This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
/ open the door ; entering the room ; sat on the chair ; turn on the mic ; start talking /
halo selamat malam semuanya. makasih atas sambutan hangatnya ya, Kak Sajela. makasih juga buat undangannya dari @OFCWHITEWOLVES, dan makasih juga buat kalian yang udah nyimak podcast malam ini, seneng banget bisa ada disini.
perkenalkan, saya adnan apditadaniar. mungkin beberapa dari kalian kenal saya sebagai founder dari @VOLTAGECEN7ER, tapi malam ini saya hadir sebagai diri saya sendiri.
senang bisa jadi bagian dari podcast ini, dan semoga kita bisa saling berbagi energi yang baik malam ini.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
π β saya setuju sama penjelasan yang tadi Kak Jela sampaikan. rasanya emang makin ke sini, hidup sebagai remaja tuh gak cuma soal sekolah atau pertemanan aja, tapi juga soal gimana kita ngehadapin dunia yang terus menuntut seperti lewat sosial media.
π β untuk pertanyaan "jadi remaja sekarang tuh lebih gampang atau lebih ribet dibanding zaman dulu?"... menurut saya sih jawabannya gk sesimpel itu
π β untuk pertanyaan "jadi remaja sekarang tuh lebih gampang atau lebih ribet dibanding zaman dulu?"... menurut saya sih jawabannya gk sesimpel itu
π β klo dilihat dari fasilitasnya, remaja sekarang memang lebih dimudahkan. teknologi berkembang pesat, akses ke informasi terbuka luas, dan semuanya bisa dijangkau dalam satu genggaman. kita bisa belajar apapun, darimanapun, kapanpun. bahkan hal-hal yang dulunya butuh bertemu langsung atau datang ke tempat khusus, sekarang cukup dari HP.
π β dan dari situlah tantangannya muncul. karena ketika semuanya serba mudah, tuntutannya pun ikut naik. remaja gak cuman dituntut buat bisa memanfaatkan teknologi, tapi juga harus cepat tanggap, harus update, dan harus siap bersaing dengan kecepatan dunia. karena sekarang semuanya terekspose, kita juga hidup dalam pengawasan tanpa sadar. bukan cuma dari orang tua atau lingkungan dekat, tapi dari mata dunia, lewat media sosial. tekanan itu gk kelihatan, tapi terasa.
π β dulu mungkin lebih susah nyari informasi, tapi lebih sedikit yang harus kita kejar. sekarang semua serba tersedia, tapi kita terus-terusan ngerasa tertinggal. jadi klo ditanya gampang atau ribet, menurut saya gampang secara alat, tapi jauh lebih rumit secara arah, beban, dan cara kita memaknai diri di tengah arus itu
π β dan dari situlah tantangannya muncul. karena ketika semuanya serba mudah, tuntutannya pun ikut naik. remaja gak cuman dituntut buat bisa memanfaatkan teknologi, tapi juga harus cepat tanggap, harus update, dan harus siap bersaing dengan kecepatan dunia. karena sekarang semuanya terekspose, kita juga hidup dalam pengawasan tanpa sadar. bukan cuma dari orang tua atau lingkungan dekat, tapi dari mata dunia, lewat media sosial. tekanan itu gk kelihatan, tapi terasa.
π β dulu mungkin lebih susah nyari informasi, tapi lebih sedikit yang harus kita kejar. sekarang semua serba tersedia, tapi kita terus-terusan ngerasa tertinggal. jadi klo ditanya gampang atau ribet, menurut saya gampang secara alat, tapi jauh lebih rumit secara arah, beban, dan cara kita memaknai diri di tengah arus itu
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
π β Saya pernah baca data WHO dan UNICEF β angka kesehatan mental remaja tuh makin naik. Banyak banget anak muda yang ngerasa insecure, gak cukup keren, gak cukup βpantasβ, cuma karena ngelihat postingan orang lain.
π β Kalau menurut Kak Adnan sendiri, kenapa sih rasa gak percaya diri atau insecure itu bisa makin umum terjadi sekarang?
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
π β eh iya, saya juga sempat baca soal itu, Kak. dan pas saya liat-liat di sekitar juga, emang makin banyak remaja yang keliatan ngerasa gk cukup, entah karena ngebandingin diri sama pencapaian orang lain, penampilan, atau hal-hal kecil yang muncul di media sosial setiap hari.
π β rasa insecure atau minder sekarang sudah menjadi hal umum ya. dan menurut saya, rasa insecure itu tumbuh bukan semata-mata karena kita gk percaya diri, tapi karena lingkungan digital kita sekarang tuh sangat mudah bikin kita merasa kurang
π β rasa insecure atau minder sekarang sudah menjadi hal umum ya. dan menurut saya, rasa insecure itu tumbuh bukan semata-mata karena kita gk percaya diri, tapi karena lingkungan digital kita sekarang tuh sangat mudah bikin kita merasa kurang
π β karena sekarang standar untuk merasa cukup jadi makin kabur, kita jadi terlalu sering melihat βversi jadiβ orang lain tanpa pernah tahu prosesnya. dan itu muncul setiap hari entah dari postingan, story, video singkat, dan algoritma media sosial yang gak pernah berhenti menyodorkan pencapaian orang lain atau suatu hal yang baru ke depan mata kita.
π β kita akhirnya tumbuh dalam suasana yang mengharuskan untuk selalu βonβ, selalu βterlihat baikβ dan mulai membentuk identitas dari apa yang dikatakan dunia luar, bukan dari proses kenal diri yang pelan dan pribadi. dan ketika ekspektasi itu gk bisa kita kejar, muncul rasa gk layak. padahal, bukan karena kita gk cukup, tpi karena kita terus membandingkan diri dengan potongan yang sudah disaring sempurna oleh orang lain.
π β jadi menurut saya, rasa insecure itu menjadi hal umum bukan karena kita makin lemah, tapi karena kita terlalu sering disodori hal-hal yang membuat kita lupa melihat diri sendiri apa adanya
π β kita akhirnya tumbuh dalam suasana yang mengharuskan untuk selalu βonβ, selalu βterlihat baikβ dan mulai membentuk identitas dari apa yang dikatakan dunia luar, bukan dari proses kenal diri yang pelan dan pribadi. dan ketika ekspektasi itu gk bisa kita kejar, muncul rasa gk layak. padahal, bukan karena kita gk cukup, tpi karena kita terus membandingkan diri dengan potongan yang sudah disaring sempurna oleh orang lain.
π β jadi menurut saya, rasa insecure itu menjadi hal umum bukan karena kita makin lemah, tapi karena kita terlalu sering disodori hal-hal yang membuat kita lupa melihat diri sendiri apa adanya
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
π β saya ngerasa dua-duanya sih, media sosial bisa bantu, tapi bisa juga ganggu, tergantung cara dan posisi kita dalam menggunakannya. di sisi baiknya, medsos bisa jadi ruang belajar, ruang ekspresi, bahkan jendela untuk melihat dunia yg sebelumnya gk bisa kita akses. banyak hal positif lahir dari sana. sepeti komunitas, pengetahuan, dan juga peluang.
π β tapi di sisi lain, ketika kita gk punya batas yang jelas, media sosial justru menyedot fokus, memperbesar keraguan, dan bikin kita terlalu sibuk membentuk citra. apalagi remaja, yang masih membangun identitas dan masih mencoba tahu siapa dirinya, dan gk buat remaja doang, mayoritas orang tuh sensitif banget sama validasi, satu like bisa bikin seneng, tapi satu komentar bisa kepikiran berhari-hari, ya gak? malah bikin overthinking, susah fokus, dan bandingin diri terus
π β media sosial akan bantu klo kita sadar cara pakainya. tapi klo tidak ya bisa mengganggu bukan hanya waktu, tapi juga arah berpikir dan cara kita menilai hidup dan diri sendiri
π β tapi di sisi lain, ketika kita gk punya batas yang jelas, media sosial justru menyedot fokus, memperbesar keraguan, dan bikin kita terlalu sibuk membentuk citra. apalagi remaja, yang masih membangun identitas dan masih mencoba tahu siapa dirinya, dan gk buat remaja doang, mayoritas orang tuh sensitif banget sama validasi, satu like bisa bikin seneng, tapi satu komentar bisa kepikiran berhari-hari, ya gak? malah bikin overthinking, susah fokus, dan bandingin diri terus
π β media sosial akan bantu klo kita sadar cara pakainya. tapi klo tidak ya bisa mengganggu bukan hanya waktu, tapi juga arah berpikir dan cara kita menilai hidup dan diri sendiri
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM