidupan. Ia menyediakan segala kebutuhan dan perlengkapannya. Jadi, Sang Pencipta alam memilih kehidupan di antara seluruh entitas-Nya. Kemudian kita melihat bahwa “dunia makhluk hidup” dihadirkan dalam bentuk lingkaran luas di mana di dalamnya manusia berperan sebagai titik pusat. Tujuan yang diharapkan dari keberadaan makhluk hidup biasanya terpusat pada manusia.
Sang Pencipta Yang Mahamulia mengumpulkan seluruh makhluk hidup di seputar manusia dan menundukkan semuanya untuk melayani manusia. Dia menjadikan manusia sebagai pemimpin dan penguasa atas mereka. Jadi, Sang Pencipta Yang Mahaagung memilih manusia di antara sekian makhluk hidup. Bahkan Dia menjadikannya sebagai objek kehendak-Nya dan target keinginan-Nya.
Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 54-55.
Sebagaimana al-Qur’an al-Hakim menerangkan bahwa syukur adalah hasil dan tujuan penciptaan, demikian halnya dengan alam yang laksana al-Qur’an besar juga memperlihatkan bahwa hasil terpenting dari penciptaan seluruh entitas adalah syukur. Hal itu karena bila diperhatikan dengan seksama akan diketahui bahwa: Bentuk dan komposisi alam telah didesain dan dibuat dalam satu model dan corak tertentu di mana ia menghasilkan dan membuahkan syukur. Segala sesuatu dari satu sisi mengarah kepada syukur.
Bahkan seolah-olah buah terpenting dari pohon penciptaan adalah syukur. Dan bahkan seolah-olah produk termulia yang dihasilkan oleh pabrik alam adalah syukur. Hal itu karena kita melihat bahwa “entitas alam” telah dibentuk dalam satu model dan pola yang menyerupai lingkaran besar, sementara kehidupan dicipta guna memerankan titik pusat di dalamnya. Maka kita melihat seluruh entitas melayani dan mengarah pada kehidupan. Ia menyediakan segala kebutuhan dan perlengkapannya. Jadi, Sang Pencipta alam memilih kehidupan di antara seluruh entitas-Nya. Kemudian kita melihat bahwa “dunia makhluk hidup” dihadirkan dalam bentuk lingkaran luas di mana di dalamnya manusia berperan sebagai titik pusat. Tujuan yang diharapkan dari keberadaan makhluk hidup biasanya terpusat pada manusia.
Sang Pencipta Yang Mahamulia mengumpulkan seluruh makhluk hidup di seputar manusia dan menundukkan semuanya untuk melayani manusia. Dia menjadikan manusia sebagai pemimpin dan penguasa atas mereka. Jadi, Sang Pencipta Yang Mahaagung memilih manusia di antara sekian makhluk hidup. Bahkan Dia menjadikannya sebagai objek kehendak-Nya dan target keinginan-Nya.
Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 54-55.
*Relasi Antara Rezeki dan Syukur*
Selanjutnya, kita melihat bahwa “dunia manusia”, bahkan dunia hewan, juga terbentuk seperti lingkaran. Di tengahnya diletakkan rezeki. Kecintaan pada rezeki ditanamkan dalam diri manusia dan hewan. Karena itu, dengan kecintaan tersebut mereka semua menjadi pelayan rezeki dan tunduk padanya. Rezekilah yang mengontrol dan mengendalikan mereka. Rezeki itu sendiri dijadikan sebagai khazanah kekayaan besar yang luas dan berlimpah. Ia berisi nikmat yang tak terhingga.
Bahkan kita melihat daya rasa yang terdapat di lisan telah dibekali dengan berbagai perangkat detail dan standar maknawi yang sensitif sebanyak makanan yang ada guna mengetahui rasa dari berbagai jenis rezeki yang berlimpah itu. Dengan demikian, hakikat rezeki merupakan hakikat paling menakjubkan, paling kaya, paling aneh, paling manis, dan paling komprehensif di alam ini. Di samping itu, kita melihat bahwa sebagaimana segala sesuatu membutuhkan rezeki dan mengarah kepadanya, rezeki itu sendiri dengan segala jenisnya akan selalu eksis dengan syukur, baik secara maknawi, materi, kondisi, maupun ucapan.
Rezeki didapat dengan syukur, melahirkan syukur, dan menjelaskan sekaligus memperlihatkan syukur. Pasalnya, kecintaan dan kesenangan terhadap rezeki adalah salah satu bentuk syukur alami. Menikmati dan merasakannya juga merupakan bentuk syukur, namun dalam bentuk yang tak disadari di mana seluruh hewan pun menikmati syukur jenis tersebut. Nah manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengubah esensi syukur alami tadi—lewat sikap sesat dan kufurnya—sehingga jatuh pada kemusyrikan.
Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 56
Selanjutnya, kita melihat bahwa “dunia manusia”, bahkan dunia hewan, juga terbentuk seperti lingkaran. Di tengahnya diletakkan rezeki. Kecintaan pada rezeki ditanamkan dalam diri manusia dan hewan. Karena itu, dengan kecintaan tersebut mereka semua menjadi pelayan rezeki dan tunduk padanya. Rezekilah yang mengontrol dan mengendalikan mereka. Rezeki itu sendiri dijadikan sebagai khazanah kekayaan besar yang luas dan berlimpah. Ia berisi nikmat yang tak terhingga.
Bahkan kita melihat daya rasa yang terdapat di lisan telah dibekali dengan berbagai perangkat detail dan standar maknawi yang sensitif sebanyak makanan yang ada guna mengetahui rasa dari berbagai jenis rezeki yang berlimpah itu. Dengan demikian, hakikat rezeki merupakan hakikat paling menakjubkan, paling kaya, paling aneh, paling manis, dan paling komprehensif di alam ini. Di samping itu, kita melihat bahwa sebagaimana segala sesuatu membutuhkan rezeki dan mengarah kepadanya, rezeki itu sendiri dengan segala jenisnya akan selalu eksis dengan syukur, baik secara maknawi, materi, kondisi, maupun ucapan.
Rezeki didapat dengan syukur, melahirkan syukur, dan menjelaskan sekaligus memperlihatkan syukur. Pasalnya, kecintaan dan kesenangan terhadap rezeki adalah salah satu bentuk syukur alami. Menikmati dan merasakannya juga merupakan bentuk syukur, namun dalam bentuk yang tak disadari di mana seluruh hewan pun menikmati syukur jenis tersebut. Nah manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengubah esensi syukur alami tadi—lewat sikap sesat dan kufurnya—sehingga jatuh pada kemusyrikan.
Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 56
*Keberadaan Nikmat Merupakan Tangga Menggapai Syukur*
Bentuk yang indah dan menarik, aroma wangi dan memikat, serta rasa enak dan lezat yang terdapat di dalam nikmat tersebut di mana ia merupakan satu bentuk rezeki, tidak lain merupakan penyeru dan pemberi petunjuk untuk bersyukur. Para penyeru tersebut, lewat ajakannya, membangkitkan selera pada makhluk hidup sekaligus menggiring mereka untuk mengapresiasi, menghargai, dan menghormati sehingga mereka memperlihatkan syukur maknawi.
Bentuk, aroma, dan rasa tersebut menarik perhatian orang-orang yang memiliki perasaan untuk merenungkannya sehingga membuat mereka tertarik dan kagum. Ia juga mendorong mereka untuk menghormati dan menghargai nikmat yang berlimpah tersebut. Dari sana nikmat tersebut membimbing mereka ke jalan syukur, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, sekaligus menjadikan mereka sebagai orang yang pandai bersyukur. Lewat syukur nikmat tersebut, mereka bisa merasakan kelezatan yang paling nikmat.
Hal itu terwujud lewat keberadaan nikmat yang memperlihatkan bahwa rezeki yang lezat tadi di samping mendatangkan kelezatan lahiriah yang singkat dan bersifat sementara, ia juga membuatmu memikirkan karunia ilahi yang membawa kelezatan hakiki dan abadi tanpa batas. Artinya, dengan mengingat anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah Yang Menggenggam khazanah rahmat-Nya yang luas, manusia bisa merasakan kegembiraan maknawi dari sekian kegembiraan surga yang abadi meski masih berada di dunia.
Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 57*
Bentuk yang indah dan menarik, aroma wangi dan memikat, serta rasa enak dan lezat yang terdapat di dalam nikmat tersebut di mana ia merupakan satu bentuk rezeki, tidak lain merupakan penyeru dan pemberi petunjuk untuk bersyukur. Para penyeru tersebut, lewat ajakannya, membangkitkan selera pada makhluk hidup sekaligus menggiring mereka untuk mengapresiasi, menghargai, dan menghormati sehingga mereka memperlihatkan syukur maknawi.
Bentuk, aroma, dan rasa tersebut menarik perhatian orang-orang yang memiliki perasaan untuk merenungkannya sehingga membuat mereka tertarik dan kagum. Ia juga mendorong mereka untuk menghormati dan menghargai nikmat yang berlimpah tersebut. Dari sana nikmat tersebut membimbing mereka ke jalan syukur, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, sekaligus menjadikan mereka sebagai orang yang pandai bersyukur. Lewat syukur nikmat tersebut, mereka bisa merasakan kelezatan yang paling nikmat.
Hal itu terwujud lewat keberadaan nikmat yang memperlihatkan bahwa rezeki yang lezat tadi di samping mendatangkan kelezatan lahiriah yang singkat dan bersifat sementara, ia juga membuatmu memikirkan karunia ilahi yang membawa kelezatan hakiki dan abadi tanpa batas. Artinya, dengan mengingat anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah Yang Menggenggam khazanah rahmat-Nya yang luas, manusia bisa merasakan kegembiraan maknawi dari sekian kegembiraan surga yang abadi meski masih berada di dunia.
Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 57*
*Risalah Ukhuwah*
Surat kedua puluh dua ini terdiri atas dua pembahasan. Pembahasan pertama mengajak orang-orang beriman untuk menjalin rasa persaudaraan dan mencintai di antara sesama.
PEMBAHASAN PERTAMA
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah kedua saudaramu”.
(QS. al-Hujurât [49]: 10).
ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ
“Tolaklah (perbuatan buruk) dengan perbuatan yang lebih baik sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan menjadi seperti teman yang setia.” (QS. Fushshilat [41]: 34).
وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Dan (termasuk orang bertakwa) orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 134).
Fanatisme, keras kepala, dan kedengkian yang menyebabkan perpecahan, kebencian, dan permusuhan di antara orang-orang yang beriman adalah suatu keburukan dan kezaliman. Sifat-sifat itu tidak dapat dibenarkan dalam pandangan hakikat dan hikmah. Ia tidak sesuai dengan ajaran Islam, yang merupakan representasi dari spirit kemanusiaan yang agung. Di samping itu, sifat-sifat permusuhan itu bisa menghancurkan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, dan kehidupan maknawi. Bahkan, itu merupakan racun mematikan bagi kehidupan seluruh umat manusia.
Said Nursi, *al-Maktubat* hlm. 453
Surat kedua puluh dua ini terdiri atas dua pembahasan. Pembahasan pertama mengajak orang-orang beriman untuk menjalin rasa persaudaraan dan mencintai di antara sesama.
PEMBAHASAN PERTAMA
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah kedua saudaramu”.
(QS. al-Hujurât [49]: 10).
ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ
“Tolaklah (perbuatan buruk) dengan perbuatan yang lebih baik sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan menjadi seperti teman yang setia.” (QS. Fushshilat [41]: 34).
وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Dan (termasuk orang bertakwa) orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 134).
Fanatisme, keras kepala, dan kedengkian yang menyebabkan perpecahan, kebencian, dan permusuhan di antara orang-orang yang beriman adalah suatu keburukan dan kezaliman. Sifat-sifat itu tidak dapat dibenarkan dalam pandangan hakikat dan hikmah. Ia tidak sesuai dengan ajaran Islam, yang merupakan representasi dari spirit kemanusiaan yang agung. Di samping itu, sifat-sifat permusuhan itu bisa menghancurkan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, dan kehidupan maknawi. Bahkan, itu merupakan racun mematikan bagi kehidupan seluruh umat manusia.
Said Nursi, *al-Maktubat* hlm. 453
*Permusuhan adalah Suatu Kezaliman dalam Pandangan Hakikat*
Berikut ini akan kami jelaskan enam aspek di antara berbagai aspek yang berkaitan dengan kebenaran pernyataan sebelumnya:
*Aspek Pertama:* Permusuhan adalah Suatu Kezaliman dalam Pandangan Hakikat.
Wahai orang-orang yang hatinya dipenuhi rasa kebencian dan permusuhan terhadap saudaranya yang beriman. Wahai orang yang tidak adil! Bayangkan engkau sedang berada di dalam sebuah kapal atau rumah bersama sembilan orang yang tak bersalah dan seorang pelaku kejahatan. Kemudian engkau melihat seseorang yang berusaha menenggelamkan kapal atau meruntuh kan rumah itu. Dengan serta-merta engkau pasti akan berteriak sekeras mungkin untuk memprotes kezaliman yang dilakukan orang itu.
Sebab, tidak ada aturan yang membolehkan untuk menenggelamkan kapal itu selama ada satu orang yang tak bersalah, meskipun di dalamnya terdapat sembilan pelaku kejahatan. Sebagaimana menenggelamkan kapal di atas, memendam rasa permusuhan terhadap saudara seiman juga merupakan kezaliman dan kejahatan yang keji. Orang yang beriman adalah suatu “bangunan Rabbani” dan “perahu Ilahi”.
Hanya karena ia mempunyai satu sifat buruk yang membuatmu tidak senang atau merasa dirugikan, sementara ia memiliki sembilan atau bahkan dua puluh sifat baik, seperti iman, Islam, dan tetangga, engkau tidak patut untuk memusuhi dan mendengkinya. Permusuhan dan kedengkian ini sudah pasti mendorongmu berkeinginan untuk menenggelamkan perahu eksistensinya dan membakar bangunan wujudnya. Inilah kezaliman dan kejahatan keji itu.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 440-441
Berikut ini akan kami jelaskan enam aspek di antara berbagai aspek yang berkaitan dengan kebenaran pernyataan sebelumnya:
*Aspek Pertama:* Permusuhan adalah Suatu Kezaliman dalam Pandangan Hakikat.
Wahai orang-orang yang hatinya dipenuhi rasa kebencian dan permusuhan terhadap saudaranya yang beriman. Wahai orang yang tidak adil! Bayangkan engkau sedang berada di dalam sebuah kapal atau rumah bersama sembilan orang yang tak bersalah dan seorang pelaku kejahatan. Kemudian engkau melihat seseorang yang berusaha menenggelamkan kapal atau meruntuh kan rumah itu. Dengan serta-merta engkau pasti akan berteriak sekeras mungkin untuk memprotes kezaliman yang dilakukan orang itu.
Sebab, tidak ada aturan yang membolehkan untuk menenggelamkan kapal itu selama ada satu orang yang tak bersalah, meskipun di dalamnya terdapat sembilan pelaku kejahatan. Sebagaimana menenggelamkan kapal di atas, memendam rasa permusuhan terhadap saudara seiman juga merupakan kezaliman dan kejahatan yang keji. Orang yang beriman adalah suatu “bangunan Rabbani” dan “perahu Ilahi”.
Hanya karena ia mempunyai satu sifat buruk yang membuatmu tidak senang atau merasa dirugikan, sementara ia memiliki sembilan atau bahkan dua puluh sifat baik, seperti iman, Islam, dan tetangga, engkau tidak patut untuk memusuhi dan mendengkinya. Permusuhan dan kedengkian ini sudah pasti mendorongmu berkeinginan untuk menenggelamkan perahu eksistensinya dan membakar bangunan wujudnya. Inilah kezaliman dan kejahatan keji itu.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 440-441
*Permusuhan Adalah Kezaliman Dalam Pandangan Hikmah*
*Aspek Kedua:*
Cinta dan permusuhan adalah dua hal yang berlawanan, seperti cahaya dan kegelapan. Pada dasarnya, keduanya tidak dapat bersatu. Jika sebab-sebab cinta lebih dominan dan cinta itu telah menancap di dalam hati, rasa permusuhan akan berubah menjadi permusuhan artifisial, bahkan bisa berubah wujud menjadi kasih sayang dan rasa iba. Pada dasarnya, seorang mukmin mencintai saudaranya, dan dia harus menyayanginya. Ketika saudaranya melakukan kesalahan, semestinya itu membuatnya iba dan berupaya memperbaikinya, tidak dengan kekuatan dan kekerasan, melainkan dengan perilaku yang lembut dan santun. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW:
لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث ليال، يلتقيان فيعرض هذا ويعرض هذا، وخيرهما الذي يبدأ بالسلام.
_“Tidak dibenarkan bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, di mana bila keduanya bertemu, masing-masing berpaling dari saudaranya. Yang terbaik di antara keduanya adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam.”_
Sebaliknya, jika sebab-sebab permusuhan lebih menonjol dan telah menancap di dalam hati, cinta akan berubah menjadi cinta semu yang dibungkus dengan kepura-puraan dan sikap mencari muka. Maka ketahuilah wahai orang yang zalim. Betapa kebencian dan permusuhan terhadap saudara seiman merupakan kezaliman yang besar! Jika engkau mengatakan batu-batu kerikil yang tidak ada nilainya itu lebih berharga daripada Ka’bah yang mulia atau lebih besar daripada Gunung Uhud, tidak diragukan lagi bahwa engkau telah melakukan suatu kebodohan yang nyata.
Juga termasuk kebodohan yang nyata jika engkau membesar-besarkan kesalahan kecil yang dilakukan saudaramu seiman dan lebih mengutamakannya daripada keimanan dan keislamannya. Bukankah kesalahannya itu laksana batu kerikil, sementara keimanan dan keislamannya bernilai seperti Ka’bah dan Gunung Uhud?! Sungguh sikapmu yang lebih mempertimbangkan perilaku-perilaku kecil saudaramu daripada keislaman dan keimanannya merupakan tindakan yang sangat zalim. Orang yang memiliki secuil akal pun, tentu bisa memahami hal ini.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 441-442.
*Aspek Kedua:*
Cinta dan permusuhan adalah dua hal yang berlawanan, seperti cahaya dan kegelapan. Pada dasarnya, keduanya tidak dapat bersatu. Jika sebab-sebab cinta lebih dominan dan cinta itu telah menancap di dalam hati, rasa permusuhan akan berubah menjadi permusuhan artifisial, bahkan bisa berubah wujud menjadi kasih sayang dan rasa iba. Pada dasarnya, seorang mukmin mencintai saudaranya, dan dia harus menyayanginya. Ketika saudaranya melakukan kesalahan, semestinya itu membuatnya iba dan berupaya memperbaikinya, tidak dengan kekuatan dan kekerasan, melainkan dengan perilaku yang lembut dan santun. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW:
لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث ليال، يلتقيان فيعرض هذا ويعرض هذا، وخيرهما الذي يبدأ بالسلام.
_“Tidak dibenarkan bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, di mana bila keduanya bertemu, masing-masing berpaling dari saudaranya. Yang terbaik di antara keduanya adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam.”_
Sebaliknya, jika sebab-sebab permusuhan lebih menonjol dan telah menancap di dalam hati, cinta akan berubah menjadi cinta semu yang dibungkus dengan kepura-puraan dan sikap mencari muka. Maka ketahuilah wahai orang yang zalim. Betapa kebencian dan permusuhan terhadap saudara seiman merupakan kezaliman yang besar! Jika engkau mengatakan batu-batu kerikil yang tidak ada nilainya itu lebih berharga daripada Ka’bah yang mulia atau lebih besar daripada Gunung Uhud, tidak diragukan lagi bahwa engkau telah melakukan suatu kebodohan yang nyata.
Juga termasuk kebodohan yang nyata jika engkau membesar-besarkan kesalahan kecil yang dilakukan saudaramu seiman dan lebih mengutamakannya daripada keimanan dan keislamannya. Bukankah kesalahannya itu laksana batu kerikil, sementara keimanan dan keislamannya bernilai seperti Ka’bah dan Gunung Uhud?! Sungguh sikapmu yang lebih mempertimbangkan perilaku-perilaku kecil saudaramu daripada keislaman dan keimanannya merupakan tindakan yang sangat zalim. Orang yang memiliki secuil akal pun, tentu bisa memahami hal ini.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 441-442.
*Permusuhan Adalah Kezaliman Dalam Pandangan Al-Qur'an*
*Aspek Ketiga:*
Allah SWT berfirman:
ولا تزر وازرة وزر أخرى ...... (١٦٤)
_“Dan seseorang yang berdosa, tidak akan memikul dosa orang lain.”_ (QS. al-An’âm [6]: 164). Ayat ini menjelaskan tentang keadilan mutlak (al-‘Adâlah al-Mahdhah), yaitu tidak boleh menghukum seseorang atas kesalahan orang lain. Ayat al-Qur’an di atas dan berbagai sumber ajaran Islam lainnya menegaskan bahwa memendam permusuhan dan kebencian terhadap orang mukmin adalah kezaliman yang besar. Sebab, ia seperti mencela semua sifat-sifat baik akibat satu kesalahannya.
Ia menjadi sebuah kezaliman yang lebih besar lagi jika permusuhan tersebut meluas terhadap keluarga dan kerabatnya, sebagaimana yang digambarkan oleh al-Qur’an berikut:
إن الإنسن لظلوم ...... (٣٤)
_“Sesungguhnya manusia sangat berlaku zalim.”_ (QS. Ibrâhîm [14]: 34). Apakah setelah mendengar penjelasan tentang kezaliman di atas, engkau masih mempunyai alasan untuk memusuhi saudaramu seiman dan menganggap dirimu benar?!
Ketahuilah! Dalam pandangan hakikat, kejahatan-kejahatan yang menjadi sebab timbulnya permusuhan dan kebencian bersifat padat, seperti tanah dan kejahatan itu sendiri. Sifat benda padat tidak berpindah dan tidak memantul pada yang lain, kecu ali kejahatan yang ditiru seseorang dari orang lain. Sedangkan kebaikan yang menjadi sebab timbulnya rasa cinta bersifat halus, seperti cahaya dan cinta itu sendiri. Sifat cahaya dapat berpindah dan memantul pada yang lain.
Dari sinilah terlahir suatu pepatah: “Sahabat dari seorang sahabat juga merupakan sahabat.” Sebagaimana banyak orang sering mendengung-dengungkan: “Karena kebaikan satu orang, seribu orang dimuliakan.” Wahai orang yang tidak adil! Jika engkau mendambakan kebenaran, itulah hakikat yang sebenarnya. Karena itu, permusuhan dan kedengkianmu terhadap keluarga dan kerabat yang dicintai orang yang engkau benci sangat bertentangan dengan kebenaran.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 443-444
*Aspek Ketiga:*
Allah SWT berfirman:
ولا تزر وازرة وزر أخرى ...... (١٦٤)
_“Dan seseorang yang berdosa, tidak akan memikul dosa orang lain.”_ (QS. al-An’âm [6]: 164). Ayat ini menjelaskan tentang keadilan mutlak (al-‘Adâlah al-Mahdhah), yaitu tidak boleh menghukum seseorang atas kesalahan orang lain. Ayat al-Qur’an di atas dan berbagai sumber ajaran Islam lainnya menegaskan bahwa memendam permusuhan dan kebencian terhadap orang mukmin adalah kezaliman yang besar. Sebab, ia seperti mencela semua sifat-sifat baik akibat satu kesalahannya.
Ia menjadi sebuah kezaliman yang lebih besar lagi jika permusuhan tersebut meluas terhadap keluarga dan kerabatnya, sebagaimana yang digambarkan oleh al-Qur’an berikut:
إن الإنسن لظلوم ...... (٣٤)
_“Sesungguhnya manusia sangat berlaku zalim.”_ (QS. Ibrâhîm [14]: 34). Apakah setelah mendengar penjelasan tentang kezaliman di atas, engkau masih mempunyai alasan untuk memusuhi saudaramu seiman dan menganggap dirimu benar?!
Ketahuilah! Dalam pandangan hakikat, kejahatan-kejahatan yang menjadi sebab timbulnya permusuhan dan kebencian bersifat padat, seperti tanah dan kejahatan itu sendiri. Sifat benda padat tidak berpindah dan tidak memantul pada yang lain, kecu ali kejahatan yang ditiru seseorang dari orang lain. Sedangkan kebaikan yang menjadi sebab timbulnya rasa cinta bersifat halus, seperti cahaya dan cinta itu sendiri. Sifat cahaya dapat berpindah dan memantul pada yang lain.
Dari sinilah terlahir suatu pepatah: “Sahabat dari seorang sahabat juga merupakan sahabat.” Sebagaimana banyak orang sering mendengung-dengungkan: “Karena kebaikan satu orang, seribu orang dimuliakan.” Wahai orang yang tidak adil! Jika engkau mendambakan kebenaran, itulah hakikat yang sebenarnya. Karena itu, permusuhan dan kedengkianmu terhadap keluarga dan kerabat yang dicintai orang yang engkau benci sangat bertentangan dengan kebenaran.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 443-444
*Permusuhan Adalah Kezaliman Dilihat Dari Sudut Pandang Kehidupan Pribadi*
*Aspek Keempat:*
Jika engkau ingin mengetahui hal tersebut, dengarkanlah beberapa prinsip yang merupakan pondasi aspek keempat ini.
*Prinsip Pertama:* Ketika engkau menganggap bahwa manhaj dan pendapatmu benar, engkau berhak untuk berkata, “Manhaj atau pendapatku benar, atau lebih baik.” Akan tetapi, engkau tidak boleh berkata, “Hanya manhaj atau pendapatku yang benar.” Sebab, pandanganmu yang penuh dengan kebencian dan pikiranmu yang terbatas tidak bisa menjadi tolok ukur dan penentu yang menetapkan kekeliruan pendapat orang lain. Orang bijak mengatakan:
وعين الرضا عن كل عيب كليلة
ولكن عين السخط تبدي المساويا
_“Mata cinta terlalu suram untuk melihat kesalahan, sementara mata benci menampakkan semua keburukan.”_
*Prinsip Kedua:* “Engkau harus berkata benar dalam setiap perkataan, namun engkau tidak berhak untuk menyampaikan semua kebenaran. Engkau pun harus jujur dalam setiap ucapan, tetapi tidaklah benar jika engkau mengatakan semua kejujuran.” Sebab, orang yang tidak mempunyai niat ikhlas sepertimu bisa jadi membuat marah orang yang mendengar untaian nasihatmu. Maka, yang terjadi justru kebalikan dari apa yang diharapkan.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 444-445
*Aspek Keempat:*
Jika engkau ingin mengetahui hal tersebut, dengarkanlah beberapa prinsip yang merupakan pondasi aspek keempat ini.
*Prinsip Pertama:* Ketika engkau menganggap bahwa manhaj dan pendapatmu benar, engkau berhak untuk berkata, “Manhaj atau pendapatku benar, atau lebih baik.” Akan tetapi, engkau tidak boleh berkata, “Hanya manhaj atau pendapatku yang benar.” Sebab, pandanganmu yang penuh dengan kebencian dan pikiranmu yang terbatas tidak bisa menjadi tolok ukur dan penentu yang menetapkan kekeliruan pendapat orang lain. Orang bijak mengatakan:
وعين الرضا عن كل عيب كليلة
ولكن عين السخط تبدي المساويا
_“Mata cinta terlalu suram untuk melihat kesalahan, sementara mata benci menampakkan semua keburukan.”_
*Prinsip Kedua:* “Engkau harus berkata benar dalam setiap perkataan, namun engkau tidak berhak untuk menyampaikan semua kebenaran. Engkau pun harus jujur dalam setiap ucapan, tetapi tidaklah benar jika engkau mengatakan semua kejujuran.” Sebab, orang yang tidak mempunyai niat ikhlas sepertimu bisa jadi membuat marah orang yang mendengar untaian nasihatmu. Maka, yang terjadi justru kebalikan dari apa yang diharapkan.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 444-445
*Musuh Hakiki*
*Prinsip Ketiga:* Jika engkau menginginkan permusuhan, musuhilah rasa permusuhan yang ada di hatimu. Berjuanglah untuk memadamkan api permusuhan itu dan cabutlah hingga akar-akarnya. Berusahalah memusuhi musuh yang paling tangguh dan paling berbahaya bagimu, yaitu hawa nafsu yang ada di dalam dirimu. Perangilah keinginan hawa nafsu dan berusahalah memperbaikinya; jangan malah engkau memusuhi orang-orang mukmin karena dorongan hawa nafsu itu. Jika engkau masih menginginkan permusuhan, musuhilah orang-orang kafir dan zindik. Jumlah mereka sangat banyak. Ketahuilah bahwa tabiat cinta adalah layak untuk dicintai, sebagaimana sifat permusuhan pantas dimusuhi sebelum yang lainnya.
Jika engkau ingin mengalahkan musuhmu, balaslah perbuatan buruknya dengan kebaikan. Dengan itu, api permusuhan bisa padam. Sebaliknya, jika engkau membalas keburukannya dengan keburukan yang serupa, permusuhan di antara kalian akan bertambah kuat. Seandainya engkau secara lahiriah berhasil mengalahkan musuhmu dengan perbuatan buruk yang serupa, hatinya akan dipenuhi kebencian terhadapmu sehingga permusuhan akan terus berlanjut. Sementara itu, membalasnya dengan kebaikan akan membuatnya menyesal dan bisa pula ia menjadi sahabat karibmu. Sebab, pada dasarnya tabiat seorang mukmin adalah mulia.
Jika engkau memuliakannya, ia akan tunduk kepadamu dan menjadi saudaramu. Bahkan seandainya ia hina secara lahiriah, ia tetaplah mulia dilihat dari sisi keimanannya. Seorang penyair mengatakan:
وإذا أنت أكرمت الكريمة ملكته
وإن أنت أكرمت اللئيم تمردا.
_Jika engkau memuliakan orang mulia, ia akan tunduk; Jika engkau memuliakan orang hina, ia akan memberontak._
Ya, kenyataan membuktikan bahwa ketika engkau berkata kepada orang jahat, “Engkau orang baik,” sering kali itu akan medorongnya menjadi baik. Sebaliknya, jika engkau mengatakan kepada orang baik, “Kamu orang jahat,” mungkin saja itu membuatnya menjadi jahat. Oleh karena itu, pasanglah telinga terhadap prinsip-prinsip suci al-Qur’an berikut ini:
وإذا مروا باللغو مروا كراما (٧٢)
_“Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan yang tidak berguna, mereka berlalu dengan menjaga kehormatannya.” (QS. al-Furqân [25]: 72)._
وإن تعفوا وتصفحوا وتغفروا فإن الله غفور رحيم (١٤)
_“Dan jika kalian memaafkan, bersikap lapang, serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Taghâbun [64]: 14)._ Dengan mengikuti prinsip al-Qur’an di atas dan yang lain nya, kesuksesan dan kebahagiaan akan tercapai.
Badiuzzaman Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 445-446
*Prinsip Ketiga:* Jika engkau menginginkan permusuhan, musuhilah rasa permusuhan yang ada di hatimu. Berjuanglah untuk memadamkan api permusuhan itu dan cabutlah hingga akar-akarnya. Berusahalah memusuhi musuh yang paling tangguh dan paling berbahaya bagimu, yaitu hawa nafsu yang ada di dalam dirimu. Perangilah keinginan hawa nafsu dan berusahalah memperbaikinya; jangan malah engkau memusuhi orang-orang mukmin karena dorongan hawa nafsu itu. Jika engkau masih menginginkan permusuhan, musuhilah orang-orang kafir dan zindik. Jumlah mereka sangat banyak. Ketahuilah bahwa tabiat cinta adalah layak untuk dicintai, sebagaimana sifat permusuhan pantas dimusuhi sebelum yang lainnya.
Jika engkau ingin mengalahkan musuhmu, balaslah perbuatan buruknya dengan kebaikan. Dengan itu, api permusuhan bisa padam. Sebaliknya, jika engkau membalas keburukannya dengan keburukan yang serupa, permusuhan di antara kalian akan bertambah kuat. Seandainya engkau secara lahiriah berhasil mengalahkan musuhmu dengan perbuatan buruk yang serupa, hatinya akan dipenuhi kebencian terhadapmu sehingga permusuhan akan terus berlanjut. Sementara itu, membalasnya dengan kebaikan akan membuatnya menyesal dan bisa pula ia menjadi sahabat karibmu. Sebab, pada dasarnya tabiat seorang mukmin adalah mulia.
Jika engkau memuliakannya, ia akan tunduk kepadamu dan menjadi saudaramu. Bahkan seandainya ia hina secara lahiriah, ia tetaplah mulia dilihat dari sisi keimanannya. Seorang penyair mengatakan:
وإذا أنت أكرمت الكريمة ملكته
وإن أنت أكرمت اللئيم تمردا.
_Jika engkau memuliakan orang mulia, ia akan tunduk; Jika engkau memuliakan orang hina, ia akan memberontak._
Ya, kenyataan membuktikan bahwa ketika engkau berkata kepada orang jahat, “Engkau orang baik,” sering kali itu akan medorongnya menjadi baik. Sebaliknya, jika engkau mengatakan kepada orang baik, “Kamu orang jahat,” mungkin saja itu membuatnya menjadi jahat. Oleh karena itu, pasanglah telinga terhadap prinsip-prinsip suci al-Qur’an berikut ini:
وإذا مروا باللغو مروا كراما (٧٢)
_“Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan yang tidak berguna, mereka berlalu dengan menjaga kehormatannya.” (QS. al-Furqân [25]: 72)._
وإن تعفوا وتصفحوا وتغفروا فإن الله غفور رحيم (١٤)
_“Dan jika kalian memaafkan, bersikap lapang, serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Taghâbun [64]: 14)._ Dengan mengikuti prinsip al-Qur’an di atas dan yang lain nya, kesuksesan dan kebahagiaan akan tercapai.
Badiuzzaman Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 445-446
*Dengki: Dampak Dan Obatnya*
*Prinsip Keempat:* Orang yang hatinya dipenuhi dengan kedengkian dan permusuhan terhadap sesama mukmin, selain menzalimi saudaranya seiman, sesungguhnya ia sedang menzalimi dirinya sendiri. Lebih dari itu, ia melampaui batas kasih sayang Ilahi. Sebab, dengan kedengkian dan permusuhan tersebut, ia menjatuhkan diri ke dalam penderitaan yang pedih, dan penderitaan itu bertambah pedih bila melihat musuhnya mendapatkan kenikmatan; ia pun tersiksa akibat rasa takut terhadap sang musuh.
Jika permusuhan itu muncul akibat kedengkian, balasannya adalah siksa yang pedih. Sebab, kedengkian membuat si pendengki lebih sakit daripada yang didengki. Kedengkian dapat membakar pelakunya dengan kobaran apinya, sementara orang yang didengki tidak dirugikan atau hanya menderita sedikit kerugian.
Obat kedengkian adalah si pendengki harus merenungkan akibat dari kedengkiannya dan hendaknya ia menyadari bahwa kekayaan, kekuatan, kedudukan, dan hal-hal duniawi yang dinikmati orang yang didengkinya hanya bersifat sementara dan fana; manfaatnya pun sedikit, namun tantangannya besar. Adapun jika kedengkian timbul akibat faktor-faktor yang bersifat ukhrawi, sebenarnya itu bukanlah suatu kedengkian. Kalaupun ada perasaan dengki yang timbul pada hal-hal yang bersifat ukhrawi, bisa jadi si pendengki termasuk orang yang berlaku riya, di mana hal itu akan menghapus amal ukhrawinya di du nia. Atau, si pendengki berprasangka buruk terhadap orang yang didengkinya sehingga ia menzaliminya.
Kemudian, orang yang mendengki sebenarnya tidak rela terhadap takdir dan rahmat Allah. Sebab, ia merasa kecewa atas karunia-Nya terhadap orang yang didengkinya dan merasa senang atas malapetaka yang menimpanya. Artinya, ia seakan-akan mengkritik takdir dan rahmat Allah. Sebagaimana diketahui bahwa barangsiapa mengkritik takdir Allah, ia laksana orang yang menanduk gunung; dan barangsiapa memprotes rahmat dan karunia Ilahi, ia akan terhalang darinya.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 446-447
*Prinsip Keempat:* Orang yang hatinya dipenuhi dengan kedengkian dan permusuhan terhadap sesama mukmin, selain menzalimi saudaranya seiman, sesungguhnya ia sedang menzalimi dirinya sendiri. Lebih dari itu, ia melampaui batas kasih sayang Ilahi. Sebab, dengan kedengkian dan permusuhan tersebut, ia menjatuhkan diri ke dalam penderitaan yang pedih, dan penderitaan itu bertambah pedih bila melihat musuhnya mendapatkan kenikmatan; ia pun tersiksa akibat rasa takut terhadap sang musuh.
Jika permusuhan itu muncul akibat kedengkian, balasannya adalah siksa yang pedih. Sebab, kedengkian membuat si pendengki lebih sakit daripada yang didengki. Kedengkian dapat membakar pelakunya dengan kobaran apinya, sementara orang yang didengki tidak dirugikan atau hanya menderita sedikit kerugian.
Obat kedengkian adalah si pendengki harus merenungkan akibat dari kedengkiannya dan hendaknya ia menyadari bahwa kekayaan, kekuatan, kedudukan, dan hal-hal duniawi yang dinikmati orang yang didengkinya hanya bersifat sementara dan fana; manfaatnya pun sedikit, namun tantangannya besar. Adapun jika kedengkian timbul akibat faktor-faktor yang bersifat ukhrawi, sebenarnya itu bukanlah suatu kedengkian. Kalaupun ada perasaan dengki yang timbul pada hal-hal yang bersifat ukhrawi, bisa jadi si pendengki termasuk orang yang berlaku riya, di mana hal itu akan menghapus amal ukhrawinya di du nia. Atau, si pendengki berprasangka buruk terhadap orang yang didengkinya sehingga ia menzaliminya.
Kemudian, orang yang mendengki sebenarnya tidak rela terhadap takdir dan rahmat Allah. Sebab, ia merasa kecewa atas karunia-Nya terhadap orang yang didengkinya dan merasa senang atas malapetaka yang menimpanya. Artinya, ia seakan-akan mengkritik takdir dan rahmat Allah. Sebagaimana diketahui bahwa barangsiapa mengkritik takdir Allah, ia laksana orang yang menanduk gunung; dan barangsiapa memprotes rahmat dan karunia Ilahi, ia akan terhalang darinya.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 446-447
*Hindarilah Sikap Permusuhan*
Jika engkau benar-benar mencintai dirimu, jangan berikan peluang bagi sifat permusuhan dan dendam yang sangat berbahaya bagi kehidupan pribadi untuk merasuk ke dalam hatimu. Kalaupun keduanya sudah terlanjur masuk dan telah bersemayam di dalamnya, hendaknya engkau mengabaikan keduanya. Renungkanlah ucapan al-Hâfizh Syirazî, sosok yang memilik basirah yang mampu menembus kedalaman hakikat, berikut ini:
دنيا نه متاعيستى كه أرزد بنزاعى
_Sesungguhnya dunia beserta isinya bukanlah barang berharga yang pantas diperselisihkan._
Jika dunia yang besar beserta isinya saja tidak bernilai seperti itu, apalagi dengan hal-hal kecil lainnya. Renungkan pula perkataan beliau:
آسايش دو كيتى تفسير اين دو حرفست
بادويتان مروت با دشمنان مدارا
_Kedamaian dan keselamatan di kedua alam bergantung pada dua hal:_
_Keluhuran budi terhadap kawan, serta perlakuan bijak terhadap lawan._
Barangkali engkau akan mengatakan, “Hal itu di luar kemampuanku. Sebab, rasa permusuhan telah terlanjur tertanam dalam fitrahku. Aku tidak punya pilihan lain. Di samping itu, mereka telah melukai perasaanku dan menyakitiku sehingga aku tidak bisa memaafkan mereka.” Jawabannya: Jika akhlak buruk tidak terwujud dalam bentuk perbuatan dan tidak menjadi dasar sebuah tindakan seperti gibah misalnya, serta pelakunya menyadari kesalahannya itu, maka hal itu tidak membahayakan. Selama engkau tidak memiliki pilihan lain dalam hal tersebut, dan engkau tidak bisa mengelak dari permusuhan tadi, maka kesadaran dalam hal menyadari kekurangan dan kesalahan itu akan membebaskanmu―dengan izin Allah―dari akibat buruk permusuhan yang tertanam dalam dirimu. Sebab, hal itu dianggap sebagai penyesalan yang tersirat, taubat yang tersembunyi, dan istigfar maknawi.
Pembahasan ini kami tulis memang untuk memperoleh istigfar yang bersifat maknawi ini sehingga orang mukmin tidak menganggap kebatilan sebagai kebenaran, serta tidak memperlihatkan kebatilan lawannya yang sebenarnya berada di pihak yang benar.
Aku pernah mengalami suatu kasus yang pantas untuk direnungkan. Suatu hari, aku melihat seorang ilmuwan mengkritik seorang ulama, sampai-sampai ia berani mengafirkannya. Kritiknya itu disebabkan adanya perselisihan di antara keduanya dalam persoalan politik. Namun, pada waktu yang sama, ilmuwan tersebut memuji seorang munafik yang memiliki kesamaan pandangan politik dengannya. Peristiwa ini benar-benar menggoncangku. Lalu aku katakan:
أعوذ بالله من الشيطان والسياسة.
_Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan dan fitnah politik._ Sejak saat itu, aku menarik diri dari kancah politik.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 448-450
Jika engkau benar-benar mencintai dirimu, jangan berikan peluang bagi sifat permusuhan dan dendam yang sangat berbahaya bagi kehidupan pribadi untuk merasuk ke dalam hatimu. Kalaupun keduanya sudah terlanjur masuk dan telah bersemayam di dalamnya, hendaknya engkau mengabaikan keduanya. Renungkanlah ucapan al-Hâfizh Syirazî, sosok yang memilik basirah yang mampu menembus kedalaman hakikat, berikut ini:
دنيا نه متاعيستى كه أرزد بنزاعى
_Sesungguhnya dunia beserta isinya bukanlah barang berharga yang pantas diperselisihkan._
Jika dunia yang besar beserta isinya saja tidak bernilai seperti itu, apalagi dengan hal-hal kecil lainnya. Renungkan pula perkataan beliau:
آسايش دو كيتى تفسير اين دو حرفست
بادويتان مروت با دشمنان مدارا
_Kedamaian dan keselamatan di kedua alam bergantung pada dua hal:_
_Keluhuran budi terhadap kawan, serta perlakuan bijak terhadap lawan._
Barangkali engkau akan mengatakan, “Hal itu di luar kemampuanku. Sebab, rasa permusuhan telah terlanjur tertanam dalam fitrahku. Aku tidak punya pilihan lain. Di samping itu, mereka telah melukai perasaanku dan menyakitiku sehingga aku tidak bisa memaafkan mereka.” Jawabannya: Jika akhlak buruk tidak terwujud dalam bentuk perbuatan dan tidak menjadi dasar sebuah tindakan seperti gibah misalnya, serta pelakunya menyadari kesalahannya itu, maka hal itu tidak membahayakan. Selama engkau tidak memiliki pilihan lain dalam hal tersebut, dan engkau tidak bisa mengelak dari permusuhan tadi, maka kesadaran dalam hal menyadari kekurangan dan kesalahan itu akan membebaskanmu―dengan izin Allah―dari akibat buruk permusuhan yang tertanam dalam dirimu. Sebab, hal itu dianggap sebagai penyesalan yang tersirat, taubat yang tersembunyi, dan istigfar maknawi.
Pembahasan ini kami tulis memang untuk memperoleh istigfar yang bersifat maknawi ini sehingga orang mukmin tidak menganggap kebatilan sebagai kebenaran, serta tidak memperlihatkan kebatilan lawannya yang sebenarnya berada di pihak yang benar.
Aku pernah mengalami suatu kasus yang pantas untuk direnungkan. Suatu hari, aku melihat seorang ilmuwan mengkritik seorang ulama, sampai-sampai ia berani mengafirkannya. Kritiknya itu disebabkan adanya perselisihan di antara keduanya dalam persoalan politik. Namun, pada waktu yang sama, ilmuwan tersebut memuji seorang munafik yang memiliki kesamaan pandangan politik dengannya. Peristiwa ini benar-benar menggoncangku. Lalu aku katakan:
أعوذ بالله من الشيطان والسياسة.
_Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan dan fitnah politik._ Sejak saat itu, aku menarik diri dari kancah politik.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 448-450
*Permusuhan Dan Perpecahan Membahayakan Kehidupan Sosial*
*Aspek Kelima:*
Barangkali ada yang mengatakan bahwa ada hadis yang menyatakan bahwa perbedaan pendapat di antara umat Islam adalah rahmat. Hadis itu berbunyi:
اِخْتِلَافُ اُمَّت۪ى رَحْمَةٌ
_Perbedaan (pendapat) di antara umatku adalah rahmat._
(1) Bukankah perbedaan pendapat itu akan menimbulkan perpecahan, sikap partisan, dan munculnya banyak pendapat?!
(2) Di sisi lain, perbedaan ini bisa menyelamatkan kaum awam dari kezaliman kaum elit yang zalim. Jika kaum elit dari sebuah desa atau kota bersatu, mereka akan menindas kaum awam. Namun, jika terjadi perpecahan di antara kaum elit itu, orang awam yang terzalimi bisa berlindung kepada salah satu pihak.
Sebagai jawaban atas pertanyaan pertama, kami ingin menegaskan bahwa perbedaan yang disebutkan dalam hadis adalah perbedaan yang bersifat positif dan membangun. Artinya, tiap-tiap pihak berusaha membenahi dan mempromosikan manhaj dan pendapatnya, tanpa berupaya menjatuhkan dan menolak manhaj orang lain. Setiap pihak pun berupaya menyempurnakan dan melakukan perbaikan terhadap manhaj pihak lain. Adapun perbedaan yang negatif adalah upaya untuk menghancurkan pihak lain dengan sikap partisan dan permusuhan. Bentuk perselisihan ini ditolak oleh hadis tersebut. Pasalnya, pihak-pihak yang terlibat dalam konflik tidak sanggup melakukan suatu hal yang positif dan membangun.
Sebagai jawaban atas pertanyaan kedua, kami katakan bahwa jika sikap partisan dilakukan atas nama kebenaran, ini bisa menjadi tempat perlindungan bagi orang yang mencari haknya. Namun, pada zaman sekarang ini, sikap partisan hanya terjadi karena motif-motif pribadi dan atas nama nafsu ammârah sehingga menjadi tempat perlindungan bagi orang-orang yang tidak adil, bahkan menjadi sandaran bagi mereka. Seandainya setan mendatangi salah satu pihak yang berbeda pendapat, lalu ia mendukung dan sepakat dengan pendapat pihak tersebut, niscaya pihak tersebut akan memuji dan mendoakannya. Namun sebaliknya, jika pada pihak yang berseberangan dengannya terdapat sosok yang seperti malaikat, pihak tersebut akan melaknat dan menyudutkannya.
Badiuzzaman Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 450-451
*Aspek Kelima:*
Barangkali ada yang mengatakan bahwa ada hadis yang menyatakan bahwa perbedaan pendapat di antara umat Islam adalah rahmat. Hadis itu berbunyi:
اِخْتِلَافُ اُمَّت۪ى رَحْمَةٌ
_Perbedaan (pendapat) di antara umatku adalah rahmat._
(1) Bukankah perbedaan pendapat itu akan menimbulkan perpecahan, sikap partisan, dan munculnya banyak pendapat?!
(2) Di sisi lain, perbedaan ini bisa menyelamatkan kaum awam dari kezaliman kaum elit yang zalim. Jika kaum elit dari sebuah desa atau kota bersatu, mereka akan menindas kaum awam. Namun, jika terjadi perpecahan di antara kaum elit itu, orang awam yang terzalimi bisa berlindung kepada salah satu pihak.
Sebagai jawaban atas pertanyaan pertama, kami ingin menegaskan bahwa perbedaan yang disebutkan dalam hadis adalah perbedaan yang bersifat positif dan membangun. Artinya, tiap-tiap pihak berusaha membenahi dan mempromosikan manhaj dan pendapatnya, tanpa berupaya menjatuhkan dan menolak manhaj orang lain. Setiap pihak pun berupaya menyempurnakan dan melakukan perbaikan terhadap manhaj pihak lain. Adapun perbedaan yang negatif adalah upaya untuk menghancurkan pihak lain dengan sikap partisan dan permusuhan. Bentuk perselisihan ini ditolak oleh hadis tersebut. Pasalnya, pihak-pihak yang terlibat dalam konflik tidak sanggup melakukan suatu hal yang positif dan membangun.
Sebagai jawaban atas pertanyaan kedua, kami katakan bahwa jika sikap partisan dilakukan atas nama kebenaran, ini bisa menjadi tempat perlindungan bagi orang yang mencari haknya. Namun, pada zaman sekarang ini, sikap partisan hanya terjadi karena motif-motif pribadi dan atas nama nafsu ammârah sehingga menjadi tempat perlindungan bagi orang-orang yang tidak adil, bahkan menjadi sandaran bagi mereka. Seandainya setan mendatangi salah satu pihak yang berbeda pendapat, lalu ia mendukung dan sepakat dengan pendapat pihak tersebut, niscaya pihak tersebut akan memuji dan mendoakannya. Namun sebaliknya, jika pada pihak yang berseberangan dengannya terdapat sosok yang seperti malaikat, pihak tersebut akan melaknat dan menyudutkannya.
Badiuzzaman Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 450-451
*Cinta Dan Benci Karena Allah*
(3) Selanjutnya, hakikat kebenaran akan tampak jelas dengan adanya adu pemikiran dan perbedaan pendapat.
Adapun jawaban atas pertanyaan ketiga, beradunya pemikiran dan tukar pandangan demi kebenaran dan untuk mencapai hakikat dapat terwujud jika perbedaannya terletak dalam hal sarana, sementara asas dan tujuan-tujuannya sama. Perbedaan ini mampu memberikan sumbangsih besar dalam menyingkap kebenaran dan menguak berbagai sisinya dengan jelas.
Namun, jika tukar pikiran dilakukan demi motif-motif pribadi dan untuk bertindak sewenang-wenang, menyombongkan diri, memenuhi keinginan nafsu yang lalim, serta mengejar ketenaran dan popularitas, maka sinar kebenaran tidak akan berkilau dalam tukar pikiran seperti ini. Justru yang lahir hanyalah api fitnah. Seharusnya mereka bersatu dalam tujuan, namun karena bukan atas nama kebenaran, maka pemikiran mereka tidak menemukan titik temu di dunia ini, sehingga muncullah sikap melampaui batas dan lahirlah sejumlah perpecahan yang tidak bisa diatasi. Kondisi dunia saat ini menjadi buktinya.
Kesimpulannya, jika tindakan dan perilaku seorang mukmin
tidak sejalan dengan prinsip-prinsip mulia yang digariskan oleh hadis Nabi, yaitu:
اَلْحُبُّ في اللّٰهِ، وَالْبُغْضُ فِى اللّٰهِ
_“Cinta karena Allah dan benci karena Allah,”_. serta menyerahkan semua urusan kepada Allah, maka kemunafikan dan perpecahan akan terus mendominasi. Ya, siapa pun yang tidak menjadikan prinsip-prinsip dasar tersebut sebagai pedoman, ia justru akan melakukan kezaliman meskipun sedang mendambakan keadilan.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 451
(3) Selanjutnya, hakikat kebenaran akan tampak jelas dengan adanya adu pemikiran dan perbedaan pendapat.
Adapun jawaban atas pertanyaan ketiga, beradunya pemikiran dan tukar pandangan demi kebenaran dan untuk mencapai hakikat dapat terwujud jika perbedaannya terletak dalam hal sarana, sementara asas dan tujuan-tujuannya sama. Perbedaan ini mampu memberikan sumbangsih besar dalam menyingkap kebenaran dan menguak berbagai sisinya dengan jelas.
Namun, jika tukar pikiran dilakukan demi motif-motif pribadi dan untuk bertindak sewenang-wenang, menyombongkan diri, memenuhi keinginan nafsu yang lalim, serta mengejar ketenaran dan popularitas, maka sinar kebenaran tidak akan berkilau dalam tukar pikiran seperti ini. Justru yang lahir hanyalah api fitnah. Seharusnya mereka bersatu dalam tujuan, namun karena bukan atas nama kebenaran, maka pemikiran mereka tidak menemukan titik temu di dunia ini, sehingga muncullah sikap melampaui batas dan lahirlah sejumlah perpecahan yang tidak bisa diatasi. Kondisi dunia saat ini menjadi buktinya.
Kesimpulannya, jika tindakan dan perilaku seorang mukmin
tidak sejalan dengan prinsip-prinsip mulia yang digariskan oleh hadis Nabi, yaitu:
اَلْحُبُّ في اللّٰهِ، وَالْبُغْضُ فِى اللّٰهِ
_“Cinta karena Allah dan benci karena Allah,”_. serta menyerahkan semua urusan kepada Allah, maka kemunafikan dan perpecahan akan terus mendominasi. Ya, siapa pun yang tidak menjadikan prinsip-prinsip dasar tersebut sebagai pedoman, ia justru akan melakukan kezaliman meskipun sedang mendambakan keadilan.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 451
*Peristiwa Yang Penuh Ibrah*
Dalam suatu peperangan, Imam Ali _radiallahu anhu_ terlibat perang tanding dengan salah seorang jawara kaum musyrik. Ia berhasil mengungguli dan menjatuhkan lawannya. Ketika Imam Ali ra hendak membunuhnya, ia meludahi wajah Imam Ali ra. Akhirnya, Imam Ali ra membebaskan dan meninggalkannya. Orang musyrik itu pun memandang aneh sikap Imam Ali ra dan bertanya, “Mengapa engkau tidak membunuhku?” Imam Ali menjawab, “Awalnya, aku ingin membunuhmu karena Allah. Namun, ketika engkau meludahiku, aku pun marah. Karena pengaruh nafsu telah menodai keikhlasanku, aku pun tidak jadi membunuhmu.”
“Semestinya kelakuanku lebih memancing kemarahanmu sehingga engkau segera membunuhku. Jika agamamu begitu suci dan tulus, sudah pasti ia adalah agama yang benar,” ujar orang musyrik itu.
Dalam peristiwa yang lain, seorang penguasa yang adil memecat seorang hakim ketika melihatnya marah saat melakukan eksekusi potong tangan terhadap pencuri. Jika hakim itu memotong tangan pencuri demi tegaknya syariat dan hukum Ilahi, maka ia seharusnya menunjukkan rasa kasihan terhadapnya dan memotong tangannya tanpa menunjukkan kemarahan dan kasih sayang. Karena nafsu mempunyai andil dalam keputusan tersebut, sementara nafsu menafikan kemurnian keadilan, sang hakim pun dicopot dari jabatannya.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 452
Dalam suatu peperangan, Imam Ali _radiallahu anhu_ terlibat perang tanding dengan salah seorang jawara kaum musyrik. Ia berhasil mengungguli dan menjatuhkan lawannya. Ketika Imam Ali ra hendak membunuhnya, ia meludahi wajah Imam Ali ra. Akhirnya, Imam Ali ra membebaskan dan meninggalkannya. Orang musyrik itu pun memandang aneh sikap Imam Ali ra dan bertanya, “Mengapa engkau tidak membunuhku?” Imam Ali menjawab, “Awalnya, aku ingin membunuhmu karena Allah. Namun, ketika engkau meludahiku, aku pun marah. Karena pengaruh nafsu telah menodai keikhlasanku, aku pun tidak jadi membunuhmu.”
“Semestinya kelakuanku lebih memancing kemarahanmu sehingga engkau segera membunuhku. Jika agamamu begitu suci dan tulus, sudah pasti ia adalah agama yang benar,” ujar orang musyrik itu.
Dalam peristiwa yang lain, seorang penguasa yang adil memecat seorang hakim ketika melihatnya marah saat melakukan eksekusi potong tangan terhadap pencuri. Jika hakim itu memotong tangan pencuri demi tegaknya syariat dan hukum Ilahi, maka ia seharusnya menunjukkan rasa kasihan terhadapnya dan memotong tangannya tanpa menunjukkan kemarahan dan kasih sayang. Karena nafsu mempunyai andil dalam keputusan tersebut, sementara nafsu menafikan kemurnian keadilan, sang hakim pun dicopot dari jabatannya.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 452
*Penyakit Dan Kondisi Sosial Umat Islam Yang Memilukan*
Suku paling primitif pun bisa mengerti kondisi bahaya yang mengancam sehingga mereka melupakan konflik internal mereka dan menggalang persatuan untuk menghadapi serangan musuh dari luar. Jika mereka yang primitif saja bisa mewujudkan kemaslahatan sosial, mengapa mereka yang mengemban misi pengabdian dan dakwah Islam tidak dapat melupakan permusuhan sepele di antara mereka sehingga membuka jalan bagi musuh yang tak terhitung jumlah nya untuk menyerang umat Islam?! Padahal musuh telah menyatukan barisan dan mengepung umat Islam dari segala penjuru. Kondisi ini tentu sebuah kemunduran yang mencemaskan, kemerosotan yang memilukan, dan penghianatan terhadap kehidupan sosial umat Islam.
Berkaitan dengan kondisi tersebut, akan kukisahkan sebuah cerita yang mengandung pelajaran.
Terdapat dua marga dari suku Hasnan yang menyimpan rasa permusuhan hingga memakan korban lebih dari lima puluh orang. Akan tetapi, bila ancaman dari luar datang, yaitu dari suku Sabkan atau Haydaran, kedua marga tersebut bahu-membahu secara total dan melupakan permusuhan di antara mereka guna memukul mundur serangan musuh dari luar tersebut. Wahai orang-orang yang beriman! Tahukah kalian berapa banyak kelompok musuh yang siap menyerang kaum mukmin?! Terdapat lebih dari seratus kelompok yang mengepung Islam dan umat Islam, seperti rangkaian lingkaran yang saling bertautan. Namun, ketika kaum muslim seharusnya bahu-membahu untuk membendung serangan dari pihak musuh, setiap kelompok dalam umat Islam hanya mementingkan kepentingan kelompoknya, seakan-akan membuka jalan bagi terbukanya semua pintu untuk para musuh sehingga dapat menembus pertahanan Islam. Apakah hal ini pantas bagi umat Islam?
Jika kalian ingin menghitung lingkaran musuh yang mengepung Islam, mereka adalah kaum sesat, kaum ateis, hingga dunia kaum kafir, bencana, dan kondisi dunia yang tidak stabil. Semuanya menjadi lingkaran yang saling bertautan dan membentuk tujuh puluh lingkaran. Semuanya hendak mencelakakan kalian dan ingin membalas dendam atas kalian.
Untuk menghadapi musuh-musuh bebuyutan tersebut, kalian hanya memiliki satu senjata yang ampuh, satu parit pertahanan yang tepercaya, dan satu benteng yang kokoh, yaitu ukhuwah Islamiyah, persaudaraan antar-umat Islam. Jadi, sadarlah dan ketahuilah, wahai umat Islam, bahwa mengguncang benteng Islam dengan permusuhan dan alasan-alasan yang sepele sangat bertolak belakang dengan hati nurani dan kemaslahatan umat Islam secara keseluruhan.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 452-454.
Suku paling primitif pun bisa mengerti kondisi bahaya yang mengancam sehingga mereka melupakan konflik internal mereka dan menggalang persatuan untuk menghadapi serangan musuh dari luar. Jika mereka yang primitif saja bisa mewujudkan kemaslahatan sosial, mengapa mereka yang mengemban misi pengabdian dan dakwah Islam tidak dapat melupakan permusuhan sepele di antara mereka sehingga membuka jalan bagi musuh yang tak terhitung jumlah nya untuk menyerang umat Islam?! Padahal musuh telah menyatukan barisan dan mengepung umat Islam dari segala penjuru. Kondisi ini tentu sebuah kemunduran yang mencemaskan, kemerosotan yang memilukan, dan penghianatan terhadap kehidupan sosial umat Islam.
Berkaitan dengan kondisi tersebut, akan kukisahkan sebuah cerita yang mengandung pelajaran.
Terdapat dua marga dari suku Hasnan yang menyimpan rasa permusuhan hingga memakan korban lebih dari lima puluh orang. Akan tetapi, bila ancaman dari luar datang, yaitu dari suku Sabkan atau Haydaran, kedua marga tersebut bahu-membahu secara total dan melupakan permusuhan di antara mereka guna memukul mundur serangan musuh dari luar tersebut. Wahai orang-orang yang beriman! Tahukah kalian berapa banyak kelompok musuh yang siap menyerang kaum mukmin?! Terdapat lebih dari seratus kelompok yang mengepung Islam dan umat Islam, seperti rangkaian lingkaran yang saling bertautan. Namun, ketika kaum muslim seharusnya bahu-membahu untuk membendung serangan dari pihak musuh, setiap kelompok dalam umat Islam hanya mementingkan kepentingan kelompoknya, seakan-akan membuka jalan bagi terbukanya semua pintu untuk para musuh sehingga dapat menembus pertahanan Islam. Apakah hal ini pantas bagi umat Islam?
Jika kalian ingin menghitung lingkaran musuh yang mengepung Islam, mereka adalah kaum sesat, kaum ateis, hingga dunia kaum kafir, bencana, dan kondisi dunia yang tidak stabil. Semuanya menjadi lingkaran yang saling bertautan dan membentuk tujuh puluh lingkaran. Semuanya hendak mencelakakan kalian dan ingin membalas dendam atas kalian.
Untuk menghadapi musuh-musuh bebuyutan tersebut, kalian hanya memiliki satu senjata yang ampuh, satu parit pertahanan yang tepercaya, dan satu benteng yang kokoh, yaitu ukhuwah Islamiyah, persaudaraan antar-umat Islam. Jadi, sadarlah dan ketahuilah, wahai umat Islam, bahwa mengguncang benteng Islam dengan permusuhan dan alasan-alasan yang sepele sangat bertolak belakang dengan hati nurani dan kemaslahatan umat Islam secara keseluruhan.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 452-454.
*Urgensi _Ukhuwah Islamiyah_ Dalam Kehidupan Sosial*
Disebutkan dalam beberapa hadis Nabi bahwa orang-orang seperti Dajjal dan Sufyani, yang memimpin orang-orang zindik dan kaum ateis pada akhir zaman, memanfaatkan perselisihan di antara kaum muslim dan umat manusia serta memanfaatkan ambisi duniawi mereka sehingga mereka mampu menghancurkan umat manusia hanya dengan sedikit kekuatan, menebarkan kekacauan, serta membelenggu umat Islam.
Wahai kaum mukmin! Jika kalian benar-benar menginginkan kehidupan yang mulia, dan menolak menjadi tawanan kehinaan, sadarlah dan kembalilah pada akal sehatmu. Masuklah ke dalam benteng suci ukhuwah Islamiyah yang diamanatkan firman Allah:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ اِخْوَةٌ ..... (١٠)
_“Sesungguhnya orang-orang yang beriman bersaudara.”_ (QS. al-Hujurât [49]: 10).
Bentengilah dirimu dengannya dari serangan kaum zalim yang memanfaatkan perselisihan internal di antara kalian. Jika tidak, kalian tidak akan sanggup membela hak-hak kalian dan melindungi kehidupan kalian. Sebab, sangat jelas bahwa seorang anak kecil dapat memukul jatuh dua pendekar yang sedang bertarung; sebuah kerikil pun dapat menaik-turunkan timbangan yang berisi dua gunung yang sepadan.
Wahai kaum mukmin! Kekuatanmu akan hilang akibat kepentingan pribadi, egoisme, dan sikap partisan. Kekuatan kecil pun sanggup membuat kalian mengalami kehinaan dan kehancuran. Jika kalian benar-benar mempunyai komitmen terhadap kehidupan sosial umat Islam, jadikanlah prinsip mulia berikut ini sebagai pedoman hidup:
اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ الْمَرْصُوصِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
_“Orang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, yang saling mendukung satu sama lain._
Dengan berpegang pada prinsip tersebut, engkau akan terbebas dari kehinaan dunia dan selamat dari kepedihan akhirat.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 454-455
Disebutkan dalam beberapa hadis Nabi bahwa orang-orang seperti Dajjal dan Sufyani, yang memimpin orang-orang zindik dan kaum ateis pada akhir zaman, memanfaatkan perselisihan di antara kaum muslim dan umat manusia serta memanfaatkan ambisi duniawi mereka sehingga mereka mampu menghancurkan umat manusia hanya dengan sedikit kekuatan, menebarkan kekacauan, serta membelenggu umat Islam.
Wahai kaum mukmin! Jika kalian benar-benar menginginkan kehidupan yang mulia, dan menolak menjadi tawanan kehinaan, sadarlah dan kembalilah pada akal sehatmu. Masuklah ke dalam benteng suci ukhuwah Islamiyah yang diamanatkan firman Allah:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ اِخْوَةٌ ..... (١٠)
_“Sesungguhnya orang-orang yang beriman bersaudara.”_ (QS. al-Hujurât [49]: 10).
Bentengilah dirimu dengannya dari serangan kaum zalim yang memanfaatkan perselisihan internal di antara kalian. Jika tidak, kalian tidak akan sanggup membela hak-hak kalian dan melindungi kehidupan kalian. Sebab, sangat jelas bahwa seorang anak kecil dapat memukul jatuh dua pendekar yang sedang bertarung; sebuah kerikil pun dapat menaik-turunkan timbangan yang berisi dua gunung yang sepadan.
Wahai kaum mukmin! Kekuatanmu akan hilang akibat kepentingan pribadi, egoisme, dan sikap partisan. Kekuatan kecil pun sanggup membuat kalian mengalami kehinaan dan kehancuran. Jika kalian benar-benar mempunyai komitmen terhadap kehidupan sosial umat Islam, jadikanlah prinsip mulia berikut ini sebagai pedoman hidup:
اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ الْمَرْصُوصِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
_“Orang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, yang saling mendukung satu sama lain._
Dengan berpegang pada prinsip tersebut, engkau akan terbebas dari kehinaan dunia dan selamat dari kepedihan akhirat.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 454-455
*Rahmat Allah Merupakan Perantara Paling Agung Untuk Menggapai Keagungan-Nya*
*Rahasia Keenam:* Wahai manusia yang berkutat dalam kelemahan dan kepapaan, jika engkau ingin memahami rahmat Allah sebagai perantara yang paling agung dan pembela yang paling bisa diharapkan, maka ketahuilah bahwa rahmat tersebut merupakan perantara yang paling kuat untuk bisa sampai kepada Penguasa Yang Mahaagung, yang bintang dan atom secara bersama-sama tunduk kepada-Nya sebagai prajurit yang patuh dalam segenap keteraturan yang sempurna.
Penguasa Yang Agung dan Mulia tersebut adalah Pemelihara alam semesta yang tak pernah meminta bantuan seluruh makhluk-Nya. Dia adalah Mahakaya dan Mahamutlak yang sama sekali tidak pernah membutuhkan makhluk dan alam semesta dari aspek apa pun, di mana seluruh alam semesta di bawah perintah dan pengaturan-Nya, taat pada kebesaran dan keperkasaan-Nya, serta merendahkan diri pada keagungan-Nya.
Wahai manusia, rahmat tersebut bisa mengangkat derajatmu untuk sampai kepada Dzat Yang Kaya dan bisa membuatmu menjadi “kekasih” Sang Penguasa Abadi Yang Agung itu. Bahkan, ia bisa mengangkatmu menuju kedudukan hamba yang mendapat seruan-Nya yang agung serta menjadikanmu sebagai hamba yang dimuliakan dan dicintai oleh-Nya.
Akan tetapi, sebagaimana engkau tidak akan sampai ke matahari karena engkau jauh darinya, bahkan engkau takkan bisa mendekat kepadanya. Cahayanya hanya bisa memberikan tampilan dan gambaran matahari tersebut kepadamu lewat perantaraan cermin. Demikian pula, kita sangat jauh dari Dzat yang Mahasuci, Matahari azali dan Abadi, tidak bisa mendekati-Nya, tetapi cahaya rahmat Allah membuat Dia dekat kepada kita.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 212-213
*Rahasia Keenam:* Wahai manusia yang berkutat dalam kelemahan dan kepapaan, jika engkau ingin memahami rahmat Allah sebagai perantara yang paling agung dan pembela yang paling bisa diharapkan, maka ketahuilah bahwa rahmat tersebut merupakan perantara yang paling kuat untuk bisa sampai kepada Penguasa Yang Mahaagung, yang bintang dan atom secara bersama-sama tunduk kepada-Nya sebagai prajurit yang patuh dalam segenap keteraturan yang sempurna.
Penguasa Yang Agung dan Mulia tersebut adalah Pemelihara alam semesta yang tak pernah meminta bantuan seluruh makhluk-Nya. Dia adalah Mahakaya dan Mahamutlak yang sama sekali tidak pernah membutuhkan makhluk dan alam semesta dari aspek apa pun, di mana seluruh alam semesta di bawah perintah dan pengaturan-Nya, taat pada kebesaran dan keperkasaan-Nya, serta merendahkan diri pada keagungan-Nya.
Wahai manusia, rahmat tersebut bisa mengangkat derajatmu untuk sampai kepada Dzat Yang Kaya dan bisa membuatmu menjadi “kekasih” Sang Penguasa Abadi Yang Agung itu. Bahkan, ia bisa mengangkatmu menuju kedudukan hamba yang mendapat seruan-Nya yang agung serta menjadikanmu sebagai hamba yang dimuliakan dan dicintai oleh-Nya.
Akan tetapi, sebagaimana engkau tidak akan sampai ke matahari karena engkau jauh darinya, bahkan engkau takkan bisa mendekat kepadanya. Cahayanya hanya bisa memberikan tampilan dan gambaran matahari tersebut kepadamu lewat perantaraan cermin. Demikian pula, kita sangat jauh dari Dzat yang Mahasuci, Matahari azali dan Abadi, tidak bisa mendekati-Nya, tetapi cahaya rahmat Allah membuat Dia dekat kepada kita.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 212-213
*Manifestasi Nama _Ar-Rahmân_ Dalam Diri Manusia*
Dalam Hadis Nabi sebelumnya terdapat sebuah isyarat bahwa dalam diri manusia dan makhluk hidup lainnya ada berbagai tampilan yang menunjukkan sifat kasih sayang Allah, ia berposisi sebagai cermin yang menampakkan manifestasi Allah SWT. Posisi manusia sebagai bukti atas Allah SWT sangat jelas dan kuat, di mana kejelasan dan kekuatannya menyerupai cermin yang memantulkan bayangan matahari.
Sebagaimana cermin tadi bisa disebut matahari sebagai isyarat bahwa ia sangat terang dan betul-betul menunjukkan keberadaan matahari, demikian pula kita bisa mengatakan— seperti yang telah disebutkan oleh Hadis Nabi sebelumnya —bahwa dalam diri manusia terdapat gambaran _ar-Rahmân_. Hal itu sebagai isyarat bahwa manusia benar-benar menunjukkan nama _ar-Rahmân_, sangat sesuai dengan nama-Nya itu, serta mempunyai ikatan yang kuat dengan-Nya.
Atas dasar itulah kalangan moderat dari penganut paham _Wahdatul wujud_ berkata, _“Lâ Maujûda Illâ Huwa”_ (Yang ada hanyalah Dia) sebagai perlambang adanya kesesuaian yang sempurna.
Wahai Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dengan kebenaran _Bismillâhirrahmânirrahîm_, kasihi kami sesuai dengan sifat kasih-Mu. Beri kami pemahaman tentang berbagai rahasia _Bismillâhirrahmânirrahîm_ sesuai dengan sifat sayang-Mu.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 211-212
Dalam Hadis Nabi sebelumnya terdapat sebuah isyarat bahwa dalam diri manusia dan makhluk hidup lainnya ada berbagai tampilan yang menunjukkan sifat kasih sayang Allah, ia berposisi sebagai cermin yang menampakkan manifestasi Allah SWT. Posisi manusia sebagai bukti atas Allah SWT sangat jelas dan kuat, di mana kejelasan dan kekuatannya menyerupai cermin yang memantulkan bayangan matahari.
Sebagaimana cermin tadi bisa disebut matahari sebagai isyarat bahwa ia sangat terang dan betul-betul menunjukkan keberadaan matahari, demikian pula kita bisa mengatakan— seperti yang telah disebutkan oleh Hadis Nabi sebelumnya —bahwa dalam diri manusia terdapat gambaran _ar-Rahmân_. Hal itu sebagai isyarat bahwa manusia benar-benar menunjukkan nama _ar-Rahmân_, sangat sesuai dengan nama-Nya itu, serta mempunyai ikatan yang kuat dengan-Nya.
Atas dasar itulah kalangan moderat dari penganut paham _Wahdatul wujud_ berkata, _“Lâ Maujûda Illâ Huwa”_ (Yang ada hanyalah Dia) sebagai perlambang adanya kesesuaian yang sempurna.
Wahai Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dengan kebenaran _Bismillâhirrahmânirrahîm_, kasihi kami sesuai dengan sifat kasih-Mu. Beri kami pemahaman tentang berbagai rahasia _Bismillâhirrahmânirrahîm_ sesuai dengan sifat sayang-Mu.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 211-212