*POPULARITAS TRUMP TERUS MELEMAH MENJELANG PEMILU PARUH WAKTU*
Survei terbaru Financial Times bersama Focaldata menunjukkan Presiden AS Donald Trump masih kesulitan perbaiki tingkat persetujuan hanya beberapa pekan sebelum pemilu paruh waktu. Hanya seperempat pemilih terdaftar menilai positif kinerjanya kelola lapangan kerja dan ekonomi sementara dukungan atas penanganan inflasi bahkan lebih rendah sekitar 20 persen. Lebih dari dua pertiga responden menilai ekonomi AS bergerak ke arah salah.
Data ketenagakerjaan September menambah kekhawatiran dengan penciptaan hanya 29.000 pekerjaan jauh di bawah ekspektasi. Secara keseluruhan tingkat persetujuan Trump bertahan rendah di 34 persen dan 45 persen pemilih menilai keberadaannya justru menyulitkan kandidat Republik. Cook Political Report menilai kondisi elektoral Republik memburuk dengan 18 kursi DPR bergeser ke arah Demokrat dan proyeksi tambahan 9-19 kursi bagi Demokrat pada November.
Survei FT menunjukkan keunggulan Demokrat atas Republik lebih dari lima poin. Kebijakan terkait AI dan Iran juga menuai penolakan, sekitar dua pertiga responden dukung aturan federal mengikat bagi perusahaan AI berlawanan dengan pendekatan Trump yang tekankan inovasi cepat pengawasan sukarela. Persetujuan penanganan konflik Iran turun lebih dari tujuh poin sejak Mei dengan kurang dari seperempat pemilih mendukung, mayoritas inginkan kesepakatan segera.
Meski basis tergerus loyalitas Republik tetap tinggi sekitar 80 persen pemilih Trump 2024 masih berencana pilih kandidat Republik meski persetujuan turun dari 80 persen menjadi di bawah 70 persen sejak Mei. Survei dilakukan daring 2-4 Oktober 2026 terhadap 2.275 pemilih terdaftar margin kesalahan plus minus 2,5 persen.
Sumber : Financial Times 11 Oktober 2026
Survei terbaru Financial Times bersama Focaldata menunjukkan Presiden AS Donald Trump masih kesulitan perbaiki tingkat persetujuan hanya beberapa pekan sebelum pemilu paruh waktu. Hanya seperempat pemilih terdaftar menilai positif kinerjanya kelola lapangan kerja dan ekonomi sementara dukungan atas penanganan inflasi bahkan lebih rendah sekitar 20 persen. Lebih dari dua pertiga responden menilai ekonomi AS bergerak ke arah salah.
Data ketenagakerjaan September menambah kekhawatiran dengan penciptaan hanya 29.000 pekerjaan jauh di bawah ekspektasi. Secara keseluruhan tingkat persetujuan Trump bertahan rendah di 34 persen dan 45 persen pemilih menilai keberadaannya justru menyulitkan kandidat Republik. Cook Political Report menilai kondisi elektoral Republik memburuk dengan 18 kursi DPR bergeser ke arah Demokrat dan proyeksi tambahan 9-19 kursi bagi Demokrat pada November.
Survei FT menunjukkan keunggulan Demokrat atas Republik lebih dari lima poin. Kebijakan terkait AI dan Iran juga menuai penolakan, sekitar dua pertiga responden dukung aturan federal mengikat bagi perusahaan AI berlawanan dengan pendekatan Trump yang tekankan inovasi cepat pengawasan sukarela. Persetujuan penanganan konflik Iran turun lebih dari tujuh poin sejak Mei dengan kurang dari seperempat pemilih mendukung, mayoritas inginkan kesepakatan segera.
Meski basis tergerus loyalitas Republik tetap tinggi sekitar 80 persen pemilih Trump 2024 masih berencana pilih kandidat Republik meski persetujuan turun dari 80 persen menjadi di bawah 70 persen sejak Mei. Survei dilakukan daring 2-4 Oktober 2026 terhadap 2.275 pemilih terdaftar margin kesalahan plus minus 2,5 persen.
Sumber : Financial Times 11 Oktober 2026
"8 emerging markets to consider in 2027: HSBC"
https://www.investing.com/news/stock-market-news/8-emerging-markets-to-consider-in-2027-hsbc-4942478
https://www.investing.com/news/stock-market-news/8-emerging-markets-to-consider-in-2027-hsbc-4942478
Investing.com
8 emerging markets to consider in 2027: HSBC By Investing.com
Net Sell Asing Menggunung Rp 111 Triliun, IHSG Butuh Penyelamat
https://investor.id/market/457717/net-sell-asing-menggunung-rp-111-triliun-ihsg-butuh-penyelamat
https://investor.id/market/457717/net-sell-asing-menggunung-rp-111-triliun-ihsg-butuh-penyelamat
investor.id
Net Sell Asing Menggunung Rp 111 Triliun, IHSG Butuh Penyelamat
Net sell asing mencapai Rp 111 triliun. IHSG menghadapi tekanan besar, sementara evaluasi MSCI November 2026 berpotensi menjadi katalis.
๐นBertahan di area support level 3380, BBNI mencoba rebound.
๐ธApabila naik melewati 3520, maka BBNI akan membentuk pola double bottom reversal dan berpotensi rally menuju arah 3660
๐นNamun jika kembali turun dan gagal bertahan di 3380 ketika koreksi, maka BBNI berpotensi melanjutkan downtrend.
Disclaimer ONโผ๏ธ
#BukanRekomendasi #NFA #AnalisaKembali #DYOR #NoPomPomโผ๏ธ
Like โค๏ธ and Share ๐ฃ this content jika kalian rasa bermanfaat
Follow Me โ๏ธ for more content
๐ธApabila naik melewati 3520, maka BBNI akan membentuk pola double bottom reversal dan berpotensi rally menuju arah 3660
๐นNamun jika kembali turun dan gagal bertahan di 3380 ketika koreksi, maka BBNI berpotensi melanjutkan downtrend.
Disclaimer ONโผ๏ธ
#BukanRekomendasi #NFA #AnalisaKembali #DYOR #NoPomPomโผ๏ธ
Like โค๏ธ and Share ๐ฃ this content jika kalian rasa bermanfaat
Follow Me โ๏ธ for more content
โค1
๐นENRG rebound dari area support level 880/890
๐ธBertahan dan rebound dari support tersebut, ENRG berpotensi rally menuju arah 1120/1150
๐นNamun jika kembali turun dan gagal bertahan di 880 ketika koreksi, maka ENRG berpotensi melanjutkan downtrend.
Disclaimer ONโผ๏ธ
#BukanRekomendasi #NFA #AnalisaKembali #DYOR #NoPomPomโผ๏ธ
Like โค๏ธ and Share ๐ฃ this content jika kalian rasa bermanfaat
Follow Me โ๏ธ for more content
๐ธBertahan dan rebound dari support tersebut, ENRG berpotensi rally menuju arah 1120/1150
๐นNamun jika kembali turun dan gagal bertahan di 880 ketika koreksi, maka ENRG berpotensi melanjutkan downtrend.
Disclaimer ONโผ๏ธ
#BukanRekomendasi #NFA #AnalisaKembali #DYOR #NoPomPomโผ๏ธ
Like โค๏ธ and Share ๐ฃ this content jika kalian rasa bermanfaat
Follow Me โ๏ธ for more content
๐จ *BREAKING NEWS: PPI AS September 2026 Melonjak 1,3% MoM, Jauh di Atas Ekspektasi*
- Producer Price Index (PPI) AS naik 1,3% MoM, kenaikan tertajam sejak Maret 2022 dan jauh di atas konsensus pasar sebesar 0,5%.
- Inflasi PPI tahunan melonjak menjadi 6,3% YoY, tertinggi sejak Desember 2022.
- Lonjakan harga energi sebesar 10,8% MoM menjadi pendorong utama, seiring dampak konflik Timur Tengah terhadap biaya energi global.
- Biaya transportasi dan pergudangan naik 3,4%, sementara biaya perdagangan meningkat 1,4% MoM.
- Harga pangan naik 1,2% akibat ketegangan geopolitik dan cuaca buruk. Sementara itu, core PPI meningkat 0,7% MoM.
Cenderung negatif untuk IHSG karena lonjakan PPI AS berpotensi memperkuat tekanan inflasi dan membatasi ruang pelonggaran suku bunga The Fed. Risiko kenaikan yield US Treasury dan penguatan dolar AS juga dapat menambah tekanan terhadap rupiah serta arus modal asing ke pasar domestik.
Disclaimer On
BRI Danareksa Sekuritas
- Producer Price Index (PPI) AS naik 1,3% MoM, kenaikan tertajam sejak Maret 2022 dan jauh di atas konsensus pasar sebesar 0,5%.
- Inflasi PPI tahunan melonjak menjadi 6,3% YoY, tertinggi sejak Desember 2022.
- Lonjakan harga energi sebesar 10,8% MoM menjadi pendorong utama, seiring dampak konflik Timur Tengah terhadap biaya energi global.
- Biaya transportasi dan pergudangan naik 3,4%, sementara biaya perdagangan meningkat 1,4% MoM.
- Harga pangan naik 1,2% akibat ketegangan geopolitik dan cuaca buruk. Sementara itu, core PPI meningkat 0,7% MoM.
Cenderung negatif untuk IHSG karena lonjakan PPI AS berpotensi memperkuat tekanan inflasi dan membatasi ruang pelonggaran suku bunga The Fed. Risiko kenaikan yield US Treasury dan penguatan dolar AS juga dapat menambah tekanan terhadap rupiah serta arus modal asing ke pasar domestik.
Disclaimer On
BRI Danareksa Sekuritas
โค2
MSCI Weighs Downgrade of Indonesia to Remove From Global Indexes
https://www.bloomberg.com/news/articles/2026-10-15/indonesia-s-emerging-market-status-under-consultation-msci-says
https://www.bloomberg.com/news/articles/2026-10-15/indonesia-s-emerging-market-status-under-consultation-msci-says
Bloomberg.com
Indonesia Stocks Sink Most in 28 Years on MSCI Downgrade Warning
Indonesian stocks suffered their worst rout in nearly three decades after MSCI Inc. warned the countryโs emerging-market status was in jeopardy, raising the prospect of its removal from global indexes and stoking fears of foreign capital flight.
Steptrader
Photo
MSCI telah mengusulkan perubahan klasifikasi Indonesia dari Pasar Berkembang menjadi Pasar Mandiri. Dalam usulan tersebut, MSCI menyoroti isu transparansi kepemilikan saham, dugaan adanya perdagangan terkoordinasi, serta lemahnya penegakan aturan di pasar saham Indonesia. Oleh karena itu, MSCI tetap membekukan perubahan indeks tertentu pada saham Indonesia hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.
Risiko aliran modal keluar (capital outflow) berpotensi meningkat apabila investor global mengurangi eksposur terhadap saham Indonesia. Saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) diperkirakan akan terdampak oleh penyesuaian portofolio investor yang mengikuti indeks MSCI. Selain itu, sentimen investor asing berpotensi memburuk, yang dapat meningkatkan tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan likuiditas pasar. Keputusan final dari MSCI dijadwalkan paling lambat akhir Juni 2027, sehingga ketidakpastian masih berlanjut.
Kesimpulannya, situasi ini berdampak negatif bagi sentimen pasar saham Indonesia. Namun, besarnya dampak aktual akan bergantung pada keputusan final MSCI, respons regulator, serta implementasi reformasi pasar.
Disclaimer On
Risiko aliran modal keluar (capital outflow) berpotensi meningkat apabila investor global mengurangi eksposur terhadap saham Indonesia. Saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) diperkirakan akan terdampak oleh penyesuaian portofolio investor yang mengikuti indeks MSCI. Selain itu, sentimen investor asing berpotensi memburuk, yang dapat meningkatkan tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan likuiditas pasar. Keputusan final dari MSCI dijadwalkan paling lambat akhir Juni 2027, sehingga ketidakpastian masih berlanjut.
Kesimpulannya, situasi ini berdampak negatif bagi sentimen pasar saham Indonesia. Namun, besarnya dampak aktual akan bergantung pada keputusan final MSCI, respons regulator, serta implementasi reformasi pasar.
Disclaimer On
*MSCI Kaji Ulang Klasifikasi Pasar Saham Indonesia*
Bloomberg, MSCI memulai konsultasi atas proposal untuk mengubah klasifikasi indeks saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, menurut pernyataan penyedia indeks tersebut pada Kamis.
Konsultasi ini dilakukan setelah MSCI memperingatkan bahwa sejumlah pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran terhadap pasar saham Indonesia, termasuk kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi.
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/124758/msci-kaji-ulang-klasifikasi-pasar-saham-indonesia
Bloomberg, MSCI memulai konsultasi atas proposal untuk mengubah klasifikasi indeks saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, menurut pernyataan penyedia indeks tersebut pada Kamis.
Konsultasi ini dilakukan setelah MSCI memperingatkan bahwa sejumlah pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran terhadap pasar saham Indonesia, termasuk kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi.
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/124758/msci-kaji-ulang-klasifikasi-pasar-saham-indonesia
Bloomberg Technoz
Buka Opsi Downgrade, MSCI Nilai RI Tak Layak Emerging Market
MSCI memulai konsultasi atas proposal untuk mengubah klasifikasi indeks saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Steptrader
Photo
*INTI PENGUMUMAN MSCI* :
MSCI mengusulkan Indonesia yang *saat ini berada di Emerging Market Menjadi Standalone Market*
Reminder *Urutan klasifikasi indeks MSCI*
1.Developed Markets (Pasar Maju),
2.Emerging Markets (Pasar Berkembang)
3.Frontier Markets (Pasar Perintis)
4.Advanced Frontier Markets
5.Standalone Markets โผ๏ธ
_Standalone Market berada di bawah Emerging Markets dan Frontier Markets_
Karena *ketidaktransparanan kepemilikan saham*
MSCI akan tetap memberlakukan pembekuan terhadap sejumlah perubahan terkait indeks untuk saham2 indonesia yg timbul dari index review hingga November 2026
MSCI memberikan kesempatan bagi pelaku pasar untuk menyampaikan *masukan atas usul perubahan klasifikasi indeks MSCI Indonesia hingga 30 April 2027*
*Keputusan final juni 2027*
*(Listri, Source MSCI)*
Disclaimer On
MSCI mengusulkan Indonesia yang *saat ini berada di Emerging Market Menjadi Standalone Market*
Reminder *Urutan klasifikasi indeks MSCI*
1.Developed Markets (Pasar Maju),
2.Emerging Markets (Pasar Berkembang)
3.Frontier Markets (Pasar Perintis)
4.Advanced Frontier Markets
5.Standalone Markets โผ๏ธ
_Standalone Market berada di bawah Emerging Markets dan Frontier Markets_
Karena *ketidaktransparanan kepemilikan saham*
MSCI akan tetap memberlakukan pembekuan terhadap sejumlah perubahan terkait indeks untuk saham2 indonesia yg timbul dari index review hingga November 2026
MSCI memberikan kesempatan bagi pelaku pasar untuk menyampaikan *masukan atas usul perubahan klasifikasi indeks MSCI Indonesia hingga 30 April 2027*
*Keputusan final juni 2027*
*(Listri, Source MSCI)*
Disclaimer On
โค2
*MSCI INDEX โ INDONESIA STOCK EXPOSURE*
*Standard Cap โ Total US$5,237.35mn*
1. BBCA โ Bank Central Asia: 1,671.73
2. BBRI โ Bank Rakyat Indonesia: 1,033.60
3. BMRI โ Bank Mandiri: 830.59
4. TLKM โ Telkom Indonesia: 536.73
5. ASII โ Astra International: 408.93
6. BBNI โ Bank Negara Indonesia: 246.43
7. BRMS โ Bumi Resources Minerals: 197.40
8. UNTR โ United Tractors: 157.24
9. BRPT โ Barito Pacific: 154.70
*Small Cap โ Total US$709.32mn*
1. INDF โ Indofood Sukses Makmur: 56.01
2. MDKA โ Merdeka Copper Gold: 48.53
3. ENRG โ Energi Mega Persada: 40.93
4. ADRO โ Alamtri Resources Indonesia: 39.40
5. CPIN โ Charoen Pokphand Indo: 37.66
6. BUMI โ Bumi Resources: 34.31
7. AADI โ Adaro Andalan Indonesia: 34.30
8. AMRT โ Sumber Alfaria Trijaya: 29.65
9. PGAS โ Perusahaan Gas Negara: 28.30
10. KLBF โ Kalbe Farma: 25.43
11. INKP โ Indah Kiat Pulp & Paper: 24.28
12. PTBA โ Bukit Asam: 23.60
13. PTRO โ Petrosea: 21.23
14. AKRA โ AKR Corporindo: 20.57
15. EXCL โ XLSmart Telecom: 20.34
16. INCO โ Vale Indonesia: 17.56
17. MEDC โ Medco Energi: 17.03
18. JPFA โ Japfa Comfeed: 16.71
19. ITMG โ Indo Tambangraya Megah: 15.40
20. GGRM โ Gudang Garam: 15.28
21. TOWR โ Sarana Menara Nusantara: 13.90
22. CMRY โ Cisarua Mountain Dairy: 13.79
23. MTEL โ Dayamitra Telekomunikasi: 13.04
24. BBTN โ Bank Tabungan Negara: 11.99
25. MAPA โ MAP Aktif Adiperkasa: 11.71
26. BFIN โ BFI Finance: 10.83
27. INTP โ Indocement: 10.26
28. PWON โ Pakuwon Jati: 10.11
29. AVIA โ Avia Avian: 9.32
30. CTRA โ Ciputra Development: 9.05
31. EMTK โ Elang Mahkota Teknologi: 8.54
32. JSMR โ Jasa Marga: 7.73
33. WIFI โ Solusi Sinergi Digital: 6.34
34. RAJA โ Rukun Raharja: 6.21
*Grand total: ~US$5.95bn* in passive AUM tracking these names (US$ mn, as of 15 Oct 2026). Both totals reconcile with the sums. Note the big four banks alone are ~US$3.8bn, or about 64% of the potential outflow.
โ_Disclamer on_
*Standard Cap โ Total US$5,237.35mn*
1. BBCA โ Bank Central Asia: 1,671.73
2. BBRI โ Bank Rakyat Indonesia: 1,033.60
3. BMRI โ Bank Mandiri: 830.59
4. TLKM โ Telkom Indonesia: 536.73
5. ASII โ Astra International: 408.93
6. BBNI โ Bank Negara Indonesia: 246.43
7. BRMS โ Bumi Resources Minerals: 197.40
8. UNTR โ United Tractors: 157.24
9. BRPT โ Barito Pacific: 154.70
*Small Cap โ Total US$709.32mn*
1. INDF โ Indofood Sukses Makmur: 56.01
2. MDKA โ Merdeka Copper Gold: 48.53
3. ENRG โ Energi Mega Persada: 40.93
4. ADRO โ Alamtri Resources Indonesia: 39.40
5. CPIN โ Charoen Pokphand Indo: 37.66
6. BUMI โ Bumi Resources: 34.31
7. AADI โ Adaro Andalan Indonesia: 34.30
8. AMRT โ Sumber Alfaria Trijaya: 29.65
9. PGAS โ Perusahaan Gas Negara: 28.30
10. KLBF โ Kalbe Farma: 25.43
11. INKP โ Indah Kiat Pulp & Paper: 24.28
12. PTBA โ Bukit Asam: 23.60
13. PTRO โ Petrosea: 21.23
14. AKRA โ AKR Corporindo: 20.57
15. EXCL โ XLSmart Telecom: 20.34
16. INCO โ Vale Indonesia: 17.56
17. MEDC โ Medco Energi: 17.03
18. JPFA โ Japfa Comfeed: 16.71
19. ITMG โ Indo Tambangraya Megah: 15.40
20. GGRM โ Gudang Garam: 15.28
21. TOWR โ Sarana Menara Nusantara: 13.90
22. CMRY โ Cisarua Mountain Dairy: 13.79
23. MTEL โ Dayamitra Telekomunikasi: 13.04
24. BBTN โ Bank Tabungan Negara: 11.99
25. MAPA โ MAP Aktif Adiperkasa: 11.71
26. BFIN โ BFI Finance: 10.83
27. INTP โ Indocement: 10.26
28. PWON โ Pakuwon Jati: 10.11
29. AVIA โ Avia Avian: 9.32
30. CTRA โ Ciputra Development: 9.05
31. EMTK โ Elang Mahkota Teknologi: 8.54
32. JSMR โ Jasa Marga: 7.73
33. WIFI โ Solusi Sinergi Digital: 6.34
34. RAJA โ Rukun Raharja: 6.21
*Grand total: ~US$5.95bn* in passive AUM tracking these names (US$ mn, as of 15 Oct 2026). Both totals reconcile with the sums. Note the big four banks alone are ~US$3.8bn, or about 64% of the potential outflow.
โ_Disclamer on_
โค1