Indonesia Sudah Syariah kok. Jadi...
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengatakan, Indonesia memang bukan negara yang berdasarkan kepada syariah Islam, namun praktik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia sudah menerapkan prinsip-prinsip syariah. Diantaranya adalah semakin menjamurnya lembaga-lembaga yang berlabel syariah mulai dari perbankan hingga perhotelan.
“Negara ini bukan negara syariah, tapi perbankan, asuransi, pasar modal tumbuh subur. Isinya sudah syariah,”
Ia mengkritik mereka yang berteriak-teriak untuk menegakkan khilafah agar syariah bisa diterapkan namun kenyataannya tidak menghasilkan apa-apa. Baginya, lebih baik melakukan pendekatan dan komunikasi yang bijak agar aspek-aspek syariah bisa diterapkan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Keuangan syariah sudah menjadi sistem nasional,” tegasnya.
Rais ‘Aam PBNU itu menerangkan, Komite Nasional Keuangan Syariah diketuai langsung oleh Presiden Joko Widodo. Ini menjadi satu-satunya komite yang diketuai langsung oleh seorang presiden.
Ia menyebutkan, Presiden Joko Widodo memiliki iktikad untuk menjadikan Jakarta sebagai pusat keuangan syariah dunia. Menurut Kiai Ma’ruf, keuangan syariah yang paling besar ada pada bentuk sukuk.
“Kata Presiden, bukan hanya sukuk syariah, tetapi perbankan, asuransi, pasar modal syariah juga akan diperbesar,” jelas Kiai Ma’ruf.
Pesantren, pusat ekonomi umat
Kiai Ma’ruf memiliki gagasan untuk menjadikan pesantren sebagai pusat ekonomi dan pemberdayaan umat. Menurut dia, saat ini sudah dibangun lembaga keuangan mikro syariah di beberapa pesantren.
“Presiden menginstruksikan OJK untuk membentuk itu,” katanya.
Di sini, santri diperkenalkan dan dilatih mengenai hal-hal ekonomi syariah. Sehingga mereka mengetahui seluk-beluk keuangan syariah dan bisa mempraktikannya.
Kiai Ma’ruf mengemukakan, selama ini pembangunan yang ada bersifat dari atas ke bawah. Ini menyebabkan orang yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin semakin miskin.
“Arus lama pembangunan dari atas. Diharapkan netes ke bawah. Ternyata tidak netes-netes pembangunannya,” ucapnya.
Maka dari itu, ia berupaya untuk melakukan pembangunan dari bawah dan menjadikan pesantren sebagai arus baru ekonomi umat. Apalagi pemerintah juga lagi gencar-gencarnya melakukan redistribusi tanah ke masyarakat dan pondok pesantren.
“Saya berharap pesantren sebagai pusat pemberdayaa umat,” tutupnya.
NU Online
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengatakan, Indonesia memang bukan negara yang berdasarkan kepada syariah Islam, namun praktik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia sudah menerapkan prinsip-prinsip syariah. Diantaranya adalah semakin menjamurnya lembaga-lembaga yang berlabel syariah mulai dari perbankan hingga perhotelan.
“Negara ini bukan negara syariah, tapi perbankan, asuransi, pasar modal tumbuh subur. Isinya sudah syariah,”
Ia mengkritik mereka yang berteriak-teriak untuk menegakkan khilafah agar syariah bisa diterapkan namun kenyataannya tidak menghasilkan apa-apa. Baginya, lebih baik melakukan pendekatan dan komunikasi yang bijak agar aspek-aspek syariah bisa diterapkan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Keuangan syariah sudah menjadi sistem nasional,” tegasnya.
Rais ‘Aam PBNU itu menerangkan, Komite Nasional Keuangan Syariah diketuai langsung oleh Presiden Joko Widodo. Ini menjadi satu-satunya komite yang diketuai langsung oleh seorang presiden.
Ia menyebutkan, Presiden Joko Widodo memiliki iktikad untuk menjadikan Jakarta sebagai pusat keuangan syariah dunia. Menurut Kiai Ma’ruf, keuangan syariah yang paling besar ada pada bentuk sukuk.
“Kata Presiden, bukan hanya sukuk syariah, tetapi perbankan, asuransi, pasar modal syariah juga akan diperbesar,” jelas Kiai Ma’ruf.
Pesantren, pusat ekonomi umat
Kiai Ma’ruf memiliki gagasan untuk menjadikan pesantren sebagai pusat ekonomi dan pemberdayaan umat. Menurut dia, saat ini sudah dibangun lembaga keuangan mikro syariah di beberapa pesantren.
“Presiden menginstruksikan OJK untuk membentuk itu,” katanya.
Di sini, santri diperkenalkan dan dilatih mengenai hal-hal ekonomi syariah. Sehingga mereka mengetahui seluk-beluk keuangan syariah dan bisa mempraktikannya.
Kiai Ma’ruf mengemukakan, selama ini pembangunan yang ada bersifat dari atas ke bawah. Ini menyebabkan orang yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin semakin miskin.
“Arus lama pembangunan dari atas. Diharapkan netes ke bawah. Ternyata tidak netes-netes pembangunannya,” ucapnya.
Maka dari itu, ia berupaya untuk melakukan pembangunan dari bawah dan menjadikan pesantren sebagai arus baru ekonomi umat. Apalagi pemerintah juga lagi gencar-gencarnya melakukan redistribusi tanah ke masyarakat dan pondok pesantren.
“Saya berharap pesantren sebagai pusat pemberdayaa umat,” tutupnya.
NU Online
Telegram
NU ONLINE
Dakwah, Ukhuwah, Lillah
Powered by:
@KampusTelegram
Our Channel:
@Audio_alQuran
@KitabKuning1
@bahsilNU
@BukuSekolahElektronik
@CakNunChannel
@Sticker_ID
Youtube:
www.youtube.com/c/NUbanget
Group:
@nu_banget
Powered by:
@KampusTelegram
Our Channel:
@Audio_alQuran
@KitabKuning1
@bahsilNU
@BukuSekolahElektronik
@CakNunChannel
@Sticker_ID
Youtube:
www.youtube.com/c/NUbanget
Group:
@nu_banget
Islam itu Ramah, Bukan Marah
Dunia akhir-akhir ini dihantui teror dengan adanya pengeboman atas nama agama tertentu. Gerakan terorisme dengan dilandasi doktrin agama, adalah fenomena dunia hari ini. Orang-orang mulai menuduh satu agama tertentu menjadi penyebabnya.
Doktrin-doktrin pada agama itu dianggap sebagai agama yang kasar, tidak ramah, barbar dan banyak anggapan negatif terhadap salah satu agama itu. Semua orang mengarahkan penyebabnya adalah agama Islam sebagai agama yang menyebarkan paham teror ini.
Di antara umat Islam sendiri masih ada yang beranggapan bahwa memang orang yang di luar berkeyakinan Islam adalah kafir dan ditambah dengan tafsiran memahami jihad sebagai salah satu doktrin dari agama Islam yang juga salah diartikan dan dipahami. Sesungguhnya, Islam itu adalah jalan menuju keselamatan dan jihad diartikan sebagai membebaskan, bersungguh-sungguh.
Jika memang sejarah perjalanan Islam dianggap sebagai sejarah perang, maka benar adanya banyak perang diawal-awal penyebaran agama Islam. Akan tetapi bukan berarti bahwa Islam menyukai jalan perang untuk menyebarkan agama Islam. Pada zaman nabi Muhammad SAW perang adalah cara untuk mempertahankan diri, menjaga diri dari serangan dari luar yang berbahaya.
Artinya perang adalah cara terakhir yang dapat dilakukan demi bertahan hidup dan bertahan atas serang orang yang memusuhi pengikutnya, pada kondisi ini jihad berperang boleh dilakukan sebab keadaan yang memaksa. Bukan berarti jihad hanyalah soal perang, bunuh-bunuhan.
Manusia diciptakan dengan bersuku-suku, ras, warna kulit, jenis kelamin yang berbeda-beda untuk saling kenal-mengenal, ini adalah salah satu firman tuhan yang disampaikan dala Al-Qur’an. Artinya Islam melalui firman tuhan juga menegaskan perbedaan bukanlah sebuah halangan atau sebuah hal yang dapat memecah-belah. Akan tetapi sebaliknya persatuan adalah hal yang wajib untuk kita lakukan.
Nabi Muhammad sendiri menggambarkan Islam sangat ramah sehingga menjadi rahmat bagi manusia dan alam semesta. Contoh itu dapat kita lihat dari hijrah nabi ke Madinah. Kota yang beragam suku dan agama didalamnya dapat dikelola oleh nabi Muhammad melalui Piagam Madinah, tidak ada kata satupun yang menuliskan Islam di dalam Piagam Madinah.
Kehidupan yang rukun, saling menghormati antar satu suku dengan suku lain, antar keyaninan satu dengan keyakinan lain. Piagam Madinah adalah konstitusi pertama dalam Islam untuk membentuk sebuah komunikas masyarakat yang rukun dan damai.
Di Indonesia sendiri, Islam dalam sejarah penyebaran serta perkembangannya pun memiliki hal yang berbeda. Kita kenal diawal penyebaran Islam yang dilakukan oleh Wali Sanga atau sembilan wali. Melalui instrumen seperti joglo untuk mendakwahkan Islam melalui pengajian-pengajian, wayang yang menjadi tradisi masyarakat Indonesia sebelum Islam masuk itu pun digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk memperkenalkan Islam. Bahkan di Kudus Sunan Kudus pun melarang pengikutnya untuk menyembelih Sapi demi menghormati agama Hindu-Budha.
Dalam Islam lebih mementingkan maslahah dari pada kemudharatan ini termaktib dalam Ushul Fiqhyaitu Al Maslahah Al Ammahialah jalan dari perjuangan Islam itu sendiri.Fas tabiqu al khairat, kita perlu berlomba dalam kebaikan merupakan prinsip dalam Islam yang wajib bagi kita semua untuk dijalankan.
Mendakwahkan Islam Ramah di Era Teknologi
Perkembangan zaman mulai berubah, umat manusia berada pada zaman dimana semua menjadi mudah dan tak terbatas oleh ruang dan waktu (baca Yassraf; Dunia yang Dilipat). Teknologi menjadi penanda bagi perkembangan zaman serta kemudahan yang ditawarkan. Dulu manusia dalam melakukan pekerjaan hanya bertumpu pada alam, seperti makanan, kendaraan, alat komunikasi dan lainnya.
-Hilful Fudhul-Dunia akhir-akhir ini dihantui teror dengan adanya pengeboman atas nama agama tertentu. Gerakan terorisme dengan dilandasi doktrin agama, adalah fenomena dunia hari ini. Orang-orang mulai menuduh satu agama tertentu menjadi penyebabnya.
Doktrin-doktrin pada agama itu dianggap sebagai agama yang kasar, tidak ramah, barbar dan banyak anggapan negatif terhadap salah satu agama itu. Semua orang mengarahkan penyebabnya adalah agama Islam sebagai agama yang menyebarkan paham teror ini.
Di antara umat Islam sendiri masih ada yang beranggapan bahwa memang orang yang di luar berkeyakinan Islam adalah kafir dan ditambah dengan tafsiran memahami jihad sebagai salah satu doktrin dari agama Islam yang juga salah diartikan dan dipahami. Sesungguhnya, Islam itu adalah jalan menuju keselamatan dan jihad diartikan sebagai membebaskan, bersungguh-sungguh.
Jika memang sejarah perjalanan Islam dianggap sebagai sejarah perang, maka benar adanya banyak perang diawal-awal penyebaran agama Islam. Akan tetapi bukan berarti bahwa Islam menyukai jalan perang untuk menyebarkan agama Islam. Pada zaman nabi Muhammad SAW perang adalah cara untuk mempertahankan diri, menjaga diri dari serangan dari luar yang berbahaya.
Artinya perang adalah cara terakhir yang dapat dilakukan demi bertahan hidup dan bertahan atas serang orang yang memusuhi pengikutnya, pada kondisi ini jihad berperang boleh dilakukan sebab keadaan yang memaksa. Bukan berarti jihad hanyalah soal perang, bunuh-bunuhan.
Manusia diciptakan dengan bersuku-suku, ras, warna kulit, jenis kelamin yang berbeda-beda untuk saling kenal-mengenal, ini adalah salah satu firman tuhan yang disampaikan dala Al-Qur’an. Artinya Islam melalui firman tuhan juga menegaskan perbedaan bukanlah sebuah halangan atau sebuah hal yang dapat memecah-belah. Akan tetapi sebaliknya persatuan adalah hal yang wajib untuk kita lakukan.
Nabi Muhammad sendiri menggambarkan Islam sangat ramah sehingga menjadi rahmat bagi manusia dan alam semesta. Contoh itu dapat kita lihat dari hijrah nabi ke Madinah. Kota yang beragam suku dan agama didalamnya dapat dikelola oleh nabi Muhammad melalui Piagam Madinah, tidak ada kata satupun yang menuliskan Islam di dalam Piagam Madinah.
Kehidupan yang rukun, saling menghormati antar satu suku dengan suku lain, antar keyaninan satu dengan keyakinan lain. Piagam Madinah adalah konstitusi pertama dalam Islam untuk membentuk sebuah komunikas masyarakat yang rukun dan damai.
Di Indonesia sendiri, Islam dalam sejarah penyebaran serta perkembangannya pun memiliki hal yang berbeda. Kita kenal diawal penyebaran Islam yang dilakukan oleh Wali Sanga atau sembilan wali. Melalui instrumen seperti joglo untuk mendakwahkan Islam melalui pengajian-pengajian, wayang yang menjadi tradisi masyarakat Indonesia sebelum Islam masuk itu pun digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk memperkenalkan Islam. Bahkan di Kudus Sunan Kudus pun melarang pengikutnya untuk menyembelih Sapi demi menghormati agama Hindu-Budha.
Dalam Islam lebih mementingkan maslahah dari pada kemudharatan ini termaktib dalam Ushul Fiqhyaitu Al Maslahah Al Ammahialah jalan dari perjuangan Islam itu sendiri.Fas tabiqu al khairat, kita perlu berlomba dalam kebaikan merupakan prinsip dalam Islam yang wajib bagi kita semua untuk dijalankan.
Mendakwahkan Islam Ramah di Era Teknologi
Perkembangan zaman mulai berubah, umat manusia berada pada zaman dimana semua menjadi mudah dan tak terbatas oleh ruang dan waktu (baca Yassraf; Dunia yang Dilipat). Teknologi menjadi penanda bagi perkembangan zaman serta kemudahan yang ditawarkan. Dulu manusia dalam melakukan pekerjaan hanya bertumpu pada alam, seperti makanan, kendaraan, alat komunikasi dan lainnya.
Berkaitan dengan Islam, mendakwahkan Islam hanya menggunakan media konvensional seperti turun langsung kemasyarakat bertatap muka dan mendakwahkan Islam. Hari ini dengan adanya teknologi dan media sosial, Islam dapat disebar melalui media-media sosial seperti portal online yang memberikan pemahaman Islam melalui tulisan bahkan video tanpa bertatap muka secara langsung.
Kondisi bangsa Indonesia, mulai mendapat kendala di era teknologi dimana dalam memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan hoaks, fitnah, kebohongan sehingga dapat memecah belah persatuan umat manusia. Melalui penyebaran hoaks ini, masyarakat awam menjadi termakan oleh isu fitnah yang beredar.
Kondisi ini benar-benar dimanfaatkan untuk menyebarkan pemahaman yang keliru. Bahkan penyebaran Islam radikal, Islam yang marah-marah cukup marak menyebar diseluruh media sosial.
Umat Islam yang memahami pesan Islam yang sesungguhnya perlu merebut media sosial untuk digunakan mendakwakan Islam yang berwajah ramah. Menunjukkan Islam yang menjadi rahmat dengan menyebarkan paham Islam ramah ini akan menangkal penyebaran Islam yang tidak toleran, paham yang memecah belah persatuan.
Jihad selanjutnya adalah berkontribusi kepada umat manusia dan negara, selain menyebarkan Islam yang ramah dalam konteks keislaman, maka perlu masuk ke lini keindonesiaan dengan menjaga persatuan bangsa dan negara, jihad menuntaskan kemiskinan, membukan usaha-usaha, berpolitik dan tentu melalui landasan keislaman yang kuat.
Hal yang lebih penting ialah pada prinsipnya lini kehidupan berbangsa berprinsipkan Islam tanpa memformalisasikan Islam, sehingga menjadi kaku dan terkesan tidak ramah. Ulama terdahulu telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia ideologi dan hukumnya telah sesuai dengan syari’at Islam, seperti pada perdebatan dasar negara yaitu Pancasila, KH. Hasyim Asy ‘arie menyatakan bahwa Pancasila sah sebagai dasar negara karena tidak bertentangan dengan syari’at Islam itu sendiri.
Penulis adalah Wakil Ketua Lakpesdam PCNU Kota Yogyakarta
[NU Online](https://t.me/nu_online)
Kondisi bangsa Indonesia, mulai mendapat kendala di era teknologi dimana dalam memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan hoaks, fitnah, kebohongan sehingga dapat memecah belah persatuan umat manusia. Melalui penyebaran hoaks ini, masyarakat awam menjadi termakan oleh isu fitnah yang beredar.
Kondisi ini benar-benar dimanfaatkan untuk menyebarkan pemahaman yang keliru. Bahkan penyebaran Islam radikal, Islam yang marah-marah cukup marak menyebar diseluruh media sosial.
Umat Islam yang memahami pesan Islam yang sesungguhnya perlu merebut media sosial untuk digunakan mendakwakan Islam yang berwajah ramah. Menunjukkan Islam yang menjadi rahmat dengan menyebarkan paham Islam ramah ini akan menangkal penyebaran Islam yang tidak toleran, paham yang memecah belah persatuan.
Jihad selanjutnya adalah berkontribusi kepada umat manusia dan negara, selain menyebarkan Islam yang ramah dalam konteks keislaman, maka perlu masuk ke lini keindonesiaan dengan menjaga persatuan bangsa dan negara, jihad menuntaskan kemiskinan, membukan usaha-usaha, berpolitik dan tentu melalui landasan keislaman yang kuat.
Hal yang lebih penting ialah pada prinsipnya lini kehidupan berbangsa berprinsipkan Islam tanpa memformalisasikan Islam, sehingga menjadi kaku dan terkesan tidak ramah. Ulama terdahulu telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia ideologi dan hukumnya telah sesuai dengan syari’at Islam, seperti pada perdebatan dasar negara yaitu Pancasila, KH. Hasyim Asy ‘arie menyatakan bahwa Pancasila sah sebagai dasar negara karena tidak bertentangan dengan syari’at Islam itu sendiri.
Penulis adalah Wakil Ketua Lakpesdam PCNU Kota Yogyakarta
[NU Online](https://t.me/nu_online)
Telegram
NU ONLINE
Dakwah, Ukhuwah, Lillah
Powered by:
@KampusTelegram
Our Channel:
@Audio_alQuran
@KitabKuning1
@bahsilNU
@BukuSekolahElektronik
@CakNunChannel
@Sticker_ID
Youtube:
www.youtube.com/c/NUbanget
Group:
@nu_banget
Powered by:
@KampusTelegram
Our Channel:
@Audio_alQuran
@KitabKuning1
@bahsilNU
@BukuSekolahElektronik
@CakNunChannel
@Sticker_ID
Youtube:
www.youtube.com/c/NUbanget
Group:
@nu_banget
Inkonsistensi HTI karena sistem khilafah memang tidak baku
Belakangan ini ramai pernyataan Prof Mahfud MD bahwa sistem khilafah itu tidak baku. Saya membenarkan pernyataan beliau. Saya jelaskan lebih lanjut bukti konkrit ketidakbakuan sistem khilafah dengan menunjukkan inkonsistensi HTI dalam UUD Khilafah yang mereka persiapkan.
Keberadaan UUD Khilafah bukan saja menunjukkan HTI bertujuan mengganti UUD 1945 dan Pancasila, tapi juga saya tunjukkan bahwa HTI memaksa pemahaman dan aplikasi dalil ijmali (umum) sesuai maunya mereka. Ini mereka lakukan karena tidak terdapat dalil tafshili (terperinci) tentang sistem khilafah.
Saya tunjukkan juga bahwa tidak benar klaim HTI yang tidak mau memakai sejarah dan konteks kekinian sebagai sumber UUD Khilafah. Justru mereka membangun sistem khilafah dalam UUD mereka lewat fakta sejarah, bahkan ehem...lewat adopsi beberapa elemen demokrasi —yang sesungguhnya mereka anggap sistem thogut dan kufur itu.
Monggo disimak kultwit saya ini 🙏
https://t.co/f4bXEscyOw?amp=1
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Belakangan ini ramai pernyataan Prof Mahfud MD bahwa sistem khilafah itu tidak baku. Saya membenarkan pernyataan beliau. Saya jelaskan lebih lanjut bukti konkrit ketidakbakuan sistem khilafah dengan menunjukkan inkonsistensi HTI dalam UUD Khilafah yang mereka persiapkan.
Keberadaan UUD Khilafah bukan saja menunjukkan HTI bertujuan mengganti UUD 1945 dan Pancasila, tapi juga saya tunjukkan bahwa HTI memaksa pemahaman dan aplikasi dalil ijmali (umum) sesuai maunya mereka. Ini mereka lakukan karena tidak terdapat dalil tafshili (terperinci) tentang sistem khilafah.
Saya tunjukkan juga bahwa tidak benar klaim HTI yang tidak mau memakai sejarah dan konteks kekinian sebagai sumber UUD Khilafah. Justru mereka membangun sistem khilafah dalam UUD mereka lewat fakta sejarah, bahkan ehem...lewat adopsi beberapa elemen demokrasi —yang sesungguhnya mereka anggap sistem thogut dan kufur itu.
Monggo disimak kultwit saya ini 🙏
https://t.co/f4bXEscyOw?amp=1
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Chirpstory
"Menyingkap Bukti-bukti Konkrit Inkonsistensi HTI Soal Sistem Khilafah Mereka" by @na_dirs
Kultwit Prof. Nadirsyah Hosen soal inkonsistensi HTI soal khilafah.
Abu Janda, Felix Siauw, dan Bendera Rasulullah
“AH, Felix keren semalam di ILC. Mati kutu si Abu Janda.” Kata Tesa.
“Iya di… kenapa tong si Abu Janda itu coddo-coddo tentang hadis sementara dia tidak tahu. Marahmi Pak Mahfud.” Yusran menimpali.
“Kira-kira, bagaimana pendapat Kyai Saleh di?”
“Ah, beliau pasti tidak nonton. Tidak nasukaki lihat orang berkelahi.” Kata Ais.
“Kau, Ais. Kira-kira kalau Kyai Saleh ditanya apa jawabannya?” Tanya Faris.
Ais memperbaiki posisi duduknya seperti cara duduk Kyai Saleh. Dia batuk sedikit, lalu berbicara, “Anakku semua! Ada dua cara melihat fenomena ini. Suudzhon dan husnudzhon. Abu Janda itu sedang berada dalam pencarian. Dia penting bagi bangsa ini untuk menjaga NKRI. Sedangkan Felix dibutuhkan oleh anak-anak muda Islam.” Yang lain tertawa terbahak-bahak. Mimik Ais sangat lucu meniru Kyai Saleh. Mereka terus menerus bercanda, hingga satu suara terdengar.
“Serunya tawwa!” Ais terkesiap kaget. Itu suara Kyai Saleh. Dia tersenyum malu ketika melihat Kyai Saleh sudah berada di belakangnya. Sedangkan yang lain tertawa cekikian melihat wajah Ais yang memerah.
“Ais, kyai. Dia tiru-tiruki.” Kata Tesa menggoda. Ais salah tingkah.
“Tidak apa-apaji. Ais ini santriku yang paling kritis,” kata Kyai Saleh.
Wajah Ais kembali normal dengan sedikit senyum senang.“Dibawa ke rumah sakit itu, kyai, kalau kritis ki.” Kyai Saleh tersenyum mendengar olokan Yusran.
“Apa yang kalian obrolkan, seru sekali?”
“Itu, Kyai… tentang acara ILC kemarin.”
“Nonton jaki kyai?” Ais bertanya.
“Hmmmm.. Ais. Gara-gara kau mi itu, saya harus menonton dan buka internet. Nanti kau bilangi lagi saya tidak up date,” kata Kyai Saleh. Ais tersenyum kecil.
“Jadi, bagaimana menurut ta kyai? Benarkah, bendera yang diklaim oleh Felix sebagai bendera Rasulullah.”
“Kalau mengikuti hadis yang dibaca oleh si Felix, ya benar. Hadis itu bilang panji rasul itu warnanya hitam dan putih, ada tulisan syahadatnya.”
“Apa kubilang, piti kana-kanaiji memang itu Abu Janda,” kata Tesa.
“Belum tentu, Abu Janda salah.”
“Loh, bukannya Kyai bilang Felix benar.”
“Saya ndak bilang Felix benar, Abu Janda salah. Saya bilang, jika mengikuti hadis Nabi berarti benar. Tidak mungkin hadits itu keliru.
“Mulai lagi kyai berbelit-belit. Kalau haditsnya benar, berarti Felix benar dan si Abu Janda salah.”
“Begini. Hadis tentang liwa dan rayah Rasulullah itu banyak. Ada yang shahih, ada yang hasan, ada yang dhaif.”
“Tabe, kyai. Apa itu rayah dan liwa?” tanya Tesa
“Rayah itu bendera besar. Liwa bendera kecil, seperti panji-panji.”
“Lanjutki, Kyai.”
“Hadis tentang rayah berwarna hitam dan liwa berwarna putih itu bisa ditemukan dalam HR. Bukhari. Ini hadis sahih. Tetapi hadis ini tidak menyebutkan ada tulisan di dalamnya, hanya warna. Sedangkan, hadis yang menyebutkan ada lafaz la ilaha illaAllah, Muhammad rasulullah itu ditemukan dalam Hadis Thabrani. Ada juga riwayat dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah. Hadis-hadis ini levelnya hasan, hasan li gairihi, dan dhaif karena ada perawi yang dianggap tidak terpercaya atau gairu tsiqah. Ada pula hadis Abu Daud menyebutkan warna bendera Rasulullah itu kuning.”
“Memang kalau dhaif ndak boleh dipake kyai?” Yusran bertanya dengan mimik serius.
“Boleh. Hadis dhaif boleh digunakan sebagai bagian dari syiar Islam. Tetapi untuk menjadikannya sebagai hujjah, para ulama enggan menggunakan. Dikhawatirkan itu bukan ucapan Rasulullah. Yang mau menggunakan bendera hitam itu sebagai bagian dari syiar Islam, boleh saja.”
“Nah, si Abu Janda salah mentong karena dia menuduh bendera HTI, padahal itu bendera umat Islam,” kata Faris.
“Begini. Abu Janda benar ketika menyebut bendera hitam yang diperlihatkan di foto adalah bendera HTI. Dia mengingatkan kepada negara, bahwa HTI yang sudah dibubarkan itu masih ada. Bendera itu sebagai indikatornya. Itu pesannya.”
“Loh, tadi kyai bilang sesuai hadis. Saya jadi bingung?” kata Faris dengan kening mengkerut.
“Sederhana. Sejak HTI muncul, merekalah yang selalu menggunakan bendera itu sebagai simbol gerakan. Muhammadiyah tidak, NU tidak, SI tidak, FPI tidak, Al-Irsyad tidak, DDI tidak,
Pepi Al-Bayqunie“AH, Felix keren semalam di ILC. Mati kutu si Abu Janda.” Kata Tesa.
“Iya di… kenapa tong si Abu Janda itu coddo-coddo tentang hadis sementara dia tidak tahu. Marahmi Pak Mahfud.” Yusran menimpali.
“Kira-kira, bagaimana pendapat Kyai Saleh di?”
“Ah, beliau pasti tidak nonton. Tidak nasukaki lihat orang berkelahi.” Kata Ais.
“Kau, Ais. Kira-kira kalau Kyai Saleh ditanya apa jawabannya?” Tanya Faris.
Ais memperbaiki posisi duduknya seperti cara duduk Kyai Saleh. Dia batuk sedikit, lalu berbicara, “Anakku semua! Ada dua cara melihat fenomena ini. Suudzhon dan husnudzhon. Abu Janda itu sedang berada dalam pencarian. Dia penting bagi bangsa ini untuk menjaga NKRI. Sedangkan Felix dibutuhkan oleh anak-anak muda Islam.” Yang lain tertawa terbahak-bahak. Mimik Ais sangat lucu meniru Kyai Saleh. Mereka terus menerus bercanda, hingga satu suara terdengar.
“Serunya tawwa!” Ais terkesiap kaget. Itu suara Kyai Saleh. Dia tersenyum malu ketika melihat Kyai Saleh sudah berada di belakangnya. Sedangkan yang lain tertawa cekikian melihat wajah Ais yang memerah.
“Ais, kyai. Dia tiru-tiruki.” Kata Tesa menggoda. Ais salah tingkah.
“Tidak apa-apaji. Ais ini santriku yang paling kritis,” kata Kyai Saleh.
Wajah Ais kembali normal dengan sedikit senyum senang.“Dibawa ke rumah sakit itu, kyai, kalau kritis ki.” Kyai Saleh tersenyum mendengar olokan Yusran.
“Apa yang kalian obrolkan, seru sekali?”
“Itu, Kyai… tentang acara ILC kemarin.”
“Nonton jaki kyai?” Ais bertanya.
“Hmmmm.. Ais. Gara-gara kau mi itu, saya harus menonton dan buka internet. Nanti kau bilangi lagi saya tidak up date,” kata Kyai Saleh. Ais tersenyum kecil.
“Jadi, bagaimana menurut ta kyai? Benarkah, bendera yang diklaim oleh Felix sebagai bendera Rasulullah.”
“Kalau mengikuti hadis yang dibaca oleh si Felix, ya benar. Hadis itu bilang panji rasul itu warnanya hitam dan putih, ada tulisan syahadatnya.”
“Apa kubilang, piti kana-kanaiji memang itu Abu Janda,” kata Tesa.
“Belum tentu, Abu Janda salah.”
“Loh, bukannya Kyai bilang Felix benar.”
“Saya ndak bilang Felix benar, Abu Janda salah. Saya bilang, jika mengikuti hadis Nabi berarti benar. Tidak mungkin hadits itu keliru.
“Mulai lagi kyai berbelit-belit. Kalau haditsnya benar, berarti Felix benar dan si Abu Janda salah.”
“Begini. Hadis tentang liwa dan rayah Rasulullah itu banyak. Ada yang shahih, ada yang hasan, ada yang dhaif.”
“Tabe, kyai. Apa itu rayah dan liwa?” tanya Tesa
“Rayah itu bendera besar. Liwa bendera kecil, seperti panji-panji.”
“Lanjutki, Kyai.”
“Hadis tentang rayah berwarna hitam dan liwa berwarna putih itu bisa ditemukan dalam HR. Bukhari. Ini hadis sahih. Tetapi hadis ini tidak menyebutkan ada tulisan di dalamnya, hanya warna. Sedangkan, hadis yang menyebutkan ada lafaz la ilaha illaAllah, Muhammad rasulullah itu ditemukan dalam Hadis Thabrani. Ada juga riwayat dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah. Hadis-hadis ini levelnya hasan, hasan li gairihi, dan dhaif karena ada perawi yang dianggap tidak terpercaya atau gairu tsiqah. Ada pula hadis Abu Daud menyebutkan warna bendera Rasulullah itu kuning.”
“Memang kalau dhaif ndak boleh dipake kyai?” Yusran bertanya dengan mimik serius.
“Boleh. Hadis dhaif boleh digunakan sebagai bagian dari syiar Islam. Tetapi untuk menjadikannya sebagai hujjah, para ulama enggan menggunakan. Dikhawatirkan itu bukan ucapan Rasulullah. Yang mau menggunakan bendera hitam itu sebagai bagian dari syiar Islam, boleh saja.”
“Nah, si Abu Janda salah mentong karena dia menuduh bendera HTI, padahal itu bendera umat Islam,” kata Faris.
“Begini. Abu Janda benar ketika menyebut bendera hitam yang diperlihatkan di foto adalah bendera HTI. Dia mengingatkan kepada negara, bahwa HTI yang sudah dibubarkan itu masih ada. Bendera itu sebagai indikatornya. Itu pesannya.”
“Loh, tadi kyai bilang sesuai hadis. Saya jadi bingung?” kata Faris dengan kening mengkerut.
“Sederhana. Sejak HTI muncul, merekalah yang selalu menggunakan bendera itu sebagai simbol gerakan. Muhammadiyah tidak, NU tidak, SI tidak, FPI tidak, Al-Irsyad tidak, DDI tidak,
As’adiyah tidak. Organisasi-organisasi ini punya bendera sendiri. Jadi, secara sosiologis bendera hitam dengan corak seperti itu terasosiasi ke HTI.”
“Tapi kan Felix bilang ini bendera Rasulullah.” Tesa menyela.
“Disitu masalahnya. Bendera Nabi hakikatnya sudah tidak ada. Kalaupun ada pasti disimpan di tempat yang sangat aman. Bendera yang diklaim Felix itu adalah interpretasi terhadap hadis. Itu tiruan. Itupun tidak dijelaskan, standar yang ditiru ada atau tidak. Apakah Felix sudah pernah melihat bendera Rasulullah langsung, lalu yakin bahwa bendera HTI itu sama dengan bendera Rasul. Model hurufnya, letak kalimat, jenis kainnya?”
“Iya … juga ya,” sela Tesa.
“Kandungan hadis yang diucapkan Felix itu bersifat umum. Warna dan isi tulisan. Itu saja! Jadi, siapa saja yang memiliki kain segi empat dengan warna hitam atau putih lalu menulis kalimat la ilaha illah Allah dan Muhammad rasulullah dengan model khat apa saja, itu bisa mengklaim sebagai bendera rasulullah. Contoh, bendera ISIS itu warnanya hitam dan ada tulisan syahadat tetapi model khat-nya berbeda dengan model khat bendera HTI. Dua-duanya boleh mengklaim. Itu hak mereka!”
“Apakah tidak ada petunjuk yang spesifik tentang bendera Rasulullah?” Ais bertanya.
“Hadis yang saya temukan menjelaskan beberapa ciri-ciri seperti warna hitam untuk rayah, putih untuk liwa, ada yang berwarna kuning, ada tulisan syahadat, terbuat dari kain wol, dan digunakan pada saat perang. Ada yang menyebut pake khat madinah di zaman itu. Inilah serangkaian petunjuk tentang bendera Rasulullah. Tetapi, tidak ada satu pun hadis yang memerintahkan untuk menjadikan itu sebagai simbol. Karena itu
bendera negara-negara Islam sekarang bermacam-macam. Pun, zaman khilafah benderanya berbeda sesuai dinasti khalifahnya.” Yusran, Ais, Tesa, dan Faris menganggu-angguk.
“Anakku. Bendera Rasulullah itu sakral. Tidak diserahkan kepada sembarangan orang. Hanya pemimpin perang atau orang yang layak. Rasulullah sangat mengistimewakan benderanya hingga diberi nama Al-Uqab. Ada juga riwayat menyebut nama An-Namr. Dalam kitab Umdat Al-Qaari karya Imam Ainy disebutkan bahwa rayah tidak akan diserahkan kecuali atas izin imam. Ia tidak boleh dialihkan kecuali atas perintah imam.”
“Waahh…. Sakral ya, Kyai,” celetuk Yusran.
“Iya. Jadi, yang selalu mengklaim benderanya sebagai bendera Rasulullah. Perlakukanlah dengan sakral. Jangan diobral-obral di tengah jalan. Dipegang oleh sembarangan orang. Dipakai untuk membunuh sesama muslim, seperti para tentara ISIS. Jika memang mau menisbat kepada Nabi, nisbatlah dengan total.”
“Bagaimana dengan bendera Merah Putih, Kyai?” tanya Ais lagi.
“Itu simbol negara kita…. para ulama di nusantara tidak ada yang mempersoalkan. Bahkan Sayyid Idrus Salim bin Salim Al-Jufri, penyebar Islam di Sulawesi Tengah. Pendiri Pesantren Al-Khairat. Beliau membuat syair yang cukup panjang dalam bahasa Arab tentang bendera kita. Saya kutip satu bait. Begini bunyinya, kullu ummatin laha ramzu azz, wa ramzu azzina al-hamra wal baidha. Setiap bangsa memiliki lambang kemuliannya. Dan lambang kemuliaan kita adalah Merah Putih.” Jawab Kyai Saleh. Para santri Kyai Saleh itu mengangguk-angguk.
“Anak-anakku. Bendera Rasulullah yang sesungguhnya adalah kasih sayang. Kasih sayang yang melindungi semua umat di alam ini. Rahmatan lil alamin,” tutup Kyai Saleh sembari berlalu.
“Tapi kan Felix bilang ini bendera Rasulullah.” Tesa menyela.
“Disitu masalahnya. Bendera Nabi hakikatnya sudah tidak ada. Kalaupun ada pasti disimpan di tempat yang sangat aman. Bendera yang diklaim Felix itu adalah interpretasi terhadap hadis. Itu tiruan. Itupun tidak dijelaskan, standar yang ditiru ada atau tidak. Apakah Felix sudah pernah melihat bendera Rasulullah langsung, lalu yakin bahwa bendera HTI itu sama dengan bendera Rasul. Model hurufnya, letak kalimat, jenis kainnya?”
“Iya … juga ya,” sela Tesa.
“Kandungan hadis yang diucapkan Felix itu bersifat umum. Warna dan isi tulisan. Itu saja! Jadi, siapa saja yang memiliki kain segi empat dengan warna hitam atau putih lalu menulis kalimat la ilaha illah Allah dan Muhammad rasulullah dengan model khat apa saja, itu bisa mengklaim sebagai bendera rasulullah. Contoh, bendera ISIS itu warnanya hitam dan ada tulisan syahadat tetapi model khat-nya berbeda dengan model khat bendera HTI. Dua-duanya boleh mengklaim. Itu hak mereka!”
“Apakah tidak ada petunjuk yang spesifik tentang bendera Rasulullah?” Ais bertanya.
“Hadis yang saya temukan menjelaskan beberapa ciri-ciri seperti warna hitam untuk rayah, putih untuk liwa, ada yang berwarna kuning, ada tulisan syahadat, terbuat dari kain wol, dan digunakan pada saat perang. Ada yang menyebut pake khat madinah di zaman itu. Inilah serangkaian petunjuk tentang bendera Rasulullah. Tetapi, tidak ada satu pun hadis yang memerintahkan untuk menjadikan itu sebagai simbol. Karena itu
bendera negara-negara Islam sekarang bermacam-macam. Pun, zaman khilafah benderanya berbeda sesuai dinasti khalifahnya.” Yusran, Ais, Tesa, dan Faris menganggu-angguk.
“Anakku. Bendera Rasulullah itu sakral. Tidak diserahkan kepada sembarangan orang. Hanya pemimpin perang atau orang yang layak. Rasulullah sangat mengistimewakan benderanya hingga diberi nama Al-Uqab. Ada juga riwayat menyebut nama An-Namr. Dalam kitab Umdat Al-Qaari karya Imam Ainy disebutkan bahwa rayah tidak akan diserahkan kecuali atas izin imam. Ia tidak boleh dialihkan kecuali atas perintah imam.”
“Waahh…. Sakral ya, Kyai,” celetuk Yusran.
“Iya. Jadi, yang selalu mengklaim benderanya sebagai bendera Rasulullah. Perlakukanlah dengan sakral. Jangan diobral-obral di tengah jalan. Dipegang oleh sembarangan orang. Dipakai untuk membunuh sesama muslim, seperti para tentara ISIS. Jika memang mau menisbat kepada Nabi, nisbatlah dengan total.”
“Bagaimana dengan bendera Merah Putih, Kyai?” tanya Ais lagi.
“Itu simbol negara kita…. para ulama di nusantara tidak ada yang mempersoalkan. Bahkan Sayyid Idrus Salim bin Salim Al-Jufri, penyebar Islam di Sulawesi Tengah. Pendiri Pesantren Al-Khairat. Beliau membuat syair yang cukup panjang dalam bahasa Arab tentang bendera kita. Saya kutip satu bait. Begini bunyinya, kullu ummatin laha ramzu azz, wa ramzu azzina al-hamra wal baidha. Setiap bangsa memiliki lambang kemuliannya. Dan lambang kemuliaan kita adalah Merah Putih.” Jawab Kyai Saleh. Para santri Kyai Saleh itu mengangguk-angguk.
“Anak-anakku. Bendera Rasulullah yang sesungguhnya adalah kasih sayang. Kasih sayang yang melindungi semua umat di alam ini. Rahmatan lil alamin,” tutup Kyai Saleh sembari berlalu.
MAHALLUL QIYAM, MENGHADIRKAN RUH NABI ﷺ DALAM SALAM PENGHORMATAN
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوحِي، حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ".
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه Rasulullah ﷺ bersabda: Tidaklah seseorang di antara kalian mengucapkan salam penghormatan kepadaku melainkan Allah mengembalikan ruhku hingga aku menjawab salamnya.
Hadits riwayat Imam Abu Daud dan dinilai sahih oleh Imam an-Nawawi di dalam kitab al-Adzkar.
Ibnul Qoyyim al-Jauzi, berkata dalam kitab ar-Ruh :
وقال سلمان الفارسى أرواح المؤمنين في برزخ من الأرض تذهب حيث شاءت
Salman al-Farisi رضي الله عنه berkata : arwah kaum mu’minin berada di alam barzah dekat dari bumi dan dapat pergi ke mana saja menurut kehendaknya.
الروح - (ج 1 / ص 91)
Pada setiap di saat kita membaca Tasyahud dalam shalat, kita selalu mengucapkan:
" اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِي ّ"ُ
"Assalamualika ayyuhan nabi", Salam penghormatan kepada engkau wahai Nabi
Silakan diperhatikan redaksinya, pada saat menyebut Nabi dalam shalat kita memakai kata ganti كَ atau kata ganti orang kedua atau dlamir mukhatab, yang berarti kamu atau anda. Kita tidak menyebut nabi dengan dlamir ghaib هُ atau dia, atau beliau, kita menyebut nabi dengan engkau. Ini artinya bahwa pada saat kita mengucapkan salam penghormatan , Allah menghadirkan ruh nabi Muhammad ﷺ untuk menjawab salam penghormatan dari kita.
Begitu juga pada saat Mahallul Qiyam pada peringatan Maulid Nabi saat saat kita berdiri mengucapkan salam penghormatan:
" يَا نَبِي سَلَامْ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلْ سَلَامْ عَلَيْك "َ
Silakan diperhatikan, dalam kalimat yang kita baca "Wahai Nabi salam penghormatan kepadamu, Wahai Rasul salam penghormatan kepadamu", salam penghormatan kepada nabi inilah yang menghadirkan ruh nabi ﷺ pada saat itu. Demikianlah mengapa di acara peringatan maulid nabi ada moment berdiri.
والله أعلم....
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوحِي، حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ".
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه Rasulullah ﷺ bersabda: Tidaklah seseorang di antara kalian mengucapkan salam penghormatan kepadaku melainkan Allah mengembalikan ruhku hingga aku menjawab salamnya.
Hadits riwayat Imam Abu Daud dan dinilai sahih oleh Imam an-Nawawi di dalam kitab al-Adzkar.
Ibnul Qoyyim al-Jauzi, berkata dalam kitab ar-Ruh :
وقال سلمان الفارسى أرواح المؤمنين في برزخ من الأرض تذهب حيث شاءت
Salman al-Farisi رضي الله عنه berkata : arwah kaum mu’minin berada di alam barzah dekat dari bumi dan dapat pergi ke mana saja menurut kehendaknya.
الروح - (ج 1 / ص 91)
Pada setiap di saat kita membaca Tasyahud dalam shalat, kita selalu mengucapkan:
" اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِي ّ"ُ
"Assalamualika ayyuhan nabi", Salam penghormatan kepada engkau wahai Nabi
Silakan diperhatikan redaksinya, pada saat menyebut Nabi dalam shalat kita memakai kata ganti كَ atau kata ganti orang kedua atau dlamir mukhatab, yang berarti kamu atau anda. Kita tidak menyebut nabi dengan dlamir ghaib هُ atau dia, atau beliau, kita menyebut nabi dengan engkau. Ini artinya bahwa pada saat kita mengucapkan salam penghormatan , Allah menghadirkan ruh nabi Muhammad ﷺ untuk menjawab salam penghormatan dari kita.
Begitu juga pada saat Mahallul Qiyam pada peringatan Maulid Nabi saat saat kita berdiri mengucapkan salam penghormatan:
" يَا نَبِي سَلَامْ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلْ سَلَامْ عَلَيْك "َ
Silakan diperhatikan, dalam kalimat yang kita baca "Wahai Nabi salam penghormatan kepadamu, Wahai Rasul salam penghormatan kepadamu", salam penghormatan kepada nabi inilah yang menghadirkan ruh nabi ﷺ pada saat itu. Demikianlah mengapa di acara peringatan maulid nabi ada moment berdiri.
والله أعلم....
Admin tidak mengabil keuntungan materi dari keberadaan channel ini
Semata-mata hanya mengharap ridlo Alloh, SWT, sebagai sarana dakwah, ukhuwah, dan lillāh
Jika ada materi yang bermanfaat, silahkan di share ke saudara-saudara lainnya.
Jika ada materi bertentangan, silahkan ditabayunkan
Channel ini berpegang pada tiga prinsip aswaja annahdliyah;
1. tawasut (moderat),
2. i'tidal (adil),
4. tasamuh (toleransi),
dan ditambah prinsip admin: hubbul wathon
Admin:
@admbersama_bot
Semata-mata hanya mengharap ridlo Alloh, SWT, sebagai sarana dakwah, ukhuwah, dan lillāh
Jika ada materi yang bermanfaat, silahkan di share ke saudara-saudara lainnya.
Jika ada materi bertentangan, silahkan ditabayunkan
Channel ini berpegang pada tiga prinsip aswaja annahdliyah;
1. tawasut (moderat),
2. i'tidal (adil),
4. tasamuh (toleransi),
dan ditambah prinsip admin: hubbul wathon
Admin:
@admbersama_bot
Jika keberadaan channel ini banyak manfaatnya, silakan di share kepada saudara-saudara yang lain
jazákallóh
https://t.me/nu_online
jazákallóh
https://t.me/nu_online
Telegram
NU ONLINE
Dakwah, Ukhuwah, Lillah
Powered by:
@KampusTelegram
Our Channel:
@Audio_alQuran
@KitabKuning1
@bahsilNU
@BukuSekolahElektronik
@CakNunChannel
@Sticker_ID
Youtube:
www.youtube.com/c/NUbanget
Group:
@nu_banget
Powered by:
@KampusTelegram
Our Channel:
@Audio_alQuran
@KitabKuning1
@bahsilNU
@BukuSekolahElektronik
@CakNunChannel
@Sticker_ID
Youtube:
www.youtube.com/c/NUbanget
Group:
@nu_banget
Bung Karno dan Hatta Jarang Masuk Masjid
Soekarno dan Mohammad Hatta adalah Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Kiprah dan sepak terjangnya dalam memerdekakan Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Nyawa, darah, dan air matanya menjadi tebusan dalam memperjuangkan tegaknya bendera merah putih. Hingga akhirnya republik ini merdeka, dan mereka berdua dinobatkan menjadi pemimpin tertinggi bangsa ini. Itu semua karena jasa-jasa dan kemampuan mereka dalam menggerakkan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Gambar mereka diabadikan di dalam uang pecahan terbesar rupiah. Nama mereka juga dijadikan nama bandara, jalan, universitas, gedung, dan lainnya.
Mereka berdua juga dikenal sebagai pribadi Muslim yang taat dalam menjalankan ajaran agamanya. Mereka rajin menunaikan kewajiban-kewajiban agama di dalam rukun Islam; salat, zakat, puasa, dan haji. Namun demikian, mungkin hanya sedikit orang saja yang tahu soal cerita Soekarno dan Mohammad Hatta yang jarang masuk masjid.
Wakil Sekretaris Lembaga Ta'mir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) H Muiz Ali Murtadho menceritakan hal itu saat acara Pelatihan Pemuda Pelopor yang diselenggarakan di Gorontalo beberapa hari yang lalu. Baginya, itu adalah sesuatu yang sangat ironis dan memprihatinkan mengingat Bung Karno dan Hatta adalah pemimpin negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia. Dalam hal ini, mungkin mereka hanya sesekali dan jarang masuk masjid.
“Yang biasa masuk masjid malah yang bergolok (uang seribu rupiah bergambar Kapitan Pattimura membawa), (uang seratus ribu rupiah bergambar) Bung Karno dan Hatta yang berpeci malah jarang masuk masjid,” kata Muiz.
“Padahal yang pantes masuk (kotak) masjid adalah yang berpeci,” lanjutnya disambut tawa peserta pelatihan yang baru sadar bahwa yang dimaksud adalah uang pecahan seratus ribu.
Menurut saya, ada dua makna yang terkandung dalam ungkapan tersebut. Pertama, umat Islam yang masih enggan memakmurkan keuangan masjid meski mereka sudah berada pada level hidup yang cukup. Kedua, kondisi ekonomi umat Islam yang masih lemah sehingga mereka tidak mampu ‘memasukkan Bung Karno dan Hatta’ ke dalam masjid. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja mereka masih kekurangan.
Untuk persoalan yang pertama, kita harus mengedukasi umat Islam agar cinta masjid dan bersedia untuk memakmurkannya, baik makmur dalam segi keuangan ataupun program-programnya. Sementara untuk problem yang kedua adalah juga tugas bersama umat Islam. Bagaimana umat Islam yang sudah makmur bisa membantu untuk memakmurkan saudaranya yang belum makmur tersebut. Sehingga mereka bisa membuat Bung Karno dan Hatta masuk masjid.
NU Online
Soekarno dan Mohammad Hatta adalah Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Kiprah dan sepak terjangnya dalam memerdekakan Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Nyawa, darah, dan air matanya menjadi tebusan dalam memperjuangkan tegaknya bendera merah putih. Hingga akhirnya republik ini merdeka, dan mereka berdua dinobatkan menjadi pemimpin tertinggi bangsa ini. Itu semua karena jasa-jasa dan kemampuan mereka dalam menggerakkan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Gambar mereka diabadikan di dalam uang pecahan terbesar rupiah. Nama mereka juga dijadikan nama bandara, jalan, universitas, gedung, dan lainnya.
Mereka berdua juga dikenal sebagai pribadi Muslim yang taat dalam menjalankan ajaran agamanya. Mereka rajin menunaikan kewajiban-kewajiban agama di dalam rukun Islam; salat, zakat, puasa, dan haji. Namun demikian, mungkin hanya sedikit orang saja yang tahu soal cerita Soekarno dan Mohammad Hatta yang jarang masuk masjid.
Wakil Sekretaris Lembaga Ta'mir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) H Muiz Ali Murtadho menceritakan hal itu saat acara Pelatihan Pemuda Pelopor yang diselenggarakan di Gorontalo beberapa hari yang lalu. Baginya, itu adalah sesuatu yang sangat ironis dan memprihatinkan mengingat Bung Karno dan Hatta adalah pemimpin negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia. Dalam hal ini, mungkin mereka hanya sesekali dan jarang masuk masjid.
“Yang biasa masuk masjid malah yang bergolok (uang seribu rupiah bergambar Kapitan Pattimura membawa), (uang seratus ribu rupiah bergambar) Bung Karno dan Hatta yang berpeci malah jarang masuk masjid,” kata Muiz.
“Padahal yang pantes masuk (kotak) masjid adalah yang berpeci,” lanjutnya disambut tawa peserta pelatihan yang baru sadar bahwa yang dimaksud adalah uang pecahan seratus ribu.
Menurut saya, ada dua makna yang terkandung dalam ungkapan tersebut. Pertama, umat Islam yang masih enggan memakmurkan keuangan masjid meski mereka sudah berada pada level hidup yang cukup. Kedua, kondisi ekonomi umat Islam yang masih lemah sehingga mereka tidak mampu ‘memasukkan Bung Karno dan Hatta’ ke dalam masjid. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja mereka masih kekurangan.
Untuk persoalan yang pertama, kita harus mengedukasi umat Islam agar cinta masjid dan bersedia untuk memakmurkannya, baik makmur dalam segi keuangan ataupun program-programnya. Sementara untuk problem yang kedua adalah juga tugas bersama umat Islam. Bagaimana umat Islam yang sudah makmur bisa membantu untuk memakmurkan saudaranya yang belum makmur tersebut. Sehingga mereka bisa membuat Bung Karno dan Hatta masuk masjid.
NU Online
Klarifikasi PWNU Bali soal Penolakan Ustad Abdul Somad
Kedatangan Ustadz Abdul Somad (UAS) ke Bali pada tanggal 8-10 Desember 2017 lalu menimbulkan pro kontra bagi masyarakat Bali. Ramai tersebar di media sosial bahwa salah satu elemen yang melakukan penolakan adalah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali.
Untuk mengklarifikasi keakuratan beberapa media yang memojokan PWNU Bali tersebut, NU Online berhasil menghubungi Ketua PWNU Bali, H Abdul Aziz melalui sambungan telepon, Senin (11/12).
Ia kemudian menceritakan dari awal bagaimana dirinya sebagai Ketua PWNU mem-back up penuh panitia penyelenggara yang keseluruhan adalah Nahdliyin (warga NU).
Menjelang kedatangan UAS, H Aziz menjelaskan situasi mulai tidak kondusif. Ada beberapa isu bahwa akan ada penghadangan di bandara. Kemudian ia bersama pengurus PWNU yang lain berinisiatif untuk mendampingi panitia menjemput langsung ke bandara. Bersama UAS dan panitia, Pengurus PWNU terus mendampingi hingga ke Hotel Aston, tempat UAS menginap
“Namun setelah satu jam kami berada di hotel, situasi tidak kondusif, sebab ada konsentrasi massa yang menolak kedatangan UAS,” terang H Aziz.
Karena tidak ingin adanya tindakan kekerasan, sebab menurut H. Aziz, kelompok masyarakat yang pro kedatangan UAS juga akan bergerak ke hotel Aston, ia kemudian berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk dapat membantu memediasi dengan pihak yang menolak. Akhirnya mediasi pun terjadi di salah satu ruangan di hotel tersebut.
Dalam mediasi awal mengalami jalan buntu, hingga UAS memutuskan akan meninggalkan Bali. Tentunya keputusan ini akan berdampak pada jamaah pengajian yang sudah ribuan dan berpotensi akan bergejolak.
H Aziz kemudian meyakinkan kepada UAS bahwa jika dirinya membatalkan pengajian, justru yang terjadi adalah gejolak yang lebih besar. Dengan pertimbangan itu, akhirnya UAS kembali menemui pihak yang menolak dan terjadi saling rangkul menemui titik temu.
Lalu, ketika ditanya sosok yang mengaku Gus Yadi yang ramai diperbincangkan di medsos, H Aziz sama sekali tidak mengenalnya.
“Yadi itu siapa, dia bukan pengurus NU maupun banom NU. Dia juga bukan warga Nahdliyin, saat berdebat dengan saya pada saat mediasi, dia menggunakan baju PGN (Patriot Garuda Nusantara,)” tegasnya.
Jadi, menurut H. Aziz kalau ada media yang mengatakan PWNU Bali menolak bahkan memprovokasi untuk melakukan penolakan kedatangan UAS di Bali, merupakan pemberitaan yang sesat.
“Bahkan saya bersama pengurus NU yang lain selalu mendampingi UAS selama di Bali, jadi mohon diluruskan kepada masyarakat,” tutupnya.
NU Online
Kedatangan Ustadz Abdul Somad (UAS) ke Bali pada tanggal 8-10 Desember 2017 lalu menimbulkan pro kontra bagi masyarakat Bali. Ramai tersebar di media sosial bahwa salah satu elemen yang melakukan penolakan adalah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali.
Untuk mengklarifikasi keakuratan beberapa media yang memojokan PWNU Bali tersebut, NU Online berhasil menghubungi Ketua PWNU Bali, H Abdul Aziz melalui sambungan telepon, Senin (11/12).
Ia kemudian menceritakan dari awal bagaimana dirinya sebagai Ketua PWNU mem-back up penuh panitia penyelenggara yang keseluruhan adalah Nahdliyin (warga NU).
Menjelang kedatangan UAS, H Aziz menjelaskan situasi mulai tidak kondusif. Ada beberapa isu bahwa akan ada penghadangan di bandara. Kemudian ia bersama pengurus PWNU yang lain berinisiatif untuk mendampingi panitia menjemput langsung ke bandara. Bersama UAS dan panitia, Pengurus PWNU terus mendampingi hingga ke Hotel Aston, tempat UAS menginap
“Namun setelah satu jam kami berada di hotel, situasi tidak kondusif, sebab ada konsentrasi massa yang menolak kedatangan UAS,” terang H Aziz.
Karena tidak ingin adanya tindakan kekerasan, sebab menurut H. Aziz, kelompok masyarakat yang pro kedatangan UAS juga akan bergerak ke hotel Aston, ia kemudian berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk dapat membantu memediasi dengan pihak yang menolak. Akhirnya mediasi pun terjadi di salah satu ruangan di hotel tersebut.
Dalam mediasi awal mengalami jalan buntu, hingga UAS memutuskan akan meninggalkan Bali. Tentunya keputusan ini akan berdampak pada jamaah pengajian yang sudah ribuan dan berpotensi akan bergejolak.
H Aziz kemudian meyakinkan kepada UAS bahwa jika dirinya membatalkan pengajian, justru yang terjadi adalah gejolak yang lebih besar. Dengan pertimbangan itu, akhirnya UAS kembali menemui pihak yang menolak dan terjadi saling rangkul menemui titik temu.
Lalu, ketika ditanya sosok yang mengaku Gus Yadi yang ramai diperbincangkan di medsos, H Aziz sama sekali tidak mengenalnya.
“Yadi itu siapa, dia bukan pengurus NU maupun banom NU. Dia juga bukan warga Nahdliyin, saat berdebat dengan saya pada saat mediasi, dia menggunakan baju PGN (Patriot Garuda Nusantara,)” tegasnya.
Jadi, menurut H. Aziz kalau ada media yang mengatakan PWNU Bali menolak bahkan memprovokasi untuk melakukan penolakan kedatangan UAS di Bali, merupakan pemberitaan yang sesat.
“Bahkan saya bersama pengurus NU yang lain selalu mendampingi UAS selama di Bali, jadi mohon diluruskan kepada masyarakat,” tutupnya.
NU Online
Sikap Resmi PBNU atas Diakuinya Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel
السَّــــــــــــــلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Melihat dan mengamati dengan seksama dinamika perpolitikan internasional terutama sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan pemindahan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, hal ini berpotensi meluasnya pelanggaran terhadap Prinsip Hukum Humaniter sebagaimana diatur dalam Protokol Tambahan I Tahun 1977 Pasal 53 menentukan perlindungan bagi objek-objek budaya dan tempat pemujaan.
Resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB atas Yerusalem No. 252 tanggal 21 Mei 1968 hingga Resolusi DK PBB No. 2334 tanggal 23 Desember 2016 menegaskan bahwa DK tidak akan mengakui perubahan apa pun atas garis batas yang ditetapkan sebelum perang 1967.
Demikian halnya, Resolusi Majelis Umum PBB No. 2253 tanggal 4 Juli 1967 hingga Resolusi No. 71 tanggal 23 Desember 2016 yang pada pokoknya menegaskan perlindungan Yerusalem terhadap okupasi Israel.
Melalui Resolusi No. 150 tanggal 27 November 1996, Unesco menyebut “Kota Tua Yerusalem” sebagai warisan dunia yang terancam punah. Dan pembangunan terowongan dekat Masjid Al Aqsa oleh Israel sebagai tindakan yang menyerang sentimen keagamaan di dunia.
Terkait hal itu bersama ini Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyatakan sikap:
1. Sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan bahwa Yerusalem merupakan ibu kota Israel merupakan suatu tindakan yang akan mengacaukan dan merusak perdamaian dunia. Sikap tersebut akan membuat situasi dunia menjadi semakin panas dan mengarah pada konfliik yang tak berkesudahan.
2. Mengecam keras tindakan pengakuan sepihak tersebut. Yerusalem bukanlah ibu kota Israel melainkan Yerusalem adalah ibu kota Palestina yang telah kita akui kedaulatannya. Dalam konteks ini, pada Muktamar NU ke-33 di Jombang, mengeluarkan beberapa keputusan:
Pertama, PBNU mendukung kemerdekaan atas Palestina. Dukungan bagi kemerdekaan rakyat dan negara Palestina tidak bisa ditangguhkan. Oleh karena itu, PBNU mendesak agar PBB segera memberikan dan mengesahkan keanggotaan Negara Palestina menjadi anggota resmi PBB dan memberikan hak yang setara sebagai rakyat dan negara yang merdeka.
Kedua, NU mendesak PBB untuk memberikan sanksi, baik politik maupun ekonomi, kepada Israel dan negara manapun jika tidak bersedia mengakhiri pendudukan terhadap tanah Palestina.
Ketiga, Menyerukan agar negara-negara di Timur Tengah untuk bersatu mendukung kemerdekaan Palestina.
Keempat, Mendesak agar OKI (Organisasi Kerjasama Islam) untuk secara intensif mengorganisir anggotanya untuk mendukung kemerdekaan Palestina.
3. Mendorong pemerintah Indonesia untuk ikut serta dan proaktif dalam membantu problem yang terjadi di Palestina. Pemerintah Indonesia memiliki peran yang sangat strategis untuk menjadi penengah yang bisa memediasi dinamika politik yang sedang terjadi.
4. Umat muslim dunia menyampaikan keprihatinannya dan mari bersama-sama berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT, semoga rakyat di Palestina diberikan kekuatan dan ketabahan, semoga tercipta perdamaian di Palestina.
5. Menyerukan secara khusus kepada warga NU untuk membaca doa qunut nazilah, memohon pertolongan dan perlindungan pada Allah SWT. Agar Palestina khususnya dan juga dunia dapat tercipta situasi yang damai.
وَاللهُ الْمُوَفِّقُ إِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيْقِ
وَالسَّــــــــــــــلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 7 Desember 2017
ttd
Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA.
Ketua Umum
ttd
DR. Ir. H. Helmy Faishal Zaini
Sekretaris Jenderal
NU Online
السَّــــــــــــــلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Melihat dan mengamati dengan seksama dinamika perpolitikan internasional terutama sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan pemindahan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, hal ini berpotensi meluasnya pelanggaran terhadap Prinsip Hukum Humaniter sebagaimana diatur dalam Protokol Tambahan I Tahun 1977 Pasal 53 menentukan perlindungan bagi objek-objek budaya dan tempat pemujaan.
Resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB atas Yerusalem No. 252 tanggal 21 Mei 1968 hingga Resolusi DK PBB No. 2334 tanggal 23 Desember 2016 menegaskan bahwa DK tidak akan mengakui perubahan apa pun atas garis batas yang ditetapkan sebelum perang 1967.
Demikian halnya, Resolusi Majelis Umum PBB No. 2253 tanggal 4 Juli 1967 hingga Resolusi No. 71 tanggal 23 Desember 2016 yang pada pokoknya menegaskan perlindungan Yerusalem terhadap okupasi Israel.
Melalui Resolusi No. 150 tanggal 27 November 1996, Unesco menyebut “Kota Tua Yerusalem” sebagai warisan dunia yang terancam punah. Dan pembangunan terowongan dekat Masjid Al Aqsa oleh Israel sebagai tindakan yang menyerang sentimen keagamaan di dunia.
Terkait hal itu bersama ini Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyatakan sikap:
1. Sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan bahwa Yerusalem merupakan ibu kota Israel merupakan suatu tindakan yang akan mengacaukan dan merusak perdamaian dunia. Sikap tersebut akan membuat situasi dunia menjadi semakin panas dan mengarah pada konfliik yang tak berkesudahan.
2. Mengecam keras tindakan pengakuan sepihak tersebut. Yerusalem bukanlah ibu kota Israel melainkan Yerusalem adalah ibu kota Palestina yang telah kita akui kedaulatannya. Dalam konteks ini, pada Muktamar NU ke-33 di Jombang, mengeluarkan beberapa keputusan:
Pertama, PBNU mendukung kemerdekaan atas Palestina. Dukungan bagi kemerdekaan rakyat dan negara Palestina tidak bisa ditangguhkan. Oleh karena itu, PBNU mendesak agar PBB segera memberikan dan mengesahkan keanggotaan Negara Palestina menjadi anggota resmi PBB dan memberikan hak yang setara sebagai rakyat dan negara yang merdeka.
Kedua, NU mendesak PBB untuk memberikan sanksi, baik politik maupun ekonomi, kepada Israel dan negara manapun jika tidak bersedia mengakhiri pendudukan terhadap tanah Palestina.
Ketiga, Menyerukan agar negara-negara di Timur Tengah untuk bersatu mendukung kemerdekaan Palestina.
Keempat, Mendesak agar OKI (Organisasi Kerjasama Islam) untuk secara intensif mengorganisir anggotanya untuk mendukung kemerdekaan Palestina.
3. Mendorong pemerintah Indonesia untuk ikut serta dan proaktif dalam membantu problem yang terjadi di Palestina. Pemerintah Indonesia memiliki peran yang sangat strategis untuk menjadi penengah yang bisa memediasi dinamika politik yang sedang terjadi.
4. Umat muslim dunia menyampaikan keprihatinannya dan mari bersama-sama berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT, semoga rakyat di Palestina diberikan kekuatan dan ketabahan, semoga tercipta perdamaian di Palestina.
5. Menyerukan secara khusus kepada warga NU untuk membaca doa qunut nazilah, memohon pertolongan dan perlindungan pada Allah SWT. Agar Palestina khususnya dan juga dunia dapat tercipta situasi yang damai.
وَاللهُ الْمُوَفِّقُ إِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيْقِ
وَالسَّــــــــــــــلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 7 Desember 2017
ttd
Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA.
Ketua Umum
ttd
DR. Ir. H. Helmy Faishal Zaini
Sekretaris Jenderal
NU Online
Bimillah,
Untuk menunjang postingan dan materi channel ini, silakan Bapak-Ibu bergabung dengan ikhlas ke channel Kokoh Santri
Semoga keberkahan rezeki selalu menyertai kita. Ámín
Untuk menunjang postingan dan materi channel ini, silakan Bapak-Ibu bergabung dengan ikhlas ke channel Kokoh Santri
Semoga keberkahan rezeki selalu menyertai kita. Ámín
Telegram
Kokoh Santri
Pemesanan hubungi:
@KangAdmin1 (Telegram)
https://goo.gl/F4YnQY (WA)
@KangAdmin1 (Telegram)
https://goo.gl/F4YnQY (WA)