*Urgensi Keyakinan Terhadap Kebangkitan Bagi Kehidupan Sosial*
*Pendahuluan*
Pendahuluan ini berisi dua poin. Pertama-tama kami akan menjelaskan secara singkat satu rangkuman universal di antara sekian banyak rangkuman kehidupan dan manfaat spiritual dari akidah kebangkitan seraya menerangkan sejauh mana urgensi keyakinan ini bagi kehidupan manusia, terutama kehidupan sosial.
Kami juga akan mengemukakan sebuah argumen yang bersifat komprehensif di antara sekian banyak argumen tentang keimanan pada kebangkitan seraya menerangkan tingkat kejelasannya di mana ia sama sekali tidak dicampuri oleh keraguan.
*Poin Pertama*: Sebagai contoh dan analogi, kami akan menunjukkan empat dalil dari ratusan dalil yang membuktikan bahwa keyakinan tentang akhirat merupakan pilar utama kehidupan sosial dan individu manusia sekaligus sebagai pilar seluruh kesempurnaan dan kebahagiaannya.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 87-88
*Pendahuluan*
Pendahuluan ini berisi dua poin. Pertama-tama kami akan menjelaskan secara singkat satu rangkuman universal di antara sekian banyak rangkuman kehidupan dan manfaat spiritual dari akidah kebangkitan seraya menerangkan sejauh mana urgensi keyakinan ini bagi kehidupan manusia, terutama kehidupan sosial.
Kami juga akan mengemukakan sebuah argumen yang bersifat komprehensif di antara sekian banyak argumen tentang keimanan pada kebangkitan seraya menerangkan tingkat kejelasannya di mana ia sama sekali tidak dicampuri oleh keraguan.
*Poin Pertama*: Sebagai contoh dan analogi, kami akan menunjukkan empat dalil dari ratusan dalil yang membuktikan bahwa keyakinan tentang akhirat merupakan pilar utama kehidupan sosial dan individu manusia sekaligus sebagai pilar seluruh kesempurnaan dan kebahagiaannya.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 87-88
*Keimanan Kepada Hari Akhir Merupakan Pelipur Lara bagi Anak-Anak*
*Dalil Pertama*: Anak-anak yang mewakili setengah umat manusia tidak akan mampu menerima kenyataan yang tampak menyakitkan saat terjadi kematian, kecuali dengan kekuatan moral yang lahir dari adanya “iman kepada surga”, yang terdapat dalam diri mereka yang lemah. Keimanan itulah yang membuka pintu harapan bersinar bagi tabiat mereka yang halus dan demikian rapuh, serta menangis karena sebab yang paling sepele sekalipun.
Maka, dengan keimanan tersebut mereka dapat hidup dengan nyaman, senang, dan gembira. Maka, si anak mukmin itu pun mengajak dirinya berbicara tentang surga. Ia berkata, “Adikku atau temanku tercinta yang telah meninggal, sekarang telah menjadi salah seekor burung di surga. Ia terbang di surga ke mana saja ia suka dan hidup dalam kondisi yang paling menyenangkan.”
Andai iman kepada surga tidak ada, tentu kematian yang menimpa anak-anak semisalnya atau orang dewasa sekalipun akan menghancurkan kekuatan moral orang-orang yang tidak memiliki daya dan kekuatan tersebut, serta akan merusak jiwa mereka, dan meremukkan kehidupan mereka sehingga ketika itu seluruh jasad, roh, kalbu, akal mereka ikut menangis bersama dengan tangisan mata.
Kemungkinannya ada dua: kepekaan mereka mati dan perasaan mereka mengeras. Atau, mereka menjadi seperti hewan yang tersesat dan malang.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 88-89
*Dalil Pertama*: Anak-anak yang mewakili setengah umat manusia tidak akan mampu menerima kenyataan yang tampak menyakitkan saat terjadi kematian, kecuali dengan kekuatan moral yang lahir dari adanya “iman kepada surga”, yang terdapat dalam diri mereka yang lemah. Keimanan itulah yang membuka pintu harapan bersinar bagi tabiat mereka yang halus dan demikian rapuh, serta menangis karena sebab yang paling sepele sekalipun.
Maka, dengan keimanan tersebut mereka dapat hidup dengan nyaman, senang, dan gembira. Maka, si anak mukmin itu pun mengajak dirinya berbicara tentang surga. Ia berkata, “Adikku atau temanku tercinta yang telah meninggal, sekarang telah menjadi salah seekor burung di surga. Ia terbang di surga ke mana saja ia suka dan hidup dalam kondisi yang paling menyenangkan.”
Andai iman kepada surga tidak ada, tentu kematian yang menimpa anak-anak semisalnya atau orang dewasa sekalipun akan menghancurkan kekuatan moral orang-orang yang tidak memiliki daya dan kekuatan tersebut, serta akan merusak jiwa mereka, dan meremukkan kehidupan mereka sehingga ketika itu seluruh jasad, roh, kalbu, akal mereka ikut menangis bersama dengan tangisan mata.
Kemungkinannya ada dua: kepekaan mereka mati dan perasaan mereka mengeras. Atau, mereka menjadi seperti hewan yang tersesat dan malang.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 88-89
*Keimanan Kepada Hari Akhir Merupakan Pelipur Lara bagi Anak-Anak*
*Dalil Pertama*: Anak-anak yang mewakili setengah umat manusia tidak akan mampu menerima kenyataan yang tampak menyakitkan saat terjadi kematian, kecuali dengan kekuatan moral yang lahir dari adanya “iman kepada surga”, yang terdapat dalam diri mereka yang lemah. Keimanan itulah yang membuka pintu harapan bersinar bagi tabiat mereka yang halus dan demikian rapuh, serta menangis karena sebab yang paling sepele sekalipun.
Maka, dengan keimanan tersebut mereka dapat hidup dengan nyaman, senang, dan gembira. Maka, si anak mukmin itu pun mengajak dirinya berbicara tentang surga. Ia berkata, “Adikku atau temanku tercinta yang telah meninggal, sekarang telah menjadi salah seekor burung di surga. Ia terbang di surga ke mana saja ia suka dan hidup dalam kondisi yang paling menyenangkan.”
Andai iman kepada surga tidak ada, tentu kematian yang menimpa anak-anak semisalnya atau orang dewasa sekalipun akan menghancurkan kekuatan moral orang-orang yang tidak memiliki daya dan kekuatan tersebut, serta akan merusak jiwa mereka, dan meremukkan kehidupan mereka sehingga ketika itu seluruh jasad, roh, kalbu, akal mereka ikut menangis bersama dengan tangisan mata.
Kemungkinannya ada dua: kepekaan mereka mati dan perasaan mereka mengeras. Atau, mereka menjadi seperti hewan yang tersesat dan malang.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 88-89
*Dalil Pertama*: Anak-anak yang mewakili setengah umat manusia tidak akan mampu menerima kenyataan yang tampak menyakitkan saat terjadi kematian, kecuali dengan kekuatan moral yang lahir dari adanya “iman kepada surga”, yang terdapat dalam diri mereka yang lemah. Keimanan itulah yang membuka pintu harapan bersinar bagi tabiat mereka yang halus dan demikian rapuh, serta menangis karena sebab yang paling sepele sekalipun.
Maka, dengan keimanan tersebut mereka dapat hidup dengan nyaman, senang, dan gembira. Maka, si anak mukmin itu pun mengajak dirinya berbicara tentang surga. Ia berkata, “Adikku atau temanku tercinta yang telah meninggal, sekarang telah menjadi salah seekor burung di surga. Ia terbang di surga ke mana saja ia suka dan hidup dalam kondisi yang paling menyenangkan.”
Andai iman kepada surga tidak ada, tentu kematian yang menimpa anak-anak semisalnya atau orang dewasa sekalipun akan menghancurkan kekuatan moral orang-orang yang tidak memiliki daya dan kekuatan tersebut, serta akan merusak jiwa mereka, dan meremukkan kehidupan mereka sehingga ketika itu seluruh jasad, roh, kalbu, akal mereka ikut menangis bersama dengan tangisan mata.
Kemungkinannya ada dua: kepekaan mereka mati dan perasaan mereka mengeras. Atau, mereka menjadi seperti hewan yang tersesat dan malang.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 88-89
*Kebar Gembira Bagi Kaum Yang Beriman Dan Ancaman Bagi Mereka Yang Ingkar*
Al-Qur’an berikut ayat-ayatnya yang pasti; seluruh nabi—sebagai pemilik jiwa bercahaya—terutama Rasulullah SAW; para wali sebagai poros pemilik kalbu yang bersinar, dan seluruh kaum _shiddîqîn_ yang merupakan sumber akal yang tajam dan cemerlang, seluruhnya meyakini adanya kebangkitan dengan keimanan yang mantap sekaligus menjadi saksi atasnya dan memberikan kabar gembira kepada umat manusia akan adanya kebahagiaan abadi.
Di sisi lain, mereka juga mengancam kaum yang sesat bahwa akhir perjalanan mereka adalah neraka, serta memberikan kabar gembira kepada kalangan yang mendapat petunjuk bahwa kesudahan mereka berupa surga. Dalam hal ini, mereka bersandar kepada ratusan mukjizat yang terang dan tanda-tanda kekuasaan yang demikian jelas, serta kepada janji dan ancaman yang Kau sebutkan berulang kali dalam suhuf samawi dan kitab suci.
Dalam hal ini, mereka juga berpegang pada mulianya keagungan-Mu, kekuasaan rububiyah-Mu, kondisi-Mu yang agung, serta sifat-sifat-Mu yang suci seperti kuasa, kasih sayang, perhatian, hikmah, keagungan, dan keindahan. Ia juga dibangun di atas kesaksian dan penyingkapan mereka yang tak terhingga yang menginformasikan jejak-jejak akhirat. Serta dibangun di atas iman dan keyakinan yang kukuh yang setara dengan _ilmul yaqîn_ dan _ainul yaqîn_.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 96-96
Al-Qur’an berikut ayat-ayatnya yang pasti; seluruh nabi—sebagai pemilik jiwa bercahaya—terutama Rasulullah SAW; para wali sebagai poros pemilik kalbu yang bersinar, dan seluruh kaum _shiddîqîn_ yang merupakan sumber akal yang tajam dan cemerlang, seluruhnya meyakini adanya kebangkitan dengan keimanan yang mantap sekaligus menjadi saksi atasnya dan memberikan kabar gembira kepada umat manusia akan adanya kebahagiaan abadi.
Di sisi lain, mereka juga mengancam kaum yang sesat bahwa akhir perjalanan mereka adalah neraka, serta memberikan kabar gembira kepada kalangan yang mendapat petunjuk bahwa kesudahan mereka berupa surga. Dalam hal ini, mereka bersandar kepada ratusan mukjizat yang terang dan tanda-tanda kekuasaan yang demikian jelas, serta kepada janji dan ancaman yang Kau sebutkan berulang kali dalam suhuf samawi dan kitab suci.
Dalam hal ini, mereka juga berpegang pada mulianya keagungan-Mu, kekuasaan rububiyah-Mu, kondisi-Mu yang agung, serta sifat-sifat-Mu yang suci seperti kuasa, kasih sayang, perhatian, hikmah, keagungan, dan keindahan. Ia juga dibangun di atas kesaksian dan penyingkapan mereka yang tak terhingga yang menginformasikan jejak-jejak akhirat. Serta dibangun di atas iman dan keyakinan yang kukuh yang setara dengan _ilmul yaqîn_ dan _ainul yaqîn_.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 96-96
*Kemuliaan Allah SWT Dan Seluruh Nama-nama-Nya Menuntut Keberadaan Hari Kebangkitan*
Wahai Yang Mahakuasa, Yang Mahabijaksana, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, Yang Maha menepati janji, Wahai pemilik keperkasaan dan keagungan, Wahai Yang Maha Memaksa Yang Mahaagung, Engkau suci dan mulia. Engkau tidak mungkin melekatkan sifat dusta kepada seluruh wali-Mu, seluruh janji-Mu, semua sifat-Mu, serta seluruh atribut-Mu yang suci sehingga Kau ingkari.
Engkau tidak mungkin menghijab sesuatu yang menjadi konsekuensi kekuasaan rububiyah-Mu dengan tidak mengabulkan doadoa hamba-Mu yang saleh yang Kau cintai, di mana mereka pun mencintai-Mu serta membuat diri mereka Kau cintai lewat iman, pembenaran, dan ketaatan. Engkau juga sangat tidak mungkin membenarkan kaum sesat dan kafir terkait dengan sikap mereka yang mengingkari kebangkitan. Mereka adalah orang-orang yang mengabaikan keagungan dan kebesaran-Mu dengan bersikap kufur, membangkang, dan ingkar kepada-Mu dan kepada janji-Mu.
Mereka meremehkan kemuliaan keagungan-Mu, kebesaran uluhiyah-Mu, serta kasih sayang rububiyah-Mu. Kami benar-benar memuliakan keadilan dan keindahan-Mu yang bersifat mutlak serta rahmat-Mu yang luas yang sama sekali bersih dari sifat zalim dan buruk. Dengan seluruh kekuatan yang diberikan, kami yakin dan percaya bahwa ribuan rasul dan nabi yang mulia serta para wali yang menyeru kepada-Mu, mereka semua dengan _haqqul yaqîn_, _ainul yaqîn_, dan _ilmul yaqîn_ menjadi saksi atas perbendaharaan rahmat ukhrawi-Mu dan kebaikan-Mu di alam baka serta atas manifestasi Asmaul Husna yang tersingkap secara komprehensif di negeri kebahagiaan.
Kami beriman bahwa kesaksian tersebut benar dan nyata. Kabar gembira mereka tepat dan tidak dusta. Mereka semua meyakini bahwa hakikat besar ini (kebangkitan) merupakan kilau besar dari nama _al-Haq_ yang merupakan sandaran dan mentari seluruh hakikat. Dengan izin-Mu, mereka membimbing manusia dalam wilayah kebenaran sekaligus mengajari mereka dengan inti hakikat. Wahai Tuhan, dengan kebenaran pelajaran yang mereka berikan serta dengan kemuliaan petunjuk mereka, berikan kami iman yang sempurna dan karuniakan kami _husnul khatimah_. Berikan hal itu kepada kami dan kepada seluruh murid Nur. Jadikan kami sebagai orang-orang yang layak mendapatkan syafa’at mereka. Amin.”
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 97-98
Wahai Yang Mahakuasa, Yang Mahabijaksana, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, Yang Maha menepati janji, Wahai pemilik keperkasaan dan keagungan, Wahai Yang Maha Memaksa Yang Mahaagung, Engkau suci dan mulia. Engkau tidak mungkin melekatkan sifat dusta kepada seluruh wali-Mu, seluruh janji-Mu, semua sifat-Mu, serta seluruh atribut-Mu yang suci sehingga Kau ingkari.
Engkau tidak mungkin menghijab sesuatu yang menjadi konsekuensi kekuasaan rububiyah-Mu dengan tidak mengabulkan doadoa hamba-Mu yang saleh yang Kau cintai, di mana mereka pun mencintai-Mu serta membuat diri mereka Kau cintai lewat iman, pembenaran, dan ketaatan. Engkau juga sangat tidak mungkin membenarkan kaum sesat dan kafir terkait dengan sikap mereka yang mengingkari kebangkitan. Mereka adalah orang-orang yang mengabaikan keagungan dan kebesaran-Mu dengan bersikap kufur, membangkang, dan ingkar kepada-Mu dan kepada janji-Mu.
Mereka meremehkan kemuliaan keagungan-Mu, kebesaran uluhiyah-Mu, serta kasih sayang rububiyah-Mu. Kami benar-benar memuliakan keadilan dan keindahan-Mu yang bersifat mutlak serta rahmat-Mu yang luas yang sama sekali bersih dari sifat zalim dan buruk. Dengan seluruh kekuatan yang diberikan, kami yakin dan percaya bahwa ribuan rasul dan nabi yang mulia serta para wali yang menyeru kepada-Mu, mereka semua dengan _haqqul yaqîn_, _ainul yaqîn_, dan _ilmul yaqîn_ menjadi saksi atas perbendaharaan rahmat ukhrawi-Mu dan kebaikan-Mu di alam baka serta atas manifestasi Asmaul Husna yang tersingkap secara komprehensif di negeri kebahagiaan.
Kami beriman bahwa kesaksian tersebut benar dan nyata. Kabar gembira mereka tepat dan tidak dusta. Mereka semua meyakini bahwa hakikat besar ini (kebangkitan) merupakan kilau besar dari nama _al-Haq_ yang merupakan sandaran dan mentari seluruh hakikat. Dengan izin-Mu, mereka membimbing manusia dalam wilayah kebenaran sekaligus mengajari mereka dengan inti hakikat. Wahai Tuhan, dengan kebenaran pelajaran yang mereka berikan serta dengan kemuliaan petunjuk mereka, berikan kami iman yang sempurna dan karuniakan kami _husnul khatimah_. Berikan hal itu kepada kami dan kepada seluruh murid Nur. Jadikan kami sebagai orang-orang yang layak mendapatkan syafa’at mereka. Amin.”
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 97-98
*Keberadaaan Allah SWT Menghendaki Adanya Negeri Akhirat*
Demikianlah, dalil dan argumen yang menetapkan kebenaran al-Qur’an, bahkan seluruh kitab samawi, serta berbagai mukjizat dan petunjuk yang membuktikan kenabian Sang kekasih Allah, bahkan seluruh nabi, semua itu menunjukkan hal terpenting yang mereka serukan. Yaitu realitas akhirat. Di samping itu, sebagian besar dalil dan argumen yang menjadi saksi akan eksistensi _wajibul wujud_ dan keesaan-Nya, juga menjadi saksi atas keberadaan negeri kebahagiaan dan alam baka di mana ia merupakan orbit rububiyah dan uluhiyah serta manifestasi terbesar darinya.
Ia menjadi saksi atas eksistensi negeri akhirat dan keterbukaan pintu-pintunya sebagaimana akan diterangkan nanti. Pasalnya, eksistensi Allah SAW, sifat-sifat-Nya yang mulia, sebagian besar nama-Nya, berbagai gelar-Nya yang penuh hikmah, serta sifat-sifat-Nya yang suci seperti rububiyah, uluhiyah, rahmat, perhatian, hikmah, dan keadilan menuntut dan mengharuskan keberadaan akhirat. Bahkan ia mengharuskan keberadaan alam baka sampai pada tingkatan wajib. Ia menuntut adanya pengumpulan makhluk dan kebangkitan mereka untuk mendapat ganjaran dan hukuman.
Ya, (1) selama Allah ada, di mana Dia Maha Esa, azali dan abadi, sudah barang tentu poros kekuasaan uluhiyah-Nya yang berupa akhirat juga ada. Selama rububiyah-Nya yang bersifat mutlak termanifestasi di alam ini, terutama pada makhluk hidup di mana ia berhias keagungan, kebesaran, hikmah, dan kasih sayang yang sangat jelas, sudah pasti terdapat kebahagiaan abadi yang membantah adanya prasangka bahwa Tuhan membiarkan makhluk begitu saja tanpa diberi ganjaran. Ia juga membersihkan hikmah Tuhan dari segala kesia-siaan. Dengan kata lain, negeri akhirat sudah pasti ada dan pasti akan dimasuki.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 98-99
Demikianlah, dalil dan argumen yang menetapkan kebenaran al-Qur’an, bahkan seluruh kitab samawi, serta berbagai mukjizat dan petunjuk yang membuktikan kenabian Sang kekasih Allah, bahkan seluruh nabi, semua itu menunjukkan hal terpenting yang mereka serukan. Yaitu realitas akhirat. Di samping itu, sebagian besar dalil dan argumen yang menjadi saksi akan eksistensi _wajibul wujud_ dan keesaan-Nya, juga menjadi saksi atas keberadaan negeri kebahagiaan dan alam baka di mana ia merupakan orbit rububiyah dan uluhiyah serta manifestasi terbesar darinya.
Ia menjadi saksi atas eksistensi negeri akhirat dan keterbukaan pintu-pintunya sebagaimana akan diterangkan nanti. Pasalnya, eksistensi Allah SAW, sifat-sifat-Nya yang mulia, sebagian besar nama-Nya, berbagai gelar-Nya yang penuh hikmah, serta sifat-sifat-Nya yang suci seperti rububiyah, uluhiyah, rahmat, perhatian, hikmah, dan keadilan menuntut dan mengharuskan keberadaan akhirat. Bahkan ia mengharuskan keberadaan alam baka sampai pada tingkatan wajib. Ia menuntut adanya pengumpulan makhluk dan kebangkitan mereka untuk mendapat ganjaran dan hukuman.
Ya, (1) selama Allah ada, di mana Dia Maha Esa, azali dan abadi, sudah barang tentu poros kekuasaan uluhiyah-Nya yang berupa akhirat juga ada. Selama rububiyah-Nya yang bersifat mutlak termanifestasi di alam ini, terutama pada makhluk hidup di mana ia berhias keagungan, kebesaran, hikmah, dan kasih sayang yang sangat jelas, sudah pasti terdapat kebahagiaan abadi yang membantah adanya prasangka bahwa Tuhan membiarkan makhluk begitu saja tanpa diberi ganjaran. Ia juga membersihkan hikmah Tuhan dari segala kesia-siaan. Dengan kata lain, negeri akhirat sudah pasti ada dan pasti akan dimasuki.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 98-99
*Hari Kebangkitan Itu Pasti Terjadi Sebagaimana Dijanjikan Allah SWT*
Selama beragam karunia, anugerah, kemurahan, perhatian, dan kasih Tuhan tampak dan terlihat di hadapan akal yang tidak padam serta di hadapan kalbu yang tidak mati, di mana ia menunjukkan eksistensi Sang _wajibul wujud_, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, dari balik hijab, maka sudah pasti terdapat kehidupan yang kekal abadi agar karunia tadi tidak diremehkan, anugerah-Nya tidak dimanipulasi, perhatian-Nya tidak sia-sia, rahmat-Nya tidak menjadi bencana, serta kemurahan-Nya tidak dinistakan sehingga terus tercurah pada hamba.
Ya, yang membuat anugerah benar-benar menjadi anugerah serta nikmat benar-benar menjadi nikmat adalah keberadaan kehidupan abadi di alam baka. Ya, hal itu harus terwujud.
Selama pena _qudrah_ yang di musim semi dan dalam lembaran yang sempit dan kecil bisa menulis seratus ribu kitab secara berbaur tanpa ada kesalahan dan rasa penat sebagaimana hal itu tampak jelas di hadapan kita, dan Pemilik pena tersebut telah berjanji seratus ribu kali bahwa:
“Aku akan menulis kitab yang lebih mudah daripada kitab musim semi yang tertulis di hadapan kalian. Aku akan menuliskan satu tulisan yang kekal di tempat yang lebih luas, lebih lapang, dan lebih indah daripada tempat yang sempit ini. Ia merupakan kitab yang tidak akan pernah hancur. Aku akan membuat kalian membacanya dengan penuh heran dan takjub.”
Allah menyebutkan kitab tersebut dalam seluruh perintah-Nya. Dengan kata lain, pilar-pilar utama kitab tersebut sudah pasti telah ditulis, sementara catatan kaki dan lampirannya akan ditulis lewat pengumpulan makhluk dan kebangkitan. Di dalamnya akan dicatat berbagai lembaran amal semua makhluk.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 99-100
Selama beragam karunia, anugerah, kemurahan, perhatian, dan kasih Tuhan tampak dan terlihat di hadapan akal yang tidak padam serta di hadapan kalbu yang tidak mati, di mana ia menunjukkan eksistensi Sang _wajibul wujud_, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, dari balik hijab, maka sudah pasti terdapat kehidupan yang kekal abadi agar karunia tadi tidak diremehkan, anugerah-Nya tidak dimanipulasi, perhatian-Nya tidak sia-sia, rahmat-Nya tidak menjadi bencana, serta kemurahan-Nya tidak dinistakan sehingga terus tercurah pada hamba.
Ya, yang membuat anugerah benar-benar menjadi anugerah serta nikmat benar-benar menjadi nikmat adalah keberadaan kehidupan abadi di alam baka. Ya, hal itu harus terwujud.
Selama pena _qudrah_ yang di musim semi dan dalam lembaran yang sempit dan kecil bisa menulis seratus ribu kitab secara berbaur tanpa ada kesalahan dan rasa penat sebagaimana hal itu tampak jelas di hadapan kita, dan Pemilik pena tersebut telah berjanji seratus ribu kali bahwa:
“Aku akan menulis kitab yang lebih mudah daripada kitab musim semi yang tertulis di hadapan kalian. Aku akan menuliskan satu tulisan yang kekal di tempat yang lebih luas, lebih lapang, dan lebih indah daripada tempat yang sempit ini. Ia merupakan kitab yang tidak akan pernah hancur. Aku akan membuat kalian membacanya dengan penuh heran dan takjub.”
Allah menyebutkan kitab tersebut dalam seluruh perintah-Nya. Dengan kata lain, pilar-pilar utama kitab tersebut sudah pasti telah ditulis, sementara catatan kaki dan lampirannya akan ditulis lewat pengumpulan makhluk dan kebangkitan. Di dalamnya akan dicatat berbagai lembaran amal semua makhluk.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 99-100
*Peran Manusia Sebagai Khalifah Dan Hubungannya Dengan Hari Kebangkitan*
Selama bumi demikian penting karena berisi banyak makhluk, serta berisi ratusan ribu spesies makhluk hidup dan roh yang beragam dan bergantian sehingga menjadi jantung, pusat, inti, saripati alam dan sebab penciptaannya di mana ia selalu disandingkan dengan langit dalam semua firman-Nya, sebagaimana dalam ayat:
ﺭَﺏُّ ﺍﻟﺴَّﻤﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟﺎَﺭْﺽِ
_“Tuhan pemelihara langit dan bumi.”_
Selama manusia menguasai berbagai belahan bumi serta berkuasa atas seluruh makhluk dengan menundukkan sebagian besarnya serta menjadikan sebagian besar ciptaan berkumpul di sekitarnya sesuai dengan keinginan dan kebutuhan alamiahnya yang ditata dan dihias di mana berbagai hal menarik darinya diletakkan di setiap tempat agar tidak hanya menarik perhatian jin dan manusia, namun juga perhatian penduduk langit dan seluruh alam, bahkan perhatian Penguasa Alam.
Sehingga ia mendapatkan rasa kagum, penghargaan, dan apresiasi serta dari sisi ini menjadi sangat penting dan bernilai. Lewat karunia ilmu dan kecakapan yang diberikan, ia memperlihatkan bahwa dirinya merupakan tujuan dari hikmah penciptaan alam dan merupakan buah besarnya. Hal itu tidak aneh mengingat ia merupakan khalifah di atas bumi. Karena berbagai kreasi Tuhan yang menakjubkan digelar dan ditata dalam bentuk yang sangat indah di dunia ini, maka siksa untuk para pembangkang dan pengingkar ditunda. Mereka diberi kesempatan menikmati hidup di dunia dan ditangguhkan agar bisa menunaikan tugas dengan sukses.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 100-101
Selama bumi demikian penting karena berisi banyak makhluk, serta berisi ratusan ribu spesies makhluk hidup dan roh yang beragam dan bergantian sehingga menjadi jantung, pusat, inti, saripati alam dan sebab penciptaannya di mana ia selalu disandingkan dengan langit dalam semua firman-Nya, sebagaimana dalam ayat:
ﺭَﺏُّ ﺍﻟﺴَّﻤﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟﺎَﺭْﺽِ
_“Tuhan pemelihara langit dan bumi.”_
Selama manusia menguasai berbagai belahan bumi serta berkuasa atas seluruh makhluk dengan menundukkan sebagian besarnya serta menjadikan sebagian besar ciptaan berkumpul di sekitarnya sesuai dengan keinginan dan kebutuhan alamiahnya yang ditata dan dihias di mana berbagai hal menarik darinya diletakkan di setiap tempat agar tidak hanya menarik perhatian jin dan manusia, namun juga perhatian penduduk langit dan seluruh alam, bahkan perhatian Penguasa Alam.
Sehingga ia mendapatkan rasa kagum, penghargaan, dan apresiasi serta dari sisi ini menjadi sangat penting dan bernilai. Lewat karunia ilmu dan kecakapan yang diberikan, ia memperlihatkan bahwa dirinya merupakan tujuan dari hikmah penciptaan alam dan merupakan buah besarnya. Hal itu tidak aneh mengingat ia merupakan khalifah di atas bumi. Karena berbagai kreasi Tuhan yang menakjubkan digelar dan ditata dalam bentuk yang sangat indah di dunia ini, maka siksa untuk para pembangkang dan pengingkar ditunda. Mereka diberi kesempatan menikmati hidup di dunia dan ditangguhkan agar bisa menunaikan tugas dengan sukses.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 100-101
*Keadilan Mutlak Allah SWT Menuntut Adanya Negeri Akhirat*
Selama manusia—yang memiliki esensi istimewa baik secara fisik maupun tabiat serta memiliki kebutuhan tak terhingga di samping kelemahannya yang luar biasa berikut derita tak terhingga di samping ketidakberdayaannya—mempunyai Tuhan Yang Mahakuasa. Dia memiliki _qudrah_ dan kasih sayang bersifat mutlak yang menjadikan bumi luas ini sebagai gudang besar bagi berbagai jenis tambang yang dibutuhkan manusia. Ia juga menjadi tempat penyimpanan berbagai jenis makanan yang penting, serta toko bagi berbagai barang yang diinginkan.
Allah SWT melihat kepadanya dengan tatapan perhatian dan penuh kasih sayang seraya memelihara dan membekalinya dengan apa yang dia kehendaki.
Selama Tuhan mencintai manusia dan membuat diri-Nya dicintai olehnya, Mahakekal dan memiliki sejumlah alam abadi. Dia menjalankan semua urusan sesuai dengan keadilan-Nya serta berbuat segala sesuatu sesuai dengan hikmah-Nya. Besarnya kekuasaan Sang Pencipta azali serta keabadian _hâkimiyah_-Nya tidak hanya terbatas pada dunia yang singkat ini.
Usia manusia yang sangat pendek serta usia bumi yang bersifat sementara dan fana juga tidak memadai bagi keduanya. Pasalnya, ada manusia yang tidak mendapatkan balasan di dunia ini atas tindak kezaliman yang ia lakukan, serta sikap ingkar dan pembangkangan yang ia tampakkan terhadap Tuhannya yang telah memberinya nikmat serta memeliharanya dengan penuh kasih sayang. Hal ini tentu bertentangan dengan sistem alam yang tertata serta dengan keadilan dan keseimbangan sempurna yang terdapat di dalamnya.
Ini juga bertentangan dengan keindahan dan kebaikan-Nya. Sebab, si zalim melewati hidupnya dengan nyaman, sementara pihak yang dizalimi melewatinya dengan penuh derita. Tentu saja esensi keadilan mutlak tersebut yang jejaknya terlihat di alam tidak bisa menerima jika kaum yang zalim itu tidak dibangkitkan bersama orang-orang yang mereka zalimi di mana keduanya sama di hadapan kematian.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 101-102
Selama manusia—yang memiliki esensi istimewa baik secara fisik maupun tabiat serta memiliki kebutuhan tak terhingga di samping kelemahannya yang luar biasa berikut derita tak terhingga di samping ketidakberdayaannya—mempunyai Tuhan Yang Mahakuasa. Dia memiliki _qudrah_ dan kasih sayang bersifat mutlak yang menjadikan bumi luas ini sebagai gudang besar bagi berbagai jenis tambang yang dibutuhkan manusia. Ia juga menjadi tempat penyimpanan berbagai jenis makanan yang penting, serta toko bagi berbagai barang yang diinginkan.
Allah SWT melihat kepadanya dengan tatapan perhatian dan penuh kasih sayang seraya memelihara dan membekalinya dengan apa yang dia kehendaki.
Selama Tuhan mencintai manusia dan membuat diri-Nya dicintai olehnya, Mahakekal dan memiliki sejumlah alam abadi. Dia menjalankan semua urusan sesuai dengan keadilan-Nya serta berbuat segala sesuatu sesuai dengan hikmah-Nya. Besarnya kekuasaan Sang Pencipta azali serta keabadian _hâkimiyah_-Nya tidak hanya terbatas pada dunia yang singkat ini.
Usia manusia yang sangat pendek serta usia bumi yang bersifat sementara dan fana juga tidak memadai bagi keduanya. Pasalnya, ada manusia yang tidak mendapatkan balasan di dunia ini atas tindak kezaliman yang ia lakukan, serta sikap ingkar dan pembangkangan yang ia tampakkan terhadap Tuhannya yang telah memberinya nikmat serta memeliharanya dengan penuh kasih sayang. Hal ini tentu bertentangan dengan sistem alam yang tertata serta dengan keadilan dan keseimbangan sempurna yang terdapat di dalamnya.
Ini juga bertentangan dengan keindahan dan kebaikan-Nya. Sebab, si zalim melewati hidupnya dengan nyaman, sementara pihak yang dizalimi melewatinya dengan penuh derita. Tentu saja esensi keadilan mutlak tersebut yang jejaknya terlihat di alam tidak bisa menerima jika kaum yang zalim itu tidak dibangkitkan bersama orang-orang yang mereka zalimi di mana keduanya sama di hadapan kematian.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 101-102
*Alam Beserta Seluruh Hakikatnya Menghendaki Adanya Kebangkitan*
Selama Sang Raja Diraja telah memilih bumi dari alam ini, serta memilih manusia dari bumi. Dia memberinya kedudukan yang mulia seraya memberikan perhatian dan pertolongan. Dia memilih para nabi, wali, dan orang-orang yang saleh di antara manusia di mana mereka sejalan dengan tujuan Ilahi dengan membuat diri mereka disenangi Tuhan lewat iman dan ketundukan. Dia menjadikan mereka sebagai para wali-Nya yang dicinta dan diajak bicara. Dia memuliakan mereka dengan sejumlah mukjizat dan taufik dalam beramal.
Dia mengazab musuh mereka dengan tamparan samawi. Dia juga memilih di antara para kekasih tersebut seorang imam sekaligus simbol kebanggaan mereka. Ia tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW. Dengan cahayanya, Dia terangi separuh bola bumi dan seperlima umat manusia yang sangat penting selama berabad-abad sehingga seakan-akan alam dicipta karenanya lantaran seluruh tujuan tampak dengannya, lantaran agama yang ia bawa demikian terang dan terlihat, serta lantaran ia bersinar dengan al-Qur’an yang diturunkan padanya.
Ketika beliau layak mendapat imbalan atas pengabdiannya yang agung tak terbatas oleh usia singkat di mana beliau hanya hidup selama 63 tahun dengan penuh perjuangan dan susah payah, maka mungkinkah dan logiskah beliau, orang-orang sejenis beliau, dan para kekasih beliau tidak dibangkitkan? Apakah beliau saat ini tidak hidup dengan rohnya serta fana dan lenyap? Sama sekali tidak mungkin. Ya, alam berikut semua hakikat alam menuntut dan menghendaki kebangkitan dan kehidupannya.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 102-103
Selama Sang Raja Diraja telah memilih bumi dari alam ini, serta memilih manusia dari bumi. Dia memberinya kedudukan yang mulia seraya memberikan perhatian dan pertolongan. Dia memilih para nabi, wali, dan orang-orang yang saleh di antara manusia di mana mereka sejalan dengan tujuan Ilahi dengan membuat diri mereka disenangi Tuhan lewat iman dan ketundukan. Dia menjadikan mereka sebagai para wali-Nya yang dicinta dan diajak bicara. Dia memuliakan mereka dengan sejumlah mukjizat dan taufik dalam beramal.
Dia mengazab musuh mereka dengan tamparan samawi. Dia juga memilih di antara para kekasih tersebut seorang imam sekaligus simbol kebanggaan mereka. Ia tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW. Dengan cahayanya, Dia terangi separuh bola bumi dan seperlima umat manusia yang sangat penting selama berabad-abad sehingga seakan-akan alam dicipta karenanya lantaran seluruh tujuan tampak dengannya, lantaran agama yang ia bawa demikian terang dan terlihat, serta lantaran ia bersinar dengan al-Qur’an yang diturunkan padanya.
Ketika beliau layak mendapat imbalan atas pengabdiannya yang agung tak terbatas oleh usia singkat di mana beliau hanya hidup selama 63 tahun dengan penuh perjuangan dan susah payah, maka mungkinkah dan logiskah beliau, orang-orang sejenis beliau, dan para kekasih beliau tidak dibangkitkan? Apakah beliau saat ini tidak hidup dengan rohnya serta fana dan lenyap? Sama sekali tidak mungkin. Ya, alam berikut semua hakikat alam menuntut dan menghendaki kebangkitan dan kehidupannya.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 102-103
*Kesempurnaan Sifat-sifat Ilahi Menghendaki Kehidupan Akhirat*
Risalah _al-Âyat al-Kubrâ_ yang merupakan “Sinar Ketujuh” telah menjelaskan dan menetapkan lewat tiga puluh tiga kesepakatan besar di mana kekuatan argumen masing-masingnya laksana gunung, bahwa alam ini bersumber dari tangan Dzat Yang Maha Esa dan milik Dzat Yang Maha Esa. Lewat berbagai argumen dan tahapan, secara jelas tauhid memperlihatkan bahwa ia merupakan poros dan inti kesempurnaan Ilahi.
Risalah tersebut juga menerangkan bahwa dengan keesaan, seluruh alam berubah laksana prajurit yang siap pakai dan laksana pegawai yang tunduk milik Dzat Yang Maha Esa. Lewat kedatangan dan eksistensi akhirat, kesempurnaan-Nya menjadi terwujud dan terpelihara, keadilan-Nya terbentang dan terbebas dari kezaliman, hikmah-Nya yang bersifat komprehensif menjadi suci dan bersih dari kesia-siaan, rahmat-Nya yang luas menyebar, serta keperkasaan dan _qudrah_-Nya yang mutlak terlihat dan jauh dari kelemahan. Setiap sifat-Nya tampak suci dan mulia.
Jadi, tidak diragukan lagi bahwa kiamat pasti terjadi. Demikian pula dengan pengumpulan dan kebangkitan. Pintu-pintu negeri ganjaran dan hukuman akan dibuka sesuai dengan hakikat yang terdapat dalam delapan paragraf sebelumnya yang dimulai dengan kata “selama” di mana ia merupakan persoalan penting dan memiliki tujuan halus di antara ratusan bahasan tentang iman kepada Allah.
Hal itu agar urgensi dan sentralitas bumi berikut urgensi dan kedudukan manusia terwujud; agar keadilan Tuhan Pemelihara bumi dan manusia, serta hikmah, rahmat, dan kekuasaan-Nya kukuh; agar para wali, kekasih hakiki, dan para perindu Tuhan yang abadi selamat dari kondisi fana dan kebinasaan abadi; agar sosok paling agung, tercinta, dan termulia dari mereka melihat ganjaran amalnya dan hasil pengabdiannya yang menjadikan alam selalu diridhai; serta agar kesempurnaan kekuasaan Tuhan yang abadi bersih dari cacat, _qudrah_-Nya bersih dari kelemahan, hikmah-Nya jauh dari kebodohan, dan keadilan-Nya jauh dari kezaliman.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 103-104
Risalah _al-Âyat al-Kubrâ_ yang merupakan “Sinar Ketujuh” telah menjelaskan dan menetapkan lewat tiga puluh tiga kesepakatan besar di mana kekuatan argumen masing-masingnya laksana gunung, bahwa alam ini bersumber dari tangan Dzat Yang Maha Esa dan milik Dzat Yang Maha Esa. Lewat berbagai argumen dan tahapan, secara jelas tauhid memperlihatkan bahwa ia merupakan poros dan inti kesempurnaan Ilahi.
Risalah tersebut juga menerangkan bahwa dengan keesaan, seluruh alam berubah laksana prajurit yang siap pakai dan laksana pegawai yang tunduk milik Dzat Yang Maha Esa. Lewat kedatangan dan eksistensi akhirat, kesempurnaan-Nya menjadi terwujud dan terpelihara, keadilan-Nya terbentang dan terbebas dari kezaliman, hikmah-Nya yang bersifat komprehensif menjadi suci dan bersih dari kesia-siaan, rahmat-Nya yang luas menyebar, serta keperkasaan dan _qudrah_-Nya yang mutlak terlihat dan jauh dari kelemahan. Setiap sifat-Nya tampak suci dan mulia.
Jadi, tidak diragukan lagi bahwa kiamat pasti terjadi. Demikian pula dengan pengumpulan dan kebangkitan. Pintu-pintu negeri ganjaran dan hukuman akan dibuka sesuai dengan hakikat yang terdapat dalam delapan paragraf sebelumnya yang dimulai dengan kata “selama” di mana ia merupakan persoalan penting dan memiliki tujuan halus di antara ratusan bahasan tentang iman kepada Allah.
Hal itu agar urgensi dan sentralitas bumi berikut urgensi dan kedudukan manusia terwujud; agar keadilan Tuhan Pemelihara bumi dan manusia, serta hikmah, rahmat, dan kekuasaan-Nya kukuh; agar para wali, kekasih hakiki, dan para perindu Tuhan yang abadi selamat dari kondisi fana dan kebinasaan abadi; agar sosok paling agung, tercinta, dan termulia dari mereka melihat ganjaran amalnya dan hasil pengabdiannya yang menjadikan alam selalu diridhai; serta agar kesempurnaan kekuasaan Tuhan yang abadi bersih dari cacat, _qudrah_-Nya bersih dari kelemahan, hikmah-Nya jauh dari kebodohan, dan keadilan-Nya jauh dari kezaliman.
Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 103-104
*Persoalan Mi’raj merupakan Buah dari Pilar-pilar Iman*
*PENDAHULUAN*
*Catatan:* Persoalan mi’raj merupakan buah dari prinsip dan pilar-pilar iman. Ia adalah cahaya yang sinarnya berasal dari cahaya rukun iman. Tentu saja, ia tidak bisa dibuktikan kepada kaum ateis yang mengingkari rukun iman. Bahkan, ia tidak perlu dibahas kepada orang yang tidak beriman kepada Allah dan yang tidak mempercayai Rasul yang mulia SAW, atau yang mengingkari malaikat dan keberadaan sejumlah langit, sebelum membuktikan rukun iman kepada mereka terlebih dahulu.
Karena itu, sasaran pembicaraan kami ini tertuju kepada mukmin yang sedang dilanda keragu-raguan dan ilusi sehingga menganggap peristiwa mi’raj tidak masuk akal. Kami akan menjelaskan untuknya sesuatu yang berguna dan bisa menyembuhkannya dengan izin Allah. Namun, di sejumlah bagian kami tetap memberikan perhatian kepada ateis yang berposisi sebagai pendengar, serta kami juga berikan penjelasan yang berguna baginya.
Kilau dari hakikat mi’raj telah disebutkan dalam sejumlah risalah yang lain. Maka, kami memohon pertolongan Allah SWT—disertai desakan dari saudara saudaraku—untuk mengumpulkan sejumlah kilau yang berserak tersebut dan menyatukannya dalam hakikat aslinya agar semua itu menjadi cermin yang memantulkan secara sekaligus berbagai kesempurnaan estetika Rasul SAW.
Said Nursi, *Risalah Mi'raj*, hlm. 1-2
*PENDAHULUAN*
*Catatan:* Persoalan mi’raj merupakan buah dari prinsip dan pilar-pilar iman. Ia adalah cahaya yang sinarnya berasal dari cahaya rukun iman. Tentu saja, ia tidak bisa dibuktikan kepada kaum ateis yang mengingkari rukun iman. Bahkan, ia tidak perlu dibahas kepada orang yang tidak beriman kepada Allah dan yang tidak mempercayai Rasul yang mulia SAW, atau yang mengingkari malaikat dan keberadaan sejumlah langit, sebelum membuktikan rukun iman kepada mereka terlebih dahulu.
Karena itu, sasaran pembicaraan kami ini tertuju kepada mukmin yang sedang dilanda keragu-raguan dan ilusi sehingga menganggap peristiwa mi’raj tidak masuk akal. Kami akan menjelaskan untuknya sesuatu yang berguna dan bisa menyembuhkannya dengan izin Allah. Namun, di sejumlah bagian kami tetap memberikan perhatian kepada ateis yang berposisi sebagai pendengar, serta kami juga berikan penjelasan yang berguna baginya.
Kilau dari hakikat mi’raj telah disebutkan dalam sejumlah risalah yang lain. Maka, kami memohon pertolongan Allah SWT—disertai desakan dari saudara saudaraku—untuk mengumpulkan sejumlah kilau yang berserak tersebut dan menyatukannya dalam hakikat aslinya agar semua itu menjadi cermin yang memantulkan secara sekaligus berbagai kesempurnaan estetika Rasul SAW.
Said Nursi, *Risalah Mi'raj*, hlm. 1-2
*Penafsiran Kata اِنَّهُ Dalam Ayat اِنَّهُ هُوَ السَّمٖيعُ الْبَصٖيرُ*
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحٖيمِ
سُبْحَانَ الَّذٖٓى اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَى الَّذٖى بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ اٰيَاتِنَا اِنَّهُ هُوَ السَّمٖيعُ الْبَصٖيرُ
_“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”_ (QS. al-Isrâ [17]: 1).
Dari perbendaharaan ayat yang mulia di atas, kami akan menyebutkan dua petunjuk saja. Keduanya merujuk kepada rambu retoris (_balagah_) yang terdapat dalam kata ganti اِنَّهُ _“Sesungguhnya Dia”_. Hal itu lantaran keduanya terkait dengan persoalan kita saat ini seperti yang telah kami jelaskan dalam risalah “Mukjizat al-Qur’an”. Al-Qur’an menutup ayat pertama dengan ungkapan:
اِنَّهُ هُوَ السَّمٖيعُ الْبَصٖيرُ
_“Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”_
Hal itu setelah Dia menyebutkan _isrâ_ (peristiwa diperjalankannya) Rasulullah
dari awal mi’raj—yakni dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha—dan akhir perjalanan beliau yang diterangkan oleh surah an-Najm. Kata ganti اِنَّهُ _“Sesungguhnya Dia”_ bisa mengacu kepada Allah SWT, atau mengacu kepada Rasulullah SAW.
Apabila mengacu kepada Rasul SAW, aka hukum retorika dan kesesuaian konteksnya menunjukkan bahwa perjalanan parsial ini termasuk di antara perjalanan umum dan mi’raj universal di mana beliau mendengar dan menyaksikan semua tanda kekuasaan Tuhan serta kreasi ilahi yang menakjubkan yang dijumpai oleh penglihatan dan pendengarannya pada saat naik dalam tingkatan nama-nama Tuhan yang komprehensif sampai ke _Sidratul Muntaha_ hingga berjarak seukuran dua ujung busur (_Qâba Qausain_) atau lebih dekat lagi. Ini menunjukkan bahwa wisata parsial di atas (_Isrâ_) merupakan kunci bagi wisata universal yang mencakup berbagai kreasi ilahi yang menakjubkan.
Said Nursi, *Risalah Mi'raj*, hlm. 3-5
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحٖيمِ
سُبْحَانَ الَّذٖٓى اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَى الَّذٖى بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ اٰيَاتِنَا اِنَّهُ هُوَ السَّمٖيعُ الْبَصٖيرُ
_“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”_ (QS. al-Isrâ [17]: 1).
Dari perbendaharaan ayat yang mulia di atas, kami akan menyebutkan dua petunjuk saja. Keduanya merujuk kepada rambu retoris (_balagah_) yang terdapat dalam kata ganti اِنَّهُ _“Sesungguhnya Dia”_. Hal itu lantaran keduanya terkait dengan persoalan kita saat ini seperti yang telah kami jelaskan dalam risalah “Mukjizat al-Qur’an”. Al-Qur’an menutup ayat pertama dengan ungkapan:
اِنَّهُ هُوَ السَّمٖيعُ الْبَصٖيرُ
_“Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”_
Hal itu setelah Dia menyebutkan _isrâ_ (peristiwa diperjalankannya) Rasulullah
dari awal mi’raj—yakni dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha—dan akhir perjalanan beliau yang diterangkan oleh surah an-Najm. Kata ganti اِنَّهُ _“Sesungguhnya Dia”_ bisa mengacu kepada Allah SWT, atau mengacu kepada Rasulullah SAW.
Apabila mengacu kepada Rasul SAW, aka hukum retorika dan kesesuaian konteksnya menunjukkan bahwa perjalanan parsial ini termasuk di antara perjalanan umum dan mi’raj universal di mana beliau mendengar dan menyaksikan semua tanda kekuasaan Tuhan serta kreasi ilahi yang menakjubkan yang dijumpai oleh penglihatan dan pendengarannya pada saat naik dalam tingkatan nama-nama Tuhan yang komprehensif sampai ke _Sidratul Muntaha_ hingga berjarak seukuran dua ujung busur (_Qâba Qausain_) atau lebih dekat lagi. Ini menunjukkan bahwa wisata parsial di atas (_Isrâ_) merupakan kunci bagi wisata universal yang mencakup berbagai kreasi ilahi yang menakjubkan.
Said Nursi, *Risalah Mi'raj*, hlm. 3-5