πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
DISCLAIMER
This channel is intended for roleplay purposes only and follows the policies of @telegram and @durov. It is based on the OC concept.
The face claim used is Martin Edwards from CORTIS. All plots, interactions, and activities in this channel are purely fictional and do not represent or involve the face claim in real life.
Photos, videos, and other media used throughout this channel are sourced from the face claim's official social media accounts and publicly available platforms such as Pinterest, X, Instagram, and YouTube.
The primary language of this channel is Indonesian, although English may occasionally be used for conversations or certain posts.
Please note that some posts or interactions may contain casual, harsh, or profane language, depending on the context of the roleplay. Certain content may also include fictional conflicts, dark themes, or emotionally intense situations. Viewer discretion is advised.
Everything shared on this channel is part of a fictional portrayal and should not be taken as a reflection of real-life events, opinions, or behavior.
No real-life connection or intention is implied. Please respect the boundaries between fiction and reality.
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ via @AnoMessBot
Have something to say or ask, but prefer to stay anonymous? Feel free to send your message using the link below.
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
β π£π₯π’ππ’ππ¨π
Beyond the spotlight
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
Namanya Jonathan Harrison, seorang vokalis sekaligus salah satu anggota dari sebuah band yang belakangan ini mulai dikenal oleh banyak orang yaitu Asa Bersua. Lahir pada 20 Maret 2008 di Kanada, Jonathan memiliki rambut pirang kecokelatan dan perawakan yang cukup tinggi, sehingga membuatnya terlihat mencolok ketika sedang berkumpul bersama rekan-rekan bandnya. Meski lahir di Kanada, saat ini Jonathan menetap di kawasan Tebet, tempat yang sudah ia anggap sebagai rumahnya sendiri.
Selain dikenal sebagai vokalis, Jonathan juga memiliki ketertarikan dalam menciptakan lagu. Entah sudah berapa banyak lagu yang ia tulis selama ini, terkadang ia menciptakannya untuk mengisi waktu luang, terkadang pula hanya karena sebuah melodi tiba-tiba muncul di kepalanya. Jika para anggota band menyukai salah satu karyanya, lagu tersebut tak jarang akhirnya dibawakan dalam penampilan mereka.
Namun, siapa yang tahu bahwa di balik sosoknya yang terlihat biasa saja, Jonathan diam-diam selalu memperhatikan seseorang yang telah berhasil menarik perhatiannya? Entah sejak kapan ketertarikan itu muncul, tetapi Jonathan sudah terlanjur ingin mengetahui lebih banyak tentang perempuan tersebut.
Rasa ingin tahunya perlahan membuatnya melakukan berbagai hal yang mungkin tidak akan pernah ia lakukan untuk orang lain. Ia mencari tahu apa pun yang ingin ia ketahui, dengan cara apa pun yang menurutnya memungkinkan. Baik secara legal maupun ilegal, selama keinginannya terpenuhi, Jonathan rela melakukan apa saja.
Dan mungkin, bagi Jonathan, mengetahui terlalu banyak tentang seseorang bukanlah sebuah kesalahan. Melainkan bentuk lain dari rasa tertarik yang tidak pernah ia tahu bagaimana cara menghentikannya.
Namanya Jonathan Harrison, seorang vokalis sekaligus salah satu anggota dari sebuah band yang belakangan ini mulai dikenal oleh banyak orang yaitu Asa Bersua. Lahir pada 20 Maret 2008 di Kanada, Jonathan memiliki rambut pirang kecokelatan dan perawakan yang cukup tinggi, sehingga membuatnya terlihat mencolok ketika sedang berkumpul bersama rekan-rekan bandnya. Meski lahir di Kanada, saat ini Jonathan menetap di kawasan Tebet, tempat yang sudah ia anggap sebagai rumahnya sendiri.
Selain dikenal sebagai vokalis, Jonathan juga memiliki ketertarikan dalam menciptakan lagu. Entah sudah berapa banyak lagu yang ia tulis selama ini, terkadang ia menciptakannya untuk mengisi waktu luang, terkadang pula hanya karena sebuah melodi tiba-tiba muncul di kepalanya. Jika para anggota band menyukai salah satu karyanya, lagu tersebut tak jarang akhirnya dibawakan dalam penampilan mereka.
Namun, siapa yang tahu bahwa di balik sosoknya yang terlihat biasa saja, Jonathan diam-diam selalu memperhatikan seseorang yang telah berhasil menarik perhatiannya? Entah sejak kapan ketertarikan itu muncul, tetapi Jonathan sudah terlanjur ingin mengetahui lebih banyak tentang perempuan tersebut.
Rasa ingin tahunya perlahan membuatnya melakukan berbagai hal yang mungkin tidak akan pernah ia lakukan untuk orang lain. Ia mencari tahu apa pun yang ingin ia ketahui, dengan cara apa pun yang menurutnya memungkinkan. Baik secara legal maupun ilegal, selama keinginannya terpenuhi, Jonathan rela melakukan apa saja.
Dan mungkin, bagi Jonathan, mengetahui terlalu banyak tentang seseorang bukanlah sebuah kesalahan. Melainkan bentuk lain dari rasa tertarik yang tidak pernah ia tahu bagaimana cara menghentikannya.
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
Channel name was changed to Β«Maybe it was just curiosity at first, but curiosity has a strange way of becoming something more before you even realize it.Β»
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
Channel name was changed to Β«What began as simple admiration slowly turned into something he could no longer dismiss as coincidence.Β»
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
πΎππΌππππ 01
π½πππππΏ πππ πππππππππ
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
Lampu panggung perlahan padam, menyisakan suara riuh para penonton yang masih meneriakkan nama mereka. Jonathan masih berdiri di atas panggung, sesekali memandangi kerumunan di hadapannya.
Namun, di antara banyaknya wajah yang terlihat, pandangannya justru berhenti pada satu wajah yang sudah tidak asing lagi baginya. Wajah yang selalu muncul di pikirannya.
Jonathan bahkan sempat terpaku beberapa saat sampai sebuah tepukan di pundaknya membuatnya tersadar.
Jonathan menoleh dan mendapati Kenzo sudah berdiri di sampingnya.
Kenzo langsung menyeringai lebar. la kemudian merangkul pundak Jonathan dan mengajaknya turun dari panggung.
Jonathan hanya tertawa kecil mendengar ucapan itu. la menggeleng pelan sebelum menjawab.
Percakapan itu pun berakhir begitu saja. Mereka kemudian berjalan menuju ruang istirahat, tempat manager dan anggota band lainnya sudah lebih dulu berkumpul.
Begitu semuanya lengkap, mereka langsung melakukan evaluasi terhadap penampilan malam itu. Satu per satu bagian dibahas, mulai dari kesalahan kecil saat tampil, koordinasi antar anggota, sampai hal-hal yang masih perlu diperbaiki untuk penampilan berikutnya.
Tanpa terasa, tiga jam berlalu hanya untuk membahas semuanya. Akhirnya, manager mereka berdiri dan menutup rapat malam itu.
Beberapa anggota langsung melayangkan protes. Ada yang mengeluh karena merasa rapatnya terlalu lama, sementara yang lain justru sudah sibuk membereskan barang masing-masing karena ingin segera pulang.
Jonathan sendiri hanya mengambil tas selempangnya, berpamitan kepada sang manager, lalu berjalan keluar dari ruangan.
Namun, di antara banyaknya wajah yang terlihat, pandangannya justru berhenti pada satu wajah yang sudah tidak asing lagi baginya. Wajah yang selalu muncul di pikirannya.
Jonathan bahkan sempat terpaku beberapa saat sampai sebuah tepukan di pundaknya membuatnya tersadar.
"Ngeliatin siapa, bang? Serius amat sampai gak kedip."
Jonathan menoleh dan mendapati Kenzo sudah berdiri di sampingnya.
"Ngeliatin para penggemar kita, Zo. Mereka keliatan excited banget. Gak sia-sia ternyata latihan kita dari kemarin."
Kenzo langsung menyeringai lebar. la kemudian merangkul pundak Jonathan dan mengajaknya turun dari panggung.
"Anj*r, gua kira lu suka sama salah satu penggemar kita, bang. Wah, kalau iya, kacau banget. Pasti bakal bikin heboh."
Jonathan hanya tertawa kecil mendengar ucapan itu. la menggeleng pelan sebelum menjawab.
"Gak dulu lah. Gua mau fokus ke karir dulu. Soal begituan, gampang. Nanti aja."
Percakapan itu pun berakhir begitu saja. Mereka kemudian berjalan menuju ruang istirahat, tempat manager dan anggota band lainnya sudah lebih dulu berkumpul.
Begitu semuanya lengkap, mereka langsung melakukan evaluasi terhadap penampilan malam itu. Satu per satu bagian dibahas, mulai dari kesalahan kecil saat tampil, koordinasi antar anggota, sampai hal-hal yang masih perlu diperbaiki untuk penampilan berikutnya.
Tanpa terasa, tiga jam berlalu hanya untuk membahas semuanya. Akhirnya, manager mereka berdiri dan menutup rapat malam itu.
"Oke, karena sekarang udah malam, evaluasi hari ini kita cukup sampai sini. Jangan lupa istirahat dan langsung pulang ke rumah. Awas aja kalau saya dapat laporan kalian malah mampir ke tempat lain. Siap-siap nanti saya hukum."
Beberapa anggota langsung melayangkan protes. Ada yang mengeluh karena merasa rapatnya terlalu lama, sementara yang lain justru sudah sibuk membereskan barang masing-masing karena ingin segera pulang.
Jonathan sendiri hanya mengambil tas selempangnya, berpamitan kepada sang manager, lalu berjalan keluar dari ruangan.
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
Baru saja ia hendak masuk ke mobil, suara Riner terdengar dari belakang.
Jonathan menoleh sebentar.
Riner terkekeh.
Jonathan hanya mengangguk.
Setelah Riner, Sean dan Jerrick pergi, Jonathan masuk ke dalam mobilnya. Lalu ia segera meninggalkan tempat tersebut.
Namun, studio bukanlah tempat yang sebenarnya ingin ia tuju.
Sesampainya di rumah, Jonathan langsung masuk ke dalam dan berjalan menuju sebuah ruangan tersembunyi yang letaknya cukup jauh dari ruangannya yang biasa. Ruangan yang bahkan tidak diketahui oleh siapa pun selain dirinya.
Begitu pintunya terbuka, terlihat beberapa monitor yang memenuhi hampir seluruh sisi ruangan.
Jonathan berjalan mendekat, lalu duduk di kursi yang menghadap salah satu monitor. Pandangannya langsung tertuju pada layar tersebut.
la meraih sebuah foto yang tergeletak di atas meja, lalu menatapnya cukup lama. Senyum tipis muncul di wajahnya.
Jarinya mengusap pelan permukaan foto itu sebelum ia kembali melihat layar di depannya.
Jonathan terkekeh kecil. Tatapannya kemudian kembali terpaku pada layar.
Di sana, terlihat perempuan yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya sedang mencoba memainkan gitar.
Baru saja ia hendak masuk ke mobil, suara Riner terdengar dari belakang.
"Jo, lu langsung balik beneran nih? Gak mampir ke mana-mana dulu?"
Jonathan menoleh sebentar.
"Gak lah, bang. Tiba-tiba kepikiran beat lagu, nih. Jadi mau ke studio yang di rumah aja. Mau langsung gua eksekusi sebelum lupa."
"Yang otaknya encer emang beda, ya."
Riner terkekeh.
"Yaudah, gua Sean sama Jerrick mau cabut ke tempat biasa. Kalau lu berubah pikiran, tinggal nyusul."
Jonathan hanya mengangguk.
"Sip. Hati-hati."
Setelah Riner, Sean dan Jerrick pergi, Jonathan masuk ke dalam mobilnya. Lalu ia segera meninggalkan tempat tersebut.
Namun, studio bukanlah tempat yang sebenarnya ingin ia tuju.
Sesampainya di rumah, Jonathan langsung masuk ke dalam dan berjalan menuju sebuah ruangan tersembunyi yang letaknya cukup jauh dari ruangannya yang biasa. Ruangan yang bahkan tidak diketahui oleh siapa pun selain dirinya.
Begitu pintunya terbuka, terlihat beberapa monitor yang memenuhi hampir seluruh sisi ruangan.
Jonathan berjalan mendekat, lalu duduk di kursi yang menghadap salah satu monitor. Pandangannya langsung tertuju pada layar tersebut.
la meraih sebuah foto yang tergeletak di atas meja, lalu menatapnya cukup lama. Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Long time no see, kakak cantik."
Jarinya mengusap pelan permukaan foto itu sebelum ia kembali melihat layar di depannya.
"Tadi kakak keliatan cantik banget, loh. Untung aja Kenzo nepuk bahu aku. Kalau enggak, bisa ketauan kalau dari tadi aku ngeliatin kakak terus."
Jonathan terkekeh kecil. Tatapannya kemudian kembali terpaku pada layar.
Di sana, terlihat perempuan yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya sedang mencoba memainkan gitar.
πΌππΌ π½πππππΌ: π½πΌπΎππππΌππ πππΌπππΎ
Melihat tingkahnya yang terlihat sedikit kesulitan, Jonathan malah tertawa pelan.
Malam semakin larut, tetapi Jonathan masih belum beranjak dari tempatnya.
Waktu terus berjalan, sementara pandangannya tetap tertuju pada layar monitor di hadapannya. Sampai akhirnya, perempuan itu terlihat mulai mengantuk dan tak lama kemudian tertidur.
Jonathan masih duduk di sana. la menatap layar yang kini hanya memperlihatkan perempuan itu dalam keadaan tertidur. Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.
la bersandar di kursinya, masih tak mengalihkan pandangan dari layar.
Melihat tingkahnya yang terlihat sedikit kesulitan, Jonathan malah tertawa pelan.
"Harusnya kakak bilang aja kalau mau diajarin main gitar, pasti bakal aku ajarin dengan sepenuh hati."
Malam semakin larut, tetapi Jonathan masih belum beranjak dari tempatnya.
Waktu terus berjalan, sementara pandangannya tetap tertuju pada layar monitor di hadapannya. Sampai akhirnya, perempuan itu terlihat mulai mengantuk dan tak lama kemudian tertidur.
Jonathan masih duduk di sana. la menatap layar yang kini hanya memperlihatkan perempuan itu dalam keadaan tertidur. Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.
"Good night, kakak cantik."
la bersandar di kursinya, masih tak mengalihkan pandangan dari layar.
"Semoga mimpi indah dan semoga di dalam mimpi kakak, kita bisa ketemu juga, ya."