Perpustakaan UIN IB
1.43K subscribers
83 photos
10 videos
82 files
167 links
Nomor Pokok Perpustakaan : 1371092D0000002
Download Telegram
*Renungan Terhadap Kerentaan yang Dianggap Menyedihkan*

Ketika kegembiraan dan senyuman “Said lama” berubah menjadi kesedihan dan tangisan “Said Baru”, yaitu tepatnya ketika hendak memasuki usia senja, pihak penguasa di Ankara mengundangku karena mereka mengira aku masih “Said lama”. Aku pun memenuhi undangan itu. Namun, di suatu hari pada akhir musim gugur, aku naik ke puncak benteng Ankara yang jauh lebih tua dan lebih renta dariku. Benteng tua itu tampak di hadapanku seolah-olah ia merupakan rangkaian peristiwa bersejarah yang menjadi batu. Aku pun sangat sedih dengan rentanya tahun di musim gugur, dengan kerentaanku sendiri, kerentaan benteng itu, kerentaan umat manusia, kerentaan Daulah Usmaniyah, dengan wafat­nya kekhalifahan, serta dengan kerentaan dunia.

Kondisi tersebut memaksaku untuk mengarahkan pandangan dari puncak benteng tinggi itu ke lembah masa lalu dan bukit masa depan, untuk mencari cahaya, harapan, dan pelipur lara yang bisa menerangi kegelapan yang sedang menyelimuti jiwaku saat ia larut di malam kerentaan yang berantai. Ketika aku menoleh ke sebelah kanan yang merupakan “masa lalu” seraya mencari cahaya dan harapan, ia tampak dari kejauhan dalam bentuk pekuburan besar berisi jenazah ayahku, nenek moyangku, dan umat manusia. Maka, segera saja ia membuatku lara. Lalu aku menoleh ke sebelah kiri yang merupakan “masa depan” seraya mencari obatnya. Ia pun seperti makam besar yang gelap berisi jenazahku, jenazah generasiku dan jenazah generasi mendatang. Hal itu membuatku sedih dan sakit.

Kemudian aku menoleh ke masa sekarang, di saat hatiku telah penuh dengan kesedihan dan kepiluan. Maka ia tampak dalam pandanganku yang sedang lara seperti keranda bagi jenazah tubuhku yang sedang menggelepar-gelepar seperti sembelihan yang berada dalam kondisi hidup dan mati.

Bersambung . . .

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 57-58
*Iman Adalah Pelipur Lara*

Manakala aku juga putus asa dengan arah ini, kuangkat kepalaku dan kulihat dari puncak pohon umurku satu buah yang sedang menatapku. Ia tidak lain jenazahku. Lalu kutundukkan kepalaku untuk melihat akar pohon umurku. Di sana aku menyadari bahwa tanah yang ada di dalamnya tidak lain berupa tulang belulangku yang telah hancur dan tulang awal penciptaanku. Keduanya bercampur dan telah diinjak oleh berbagai kaki. Hal itu tentu saja menambah sakitku tanpa pernah memberikan obatnya. Selanjutnya, dengan terpaksa aku mengalihkan pandanganku ke belakang. Kusaksikan bahwa dunia yang fana ini bergulir dalam lembah kehancuran dan gelapnya kefanaan.

Alih-alih memberikan obat dan kesembuhan, pandangan ini malah menuangkan racun ke atas luka-lukaku. Ketika tidak ada kebaikan dan harapan yang ditemukan di arah tersebut, kupalingkan wajahku ke depan dan kuarahkan pandanganku ke tempat yang jauh. Ketika itu kusaksikan kuburan di hadapanku sedang menungguku di tengah jalan dengan mulut yang kosong dan terus mengawasiku. Di belakangnya terdapat jalan yang terbentang hingga masa keabadian. Dari kejauhan, tampak pula berbagai rombongan umat manusia sedang berjalan di atas jalan tersebut. Tidak ada yang bisa kujadikan sebagai sandaran dalam menghadapi aneka macam musibah yang menimpaku dari enam arah tadi, kecuali mengandalkan _irâdah juz’iyah_ (kehendak parsial).

Jadi, dalam menghadapi berbagai musuh dan ancaman yang tak terkira banyaknya aku hanya memiliki senjata manusiawi satu-satunya, yaitu ikhtiar. Namun, karena senjata itu sangat terbatas, sangat lemah, tak mempunyai kekuatan untuk mewujudkan sesuatu kecuali hanya usaha semata, di mana ia tak mampu kembali ke masa lalu untuk melenyapkan dan menghentikan segala kesedihan. Di samping juga tak mampu melanglang buana ke masa depan untuk bisa menghadang kerisauan dan ketakutan yang muncul darinya, maka aku melihat bahwa ikhtiar tersebut sama sekali tak berguna untuk menghadapi berbagai penderitaan masa lalu dan impian masa mendatang.

Pada saat aku berada dalam kondisi gelisah menghadapi enam arah yang mencampakkanku dalam kesepian, kema­langan, keputusasaan, dan kegelapan, tiba-tiba cahaya iman yang memancar dari al-Qur’an _al-Mu’jizul-bayân_ menyelamatkanku dan menerangi enam arah tadi dengan sinar yang sangat terang. Seandainya aku dikepung 100 kali lipat kegelapan, niscaya cahaya tadi mampu mengalahkannya. Seketika itu, cahaya-cahaya tadi mengubah rangkaian kegelapan yang panjang menjadi pelipur lara dan harapan. Selain itu, ia mengubah segala kerisauan menjadi kelapangan dan optimisme.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 58-60
*Urgensi Iman Dalam Menatap Masa Depan Dan Masa Lalu*

Ya, keimanan telah melenyapkan gambaran masa lalu yang menyeramkan, yang seolah-olah seperti kuburan besar, menjadi sebuah majelis terang yang lapang dan tempat bertemunya para kekasih. Ia tampakkan hal itu lewat _‘ainul yaqîn_ dan _haqqul yaqîn_. Kemudian, keimanan tadi memperlihatkan dengan _‘ilmul yaqîn_ bahwa masa depan yang tadinya dengan tatapan kelalaian tampak seperti kuburan besar ternyata merupakan majelis jamuan Tuhan yang dipersiapkan di istana kebahagiaan yang kekal.

Keimanan tersebut juga menghancurkan gambaran keranda jenazah masa sekarang yang tampak demikian menurut tatapan kelalaian dan memperlihatkannya sebagai tempat bisnis ukhrawi dan tempat jamuan ilahi yang menakjubkan. Selanjutnya, keimanan tadi menampakkan kepadaku dengan _‘ilmul yaqîn_ bahwa buah satu-satunya yang terdapat di atas pohon umur dalam bentuk keranda dan jenazah seperti terlihat lewat tatapan kelalaian sebenarnya tidak demikian. Tetapi, ia merupakan perpindahan jiwa—sebagai unsur yang layak kekal di kehidupan abadi serta unsur yang akan meraih kebahagiaan abadi—dari sangkar lamanya menuju cakrawala bintang-gemintang untuk melancong.

Keimanan berikut segala rahasianya juga menjelaskan bahwa tulang-belulang dan tanah awal penciptaanku bukan tulang yang hina dan musnah di bawah injakan kaki manusia. Tetapi, ia adalah tanah pintu rahmat dan tirai tenda surga. Berkat karunia rahasia al-Qur’an, keimanan itu memperlihatkan kepadaku bahwa berbagai kondisi dunia yang jatuh ke dalam gelapnya ketiadaan menurut tatapan kelalaian, sebenarnya tidak demikian.

Tetapi, ia merupakan salah satu jenis risalah Tuhan dan lembaran goresan nama-nama-Nya yang suci yang telah menyelesaikan tugas, memberikan makna, dan meninggalkan hasilnya di alam wujud. Dengan begitu, keimanan tersebut memberitahukan esensi dunia kepadaku dengan _‘ilmul yaqîn_.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 60-61
*Iman Merupakan Sandaran yang Kuat Bagi Manusia*

Lewat cahaya al-Qur’an, keimanan itu pun menjelaskan bahwa kubur yang menantikanku sebenarnya bukan lubang sumur. Tetapi, ia merupakan pintu menuju alam cahaya. Jalan menuju keabadian itu bukanlah jalan yang berakhir pada kegelapan dan kemusnahan. Tetapi, ia adalah jalan yang benar untuk sampai ke alam cahaya, alam wujud, dan alam kebahagiaan abadi. Demikianlah, kondisi-kondisi ini justru menjadi obat dan balsam penyembuh bagi penyakitku yang tampak sangat jelas hingga membuatku sangat puas.

Selain itu, keimanan tadi juga menganugerahkan kepada ikhtiar yang terbatas tadi sebuah pegangan yang bisa dijadikan sandaran untuk sampai kepada kekuasaan-Nya yang mutlak dan kepada rahmat-Nya yang luas guna melawan beragam musuh dan aneka macam kegelapan. Selanjutnya sebuah ikhtiar yang menjadi senjata manusia, meskipun cacat, lemah, dan terbatas, namun jika dipergunakan atas nama Allah dan di jalan-Nya bisa mengantarkan manusia untuk meraih surga abadi seluas lima ratus tahun perjalanan. Dalam hal ini, seorang mukmin sama dengan keadaan seorang prajurit.

Apabila kekuatannya yang terbatas itu dipakai atas nama negara, dengan mudah ia bisa melaksanakan berbagai pekerjaan yang seribu kali lipat lebih besar dibanding kekuatan aslinya. Sebagaimana keimanan memberikan kepada ikhtiar kita sebuah pegangan, ia juga melepaskan kendalinya dari genggaman jasad yang tidak bisa menembus masa lalu dan masa depan untuk kemudian diserahkan kepada kalbu dan roh. Lalu, karena wilayah kehidupan roh dan kalbu tidak terbatas pada masa sekarang seperti yang terjadi pada jasad, tetapi ia bisa menembus masa lalu dan masa depan, maka posisi ikhtiar tersebut berubah dari yang tadinya parsial (_juz’i_) menjadi universal (_kulli_).

Kemudian, sebagaimana dengan kekuatan iman, ikhtiar tersebut bisa masuk ke relung-relung masa lalu dengan melenyapkan gelapnya kesedihan, lewat cahaya iman ia juga bisa naik menuju ke ketinggian masa depan dengan menghapus segala kerisauan dan kecemasan. Wahai saudara dan saudari lansia yang menderita sepertiku akibat penatnya masa tua! Selama kita termasuk kaum beriman di mana keimanan merupakan khazanah kekayaan yang manis, bersinar, nikmat, dan dicintai, maka kerentaan itu akan mengantarkan kita menuju khazanah kekayaan itu.

Oleh karenanya, kita tidak boleh mengeluhkan usia renta yang dijalani dengan keimanan, melainkan kita harus banyak bersyukur dan memuji Allah SWT.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 61-62
*Kesadaran Hati*

Ketika sebagian rambutku sudah mulai memutih yang menjadi pertanda tuanya seseorang, serta kedahsyatan Perang Dunia Pertama dan penawanan Bangsa Rusia yang memberikan dampak kuat dalam hidup ini membuatku bertambah lalai. Kondisi itu diperparah saat aku kembali dari penawanan ke kota Istanbul di mana, baik Khalifah, _Syaikhul-Islam_, panglima, maupun para pelajar agama memberikan sambutan yang menakjubkan sekaligus penghormatan yang berlebihan. Semua itu mencampakkanku dalam kondisi rohani yang buruk di samping kelalaian masa muda.

Pada waktu yang sama aku menjadi lebih tertidur lelap sampai-sampai aku berpikir bahwa dunia ini kekal abadi. Kusadari diriku berada dalam kondisi yang sangat terikat dengan dunia seolah-olah tidak akan mati. Pada waktu itulah aku pergi ke Masjid Jami Bayazid di Istanbul, yaitu bertepatan pada Bulan Ramadhan yang penuh berkah, untuk mendengarkan bacaan al-Qur’an dari para penghafal yang ikhlas. Dari mulut mereka aku mendengar informasi al-Qur’an yang begitu kuat di seputar kematian dan fananya manusia berikut wafatnya seluruh makhluk bernyawa.

Bunyi ayat tersebut adalah
ﻛُﻞُّ ﻧَﻔْﺲٍ ﺫَﺁﺋِﻘَﺔُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ
_“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian”_ (QS. Âli ‘Imrân [3]: 185). Informasi tersebut masuk ke dalam lubang telingaku menembus dan merobek berbagai tingkatan kelalaian dan kealpaan yang sangat tebal hingga jatuh di relung-relung qalbuku yang paling dalam. Kemudian, aku keluar dari masjid Jami tersebut, kuperhatikan diriku selama beberapa hari seolah-olah angin topan berpusar di kepalaku sebagai akibat dari pengaruh tidur panjang yang sejak lama menyertaiku.

Kusaksikan diriku seolah-olah seperti perahu yang terombang-ambing di tengah gelombang lautan. Diriku menyala oleh api yang memiliki asap tebal. Setiap kali aku melihat cermin, uban-ubanku berkata padaku, “Waspadalah!”

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 63-64
*Setiap Jiwa Pasti akan Merasakan Kematian*

Ya, berbagai hal tampak jelas bagiku dengan munculnya uban-uban itu dan dengan peringatan yang ia berikan padaku. Aku menyaksikan bahwa masa muda yang sangat kubanggakan dan terlena dengan kenikmatannya mengucapkan, “Selamat tinggal!” Kehidupan dunia yang sangat kucintai mulai redup sedikit demi sedikit. Dunia yang begitu dekat denganku dan sangat kusenangi mengucapkan, “Selamat tinggal, bersiap-siaplah untuk pergi” seraya mengingatkan bahwa aku akan pergi dari tempat jamuan ini dan bahwa aku akan me­ninggalkannya dalam waktu dekat.

Seketika itu pula terbukalah kalbuku untuk menerima dan memahami ayat yang berbunyi:
ﻛُﻞُّ ﻧَﻔْﺲٍ ﺫَﺁﺋِﻘَﺔُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ
_“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.”_ Makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa umat manusia ibarat sebuah jiwa. Ia pasti akan mati untuk kemudian dibangkitkan kembali. Demikian pula dengan bola bumi. Ia ibarat sebuah jiwa yang juga akan mengalami kematian dan kemusnahan untuk kemudian mengambil bentuk yang kekal abadi. Dunia pun merupakan sebuah jiwa. Ia akan mati dan lenyap untuk kemudian berwujud dalam bentuk akhirat. Dari situ, kurenungkan diriku sendiri. Kusadari bahwa masa muda yang penuh dengan kesenangan telah pergi.

Ia meninggalkan tempatnya untuk ditempati oleh masa tua yang penuh dengan kesedihan. Kehidupan yang terang dan cemerlang telah pergi untuk digantikan oleh kematian yang secara lahiriah tampak gelap dan menakutkan.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 64-65
*📚 Promo Tahun Baru 2025: Diskon Spesial Risalah Nur! 🎉*

Sambut tahun baru dengan kebijaksanaan dan inspirasi dari karya luar biasa *”Risalah Nur”*!
Nikmati diskon *hingga 40%* untuk berbagai koleksi buku pilihan.

*📅 Periode Promo:*
🗓 *28 Desember 2024 - 05 Januari 2025*

Jangan lewatkan kesempatan ini untuk memperkaya wawasan dan menambah koleksi bacaan berkualitas di tahun barumu!

*📌 Kunjungi sekarang:*
Toko buku atau situs resmi kami untuk menikmati penawaran spesial ini.
Toko Buku: https://maps.app.goo.gl/JRH5tjMLN7xcPjCw5
Olshop: https://linktr.ee/risalahnurpress
WA: 0851-0074-9255

Selamat Tahun Baru 2025! 🎆
*Jernihkan hati, Cerahkan akal*
#RisalahNur #PromoTahunBaru #DiskonBuku
*Al-Qur'an Merupakan Pelipur Lara Atas Kelalaian Yang Bersumber Dari Cinta Dunia*

Kuperhatikan dunia sebagai tempat yang menyenangkan, manis, mengasyikkan, dan dikira kekal, ternyata berlalu dengan cepatnya menuju kefanaan. Agar terlena dalam kelalaian dan guna menipu diri, kupalingkan perhatianku pada nikmatnya kedudukan dan posisi sosial yang kudapatkan di Istanbul yang mana di sana aku mendapatkan penghormatan dan penghargaan yang luar biasa. Kusadari bahwa semua itu hanya menyertaiku sampai ke pintu kubur yang sebentar lagi tiba. Di situ segalanya akan padam. Kusadari pula bahwa riya, egoisme, dan kelalaian yang bersifat sementara telah bersembunyi di balik tirai yang berhiaskan reputasi dan popularitas.

Itulah tujuan dari orang-orang yang ingin terkenal. Aku mengerti bahwa semua hal yang telah menipuku hingga saat ini takkan pernah bisa membuatku terhibur. Aku sama sekali tak menemukan cahaya di dalamnya. Agar kembali terbangun dan tersadar dari kelalaian, Aku pun mulai menyimak bacaan para penghafal al-Qur’an yang berada di Masjid Jami Bayazid untuk menerima pelajaran dari kitab suci. Saat itulah aku mendengar kabar gembira dari petunjuk langit yang bersumber dari perintah suci Tuhan di mana Allah berfirman:
. . .ﻭﺑَﺸِّﺮ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ
_“Sampaikan kabar gembira kepada orang-orang beriman...”_
(QS. al-Baqarah [2]: 25).

Lewat limpahan karunia yang berasal dari al-Qur’an, aku pun mencari pelipur lara, harapan, dan cahaya diseputar hal-hal yang membingungkan serta membuatku sedih dan putus asa, tanpa mencari dari yang lain. Maka, kuucapkan ribuan syukur kepada Tuhan Sang Maha Pencipta yang telah memberikan taufik kepadaku untuk menemukan obat pada penyakit itu sendiri, untuk melihat cahaya pada kegelapan itu sendiri, dan merasa terhibur dalam penderitaan itu sendiri.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 65-66
*Hakikat Kematian*

Maka, yang pertama kali kulihat adalah wajah kematian yang ditakuti semua orang dan dianggap sangat menyeramkan. Lewat cahaya al-Qur’an, aku memahami bahwa wajah kematian yang hakiki, bagi seorang mukmin, ibarat sesuatu yang bersinar terang meskipun tampilan luarnya terlihat gelap dan menakutkan. Hakikat ini telah kami buktikan dan jelaskan secara tegas dalam berbagai risalah, terutama dalam “Kalimat Kedelapan” dan “Surat Kedua Puluh”. Di situ dijelaskan bahwa kematian sebenarnya bukan kemusnahan final dan bukan pula perpisahan abadi. Tetapi, ia merupakan pe­ngantar dan pendahuluan bagi kehidupan yang kekal.

Ia adalah pembebasan dari tugas hidup. Ia merupakan bentuk pergantian tempat serta pertemuan dengan rombongan para kekasih yang telah pergi menuju alam Barzakh. Demikianlah, dengan hakikat tersebut, aku menyaksikan wajah kematian yang indah dan bersinar. Karena itu, aku pun tidak lagi melihatnya dengan perasaan takut dan cemas. Tetapi, dari satu sisi, aku melihatnya dengan perasaan rindu. Di saat tersebut aku memahami salah satu rahasia _râbithatul maut_ (selalu mengingat mati) yang dipraktekkan oleh para penganut tarekat sufi. Setelah itu, aku merenungkan masa muda. Ternyata kepergiannya telah membuat sedih semua orang.

Semua orang suka dan senang kepadanya. Ia berlalu dengan kelalaian dan dosa. Masa mudaku berlalu seperti itu. Di situ aku melihat wajah yang sangat buruk bahkan melenakan dan membingungkan berbungkus busana yang cantik. Seandainya aku tidak mengetahui hakikatnya, pastilah ia membuatku menangis dan sedih sepanjang hidup. Bahkan andaipun aku hidup seratus tahun, hanya beberapa tahun yang berlalu dengan senyuman dan keriangan. Hal itu sebagaimana ungkapan seorang penyair yang menangisi masa mudanya dengan penuh penyesalan:
ﻓَﻴﺎ ﻟَﻴﺖَ ﺍﻟﺸَﺒﺎﺏَ ﻳَﻌﻮﺩُ ﻳَﻮﻣًﺎ ﻓَﺄُﺧﺒِﺮَﻩُ ﺑِﻤﺎ ﻓَﻌﻞَ ﺍﻟﻤَﺸﻴﺐُ‌
_Oh, andai saja suatu saat masa muda kembali lagi, akan kuberitahukan apa yang dilakukan masa tua._

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 66-68
[30/12/2024, 05.15] Pak Hasbi Said Nursi Baru: *Masa Muda Merupakan Nikmat Ilahi Yang Berharga*

Ya, para lansia yang belum memahami rahasia dan esen­si masa muda akan menghabiskan masa tuanya dengan menyesali dan meratapi masa mudanya seperti penyair sebelumnya. Sebenarnya, jika masa muda dilalui oleh seorang mukmin yang tenang dan wibawa serta jika kekuatan masa muda tadi dipakai untuk beribadah, beramal saleh, dan melakukan bisnis ukhrawi, pastilah ia menjadi kekuatan yang paling besar untuk menggapai kebajikan, sarana yang paling utama untuk berbisnis, serta instrumen yang paling indah dan paling nikmat untuk memperoleh berbagai kebaikan.

Masa muda merupakan nikmat Ilahi yang berharga dan menyenangkan bagi mereka yang mengetahui kewajiban agamanya dan tidak menyalahgunakannya. Namun, jika masa muda itu tidak disertai keistiqamahan, tidak disertai sikap menjaga kehormatan dan ketakwaan, maka ia akan mendatangkan banyak bahaya. Sebab, kelalaian dan hawa nafsunya akan menghancurkan kebahagiaan abadi dan kehidupan akhirat pemiliknya. Bahkan, barangkali juga menghantam kehidupan dunianya. Dengan begitu, ia akan mengenyam berbagai penderitaan di usia rentanya.

Karena berbagai kenikmatan yang ia rasakan selang beberapa tahun lamanya Selama masa muda bagi sebagian besar orang tidak terlepas dari bahaya, maka kita sebagai orang tua harus banyak bersyukur kepada Allah SWT, karena Dia telah menyelamatkan kita dari kebinasaan dan bahaya masa muda. Segala kesenangan di masa muda pasti akan lenyap, sebagaimana lenyapnya segala sesuatu. Jika seandainya masa muda tersebut dipergunakan untuk beribadah dan mengerjakan berbagai amal kebaikan, maka yang akan didapat adalah ganjaran pahala yang bersifat abadi. Ia akan menjadi sarana untuk mendapatkan masa muda yang kekal di kehidupan akhirat nanti.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 68-69
[30/12/2024, 20.08] Pak Hasbi Said Nursi Baru: *KISAH NYATA DARI TURKI MENGENAI PERAYAAN MALAM TAHUN BARU*

Silakan baca sampai selasai. Sangat inspiratif. Semoga menjadi ibroh bagi kaum muslimin yang merayakan tahun baru.

kisah nyata ini ditulis oleh al-marhumah Aisyah Gonen dan diterbitkan di Majalah Cinar pada tahun 1998. Kisah ini menjelaskan kondisi perayaaan malam tahun baru.

"*SERSAN MALAM TAHUN BARU*"

Kami memiliki kehidupan yang bahagia di sebuah kecamatan dimana masa kanak-kanak saya habiskan di sana. Ketika itu Turki mengalami perang dunia, namun kami berhasil mengusir musuh dari tanah air, sehingga bisa mempertahankan kemerdekaannya.

Sudah 15 tahun perang dunia pertama berlalu. Perang menyebabkan kami menjadi miskin, tapi membuat kami tetap bangga. Mungkin anda tidak percaya, namun orang yang kehilangan orang tua atau suaminya sebagai mati syahid pun memiliki rasa gembira dalam kesedihannya. Ada juga banyak veteran di kecamatan kami. Ada yang kehilangan kaki ataupun tangan. Bahkan ada veteran yang kehilangan kaki dan tangannya sekaligus. Meskipun kondisinya demikian, mereka bangga karena bisa mengusir musuh dari tanah air Turki.

Para veteran atau keluarga orang yang mati syahid tidak meminta-meminta kepada orang lain, padahal mereka sangat miskin. Masyarakat mengetahui kondisi tersebut, sehingga sering kali mereka bantu kepada keluarga veteran dan mati syahid secara diam-diam tanpa pamer. Masyarakat juga memanggil mereka dengan gelar pahlawan. Di antara mereka ada yang dipanggil dengan "Sersan Malam Tahun Baru ".

Di lingkungan kami, Keluarga kami adalah keluarga yang terdidik dan terhormat. Ayah dan pamanku guru, sementara kakekku seorang pegawai negeri. Di kecamatan kami hanya ada sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Untuk melanjutkan SMA harus pergi ke provinsi. Saya memiliki 5 saudara. 4 di antaranya sekolah di SD dan SMP di kecamatan. Saya mempunyai seorang sepupu bernama Rusuhi. Ia telah tamat SMA dan meneruskan kuliahnya di Perancis.
Kami selalu menunggu kepulangan kakak Rusuhi dari Perancis ketika waktu libur tiba. Ia menceritakan keindahan, kehebatan Perancis. Bagi kami ceritanya seperti dongeng dan Perancis jadi negeri impian.
Pada suatu hari menjelang tahun baru, sepupuku bertanya kepada ayahnya "ayahku, Apa kegiatan kita untuk malam tahun baru?". Ayahnya menjawab " tidak ada kegiatan, kami disini tidak merayakan tahun baru". Kakak Rusuhi berkata " tak apa-apa ayah, kita buat hiburan aja agar anak-anak senang. Di Perancis masyarakat merayakan tahun baru dengan berbagai hiburan". Karena masih kecil, kami tak tahu apa-apa, tapi kami senang hiburan. Akhirnya pamanku setuju dengan perayaan tahun baru.

Mulailah persiapan acara malam tahun baru. Ibuku dan istri paman-pamanku mulai masak beragam kue, semua baju baru disiapkan. Rasanya seperti idul fitri. Sepupuku berpesan kepada ibunya untuk masak "ayam kalkun". Padahal ketika itu sangat susah mencari ayam kalkun di kecamatan. Setelah bertanya-tanya kepada tetangga, akhirnya dapat juga. Tetangga juga heran dengan persiapan ini.

31 Desember pun tiba. Kami memakai baju baru pada sore hari. Semua makanan sudah disiapkan. Kami keluar dari rumah dan anak-anak mengelilingi kami. Banyak ibu-ibu juga menyaksikan kami. Malam hari kami kumpul dengan keluarga di rumah sambil menyantap berbagai makanan dan minuman dengan diselingi canda tawa. Ibunya Rusuhi berkata bahwa makanan yang disiapkan cukup untuk banyak orang, tapi kita makan sendiri. Rusuhi pun berkata “tidak perlu memikirkan hal itu, yang penting kita bersenang-senang.” Ia juga berkata bahwa hiburan ini tak seberapa. Pada malam tahun baru di Perancis, banyak orang minum minuman keras dan bermabuk-mabukan sampai pagi.

Ketika si Rusuhi ingin minum sirup sambil berdiri, tiba-tiba pintu rumah diketuk dengan sangat keras. Ternyata yang datang adalah "Sersan Malam Tahun Baru".
Ia masuk ke dalam rumah dalam keadaan setengah tubuhnya tak ada. Maksudnya kaki, tangan dan mata kananya tidak ada. Ia kehilangan setengah tubuhnya ketika perang. Dengan nada marah. Ia berkata kepada paman saya. Saya belum pernah melihat ia marah seperti itu sebelumnya.

Sersan: Pak guru, engkau bukanlah guru, tapi penghianat bangsa. Bukankah engkau ajarkan bahwa masyarakat Turki menang dalam perang bukan karena senjata, melainkan iman? Lebih baik nyawa saya dicabut daripada melihat kalian merayakan acara orang Barat. Isak tangis pun mewarnainya.

Guru: kami tidak berbuat apa-apa. Hanya hiburan sesuai dengan permintaan Rusuhi.

Sersan: "Kenapa Rusuhi tidak membawa ilmu dan teknologi dari Perancis melainkan membawa budayanya?
Apakah kamu tahu kenapa nama saya menjadi 'sersan malam tahun baru'?
Saya pernah menjadi tentara selama 5 tahun. Saya korbankan keluarga bahkan nyawa saya untuk membela negara. Saya pernah menjadi tawanan pasukan Perancis. Saya dipaksa menjadi pelayan para tentara berpangkat tinggi dalam acara perayaan malam tahun baru. Ketika itu saya disuruh pakai baju orang Eropa dan mengantarkan makanan di meja para tentara tersebut.

Setelah itu seorang letnan Perancis menyuruh saya buka pintu kamar di depan dan membawa sesuatu dari kamar itu kepada masing-masing letnan yang ada. Ia menggunakan bahasa Turki yang terpatah-terpatah. Ketika saya buka pintu, saya sangat terkejut. Karena ada perempuan-perempuan Turki dalam keadaan telanjang. Mereka berusaha menutupi aurat mereka dengan tangan mereka sambil memohon “jangan sentuh kami.” Ketika itu saya tak berpikir panjang dengan kembali dan menyerang letnan itu. Saya dapatkan geranat yang ada di letnan itu kemudian saya ledakkannya. Akibatnya 5 letnan mati dari 6 letnan dan para perempuan itu selamat. Saya pun kehilangan setengah tubuh saya. Saya dibiarkan di tempat itu karena mereka menduga saya telah mati. Tapi Allah menyelamatkan saya melalui salah seorang perempuan Turki yang ada disana. Sekarang kalian merayakan malam tahun baru yang merupakan budaya orang Barat!!!"

Kami yang ada disana diam seribu bahasa. Itulah pertama dan terakhir kalinya saya merayakan malam tahun baru. Tapi sayang sekali perayaan malam tahun baru menjadi kebiasaan sebagian masyarakat Turki.
.
(Diringkas dan dialihbahasakan dari cerita aslinya (bahasa Turki) oleh Hasbi Sen)
[31/12/2024, 05.16] Pak Hasbi Said Nursi Baru: *Tiga Makna Dunia*

Lalu, aku melihat dunia yang digandrungi sebagian besar manusia serta memperdaya mereka. Aku menyaksikan dengan cahaya al-Qur’an bahwa ada tiga dunia yang saling bertumpuk:
1. Dunia yang mengarah kepada Asmaul Husna. Yakni, dunia sebagai cermin yang menampakkan manifestasi Asmaul Husna.
2. Dunia yang mengarah kepada akhirat. Yakni, dunia yang merupakan ladang akhirat.
3. Dunia yang mengarah kepada ahli dunia. Yakni, du­nia yang merupakan tempat permainan dan senda gurau orang-orang yang lalai.

Selain itu, aku juga melihat bahwa setiap orang di dunia ini memiliki dunianya sendiri yang besar. Seolah-olah ada banyak dunia yang saling bertumpuk dengan jumlah sebanyak umat manusia. Hanya saja, dunia setiap orang tegak di atas kehidupannya sendiri. Ketika fisik seseorang jatuh binasa, maka dunianya menjadi runtuh, dan kiamatnya pun terjadi. Karena kaum yang lalai tidak memahami keruntuhan dunia mereka yang sangat cepat, akhirnya mereka tertipu dengannya. Dunia mereka itu disangka seperti dunia yang tetap tegak dan ada di sekitar mereka.

Aku pun berpikir seraya berkata, “Aku juga tentu memiliki duniaku sendiri yang pasti akan runtuh dengan cepat seperti yang lain. Kalau begitu, apa gunanya duniaku itu dalam umur yang sangat singkat ini?” Dengan cahaya al-Qur’an, aku menyaksikan bahwa bagiku dan bagi yang lain, dunia hanyalah tempat bisnis yang bersifat sementara dan tempat jamuan yang disinggahi setiap hari, kemudian ditinggalkan. Ia adalah pasar yang berada di sebuah jalan untuk tempat bisnis orang-orang yang datang dan pergi. Ia merupakan kitab yang senantiasa terbaharui milik Tuhan Sang Pemahat Azali. Dia mengubahnya sesuai dengan hikmah-Nya. Setiap musim semi di dalamanya laksana surat yang ditulis dengan tinta emas. Setiap musim panas di dalamnya merupakan untaian kasidah yang sangat indah.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 69-70

Pak Hasbi Said Nursi Baru: https://youtu.be/DlsX99R8QYI
*Tiga Makna Dunia*

Lalu, aku melihat dunia yang digandrungi sebagian besar manusia serta memperdaya mereka. Aku menyaksikan dengan cahaya al-Qur’an bahwa ada tiga dunia yang saling bertumpuk:
1. Dunia yang mengarah kepada Asmaul Husna. Yakni, dunia sebagai cermin yang menampakkan manifestasi Asmaul Husna.
2. Dunia yang mengarah kepada akhirat. Yakni, dunia yang merupakan ladang akhirat.
3. Dunia yang mengarah kepada ahli dunia. Yakni, du­nia yang merupakan tempat permainan dan senda gurau orang-orang yang lalai.

Selain itu, aku juga melihat bahwa setiap orang di dunia ini memiliki dunianya sendiri yang besar. Seolah-olah ada banyak dunia yang saling bertumpuk dengan jumlah sebanyak umat manusia. Hanya saja, dunia setiap orang tegak di atas kehidupannya sendiri. Ketika fisik seseorang jatuh binasa, maka dunianya menjadi runtuh, dan kiamatnya pun terjadi. Karena kaum yang lalai tidak memahami keruntuhan dunia mereka yang sangat cepat, akhirnya mereka tertipu dengannya. Dunia mereka itu disangka seperti dunia yang tetap tegak dan ada di sekitar mereka.

Aku pun berpikir seraya berkata, “Aku juga tentu memiliki duniaku sendiri yang pasti akan runtuh dengan cepat seperti yang lain. Kalau begitu, apa gunanya duniaku itu dalam umur yang sangat singkat ini?” Dengan cahaya al-Qur’an, aku menyaksikan bahwa bagiku dan bagi yang lain, dunia hanyalah tempat bisnis yang bersifat sementara dan tempat jamuan yang disinggahi setiap hari, kemudian ditinggalkan. Ia adalah pasar yang berada di sebuah jalan untuk tempat bisnis orang-orang yang datang dan pergi. Ia merupakan kitab yang senantiasa terbaharui milik Tuhan Sang Pemahat Azali. Dia mengubahnya sesuai dengan hikmah-Nya. Setiap musim semi di dalamanya laksana surat yang ditulis dengan tinta emas. Setiap musim panas di dalamnya merupakan untaian kasidah yang sangat indah.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 69-70

Pak Hasbi Said Nursi Baru: https://youtu.be/DlsX99R8QYI
*Bagaimana "Ilmu Hikmah" Memperkenalkan Pencipta Alam Semesta*

Contoh keenam: misalkan terdapat sebuah kitab yang pada setiap barisnya dituliskan sebuah buku dengan tulisan yang unik. Lalu, pada setiap katanya terdapat surah al-Qur’an. Seluruh persoalan yang dibahas di dalamnya sarat dengan makna yang mendalam. Semuanya saling mendukung. Kitab menakjubkan tersebut tentu menjelaskan kecakapan penulisnya yang luar biasa. Dengan kata lain, kitab semacam itu memperkenalkan penulis dan penyusunnya dengan cara yang sangat terang seterang mentari dan menjelaskan kesempurnaan kapasitasnya.

Ia melahirkan rasa kagum dan hormat di hati para pembacanya sehingga mereka terus-menerus memberikan pujian dengan berkata, _“tabârakallâh, subhânallâh, mâ syâ Allâh.”_ Demikian pula dengan kitab alam yang besar ini di mana pada satu lembaran darinya yang berupa permukaan bumi serta dalam satu bagiannya yang berupa musim semi, ditulis sekitar 300 ribu jenis buku yang beragam. Yaitu, kelompok hewan dan tumbuhan. Masing-masing laksana sebuah buku. Masing-masing ditulis secara bersamaan dan berbaur tanpa ada yang salah, keliru, dan terlupa.

Ia ditulis dengan sangat rapi dan sempurna. Bahkan, pada setiap katanya laksana pohon dituliskan sebuah untaian syair yang menakjubkan. Lalu, pada setiap titiknya laksana benih, dituliskan sebuah indeks buku secara sempurna. Sebagaimana hal itu dapat disaksikan dengan jelas di hadapan kita sekaligus memperlihatkan bahwa di baliknya terdapat pena mengalir yang menuliskannya. Kalian dapat mengukur betapa kitab alam yang besar ini, di mana pada setiap katanya terdapat begitu banyak makna dan hikmah yang beragam, serta kalian dapat mengetahui betapa al-Qur’an terbesar yang berwujud konkret berupa alam ini (ayat-ayat kawniyah), menunjukkan Sang Pencipta dan Penulisnya.

Demikianlah jika dianalogikan dengan kitab yang disebutkan dalam contoh di atas. Ini sesuai dengan ilmu hikmah yang kalian pelajari, atau seni baca dan tulis, dengan perbandingan yang lebih besar dan pandangan yang luas terhadap jagat raya. Bahkan, kalian dapat memahami bagaimana ia memperkenalkan Sang Pencipta Yang Mahaagung lewat _Allâhu Akbar_, bagaimana ia mengajari cara penyucian lewat _subhanallâh_, serta bagaimana membuat kita mencintai Allah dengan pujian _alhamdulillâh_.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 77-78
*Iman Merupakan Titik Sandaran yang Kuat Bagi Manusia*

Demikianlah, setiap ilmu dari sekian banyak ilmu yang ada menunjukkan keberadaan Sang Pencipta alam, serta memperkenalkan-Nya kepada kita lewat nama-nama-Nya yang mulia, lalu dengan nama-nama tersebut kita dapat mengetahui sifat-sifat dan kesempurnaan-Nya. Hal itu dengan berbagai analogi dan ukuran yang luas, cermin yang khusus, mata yang tajam, dan pandangan yang disertai pengambilan pelajaran. Kukatakan kepada para siswa yang masih muda itu bahwa hikmah mengapa al-Qur’an mengulang-ulang ungkapan ayat berikut:

ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍْﻟﺄَﺭْﺽَ
_“(Dzat yang) menciptakan langit dan bumi”_
ﺭﺏّ ﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺕ ﻭﺍﻟﺄﺭﺽ
_“Tuhan Pemelihara langit dan bumi”._ Keduanya adalah untuk menunjukkan kepada hakikat tersebut, untuk menetapkan argumen tauhid yang demikian cemerlang, serta untuk memperkenalkan Sang Pencipta Yang Mahaagung kepada kita. Akhirnya mereka menjawab, “Puji dan syukur yang tak terhingga kami ucapkan kepada Tuhan Sang Pencipta atas pelajaran ini, yang merupakan hakikat mulia. Semoga Allah memberikan balasan terbaik dan ridha-Nya kepadamu.”

Kujawab, “Manusia merupakan mesin hidup yang merasakan ribuan penderitaan dan menikmati ribuan jenis kesenangan. Meski sangat lemah, namun manusia memiliki musuh yang tak terhingga, entah yang terlihat ataupun yang tak terlihat. Meski sangat papa, namun ia memiliki keinginan yang tak terhingga, baik yang bersifat lahir maupun batin. Manusia adalah makhluk yang malang, yang senantiasa merasakan derita kehilangan dan perpisahan.

Walaupun kondisinya demikian, namun berkat afiliasi dengan Penguasa Yang Mahaagung lewat iman dan _‘ubûdiyah_, ia menemukan “titik sandaran” yang sangat kuat, yang menjadi tempat berlindung dari seluruh musuh. Ia juga menemukan “titik tambatan” untuk memenuhi semua kebutuhan, keinginan, dan impiannya.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 78-80
*Menjadikan Qonaah sebagai Pedoman Hidup*

Ketahuilah dengan pasti bahwa _qana’ah_ adalah bentuk syukur yang menguntungkan. Sementara tamak adalah bentuk kekufuran yang merugikan. Hemat adalah bentuk penghormatan terhadap nikmat yang indah dan berguna. Sementara boros adalah sikap meremehkan nikmat, dan sikap meremehkan adalah buruk dan berbahaya.

Jika engkau cerdas, biasakan dirimu untuk bersikap qana’ah serta berusahalah untuk selalu ridha. Jika tidak mampu, ucapkan, “Yâ shabûr” (Wahai Yang Mahasabar). Hiasi dirimu dengan sabar. Terimalah hakmu dan jangan pernah mengeluh. Ketahuilah apa yang engkau keluhkan dan kepada siapa engkau mengeluh. Sebaiknya engkau diam saja! Jika terpaksa harus mengeluh, keluhkan dirimu kepada Allah. Sebab kekurangan ada pada dirimu.

Said Nursi, Al Maktubat, hlm. 484
*Hikmah Dibalik Mengenal Dan Menisbatkan Diri Kepada Allah SWT*

Jadi, sebagaimana segala sesuatu menisbatkan diri kepada tuannya, merasa bangga dengan afiliasi tersebut, serta merasa mulia dengan kedudukan di sisinya, demikian pula dengan manusia. Ketika dengan keimanan ia menisbatkan diri kepada Dzat Mahakuasa yang _qudrah_-Nya tak terhingga, serta kepada Penguasa Mahakasih yang memiliki rahmat yang luas, lalu ia mengabdi dengan _ubûdiyah_, maka ajal dan kematian berganti dari sebuah kemusnahan abadi menjadi tiket menuju alam abadi.

Kalian dapat mengukur betapa manusia sangat menikmati _ubûdiyah_-nya kepada Tuhan, merasa senang dengan iman yang terdapat dalam kalbunya, bahagia dengan cahaya Islam, serta bangga dengan Tuhannya yang Mahakuasa dan Penyayang seraya bersyukur atas nikmat iman dan Islam. Sebagaimana hal itu kunyatakan kepada saudaraku para siswa tersebut, kunyatakan pula kepada para tahanan bahwa: “Siapa yang mengenal dan menaati Allah, akan bahagia meskipun hidup di dalam penjara. Namun, siapa yang melalaikan dan melupakan-Nya, akan sengsara meskipun hidup di dalam istana.”

Seorang yang terzalimi pada suatu hari, saat berada di podium kematian, berteriak di hadapan kaum yang zalim dengan sangat bahagia: “Aku tidak akan berakhir pada kefanaan dan kemusnahan abadi. Namun, aku akan terbebas dari penjara dunia menuju kebahagiaan abadi. Akan tetapi, aku melihat kalian akan dihukum dengan kematian abadi lantaran menganggap kematian itu sebagai suatu kefanaan dan ketiadaan. Dengan demikian, dendamku telah terbalaskan.” Ia pun menyerahkan nyawanya dengan tenang seraya mengucap _lâ ilâha illallâh.”_
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻟﺎ ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨﺂ ﺍِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَﺎ ﺍﻧّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟﻌَﻠﻴﻢُ ﺍﻟﺤَﻜﻴﻢ

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 80-81
*Bukti Keberadaan Alam Akhirat*

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠّٰﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪ ﺣﻴﻦَ ﺗُﻤْﺴُﻮﻥَ ﻭَﺣﻴﻦَ ﺗُﺼْﺒِﺤُﻮﻥَ٭ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻓﻰِ ﺍﻟﺴَّﻤﻮﺍﺕِ ﻭَﺍْﻟﺎﺭْﺽِ ﻭَﻋَﺸِﻴًّﺎ ﻭَﺣﻴﻦَ ﺗُﻈْﻬِﺮُﻭﻥَ٭ ﻳُﺨﺮِﺝُ ﺍﻟﺤَﻰَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﻳُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﻤَﻴَّﺖَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻰِّ ﻭَﻳُﺤْﻴﻰِ ﺍﻟﺎﺭْﺽَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﻭَﻛَﺬﻟِﻚَ ﺗُﺨْﺮﺟﻮﻥَ ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﺍَﻥْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺗُﺮَﺍﺏٍ ﺛُﻢَّ ﺍِﺫَﺁ ﺍَﻧْﺘُﻢْ ﺑَﺸَﺮٌ ﺗَﻨْﺘَﺸِﺮُﻭﻥَ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪ ﺍَﻥْ ﺧَﻠَﻖَ ﻟَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺍَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﺍَﺯْﻭَﺍﺟًﺎ ﻟِﺘَﺴْﻜُﻨُﻮﺍ ﺍِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢْ ﻣَﻮَﺩَّﺓً ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔً ﺍِﻥَّ ﻓﻲ ﺫﻟِﻚَ ﻟﺎﻳﺎﺕٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮﻭﻥَ ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﺧَﻠْﻖُ ﺍﻟﺴَّﻤﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟﺎَﺭْﺽِ ﻭَﺍْﺧْﺘِﻠﺎﻑُ ﺍَﻟْﺴِﻨَﺘِﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟْﻮَﺍﻧِﻜُﻢْ ﺍِﻥَّ ﻓﻰ ﺫﻟِﻚَ ﻟﺎﻳَﺎﺕٍ ﻟِﻠْﻌَﺎﻟِﻤﻴﻦَ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻣَﻨَﺎﻣُﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟّﻴْﻞِ ﻭﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻭَﺍْﺑﺘﻐَﺂﺅُﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﻓـَﻀْﻠِﻪِ ﺍِﻥَّ ﻓﻰ ﺫﻟِﻚَ ﻟﺎَﻳَﺎﺕٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﺴْﻤَﻌُﻮﻥَ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪ ﻳُﺮﻳﻜُﻢُ ﺍْﻟﺒَﺮْﻕَ ﺧَﻮْﻓًﺎ ﻭَﻃَﻤَﻌًَﺎ ﻭَﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤﺂﺀِ ﻣَﺂﺀً ﻓَﻴُﺤْﻴﻰ ﺑِﻪِ ﺍْﻟﺎَﺭْﺽَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﻓﻰ ﺫﻟِﻚَ ﻟﺎﻳَﺎﺕٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ٭ ﻭَﻣﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﺍَﻥْ ﺗَﻘُﻮﻡَ ﺍﻟﺴَّﻤﺂﺀُ ﻭَﺍْﻟﺎَﺭﺽُ ﺑِﺎَﻣْـﺮِﻩ ﺛـُﻢَّ ﺍِﺫَﺍ ﺩَﻋـَﺎﻛـُﻢْ ﺩَﻋْـﻮَﺓً ﻣِﻦَ ﺍﻟﺎَﺭْﺽِ ﺍِﺫﺍ ﺍَﻧْﺘُـﻢْ ﺗَﺨﺮُﺟُﻮﻥَ٭ ﻭَﻟَﻪُ ﻣَﻦْ ﻓﻰِ ﺍﻟﺴَّﻤﻮﺍﺕِ ﻭَﺍْﻟﺎﺭْﺽِ ﻛُﻞٌّ ﻟَﻪُ ﻗَﺎﻧِﺘُﻮﻥَ٭ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬﻯ ﻳَﺒْﺪَﺅُﺍ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖَ ﺛُﻢَّ ﻳُﻌﻴﺪُﻩُ ﻭَﻫُﻮَ ﺍَﻫْﻮَﻥُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤﺜَﻞُ ﺍﻟﺎَﻋْﻠﻰ ﻓﻰِ ﺍﻟﺴَّﻤﻮﺍﺕِ ﻭَﺍﻟﺎﺭْﺽِ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰﻳﺰُ ﺍﻟﺤَﻜِﻴﻢُ.

_“Maka, bertasbihlah kepada Allah di waktu kalian memasuki petang dan subuh. Milik-Nyalah segala puji di langit dan di bumi serta di waktu kalian berada pada petang hari dan di waktu zuhur. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dia menghidupkan bumi sesudah matinya. Seperti itulah kalian akan dikeluarkan (dari kubur). Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan kalian dari tanah, kemudian tiba-tiba kalian (menjadi) manusia yang berkembang-biak. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang._

_Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi serta bahasa dan warna kulit kalian yang berbeda-beda. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidur kalian di waktu malam dan siang hari dan usaha kalian mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang mendengarkan._

_Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepada kalian kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang menggunakan akalnya. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kalian sekali panggil dari bumi, seketika itu kalian keluar (dari kubur). Kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semua hanya tunduk kepada-Nya._

_Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian menghidupkannya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Bagi-Nyalah sifat Yang Maha Tinggi di langit dan di bumi. Dialah yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana.”_

(QS. ar-Rûm[30]: 17-27).