📚 *TANYA JAWAB*
📬 *PERTANYAAN*
1⃣ Ustadz ijin bertanya, tadi di jelaskan faedah ayat kursi sebagai penghulu semua ayat Alquran maksud nya bagaimana ya?
📮 *JAWABAN*
Sahabat Nabi, Abu Hurairah r.a. berkata:”Rasulullāh ﷺ pernah bersabda:
لكل شيئ سنام وسنام القرآن سورة البقرة وفيها آية هي سيدة آي القرآن ، هي آية الكرسي.
Segala sesuatu memiliki puncak dan puncaknya Al-Qur’an adalah surat Al-Baqarah. Di dalamnya ada ayat yang merupakan penghulu ayat-ayat yang ada dalam Al-Quran;
yaitu ayat Kursi.”
(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak, Musnad a-Humaidi
No. 994 dan ‘Abdurrazak dalam Mushannaf No. 6019)
Dengan demikian, dikarenakan kandungan maknanya yang begitu padat dan faidahnya yang begitu besar, menjadikan ayat Kursi sebagai pemimpin dari seluruh ayat lainnya.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
📬 *PERTANYAAN*
2⃣ Sy tny ustadz apa benar mmbaca ayat kursiy bs mnolong kita dari sakitnya ketika dicabut ruh kita
📮 *JAWABAN*
Setiap manusia akan mengalami sakaratul maut, dan setiap sakaratul maut pasti sangat membuat manusia menderita, tidak terkecuali Nabi Muhammad ﷺ.
Dari sahabat Anas bin Mālik r.a., berkata:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ لَمَّا ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَعَلَ يَتَغَشَّاهُ فَقَالَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلَام وَا أخرجه البخاري في المغازي باب مرض النبي ووفاته.اليَوْمِ َرْبَ أَبَاهُ فَقَالَ لَهَا لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ
_“Tatkala kondisi Nabi ﷺ makin memburuk, Fathimah berkata: “Alangkah berat penderitaanmu ayahku”. Beliau menjawab: “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini._
(HR. Bukhari No. 4446)
Namun begitu, kepada orang-orang shalih, Malaikat akan mencabut ruh dengan sangat hati-hati.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
📬 *PERTANYAAN*
3⃣ Bisa tidak dijelaskan maksud dri pendapat ulama yg mengatakan "tempat kedua kaki dan singgasana (arsy) itu sendiri" mengenai makna *kursi* di ayat kursi?
Syukran
📮 *JAWABAN*
Ulama yang menakwilkannya sebagai tempat kedua kaki adalah Abi Mūsā, As-Suddi, adh-Dhahhak, Muslim al-Bāthin.
Ulama yang menakwilkannya sebagai singgasana adalah Al-Hasan.
Apa takwil lebih lanjut dari singgasana dan tempat kedua kaki, maka dalam hal ini Ahl as-Sunnah mencukupkan pada namanya, dan tidak terlalu jauh mencoba menafsirkan lebih mendalam. Namun kurang lebih seputar kekuasaan dan kebesaran-Nya.
_Wallāhu waliyyittaufīq,_
Wido Supraha
t.me/supraha
📬 *PERTANYAAN*
1⃣ Ustadz ijin bertanya, tadi di jelaskan faedah ayat kursi sebagai penghulu semua ayat Alquran maksud nya bagaimana ya?
📮 *JAWABAN*
Sahabat Nabi, Abu Hurairah r.a. berkata:”Rasulullāh ﷺ pernah bersabda:
لكل شيئ سنام وسنام القرآن سورة البقرة وفيها آية هي سيدة آي القرآن ، هي آية الكرسي.
Segala sesuatu memiliki puncak dan puncaknya Al-Qur’an adalah surat Al-Baqarah. Di dalamnya ada ayat yang merupakan penghulu ayat-ayat yang ada dalam Al-Quran;
yaitu ayat Kursi.”
(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak, Musnad a-Humaidi
No. 994 dan ‘Abdurrazak dalam Mushannaf No. 6019)
Dengan demikian, dikarenakan kandungan maknanya yang begitu padat dan faidahnya yang begitu besar, menjadikan ayat Kursi sebagai pemimpin dari seluruh ayat lainnya.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
📬 *PERTANYAAN*
2⃣ Sy tny ustadz apa benar mmbaca ayat kursiy bs mnolong kita dari sakitnya ketika dicabut ruh kita
📮 *JAWABAN*
Setiap manusia akan mengalami sakaratul maut, dan setiap sakaratul maut pasti sangat membuat manusia menderita, tidak terkecuali Nabi Muhammad ﷺ.
Dari sahabat Anas bin Mālik r.a., berkata:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ لَمَّا ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَعَلَ يَتَغَشَّاهُ فَقَالَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلَام وَا أخرجه البخاري في المغازي باب مرض النبي ووفاته.اليَوْمِ َرْبَ أَبَاهُ فَقَالَ لَهَا لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ
_“Tatkala kondisi Nabi ﷺ makin memburuk, Fathimah berkata: “Alangkah berat penderitaanmu ayahku”. Beliau menjawab: “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini._
(HR. Bukhari No. 4446)
Namun begitu, kepada orang-orang shalih, Malaikat akan mencabut ruh dengan sangat hati-hati.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
📬 *PERTANYAAN*
3⃣ Bisa tidak dijelaskan maksud dri pendapat ulama yg mengatakan "tempat kedua kaki dan singgasana (arsy) itu sendiri" mengenai makna *kursi* di ayat kursi?
Syukran
📮 *JAWABAN*
Ulama yang menakwilkannya sebagai tempat kedua kaki adalah Abi Mūsā, As-Suddi, adh-Dhahhak, Muslim al-Bāthin.
Ulama yang menakwilkannya sebagai singgasana adalah Al-Hasan.
Apa takwil lebih lanjut dari singgasana dan tempat kedua kaki, maka dalam hal ini Ahl as-Sunnah mencukupkan pada namanya, dan tidak terlalu jauh mencoba menafsirkan lebih mendalam. Namun kurang lebih seputar kekuasaan dan kebesaran-Nya.
_Wallāhu waliyyittaufīq,_
Wido Supraha
t.me/supraha
📚 *MENAMAKAN HŪRIN 'ĪN*
📬 *PERTANYAAN*
Bolehkah memberi nama Hūrin 'Īn karena itu kan nama makhluk yg sangat istimewa?
📮 *JAWABAN*
Allah ﷻ berfirman dalam Surat al-Waqiah [56] ayat 22-23:
وَحُورٌ عِينٌ . كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ
_Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik._
📌 Terma _hūrun_ berasal dari terma _haura'_ atau _ahwar_
📌 Makna _hūrun_ mata yang bagian putihnya lebih sedikit dari bagian hitamnya (Imam al-Asfahāni)
📌 Makna _al-Haura_ adalah wanita yang cantik, senang bercelak, nan menawan (As-Sa'di)
📌 Seorang pria shālih akan mendapat pasangan yang bercirikan _Hūrun 'Īn_ dari kalangan bidadari, dan juga istrinya sendiri
Wido Supraha
🌏 t.me/supraha
📬 *PERTANYAAN*
Bolehkah memberi nama Hūrin 'Īn karena itu kan nama makhluk yg sangat istimewa?
📮 *JAWABAN*
Allah ﷻ berfirman dalam Surat al-Waqiah [56] ayat 22-23:
وَحُورٌ عِينٌ . كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ
_Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik._
📌 Terma _hūrun_ berasal dari terma _haura'_ atau _ahwar_
📌 Makna _hūrun_ mata yang bagian putihnya lebih sedikit dari bagian hitamnya (Imam al-Asfahāni)
📌 Makna _al-Haura_ adalah wanita yang cantik, senang bercelak, nan menawan (As-Sa'di)
📌 Seorang pria shālih akan mendapat pasangan yang bercirikan _Hūrun 'Īn_ dari kalangan bidadari, dan juga istrinya sendiri
Wido Supraha
🌏 t.me/supraha
📡 *KITA JAMA'AH APA?*
✍ Muslim tidak ditanya kelak apa jama'ahnya, namun ia akan ditanya mengapa ia memilih hidup berjama'ah
✍ Berjama'ah adalah sebuah keniscayaan karena manusia adalah makhluk sosial, persoalannya adalah atas dasar apa ia berjama'ah
✍ Islam adalah sistem kehidupan komprehensif sehingga menjadi prioritas hidup bersama jama'ah yang ingin menegakkan Islam secara komprehensif (baca: syamil, kamil, mutakamil)
✍ Islam akan membangun cara pandang yang utuh sehingga menjadi prioritas bergerak bersama kumpulan manusia yang juga berusaha membangun cara pandang yang utuh sesuai konsep Islam
✍ Islam adalah agama ilmiah, dakwahnya adalah dakwah pada prinsip (baca: key term), sehingga jama'ah harus menjadi sarana menguatkan metodologi menuntut ilmu secara ilmiah
✍ Meraih kemampuan menguasai metodologi berarti meraih kemampuan menguasai proses, bukan sekedar produk jadi yang sekedar diamalkan, sehingga menjadi sebuah keniscayaan berpadu bersama para pecinta proses bukan produk
✍ Mencintai proses adalah syarat persatuan, mencukupkan dengan produk rentan akan perpecahan, sehingga adalah sebuah kewajiban berhimpun bersama jama'ah yang mencintai persatuan dan bekerja untuk persatuan umat, bukan mencintai perpecahan dan bekerja untuk perpecahan umat
✍ Bersatu adalah ruh Islam, bersatu di atas ilmu yang dibangun dengan metodologi yang benar dan komprehensif akan menemukan kesamaan cara pandang
✍ Kesamaan cara pandang yang akan menemukan hakikat jama'ah yang sebenarnya, jama'ah yang hadir bukan untuk menyatakan 'kami' melainkan menawarkan 'kita'
✍ 'Kita' yang siap berbagi peran dalam medan dakwah yang luas, baik politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya
✍ 'Kita' yang siap beraliansi strategis, bergerak melakukan perubahan bersama dalam bidang berbeda namun dalam koordinasi yang rapih
✍ 'Kita' yang menyadari bahwa jama'ah adalah kekuatan dan realitas hidup di dunia, sehingga menjadi perintah agama
✍ 'Kita' yang mengakui bahwa nafsi-nafsi, kesendirian pasti akan dirasakan di Yaumil Hisab
🔑 Berkumpullah bersama jama'ah yang punya target capaian paling lengkap, metodologi paling sistematis, fokus pada proses bukan produk hasil, meski hasil tetap menjadi bagian dari orientasi
@supraha
Join Channel: t.me/supraha
✍ Muslim tidak ditanya kelak apa jama'ahnya, namun ia akan ditanya mengapa ia memilih hidup berjama'ah
✍ Berjama'ah adalah sebuah keniscayaan karena manusia adalah makhluk sosial, persoalannya adalah atas dasar apa ia berjama'ah
✍ Islam adalah sistem kehidupan komprehensif sehingga menjadi prioritas hidup bersama jama'ah yang ingin menegakkan Islam secara komprehensif (baca: syamil, kamil, mutakamil)
✍ Islam akan membangun cara pandang yang utuh sehingga menjadi prioritas bergerak bersama kumpulan manusia yang juga berusaha membangun cara pandang yang utuh sesuai konsep Islam
✍ Islam adalah agama ilmiah, dakwahnya adalah dakwah pada prinsip (baca: key term), sehingga jama'ah harus menjadi sarana menguatkan metodologi menuntut ilmu secara ilmiah
✍ Meraih kemampuan menguasai metodologi berarti meraih kemampuan menguasai proses, bukan sekedar produk jadi yang sekedar diamalkan, sehingga menjadi sebuah keniscayaan berpadu bersama para pecinta proses bukan produk
✍ Mencintai proses adalah syarat persatuan, mencukupkan dengan produk rentan akan perpecahan, sehingga adalah sebuah kewajiban berhimpun bersama jama'ah yang mencintai persatuan dan bekerja untuk persatuan umat, bukan mencintai perpecahan dan bekerja untuk perpecahan umat
✍ Bersatu adalah ruh Islam, bersatu di atas ilmu yang dibangun dengan metodologi yang benar dan komprehensif akan menemukan kesamaan cara pandang
✍ Kesamaan cara pandang yang akan menemukan hakikat jama'ah yang sebenarnya, jama'ah yang hadir bukan untuk menyatakan 'kami' melainkan menawarkan 'kita'
✍ 'Kita' yang siap berbagi peran dalam medan dakwah yang luas, baik politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya
✍ 'Kita' yang siap beraliansi strategis, bergerak melakukan perubahan bersama dalam bidang berbeda namun dalam koordinasi yang rapih
✍ 'Kita' yang menyadari bahwa jama'ah adalah kekuatan dan realitas hidup di dunia, sehingga menjadi perintah agama
✍ 'Kita' yang mengakui bahwa nafsi-nafsi, kesendirian pasti akan dirasakan di Yaumil Hisab
🔑 Berkumpullah bersama jama'ah yang punya target capaian paling lengkap, metodologi paling sistematis, fokus pada proses bukan produk hasil, meski hasil tetap menjadi bagian dari orientasi
@supraha
Join Channel: t.me/supraha
Wido_Supraha_Tadabbur_Al_Qur'an.pdf
4 MB
Wido Supraha - Tadabbur Ayat Dzikr al-Maut
*#MewaspadaiSalahFikir*
*METODE MENJAWAB TUDUHAN JAHIL TERBARU: BID'AH-NYA LIQO*
(Saya hadiahkan untuk sahabat yang menggunakan metode liqo dalam dakwahnya, sebuah metode di antara banyak metode Rasulullah Saw. Tuduhan yang berangkat dari metodologi salah fikir akan terus berulang dari orang yang sama selama tidak diperbaiki metodologinya, sehingga tulisan ini agak panjang agar ke depan dapat menjadi bagian dari kontribusi referensi menjawab setiap tuduhan jahil.)
*STUDI KASUS:*
Jawaban Ustadz Yahya Badrussalam, Lc., sosok yang sama yang terkenal kontroversial karena beberapa jawabannya dalam pertanyaan yang lain yang juga kontroversial seperti tidak najisnya kotoran kucing, dan penghormatan beliau atas kesalahan target Densus 88
*HIPOTESIS:*
Problematika Metodologi Berpikir
*LANGKAH-LANGKAH MENJAWAB TUDUHAN:*
*1. LANGKAH PERTAMA: SIAPKAN QALBU*
Siapkan Qalbu agar menjadi pribadi shalih:
a. Qalbu bersih tidak perlu marah-marah, karena marah tanda tidak bisa menjawab tuduhan
b. Qalbu jernih akan mencari dimana titik lemah tuduhan lawan menggunakan ragam instrumen seperti pemahaman bahasa, penghayatan terma sampai kepada menemukan titik lemah penuduh
c. Qalbu salim akan melahirkan cinta kepada orang-orang jahil yang asal berbicara, sejatinya kondisi mereka imma lagi kurang kerjaan, punya dendam sejarah, atau tidak memahami detail yang dibicarakan namun terburu-buru ingin dianggap bisa menjawab pertanyaan jama'ah. Pahami bahwa mereka masih berada dalam kejahilan
d. Qalbu sehat akan melahirkan rasa terima kasih ada sosok yang mau menghabiskan waktunya untuk memperhatikan gerak liqo antum, karena boleh jadi suatu saat beliau akan bergabung dengan liqo
*2. LANGKAH KEDUA: SUSUN URUTAN ALASAN PENUDUH*
Dalam konteks di atas berikut alasan penuduh:
a. Sifatnya sangat mengikat
b. Murobbi kakak kelas, bukan alim yang betul-betul berilmu
c. Metode yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya
*3. LANGKAH KETIGA: FOKUS MENCARI LANDASAN SYARI'AT PADA ALASAN PENUDUH*
Dalam konteks di atas kita cukup fokus dahulu dengan 3 (tiga) alasan yang digunakannya dan berusaha menjawabnya dengan hikmah, dalil yang paling efektif, berawal dari mengangkat pertanyaan-pertanyaan dengan makna berkebalikan.
*4. LANGKAH KEEMPAT: KUMPULKAN FAKTA TERKAIT APA YANG DITUDUHKAN SECARA LENGKAP*
*_4.A. LIQO: SIFATNYA MENGIKAT?_*
Fakta yang ditemukan
A.1 Terma liqo ternyata terma umum, bukan terma khusus milik sekelompok orang. Orang-orang alim sangat akrab dengan terma liqo, dan sehingga banyak digunakan seperti oleh organisasi-organisasi Islam dengan makna dasar: pertemuan. Makna dasarnya umum, namun dimaksudkan kepada pertemuan dalam mengkaji hal-hal yang baik dan menambah ilmu atau menyelesaikan masalah. Ikatan dimaksud biasanya adalah ikatan kesamaan cara pandang ingin meraih sesuatu seperti ilmu, atau menyelesaikan sesuatu seperti masalah.
Beberapa contoh data (sample) organisasi Islam yang menggunakan terma liqo dalam aktifitas dakwah mereka:
4.A.1.1 Nahdhatul 'Ulama
“Rencana untuk program utama kami berikutnya, regenerasi kader. Format yang akan kami lakukan mungkin sedikit mirip dengan model liqo’ yang dilakukan oleh kelompok tarbiyah,” terang Sekretaris NU Sambi Wan Nur Jadi, saat dihubungi NU Online, Selasa (26/8) lalu.
(Referensi: http://www.nu.or.id/post/read/54105/nu-sambi-coba-pengaderan-berbentuk-liqorsquo)
4.A.1.2 Wahdah Islamiyah
Dewan Syariah Wahdah Islamiyah melaksanakan Liqo Ilmi pada Sabtu, 14 Jumadil Ula 1438 H (11/02). Liqo Ilmi digelar di mushalla Baitul Halaqah, perumahan Dosen Unhas, Antang, Makassar. Kegiatan ini diikuti oleh para ustadz anggota dewan syariah Wahdah Islamiyah serta para undangan dari lembaga-lembaga lingkup Wahdah Islamiyah.
(Referensi: http://wahdah.or.id/liqo-ilmi-dewan-syariah-wi-bahas-polemik-waktu-shalat/)
4.A.1.3 HASMI
Liqo’ Syawwal HASMI
(Himpunan Ahlussunnah untuk Masyarakat Islami)
(Referensi: https://www.hasmijakarta.org/2017/07/10/hadirilah-liqo-syawal-hasmi-himpunan-ahlussunnah-untuk-masyarakat-islami/)
4.A.2 Liqo adalah model pendidikan, dan dimanapun sepanjang sejarah, pend
*METODE MENJAWAB TUDUHAN JAHIL TERBARU: BID'AH-NYA LIQO*
(Saya hadiahkan untuk sahabat yang menggunakan metode liqo dalam dakwahnya, sebuah metode di antara banyak metode Rasulullah Saw. Tuduhan yang berangkat dari metodologi salah fikir akan terus berulang dari orang yang sama selama tidak diperbaiki metodologinya, sehingga tulisan ini agak panjang agar ke depan dapat menjadi bagian dari kontribusi referensi menjawab setiap tuduhan jahil.)
*STUDI KASUS:*
Jawaban Ustadz Yahya Badrussalam, Lc., sosok yang sama yang terkenal kontroversial karena beberapa jawabannya dalam pertanyaan yang lain yang juga kontroversial seperti tidak najisnya kotoran kucing, dan penghormatan beliau atas kesalahan target Densus 88
*HIPOTESIS:*
Problematika Metodologi Berpikir
*LANGKAH-LANGKAH MENJAWAB TUDUHAN:*
*1. LANGKAH PERTAMA: SIAPKAN QALBU*
Siapkan Qalbu agar menjadi pribadi shalih:
a. Qalbu bersih tidak perlu marah-marah, karena marah tanda tidak bisa menjawab tuduhan
b. Qalbu jernih akan mencari dimana titik lemah tuduhan lawan menggunakan ragam instrumen seperti pemahaman bahasa, penghayatan terma sampai kepada menemukan titik lemah penuduh
c. Qalbu salim akan melahirkan cinta kepada orang-orang jahil yang asal berbicara, sejatinya kondisi mereka imma lagi kurang kerjaan, punya dendam sejarah, atau tidak memahami detail yang dibicarakan namun terburu-buru ingin dianggap bisa menjawab pertanyaan jama'ah. Pahami bahwa mereka masih berada dalam kejahilan
d. Qalbu sehat akan melahirkan rasa terima kasih ada sosok yang mau menghabiskan waktunya untuk memperhatikan gerak liqo antum, karena boleh jadi suatu saat beliau akan bergabung dengan liqo
*2. LANGKAH KEDUA: SUSUN URUTAN ALASAN PENUDUH*
Dalam konteks di atas berikut alasan penuduh:
a. Sifatnya sangat mengikat
b. Murobbi kakak kelas, bukan alim yang betul-betul berilmu
c. Metode yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya
*3. LANGKAH KETIGA: FOKUS MENCARI LANDASAN SYARI'AT PADA ALASAN PENUDUH*
Dalam konteks di atas kita cukup fokus dahulu dengan 3 (tiga) alasan yang digunakannya dan berusaha menjawabnya dengan hikmah, dalil yang paling efektif, berawal dari mengangkat pertanyaan-pertanyaan dengan makna berkebalikan.
*4. LANGKAH KEEMPAT: KUMPULKAN FAKTA TERKAIT APA YANG DITUDUHKAN SECARA LENGKAP*
*_4.A. LIQO: SIFATNYA MENGIKAT?_*
Fakta yang ditemukan
A.1 Terma liqo ternyata terma umum, bukan terma khusus milik sekelompok orang. Orang-orang alim sangat akrab dengan terma liqo, dan sehingga banyak digunakan seperti oleh organisasi-organisasi Islam dengan makna dasar: pertemuan. Makna dasarnya umum, namun dimaksudkan kepada pertemuan dalam mengkaji hal-hal yang baik dan menambah ilmu atau menyelesaikan masalah. Ikatan dimaksud biasanya adalah ikatan kesamaan cara pandang ingin meraih sesuatu seperti ilmu, atau menyelesaikan sesuatu seperti masalah.
Beberapa contoh data (sample) organisasi Islam yang menggunakan terma liqo dalam aktifitas dakwah mereka:
4.A.1.1 Nahdhatul 'Ulama
“Rencana untuk program utama kami berikutnya, regenerasi kader. Format yang akan kami lakukan mungkin sedikit mirip dengan model liqo’ yang dilakukan oleh kelompok tarbiyah,” terang Sekretaris NU Sambi Wan Nur Jadi, saat dihubungi NU Online, Selasa (26/8) lalu.
(Referensi: http://www.nu.or.id/post/read/54105/nu-sambi-coba-pengaderan-berbentuk-liqorsquo)
4.A.1.2 Wahdah Islamiyah
Dewan Syariah Wahdah Islamiyah melaksanakan Liqo Ilmi pada Sabtu, 14 Jumadil Ula 1438 H (11/02). Liqo Ilmi digelar di mushalla Baitul Halaqah, perumahan Dosen Unhas, Antang, Makassar. Kegiatan ini diikuti oleh para ustadz anggota dewan syariah Wahdah Islamiyah serta para undangan dari lembaga-lembaga lingkup Wahdah Islamiyah.
(Referensi: http://wahdah.or.id/liqo-ilmi-dewan-syariah-wi-bahas-polemik-waktu-shalat/)
4.A.1.3 HASMI
Liqo’ Syawwal HASMI
(Himpunan Ahlussunnah untuk Masyarakat Islami)
(Referensi: https://www.hasmijakarta.org/2017/07/10/hadirilah-liqo-syawal-hasmi-himpunan-ahlussunnah-untuk-masyarakat-islami/)
4.A.2 Liqo adalah model pendidikan, dan dimanapun sepanjang sejarah, pend
idikan adalah urusan individu yang tidak ada paksaan apalagi ikatan, kecuali dipaksan dan diikat oleh sebuah pemerintah. Ikatan tentu tetap ada, tapi ikatan hati, yakni hati yang rindu dengan ilmu, atau hati yang bersemangat menyelesaikan suatu permasalahan, maka biasanya di antara mereka akan menyelenggarakan liqo
-------------------------------------------------
*_4.B. LIQO PASTI DIBIMBING OLEH KAKAK KELAS YANG TIDAK ALIM DAN TIDAK BERILMU?_*
Fakta yang ditemukan:
4.B.1 Liqo tidak bisa dibedakan dengan sistem pendidikan lain seperti sekolah, kuttab, madrasah, pesantren, atau ma'had. Persamaan dimaksud adalah sama-sama memiliki kurikulum standar, terbuka, penjenjangan kelas, evaluasi, target pencapaian setiap penjenjangan, hingga tidak adanya paksaan bagi seseorang untuk selesai atau tidak selesai dalam prose pendidikan tersebut
4.B.1.1 Pola pendidikan apapun yang benar harus memiliki metode penjenjangan dengan tujuan di antaranya memudahkan evaluasi dan monitoring perkembangan murid
4.B.1.2 Pendidikan yang benar harus memiliki guru atau pembimbing dan batasan jumlah murid. Tanpa guru tentu tidak ada pendidikan dan tidak ada bimbingan atau arahan.
4.B.1.3 Pendidikan yang memiliki tenaga pengajar terbatas tentu harus dapat berkompromi dengan realitas. Contoh: Dalam konteks liqo, dengan jumlah murid yang sangat banyak sementara jumlah pendidik terbatas, adalah hal yang wajar bahwa kapasitas pendidik akan berbeda-beda, ada sekedar alumnus SMA, namun banyak juga yang Doktor Alumnus Madinah, Mesir, Maroko, Libia, Amerika, Jepang, Korea, dan seterusnya. Kesamaan di antara mereka sebelum menyampaikan materi adalah mereka semuanya wajib pernah mendapatkan materi tersebut, dan ini disebut dengan materi bersanad. Terkadang murabbi kakak kelas, tapi tidak menutup kemungkinan adik kelas, karena patokannya bukan kelas, tapi apakah pemateri telah pernah mendapatkan materi tersebut sebelumnya, dan sudah dianggap lulus dalam materi tersebut
4.B.1.4 Pendidikan yang baik adalah adanya sosialisasi kurikulum. Kurikulum standar model pendidikan bersifat transparan, bisa diakses dan dikritisi publik, dan dalam kacamata ASWAJA, selama mereferensikan pada Al-Qur'an, As-Sunnah, Sirah Nabawiyah, Pendapat para ulama Salaf dan kemudian Khalaf, maka seluruhnya baik
4.B.1.5 Pendidikan yang baik tidak membatasi siapapun yang ingin menikmati ilmu, termasuk batasan umur. Bahkan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) menjamin hak pendidikan dan menyediakan ragam bentuk pendidikan seperti Pendidikan Formal, Pendidikan Informal dan Pendidikan Non-Formal.
Dalam konteksi liqo, ia dapat dimasukkan pada pendidikan Non-Formal. Siapapun yang ingin belajar tanpa mengenal umur dapat bergabung dalam liqo, karena Islam tidak mengenal batasan umur dalam belajar, apalagi belajar Islam. Di sekolah-sekolah Pemerintah pun banyak orang tua yang turut belajar bersama-sama dengan anak-anak usia SD, karena orang-orang tua tersebut memang belum lulus usia SD, dan mereka harus melewatinya sebelum dibolehkan masuk SMP
-------------------------------------------------
*_4.C. LIQO ADALAH METODE YANG TIDAK PERNAH DIAJARKAN RASULULLAH ﷺ?_*
Fakta yang kita temukan:
4.C.1 Ada banyak sekali metode pendidikan yang tidak ditemukan di zaman Rasulullah ﷺ, seperti metode pendidikan via TV, via Radio, via YouTube, via Sekolah Formal, via Pesantren Formal, via Ma'had Formal.
4.C.2 Ada banyak sekali kisah metode pendidikan Nabi Muhammad ﷺ dan generasi sesudahnya yang mirip dengan liqo, seperti:
4.C.2.1 Metode 'Liqo' di rumah Abi 'Abdillah ‘Abdu Manaf Bin Asad bin ‘Abdillah bin Umar bin Makhzum atau lebih dikenal dengan Arqam, dan rumahnya dikenal dengan rumahnya Arqam (Dar al-Arqam).
عقد النبي – صلى الله عليه وسلم – اجتماعات سرية بالمسلمين في دار الأرقم ليعلمهم شرائع الإسلام
Rasulullah ﷺ mengadakan pertemuan secara sembunyi-sembunyi dengan sahabat-sahabatnya di rumah al-Arqam untuk mengajarkan pada mereka tentang agama Islam.
(Referensi: Seluruh Kitab Sirah Nabawiyah Mu'tabar, seperti الخلاصة البهية في ترتيب أحداث السيرة النبوية)
4.C.2.2 Metode halaqah sahabat berbasis Ma
-------------------------------------------------
*_4.B. LIQO PASTI DIBIMBING OLEH KAKAK KELAS YANG TIDAK ALIM DAN TIDAK BERILMU?_*
Fakta yang ditemukan:
4.B.1 Liqo tidak bisa dibedakan dengan sistem pendidikan lain seperti sekolah, kuttab, madrasah, pesantren, atau ma'had. Persamaan dimaksud adalah sama-sama memiliki kurikulum standar, terbuka, penjenjangan kelas, evaluasi, target pencapaian setiap penjenjangan, hingga tidak adanya paksaan bagi seseorang untuk selesai atau tidak selesai dalam prose pendidikan tersebut
4.B.1.1 Pola pendidikan apapun yang benar harus memiliki metode penjenjangan dengan tujuan di antaranya memudahkan evaluasi dan monitoring perkembangan murid
4.B.1.2 Pendidikan yang benar harus memiliki guru atau pembimbing dan batasan jumlah murid. Tanpa guru tentu tidak ada pendidikan dan tidak ada bimbingan atau arahan.
4.B.1.3 Pendidikan yang memiliki tenaga pengajar terbatas tentu harus dapat berkompromi dengan realitas. Contoh: Dalam konteks liqo, dengan jumlah murid yang sangat banyak sementara jumlah pendidik terbatas, adalah hal yang wajar bahwa kapasitas pendidik akan berbeda-beda, ada sekedar alumnus SMA, namun banyak juga yang Doktor Alumnus Madinah, Mesir, Maroko, Libia, Amerika, Jepang, Korea, dan seterusnya. Kesamaan di antara mereka sebelum menyampaikan materi adalah mereka semuanya wajib pernah mendapatkan materi tersebut, dan ini disebut dengan materi bersanad. Terkadang murabbi kakak kelas, tapi tidak menutup kemungkinan adik kelas, karena patokannya bukan kelas, tapi apakah pemateri telah pernah mendapatkan materi tersebut sebelumnya, dan sudah dianggap lulus dalam materi tersebut
4.B.1.4 Pendidikan yang baik adalah adanya sosialisasi kurikulum. Kurikulum standar model pendidikan bersifat transparan, bisa diakses dan dikritisi publik, dan dalam kacamata ASWAJA, selama mereferensikan pada Al-Qur'an, As-Sunnah, Sirah Nabawiyah, Pendapat para ulama Salaf dan kemudian Khalaf, maka seluruhnya baik
4.B.1.5 Pendidikan yang baik tidak membatasi siapapun yang ingin menikmati ilmu, termasuk batasan umur. Bahkan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) menjamin hak pendidikan dan menyediakan ragam bentuk pendidikan seperti Pendidikan Formal, Pendidikan Informal dan Pendidikan Non-Formal.
Dalam konteksi liqo, ia dapat dimasukkan pada pendidikan Non-Formal. Siapapun yang ingin belajar tanpa mengenal umur dapat bergabung dalam liqo, karena Islam tidak mengenal batasan umur dalam belajar, apalagi belajar Islam. Di sekolah-sekolah Pemerintah pun banyak orang tua yang turut belajar bersama-sama dengan anak-anak usia SD, karena orang-orang tua tersebut memang belum lulus usia SD, dan mereka harus melewatinya sebelum dibolehkan masuk SMP
-------------------------------------------------
*_4.C. LIQO ADALAH METODE YANG TIDAK PERNAH DIAJARKAN RASULULLAH ﷺ?_*
Fakta yang kita temukan:
4.C.1 Ada banyak sekali metode pendidikan yang tidak ditemukan di zaman Rasulullah ﷺ, seperti metode pendidikan via TV, via Radio, via YouTube, via Sekolah Formal, via Pesantren Formal, via Ma'had Formal.
4.C.2 Ada banyak sekali kisah metode pendidikan Nabi Muhammad ﷺ dan generasi sesudahnya yang mirip dengan liqo, seperti:
4.C.2.1 Metode 'Liqo' di rumah Abi 'Abdillah ‘Abdu Manaf Bin Asad bin ‘Abdillah bin Umar bin Makhzum atau lebih dikenal dengan Arqam, dan rumahnya dikenal dengan rumahnya Arqam (Dar al-Arqam).
عقد النبي – صلى الله عليه وسلم – اجتماعات سرية بالمسلمين في دار الأرقم ليعلمهم شرائع الإسلام
Rasulullah ﷺ mengadakan pertemuan secara sembunyi-sembunyi dengan sahabat-sahabatnya di rumah al-Arqam untuk mengajarkan pada mereka tentang agama Islam.
(Referensi: Seluruh Kitab Sirah Nabawiyah Mu'tabar, seperti الخلاصة البهية في ترتيب أحداث السيرة النبوية)
4.C.2.2 Metode halaqah sahabat berbasis Ma
sjid
Seperti halaqah Umar bin Khaththab r.a. di Masjid Madinah (Referensi: Tarikh Madinah Dimasyq, Ibn Asakir), seperti halaqah al-Khatib al-Baghdadi (Referensi: Tarikh Tarbiyah al-Islamiyah, Ahmad Syalabi), dan halaqah lainnya seperti halaqah Jabir bin Abdullah al-Anshari r.a., halaqah Mu'adz bin Jabal di Masjid Damaskus
Metode berbasis masjid ini berkembang seperti Masjid al-Umawi di Damaskus, Masjid Amru bin al-Ash di Fusthath di Mesir, Masjid al-Azhar di Mesir, Masjid Zaituniyah di Tunisia, dan Masjid al-Qarawain (Referensi: Madza Qaddamal Muslimuna lil 'Alam, Raghib as-Sirjani)
4.C.2.3 Metode pendidikan formal mulai dibentuk oleh para ulama sepanjang sejarah dalam kurun peradaban Islam abad 8-15 M, seperti:
4.C.2.3.1 Katatib
Sebagai contoh Ibn Hauqal mendidikan 300 kuttab di satu kota di negeri Shaqilah. (Referensi Min Rawa'i Hadharatina, Musthafa as-Siba'i)
4.C.2.3.2 Sekolah
Model ini mulai ada di abad ke-5 H, karena halaqah semakin memenuhi masjid. Halaqah pertama yang pindah dari masjid ke sekolah adalah Universitas Al-Azhar di tahun 378 H. Sekolah pertama adalah sekolah Shadir bin Abdullah di Damaskus (Referensi: Tarikh Dimasy, Ibn Asakir), dan dilanjutkan dengan banyaknya sekolah-sekolah formal hadir hingga ke Andalusia dan tempat lainnya.
-------------------------------------------------
*5. LANGKAH KELIMA: MENGGABUNGKAN DAN MENGKOMPROMIKAN HINGGA LAHIR KUNCI BERPIKIR*
5.A Liqo ternyata tidak bersifat mengikat, dan bersifat bebas bagi siapapun yang mengejar pendidikan. Namun, secara hakikat tentu ikatan tetap ada yakni ikatan untuk meraih ilmu atau ikatan ingin bersama-sama menyelesaikan masalah atau mendapatkan jawaban
5.B Murobbi ternyata bisa kakak kelas, dan bisa juga adik kelas selama ia menguasai materi yang ingin disampaikan. Murobbi ternyata banyak yang alim dan betul-betul berilmu, bahkan banyak di antara mereka yang berposisi ulama tingkat internasional
5.C. Metode liqo ternyata ruhnya telah dimulai oleh Rasulullah ﷺ di rumah Dar al-Arqam, dan ruh ini kemudian dikembangkan di zaman keemasan Islam mulai dalam wujud Katatib, Pendidikan Berbasis Masjid, hingga tingkat Sekolah dan Universitas. Model pendidikan begitu banyak pilihannya, ada yang formal, informal dan non-formal
-------------------------------------------------
*6. LANGKAH KEENAM: MENCARI HIKMAH DARI SEBUAH KEJAHILAN*
6.A Adab para pendidik hendaknya tidak terburu-buru dalam menyampaikan sesuatu jika belum memiliki fakta yang cukup dan data yang otentik
6.B Adab para pendidik adalah berpikir panjang dan melihat dampak dari kata-katanya sebagai guru kepada murid yang mungkin berdampak luas dan kontra-produktif dengan tujuan besar dakwah Islam
6.C Adab para pendidik harus menyampaikan wawasan secara lengkap dan komprehensif sehingga tidak melahirkan murid yang jahil, statis, tidak mau berpikir dan tidak memiliki metodologi yang sistematis dalam menuntut ilmu
6.D Adab para pendidik adalah memperkokoh metodologinya dalam menghayati Islam, karena Islam bukan sekedar hadir untuk dihafalkan namun harus sampai pada mendapatkan hikmah pelajaran-pelajaran intinya. Di antara yang harus dipahaminya adalah bahwa apa yang tidak dilakukan di masa Rasulullah Saw bukan berarti bermakna tidak boleh dilakukan bahkan sampai pada tahap dihukumi bid'ah. Islam 1400 tahun yang lalu tentu menghadapi zaman yang berbeda dengan hari ini, ada yang harus tetap _(tsawabit)_ yakni prinsip-prinsip kunci, dan ada yang harus berubah _(mutaghayyirat)_ karena tuntutan harus berubah pada hal yang tidak prinsip hingga hal yang bersifat teknis. Di antara tujuan ilmu adalah agar lahir manusia yang bisa menempatkan mana yang asasi dan mana yang tidak asasi.
6.E Adab para pendidik adalah memiliki _husnul khuluq,_ akhlak terpuji karena inilah yang paling banyak memasukan manusia ke Jannah
*PENUTUP:*
Demikian uraian ini disampaikan, dapat dikritisi, ditambahkan dan dikoreksi, agar terbangun metodologi standar bagi umat dalam mensikapi setiap tuduhan jahil yang tidak mendasar, dan agar umat tidak seperti buih karena bergantung selalu pada gurunya, padahal tugas guru ad
Seperti halaqah Umar bin Khaththab r.a. di Masjid Madinah (Referensi: Tarikh Madinah Dimasyq, Ibn Asakir), seperti halaqah al-Khatib al-Baghdadi (Referensi: Tarikh Tarbiyah al-Islamiyah, Ahmad Syalabi), dan halaqah lainnya seperti halaqah Jabir bin Abdullah al-Anshari r.a., halaqah Mu'adz bin Jabal di Masjid Damaskus
Metode berbasis masjid ini berkembang seperti Masjid al-Umawi di Damaskus, Masjid Amru bin al-Ash di Fusthath di Mesir, Masjid al-Azhar di Mesir, Masjid Zaituniyah di Tunisia, dan Masjid al-Qarawain (Referensi: Madza Qaddamal Muslimuna lil 'Alam, Raghib as-Sirjani)
4.C.2.3 Metode pendidikan formal mulai dibentuk oleh para ulama sepanjang sejarah dalam kurun peradaban Islam abad 8-15 M, seperti:
4.C.2.3.1 Katatib
Sebagai contoh Ibn Hauqal mendidikan 300 kuttab di satu kota di negeri Shaqilah. (Referensi Min Rawa'i Hadharatina, Musthafa as-Siba'i)
4.C.2.3.2 Sekolah
Model ini mulai ada di abad ke-5 H, karena halaqah semakin memenuhi masjid. Halaqah pertama yang pindah dari masjid ke sekolah adalah Universitas Al-Azhar di tahun 378 H. Sekolah pertama adalah sekolah Shadir bin Abdullah di Damaskus (Referensi: Tarikh Dimasy, Ibn Asakir), dan dilanjutkan dengan banyaknya sekolah-sekolah formal hadir hingga ke Andalusia dan tempat lainnya.
-------------------------------------------------
*5. LANGKAH KELIMA: MENGGABUNGKAN DAN MENGKOMPROMIKAN HINGGA LAHIR KUNCI BERPIKIR*
5.A Liqo ternyata tidak bersifat mengikat, dan bersifat bebas bagi siapapun yang mengejar pendidikan. Namun, secara hakikat tentu ikatan tetap ada yakni ikatan untuk meraih ilmu atau ikatan ingin bersama-sama menyelesaikan masalah atau mendapatkan jawaban
5.B Murobbi ternyata bisa kakak kelas, dan bisa juga adik kelas selama ia menguasai materi yang ingin disampaikan. Murobbi ternyata banyak yang alim dan betul-betul berilmu, bahkan banyak di antara mereka yang berposisi ulama tingkat internasional
5.C. Metode liqo ternyata ruhnya telah dimulai oleh Rasulullah ﷺ di rumah Dar al-Arqam, dan ruh ini kemudian dikembangkan di zaman keemasan Islam mulai dalam wujud Katatib, Pendidikan Berbasis Masjid, hingga tingkat Sekolah dan Universitas. Model pendidikan begitu banyak pilihannya, ada yang formal, informal dan non-formal
-------------------------------------------------
*6. LANGKAH KEENAM: MENCARI HIKMAH DARI SEBUAH KEJAHILAN*
6.A Adab para pendidik hendaknya tidak terburu-buru dalam menyampaikan sesuatu jika belum memiliki fakta yang cukup dan data yang otentik
6.B Adab para pendidik adalah berpikir panjang dan melihat dampak dari kata-katanya sebagai guru kepada murid yang mungkin berdampak luas dan kontra-produktif dengan tujuan besar dakwah Islam
6.C Adab para pendidik harus menyampaikan wawasan secara lengkap dan komprehensif sehingga tidak melahirkan murid yang jahil, statis, tidak mau berpikir dan tidak memiliki metodologi yang sistematis dalam menuntut ilmu
6.D Adab para pendidik adalah memperkokoh metodologinya dalam menghayati Islam, karena Islam bukan sekedar hadir untuk dihafalkan namun harus sampai pada mendapatkan hikmah pelajaran-pelajaran intinya. Di antara yang harus dipahaminya adalah bahwa apa yang tidak dilakukan di masa Rasulullah Saw bukan berarti bermakna tidak boleh dilakukan bahkan sampai pada tahap dihukumi bid'ah. Islam 1400 tahun yang lalu tentu menghadapi zaman yang berbeda dengan hari ini, ada yang harus tetap _(tsawabit)_ yakni prinsip-prinsip kunci, dan ada yang harus berubah _(mutaghayyirat)_ karena tuntutan harus berubah pada hal yang tidak prinsip hingga hal yang bersifat teknis. Di antara tujuan ilmu adalah agar lahir manusia yang bisa menempatkan mana yang asasi dan mana yang tidak asasi.
6.E Adab para pendidik adalah memiliki _husnul khuluq,_ akhlak terpuji karena inilah yang paling banyak memasukan manusia ke Jannah
*PENUTUP:*
Demikian uraian ini disampaikan, dapat dikritisi, ditambahkan dan dikoreksi, agar terbangun metodologi standar bagi umat dalam mensikapi setiap tuduhan jahil yang tidak mendasar, dan agar umat tidak seperti buih karena bergantung selalu pada gurunya, padahal tugas guru ad
alah mengantarkan murid untuk dapat menjadi guru seperti dirinya dengan memenuhi seluruh aspek yang wajib ada pada diri seorang guru
Salam Ta'zhim,
Wido Supraha
Join Channel: t.me/supraha
Salam Ta'zhim,
Wido Supraha
Join Channel: t.me/supraha
*HIDUP SEBENARNYA*
Allah berfirman dalam Surat Al-Anfāl [8] ayat 24:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
_Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan._
Allah berfirman dalam Surat Al-Anfāl [8] ayat 24:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
_Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan._
📡 *HURUF ALIF DALAM BASMALAH*
*PERTANYAAN*
📬 Mengapa dalam basmalah tidak memiliki huruf alif, tidak seperti dalam Surat Al Alaq.
*JAWABAN*
📮 _Hal ini masuk dalam teknik penulisan yang mengandung banyak rahasia._
1⃣ *Pengulangan teknik penulisan dari ayat yang juga pernah diturunkan kepada Nabi Sulaiman a.s.*
Allāh ﷻ bersabda dalam Surat an-Naml [27] ayat 30:
إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
_Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang._
Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,
أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آيَةٌ لَمْ تَنْزِلْ عَلَى نَبِيٍّ غَيْرِ سُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ وَغَيْرِي، وَهِيَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
_Telah diturunkan kepadaku suatu ayat yang belum pernah diturunkan kepada seorang nabi pun selain Sulaiman ibnu Daud dan aku sendiri, yaitu *bismillāh ar-Rahmān ar-Rahīm* (Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)._
2⃣ *Penjagaan 19 huruf di dalamnya yang penuh rahasia*
🔸 Adanya sesuatu yang tidak terjangkau panca indera (Az-Zarkasyi)
🔸 Jumlah Malaikat Zabaniyah ada 19.
Allah ﷻ berfirman dalam Surat Al-Muddatstsir [74] ayat 30:
عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ
_Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)._
🔸 Pertimbangan praktis penulisan karena seringnya digunakan dalam keseharian (Al-Qurthubi, Ar-Rāzi, Al-Akbary)
🔸 Agar jumlah huruf di surat Al-Fatihah ayat 1 tetap 19 tidak 20 dengan keindahan bahasa ketika setiap kata di ayat ini dapat dibagi dengan angka 19 (Rasyad Khalifah):
✍ *Allāh*, 2698x (2698:19=142)
✍ *Ar-Rahmān*, sebanyak 57x (57:19=3)
✍ *Ar-Rahīm*, sebanyak 114x (114:19=6)
Salam Ta'zhim,
Wido Supraha
🌏 t.me/supraha
*PERTANYAAN*
📬 Mengapa dalam basmalah tidak memiliki huruf alif, tidak seperti dalam Surat Al Alaq.
*JAWABAN*
📮 _Hal ini masuk dalam teknik penulisan yang mengandung banyak rahasia._
1⃣ *Pengulangan teknik penulisan dari ayat yang juga pernah diturunkan kepada Nabi Sulaiman a.s.*
Allāh ﷻ bersabda dalam Surat an-Naml [27] ayat 30:
إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
_Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang._
Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,
أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آيَةٌ لَمْ تَنْزِلْ عَلَى نَبِيٍّ غَيْرِ سُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ وَغَيْرِي، وَهِيَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
_Telah diturunkan kepadaku suatu ayat yang belum pernah diturunkan kepada seorang nabi pun selain Sulaiman ibnu Daud dan aku sendiri, yaitu *bismillāh ar-Rahmān ar-Rahīm* (Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)._
2⃣ *Penjagaan 19 huruf di dalamnya yang penuh rahasia*
🔸 Adanya sesuatu yang tidak terjangkau panca indera (Az-Zarkasyi)
🔸 Jumlah Malaikat Zabaniyah ada 19.
Allah ﷻ berfirman dalam Surat Al-Muddatstsir [74] ayat 30:
عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ
_Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)._
🔸 Pertimbangan praktis penulisan karena seringnya digunakan dalam keseharian (Al-Qurthubi, Ar-Rāzi, Al-Akbary)
🔸 Agar jumlah huruf di surat Al-Fatihah ayat 1 tetap 19 tidak 20 dengan keindahan bahasa ketika setiap kata di ayat ini dapat dibagi dengan angka 19 (Rasyad Khalifah):
✍ *Allāh*, 2698x (2698:19=142)
✍ *Ar-Rahmān*, sebanyak 57x (57:19=3)
✍ *Ar-Rahīm*, sebanyak 114x (114:19=6)
Salam Ta'zhim,
Wido Supraha
🌏 t.me/supraha
عرض تسلسلي لحكام العالم الإسلامي عبر التاريخ !
*أولاً:الخلفاءالراشدون*
١ / أبوبكر الصديق من ١١ إلى ١٣ هجريا
٢ / عمر بن الخطاب من ١٣ إلى ٢٣ هجريا
٣ /عثمان بن عفان من ٢٣ إلى ٣٥ هجريا
٤ / علي بن أبي طالب من ٣٥ إلى ٤٠ هجريا
5 / الحسن بن علي من ٤٠ إلى ٤١ هجريا
*ثانياً:الدولة الأموية* ١٤ خليفة
١ / معاوية بن أبي سفيان من ٤١ إلى ٦٠هجريا
٢ / يزيد بن معاوية من ٦٠ إلى ٦٤ هجريا
٣ / معاوية بن يزيد '' عدة شهور ''
٤ / مروان بن الحكم من ٦٤ إلى ٦٥ هجريا
٥ / عبدالملك بن مروان من ٦٥ إلى ٨٦ هجريا
٦ / الوليد بن عبدالملك من ٨٦ إلى ٩٦ هجريا
٧ / سليمان بن عبد الملك من ٩٦ إلى ٩٩ هجريا
٨ / عمر بن عبدالعزيز من ٩٩ إلى ١٠١ هجريا
٩ / يزيد بن عبدالملك من ١٠١ إلى ١٠٥ هجريا
١٠ /هشام بن عبدالملك من ١٠٥ إلى ١٢٥ هجريا
١١ / الوليد بن يزيد من ١٢٥ إلى ١٢٦ هجريا
١٢ / يزيد بن الوليد '' عدة شهور ''
١٣ / إبراهيم بن الوليد من ١٢٦ إلى ١٢٧ هجريا
١٤ / مروان بن محمد من ١٢٧ إلى ١٣٢ هجريا
*ثالثاً:الدولة العباسية* ٣٧ خليفة ''
١ / أبوالعباس من ١٣٢ إلى ١٣٦ هجريا
٢ / أبوجعفر المنصور من ١٣٦ إلى ١٥٨ هجريا
٣ / أبوعبدالله المهدي من ١٥٨ إلى ١٦٩ هجريا
٤/ موسى الهادي من ١٦٩ إلى ١٧٠ هجريا
٥ / هارون الرشيد من ١٧٠ إلى ١٩٣ هجريا
٦ / الأمين بن هارون من ١٩٣ إلى ١٩٨ هجريا
٧ / المأمون بن هارون من ١٩٨ إلى ٢١٨ هجريا
٨ / المعتصم بن هارون من ٢١٨ إلى ٢٢٧ هجريا
٩ / الواثق بالله من ٢٢٧ إلى ٢٣٢ هجريا
١٠ / المتوكل على الله من ٢٣٢ إلى ٢٤٧ هجريا
١١ / المنتصر بالله من ٢٤٧ إلى ٢٤٨ هجريا
١٢ / المستعين بالله من ٢٤٨ إلى ٢٥٢ هجريا
١٣ / المعتز بالله من ٢٥٢ إلى ٢٥٥ هجريا
١٤ / أبواسحاق المهدي من ٢٥٥ إلى ٢٥٦ هجريا
١٥ / أبو العباس المعتمد من ٢٥٦ إلى ٢٧٩ هجريا
١٦ / المعتضد بالله من ٢٧٩ إلى ٢٨٩ هجريا
١٧ / المكتفي بالله من ٢٨٩ إلى ٢٩٥ هجريا
١٨ / المقتدر بالله من ٢٩٥ إلى ٣١٧ هجريا
١٩ / ابو الفضل من ٣١٧ إلى ٣٢٠ هجريا
٢٠ / أبو منصور القاهر من ٣٢٠ إلى ٣٢٢ هجريا
٢١ / الراضي بالله من ٣٢٢ إلى ٣٢٩ هجريا
٢٢ / أبوالعباس المتقي بالله من ٣٢٩ -٣٣٣ هجريا
٢٣ / المطيع لله من ٣٣٤ إلى ٣٦٣هجريا
٢٤ / الطائع لله من ٣٦٣ إلى ٣٨١ هجريا
٢٥ / القادر بالله من ٣٨١ إلى ٤٢٢ هجريا
٢٦ / القائم بأمر الله من ٤٢٢ إلى ٤٦٧ هجريا
٢٧/ المقتدي بالله من ٤٦٧ إلى ٤٨٧ هجريا
٢٨ / المستظهر بالله من ٤٨٧ إلى ٥١٢ هجريا
٢٩ / المسترشد بالله من ٥١٢ إلى ٥٢٩ هجريا
٣٠ / الراشد بالله من ٥٢٩ إلى ٥٣٠ هجريا
٣١ / المتقي لأمر الله من ٥٣٠ إلى ٥٥٥ هجريا
٣٢ / المستجير بالله من ٥٥٥ إلى ٥٦٦ هجريا
٣٣ / المستضيئ بالله من ٥٦٦ إلى ٥٧٥ هجريا
٣٤ / الناصر لدين الله من ٥٧٥ إلى ٦٢٢ هجريا
٣٥ /الظاهربأمر الله من ٦٢٢ إلى ٦٢٣ هجريا
٣٦ / المستنصر بالله من ٦٢٣ إلى ٦٤٠ هجريا
٣٧ / المستعصم بالله من ٦٤٠ إلى ٦٥٦ هجريا
*رابعاً:الدولة العثمانية* ٣٧ خليفة ''
١/ عثمان غازي بن أرطغرل من ٦٩٨ - ٧٢٦ هجريا
٢/ أورخان غازي بن عثمان من ٧٢٦ -٧٦٣ هجريا
٣/ مراد الأول بن أورخان من ٧٦٣ - ٧٩١ هجريا
٤/بايازيد الأول من ٧٩١ إلى ٨٠٤ هجريا
٥/ محمد جلبي الأول من ٨١٦ إلى ٨٢٤ هجريا
٦/ مراد الثاني من ٨٢٤ إلى ٨٥٥ هجريا
٧/ محمد الثاني '' الفاتح '' من ٨٥٥ - ٨٨٦ هجريا
٨ / بايازيد الثاني من ٨٨٦ إلى٩١٨ هجريا
٩ / سليم الأول من ٩١٨ إلى ٩٢٦ هجريا
١٠ / سليمان القانوني من ٩٢٦ إلى ٩٧٤ هجريا
١١ / سليم الثاني من ٩٧٤ إلى ٩٨٢ هجريا
١٢/ مراد الثالث من ٩٨٢ إلى ١٠٠٣ هجريا
١٣ / محمد الثالث من ١٠٠٣ إلى ١٠١٢ هجريا
١٤ / أحمد الأول من ١٠١٢ إلى ١٠٢٦ هجريا
١٥ / مصطفى الأول من ١٠٢٦ إلى ١٠٢٧ هجريا
١٦ / عثمان الثاني من ١٠٢٧ إلى ١٠٣١ هجريا
١٧ / مراد الرابع من ١٠٣٢ إلى ١٠٤٩ هجريا
١٨ / إبراهيم عصبي من ١٠٤٩ إلى ١٠٥٨ هجريا
١٩ / محمد الرابع من ١٠٥٨ إلى ١٠٩٩ هجريا
٢٠ / سليمان الثاني من ١٠٩٩ إلى ١١٠٢ هجريا
٢١ / أحمد الثاني من ١١٠٢ إلى ١١٠٦ هجريا
٢٢ / مصطفى الثاني من ١١٠٦ إلى ١١١٥ هجريا
٢٣ / أحمد الثالث من ١١١٥ إلى ١١٤٣ هجريا
٢٤ / محمود الأ
*أولاً:الخلفاءالراشدون*
١ / أبوبكر الصديق من ١١ إلى ١٣ هجريا
٢ / عمر بن الخطاب من ١٣ إلى ٢٣ هجريا
٣ /عثمان بن عفان من ٢٣ إلى ٣٥ هجريا
٤ / علي بن أبي طالب من ٣٥ إلى ٤٠ هجريا
5 / الحسن بن علي من ٤٠ إلى ٤١ هجريا
*ثانياً:الدولة الأموية* ١٤ خليفة
١ / معاوية بن أبي سفيان من ٤١ إلى ٦٠هجريا
٢ / يزيد بن معاوية من ٦٠ إلى ٦٤ هجريا
٣ / معاوية بن يزيد '' عدة شهور ''
٤ / مروان بن الحكم من ٦٤ إلى ٦٥ هجريا
٥ / عبدالملك بن مروان من ٦٥ إلى ٨٦ هجريا
٦ / الوليد بن عبدالملك من ٨٦ إلى ٩٦ هجريا
٧ / سليمان بن عبد الملك من ٩٦ إلى ٩٩ هجريا
٨ / عمر بن عبدالعزيز من ٩٩ إلى ١٠١ هجريا
٩ / يزيد بن عبدالملك من ١٠١ إلى ١٠٥ هجريا
١٠ /هشام بن عبدالملك من ١٠٥ إلى ١٢٥ هجريا
١١ / الوليد بن يزيد من ١٢٥ إلى ١٢٦ هجريا
١٢ / يزيد بن الوليد '' عدة شهور ''
١٣ / إبراهيم بن الوليد من ١٢٦ إلى ١٢٧ هجريا
١٤ / مروان بن محمد من ١٢٧ إلى ١٣٢ هجريا
*ثالثاً:الدولة العباسية* ٣٧ خليفة ''
١ / أبوالعباس من ١٣٢ إلى ١٣٦ هجريا
٢ / أبوجعفر المنصور من ١٣٦ إلى ١٥٨ هجريا
٣ / أبوعبدالله المهدي من ١٥٨ إلى ١٦٩ هجريا
٤/ موسى الهادي من ١٦٩ إلى ١٧٠ هجريا
٥ / هارون الرشيد من ١٧٠ إلى ١٩٣ هجريا
٦ / الأمين بن هارون من ١٩٣ إلى ١٩٨ هجريا
٧ / المأمون بن هارون من ١٩٨ إلى ٢١٨ هجريا
٨ / المعتصم بن هارون من ٢١٨ إلى ٢٢٧ هجريا
٩ / الواثق بالله من ٢٢٧ إلى ٢٣٢ هجريا
١٠ / المتوكل على الله من ٢٣٢ إلى ٢٤٧ هجريا
١١ / المنتصر بالله من ٢٤٧ إلى ٢٤٨ هجريا
١٢ / المستعين بالله من ٢٤٨ إلى ٢٥٢ هجريا
١٣ / المعتز بالله من ٢٥٢ إلى ٢٥٥ هجريا
١٤ / أبواسحاق المهدي من ٢٥٥ إلى ٢٥٦ هجريا
١٥ / أبو العباس المعتمد من ٢٥٦ إلى ٢٧٩ هجريا
١٦ / المعتضد بالله من ٢٧٩ إلى ٢٨٩ هجريا
١٧ / المكتفي بالله من ٢٨٩ إلى ٢٩٥ هجريا
١٨ / المقتدر بالله من ٢٩٥ إلى ٣١٧ هجريا
١٩ / ابو الفضل من ٣١٧ إلى ٣٢٠ هجريا
٢٠ / أبو منصور القاهر من ٣٢٠ إلى ٣٢٢ هجريا
٢١ / الراضي بالله من ٣٢٢ إلى ٣٢٩ هجريا
٢٢ / أبوالعباس المتقي بالله من ٣٢٩ -٣٣٣ هجريا
٢٣ / المطيع لله من ٣٣٤ إلى ٣٦٣هجريا
٢٤ / الطائع لله من ٣٦٣ إلى ٣٨١ هجريا
٢٥ / القادر بالله من ٣٨١ إلى ٤٢٢ هجريا
٢٦ / القائم بأمر الله من ٤٢٢ إلى ٤٦٧ هجريا
٢٧/ المقتدي بالله من ٤٦٧ إلى ٤٨٧ هجريا
٢٨ / المستظهر بالله من ٤٨٧ إلى ٥١٢ هجريا
٢٩ / المسترشد بالله من ٥١٢ إلى ٥٢٩ هجريا
٣٠ / الراشد بالله من ٥٢٩ إلى ٥٣٠ هجريا
٣١ / المتقي لأمر الله من ٥٣٠ إلى ٥٥٥ هجريا
٣٢ / المستجير بالله من ٥٥٥ إلى ٥٦٦ هجريا
٣٣ / المستضيئ بالله من ٥٦٦ إلى ٥٧٥ هجريا
٣٤ / الناصر لدين الله من ٥٧٥ إلى ٦٢٢ هجريا
٣٥ /الظاهربأمر الله من ٦٢٢ إلى ٦٢٣ هجريا
٣٦ / المستنصر بالله من ٦٢٣ إلى ٦٤٠ هجريا
٣٧ / المستعصم بالله من ٦٤٠ إلى ٦٥٦ هجريا
*رابعاً:الدولة العثمانية* ٣٧ خليفة ''
١/ عثمان غازي بن أرطغرل من ٦٩٨ - ٧٢٦ هجريا
٢/ أورخان غازي بن عثمان من ٧٢٦ -٧٦٣ هجريا
٣/ مراد الأول بن أورخان من ٧٦٣ - ٧٩١ هجريا
٤/بايازيد الأول من ٧٩١ إلى ٨٠٤ هجريا
٥/ محمد جلبي الأول من ٨١٦ إلى ٨٢٤ هجريا
٦/ مراد الثاني من ٨٢٤ إلى ٨٥٥ هجريا
٧/ محمد الثاني '' الفاتح '' من ٨٥٥ - ٨٨٦ هجريا
٨ / بايازيد الثاني من ٨٨٦ إلى٩١٨ هجريا
٩ / سليم الأول من ٩١٨ إلى ٩٢٦ هجريا
١٠ / سليمان القانوني من ٩٢٦ إلى ٩٧٤ هجريا
١١ / سليم الثاني من ٩٧٤ إلى ٩٨٢ هجريا
١٢/ مراد الثالث من ٩٨٢ إلى ١٠٠٣ هجريا
١٣ / محمد الثالث من ١٠٠٣ إلى ١٠١٢ هجريا
١٤ / أحمد الأول من ١٠١٢ إلى ١٠٢٦ هجريا
١٥ / مصطفى الأول من ١٠٢٦ إلى ١٠٢٧ هجريا
١٦ / عثمان الثاني من ١٠٢٧ إلى ١٠٣١ هجريا
١٧ / مراد الرابع من ١٠٣٢ إلى ١٠٤٩ هجريا
١٨ / إبراهيم عصبي من ١٠٤٩ إلى ١٠٥٨ هجريا
١٩ / محمد الرابع من ١٠٥٨ إلى ١٠٩٩ هجريا
٢٠ / سليمان الثاني من ١٠٩٩ إلى ١١٠٢ هجريا
٢١ / أحمد الثاني من ١١٠٢ إلى ١١٠٦ هجريا
٢٢ / مصطفى الثاني من ١١٠٦ إلى ١١١٥ هجريا
٢٣ / أحمد الثالث من ١١١٥ إلى ١١٤٣ هجريا
٢٤ / محمود الأ
ول من ١١٤٣ إلى ١١٦٨ هجريا
٢٥ / عثمان الثالث من ١١٦٨ إلى ١١٧١ هجريا
٢٦ / مصطفى الثالث من ١١٧١ إلى ١١٨٧ هجريا
٢٧ / عبدالحميد الأول من ١١٨٧ إلى ١٢٠٣ هجريا
٢٨ / سليم الثالث من ١٢٠٣ إلى ١٢٢٢ هجريا
٢٩ / مصطفى الرابع من ١٢٢٢ إلى ١٢٢٣ هجريا
٣٠ / محمود الثاني من ١٢٢٣ إلى ١٢٥٥ هجريا
٣١ / عبدالمجيد الأول من ١٢٥٥ إلى ١٢٧٧ هجريا
٣٢ / عبدالعزيز الشهيد من ١٢٧٧-١٢٩٣ هجريا
٣٣ / مراد الخامس من ١٢٩٣ إلى ١٢٩٣ هجريا
٣٤ / عبدالحميد الثاني من ١٢٩٣ -١٣٢٧ هجريا
٣٥ / محمد رشاد الثاني من ١٣٢٧-١٣٣٦ هجريا
٣٦ / محمد وحيد السادس من ١٣٣٦-١٣٤١هجريا
٣٧ / عبدالمجيد الثاني '' آخر خلفاء الإسلام ''
من ١٣٤١ إلى ١٣٤٢ هجريا
وبسقوط الخلافة العثمانية دخل العالم الاسلامي تحت الاستعمار واستقلت بعدها وظهور دول جديده وتفرقت الأمة الاسلامية الى دويلات وبقيت على وضعها الحالي.
🍃🍃🍃🍃
٢٥ / عثمان الثالث من ١١٦٨ إلى ١١٧١ هجريا
٢٦ / مصطفى الثالث من ١١٧١ إلى ١١٨٧ هجريا
٢٧ / عبدالحميد الأول من ١١٨٧ إلى ١٢٠٣ هجريا
٢٨ / سليم الثالث من ١٢٠٣ إلى ١٢٢٢ هجريا
٢٩ / مصطفى الرابع من ١٢٢٢ إلى ١٢٢٣ هجريا
٣٠ / محمود الثاني من ١٢٢٣ إلى ١٢٥٥ هجريا
٣١ / عبدالمجيد الأول من ١٢٥٥ إلى ١٢٧٧ هجريا
٣٢ / عبدالعزيز الشهيد من ١٢٧٧-١٢٩٣ هجريا
٣٣ / مراد الخامس من ١٢٩٣ إلى ١٢٩٣ هجريا
٣٤ / عبدالحميد الثاني من ١٢٩٣ -١٣٢٧ هجريا
٣٥ / محمد رشاد الثاني من ١٣٢٧-١٣٣٦ هجريا
٣٦ / محمد وحيد السادس من ١٣٣٦-١٣٤١هجريا
٣٧ / عبدالمجيد الثاني '' آخر خلفاء الإسلام ''
من ١٣٤١ إلى ١٣٤٢ هجريا
وبسقوط الخلافة العثمانية دخل العالم الاسلامي تحت الاستعمار واستقلت بعدها وظهور دول جديده وتفرقت الأمة الاسلامية الى دويلات وبقيت على وضعها الحالي.
🍃🍃🍃🍃
Syed Al Attas menegaskan bahwa kemunduran umat Islam akan terjadi jika terjadi 'the loss of adab'. Maka kembali tekun menguatkan adab, dan kemudian mengambil keberkahan dari pelajaran-pelajaran agama, akan membawa manusia meraih solusi atas setiap krisis.
t.me/supraha
t.me/supraha
Berikut saya share tulisan dari guru saya, Dr. Hamid Fahmy, pimpinan Gontor. Semoga berfaidah untuk saya dan sahabat semua:
MENGETAHUI
Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi
Suatu ketika al-Ghazzali melakukan perjalanan panjang. Dalam perjalanannya itu ia membawa serta seluruh buku bacaannya. Konon di tengah jalan tiba-tiba datang segerombolan orang merampok seluruh bawaan al-Ghazzali, termasuk buku-bukunya. Padahal ia belum membaca seluruh isi buku itu. Yang telah ia baca pun belum seluruhnya dihafal.
Kejadian itu benar-benar telah menyadarkan al-Ghazzali, bahwa ilmu itu ada di dalam dada dan bukan dalam tulisan (al-‘ilm fi-s-sudur la fi-s-sutur). Sejak kejadian itu al-Ghazzali bertekad untuk selalu mengingat apa yang telah ia baca. Yang menarik tentu bukan peristiwa perampokannya, tapi kesimpulan al-Ghazzali tentang letak ilmu. Benarkah mengetahui dan pengetahuan itu ada di dalam dada? Apa bedanya ilmu dari ma’rifah.
Bicara ilmu adalah bicara obyeknya (realitas atau wujud) dan luas obyek ilmu adalah seluas realitas atau wujud. Maka dari itu realitas bagi Ghazzali dan juga para ulama adalah empiris dan non-empiris. Realitas empiris pun dibagi sekurangnya menjadi tiga : realitas individual, realitas pembicaraan, dan realitas pikiran. Yang pertama adalah wujud yang riel dan empiris, yang kedua adalah wujud dalam pembicaraan yang bersifat verbal dan indikatif, dan yang ketiga adalah wujud dalam pikiran yang bersifat kognitif dan formal. Diatas dari segala realitas tersebut diatas adalah Realitas Mutlak atau Wujud Mutlak.
Lalu bagaimana proses mengetahuinya? Bagi al-Ghazzali untuk realitas empiris dimulai dari kajian terhadap hal-hal yang khusus yang dapat dipahami dan dikomunikasikan dengan bahasa. Ketika wujud individual difahami oleh akal kita, bentuk (surah) dari realitas individual tersebut tercetak dalam mata, lalu pada imaginasi kita dan kemudian menjadi wujud dalam pikiran kita. Ketika bentuk realitas atau wujud individual itu hadir dalam pikiran, ia menjadi ilmu, sebab obyek yang diketahui berhubungan dengan representasi dalam pikiran tersebut, persis seperti bayangan kita yang tercermin dalam kaca.
Jadi proses mengetahui mengharuskan adanya tiga hal yaitu: obyek ilmu pengetahuan, penerima dan proses kognisinya yang melibatkan penginderaan. Ketika realitas atau wujud empiris ada dalam pikiran ia tetap bernama realitas. Demikian pula keimanan yang tidak empiris di dalam dada itu dapat disebut realitas juga. Jika realitas empiris – melalui proses – dapat tercermin dalam pikiran, maka Realitas Mutlak atau Wujud Mutlak, yaitu Tuhan dapat pula tercermin dalam diri manusia.
Dengan jalan empiris saja manusia telah dapat mengetahui dirinya sendiri, alam semesta dan Tuhannya. Wujud Tuhan dapat diketahui secara indukif dari ciptaanNya. Ilmu-ilmu empiris itu tentang ciptaan Tuhan itu merupakan aspek-aspek yang saling berhubungan dan membentuk kesatuan. Pada maqam yang tertinggi orang akan sampai pada pandangan bahwa realitas dan kebenaran itu hanya satu dan tidak plural. Artinya dalam akalnya hanya ada satu realitas atau wujud, yaitu Wujud Mutlak, Aktor (fa’il) dari segala wujud yang plural yang nisbi.
Jikapun tidak dengan jalan empiris Tuhan dapat diketahui dengan mata hati. Sebab dalam diri manusia telah terdapat naluri (fitrah) mengenal tuhan (ma’rifatullah). Naluri itu diciptakan oleh Tuhan sebelum manusia lahir melalui syahadah awal (mithaq). Syahadah inilah bekal manusia memperoleh ma’rifah. Nietzsche menuduh fitrah ini hanya pikiran dan khayalan. Dan khayalan itu, menurutnya, harus dibunuh agar orang dapat berfikir saintifik. God is dead artinya fitrah itu telah mati. Memang pengetahuan tentang ini bagi al-Ghazzali tidak dimiliki orang awam, termasuk Nietzsche. Pengetahuan tentang Tuhan dengan jalan non-empiris dicapai dengan mata hati yang penuh cinta. Dalam Ihya ia menyatakan:”…metode terbaik untuk memperoleh kebenaran dan sekaligus kecintaan pada Allah adalah dengan metode deduktif dari ma’rifah tentang Allah kepada pengetahuan tentang realitas. Tapi ini adalah metode yang rumit dan tidak difahami orang awam
MENGETAHUI
Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi
Suatu ketika al-Ghazzali melakukan perjalanan panjang. Dalam perjalanannya itu ia membawa serta seluruh buku bacaannya. Konon di tengah jalan tiba-tiba datang segerombolan orang merampok seluruh bawaan al-Ghazzali, termasuk buku-bukunya. Padahal ia belum membaca seluruh isi buku itu. Yang telah ia baca pun belum seluruhnya dihafal.
Kejadian itu benar-benar telah menyadarkan al-Ghazzali, bahwa ilmu itu ada di dalam dada dan bukan dalam tulisan (al-‘ilm fi-s-sudur la fi-s-sutur). Sejak kejadian itu al-Ghazzali bertekad untuk selalu mengingat apa yang telah ia baca. Yang menarik tentu bukan peristiwa perampokannya, tapi kesimpulan al-Ghazzali tentang letak ilmu. Benarkah mengetahui dan pengetahuan itu ada di dalam dada? Apa bedanya ilmu dari ma’rifah.
Bicara ilmu adalah bicara obyeknya (realitas atau wujud) dan luas obyek ilmu adalah seluas realitas atau wujud. Maka dari itu realitas bagi Ghazzali dan juga para ulama adalah empiris dan non-empiris. Realitas empiris pun dibagi sekurangnya menjadi tiga : realitas individual, realitas pembicaraan, dan realitas pikiran. Yang pertama adalah wujud yang riel dan empiris, yang kedua adalah wujud dalam pembicaraan yang bersifat verbal dan indikatif, dan yang ketiga adalah wujud dalam pikiran yang bersifat kognitif dan formal. Diatas dari segala realitas tersebut diatas adalah Realitas Mutlak atau Wujud Mutlak.
Lalu bagaimana proses mengetahuinya? Bagi al-Ghazzali untuk realitas empiris dimulai dari kajian terhadap hal-hal yang khusus yang dapat dipahami dan dikomunikasikan dengan bahasa. Ketika wujud individual difahami oleh akal kita, bentuk (surah) dari realitas individual tersebut tercetak dalam mata, lalu pada imaginasi kita dan kemudian menjadi wujud dalam pikiran kita. Ketika bentuk realitas atau wujud individual itu hadir dalam pikiran, ia menjadi ilmu, sebab obyek yang diketahui berhubungan dengan representasi dalam pikiran tersebut, persis seperti bayangan kita yang tercermin dalam kaca.
Jadi proses mengetahui mengharuskan adanya tiga hal yaitu: obyek ilmu pengetahuan, penerima dan proses kognisinya yang melibatkan penginderaan. Ketika realitas atau wujud empiris ada dalam pikiran ia tetap bernama realitas. Demikian pula keimanan yang tidak empiris di dalam dada itu dapat disebut realitas juga. Jika realitas empiris – melalui proses – dapat tercermin dalam pikiran, maka Realitas Mutlak atau Wujud Mutlak, yaitu Tuhan dapat pula tercermin dalam diri manusia.
Dengan jalan empiris saja manusia telah dapat mengetahui dirinya sendiri, alam semesta dan Tuhannya. Wujud Tuhan dapat diketahui secara indukif dari ciptaanNya. Ilmu-ilmu empiris itu tentang ciptaan Tuhan itu merupakan aspek-aspek yang saling berhubungan dan membentuk kesatuan. Pada maqam yang tertinggi orang akan sampai pada pandangan bahwa realitas dan kebenaran itu hanya satu dan tidak plural. Artinya dalam akalnya hanya ada satu realitas atau wujud, yaitu Wujud Mutlak, Aktor (fa’il) dari segala wujud yang plural yang nisbi.
Jikapun tidak dengan jalan empiris Tuhan dapat diketahui dengan mata hati. Sebab dalam diri manusia telah terdapat naluri (fitrah) mengenal tuhan (ma’rifatullah). Naluri itu diciptakan oleh Tuhan sebelum manusia lahir melalui syahadah awal (mithaq). Syahadah inilah bekal manusia memperoleh ma’rifah. Nietzsche menuduh fitrah ini hanya pikiran dan khayalan. Dan khayalan itu, menurutnya, harus dibunuh agar orang dapat berfikir saintifik. God is dead artinya fitrah itu telah mati. Memang pengetahuan tentang ini bagi al-Ghazzali tidak dimiliki orang awam, termasuk Nietzsche. Pengetahuan tentang Tuhan dengan jalan non-empiris dicapai dengan mata hati yang penuh cinta. Dalam Ihya ia menyatakan:”…metode terbaik untuk memperoleh kebenaran dan sekaligus kecintaan pada Allah adalah dengan metode deduktif dari ma’rifah tentang Allah kepada pengetahuan tentang realitas. Tapi ini adalah metode yang rumit dan tidak difahami orang awam
” (Ihya’ hal. 2619, vol. IV).
Jadi ternyata tempat ‘ilm dan ma’rifah adalah sama, yaitu di dalam hati, di dada. Berarti tempat aktifitas zikir, fikir, ‘ilm, iman, amal, cinta dan akhlaq adalah sama. Jika semua aktifitas itu seimbang maka sampailah seseorang itu kederajat yaqin. Bangunan trilogi iman, ilmu amal adalah paradigm keilmuan Islam yang kuat. Karena itu ilmu dalam Islam berdimensi amal dan amal berdimensi ilmu, keduanya bersumber pada iman. Maka al-Ghazzali tegas “ilmu tanpa amal adalah gila dan amal tanpa ilmu adalah sombong”. Jadi, Muslim yang mengatakan “hatinya di Mekkah otaknya di Jerman atau di New York”, berarti imannya tanpa ilmu, ilmunya tanpa iman. Hatinya berzikir tapi pikirannya - boleh jadi – sekuler-liberal. Wallahu a’lam.
Jadi ternyata tempat ‘ilm dan ma’rifah adalah sama, yaitu di dalam hati, di dada. Berarti tempat aktifitas zikir, fikir, ‘ilm, iman, amal, cinta dan akhlaq adalah sama. Jika semua aktifitas itu seimbang maka sampailah seseorang itu kederajat yaqin. Bangunan trilogi iman, ilmu amal adalah paradigm keilmuan Islam yang kuat. Karena itu ilmu dalam Islam berdimensi amal dan amal berdimensi ilmu, keduanya bersumber pada iman. Maka al-Ghazzali tegas “ilmu tanpa amal adalah gila dan amal tanpa ilmu adalah sombong”. Jadi, Muslim yang mengatakan “hatinya di Mekkah otaknya di Jerman atau di New York”, berarti imannya tanpa ilmu, ilmunya tanpa iman. Hatinya berzikir tapi pikirannya - boleh jadi – sekuler-liberal. Wallahu a’lam.
📚 *DO'A PEMIMPIN UMAT*
Allāh ﷻ berfirman dalam Surat Al-Furqān [25] ayat 74:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
_*(Rabbanā hablanā min azwājinā wa dzurriyyātinā qurrata a’yun waj’alnā lilmuttaqīna imāma)*_
_Artinya: “Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”_
✍ Islam mendorong manusia untuk mengawali ke-Islam-annya dengan memperbaiki dirinya dan keluarganya, membentuk pribadi Muslim sejati dan membangun Keluarga Islami seutuhnya
✍ Keteguhan individu dan kekuatan keluarga adalah modal awal kepemimpinan
✍ Seorang pria tidak dilahirkan sekedar menjadi pemimpin diri dan keluarga, karena tanpa diskenariokan ia tetap keniscayaan
✍ Pria mukmin sejati dihadirkan untuk menjadi pemimpin umat, pemimpin orang-orang yang bertaqwa
✍ Islam mendorong mukmin untuk dapat memberikan kemanfaatan dirinya atas kebanyakan manusia dengan terbiasa mengkonsolidasikan kekuatan orang-orang shalih di sekitarnya sehingga lahir amal jama'i
✍ Sebuah amal akan melahirkan daya dobrak luar biasa jika dikerjakan bersama-sama manusia yang mencintai pekerjaan dalam persatuan
✍ Mukmin dengan demikian perlu terus meningkatkan kapasitas individunya sebagai pemimpin agar suatu saat ia diminta memimpin atau harus memimpin ia telah memiliki kafaah mencukupi sehingga lahirlah tsiqah dari umat berpadu dengan keikhlasannya
Bogor, 12 Shafar 1438 H
Wido Supraha [ *@supraha* ]
📡 t.me/supraha
Allāh ﷻ berfirman dalam Surat Al-Furqān [25] ayat 74:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
_*(Rabbanā hablanā min azwājinā wa dzurriyyātinā qurrata a’yun waj’alnā lilmuttaqīna imāma)*_
_Artinya: “Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”_
✍ Islam mendorong manusia untuk mengawali ke-Islam-annya dengan memperbaiki dirinya dan keluarganya, membentuk pribadi Muslim sejati dan membangun Keluarga Islami seutuhnya
✍ Keteguhan individu dan kekuatan keluarga adalah modal awal kepemimpinan
✍ Seorang pria tidak dilahirkan sekedar menjadi pemimpin diri dan keluarga, karena tanpa diskenariokan ia tetap keniscayaan
✍ Pria mukmin sejati dihadirkan untuk menjadi pemimpin umat, pemimpin orang-orang yang bertaqwa
✍ Islam mendorong mukmin untuk dapat memberikan kemanfaatan dirinya atas kebanyakan manusia dengan terbiasa mengkonsolidasikan kekuatan orang-orang shalih di sekitarnya sehingga lahir amal jama'i
✍ Sebuah amal akan melahirkan daya dobrak luar biasa jika dikerjakan bersama-sama manusia yang mencintai pekerjaan dalam persatuan
✍ Mukmin dengan demikian perlu terus meningkatkan kapasitas individunya sebagai pemimpin agar suatu saat ia diminta memimpin atau harus memimpin ia telah memiliki kafaah mencukupi sehingga lahirlah tsiqah dari umat berpadu dengan keikhlasannya
Bogor, 12 Shafar 1438 H
Wido Supraha [ *@supraha* ]
📡 t.me/supraha