Perpustakaan UIN IB
1.43K subscribers
83 photos
10 videos
82 files
167 links
Nomor Pokok Perpustakaan : 1371092D0000002
Download Telegram
*Hakikat Kematian*

Maka, yang pertama kali kulihat adalah wajah kematian yang ditakuti semua orang dan dianggap sangat menyeramkan. Lewat cahaya al-Qur’an, aku memahami bahwa wajah kematian yang hakiki, bagi seorang mukmin, ibarat sesuatu yang bersinar terang meskipun tampilan luarnya terlihat gelap dan menakutkan. Hakikat ini telah kami buktikan dan jelaskan secara tegas dalam berbagai risalah, terutama dalam “Kalimat Kedelapan” dan “Surat Kedua Puluh”. Di situ dijelaskan bahwa kematian sebenarnya bukan kemusnahan final dan bukan pula perpisahan abadi. Tetapi, ia merupakan pe­ngantar dan pendahuluan bagi kehidupan yang kekal.

Ia adalah pembebasan dari tugas hidup. Ia merupakan bentuk pergantian tempat serta pertemuan dengan rombongan para kekasih yang telah pergi menuju alam Barzakh. Demikianlah, dengan hakikat tersebut, aku menyaksikan wajah kematian yang indah dan bersinar. Karena itu, aku pun tidak lagi melihatnya dengan perasaan takut dan cemas. Tetapi, dari satu sisi, aku melihatnya dengan perasaan rindu. Di saat tersebut aku memahami salah satu rahasia _râbithatul maut_ (selalu mengingat mati) yang dipraktekkan oleh para penganut tarekat sufi. Setelah itu, aku merenungkan masa muda. Ternyata kepergiannya telah membuat sedih semua orang.

Semua orang suka dan senang kepadanya. Ia berlalu dengan kelalaian dan dosa. Masa mudaku berlalu seperti itu. Di situ aku melihat wajah yang sangat buruk bahkan melenakan dan membingungkan berbungkus busana yang cantik. Seandainya aku tidak mengetahui hakikatnya, pastilah ia membuatku menangis dan sedih sepanjang hidup. Bahkan andaipun aku hidup seratus tahun, hanya beberapa tahun yang berlalu dengan senyuman dan keriangan. Hal itu sebagaimana ungkapan seorang penyair yang menangisi masa mudanya dengan penuh penyesalan:
ﻓَﻴﺎ ﻟَﻴﺖَ ﺍﻟﺸَﺒﺎﺏَ ﻳَﻌﻮﺩُ ﻳَﻮﻣًﺎ ﻓَﺄُﺧﺒِﺮَﻩُ ﺑِﻤﺎ ﻓَﻌﻞَ ﺍﻟﻤَﺸﻴﺐُ‌
_Oh, andai saja suatu saat masa muda kembali lagi, akan kuberitahukan apa yang dilakukan masa tua._

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 66-68
[30/12/2024, 05.15] Pak Hasbi Said Nursi Baru: *Masa Muda Merupakan Nikmat Ilahi Yang Berharga*

Ya, para lansia yang belum memahami rahasia dan esen­si masa muda akan menghabiskan masa tuanya dengan menyesali dan meratapi masa mudanya seperti penyair sebelumnya. Sebenarnya, jika masa muda dilalui oleh seorang mukmin yang tenang dan wibawa serta jika kekuatan masa muda tadi dipakai untuk beribadah, beramal saleh, dan melakukan bisnis ukhrawi, pastilah ia menjadi kekuatan yang paling besar untuk menggapai kebajikan, sarana yang paling utama untuk berbisnis, serta instrumen yang paling indah dan paling nikmat untuk memperoleh berbagai kebaikan.

Masa muda merupakan nikmat Ilahi yang berharga dan menyenangkan bagi mereka yang mengetahui kewajiban agamanya dan tidak menyalahgunakannya. Namun, jika masa muda itu tidak disertai keistiqamahan, tidak disertai sikap menjaga kehormatan dan ketakwaan, maka ia akan mendatangkan banyak bahaya. Sebab, kelalaian dan hawa nafsunya akan menghancurkan kebahagiaan abadi dan kehidupan akhirat pemiliknya. Bahkan, barangkali juga menghantam kehidupan dunianya. Dengan begitu, ia akan mengenyam berbagai penderitaan di usia rentanya.

Karena berbagai kenikmatan yang ia rasakan selang beberapa tahun lamanya Selama masa muda bagi sebagian besar orang tidak terlepas dari bahaya, maka kita sebagai orang tua harus banyak bersyukur kepada Allah SWT, karena Dia telah menyelamatkan kita dari kebinasaan dan bahaya masa muda. Segala kesenangan di masa muda pasti akan lenyap, sebagaimana lenyapnya segala sesuatu. Jika seandainya masa muda tersebut dipergunakan untuk beribadah dan mengerjakan berbagai amal kebaikan, maka yang akan didapat adalah ganjaran pahala yang bersifat abadi. Ia akan menjadi sarana untuk mendapatkan masa muda yang kekal di kehidupan akhirat nanti.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 68-69
[30/12/2024, 20.08] Pak Hasbi Said Nursi Baru: *KISAH NYATA DARI TURKI MENGENAI PERAYAAN MALAM TAHUN BARU*

Silakan baca sampai selasai. Sangat inspiratif. Semoga menjadi ibroh bagi kaum muslimin yang merayakan tahun baru.

kisah nyata ini ditulis oleh al-marhumah Aisyah Gonen dan diterbitkan di Majalah Cinar pada tahun 1998. Kisah ini menjelaskan kondisi perayaaan malam tahun baru.

"*SERSAN MALAM TAHUN BARU*"

Kami memiliki kehidupan yang bahagia di sebuah kecamatan dimana masa kanak-kanak saya habiskan di sana. Ketika itu Turki mengalami perang dunia, namun kami berhasil mengusir musuh dari tanah air, sehingga bisa mempertahankan kemerdekaannya.

Sudah 15 tahun perang dunia pertama berlalu. Perang menyebabkan kami menjadi miskin, tapi membuat kami tetap bangga. Mungkin anda tidak percaya, namun orang yang kehilangan orang tua atau suaminya sebagai mati syahid pun memiliki rasa gembira dalam kesedihannya. Ada juga banyak veteran di kecamatan kami. Ada yang kehilangan kaki ataupun tangan. Bahkan ada veteran yang kehilangan kaki dan tangannya sekaligus. Meskipun kondisinya demikian, mereka bangga karena bisa mengusir musuh dari tanah air Turki.

Para veteran atau keluarga orang yang mati syahid tidak meminta-meminta kepada orang lain, padahal mereka sangat miskin. Masyarakat mengetahui kondisi tersebut, sehingga sering kali mereka bantu kepada keluarga veteran dan mati syahid secara diam-diam tanpa pamer. Masyarakat juga memanggil mereka dengan gelar pahlawan. Di antara mereka ada yang dipanggil dengan "Sersan Malam Tahun Baru ".

Di lingkungan kami, Keluarga kami adalah keluarga yang terdidik dan terhormat. Ayah dan pamanku guru, sementara kakekku seorang pegawai negeri. Di kecamatan kami hanya ada sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Untuk melanjutkan SMA harus pergi ke provinsi. Saya memiliki 5 saudara. 4 di antaranya sekolah di SD dan SMP di kecamatan. Saya mempunyai seorang sepupu bernama Rusuhi. Ia telah tamat SMA dan meneruskan kuliahnya di Perancis.
Kami selalu menunggu kepulangan kakak Rusuhi dari Perancis ketika waktu libur tiba. Ia menceritakan keindahan, kehebatan Perancis. Bagi kami ceritanya seperti dongeng dan Perancis jadi negeri impian.
Pada suatu hari menjelang tahun baru, sepupuku bertanya kepada ayahnya "ayahku, Apa kegiatan kita untuk malam tahun baru?". Ayahnya menjawab " tidak ada kegiatan, kami disini tidak merayakan tahun baru". Kakak Rusuhi berkata " tak apa-apa ayah, kita buat hiburan aja agar anak-anak senang. Di Perancis masyarakat merayakan tahun baru dengan berbagai hiburan". Karena masih kecil, kami tak tahu apa-apa, tapi kami senang hiburan. Akhirnya pamanku setuju dengan perayaan tahun baru.

Mulailah persiapan acara malam tahun baru. Ibuku dan istri paman-pamanku mulai masak beragam kue, semua baju baru disiapkan. Rasanya seperti idul fitri. Sepupuku berpesan kepada ibunya untuk masak "ayam kalkun". Padahal ketika itu sangat susah mencari ayam kalkun di kecamatan. Setelah bertanya-tanya kepada tetangga, akhirnya dapat juga. Tetangga juga heran dengan persiapan ini.

31 Desember pun tiba. Kami memakai baju baru pada sore hari. Semua makanan sudah disiapkan. Kami keluar dari rumah dan anak-anak mengelilingi kami. Banyak ibu-ibu juga menyaksikan kami. Malam hari kami kumpul dengan keluarga di rumah sambil menyantap berbagai makanan dan minuman dengan diselingi canda tawa. Ibunya Rusuhi berkata bahwa makanan yang disiapkan cukup untuk banyak orang, tapi kita makan sendiri. Rusuhi pun berkata “tidak perlu memikirkan hal itu, yang penting kita bersenang-senang.” Ia juga berkata bahwa hiburan ini tak seberapa. Pada malam tahun baru di Perancis, banyak orang minum minuman keras dan bermabuk-mabukan sampai pagi.

Ketika si Rusuhi ingin minum sirup sambil berdiri, tiba-tiba pintu rumah diketuk dengan sangat keras. Ternyata yang datang adalah "Sersan Malam Tahun Baru".
Ia masuk ke dalam rumah dalam keadaan setengah tubuhnya tak ada. Maksudnya kaki, tangan dan mata kananya tidak ada. Ia kehilangan setengah tubuhnya ketika perang. Dengan nada marah. Ia berkata kepada paman saya. Saya belum pernah melihat ia marah seperti itu sebelumnya.

Sersan: Pak guru, engkau bukanlah guru, tapi penghianat bangsa. Bukankah engkau ajarkan bahwa masyarakat Turki menang dalam perang bukan karena senjata, melainkan iman? Lebih baik nyawa saya dicabut daripada melihat kalian merayakan acara orang Barat. Isak tangis pun mewarnainya.

Guru: kami tidak berbuat apa-apa. Hanya hiburan sesuai dengan permintaan Rusuhi.

Sersan: "Kenapa Rusuhi tidak membawa ilmu dan teknologi dari Perancis melainkan membawa budayanya?
Apakah kamu tahu kenapa nama saya menjadi 'sersan malam tahun baru'?
Saya pernah menjadi tentara selama 5 tahun. Saya korbankan keluarga bahkan nyawa saya untuk membela negara. Saya pernah menjadi tawanan pasukan Perancis. Saya dipaksa menjadi pelayan para tentara berpangkat tinggi dalam acara perayaan malam tahun baru. Ketika itu saya disuruh pakai baju orang Eropa dan mengantarkan makanan di meja para tentara tersebut.

Setelah itu seorang letnan Perancis menyuruh saya buka pintu kamar di depan dan membawa sesuatu dari kamar itu kepada masing-masing letnan yang ada. Ia menggunakan bahasa Turki yang terpatah-terpatah. Ketika saya buka pintu, saya sangat terkejut. Karena ada perempuan-perempuan Turki dalam keadaan telanjang. Mereka berusaha menutupi aurat mereka dengan tangan mereka sambil memohon “jangan sentuh kami.” Ketika itu saya tak berpikir panjang dengan kembali dan menyerang letnan itu. Saya dapatkan geranat yang ada di letnan itu kemudian saya ledakkannya. Akibatnya 5 letnan mati dari 6 letnan dan para perempuan itu selamat. Saya pun kehilangan setengah tubuh saya. Saya dibiarkan di tempat itu karena mereka menduga saya telah mati. Tapi Allah menyelamatkan saya melalui salah seorang perempuan Turki yang ada disana. Sekarang kalian merayakan malam tahun baru yang merupakan budaya orang Barat!!!"

Kami yang ada disana diam seribu bahasa. Itulah pertama dan terakhir kalinya saya merayakan malam tahun baru. Tapi sayang sekali perayaan malam tahun baru menjadi kebiasaan sebagian masyarakat Turki.
.
(Diringkas dan dialihbahasakan dari cerita aslinya (bahasa Turki) oleh Hasbi Sen)
[31/12/2024, 05.16] Pak Hasbi Said Nursi Baru: *Tiga Makna Dunia*

Lalu, aku melihat dunia yang digandrungi sebagian besar manusia serta memperdaya mereka. Aku menyaksikan dengan cahaya al-Qur’an bahwa ada tiga dunia yang saling bertumpuk:
1. Dunia yang mengarah kepada Asmaul Husna. Yakni, dunia sebagai cermin yang menampakkan manifestasi Asmaul Husna.
2. Dunia yang mengarah kepada akhirat. Yakni, dunia yang merupakan ladang akhirat.
3. Dunia yang mengarah kepada ahli dunia. Yakni, du­nia yang merupakan tempat permainan dan senda gurau orang-orang yang lalai.

Selain itu, aku juga melihat bahwa setiap orang di dunia ini memiliki dunianya sendiri yang besar. Seolah-olah ada banyak dunia yang saling bertumpuk dengan jumlah sebanyak umat manusia. Hanya saja, dunia setiap orang tegak di atas kehidupannya sendiri. Ketika fisik seseorang jatuh binasa, maka dunianya menjadi runtuh, dan kiamatnya pun terjadi. Karena kaum yang lalai tidak memahami keruntuhan dunia mereka yang sangat cepat, akhirnya mereka tertipu dengannya. Dunia mereka itu disangka seperti dunia yang tetap tegak dan ada di sekitar mereka.

Aku pun berpikir seraya berkata, “Aku juga tentu memiliki duniaku sendiri yang pasti akan runtuh dengan cepat seperti yang lain. Kalau begitu, apa gunanya duniaku itu dalam umur yang sangat singkat ini?” Dengan cahaya al-Qur’an, aku menyaksikan bahwa bagiku dan bagi yang lain, dunia hanyalah tempat bisnis yang bersifat sementara dan tempat jamuan yang disinggahi setiap hari, kemudian ditinggalkan. Ia adalah pasar yang berada di sebuah jalan untuk tempat bisnis orang-orang yang datang dan pergi. Ia merupakan kitab yang senantiasa terbaharui milik Tuhan Sang Pemahat Azali. Dia mengubahnya sesuai dengan hikmah-Nya. Setiap musim semi di dalamanya laksana surat yang ditulis dengan tinta emas. Setiap musim panas di dalamnya merupakan untaian kasidah yang sangat indah.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 69-70

Pak Hasbi Said Nursi Baru: https://youtu.be/DlsX99R8QYI
*Tiga Makna Dunia*

Lalu, aku melihat dunia yang digandrungi sebagian besar manusia serta memperdaya mereka. Aku menyaksikan dengan cahaya al-Qur’an bahwa ada tiga dunia yang saling bertumpuk:
1. Dunia yang mengarah kepada Asmaul Husna. Yakni, dunia sebagai cermin yang menampakkan manifestasi Asmaul Husna.
2. Dunia yang mengarah kepada akhirat. Yakni, dunia yang merupakan ladang akhirat.
3. Dunia yang mengarah kepada ahli dunia. Yakni, du­nia yang merupakan tempat permainan dan senda gurau orang-orang yang lalai.

Selain itu, aku juga melihat bahwa setiap orang di dunia ini memiliki dunianya sendiri yang besar. Seolah-olah ada banyak dunia yang saling bertumpuk dengan jumlah sebanyak umat manusia. Hanya saja, dunia setiap orang tegak di atas kehidupannya sendiri. Ketika fisik seseorang jatuh binasa, maka dunianya menjadi runtuh, dan kiamatnya pun terjadi. Karena kaum yang lalai tidak memahami keruntuhan dunia mereka yang sangat cepat, akhirnya mereka tertipu dengannya. Dunia mereka itu disangka seperti dunia yang tetap tegak dan ada di sekitar mereka.

Aku pun berpikir seraya berkata, “Aku juga tentu memiliki duniaku sendiri yang pasti akan runtuh dengan cepat seperti yang lain. Kalau begitu, apa gunanya duniaku itu dalam umur yang sangat singkat ini?” Dengan cahaya al-Qur’an, aku menyaksikan bahwa bagiku dan bagi yang lain, dunia hanyalah tempat bisnis yang bersifat sementara dan tempat jamuan yang disinggahi setiap hari, kemudian ditinggalkan. Ia adalah pasar yang berada di sebuah jalan untuk tempat bisnis orang-orang yang datang dan pergi. Ia merupakan kitab yang senantiasa terbaharui milik Tuhan Sang Pemahat Azali. Dia mengubahnya sesuai dengan hikmah-Nya. Setiap musim semi di dalamanya laksana surat yang ditulis dengan tinta emas. Setiap musim panas di dalamnya merupakan untaian kasidah yang sangat indah.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 69-70

Pak Hasbi Said Nursi Baru: https://youtu.be/DlsX99R8QYI
*Bagaimana "Ilmu Hikmah" Memperkenalkan Pencipta Alam Semesta*

Contoh keenam: misalkan terdapat sebuah kitab yang pada setiap barisnya dituliskan sebuah buku dengan tulisan yang unik. Lalu, pada setiap katanya terdapat surah al-Qur’an. Seluruh persoalan yang dibahas di dalamnya sarat dengan makna yang mendalam. Semuanya saling mendukung. Kitab menakjubkan tersebut tentu menjelaskan kecakapan penulisnya yang luar biasa. Dengan kata lain, kitab semacam itu memperkenalkan penulis dan penyusunnya dengan cara yang sangat terang seterang mentari dan menjelaskan kesempurnaan kapasitasnya.

Ia melahirkan rasa kagum dan hormat di hati para pembacanya sehingga mereka terus-menerus memberikan pujian dengan berkata, _“tabârakallâh, subhânallâh, mâ syâ Allâh.”_ Demikian pula dengan kitab alam yang besar ini di mana pada satu lembaran darinya yang berupa permukaan bumi serta dalam satu bagiannya yang berupa musim semi, ditulis sekitar 300 ribu jenis buku yang beragam. Yaitu, kelompok hewan dan tumbuhan. Masing-masing laksana sebuah buku. Masing-masing ditulis secara bersamaan dan berbaur tanpa ada yang salah, keliru, dan terlupa.

Ia ditulis dengan sangat rapi dan sempurna. Bahkan, pada setiap katanya laksana pohon dituliskan sebuah untaian syair yang menakjubkan. Lalu, pada setiap titiknya laksana benih, dituliskan sebuah indeks buku secara sempurna. Sebagaimana hal itu dapat disaksikan dengan jelas di hadapan kita sekaligus memperlihatkan bahwa di baliknya terdapat pena mengalir yang menuliskannya. Kalian dapat mengukur betapa kitab alam yang besar ini, di mana pada setiap katanya terdapat begitu banyak makna dan hikmah yang beragam, serta kalian dapat mengetahui betapa al-Qur’an terbesar yang berwujud konkret berupa alam ini (ayat-ayat kawniyah), menunjukkan Sang Pencipta dan Penulisnya.

Demikianlah jika dianalogikan dengan kitab yang disebutkan dalam contoh di atas. Ini sesuai dengan ilmu hikmah yang kalian pelajari, atau seni baca dan tulis, dengan perbandingan yang lebih besar dan pandangan yang luas terhadap jagat raya. Bahkan, kalian dapat memahami bagaimana ia memperkenalkan Sang Pencipta Yang Mahaagung lewat _Allâhu Akbar_, bagaimana ia mengajari cara penyucian lewat _subhanallâh_, serta bagaimana membuat kita mencintai Allah dengan pujian _alhamdulillâh_.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 77-78
*Iman Merupakan Titik Sandaran yang Kuat Bagi Manusia*

Demikianlah, setiap ilmu dari sekian banyak ilmu yang ada menunjukkan keberadaan Sang Pencipta alam, serta memperkenalkan-Nya kepada kita lewat nama-nama-Nya yang mulia, lalu dengan nama-nama tersebut kita dapat mengetahui sifat-sifat dan kesempurnaan-Nya. Hal itu dengan berbagai analogi dan ukuran yang luas, cermin yang khusus, mata yang tajam, dan pandangan yang disertai pengambilan pelajaran. Kukatakan kepada para siswa yang masih muda itu bahwa hikmah mengapa al-Qur’an mengulang-ulang ungkapan ayat berikut:

ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍْﻟﺄَﺭْﺽَ
_“(Dzat yang) menciptakan langit dan bumi”_
ﺭﺏّ ﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺕ ﻭﺍﻟﺄﺭﺽ
_“Tuhan Pemelihara langit dan bumi”._ Keduanya adalah untuk menunjukkan kepada hakikat tersebut, untuk menetapkan argumen tauhid yang demikian cemerlang, serta untuk memperkenalkan Sang Pencipta Yang Mahaagung kepada kita. Akhirnya mereka menjawab, “Puji dan syukur yang tak terhingga kami ucapkan kepada Tuhan Sang Pencipta atas pelajaran ini, yang merupakan hakikat mulia. Semoga Allah memberikan balasan terbaik dan ridha-Nya kepadamu.”

Kujawab, “Manusia merupakan mesin hidup yang merasakan ribuan penderitaan dan menikmati ribuan jenis kesenangan. Meski sangat lemah, namun manusia memiliki musuh yang tak terhingga, entah yang terlihat ataupun yang tak terlihat. Meski sangat papa, namun ia memiliki keinginan yang tak terhingga, baik yang bersifat lahir maupun batin. Manusia adalah makhluk yang malang, yang senantiasa merasakan derita kehilangan dan perpisahan.

Walaupun kondisinya demikian, namun berkat afiliasi dengan Penguasa Yang Mahaagung lewat iman dan _‘ubûdiyah_, ia menemukan “titik sandaran” yang sangat kuat, yang menjadi tempat berlindung dari seluruh musuh. Ia juga menemukan “titik tambatan” untuk memenuhi semua kebutuhan, keinginan, dan impiannya.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 78-80
*Menjadikan Qonaah sebagai Pedoman Hidup*

Ketahuilah dengan pasti bahwa _qana’ah_ adalah bentuk syukur yang menguntungkan. Sementara tamak adalah bentuk kekufuran yang merugikan. Hemat adalah bentuk penghormatan terhadap nikmat yang indah dan berguna. Sementara boros adalah sikap meremehkan nikmat, dan sikap meremehkan adalah buruk dan berbahaya.

Jika engkau cerdas, biasakan dirimu untuk bersikap qana’ah serta berusahalah untuk selalu ridha. Jika tidak mampu, ucapkan, “Yâ shabûr” (Wahai Yang Mahasabar). Hiasi dirimu dengan sabar. Terimalah hakmu dan jangan pernah mengeluh. Ketahuilah apa yang engkau keluhkan dan kepada siapa engkau mengeluh. Sebaiknya engkau diam saja! Jika terpaksa harus mengeluh, keluhkan dirimu kepada Allah. Sebab kekurangan ada pada dirimu.

Said Nursi, Al Maktubat, hlm. 484
*Hikmah Dibalik Mengenal Dan Menisbatkan Diri Kepada Allah SWT*

Jadi, sebagaimana segala sesuatu menisbatkan diri kepada tuannya, merasa bangga dengan afiliasi tersebut, serta merasa mulia dengan kedudukan di sisinya, demikian pula dengan manusia. Ketika dengan keimanan ia menisbatkan diri kepada Dzat Mahakuasa yang _qudrah_-Nya tak terhingga, serta kepada Penguasa Mahakasih yang memiliki rahmat yang luas, lalu ia mengabdi dengan _ubûdiyah_, maka ajal dan kematian berganti dari sebuah kemusnahan abadi menjadi tiket menuju alam abadi.

Kalian dapat mengukur betapa manusia sangat menikmati _ubûdiyah_-nya kepada Tuhan, merasa senang dengan iman yang terdapat dalam kalbunya, bahagia dengan cahaya Islam, serta bangga dengan Tuhannya yang Mahakuasa dan Penyayang seraya bersyukur atas nikmat iman dan Islam. Sebagaimana hal itu kunyatakan kepada saudaraku para siswa tersebut, kunyatakan pula kepada para tahanan bahwa: “Siapa yang mengenal dan menaati Allah, akan bahagia meskipun hidup di dalam penjara. Namun, siapa yang melalaikan dan melupakan-Nya, akan sengsara meskipun hidup di dalam istana.”

Seorang yang terzalimi pada suatu hari, saat berada di podium kematian, berteriak di hadapan kaum yang zalim dengan sangat bahagia: “Aku tidak akan berakhir pada kefanaan dan kemusnahan abadi. Namun, aku akan terbebas dari penjara dunia menuju kebahagiaan abadi. Akan tetapi, aku melihat kalian akan dihukum dengan kematian abadi lantaran menganggap kematian itu sebagai suatu kefanaan dan ketiadaan. Dengan demikian, dendamku telah terbalaskan.” Ia pun menyerahkan nyawanya dengan tenang seraya mengucap _lâ ilâha illallâh.”_
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻟﺎ ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨﺂ ﺍِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَﺎ ﺍﻧّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟﻌَﻠﻴﻢُ ﺍﻟﺤَﻜﻴﻢ

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 80-81
*Bukti Keberadaan Alam Akhirat*

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠّٰﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪ ﺣﻴﻦَ ﺗُﻤْﺴُﻮﻥَ ﻭَﺣﻴﻦَ ﺗُﺼْﺒِﺤُﻮﻥَ٭ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻓﻰِ ﺍﻟﺴَّﻤﻮﺍﺕِ ﻭَﺍْﻟﺎﺭْﺽِ ﻭَﻋَﺸِﻴًّﺎ ﻭَﺣﻴﻦَ ﺗُﻈْﻬِﺮُﻭﻥَ٭ ﻳُﺨﺮِﺝُ ﺍﻟﺤَﻰَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﻳُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﻤَﻴَّﺖَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻰِّ ﻭَﻳُﺤْﻴﻰِ ﺍﻟﺎﺭْﺽَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﻭَﻛَﺬﻟِﻚَ ﺗُﺨْﺮﺟﻮﻥَ ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﺍَﻥْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺗُﺮَﺍﺏٍ ﺛُﻢَّ ﺍِﺫَﺁ ﺍَﻧْﺘُﻢْ ﺑَﺸَﺮٌ ﺗَﻨْﺘَﺸِﺮُﻭﻥَ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪ ﺍَﻥْ ﺧَﻠَﻖَ ﻟَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺍَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﺍَﺯْﻭَﺍﺟًﺎ ﻟِﺘَﺴْﻜُﻨُﻮﺍ ﺍِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢْ ﻣَﻮَﺩَّﺓً ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔً ﺍِﻥَّ ﻓﻲ ﺫﻟِﻚَ ﻟﺎﻳﺎﺕٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮﻭﻥَ ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﺧَﻠْﻖُ ﺍﻟﺴَّﻤﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟﺎَﺭْﺽِ ﻭَﺍْﺧْﺘِﻠﺎﻑُ ﺍَﻟْﺴِﻨَﺘِﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟْﻮَﺍﻧِﻜُﻢْ ﺍِﻥَّ ﻓﻰ ﺫﻟِﻚَ ﻟﺎﻳَﺎﺕٍ ﻟِﻠْﻌَﺎﻟِﻤﻴﻦَ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻣَﻨَﺎﻣُﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟّﻴْﻞِ ﻭﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻭَﺍْﺑﺘﻐَﺂﺅُﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﻓـَﻀْﻠِﻪِ ﺍِﻥَّ ﻓﻰ ﺫﻟِﻚَ ﻟﺎَﻳَﺎﺕٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﺴْﻤَﻌُﻮﻥَ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪ ﻳُﺮﻳﻜُﻢُ ﺍْﻟﺒَﺮْﻕَ ﺧَﻮْﻓًﺎ ﻭَﻃَﻤَﻌًَﺎ ﻭَﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤﺂﺀِ ﻣَﺂﺀً ﻓَﻴُﺤْﻴﻰ ﺑِﻪِ ﺍْﻟﺎَﺭْﺽَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﻓﻰ ﺫﻟِﻚَ ﻟﺎﻳَﺎﺕٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ٭ ﻭَﻣﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﺍَﻥْ ﺗَﻘُﻮﻡَ ﺍﻟﺴَّﻤﺂﺀُ ﻭَﺍْﻟﺎَﺭﺽُ ﺑِﺎَﻣْـﺮِﻩ ﺛـُﻢَّ ﺍِﺫَﺍ ﺩَﻋـَﺎﻛـُﻢْ ﺩَﻋْـﻮَﺓً ﻣِﻦَ ﺍﻟﺎَﺭْﺽِ ﺍِﺫﺍ ﺍَﻧْﺘُـﻢْ ﺗَﺨﺮُﺟُﻮﻥَ٭ ﻭَﻟَﻪُ ﻣَﻦْ ﻓﻰِ ﺍﻟﺴَّﻤﻮﺍﺕِ ﻭَﺍْﻟﺎﺭْﺽِ ﻛُﻞٌّ ﻟَﻪُ ﻗَﺎﻧِﺘُﻮﻥَ٭ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬﻯ ﻳَﺒْﺪَﺅُﺍ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖَ ﺛُﻢَّ ﻳُﻌﻴﺪُﻩُ ﻭَﻫُﻮَ ﺍَﻫْﻮَﻥُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤﺜَﻞُ ﺍﻟﺎَﻋْﻠﻰ ﻓﻰِ ﺍﻟﺴَّﻤﻮﺍﺕِ ﻭَﺍﻟﺎﺭْﺽِ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰﻳﺰُ ﺍﻟﺤَﻜِﻴﻢُ.

_“Maka, bertasbihlah kepada Allah di waktu kalian memasuki petang dan subuh. Milik-Nyalah segala puji di langit dan di bumi serta di waktu kalian berada pada petang hari dan di waktu zuhur. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dia menghidupkan bumi sesudah matinya. Seperti itulah kalian akan dikeluarkan (dari kubur). Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan kalian dari tanah, kemudian tiba-tiba kalian (menjadi) manusia yang berkembang-biak. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang._

_Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi serta bahasa dan warna kulit kalian yang berbeda-beda. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidur kalian di waktu malam dan siang hari dan usaha kalian mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang mendengarkan._

_Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepada kalian kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang menggunakan akalnya. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kalian sekali panggil dari bumi, seketika itu kalian keluar (dari kubur). Kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semua hanya tunduk kepada-Nya._

_Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian menghidupkannya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Bagi-Nyalah sifat Yang Maha Tinggi di langit dan di bumi. Dialah yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana.”_

(QS. ar-Rûm[30]: 17-27).
*Kehidupan Setelah Kematian Itu Pasti Adanya*

Dalam “Sinar Kesembilan” ini kami akan menjelaskan satu dalil yang sangat kuat dan argumen yang tak terbantahkan tentang poros iman yang dijelaskan oleh ayat-ayat al-Qur’an. Yaitu masalah kebangkitan. Allah telah memberikan pertolongan _rabbâni_ kepada “Said lama” di mana tiga puluh tahun yang lalu pada akhir tulisannya, _Muhâkamât_, yang ditulis sebagai pendahuluan dari tafsir _Isyârât al-I’jâz fî Mazhân al-Îjâz_ beliau menulis sebagai berikut:

Tujuan Kedua: Akan menjelaskan dua ayat yang menerangkan tentang hari kebangkitan. Namun beliau memulai dengan kalimat, “Dengan demikian, _bismillâhirrahmânirrahîm_.” Lalu berhenti, dan beliau tidak lagi memiliki kesempatan untuk menulis. Maka, beribu-ribu dan sebanyak bukti-bukti kebangkitan kuucapkan syukur kepada Sang Pencipta Yang Maha Pemurah atas limpahan taufik-Nya untuk menjelaskan tafsiran tersebut tiga puluh tahun kemudian. Allah mengaruniakan kepadaku penafsiran ayat pertama, yaitu:

ﻓَﺎﻧْﻈُﺮ ﺍِﻟﻰ ﺁﺛَﺎﺭِ ﺭَﺣْﻤَـﺖِ ﺍﻟﻠّٰﻪ ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺤْﻴﻰِ ﺍﻟﺎَﺭْﺽَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﺫَﻟِﻚَ ﻟَﻤُﺤﻴﻰِ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪﻳﺮٌ (ﺍﻟﺮﻭﻡ: ٠٥).
_“Perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”_ (QS. ar-Rûm [30]: 50). Hal itu terjadi sekitar sepuluh tahun kemudian. Penafsiran tersebut kemudian menjadi “Kalimat Kesepuluh” dan
“Kalimat Kedua Puluh Sembilan”. Keduanya merupakan bukti kuat yang membungkam para pengingkar.

Sekitar sepuluh tahun sesudah penjelasan tentang benteng kebangkitan yang demikian kukuh, Allah SWT menganugerahiku penjelasan tentang ayat-ayat yang disebutkan sebelumnya. Ia kemudian menjadi risalah yang kita bahas sekarang ini. “Sinar Kesembilan” ini merupakan penjelasan tentang sembilan kedudukan mulia yang ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur’an disertai sebuah pendahuluan yang penting.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 86-87
*Urgensi Keyakinan Terhadap Kebangkitan Bagi Kehidupan Sosial*

*Pendahuluan*

Pendahuluan ini berisi dua poin. Pertama-tama kami akan menjelaskan secara singkat satu rangkuman universal di antara sekian banyak rangkuman kehidupan dan manfaat spiritual dari akidah kebangkitan seraya menerangkan sejauh mana urgensi keyakinan ini bagi kehidupan manusia, terutama kehidupan sosial.

Kami juga akan mengemukakan sebuah argumen yang bersifat komprehensif di antara sekian banyak argumen tentang keimanan pada kebangkitan seraya menerangkan tingkat kejelasannya di mana ia sama sekali tidak dicampuri oleh keraguan.

*Poin Pertama*: Sebagai contoh dan analogi, kami akan menunjukkan empat dalil dari ratusan dalil yang membuktikan bahwa keyakinan tentang akhirat merupakan pilar utama kehidupan sosial dan individu manusia sekaligus sebagai pilar seluruh kesempurnaan dan kebahagiaannya.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 87-88
*Keimanan Kepada Hari Akhir Merupakan Pelipur Lara bagi Anak-Anak*

*Dalil Pertama*: Anak-anak yang mewakili setengah umat manusia tidak akan mampu menerima kenyataan yang tampak menyakitkan saat terjadi kematian, kecuali dengan kekuatan moral yang lahir dari adanya “iman kepada surga”, yang terdapat dalam diri mereka yang lemah. Keimanan itulah yang membuka pintu harapan bersinar bagi tabiat mereka yang halus dan demikian rapuh, serta menangis karena sebab yang paling sepele sekalipun.

Maka, dengan keimanan tersebut mereka dapat hidup dengan nyaman, senang, dan gembira. Maka, si anak mukmin itu pun mengajak dirinya berbicara tentang surga. Ia berkata, “Adikku atau temanku tercinta yang telah meninggal, sekarang telah menjadi salah seekor burung di surga. Ia terbang di surga ke mana saja ia suka dan hidup dalam kondisi yang paling menyenangkan.”

Andai iman kepada surga tidak ada, tentu kematian yang menimpa anak-anak semisalnya atau orang dewasa sekalipun akan menghancurkan kekuatan moral orang-orang yang tidak memiliki daya dan kekuatan tersebut, serta akan merusak jiwa mereka, dan meremukkan kehidupan mereka sehingga ketika itu seluruh jasad, roh, kalbu, akal mereka ikut menangis bersama dengan tangisan mata.

Kemungkinannya ada dua: kepekaan mereka mati dan perasaan mereka mengeras. Atau, mereka menjadi seperti hewan yang tersesat dan malang.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 88-89
*Keimanan Kepada Hari Akhir Merupakan Pelipur Lara bagi Anak-Anak*

*Dalil Pertama*: Anak-anak yang mewakili setengah umat manusia tidak akan mampu menerima kenyataan yang tampak menyakitkan saat terjadi kematian, kecuali dengan kekuatan moral yang lahir dari adanya “iman kepada surga”, yang terdapat dalam diri mereka yang lemah. Keimanan itulah yang membuka pintu harapan bersinar bagi tabiat mereka yang halus dan demikian rapuh, serta menangis karena sebab yang paling sepele sekalipun.

Maka, dengan keimanan tersebut mereka dapat hidup dengan nyaman, senang, dan gembira. Maka, si anak mukmin itu pun mengajak dirinya berbicara tentang surga. Ia berkata, “Adikku atau temanku tercinta yang telah meninggal, sekarang telah menjadi salah seekor burung di surga. Ia terbang di surga ke mana saja ia suka dan hidup dalam kondisi yang paling menyenangkan.”

Andai iman kepada surga tidak ada, tentu kematian yang menimpa anak-anak semisalnya atau orang dewasa sekalipun akan menghancurkan kekuatan moral orang-orang yang tidak memiliki daya dan kekuatan tersebut, serta akan merusak jiwa mereka, dan meremukkan kehidupan mereka sehingga ketika itu seluruh jasad, roh, kalbu, akal mereka ikut menangis bersama dengan tangisan mata.

Kemungkinannya ada dua: kepekaan mereka mati dan perasaan mereka mengeras. Atau, mereka menjadi seperti hewan yang tersesat dan malang.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 88-89
*Kebar Gembira Bagi Kaum Yang Beriman Dan Ancaman Bagi Mereka Yang Ingkar*

Al-Qur’an berikut ayat-ayatnya yang pasti; seluruh nabi—sebagai pemilik jiwa bercahaya—terutama Rasulullah SAW; para wali sebagai poros pemilik kalbu yang bersinar, dan seluruh kaum _shiddîqîn_ yang merupakan sumber akal yang tajam dan cemerlang, seluruhnya meyakini adanya kebangkitan dengan keimanan yang mantap sekaligus menjadi saksi atasnya dan memberikan kabar gembira kepada umat manusia akan adanya kebahagiaan abadi.

Di sisi lain, mereka juga mengancam kaum yang sesat bahwa akhir perjalanan mereka adalah neraka, serta memberikan kabar gembira kepada kalangan yang mendapat petunjuk bahwa kesudahan mereka berupa surga. Dalam hal ini, mereka bersandar kepada ratusan mukjizat yang terang dan tanda-tanda kekuasaan yang demikian jelas, serta kepada janji dan ancaman yang Kau sebutkan berulang kali dalam suhuf samawi dan kitab suci.

Dalam hal ini, mereka juga berpegang pada mulianya keagungan-Mu, kekuasaan rububiyah-Mu, kondisi-Mu yang agung, serta sifat-sifat-Mu yang suci seperti kuasa, kasih sayang, perhatian, hikmah, keagungan, dan keindahan. Ia juga dibangun di atas kesaksian dan penyingkapan mereka yang tak terhingga yang menginformasikan jejak-jejak akhirat. Serta dibangun di atas iman dan keyakinan yang kukuh yang setara dengan _ilmul yaqîn_ dan _ainul yaqîn_.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 96-96
*Kemuliaan Allah SWT Dan Seluruh Nama-nama-Nya Menuntut Keberadaan Hari Kebangkitan*

Wahai Yang Mahakuasa, Yang Mahabijaksana, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, Yang Maha menepati janji, Wahai pemilik keperkasaan dan keagungan, Wahai Yang Maha Memaksa Yang Mahaagung, Engkau suci dan mulia. Engkau tidak mungkin melekatkan sifat dusta kepada seluruh wali-Mu, seluruh janji-Mu, semua sifat-Mu, serta seluruh atribut-Mu yang suci sehingga Kau ingkari.

Engkau tidak mungkin menghijab sesuatu yang menjadi konsekuensi kekuasaan rububiyah-Mu dengan tidak mengabulkan doadoa hamba-Mu yang saleh yang Kau cintai, di mana mereka pun mencintai-Mu serta membuat diri mereka Kau cintai lewat iman, pembenaran, dan ketaatan. Engkau juga sangat tidak mungkin membenarkan kaum sesat dan kafir terkait dengan sikap mereka yang mengingkari kebangkitan. Mereka adalah orang-orang yang mengabaikan keagungan dan kebesaran-Mu dengan bersikap kufur, membangkang, dan ingkar kepada-Mu dan kepada janji-Mu.

Mereka meremehkan kemuliaan keagungan-Mu, kebesaran uluhiyah-Mu, serta kasih sayang rububiyah-Mu. Kami benar-benar memuliakan keadilan dan keindahan-Mu yang bersifat mutlak serta rahmat-Mu yang luas yang sama sekali bersih dari sifat zalim dan buruk. Dengan seluruh kekuatan yang diberikan, kami yakin dan percaya bahwa ribuan rasul dan nabi yang mulia serta para wali yang menyeru kepada-Mu, mereka semua dengan _haqqul yaqîn_, _ainul yaqîn_, dan _ilmul yaqîn_ menjadi saksi atas perbendaharaan rahmat ukhrawi-Mu dan kebaikan-Mu di alam baka serta atas manifestasi Asmaul Husna yang tersingkap secara komprehensif di negeri kebahagiaan.

Kami beriman bahwa kesaksian tersebut benar dan nyata. Kabar gembira mereka tepat dan tidak dusta. Mereka semua meyakini bahwa hakikat besar ini (kebangkitan) merupakan kilau besar dari nama _al-Haq_ yang merupakan sandaran dan mentari seluruh hakikat. Dengan izin-Mu, mereka membimbing manusia dalam wilayah kebenaran sekaligus mengajari mereka dengan inti hakikat. Wahai Tuhan, dengan kebenaran pelajaran yang mereka berikan serta dengan kemuliaan petunjuk mereka, berikan kami iman yang sempurna dan karuniakan kami _husnul khatimah_. Berikan hal itu kepada kami dan kepada seluruh murid Nur. Jadikan kami sebagai orang-orang yang layak mendapatkan syafa’at mereka. Amin.”

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 97-98