๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
Channel name was changed to ยซWhat began as simple admiration slowly turned into something he could no longer dismiss as coincidence.ยป
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
๐พ๐๐ผ๐๐๐๐ 01
๐ฝ๐๐๐๐๐ฟ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
Lampu panggung perlahan padam, menyisakan suara riuh para penonton yang masih meneriakkan nama mereka. Jonathan masih berdiri di atas panggung, sesekali memandangi kerumunan di hadapannya.
Namun, di antara banyaknya wajah yang terlihat, pandangannya justru berhenti pada satu wajah yang sudah tidak asing lagi baginya. Wajah yang selalu muncul di pikirannya.
Jonathan bahkan sempat terpaku beberapa saat sampai sebuah tepukan di pundaknya membuatnya tersadar.
Jonathan menoleh dan mendapati Kenzo sudah berdiri di sampingnya.
Kenzo langsung menyeringai lebar. la kemudian merangkul pundak Jonathan dan mengajaknya turun dari panggung.
Jonathan hanya tertawa kecil mendengar ucapan itu. la menggeleng pelan sebelum menjawab.
Percakapan itu pun berakhir begitu saja. Mereka kemudian berjalan menuju ruang istirahat, tempat manager dan anggota band lainnya sudah lebih dulu berkumpul.
Begitu semuanya lengkap, mereka langsung melakukan evaluasi terhadap penampilan malam itu. Satu per satu bagian dibahas, mulai dari kesalahan kecil saat tampil, koordinasi antar anggota, sampai hal-hal yang masih perlu diperbaiki untuk penampilan berikutnya.
Tanpa terasa, tiga jam berlalu hanya untuk membahas semuanya. Akhirnya, manager mereka berdiri dan menutup rapat malam itu.
Beberapa anggota langsung melayangkan protes. Ada yang mengeluh karena merasa rapatnya terlalu lama, sementara yang lain justru sudah sibuk membereskan barang masing-masing karena ingin segera pulang.
Jonathan sendiri hanya mengambil tas selempangnya, berpamitan kepada sang manager, lalu berjalan keluar dari ruangan.
Namun, di antara banyaknya wajah yang terlihat, pandangannya justru berhenti pada satu wajah yang sudah tidak asing lagi baginya. Wajah yang selalu muncul di pikirannya.
Jonathan bahkan sempat terpaku beberapa saat sampai sebuah tepukan di pundaknya membuatnya tersadar.
"Ngeliatin siapa, bang? Serius amat sampai gak kedip."
Jonathan menoleh dan mendapati Kenzo sudah berdiri di sampingnya.
"Ngeliatin para penggemar kita, Zo. Mereka keliatan excited banget. Gak sia-sia ternyata latihan kita dari kemarin."
Kenzo langsung menyeringai lebar. la kemudian merangkul pundak Jonathan dan mengajaknya turun dari panggung.
"Anj*r, gua kira lu suka sama salah satu penggemar kita, bang. Wah, kalau iya, kacau banget. Pasti bakal bikin heboh."
Jonathan hanya tertawa kecil mendengar ucapan itu. la menggeleng pelan sebelum menjawab.
"Gak dulu lah. Gua mau fokus ke karir dulu. Soal begituan, gampang. Nanti aja."
Percakapan itu pun berakhir begitu saja. Mereka kemudian berjalan menuju ruang istirahat, tempat manager dan anggota band lainnya sudah lebih dulu berkumpul.
Begitu semuanya lengkap, mereka langsung melakukan evaluasi terhadap penampilan malam itu. Satu per satu bagian dibahas, mulai dari kesalahan kecil saat tampil, koordinasi antar anggota, sampai hal-hal yang masih perlu diperbaiki untuk penampilan berikutnya.
Tanpa terasa, tiga jam berlalu hanya untuk membahas semuanya. Akhirnya, manager mereka berdiri dan menutup rapat malam itu.
"Oke, karena sekarang udah malam, evaluasi hari ini kita cukup sampai sini. Jangan lupa istirahat dan langsung pulang ke rumah. Awas aja kalau saya dapat laporan kalian malah mampir ke tempat lain. Siap-siap nanti saya hukum."
Beberapa anggota langsung melayangkan protes. Ada yang mengeluh karena merasa rapatnya terlalu lama, sementara yang lain justru sudah sibuk membereskan barang masing-masing karena ingin segera pulang.
Jonathan sendiri hanya mengambil tas selempangnya, berpamitan kepada sang manager, lalu berjalan keluar dari ruangan.
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
Baru saja ia hendak masuk ke mobil, suara Riner terdengar dari belakang.
Jonathan menoleh sebentar.
Riner terkekeh.
Jonathan hanya mengangguk.
Setelah Riner, Sean dan Jerrick pergi, Jonathan masuk ke dalam mobilnya. Lalu ia segera meninggalkan tempat tersebut.
Namun, studio bukanlah tempat yang sebenarnya ingin ia tuju.
Sesampainya di rumah, Jonathan langsung masuk ke dalam dan berjalan menuju sebuah ruangan tersembunyi yang letaknya cukup jauh dari ruangannya yang biasa. Ruangan yang bahkan tidak diketahui oleh siapa pun selain dirinya.
Begitu pintunya terbuka, terlihat beberapa monitor yang memenuhi hampir seluruh sisi ruangan.
Jonathan berjalan mendekat, lalu duduk di kursi yang menghadap salah satu monitor. Pandangannya langsung tertuju pada layar tersebut.
la meraih sebuah foto yang tergeletak di atas meja, lalu menatapnya cukup lama. Senyum tipis muncul di wajahnya.
Jarinya mengusap pelan permukaan foto itu sebelum ia kembali melihat layar di depannya.
Jonathan terkekeh kecil. Tatapannya kemudian kembali terpaku pada layar.
Di sana, terlihat perempuan yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya sedang mencoba memainkan gitar.
Baru saja ia hendak masuk ke mobil, suara Riner terdengar dari belakang.
"Jo, lu langsung balik beneran nih? Gak mampir ke mana-mana dulu?"
Jonathan menoleh sebentar.
"Gak lah, bang. Tiba-tiba kepikiran beat lagu, nih. Jadi mau ke studio yang di rumah aja. Mau langsung gua eksekusi sebelum lupa."
"Yang otaknya encer emang beda, ya."
Riner terkekeh.
"Yaudah, gua Sean sama Jerrick mau cabut ke tempat biasa. Kalau lu berubah pikiran, tinggal nyusul."
Jonathan hanya mengangguk.
"Sip. Hati-hati."
Setelah Riner, Sean dan Jerrick pergi, Jonathan masuk ke dalam mobilnya. Lalu ia segera meninggalkan tempat tersebut.
Namun, studio bukanlah tempat yang sebenarnya ingin ia tuju.
Sesampainya di rumah, Jonathan langsung masuk ke dalam dan berjalan menuju sebuah ruangan tersembunyi yang letaknya cukup jauh dari ruangannya yang biasa. Ruangan yang bahkan tidak diketahui oleh siapa pun selain dirinya.
Begitu pintunya terbuka, terlihat beberapa monitor yang memenuhi hampir seluruh sisi ruangan.
Jonathan berjalan mendekat, lalu duduk di kursi yang menghadap salah satu monitor. Pandangannya langsung tertuju pada layar tersebut.
la meraih sebuah foto yang tergeletak di atas meja, lalu menatapnya cukup lama. Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Long time no see, kakak cantik."
Jarinya mengusap pelan permukaan foto itu sebelum ia kembali melihat layar di depannya.
"Tadi kakak keliatan cantik banget, loh. Untung aja Kenzo nepuk bahu aku. Kalau enggak, bisa ketauan kalau dari tadi aku ngeliatin kakak terus."
Jonathan terkekeh kecil. Tatapannya kemudian kembali terpaku pada layar.
Di sana, terlihat perempuan yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya sedang mencoba memainkan gitar.
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
Melihat tingkahnya yang terlihat sedikit kesulitan, Jonathan malah tertawa pelan.
Malam semakin larut, tetapi Jonathan masih belum beranjak dari tempatnya.
Waktu terus berjalan, sementara pandangannya tetap tertuju pada layar monitor di hadapannya. Sampai akhirnya, perempuan itu terlihat mulai mengantuk dan tak lama kemudian tertidur.
Jonathan masih duduk di sana. la menatap layar yang kini hanya memperlihatkan perempuan itu dalam keadaan tertidur. Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.
la bersandar di kursinya, masih tak mengalihkan pandangan dari layar.
Melihat tingkahnya yang terlihat sedikit kesulitan, Jonathan malah tertawa pelan.
"Harusnya kakak bilang aja kalau mau diajarin main gitar, pasti bakal aku ajarin dengan sepenuh hati."
Malam semakin larut, tetapi Jonathan masih belum beranjak dari tempatnya.
Waktu terus berjalan, sementara pandangannya tetap tertuju pada layar monitor di hadapannya. Sampai akhirnya, perempuan itu terlihat mulai mengantuk dan tak lama kemudian tertidur.
Jonathan masih duduk di sana. la menatap layar yang kini hanya memperlihatkan perempuan itu dalam keadaan tertidur. Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.
"Good night, kakak cantik."
la bersandar di kursinya, masih tak mengalihkan pandangan dari layar.
"Semoga mimpi indah dan semoga di dalam mimpi kakak, kita bisa ketemu juga, ya."
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
Forwarded from ๐ฆ๐ผ๐ป๐ผ๐ฟ๐ฒ ๐๐ฎ๐ณ๐ฒ ๐ป ๐๐ฎ๐๐ฒ๐ฟ๐ โ๏ธ
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค2
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
Channel name was changed to ยซ๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พยป
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
Forwarded from ASA BERSUA
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
โ โ โ โ โ โ โ โ
Ada harapan yang tumbuh dari sunyi,
ada suara yang lahir dari riuhnya hati.
Lima jiwa, lima cerita, bertemu dalam
satu irama.
๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐
โ โ โฎ โ โ
Sebuah kisah tentang mereka yang
berani mengubah resah menjadi nada,
sendu menjadi sabda, dan mimpi
menjadi suara.
โหโก Sang kelana telah bersua, biar
gema yang menorehkan kisahnya. โฎ
Jakarta, 8 September 2026
โ โ โ โ โ โ โ โ
Ada harapan yang tumbuh dari sunyi,
ada suara yang lahir dari riuhnya hati.
Lima jiwa, lima cerita, bertemu dalam
satu irama.
๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐
โ โ โฎ โ โ
Sebuah kisah tentang mereka yang
berani mengubah resah menjadi nada,
sendu menjadi sabda, dan mimpi
menjadi suara.
โหโก Sang kelana telah bersua, biar
gema yang menorehkan kisahnya. โฎ
Jakarta, 8 September 2026
โ โ โ โ โ โ โ โ
โค1
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
๐ผ๐๐ผ ๐ฝ๐๐๐๐๐ผ: ๐ฝ๐ผ๐พ๐๐๐๐ผ๐๐ ๐๐๐ผ๐๐๐พ
Forwarded from ASA BERSUA
โ โ โ โ โ โ โ โ
๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐
โฎ๐ฉ๐๐๐บ๐๐๐บ๐ ๐ง๐บ๐๐๐๐๐๐โฎ
"๐ฆ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐๐ฎ ๐ก๐ฎ๐ฑ๐ฎ"
Tumbuh di antara kehangatan keluarga dan gemerlap panggung, Ia menemukan bahwa suara bukan sekadar lantunan, melainkan ruang untuk menyuarakan apa yang tak sempat terucap.
Di balik prestasinya sebagai solois, tersimpan asa untuk meninggalkan panggung yang terlalu rapi dan bersua dalam riuh distorsi bersama mereka yang sefrekuensi.
๐๐ถ๐ข๐ณ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ.
๐๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ถ๐ข.
โ โ โ โ โ โ โ โ
๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐
โฎ๐ฉ๐๐๐บ๐๐๐บ๐ ๐ง๐บ๐๐๐๐๐๐โฎ
"๐ฆ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐๐ฎ ๐ก๐ฎ๐ฑ๐ฎ"
Tumbuh di antara kehangatan keluarga dan gemerlap panggung, Ia menemukan bahwa suara bukan sekadar lantunan, melainkan ruang untuk menyuarakan apa yang tak sempat terucap.
Di balik prestasinya sebagai solois, tersimpan asa untuk meninggalkan panggung yang terlalu rapi dan bersua dalam riuh distorsi bersama mereka yang sefrekuensi.
๐๐ถ๐ข๐ณ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ.
๐๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ถ๐ข.
โ โ โ โ โ โ โ โ
โค1