menjawab, "Kami (istri-istri beliau Saw.) selalu menyediakan untuk beliau siwak dan air wudunya, dan Allah membangunkannya di waktu yang dikehendaki-Nya dari tengah malam, lalu beliau bersiwak dan mengambil air wudunya. Setelah itu beliau mengerjakan salat delapan rakaat, tanpa melakukan duduk kecuali pada rakaat yang kedelapannya. Dan di rakaat yang kedelapan beliau duduk berzikir kepada Allah dan berdoa kepada-Nya, lalu bangkit lagi tanpa salam, dan langsung mengerjakan rakaat yang kesembilannya. Setelah rakaat yang kesembilan, barulah beliau duduk dan berzikir kepada Allah semata serta berdoa kepada-Nya, lalu melakukan salam dengan suara yang dapat didengar oleh kami. Sesudah itu beliau salat dua rakaat lagi sambil duduk sesudah salamnya itu. Maka itulah sebelas rakaat yang dikerjakan oleh beliau Saw., hai Anakku.
Tetapi setelah usia Rasulullah Saw. bertambah tua dan tubuhnya mulai gemuk, maka beliau mengerjakan witirnya tujuh rakaat, kemudian salat dua rakaat lagi sambil duduk setelah salamnya. Maka itulah sembilan rakaat yang dikerjakannya, hai Anakku.
Dan Rasulullah Saw. apabila mengerjakan suatu salat, beliau suka mengerjakannya dengan tetap. Apabila beliau disibukkan karena tertidur atau sedang sakit hingga salat malam hari tidak dikerjakannya di malam hari, maka beliau mengerjakannya di siang hari sebanyak dua belas rakaat. Dan aku belum pernah melihat Nabi Saw. mengkhatamkan Al-Qur'an seluruhnya dalam semalam hingga pagi harinya, dan tidak pula puasa sebulan penuh selain dalam bulan Ramadan."
Lalu aku kembali kepada Ibnu Abbas dan kuceritakan kepadanya hadis yang diceritakan oleh Aisyah. Maka Ibnu Abbas berkata, "Dia benar, ketahuilah seandainya aku yang masuk menemuinya, tentulah aku akan menemuinya hingga dapat berbicara berhadap-hadapan dengannya."
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara lengkap, dan Imam Muslim di dalam kitab sahihnya telah mengetengahkan hadis ini melalui Qatadah dengan lafaz yang semisal.
Jalur lain dari Aisyah r.a. yang semakna dengan hadis ini.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki', telah mencerita-kan kepada kami Zaid ibnul Habbab, dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Mahran; keduanya meriwayatkan hadis ini, tetapi lafaznya dari Ibnu Waki', dari Musa ibnu Ubaidah, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Tahla, dari Abu Saiamah, dari Aisyah r.a. yang menceritakan bahwa aku pernah mempersiapkan tikar hamparan untuk tempat salat Rasulullah Saw. di malam hari. Orang-orang (para sahabat) mengintipnya dan mereka berkerumun mendengarkannya. Maka Nabi Saw. Keluar seperti orang yang sedang marah, padahal beliau sayang kepada mereka. Beliau merasa khawatir bila qiyamul lail difardukan atas mereka, maka beliau bersabda:
Hai manusia, kerjakanlah dari amal-amal ibadah yang sesuai dengan kamampuan kalian. Karena sesungguhnya Allah tidak pernah merasa bosan dalam memberi pahala, hingga kalian sendirilah yang bosan dalam beramal. Dan sebaik-baik amal ialah yang paling tetap pengamalannya.
Dan turunlah firman Allah Swt.:
Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. (Al-Muzzammil: 1-4)
Hingga tersebutlah ada seseorang yang terpaksa mengikat dirinya dengan tambang, lalu bergantung padanya (agar tetap dalam keadaan bangun). Mereka jalani masa itu selama delapan bulan, maka Allah melihat keinginan mereka dalam meraih rida-Nya. Akhirnya Allah mengasihani mereka dan mengembalikan mereka kepada salat fardu saja serta tidak lagi mewajibkan qiyamul lail.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui jalur Musa ibnu Ubaidah Ar-Rabzi, tetapi dia orangnya daif. Hadis ini di dalam kitab sahih tidak menyebutkan adanya penurunan surat Al-Muzzammil. Konteks hadis ini memberikan pengertian bahwa surat ini seakan-akan diturunkan di Madinah, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Sesungguhnya surat ini tiada lain adalah surat Makkiyyah.
Tetapi setelah usia Rasulullah Saw. bertambah tua dan tubuhnya mulai gemuk, maka beliau mengerjakan witirnya tujuh rakaat, kemudian salat dua rakaat lagi sambil duduk setelah salamnya. Maka itulah sembilan rakaat yang dikerjakannya, hai Anakku.
Dan Rasulullah Saw. apabila mengerjakan suatu salat, beliau suka mengerjakannya dengan tetap. Apabila beliau disibukkan karena tertidur atau sedang sakit hingga salat malam hari tidak dikerjakannya di malam hari, maka beliau mengerjakannya di siang hari sebanyak dua belas rakaat. Dan aku belum pernah melihat Nabi Saw. mengkhatamkan Al-Qur'an seluruhnya dalam semalam hingga pagi harinya, dan tidak pula puasa sebulan penuh selain dalam bulan Ramadan."
Lalu aku kembali kepada Ibnu Abbas dan kuceritakan kepadanya hadis yang diceritakan oleh Aisyah. Maka Ibnu Abbas berkata, "Dia benar, ketahuilah seandainya aku yang masuk menemuinya, tentulah aku akan menemuinya hingga dapat berbicara berhadap-hadapan dengannya."
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara lengkap, dan Imam Muslim di dalam kitab sahihnya telah mengetengahkan hadis ini melalui Qatadah dengan lafaz yang semisal.
Jalur lain dari Aisyah r.a. yang semakna dengan hadis ini.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki', telah mencerita-kan kepada kami Zaid ibnul Habbab, dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Mahran; keduanya meriwayatkan hadis ini, tetapi lafaznya dari Ibnu Waki', dari Musa ibnu Ubaidah, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Tahla, dari Abu Saiamah, dari Aisyah r.a. yang menceritakan bahwa aku pernah mempersiapkan tikar hamparan untuk tempat salat Rasulullah Saw. di malam hari. Orang-orang (para sahabat) mengintipnya dan mereka berkerumun mendengarkannya. Maka Nabi Saw. Keluar seperti orang yang sedang marah, padahal beliau sayang kepada mereka. Beliau merasa khawatir bila qiyamul lail difardukan atas mereka, maka beliau bersabda:
Hai manusia, kerjakanlah dari amal-amal ibadah yang sesuai dengan kamampuan kalian. Karena sesungguhnya Allah tidak pernah merasa bosan dalam memberi pahala, hingga kalian sendirilah yang bosan dalam beramal. Dan sebaik-baik amal ialah yang paling tetap pengamalannya.
Dan turunlah firman Allah Swt.:
Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. (Al-Muzzammil: 1-4)
Hingga tersebutlah ada seseorang yang terpaksa mengikat dirinya dengan tambang, lalu bergantung padanya (agar tetap dalam keadaan bangun). Mereka jalani masa itu selama delapan bulan, maka Allah melihat keinginan mereka dalam meraih rida-Nya. Akhirnya Allah mengasihani mereka dan mengembalikan mereka kepada salat fardu saja serta tidak lagi mewajibkan qiyamul lail.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui jalur Musa ibnu Ubaidah Ar-Rabzi, tetapi dia orangnya daif. Hadis ini di dalam kitab sahih tidak menyebutkan adanya penurunan surat Al-Muzzammil. Konteks hadis ini memberikan pengertian bahwa surat ini seakan-akan diturunkan di Madinah, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Sesungguhnya surat ini tiada lain adalah surat Makkiyyah.
Dan teks hadis yang menyebutkan bahwa jarak antara turunnya permulaan surat ini dan akhirnya memakan waktu delapan bulan. Ini berpredikat garib (aneh), karena sesungguhnya menurut apa yang tertera di dalam hadis riwayat Imam Ahmad sebelum ini telah disebutkan jarak tenggangnya adalah satu tahun.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Mis'ar, dari Sammak Al-Hanafi, bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan bahwa pada permulaan turunnya awal surat Al-Muzzammil, para sahabat melakukan qiyamul lail yang lamanya sama dengan qiyamul lail mereka dalam bulan Ramadan. Dan jarak tenggang waktu antara awal surat Al-Muzzammil sampai dengan ayat terakhirnya memakan waktu kurang lebih satu tahun. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Abu Kuraib, dari Abu Usamah dengan sanad yang sama.
As-Sauri dan Muhammad ibnu Bisyr Al-Abdi telah meriwayatkan dari Mis'ar, dari Sammak, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa jarak antara keduanya (permulaan surat dan akhirnya) adalah satu tahun. Ibnu Jarir telah meriwayatkan pula dari Abu Kuraib, dari Waki', dari Israil, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas hal yang semisal.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Mahran, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Qa"is ibnu Wahb, dari Abu Abdur Rahman yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya: Hai orang yang berselimut (Muhammad). (Al-Muzzammil: 1) Mereka mengerjakan qiyamul lail selama satu tahun sehingga telapak kaki dan betis mereka bengkak, hingga turunlah firman Allah Swt.: karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an. (Al-Muzzammil: 20) Maka orang-orang pun (yakni para sahabat) merasa lega dengannya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri dan As-Saddi.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah, te!ah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Umar Al-Qawariri, telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Hisyam, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Qatadah, dari Zurarah ibnu Aufa, dari Sa'id ibnu Hisyam yang mengatakan bahwa lalu ia bertanya kepada Aisyah, "Ceritakanlah kepadaku tentang qiyamul lail Rasulullah Saw." Siti Aisyah balik bertanya, "Bukankah engkau telah membaca firman-Nya: Hai orang yang berselimut (Muhammad). (Al-Muzzammil: 1) Aku menjawab, "Benar, aku telah membacanya." Siti Aisyah r.a. berkata, "Itulah qiyamul lail yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya, hingga telapak kaki mereka bengkak-bengkak (karena lamanya berdiri dalam salat), sedangkan penutup surat ini ditahan di langit selama enam belas bulan, kemudian baru diturunkan sesudahnya."
Ma'mar telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya). (Al-Muzzammil: 2) Mereka melakukan qiyamul lail selama kurang lebih satu atau dua tahun hingga betis dan telapak kaki mereka bengkak-bengkak, lalu Allah menurunkan ayat yang meringankannya sesudah itu di akhir surat.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Ya'qub Al-Qummi, dari Ja'far, dari Sa'id ibnu Jubair yang mengatakan bahwa ketika Allah Swt. menurunkan kepada Nabi-Nya firman berikut: Hai orang yang berselimut (Muhammad). (Al-Muzzammil: 1) Bahwa Nabi Saw. mengerjakan perintah ini selama sepuluh tahun, yaitu qiyamul lail sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Swt. Dan tersebutlah bahwa segolongan dari para sahabat ada yang ikut melakukan qiyamul lail bersamanya. Maka sesudah masa sepuluh tahun Allah menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (salat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. (Al-Muzzammil: 20) sampai dengan firman-Nya: dan dirikanlah salat. (Al-Muzzammil: 20) Maka melalui ayat ini Allah memberikan keringanan kepada mereka setelah sepuluh tahun.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Mis'ar, dari Sammak Al-Hanafi, bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan bahwa pada permulaan turunnya awal surat Al-Muzzammil, para sahabat melakukan qiyamul lail yang lamanya sama dengan qiyamul lail mereka dalam bulan Ramadan. Dan jarak tenggang waktu antara awal surat Al-Muzzammil sampai dengan ayat terakhirnya memakan waktu kurang lebih satu tahun. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Abu Kuraib, dari Abu Usamah dengan sanad yang sama.
As-Sauri dan Muhammad ibnu Bisyr Al-Abdi telah meriwayatkan dari Mis'ar, dari Sammak, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa jarak antara keduanya (permulaan surat dan akhirnya) adalah satu tahun. Ibnu Jarir telah meriwayatkan pula dari Abu Kuraib, dari Waki', dari Israil, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas hal yang semisal.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Mahran, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Qa"is ibnu Wahb, dari Abu Abdur Rahman yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya: Hai orang yang berselimut (Muhammad). (Al-Muzzammil: 1) Mereka mengerjakan qiyamul lail selama satu tahun sehingga telapak kaki dan betis mereka bengkak, hingga turunlah firman Allah Swt.: karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an. (Al-Muzzammil: 20) Maka orang-orang pun (yakni para sahabat) merasa lega dengannya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri dan As-Saddi.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah, te!ah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Umar Al-Qawariri, telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Hisyam, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Qatadah, dari Zurarah ibnu Aufa, dari Sa'id ibnu Hisyam yang mengatakan bahwa lalu ia bertanya kepada Aisyah, "Ceritakanlah kepadaku tentang qiyamul lail Rasulullah Saw." Siti Aisyah balik bertanya, "Bukankah engkau telah membaca firman-Nya: Hai orang yang berselimut (Muhammad). (Al-Muzzammil: 1) Aku menjawab, "Benar, aku telah membacanya." Siti Aisyah r.a. berkata, "Itulah qiyamul lail yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya, hingga telapak kaki mereka bengkak-bengkak (karena lamanya berdiri dalam salat), sedangkan penutup surat ini ditahan di langit selama enam belas bulan, kemudian baru diturunkan sesudahnya."
Ma'mar telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya). (Al-Muzzammil: 2) Mereka melakukan qiyamul lail selama kurang lebih satu atau dua tahun hingga betis dan telapak kaki mereka bengkak-bengkak, lalu Allah menurunkan ayat yang meringankannya sesudah itu di akhir surat.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Ya'qub Al-Qummi, dari Ja'far, dari Sa'id ibnu Jubair yang mengatakan bahwa ketika Allah Swt. menurunkan kepada Nabi-Nya firman berikut: Hai orang yang berselimut (Muhammad). (Al-Muzzammil: 1) Bahwa Nabi Saw. mengerjakan perintah ini selama sepuluh tahun, yaitu qiyamul lail sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Swt. Dan tersebutlah bahwa segolongan dari para sahabat ada yang ikut melakukan qiyamul lail bersamanya. Maka sesudah masa sepuluh tahun Allah menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (salat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. (Al-Muzzammil: 20) sampai dengan firman-Nya: dan dirikanlah salat. (Al-Muzzammil: 20) Maka melalui ayat ini Allah memberikan keringanan kepada mereka setelah sepuluh tahun.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkan hadis ini dari ayahnya. dari Amr ibnu Rafi', dari Ya'qub Al-Qummi dengan sanad yang sama. Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. (Al-Muzzammil: 2-3) Maka hal ini memberatkan kaum mukmin, kemudian Allah memberikan keringanan kepada mereka dan mengasihi mereka. Untuk itu Allah menurunkan firman-Nya sesudah itu: Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang lain, mereka berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah. (Al-Muzzammil: 20) sampai dengan firman-Nya: maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an. (Al-Muzzammil: 20) Maka melalui ayat ini Allah Swt. memberikan keluasan bagi mereka —segala puji bagi Allah— dan Dia tidak mempersulit mereka.
Sedekah harian bagi sahabat semua bs ditunaikan dpt ditunaikan dgn transaksi non tunai (digital), klik ringanin.id
🙏
🙏
https://ringanin.id/
Ayo Sedekah Ramadhan setiap hari mulai *Rp.5000*, ringan bukan...., Tinggal klik di hp mu...pilih donasi..dgn metode transaksi yg mudah sesuai keinginanmu... sedekah mjd ringan...
Mari kita perbanyak pahala di bulan penuh berkah ini...
Bantu share linknya utk saudara kita yg lain..🙏
Ayo Sedekah Ramadhan setiap hari mulai *Rp.5000*, ringan bukan...., Tinggal klik di hp mu...pilih donasi..dgn metode transaksi yg mudah sesuai keinginanmu... sedekah mjd ringan...
Mari kita perbanyak pahala di bulan penuh berkah ini...
Bantu share linknya utk saudara kita yg lain..🙏
Saudaraku...di Malam Lailatul Qadar, Allah menetapkan takdir kita satu tahun kedepan. Oleh karenanya kita bersungguh-sungguh berIbadah di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Agar Allah tetapkan takdir dan masa depan yg baik bagi kehidupan kita satu tahun ke depan. Kita tidak tahu apakah kita bertemu Ramadhan tahun yg akan datang. Mari kita berdoa agar Allah beri kesempatan berjumpa Ramadhan tahun yg akan datang.. Aamiin ya Robbalalamin..
https://ringanin.id/
Sebelum beraktifitas Ayo Sedekah pagi Ramadhan setiap hari mulai *Rp.5000*, ringan bukan...., Tinggal klik di hp mu...pilih donasi..dgn metode transaksi yg mudah sesuai keinginanmu... sedekah mjd ringan...
Mari kita perbanyak pahala di bulan penuh berkah ini...
Bantu share linknya utk saudara kita yg lain..🙏
Sebelum beraktifitas Ayo Sedekah pagi Ramadhan setiap hari mulai *Rp.5000*, ringan bukan...., Tinggal klik di hp mu...pilih donasi..dgn metode transaksi yg mudah sesuai keinginanmu... sedekah mjd ringan...
Mari kita perbanyak pahala di bulan penuh berkah ini...
Bantu share linknya utk saudara kita yg lain..🙏
BERJUANG TAK KENAL MENYERAH DAN ISTIRAHAT
oleh: aunur rafiq saleh
وَا لَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-'Ankabut: 69)
• Ayat ini mengisyaratkan etos perjuangan seorang mujahid sejati yang tidak mengenal kata menyerah. Karena perjuangan pasti menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. Bahkan berbagai tantangan dan kesulitan dalam perjuangan dakwah Islam seringkali jauh lebih besar dari kemampuan dan kapasitas yang dimiliki para pejuang sehingga tidak jarang membuat gentar dan pesimis sebagian pejuang. Salah satu contohnya apa yang dialami oleh sebagian pengikut Nabi Musa as:
قَا لُوْا يٰمُوْسٰۤى اِنَّ فِيْهَا قَوْمًا جَبَّا رِ يْنَ ۖ وَاِ نَّا لَنْ نَّدْخُلَهَا حَتّٰى يَخْرُجُوْا مِنْهَا ۚ فَاِ نْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَا فَاِ نَّا دَا خِلُوْنَ
"Mereka berkata, Wahai Musa! Sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam, kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar dari sana, niscaya kami akan masuk." (QS. Al-Ma'idah: 22)
• Agar tidak mudah menyerah dalam perjuangan, ia harus memiliki:
• Pertama, iman dan harapan yang kuat kepada Allah, bahwa Allah pasti akan menunjukkan berbagai jalan keluar, kesuksesan dan kemenangan. Tetapi petunjuk ini akan diberikan Allah setelah para pejuang berjuang maksimal dalam mengerahkan semua kemampuannya, sebagaimana ditegaskan ayat di atas.
• Setelah berjuang mengerahkan semua kemampuan pun harus tetap berharap kepada Allah:
وَاِ لٰى رَبِّكَ فَا رْغَبْ
"dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap." (QS. Al-Insyirah: 8)
• Siapa yang tidak berusaha terus menerus menguatkan keimanan dan harapannya kepada Allah, dalam perjuangan dakwah Islam ini, dikhawatirkan akan mengalami fenomena yang dialami oleh sebagian pengikut Nabi Musa as di atas. Kisah ini disampaikan untuk menjadi renungan dan pelajaran. Jangan sampai ada orang yang mau berjuang tetapi alergi dengan tantangan dan kesulitan.
• Kedua, kemauan yang kuat (ارادة قوية). Diantara tanda pejuang yang memiliki kemauan yang kuat adalah:
a- Tidak Pernah Ragu.
• Dalam perang Uhud, Nabi saw mulanya cenderung kepada pendapat yang mengatakan agar tidak keluar dari Madinah. Sedangkan para sahabat yang lain, terutama para pemuda menginginkan perang di luar Madinah sehingga Nabi saw melepas pendapatnya dan mengikuti pendapat mereka. Tetapi hal ini membuat para sahabat khawatir telah memaksa Nabi saw mengikuti pendapat mereka sehingga mereka pun menyatakan kesediaan mereka untuk menarik pendapat dan mengikuti usulan Nabi saw. Namun Nabi saw bersabda kepada mereka: "Pantang bagi seorang Nabi bila telah memakai baju perangnya untuk meletakkannya lagi hingga maju berperang".
• Pelajaran ini disampaikan Nabi saw kepada mereka karena keragu-raguan bisa melemahkan semangat perjuangan.
• Itulah sebabnya para musuh Islam selalu berusaha menimbulkan keragu-raguan di kalangan para pejuang dakwah Islam, agar semangat dan soliditas mereka runtuh. Baik keragu-raguan terhadap para pemimpin dakwah atau pun terhadap prinsip-prinsip dakwah.
b- Tidak Kenal Istirahat.
• Dalam kamus perjuangan dakwah Islam tidak ada kata istirahat atau tawaqquf (pause). Istirahat atau tawaqquf (pause) sama dengan berhenti berjuang. Karena istirahat dalam perjuangan adalah awal proses terjadinya insilakh (mundur pelan-pelan) atau "muntaber" ( mundur tanpa berita) dari gelanggang perjuangan dakwah Islam. Fenomena insilakh ini disebutkan Allah dalam salah satu ayat-Nya:
وَا تْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ الَّذِيْۤ اٰتَيْنٰهُ اٰيٰتِنَا فَا نْسَلَخَ مِنْهَا فَاَ تْبَعَهُ الشَّيْطٰنُ فَكَا نَ مِنَ الْغٰوِيْنَ
oleh: aunur rafiq saleh
وَا لَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-'Ankabut: 69)
• Ayat ini mengisyaratkan etos perjuangan seorang mujahid sejati yang tidak mengenal kata menyerah. Karena perjuangan pasti menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. Bahkan berbagai tantangan dan kesulitan dalam perjuangan dakwah Islam seringkali jauh lebih besar dari kemampuan dan kapasitas yang dimiliki para pejuang sehingga tidak jarang membuat gentar dan pesimis sebagian pejuang. Salah satu contohnya apa yang dialami oleh sebagian pengikut Nabi Musa as:
قَا لُوْا يٰمُوْسٰۤى اِنَّ فِيْهَا قَوْمًا جَبَّا رِ يْنَ ۖ وَاِ نَّا لَنْ نَّدْخُلَهَا حَتّٰى يَخْرُجُوْا مِنْهَا ۚ فَاِ نْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَا فَاِ نَّا دَا خِلُوْنَ
"Mereka berkata, Wahai Musa! Sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam, kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar dari sana, niscaya kami akan masuk." (QS. Al-Ma'idah: 22)
• Agar tidak mudah menyerah dalam perjuangan, ia harus memiliki:
• Pertama, iman dan harapan yang kuat kepada Allah, bahwa Allah pasti akan menunjukkan berbagai jalan keluar, kesuksesan dan kemenangan. Tetapi petunjuk ini akan diberikan Allah setelah para pejuang berjuang maksimal dalam mengerahkan semua kemampuannya, sebagaimana ditegaskan ayat di atas.
• Setelah berjuang mengerahkan semua kemampuan pun harus tetap berharap kepada Allah:
وَاِ لٰى رَبِّكَ فَا رْغَبْ
"dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap." (QS. Al-Insyirah: 8)
• Siapa yang tidak berusaha terus menerus menguatkan keimanan dan harapannya kepada Allah, dalam perjuangan dakwah Islam ini, dikhawatirkan akan mengalami fenomena yang dialami oleh sebagian pengikut Nabi Musa as di atas. Kisah ini disampaikan untuk menjadi renungan dan pelajaran. Jangan sampai ada orang yang mau berjuang tetapi alergi dengan tantangan dan kesulitan.
• Kedua, kemauan yang kuat (ارادة قوية). Diantara tanda pejuang yang memiliki kemauan yang kuat adalah:
a- Tidak Pernah Ragu.
• Dalam perang Uhud, Nabi saw mulanya cenderung kepada pendapat yang mengatakan agar tidak keluar dari Madinah. Sedangkan para sahabat yang lain, terutama para pemuda menginginkan perang di luar Madinah sehingga Nabi saw melepas pendapatnya dan mengikuti pendapat mereka. Tetapi hal ini membuat para sahabat khawatir telah memaksa Nabi saw mengikuti pendapat mereka sehingga mereka pun menyatakan kesediaan mereka untuk menarik pendapat dan mengikuti usulan Nabi saw. Namun Nabi saw bersabda kepada mereka: "Pantang bagi seorang Nabi bila telah memakai baju perangnya untuk meletakkannya lagi hingga maju berperang".
• Pelajaran ini disampaikan Nabi saw kepada mereka karena keragu-raguan bisa melemahkan semangat perjuangan.
• Itulah sebabnya para musuh Islam selalu berusaha menimbulkan keragu-raguan di kalangan para pejuang dakwah Islam, agar semangat dan soliditas mereka runtuh. Baik keragu-raguan terhadap para pemimpin dakwah atau pun terhadap prinsip-prinsip dakwah.
b- Tidak Kenal Istirahat.
• Dalam kamus perjuangan dakwah Islam tidak ada kata istirahat atau tawaqquf (pause). Istirahat atau tawaqquf (pause) sama dengan berhenti berjuang. Karena istirahat dalam perjuangan adalah awal proses terjadinya insilakh (mundur pelan-pelan) atau "muntaber" ( mundur tanpa berita) dari gelanggang perjuangan dakwah Islam. Fenomena insilakh ini disebutkan Allah dalam salah satu ayat-Nya:
وَا تْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ الَّذِيْۤ اٰتَيْنٰهُ اٰيٰتِنَا فَا نْسَلَخَ مِنْهَا فَاَ تْبَعَهُ الشَّيْطٰنُ فَكَا نَ مِنَ الْغٰوِيْنَ
"Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang yang sesat." (QS. Al-A'raf: 175)
• Orang yang melepaskan diri dari dakwah dengan dalih istirahat atau tawaqquf (pause) akan diikuti oleh setan dan digodanya hingga berhasil membuatnya berhenti total dari kemuliaan perjuangan dakwah yang pernah dirasakannya. Fenomena dan proses ini disebut insilakh (انسلاخ). Semoga Allah menjauhkan kita dari insilakh.
• Karena itu, Allah tidak memberi istirahat kepada Nabi saw dalam perjuangan dakwah ini. Firman-Nya:
فَاِ ذَا فَرَغْتَ فَا نْصَبْ
"Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)," (QS. Al-Insyirah: 7)
• Karena istirahat dalam perjuangan berarti kekosongan (vacuum/فراغ). Kekosongan menjadi peluang bagi setan untuk masuk dan memasukkan bisikan-bisikan keburukan yang melemahkan semangat perjuangan dakwah hingga akhirnya berhenti berjuang.
• Bahkan dalam mendinamisasi kehidupan ini Allah tidak membiarkan orang-orang beriman berada dalam kevakuman, termasuk dalam ibadah. Sepanjang tahun dan sepanjang hari, orang-orang beriman berada dalam matarantai ibadah kepada Allah. Berhenti dari satu ibadah dilanjut dengan ibadah yang lain.
• Karena itu beragam tafsir yang diberikan tentang ayat ini (al-Insyirah: 7).
• Ibnu Mas'ud mengartikan: "Bila kamu telah selesai menunaikan berbagai ibadah fardhu maka lakukan qiyamul-lail".
• Ibnu Abbas, adh-Dhahak dan Muqatil: "Bila kamu telah selesai menunaikan shalat maka lanjutkan dengan doa".
• Mujahid: "Jika kamu telah selesai dari urusan duniamu maka letihkan dirimu dengan amal akhiratmu".
• Asy-Sya'bi dan az-Zuhri: "Jika kamu telah selesai membaca tasyahhud maka berdoalah untuk dunia dan akhiratmu".
• Imam Ahmad berkata: "Seorang mukmin baru bisa istirahat bila salah satu kakinya telah menginjak surga".
• Setelah usai puasa ramadhan ada puasa Syawal kemudian dilanjut dengan haji dan begitulah seterusnya. Tidak boleh ada kevakuman dalam kehidupan orang-orang beriman di sepanjang tahun, di sepanjang hari. Karena kevakuman adalah pintu setan.
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الْفَرَاغُ وَالصِّحَّةُ
"Dua nikmat yang kebanyakan manusia terlena adalah waktu luang dan kesehatan." (Musnad Ahmad 3038)
• Orang yang melepaskan diri dari dakwah dengan dalih istirahat atau tawaqquf (pause) akan diikuti oleh setan dan digodanya hingga berhasil membuatnya berhenti total dari kemuliaan perjuangan dakwah yang pernah dirasakannya. Fenomena dan proses ini disebut insilakh (انسلاخ). Semoga Allah menjauhkan kita dari insilakh.
• Karena itu, Allah tidak memberi istirahat kepada Nabi saw dalam perjuangan dakwah ini. Firman-Nya:
فَاِ ذَا فَرَغْتَ فَا نْصَبْ
"Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)," (QS. Al-Insyirah: 7)
• Karena istirahat dalam perjuangan berarti kekosongan (vacuum/فراغ). Kekosongan menjadi peluang bagi setan untuk masuk dan memasukkan bisikan-bisikan keburukan yang melemahkan semangat perjuangan dakwah hingga akhirnya berhenti berjuang.
• Bahkan dalam mendinamisasi kehidupan ini Allah tidak membiarkan orang-orang beriman berada dalam kevakuman, termasuk dalam ibadah. Sepanjang tahun dan sepanjang hari, orang-orang beriman berada dalam matarantai ibadah kepada Allah. Berhenti dari satu ibadah dilanjut dengan ibadah yang lain.
• Karena itu beragam tafsir yang diberikan tentang ayat ini (al-Insyirah: 7).
• Ibnu Mas'ud mengartikan: "Bila kamu telah selesai menunaikan berbagai ibadah fardhu maka lakukan qiyamul-lail".
• Ibnu Abbas, adh-Dhahak dan Muqatil: "Bila kamu telah selesai menunaikan shalat maka lanjutkan dengan doa".
• Mujahid: "Jika kamu telah selesai dari urusan duniamu maka letihkan dirimu dengan amal akhiratmu".
• Asy-Sya'bi dan az-Zuhri: "Jika kamu telah selesai membaca tasyahhud maka berdoalah untuk dunia dan akhiratmu".
• Imam Ahmad berkata: "Seorang mukmin baru bisa istirahat bila salah satu kakinya telah menginjak surga".
• Setelah usai puasa ramadhan ada puasa Syawal kemudian dilanjut dengan haji dan begitulah seterusnya. Tidak boleh ada kevakuman dalam kehidupan orang-orang beriman di sepanjang tahun, di sepanjang hari. Karena kevakuman adalah pintu setan.
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الْفَرَاغُ وَالصِّحَّةُ
"Dua nikmat yang kebanyakan manusia terlena adalah waktu luang dan kesehatan." (Musnad Ahmad 3038)
https://ringanin.id/
Ayo Sedekah Ramadhan setiap hari mulai *Rp.5000*, ringan bukan...., Tinggal klik di hp mu...pilih donasi..dgn metode transaksi yg mudah sesuai keinginanmu... sedekah mjd ringan...
Mari kita perbanyak pahala di bulan penuh berkah ini...
Bantu share linknya utk saudara kita yg lain..🙏
Ayo Sedekah Ramadhan setiap hari mulai *Rp.5000*, ringan bukan...., Tinggal klik di hp mu...pilih donasi..dgn metode transaksi yg mudah sesuai keinginanmu... sedekah mjd ringan...
Mari kita perbanyak pahala di bulan penuh berkah ini...
Bantu share linknya utk saudara kita yg lain..🙏
RAMADHAN, REVOLUSI PERUBAHAN
oleh: aunur rafiq saleh
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendirii". (QS. ar-Ra'd: 11).
• Perubahan dalam kehidupan umat harus dimulai dari perubahan jiwa (انفس), sebagaimana ditegaskan ayat di atas.
• Bulan ramadhan menjadi kesempatan paling baik untuk membuat perubahan tersebut. Minimal karena tiga alasan:
1- Waktu Perubahan yang Panjang.
• Orang yang berpuasa berkomitmen selama tigapuluh hari tanpa putus menjauhi makan, minum dan syahwat, dan mengendalikan emosinya sehingga tidak melakukan perbuatan tercela seperti menyakiti dan menghina dan tidak pula membalas celaan dan hinaan.
• Waktu sebulan sudah cukup untuk menciptakan perubahan yang diharapkan jika niatnya benar.
• Menurut para psikolog, pembiasaan perilaku selama 6 sampai 12 hari secara terus menerus sudah cukup untuk menanamkan perbuatan tersebut di dalam jiwa dan mengubahnya menjadi perilaku.
• Keberkahan waktu yang ada di bulan ramadhan dan dilemahkannya musuh dengan dibelenggunya setan menjadi dua faktor yang membantu perubahan itu lebih langgeng.
• Musim perubahan di bulan ramadhan selama 30 hari terus menerus sama dengan rutin minum obat yang manjur untuk mendapat kesembuhan dan membersihkan dampak penyakit.
• Ini salah satu bentuk tarbiyah robbaniyah penuh berkah. Karena seseorang melaksanakan satu amal saja setiap hari, sekalipun sederhana, bisa memberikan banyak manfaat. Apalagi jika amal itu banyak atau satu paket amal?!
• Dari sisi ini ramadhan merupakan salah satu bentuk sistem pendisiplinan bagi orang yang tidak biasa disiplin atau pun bagi orang yang sudah terbiasa disiplin. Ia mendapat pendidikan ini di bulan ramadhan dan mungkin tidak didapatkannya di luar ramadhan.
• Bagaimana mungkin tidak berubah di bulan ini karena tidak ada kesempatan yang lebih mudah untuk berubah selain di bulan ini? Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi mau berubah?
• Membiasakan amal saleh selama beberapa hari kemudian menghentikannya bisa melemahkan pengaruhnya bagi hati. Berbeda jika amal saleh itu dilakukan terus-menerus selama satu bulan. Karena itu, puasa ramadhan yang diwajibkan Allah kepada kita ini merupakan rahmat besar dan sangat bermanfaat bagi kita. Secara zahir merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan tetapi sebenarnya merupakan karunia dan nikmat.
• Karena itu, setiap muslim yang menunaikan puasa dengan benar pasti merasakan pengaruh positifnya bagi hati bahkan telah mengalir di dalam hatinya hembusan rahmat dari langit. Pengaruh dan hembusan ini akan langgeng atau cepat menguap tergantung pada usaha seseorang dalam menjaganya. Jika dijaga dan dirawat terus menerus maka akan menciptakan perubahan besar dalam hidupnya. Jika dibiarkan terkikis berbagai kelalaian terus menerus maka perubahan yang diharapkan itu tidak akan pernah terwujudkan.
2- Berenang Mengikuti Arus.
• Di bulan ramadhan seseorang berpuasa bersama banyak orang. Pergi shalat tarawih beramai-ramai. Mengkhatamkan al-Quran bersama para pemburu ampunan. Karena itu, seseorang tidak merasa sendirian dalam melakukan ketaatan. Bahkan termotivasi dan hati merasa kuat untuk melakukan kebaikan, sekalipun asalnya malas dan enggan.
• Dorongan dan motivasi ini tidak didapatkan di luar ramadhan. Kapan masjid bisa penuh seperti di bulan ramadhan? Kapan orang-orang berlomba-lomba membaca al-Quran seperti yang mereka lakukan di bulan ramadhan? Kapan orang-orang bisa menjadi sangat dermawan dan sangat peduli kepada fakir miskin sebagaimana di bulan penuh berkah ini?
3- Perubahan yang meliputi banyak aspek.
• Perubahan ini meliputi banyak aspek: kebiasaan, ibadah, hati, hubungan sosial dan keyakinan.
• Bahkan perubahan ini sangat mendasar dan mendalam, tidak hanya pada tataran luar saja tetapi membuahkan hasil; tidak hanya pada tampilan tetapi sampai pada esensi.
• Ramadhan adalah momentum sangat baik dan tepat untuk memulai perubahan besar dalam kehidupan ini.
oleh: aunur rafiq saleh
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendirii". (QS. ar-Ra'd: 11).
• Perubahan dalam kehidupan umat harus dimulai dari perubahan jiwa (انفس), sebagaimana ditegaskan ayat di atas.
• Bulan ramadhan menjadi kesempatan paling baik untuk membuat perubahan tersebut. Minimal karena tiga alasan:
1- Waktu Perubahan yang Panjang.
• Orang yang berpuasa berkomitmen selama tigapuluh hari tanpa putus menjauhi makan, minum dan syahwat, dan mengendalikan emosinya sehingga tidak melakukan perbuatan tercela seperti menyakiti dan menghina dan tidak pula membalas celaan dan hinaan.
• Waktu sebulan sudah cukup untuk menciptakan perubahan yang diharapkan jika niatnya benar.
• Menurut para psikolog, pembiasaan perilaku selama 6 sampai 12 hari secara terus menerus sudah cukup untuk menanamkan perbuatan tersebut di dalam jiwa dan mengubahnya menjadi perilaku.
• Keberkahan waktu yang ada di bulan ramadhan dan dilemahkannya musuh dengan dibelenggunya setan menjadi dua faktor yang membantu perubahan itu lebih langgeng.
• Musim perubahan di bulan ramadhan selama 30 hari terus menerus sama dengan rutin minum obat yang manjur untuk mendapat kesembuhan dan membersihkan dampak penyakit.
• Ini salah satu bentuk tarbiyah robbaniyah penuh berkah. Karena seseorang melaksanakan satu amal saja setiap hari, sekalipun sederhana, bisa memberikan banyak manfaat. Apalagi jika amal itu banyak atau satu paket amal?!
• Dari sisi ini ramadhan merupakan salah satu bentuk sistem pendisiplinan bagi orang yang tidak biasa disiplin atau pun bagi orang yang sudah terbiasa disiplin. Ia mendapat pendidikan ini di bulan ramadhan dan mungkin tidak didapatkannya di luar ramadhan.
• Bagaimana mungkin tidak berubah di bulan ini karena tidak ada kesempatan yang lebih mudah untuk berubah selain di bulan ini? Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi mau berubah?
• Membiasakan amal saleh selama beberapa hari kemudian menghentikannya bisa melemahkan pengaruhnya bagi hati. Berbeda jika amal saleh itu dilakukan terus-menerus selama satu bulan. Karena itu, puasa ramadhan yang diwajibkan Allah kepada kita ini merupakan rahmat besar dan sangat bermanfaat bagi kita. Secara zahir merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan tetapi sebenarnya merupakan karunia dan nikmat.
• Karena itu, setiap muslim yang menunaikan puasa dengan benar pasti merasakan pengaruh positifnya bagi hati bahkan telah mengalir di dalam hatinya hembusan rahmat dari langit. Pengaruh dan hembusan ini akan langgeng atau cepat menguap tergantung pada usaha seseorang dalam menjaganya. Jika dijaga dan dirawat terus menerus maka akan menciptakan perubahan besar dalam hidupnya. Jika dibiarkan terkikis berbagai kelalaian terus menerus maka perubahan yang diharapkan itu tidak akan pernah terwujudkan.
2- Berenang Mengikuti Arus.
• Di bulan ramadhan seseorang berpuasa bersama banyak orang. Pergi shalat tarawih beramai-ramai. Mengkhatamkan al-Quran bersama para pemburu ampunan. Karena itu, seseorang tidak merasa sendirian dalam melakukan ketaatan. Bahkan termotivasi dan hati merasa kuat untuk melakukan kebaikan, sekalipun asalnya malas dan enggan.
• Dorongan dan motivasi ini tidak didapatkan di luar ramadhan. Kapan masjid bisa penuh seperti di bulan ramadhan? Kapan orang-orang berlomba-lomba membaca al-Quran seperti yang mereka lakukan di bulan ramadhan? Kapan orang-orang bisa menjadi sangat dermawan dan sangat peduli kepada fakir miskin sebagaimana di bulan penuh berkah ini?
3- Perubahan yang meliputi banyak aspek.
• Perubahan ini meliputi banyak aspek: kebiasaan, ibadah, hati, hubungan sosial dan keyakinan.
• Bahkan perubahan ini sangat mendasar dan mendalam, tidak hanya pada tataran luar saja tetapi membuahkan hasil; tidak hanya pada tampilan tetapi sampai pada esensi.
• Ramadhan adalah momentum sangat baik dan tepat untuk memulai perubahan besar dalam kehidupan ini.
• Selama sebulan telah terbangun landasan yang benar bagi semua bangunan amal, yaitu keikhlasan. Hampir tidak ada celah untuk tidak ikhlas dalam berpuasa karena semua orang di sekitar juga berpuasa.
• Selama ramadhan kita merasakan nikmatnya beribadah, khususnya bagi spiritual kita bahkan fisik pun terasa sehat dan ringan. Ini bisa dijadikan landasan membangun kesadaran dan semangat di hari-hari berikutnya bahwa ibadah itu kebutuhan dan sangat bermanfaat bahkan menyenangkan bagi kehidupan kita. Bukan beban yang memberatkan.
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
"Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu". (QS. al-Baqarah: 185)
• Selama satu bulan, egoisme dan individualisme terkikis hingga kita bisa menikmati kebersamaan dan berbagi dengan orang lain. Pengalaman ini seharusnya bisa membangkitkan tekad kuat untuk membuang segala bentuk ananiyah yang selama ini mengkerdilkan dan mengucilkan diri di dalam ruang individualisme yang pengap. Menuju kehidupan sosial dan kepedulian yang menyenangkan dan menyehatkan lahir batin.
• Selama satu bulan hidup dengan hati dan batin yang jernih, tidak dikeruhkan oleh dendam, dengki, kebencian dan amarah hingga hidup terasa nyaman, dada terasa lapang, jiwa tentram dan udara kehidupan terasa sangat segar. Seharusnya pengalaman ini dijadikan "data primer" untuk mengolah dan mengelola hati lebih sehat, lebih jernih dan lebih nyaman lagi, bagi diri dan orang lain.
• Berbagai buah ibadah ramadhan bisa dijadikan titik tolak memulai revolusi perubahan karena semuanya itu berbasis taghyir nafsi (perubahan jiwa atau mental) dan tarbiyah nafsiyah sebagaimana yang dipersyaratkan al-Quran.
• Selama ramadhan kita merasakan nikmatnya beribadah, khususnya bagi spiritual kita bahkan fisik pun terasa sehat dan ringan. Ini bisa dijadikan landasan membangun kesadaran dan semangat di hari-hari berikutnya bahwa ibadah itu kebutuhan dan sangat bermanfaat bahkan menyenangkan bagi kehidupan kita. Bukan beban yang memberatkan.
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
"Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu". (QS. al-Baqarah: 185)
• Selama satu bulan, egoisme dan individualisme terkikis hingga kita bisa menikmati kebersamaan dan berbagi dengan orang lain. Pengalaman ini seharusnya bisa membangkitkan tekad kuat untuk membuang segala bentuk ananiyah yang selama ini mengkerdilkan dan mengucilkan diri di dalam ruang individualisme yang pengap. Menuju kehidupan sosial dan kepedulian yang menyenangkan dan menyehatkan lahir batin.
• Selama satu bulan hidup dengan hati dan batin yang jernih, tidak dikeruhkan oleh dendam, dengki, kebencian dan amarah hingga hidup terasa nyaman, dada terasa lapang, jiwa tentram dan udara kehidupan terasa sangat segar. Seharusnya pengalaman ini dijadikan "data primer" untuk mengolah dan mengelola hati lebih sehat, lebih jernih dan lebih nyaman lagi, bagi diri dan orang lain.
• Berbagai buah ibadah ramadhan bisa dijadikan titik tolak memulai revolusi perubahan karena semuanya itu berbasis taghyir nafsi (perubahan jiwa atau mental) dan tarbiyah nafsiyah sebagaimana yang dipersyaratkan al-Quran.
https://ringanin.id/
Ayo Sedekah Ramadhan setiap hari mulai *Rp.5000*, ringan bukan...., Tinggal klik di hp mu...pilih donasi..dgn metode transaksi yg mudah sesuai keinginanmu... sedekah mjd ringan...
Mari kita perbanyak pahala di bulan penuh berkah ini...
Bantu share linknya utk saudara kita yg lain..🙏
Ayo Sedekah Ramadhan setiap hari mulai *Rp.5000*, ringan bukan...., Tinggal klik di hp mu...pilih donasi..dgn metode transaksi yg mudah sesuai keinginanmu... sedekah mjd ringan...
Mari kita perbanyak pahala di bulan penuh berkah ini...
Bantu share linknya utk saudara kita yg lain..🙏