*Perbedaan Hemat dan Pelit*
Nuktah Kelima
Di antara kesempurnaan kemurahan-Nya, Allah membuat orang yang paling miskin dapat merasakan kelezatan berbagai nikmat-Nya, sebagaimana yang dirasakan oleh orang yang paling kaya. Sehingga, orang miskin bisa merasakan kelezatan tersebut layaknya penguasa.
Ya, kelezatan yang dirasakan oleh orang miskin ketika ia memakan sepotong roti kering karena lapar dan hemat melebihi kenikmatan yang dirasakan oleh penguasa atau orang kaya ketika mereka memakan kue mahal dalam kondisi bosan dan tanpa selera akibat berlebihan.
Namun sungguh mengherankan, ada sebagian orang yang hidup boros dan berlebihan menuduh orang-orang yang hemat sebagai orang pelit. Tidak, sama sekali! Hidup hemat merupakan kehormatan dan kedermawanan. Sementara kehinaan dan sifat pelit ada di balik kedermawanan lahiriah orang-orang yang berlebihan dan boros.
Ada sebuah peristiwa yang berlangsung di rumahku di Isparta pada tahun selesainya penulisan risalah ini yang menguatkan hakikat di atas.
Salah seorang muridku terus-menerus memaksa agar aku menerima hadiah sekitar tiga kilogram madu di mana hal tersebut menyalahi prinsip hidup yang kupegang selama ini. Walaupun aku telah berupaya sekuat tenaga menjelaskan pentingnya berpegang pada prinsipku itu, ia tetap tidak merasa puas dengan penjelasanku tersebut. Akhirnya, aku terpaksa menerimanya dengan niat agar tiga orang saudaraku yang tinggal sekamar bisa bersama-sama memakan madu tersebut secara hemat sepanjang empat puluh hari bulan Sya’ban dan Ramadhan sehingga si pemberi tadi mendapatkan ganjaran pahala yang besar, juga agar mereka bertiga bisa menikmati sesuatu yang manis. Begitulah aku wasiatkan mereka untuk menerima hadiah tadi, mengingat aku sendiri masih mempunyai sekitar satu kilogram madu.
Meskipun teman-temanku yang tiga orang itu betul-betul istikamah dan hidup hemat, namun mereka melupakan wasiatku tadi sebagai buah dari sikap saling memuliakan, sikap untuk menjaga perasaan orang, dan sikap itsar (mengutamakan orang lain), serta sifat-sifat terpuji lainnya. Mereka pun menghabiskan madu yang mereka miliki hanya dalam tiga malam. Sambil tersenyum kukatakan kepada mereka, “Tadinya aku berharap kalian bisa merasakan nikmatnya madu tersebut selama tiga puluh hari atau lebih. Namun ternyata kalian menghabiskannya dalam tiga malam saja. Kuucapkan selamat kepada kalian.” Sementara aku mempergunakan madu yang kumiliki secara hemat. Aku bisa mengonsumsinya sepanjang bulan Sya’ban dan Ramadhan, di samping alhamdulillah ia menjadi sebab bagi datangnya pahala yang besar. Sebab, aku bisa memberikan kepada masing-masing mereka sesendok madu di saat berbuka.”
Barangkali orang-orang yang menyaksikan kondisiku menganggap apa yang kulakukan sebagai sikap pelit, sementara tindakan yang dilakukan oleh teman-teman pada tiga malam itu sebagai sebuah kedermewanan. Namun ternyata kita menyaksikan di balik sikap pelit lahiriah tersebut ada kemuliaan yang tinggi, keberkahan yang luas, dan pahala yang besar. Sebaliknya, di balik kemuliaan dan hidup berlebihan itu ada sikap meminta-minta dan mengharap bantuan orang. Tentu saja hal ini jauh lebih hina daripada sikap pelit di atas.
Said Nursi, Al-Lama'at hlm. 275-276. Pembahasan Berlanjut...
Nuktah Kelima
Di antara kesempurnaan kemurahan-Nya, Allah membuat orang yang paling miskin dapat merasakan kelezatan berbagai nikmat-Nya, sebagaimana yang dirasakan oleh orang yang paling kaya. Sehingga, orang miskin bisa merasakan kelezatan tersebut layaknya penguasa.
Ya, kelezatan yang dirasakan oleh orang miskin ketika ia memakan sepotong roti kering karena lapar dan hemat melebihi kenikmatan yang dirasakan oleh penguasa atau orang kaya ketika mereka memakan kue mahal dalam kondisi bosan dan tanpa selera akibat berlebihan.
Namun sungguh mengherankan, ada sebagian orang yang hidup boros dan berlebihan menuduh orang-orang yang hemat sebagai orang pelit. Tidak, sama sekali! Hidup hemat merupakan kehormatan dan kedermawanan. Sementara kehinaan dan sifat pelit ada di balik kedermawanan lahiriah orang-orang yang berlebihan dan boros.
Ada sebuah peristiwa yang berlangsung di rumahku di Isparta pada tahun selesainya penulisan risalah ini yang menguatkan hakikat di atas.
Salah seorang muridku terus-menerus memaksa agar aku menerima hadiah sekitar tiga kilogram madu di mana hal tersebut menyalahi prinsip hidup yang kupegang selama ini. Walaupun aku telah berupaya sekuat tenaga menjelaskan pentingnya berpegang pada prinsipku itu, ia tetap tidak merasa puas dengan penjelasanku tersebut. Akhirnya, aku terpaksa menerimanya dengan niat agar tiga orang saudaraku yang tinggal sekamar bisa bersama-sama memakan madu tersebut secara hemat sepanjang empat puluh hari bulan Sya’ban dan Ramadhan sehingga si pemberi tadi mendapatkan ganjaran pahala yang besar, juga agar mereka bertiga bisa menikmati sesuatu yang manis. Begitulah aku wasiatkan mereka untuk menerima hadiah tadi, mengingat aku sendiri masih mempunyai sekitar satu kilogram madu.
Meskipun teman-temanku yang tiga orang itu betul-betul istikamah dan hidup hemat, namun mereka melupakan wasiatku tadi sebagai buah dari sikap saling memuliakan, sikap untuk menjaga perasaan orang, dan sikap itsar (mengutamakan orang lain), serta sifat-sifat terpuji lainnya. Mereka pun menghabiskan madu yang mereka miliki hanya dalam tiga malam. Sambil tersenyum kukatakan kepada mereka, “Tadinya aku berharap kalian bisa merasakan nikmatnya madu tersebut selama tiga puluh hari atau lebih. Namun ternyata kalian menghabiskannya dalam tiga malam saja. Kuucapkan selamat kepada kalian.” Sementara aku mempergunakan madu yang kumiliki secara hemat. Aku bisa mengonsumsinya sepanjang bulan Sya’ban dan Ramadhan, di samping alhamdulillah ia menjadi sebab bagi datangnya pahala yang besar. Sebab, aku bisa memberikan kepada masing-masing mereka sesendok madu di saat berbuka.”
Barangkali orang-orang yang menyaksikan kondisiku menganggap apa yang kulakukan sebagai sikap pelit, sementara tindakan yang dilakukan oleh teman-teman pada tiga malam itu sebagai sebuah kedermewanan. Namun ternyata kita menyaksikan di balik sikap pelit lahiriah tersebut ada kemuliaan yang tinggi, keberkahan yang luas, dan pahala yang besar. Sebaliknya, di balik kemuliaan dan hidup berlebihan itu ada sikap meminta-minta dan mengharap bantuan orang. Tentu saja hal ini jauh lebih hina daripada sikap pelit di atas.
Said Nursi, Al-Lama'at hlm. 275-276. Pembahasan Berlanjut...
*Sebuah Contoh yang Membedakan Sikap Hemat dam Boros*
Nuktah Keenam
Ada perbedaan yang sangat jauh antara sikap hemat dan pelit. Sebagaimana sifat rendah hati (tawadhu) yang merupakan akhlak terpuji berbeda dengan rendah diri yang merupakan akhlak tercela meskipun bentuk keduanya serupa. Juga, sebagaimana kewibawaan yang merupakan perilaku terpuji berbeda dengan kesombongan yang merupakan perilaku tercela, meskipun bentuk keduanya sama.
Demikian halnya dengan sikap hemat. Ia merupakan perilaku kenabian yang mulia. Bahkan ia termasuk sumber tatanan hikmah Ila hi yang berlaku di alam ini. Ia tidak ada kaitannya dengan sikap pelit yang merupakan gabungan dari kerendahan, kebakhilan, keserakahan, dan ketamakan. Bahkan tidak ada hubungan sama sekali antara keduanya. Yang ada hanyalah kemiripan lahiriah semata. Berikut ini akan kami berikan sebuah contoh yang menguatkan hakikat tersebut.
Pada suatu hari, Abdullah ibn Umar ibn al-Khattab ra yang merupakan anak sulung al-Faruq Khalifah Rasulullah, salah satu di antara tujuh orang sahabat terkenal yang bernama “Abdullah”,93 dan termasuk ulama terkemuka di kalangan sahabat, terlibat dalam sebuah tawar-menawar yang cukup alot ketika melakukan transaksi di pasar hanya karena uang yang nilainya tidak lebih dari seribu rupiah. Hal itu dilakukan untuk menjaga prinsip hemat, serta untuk menjaga sifat amanah dan istikamah yang merupakan modal sebuah bisnis.
Pada saat itu ada seorang sahabat lain yang melihatnya. Sahabat tersebut mengira bahwa Abdullah ibn Umar memiliki sifat pelit sehingga hal itu aneh baginya. Sebab, bagaimana mungkin sifat tersebut melekat pada diri Abdullah ibn Umar, putra Amirul Mukminin dan putra seorang khalifah. Maka, ia pun membuntuti beliau hingga ke rumahnya untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Tidak lama kemudian, ia saksikan Abdullah ibn Umar ra sedang bersama seorang fakir di depan pintu rumah. Mereka berdua saling berbicara dengan santun dan ramah. Setelah itu, Abdullah keluar dari pintu yang kedua dan berbicara dengan seorang fakir lainnya di sana. Hal ini tentu saja membuat sahabat tadi semakin penasaran. Lalu ia pun segera menemui dua orang fakir tadi guna meminta penjelasan dari mereka, “Bolehkah aku mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Ibnu Umar kepada kalian berdua?” “Ia telah memberi masing-masing kami sepotong emas,” jawab keduanya.
Mendengar hal tersebut, ia sangat terkejut sambil berkata, “Subhanallah! Di pasar beliau terlibat dalam perdebatan sengit hanya gara-gara uang senilai seribu rupiah, tapi di rumahnya beliau menyedekahkan ratusan kali lipat kepada dua orang yang sangat membutuhkan secara tulus tanpa ada yang mengetahui.” Kemudian ia beranjak menuju rumah Ibnu Umar d untuk menanyakan hal itu kepadanya, “Wahai Imam, tolong jelaskan kepadaku misteri ini. Di pasar engkau telah melakukan hal demikian, tetapi di rumah engkau melakukan hal yang berbeda.”
Abdullah ibn Umar menjawab, “Apa yang terjadi di pasar hanyalah wujud dari sikap hemat dan bijak. Aku sengaja melakukan hal tersebut untuk menjaga sifat amanah dan kejujuran sebagai modal utama dalam jual-beli. Ia sama sekali bukan merupakan cerminan dari sifat pelit dan bakhil. Sementara yang terjadi di rumah adalah berasal dari rasa kasihan, simpati, dan kemurahan jiwa. Jadi, yang tadi bukan sikap pelit, dan yang ini bukan sikap berlebihan.”
Hal tersebut sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Abu Hanifah ra. di mana beliau berkata:
لا ﺇﺳﺮﺍﻑ ﻓﻲ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻛﻤﺎ ﻟﺎ ﺧﻴﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺈﺳﺮﺍﻑ"
_“Tidak ada kata berlebihan pada sebuah kebaikan, dan tidak ada kebaikan pada sesuatu yang berlebihan."_
Maksudnya, berbuat baik kepada orang yang berhak menerimanya tidaklah disebut berlebihan. Sementara berlebihan sama sekali bukan merupakan kebaikan.
Said Nursi, Al-Lama'at hlm. 277-278. Pembahasan Berlanjut...
Nuktah Keenam
Ada perbedaan yang sangat jauh antara sikap hemat dan pelit. Sebagaimana sifat rendah hati (tawadhu) yang merupakan akhlak terpuji berbeda dengan rendah diri yang merupakan akhlak tercela meskipun bentuk keduanya serupa. Juga, sebagaimana kewibawaan yang merupakan perilaku terpuji berbeda dengan kesombongan yang merupakan perilaku tercela, meskipun bentuk keduanya sama.
Demikian halnya dengan sikap hemat. Ia merupakan perilaku kenabian yang mulia. Bahkan ia termasuk sumber tatanan hikmah Ila hi yang berlaku di alam ini. Ia tidak ada kaitannya dengan sikap pelit yang merupakan gabungan dari kerendahan, kebakhilan, keserakahan, dan ketamakan. Bahkan tidak ada hubungan sama sekali antara keduanya. Yang ada hanyalah kemiripan lahiriah semata. Berikut ini akan kami berikan sebuah contoh yang menguatkan hakikat tersebut.
Pada suatu hari, Abdullah ibn Umar ibn al-Khattab ra yang merupakan anak sulung al-Faruq Khalifah Rasulullah, salah satu di antara tujuh orang sahabat terkenal yang bernama “Abdullah”,93 dan termasuk ulama terkemuka di kalangan sahabat, terlibat dalam sebuah tawar-menawar yang cukup alot ketika melakukan transaksi di pasar hanya karena uang yang nilainya tidak lebih dari seribu rupiah. Hal itu dilakukan untuk menjaga prinsip hemat, serta untuk menjaga sifat amanah dan istikamah yang merupakan modal sebuah bisnis.
Pada saat itu ada seorang sahabat lain yang melihatnya. Sahabat tersebut mengira bahwa Abdullah ibn Umar memiliki sifat pelit sehingga hal itu aneh baginya. Sebab, bagaimana mungkin sifat tersebut melekat pada diri Abdullah ibn Umar, putra Amirul Mukminin dan putra seorang khalifah. Maka, ia pun membuntuti beliau hingga ke rumahnya untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Tidak lama kemudian, ia saksikan Abdullah ibn Umar ra sedang bersama seorang fakir di depan pintu rumah. Mereka berdua saling berbicara dengan santun dan ramah. Setelah itu, Abdullah keluar dari pintu yang kedua dan berbicara dengan seorang fakir lainnya di sana. Hal ini tentu saja membuat sahabat tadi semakin penasaran. Lalu ia pun segera menemui dua orang fakir tadi guna meminta penjelasan dari mereka, “Bolehkah aku mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Ibnu Umar kepada kalian berdua?” “Ia telah memberi masing-masing kami sepotong emas,” jawab keduanya.
Mendengar hal tersebut, ia sangat terkejut sambil berkata, “Subhanallah! Di pasar beliau terlibat dalam perdebatan sengit hanya gara-gara uang senilai seribu rupiah, tapi di rumahnya beliau menyedekahkan ratusan kali lipat kepada dua orang yang sangat membutuhkan secara tulus tanpa ada yang mengetahui.” Kemudian ia beranjak menuju rumah Ibnu Umar d untuk menanyakan hal itu kepadanya, “Wahai Imam, tolong jelaskan kepadaku misteri ini. Di pasar engkau telah melakukan hal demikian, tetapi di rumah engkau melakukan hal yang berbeda.”
Abdullah ibn Umar menjawab, “Apa yang terjadi di pasar hanyalah wujud dari sikap hemat dan bijak. Aku sengaja melakukan hal tersebut untuk menjaga sifat amanah dan kejujuran sebagai modal utama dalam jual-beli. Ia sama sekali bukan merupakan cerminan dari sifat pelit dan bakhil. Sementara yang terjadi di rumah adalah berasal dari rasa kasihan, simpati, dan kemurahan jiwa. Jadi, yang tadi bukan sikap pelit, dan yang ini bukan sikap berlebihan.”
Hal tersebut sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Abu Hanifah ra. di mana beliau berkata:
لا ﺇﺳﺮﺍﻑ ﻓﻲ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻛﻤﺎ ﻟﺎ ﺧﻴﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺈﺳﺮﺍﻑ"
_“Tidak ada kata berlebihan pada sebuah kebaikan, dan tidak ada kebaikan pada sesuatu yang berlebihan."_
Maksudnya, berbuat baik kepada orang yang berhak menerimanya tidaklah disebut berlebihan. Sementara berlebihan sama sekali bukan merupakan kebaikan.
Said Nursi, Al-Lama'at hlm. 277-278. Pembahasan Berlanjut...
*Sikap boros dan berlebihan menimbulkan ketamakan*
Nuktah Ketujuh
Ketamakan melahirkan tiga hal:
1. Tidak Pernah Merasa Cukup.
Kondisi ini menyebabkan seseorang enggan berusaha dan bekerja, membuatnya selalu mengeluh tanpa mau bersyukur, serta melemparkannya ke dalam jurang kemalasan. Sebagai akibatnya, ia tidak mau menerima uang sedikit yang diperoleh dari usaha halal. Tetapi, ia menoleh kepada uang haram yang diperoleh tanpa perlu capek dan lelah. Serta demi itu, ia rela mengorbankan harga diri dan kehormatannya.
2. Malang dan Merugi. Orang yang tamak tidak akan pernah mencapai tujuannya, selalu merasa sulit, tidak pernah merasa ditolong dan dibantu sehingga seperti bunyi sebuah ungkapan terkenal:
ﺍﻟﺤﺮﻳﺺ ﺧﺎﺋﺐٌ ﺧﺎﺳﺮ .
_“Orang yang tamak selalu malang dan merugi.”_
Sifat tamak dan qana’ah tersebut memberikan dampak tertentu pada kehidupan makhluk sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku.
Contoh: Datangnya rezeki kepada tumbuhan disebabkan oleh sifat qana’ah alamiahnya, serta upaya keras dan ketamakan binatang untuk memperoleh rezekinya dengan bersusah payah, keduanya memperlihatkan kepada kita betapa bahayanya sifat tamak dan betapa untungnya sifat qana’ah.
Mengalirnya susu ke mulut para bayi yang masih kecil dan lemah secara tidak mereka sangka akibat sifat qana’ah yang ditunjukkan oleh kondisi mereka, serta serangan binatang buas dengan penuh ketamakan guna mencengkeram rezekinya, keduanya menguatkan apa yang telah kami kemukakan.
Said Nursi, al-Lama'at, hlm. 279. Pembahasan Berlanjut...
Nuktah Ketujuh
Ketamakan melahirkan tiga hal:
1. Tidak Pernah Merasa Cukup.
Kondisi ini menyebabkan seseorang enggan berusaha dan bekerja, membuatnya selalu mengeluh tanpa mau bersyukur, serta melemparkannya ke dalam jurang kemalasan. Sebagai akibatnya, ia tidak mau menerima uang sedikit yang diperoleh dari usaha halal. Tetapi, ia menoleh kepada uang haram yang diperoleh tanpa perlu capek dan lelah. Serta demi itu, ia rela mengorbankan harga diri dan kehormatannya.
2. Malang dan Merugi. Orang yang tamak tidak akan pernah mencapai tujuannya, selalu merasa sulit, tidak pernah merasa ditolong dan dibantu sehingga seperti bunyi sebuah ungkapan terkenal:
ﺍﻟﺤﺮﻳﺺ ﺧﺎﺋﺐٌ ﺧﺎﺳﺮ .
_“Orang yang tamak selalu malang dan merugi.”_
Sifat tamak dan qana’ah tersebut memberikan dampak tertentu pada kehidupan makhluk sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku.
Contoh: Datangnya rezeki kepada tumbuhan disebabkan oleh sifat qana’ah alamiahnya, serta upaya keras dan ketamakan binatang untuk memperoleh rezekinya dengan bersusah payah, keduanya memperlihatkan kepada kita betapa bahayanya sifat tamak dan betapa untungnya sifat qana’ah.
Mengalirnya susu ke mulut para bayi yang masih kecil dan lemah secara tidak mereka sangka akibat sifat qana’ah yang ditunjukkan oleh kondisi mereka, serta serangan binatang buas dengan penuh ketamakan guna mencengkeram rezekinya, keduanya menguatkan apa yang telah kami kemukakan.
Said Nursi, al-Lama'at, hlm. 279. Pembahasan Berlanjut...
*Sifat Qana’ah Merupakan Modal untuk Menggapai Kehidupan yang Lapang dan Nyaman*
Kemudian, gemuknya ikan yang dungu berkat sifat qana’ah karena rezekinya yang datang sendiri kepadanya secara sempurna, serta ketidakmampuan berbagai binatang cerdik seperti rubah dan kera dalam memperoleh makanan padahal mereka telah antusias dan berupaya keras, semua itu menegaskan akibat buruk dari sifat tamak berupa kepenatan dan kesulitan, serta dampak positif dari sifat qana’ah berupa kelapangan dan kemudahan.
Selain itu, bangsa Yahudi dalam memperoleh rezeki mereka dengan cara yang tidak dibenarkan disertai kehinaan akibat dari kerakusan, transaksi ribawi, praktek manipulasi dan tipu muslihat mereka, serta bagaimana masyarakat Badui merasa cukup dengan rezeki dan kehidupan mereka yang mulia, juga mendukung pernyataan kami di atas.
Contoh lain dapat dilihat pada banyaknya para ulama dan sastrawan yang karena sifat rakus dan tamak mereka pun jatuh ke dalam kehidupan yang sangat miskin. Sementara orang-orang yang bodoh dan lemah karena mempunyai watak qana’ah, mereka hidup dalam kondisi berkecukupan. Hal itu menegaskan bahwa rezeki halal datang sesuai dengan kelemahan dan kebutuhan kita, bukan dengan usaha dan ikhtiar. Bahkan ia berbanding terbalik dengan upaya dan ikhtiar tersebut. Sebab, rezeki seorang anak sedikit demi sedikit berkurang, menjauh, dan bertambah sulit untuk diperoleh seiring dengan pertumbuhan ikhtiar, kehendak, dan kemampuan usahanya.
Ya, sifat qana’ah merupakan modal untuk menggapai kehidupan yang lapang dan nyaman, serta penyebab ketenteraman dalam hidup. Sebaliknya, sifat tamak merupakan ladang kerugian dan kehinaan.
(ﺍﻟْﻘَﻨَﺎﻋَﺔُ ﻛَﻨْﺰٌ ﻟﺎَ ﻳَﻔْﻨَﻰ)
_“Qana’ah merupakan kekayaan yang tak pernah musnah.”_.
Said Nursi, Al-Lama'at hlm. 279-280. Pembahasan Berlanjut...
Kemudian, gemuknya ikan yang dungu berkat sifat qana’ah karena rezekinya yang datang sendiri kepadanya secara sempurna, serta ketidakmampuan berbagai binatang cerdik seperti rubah dan kera dalam memperoleh makanan padahal mereka telah antusias dan berupaya keras, semua itu menegaskan akibat buruk dari sifat tamak berupa kepenatan dan kesulitan, serta dampak positif dari sifat qana’ah berupa kelapangan dan kemudahan.
Selain itu, bangsa Yahudi dalam memperoleh rezeki mereka dengan cara yang tidak dibenarkan disertai kehinaan akibat dari kerakusan, transaksi ribawi, praktek manipulasi dan tipu muslihat mereka, serta bagaimana masyarakat Badui merasa cukup dengan rezeki dan kehidupan mereka yang mulia, juga mendukung pernyataan kami di atas.
Contoh lain dapat dilihat pada banyaknya para ulama dan sastrawan yang karena sifat rakus dan tamak mereka pun jatuh ke dalam kehidupan yang sangat miskin. Sementara orang-orang yang bodoh dan lemah karena mempunyai watak qana’ah, mereka hidup dalam kondisi berkecukupan. Hal itu menegaskan bahwa rezeki halal datang sesuai dengan kelemahan dan kebutuhan kita, bukan dengan usaha dan ikhtiar. Bahkan ia berbanding terbalik dengan upaya dan ikhtiar tersebut. Sebab, rezeki seorang anak sedikit demi sedikit berkurang, menjauh, dan bertambah sulit untuk diperoleh seiring dengan pertumbuhan ikhtiar, kehendak, dan kemampuan usahanya.
Ya, sifat qana’ah merupakan modal untuk menggapai kehidupan yang lapang dan nyaman, serta penyebab ketenteraman dalam hidup. Sebaliknya, sifat tamak merupakan ladang kerugian dan kehinaan.
(ﺍﻟْﻘَﻨَﺎﻋَﺔُ ﻛَﻨْﺰٌ ﻟﺎَ ﻳَﻔْﻨَﻰ)
_“Qana’ah merupakan kekayaan yang tak pernah musnah.”_.
Said Nursi, Al-Lama'at hlm. 279-280. Pembahasan Berlanjut...
*Sifat Qana’ah Muncul dari Hidup Hemat*
3. Ketamakan menodai keikhlasan dan merusak amal ukhrawi. Sebab, jika pada diri seorang mukmin yang bertakwa terdapat ketamakan, pastilah ia sangat berkeinginan untuk dihargai orang. Sementara siapa yang mengharap dan menantikan penghargaan orang, ia tidak akan mencapai tingkatan ikhlas yang sempurna. Akibat yang sangat penting ini hendaknya diperhatikan.
Kesimpulannya, sikap berlebihan melahirkan perasaan tidak pernah cukup. Hal itu membuat seseorang enggan bekerja, menjadikannya malas, serta membuatnya selalu mengeluh dan menderita dalam hidup. Sebagai akibatnya, ia senantiasa merintih di bawah derita keluhan. Selain itu, sifat merasa tidak cukup akan merusak keikhlasan seseorang dan akan membuka peluang bagi sifat riya dan kepura-puraan yang pada tahap selanjutnya akan menghancurkan kemuliaannya dan menjerumuskannya pada sikap meminta-minta.
Sebaliknya, hidup hemat membuahkan sifat qana’ah. Dan qana’ah itu sendiri melahirkan kemuliaan sebagaimana bunyi hadis Nabi SAW:
(ﻋﺰّ ﻣَﻦ ﻗﻨﻊ ﻭﺫﻝّ ﻣَﻦ ﻃﻤﻊ).
_“Sungguh mulia orang yang qana’ah, dan sungguh hina orang yang tamak.”_
Selain itu, ia menumbuhkan rasa senang bekerja dan berusaha serta menambah semangat kerja. Sebab, ketika pada suatu hari seseorang bekerja dan sore harinya menerima upah, pada hari berikutnya ia juga akan berusaha berkat prinsip qana’ah yang ia miliki. Sementara orang yang hidup boros dan berlebihan, pada hari berikutnya ia tidak akan bekerja karena merasa tidak puas. Bahkan meskipun ia bekerja, hal itu dilakukannya tanpa semangat.
Demikianlah, sifat qana’ah yang muncul dari hidup hemat akan membukakan pintu syukur sekaligus menutup pintu keluhan sehingga manusia akan selalu bersyukur dan mengucapkan pujian sepanjang hidupnya. Dengan qana’ah, ia takkan meminta penghargaan manusia karena merasa tidak butuh kepada mereka. Sehingga ia pun bersikap ikhlas dan tidak memiliki sifat riya.
Said Nursi, Al-Lama'at hlm. 280-281. Pembahasan Berlanjut....
3. Ketamakan menodai keikhlasan dan merusak amal ukhrawi. Sebab, jika pada diri seorang mukmin yang bertakwa terdapat ketamakan, pastilah ia sangat berkeinginan untuk dihargai orang. Sementara siapa yang mengharap dan menantikan penghargaan orang, ia tidak akan mencapai tingkatan ikhlas yang sempurna. Akibat yang sangat penting ini hendaknya diperhatikan.
Kesimpulannya, sikap berlebihan melahirkan perasaan tidak pernah cukup. Hal itu membuat seseorang enggan bekerja, menjadikannya malas, serta membuatnya selalu mengeluh dan menderita dalam hidup. Sebagai akibatnya, ia senantiasa merintih di bawah derita keluhan. Selain itu, sifat merasa tidak cukup akan merusak keikhlasan seseorang dan akan membuka peluang bagi sifat riya dan kepura-puraan yang pada tahap selanjutnya akan menghancurkan kemuliaannya dan menjerumuskannya pada sikap meminta-minta.
Sebaliknya, hidup hemat membuahkan sifat qana’ah. Dan qana’ah itu sendiri melahirkan kemuliaan sebagaimana bunyi hadis Nabi SAW:
(ﻋﺰّ ﻣَﻦ ﻗﻨﻊ ﻭﺫﻝّ ﻣَﻦ ﻃﻤﻊ).
_“Sungguh mulia orang yang qana’ah, dan sungguh hina orang yang tamak.”_
Selain itu, ia menumbuhkan rasa senang bekerja dan berusaha serta menambah semangat kerja. Sebab, ketika pada suatu hari seseorang bekerja dan sore harinya menerima upah, pada hari berikutnya ia juga akan berusaha berkat prinsip qana’ah yang ia miliki. Sementara orang yang hidup boros dan berlebihan, pada hari berikutnya ia tidak akan bekerja karena merasa tidak puas. Bahkan meskipun ia bekerja, hal itu dilakukannya tanpa semangat.
Demikianlah, sifat qana’ah yang muncul dari hidup hemat akan membukakan pintu syukur sekaligus menutup pintu keluhan sehingga manusia akan selalu bersyukur dan mengucapkan pujian sepanjang hidupnya. Dengan qana’ah, ia takkan meminta penghargaan manusia karena merasa tidak butuh kepada mereka. Sehingga ia pun bersikap ikhlas dan tidak memiliki sifat riya.
Said Nursi, Al-Lama'at hlm. 280-281. Pembahasan Berlanjut....
*Membayar Zakat dan Hidup Hemat adalah Faktor Penyebab Datangnya Keberkahan*
Aku telah menyaksikan berbagai bahaya nyata dan kerugian besar akibat hidup yang berlebihan dan tidak hemat. Hal itu kusaksikan secara konkret dalam wilayah yang luas sebagai berikut:
Sembilan tahun yang lalu, aku mendatangi sebuah kota yang penuh berkah. Ketika itu sedang musim dingin sehingga aku tidak bisa melihat berbagai sumber kekayaan alam dan berbagai hal yang dihasilkan oleh kota tersebut. Mufti kota itu kemudian berkata kepadaku, “Penduduk kami hidup miskin.” Ia berkali-kali mengulang perkataan tersebut. Mendengar hal itu, aku menjadi sangat tersentuh dan tergugah. Aku pun ikut merasakan kepedihan penduduk kota tersebut selama hampir enam tahun.
Delapan tahun kemudian, aku kembali ke sana. Kebetulan saat itu musim panas. Kupandangi kebun-kebun yang ada di kota tersebut. Lalu seketika aku teringat dengan ucapan almarhum mufti di atas. Kuucapkan, “Subhânallah! Hasil panen kebun-kebun ini melebihi kebutuhan seluruh penduduk kota. Mereka sangat mungkin menjadi orang-orang kaya!” Aku pun terdiam heran. Namun beberapa saat kemudian aku mulai memahami hakikat sebenarnya yang tak bisa ditipu oleh kenyataan lahiriah.
Yaitu bahwa keberkahan telah diangkat dari kota ini akibat pola hidup boros dan berlebihan serta tidak mau hidup hemat. Sehingga pantaslah kalau mufti tadi berkata, “Penduduk kami hidup miskin,” meskipun sumber kekayaan alam yang mereka miliki sangat banyak.
Ya, pengalaman dan kenyataan menunjukkan bahwa membayar zakat dan hidup hemat adalah faktor penyebab datangnya keberkahan dan tambahan nikmat. Sebaliknya, hidup berlebihan dan keengganan membayar zakat merupakan faktor penyebab hilangnya keberkahan.
Said Nursi, Al-Lama'at hlm. 281-282. Pembahasan Berlanjut...
Aku telah menyaksikan berbagai bahaya nyata dan kerugian besar akibat hidup yang berlebihan dan tidak hemat. Hal itu kusaksikan secara konkret dalam wilayah yang luas sebagai berikut:
Sembilan tahun yang lalu, aku mendatangi sebuah kota yang penuh berkah. Ketika itu sedang musim dingin sehingga aku tidak bisa melihat berbagai sumber kekayaan alam dan berbagai hal yang dihasilkan oleh kota tersebut. Mufti kota itu kemudian berkata kepadaku, “Penduduk kami hidup miskin.” Ia berkali-kali mengulang perkataan tersebut. Mendengar hal itu, aku menjadi sangat tersentuh dan tergugah. Aku pun ikut merasakan kepedihan penduduk kota tersebut selama hampir enam tahun.
Delapan tahun kemudian, aku kembali ke sana. Kebetulan saat itu musim panas. Kupandangi kebun-kebun yang ada di kota tersebut. Lalu seketika aku teringat dengan ucapan almarhum mufti di atas. Kuucapkan, “Subhânallah! Hasil panen kebun-kebun ini melebihi kebutuhan seluruh penduduk kota. Mereka sangat mungkin menjadi orang-orang kaya!” Aku pun terdiam heran. Namun beberapa saat kemudian aku mulai memahami hakikat sebenarnya yang tak bisa ditipu oleh kenyataan lahiriah.
Yaitu bahwa keberkahan telah diangkat dari kota ini akibat pola hidup boros dan berlebihan serta tidak mau hidup hemat. Sehingga pantaslah kalau mufti tadi berkata, “Penduduk kami hidup miskin,” meskipun sumber kekayaan alam yang mereka miliki sangat banyak.
Ya, pengalaman dan kenyataan menunjukkan bahwa membayar zakat dan hidup hemat adalah faktor penyebab datangnya keberkahan dan tambahan nikmat. Sebaliknya, hidup berlebihan dan keengganan membayar zakat merupakan faktor penyebab hilangnya keberkahan.
Said Nursi, Al-Lama'at hlm. 281-282. Pembahasan Berlanjut...
*Hidup Hemat dan Tidak berlebihan*
Ayat al-Qur’an yang berbunyi:
وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ
_"Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan"_ (QS. Al-A'raf [7] :31)
ditafsirkan oleh Ibnu Sina, Platonya kaum muslimin, rujukan para dokter, dan guru besar filsafat, dari sudut pandang kedokteran, lewat bait-bait di bawah ini:
﴿ﺟَﻤَﻌْﺖُ ﺍﻟﻄِّﺐَّ ﻓِﻲ ﺑَﻴْﺘَـﻴْﻦِ ﺟَﻤْﻌًﺎﻭَﺣُﺴْﻦُ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِ ﻓِﻰ ﻗِﺼَﺮِ ﺍﻟْﻜَﻠَﺎﻡِ﴾
﴿ﻓَﻘَﻠِّﻞْ ﺇﻥْ ﺃﻛَﻠْﺖَ ﻭَﺑَـــــﻌْــــﺪَ ﺃﻛْﻠٍﺘَﺠَﻨَّﺐْ ﻭَﺍﻟﺸِّــﻔَـﺎﺀُ ﻓِﻰ ﺍْﻟﺎِﻧْﻬِﻀَــﺎﻡِ﴾
﴿ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨُّﻔُﻮﺱِ ﺃﺷَﺪُّ ﺣَﺎﻟًﺎ ﻣِﻦْ ﺍﺩْﺧَﺎﻝِ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ.﴾
_"Kukumpulkan inti pengobatan hanya pada dua bait kata-kata yang baik terletak pada ungkapan singkat"_
_"Kurangi makanmu dan berhentilah sesudah itu kesehatan tubuh terletak pada perut yang kempis"_
_"Kondisi yang paling membebani diri ini kalau ia diisi makanan terus-menerus."_
Said Nursi, Al-Lama'at hlm. 282-283.
Ayat al-Qur’an yang berbunyi:
وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ
_"Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan"_ (QS. Al-A'raf [7] :31)
ditafsirkan oleh Ibnu Sina, Platonya kaum muslimin, rujukan para dokter, dan guru besar filsafat, dari sudut pandang kedokteran, lewat bait-bait di bawah ini:
﴿ﺟَﻤَﻌْﺖُ ﺍﻟﻄِّﺐَّ ﻓِﻲ ﺑَﻴْﺘَـﻴْﻦِ ﺟَﻤْﻌًﺎﻭَﺣُﺴْﻦُ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِ ﻓِﻰ ﻗِﺼَﺮِ ﺍﻟْﻜَﻠَﺎﻡِ﴾
﴿ﻓَﻘَﻠِّﻞْ ﺇﻥْ ﺃﻛَﻠْﺖَ ﻭَﺑَـــــﻌْــــﺪَ ﺃﻛْﻠٍﺘَﺠَﻨَّﺐْ ﻭَﺍﻟﺸِّــﻔَـﺎﺀُ ﻓِﻰ ﺍْﻟﺎِﻧْﻬِﻀَــﺎﻡِ﴾
﴿ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨُّﻔُﻮﺱِ ﺃﺷَﺪُّ ﺣَﺎﻟًﺎ ﻣِﻦْ ﺍﺩْﺧَﺎﻝِ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ.﴾
_"Kukumpulkan inti pengobatan hanya pada dua bait kata-kata yang baik terletak pada ungkapan singkat"_
_"Kurangi makanmu dan berhentilah sesudah itu kesehatan tubuh terletak pada perut yang kempis"_
_"Kondisi yang paling membebani diri ini kalau ia diisi makanan terus-menerus."_
Said Nursi, Al-Lama'at hlm. 282-283.
*Urgensi Bersyukur Kepada Allah*
*RISALAH SYUKUR*
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحٖيمِ
وَ اِنْ مِنْ شَىْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ
Al-Qur’an penuh dengan penjelasan yang menakjubkan serta di banyak ayat ia mendorong makhluk untuk bersyukur. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut:
اَفَلَا يَشْكُرُونَ اَفَلَا يَشْكُرُونَ
_“Tidakkah mereka bersyukur? Tidakkah mereka bersyukur?”_ (QS. Yâsîn [36]: 35 dan 73).
وَسَنَجْزِى الشَّاكِرٖينَ
_“Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”_ (QS. Ali Imran [3]: 145).
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزٖيدَنَّكُمْ
“Jika kalian bersyukur niscaya Kami tambahkan untuk kalian.” (QS. Ibrahim [14]: 7).
بَلِ اللّٰهَ فَاعْبُدْ وَ كُنْ مِنَ الشَّاكِرٖينَ
_“Tetapi sembahlah Allah dan jadilah orang yang bersyukur.”_ (QS. az-Zumar [39]: 66).
Dari ayat-ayat di atas jelas bahwa amal paling mulia yang dituntut oleh Sang Pencipta Yang Maha Penyayang dari hamba adalah bersyukur. Secara tegas dan jelas, al-Qur’an mengajak manusia untuk bersyukur serta menempatkannya dalam posisi yang sangat penting sekaligus menjelaskan bahwa sikap enggan bersyukur merupakan bentuk pendustaan dan pengingkaran terhadap berbagai nikmat ilahi.
Sebanyak 31 kali al-Qur’an memberikan ancaman menakutkan dalam surah ar-Rahman lewat ayat:
فَبِاَىِّ اٰلَٓاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
_“Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian dustakan?!”_ Al-Qur’an menunjukkan bahwa sikap enggan bersyukur merupakan bentuk pendustaan dan pengingkaran.
Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 53-54*
*RISALAH SYUKUR*
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحٖيمِ
وَ اِنْ مِنْ شَىْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ
Al-Qur’an penuh dengan penjelasan yang menakjubkan serta di banyak ayat ia mendorong makhluk untuk bersyukur. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut:
اَفَلَا يَشْكُرُونَ اَفَلَا يَشْكُرُونَ
_“Tidakkah mereka bersyukur? Tidakkah mereka bersyukur?”_ (QS. Yâsîn [36]: 35 dan 73).
وَسَنَجْزِى الشَّاكِرٖينَ
_“Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”_ (QS. Ali Imran [3]: 145).
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزٖيدَنَّكُمْ
“Jika kalian bersyukur niscaya Kami tambahkan untuk kalian.” (QS. Ibrahim [14]: 7).
بَلِ اللّٰهَ فَاعْبُدْ وَ كُنْ مِنَ الشَّاكِرٖينَ
_“Tetapi sembahlah Allah dan jadilah orang yang bersyukur.”_ (QS. az-Zumar [39]: 66).
Dari ayat-ayat di atas jelas bahwa amal paling mulia yang dituntut oleh Sang Pencipta Yang Maha Penyayang dari hamba adalah bersyukur. Secara tegas dan jelas, al-Qur’an mengajak manusia untuk bersyukur serta menempatkannya dalam posisi yang sangat penting sekaligus menjelaskan bahwa sikap enggan bersyukur merupakan bentuk pendustaan dan pengingkaran terhadap berbagai nikmat ilahi.
Sebanyak 31 kali al-Qur’an memberikan ancaman menakutkan dalam surah ar-Rahman lewat ayat:
فَبِاَىِّ اٰلَٓاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
_“Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian dustakan?!”_ Al-Qur’an menunjukkan bahwa sikap enggan bersyukur merupakan bentuk pendustaan dan pengingkaran.
Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 53-54*
*Tujuan Penciptaan Entitas*
Sebagaimana al-Qur’an al-Hakim menerangkan bahwa syukur adalah hasil dan tujuan penciptaan, demikian halnya dengan alam yang laksana al-Qur’an besar juga memperlihatkan bahwa hasil terpenting dari penciptaan seluruh entitas adalah syukur. Hal itu karena bila diperhatikan dengan seksama akan diketahui bahwa: Bentuk dan komposisi alam telah didesain dan dibuat dalam satu model dan corak tertentu di mana ia menghasilkan dan membuahkan syukur. Segala sesuatu dari satu sisi mengarah kepada syukur.
Bahkan seolah-olah buah terpenting dari pohon penciptaan adalah syukur. Dan bahkan seolah-olah produk termulia yang dihasilkan oleh pabrik alam adalah syukur. Hal itu karena kita melihat bahwa “entitas alam” telah dibentuk dalam satu model dan pola yang menyerupai lingkaran besar, sementara kehidupan dicipta guna memerankan titik pusat di dalamnya. Maka kita melihat seluruh entitas melayani dan mengarah pada kehidupan. Ia menyediakan segala kebutuhan dan perlengkapannya. Jadi, Sang Pencipta alam memilih kehidupan di antara seluruh entitas-Nya. Kemudian kita melihat bahwa “dunia makhluk hidup” dihadirkan dalam bentuk lingkaran luas di mana di dalamnya manusia berperan sebagai titik pusat. Tujuan yang diharapkan dari keberadaan makhluk hidup biasanya terpusat pada manusia.
Sang Pencipta Yang Mahamulia mengumpulkan seluruh makhluk hidup di seputar manusia dan menundukkan semuanya untuk melayani manusia. Dia menjadikan manusia sebagai pemimpin dan penguasa atas mereka. Jadi, Sang Pencipta Yang Mahaagung memilih manusia di antara sekian makhluk hidup. Bahkan Dia menjadikannya sebagai objek kehendak-Nya dan target keinginan-Nya.
Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 54-55.
Sebagaimana al-Qur’an al-Hakim menerangkan bahwa syukur adalah hasil dan tujuan penciptaan, demikian halnya dengan alam yang laksana al-Qur’an besar juga memperlihatkan bahwa hasil terpenting dari penciptaan seluruh entitas adalah syukur. Hal itu karena bila diperhatikan dengan seksama akan diketahui bahwa: Bentuk dan komposisi alam telah didesain dan dibuat dalam satu model dan corak tertentu di mana ia menghasilkan dan membuahkan syukur. Segala sesuatu dari satu sisi mengarah kepada syukur.
Bahkan seolah-olah buah terpenting dari pohon penciptaan adalah syukur. Dan bahkan seolah-olah produk termulia yang dihasilkan oleh pabrik alam adalah syukur. Hal itu karena kita melihat bahwa “entitas alam” telah dibentuk dalam satu model dan pola yang menyerupai lingkaran besar, sementara kehidupan dicipta guna memerankan titik pusat di dalamnya. Maka kita melihat seluruh entitas melayani dan mengarah pada kehidupan. Ia menyediakan segala kebutuhan dan perlengkapannya. Jadi, Sang Pencipta alam memilih kehidupan di antara seluruh entitas-Nya. Kemudian kita melihat bahwa “dunia makhluk hidup” dihadirkan dalam bentuk lingkaran luas di mana di dalamnya manusia berperan sebagai titik pusat. Tujuan yang diharapkan dari keberadaan makhluk hidup biasanya terpusat pada manusia.
Sang Pencipta Yang Mahamulia mengumpulkan seluruh makhluk hidup di seputar manusia dan menundukkan semuanya untuk melayani manusia. Dia menjadikan manusia sebagai pemimpin dan penguasa atas mereka. Jadi, Sang Pencipta Yang Mahaagung memilih manusia di antara sekian makhluk hidup. Bahkan Dia menjadikannya sebagai objek kehendak-Nya dan target keinginan-Nya.
Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 54-55.
*Relasi Antara Rezeki dan Syukur*
Selanjutnya, kita melihat bahwa “dunia manusia”, bahkan dunia hewan, juga terbentuk seperti lingkaran. Di tengahnya diletakkan rezeki. Kecintaan pada rezeki ditanamkan dalam diri manusia dan hewan. Karena itu, dengan kecintaan tersebut mereka semua menjadi pelayan rezeki dan tunduk padanya. Rezekilah yang mengontrol dan mengendalikan mereka. Rezeki itu sendiri dijadikan sebagai khazanah kekayaan besar yang luas dan berlimpah. Ia berisi nikmat yang tak terhingga.
Bahkan kita melihat daya rasa yang terdapat di lisan telah dibekali dengan berbagai perangkat detail dan standar maknawi yang sensitif sebanyak makanan yang ada guna mengetahui rasa dari berbagai jenis rezeki yang berlimpah itu. Dengan demikian, hakikat rezeki merupakan hakikat paling menakjubkan, paling kaya, paling aneh, paling manis, dan paling komprehensif di alam ini. Di samping itu, kita melihat bahwa sebagaimana segala sesuatu membutuhkan rezeki dan mengarah kepadanya, rezeki itu sendiri dengan segala jenisnya akan selalu eksis dengan syukur, baik secara maknawi, materi, kondisi, maupun ucapan.
Rezeki didapat dengan syukur, melahirkan syukur, dan menjelaskan sekaligus memperlihatkan syukur. Pasalnya, kecintaan dan kesenangan terhadap rezeki adalah salah satu bentuk syukur alami. Menikmati dan merasakannya juga merupakan bentuk syukur, namun dalam bentuk yang tak disadari di mana seluruh hewan pun menikmati syukur jenis tersebut. Nah manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengubah esensi syukur alami tadi—lewat sikap sesat dan kufurnya—sehingga jatuh pada kemusyrikan.
Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 56
Selanjutnya, kita melihat bahwa “dunia manusia”, bahkan dunia hewan, juga terbentuk seperti lingkaran. Di tengahnya diletakkan rezeki. Kecintaan pada rezeki ditanamkan dalam diri manusia dan hewan. Karena itu, dengan kecintaan tersebut mereka semua menjadi pelayan rezeki dan tunduk padanya. Rezekilah yang mengontrol dan mengendalikan mereka. Rezeki itu sendiri dijadikan sebagai khazanah kekayaan besar yang luas dan berlimpah. Ia berisi nikmat yang tak terhingga.
Bahkan kita melihat daya rasa yang terdapat di lisan telah dibekali dengan berbagai perangkat detail dan standar maknawi yang sensitif sebanyak makanan yang ada guna mengetahui rasa dari berbagai jenis rezeki yang berlimpah itu. Dengan demikian, hakikat rezeki merupakan hakikat paling menakjubkan, paling kaya, paling aneh, paling manis, dan paling komprehensif di alam ini. Di samping itu, kita melihat bahwa sebagaimana segala sesuatu membutuhkan rezeki dan mengarah kepadanya, rezeki itu sendiri dengan segala jenisnya akan selalu eksis dengan syukur, baik secara maknawi, materi, kondisi, maupun ucapan.
Rezeki didapat dengan syukur, melahirkan syukur, dan menjelaskan sekaligus memperlihatkan syukur. Pasalnya, kecintaan dan kesenangan terhadap rezeki adalah salah satu bentuk syukur alami. Menikmati dan merasakannya juga merupakan bentuk syukur, namun dalam bentuk yang tak disadari di mana seluruh hewan pun menikmati syukur jenis tersebut. Nah manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengubah esensi syukur alami tadi—lewat sikap sesat dan kufurnya—sehingga jatuh pada kemusyrikan.
Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 56
*Keberadaan Nikmat Merupakan Tangga Menggapai Syukur*
Bentuk yang indah dan menarik, aroma wangi dan memikat, serta rasa enak dan lezat yang terdapat di dalam nikmat tersebut di mana ia merupakan satu bentuk rezeki, tidak lain merupakan penyeru dan pemberi petunjuk untuk bersyukur. Para penyeru tersebut, lewat ajakannya, membangkitkan selera pada makhluk hidup sekaligus menggiring mereka untuk mengapresiasi, menghargai, dan menghormati sehingga mereka memperlihatkan syukur maknawi.
Bentuk, aroma, dan rasa tersebut menarik perhatian orang-orang yang memiliki perasaan untuk merenungkannya sehingga membuat mereka tertarik dan kagum. Ia juga mendorong mereka untuk menghormati dan menghargai nikmat yang berlimpah tersebut. Dari sana nikmat tersebut membimbing mereka ke jalan syukur, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, sekaligus menjadikan mereka sebagai orang yang pandai bersyukur. Lewat syukur nikmat tersebut, mereka bisa merasakan kelezatan yang paling nikmat.
Hal itu terwujud lewat keberadaan nikmat yang memperlihatkan bahwa rezeki yang lezat tadi di samping mendatangkan kelezatan lahiriah yang singkat dan bersifat sementara, ia juga membuatmu memikirkan karunia ilahi yang membawa kelezatan hakiki dan abadi tanpa batas. Artinya, dengan mengingat anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah Yang Menggenggam khazanah rahmat-Nya yang luas, manusia bisa merasakan kegembiraan maknawi dari sekian kegembiraan surga yang abadi meski masih berada di dunia.
Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 57*
Bentuk yang indah dan menarik, aroma wangi dan memikat, serta rasa enak dan lezat yang terdapat di dalam nikmat tersebut di mana ia merupakan satu bentuk rezeki, tidak lain merupakan penyeru dan pemberi petunjuk untuk bersyukur. Para penyeru tersebut, lewat ajakannya, membangkitkan selera pada makhluk hidup sekaligus menggiring mereka untuk mengapresiasi, menghargai, dan menghormati sehingga mereka memperlihatkan syukur maknawi.
Bentuk, aroma, dan rasa tersebut menarik perhatian orang-orang yang memiliki perasaan untuk merenungkannya sehingga membuat mereka tertarik dan kagum. Ia juga mendorong mereka untuk menghormati dan menghargai nikmat yang berlimpah tersebut. Dari sana nikmat tersebut membimbing mereka ke jalan syukur, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, sekaligus menjadikan mereka sebagai orang yang pandai bersyukur. Lewat syukur nikmat tersebut, mereka bisa merasakan kelezatan yang paling nikmat.
Hal itu terwujud lewat keberadaan nikmat yang memperlihatkan bahwa rezeki yang lezat tadi di samping mendatangkan kelezatan lahiriah yang singkat dan bersifat sementara, ia juga membuatmu memikirkan karunia ilahi yang membawa kelezatan hakiki dan abadi tanpa batas. Artinya, dengan mengingat anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah Yang Menggenggam khazanah rahmat-Nya yang luas, manusia bisa merasakan kegembiraan maknawi dari sekian kegembiraan surga yang abadi meski masih berada di dunia.
Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 57*
*Risalah Ukhuwah*
Surat kedua puluh dua ini terdiri atas dua pembahasan. Pembahasan pertama mengajak orang-orang beriman untuk menjalin rasa persaudaraan dan mencintai di antara sesama.
PEMBAHASAN PERTAMA
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah kedua saudaramu”.
(QS. al-Hujurât [49]: 10).
ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ
“Tolaklah (perbuatan buruk) dengan perbuatan yang lebih baik sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan menjadi seperti teman yang setia.” (QS. Fushshilat [41]: 34).
وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Dan (termasuk orang bertakwa) orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 134).
Fanatisme, keras kepala, dan kedengkian yang menyebabkan perpecahan, kebencian, dan permusuhan di antara orang-orang yang beriman adalah suatu keburukan dan kezaliman. Sifat-sifat itu tidak dapat dibenarkan dalam pandangan hakikat dan hikmah. Ia tidak sesuai dengan ajaran Islam, yang merupakan representasi dari spirit kemanusiaan yang agung. Di samping itu, sifat-sifat permusuhan itu bisa menghancurkan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, dan kehidupan maknawi. Bahkan, itu merupakan racun mematikan bagi kehidupan seluruh umat manusia.
Said Nursi, *al-Maktubat* hlm. 453
Surat kedua puluh dua ini terdiri atas dua pembahasan. Pembahasan pertama mengajak orang-orang beriman untuk menjalin rasa persaudaraan dan mencintai di antara sesama.
PEMBAHASAN PERTAMA
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah kedua saudaramu”.
(QS. al-Hujurât [49]: 10).
ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ
“Tolaklah (perbuatan buruk) dengan perbuatan yang lebih baik sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan menjadi seperti teman yang setia.” (QS. Fushshilat [41]: 34).
وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Dan (termasuk orang bertakwa) orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 134).
Fanatisme, keras kepala, dan kedengkian yang menyebabkan perpecahan, kebencian, dan permusuhan di antara orang-orang yang beriman adalah suatu keburukan dan kezaliman. Sifat-sifat itu tidak dapat dibenarkan dalam pandangan hakikat dan hikmah. Ia tidak sesuai dengan ajaran Islam, yang merupakan representasi dari spirit kemanusiaan yang agung. Di samping itu, sifat-sifat permusuhan itu bisa menghancurkan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, dan kehidupan maknawi. Bahkan, itu merupakan racun mematikan bagi kehidupan seluruh umat manusia.
Said Nursi, *al-Maktubat* hlm. 453
*Permusuhan adalah Suatu Kezaliman dalam Pandangan Hakikat*
Berikut ini akan kami jelaskan enam aspek di antara berbagai aspek yang berkaitan dengan kebenaran pernyataan sebelumnya:
*Aspek Pertama:* Permusuhan adalah Suatu Kezaliman dalam Pandangan Hakikat.
Wahai orang-orang yang hatinya dipenuhi rasa kebencian dan permusuhan terhadap saudaranya yang beriman. Wahai orang yang tidak adil! Bayangkan engkau sedang berada di dalam sebuah kapal atau rumah bersama sembilan orang yang tak bersalah dan seorang pelaku kejahatan. Kemudian engkau melihat seseorang yang berusaha menenggelamkan kapal atau meruntuh kan rumah itu. Dengan serta-merta engkau pasti akan berteriak sekeras mungkin untuk memprotes kezaliman yang dilakukan orang itu.
Sebab, tidak ada aturan yang membolehkan untuk menenggelamkan kapal itu selama ada satu orang yang tak bersalah, meskipun di dalamnya terdapat sembilan pelaku kejahatan. Sebagaimana menenggelamkan kapal di atas, memendam rasa permusuhan terhadap saudara seiman juga merupakan kezaliman dan kejahatan yang keji. Orang yang beriman adalah suatu “bangunan Rabbani” dan “perahu Ilahi”.
Hanya karena ia mempunyai satu sifat buruk yang membuatmu tidak senang atau merasa dirugikan, sementara ia memiliki sembilan atau bahkan dua puluh sifat baik, seperti iman, Islam, dan tetangga, engkau tidak patut untuk memusuhi dan mendengkinya. Permusuhan dan kedengkian ini sudah pasti mendorongmu berkeinginan untuk menenggelamkan perahu eksistensinya dan membakar bangunan wujudnya. Inilah kezaliman dan kejahatan keji itu.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 440-441
Berikut ini akan kami jelaskan enam aspek di antara berbagai aspek yang berkaitan dengan kebenaran pernyataan sebelumnya:
*Aspek Pertama:* Permusuhan adalah Suatu Kezaliman dalam Pandangan Hakikat.
Wahai orang-orang yang hatinya dipenuhi rasa kebencian dan permusuhan terhadap saudaranya yang beriman. Wahai orang yang tidak adil! Bayangkan engkau sedang berada di dalam sebuah kapal atau rumah bersama sembilan orang yang tak bersalah dan seorang pelaku kejahatan. Kemudian engkau melihat seseorang yang berusaha menenggelamkan kapal atau meruntuh kan rumah itu. Dengan serta-merta engkau pasti akan berteriak sekeras mungkin untuk memprotes kezaliman yang dilakukan orang itu.
Sebab, tidak ada aturan yang membolehkan untuk menenggelamkan kapal itu selama ada satu orang yang tak bersalah, meskipun di dalamnya terdapat sembilan pelaku kejahatan. Sebagaimana menenggelamkan kapal di atas, memendam rasa permusuhan terhadap saudara seiman juga merupakan kezaliman dan kejahatan yang keji. Orang yang beriman adalah suatu “bangunan Rabbani” dan “perahu Ilahi”.
Hanya karena ia mempunyai satu sifat buruk yang membuatmu tidak senang atau merasa dirugikan, sementara ia memiliki sembilan atau bahkan dua puluh sifat baik, seperti iman, Islam, dan tetangga, engkau tidak patut untuk memusuhi dan mendengkinya. Permusuhan dan kedengkian ini sudah pasti mendorongmu berkeinginan untuk menenggelamkan perahu eksistensinya dan membakar bangunan wujudnya. Inilah kezaliman dan kejahatan keji itu.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 440-441
*Permusuhan Adalah Kezaliman Dalam Pandangan Hikmah*
*Aspek Kedua:*
Cinta dan permusuhan adalah dua hal yang berlawanan, seperti cahaya dan kegelapan. Pada dasarnya, keduanya tidak dapat bersatu. Jika sebab-sebab cinta lebih dominan dan cinta itu telah menancap di dalam hati, rasa permusuhan akan berubah menjadi permusuhan artifisial, bahkan bisa berubah wujud menjadi kasih sayang dan rasa iba. Pada dasarnya, seorang mukmin mencintai saudaranya, dan dia harus menyayanginya. Ketika saudaranya melakukan kesalahan, semestinya itu membuatnya iba dan berupaya memperbaikinya, tidak dengan kekuatan dan kekerasan, melainkan dengan perilaku yang lembut dan santun. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW:
لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث ليال، يلتقيان فيعرض هذا ويعرض هذا، وخيرهما الذي يبدأ بالسلام.
_“Tidak dibenarkan bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, di mana bila keduanya bertemu, masing-masing berpaling dari saudaranya. Yang terbaik di antara keduanya adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam.”_
Sebaliknya, jika sebab-sebab permusuhan lebih menonjol dan telah menancap di dalam hati, cinta akan berubah menjadi cinta semu yang dibungkus dengan kepura-puraan dan sikap mencari muka. Maka ketahuilah wahai orang yang zalim. Betapa kebencian dan permusuhan terhadap saudara seiman merupakan kezaliman yang besar! Jika engkau mengatakan batu-batu kerikil yang tidak ada nilainya itu lebih berharga daripada Ka’bah yang mulia atau lebih besar daripada Gunung Uhud, tidak diragukan lagi bahwa engkau telah melakukan suatu kebodohan yang nyata.
Juga termasuk kebodohan yang nyata jika engkau membesar-besarkan kesalahan kecil yang dilakukan saudaramu seiman dan lebih mengutamakannya daripada keimanan dan keislamannya. Bukankah kesalahannya itu laksana batu kerikil, sementara keimanan dan keislamannya bernilai seperti Ka’bah dan Gunung Uhud?! Sungguh sikapmu yang lebih mempertimbangkan perilaku-perilaku kecil saudaramu daripada keislaman dan keimanannya merupakan tindakan yang sangat zalim. Orang yang memiliki secuil akal pun, tentu bisa memahami hal ini.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 441-442.
*Aspek Kedua:*
Cinta dan permusuhan adalah dua hal yang berlawanan, seperti cahaya dan kegelapan. Pada dasarnya, keduanya tidak dapat bersatu. Jika sebab-sebab cinta lebih dominan dan cinta itu telah menancap di dalam hati, rasa permusuhan akan berubah menjadi permusuhan artifisial, bahkan bisa berubah wujud menjadi kasih sayang dan rasa iba. Pada dasarnya, seorang mukmin mencintai saudaranya, dan dia harus menyayanginya. Ketika saudaranya melakukan kesalahan, semestinya itu membuatnya iba dan berupaya memperbaikinya, tidak dengan kekuatan dan kekerasan, melainkan dengan perilaku yang lembut dan santun. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW:
لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث ليال، يلتقيان فيعرض هذا ويعرض هذا، وخيرهما الذي يبدأ بالسلام.
_“Tidak dibenarkan bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, di mana bila keduanya bertemu, masing-masing berpaling dari saudaranya. Yang terbaik di antara keduanya adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam.”_
Sebaliknya, jika sebab-sebab permusuhan lebih menonjol dan telah menancap di dalam hati, cinta akan berubah menjadi cinta semu yang dibungkus dengan kepura-puraan dan sikap mencari muka. Maka ketahuilah wahai orang yang zalim. Betapa kebencian dan permusuhan terhadap saudara seiman merupakan kezaliman yang besar! Jika engkau mengatakan batu-batu kerikil yang tidak ada nilainya itu lebih berharga daripada Ka’bah yang mulia atau lebih besar daripada Gunung Uhud, tidak diragukan lagi bahwa engkau telah melakukan suatu kebodohan yang nyata.
Juga termasuk kebodohan yang nyata jika engkau membesar-besarkan kesalahan kecil yang dilakukan saudaramu seiman dan lebih mengutamakannya daripada keimanan dan keislamannya. Bukankah kesalahannya itu laksana batu kerikil, sementara keimanan dan keislamannya bernilai seperti Ka’bah dan Gunung Uhud?! Sungguh sikapmu yang lebih mempertimbangkan perilaku-perilaku kecil saudaramu daripada keislaman dan keimanannya merupakan tindakan yang sangat zalim. Orang yang memiliki secuil akal pun, tentu bisa memahami hal ini.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 441-442.
*Permusuhan Adalah Kezaliman Dalam Pandangan Al-Qur'an*
*Aspek Ketiga:*
Allah SWT berfirman:
ولا تزر وازرة وزر أخرى ...... (١٦٤)
_“Dan seseorang yang berdosa, tidak akan memikul dosa orang lain.”_ (QS. al-An’âm [6]: 164). Ayat ini menjelaskan tentang keadilan mutlak (al-‘Adâlah al-Mahdhah), yaitu tidak boleh menghukum seseorang atas kesalahan orang lain. Ayat al-Qur’an di atas dan berbagai sumber ajaran Islam lainnya menegaskan bahwa memendam permusuhan dan kebencian terhadap orang mukmin adalah kezaliman yang besar. Sebab, ia seperti mencela semua sifat-sifat baik akibat satu kesalahannya.
Ia menjadi sebuah kezaliman yang lebih besar lagi jika permusuhan tersebut meluas terhadap keluarga dan kerabatnya, sebagaimana yang digambarkan oleh al-Qur’an berikut:
إن الإنسن لظلوم ...... (٣٤)
_“Sesungguhnya manusia sangat berlaku zalim.”_ (QS. Ibrâhîm [14]: 34). Apakah setelah mendengar penjelasan tentang kezaliman di atas, engkau masih mempunyai alasan untuk memusuhi saudaramu seiman dan menganggap dirimu benar?!
Ketahuilah! Dalam pandangan hakikat, kejahatan-kejahatan yang menjadi sebab timbulnya permusuhan dan kebencian bersifat padat, seperti tanah dan kejahatan itu sendiri. Sifat benda padat tidak berpindah dan tidak memantul pada yang lain, kecu ali kejahatan yang ditiru seseorang dari orang lain. Sedangkan kebaikan yang menjadi sebab timbulnya rasa cinta bersifat halus, seperti cahaya dan cinta itu sendiri. Sifat cahaya dapat berpindah dan memantul pada yang lain.
Dari sinilah terlahir suatu pepatah: “Sahabat dari seorang sahabat juga merupakan sahabat.” Sebagaimana banyak orang sering mendengung-dengungkan: “Karena kebaikan satu orang, seribu orang dimuliakan.” Wahai orang yang tidak adil! Jika engkau mendambakan kebenaran, itulah hakikat yang sebenarnya. Karena itu, permusuhan dan kedengkianmu terhadap keluarga dan kerabat yang dicintai orang yang engkau benci sangat bertentangan dengan kebenaran.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 443-444
*Aspek Ketiga:*
Allah SWT berfirman:
ولا تزر وازرة وزر أخرى ...... (١٦٤)
_“Dan seseorang yang berdosa, tidak akan memikul dosa orang lain.”_ (QS. al-An’âm [6]: 164). Ayat ini menjelaskan tentang keadilan mutlak (al-‘Adâlah al-Mahdhah), yaitu tidak boleh menghukum seseorang atas kesalahan orang lain. Ayat al-Qur’an di atas dan berbagai sumber ajaran Islam lainnya menegaskan bahwa memendam permusuhan dan kebencian terhadap orang mukmin adalah kezaliman yang besar. Sebab, ia seperti mencela semua sifat-sifat baik akibat satu kesalahannya.
Ia menjadi sebuah kezaliman yang lebih besar lagi jika permusuhan tersebut meluas terhadap keluarga dan kerabatnya, sebagaimana yang digambarkan oleh al-Qur’an berikut:
إن الإنسن لظلوم ...... (٣٤)
_“Sesungguhnya manusia sangat berlaku zalim.”_ (QS. Ibrâhîm [14]: 34). Apakah setelah mendengar penjelasan tentang kezaliman di atas, engkau masih mempunyai alasan untuk memusuhi saudaramu seiman dan menganggap dirimu benar?!
Ketahuilah! Dalam pandangan hakikat, kejahatan-kejahatan yang menjadi sebab timbulnya permusuhan dan kebencian bersifat padat, seperti tanah dan kejahatan itu sendiri. Sifat benda padat tidak berpindah dan tidak memantul pada yang lain, kecu ali kejahatan yang ditiru seseorang dari orang lain. Sedangkan kebaikan yang menjadi sebab timbulnya rasa cinta bersifat halus, seperti cahaya dan cinta itu sendiri. Sifat cahaya dapat berpindah dan memantul pada yang lain.
Dari sinilah terlahir suatu pepatah: “Sahabat dari seorang sahabat juga merupakan sahabat.” Sebagaimana banyak orang sering mendengung-dengungkan: “Karena kebaikan satu orang, seribu orang dimuliakan.” Wahai orang yang tidak adil! Jika engkau mendambakan kebenaran, itulah hakikat yang sebenarnya. Karena itu, permusuhan dan kedengkianmu terhadap keluarga dan kerabat yang dicintai orang yang engkau benci sangat bertentangan dengan kebenaran.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 443-444
*Permusuhan Adalah Kezaliman Dilihat Dari Sudut Pandang Kehidupan Pribadi*
*Aspek Keempat:*
Jika engkau ingin mengetahui hal tersebut, dengarkanlah beberapa prinsip yang merupakan pondasi aspek keempat ini.
*Prinsip Pertama:* Ketika engkau menganggap bahwa manhaj dan pendapatmu benar, engkau berhak untuk berkata, “Manhaj atau pendapatku benar, atau lebih baik.” Akan tetapi, engkau tidak boleh berkata, “Hanya manhaj atau pendapatku yang benar.” Sebab, pandanganmu yang penuh dengan kebencian dan pikiranmu yang terbatas tidak bisa menjadi tolok ukur dan penentu yang menetapkan kekeliruan pendapat orang lain. Orang bijak mengatakan:
وعين الرضا عن كل عيب كليلة
ولكن عين السخط تبدي المساويا
_“Mata cinta terlalu suram untuk melihat kesalahan, sementara mata benci menampakkan semua keburukan.”_
*Prinsip Kedua:* “Engkau harus berkata benar dalam setiap perkataan, namun engkau tidak berhak untuk menyampaikan semua kebenaran. Engkau pun harus jujur dalam setiap ucapan, tetapi tidaklah benar jika engkau mengatakan semua kejujuran.” Sebab, orang yang tidak mempunyai niat ikhlas sepertimu bisa jadi membuat marah orang yang mendengar untaian nasihatmu. Maka, yang terjadi justru kebalikan dari apa yang diharapkan.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 444-445
*Aspek Keempat:*
Jika engkau ingin mengetahui hal tersebut, dengarkanlah beberapa prinsip yang merupakan pondasi aspek keempat ini.
*Prinsip Pertama:* Ketika engkau menganggap bahwa manhaj dan pendapatmu benar, engkau berhak untuk berkata, “Manhaj atau pendapatku benar, atau lebih baik.” Akan tetapi, engkau tidak boleh berkata, “Hanya manhaj atau pendapatku yang benar.” Sebab, pandanganmu yang penuh dengan kebencian dan pikiranmu yang terbatas tidak bisa menjadi tolok ukur dan penentu yang menetapkan kekeliruan pendapat orang lain. Orang bijak mengatakan:
وعين الرضا عن كل عيب كليلة
ولكن عين السخط تبدي المساويا
_“Mata cinta terlalu suram untuk melihat kesalahan, sementara mata benci menampakkan semua keburukan.”_
*Prinsip Kedua:* “Engkau harus berkata benar dalam setiap perkataan, namun engkau tidak berhak untuk menyampaikan semua kebenaran. Engkau pun harus jujur dalam setiap ucapan, tetapi tidaklah benar jika engkau mengatakan semua kejujuran.” Sebab, orang yang tidak mempunyai niat ikhlas sepertimu bisa jadi membuat marah orang yang mendengar untaian nasihatmu. Maka, yang terjadi justru kebalikan dari apa yang diharapkan.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 444-445
*Musuh Hakiki*
*Prinsip Ketiga:* Jika engkau menginginkan permusuhan, musuhilah rasa permusuhan yang ada di hatimu. Berjuanglah untuk memadamkan api permusuhan itu dan cabutlah hingga akar-akarnya. Berusahalah memusuhi musuh yang paling tangguh dan paling berbahaya bagimu, yaitu hawa nafsu yang ada di dalam dirimu. Perangilah keinginan hawa nafsu dan berusahalah memperbaikinya; jangan malah engkau memusuhi orang-orang mukmin karena dorongan hawa nafsu itu. Jika engkau masih menginginkan permusuhan, musuhilah orang-orang kafir dan zindik. Jumlah mereka sangat banyak. Ketahuilah bahwa tabiat cinta adalah layak untuk dicintai, sebagaimana sifat permusuhan pantas dimusuhi sebelum yang lainnya.
Jika engkau ingin mengalahkan musuhmu, balaslah perbuatan buruknya dengan kebaikan. Dengan itu, api permusuhan bisa padam. Sebaliknya, jika engkau membalas keburukannya dengan keburukan yang serupa, permusuhan di antara kalian akan bertambah kuat. Seandainya engkau secara lahiriah berhasil mengalahkan musuhmu dengan perbuatan buruk yang serupa, hatinya akan dipenuhi kebencian terhadapmu sehingga permusuhan akan terus berlanjut. Sementara itu, membalasnya dengan kebaikan akan membuatnya menyesal dan bisa pula ia menjadi sahabat karibmu. Sebab, pada dasarnya tabiat seorang mukmin adalah mulia.
Jika engkau memuliakannya, ia akan tunduk kepadamu dan menjadi saudaramu. Bahkan seandainya ia hina secara lahiriah, ia tetaplah mulia dilihat dari sisi keimanannya. Seorang penyair mengatakan:
وإذا أنت أكرمت الكريمة ملكته
وإن أنت أكرمت اللئيم تمردا.
_Jika engkau memuliakan orang mulia, ia akan tunduk; Jika engkau memuliakan orang hina, ia akan memberontak._
Ya, kenyataan membuktikan bahwa ketika engkau berkata kepada orang jahat, “Engkau orang baik,” sering kali itu akan medorongnya menjadi baik. Sebaliknya, jika engkau mengatakan kepada orang baik, “Kamu orang jahat,” mungkin saja itu membuatnya menjadi jahat. Oleh karena itu, pasanglah telinga terhadap prinsip-prinsip suci al-Qur’an berikut ini:
وإذا مروا باللغو مروا كراما (٧٢)
_“Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan yang tidak berguna, mereka berlalu dengan menjaga kehormatannya.” (QS. al-Furqân [25]: 72)._
وإن تعفوا وتصفحوا وتغفروا فإن الله غفور رحيم (١٤)
_“Dan jika kalian memaafkan, bersikap lapang, serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Taghâbun [64]: 14)._ Dengan mengikuti prinsip al-Qur’an di atas dan yang lain nya, kesuksesan dan kebahagiaan akan tercapai.
Badiuzzaman Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 445-446
*Prinsip Ketiga:* Jika engkau menginginkan permusuhan, musuhilah rasa permusuhan yang ada di hatimu. Berjuanglah untuk memadamkan api permusuhan itu dan cabutlah hingga akar-akarnya. Berusahalah memusuhi musuh yang paling tangguh dan paling berbahaya bagimu, yaitu hawa nafsu yang ada di dalam dirimu. Perangilah keinginan hawa nafsu dan berusahalah memperbaikinya; jangan malah engkau memusuhi orang-orang mukmin karena dorongan hawa nafsu itu. Jika engkau masih menginginkan permusuhan, musuhilah orang-orang kafir dan zindik. Jumlah mereka sangat banyak. Ketahuilah bahwa tabiat cinta adalah layak untuk dicintai, sebagaimana sifat permusuhan pantas dimusuhi sebelum yang lainnya.
Jika engkau ingin mengalahkan musuhmu, balaslah perbuatan buruknya dengan kebaikan. Dengan itu, api permusuhan bisa padam. Sebaliknya, jika engkau membalas keburukannya dengan keburukan yang serupa, permusuhan di antara kalian akan bertambah kuat. Seandainya engkau secara lahiriah berhasil mengalahkan musuhmu dengan perbuatan buruk yang serupa, hatinya akan dipenuhi kebencian terhadapmu sehingga permusuhan akan terus berlanjut. Sementara itu, membalasnya dengan kebaikan akan membuatnya menyesal dan bisa pula ia menjadi sahabat karibmu. Sebab, pada dasarnya tabiat seorang mukmin adalah mulia.
Jika engkau memuliakannya, ia akan tunduk kepadamu dan menjadi saudaramu. Bahkan seandainya ia hina secara lahiriah, ia tetaplah mulia dilihat dari sisi keimanannya. Seorang penyair mengatakan:
وإذا أنت أكرمت الكريمة ملكته
وإن أنت أكرمت اللئيم تمردا.
_Jika engkau memuliakan orang mulia, ia akan tunduk; Jika engkau memuliakan orang hina, ia akan memberontak._
Ya, kenyataan membuktikan bahwa ketika engkau berkata kepada orang jahat, “Engkau orang baik,” sering kali itu akan medorongnya menjadi baik. Sebaliknya, jika engkau mengatakan kepada orang baik, “Kamu orang jahat,” mungkin saja itu membuatnya menjadi jahat. Oleh karena itu, pasanglah telinga terhadap prinsip-prinsip suci al-Qur’an berikut ini:
وإذا مروا باللغو مروا كراما (٧٢)
_“Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan yang tidak berguna, mereka berlalu dengan menjaga kehormatannya.” (QS. al-Furqân [25]: 72)._
وإن تعفوا وتصفحوا وتغفروا فإن الله غفور رحيم (١٤)
_“Dan jika kalian memaafkan, bersikap lapang, serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Taghâbun [64]: 14)._ Dengan mengikuti prinsip al-Qur’an di atas dan yang lain nya, kesuksesan dan kebahagiaan akan tercapai.
Badiuzzaman Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 445-446
*Dengki: Dampak Dan Obatnya*
*Prinsip Keempat:* Orang yang hatinya dipenuhi dengan kedengkian dan permusuhan terhadap sesama mukmin, selain menzalimi saudaranya seiman, sesungguhnya ia sedang menzalimi dirinya sendiri. Lebih dari itu, ia melampaui batas kasih sayang Ilahi. Sebab, dengan kedengkian dan permusuhan tersebut, ia menjatuhkan diri ke dalam penderitaan yang pedih, dan penderitaan itu bertambah pedih bila melihat musuhnya mendapatkan kenikmatan; ia pun tersiksa akibat rasa takut terhadap sang musuh.
Jika permusuhan itu muncul akibat kedengkian, balasannya adalah siksa yang pedih. Sebab, kedengkian membuat si pendengki lebih sakit daripada yang didengki. Kedengkian dapat membakar pelakunya dengan kobaran apinya, sementara orang yang didengki tidak dirugikan atau hanya menderita sedikit kerugian.
Obat kedengkian adalah si pendengki harus merenungkan akibat dari kedengkiannya dan hendaknya ia menyadari bahwa kekayaan, kekuatan, kedudukan, dan hal-hal duniawi yang dinikmati orang yang didengkinya hanya bersifat sementara dan fana; manfaatnya pun sedikit, namun tantangannya besar. Adapun jika kedengkian timbul akibat faktor-faktor yang bersifat ukhrawi, sebenarnya itu bukanlah suatu kedengkian. Kalaupun ada perasaan dengki yang timbul pada hal-hal yang bersifat ukhrawi, bisa jadi si pendengki termasuk orang yang berlaku riya, di mana hal itu akan menghapus amal ukhrawinya di du nia. Atau, si pendengki berprasangka buruk terhadap orang yang didengkinya sehingga ia menzaliminya.
Kemudian, orang yang mendengki sebenarnya tidak rela terhadap takdir dan rahmat Allah. Sebab, ia merasa kecewa atas karunia-Nya terhadap orang yang didengkinya dan merasa senang atas malapetaka yang menimpanya. Artinya, ia seakan-akan mengkritik takdir dan rahmat Allah. Sebagaimana diketahui bahwa barangsiapa mengkritik takdir Allah, ia laksana orang yang menanduk gunung; dan barangsiapa memprotes rahmat dan karunia Ilahi, ia akan terhalang darinya.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 446-447
*Prinsip Keempat:* Orang yang hatinya dipenuhi dengan kedengkian dan permusuhan terhadap sesama mukmin, selain menzalimi saudaranya seiman, sesungguhnya ia sedang menzalimi dirinya sendiri. Lebih dari itu, ia melampaui batas kasih sayang Ilahi. Sebab, dengan kedengkian dan permusuhan tersebut, ia menjatuhkan diri ke dalam penderitaan yang pedih, dan penderitaan itu bertambah pedih bila melihat musuhnya mendapatkan kenikmatan; ia pun tersiksa akibat rasa takut terhadap sang musuh.
Jika permusuhan itu muncul akibat kedengkian, balasannya adalah siksa yang pedih. Sebab, kedengkian membuat si pendengki lebih sakit daripada yang didengki. Kedengkian dapat membakar pelakunya dengan kobaran apinya, sementara orang yang didengki tidak dirugikan atau hanya menderita sedikit kerugian.
Obat kedengkian adalah si pendengki harus merenungkan akibat dari kedengkiannya dan hendaknya ia menyadari bahwa kekayaan, kekuatan, kedudukan, dan hal-hal duniawi yang dinikmati orang yang didengkinya hanya bersifat sementara dan fana; manfaatnya pun sedikit, namun tantangannya besar. Adapun jika kedengkian timbul akibat faktor-faktor yang bersifat ukhrawi, sebenarnya itu bukanlah suatu kedengkian. Kalaupun ada perasaan dengki yang timbul pada hal-hal yang bersifat ukhrawi, bisa jadi si pendengki termasuk orang yang berlaku riya, di mana hal itu akan menghapus amal ukhrawinya di du nia. Atau, si pendengki berprasangka buruk terhadap orang yang didengkinya sehingga ia menzaliminya.
Kemudian, orang yang mendengki sebenarnya tidak rela terhadap takdir dan rahmat Allah. Sebab, ia merasa kecewa atas karunia-Nya terhadap orang yang didengkinya dan merasa senang atas malapetaka yang menimpanya. Artinya, ia seakan-akan mengkritik takdir dan rahmat Allah. Sebagaimana diketahui bahwa barangsiapa mengkritik takdir Allah, ia laksana orang yang menanduk gunung; dan barangsiapa memprotes rahmat dan karunia Ilahi, ia akan terhalang darinya.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 446-447
*Hindarilah Sikap Permusuhan*
Jika engkau benar-benar mencintai dirimu, jangan berikan peluang bagi sifat permusuhan dan dendam yang sangat berbahaya bagi kehidupan pribadi untuk merasuk ke dalam hatimu. Kalaupun keduanya sudah terlanjur masuk dan telah bersemayam di dalamnya, hendaknya engkau mengabaikan keduanya. Renungkanlah ucapan al-Hâfizh Syirazî, sosok yang memilik basirah yang mampu menembus kedalaman hakikat, berikut ini:
دنيا نه متاعيستى كه أرزد بنزاعى
_Sesungguhnya dunia beserta isinya bukanlah barang berharga yang pantas diperselisihkan._
Jika dunia yang besar beserta isinya saja tidak bernilai seperti itu, apalagi dengan hal-hal kecil lainnya. Renungkan pula perkataan beliau:
آسايش دو كيتى تفسير اين دو حرفست
بادويتان مروت با دشمنان مدارا
_Kedamaian dan keselamatan di kedua alam bergantung pada dua hal:_
_Keluhuran budi terhadap kawan, serta perlakuan bijak terhadap lawan._
Barangkali engkau akan mengatakan, “Hal itu di luar kemampuanku. Sebab, rasa permusuhan telah terlanjur tertanam dalam fitrahku. Aku tidak punya pilihan lain. Di samping itu, mereka telah melukai perasaanku dan menyakitiku sehingga aku tidak bisa memaafkan mereka.” Jawabannya: Jika akhlak buruk tidak terwujud dalam bentuk perbuatan dan tidak menjadi dasar sebuah tindakan seperti gibah misalnya, serta pelakunya menyadari kesalahannya itu, maka hal itu tidak membahayakan. Selama engkau tidak memiliki pilihan lain dalam hal tersebut, dan engkau tidak bisa mengelak dari permusuhan tadi, maka kesadaran dalam hal menyadari kekurangan dan kesalahan itu akan membebaskanmu―dengan izin Allah―dari akibat buruk permusuhan yang tertanam dalam dirimu. Sebab, hal itu dianggap sebagai penyesalan yang tersirat, taubat yang tersembunyi, dan istigfar maknawi.
Pembahasan ini kami tulis memang untuk memperoleh istigfar yang bersifat maknawi ini sehingga orang mukmin tidak menganggap kebatilan sebagai kebenaran, serta tidak memperlihatkan kebatilan lawannya yang sebenarnya berada di pihak yang benar.
Aku pernah mengalami suatu kasus yang pantas untuk direnungkan. Suatu hari, aku melihat seorang ilmuwan mengkritik seorang ulama, sampai-sampai ia berani mengafirkannya. Kritiknya itu disebabkan adanya perselisihan di antara keduanya dalam persoalan politik. Namun, pada waktu yang sama, ilmuwan tersebut memuji seorang munafik yang memiliki kesamaan pandangan politik dengannya. Peristiwa ini benar-benar menggoncangku. Lalu aku katakan:
أعوذ بالله من الشيطان والسياسة.
_Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan dan fitnah politik._ Sejak saat itu, aku menarik diri dari kancah politik.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 448-450
Jika engkau benar-benar mencintai dirimu, jangan berikan peluang bagi sifat permusuhan dan dendam yang sangat berbahaya bagi kehidupan pribadi untuk merasuk ke dalam hatimu. Kalaupun keduanya sudah terlanjur masuk dan telah bersemayam di dalamnya, hendaknya engkau mengabaikan keduanya. Renungkanlah ucapan al-Hâfizh Syirazî, sosok yang memilik basirah yang mampu menembus kedalaman hakikat, berikut ini:
دنيا نه متاعيستى كه أرزد بنزاعى
_Sesungguhnya dunia beserta isinya bukanlah barang berharga yang pantas diperselisihkan._
Jika dunia yang besar beserta isinya saja tidak bernilai seperti itu, apalagi dengan hal-hal kecil lainnya. Renungkan pula perkataan beliau:
آسايش دو كيتى تفسير اين دو حرفست
بادويتان مروت با دشمنان مدارا
_Kedamaian dan keselamatan di kedua alam bergantung pada dua hal:_
_Keluhuran budi terhadap kawan, serta perlakuan bijak terhadap lawan._
Barangkali engkau akan mengatakan, “Hal itu di luar kemampuanku. Sebab, rasa permusuhan telah terlanjur tertanam dalam fitrahku. Aku tidak punya pilihan lain. Di samping itu, mereka telah melukai perasaanku dan menyakitiku sehingga aku tidak bisa memaafkan mereka.” Jawabannya: Jika akhlak buruk tidak terwujud dalam bentuk perbuatan dan tidak menjadi dasar sebuah tindakan seperti gibah misalnya, serta pelakunya menyadari kesalahannya itu, maka hal itu tidak membahayakan. Selama engkau tidak memiliki pilihan lain dalam hal tersebut, dan engkau tidak bisa mengelak dari permusuhan tadi, maka kesadaran dalam hal menyadari kekurangan dan kesalahan itu akan membebaskanmu―dengan izin Allah―dari akibat buruk permusuhan yang tertanam dalam dirimu. Sebab, hal itu dianggap sebagai penyesalan yang tersirat, taubat yang tersembunyi, dan istigfar maknawi.
Pembahasan ini kami tulis memang untuk memperoleh istigfar yang bersifat maknawi ini sehingga orang mukmin tidak menganggap kebatilan sebagai kebenaran, serta tidak memperlihatkan kebatilan lawannya yang sebenarnya berada di pihak yang benar.
Aku pernah mengalami suatu kasus yang pantas untuk direnungkan. Suatu hari, aku melihat seorang ilmuwan mengkritik seorang ulama, sampai-sampai ia berani mengafirkannya. Kritiknya itu disebabkan adanya perselisihan di antara keduanya dalam persoalan politik. Namun, pada waktu yang sama, ilmuwan tersebut memuji seorang munafik yang memiliki kesamaan pandangan politik dengannya. Peristiwa ini benar-benar menggoncangku. Lalu aku katakan:
أعوذ بالله من الشيطان والسياسة.
_Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan dan fitnah politik._ Sejak saat itu, aku menarik diri dari kancah politik.
Badiuzzaman Said Nursi, *Al-Maktûbât*, hlm. 448-450