π–πŽπ‹π•π„'𝐒 ππŽπƒπ‚π€π’π“
288 subscribers
126 photos
6 links
πŸ‰€ Welcome to the wolves podcast channel

π–‘Ÿ Everything in this channel
is copyrighted and inspired
by the internet.
π–‘‘ Ngobrol with wolve's π–‘‘
☏ @ofcwhitewolves
Download Telegram
πŸŽ™ β€” Wah, keren banget ya pendapat dari kak Adnan, dan saya juga setuju sih. setiap zaman memang ada enak dan gak enaknya terutama jika kita compare antara zaman dulu yang susah banget dapet informasi tapi tekanan dari dunia maya itu sedikit dibanding sekarang yang lebih gampang dapet informasi melalui internet tapi malah dapet banyak tekanan.

πŸŽ™ β€” Media sosial, yang awalnya bertujuan untuk mempermudah komunikasi dan berbagi informasi, kini sering menjadi pemicu rasa insecure karena banyak orang tanpa sadar membandingkan diri mereka dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna di layar, sehingga memengaruhi kepercayaan diri dan kesehatan mental jika tidak digunakan secara bijak.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
πŸŽ™ β€” Saya pernah baca data WHO dan UNICEF β€” angka kesehatan mental remaja tuh makin naik. Banyak banget anak muda yang ngerasa insecure, gak cukup keren, gak cukup β€˜pantas’, cuma karena ngelihat postingan orang lain.

πŸŽ™ β€” Kalau menurut Kak Adnan sendiri, kenapa sih rasa gak percaya diri atau insecure itu bisa makin umum terjadi sekarang?
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
πŸŽ™ β€” eh iya, saya juga sempat baca soal itu, Kak. dan pas saya liat-liat di sekitar juga, emang makin banyak remaja yang keliatan ngerasa gk cukup, entah karena ngebandingin diri sama pencapaian orang lain, penampilan, atau hal-hal kecil yang muncul di media sosial setiap hari.

πŸŽ™ β€” rasa insecure atau minder sekarang sudah menjadi hal umum ya. dan menurut saya, rasa insecure itu tumbuh bukan semata-mata karena kita gk percaya diri, tapi karena lingkungan digital kita sekarang tuh sangat mudah bikin kita merasa kurang
πŸŽ™ β€” karena sekarang standar untuk merasa cukup jadi makin kabur, kita jadi terlalu sering melihat β€˜versi jadi’ orang lain tanpa pernah tahu prosesnya. dan itu muncul setiap hari entah dari postingan, story, video singkat, dan algoritma media sosial yang gak pernah berhenti menyodorkan pencapaian orang lain atau suatu hal yang baru ke depan mata kita.

πŸŽ™ β€” kita akhirnya tumbuh dalam suasana yang mengharuskan untuk selalu β€œon”, selalu β€œterlihat baik” dan mulai membentuk identitas dari apa yang dikatakan dunia luar, bukan dari proses kenal diri yang pelan dan pribadi. dan ketika ekspektasi itu gk bisa kita kejar, muncul rasa gk layak. padahal, bukan karena kita gk cukup, tpi karena kita terus membandingkan diri dengan potongan yang sudah disaring sempurna oleh orang lain.

πŸŽ™ β€” jadi menurut saya, rasa insecure itu menjadi hal umum bukan karena kita makin lemah, tapi karena kita terlalu sering disodori hal-hal yang membuat kita lupa melihat diri sendiri apa adanya
πŸŽ™ β€” Kalau saya sih, setuju banget ya. karena remaja zaman sekarang lebih berkamuflase agar disukai banyak orang karena rasa insecure atau semacamnya. dan sekarang juga banyak informasi seperti: algoritma media sosial, notifikasi kabar dari teman atau pun orang lain, yang akhirnya bikin kita tambah insecure atau cemas. ujung-ujungnya bikin kita lupa sama diri kita sendiri.

πŸŽ™β€” Dulu sosial media kan tujuannya biar kita bisa lebih saling terhubung satu sama lain dan bisa dapet ilmu baru juga. Tapi sekarang, kok kayaknya malah makin bikin overthinking, susah fokus, bahkan bikin cemas ya?

πŸŽ™ β€” Kamu sendiri ngerasa medsos tuh lebih banyak bantu atau lebih banyak ganggunya buat remaja sekarang?
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
πŸŽ™ β€” saya ngerasa dua-duanya sih, media sosial bisa bantu, tapi bisa juga ganggu, tergantung cara dan posisi kita dalam menggunakannya. di sisi baiknya, medsos bisa jadi ruang belajar, ruang ekspresi, bahkan jendela untuk melihat dunia yg sebelumnya gk bisa kita akses. banyak hal positif lahir dari sana. sepeti komunitas, pengetahuan, dan juga peluang.

πŸŽ™ β€” tapi di sisi lain, ketika kita gk punya batas yang jelas, media sosial justru menyedot fokus, memperbesar keraguan, dan bikin kita terlalu sibuk membentuk citra. apalagi remaja, yang masih membangun identitas dan masih mencoba tahu siapa dirinya, dan gk buat remaja doang, mayoritas orang tuh sensitif banget sama validasi, satu like bisa bikin seneng, tapi satu komentar bisa kepikiran berhari-hari, ya gak? malah bikin overthinking, susah fokus, dan bandingin diri terus

πŸŽ™ β€” media sosial akan bantu klo kita sadar cara pakainya. tapi klo tidak ya bisa mengganggu bukan hanya waktu, tapi juga arah berpikir dan cara kita menilai hidup dan diri sendiri
πŸŽ™ β€” Iya sih, bener banget. orang-orang zaman sekarang terutama remaja tu bener-bener haus akan validasi. even cuma dipuji cantik atau ganteng udah bikin hati kita berbunga-bunga banget.

πŸŽ™ β€” Tapi kak Adnan, saya sering mikir gini, kenapa sih sekarang jadi diri sendiri di media sosial rasanya susah banget? Banyak orang, termasuk saya kadang, merasa harus kelihatan keren, punya foto bagus, atau cerita hidup yang menarik supaya diakui dan dianggap ada. Rasanya kalau tampil apa adanya takut gak dilihat atau malah dihakimi. Padahal, di balik unggahan yang tampak sempurna, banyak hati yang sebenarnya capek menutupi kekurangan. Tempat yang katanya buat berekspresi malah justru bikin orang ragu menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.

πŸŽ™ β€” Menurut kak adnan, media sosial itu buat kita lebih berani jadi diri sendiri atau malah bikin kita makin takut dinilai dan gak diterima?
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
πŸŽ™ β€” alih-alih membuat orang lebih berani, menurut saya malah media sosial justru membentuk β€œversi aman” dari seseorang. kita menyesuaikan diri, menahan bagian-bagian yang paling jujur, dan akhirnya jadi orang yang dilihat baik, tapi mungkin bukan sepenuhnya kita. secara teori, media sosial itu punya potensi besar untuk jadi ruang ekspresi. tapi kenyataannya, gk semua orang merasa cukup aman untuk jadi diri sendiri di sana.

πŸŽ™ β€” kita sekarang hidup dalam sistem validasi yang cepat. melalui like, share, komentar. dan ketika hal-hal itu menjadi tolok ukur eksistensi, kita mulai berpikir dua kali sebelum menunjukkan siapa kita sebenarnya. bukan karena gk tahu siapa diri kita, tapi karena takut gk sesuai dengan standar yang sudah terbentuk.

πŸŽ™ β€” banyak yang akhirnya ngerasa harus keren dulu biar bisa eksis. harus sesuai tren, harus keliatan happy, harus punya aura dan lain-lain. sebetulnya media sosial juga bisa kok bantu kita lebih berani, tapi kita harus punya pegangan yang kuat atas diri sendiri
πŸŽ™ β€” Berarti semuanya tergantung sama diri kita sendiri maupun lingkungan di sekitar media sosial kita ya kak? hmm memang struggle nya banyak banget ya di media sosial.

πŸŽ™ β€” Lalu, feed di handphone kan terus jalan, tren selalu berubah seiring berjalannya waktu. Kadang kita sampe lupa siapa diri kita di balik semua itu semua demi sebuah tren yang kita ikuti.

πŸŽ™ β€”  Kalau kamu sendiri, gimana sih caramu biar tetap punya arah dan gak hanyut sama arus digital yang kenceng banget ini?
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
πŸŽ™ β€” ini pertanyaannya dalem banget sih, dan jujur... saya juga masih sering ngerasa kebawa arus. soalnya emang segitu kencengnya dunia digital sekarang. tiap buka hp, selalu ada yang baru entah itu tren baru, info baru, standar baru. dan kadang kita jadi lupa, sebenernya kita tuh mau ngapain
πŸŽ™ β€” jadi kalau dibilang caranya biar gak hanyut, ya... saya mulai dari ngebatasin. bukan anti sama dunia digitalnya, tapi lebih ke milih. mana yang perlu saya simak, mana yang bisa dilewat. soalnya gak semua yang lewat di timeline itu butuh kita ikutin, kan? tanya ke diri sendiri "emang saya butuh itu?"

πŸŽ™ β€” tapi ya itu, saya juga masih belajar. kadang masih keikut juga. makanya saya penasaran, Kak Jela sendiri pernah gak sih ngerasa kayak... udah nyerap terlalu banyak, sampai lupa apa yang sebenernya pengen dijalanin dari awal?

πŸŽ™ β€” saya juga berpikir klo arah itu bukan cuma tentang tujuan, tapi tentang keputusan mana yang tetap kita pegang meski semua orang bergerak ke arah lain, berani bilang β€œyang ini bukan buat saya,” meski semua orang lagi ke sana