Perpustakaan UIN IB
1.43K subscribers
83 photos
10 videos
82 files
167 links
Nomor Pokok Perpustakaan : 1371092D0000002
Download Telegram
*Membentengi Diri Dengan Pendidikan Qur'ani*

Karena itu, pemuda Muslim di masa yang sulit ini harus berusaha keras menyelamatkan kondisi yang ada. Mereka harus menghunus pedang berlian milik Risalah Nur ini dan menguasai berbagai argumentasi kuat yang terdapat dalam _risalah ats-Tsamarah_ (Buah Keimanan) dan _Mursyid asy-Syabab_ (Tuntunan Generasi Muda) dan sejenisnya. Mereka harus membela diri, menahan serangan hebat tersebut yang berasal dari dua arah. Jika tidak, maka masa depan pemuda dunia akan lenyap, kehidupan mereka yang bahagia akan menghilang, serta kesempatan untuk mendapat nikmat akhirat akan pudar. Semuanya akan berubah menjadi derita dan siksa.

Pasalnya, mereka akan mengisi sejumlah rumah sakit akibat tindakan mereka yang melampaui batas, akan menjadi penghuni penjara akibat penyimpangan yang dilakukan, serta akan menangis disertai sejumlah penyesalan di masa tua. Namun, ketika setiap pemuda menjaga dirinya dengan pendidikan al-Qur’an, serta memeliharanya dengan hakikat Risalah Nur, maka ia akan menjadi pemuda pahlawan, manusia sempurna, Muslim yang bahagia, serta pemimpin bagi seluruh makhluk. Ya, ketika seorang pemuda melewatkan satu jam saja dari dua puluh empat jam dalam satu hari di penjara dengan mengerjakan shalat lima waktu, bertobat dari dosa dan maksiat yang menjebloskannya ke dalam penjara, serta menghindari berbagai kejahatan, ia akan kembali dengan membawa sejumlah manfaat besar kepada kehidupannya.

Masa depannya, negaranya, bangsanya, dan karib kerabatnya, di samping akan menjadi pemuda abadi di surga yang penuh nikmat sebagai ganti dari kenikmatan dunia, yang tidak lebih dari lima belas tahun. Hakikat ini diberitakan dan diinformasikan dengan sangat meyakinkan oleh semua kitab suci samawi, terutama al-Qur’an al-Karim.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 38-39
*Mengubah Masa Muda Yang Fana Menjadi Abadi*

Ya, ketika seorang pemuda mensyukuri nikmat masa mudanya yang indah dengan bersikap istiqamah dan taat, masa muda tersebut akan bertambah, akan kekal abadi, serta akan menjadi lebih nikmat. Jika tidak, ia akan menjadi bencana dan musibah yang menyakitkan, serta dihiasi dengan kerisauan dan kesediahan yang menyulitkan sehingga hilang percuma. Akhirnya, masa muda hanya menjadi bencana bagi dirinya, karib kerabatnya, negara, dan bangsanya. Demikianlah. Setiap jam yang dilewati oleh para tahanan yang dihukum dengan zalim akan menjadi seperti ibadah satu hari penuh selama ia melaksanakan kewajiban.

Baginya, penjara laksana tempat uzlah dan mengucilkan diri dari manusia sebagaimana kaum zuhud dan _abid_ berdiam diri di gua-gua untuk fokus beribadah. Artinya, ia bisa menjadi seperti kaum zuhud yang saleh tersebut. Setiap jam yang ia lewati jika berada dalam kondisi fakir, sakit, lanjut usia, dan merindukan hakikat iman sama seperti ibadah selama dua puluh jam dengan syarat mengerjakan kewajiban dan bertobat. Baginya, penjara laksana sekolah pendidikan dan tempat menebarkan kasih sayang. Pasalnya, ia melewati hari-harinya bersama koleganya dalam keadaan lapang, di samping perasaan lapang dan tatapan penuh kasih dari banyak orang.

Bahkan, bisa jadi ia lebih senang berada di penjara dibanding bebas berkeliaran di luar, di mana dosa dan maksiat telah mengepung dari berbagai sisi. Ia merasa nyaman dengan pelajaran yang ada di penjara.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 39-40
*Mengubah Penjara Menjadi Madrasah Keimanan*

Ketika keluar dari penjara, ia pun keluar bukan sebagai sosok pembunuh atau sosok yang ingin melakukan balas dendam. Namun, ia keluar sebagai orang yang sudah bertobat dan telah banyak mendapat pengalaman hidup sehingga menjadi orang yang bermanfaat bagi bangsa dan negaranya. Bahkan, setelah menerima pelajaran iman tentang akhlak yang mulia dari Risalah Nur, sekelompok orang yang dahulu pernah bersama kami di penjara Denizli meskipun hanya sebentar, berkata: “Andaikan para tahanan mendapatkan pelajaran keimanan dari Risalah Nur selama lima belas pekan saja, hal itu pasti lebih bisa memperbaiki mereka dibanding harus dipenjara selama lima belas tahun.”

Selama kematian ada, lalu ajal terhijab oleh tirai kegaiban di mana ia bisa menjemput kita kapan saja, sementara pintu kubur tidak pernah tertutup, kemudian umat manusia memasukinya rombongan demi rombongan, dan kematian itu sendiri bagi kaum mukmin adalah tiket pembebasan dari eksekusi hukuman mati sebagaimana dijelaskan lewat hakikat qur’ani, namun bagi kaum sesat dan bodoh ia laksana hukum­an mati abadi seperti yang mereka saksikan di mana ia merupakan perpisahan abadi dengan seluruh kekasih dan bahkan seluruh entitas.

Maka sudah barang tentu manusia yang pa­ling bahagia adalah yang bersyukur kepada Tuhan seraya bersabar di dalam penjara, memanfaatkan waktu sebaik mungkin, mengabdikan diri kepada al-Qur’an dan iman, serta mengambil pelajaran dari Risalah Nur.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 49-41
*Iman Mewujudkan Kesempurnaan Hidup*

Wahai orang yang sedang diuji dengan kesenangan dan kenikmatan! Selama 75 tahun usia yang kujalani, dan dengan ribuan pengalaman yang kudapat sepanjang hidup serta dengan berbagai peristiwa yang terjadi padaku, aku menyadari penuh bahwa kenikmatan hakiki, kesenangan yang tak berhias derita, kegembiraan yang tidak disertai duka, dan kebahagiaan sempurna dalam hidup hanya terletak pada iman dan dalam wilayah hakikatnya. Tanpa iman, satu kesenangan duniawi mengandung banyak derita.

Kalaupun dunia memberimu kenikmatan seukuran biji anggur, ia akan menamparmu sepuluh kali seraya melenyapkan kenikmatan hidup yang ada. Wahai orang-orang malang yang mendekam di penjara! Selama dunia kalian menyedihkan, serta hidup kalian penuh dengan derita dan musibah, maka kerahkan seluruh potensi yang ada agar akhirat kalian tidak sengsara dan agar kehidupan abadi kalian bahagia. Manfaatkanlah kesempatan ini wahai saudaraku. Sebab, sebagaimana berjaga di perba­tasan musuh selama satu jam dalam kondisi sulit da­pat berubah menjadi satu tahun ibadah.

Maka setiap jam yang kalian jalani di penjara akan berubah menjadi sekian banyak jam selama kalian menunaikan ibadah. Ketika itulah beban derita dan kesulitan akan berubah menjadi rahmat dan ampunan.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 41-42;
*Cahaya Pelipur Lara*

ﺑِﺎﺳﻤِﻪِ ﺳُﺒﺤَﺎﻧَﻪُ
ﺍﻟﺴﻠﺎﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠّٰﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ ﺃﺑﺪﺍ ﺩﺍﺋﻤﺎ
Wahai saudara yang mulia dan setia! Aku melihat tiga cahaya pelipur lara. Hal itu akan kujelaskan dalam tiga poin kepada mereka yang sedang ditahan di penjara serta pihak-pihak yang mengawasi, menjaga, dan membantu mereka terkait dengan aktivitas dan urusan makan mereka.

*Poin Pertama*: Setiap hari yang dilalui di penjara bisa membuat seseorang mendapat pahala ibadah sepuluh hari, serta dapat mengubah jam-jamnya yang fana menjadi jam demi jam yang kekal abadi dari sisi buahnya. Bahkan, lima atau sepuluh tahun yang dilewatkan di penjara dapat menjadi sarana untuk selamat dari penjara abadi yang berlangsung selama jutaan tahun. Keuntungan besar tersebut dapat diraih oleh orang beriman dengan syarat menunaikan shalat fardhu, bertobat kepada Allah dari segala dosa dan maksiat yang membuatnya masuk ke penjara, serta senantiasa bersyukur kepada Allah diiringi sikap sabar. Selain keuntungan ini, penjara itu sendiri dapat menghalangi dirinya dari berbuat banyak dosa.

*Poin Kedua*: Hilangnya derita merupakan kenikmatan, sebagaimana hilangnya nikmat merupakan penderitaan. Ya, setiap orang yang mengenang hari-hari yang telah dilewati dengan kenikmatan dan kegembiraan akan bersedih dan menyesal hingga lisannya berkata, “Oh”. Sebaliknya, jika mengenang hari-hari yang dilalui dengan kesulitan dan musibah ia akan merasa senang dan gembira karena semua itu telah sirna sehingga lisannya berucap “alhamdulillah.” Berbagai ujian telah berlalu digantikan oleh pahalanya. Maka, dadanya lapang dan senang. Artinya, derita sesaat melahirkan kenikmatan maknawi dalam jiwa. Sebaliknya, kenikmatan sesaat melahirkan derita maknawi dalam jiwa.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 42-43
*Potensi Kesabaran Dapat Melenyapkan Segala Kesulitan Dan Kerisauan*

Jika demikian, apabila jam demi jam musibah yang telah berlalu bersama deritanya menjadi tiada, sementara hari demi hari musibah belumlah tiba sehingga ia juga terhitung tiada dan tak melahirkan derita, maka adalah sangat bodoh jika sekarang ini menampakkan sikap risau dan tidak sabar ter­hadap saat-saat musibah yang telah berlalu dan terhadap derita yang belum lagi tiba. Sebab, semuanya tergolong tiada. Juga sangat bodoh jika menampakkan sikap mengeluh kepada Allah dan tidak mengintrospeksi nafsu _ammârah_ yang penuh kekurangan. Setelah itu, menghabiskan waktu dalam duka dan penyesalan.

Bukankah orang melakukan hal tersebut lebih dungu dibanding orang yang terus makan dan minum sepanjang hari, karena takut lapar dan haus pada beberapa hari mendatang. Ya, jika manusia tidak menceraiberaikan kekuatan sabarnya ke masa lalu dan masa mendatang, lalu memusatkannya pada saat ini saja, hal itu sudah cukup untuk melenyapkan segala kerisauan dan kesulitan. Bahkan, aku utarakan—bukan dengan maksud mengeluh—bagaimana berbagai kesulitan materi dan maknawi yang pernah kulewati dalam “Madrasah Yusufiyah Ketiga” selama beberapa hari, yang tidak pernah terjadi sepanjang hidupku. Terutama ketika aku tidak bisa berdakwah akibat penyakit yang kuderita. Ketika kalbu dan jiwaku berada dalam kondisi yang sangat sulit dan putus asa, tiba-tiba pertolongan Ilahi datang membawa hakikat di atas.

Dadaku menjadi begitu lapang dan berbagai kesulitan itu pun menjadi hilang, sehingga aku rela menerima penderitaan penjara dan penyakit. Sebab, bagi orang yang sebentar lagi akan mati seperti diriku, niscaya mendapatkan keuntungan besar manakala setiap jam yang mungkin dilewatkan dalam kelalaian berubah menjadi sepuluh jam ibadah. Aku pun sangat bersyukur kepada Allah SWT.

*Poin Ketiga*: Tugas membantu para tahanan dengan penuh kasih sayang, memberi mereka makanan yang dibutuhkan, serta membalut luka maknawi mereka dengan balsam pelipur lara, meskipun tampak sederhana, namun sebenarnya berisi pahala yang sangat besar. Sebab, menyerahkan makanan yang dikirim untuk mereka dari luar terhitung sedekah.

Akan ditulis dalam lembaran catatan kebaikan semua orang yang melakukan tugas tersebut, entah mereka yang membawanya dari luar, penjaga, ataupun pengawas yang membantu mereka. Terutama jika tahanan tersebut sudah lanjut usia, sakit, jauh dari negerinya, serta miskin. Maka, pahala sedekah tersebut menjadi bertambah besar. Keuntungan besar ini tentu saja baru bisa didapat dengan melaksanakan berbagai kewajiban seperti shalat agar pengabdian di atas terwujud karena Allah. Syarat lainnya adalah harus diiringi dengan cinta dan kasih sayang tanpa pamrih apa-apa.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 44-45
*Sebuah Hakikat Penting*

ﺑِﺎﺳﻤِﻪِ ﺳُﺒﺤَﺎﻧَﻪُ
ﻭَﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲﺀٍ ﺍِﻟَّﺎ ﻳُﺴَﺒِـّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩِ
ﺍﻟﺴﻠﺎﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠّٰﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ ﺃﺑﺪﺍ ﺩﺍﺋﻤﺎ.

Wahai saudara seagama dan teman-teman sependeritaan (di penjara)! Terlintas keinginan dalam diriku untuk menjelaskan sebuah hakikat penting yang dengan izin Allah dapat menyelamatkan kalian dari siksa dunia dan akhirat. Aku akan menjelaskannya dengan sebuah perumpamaan sebagai berikut: Seseorang telah membunuh orang lain atau salah satu teman karibnya. Pembunuhan yang terjadi karena motif balas de­ndam yang tidak lebih dari satu menit itu telah mengakibatkan kesempitan hati dan penderitaan di dalam penjara selama jutaan menit.

Pada waktu yang sama, karib kerabat pihak yang terbunuh juga selalu risau dan menunggu kesempatan untuk bisa membalas perbuatan di atas setiap kali mengingat si pembunuh. Akibatnya, mereka tidak lagi menikmati hidup yang ada, karena tersiksa oleh perasaan takut, risau, dengki, dan marah. Hal tersebut hanya dapat diobati dengan berdamai dan hidup rukun antara keduanya. Itulah yang diajarkan oleh alQur’an al-Karim dan diserukan oleh hakikat kebenaran. Di dalamnya terdapat kemaslahatan terhadap kedua pihak. Itu pula yang dituntut oleh nilai kemanusiaan dan diperintahkan oleh ajaran Islam.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 46
*Kemaslahatan Dan Kebenaran Terletak Pada Perdamaian*

Ya, kemaslahatan dan kebenaran terletak pada perdamaian. Sebab, ajal hanya satu dan tidak akan pernah berubah. Pihak yang terbunuh, bagaimanapun tidak akan tetap hidup selama ajalnya telah tiba. Adapun si pembunuh hanya menjadi sebab bagi datangnya ketentuan Ilahi di atas. Jika perdamaian tidak terwujud di antara mereka, keduanya akan terus dalam kondisi resah dan tersiksa karena ingin terus membalas. Karena itu, Islam menggariskan agar seorang Muslim tidak menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari. Jika pembunuhan tersebut tidak disebabkan oleh permusuhan dan kedengkian yang mendalam, di mana salah seorang munafik yang menyalakan api fitnah, maka hendaknya perdamaian segera dilakukan.

Sebab, jika tidak berdamai, bencana kecil itu akan membesar. Namun, jika kedua pihak berdamai, kemudian si pembunuh bertobat atas dosanya seraya mendoakan korban yang terbunuh, maka keduanya akan mendapatkan banyak hal. Cinta dan jalinan kasih antar keduanya akan tertanam sehingga yang satu akan mengampuni musuhnya sekaligus menjadikannya sebagai saudara yang taat dan setia sebagai ganti dari saudara mereka yang telah pergi. Kedua pihak menerima ketetapan dan ketentuan Allah. Terutama mereka yang telah menerima pelajaran Risalah Nur diseru untuk meninggalkan sesuatu yang dapat merusak hubungan antardua insan. Pasalnya, persaudaraan yang telah mengikat mereka dalam satu cahaya, kemaslahatan bersama, dan sikap lapang dada merupakan tuntutan iman.

Semua itu mengharuskan sikap menghapus perbedaan dan menciptakan keharmonisan. Hal ini benar-benar terwujud di antara para tahanan yang tadinya saling memusuhi dalam penjara Denizli. Berkat karunia Allah, setelah menerima sejumlah pelajaran dari Risalah Nur mereka menjadi bersaudara. Bahkan, mereka menjadi salah satu sebab yang membuat kami bebas sehingga kalangan yang bodoh tidak menemukan celah di hadapan sikap saling mencintai di atas. Mereka hanya bisa berkata, _“Mâsyâ’ Allâh_. Semoga Allah memberkahi!” Demikianlah, berkat karunia Allah, dada para tahanan menjadi lapang dan dapat bernapas lega.

Sebab, di sini aku melihat sejauh mana kezaliman yang menimpa para tahanan tersebut. Seratus dari mereka tertekan oleh tingkah satu orang. Bahkan, mereka tidak berani keluar bersamanya ke teras penjara di saat-saat istirahat. Bukankah Muslim yang baik dan memiliki hati nurani tidak akan membiarkan dirinya menyakiti mukmin yang lain. Apalagi sampai menyakiti hanya untuk kepentingan pribadi. Tentu, ia harus segera bertobat dan kembali kepada Allah segera ketika menyadari kesalahannya dan tindakannya yang menyakiti orang beriman.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 47-48
*Nasihat Untuk Para Tahanan*

ﺑِﺎﺳﻤِﻪِ ﺳُﺒﺤَﺎﻧَﻪُ
ﻭَﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲﺀٍ ﺍِﻟَّﺎ ﻳُﺴَﺒِـّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩِ
ﺍﻟﺴﻠﺎﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠّٰﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ ﺃﺑﺪﺍ ﺩﺍﺋﻤﺎ
Saudaraku para tahanan yang mulia, baik yang baru maupun yang lama! Aku sangat yakin bahwa pertolongan ilahilah yang telah melemparkanku ke tempat ini. Dan hal itu demi kalian. Yakni, kedatanganku ke sini hanyalah untuk menebarkan pelipur lara yang berasal dari Risalah Nur kepada kalian; untuk meringankan berbagai kesulitan kalian dalam penjara lewat hakikat iman; untuk melindungi kalian dari banyak musibah dunia; untuk menghapus kehidupan kalian yang penuh dengan duka yang tanpa guna; serta untuk menyelamatkan akhi­rat kalian agar jangan lara seperti saat di dunia.

Jika demikian hakikatnya, kalian harus menjadi saudara yang saling mencintai sebagaimana murid-murid Nur dan para tahanan di penjara Denizli. Kalian melihat para penjaga yang sangat tekun melayani kalian menghadapi banyak kesulitan dalam melakukan pengawasan. Bahkan, mereka memeriksa makanan kalian agar jangan sampai berisi senjata tajam sehingga kalian tidak saling melukai. Seakan-akan kalian seperti binatang buas yang saling memangsa. Kalian juga tidak menggunakan kesempatan yang diberikan untuk saling memaafkan dan berlapang dada. Maka, katakanlah bersama dengan mereka yang baru masuk penjara yang masih membawa semangat heroik seperti kalian.

Katakanlah sekarang di hadapan para penjaga tersebut dengan heroisme maknawi yang agung: “Tidak hanya senjata tajam yang sederhana. Kalaupun kalian menyerahkan senjata api kepada kami, kami tidak akan menyerang teman-teman dan sahabat kami. Meskipun sebelumnya ada permusuhan tajam di antara kami. Inilah keputus­an yang telah kami ambil sesuai petunjuk al-Qur’an, sesuai perintah ukhuwah islamiyah, dan sesuai dengan kemaslahatan bersama.” Dengan cara ini kalian mengubah penjara ini menjadi madrasah yang penuh berkah.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 49-50
*Persoalan Penting Yang Terlintas Pada _Laylatul Qadr_*

Hakikat ini sangat luas dan panjang di mana ia terlintas dalam benak pada saat _laylatul qadr_. Aku akan berusaha menjelaskannya secara singkat sebagai berikut:
*Pertama*: Umat manusia sangat menderita akibat bencana perang dunia terakhir. Mereka merasakan berbagai bentuk kezaliman yang paling hebat serta beragam bentuk despotisme disertai kehancuran di seluruh penjuru bumi. Ratusan orang baik menjadi korban kejahatan satu orang. Pihak yang kalah berada dalam kondisi duka dan keputusasaan. Sementara pihak yang menang merasa tersiksa karena tidak mampu memperbaiki kehancuran yang demikian parah disertai perasaan khawatir tidak mampu menjaga kekuasaan mereka.

Akhirnya, tampak dengan jelas di hadapan manusia bagaimana kehidupan dunia bersifat fana dan seluruh pernak-pernik peradaban hanya menipu. Umat manusia dilumuri oleh darah pengkhianatan yang menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan dan potensi mulia yang terdapat dalam fitrahnya. Tampak pula oleh mata hancurnya kelalaian, kesesatan, dan hukum kausalitas yang buta di bawah terjangan pedang al-Qur’an yang bersinar. Tersingkap pula wajah asli politik dunia yang cacat dan menipu di mana ia merupakan tirai paling tebal yang melenakan dan menyesatkan manusia.

Tentu saja, setelah semuanya menjadi jelas, fitrah manusia akan mencari kekasihnya yang “hakiki”, yaitu kehidupan abadi. Dengan segala potensi yang dimiliki, manusia berusaha untuk mendapatkannya. Tanda-tandanya sudah mulai tampak di utara, barat, maupun di Amerika. Ia akan mengetahui bahwa kehidupan yang ia cintai merupakan kekasih “majasi” yang buruk dan fana.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 51-52
*Al-Qur’an Merupakan Rujukan Yang Komprehensif*

Umat manusia pasti akan mencari al-Qur’an al-Karim yang pada setiap masa memiliki 350 juta para pengamal yang sudah menikmatinya sejak 1360 tahun yang lalu, di mana seluruh hukum dan pernyataannya dibenarkan oleh jutaan ahli hakikat, kedudukan sucinya pada setiap menit terpelihara dalam kalbu jutaan penghafal, serta membimbing umat manusia lewat lisan mereka dan memberikan kabar gembira lewat gaya bahasanya yang menakjubkan tentang kehidupan abadi dan kebahagiaan yang kekal. Ia membalut luka umat manusia yang menganga. Bahkan, hal ini diinformasikan lewat ribuan ayatnya yang sangat kuat dan berulang-ulang.

Lebih dari itu, secara langsung ataupun tidak langsung ia disampaikan dengan puluhan ribu kali seraya diperkuat berbagai dalil yang kukuh dan argumen yang cemerlang. Jika umat manusia tidak kehilangan akal, maka mereka pasti akan mencari al-Qur’an al-Karim yang menakjubkan, sebagaimana terjadi di sejumlah benua dan negara-negara besar. Dan telah terbukti di Swedia, Norwegia, dan Finlandia. Para orator terkenal dari Inggris juga berusaha menerimanya serta organisasi pencari kebenaran yang sangat berpengaruh di Amerika melakukan hal yang sama. Setelah menerima berbagai hakikatnya, mereka pasti akan berpegang dan berhimpun di sekitarnya secara total.

Sebab, tidak ada dan tidak akan pernah ada yang dapat menandingi al-Qur’an dalam menyelesaikan persoalan, serta tidak ada yang dapat menggantikan mukjizat terbesar ini sama sekali.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 52-53
*Pengabdian Risalah Nur Dalam Kaitannya Dengan Kemukjizatan Al-Qur’an*

*Kedua*: Risalah Nur telah memperlihatkan pengabdiannya laksana pedang berlian yang tajam di tangan mukjizat terbesar ini sehingga mampu membungkam musuh yang keras kepala dan membuat mereka menyerah. Ia menunaikan tugasnya di hadapan khazanah al-Qur’an sebagai mukjizat yang cemerlang di mana berhasil menyinari kalbu, roh, dan perasaan seraya mengobati semuanya dengan ampuh. Hal ini tidak aneh karena misi Risalah Nur mengajak kepada al-Qur’an, hanya bersumber dari limpahannya, serta hanya merujuk kepadanya.

Karena telah menunaikan perannya dengan sangat baik, maka pada saat yang sama ia berhasil mengalahkan berbagai propaganda musuh yang tendensius dan zalim. Ia berhasil membungkam kaum zindik yang paling menentang. Ia berhasil menghancurkan benteng paling kuat yang melindungi kesesatan, yaitu “filsafat materialisme” lewat “Risalah Thabî’ah”. Ia juga menghapus kealpaan dan memperlihatkan cahaya tauhid di area sains modern yang paling luas dan kegelapan yang paling pekat lewat persoalan keenam dari _risalah ats-tsamarah_ (buah keimanan), serta lewat argumen pertama, kedua, ketiga, dan kedelapan dari risalah “Tongkat Musa”.

Dari sini, sangat penting bagi kita, dan lebih penting lagi bagi umat, agar para murid Nur—dalam batas kemampuan yang dimiliki—untuk membuka sejumlah _dershane_ kecil di setiap tempat. Apalagi saat ini negara memberikan izin untuk pendidikan agama.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 53-54
*Risalah Nur Dan Peran Yang Diembannya*

Benar bahwa setiap pembaca Risalah Nur bisa mendapatkan manfaat untuk dirinya. Hanya saja ia tidak mampu menyerap setiap persoalan yang terdapat di dalamnya. Hal itu karena Risalah Nur merupakan penjelasan terhadap berbagai hakikat iman. Ia merupakan pelajaran ilmiah, makrifat ilahiah, sekaligus merupakan bentuk ibadah kepada Allah. Berbagai hasil yang dapat dicapai di sekolah-sekolah agama selama lima atau sepuluh tahun, dengan izin Allah dapat dicapai di dershane selama lima atau sepuluh pekan.

Bahkan alhamdulillah, selama dua puluh tahun ini hasil tersebut telah terbukti. Kemudian, manfaat Risalah Nur yang menyerukan al-Qur’an—di mana ia merupakan kilau dari cahayanya yang cemerlang bagi kehidupan umat dan keamanan negara, bahkan bagi kehidupan politiknya, di samping bagi kehidupan ukhrawinya—telah diakui banyak pihak. Karena itu, semestinya pemerintah tidak bersikap buruk kepadanya. Namun, seharusnya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyebarkannya seraya mendorong masyarakat untuk membacanya.

Hal itu agar aktivitas tersebut menjadi penebus dari berbagai kejahatan yang telah dilakukan sebelumnya sekaligus sebagai penghalang bagi terjadinya berbagai bencana, musibah, anarki, dan teror.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 54-55
*Renungan Terhadap Kerentaan yang Dianggap Menyedihkan*

Ketika kegembiraan dan senyuman “Said lama” berubah menjadi kesedihan dan tangisan “Said Baru”, yaitu tepatnya ketika hendak memasuki usia senja, pihak penguasa di Ankara mengundangku karena mereka mengira aku masih “Said lama”. Aku pun memenuhi undangan itu. Namun, di suatu hari pada akhir musim gugur, aku naik ke puncak benteng Ankara yang jauh lebih tua dan lebih renta dariku. Benteng tua itu tampak di hadapanku seolah-olah ia merupakan rangkaian peristiwa bersejarah yang menjadi batu. Aku pun sangat sedih dengan rentanya tahun di musim gugur, dengan kerentaanku sendiri, kerentaan benteng itu, kerentaan umat manusia, kerentaan Daulah Usmaniyah, dengan wafat­nya kekhalifahan, serta dengan kerentaan dunia.

Kondisi tersebut memaksaku untuk mengarahkan pandangan dari puncak benteng tinggi itu ke lembah masa lalu dan bukit masa depan, untuk mencari cahaya, harapan, dan pelipur lara yang bisa menerangi kegelapan yang sedang menyelimuti jiwaku saat ia larut di malam kerentaan yang berantai. Ketika aku menoleh ke sebelah kanan yang merupakan “masa lalu” seraya mencari cahaya dan harapan, ia tampak dari kejauhan dalam bentuk pekuburan besar berisi jenazah ayahku, nenek moyangku, dan umat manusia. Maka, segera saja ia membuatku lara. Lalu aku menoleh ke sebelah kiri yang merupakan “masa depan” seraya mencari obatnya. Ia pun seperti makam besar yang gelap berisi jenazahku, jenazah generasiku dan jenazah generasi mendatang. Hal itu membuatku sedih dan sakit.

Kemudian aku menoleh ke masa sekarang, di saat hatiku telah penuh dengan kesedihan dan kepiluan. Maka ia tampak dalam pandanganku yang sedang lara seperti keranda bagi jenazah tubuhku yang sedang menggelepar-gelepar seperti sembelihan yang berada dalam kondisi hidup dan mati.

Bersambung . . .

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 57-58
*Iman Adalah Pelipur Lara*

Manakala aku juga putus asa dengan arah ini, kuangkat kepalaku dan kulihat dari puncak pohon umurku satu buah yang sedang menatapku. Ia tidak lain jenazahku. Lalu kutundukkan kepalaku untuk melihat akar pohon umurku. Di sana aku menyadari bahwa tanah yang ada di dalamnya tidak lain berupa tulang belulangku yang telah hancur dan tulang awal penciptaanku. Keduanya bercampur dan telah diinjak oleh berbagai kaki. Hal itu tentu saja menambah sakitku tanpa pernah memberikan obatnya. Selanjutnya, dengan terpaksa aku mengalihkan pandanganku ke belakang. Kusaksikan bahwa dunia yang fana ini bergulir dalam lembah kehancuran dan gelapnya kefanaan.

Alih-alih memberikan obat dan kesembuhan, pandangan ini malah menuangkan racun ke atas luka-lukaku. Ketika tidak ada kebaikan dan harapan yang ditemukan di arah tersebut, kupalingkan wajahku ke depan dan kuarahkan pandanganku ke tempat yang jauh. Ketika itu kusaksikan kuburan di hadapanku sedang menungguku di tengah jalan dengan mulut yang kosong dan terus mengawasiku. Di belakangnya terdapat jalan yang terbentang hingga masa keabadian. Dari kejauhan, tampak pula berbagai rombongan umat manusia sedang berjalan di atas jalan tersebut. Tidak ada yang bisa kujadikan sebagai sandaran dalam menghadapi aneka macam musibah yang menimpaku dari enam arah tadi, kecuali mengandalkan _irâdah juz’iyah_ (kehendak parsial).

Jadi, dalam menghadapi berbagai musuh dan ancaman yang tak terkira banyaknya aku hanya memiliki senjata manusiawi satu-satunya, yaitu ikhtiar. Namun, karena senjata itu sangat terbatas, sangat lemah, tak mempunyai kekuatan untuk mewujudkan sesuatu kecuali hanya usaha semata, di mana ia tak mampu kembali ke masa lalu untuk melenyapkan dan menghentikan segala kesedihan. Di samping juga tak mampu melanglang buana ke masa depan untuk bisa menghadang kerisauan dan ketakutan yang muncul darinya, maka aku melihat bahwa ikhtiar tersebut sama sekali tak berguna untuk menghadapi berbagai penderitaan masa lalu dan impian masa mendatang.

Pada saat aku berada dalam kondisi gelisah menghadapi enam arah yang mencampakkanku dalam kesepian, kema­langan, keputusasaan, dan kegelapan, tiba-tiba cahaya iman yang memancar dari al-Qur’an _al-Mu’jizul-bayân_ menyelamatkanku dan menerangi enam arah tadi dengan sinar yang sangat terang. Seandainya aku dikepung 100 kali lipat kegelapan, niscaya cahaya tadi mampu mengalahkannya. Seketika itu, cahaya-cahaya tadi mengubah rangkaian kegelapan yang panjang menjadi pelipur lara dan harapan. Selain itu, ia mengubah segala kerisauan menjadi kelapangan dan optimisme.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 58-60
*Urgensi Iman Dalam Menatap Masa Depan Dan Masa Lalu*

Ya, keimanan telah melenyapkan gambaran masa lalu yang menyeramkan, yang seolah-olah seperti kuburan besar, menjadi sebuah majelis terang yang lapang dan tempat bertemunya para kekasih. Ia tampakkan hal itu lewat _‘ainul yaqîn_ dan _haqqul yaqîn_. Kemudian, keimanan tadi memperlihatkan dengan _‘ilmul yaqîn_ bahwa masa depan yang tadinya dengan tatapan kelalaian tampak seperti kuburan besar ternyata merupakan majelis jamuan Tuhan yang dipersiapkan di istana kebahagiaan yang kekal.

Keimanan tersebut juga menghancurkan gambaran keranda jenazah masa sekarang yang tampak demikian menurut tatapan kelalaian dan memperlihatkannya sebagai tempat bisnis ukhrawi dan tempat jamuan ilahi yang menakjubkan. Selanjutnya, keimanan tadi menampakkan kepadaku dengan _‘ilmul yaqîn_ bahwa buah satu-satunya yang terdapat di atas pohon umur dalam bentuk keranda dan jenazah seperti terlihat lewat tatapan kelalaian sebenarnya tidak demikian. Tetapi, ia merupakan perpindahan jiwa—sebagai unsur yang layak kekal di kehidupan abadi serta unsur yang akan meraih kebahagiaan abadi—dari sangkar lamanya menuju cakrawala bintang-gemintang untuk melancong.

Keimanan berikut segala rahasianya juga menjelaskan bahwa tulang-belulang dan tanah awal penciptaanku bukan tulang yang hina dan musnah di bawah injakan kaki manusia. Tetapi, ia adalah tanah pintu rahmat dan tirai tenda surga. Berkat karunia rahasia al-Qur’an, keimanan itu memperlihatkan kepadaku bahwa berbagai kondisi dunia yang jatuh ke dalam gelapnya ketiadaan menurut tatapan kelalaian, sebenarnya tidak demikian.

Tetapi, ia merupakan salah satu jenis risalah Tuhan dan lembaran goresan nama-nama-Nya yang suci yang telah menyelesaikan tugas, memberikan makna, dan meninggalkan hasilnya di alam wujud. Dengan begitu, keimanan tersebut memberitahukan esensi dunia kepadaku dengan _‘ilmul yaqîn_.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 60-61
*Iman Merupakan Sandaran yang Kuat Bagi Manusia*

Lewat cahaya al-Qur’an, keimanan itu pun menjelaskan bahwa kubur yang menantikanku sebenarnya bukan lubang sumur. Tetapi, ia merupakan pintu menuju alam cahaya. Jalan menuju keabadian itu bukanlah jalan yang berakhir pada kegelapan dan kemusnahan. Tetapi, ia adalah jalan yang benar untuk sampai ke alam cahaya, alam wujud, dan alam kebahagiaan abadi. Demikianlah, kondisi-kondisi ini justru menjadi obat dan balsam penyembuh bagi penyakitku yang tampak sangat jelas hingga membuatku sangat puas.

Selain itu, keimanan tadi juga menganugerahkan kepada ikhtiar yang terbatas tadi sebuah pegangan yang bisa dijadikan sandaran untuk sampai kepada kekuasaan-Nya yang mutlak dan kepada rahmat-Nya yang luas guna melawan beragam musuh dan aneka macam kegelapan. Selanjutnya sebuah ikhtiar yang menjadi senjata manusia, meskipun cacat, lemah, dan terbatas, namun jika dipergunakan atas nama Allah dan di jalan-Nya bisa mengantarkan manusia untuk meraih surga abadi seluas lima ratus tahun perjalanan. Dalam hal ini, seorang mukmin sama dengan keadaan seorang prajurit.

Apabila kekuatannya yang terbatas itu dipakai atas nama negara, dengan mudah ia bisa melaksanakan berbagai pekerjaan yang seribu kali lipat lebih besar dibanding kekuatan aslinya. Sebagaimana keimanan memberikan kepada ikhtiar kita sebuah pegangan, ia juga melepaskan kendalinya dari genggaman jasad yang tidak bisa menembus masa lalu dan masa depan untuk kemudian diserahkan kepada kalbu dan roh. Lalu, karena wilayah kehidupan roh dan kalbu tidak terbatas pada masa sekarang seperti yang terjadi pada jasad, tetapi ia bisa menembus masa lalu dan masa depan, maka posisi ikhtiar tersebut berubah dari yang tadinya parsial (_juz’i_) menjadi universal (_kulli_).

Kemudian, sebagaimana dengan kekuatan iman, ikhtiar tersebut bisa masuk ke relung-relung masa lalu dengan melenyapkan gelapnya kesedihan, lewat cahaya iman ia juga bisa naik menuju ke ketinggian masa depan dengan menghapus segala kerisauan dan kecemasan. Wahai saudara dan saudari lansia yang menderita sepertiku akibat penatnya masa tua! Selama kita termasuk kaum beriman di mana keimanan merupakan khazanah kekayaan yang manis, bersinar, nikmat, dan dicintai, maka kerentaan itu akan mengantarkan kita menuju khazanah kekayaan itu.

Oleh karenanya, kita tidak boleh mengeluhkan usia renta yang dijalani dengan keimanan, melainkan kita harus banyak bersyukur dan memuji Allah SWT.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 61-62
*Kesadaran Hati*

Ketika sebagian rambutku sudah mulai memutih yang menjadi pertanda tuanya seseorang, serta kedahsyatan Perang Dunia Pertama dan penawanan Bangsa Rusia yang memberikan dampak kuat dalam hidup ini membuatku bertambah lalai. Kondisi itu diperparah saat aku kembali dari penawanan ke kota Istanbul di mana, baik Khalifah, _Syaikhul-Islam_, panglima, maupun para pelajar agama memberikan sambutan yang menakjubkan sekaligus penghormatan yang berlebihan. Semua itu mencampakkanku dalam kondisi rohani yang buruk di samping kelalaian masa muda.

Pada waktu yang sama aku menjadi lebih tertidur lelap sampai-sampai aku berpikir bahwa dunia ini kekal abadi. Kusadari diriku berada dalam kondisi yang sangat terikat dengan dunia seolah-olah tidak akan mati. Pada waktu itulah aku pergi ke Masjid Jami Bayazid di Istanbul, yaitu bertepatan pada Bulan Ramadhan yang penuh berkah, untuk mendengarkan bacaan al-Qur’an dari para penghafal yang ikhlas. Dari mulut mereka aku mendengar informasi al-Qur’an yang begitu kuat di seputar kematian dan fananya manusia berikut wafatnya seluruh makhluk bernyawa.

Bunyi ayat tersebut adalah
ﻛُﻞُّ ﻧَﻔْﺲٍ ﺫَﺁﺋِﻘَﺔُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ
_“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian”_ (QS. Âli ‘Imrân [3]: 185). Informasi tersebut masuk ke dalam lubang telingaku menembus dan merobek berbagai tingkatan kelalaian dan kealpaan yang sangat tebal hingga jatuh di relung-relung qalbuku yang paling dalam. Kemudian, aku keluar dari masjid Jami tersebut, kuperhatikan diriku selama beberapa hari seolah-olah angin topan berpusar di kepalaku sebagai akibat dari pengaruh tidur panjang yang sejak lama menyertaiku.

Kusaksikan diriku seolah-olah seperti perahu yang terombang-ambing di tengah gelombang lautan. Diriku menyala oleh api yang memiliki asap tebal. Setiap kali aku melihat cermin, uban-ubanku berkata padaku, “Waspadalah!”

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 63-64
*Setiap Jiwa Pasti akan Merasakan Kematian*

Ya, berbagai hal tampak jelas bagiku dengan munculnya uban-uban itu dan dengan peringatan yang ia berikan padaku. Aku menyaksikan bahwa masa muda yang sangat kubanggakan dan terlena dengan kenikmatannya mengucapkan, “Selamat tinggal!” Kehidupan dunia yang sangat kucintai mulai redup sedikit demi sedikit. Dunia yang begitu dekat denganku dan sangat kusenangi mengucapkan, “Selamat tinggal, bersiap-siaplah untuk pergi” seraya mengingatkan bahwa aku akan pergi dari tempat jamuan ini dan bahwa aku akan me­ninggalkannya dalam waktu dekat.

Seketika itu pula terbukalah kalbuku untuk menerima dan memahami ayat yang berbunyi:
ﻛُﻞُّ ﻧَﻔْﺲٍ ﺫَﺁﺋِﻘَﺔُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ
_“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.”_ Makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa umat manusia ibarat sebuah jiwa. Ia pasti akan mati untuk kemudian dibangkitkan kembali. Demikian pula dengan bola bumi. Ia ibarat sebuah jiwa yang juga akan mengalami kematian dan kemusnahan untuk kemudian mengambil bentuk yang kekal abadi. Dunia pun merupakan sebuah jiwa. Ia akan mati dan lenyap untuk kemudian berwujud dalam bentuk akhirat. Dari situ, kurenungkan diriku sendiri. Kusadari bahwa masa muda yang penuh dengan kesenangan telah pergi.

Ia meninggalkan tempatnya untuk ditempati oleh masa tua yang penuh dengan kesedihan. Kehidupan yang terang dan cemerlang telah pergi untuk digantikan oleh kematian yang secara lahiriah tampak gelap dan menakutkan.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 64-65
*📚 Promo Tahun Baru 2025: Diskon Spesial Risalah Nur! 🎉*

Sambut tahun baru dengan kebijaksanaan dan inspirasi dari karya luar biasa *”Risalah Nur”*!
Nikmati diskon *hingga 40%* untuk berbagai koleksi buku pilihan.

*📅 Periode Promo:*
🗓 *28 Desember 2024 - 05 Januari 2025*

Jangan lewatkan kesempatan ini untuk memperkaya wawasan dan menambah koleksi bacaan berkualitas di tahun barumu!

*📌 Kunjungi sekarang:*
Toko buku atau situs resmi kami untuk menikmati penawaran spesial ini.
Toko Buku: https://maps.app.goo.gl/JRH5tjMLN7xcPjCw5
Olshop: https://linktr.ee/risalahnurpress
WA: 0851-0074-9255

Selamat Tahun Baru 2025! 🎆
*Jernihkan hati, Cerahkan akal*
#RisalahNur #PromoTahunBaru #DiskonBuku
*Al-Qur'an Merupakan Pelipur Lara Atas Kelalaian Yang Bersumber Dari Cinta Dunia*

Kuperhatikan dunia sebagai tempat yang menyenangkan, manis, mengasyikkan, dan dikira kekal, ternyata berlalu dengan cepatnya menuju kefanaan. Agar terlena dalam kelalaian dan guna menipu diri, kupalingkan perhatianku pada nikmatnya kedudukan dan posisi sosial yang kudapatkan di Istanbul yang mana di sana aku mendapatkan penghormatan dan penghargaan yang luar biasa. Kusadari bahwa semua itu hanya menyertaiku sampai ke pintu kubur yang sebentar lagi tiba. Di situ segalanya akan padam. Kusadari pula bahwa riya, egoisme, dan kelalaian yang bersifat sementara telah bersembunyi di balik tirai yang berhiaskan reputasi dan popularitas.

Itulah tujuan dari orang-orang yang ingin terkenal. Aku mengerti bahwa semua hal yang telah menipuku hingga saat ini takkan pernah bisa membuatku terhibur. Aku sama sekali tak menemukan cahaya di dalamnya. Agar kembali terbangun dan tersadar dari kelalaian, Aku pun mulai menyimak bacaan para penghafal al-Qur’an yang berada di Masjid Jami Bayazid untuk menerima pelajaran dari kitab suci. Saat itulah aku mendengar kabar gembira dari petunjuk langit yang bersumber dari perintah suci Tuhan di mana Allah berfirman:
. . .ﻭﺑَﺸِّﺮ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ
_“Sampaikan kabar gembira kepada orang-orang beriman...”_
(QS. al-Baqarah [2]: 25).

Lewat limpahan karunia yang berasal dari al-Qur’an, aku pun mencari pelipur lara, harapan, dan cahaya diseputar hal-hal yang membingungkan serta membuatku sedih dan putus asa, tanpa mencari dari yang lain. Maka, kuucapkan ribuan syukur kepada Tuhan Sang Maha Pencipta yang telah memberikan taufik kepadaku untuk menemukan obat pada penyakit itu sendiri, untuk melihat cahaya pada kegelapan itu sendiri, dan merasa terhibur dalam penderitaan itu sendiri.

Badiuzzaman Said Nursi, *Tuntunan Generasi Muda*, hlm. 65-66