π β alih-alih membuat orang lebih berani, menurut saya malah media sosial justru membentuk βversi amanβ dari seseorang. kita menyesuaikan diri, menahan bagian-bagian yang paling jujur, dan akhirnya jadi orang yang dilihat baik, tapi mungkin bukan sepenuhnya kita. secara teori, media sosial itu punya potensi besar untuk jadi ruang ekspresi. tapi kenyataannya, gk semua orang merasa cukup aman untuk jadi diri sendiri di sana.
π β kita sekarang hidup dalam sistem validasi yang cepat. melalui like, share, komentar. dan ketika hal-hal itu menjadi tolok ukur eksistensi, kita mulai berpikir dua kali sebelum menunjukkan siapa kita sebenarnya. bukan karena gk tahu siapa diri kita, tapi karena takut gk sesuai dengan standar yang sudah terbentuk.
π β banyak yang akhirnya ngerasa harus keren dulu biar bisa eksis. harus sesuai tren, harus keliatan happy, harus punya aura dan lain-lain. sebetulnya media sosial juga bisa kok bantu kita lebih berani, tapi kita harus punya pegangan yang kuat atas diri sendiri
π β kita sekarang hidup dalam sistem validasi yang cepat. melalui like, share, komentar. dan ketika hal-hal itu menjadi tolok ukur eksistensi, kita mulai berpikir dua kali sebelum menunjukkan siapa kita sebenarnya. bukan karena gk tahu siapa diri kita, tapi karena takut gk sesuai dengan standar yang sudah terbentuk.
π β banyak yang akhirnya ngerasa harus keren dulu biar bisa eksis. harus sesuai tren, harus keliatan happy, harus punya aura dan lain-lain. sebetulnya media sosial juga bisa kok bantu kita lebih berani, tapi kita harus punya pegangan yang kuat atas diri sendiri
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
π β jadi kalau dibilang caranya biar gak hanyut, ya... saya mulai dari ngebatasin. bukan anti sama dunia digitalnya, tapi lebih ke milih. mana yang perlu saya simak, mana yang bisa dilewat. soalnya gak semua yang lewat di timeline itu butuh kita ikutin, kan? tanya ke diri sendiri "emang saya butuh itu?"
π β tapi ya itu, saya juga masih belajar. kadang masih keikut juga. makanya saya penasaran, Kak Jela sendiri pernah gak sih ngerasa kayak... udah nyerap terlalu banyak, sampai lupa apa yang sebenernya pengen dijalanin dari awal?
π β saya juga berpikir klo arah itu bukan cuma tentang tujuan, tapi tentang keputusan mana yang tetap kita pegang meski semua orang bergerak ke arah lain, berani bilang βyang ini bukan buat saya,β meski semua orang lagi ke sana
π β tapi ya itu, saya juga masih belajar. kadang masih keikut juga. makanya saya penasaran, Kak Jela sendiri pernah gak sih ngerasa kayak... udah nyerap terlalu banyak, sampai lupa apa yang sebenernya pengen dijalanin dari awal?
π β saya juga berpikir klo arah itu bukan cuma tentang tujuan, tapi tentang keputusan mana yang tetap kita pegang meski semua orang bergerak ke arah lain, berani bilang βyang ini bukan buat saya,β meski semua orang lagi ke sana
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
π β Wah bisa banget ni temen-temen wolve's buat terapin cara kak adnan biar gak terlalu terbawa arus algoritma sosial media yang semakin hari semakin macem-macem.
π β Kalau ditanya "pernah gak sih ngerasa kayak udah nyerap terlalu banyak, sampai lupa apa yang sebenernya pengen dijalanin dari awal?", tentu saja pernah dong. tapi balik lagi, saya udah mulai bisa mengontrol diri biar gak terlalu dikit-dikit ikut tren di dunia maya.
π β Kalau ditanya "pernah gak sih ngerasa kayak udah nyerap terlalu banyak, sampai lupa apa yang sebenernya pengen dijalanin dari awal?", tentu saja pernah dong. tapi balik lagi, saya udah mulai bisa mengontrol diri biar gak terlalu dikit-dikit ikut tren di dunia maya.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
π β So, intinya Di era banjir informasi dan konten serba cepat, kesadaran digital menjadi kunci untuk menjaga arah hidup agar tidak terombang-ambing oleh tren sesaat atau opini viral. Dengan memilah informasi secara kritis, mengatur waktu layar, dan membangun kebiasaan digital yang sehat, seseorang dapat tetap fokus pada tujuan hidupnya tanpa mudah teralihkan oleh distraksi digital. Kesadaran ini menuntut refleksi diri dan kendali emosi agar teknologi tetap menjadi alat pendukung produktivitas dan pengembangan diri, bukan penentu arah hidup. betul gak nih, temen-temen?
π β Hmm, gak terasa banget ya temen-temen.. ternyata kita sudah di penghujung waktu bersama kak Adnan. Gimana nih temen-temen wolve's sama pembahasan kita malam ini? pastinya seru dan menambah wawasan kita untuk mengambil sikap sebagai remaja di era digital ini, kan? apalagi pembahasan kita malam ini ditemani oleh kak Adnan yang ganteng
π β Hmm, gak terasa banget ya temen-temen.. ternyata kita sudah di penghujung waktu bersama kak Adnan. Gimana nih temen-temen wolve's sama pembahasan kita malam ini? pastinya seru dan menambah wawasan kita untuk mengambil sikap sebagai remaja di era digital ini, kan? apalagi pembahasan kita malam ini ditemani oleh kak Adnan yang ganteng
π β Baiklah kalau begitu, sampai disini saja pembahasan kita pada malam hari ini tentang Remaja di Era Digital episode "Remaja vs Era Digital: Siapa yang Mengendalikan Siapa?". semoga dengan adanya pembahasan ini kita bisa menjadi remaja yang lebih percaya diri lagi di media sosial tanpa harus memenuhi standar yang telah dibuat, apalagi jika itu membuat kita justru lupa tentang siapa diri kita dan tujuan awal kita.
π β Saya Sajela Raquel AdriennΓ© sebagai host dan Kak Adnan Apditadaniar sebagai bintang tamu kita, undur diri. Selamat malam dan salam sehat. Babay ~
π β Saya Sajela Raquel AdriennΓ© sebagai host dan Kak Adnan Apditadaniar sebagai bintang tamu kita, undur diri. Selamat malam dan salam sehat. Babay ~
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
πgobrol π¦ith π¦olve's
Β± ββ’βΊ Sometimes
sometimes it makes us feel hurt by the character and behavior of the guy This time, we will discuss a problem that often occurs in every person, about
GIMANA TANGGAPAN KETIKA BERTEMU DENGAN COWO RED FLAG [ μΉκ΅¬ ] βΊ
Watch podcast episode II
π Save the Timeπ
Senin, 7 Juli 2025
20.00 WIB
at studio wolve's
Mrs. ARUNIKA ALYSSUM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
π₯20β€13π₯°7π€©4π4
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
/open the door ; entering the room ; sat on the chair ; turn on the mic ; start talking/
β πHalo dan selamat datang!
Apa kabar, teman-teman semua? Semoga kalian dalam keadaan baik dan sehat, di mana pun dan kapan pun kalian sedang dengerin podcast ini.
β πSelamat datang di WOLVE'S PODCAST β tempat kita ngobrolin berbagai hal yang sebenarnya sering terjadi di sekitar kita, tapi ngga selalu mudah buat dibicarakan secara terbuka.
β πPerkenalkan dulu, saya Puja Shaarma, yang bakal nemenin kalian sepanjang obrolan hari ini. Dan tentu saja, saya ngga sendirian. Hari ini saya sudah ditemani oleh seorang narasumber cantik yang akan ngobrol bareng saya, ngebahas topik yang cukup hangat dan pastinya menarik banget buat kita bahas bareng. Silakan, kenalan dulu dong ke teman-teman yang lagi dengerin.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
/open the door ; entering the room ; sat on the chair ; turn on the mic ; start talking/
Hallo, selamat malam semuanya, sebelum nya saya ingin mengucapkan terimakasih banyak untuk sambutan hangatnya dari Kak Puja, terimakasih juga untuk @OFCWHITEWOLVES atas undangannya, dan terimakasih juga untuk kalian semua yang sudah mau menyimak podcast pada malam ini.
Dan perkenalkan nama saya Arunika Alyssum, mungkin bisa di panggil Aru, saya disini sebagai bintang tamu, dan suatu hal yang menyenangkan sekali karena bisa menjadi bagian dari podcast yang mungkin sangat sangat mentang pada malam ini ya, juga semoga banyak energi positif yang datang ya.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
β πWah, terima kasih banyak Kak Aru! Senang banget akhirnya kita bisa ngobrol bareng di episode ini. Jujur, saya dari tadi udah ngga sabar ngebahas topik ini, karena rasanya tiap minggu selalu ada versi barunya di media sosial: βCowok red flag, kok banyak yang naksir?β Padahal udah tahu suka ghosting, ngilang pas dibutuhinβ¦ tapi tetap aja ada yang suka. Kok bisa, ya?
β πDi episode ini, saya dan Kak Aru bakal ngobrol dari sudut pandang kita sebagai perempuan β bukan untuk menghakimi, tapi supaya kita lebih sadar: yang manis di awal, belum tentu aman di akhir.
β πYuk, kita bahas bareng-bareng biar kalian bisa lebih peka, kenal diri sendiri, dan tahu kapan waktunya bilang: βcukup!β
β πDi episode ini, saya dan Kak Aru bakal ngobrol dari sudut pandang kita sebagai perempuan β bukan untuk menghakimi, tapi supaya kita lebih sadar: yang manis di awal, belum tentu aman di akhir.
β πYuk, kita bahas bareng-bareng biar kalian bisa lebih peka, kenal diri sendiri, dan tahu kapan waktunya bilang: βcukup!β
β πKalau kita perhatikan, istilah red flag sekarang memang sudah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, khususnya saat membahas soal hubungan. Berdasarkan penjelasan dari psikologi, red flag adalah tanda peringatan awal dalam suatu hubungan yang menunjukkan adanya potensi perilaku tidak sehatβseperti manipulatif, tidak konsisten, atau kurang menghargai batasan pribadi. Bahkan, sejumlah survei menunjukkan bahwa semakin banyak remaja dan anak muda mulai menyadari pentingnya mengenali tanda-tanda ini sejak awal. Artinya, istilah red flag bukan hanya sekadar tren media sosial, tetapi juga bisa menjadi alat untuk menjaga diri dan membangun hubungan yang lebih sehat.
β πTapi ya, kalau dipikir-pikir, sekarang istilah red flag tuh sering banget dipakai dalam obrolan santai. Kayak, βEh, jangan deket-deket dia deh, red flag banget!β Nah, menurut kamu sendiri, apa sih sebenarnya definisi red flag? Dan perilaku seperti apa yang menurut kamu pribadi, pantas dianggap sebagai tanda bahaya dalam sebuah hubungan?
β πTapi ya, kalau dipikir-pikir, sekarang istilah red flag tuh sering banget dipakai dalam obrolan santai. Kayak, βEh, jangan deket-deket dia deh, red flag banget!β Nah, menurut kamu sendiri, apa sih sebenarnya definisi red flag? Dan perilaku seperti apa yang menurut kamu pribadi, pantas dianggap sebagai tanda bahaya dalam sebuah hubungan?