This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
π β Saya pernah baca data WHO dan UNICEF β angka kesehatan mental remaja tuh makin naik. Banyak banget anak muda yang ngerasa insecure, gak cukup keren, gak cukup βpantasβ, cuma karena ngelihat postingan orang lain.
π β Kalau menurut Kak Adnan sendiri, kenapa sih rasa gak percaya diri atau insecure itu bisa makin umum terjadi sekarang?
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
π β eh iya, saya juga sempat baca soal itu, Kak. dan pas saya liat-liat di sekitar juga, emang makin banyak remaja yang keliatan ngerasa gk cukup, entah karena ngebandingin diri sama pencapaian orang lain, penampilan, atau hal-hal kecil yang muncul di media sosial setiap hari.
π β rasa insecure atau minder sekarang sudah menjadi hal umum ya. dan menurut saya, rasa insecure itu tumbuh bukan semata-mata karena kita gk percaya diri, tapi karena lingkungan digital kita sekarang tuh sangat mudah bikin kita merasa kurang
π β rasa insecure atau minder sekarang sudah menjadi hal umum ya. dan menurut saya, rasa insecure itu tumbuh bukan semata-mata karena kita gk percaya diri, tapi karena lingkungan digital kita sekarang tuh sangat mudah bikin kita merasa kurang
π β karena sekarang standar untuk merasa cukup jadi makin kabur, kita jadi terlalu sering melihat βversi jadiβ orang lain tanpa pernah tahu prosesnya. dan itu muncul setiap hari entah dari postingan, story, video singkat, dan algoritma media sosial yang gak pernah berhenti menyodorkan pencapaian orang lain atau suatu hal yang baru ke depan mata kita.
π β kita akhirnya tumbuh dalam suasana yang mengharuskan untuk selalu βonβ, selalu βterlihat baikβ dan mulai membentuk identitas dari apa yang dikatakan dunia luar, bukan dari proses kenal diri yang pelan dan pribadi. dan ketika ekspektasi itu gk bisa kita kejar, muncul rasa gk layak. padahal, bukan karena kita gk cukup, tpi karena kita terus membandingkan diri dengan potongan yang sudah disaring sempurna oleh orang lain.
π β jadi menurut saya, rasa insecure itu menjadi hal umum bukan karena kita makin lemah, tapi karena kita terlalu sering disodori hal-hal yang membuat kita lupa melihat diri sendiri apa adanya
π β kita akhirnya tumbuh dalam suasana yang mengharuskan untuk selalu βonβ, selalu βterlihat baikβ dan mulai membentuk identitas dari apa yang dikatakan dunia luar, bukan dari proses kenal diri yang pelan dan pribadi. dan ketika ekspektasi itu gk bisa kita kejar, muncul rasa gk layak. padahal, bukan karena kita gk cukup, tpi karena kita terus membandingkan diri dengan potongan yang sudah disaring sempurna oleh orang lain.
π β jadi menurut saya, rasa insecure itu menjadi hal umum bukan karena kita makin lemah, tapi karena kita terlalu sering disodori hal-hal yang membuat kita lupa melihat diri sendiri apa adanya
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
π β saya ngerasa dua-duanya sih, media sosial bisa bantu, tapi bisa juga ganggu, tergantung cara dan posisi kita dalam menggunakannya. di sisi baiknya, medsos bisa jadi ruang belajar, ruang ekspresi, bahkan jendela untuk melihat dunia yg sebelumnya gk bisa kita akses. banyak hal positif lahir dari sana. sepeti komunitas, pengetahuan, dan juga peluang.
π β tapi di sisi lain, ketika kita gk punya batas yang jelas, media sosial justru menyedot fokus, memperbesar keraguan, dan bikin kita terlalu sibuk membentuk citra. apalagi remaja, yang masih membangun identitas dan masih mencoba tahu siapa dirinya, dan gk buat remaja doang, mayoritas orang tuh sensitif banget sama validasi, satu like bisa bikin seneng, tapi satu komentar bisa kepikiran berhari-hari, ya gak? malah bikin overthinking, susah fokus, dan bandingin diri terus
π β media sosial akan bantu klo kita sadar cara pakainya. tapi klo tidak ya bisa mengganggu bukan hanya waktu, tapi juga arah berpikir dan cara kita menilai hidup dan diri sendiri
π β tapi di sisi lain, ketika kita gk punya batas yang jelas, media sosial justru menyedot fokus, memperbesar keraguan, dan bikin kita terlalu sibuk membentuk citra. apalagi remaja, yang masih membangun identitas dan masih mencoba tahu siapa dirinya, dan gk buat remaja doang, mayoritas orang tuh sensitif banget sama validasi, satu like bisa bikin seneng, tapi satu komentar bisa kepikiran berhari-hari, ya gak? malah bikin overthinking, susah fokus, dan bandingin diri terus
π β media sosial akan bantu klo kita sadar cara pakainya. tapi klo tidak ya bisa mengganggu bukan hanya waktu, tapi juga arah berpikir dan cara kita menilai hidup dan diri sendiri
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
π β alih-alih membuat orang lebih berani, menurut saya malah media sosial justru membentuk βversi amanβ dari seseorang. kita menyesuaikan diri, menahan bagian-bagian yang paling jujur, dan akhirnya jadi orang yang dilihat baik, tapi mungkin bukan sepenuhnya kita. secara teori, media sosial itu punya potensi besar untuk jadi ruang ekspresi. tapi kenyataannya, gk semua orang merasa cukup aman untuk jadi diri sendiri di sana.
π β kita sekarang hidup dalam sistem validasi yang cepat. melalui like, share, komentar. dan ketika hal-hal itu menjadi tolok ukur eksistensi, kita mulai berpikir dua kali sebelum menunjukkan siapa kita sebenarnya. bukan karena gk tahu siapa diri kita, tapi karena takut gk sesuai dengan standar yang sudah terbentuk.
π β banyak yang akhirnya ngerasa harus keren dulu biar bisa eksis. harus sesuai tren, harus keliatan happy, harus punya aura dan lain-lain. sebetulnya media sosial juga bisa kok bantu kita lebih berani, tapi kita harus punya pegangan yang kuat atas diri sendiri
π β kita sekarang hidup dalam sistem validasi yang cepat. melalui like, share, komentar. dan ketika hal-hal itu menjadi tolok ukur eksistensi, kita mulai berpikir dua kali sebelum menunjukkan siapa kita sebenarnya. bukan karena gk tahu siapa diri kita, tapi karena takut gk sesuai dengan standar yang sudah terbentuk.
π β banyak yang akhirnya ngerasa harus keren dulu biar bisa eksis. harus sesuai tren, harus keliatan happy, harus punya aura dan lain-lain. sebetulnya media sosial juga bisa kok bantu kita lebih berani, tapi kita harus punya pegangan yang kuat atas diri sendiri
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
π β jadi kalau dibilang caranya biar gak hanyut, ya... saya mulai dari ngebatasin. bukan anti sama dunia digitalnya, tapi lebih ke milih. mana yang perlu saya simak, mana yang bisa dilewat. soalnya gak semua yang lewat di timeline itu butuh kita ikutin, kan? tanya ke diri sendiri "emang saya butuh itu?"
π β tapi ya itu, saya juga masih belajar. kadang masih keikut juga. makanya saya penasaran, Kak Jela sendiri pernah gak sih ngerasa kayak... udah nyerap terlalu banyak, sampai lupa apa yang sebenernya pengen dijalanin dari awal?
π β saya juga berpikir klo arah itu bukan cuma tentang tujuan, tapi tentang keputusan mana yang tetap kita pegang meski semua orang bergerak ke arah lain, berani bilang βyang ini bukan buat saya,β meski semua orang lagi ke sana
π β tapi ya itu, saya juga masih belajar. kadang masih keikut juga. makanya saya penasaran, Kak Jela sendiri pernah gak sih ngerasa kayak... udah nyerap terlalu banyak, sampai lupa apa yang sebenernya pengen dijalanin dari awal?
π β saya juga berpikir klo arah itu bukan cuma tentang tujuan, tapi tentang keputusan mana yang tetap kita pegang meski semua orang bergerak ke arah lain, berani bilang βyang ini bukan buat saya,β meski semua orang lagi ke sana
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM