Insight Pintarsaham.id Cabang Pintar Nyangkut
24.1K subscribers
17.2K photos
118 videos
776 files
25K links
Link Daftar Membership Pintarsaham https://bit.ly/referralskydrugs

No. WA +62831-1918-1386
Disclaimer Pintarsaham.id: http://bit.ly/3bLj4Oc
Download Telegram
Indonesia, Negara Yang Haus LPG

Lanjutan tulisan sebelumnya tentang LNG dan LPG.
http://bit.ly/3Q4KUXN

Pada beberapa waktu lalu Menteri ESDM, Arifin Tasrif mengungkapkan realisasi subsidi energi, termasuk untuk listrik, bahan bakar minyak (BBM), dan LPG pada 2021 kemarin tembus Rp131,5 triliun.

Realisasi itu naik dibanding 2020 yang hanya Rp110,5 triliun. Kenaikan subsidi dilakukan guna menjaga daya beli masyarakat selama proses pemulihan ekonomi dari tekanan covid-19.

Realisasi terbesar subsidi energi terjadi pada pos subsidi BBM dan LPG. Realisasi subsidi itu mencapai Rp83,7 triliun. Sedangkan subsidi listrik senilai Rp47,8 triliun.

Nilai subsidi Liquid Petroleum Gas (LPG) disubsidi setiap tahun terus meningkat. Subsidi LPG di dalam APBN tahun 2019 mencapai Rp 69 triliun lebih. Jumlah itu setara dengan volume 7 miliar Km LPG. Jumlah subsidi LPt menduduki peringkat energi terbesar berada di atas subsidi BBM Solar, di atas subsidi minyak tanah dan di atas subsidi listrik.

Mengapa subsidi LPG bisa sangat besar? Itu karena LPG berkaitan erat dengan hajat hidup orang banyak. Urusan masak memasak. Padahal kalau pakai LNG, bisa lebih murah dan bisa bebas subsidi. Sayangnya infrastruktur pipa yang menyalurkan LNG masih terbatas dan butuh capex besar untuk membangunnya. Butuh biaya berapa untuk bangun pipa dari satu pulau ke pulau lainnya lalu dari satu terminal LNG ke rumah - rumah penduduk.

LPG mendapat prioritas dari pemerintah, dengan alasan untuk pengmetatan impor minyak tanah. Program konversi minyak tanah ke LPG dilakukan secara massive. Hal ini tampak dari subsidi LPG yang meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 2012.

Padahal pengalihan konsumsi minyak tanah ke LPG sama sama menggantikan energi impor yang satu ke energi impor yang lain. Akibatnya, Indonesia menjadi salah satu Negara Negara dengan konsumsi LPG terbesar di dunia. Indonesia berada pada urutan ke-13 sebagai negara dengan konsumsi LPG terbesar.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut bahwa subsidi Liquefied Petroleum Gas (LPG) hingga akhir Maret 2022 telah melonjak dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sri Mulyani mengungkapkan subsidi LPG tabung 3 kilo gram (kg) selama Januari-Maret 2022 telah mencapai Rp 21,6 triliun, naik dua kali lipat dari Rp 10,2 triliun pada periode yang sama 2021 lalu.

Padahal Indonesia adalah Negara memiliki sumber energy gas lain yakni Liquid Natural Gas (LNG). Indonesia merupakan salah satu Negara pemain LNG yang sangat diperhitungkan dalam hal pemasok energy global.
Namun sumber energi tampaknya disia-siakan alias tidak dikembangkan sebagaimana mestinya.

LNG seolah jalan ditempat ditengah meningkatnya kebutuhan energi nasional. Apakah ini disengaja? Apakah ini bagian dari permainan para mafia impor minyak?

Indonesia adalah salah satu Negara eksportir LNG terbesar di dunia. Indonesia berada pada urutan teratas sebagai Negara pengekspor LNG bersama Qatar, Australia, Malaysia, Nigeria dan Rusia.

Indonesia, jika rencana gas Blok Masela benar-benar terealisasi maka Indonesia akan menjadi eksportir terbesar di dunia.

Kita juga bisa lihat negara mana yang untung besar dari krisis energi yang diakibatkan perang Ukraina-Rusia.

Disclaimer http://bit.ly/3bLj4Oc

Emiten terkait LNG: $PGAS $MEDC $GTSI

https://stockbit.com/post/9281786
👍5🔥1
FSRU Jawa 1

FSRU (floating storage regasifiaction unit) Jawa Satu dengan kapasitas 170.000 meter kubik akan ditempatkan di lepas pantai utara Jawa Barat. FSRU dimiliki oleh PT Jawa Satu Regas (JSR)—perusahaan patungan PT Pertamina Power Indonesia, Marubeni Corporation, Sojitz Corporation, PT Humpuss Intermoda Transportasi, dan Mitsui OSK. Lines.

Perusahaan patungan tersebut bermaksud menggunakan FSRU untuk memasok pembangkit listrik berbahan bakar gas di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa 1 melibatkan pembangkit listrik turbin gas siklus gabungan 1,76 gigawatt dan fasilitas gas terkait—mooring, pipa gas lepas pantai / darat, dan fasilitas penerima FSRU di darat.

FSRU akan memiliki kapasitas regasifikasi gas sebesar 300 juta kaki kubik per hari. Floater akan ditempatkan 14 kilometer lepas pantai dan dihubungkan ke pembangkit listrik melalui pipa lepas pantai/darat sepanjang sekitar 21 kilometer.

Pembangkit listrik di Cilamaya, sekitar 100 kilometer di timur Jakarta, dijadwalkan beroperasi pada Desember 2021.

Tenaga listrik yang dihasilkan oleh fasilitas tersebut akan dijual kepada PT PLN berdasarkan kontrak selama 25 tahun.

Disclaimer http://bit.ly/3bLj4Oc

$GTSI $PGAS

https://stockbit.com/post/9282493
👍3
FSRU Nusantara Regas dan FSRU Amurang Gorontalo

FSRU Nusantara Regas ini merupakan yang pertama di Asia Tenggara. Sebagai Pioneer pengoperasian FSRU, Nusantara Regas merupakan anak usaha Pertamina bareng PGAS.

Customer terbesar Nusantara Regas saat ini adalah PLN. FSRU Nusantara Regas sejak dioperasikan tahun 2012 mampu memasok gas sebesar maksimum 500 juta kaki kubik per hari (MMCFD) untuk 3 (tiga) pembangkit listrik yaitu PJB Muara Karang, IP Tanjung Priuk dan PJB Muara Tawar.

Pasokan Gas FSRU didapatkan dari Kilang LNG Bontang dan Tangguh LNG dengan suhu minus 160 C yang dibawa dengan kapal LNG untuk kemudian disimpan dalam FSRU dan diregasifikasi dengan media Propane sampai menjadi gas.

Pada tahun 2017, Nusantara Regas memperkirakan penyaluran LNG hingga 28 kargo atau setara 225 BBTUD untuk memenuhi kebutuhan Pembangkit Listrik PLN di Teluk Jakarta dan industri di area Jawa bagian Barat. Jumlah ini 4% di atas target tahun 2017.

Pada 2019, melalui FSRU-Amurang bekerja sama dengan PT PLNGG, GTSI berhasil melaksanakan STS Transfer antara LMVPP Karadenis dan Triputra. Namun setelah Karadenis habis kontrak, maka untuk melanjutkan pembangkit listrik ini, dipindahkanlah ke Gorontalo. Pada kargo pertama ini Triputra membawa muatan dari Bontang lalu discharge ke FSRU dan melakukan regasifikasi yang kemudian disalurkan ke Power Plant PLTG Maleo yang menghasilkan listrik sebesar 100 MW.

GTSI mengakuisisi PT Anoa Sulawesi Regas (ASR), anak usahanya PT Sulawesi Regas Satu (SRGS) merupakan pemegang proyek FSRU Sulawesi Utara. Saat ini, SRGS mempergunakan FSRU temporary yang bertinggi delapan meter tersebut. Sedangkan kapal Triputra, kapal dengan kapasitas angkut 22.500 m3 adalah kapal yang dimiliki oleh GTSI dan manajemen operasionalnya dikelola oleh PT Humolco LNG Indonesia, anak usaha perseroan.

FSRU pada dasarnya adalah sebuah kapal yang dilengkapi oleh peralatan yang mampu merubah LNG (liquid natural gas/gas alam cair) dari bentuk cair ke bentuk gas (regasifikasi) untuk kemudian disalurkan ke konsumen melalui jaringan pipa gas. FSRU menerima pasokan LNG dari LNG Carrier yang diangkut dari Terminal Penjual LNG menuju Terminal Pembeli LNG. Dalam proyek Gorontalo ini, Triputra adalah LNG Carrier yang mengantarkan LNG dari Bontang Terminal dan membongkar LNG pada kapal FSRU.

Proses sandar antara kapal LNG degan FSRU ini disebut sebagai operasi ship to ship yang menjadi area pengembangan bisnis GTSI. FSRU melakukan proses regasifikasi unit untuk mengubah LNG cair dengan suhu -160oC menjadi gas LNG dengan suhu lebih dari +10oC. Kemudian FSRU mengalirkan gas LNG tersebut melalui pipa gas bawah laut ke pembangkit listrik, jaringan pipa gas transmisi atau menuju end user.

Disclaimer http://bit.ly/3bLj4Oc

$GTSI $PGAS

https://stockbit.com/post/9282654
👍7🥰1
FSRU Lampung, Proyek Dengan Berbagai Dilema

Floating Storage Receiving Terminal (FSRU) Lampung disewa $PGAS dari Hoege Indonesia. Dia itu perusahaan Norwegia tapi kapalnya udah berbendera Indonesia. Masa pakainya sampai 25 tahun.

FSRU ini berukuran panjang 294 meter, lebar 46 meter dan bobot 81.900 ton. Ini bisa menampung LNG sebanyak 170.000 meter kubik. Kemampuan regasifikasi maksimal 240 juta kaki kubik perhari (MMSCFD)

PGN FSRU Lampung juga sudah memiliki dasilitas untuk break-bulking, yaitu fasilitas untuk memuat LNG dari FSRU ke kapal LNG kecil guna mensuplai LNG ke wilayah lain di Indonesia.

FSRU Lampung ini merupakan bagian dari terminal penerima LNG. PGN FSRU Lampung mulai dibangun di Hyundai Heavy Industries (Ulsan, Korea) pada Oktober 2012 dan selesai pada 7 April 2014.

Dipilihnya Lampung sebagai lokasi pembangunan terminal dikarenakan posisi Lampung sangat strategis sebagai penghubung energi antara Jawa dan Sumatera.

Untuk dapat menyediakan fasilitas ini, PGN menggelontorkan investasi hingga sebesar US$250 juta untuk sewa kapal sekaligus sejumlah investasi lain termasuk biaya operasional fasilitas ini selama 25 tahun.

Sayangnya FSRU Lampung ini tidak digunakan secara maksimal. Akibatnya proyek ini dianggap merugikan negara. Padahal ini proyek yang sebenarnya lumayan visioner.

Kejaksaan Agung sempat mencekal Direktur Utama PGAS waktu itu, Hendi Prio Santoso, terkait dugaan korupsi pembangunan Float Storage Regassification Unit (FSRU) Lampung.

Proyek FSRU di Lampung ini sebetulnya proyek kedua yang dilakukan setelah PGAS sukses mengembangkan FSRU di Jawa Barat. Terminal yang dibangun oleh Hyundai Heavy Industri Korea ini berlokasi di Labuhan Maringgai, Lampung dengan kapasitas penyimpanan LNG sebesar 170 ribu m3 dan batas pengiriman mencapai 240 juta kaki kubik gas per hari (MMFSCD). Awalnya, FSRU ini direncanakan dibangun di Belawan, Medan, namun kemudian dipindahkan ke Lampung.

Terminal ini telah dioperasikan sejak November 2014 oleh anak usaha PGAS, PT PGN LNG (PLI) yang didirikan pada Juni 2012. Sumber gas alam untuk FSRU ini berasal dari kilang di Indonesia Timur yaitu Blok Tangguh. Sementara fasilitas FSRU disewa dari perusahaan patungan antara PT Rekayasa Industri (Rekin) dengan Hoegh – perusahaan konstruksi asal Norwegia. Kontrak sewa ini berlangsung selama 20 tahun dengan opsi perpanjangan untuk dua periode masing-masing 5 tahun.

PGAS mulai menjual 49,68 MMSFCD gas hasil regasifikasi dari FSRU Lampung ke PLN yang dialirkan ke PLTGU Muara Tawar Bekasi bulan November 2014. Namun per Januari 2015, kontrak jual beli gas itu tidak dilanjutkan. PLN yang kala itu berkomitmen menyerap gas dari FSRU Lampung untuk kebutuhan pembangkit listriknya menginginkan renegosiasi pembelian harga gas yang dianggap kemahalan. Rendahnya harga minyak dunia membuat harga gas yang telah disepakati di awal menjadi lebih mahal dibandingkan bahan bakar minyak dan batu bara sehingga PLN meminta renegosiasi.

Akibatnya selama tujuh bulan FSRU Lampung 'mangkrak' padahal biaya sewa tetap dikenakan. Penghentian penyerapan gas oleh PLN ini memicu ambrolnya volume penyaluran gas dari FSRU Lampung menjadi 3.943.799 MMBTU sepanjang tahun 2015.

Buntutnya, LSM Energy Watch Indonesia melaporkan adanya indikasi kerugian negara di PGAS kepada Kejaksaan Agung tahun lalu. LSM ini menganggap PGAS tidak menerapkan manajemen risiko sehingga kerugian diperkirakan mencapai US$250 juta. Biaya untuk membangun menara sandar kapal US$100 juta dan pembangunan jaringan pipa lepas pantai US$150 juta terkait proyek ini dianggap terlalu mahal. Ditambah lagi, terdapat kerugian operasional --termasuk biaya sewa FSRU-- per bulannya yang mencapai US$7 juta.

Kasus ini lumayan lama prosesnya. Kabar terakhir, Anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) yakni PT PGN LNG Indonesia (PLI) mengajukan arbitrase ke Singapore International Arbitration Centre terhadap PT Hoegh LNG Lampung (HLL).
👍4
Arbitrase oleh PLI ini berkaitan dengan lease, operation and maintenance agreement dalam pengelolaan Floating Storage & Regasification Unit (FSRU) Lampung. Dalam pemberitaan media, PGN ingin menyudahi kontrak penyewaan FSRU dari Hoegh LNG Partners.

Alasannya, PGN mengklaim terdapat ketidakadilan dalam penyewaan kapal FSRU Lampung. Akan tetapi, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Senin 30 Agustus 2021, PGN tidak merinci perkara tersebut.

Mengutip laporan keuangan Hoegh LNG per 30 Juni 2021, perusahaan yang melantai di bursa saham Amerika Serikat ini juga menyinggung arbitrase yang diajukan PLI. Hoegh LNG menyebut, penyewa (PLI) berdasarkan perjanjian sewa dan pemeliharaan PGN FSRU Lampung (LOM) menyampaikan pemberitahuan arbitrase (NOA) pada 2 Agustus 2021 untuk menyatakan LOM batal demi hukum, dan/atau untuk mengakhiri LOM, dan/ atau mencari ganti rugi.

Tapi nampaknya kasus ini sudah tutup buku karena Dirut PGAS yang lama, Pak Hendi, sudah beberapa kali pindah jabatan. Mulai dari dirut PGAS, dirut $SMGR dan yang terakhir jadi Dirut MIND ID.

Dia juga sempat jadi Komisaris $INCO tapi belum 6 bulan sudah keluar. Salah satu komisaris MIND ID menyebutkan bahwa pengangkatan Hendi Prio Santoso sebagai Wakil Presiden Komisaris PT Vale Indonesia Tbk (PTVI) merupakan usulan dirinya sendiri.

Bahkan, pengangkatan Hendi Prio Santoso sebagai Wakil Presiden Komisaris PT Vale Indonesia Tbk (PTVI) sebelumnya sempat ditentang dewan komisaris.
http://bit.ly/3QkazMx

Dewan Komisaris aklamasi keberatan dan sudah ada surat resmi dari Dewan Komisaris untuk menolak, tidak menyetujui. Tetapi, rapat di PT Vale Indonesia malah menerima usulan Pak Hendi sebagai Wakil Presiden Komisaris PT Vale.
Sumber: http://bit.ly/3QkazMx

Pada April 2016 lalu, Hendi sempat dicegah ke luar negeri selama 6 bulan atas permintaan Kejaksaan Agung. Pencegahan atas Hendi dilakukan terkait kasus dugaan korupsi pengadaan Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) di Lampung oleh PT PGN. Meski demikian, Hendi tak pernah ditetapkan sebagai tersangka. Jadi wajar saja kalau Pak Hendi bisa tetap menjadi direktur BUMN. Karena memang bukan tersangka.

Mangkraknya FSRU Lampung lebih disebabkan oleh PLN yang tidak sanggup bayar gas. Bukan karena PGAS yang lalai.

Kabar terakhir, PGAS mengaktifkan lagi FSRU Lampung.
http://bit.ly/3oWWt7t

Barengan dengan rencana pembangunan FSRU baru milik $GTSI

Disclaimer http://bit.ly/3bLj4Oc

https://stockbit.com/post/9282739
👍2
Serial Tentang FSRU dan Investasi Sektor Gas

1. Bisnis FSRU
http://bit.ly/3zxU1tb

2. Terminal LNG vs LPG
https://bit.ly/3Q4KUXN

3. Ketergantungan Indonesia pada LPG
http://bit.ly/3BKJQE8

4. FSRU Jawa 1, FSRU Patungan Konglomerat
http://bit.ly/3Sxumtl

5. Nusantara Regas, FSRU Pertama di Indonesia.
http://bit.ly/3A3hxQk

6. FSRU Lampung, FSRU Penuh Masalah
http://bit.ly/3BKJZra

Disclaimer http://bit.ly/3bLj4Oc

Emiten FSRU di Indonesia $GTSI $PGAS $HITS
👍7
Insight Pintarsaham.id Cabang Pintar Nyangkut pinned «Serial Tentang FSRU dan Investasi Sektor Gas 1. Bisnis FSRU http://bit.ly/3zxU1tb 2. Terminal LNG vs LPG https://bit.ly/3Q4KUXN 3. Ketergantungan Indonesia pada LPG http://bit.ly/3BKJQE8 4. FSRU Jawa 1, FSRU Patungan Konglomerat http://bit.ly/3Sxumtl…»
Insight Pintarsaham.id Cabang Pintar Nyangkut
Serial Tentang FSRU dan Investasi Sektor Gas 1. Bisnis FSRU http://bit.ly/3zxU1tb 2. Terminal LNG vs LPG https://bit.ly/3Q4KUXN 3. Ketergantungan Indonesia pada LPG http://bit.ly/3BKJQE8 4. FSRU Jawa 1, FSRU Patungan Konglomerat http://bit.ly/3Sxumtl…
Jenis-jenis pembangkit listrik PLN Berdasarkan Data Desember 2021:

1. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ada 5.258 unit

2. Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) ada 193 unit

3. Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) ada 162 unit

4. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) ada 150 unit

5. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ada 126 unit

6. Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) ada 79 unit

7. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) ada 72 unit

8. Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) ada 66 unit

9. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) ada 18 unit

10. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) ada 12 unit

11. Pembangkit Listrik Tenaga Surya PLTS) ada 5 unit

12. Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) ada 2 unit

PLTD masih menguasai 85% pembangkit.

Kapasitas terpasang pembangkit listrik PLN mencapai 44,46 giga watt hours (GWH) pada 2021. Sementara daya mampu pembangkit sebesar 38,31 GWH.

Disclaimer http://bit.ly/3bLj4Oc

$GTSI $PGAS $POWR $KEEN $ADRO

https://stockbit.com/post/9283012
👍3
Insight Pintarsaham.id Cabang Pintar Nyangkut
Jenis-jenis pembangkit listrik PLN Berdasarkan Data Desember 2021: 1. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ada 5.258 unit 2. Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) ada 193 unit 3. Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) ada 162 unit 4. Pembangkit…
Sumbangan Pembangkit Listrik

Berhubung banyak banget yang protes tentang postingan saya sebelumnya mengenai jumlah pembangkit listrik di Indonesia
http://bit.ly/3Jz6BwF

Maka di postingan kali ini saya menambahkan saja proporsi tiap pembangkit.

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) masih menjadi kontributor pembangkitan terbesar dengan 36,98 GW atau 50% dari total pembangkitan listrik.

Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) berkontribusi 12,41 GW atau 17% dari total pembangkitan. Lalu, Pembangkit Listrik Tenaga Gas atau Mesin Gas (PLTG/MG) menghasilkan 8,54 GW (11%).

Selanjutnya, Pembangkit Listrik Tenaga Air, Minihidro, atau Mikrohidro (PLTA/M/MH) menghasilkan 6,41 GW (9%) dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menghasilkan 4,99 GW (7%).

Terakhir, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hanya menghasilkan 0,15 GW dan pembangkit listrik energi baru terbarukan lainnya menghasilkan 2,07 GW (3%).

Bappenas menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) mencapai 70 persen pada 2050 mendatang. Angkanya lebih tinggi dari target yang tertuang dalam rencana umum energi nasional (RUEN), yakni 31 persen.
http://bit.ly/3BLCIHD

Target RUEN beda dengan target Bappenas. Dalam KEN dan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), transisi energi menuju era EBT diwujudkan melalui peningkatan persentase bauran EBT dari 11% pada tahun 2021 menjadi 23% pada tahun 2025 dan 31% pada tahun 2050.

Kok bisa Bappenas beda target dengan RUEN?

Rencana Umum Energi Nasional yang disingkat RUEN merupakan kebijakan Pemerintah Pusat mengenai rencana pengelolaan energi tingkat nasional yang menjadi penjabaran dan rencana pelaksanaan Kebijakan Energi Nasional yang bersifat lintas sektor untuk mencapai sasaran Kebijakan Energi Nasional.

Demikian pengertian yang tercantum pasal 1 Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 22 Tahun 2017.

Perpres Nomor 22 Tahun 2017 tentang RUEN ini ditandatangani Presiden Jokowi pada tanggal 2 Maret 2017. RUEN yang ditetapkan tersebut adalah RUEN yang telah disepakati dalam Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional (DEN) ke 3 yang dilaksanakan pada tanggal 22 Juni 2016.

Target Bappenas ternyata lebih agresif dari Dewan Energi Nasional.

Disclaimer http://bit.ly/3bLj4Oc

$GTSI $PGAS $ADRO $POWR $KEEN

https://stockbit.com/post/9283546
👍7
Homologasi $WSBP

Homologasi itu bukan delegasi homo tapi merupakan pengesahan rencana perdamaian yang telah disetujui kreditur dalam kasus kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang (“PKPU”) oleh Pengadilan Niaga.

WSBP sudah mencapai homologasi dengan para kreditor.
PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) berhasil memperoleh persetujuan dari hampir 90% kreditur dalam proses pemungutan suara atau voting terkait penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Capaian ini melebihi dari asumsi awal perseroan yang sebesar 70%.

Selain kreditur separatis, kreditur konkuren dalam hal ini vendor juga sepakat untuk homologasi.

Tapi masih ada pihak-pihak yang tidak setuju yakni Bank DKI. Pihak Bank DKI mengajukan keberatan dan menuntut via kasasi.

Menurut saya suspend WSBP baru akan dibuka setelah tuntutan dari bank DKI selesai plus LK hasil audit dirilis. Jadi nyangkuter WSBP, bersabarlah. Pantengi terus situs Mahkamah Agung. Kalau MA memenangkan Bank DKI maka game over, WSBP. Kalau WSBP menang, game on.

Disclaimer http://bit.ly/3bLj4Oc

https://stockbit.com/post/9284120
👍6
Apakah Persamaan $BBKP dan $BACA

Sama - sama suka menggunakan kalimat "tunggu tanggal mainnya."

Disclaimer: http://bit.ly/3bLj4Oc
https://stockbit.com/post/9284403
😁2
Persamaan $BBKP dan $BACA Part 2

Di postingan sebelumnya kita sudah melihat apa persamaan direksi BBKP dan BACA.
http://bit.ly/3SGL5ui

DI postingan kali ini mari kita lihat apa lagi persamaan kedua bank ini.

BBKP dan BACA dulu pernah menjadi saham bank favorite warga Stockbit. Alih - alih beli saham $BBCA $BBRI $BBNI, banyak warga stockbit memilih all in BACA dan BBKP di harga >400. Tidak ada salahnya sih all in BACA BBKP di harga >400. All in di harga >1000 pun tidak masalah yang penting dilakukan secara sadar tanpa paksaan dan pengaruh dari siapapun. Kalau trader, tinggal cutloss aja begitu minus 2-5% lalu move on cari saham lain yang hype. Kalau investor long-term, tinggal hold aja selama 20-50 tahun, paling juga nanti bisa cuan 1-5% kalau hold nya selama itu. Yang masalah itu kalau masih galau, antara mau jadi trader atau investor very long term. Entry pakai aliran trader buy on breakout resistance 800, Nyangkutnya pakai aliran hold forever cuan 1% cabut. Ini lah yang merusak time-line Stockbit. Nyangkut dan cutloss, bukannya introspeksi malah cari kambing hitam. Padahal kambing pirang lebih enak daging nya.

Lanjut ke persamaan BBKP dan BACA.

2. Dalam setahun terakhir keduanya sudah anjlok lebih dari 50%
Saham yang sudah anjlok lebih dari 50% dalam jangka waktu 1 tahun biasanya para investornya yang haka pucuk sudah pasrah dan nrimo. Istilah kerennya sudah masuk tahap acceptance. Kalau anjloknya baru 10-25%, itu para investornya rata - rata masih tahap denial dan anger. Istilah kerennya, fase senggol bacok. Bukti lain dari fase acceptance para investor adalah saham tersebut tidak lagi menjadi trending topic di streamline. Sudah jarang saya lihat investor bahas saham BACA dan BBKP. Tertutupi oleh saham - saham IPO.

3. Kedua saham ini harganya sudah di bawah 200 rupiah.
Saham yang harganya di bawah 200 rupiah lebih mudah di pompom pakai ilusi harga murah padahal secara valuasi mungkin masih mahal. Investor awam pada umumnya lebih mudah dibujuk untuk beli saham harga <200 meskipun PBV sudah di atas 3. Tinggal pamer Portofolio lalu bilang "beli saham ini harganya masih di bawah 200, wow, murah banget."

4. BBKP dan BACA masih punya potensi digoreng pakai isu tambah modal inti dan isu akusisi-merger. Apalagi zaman now makin susah dapat izin pendirian bank baru. Kalau mau mendirikan bank baru di Indonesia maka modal awal minimum adalah 10 Triliun. Peraturan OJK (POJK) Nomor 12 /POJK.03/2021 tentang Bank Umum.
Dalam aturan tersebut dinyatakan bagi pendirian Bank Berbadan Hukum Indonesia (BHI) menetapkan syarat modal minimal Rp 10 triliun. Nilai ini naik tinggi dibandingkan aturan sebelumnya yakni Rp 3 triliun. Jadi daripada dirikan bank baru, lebih baik akuisisi bank kecil lama yang modal intinya di bawah 3 Triliun. Oleh karena itu menurut saya BBKP dan BACA meskipun saat ini terpuruk, masih punya kesempatan rebound di masa depan.
Apalagi saat ini juga masih ada moratorium Fintech dan moratorium Manajer Investasi sesuai dengan POJK 77 dan Surat Keputusan Anggota Dewan Komisioner OJK No. KEP-72/D.04/2021. Ini akibat terlalu banyak pinjol pencuri data pribadi nasabah dan akibat terlalu banyak tukang goreng saham berkedok manajer investasi sehingga OJK melakukan moratorium. Efeknya adalah old player perbankan dan pinjol diuntungkan karena tidak ada saingan baru dalam waktu dekat.
Bank lama lebih memilih konsolidasi dengan sesama para pemain lama ketimbang mulai dari nol.

Untuk cerita tentang kisah goreng - goreng saham bisa cek artikel lama tentang Narada dan WanaArtha di sini
http://bit.ly/3vJyhtk
http://bit.ly/3ddMFDH

Disclaimer: http://bit.ly/3bLj4Oc
https://stockbit.com/post/9284698
👍5🥰1