Perpustakaan UIN IB
1.43K subscribers
83 photos
10 videos
82 files
167 links
Nomor Pokok Perpustakaan : 1371092D0000002
Download Telegram
*Menjadikan Qonaah sebagai Pedoman Hidup*

Ketahuilah dengan pasti bahwa _qana’ah_ adalah bentuk syukur yang menguntungkan. Sementara tamak adalah bentuk kekufuran yang merugikan. Hemat adalah bentuk penghormatan terhadap nikmat yang indah dan berguna. Sementara boros adalah sikap meremehkan nikmat, dan sikap meremehkan adalah buruk dan berbahaya.

Jika engkau cerdas, biasakan dirimu untuk bersikap qana’ah serta berusahalah untuk selalu ridha. Jika tidak mampu, ucapkan, “Yâ shabûr” (Wahai Yang Mahasabar). Hiasi dirimu dengan sabar. Terimalah hakmu dan jangan pernah mengeluh. Ketahuilah apa yang engkau keluhkan dan kepada siapa engkau mengeluh. Sebaiknya engkau diam saja! Jika terpaksa harus mengeluh, keluhkan dirimu kepada Allah. Sebab kekurangan ada pada dirimu.

Said Nursi, Al Maktubat, hlm. 484
*Hikmah Dibalik Mengenal Dan Menisbatkan Diri Kepada Allah SWT*

Jadi, sebagaimana segala sesuatu menisbatkan diri kepada tuannya, merasa bangga dengan afiliasi tersebut, serta merasa mulia dengan kedudukan di sisinya, demikian pula dengan manusia. Ketika dengan keimanan ia menisbatkan diri kepada Dzat Mahakuasa yang _qudrah_-Nya tak terhingga, serta kepada Penguasa Mahakasih yang memiliki rahmat yang luas, lalu ia mengabdi dengan _ubûdiyah_, maka ajal dan kematian berganti dari sebuah kemusnahan abadi menjadi tiket menuju alam abadi.

Kalian dapat mengukur betapa manusia sangat menikmati _ubûdiyah_-nya kepada Tuhan, merasa senang dengan iman yang terdapat dalam kalbunya, bahagia dengan cahaya Islam, serta bangga dengan Tuhannya yang Mahakuasa dan Penyayang seraya bersyukur atas nikmat iman dan Islam. Sebagaimana hal itu kunyatakan kepada saudaraku para siswa tersebut, kunyatakan pula kepada para tahanan bahwa: “Siapa yang mengenal dan menaati Allah, akan bahagia meskipun hidup di dalam penjara. Namun, siapa yang melalaikan dan melupakan-Nya, akan sengsara meskipun hidup di dalam istana.”

Seorang yang terzalimi pada suatu hari, saat berada di podium kematian, berteriak di hadapan kaum yang zalim dengan sangat bahagia: “Aku tidak akan berakhir pada kefanaan dan kemusnahan abadi. Namun, aku akan terbebas dari penjara dunia menuju kebahagiaan abadi. Akan tetapi, aku melihat kalian akan dihukum dengan kematian abadi lantaran menganggap kematian itu sebagai suatu kefanaan dan ketiadaan. Dengan demikian, dendamku telah terbalaskan.” Ia pun menyerahkan nyawanya dengan tenang seraya mengucap _lâ ilâha illallâh.”_
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻟﺎ ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨﺂ ﺍِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَﺎ ﺍﻧّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟﻌَﻠﻴﻢُ ﺍﻟﺤَﻜﻴﻢ

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 80-81
*Bukti Keberadaan Alam Akhirat*

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠّٰﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪ ﺣﻴﻦَ ﺗُﻤْﺴُﻮﻥَ ﻭَﺣﻴﻦَ ﺗُﺼْﺒِﺤُﻮﻥَ٭ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻓﻰِ ﺍﻟﺴَّﻤﻮﺍﺕِ ﻭَﺍْﻟﺎﺭْﺽِ ﻭَﻋَﺸِﻴًّﺎ ﻭَﺣﻴﻦَ ﺗُﻈْﻬِﺮُﻭﻥَ٭ ﻳُﺨﺮِﺝُ ﺍﻟﺤَﻰَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﻳُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﻤَﻴَّﺖَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻰِّ ﻭَﻳُﺤْﻴﻰِ ﺍﻟﺎﺭْﺽَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﻭَﻛَﺬﻟِﻚَ ﺗُﺨْﺮﺟﻮﻥَ ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﺍَﻥْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺗُﺮَﺍﺏٍ ﺛُﻢَّ ﺍِﺫَﺁ ﺍَﻧْﺘُﻢْ ﺑَﺸَﺮٌ ﺗَﻨْﺘَﺸِﺮُﻭﻥَ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪ ﺍَﻥْ ﺧَﻠَﻖَ ﻟَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺍَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﺍَﺯْﻭَﺍﺟًﺎ ﻟِﺘَﺴْﻜُﻨُﻮﺍ ﺍِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢْ ﻣَﻮَﺩَّﺓً ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔً ﺍِﻥَّ ﻓﻲ ﺫﻟِﻚَ ﻟﺎﻳﺎﺕٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮﻭﻥَ ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﺧَﻠْﻖُ ﺍﻟﺴَّﻤﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟﺎَﺭْﺽِ ﻭَﺍْﺧْﺘِﻠﺎﻑُ ﺍَﻟْﺴِﻨَﺘِﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟْﻮَﺍﻧِﻜُﻢْ ﺍِﻥَّ ﻓﻰ ﺫﻟِﻚَ ﻟﺎﻳَﺎﺕٍ ﻟِﻠْﻌَﺎﻟِﻤﻴﻦَ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻣَﻨَﺎﻣُﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟّﻴْﻞِ ﻭﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻭَﺍْﺑﺘﻐَﺂﺅُﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﻓـَﻀْﻠِﻪِ ﺍِﻥَّ ﻓﻰ ﺫﻟِﻚَ ﻟﺎَﻳَﺎﺕٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﺴْﻤَﻌُﻮﻥَ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪ ﻳُﺮﻳﻜُﻢُ ﺍْﻟﺒَﺮْﻕَ ﺧَﻮْﻓًﺎ ﻭَﻃَﻤَﻌًَﺎ ﻭَﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤﺂﺀِ ﻣَﺂﺀً ﻓَﻴُﺤْﻴﻰ ﺑِﻪِ ﺍْﻟﺎَﺭْﺽَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﻓﻰ ﺫﻟِﻚَ ﻟﺎﻳَﺎﺕٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ٭ ﻭَﻣﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﺍَﻥْ ﺗَﻘُﻮﻡَ ﺍﻟﺴَّﻤﺂﺀُ ﻭَﺍْﻟﺎَﺭﺽُ ﺑِﺎَﻣْـﺮِﻩ ﺛـُﻢَّ ﺍِﺫَﺍ ﺩَﻋـَﺎﻛـُﻢْ ﺩَﻋْـﻮَﺓً ﻣِﻦَ ﺍﻟﺎَﺭْﺽِ ﺍِﺫﺍ ﺍَﻧْﺘُـﻢْ ﺗَﺨﺮُﺟُﻮﻥَ٭ ﻭَﻟَﻪُ ﻣَﻦْ ﻓﻰِ ﺍﻟﺴَّﻤﻮﺍﺕِ ﻭَﺍْﻟﺎﺭْﺽِ ﻛُﻞٌّ ﻟَﻪُ ﻗَﺎﻧِﺘُﻮﻥَ٭ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬﻯ ﻳَﺒْﺪَﺅُﺍ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖَ ﺛُﻢَّ ﻳُﻌﻴﺪُﻩُ ﻭَﻫُﻮَ ﺍَﻫْﻮَﻥُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤﺜَﻞُ ﺍﻟﺎَﻋْﻠﻰ ﻓﻰِ ﺍﻟﺴَّﻤﻮﺍﺕِ ﻭَﺍﻟﺎﺭْﺽِ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰﻳﺰُ ﺍﻟﺤَﻜِﻴﻢُ.

_“Maka, bertasbihlah kepada Allah di waktu kalian memasuki petang dan subuh. Milik-Nyalah segala puji di langit dan di bumi serta di waktu kalian berada pada petang hari dan di waktu zuhur. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dia menghidupkan bumi sesudah matinya. Seperti itulah kalian akan dikeluarkan (dari kubur). Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan kalian dari tanah, kemudian tiba-tiba kalian (menjadi) manusia yang berkembang-biak. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang._

_Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi serta bahasa dan warna kulit kalian yang berbeda-beda. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidur kalian di waktu malam dan siang hari dan usaha kalian mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang mendengarkan._

_Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepada kalian kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang menggunakan akalnya. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kalian sekali panggil dari bumi, seketika itu kalian keluar (dari kubur). Kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semua hanya tunduk kepada-Nya._

_Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian menghidupkannya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Bagi-Nyalah sifat Yang Maha Tinggi di langit dan di bumi. Dialah yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana.”_

(QS. ar-Rûm[30]: 17-27).
*Kehidupan Setelah Kematian Itu Pasti Adanya*

Dalam “Sinar Kesembilan” ini kami akan menjelaskan satu dalil yang sangat kuat dan argumen yang tak terbantahkan tentang poros iman yang dijelaskan oleh ayat-ayat al-Qur’an. Yaitu masalah kebangkitan. Allah telah memberikan pertolongan _rabbâni_ kepada “Said lama” di mana tiga puluh tahun yang lalu pada akhir tulisannya, _Muhâkamât_, yang ditulis sebagai pendahuluan dari tafsir _Isyârât al-I’jâz fî Mazhân al-Îjâz_ beliau menulis sebagai berikut:

Tujuan Kedua: Akan menjelaskan dua ayat yang menerangkan tentang hari kebangkitan. Namun beliau memulai dengan kalimat, “Dengan demikian, _bismillâhirrahmânirrahîm_.” Lalu berhenti, dan beliau tidak lagi memiliki kesempatan untuk menulis. Maka, beribu-ribu dan sebanyak bukti-bukti kebangkitan kuucapkan syukur kepada Sang Pencipta Yang Maha Pemurah atas limpahan taufik-Nya untuk menjelaskan tafsiran tersebut tiga puluh tahun kemudian. Allah mengaruniakan kepadaku penafsiran ayat pertama, yaitu:

ﻓَﺎﻧْﻈُﺮ ﺍِﻟﻰ ﺁﺛَﺎﺭِ ﺭَﺣْﻤَـﺖِ ﺍﻟﻠّٰﻪ ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺤْﻴﻰِ ﺍﻟﺎَﺭْﺽَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﺫَﻟِﻚَ ﻟَﻤُﺤﻴﻰِ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪﻳﺮٌ (ﺍﻟﺮﻭﻡ: ٠٥).
_“Perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”_ (QS. ar-Rûm [30]: 50). Hal itu terjadi sekitar sepuluh tahun kemudian. Penafsiran tersebut kemudian menjadi “Kalimat Kesepuluh” dan
“Kalimat Kedua Puluh Sembilan”. Keduanya merupakan bukti kuat yang membungkam para pengingkar.

Sekitar sepuluh tahun sesudah penjelasan tentang benteng kebangkitan yang demikian kukuh, Allah SWT menganugerahiku penjelasan tentang ayat-ayat yang disebutkan sebelumnya. Ia kemudian menjadi risalah yang kita bahas sekarang ini. “Sinar Kesembilan” ini merupakan penjelasan tentang sembilan kedudukan mulia yang ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur’an disertai sebuah pendahuluan yang penting.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 86-87
*Urgensi Keyakinan Terhadap Kebangkitan Bagi Kehidupan Sosial*

*Pendahuluan*

Pendahuluan ini berisi dua poin. Pertama-tama kami akan menjelaskan secara singkat satu rangkuman universal di antara sekian banyak rangkuman kehidupan dan manfaat spiritual dari akidah kebangkitan seraya menerangkan sejauh mana urgensi keyakinan ini bagi kehidupan manusia, terutama kehidupan sosial.

Kami juga akan mengemukakan sebuah argumen yang bersifat komprehensif di antara sekian banyak argumen tentang keimanan pada kebangkitan seraya menerangkan tingkat kejelasannya di mana ia sama sekali tidak dicampuri oleh keraguan.

*Poin Pertama*: Sebagai contoh dan analogi, kami akan menunjukkan empat dalil dari ratusan dalil yang membuktikan bahwa keyakinan tentang akhirat merupakan pilar utama kehidupan sosial dan individu manusia sekaligus sebagai pilar seluruh kesempurnaan dan kebahagiaannya.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 87-88
*Keimanan Kepada Hari Akhir Merupakan Pelipur Lara bagi Anak-Anak*

*Dalil Pertama*: Anak-anak yang mewakili setengah umat manusia tidak akan mampu menerima kenyataan yang tampak menyakitkan saat terjadi kematian, kecuali dengan kekuatan moral yang lahir dari adanya “iman kepada surga”, yang terdapat dalam diri mereka yang lemah. Keimanan itulah yang membuka pintu harapan bersinar bagi tabiat mereka yang halus dan demikian rapuh, serta menangis karena sebab yang paling sepele sekalipun.

Maka, dengan keimanan tersebut mereka dapat hidup dengan nyaman, senang, dan gembira. Maka, si anak mukmin itu pun mengajak dirinya berbicara tentang surga. Ia berkata, “Adikku atau temanku tercinta yang telah meninggal, sekarang telah menjadi salah seekor burung di surga. Ia terbang di surga ke mana saja ia suka dan hidup dalam kondisi yang paling menyenangkan.”

Andai iman kepada surga tidak ada, tentu kematian yang menimpa anak-anak semisalnya atau orang dewasa sekalipun akan menghancurkan kekuatan moral orang-orang yang tidak memiliki daya dan kekuatan tersebut, serta akan merusak jiwa mereka, dan meremukkan kehidupan mereka sehingga ketika itu seluruh jasad, roh, kalbu, akal mereka ikut menangis bersama dengan tangisan mata.

Kemungkinannya ada dua: kepekaan mereka mati dan perasaan mereka mengeras. Atau, mereka menjadi seperti hewan yang tersesat dan malang.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 88-89
*Keimanan Kepada Hari Akhir Merupakan Pelipur Lara bagi Anak-Anak*

*Dalil Pertama*: Anak-anak yang mewakili setengah umat manusia tidak akan mampu menerima kenyataan yang tampak menyakitkan saat terjadi kematian, kecuali dengan kekuatan moral yang lahir dari adanya “iman kepada surga”, yang terdapat dalam diri mereka yang lemah. Keimanan itulah yang membuka pintu harapan bersinar bagi tabiat mereka yang halus dan demikian rapuh, serta menangis karena sebab yang paling sepele sekalipun.

Maka, dengan keimanan tersebut mereka dapat hidup dengan nyaman, senang, dan gembira. Maka, si anak mukmin itu pun mengajak dirinya berbicara tentang surga. Ia berkata, “Adikku atau temanku tercinta yang telah meninggal, sekarang telah menjadi salah seekor burung di surga. Ia terbang di surga ke mana saja ia suka dan hidup dalam kondisi yang paling menyenangkan.”

Andai iman kepada surga tidak ada, tentu kematian yang menimpa anak-anak semisalnya atau orang dewasa sekalipun akan menghancurkan kekuatan moral orang-orang yang tidak memiliki daya dan kekuatan tersebut, serta akan merusak jiwa mereka, dan meremukkan kehidupan mereka sehingga ketika itu seluruh jasad, roh, kalbu, akal mereka ikut menangis bersama dengan tangisan mata.

Kemungkinannya ada dua: kepekaan mereka mati dan perasaan mereka mengeras. Atau, mereka menjadi seperti hewan yang tersesat dan malang.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 88-89
*Kebar Gembira Bagi Kaum Yang Beriman Dan Ancaman Bagi Mereka Yang Ingkar*

Al-Qur’an berikut ayat-ayatnya yang pasti; seluruh nabi—sebagai pemilik jiwa bercahaya—terutama Rasulullah SAW; para wali sebagai poros pemilik kalbu yang bersinar, dan seluruh kaum _shiddîqîn_ yang merupakan sumber akal yang tajam dan cemerlang, seluruhnya meyakini adanya kebangkitan dengan keimanan yang mantap sekaligus menjadi saksi atasnya dan memberikan kabar gembira kepada umat manusia akan adanya kebahagiaan abadi.

Di sisi lain, mereka juga mengancam kaum yang sesat bahwa akhir perjalanan mereka adalah neraka, serta memberikan kabar gembira kepada kalangan yang mendapat petunjuk bahwa kesudahan mereka berupa surga. Dalam hal ini, mereka bersandar kepada ratusan mukjizat yang terang dan tanda-tanda kekuasaan yang demikian jelas, serta kepada janji dan ancaman yang Kau sebutkan berulang kali dalam suhuf samawi dan kitab suci.

Dalam hal ini, mereka juga berpegang pada mulianya keagungan-Mu, kekuasaan rububiyah-Mu, kondisi-Mu yang agung, serta sifat-sifat-Mu yang suci seperti kuasa, kasih sayang, perhatian, hikmah, keagungan, dan keindahan. Ia juga dibangun di atas kesaksian dan penyingkapan mereka yang tak terhingga yang menginformasikan jejak-jejak akhirat. Serta dibangun di atas iman dan keyakinan yang kukuh yang setara dengan _ilmul yaqîn_ dan _ainul yaqîn_.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 96-96
*Kemuliaan Allah SWT Dan Seluruh Nama-nama-Nya Menuntut Keberadaan Hari Kebangkitan*

Wahai Yang Mahakuasa, Yang Mahabijaksana, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, Yang Maha menepati janji, Wahai pemilik keperkasaan dan keagungan, Wahai Yang Maha Memaksa Yang Mahaagung, Engkau suci dan mulia. Engkau tidak mungkin melekatkan sifat dusta kepada seluruh wali-Mu, seluruh janji-Mu, semua sifat-Mu, serta seluruh atribut-Mu yang suci sehingga Kau ingkari.

Engkau tidak mungkin menghijab sesuatu yang menjadi konsekuensi kekuasaan rububiyah-Mu dengan tidak mengabulkan doadoa hamba-Mu yang saleh yang Kau cintai, di mana mereka pun mencintai-Mu serta membuat diri mereka Kau cintai lewat iman, pembenaran, dan ketaatan. Engkau juga sangat tidak mungkin membenarkan kaum sesat dan kafir terkait dengan sikap mereka yang mengingkari kebangkitan. Mereka adalah orang-orang yang mengabaikan keagungan dan kebesaran-Mu dengan bersikap kufur, membangkang, dan ingkar kepada-Mu dan kepada janji-Mu.

Mereka meremehkan kemuliaan keagungan-Mu, kebesaran uluhiyah-Mu, serta kasih sayang rububiyah-Mu. Kami benar-benar memuliakan keadilan dan keindahan-Mu yang bersifat mutlak serta rahmat-Mu yang luas yang sama sekali bersih dari sifat zalim dan buruk. Dengan seluruh kekuatan yang diberikan, kami yakin dan percaya bahwa ribuan rasul dan nabi yang mulia serta para wali yang menyeru kepada-Mu, mereka semua dengan _haqqul yaqîn_, _ainul yaqîn_, dan _ilmul yaqîn_ menjadi saksi atas perbendaharaan rahmat ukhrawi-Mu dan kebaikan-Mu di alam baka serta atas manifestasi Asmaul Husna yang tersingkap secara komprehensif di negeri kebahagiaan.

Kami beriman bahwa kesaksian tersebut benar dan nyata. Kabar gembira mereka tepat dan tidak dusta. Mereka semua meyakini bahwa hakikat besar ini (kebangkitan) merupakan kilau besar dari nama _al-Haq_ yang merupakan sandaran dan mentari seluruh hakikat. Dengan izin-Mu, mereka membimbing manusia dalam wilayah kebenaran sekaligus mengajari mereka dengan inti hakikat. Wahai Tuhan, dengan kebenaran pelajaran yang mereka berikan serta dengan kemuliaan petunjuk mereka, berikan kami iman yang sempurna dan karuniakan kami _husnul khatimah_. Berikan hal itu kepada kami dan kepada seluruh murid Nur. Jadikan kami sebagai orang-orang yang layak mendapatkan syafa’at mereka. Amin.”

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 97-98
*Keberadaaan Allah SWT Menghendaki Adanya Negeri Akhirat*

Demikianlah, dalil dan argumen yang menetapkan kebenaran al-Qur’an, bahkan seluruh kitab samawi, serta berbagai mukjizat dan petunjuk yang membuktikan kenabian Sang kekasih Allah, bahkan seluruh nabi, semua itu menunjukkan hal terpenting yang mereka serukan. Yaitu realitas akhi­rat. Di samping itu, sebagian besar dalil dan argumen yang menjadi saksi akan eksistensi _wajibul wujud_ dan keesaan-Nya, juga menjadi saksi atas keberadaan negeri kebahagiaan dan alam baka di mana ia merupakan orbit rububiyah dan uluhiyah serta manifestasi terbesar darinya.

Ia menjadi saksi atas eksistensi negeri akhirat dan keterbukaan pintu-pintunya sebagaimana akan diterangkan nanti. Pasalnya, eksistensi Allah SAW, sifat-sifat-Nya yang mulia, sebagian besar nama-Nya, berbagai gelar-Nya yang penuh hikmah, serta sifat-sifat-Nya yang suci seperti rububiyah, uluhiyah, rahmat, perhatian, hikmah, dan keadilan menuntut dan mengharuskan keberadaan akhirat. Bahkan ia mengharuskan keberadaan alam baka sampai pada tingkatan wajib. Ia menuntut adanya pengumpulan makhluk dan kebangkitan mereka untuk mendapat ganjaran dan hukuman.

Ya, (1) selama Allah ada, di mana Dia Maha Esa, azali dan abadi, sudah barang tentu poros kekuasaan uluhiyah-Nya yang berupa akhirat juga ada. Selama rububiyah-Nya yang bersifat mutlak termanifestasi di alam ini, terutama pada makhluk hidup di mana ia berhias keagungan, kebesaran, hikmah, dan kasih sayang yang sangat jelas, sudah pasti terdapat kebahagiaan abadi yang membantah adanya prasangka bahwa Tuhan membiarkan makhluk begitu saja tanpa diberi ganjaran. Ia juga membersihkan hikmah Tuhan dari segala kesia-siaan. Dengan kata lain, negeri akhirat sudah pasti ada dan pasti akan dimasuki.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 98-99
*Hari Kebangkitan Itu Pasti Terjadi Sebagaimana Dijanjikan Allah SWT*

Selama beragam karunia, anugerah, kemurahan, perhatian, dan kasih Tuhan tampak dan terlihat di hadapan akal yang tidak padam serta di hadapan kalbu yang tidak mati, di mana ia menunjukkan eksistensi Sang _wajibul wujud_, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, dari balik hijab, maka sudah pasti terdapat kehidupan yang kekal abadi agar karunia tadi tidak diremehkan, anugerah-Nya tidak dimanipulasi, perhatian-Nya tidak sia-sia, rahmat-Nya tidak menjadi bencana, serta kemurahan-Nya tidak dinistakan sehingga terus tercurah pada hamba.

Ya, yang membuat anugerah benar-benar menjadi anugerah serta nikmat benar-benar menjadi nikmat adalah keberadaan kehidupan abadi di alam baka. Ya, hal itu harus terwujud.

Selama pena _qudrah_ yang di musim semi dan dalam lembaran yang sempit dan kecil bisa menulis seratus ribu kitab secara berbaur tanpa ada kesalahan dan rasa penat sebagaimana hal itu tampak jelas di hadapan kita, dan Pemilik pena tersebut telah berjanji seratus ribu kali bahwa:

“Aku akan menulis kitab yang lebih mudah daripada kitab musim semi yang tertulis di hadapan kalian. Aku akan menuliskan satu tulisan yang kekal di tempat yang lebih luas, lebih lapang, dan lebih indah daripada tempat yang sempit ini. Ia merupakan kitab yang tidak akan pernah hancur. Aku akan membuat kalian membacanya dengan penuh heran dan takjub.”

Allah menyebutkan kitab tersebut dalam seluruh perintah-Nya. Dengan kata lain, pilar-pilar utama kitab tersebut sudah pasti telah ditulis, sementara catatan kaki dan lampirannya akan ditulis lewat pengumpulan makhluk dan kebangkitan. Di dalamnya akan dicatat berbagai lembaran amal semua makhluk.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 99-100
*Peran Manusia Sebagai Khalifah Dan Hubungannya Dengan Hari Kebangkitan*

Selama bumi demikian penting karena berisi banyak makhluk, serta berisi ratusan ribu spesies makhluk hidup dan roh yang beragam dan bergantian sehingga menjadi jantung, pusat, inti, saripati alam dan sebab penciptaannya di mana ia selalu disandingkan dengan langit dalam semua firman-Nya, sebagaimana dalam ayat:
ﺭَﺏُّ ﺍﻟﺴَّﻤﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟﺎَﺭْﺽِ
_“Tuhan pemelihara langit dan bumi.”_

Selama manusia menguasai berbagai belahan bumi serta berkuasa atas seluruh makhluk dengan menundukkan sebagian besarnya serta menjadikan sebagian besar ciptaan berkumpul di sekitarnya sesuai dengan keinginan dan kebutuhan alamiahnya yang ditata dan dihias di mana berbagai hal menarik darinya diletakkan di setiap tempat agar tidak hanya menarik perhatian jin dan manusia, namun juga perhatian penduduk langit dan seluruh alam, bahkan perhatian Penguasa Alam.

Sehingga ia mendapatkan rasa kagum, penghargaan, dan apresiasi serta dari sisi ini menjadi sangat penting dan bernilai. Lewat karunia ilmu dan kecakapan yang diberikan, ia memperlihatkan bahwa dirinya merupakan tujuan dari hikmah penciptaan alam dan merupakan buah besarnya. Hal itu tidak aneh mengingat ia merupakan khalifah di atas bumi. Karena berbagai kreasi Tuhan yang menakjubkan digelar dan ditata dalam bentuk yang sangat indah di dunia ini, maka siksa untuk para pembangkang dan pengingkar ditunda. Mereka diberi kesempatan menikmati hidup di dunia dan ditangguhkan agar bisa menunaikan tugas dengan sukses.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 100-101
*Keadilan Mutlak Allah SWT Menuntut Adanya Negeri Akhirat*

Selama manusia—yang memiliki esensi istimewa baik secara fisik maupun tabiat serta memiliki kebutuhan tak terhingga di samping kelemahannya yang luar biasa berikut derita tak terhingga di samping ketidakberdayaannya—mempunyai Tuhan Yang Mahakuasa. Dia memiliki _qudrah_ dan kasih sayang bersifat mutlak yang menjadikan bumi luas ini sebagai gudang besar bagi berbagai jenis tambang yang dibutuhkan manusia. Ia juga menjadi tempat penyimpanan berbagai jenis makanan yang penting, serta toko bagi berbagai barang yang diinginkan.

Allah SWT melihat kepadanya dengan tatapan perhatian dan penuh kasih sayang seraya memelihara dan membekalinya dengan apa yang dia kehendaki.

Selama Tuhan mencintai manusia dan membuat diri-Nya dicintai olehnya, Mahakekal dan memiliki sejumlah alam abadi. Dia menjalankan semua urusan sesuai dengan keadilan-Nya serta berbuat segala sesuatu sesuai dengan hikmah-Nya. Besarnya kekuasaan Sang Pencipta azali serta keabadian _hâkimiyah_-Nya tidak hanya terbatas pada dunia yang singkat ini.

Usia manusia yang sangat pendek serta usia bumi yang bersifat sementara dan fana juga tidak memadai bagi keduanya. Pasalnya, ada manusia yang tidak mendapatkan balasan di dunia ini atas tindak kezaliman yang ia lakukan, serta sikap ingkar dan pembangkangan yang ia tampakkan terhadap Tuhannya yang telah memberinya nikmat serta memeliharanya dengan penuh kasih sayang. Hal ini tentu bertentangan dengan sistem alam yang tertata serta dengan keadilan dan keseimbangan sempurna yang terdapat di dalamnya.

Ini juga bertentangan dengan keindahan dan kebaikan-Nya. Sebab, si zalim melewati hidupnya dengan nyaman, sementara pihak yang dizalimi melewatinya dengan penuh derita. Tentu saja esensi keadilan mutlak tersebut yang jejaknya terlihat di alam tidak bisa menerima jika kaum yang zalim itu tidak dibangkitkan bersama orang-orang yang mereka zalimi di mana keduanya sama di hadapan kematian.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 101-102