ARIN TASK
2 subscribers
30 photos
4 videos
2 files
20 links
Download Telegram
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
/mic on; red light studio glowing; Arin and Ardaric sitting side by side, leaning closer to their respective podcast mics with warm, inviting smiles/

πŸŽ™: /adjust headset volume; chuckling softly/

Halo, halo, teman-teman semua! Selamat datang di episode baru podcast kesayangan kita.

πŸͺ: /nodding enthusiastically while shuffling a few cue cards on the desk/

Yes! Buat kalian yang malam ini lagi santai rebahan, pasang earphone kalian baik-baik, karena kita bakal bawa kalian terbang menembus batas atmosfer bumi.

πŸŽ™: /looking straight into the camera lens/

Oh ya, kita perkenalan dulu, saya Ardaric (πŸŽ™) dan rekan host saya yang spesial menemani malam ini, Arin (πŸͺ), tanpa panjang lebar lagi, kita langsung masuk ke topik pertama yang paling sering bikin bulu kuduk merinding!
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Cornfield Chase
Hans Zimmer
πŸŽ™: /leaning back slightly, raising a hand to paint a picture in the air/

Coba deh kalian tutup mata sebentar... bayangkan kalian sedang berada di hamparan kegelapan antariksa yang mahasuasana. Di hadapan kalian, ada sebuah bola hitam pekat, legam, dikelilingi oleh piringan cahaya oranye terang yang berputar pelan. 
​
πŸŽ™: /smiling knowingly/

Dan kalau kita merujuk ke berbagai film fiksi ilmiah populer, benda misterius ini selalu digambarkan sebagai monster kosmik paling rakus... penyedot debu raksasa yang siap menelan apa saja tanpa ampun di sekitarnya.

πŸͺ: /tapping the desk lightly/

Seram banget, ya? Rasanya kayak kalau kita salah melayang sedikit aja, langsung hilang tersedot ke dalam kegelapan abadi. Tapi, tunggu dulu... apa iya lubang hitam segarang itu di dunia nyata? Atau itu cuma bumbu drama ala Hollywood?

πŸͺ: /adjusting mic closer; grinning/

Dari berita burung yang beredar, ternyata ada beberapa mitos di balik lubang hitam ini..
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
πŸͺ: /taking a brief sip of water from a tumbler; setting it down gently/

Kita mulai dari mitos nomor satu: Lubang hitam menyedot semua benda di sekitarnya.

πŸŽ™: /leaning forward, elbows resting on the studio table/

Bayangkan sebuah badai topan atau pusaran air di wastafel yang menarik apa pun yang mendekat. Inilah gambaran yang nempel di kepala kebanyakan orang.

πŸŽ™: /shaking head with a slight smile/

Padahal, itu mitos yang salah kaprah besar! Faktanya, lubang hitam bukanlah monster kosmik yang mengisap semua benda di alam semesta.

πŸͺ: /gesturing with open hands/

Betul banget! Lubang hitam itu nggak punya kekuatan "menyedot" secara aktif seperti penyedot debu rumah tangga. Hukum gravitasi yang bekerja di sana itu sama persis karakternya dengan gravitasi Matahari, Bumi, atau bulan yang kita kenal. Bedanya cuma satu: massanya dipadatkan dalam ruang yang super, super kecil.
πŸͺ: /smiling playfully/

Jadi, analogi gampangnya begini... kalau misalnya besok pagi Matahari kita tiba-tiba digantikan oleh lubang hitam dengan massa yang sama persis, apa bumi bakal langsung tersedot masuk?

πŸͺ: /snapping fingers; adjusting posture in the chair/

Jawabannya nggak sama sekali! Bumi dan planet-planet lain bakal tetap mengorbit dengan jalur dan kecepatan yang stabil seperti sekarang. Cuma kita bakal gelap gulita karena nggak ada pasokan cahaya dan panas dari matahari.

πŸŽ™: /brief pause; nodding thoughtfully/

Nah, kalau begitu, pertanyaannya, kapan dong benda bisa jatuh ke dalam lubang hitam?
​
πŸŽ™: /pointing a finger forward/

Jawabannya sederhana. Jika suatu benda kehilangan orbit stabil dan melintasi batas tertentu. Selama sebuah objek punya kecepatan dan lintasan orbit yang aman, dia bisa mengelilingi lubang hitam selama jutaan sampai miliaran tahun tanpa jatuh sedikit pun!

πŸŽ™: /leaning back, relaxing/

Jadi, konsep "disedot dari jauh" itu cuma mitos belaka. Gravitasi lubang hitam baru jadi ancaman kalau kamu nekat berada di jarak yang kelewat dekat.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
πŸͺ: /mic rustle slightly as Arin shifts position; looking intrigued/

Oke, kita geser ke mitos kedua yang nggak kalah dramatis: Semua materi yang mendekati lubang hitam pasti langsung dimakan seketika.

πŸͺ: /laughing lightly/

Padahal kenyataannya jauh lebih keren dan artistik dari pada sekadar "dimakan mentah-mentah". Sebagian besar gas, debu, atau materi kosmik yang mendekat itu tidak langsung jatuh ke dalam lubang hitam.
​
πŸͺ: /gesturing with hands shaping a disk/

Mereka justru berputar perlahan dan membentuk apa yang disebut sebagai cakram akresi atau accretion disk!
πŸŽ™: /nodding affirmatively/

Buat yang belum tahu, cakram akresi ini adalah piringan raksasa yang tersusun dari gas dan debu panas yang mengelilingi lubang hitam karena ditarik gravitasinya. Kata accretion sendiri artinya bertambah besar lewat pengumpulan materi. Dan kalau kalian lihat foto asli yang dipublikasikan NASA, bentuknya mirip banget kayak cincin atau donat bercahaya yang menyala terang.
​
πŸŽ™: /raising eyebrows excitedly/

Di dalam piringan donat kosmik itu, partikel gas saling bertabrakan hebat, kehilangan energi, lalu perlahan-lahan bergerak spiral mendekati pusat. Tapi bukan berarti semuanya masuk, lho!

πŸͺ: /shaking head/

Oh, jelas tidak! Sebagian dari materi di sekitar cakram akresi itu justru terlontar keluar sebagai jet atau semburan partikel berenergi tinggi yang sangat terang dan melesat hampir secepat kecepatan cahaya. Jet ini bahkan bisa memanjang dan menjangkau ribuan hingga jutaan tahun cahaya ke luar angkasa.

​πŸͺ: /short pause; taking a deep breath to transition; leaning forward again/

Dan di garis paling akhir sebelum masuk ke titik pusat, ada batas imajiner yang namanya event horizon atau cakrawala peristiwa. Di sinilah titik di mana tidak ada lagi benda, bahkan cahaya sekalipun, yang bisa lolos dari cengkeraman gravitasinya. Tapi ingat, di luar batas itu, objek masih bebas mengorbit dengan aman tanpa bahaya.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
β€‹πŸŽ™: /turning a page of notes on the studio desk/

Ini nih, mitos pamungkas yang paling sering bikin orang parno gara-gara film fiksi ilmiah yaitu lubang hitam diprediksi bakal terus makan, makin besar, dan akhirnya menelan seluruh alam semesta.

πŸŽ™: /laughing; smiling wryly/

Wah, kalau ini beneran terjadi, mungkin kita nggak bakal sempat ngobrol di podcast hari ini ya! Tapi secara fisika, itu mustahil banget terjadi.

πŸŽ™: /raising a hand to emphasize the point/

Kenapa? Karena jangkauan gravitasi lubang hitam itu sangat terbatas. Bintang-bintang dan planet yang letaknya jauh dari lubang hitam akan tetap aman dan mengorbit secara stabil pada jalurnya masing-masing.

πŸͺ: /nodding/

Contoh paling dekat dan nyata ada di galaksi kita sendiri, Bima Sakti! Di pusat galaksi kita, ada lubang hitam supermasif namanya Sagittarius A* yang massanya jutaan kali lipat massa Matahari.
πŸͺ: /pointing to the side/

Tapi bumi kita tercinta ini berada di jarak aman sekitar 26.000 tahun cahaya dari sana, dan kita sama sekali nggak ditarik masuk ke dalamnya. Kita tetap berputar dengan damai di sini!

πŸŽ™: /smiling broadly/

Ditambah lagi, alam semesta kita sifatnya dinamis. Artinya, alam semesta kita akan terus-menerus mengembang (expanding universe) seiring waktu. Jadi, secara matematis dan fisika, mustahil ada satu lubang hitam yang bisa mengejar dan menelan seluruh ruang di alam semesta yang luasnya terus bertambah ini.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
/Ardaric and Arin adjusting their sitting posture; stretching slightly; and taking a sip of water before leaning back into the mics/

πŸͺ: /chuckling softly while looking at Ardaric/

Wah, gila sih. Bahasan soal lubang hitam tadi bener-bener ngebuka mata banget kalau sains itu jauh lebih liar dari film fiksi. Tapi, ngomongin soal antariksa dan peradaban di luar sana... rasanya kurang lengkap kalau kita cuma bahas lubang hitam doang, kan?
​
πŸŽ™: /nodding enthusiastically while tapping a stack of notes on the desk/

Oh, tentu saja! Kalau tadi kita bicara soal lubang hitam dari kacamata astrofisika murni, sekarang kita mau geser jalur sedikit nih. Kita bakal masuk ke wilayah yang jauh lebih kontroversial, penuh misteri, dan bikin bulu kuduk merinding.
Experience
Ludovico Einaudi
​πŸͺ: /raising an eyebrow with a playful grin/

Masuk ke ranah sejarah kuno, arkeologi, dan... cue spooky music makhluk luar angkasa. Kita bakal ngebahas salah satu teori paling populer tapi juga paling didebatkan orang: Ancient Astronaut Theory!

πŸŽ™: /leaning forward; locking eyes with the mic/

Benar sekali! Selama puluhan tahun, muncul gagasan bahwa ribuan tahun yang lalu, bumi kita tercinta ini ternyata pernah dikunjungi oleh makhluk luar angkasa. Bukan cuma datang sebagai turis atau pengamat iseng, tapi mereka dituduh ikut campur tangan dalam membangun peradaban manusia purba!

πŸͺ: /adjusting headset/

Wah, kalau gitu.. di topik kedua ini kita bakal bedah tuntas. Apakah monumen-monumen megah masa lalu itu beneran dibangun manusia pakai keringat sendiri, atau jangan-jangan dibantu "kakak-kakak" dari bintang lain?
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
πŸͺ: /leaning forward; elbows resting on the studio table/

Oke, mari kita mulai babak kedua kita malam ini. Kalau kita ngomongin alien, biasanya pikiran kita langsung melayang ke teleskop canggih, piring terbang, atau sinyal radio misterius dari galaksi lain. Tapi, para pendukung Ancient Astronaut Theory punya sudut pandang yang beda total.
​
πŸŽ™: /nodding/

Betul! Menurut mereka, buktinya justru ada di bumi kita sendiri, di warisan sejarah ribuan tahun yang lalu. Dasarnya sederhana: mereka menganggap ada beberapa pencapaian arsitektur kuno yang rasanya "terlalu canggih" untuk dicapai oleh manusia pada zaman zamannya.

πŸŽ™: /gesturing with open hands/

Dan contoh paling klise tapi selalu bikin takjub tentu saja Piramida Giza di Mesir. Sampai hari ini, bangunan itu tetap jadi salah satu keajaiban terbesar. Bayangin aja, setiap balok batunya punya berat berton-ton, bahkan ada yang sampai puluhan ton!
πŸͺ: /raising eyebrows/

Bangunan raksasa itu berdiri kokoh lebih dari 4.500 tahun lamanya, dan titik orientasinya hampir sempurna menghadap empat arah mata angin. Nah, bagi para penganut teori Ancient Astronaut, pencapaian kayak gini dianggap mustahil dilakukan tanpa bantuan teknologi luar biasa, yang mungkin diturunkan oleh makhluk dari planet lain.

πŸŽ™: /tapping the desk lightly/

Nggak cuma itu! Mereka juga sering nunjuk Stonehenge di Inggris yang tersusun dari batu-batu raksasa, atau Garis Nazca di Peru yang membentuk gambar hewan raksasa di padang pasir dan baru kelihatan jelas bentuknya kalau dilihat dari udara.

πŸͺ: /looking at Ardaric/

Pertanyaannya: gimana caranya masyarakat ribuan tahun lalu bikin gambar sebesar itu tanpa punya helikopter atau drone buat melihatnya dari langit?

πŸŽ™: /smiling while looking back at Arin/

Dari pertanyaan-pertanyaan itulah spekulasi liar mulai meledak di internet. Mulai dari relief kuil yang mirip pesawat tempur, sampai lukisan abad pertengahan yang ada objek bundar mirip UFO di langit.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
πŸŽ™: /taking a brief sip of water; setting the tumbler down gently/

​Tapi, tunggu dulu, guys. Sebelum kita buru-buru percaya kalau piramida dibangun sama alien, kita harus dengar juga penjelasan dari para ahli sejarah dan arkeologi. Apakah klaim-klaim itu benar secara ilmiah?
​
πŸͺ: /shaking head with a slight smile/

Jawabannya... belum tentu? Contoh relief "helikopter" yang terkenal banget di Kuil Abydos, Mesir. Sekilas emang mirip banget sama helikopter modern atau kapal selam. Tapi para ahli Mesir Kuno punya penjelasan logis kan..

πŸŽ™: /gesturing with hands/

Betul! Itu adalah fenomena yang namanya palimpsest. Jadi, itu adalah hasil dari dua lapisan ukiran yang dibuat pada masa firaun yang berbeda. Ukiran aslinya sempat ditutup plester dan dipahat ulang. Setelah ribuan tahun terkikis angin dan waktu, kedua ukiran itu saling bertumpuk dan kebetulan membentuk pola yang mirip helikopter.