π–πŽπ‹π•π„'𝐒 ππŽπƒπ‚π€π’π“
289 subscribers
126 photos
6 links
πŸ‰€ Welcome to the wolves podcast channel

π–‘Ÿ Everything in this channel
is copyrighted and inspired
by the internet.
π–‘‘ Ngobrol with wolve's π–‘‘
☏ @ofcwhitewolves
Download Telegram
/ open the door ; entering the room ; sat on the chair ; turn on the mic ; look at the camera ; start talking /


πŸŽ™ β€” ο»ΏKadang obrolan yang paling hangat justru lahir di malam hari, saat kita sama-sama meluangkan waktu untuk berhenti sejenak. Malam ini aku bersyukur bisa berada disini. Terimakasih untuk @OFCWHITEWOLVES yang sudah menghadirkan kesempatan ini dan untuk kalian semua yang ikut membersamai.

πŸŽ™ β€” Aku Mirae Janei've sebagai founder atau perwakilan dari @GokuhaiDistrict. Semoga kehadiranku di podcast ini bisa menjadi bagian kecil dari percakapan yang bermakna, tempat kita saling bertukar energi positif, sudut pandang, dan rasa nyaman sepanjang podcast berlangsung.
πŸ”₯6❀5πŸ₯°4🀩2
πŸŽ™οΈ β€” Okaayy salam kenal kak janee πŸ˜† aduh saya jadi ga sabar nih buat ngobrol-ngobrol, dan para pendengar setia Wolve's Podcast juga pasti ga kalah sabar nih. Tanpa berlama-lama lagi, langsung saja kita mulai ya kak.

πŸŽ™οΈ β€” Ngomongin soal Circle atau lingkungan pertemanan pastinya udah gak asing lagi ya, circle sendiri memiliki arti yang sangat luas dan pemahaman masing-masing untuk sebagian orang. Kalau menurut saya circle itu adalah suatu kelompok atau lingkaran yang terdiri dari beberapa individu. Kalau saya sendiri suka mengelompokkan circle itu menjadi 2, ada yang memang circle ini suka ngajak main doang, ada yang memang circle tersebut mengajak kita untuk berkembang. Namun ada juga circle yang mereka sering ngajak main iya, ngajak untuk berkembang juga iya.

πŸŽ™οΈ β€” Nah kalau buat kak Jane nih, apa sih arti circle yang ada di pikiran kamu? Seberapa penting perannya di hidup kakak sekarang, dan apakah kak jane ngerasa circle itu sesuatu yang harus selalu ada atau bisa berubah seiring waktu?
❀5πŸ₯°4πŸ•Š2πŸ”₯1
πŸŽ™ β€” Kalau ngomongin soal circle pertemanan, buat aku pribadi circle itu bukan cuma sekadar kumpulan orang yang sering bareng atau ngobrol tiap hari. Circle lebih ke ruang aman dan nyaman, tempat aku bisa jadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura atau merasa dihakimi. Di situ aku bisa cerita, diam, ketawa, bahkan capek tanpa harus menjelaskan terlalu banyak.

πŸŽ™ β€” Di fase hidup aku sekarang, peran circle masih cukup penting, tapi posisinya sudah berbeda. Circle bukan lagi pusat hidup atau sesuatu yang harus selalu ada setiap waktu. Mereka lebih jadi teman seperjalananβ€”orang-orang yang saling menguatkan, saling ngingetin, dan saling mendukung tanpa harus saling menguasai arah hidup satu sama lain. Aku belajar bahwa punya circle bukan soal jumlah atau seberapa sering bareng, tapi soal kualitas hubungan dan rasa saling memahami.

πŸŽ™ β€” Menurut aku juga, circle itu sesuatu yang sangat mungkin berubah seiring waktu, dan itu wajar. Manusia tumbuh, prioritas bergeser, cara pandang berubah, dan masing-masing punya fase hidupnya sendiri. Ada circle yang bertahan lama karena sama-sama mau tumbuh, ada juga yang hanya singgah untuk ngasih pelajaran. Dulu aku sempat mikir kehilangan circle itu sesuatu yang menakutkan, kayak kegagalan dalam bersosialisasi. Tapi sekarang aku sadar, berubahnya circle bukan berarti kita salah atau gagal. Kadang justru itu tanda kita sedang berkembang, belajar mengenali diri sendiri, dan lebih selektif dalam menjaga hubungan yang benar-benar sehat dan bermakna.
πŸ”₯6❀4πŸ₯°2
πŸŽ™οΈ β€” Jadi circle pertemanan menurut kakak tuh bukan sekadar kumpulan orang ya, tapi juga bisa jadi ruang aman untuk menjadi diri sendiri. Saya setuju bahwa circle juga bahkan pasti berubah seiring pertumbuhan diri, dan itu merupakan proses berkembang ya. Kelak kita akan memilih hubungan yang lebih sehat serta bermakna di kemudian hari.

πŸŽ™οΈ β€” Okay, selain arti dari circle tadi nih. Menurut kak Jane, circle pertemanan yang sehat itu seperti apa sih? Apakah harus selalu bikin kita berkembang dan produktif bareng, atau cukup jadi tempat pulang dan cerita? Dan sejauh mana pertemanan bisa dibilang bermakna tanpa harus punya tujuan yang sama?
πŸ”₯5🀩3❀2πŸ₯°2
πŸŽ™ β€” Menurut aku, circle pertemanan yang sehat itu bukan soal seberapa sibuk atau produktif kita bareng, tapi seberapa kita jadi diri sendiri di dalamnya. Circle yang sehat bikin kita ngerasa diterima tanpa harus selalu berakting.

πŸŽ™ β€” Berkembang dan produktif bareng itu bonus, tapi bukan kewajiban. Kadang circle justru berperan sebagai tempat pulang, tempat cerita tanpa takut dihakimi dan menurut aku, itu sama pentingnya dengan circle yang mendorong kita buat maju.

πŸŽ™ β€” Soal tujuan, menurut aku pertemanan tetap bisa bermakna walaupun ga punya tujuan yang sama. Kita ga harus jalan di arah yang sama, yang penting masih bisa saling menghargai proses masing-masing, saling dukung, dan ga saling menjatuhkan. Selama ada rasa peduli, saling tumbuh dengan caranya sendiri dan kehadiran yang tulus, di situ pertemanan jadi punya arti.
πŸ”₯5🀩3❀2πŸ₯°2
πŸŽ™οΈ β€” Menarik ya, berarti circle itu bukan panggung buat jadi versi terbaik menurut orang lain, melainkan tempat buat jadi versi paling jujur dari diri kita. Soalnya sekarang tuh banyak banget circle yang tanpa sadar berubah jadi ruang tuntutan, harus sibuk, harus maju bareng, harus satu arah. Padahal ga semua orang butuh itu dari pertemanan. Saya setuju banget soal ga harus punya tujuan yang sama. Kadang justru pertemanan jadi sehat karena kita ga saling narik ke arah yang sama, tapi saling jaga di jalur masing-masing. Jadi kalau dirangkum, circle yang sehat itu bukan yang paling ramai atau paling produktif, tapi yang paling manusiawi; ada penerimaan, ada ruang pulang, dan ada kehadiran yang tulus.

πŸŽ™οΈ β€” Oh iya, pernah nggak sih ngerasa ada perubahan di circle? Kayak kamu mulai capek sendiri, ngerasa nggak didengerin, terus suasananya beda dari biasanya. Menurut kak Jane, hal-hal seperti itu masih wajar dalam pertemanan atau justru jadi pertanda kalau circle tersebut mulai nggak sehat?
❀3πŸ”₯3πŸ₯°1🀩1
πŸŽ™ β€” Pernah dan jujur itu fase yang paling bikin bingung. Saat kita mulai capek sendiri, ngerasa nggak didengerin atau suasananya udah mulai beda. Menurut aku, perubahan kecil dalam circle itu wajar. Semua orang punya problem nya masing-masing.

πŸŽ™ β€” Tapi kalau rasa capek itu terus-terusan, kalau kita selalu jadi yang mengalah, selalu jadi pendengar tapi nggak pernah didengerin atau pulang dari circle justru merasa kosong, itu bisa jadi tanda circle tersebut mulai nggak sehat.

πŸŽ™ β€” Pertemanan seharusnya melelahkan sesekali, tapi bukan menguras terus-menerus. Kalau yang tersisa cuma rasa kewajiban, bukan kenyamanan, itu patut dipertanyakan menurut aku.
πŸ”₯3πŸ₯°2❀1🀩1
πŸŽ™οΈ β€” Heumm, saya melihat ini sebagai pengingat penting sih, bahwasanya pertemanan yang sehat itu soal keseimbangan. Capek itu manusiawi, tapi kalau sebuah circle lebih sering bikin kita kehilangan energi daripada memberi ruang untuk pulang dan bernapas, berarti ada yang perlu dievaluasi. Menjaga circle bukan berarti memaksakan bertahan, tapi berani jujur pada diri sendiri tentang apa yang kita butuhkan dan layak kita dapatkan dalam sebuah pertemanan.

πŸŽ™οΈ β€” Kalau misalkan, suatu saat circle yang dulu nyaman mulai bikin nggak tenang, gimana cara kak Jane ngambil keputusan antara bertahan, jaga jarak, atau benar-benar pergi dari circle itu. Dan apakah menurut kakak, menjauh dari circle adalah bentuk keegoisan atau justru itu salah satu atau satu-satunya cara buat jaga diri sendiri agar tetap waras?
πŸ”₯3
πŸŽ™ β€” Mengambil keputusan antara bertahan, jaga jarak atau pergi itu ga pernah mudah. Biasanya aku mulai dengan jujur ke diri sendiri dulu "aku masih bahagia di sini atau cuma takut kehilangan?"

πŸŽ™ β€” Kalau sudah coba komunikasi tapi ga ada perubahan, aku percaya jaga jarak itu pilihan yang bijak dan kalau keberadaan circle tersebut malah bikin aku kehilangan diri sendiri, pergi bukanlah bentuk keegoisan. Justru itu bentuk self-respect.

πŸŽ™ β€” Menurut aku, menjauh dari circle demi kesehatan mental bukan berarti kita jahat atau ga setia. Kadang itu satu-satunya cara buat tetap waras dan bertahan hidup sebagai diri sendiri.
❀1πŸ”₯1🀩1
πŸŽ™οΈ β€” Jadi menurut kamu, mengambil keputusan untuk bertahan, menjaga jarak, atau pergi dari sebuah circle harus dimulai dari kejujuran pada diri sendiri.. apakah masih bahagia atau hanya takut kehilangan. Ketika komunikasi tidak lagi membawa perubahan dan keberadaan circle justru membuat kehilangan diri sendiri, menjaga jarak atau pergi bukanlah keegoisan, melainkan bentuk self-respect dan upaya menjaga kesehatan mental. Kalau aku nangkapnya, ini bukan soal memilih pergi atau bertahan, tapi soal keberanian mengenali batas diri. Kita sering merasa bersalah saat memilih menjauh, padahal kadang itu adalah bentuk paling jujur untuk tetap waras. Menurutku, pertemanan yang sehat juga memberi ruang bagi seseorang untuk mundur tanpa harus dicap jahat, karena menjaga diri sendiri seharusnya tidak pernah dianggap salah.
πŸ”₯1
πŸŽ™οΈ β€” Nah, setelah ngelewatin berbagai fase pertemanan, kira-kira circle seperti apa yang kak Jane butuhin sekarang? Dan pelajaran apa yang paling kerasa dari hubungan pertemanan kakak sejauh ini? Oh ya, boleh juga dong kasih pesan yang ingin disampaikan ke diri sendiri atau ke pendengar soal memilih circle yang tepat!
πŸ”₯1