π–πŽπ‹π•π„'𝐒 ππŽπƒπ‚π€π’π“
289 subscribers
126 photos
6 links
πŸ‰€ Welcome to the wolves podcast channel

π–‘Ÿ Everything in this channel
is copyrighted and inspired
by the internet.
π–‘‘ Ngobrol with wolve's π–‘‘
☏ @ofcwhitewolves
Download Telegram
πŸŽ™οΈ β€” Jadi circle pertemanan menurut kakak tuh bukan sekadar kumpulan orang ya, tapi juga bisa jadi ruang aman untuk menjadi diri sendiri. Saya setuju bahwa circle juga bahkan pasti berubah seiring pertumbuhan diri, dan itu merupakan proses berkembang ya. Kelak kita akan memilih hubungan yang lebih sehat serta bermakna di kemudian hari.

πŸŽ™οΈ β€” Okay, selain arti dari circle tadi nih. Menurut kak Jane, circle pertemanan yang sehat itu seperti apa sih? Apakah harus selalu bikin kita berkembang dan produktif bareng, atau cukup jadi tempat pulang dan cerita? Dan sejauh mana pertemanan bisa dibilang bermakna tanpa harus punya tujuan yang sama?
πŸ”₯5🀩3❀2πŸ₯°2
πŸŽ™ β€” Menurut aku, circle pertemanan yang sehat itu bukan soal seberapa sibuk atau produktif kita bareng, tapi seberapa kita jadi diri sendiri di dalamnya. Circle yang sehat bikin kita ngerasa diterima tanpa harus selalu berakting.

πŸŽ™ β€” Berkembang dan produktif bareng itu bonus, tapi bukan kewajiban. Kadang circle justru berperan sebagai tempat pulang, tempat cerita tanpa takut dihakimi dan menurut aku, itu sama pentingnya dengan circle yang mendorong kita buat maju.

πŸŽ™ β€” Soal tujuan, menurut aku pertemanan tetap bisa bermakna walaupun ga punya tujuan yang sama. Kita ga harus jalan di arah yang sama, yang penting masih bisa saling menghargai proses masing-masing, saling dukung, dan ga saling menjatuhkan. Selama ada rasa peduli, saling tumbuh dengan caranya sendiri dan kehadiran yang tulus, di situ pertemanan jadi punya arti.
πŸ”₯5🀩3❀2πŸ₯°2
πŸŽ™οΈ β€” Menarik ya, berarti circle itu bukan panggung buat jadi versi terbaik menurut orang lain, melainkan tempat buat jadi versi paling jujur dari diri kita. Soalnya sekarang tuh banyak banget circle yang tanpa sadar berubah jadi ruang tuntutan, harus sibuk, harus maju bareng, harus satu arah. Padahal ga semua orang butuh itu dari pertemanan. Saya setuju banget soal ga harus punya tujuan yang sama. Kadang justru pertemanan jadi sehat karena kita ga saling narik ke arah yang sama, tapi saling jaga di jalur masing-masing. Jadi kalau dirangkum, circle yang sehat itu bukan yang paling ramai atau paling produktif, tapi yang paling manusiawi; ada penerimaan, ada ruang pulang, dan ada kehadiran yang tulus.

πŸŽ™οΈ β€” Oh iya, pernah nggak sih ngerasa ada perubahan di circle? Kayak kamu mulai capek sendiri, ngerasa nggak didengerin, terus suasananya beda dari biasanya. Menurut kak Jane, hal-hal seperti itu masih wajar dalam pertemanan atau justru jadi pertanda kalau circle tersebut mulai nggak sehat?
❀3πŸ”₯3πŸ₯°1🀩1
πŸŽ™ β€” Pernah dan jujur itu fase yang paling bikin bingung. Saat kita mulai capek sendiri, ngerasa nggak didengerin atau suasananya udah mulai beda. Menurut aku, perubahan kecil dalam circle itu wajar. Semua orang punya problem nya masing-masing.

πŸŽ™ β€” Tapi kalau rasa capek itu terus-terusan, kalau kita selalu jadi yang mengalah, selalu jadi pendengar tapi nggak pernah didengerin atau pulang dari circle justru merasa kosong, itu bisa jadi tanda circle tersebut mulai nggak sehat.

πŸŽ™ β€” Pertemanan seharusnya melelahkan sesekali, tapi bukan menguras terus-menerus. Kalau yang tersisa cuma rasa kewajiban, bukan kenyamanan, itu patut dipertanyakan menurut aku.
πŸ”₯3πŸ₯°2❀1🀩1
πŸŽ™οΈ β€” Heumm, saya melihat ini sebagai pengingat penting sih, bahwasanya pertemanan yang sehat itu soal keseimbangan. Capek itu manusiawi, tapi kalau sebuah circle lebih sering bikin kita kehilangan energi daripada memberi ruang untuk pulang dan bernapas, berarti ada yang perlu dievaluasi. Menjaga circle bukan berarti memaksakan bertahan, tapi berani jujur pada diri sendiri tentang apa yang kita butuhkan dan layak kita dapatkan dalam sebuah pertemanan.

πŸŽ™οΈ β€” Kalau misalkan, suatu saat circle yang dulu nyaman mulai bikin nggak tenang, gimana cara kak Jane ngambil keputusan antara bertahan, jaga jarak, atau benar-benar pergi dari circle itu. Dan apakah menurut kakak, menjauh dari circle adalah bentuk keegoisan atau justru itu salah satu atau satu-satunya cara buat jaga diri sendiri agar tetap waras?
πŸ”₯3
πŸŽ™ β€” Mengambil keputusan antara bertahan, jaga jarak atau pergi itu ga pernah mudah. Biasanya aku mulai dengan jujur ke diri sendiri dulu "aku masih bahagia di sini atau cuma takut kehilangan?"

πŸŽ™ β€” Kalau sudah coba komunikasi tapi ga ada perubahan, aku percaya jaga jarak itu pilihan yang bijak dan kalau keberadaan circle tersebut malah bikin aku kehilangan diri sendiri, pergi bukanlah bentuk keegoisan. Justru itu bentuk self-respect.

πŸŽ™ β€” Menurut aku, menjauh dari circle demi kesehatan mental bukan berarti kita jahat atau ga setia. Kadang itu satu-satunya cara buat tetap waras dan bertahan hidup sebagai diri sendiri.
❀1πŸ”₯1🀩1
πŸŽ™οΈ β€” Jadi menurut kamu, mengambil keputusan untuk bertahan, menjaga jarak, atau pergi dari sebuah circle harus dimulai dari kejujuran pada diri sendiri.. apakah masih bahagia atau hanya takut kehilangan. Ketika komunikasi tidak lagi membawa perubahan dan keberadaan circle justru membuat kehilangan diri sendiri, menjaga jarak atau pergi bukanlah keegoisan, melainkan bentuk self-respect dan upaya menjaga kesehatan mental. Kalau aku nangkapnya, ini bukan soal memilih pergi atau bertahan, tapi soal keberanian mengenali batas diri. Kita sering merasa bersalah saat memilih menjauh, padahal kadang itu adalah bentuk paling jujur untuk tetap waras. Menurutku, pertemanan yang sehat juga memberi ruang bagi seseorang untuk mundur tanpa harus dicap jahat, karena menjaga diri sendiri seharusnya tidak pernah dianggap salah.
πŸ”₯1
πŸŽ™οΈ β€” Nah, setelah ngelewatin berbagai fase pertemanan, kira-kira circle seperti apa yang kak Jane butuhin sekarang? Dan pelajaran apa yang paling kerasa dari hubungan pertemanan kakak sejauh ini? Oh ya, boleh juga dong kasih pesan yang ingin disampaikan ke diri sendiri atau ke pendengar soal memilih circle yang tepat!
πŸ”₯1
πŸŽ™ β€” Circle yang aku butuhin sekarang adalah circle yang tenang. Ga banyak tuntutan, tapi ada kejujuran dan rasa saling mengerti atau menghargai. Circle yang ga maksa aku jadi versi tertentu, tapi nerima aku apa adanya, termasuk saat aku lagi di fase terendah dalam hidup.

πŸŽ™ β€” Pelajaran terbesar dari perjalanan pertemanan aku adalah, ga semua yang dekat itu sehat dan ga semua yang menjauh itu kehilangan. Pesan aku, dalam memilih circle jangan cuma lihat seberapa lama kebersamaannya, tapi lihat juga bagaimana perasaan kamu saat ada di dalamnya. Circle yang baik bukan yang selalu ramai, tapi yang bikin kamu merasa didengar, dihargai dan jadi diri sendiri. Kalau suatu saat kamu harus menjauh demi ketenangan dan kesehatan mental, itu bukan keegoisan. Itu bentuk kepedulian ke diri sendiri. Karena pada akhirnya, circle yang tepat adalah mereka yang membuat kamu tumbuh tanpa harus kehilangan dirimu sendiri.
πŸ”₯2
πŸŽ™οΈ β€” Yeaayyy πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ» omgg that's a wrap! Terimakasih banyak loh kak Jane sudah mampir dan membagikan pengalamannya serta pendapat nya yang semoga bisa bermanfaat untuk kami semua. Apalagi di era sekarang banyak sekali circle pertemanan yang sebenarnya cukup merugikan tapi masih dianggap sebagai hal yang wajar.

πŸŽ™οΈ β€” Tak terasa juga ya Wolve's kita sudah sampai dipertanyaan terakhir dan waktu podcast sudah berakhir. Tidak lupa juga saya bakal ucapin banyak terima kasih untuk kak Jane selaku bintang tamu dan juga penonton setia Wolve's Podcast hari ini.

πŸŽ™οΈ β€” Semoga podcast kali ini cukup bermanfaat bagi para penonton setia kami. Saya selaku host meminta maaf sebesar-besarnya bila ada kesalahan baik yang di sengaja maupun tidak di sengaja. Alright Wolve's, saya Liesbeth Fleurtje pamit undur diri, sampai jumpa di podcast kami selanjutnya! 🀍
πŸ”₯3🀩1
       πŸŽ™ 𝐋ive 𝐏odcast πŸŽ™
𝓝gobrol 𝓦ith 𝓦olve's

πŸ” Malam satu Suro. Waktu untuk eling, bukan riuh.

[ πŸ¦‹ ] β€’ β€’ β€’ Teman teman sudah pernah dengar tentang "malam satu suro" ? Salah satu kepercayaan oleh masyarakat Jawa setempat yang menyimbolkan waktu di mana batas antara dunia nyata dan dunia gaib menjadi sangat tipis πŸ€”

Apakah itu sebagai sakral, atau hanya mitos belaka ☝️

Hari ini akan kita bahas dengan tamu spesial :

πŸŽ™ JONATHAN VANCE πŸŽ™
WARKOP BABEH
LIVE at STUDIO WOLVES
πŸ—“ HARI INI πŸ—“
24 Januari 2026
Live 20.00 wib


Di malam satu suro, yang tak terlihat bukan berarti tak ada. Podcast kali ini bersama @warkopbaabeh akan membuka cerita yang selama ini dipendam malam 🎀
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM