π¨ *BREAKING NEWS: FTSE Russell Pertahankan Indonesia sebagai Secondary Emerging Market*
- FTSE Russell mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dalam evaluasi klasifikasi pasar Oktober 2026.
- Indonesia tidak masuk Watch List, sehingga terhindar dari risiko downgrade status pasar.
- FTSE tetap memantau efektivitas reformasi pasar modal, termasuk keterbukaan informasi pemegang saham, granularisasi data investor, peningkatan minimum free float, dan penguatan pengawasan pasar.
- FTSE sebelumnya menunda sejumlah penyesuaian indeks saham Indonesia pada periode Maret, Juni, dan September 2026.
- FTSE akan memberikan update terkait saham Indonesia menjelang index review Desember 2026, dengan mempertimbangkan kemajuan reformasi dan masukan dari pelaku pasar global.
_Disclaimer On_
- FTSE Russell mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dalam evaluasi klasifikasi pasar Oktober 2026.
- Indonesia tidak masuk Watch List, sehingga terhindar dari risiko downgrade status pasar.
- FTSE tetap memantau efektivitas reformasi pasar modal, termasuk keterbukaan informasi pemegang saham, granularisasi data investor, peningkatan minimum free float, dan penguatan pengawasan pasar.
- FTSE sebelumnya menunda sejumlah penyesuaian indeks saham Indonesia pada periode Maret, Juni, dan September 2026.
- FTSE akan memberikan update terkait saham Indonesia menjelang index review Desember 2026, dengan mempertimbangkan kemajuan reformasi dan masukan dari pelaku pasar global.
_Disclaimer On_
ποΈ *HIGHLIGHT NEWS: Cadangan Devisa RI Turun Tipis ke US$146,3 Miliar pada September*
* Cadangan devisa RI turun tipis menjadi US$146,3 miliar pada September 2026 dari US$146,5 miliar pada Agustus.
* Penurunan terutama dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo serta langkah stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia.
* Posisi cadangan devisa tetap kuat, setara 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
* Level tersebut masih jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
* BI melihat ketahanan sektor eksternal tetap solid, didukung cadangan devisa yang memadai dan arus masuk modal asing yang berkelanjutan.
Disclaimer On
BRI Danareksa Sekuritas
* Cadangan devisa RI turun tipis menjadi US$146,3 miliar pada September 2026 dari US$146,5 miliar pada Agustus.
* Penurunan terutama dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo serta langkah stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia.
* Posisi cadangan devisa tetap kuat, setara 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
* Level tersebut masih jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
* BI melihat ketahanan sektor eksternal tetap solid, didukung cadangan devisa yang memadai dan arus masuk modal asing yang berkelanjutan.
Disclaimer On
BRI Danareksa Sekuritas
β€1
FOMC Minutes: The Fed Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga Lagi
https://ekonomi.bisnis.com/read/20261008/620/2010780/fomc-minutes-the-fed-buka-peluang-kenaikan-suku-bunga-lagi
https://ekonomi.bisnis.com/read/20261008/620/2010780/fomc-minutes-the-fed-buka-peluang-kenaikan-suku-bunga-lagi
Bisnis.com
FOMC Minutes: The Fed Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga Lagi
Federal Reserve mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun 2026 karena inflasi AS masih tinggi. Mayoritas pejabat The Fed menilai langkah ini diperlukan untuk mengantisipasi inflasi yang bertahan di atas target.
Fed officials see another hike coming, but no sign as to when, minutes show
https://www.cnbc.com/2026/10/07/fed-officials-see-another-hike-coming-but-no-sign-as-to-when-minutes-show.html?__source=iosappshare%7Cnet.whatsapp.WhatsApp.ShareExtension
https://www.cnbc.com/2026/10/07/fed-officials-see-another-hike-coming-but-no-sign-as-to-when-minutes-show.html?__source=iosappshare%7Cnet.whatsapp.WhatsApp.ShareExtension
CNBC
Fed officials see another hike coming, but no sign as to when, minutes show
The Federal Reserve on Wednesday released minutes from its Sept. 15-16 policy meeting.
Belum ada katalis positif cukup kuat utk memdorong investor asing balik masuk ke pasar saham Indonesia
Steptrader
πPenjualan Retail Menguat TipisποΈ
- *Penjualan Ritel Tahunan (YoY):* Tumbuh 1.3% YoY pada Agustus 2026, meningkat dibandingkan pertumbuhan Juli 2026 yang sebesar 1.1% YoY.
- *Kelompok Penopang Pertumbuhan:* Ditopang utama oleh subkelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau (+2.6% YoY) serta Suku Cadang dan Aksesori Otomotif (+3.9% YoY).
- *Kelompok yang Mengalami Kontraksi:* Penurunan terdalam terjadi pada kelompok Perlengkapan Rumah Tangga / Pakaian (-12.4% YoY), Peralatan Informasi dan Komunikasi (-10.9% YoY), serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (-5.7% YoY).
- *Penjualan Ritel Bulanan (MoM):* Naik 0.8% MoM pada Agustus 2026, membaik dari kontraksi 0.1% MoM pada bulan sebelumnya.
*π‘Insight*
Penjualan ritel Indonesia *menunjukkan pemulihan bertahap setelah mengalami kontraksi* pada AprilβJuni 2026. Pertumbuhan kembali positif pada Juli sebesar 1.1% YoY dan meningkat menjadi 1.3% pada Agustus, tetapi *masih jauh di bawah pertumbuhan sekitar 5β6% pada akhir 2025 hingga awal 2026.*
Tren ini mengindikasikan konsumsi domestik mulai membaik, tetapi momentum pemulihannya masih relatif moderat dan belum kembali ke level pertumbuhan sebelumnya. Ke depan, keberlanjutan konsumsi akan *bergantung pada kemampuan daya beli menghadapi tekanan harga* , sehingga pemulihan berpotensi tetap *terkonsentrasi pada kebutuhan pokok dibandingkan belanja non-esensial*.
Disclaimer on
- *Kelompok Penopang Pertumbuhan:* Ditopang utama oleh subkelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau (+2.6% YoY) serta Suku Cadang dan Aksesori Otomotif (+3.9% YoY).
- *Kelompok yang Mengalami Kontraksi:* Penurunan terdalam terjadi pada kelompok Perlengkapan Rumah Tangga / Pakaian (-12.4% YoY), Peralatan Informasi dan Komunikasi (-10.9% YoY), serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (-5.7% YoY).
- *Penjualan Ritel Bulanan (MoM):* Naik 0.8% MoM pada Agustus 2026, membaik dari kontraksi 0.1% MoM pada bulan sebelumnya.
*π‘Insight*
Penjualan ritel Indonesia *menunjukkan pemulihan bertahap setelah mengalami kontraksi* pada AprilβJuni 2026. Pertumbuhan kembali positif pada Juli sebesar 1.1% YoY dan meningkat menjadi 1.3% pada Agustus, tetapi *masih jauh di bawah pertumbuhan sekitar 5β6% pada akhir 2025 hingga awal 2026.*
Tren ini mengindikasikan konsumsi domestik mulai membaik, tetapi momentum pemulihannya masih relatif moderat dan belum kembali ke level pertumbuhan sebelumnya. Ke depan, keberlanjutan konsumsi akan *bergantung pada kemampuan daya beli menghadapi tekanan harga* , sehingga pemulihan berpotensi tetap *terkonsentrasi pada kebutuhan pokok dibandingkan belanja non-esensial*.
Disclaimer on
*POPULARITAS TRUMP TERUS MELEMAH MENJELANG PEMILU PARUH WAKTU*
Survei terbaru Financial Times bersama Focaldata menunjukkan Presiden AS Donald Trump masih kesulitan perbaiki tingkat persetujuan hanya beberapa pekan sebelum pemilu paruh waktu. Hanya seperempat pemilih terdaftar menilai positif kinerjanya kelola lapangan kerja dan ekonomi sementara dukungan atas penanganan inflasi bahkan lebih rendah sekitar 20 persen. Lebih dari dua pertiga responden menilai ekonomi AS bergerak ke arah salah.
Data ketenagakerjaan September menambah kekhawatiran dengan penciptaan hanya 29.000 pekerjaan jauh di bawah ekspektasi. Secara keseluruhan tingkat persetujuan Trump bertahan rendah di 34 persen dan 45 persen pemilih menilai keberadaannya justru menyulitkan kandidat Republik. Cook Political Report menilai kondisi elektoral Republik memburuk dengan 18 kursi DPR bergeser ke arah Demokrat dan proyeksi tambahan 9-19 kursi bagi Demokrat pada November.
Survei FT menunjukkan keunggulan Demokrat atas Republik lebih dari lima poin. Kebijakan terkait AI dan Iran juga menuai penolakan, sekitar dua pertiga responden dukung aturan federal mengikat bagi perusahaan AI berlawanan dengan pendekatan Trump yang tekankan inovasi cepat pengawasan sukarela. Persetujuan penanganan konflik Iran turun lebih dari tujuh poin sejak Mei dengan kurang dari seperempat pemilih mendukung, mayoritas inginkan kesepakatan segera.
Meski basis tergerus loyalitas Republik tetap tinggi sekitar 80 persen pemilih Trump 2024 masih berencana pilih kandidat Republik meski persetujuan turun dari 80 persen menjadi di bawah 70 persen sejak Mei. Survei dilakukan daring 2-4 Oktober 2026 terhadap 2.275 pemilih terdaftar margin kesalahan plus minus 2,5 persen.
Sumber : Financial Times 11 Oktober 2026
Survei terbaru Financial Times bersama Focaldata menunjukkan Presiden AS Donald Trump masih kesulitan perbaiki tingkat persetujuan hanya beberapa pekan sebelum pemilu paruh waktu. Hanya seperempat pemilih terdaftar menilai positif kinerjanya kelola lapangan kerja dan ekonomi sementara dukungan atas penanganan inflasi bahkan lebih rendah sekitar 20 persen. Lebih dari dua pertiga responden menilai ekonomi AS bergerak ke arah salah.
Data ketenagakerjaan September menambah kekhawatiran dengan penciptaan hanya 29.000 pekerjaan jauh di bawah ekspektasi. Secara keseluruhan tingkat persetujuan Trump bertahan rendah di 34 persen dan 45 persen pemilih menilai keberadaannya justru menyulitkan kandidat Republik. Cook Political Report menilai kondisi elektoral Republik memburuk dengan 18 kursi DPR bergeser ke arah Demokrat dan proyeksi tambahan 9-19 kursi bagi Demokrat pada November.
Survei FT menunjukkan keunggulan Demokrat atas Republik lebih dari lima poin. Kebijakan terkait AI dan Iran juga menuai penolakan, sekitar dua pertiga responden dukung aturan federal mengikat bagi perusahaan AI berlawanan dengan pendekatan Trump yang tekankan inovasi cepat pengawasan sukarela. Persetujuan penanganan konflik Iran turun lebih dari tujuh poin sejak Mei dengan kurang dari seperempat pemilih mendukung, mayoritas inginkan kesepakatan segera.
Meski basis tergerus loyalitas Republik tetap tinggi sekitar 80 persen pemilih Trump 2024 masih berencana pilih kandidat Republik meski persetujuan turun dari 80 persen menjadi di bawah 70 persen sejak Mei. Survei dilakukan daring 2-4 Oktober 2026 terhadap 2.275 pemilih terdaftar margin kesalahan plus minus 2,5 persen.
Sumber : Financial Times 11 Oktober 2026
"8 emerging markets to consider in 2027: HSBC"
https://www.investing.com/news/stock-market-news/8-emerging-markets-to-consider-in-2027-hsbc-4942478
https://www.investing.com/news/stock-market-news/8-emerging-markets-to-consider-in-2027-hsbc-4942478
Investing.com
8 emerging markets to consider in 2027: HSBC By Investing.com
Net Sell Asing Menggunung Rp 111 Triliun, IHSG Butuh Penyelamat
https://investor.id/market/457717/net-sell-asing-menggunung-rp-111-triliun-ihsg-butuh-penyelamat
https://investor.id/market/457717/net-sell-asing-menggunung-rp-111-triliun-ihsg-butuh-penyelamat
investor.id
Net Sell Asing Menggunung Rp 111 Triliun, IHSG Butuh Penyelamat
Net sell asing mencapai Rp 111 triliun. IHSG menghadapi tekanan besar, sementara evaluasi MSCI November 2026 berpotensi menjadi katalis.