Perpustakaan UIN IB
1.43K subscribers
83 photos
10 videos
82 files
167 links
Nomor Pokok Perpustakaan : 1371092D0000002
Download Telegram
*Seluruh Kerajaan Alam Ini Beserta Isinya Merupakan Milik Allah*

*Frasa Keempat: (ﻟَﻪُﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ)*

Yakni, seluruh kerajaan adalah miliknya tanpa kecuali. Engkau juga milik-Nya. Di samping merupakan hamba-Nya, Engkau pun pekerja dalam kerajaan-Nya. Frasa ini mengandung harapan dan mendatangkan kabar gembira. Ia menegaskan: Wahai manusia, jangan mengira engkau pemilik dirimu. Tidak. Pasalnya, engkau tidak mampu mengurus dirimu sendiri. Hal itu merupakan beban yang berat. Engkau tidak mampu menjaganya agar terbebas dari berbagai ujian dan musibah, serta tidak mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhan hidupmu. Karena itu, jangan menyengsarakan dirimu sendiri dengan sia-sia sehingga menjadi gelisah dan risau tanpa guna.

Kerajaan ini bukan milikmu; tetapi milik selainmu. Pemiliknya Mahakuasa. Dia juga Maha Penyayang. Maka, bersandarlah pada qudrah-Nya. Jangan pernah meragukan rahmat-Nya. Tinggalkan yang keruh, ambil yang jernih! Buanglah kesulitan dan sesuatu yang menyesakkan. Lalu ambillah nafas dalam-dalam! Raih kelapangan dan kebahagiaan! Ia juga menegaskan bahwa dunia ini yang secara maknawi kau inginkan dan kau cintai, yang membuatmu sakit dan risau karena derita di dalamnya, serta tak mampu kau perbaiki, semuanya adalah kerajaan milik Sang Mahakuasa Yang Maha Penyayang.

Karena itu, serahkan kerajaan ini pada-Nya. Biarkan Dia yang menanganinya. Bergembiralah dengan segala kesenangan dan kelapangannya tanpa mau dikeruhkan oleh penderitaan dan kesulitan yang ada. Tuhan Mahabijak dan Maha Penyayang. Dia bertindak di kerajaan-Nya terserah kehendak-Nya sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya. Jika engkau merasa takut, pandanglah dari jendela lalu ucapkan seperti yang diucapkan oleh penyair Ibrahim Haqqi:
ﻟﻨﺮَ ﺍﻟﻤﻮﻟﻰ ﻣﺎﺫﺍ ﻳﻔﻌﻞُ‌
ﻓﻤﺎ ﻳﻔﻌﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﺄﺟﻤﻞ.‌
_Mari kita melihat apa yang Tuhan lakukan Yang Dia lakukan pastilah yang paling indah._

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 57-58
Assalamu alaikum wr.wb,
Mhn hadiri *Kajian Online Risalah Nur*

Tema: *Kemukjizatan al-Qur’an dalam Mukjizat Para Nabi*

Narasumber: *Ustadz Ahmad Zaky Mubarak, S.H. (Mahasiswa Magister PKU Masjid İstiqlal)*

Waktu: Ahad, 26 Oktober 2025
Pukul: 20.00 wib-selesai

Untuk bergabung ke kajian di Google Meet, klik link ini
https://meet.google.com/fvy-cbmu-hzz

Atau buka Meet lalu masukkan kode ini: fvy-cbmu-hzz
Forwarded from Bu Zulfitri Fitri
Assalamu alaikum wr.wb,
Mohon hadiri *Kajian Online Risalah Nur*

Tema: *Frugal Living Perspektif Said Nursi*

Narasumber: *Ustadz Torong Ma'ruf, S.Th.I (Sekretaris Yayasan Nur Semesta)*

Waktu: *Ahad, 01 Maret 2026*
Pukul: *16.00 WIB/17.00 WITA - Selesai*

Untuk gabung kajian Google Meet, silakan masuk link:
https://meet.google.com/kps-oxap-wsk

Or open Meet and enter this code: kps-oxap-wsk
*Hanya Allah Semata Yang Pantas Menerima Sanjungan dan Pujian*

*Frasa Kelima: (وَ لَهُ الْحَمْدُ)*

Yakni, segala sanjungan, pujian, dan karunia adalah milik-Nya semata dan hanya pantas untuk-Nya. Sebab, semua karunia dan nikmat berasal dari-Nya. Ia bersumber dari khazanah kekayaan-Nya yang luas. Sementara khazanah kekayaan-Nya tak pernah habis. Begitulah frasa di atas memberikan kabar gembira yang halus dan indah. Ia menegaskan: Wahai manusia, jangan merasa sakit dengan hilangnya nikmat. Sebab, khazanah rahmat-Nya tak pernah habis. Jangan meradang dengan lenyapnya karunia, karena ia tidak lain merupakan buah rahmat-Nya yang luas tak terhingga. Buah akan terus datang secara silih berganti selama pohonnya tetap ada.

Ketahuilah wahai manusia bahwa engkau mampu menjadikan manisnya nikmat seratus kali lebih banyak dari yang ada. Yaitu dengan melihat curahan rahmat dan pemberian karunia-Nya yang tertuju padamu. Hal itu terwujud dengan bersyukur dan memuji-Nya. Sebab, sebagaimana ketika seorang penguasa besar memberikan hadiah kepadamu—apel misalnya—maka hadiah tersebut berisi nikmat yang berkali-kali lebih nikmat dibandingkan lezatnya apel itu sendiri. Yaitu nikmat adanya perhatian dari sang penguasa yang dibungkus dengan kebaikan dan karunia nya.

Begitu pula dengan frasa وَ لَهُ الْحَمْدُ . Ia membukakan untukmu pintu yang luas yang mengalirkan kenikmatan maknawi murni di mana ia jauh lebih nikmat daripada nikmat itu sendiri. Hal itu terwujud dengan pujian dan syukur pada-Nya. Yakni, dengan merasakan karunia-Nya lewat nikmat yang Dia berikan. Yaitu dengan mengenal Sang Pemberi nikmat lewat cara merenungkan pemberian nikmat tersebut. Dengan kata lain, lewat cara merenungkan dan melihat rahmat dan kasih sayang-Nya yang terus tercurah kepadamu.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 58-59
*Allah Yang Menganugerahkan Kehidupan dan Dia Juga Yang Menopang Kebutuhannya*

*Frasa Keenam: (يُحْي۪ى)*

Dia-lah yang menganugerahkan kehidupan, Dia pula yang menjaganya dengan rezeki yang diberikan. Dia yang menjamin seluruh hajat dan kebutuhannya. Dia pula yang menyiapkan semua faktor penopangnya. Berbagai tujuan kehidupan yang mulia kembali kepada-Nya. Serta berbagai hasil penting dari kehidupan menuju kepada-Nya. Sembilan puluh sembilan persen (99%) buah dan hasilnya mengarah dan kembali kepada-Nya. Begitulah, frasa di atas menyeru manusia yang fana dan lemah serta memberikan kabar gembira seraya menghembuskan harapan kepadanya.

Ia berkata: Wahai manusia, jangan penatkan dirimu dengan membawa beban kehidupan yang berat di atas pundakmu yang lemah. Jangan sampai dirimu menyedihkan fananya kehidupan. Jangan pernah menyesali kedatanganmu ke dunia setiap kali melihat lenyapnya sejumlah nikmat dan buahnya. Ketahuilah bahwa hidupmu yang membangun eksistensimu hanya akan kembali kepada Dzat Yang Mahahidup dan Berdiri sendiri. Dia yang menjamin seluruh kebutuhan dan penopangnya. Kehidupan hanya akan kembali kepada-Nya berikut seluruh tujuan dan hasilnya yang banyak. Engkau hanyalah pekerja sederhana yang berada dalam bahtera kehidupan.

Karena itu, laksanakan kewajibanmu dengan sebaik-baiknya. Lalu raih upahmu dan nikmati. Ingatlah selalu betapa agungnya kehidupan yang menggerakkan gelombang wujud, berikut hasil dan buahnya, serta kemurahan Pemiliknya dan keluasan rahmat-Nya yang terlimpah. Renungkan semua itu dan terbanglah di angkasa suka cita. Bergembiralah dengannya dan tunaikan syukur yang harus kau persembahkan kepada Tuhan. Ketahuilah bahwa selama dirimu istikamah, hasil dari bahtera kehidupan ini pertama-tama akan dituliskan dalam lembaran amalmu. Lalu engkau akan diberi kehidupan yang kekal abadi.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 59-60
*Kematian Merupakan Pintu Menuju Kehidupan Abadi*

*Frasa Ketujuh: (وَ يُم۪يتُ)*

Artinya, Dia-lah yang menganugerahkan kematian. Yakni, Dia yang membebaskanmu dari tugas kehidupan, mengganti posisimu di dunia yang fana ini, menyelamatkanmu dari beban pengabdian, serta membebaskanmu dari tanggung jawab yang ada. Dengan kata lain, Dia menarikmu dari kehidupan yang fana menuju kehidupan yang abadi.

Demikianlah, frasa ini meneriakkan ke telinga manusia dan jin yang fana dan berkata: Kabar gembira bagi kalian! Kematian bukan kemusnahan, kesia-siaan, kefanaan, kepadaman, dan perpisahan abadi. Kematian bukan ketiadaan dan bukan pula sebuah kebetulan. Ia bukan kelenyapan tanpa ada yang berbuat. Namun ia adalah pembebasan tugas yang dilakukan oleh Dzat Yang Maha Berbuat, Maha Bijaksana, dan Maha Penyayang.

Ia adalah perpindahan tempat, pergantian posisi, dan perjalanan menuju kebahagiaan abadi; tanah air yang asli. Artinya, kematian adalah pintu menuju alam barzakh; alam yang menghimpun 99% orang-orang tercinta.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 61
*Segala Yang Fana Mendapat Pantulan Kekelan Saat Dinisbatkan Kepada Dzat Yang Maha Abadi*

*Frasa Kedelapan: (وَ هُوَ حَىٌّ لَا يَمُوتُ)*

Artinya, kesempurnaan, keindahan, dan kebaikan lahiriah yang terdapat pada entitas merupakan sarana menuju cinta. Ia terwujud lewat sesuatu yang tak bisa dideskripsikan dan digambarkan yang berasal dari Sang Pemilik keindahan, kesempurnaan, dan kebaikan. Secercah manifestasi keindahan-Nya menyamai seluruh hal yang dicintai di dunia ini. Tuhan yang dicinta dan disembah memiliki kehidupan abadi dan kekal yang bersih dari kelenyapan dan bayangan kefanaan. Kehidupannya sempurna; jauh dari segala bentuk aib dan cacat.

Jadi, frasa di atas menegaskan hal berikut kepada semua makhluk, baik dari kalangan jin, manusia, maupun seluruh pemilik perasaan, kecerdasan, dan cinta: Kabar gembira untuk kalian! Kalian mendapatkan hembusan harapan dan kebaikan. Kalian memiliki Kekasih azali dan abadi yang bisa mengobati semua luka menganga akibat perpisahan abadi dengan orang-orang dunia yang kalian cintai. Ia memberikan balsam penyembuh lewat salep rahmat-Nya. Selama Dia ada dan kekal, segala sesuatu menjadi ringan.

Karena itu, jangan risau dan kecewa. Keindahan, kebaikan, dan kesempurnaan yang membuat kalian mencintai sejumlah orang hanyalah kilasan bayangan lemah yang bersumber dari naungan tirai yang sangat tebal di mana ia merupakan salah satu manifestasi keindahan Sang Kekasih abadi. Maka, jangan kalian tersiksa oleh adanya perpisahan dengan mereka. Sebab, mereka semua hanyalah satu bentuk dari cermin yang memberi pantulan. Perubahan dan pergantian cermin akan memperbaharui dan memperindah pantulan manifestasi keindahan yang cemerlang. Selama Dia ada, segala sesuatu juga ada.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 61-62
*Segala Kebaikan Berasal Dari Allah dan Dicatat Dalam Kitab-Nya*

*Frasa Kesembilan: (بِيَدِهِ الْخَيْرُ)*

Artinya, seluruh kebaikan berada di tangan-Nya. Semua amal baik kalian dicatat dalam kitab-Nya. Seluruh amal salih yang kalian lakukan ada padanya. Frasa di atas menyeru jin dan manusia, memberikan kabar gembira kepada mereka, serta menghembuskan harapan dan kerinduan. Ia berkata: Wahai orang-orang malang! Ketika kalian meninggalkan dunia menuju kubur, jangan berujar, “Oh, sungguh sangat sedih. Harta kami lenyap begitu saja. Amal kami hilang percuma. Kami masuk ke dalam kubur yang sempit setelah berada di dunia yang luas...” Jangan... Jangan kalian meratap putus asa. Pasalnya, semua milik kalian terpelihara di sisi-Nya. Semua amal yang kalian kerjakan telah dicatat pada-Nya.

Jadi, tidak ada yang hilang. Tidak ada usaha yang terlupakan. Sebab, Allah Yang Mahaagung yang menggenggam segala kebaikan akan membalas amal kalian. Dia akan memanggil kalian untuk menghadap kepada-Nya setelah Dia meletakkan kalian di dalam tanah, tempat sementara kalian. Maka, betapa kalian sangat bahagia! Kalian telah menunaikan pengabdian dan telah menyelesaikan tugas. Kalian telah bebas. Hari-hari penat dan lelah telah berakhir. Sekarang kalian berjalan untuk mendapatkan upah dan menerima keuntungan.

Ya, Sang Mahakuasa dan Mahaagung yang memelihara seluruh benih dan biji yang merupakan lembaran amal, daftar pengabdian, dan ruang tugas musim semi masa lalu, kemudian Dia menebarkannya di musim semi yang indah saat ini dalam bentuk yang istimewa, sangat berkilau, penuh berkah, dan menakjubkan. Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahaindah tersebut sudah pasti juga menjaga hasil kehidupan dan amal kalian. Lalu Dia akan memberikan balasan dalam bentuk yang terbaik dan berlimpah.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 62-63
*Segala Sesuatu Begitu Mudah di Hadapan Kekuasan Mutlak Allah SWT*

*Frasa Kesepuluh: (وَ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ)*

Artinya, Dia Mahaesa, Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang berat bagi-Nya. Tidak ada yang membuat-Nya penat dan sulit. Menciptakan musim semi yang sempurna—misalnya—begitu mudah dan gampang bagi-Nya sama seperti menciptakan sebuah bunga. Menciptakan surga bagi-Nya semudah menciptakan musim semi. Makhluk yang jumlahnya tak terhingga yang Dia hadirkan dan Dia perbaharui setiap hari, setiap tahun, dan setiap masa, semuanya menjadi bukti akan qudrah-Nya yang tak terbatas.

Frasa di atas juga memberikan sebuah harapan dan kabar gembira sebagai berikut: Wahai manusia! Amal-amal yang telah kau tunaikan, dan ubudiyah yang telah kau kerjakan tidak akan hilang begitu saja. Terdapat negeri balasan yang kekal dan tempat kebahagiaan yang sudah disiapkan untukmu. Di hadapanmu terdapat surga kekal yang menantikan kedatanganmu. Percayalah dengan janji Penciptamu Yang Mahaagung yang kepada-Nya engkau bersujud dan menyembah. Yakinlah kepada-Nya.

Mustahil Dia mengingkari janji yang sudah Dia tetapkan atas diri-Nya. Sebab, qudrah-Nya tak bercampur dengan aib dan cacat. Perbuatan-Nya tidak di sertai oleh kelemahan dan ketidakberdayaan. Sebagaimana Dia telah menciptakan dan menghidupkan taman kecil untukmu, Dia mampu untuk menciptakan surga yang luas. Bahkan Dia benar-benar telah melakukannya, lalu menjanjikannya untukmu. Oleh karena Dia telah berjanji, maka pasti akan menepatinya. Dia akan mengantarkanmu menuju surga tersebut.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 65
*Sebuah Dalil Yang Menegaskan Bahwa Allah SWT Pasti Akan Mewujudkan Janji-Nya*

Selama pada setiap tahun kita melihat bagaimana Dia mengumpulkan dan menebarkan lebih dari 300 ribu spesies tumbuhan dan hewan di muka bumi dengan sangat rapi dan terukur serta dengan sangat cepat dan mudah, maka sudah pasti Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahaagung tersebut juga mampu mewujudkan janji-Nya.

Selama Tuhan Yang Mahakuasa mutlak pada setiap tahun menghadirkan ribuan model kebangkitan dan surga dalam bentuk yang beragam; selama Dia menginformasikan surga yang dijanjikan, dan menjanjikan kebahagiaan abadi pada semua perintah samawi-Nya; selama seluruh urusan-Nya benar, nyata, dan jujur; selama semua jejak-Nya menjadi saksi bahwa seluruh kesempurnaan adalah petunjuk bahwa Dia bersih dari segala cacat.

Selama mengingkari janji, berdusta, dan sikap menangguhkan adalah sifat paling buruk di samping aib, maka sudah pasti Sang Mahakuasa yang Mahaagung, Sang Mahabijak yang Maha Sempurna, Sang Maha Penyayang Yang Mahaindah akan melaksanakan janji-Nya. Dia akan membuka pintu-pintu kebahagiaan abadi dan memasukkan kalian wahai kaum beriman ke dalam surga, tanah air ayah kalian, Adam AS.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 65
*Seluruh Makhluk Akan Kembali Kepada-Nya Setelah Menyempurnakan Pengabdian di Dunia*

*Frasa Kesebelas: (وَ اِلَيْهِ الْمَص۪يرُ)*

Artinya, orang-orang yang dikirim ke negeri dunia—negeri ujian—untuk berbisnis dan menunaikan sejumlah tugas, akan kembali lagi kepada Dzat yang telah mengirim mereka, Pencipta Yang Mahaagung. Hal itu setelah mereka melaksanakan tugas, menyempurnakan bisnis mereka, dan menyelesaikan berbagai pengabdian. Mereka akan bertemu dengan Tuhan Maha pemurah yang telah mengirim mereka.

Dengan kata lain, mereka akan mendapatkan kehormatan untuk berada di hadapan Tuhan Yang Maha Penyayang dalam kedudukan yang disenangi di sisi Raja Yang Mahakuasa; tanpa ada hijab antara mereka dan diri-Nya. Mereka telah lepas dari ikatan sebab, hijab dan perantara. Masing-masing mereka akan menemukan dan mengenal secara sempurna Pencipta, Tuhan, dan Pemiliknya. Frasa di atas membersitkan harapan dan kabar gembira melebihi seluruh harapan dan kabar gembira lainnya.

Ia menegaskan: Wahai manusia! Tahukah engkau kemana akan kembali? Dan kemana engkau akan digiring?” Pada penutup ‘Kalimat Ketiga Puluh Dua’ disebutkan bahwa menghabiskan seribu tahun dari kehidupan dunia yang bahagia tidak bisa menyamai sesaat dari kehidupan surga. Serta menghabiskan seribu satu tahun yang penuh kesenangan dalam kenikmatan surga tidak bisa menyamai sesaat dari kegembiraan melihat keindahan Sang Mahaindah, Allah SWT

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 66-67
*Kematian Bukankah Pintu Menuju Kefanaan Tapi Jalan Ke Keabadian*

Wahai manusia, engkau akan kembali ke medan rahmat-Nya, dan akan menuju hadirat-Nya. Keindahan yang kau lihat pada para kekasih majasi sehingga kau cintai dan tergila-gila padanya, bahkan keindahan yang terdapat pada seluruh entitas dunia tidak lain merupakan semacam bayangan dari manifestasi keindahan Allah dan nama-nama-Nya. Surga dengan seluruh perangkat, kenikmatan, bidadari, dan istananya hanyalah salah satu manifestasi dari rahmat-Nya. Semua bentuk rindu, cinta, dan ketertarikan tidak lain merupakan kilau dari cinta Tuhan dan Kekasih abadi.

Jadi, kalian akan pergi ke hadirat-Nya yang agung. Kalian akan diundang ke negeri jamuan yang kekal, yaitu menuju surga yang abadi. Karena itu, jangan bersedih dan menangis saat masuk ke dalam kubur. Namun bergembiralah dan hadapi ia dengan senyum dan rasa senang. Frasa di atas melanjutkan tugasnya dalam memberikan cahaya harapan dan kabar gembira dengan berkata: Wahai manusia! Jangan membayangkan engkau akan pergi menuju kefanaan, ketiadaan, kesia-siaan, kegelapan, kealpaan, kehancuran, dan tenggelam dalam ketiadaan. Akan tetapi, engkau akan pergi menuju keabadian; bukan pada kefanaan.

Engkau digiring menuju wujud yang kekal; bukan ketiadaan. Engkau mendatangi alam cahaya; bukan kegelapan. Engkau berjalan menuju Tuhan dan Pemilikmu yang haq. Engkau akan kembali kepada tempat Penguasa alam; Penguasa wujud. Engkau akan istirahat dan merasa lapang di medan tauhid tanpa tenggelam dalam pluralitas. Engkau mengarah pada adanya pertemuan; bukan perpisahan.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 66-67
Assalamu alaikum Sahabat Risalah Nur,

Semoga sehat selalu. Bagi yang ingin dapat pesan harian Risalah Nur dan informasi berbagai kegiatan terkait Risalah Nur boleh ikuti saluran Sahabat Risalah Nur. Linknya yang di bawah ini. Semoga bermanfaat
https://whatsapp.com/channel/0029VaEtzMMD8SE76yfj5d2L