Solusi Dompet
455 subscribers
203 photos
48 videos
14 files
110 links
Program berbagi Pembelajaran Sisi lain Ilmu SolusiDompet bersama Bapak Dwi Purwanto. Program ini Gratis.

KUNCI nya ada di @audiosolusidompet


"Tebalkan isi dompetmu dengan Ilmu&Cinta"

Testimoni Sahabat semua dpt dikirim ke @Dwipurwa78
Download Telegram
PERJALANAN MENUJU "PUNCAK"
oleh: aunur rafiq saleh

وَقَا لَ  اِنِّيْ  ذَاهِبٌ  اِلٰى  رَبِّيْ  سَيَهْدِيْنِ

"Dan dia (Ibrahim) berkata, Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (QS. As-Saffat: 99)

• Pada hakikatnya hidup di dunia ini adalah perjalanan menuju Allah. Semuanya akan kembali kepada-Nya.

هُوَ  الَّذِيْ  جَعَلَ  لَـكُمُ  الْاَ رْضَ  ذَلُوْلًا  فَا مْشُوْا  فِيْ  مَنَا كِبِهَا  وَكُلُوْا  مِنْ  رِّزْقِهٖ   ۗ وَاِ لَيْهِ  النُّشُوْرُ

"Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahi lah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan."
(QS. Al-Mulk: 15)

• Puasa ramadhan dan berbagai ibadah lainnya yang dilakukan selama satu bulan penuh berkah ini pada hakikatnya merupakan perjalanan spiritual menuju Allah. Karena selama satu bulan ini kita banyak melakukan ibadah spiritual seperti puasa, shalat, dzikir, tilawah, istighfar, berdoa dan munajat.

• Terutama pada sepuluh hari terakhir saat beri'tikaf mencari lailatul qadar. Diantara adab i'tikaf adalah meninggalkan aktivitas duniawi, hanya berkonsentrasi melakukan ibadah spiritual menghadap dan mendekatkan diri kepada Allah.

• Agar punya energi yang kuat dan tidak merasa berat atau lelah, lakukanlah puncak perjalanan menuju Allah di sepuluh hari terakhir ini dengan hati yang ikhlas, jernih dan penuh keimanan.

• Karena sebagaimana dikatakan Ibnul Qayim, perjalanan menuju Allah akan membuat hati merasa ringan. Bila masih merasa berat dan letih, mungkin perlu meningkatkan keikhlasan dan kejernihan karena masih ada bagian duniawi yang mengeruhkannya hingga membuat perjalanan itu terasa berat dan melelahkan.

• Hati yang sehat dan jernih membuat perjalanan menuju Allah terasa nikmat, menyenangkan dan ringan.

اِلَّا  مَنْ  اَتَى  اللّٰهَ  بِقَلْبٍ  سَلِيْمٍ  

"kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih," (QS. Asy-Syu'ara': 89)

• Yakni bersih dari cinta dunia dan berbagai penyakit hati.

• Ibnul Qayim berkata:

• "Ketika melakukan perjalanan mencari Khidhir, Nabi Musa as merasakan lapar dan lelah di perjalanan lalu berkata kepada pembantunya, 'Bawalah kemari makanan kita, sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini'. Ia merasa letih karena melakukan perjalanan menuju makhluk. Tetapi ketika memenuhi janji Tuhannya selama tigapuluh hari dan disempurnakan dengan sepuluh hari lagi, Nabi Musa tidak makan selama empatpuluh hari tersebut tanpa merasa lapar dan letih, karena ia melakukan perjalanan menuju Tuhannya. Demikian pula perjalanan hati menuju Allah, tidak merasakan berat dan letih sebagaimana dalam perjalanannya menuju makhluk." (Bada'i' al-Fawa'id, 3/721).

• Selamat melakukan perjalanan menuju "puncak". Semoga Allah memudahkan kita semua hingga bisa menikmatinya.
Tausiyah Memasuki pekan terakhir Ramadhan 😭..
SEMUA DALAM PENGAWASAN ALLAH
oleh: aunur rafiq saleh


اِنَّ  رَبَّكَ  لَبِا لْمِرْصَا دِ  

"Sungguh Tuhanmu benar-benar mengawasi." (QS. Al-Fajr: 14)

• Di dalam "Tafsir al-Jalalain" disebutkan, makna بالمرصاد adalah "mengawasi semua perbuatan hamba tanpa ada sedikit pun yang luput dari-Nya untuk memberikan balasan kepada mereka".

• Dalam tafsir "Fi Zhilalil Quran" disebutkan: Melihat, menghitung, menghisab dan membalas sesuai dengan timbangan yang akurat, yang tidak pernah salah, tidak menzalimi seorang pun, dan tidak memutuskan berdasarkan sisi lahiriyah tetapi berdasarkan hakikat segala sesuatu. Sedangkan manusia bisa salah timbangannya, keliru penilaiannya, dan tidak melihat kecuali berdasarkan hal-hal yang bersifat lahiriyah.

• Untuk mendapatkan gambaran lebih meyakinkan, renungkanlah kisah di bawah ini.

• Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Musa as pernah bermunajat kepada Allah di suatu hari lalu bertanya kepada-Nya: Wahai Tuhanku, bagaimanakah cara orang lemah mengambil haknya dari orang yang kuat?

• Allah menjawab, Pergilah setelah ashar ke sebuah tempat pada jam sekian.. agar kamu melihat dan mengetahui bagaimana orang lemah mengambil haknya dari orang kuat.

• Musa as pun pergi ke tempat tersebut. Di tempat ini ia melihat air terjun yang keluar dari sela-sela gunung.

• Musa as duduk sambil memperhatikan dan mengamati. Tiba-tiba datang seorang penunggang kuda untuk mandi dan mengambil air. Ia turun dari kendaraannya dan melepas ikat pinggangnya lalu meletakkannya di atas batu yang ada di dekatnya.

• Setelah puas minum dan mandi, penunggang kuda ini pergi tetapi lupa mengambil ikat pinggangnya.

• Tidak lama kemudian datang seorang anak muda sambil menunggang keledai ke air terjun tersebut untuk minum dan mandi. Setelah minum dan mandi ia mengucap alhamdulillah dan kembali. Saat hendak berjalan ia melihat ikat pinggang penunggang kuda yang tertinggal di pinggir air terjun. Ia mengambil dan membuka ikat pinggang itu dan ternyata berisi emas, uang dan permata yang sangat berharga. Ia pun pergi sambil membawa harta tersebut.

• Tidak lama setelah itu, datang seorang kakek untuk minum dan mandi. Tidak lama kemudian datang penunggang kuda mencari ikat pinggangnya yang tertinggal tetapi tidak menemukannya.

• Penunggang kuda bertanya kepada sang kakek: Mana ikat pinggangku yang tadi tertinggal di sini? Sang kakek menjawab: Saya tidak tahu dan saya tidak melihat ikat pinggang.

• Penunggang kuda itu kemudian mencabut pedangnya lalu memenggal kepala sang kakek.

• Musa as melihat dan mengamati semua peristiwa tersebut, lalu berkata: Wahai Tuhanku, penunggang kuda itu telah menzalimi sang kakek.

• Allah menjelaskan: Wahai Musa! Kakek tua itu pernah membunuh orang tua penunggang kuda itu. Sedangkan bapaknya anak muda tadi pernah bekerja selama duapuluh tahun di tempat orang tua penunggang kuda tetapi tidak permah mendapatkan haknya.

• Jadi, penunggang kuda itu mengambil hak bapaknya dari kakek tua, sedangkan anak muda itu mengambil hak bapaknya dari penunggang kuda.

•Subhanallah. Maha Suci Allah yang menamakan diri-Nya "al-Haq". Tidak ada kezaliman yang luput dari-Nya, sekecil apa pun. Semua dalam pengawasan-Nya dan mendapat balasan.
MAHAR BIDADARI
oleh: aunur rafiq saleh

• Ada beberapa hadis atau riwayat tentang mahar bidadari tetapi menurut penilaian para ahli hadis semuanya lemah sanadnya.

• Tetapi Imam al-Qurthubi di dalam kitabnya, التذكرة احوال الموتى و امور الاخرة halaman 556 menyebutkan beberapa kisah para perindu atau pemimpi Bidadari sebagai berikut:

• Muhammad bin Nukman al-Muqri bercerita: Saya pernah duduk bersama al-Jala al-Muqri di Masjidil Haram. Tidak lama kemudian lewat seorang tua berbadan tinggi, kurus dan berpakaian lusuh. Kemudian al-Jala mendatanginya dan berbicara dengannya beberapa saat.

• Setelah itu ia kembali lagi kepada kami seraya bertanya, tahukah kalian siapa lelaki tua itu tadi? Kami menjawab, tidak tahu.

• Al-Jala menyampaikan bahwa lelaki tua itu telah "membeli" mahar bidadari dari Allah dengan 40.000 kali khatam al-Quran.

• Setelah menyelesaikannya, ia bermimpi bertemu dengan bidadari tersebut dalam pakaian dan perhiasannya yang sangat cantik. Lalu ia bertanya, Siapakah kamu? Bidadari itu menjawab, Saya bidadari yang telah kamu "beli" dari Allah dengan 40.000 kali khatam al-Quran. Tetapi mana hadiah khusus untukku? Ia menjawab: 1000 kali khatam al-Quran.

• Al-Jala berkata: Kemudian orang tua itu memenuhi janjinya.

• Diriwayatkan dari Sahnun, di Mesir ada seorang wanita ahli ibadah punya anak lelaki bernama Said. Bila Said melakukan shalat malam, ibunya selalu bermakmum di belakangnya.

• Bila Said mengantuk atau terlihat agak malas, ibunya memberi semangat dengan mengatakan "Wahai Said, orang yang takut neraka dan melamar bidadari tidak pantas banyak tidur". Kemudian Said pun bangkit semangatnya.

• Diriwayatkan dari Tsabit, ia berkata: Ayahku seorang yang banyak melakukan shalat malam.

• Ia bercerita: Suatu malam saya bermimpi bertemu dengan seorang wanita yang luar biasa cantiknya, lalu saya bertanya, Siapa kamu? Wanita itu menjawab, Bidadari. Saya bertanya, Saya ingin menikahimu? Bidadari itu menjawab, "Lamarlah dari Tuhanku dan bayarlah maharku".
Saya bertanya, Apa maharnya? Bidadari itu menjawab, "Tahajjud panjang". Kemudian bidadari itu melantunkan syair berikut:

Wahai pelamar bidadari dalam pingitannya
Dan ingin membayarnya sesuai harga
Bangkitlah dengan sungguh-sungguh jangan malas
Lawanlah hawa nafsu dengan penuh sabar
Bangunlah bila malam telah menjelang
Puasalah di siang hari
Itulah maharnya.

• Ada pesan yang ingin disampaikan oleh Imam al-Qurthubi melalui kisah-kisah di atas, yaitu: Sesuaikanlah usahamu dengan mimpi-mimpimu, agar tidak menjadi sekedar mimpi kosong.
VID-20210503-WA0006.mp4
21.5 MB
Ramadhan di Masjid Nabawi
Mari teman2 Sedekah di malam sepuluh terakhir Ramadhan ( Malam Lailatul Qadar)...
Mudah dan simpel tinggal klik Ringanin.id
Mari teman 2 kita sedekah pagi, semoga Alloh lancar kan semua urusan kita..
Klik ringanin.id
🙏
Semua kita ingin hidup penuh berkah ....
2 tanda hidup berkah :

1. Ziyadatul Khoir , bertambahnya kebaikan dalam hidup kita. Dgn nikmat sehat kita melakukan banyak kebaikan .

2. Bertambahnya kebahagiaan dalam hidup ini. Harta benda yg kita miliki menjadikan hidup kita menjadi bahagia.

Semoga tanda2 keberkahan ada dalam setiap diri kita ..
Al-Muzzammil 73:6-7

إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ هِىَ أَشَدُّ وَطۡئًا وَأَقۡوَمُ قِيلًا

Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan pada waktu itu) lebih berkesan.

إِنَّ لَكَ فِى ٱلنَّهَارِ سَبۡحًا طَوِيلًا

Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang.
______________________

.....Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. (Al-Muzzammil: 6)

Abu Ishaq telah meriwayatkan dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa nasya-a artinya berdiri menurut bahasa Habsyah, yakni bangun tidur. Umar, Ibnu Abbas, dan Ibnuz Zubair mengatakan bahwa malam hari seluruhnya dinamakan nasyi-ah. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Dikatakan nasya-a apabila orang yang bersangkutan bangun di waktu sebagian malam hari. Menurut riwayat yang bersumber dari Mujahid, disebutkan sesudah waktu isya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Abu Mijlaz, Qatadah, Salim, Abu Hazim, dan Muhammad ibnul Munkadir.

Kesimpulan, nasyi-atul lail artinya bagian-bagian waktu dari malam hari, yang keseluruhannya dinamakan nasyi-ah, juga indentik dengan pengertian saat-saatnya. Makna yang dimaksud ialah bahwa melakukan qiyamul lail atau salat sunat di malam hari lebih khusyuk dan juga melakukan bacaan Al-Qur'an padanya lebih meresap di hati. Karena itu, disebutkan oleh firman-Nya:

adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. (Al-Muzzammil: 6)

Yakni lebih berkesan dalam hati dalam menunaikan bacaan Al-Qur'an di saat itu dan lebih meresap dalam hati dalam memahami makna bacaannya ketimbang dalam salat sunat siang hari. Karena siang hari merupakan waktu beraktivitas bagi manusia, banyak suara gaduh dan kesibukan dalam mencari rezeki penghidupan.

Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Sa'id Al-Jauhari, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, bahwa Anas ibnu Malik r.a. membaca ayat ini dengan bacaan berikut, "wa aswabu qila." Maka berkatalah seseorang Ielaki kepadanya, "Sesungguhnya kami biasa membacanya dengan wa aqwamu qila." Maka Anas menjawabnya, bahwa sesungguhnya aswabu, aqwamu, dan ahya-u serta lafaz-lafaz lainnya yang semakna artinya sama. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). (Al-Muzzammil: 7)

Ibnu Abbas, Ikrimah, dan Ata ibnu Abu Muslim mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah waktu luang dan tidur. Abul Aliyah, Mujahid, Abu Malik, Ad-Dahhak, Al-Hasan, Qatadah, Ar-Rabi' ibnu Anas, dan Sufyan As-Sauri mengatakan bahwa makna yang dimaksud dengan sabhan tawilan ialah waktu luang yang panjang. Qatadah mengatakan, artinya waktu luang dan waktu mencari rezeki dan bepergian.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: mempunyai urusan yang panjang (banyak). (Al-Muzzammil: 7) Maksudnya, sunnah yang banyak.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). (Al-Muzzammil: 7) Yakni bagi keperluan-keperluanmu, maka gunakanlah malam hari untuk agamamu. Ia mengatakan bahwa hal ini dikemukakan di saat salat malam hari difardukan. Kemudian Allah Swt. memberikan anugerah kepada hamba-hamba-Nya, lalu Dia memberikan keringanan dengan menghapuskan sebagian besarnya. Lalu ia membaca firman-Nya: bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya). (Al-Muzzammil: 2) Lalu membaca pula firman-Nya: Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri (salat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam. (Al-Muzzammil: 20) sampai dengan firman-Nya: karena itu bacalah apa yangmudah (bagimu) dari Al-Qur’an. (Al-Muzzammil: 20) Dan firman Allah Swt.: Dan pada sebagian malam hari salat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (Al-Isra: 79)
Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.

Dalil yang menguatkan pendapat Ibnu Zaid ialah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya, ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Sa'id alias Ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Zurarah ibnu Aufa, dari Sa'id ibnu Hisyam, bahwa ia menceraikan istrinya, kemudian berangkat ke Madinah untuk menjual propertinya yang ada di Madinah, lalu menggunakannya untuk keperluan jihad dengan membeli perlengkapan dan senjata untuknya, kemudian ia berjihad melawan orang-orang Romawi hingga akhir hayatnya. Kemudian ia bersua dengan sejumlah orang dari kaumnya yang menceritakan kepadanya bahwa pernah ada enam orang dari kalangan kaumnya mempunyai keinginan untuk melakukan hal tersebut di masa Rasulullah Saw. Maka Rasulullah Saw. bersabda: Bukankah pada diriku terdapat suri teladan yang baik bagi kalian?

Rasulullah Saw. melarang mereka melakukan perceraian itu, maka Sa'id ibnu Hisyam menjadikan mereka (sebagian dari kaumnya yang ia jumpai) sebagai saksi saat ia merujuk kembali kepada istrinya. Setelah itu ia kembali kepada kami dan menceritakan kepada kami bahwa ia pernah datang kepada Ibnu Abbas r.a. untuk menanyakan kepadanya tentang salat witir Rasulullah Saw. Maka Ibnu Abbas berkata, "Maukah aku beritahukan kepadamu tentang penduduk bumi yang paling mengetahui tentang salat witir yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.?" Sa'id ibnu Hisyam menjawab, "Ya." Ibnu Abbas berkata, "Datanglah kepada Aisyah, dan tanyakanlah kepadanya tentang hal itu, lalu kembalilah kepadaku dan ceritakanlah kepadaku tentang jawabannya kepadamu!"

Sa'id ibnu Hisyam melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia menemui Hakim ibnu Aflah dan membawanya pergi ikut menghadap kepada Siti Aisyah. Tetapi Hakim ibnu Aflah berkata, "Aku segan menghadapnya, karena sesungguhnya aku pernah melarangnya memberikan tanggapan terhadap kedua golongan itu dengan suatu tanggapan yang memihak, tetapi ia menolak dan tetap memberikan tanggapan dan reaksinya." Maka aku mendesaknya dengan kata-kata yang mengandung sumpah, akhirnya dia mau berangkat bersamaku. Dan kami masuk menemui Siti Aisyah, lalu ia berkata, "Engkau Hakim?" Ternyata dia mengenalnya dan Hakim menjawab, "Ya." Aisyah bertanya, "Siapakah orang yang bersamamu?" Hakim menjawab.”Sa'id ibnu Hisyam." Aisyah bertanya, "Ibnu Hisyam yang mana?" Hakim menjawab, "Ibnu Amir."

Lalu Siti Aisyah mendoakan rahmat buatnya dan berkata, "Sebaik-baik orang adalah Amir." Aku bertanya, "Wahai Ummul Mu’minin, ceritakanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah Saw." Aisyah r.a. baiik bertanya, "Bukankah kamu telah membaca Al-Qur'an?" Aku menjawab, "Benar." Maka Aisyah berkata bahwa akhlak Rasulullah Saw. ialah Al-Qur'an. Kemudian aku hampir saja bangkit untuk minta pamit darinya, tetapi tiba-tiba terlintas di pikiranku untuk menanyakan kepadanya tentang qiyam (salat malam hari) yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Maka aku bertanya, "Wahai Ummul Mu’minin, ceritakanlah kepadaku tentang qiyam yang dilakukan oleh Rasulullah Saw." Siti Aisyah balik bertanya, bahwa bukankah engkau telah membaca firman-Nya: Hai orang yang berselimut (Muhammad). (Al-Muzzammil: 1)

Aku menjawab, "Benar, aku telah membacanya." Siti Aisyah mengatakan, bahwa sesungguhnya Allah telah memfardukan qiyamul lail melalui permulaan surat ini. Maka Rasulullah Saw. dan para sahabatnya melakukan qiyamul lail selama setahun penuh hingga telapak kaki mereka membengkak karena banyak mengerjakan salat. Dan Allah menahan penutup surat itu di langit selama dua belas bulan, kemudian setelah itu Allah menurunkannya sebagai keringanan buat mereka, sehingga jadilah qiyamul lail sebagai amal yang sunat yang sebelumnya difardukan.

Dan aku hampir saja bangkit meminta pamit, kemudian terlintas lagi dalam pikiranku untuk menanyakan kepadanya tentang salat witir yang dikerjakan oleh Rasulullah Saw. Maka aku bertanya, "Wahai Ummul Mu’minin, ceritakanlah kepadaku tentang salat witir Rasulullah Saw." Siti Aisyah r.a.
menjawab, "Kami (istri-istri beliau Saw.) selalu menyediakan untuk beliau siwak dan air wudunya, dan Allah membangunkannya di waktu yang dikehendaki-Nya dari tengah malam, lalu beliau bersiwak dan mengambil air wudunya. Setelah itu beliau mengerjakan salat delapan rakaat, tanpa melakukan duduk kecuali pada rakaat yang kedelapannya. Dan di rakaat yang kedelapan beliau duduk berzikir kepada Allah dan berdoa kepada-Nya, lalu bangkit lagi tanpa salam, dan langsung mengerjakan rakaat yang kesembilannya. Setelah rakaat yang kesembilan, barulah beliau duduk dan berzikir kepada Allah semata serta berdoa kepada-Nya, lalu melakukan salam dengan suara yang dapat didengar oleh kami. Sesudah itu beliau salat dua rakaat lagi sambil duduk sesudah salamnya itu. Maka itulah sebelas rakaat yang dikerjakan oleh beliau Saw., hai Anakku.

Tetapi setelah usia Rasulullah Saw. bertambah tua dan tubuhnya mulai gemuk, maka beliau mengerjakan witirnya tujuh rakaat, kemudian salat dua rakaat lagi sambil duduk setelah salamnya. Maka itulah sembilan rakaat yang dikerjakannya, hai Anakku.

Dan Rasulullah Saw. apabila mengerjakan suatu salat, beliau suka mengerjakannya dengan tetap. Apabila beliau disibukkan karena tertidur atau sedang sakit hingga salat malam hari tidak dikerjakannya di malam hari, maka beliau mengerjakannya di siang hari sebanyak dua belas rakaat. Dan aku belum pernah melihat Nabi Saw. mengkhatamkan Al-Qur'an seluruhnya dalam semalam hingga pagi harinya, dan tidak pula puasa sebulan penuh selain dalam bulan Ramadan."

Lalu aku kembali kepada Ibnu Abbas dan kuceritakan kepadanya hadis yang diceritakan oleh Aisyah. Maka Ibnu Abbas berkata, "Dia benar, ketahuilah seandainya aku yang masuk menemuinya, tentulah aku akan menemuinya hingga dapat berbicara berhadap-hadapan dengannya."

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara lengkap, dan Imam Muslim di dalam kitab sahihnya telah mengetengahkan hadis ini melalui Qatadah dengan lafaz yang semisal.

Jalur lain dari Aisyah r.a. yang semakna dengan hadis ini.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki', telah mencerita-kan kepada kami Zaid ibnul Habbab, dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Mahran; keduanya meriwayatkan hadis ini, tetapi lafaznya dari Ibnu Waki', dari Musa ibnu Ubaidah, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Tahla, dari Abu Saiamah, dari Aisyah r.a. yang menceritakan bahwa aku pernah mempersiapkan tikar hamparan untuk tempat salat Rasulullah Saw. di malam hari. Orang-orang (para sahabat) mengintipnya dan mereka berkerumun mendengarkannya. Maka Nabi Saw. Keluar seperti orang yang sedang marah, padahal beliau sayang kepada mereka. Beliau merasa khawatir bila qiyamul lail difardukan atas mereka, maka beliau bersabda:

Hai manusia, kerjakanlah dari amal-amal ibadah yang sesuai dengan kamampuan kalian. Karena sesungguhnya Allah tidak pernah merasa bosan dalam memberi pahala, hingga kalian sendirilah yang bosan dalam beramal. Dan sebaik-baik amal ialah yang paling tetap pengamalannya.

Dan turunlah firman Allah Swt.:

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. (Al-Muzzammil: 1-4)

Hingga tersebutlah ada seseorang yang terpaksa mengikat dirinya dengan tambang, lalu bergantung padanya (agar tetap dalam keadaan bangun). Mereka jalani masa itu selama delapan bulan, maka Allah melihat keinginan mereka dalam meraih rida-Nya. Akhirnya Allah mengasihani mereka dan mengembalikan mereka kepada salat fardu saja serta tidak lagi mewajibkan qiyamul lail.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui jalur Musa ibnu Ubaidah Ar-Rabzi, tetapi dia orangnya daif. Hadis ini di dalam kitab sahih tidak menyebutkan adanya penurunan surat Al-Muzzammil. Konteks hadis ini memberikan pengertian bahwa surat ini seakan-akan diturunkan di Madinah, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Sesungguhnya surat ini tiada lain adalah surat Makkiyyah.
Dan teks hadis yang menyebutkan bahwa jarak antara turunnya permulaan surat ini dan akhirnya memakan waktu delapan bulan. Ini berpredikat garib (aneh), karena sesungguhnya menurut apa yang tertera di dalam hadis riwayat Imam Ahmad sebelum ini telah disebutkan jarak tenggangnya adalah satu tahun.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Mis'ar, dari Sammak Al-Hanafi, bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan bahwa pada permulaan turunnya awal surat Al-Muzzammil, para sahabat melakukan qiyamul lail yang lamanya sama dengan qiyamul lail mereka dalam bulan Ramadan. Dan jarak tenggang waktu antara awal surat Al-Muzzammil sampai dengan ayat terakhirnya memakan waktu kurang lebih satu tahun. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Abu Kuraib, dari Abu Usamah dengan sanad yang sama.

As-Sauri dan Muhammad ibnu Bisyr Al-Abdi telah meriwayatkan dari Mis'ar, dari Sammak, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa jarak antara keduanya (permulaan surat dan akhirnya) adalah satu tahun. Ibnu Jarir telah meriwayatkan pula dari Abu Kuraib, dari Waki', dari Israil, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas hal yang semisal.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Mahran, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Qa"is ibnu Wahb, dari Abu Abdur Rahman yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya: Hai orang yang berselimut (Muhammad). (Al-Muzzammil: 1) Mereka mengerjakan qiyamul lail selama satu tahun sehingga telapak kaki dan betis mereka bengkak, hingga turunlah firman Allah Swt.: karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an. (Al-Muzzammil: 20) Maka orang-orang pun (yakni para sahabat) merasa lega dengannya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri dan As-Saddi.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah, te!ah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Umar Al-Qawariri, telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Hisyam, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Qatadah, dari Zurarah ibnu Aufa, dari Sa'id ibnu Hisyam yang mengatakan bahwa lalu ia bertanya kepada Aisyah, "Ceritakanlah kepadaku tentang qiyamul lail Rasulullah Saw." Siti Aisyah balik bertanya, "Bukankah engkau telah membaca firman-Nya: Hai orang yang berselimut (Muhammad). (Al-Muzzammil: 1) Aku menjawab, "Benar, aku telah membacanya." Siti Aisyah r.a. berkata, "Itulah qiyamul lail yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya, hingga telapak kaki mereka bengkak-bengkak (karena lamanya berdiri dalam salat), sedangkan penutup surat ini ditahan di langit selama enam belas bulan, kemudian baru diturunkan sesudahnya."

Ma'mar telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya). (Al-Muzzammil: 2) Mereka melakukan qiyamul lail selama kurang lebih satu atau dua tahun hingga betis dan telapak kaki mereka bengkak-bengkak, lalu Allah menurunkan ayat yang meringankannya sesudah itu di akhir surat.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Ya'qub Al-Qummi, dari Ja'far, dari Sa'id ibnu Jubair yang mengatakan bahwa ketika Allah Swt. menurunkan kepada Nabi-Nya firman berikut: Hai orang yang berselimut (Muhammad). (Al-Muzzammil: 1) Bahwa Nabi Saw. mengerjakan perintah ini selama sepuluh tahun, yaitu qiyamul lail sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Swt. Dan tersebutlah bahwa segolongan dari para sahabat ada yang ikut melakukan qiyamul lail bersamanya. Maka sesudah masa sepuluh tahun Allah menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (salat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. (Al-Muzzammil: 20) sampai dengan firman-Nya: dan dirikanlah salat. (Al-Muzzammil: 20) Maka melalui ayat ini Allah memberikan keringanan kepada mereka setelah sepuluh tahun.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkan hadis ini dari ayahnya. dari Amr ibnu Rafi', dari Ya'qub Al-Qummi dengan sanad yang sama. Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. (Al-Muzzammil: 2-3) Maka hal ini memberatkan kaum mukmin, kemudian Allah memberikan keringanan kepada mereka dan mengasihi mereka. Untuk itu Allah menurunkan firman-Nya sesudah itu: Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang lain, mereka berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah. (Al-Muzzammil: 20) sampai dengan firman-Nya: maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an. (Al-Muzzammil: 20) Maka melalui ayat ini Allah Swt. memberikan keluasan bagi mereka —segala puji bagi Allah— dan Dia tidak mempersulit mereka.
Sedekah harian bagi sahabat semua bs ditunaikan dpt ditunaikan dgn transaksi non tunai (digital), klik ringanin.id
🙏
https://ringanin.id/

Ayo Sedekah Ramadhan setiap hari mulai *Rp.5000*, ringan bukan...., Tinggal klik di hp mu...pilih donasi..dgn metode transaksi yg mudah sesuai keinginanmu... sedekah mjd ringan...
Mari kita perbanyak pahala di bulan penuh berkah ini...
Bantu share linknya utk saudara kita yg lain..🙏