Perpustakaan UIN IB
1.43K subscribers
83 photos
10 videos
82 files
167 links
Nomor Pokok Perpustakaan : 1371092D0000002
Download Telegram
*Penafsiran Kata اِنَّهُ‎ Dalam Ayat اِنَّهُ هُوَ السَّمٖيعُ الْبَصٖيرُ*

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحٖيمِ
سُبْحَانَ الَّذٖٓى اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَى الَّذٖى بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ اٰيَاتِنَا اِنَّهُ هُوَ السَّمٖيعُ الْبَصٖيرُ ۝
_“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”_ (QS. al-Isrâ [17]: 1).

Dari perbendaharaan ayat yang mulia di atas, kami akan menyebutkan dua petunjuk saja. Keduanya merujuk kepada rambu retoris (_balagah_) yang terdapat dalam kata ganti اِنَّهُ‎ _“Sesungguhnya Dia”_. Hal itu lantaran keduanya terkait dengan persoalan kita saat ini seperti yang telah kami jelaskan dalam risalah “Mukjizat al-Qur’an”. Al-Qur’an menutup ayat pertama dengan ungkapan:
اِنَّهُ هُوَ السَّمٖيعُ الْبَصٖيرُ
_“Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”_

Hal itu setelah Dia menyebutkan _isrâ_ (peristiwa diperjalankannya) Rasulullah
dari awal mi’raj—yakni dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha—dan akhir perjalanan beliau yang diterangkan oleh surah an-Najm. Kata ganti اِنَّهُ‎ _“Sesungguhnya Dia”_ bisa mengacu kepada Allah SWT, atau mengacu kepada Rasulullah SAW.

Apabila mengacu kepada Rasul SAW, aka hukum retorika dan kesesuaian konteksnya menunjukkan bahwa perjalanan parsial ini termasuk di antara perjalanan umum dan mi’raj universal di mana beliau mendengar dan menyaksikan semua tanda kekuasaan Tuhan serta kreasi ilahi yang menakjubkan yang dijumpai oleh penglihatan dan pendengarannya pada saat naik dalam tingkatan nama-nama Tuhan yang komprehensif sampai ke _Sidratul Muntaha_ hingga berjarak seukuran dua ujung busur (_Qâba Qausain_) atau lebih dekat lagi. Ini menunjukkan bahwa wisata parsial di atas (_Isrâ_) merupakan kunci bagi wisata universal yang mencakup berbagai kreasi ilahi yang menakjubkan.

Said Nursi, *Risalah Mi'raj*, hlm. 3-5
*Ketika Kata اِنَّهُ‎ Dalam Ayat Mengacu kepada Allah SWT*

Apabila kata ganti tersebut mengacu kepada Allah SWT, maka maknanya adalah, “Dia mengundang hamba-Nya untuk menghadap kepada-Nya serta berada di hadapannya untuk menyerahkan kepadanya sebuah tugas penting. Karena itu, Dia perjalankan beliau dari Masjid al-Haram menuju Masjid al-Aqsha yang merupakan tempat berkumpul para nabi. Setelah Dia mempertemukan Nabi SAW dengan mereka sekaligus menampakkannya sebagai pewaris mutlak bagi prinsip agama seluruh nabi, Dia memperjalankannya dalam satu perjalanan di dalam kerajaan-Nya dan wisata di dalam alam malakut-Nya sampai dengan _Sidratul Muntaha_ hingga berjarak seukuran dua ujung busur atau lebih dekat lagi.

Demikianlah, wisata dan perjalanan tersebut, meskipun merupakan mi’raj parsial dan yang dimi’rajkan adalah seorang hamba, namun hamba tersebut membawa amanah agung yang terkait dengan seluruh alam. Bersamanya terdapat cahaya terang yang mengubah corak alam semesta. Di samping itu, padanya terdapat kunci yang bisa membuka pintu kebahagiaan abadi. Karena itulah, Allah menyifati diri-Nya dengan berkata:
اِنَّهُ هُوَ السَّمٖيعُ الْبَصٖيرُ
_“Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.”_

Hal ini untuk menerangkan bahwa pada amanah, cahaya, dan kunci tersebut terdapat sejumlah hikmah mulia yang mencakup seluruh entitas, meliputi semua makhluk, serta menjangkau alam seluruhnya.

Demikianlah, rahasia agung ini memiliki empat landasan:
Pertama: Apa rahasia keharusan mi’raj
Kedua: Apa hakikat mi’raj?
Ketiga: Apa hikmah mi’raj?
Keempat: Apa buah dan manfaat mi’raj?

Said Nursi, *Risalah Mi'raj*, hlm. 6-7
*Rahasia Keharusan Mi'raj Bagi Nabi SAW*

*LANDASAN PERTAMA*

Rahasia Keharusan Mi’raj

*Pertanyaan:* Allah SWT—yang tidak memiliki fisik dan tidak dibatasi oleh ruang—lebih dekat kepada sesuatu daripada segala sesuatu sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:
اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرٖيدِ
_“Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”_ (QS. Qâf [50]: 16) sampai setiap wali Allah yang saleh bisa menghadap dan bermunajat dengan Tuhan dalam kalbunya.

Nah, mengapa setiap wali bisa bermunajat kepada Tuhan dalam kalbunya, sementara Nabi Muhammad SAW tidak bisa bermunajat seperti itu kecuali setelah melakukan perjalanan jauh dan wisata yang panjang lewat mi’raj?

*Jawaban:* Kami ingin mendekatkan rahasia yang sulit dipahami ini kepada pemahaman kita dengan menyebutkan dua perumpamaan berikut. Perhatikan baik-baik. Keduanya telah disebutkan dalam “Kalimat Kedua Belas” saat menjelaskan rahasia kemukjizatan al-Qur’an dan hikmah mi’raj.

Said Nursi, *Risalah Mi'raj*, hlm. 9-10
*Mi’raj Merupakan Sarana Komunikasi Langsung Nabi SAW dengan Allah SWT*

*Perumpamaan Pertama*

Raja memiliki dua bentuk komunikasi dan tatap muka, serta dua macam pembicaraan dan penghormatan. Pertama, komunikasi khusus lewat sarana telepon pribadi dengan salah seorang rakyatnya dari kalangan umum terkait dengan persoalan parsial yang berhubungan dengan kebutuhan pribadi orang tersebut. Kedua, komunikasi atas nama kerajaan agung dan atas nama khilafah yang mulia dalam kedudukannya sebagai penguasa terkait dengan persoalan penting dan mulia di mana ia memperlihatkan keagungannya dan menampakkan kemuliaannya. Dari sana raja ingin agar perintahnya tersebar ke seluruh penjuru.

Komunikasi ini terjadi dengan salah seorang utusannya yang memiliki hubungan dengan persoalan tersebut, atau dengan salah seorang petingginya yang memiliki kaitan dengan perintah itu. Demikianlah, seperti perumpamaan di atas—Allah memiliki perumpamaan yang paling mulia—Pencipta alam, Raja dari seluruh kerajaan dan alam malakut, serta Penguasa azali dan abadi memiliki dua bentuk komunikasi dan penghormatan: Pertama, yang bersifat parsial dan khusus. Kedua, yang bersifat universal dan umum.

Mi’raj Nabi merupakan manifestasi istimewa dari tingkat kewalian Muhammad SAW. Ia tampak dalam bentuk yang komprehensif mengungguli semua bentuk kewalian yang ada serta demikian tinggi berada di atas yang lainnya. Beliau mendapatkan kehormatan untuk bisa berkomunikasi langsung dan bercakap-cakap dengan Allah sebagai Tuhan semesta alam dengan kedudukan-Nya sebagai Pencipta seluruh entitas.

Said Nursi, *Risalah Mi'raj*, hlm. 10-11
Foto dari Bu Zulfitri
Mi’raj Nabi merupakan manifestasi istimewa dari tingkat kewalian Muhammad SAW. Ia tampak dalam bentuk yang komprehensif mengungguli semua bentuk kewalian yang ada serta demikian tinggi berada di atas yang lainnya.
Risalah Mi'raj, hlm. 10-11
*Apa Hakikat Mi’raj?*

*Jawaban:* Ia merupakan perjalanan atau suluk pribadi Muhammad SAW dalam menyusuri tingkatan kesempurnaan. Hal ini berarti bahwa tanda-tanda dan jejak _rububiyah_ yang Allah perlihatkan dalam menata seluruh makhluk lewat beragam nama, serta keagungan _rububiyah_ yang Dia perlihatkan lewat proses penciptaan dan pengaturan di langit setiap wilayah yang Dia hadirkan di mana setiap langit merupakan orbit agung bagi arasy _rububiyah_-Nya dan pusat kekuasaan _uluhiyah_-Nya, semua itu Allah perlihatkan satu persatu kepada hamba pilihan tersebut.

Allah SWT menaikkannya ke _buraq_ dan menempuhkannya berbagai tingkatan yang ada secepat kilat dari satu wilayah ke wilayah yang lain, dari satu tempat ke tempat yang lain seperti titik tempat beredarnya bulan guna diperlihatkan kepada _rububiyah_ ilahi yang terdapat di langit. Dia mempertemukan beliau dengan saudara-saudaranya sesama nabi satu persatu pada kedudukan masing-masing di langit sampai kemudian dinaikkan kepada kedudukan sejarak dua ujung busur.

Beliau mendapat kehormatan untuk berbicara dan melihat-Nya dengan rahasia keesaan agar menjadi seorang hamba yang mengumpulkan seluruh kesempurnaan manusia, meraih semua manifestasi ilahi, menyaksikan semua tingkatan alam, menyeru kekuasaan _rububiyah_-Nya, serta menyampaikan segala hal yang diridhai Tuhan dengan menyingkap misteri alam.

Said Nursi, *Risalah Mi'raj*, hlm. 15-16
*Bantahan Atas Pandangan Kaum Ateis Yang Mengingkari Mi’raj Nabi SAW dan Malaikat*

Terlintas dalam benak bahwa engkau (si ateis) berkata dalam hati, “Aku mengingkari keberadaan langit dan tidak beriman kepada malaikat. Bagaimana mungkin aku akan mempercayai perjalanan seorang manusia di langit dan pertemuannya dengan malaikat?”

Ya, tentu memperlihatkan dan memberikan pemahaman kepada orang sepertimu yang penglihatannya telah tertutup kabut dan akalnya telah turun ke mata sehingga hanya bisa melihat materi merupakan sesuatu yang sangat sulit.

Akan tetapi, kebenaran yang demikian terang dan jelas membuatnya dapat dilihat meski oleh orang buta. Karena itu, kami ingin mengatakan hal sebagai berikut: Seperti yang diketahui bahwa angkasa penuh dengan eter, cahaya, listrik, kalor, dan sejenisnya menjadi bukti yang menunjukkan keberadaan materi yang memenuhi angkasa. Jika buah menunjukkan keberadaan pohonnya, bunga menunjukkan keberadaan kebunnya, tangkai menunjukkan keberadaan ladang, serta ikan menunjukkan keberadaan laut, maka bintang-gemintang juga mendesak pandangan akal dan dengan sangat jelas menunjukkan keberadaan taman, tempat tumbuh, ladang, dan lautnya.

Karena “alam atas” dibangun dalam beragam bentuk di mana masing-masing darinya terlihat aneka hukum dalam kondisi yang berbeda-beda, maka asal dari hukum tersebut, yakni langit, juga berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Sebab, sebagaimana dalam diri manusia terdapat beragam wujud maknawi selain fisik materi seperti akal, kalbu, ruh, khayalan, dan daya ingat, di alam yang juga merupakan bentuk manusia yang lebih besar, serta pada entitas yang merupakan pohon buah manusia, terdapat sejumlah alam lain di luar alam fisik. Di samping itu, setiap alam memiliki langit sendiri mulai dari alam bumi hingga alam surga.

Said Nursi, *Risalah Mi'raj*, hlm. 28-29
*Rahasia Dibalik Dimi’rajkannya Rasul SAW dengan Ruh Disertai Jasadnya*

Terlintas pula bahwa engkau berkata, “Anggaplah ia mampu naik menuju langit. Namun, mengapa harus dinaikkan? Dan untuk apa? Bukankah cukup baginya naik dengan kalbu dan ruhnya seperti yang dilakukan oleh para wali yang saleh?”

Kami katakan: Ketika Sang Pencipta Yang Mahaagung ingin memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang menakjubkan dalam kerajaan dan alam malakut-Nya, hendak memperlihatkan sumber-sumber dan pabrik alam, serta ingin memperlihatkan berbagai hasil ukhrawi dari amal perbuatan manusia.

Maka sudah barang tentu mata Nabi SAW yang berposisi sebagai kunci untuk melihat “alam visual”, dan telinganya yang menangkap tanda-tanda di “alam audio” harus menyertainya sampai ke Arasy. Selain itu, akal dan hikmah menuntut agar ketika menuju arasy beliau disertai oleh fisiknya yang penuh berkah yang berposisi sebagai mesin dan perangkat tempat berbagai aktivitas ruhnya bekerja.

Pasalnya, sebagaimana hikmah ilahi menjadikan fisik sebagai pendamping bagi ruh di dalam surga di mana fisik merupakan wadah bagi banyak tugas ubudiyah serta berbagai kenikmatan dan kepedihan yang tak terhingga, maka fisik penuh berkah tersebut sudah pasti akan menyertai ruhnya. Lalu, karena fisik masuk ke dalam surga bersama ruh, maka di antara tuntutan hikmah Dia menjadikan fisik beliau sebagai pendamping bagi pribadi Muhammad SAW yang dimi’rajkan menuju _Sidratul Muntaha_ yang merupakan jasad dari surga _Ma’wâ_.

Said Nursi, *Risalah Mi'raj*, hlm. 31-32
*Takwa Dan Amal Saleh*
(Risalah ini sangat penting)

ﺑِﺎﺳﻤِﻪِ ﺳُﺒﺤَﺎﻧَﻪُ ﺍﻟﺴﻠﺎﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠّٰﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ ﺃﺑﺪﺍ ﺩﺍﺋﻤﺎ
Saudara-saudaraku yang setia dan mulia! Belakangan ini aku merenungkan pilar-pilar takwa dan amal saleh yang menjadi dua landasan utama dalam pandangan al-Qur’an al-Karim setelah iman. Takwa adalah meninggalkan larangan dan menjauhi kemaksiatan. Sementara amal saleh adalah melaksanakan perintah untuk meraih ragam kebaikan.

Pada zaman yang dihiasi kerusakan moral dan spiritual ini serta luapan nafsu _ammârah_ dan terlepasnya syahwat tanpa kendali, maka posisi takwa menjadi pilar yang sangat penting, bahkan ia menjadi inti dari pilar-pilar yang ada. Ia memiliki kedudukan yang sangat mulia, karena bisa menangkal kerusakan dan berbagai dosa besar. Pasalnya, ada kaidah fikih yang berlaku pada setiap waktu berbunyi:
ﺩﺭﺀ ﺍﻟﻤﻔﺎﺳﺪ أولى ﻋﻠﻰ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﺼﺎﻟ
_“Mencegah mafsadat lebih utama dibanding meraih maslahat.”_

Karena arus pemikiran yang merusak jiwa dan moral semakin menguat pada masa sekarang ini, maka takwa menjadi pilar paling utama untuk menangkal kerusakan yang menakutkan tersebut. Orang yang menunaikan berbagai kewajiban dan tidak melakukan dosa besar, akan selamat dengan izin Allah.

Pasalnya, taufik untuk bisa melakukan amal yang tulus pada saat dosa besar mengepung adalah sesuatu yang sangat langka. Sementara sebuah amal saleh meski sedikit, namun terhitung banyak dalam kondisi yang sangat berat dan sulit seperti sekarang ini.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 141-142
*Puasa Menyadarkan Manusia Akan Kesempurnaan _Rububiyah_ Allah*

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحٖيمِ
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذٖٓى اُنْزِلَ فٖيهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدٰى وَ الْفُرْقَانِ
_“Bulan Ramadhan (adalah bulan) yang di dalamnya al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia serta sebagai penjelasan tentang petunjuk dan pembeda (antara yang hak dan batil)”_ (QS. al-Baqarah [2]: 185).

Puasa bulan Ramadhan termasuk rukun utama di antara rukun Islam yang lima. Ia juga termasuk syiar Islam yang paling agung. Di samping ditujukan untuk menampakkan _rububiyah_ Allah SWT, sebagian besar hikmah puasa Ramadhan ditujukan untuk kehidupan sosial dan pribadi manusia, untuk pembinaan dan penyucian jiwa, serta ditujukan untuk mensyukuri berbagai nikmat ilahi.

Salah satu dari sekian banyak hikmah yang memperlihatkan _rububiyah_ Allah lewat puasa adalah sebagai berikut: Allah telah menciptakan muka bumi sebagai hidangan yang penuh dengan nikmat tak terhingga. Dia menyiapkannya dengan sangat menakjubkan di mana sama sekali tidak pernah diperkirakan oleh manusia. Dengan kondisi tersebut, Allah menjelaskan kesempurnaan _rububiyah_-Nya serta sifat kasih dan sayang-Nya.

Hanya saja karena tertutup oleh hijab kelalaian dan tirai _sebab_, manusia tidak bisa melihat hakikat yang sangat jelas tersebut dengan sebenarnya, atau kadangkala melupakannya. Namun pada bulan Ramadhan yang penuh berkah, kaum beriman seketika menjadi seperti pasukan besar yang teratur. Mereka mengenakan selendang ubudiyah kepada Allah dan berada dalam posisi siap berbuka guna menyambut undangan ilahi, “Silahkan” menuju jamuan-Nya yang mulia.

Dengan kondisi tersebut, rahmat Tuhan yang mulia dan komprehensif itu mereka sambut dengan ubudiyah yang luas, rapi, dan agung. Apakah menurutmu mereka yang tidak ikut serta dalam ubudiyah mulia itu layak disebut sebagai manusia?

Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 2-3
*Puasa Sebagai Kunci Syukur*

Terdapat banyak hikmah yang di dalamnya puasa Ramadhan membuat makhluk mensyukuri berbagai nikmat Allah. Di antaranya adalah sebagai berikut: Seperti yang disebutkan pada “Kalimat Pertama”, makanan yang dibawa oleh seorang pelayan dari dapur raja tentu sangat bernilai. Tentu sangat bodoh jika ada yang tidak menghargai makanan tersebut dan tidak mengenal pemberi yang sebenarnya, malah si pelayan itu yang diberi hadiah dan balasan.

Begitu pula dengan makanan dan nikmat tak terhingga yang Allah hamparkan di muka bumi. Sudah pasti Dia menuntut harganya dari kita. Yaitu bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat tadi. Sementara berbagai sebab lahiriah dan para pemiliknya hanya laksana para pelayan. Nah, Kita memberikan harganya kepada para pelayan serta merasa berutang budi kepada mereka. Bahkan kita menunjukkan rasa hormat dan terima kasih lebih dari yang semestinya.

Padahal, Pemberi nikmat hakiki yang layak mendapat puncak syukur, dan pujian daripada sebab-sebab. Jadi, mengungkapkan syukur kepada Allah adalah dengan menyadari bahwa nikmat tersebut secara langsung bersumber dari-Nya, menghargai nilainya, serta merasa butuh kepadanya.

Karena itu, puasa di bulan Ramadhan merupakan kunci syukur yang hakiki, tulus dan agung serta bersifat menyeluruh. Sebab, sebagian besar manusia tidak mengetahui nilai nikmat yang demikian banyak lantaran tidak merasakan pedihnya rasa lapar. Misalnya orang yang kenyang, terutama kalangan yang kaya, tidak dapat mengetahui nilai nikmat yang terdapat pada sekerat roti kering.

Namun orang mukmin di saat berbuka dapat merasakannya sebagai nikmat ilahi yang sangat berharga. Indra pengecapnya menjadi saksi atas hal itu. Oleh sebab itu, mereka yang berpuasa di bulan Ramadhan, mulai dari pemimpin sampai kepada kalangan yang paling miskin, memperoleh syukur maknawi dengan menyadari nilai nikmat tersebut.

Sikap manusia yang menahan diri untuk tidak menyentuh makanan di siang hari membuatnya dapat mengetahui kalau ia benar-benar merupakan nikmat. Pasalnya, ia berbisik kepada dirinya, “Nikmat ini bukan milikku. Aku tidak bebas mengonsumsinya.

Jadi ia milik pihak lain. Nikmat tersebut adalah bentuk karunia dan kemurahan-Nya atas kita. Sekarang aku sedang menantikan perintah-Nya.” Dengan cara semacam ini berarti manusia menunaikan syukur maknawi. Dengan demikian, puasa berposisi sebagai kunci syukur―dilihat dari berbagai sisi―yang merupakan tugas hakiki manusia.

Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 3-4
*Puasa Dan Kehidupan Sosial*

Salah satu hikmah puasa di antara sekian banyak hikmahnya yang tertuju kepada kehidupan sosial manusia adalah sebagai berikut: Manusia diciptakan dalam kondisi kehidupan yang berbeda-beda. Karena itu, Allah menyeru kalangan kaya untuk memberi bantuan kepada mereka yang miskin. Nah, tentu kalangan kaya tidak dapat merasakan kondisi miskin yang menumbuhkan rasa kasihan, juga tidak dapat merasakan derita lapar yang mereka alami secara sempurna kecuali lewat rasa lapar yang dilahirkan dari puasa.

Andaikan tidak ada puasa, tentu banyak orang kaya yang menuruti hawa nafsu tidak mengetahui sejauh mana pedihnya rasa lapar dan hidup miskin serta sejauh mana fakir miskin membutuhkan kasih sayang. Oleh karena itu, rasa kasihan terhadap sesama yang terdapat dalam diri manusia menjadi salah satu faktor yang melahirkan sikap syukur hakiki. Pasalnya, setiap individu dapat menemukan orang yang lebih miskin darinya dari satu sisi, di mana ia diwajibkan untuk mengasihinya.

Tanpa ada keharusan bagi diri ini untuk ikut merasakan pedihnya rasa lapar, tentu tidak akan ada yang berbuat baik kepada orang lain dengan tolong-menolong dalam ikatan kasih sayang terhadap sesama manusia. Kalaupun hal itu dilakukan pasti hanya sekadarnya. Sebab, ia tidak merasakan dengan sebenarnya kondisi tersebut dalam dirinya.

Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 5-6
*Puasa Membina Jiwa Manusia*

Puasa Ramadhan dilihat dari sisi pembinaan terhadap jiwa manusia memiliki sejumlah hikmah. Di antaranya adalah: Secara fitrah, jiwa manusia cenderung ingin bebas merdeka tanpa ikatan. Bahkan ia merasa berkuasa atas dirinya sendiri dan bebas bergerak sesuka hati. Ia tidak mau berpikir bahwa dirinya tumbuh besar lewat berbagai karunia ilahi yang tak terhingga. Terutama jika ia memiliki kekayaan berlimpah dan kekuasaan di dunia.

Hal itu ditopang dan didukung oleh kelalaian yang ada. Karenanya, ia mereguk nikmat ilahi dengan cara merampas dan mencuri laksana hewan. Akan tetapi, pada bulan Ramadhan yang penuh berkah jiwa setiap manusia menjadi sadar, mulai dari yang paling kaya hingga yang paling miskin bahwa dirinya bukan pemilik; tetapi dimiliki, juga tidak bebas merdeka; tetapi hamba yang diperintah.

Karena itu, ia tidak bisa melakukan pekerjaan yang paling sepele sekalipun tanpa perintah. Bahkan mengambil dan meminum air sekalipun. Dengan demikian, perasaannya sebagai penguasa atas dirinya lenyap. Ia terikat oleh jerat ubudiyahnya kepada Allah dan masuk ke dalam wilayah tugas utamanya, yaitu bersyukur.

Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 5-6
*Puasa sebagai Wasilah _Tazkiyatun Nafs_*

Puasa Ramadhan memiliki banyak hikmah dilihat dari tujuannya dalam mendidik nafsu _ammârah_, dalam meluruskan akhlaknya, dan dalam menjadikannya menjauhi berbagai perbuatan yang tidak jelas. Kami hanya akan menyebutkan satu darinya. Yaitu bahwa nafsu manusia cenderung lupa kepada jati dirinya. Ia tidak melihat kelemahan tak terhingga, kefakiran tak bertepi, dan berbagai kekurangan yang terdapat dalam dirinya. Ia tidak mau melihat semua itu, tidak mau merenungkan puncak kelemahannya, kondisinya yang akan lenyap, serta berbagai kesulitan yang akan ia hadapi.

Ia juga lupa kalau dirinya berasal dari daging dan tulang yang cepat rusak dan hancur. Ia merasa seolah-olah wujudnya berasal dari baja, tidak akan pernah mati, dan akan kekal abadi. Karena itu, engkau melihatnya menyambar dunia dan melemparkan diri ke dalamnya dengan rasa tamak disertai dengan kecintaan buta terhadapnya. Ia menguatkan cengkeramannya terhadap segala hal yang dirasa nikmat dan berguna.

Akibatnya, ia lupa kepada Sang Pencipta Yang telah mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Ia juga melupakan balasan amal perbuatannya dan kehidupan akhiratnya sehingga terjatuh ke dalam akhlak tercela. Namun puasa Ramadhan membuat manusia yang paling lalai dan membangkang dapat merasakan kelemahan, ketidakberdayaan, dan kefakirannya.

Lewat rasa lapar, masing-masing mereka memikirkan perutnya yang kosong sekaligus menyadari rasa butuh yang terdapat dalam perutnya itu serta menyadari sejauh mana kelemahan dan kebutuhannya terhadap rahmat dan kasih sayang ilahi. Dari lubuk hatinya, ia ingin mengetuk pintu ampunan Tuhan dengan segala kelemahan dan kefakiran yang ada seraya melepaskan sifat keangkuhan dalam jiwanya. Lalu dengan itu ia bersiap-siap mengetuk rahmat ilahi dengan tangan syukur maknawi, selama kelalaian tidak merusak mata hatinya.

Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat dan Syukur*, hlm 6-7
*KESEMPURNAAN PUASA*

Kesempurnaan puasa terwujud ketika seluruh indera manusia seperti mata, telinga, kalbu khayalan, dan pikiran juga ikut berpuasa sebagaimana yang dilakukan oleh perut. Yaitu dengan menjauhkan seluruh indera dari semua larangan dan sesuatu yang tidak berguna, sekaligus mendorongnya untuk menunaikan ibadahnya masing-masing.

Misalnya, melatih lisan untuk berpuasa dari perkatan dusta, gibah, dan berbagai ungkapan kotor. Serta membasahinya dengan bacaan al-Qur’an, zikir, tasbih, tahmid, salawat dan salam kepada Rasulullah SAW, istighfar, dan berbagai zikir lainya.

Said Nursi, Al-Maktubat, hlm. 675
Foto dari Bu Zulfitri
*Bulan Ramadhan adalah Bulan Al-Qur’an*

Di antara sekian banyak hikmah puasa Ramadhan yang tertuju kepada turunnya al-Qur’an dan bahwa bulan Ramadhan merupakan waktu turunnya yang terpenting, adalah sebagai berikut: Karena al-Qur’an telah turun pada bulan Ramadhan yang penuh berkah, maka jiwa harus bersih dari berbagai keinginan hina dan jauh dari berbagai perkara buruk guna bersiap-siap menyambut kalam samawi tersebut dengan baik. Yaitu dengan menghadirkan hati pada saat turunnya di bulan ini serta menyerupai kondisi malaikat dengan tidak makan dan tidak minum.

Membaca al-Qur’an al-Karim seakan-akan ayat-ayat baru turun kembali. Menyimaknya dengan khusyuk, serta mendengarkan pesan ilahi tersebut agar bisa meraih kondisi spiritual yang mulia seakan-akan si pembaca mendengar langsung dari Rasul SAW. Atau, seakan-akan ia mendengarnya dari Jibril AS. Atau bahkan mendengarnya dari Sang Penutur Azali, Allah SWT. Kemudian ia menyampaikan dan membacakannya kepada orang lain seraya menjelaskan salah satu hikmah turunnya. Pada bulan Ramadhan yang penuh berkah dunia Islam berubah menjadi seperti masjid.

Ia sungguh merupakan masjid besar yang setiap sudutnya bergemuruh oleh jutaan penghafal al-Qur’an. Mereka membacakan firman ilahi tersebut dan memperdengarkannya kepada seluruh penduduk bumi. Dengan sangat indah dan terang, bulan Ramadhan memperlihatkan kebenaran ayat yang berbunyi:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذٖٓى اُنْزِلَ فٖيهِ الْقُرْاٰنُ ... (١٨٥)
_"Bulan ramadhan (adalah bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an.”_ (QS. Al-Baqarah [2]: 185). Hal itu menegaskan bahwa bulan Ramadhan benar-benar merupakan bulan al-Qur’an.

Adapun kelompok lain dari jamaah yang besar tersebut ada yang mendengar para penghafal al-Qur’an dengan penuh khusyuk dan ada pula yang membaca ayat-ayat al-Qur’an untuk dirinya sendiri. Bukankah menjauhkan diri dari masjid suci tersebut karena sibuk mencari makan dan minum guna menuruti nafsu _ammârah_ merupakan sikap yang sangat jelek dan buruk?! Bukankah ia akan sangat dibenci oleh jamaah masjid di atas?! Demikianlah kondisi orang-orang yang berseberangan dengan kalangan yang berpuasa di bulan Ramadhan. Secara moril mereka akan dihinakan dan dikucilkan oleh seluruh dunia Islam.

Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 7-9
RISALAH PUASA | NUKTAH 8
Hikmah-Hikmah puasa terutama manfaat puasa dari sisi kesehatan. Dibahas oleh drg. Muhammad Syafaat dari buku Said Nursi berjudul Misteri puasa. Selamat menyimak!

https://youtu.be/MqSLfdYLR_E?si=78IXT7cM7frdiDq3
*Pelipatgandaan Pahala Pada Bulan Ramadhan*

*Nuktah Ketujuh*

Dilihat dari keberadaannya dalam memberikan keuntungan bagi manusia di mana manusia datang ke dunia untuk bercocok tanam dan berbisnis ukhrawi, puasa Ramadhan memiliki sejumlah hikmah. Namun kami hanya akan menyebutkan salah satu darinya, yaitu sebagai berikut: Pahala amal di bulan Ramadhan dilipatgandakan hingga seribu kali.

Setiap huruf al-Qur’an memiliki sepuluh pahala, dihitung sebagai sepuluh kebaikan, dan mendatangkan sepuluh buah surga sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi SAW. Pada bulan Ramadhan setiap huruf menghasilkan seribu pahala; bukan lagi sepuluh. Setiap huruf dari ayat-ayat tertentu—seperti ayat Kursi—mendatangkan ribuan pahala. Pahala tersebut semakin bertambah pada hari-hari jumat di bulan Ramadhan. Serta, ia bisa mencapai tiga puluh ribu pahala pada malam _“Lailatul Qadr”_.

Ya, al-Qur’an al-Hakim yang setiap hurufnya memberikan tiga puluh ribu buah abadi menjadi pohon bersinar—seperti pohon Tuba surga—di mana kaum beriman di bulan Ramadhan meraih buah kekal abadi yang terhitung jutaan. Renungkan dan perhatikan dengan seksama bisnis suci, kekal, dan menguntungkan itu. Lalu bayangkan mereka yang tidak mengetahui nilai dari huruf-huruf suci tersebut. Betapa ia sangat merugi!

Badiuzzaman Said Nursi, *Misteri Puasa Hemat & Syukur*, hlm. 9-10*