BERILMU DENGAN BUKU
63 subscribers
738 photos
27 videos
20 files
534 links
Channel edukasi seputar Aqidah, Ibadah, Muamalah, Pengembangan diri dan Keluarga, Bisnis, Marketing dan Rekomendasi Buku
Download Telegram
Abdurrahman Al-Awsath

Sepeninggal Al-Hakam bin Hisyam, yg menduduki posisi kepemimpinan adalah putranya adalah Abdurrahman II. Dialah kemudian yg dikenal dalam sejarah dengan nama Abdurrahman Al-Awsath (anak pertengahan antara Abdurrahman Ad-Dakhil dan Abdurrahman An-Nashir). Ia memerintah pada tahun 206 H (821 M) hingga 238 H (852 M).

Masa kepemimpinannya dianggap sebagai fase terbaik dalam sejarah Andalusia. Ia mulai menghidupkan kembali jihad menghadapi pihak kristen di bagian Utara, dan berhasil menimpakan beberapa kekalahan pada mereka.
Ia seorang yg mempunyai perilaku yg baik, berkepribadian tenang, mencintai ilmu, dan mencintai rakyatnya.

Di antara hal-hal yg menjadi keistimewaan periode Abdurrahman Al-Ausath adalah:

Perkembangan Peradaban Keilmuan

Di antara ulama yg termasyhur di masanya adalah Abbas bin Firnas (274 H/887M), kunyahnya adalah Abu Al-Qasim. Beliau penduduk Cordova, dan bertempat tinggal di Barabar (Tacrina). Abbas bin Firnas hidup di abad ke 9 Masehi.

Abbas bin Firnas adalah orang yg pertama kali menggagas pembuatan kaca dari bebatuan dan pembuatan jam untuk mengetahui waktu.
Dialah penerbang pertama yg membelah langit; ia bermaksud menerbangkan tubuhnya, maka ia menutupi tubuhnya dengan bulu lalu memasang 2 sayap. Kemudian terbang di udara dengan jarak yg cukup jauh. Ia akhirnya jatuh hingga menyebabkan punggungnya sakit, karena ia tidak membuat ekor buatan. Ia tidak tahu bahwa seekor burung itu akan jatuh karena ekornya.
As-Shafady telah memaparkan banyak sekali pujian terhadapnya, memgatakan bahwa Abbas bin Firnas mempunyai sosok manusia dengan kecerdasan jin.
Perkembangan Peradaban Fisik

Abdurrahman Al-Ausath juga memberi perhatian yg besar terhadap peradaban materil (pembangunan fisik, ekonomi, dan yang lainnya).

Karena itu, gerakan perdagangan berkembang pesat di masanya, yg menyebabkan perputaran uang semakin banyak. Penting juga kita ketahui bahwa dalam megeri Andalusia sama sekali tidak ada yg disebut "meminta-minta", karena begitu makmurnya.
Peristiwa Bangsa Viking

Di masa Abdurrahman Al-Ausath pada tahun 230 H (845 M), suku viking menyerang Sevilla melalui jalur laut dengan membawa 54 perahu. Mereka memasukinya dengan melakukan kerusakan besar hingga memyebabkan Sevilla hancur. Mereka merampas kekayaannya, menginjak kehormatan, lalu mereka meninggalkannya menuju wilayah lain. Mereka menebarkan ketakutan dan kengerian. Inilah tabiat pertempuran yg bersifat materil secara umum. Sangat berbeda dengan penaklukan yg di lakukan kaum Muslimin.

Maka ketika Abdurrahman Al-Ausath memgetahui hal ini, ia segera menyiapkan pasukan dan perbekalannya. Dan dalam kurun waktu 100 hari tepat, pertempuran sengit antara mereka terjadi. Selama itu, 35 perahu Viking berhasil di tenggelamkan, dan Allah pun mengaruniakan kemenangan pada kaum muslimin. Bangsa Viking pun kembali ke Negeri Mereka dengan Kekalahan dan Kerugian.

Setelah itu Abdurrahman Al-Ausath tidak segera beristirahat. Ia malah bekerja untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yg menyebabkan masuknnya orang-orang Viking ke dalam Negerinya.

Akibat kekalahan Viking utusan Denmark pun datang membawa berbagai hadiah meminta belas kasih kaum muslimin dan memohon perjanjian damai dengan mereka.
Negara Islam di masa Abdurrahman ini menjadi begitu kuat hingga berbagai hadiahpun datang dari Konstantinopel.

(Bangkit dan Runtuhnya Andalusia halaman 196-199)
Ustadz Dr. Musyaffa' Addariny, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📕 Kajian Tematik Ramadhan 1442H

🔈 Audio ke-14
📖 Tadabbur Ayat Al-Quran Al-Anfal: 11 Bagian Pertama
~•~•~•~•~

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ, أَمَّا بَعْدُ
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدى مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَأِنّ وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Jama'ah kaum muslimin dan muslimat yang semoga dimuliakan dan dirahmati oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Alhamdulillah pada kesempatan yang baik ini kita bisa bertemu dalam acara ini.

Acara yang mengajak kita semuanya untuk merenungi firman-firman Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Perkataan yang paling mulia, perkataan yang paling benar, perkataan yang tidak mungkin bengkok sedikitpun, tidak mungkin ada penyimpangan sedikitpun.

Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas ayat yang ke-11 dari Surat Al-Anfal. Ayat tersebut berbunyi :

إِذْ يُغَشِّيكُمُ ٱلنُّعَاسَ أَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِۦ وَيُذْهِبَ عَنكُمْ رِجْزَ ٱلشَّيْطَٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلْأَقْدَامَ

Yang artinya: “Ingatlah ketika Allāh Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan kalian mengantuk, untuk memberikan ketentraman dari Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Dan ingatlah juga ketika Allāh Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan air hujan dari langit kepada kalian, untuk mensucikan kalian dengan hujan tersebut, dan untuk menghilangkan gangguan-gangguan syaitan dari diri kalian, dan untuk menguatkan hati kalian serta memantapkan langkah kaki kalian.”

Ayat ini menjelaskan tentang kejadian yang terjadi di malam Perang Badar. Jadi Perang Badar itu di hari Jum'at, ayat ini menjelaskan tentang waktu di malam Jum'atnya. Ketika kaum muslimin sudah sampai di daerah Badar.

Ketika itu keadaan kaum muslimin sangat payah. Mereka kecapekan, mereka kehausan dan mereka tidak mendapatkan tempat yang lebih baik dari kaum musyrikin ketika itu. Akhirnya ada was-was dari syaitan. Syaitan melemparkan was-was ke hati-hati kaum muslimin.

Dia (syaitan) mengatakan, “Lihatlah keadaan kalian. Katanya kalian dalam keadaan yang benar, katanya kalian dalam keadaan yang lurus, katanya kalian hamba-hamba Allāh yang dicintai oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Lihat diri kalian. Kalian kehausan, kalian juga kelelahan, tempat kalian juga tidak baik, lebih baik kaum musyrikin. Coba sebagian dari kalian juga ada yang sampai junub, tapi tidak mendapatkan air. Ini menunjukkan bahwa kalian tidak berada di atas jalan yang benar, ini menunjukkan bahwa Allāh Subhanahu Wa Ta'ala tidak sayang kepada kalian.”

Syaitan memberikan was-was ini sehingga sebagian dari kaum muslimin hatinya menjadi kurang teguh.

Akhirnya Allāh Subhanahu Wa Ta'ala, karena sayangnya Allāh Subhanahu Wa Ta'Ala kepada kaum muslimin yang taat kepada-Nya, Allāh menurunkan hujan ketika itu. Padahal ketika itu adalah musim panas, harusnya tidak turun hujan, tapi Allāh turunkan hujan.

Allāh turunkan hujan untuk apa? Agar kaum muslimin bisa minum. Yang tadinya kehausan kaum muslimin bisa minum, kemudian kaum muslimin bisa berwudhu. Karena ketika itu belum ada syariat tayamum. Yang junub bisa mandi, sehingga was-was syaitan menjadi hilang.

Kemudian tanah yang tadinya sulit untuk dibuat berjalan, tanah tersebut ketika terkena air menjadi lebih padat dan bisa mudah untuk dijadikan sebagai jalan (dibuat berjalan menjadi mudah). Ini bantuan yang sangat besar dari Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.
Hujan memberikan kepada mereka manfaat yang sangat besar. Kemudian setelah itu Allāh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan kenikmatan kepada mereka rasa ngantuk. Mereka kelelahan, mereka berada di situasi yang sulit. Allāh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan rasa kantuk kepada mereka.

Tujuannya apa? Agar mereka bisa beristirahat dengan baik. Di malam peperangan, ketika seseorang bisa beristirahat dengan baik maka paginya dia akan semangat, dengan semangat yang penuh untuk menghadapi musuhnya.

Dengan tidur yang nyenyak jiwa menjadi tenang, dengan tidur yang nyenyak tenaga menjadi kembali fit. Dan inilah yang diinginkan oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala dari rasa kantuk tersebut.

Sehingga kaum muslimin di hari Perang Badarnya menjadi benar-benar bisa semangat untuk mengikuti perang, benar-benar bisa terbantu dalam mengalahkan musuh-musuh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.

Inilah yang dijelaskan di dalam ayat yang ke-11 ini.

Ayat yang ke-11 ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa Allāh Subhanahu Wa Ta'ala telah memberikan banyak kenikmatan kepada kaum muslimin untuk menolong mereka melawan musuh-musuh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.

Ada dua bantuan:

(1) Bantuan yang pertama berupa hujan yang sangat bermanfaat bagi kaum muslimin.

(2) Bantuan kedua atau pertolongan kedua dari Allāh Subhanahu Wa Ta'ala adalah rasa kantuk yang menyelimuti seluruh kaum muslimin tidak terkecuali. Kecuali Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ketika itu memanfaatkan malam Perang Badar itu untuk bermunajat kepada Allāh Subhanahu Wa Ta'ala sampai fajar tiba. Beliau benar-benar berdoa kepada Allāh Subhanahu Wa Ta'ala agar Allāh memenangkan pasukannya, memenangkan para sahabat beliau.

Demikian yang bisa saya sampaikan dalam kesempatan kali ini. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan bermanfaat bagi kita semuanya. Mudah-mudahan Allāh berkahi ilmu kita.

Dan mudah-mudahan Allāh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk bisa mengamalkan ilmu ini dengan baik dan mudah. Dan juga bisa menyebarkannya kepada orang lain.

آمين آمين يارب العالمين .
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين . والحمد لله ربّ العالمين .


والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈┈•◈◉◉◈•┈┈┈•
Ustadz Dr. Musyaffa' Addariny, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📕 Kajian Tematik Ramadhan 1442H

🔈 Audio ke-15
📖 Tadabbur Ayat Al-Quran Al-Anfal: 11 Bagian Kedua
~•~•~•~•~

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ, أَمَّا بَعْدُ
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَأِنّ وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Jama'ah kaum muslimin dan kaum muslimat yang semoga dimuliakan dan dirahmati oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Alhamdulillah pada kesempatan yang baik ini kita bisa bertemu dalam acara ini.

Acara yang mengajak kita semuanya untuk merenungi firman-firman Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Perkataan yang paling mulia, perkataan yang paling benar, perkataan yang tidak mungkin bengkok sedikitpun, tidak mungkin ada penyimpangan sedikitpun.

Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas ayat yang ke-11 dari Surat Al-Anfal. Ayat tersebut berbunyi :

إِذْ يُغَشِّيكُمُ ٱلنُّعَاسَ أَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِۦ وَيُذْهِبَ عَنكُمْ رِجْزَ ٱلشَّيْطَٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلْأَقْدَامَ

Yang artinya: “Ingatlah ketika Allāh Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan kalian mengantuk, untuk memberikan ketentraman dari Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Dan ingatlah juga ketika Allāh Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan air hujan dari langit kepada kalian, untuk mensucikan kalian dengan hujan tersebut dan untuk menghilangkan gangguan-gangguan syaitan dari diri kalian dan untuk menguatkan hati kalian serta memantapkan langkah kaki kalian.”

Jama'ah kaum muslimin dan kaum muslimat yang semoga dimuliakan dan dirahmati oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Pelajaran yang bisa kita ambil dari ayat ini sangat banyak sekali.

Di antaranya :

1. Pelajaran yang pertama, bahwa ayat ini menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Allāh Subhanahu Wa Ta'Ala kepada hamba-hamba-Nya yang sholeh. Allāh Subhanahu Wa Ta'ala tidak akan membiarkan mereka. Allāh Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan pertolongan kepada mereka. Allāh Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan taufiq kepada mereka, bagaimana berjalan dalam membela agama Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.

Lihatlah kaum muslimin yang ketika itu dalam keadaan yang payah. Mereka kelelahan, mereka juga kelaparan, kehausan. Mereka membutuhkan air, Allāh datangkan air. Mereka butuh agar kelelahan mereka hilang, Allāh datangkan rasa kantuk. Mereka butuh ketenangan hati, Allāh datangkan tidur. Allāh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan banyak pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang sholeh.

Dalam kehidupan kita juga demikian. Ketika kita benar-benar menjadi orang yang baik, kita berusaha untuk benar-benar mentaati Allāh, mentaati Rasul-Nya dengan sekuat tenaga.

Maka ketika ada kesulitan-kesulitan dalam kehidupan kita Allāh akan memberikan pertolongan kepada kita. Allāh akan memberikan pertolongan-Nya kepada kita apapun keadaannya. Sebagaimana disebutkan di dalam ayat yang lain. Di dalam QS At-Thalaq ayat 2.

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allāh Subhanahu Wa Ta'ala, Allāh akan memberikan solusi dalam kehidupannya.”

Memang bertakwa adalah sesuatu yang berat, bertakwa seringkali menjadikan seseorang terjatuh dalam masalah. Apalagi ketika zamannya sudah rusak, ketika keadaan sebagian besar masyarakat jauh dari Islam, orang yang bertakwa biasanya menemui banyak kendala. Tapi jangan sampai kita takut dengan ketakwaan kita. Allāh sudah jamin. Di dalam QS At-Thalaq ayat 2.
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allāh, Allāh akan berikan solusi dalam kehidupannya.”

Masalah rizki juga, jangan sampai kita khawatirkan. Dalam QS At-Thalaq ayat 3.

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ

“Allāh Subhanahu Wa Ta'ala pasti akan memberikan rizki kepada dia dari jalan yang tidak disangka-sangka.”

Ini pelajaran yang pertama yang sangat penting untuk kita fahami dengan baik. Lihatlah bala tentara Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Lihat para sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Mereka orang-orang yang sederhana tidak ada persiapan untuk perang dari Madinahnya. Mereka mengubah rencana itu ketika di tengah-tengah perjalanan. Sangat sederhana. Mereka juga jumlahnya sedikit.

Tapi lihat bagaimana Allāh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan pertolongan-Nya, pertolongan-Nya, pertolongan-Nya kepada mereka, sampai Allāh subhanahu wa ta'ala memenangkan mereka, begitu pula orang-orang yang sholeh akan mendapatkan hal yang sama. Maksudnya akan mendapatkan pertolongan dari Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.

2. Pelajaran yang kedua adalah bolehnya kita mengingatkan kebaikan kepada orang yang kita berikan kebaikan. Bolehnya kita mengingatkan kebaikan yang kita berikan kepada orang lain untuk kemaslahatan yang besar.

Lihat di dalam ayat ini Allāh Subhanahu Wa Ta'ala mengingatkan kepada kaum muslimin akan kebaikan yang Allāh berikan kepada mereka ketika itu. Agar mereka bersyukur kepada Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Agar mereka mengingat kebaikan-kebaikan Allāh Subhanahu Wa Ta'Ala kepada mereka. Agar mereka kembali kepada Allāh di saat-saat genting. Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla-lah yang mampu untuk menolong mereka.

Ketika ini diceritakan oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala di dalam ayat ini. Maka ini menunjukkan bahwa kita juga demikian. Apabila kita pernah melakukan kebaikan kepada orang lain dan di saat-saat tertentu kita butuh, kita perlu mengingatkan dia akan kebaikan kita kepada dia. Ada mashalat besar di sana, maka dibolehkan.

“Dulukan kamu pernah saya kasih seperti ini, kenapa engkau melakukan sesuatu yang tidak baik kepada saya?” Seperti ini mengingatkan kebaikan. Tapi tujuannya baik.

Agar orang tersebut tidak mendzalimi kita, agar orang tersebut ingat akan jasa-jasa kita, agar orang tersebut mau membantu kita. Tidak ada masalah. Yang penting kita masih menjaga keikhlasan kita. Dan kita tidak mengungkit-ungkit untuk tujuan yang tidak baik.

Ketika misalnya ada sebuah lembaga pendidikan yang selama 20 tahun selalu membantu masyarakatnya misalnya, kemudian setelah itu ternyata masyarakat tersebut ada yang tidak senang dengan lembaga itu. Sebagian dari masyarakat tersebut malah berniat tidak baik terhadap lembaga itu.

Maka lembaga tersebut dibolehkan untuk memberikan atau mengingatkan mereka tentang kebaikan- kebaikannya.

"Bukankah selama ini kami sudah membantu kalian? Coba ini ada dokumentasi dari tahun sekian sampai tahun sekian. Kami selalu menginginkan kebaikan untuk kalian. Kenapa kalian melakukan hal yang seperti ini kepada kami?"

Seperti ini tidak ada masalah. Karena apa? Ada mashalat yang besar di sana. Dan Allāh Subhanahu Wa Ta'ala di dalam Al-Qurān sering mengingatkan kita akan nikmat- nikmat Allāh yang Allāh berikan kepada kita. Tujuannya adalah agar kita kembali kepada Allāh, agar kita sangat bersyukur kepada Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.

Demikian yang bisa saya sampaikan dalam kesempatan kali ini. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan bermanfaat bagi kita semuanya. Mudah-mudahan Allāh berkahi ilmu kita.

Dan mudah-mudahan Allāh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk bisa mengamalkan ilmu ini dengan baik dan mudah. Dan juga bisa menyebarkannya kepada orang lain.

آمين آمين يارب العالمين
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين . والحمد لله ربّ العالمين .
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈┈•◈◉◉◈•┈┈┈•
AGAR MANUSIA TIDAK BIADAB

Tujuan utama Pendidikan Islam, menurut Prof. Syed
Muhammad Naquib al-Attas, dalam bukunya, Islam and Secularism,
(Kuala Lumpur, ISTAC, 1993), adalah untuk menghasilkan
orang yang baik (to produce a good man). Kata al-Attas, “The
aim of education in Islam is therefore to produce a goodman… the
fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab.” (hal. 150-151).

Siapakah manusia yang baik atau manusia beradab itu? Dalam
pandangan Islam, manusia seperti ini adalah manusia yang kenal
akan Tuhannya, tahu akan dirinya, menjadikan Nabi Muhammad
saw sebagai uswah hasanah, mengikuti jalan pewaris Nabi (ulama),
dan berbagai kriteria manusia beradab lainnya. Manusia beradab
juga harus memahami potensi dirinya dan bisa mengembangkan
potensinya, sebab potensi itu adalah amanah dari Allah swt.

Dalam al-Quran dikatakan, manusia diciptakan Allah untuk
beribadah kepada-Nya (QS adz-Dzariyat: 56) dan menjadi khalifah
Allah di muka bumi (QS al-Baqarah: 30). Manusia dikaruniai akal,
bukan hanya hawa nafsu dan naluri. Tugas manusia di bumi berbeda
dengan binatang. Manusia bukan hanya hidup untuk memenuhi
syahwat atau kepuasan jasadiahnya semata. Ada kebutuhan kebutuhan ruhaniah yang harus dipenuhinya juga. Semua fungsi
dan tugas manusia itu akan bisa dijalankan dengan baik dan benar
jika manusia menjadi seorang yang beradab.
Apakah adab itu? Mungkin, setiap manusia Indonesia hafal
bunyi sila kedua dari Pancasila, yaitu: “Kemanusiaan yang adil
dan beradab.” Tapi, apakah banyak yang paham, sebenarnya, apa
arti kata ”adil” dan kata ”beradab” dalam sila tersebut? Mungkin
Presiden atau para pejabat negara juga tidak paham benar apa makna
kata-kata “adil” dan “beradab”, sebab faktanya, banyak pejabat yang
perilaku dan kebijakannya tidak adil dan tidak beradab. Lihatlah,
banyak pejabat menggunakan mobil dan sarana mewah dengan
uang rakyat, padahal begitu banyak rakyat yang kelaparan, kurang
gizi, tidak bisa berobat dan kesulitan biaya pendidikan.
Seperti diketahui, rumusan sila kedua itu merupakan bagian
dari Piagam Jakarta yang dilahirkan oleh Panitia Sembilan BPUPK,
tahun 1945, dan kemudian disahkan dan diterima oleh bangsa
Indonesia, sampai hari ini. Sila kedua ini juga lolos dari sorotan
berbagai pihak yang keberatan terhadap sebagian isi Piagam Jakarta,
terutama rumusan sila pertama yang berbunyi: Ketuhanan, dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
Jika dicermati dalam sudut ”pandangan-alam Islam” (Islamic
worldview), lolosnya sila kedua sebagai bagian dari Pancasila, itu
cukup menarik. Itu menunjukkan, pengaruh besar dari konsep
Islam terhadap rumusan sila kedua tersebut. Perlu dicatat, rumusan
sila kedua itu sangat berbeda dengan rumusan yang diajukan oleh
Bung Karno pada 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPK. Ketika itu,
Bung Karno mengusulkan “lima sila” untuk Indonesia Merdeka,
yaitu: (1) Kebangsaan Indonesia (2) Internasionalisme atau
Perikemanusiaan (3) Mufakat atau Demokrasi (4) Kesejahteraan
Sosial (5) Ketuhanan.
The account of the user that owns this channel has been inactive for the last 5 months. If it remains inactive in the next 27 days, that account will self-destruct and this channel will no longer have an owner.
▪️🗓 RABU
| 23 Ramadhan 1442 H
| 05 Mei 2021 M

🎙 Oleh: Ustadz Anas Burhanuddin, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📕 Kajian Tematik Ramadhan 1442H

📖 Tadabbur Ayat Al-Quran Al-Isra: 82 Bagian Keempat
~•~•~•~•~

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
صلى الله وسلم عليه وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد

Masih bersama program tadabbur Al-Qurān dan kali ini kita akan mengupas firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam surat Al-Isra' ayat 82.

Yang bunyinya adalah:

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا

"Dan Kami turunkan dari Al-Qurān, ayat-ayat yang merupakan kesembuhan dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan dia tidak menambah orang-orang yang zhalim kecuali hanya kerugian.”

Ayat ini adalah ayat kabar, ada ayat yang berisi hukum-hukum Allāh Subhanahu wa Ta'ala, perintah, larangan, separuhnya lagi ayat-ayat berupa kabar.

Kalau kita melihat, kita cermati ayat ini adalah ayat yang berisi kabar.

Ibnu Katsīr mengatakan di dalam ayat ini, Allāh mengabarkan bahwasanya Al-Qurān adalah kesembuhan bagi orang-orang yang beriman, agar kita bisa mendapatkan pahala yang optimal dari ayat ini, di samping kita membacanya kemudian mentadabburinya, langkah selanjutnya adalah mengimani kabar yang ada di dalam ayat ini.

Jadi kalau Allāh telah mengatakan bahwasanya Al-Qurān (semua) ayatnya adalah kesembuhan, maka kita harus meyakini di dalam hati kita.

"Iya, aku meyakini dan menerima kabar ini bahwasanya semua ayat Al-Qurān adalah kesembuhan untuk penyakit hati dan fisik. Aku juga meyakini bahwasanya Al-Qurān adalah rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Dan hal ini kata Ibnu Qayyim membuat kita bisa lebih cepat sembuh. Semakin kita yakin, bahwasanya Al-Qurān adalah kesembuhan untuk kita, maka semakin mudah kita disembuhkan.

Semakin kita yakin bahwasanya Al-Qurān adalah rahmat untuk kita, maka kita akan semakin mudah untuk mendapatkan rahmat Allāh yang tersembunyi dalam Al-Qurān ini.

Jadi Al-Qurān adalah rahmat dan kesembuhan untuk orang-orang yang beriman. Hanya mereka yang bisa mengambil manfaat dari Al-Qurān, hanya mereka yang bisa menjadikan Al-Qurān sebagian kesembuhan dan rahmat.

Adapun selain mereka yaitu orang-orang yang kafir berlaku bagi mereka potongan ayat yang selanjutnya.

وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا

"Dan tidaklah Al-Qurān ini menambah orang-orang yang zhalim kecuali kerugian.”

Adapun orang-orang yang zhalim mereka semakin rugi, mereka mendengar Al-Qurān, mereka mendengarkan maknanya, tapi mereka tidak bisa mengambil manfaatnya.

Tidak bisa menjadikan sebagai kesembuhan terutama untuk hati mereka, untuk penyakit syubhat dan syahwat mereka, yang mereka dapatkan adalah semakin merugi, semakin sesat, semakin mendustakan, semakin kufur. Ini yang bisa mereka dapatkan.

⇒ zhalim artinya meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.

Dan kezhaliman dalam ayat ini artinya kezhaliman akbar (bukan kezhaliman biasa) yaitu kemusyrikan kepada Allāh Subhanahu wa Ta'ala dan kekufuran kepada-Nya. Allāh Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌۭ

"Sesungguhnya mempersekutukan (Allāh) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” [QS Luqman: 13]

Maka arti ayat ini adalah dan Al-Qurān tidak menambahkan orang-orang kafir kecuali kerugian.

Jadi orang-orang kafir akan semakin merugi dengan Al-Qurān, sebagaimana disebutkan di dalam ayat yang lain. Allāh Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَإِذَا مَآ أُنزِلَتْ سُورَةٌۭ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَـٰذِهِۦٓ إِيمَـٰنًۭا ۚ

Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?” [QS At-Taubah: 124]
Maksudnya mereka bertanya dengan pertanyaan seperti ini sebagai bentuk اِسْتَهْزَأَ (mengolok-olok Al-Qurān) mengejek Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam.

Dan jika diturunkan sebuah surat maka orang-orang munafik di antara mereka ada yang mengatakan, "Siapa di antara kalian yang bertambah iman dengan turunnya surat ini?".

Subhanallah, ini yang sering kita lihat dari orang-orang munafik, dari orang-orang kafir, mereka mengolok-olok agama kita. Sudah ada contohnya di zaman Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam dan diabadikan di dalam Al-Qurān.

Adapun Allāh membantah mereka dengan mengatakan:

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فَزَادَتْهُمْ إِيمَـٰنًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

"Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.” [QS At-Taubah: 124]

Semoga Allāh Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita memiliki sifat seperti ini, setiap membaca ayat bertambah keimanan kita, setiap membaca surat tambah keimanan kita, dan kita bergembira dengan Al-Qurān. Ini sifat orang-orang yang beriman.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا۟ وَهُمْ كَـٰفِرُونَ

"Adapun orang-orang yang di hati mereka ada penyakit (orang-orang munafik dan orang-orang kafir) maka mereka semakin bertambah kufur. Kekufuran di atas kekufuran mereka dan mereka mati dalam keadaan kafir.” [QS At-Taubah: 125]

Na'udzubillahi min dzalik

Jadi yang bisa mengambil manfaat ayat ini adalah orang-orang yang beriman, sedangkan orang-orang kafir tidak bisa mengambil manfaat dari ayat ini. Na'udzubillahi min dzalik.

Dan ditegaskan lagi di dalam ayat lain yang lebih dalam. Allāh Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِىٓ ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍ بَعِيدٍۢ

"Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Qurān itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.” [QS Fusshilat: 44]

Subhanallah. Mereka sudah mendengar ayat, terkadang mereka membaca maknanya, tetapi hati mereka tetap tertutup.

Allāh tutup hati mereka kecuali sebagian kecil yang Allāh bukakan hati mereka untuk hidayah, ada sebagian seperti itu.

Disebutkan dalam ayat ini,

أُو۟لَـٰٓئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍ بَعِيدٍ

“Mereka seperti orang-orang yang dipanggil dari jarak yang dekat.”

Dipanggil dari jarak dekat tetapi mereka tidak mendengar dan tidak menjawab. Itu rahasianya kenapa mereka tidak bisa mengambil manfaat? Karena ditelinga mereka ada sumbatan, Allāh jadikan sumbatan itu ditelinga mereka dan ayat Al-Qurān adalah kegelapan dan kebutaan bagi mereka.

Mereka tidak bisa memahaminya kecuali yang Allāh rahmati sehingga mereka mendapatkan petunjuk.

Qatadah rahimahullah mengatakan, ketika beliau menafsirkan ayat yang agung ini, QS Al-Isra 82: Beliau mengatakan:

“Dan jika Al-Qurān didengarkan oleh orang-orang yang beriman, mereka mengambil manfaat, menghapal dan memahaminya. Sedangkan jika Al-Qurān didengarkan oleh orang-orang kafir maka mereka tidak bisa mengambil manfaatnya, mereka tidak bisa menghapal dan memahaminya.

Karena Allāh Subhānahu wa Ta'ala telah menjadikan Al-Qurān sebagai kesembuhan dan rahmat bagi orang-orang yang beriman saja.

Adapun orang-orang kafir dan zhalim (Allāh mengatakan):

وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا

"Dan tidaklah Al-Qurān menambah mereka kecuali kerugian.”

Ini adalah sebuah ayat yang agung, yang diturunkan oleh Allāh kepada kita semua, dan dari ayat yang agung ini kita bisa menyimpulkan beberapa hal.

Di antaranya:

⑴ Al-Qurān diturunkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'ala yang Maha Tinggi, dengan demikian ayat ini merupakan salah satu dalil bahwasanya Allāh berada di atas Arsy.

⑵ Semua ayat Al-Qurān adalah kesembuhan dan penawar bagi orang-orang yang beriman yaitu untuk penyakit hati mereka, juga untuk penyakit fisik mereka.

⑶ Al-Qurān adalah rahmat bagi orang-orang yang beriman, di sana ada iman, hikmah, petunjuk (semua kebaikan ada di dalam Al-Qurān).
⑷ Konsep pensucian jiwa dalam Al-Qurān yang intinya adalah tasyfiyyah dan tarbiyyah.

√ Tasyfiyyah adalah menyembuhkan hati yang kotor, membersihkan penyakit-penyakit hati, membersihkan penyakit-penyakit fisik

√ Tarbiyyah adalah menumbuhkan hal-hal yang positif.

Tasyfiyyah dan tarbiyyah bisa kita simpulkan dari ayat yang agung ini.

⑸ Ayat ini adalah ayat kabar, maka wajib bagi kita untuk mengimani kabar yang Allāh sampaikan dalam ayat ini.

Bahwasanya Al-Qurān diturunkan dari Allāh kemudian Al-Qurān adalah kesembuhan, semua ayatnya adalah rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan kita mengimani bahwasanya orang-orang kafir tidak bisa mengambil manfaat dari Al-Qurān.

Pada kesimpulan poin ini kita bisa jabarkan secara ringkas, bahwa, "hanya orang-orang yang beriman yang bisa mengambil manfaat dari Al-Qurān".

⑹ Orang-orang kafir tidak bisa mengambil manfaat dari Al-Qurān justru mereka semakin rugi dan kafir dengan Al-Qurān yang mereka dengar dan mereka ketahui kandungannya.

Ini adalah beberapa kesimpulan yang bisa kita petik dari ayat yang agung ini, semoga semakin menambah iman kita dan menambah semangat kita untuk mendalami kandungan kalam ilahi yaitu Al-Qurān yang merupakan pedoman dan petunjuk bagi umat Islam.

Demikian, wallahu ta'ala a'lam.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈┈•◈◉◉◈•┈┈┈•
Muhammadiyah aplikasikan satu surat bisa sekaya ini, bagaimana jika seluruh isi al Quran?


Dalam sebuah majlis KH. Ahmad Dahlan, pak kyai hanya mengkaji surat al-Maun hingga beberapa kali tanpa berpindah ke surat-surat dalam al Quran berikutnya. Hal ini mengundang keheranan pada salah seorang muridnya, yang kemudian bertanya kepadanya:

Wahai pak kyai, kenapa kita hanya mengkaji surat al-Maun beberapa hari ini, diulang-ulang terus begitu, kenapa kita gak ganti surat, karena pengetahuan kami ingin bertambah?

Dengan senyum manisnya kyai Ahmad Dahlan bertanya kepada murid-muridnya semua:
Wahai murid-muridku, sudah kalian amalkan belum yang sudah saya ajarkan? karena ilmu itu harus diamalkan. Percuma mempunyai ilmu yang begitu banyak tapi tidak diamalkan. Ini jawaban kyai Ahmad Dahlan. Sudah diamalkan belum yang diajarkan itu.

Maka sekarang kita lihat, Muhammadiyah mempunyai universitas, mempunyai rumah sakit, mempunyai sekolah, mempunyai panti asuhan, mempunyai lembaga-lembaga sosial yang bisa membantu manusia. Tidak hanya menjadikan negeri ini semakin pintar semakin pandai, tetapi Muhammadiyah juga berperan dalam pembangunan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik, dengan sistem pendidikan yang luarbiasa.

Bahkan sekolah di Indonesia ini antara sekolah negeri dengan sekolah milik Muhammadiyah hampir imbang jumlahnya. Dan seluruh amal usaha Muhammadiyah ini bukan nama atau milik pribadi, perorangan, misal ini milik kyai ini, itu milik ustadz ini dan lain sebagainya, tetapi semuanya adalah milik lembaga, milik perserikatan Muhammadiyah dari bawah sampai atas, seluruhnya adalah milik Muhammadiyah, tidak ada yang milik pribadi.

Orang-orang Muhammadiyah benar-benar mewakafkan, tidak hanya harta tapi jiwa mereka juga untuk membesarkan Muhammadiyah, supaya Muhammadiyah itu menjadi satu organisasi yang memberikan manfaat kepada manusia.

inilah contoh, ketika sebuah amalan didasarkan kepada al Quran, dan al Quran bukan hanya menjadi teori, tetapi betul-betul dijalankan dalam kehidupan yang nyata, maka ia akan menjadi satu hal yang sangat luarbiasa besar.

Inilah yang ditakutkan orang-orang di luar Islam pada dasarnya. Andaikata seluruh isi al Quran diaplikasikan dalam kehidupan nyata, maka yang terjadi adalah kebahagiaan, seluruh isi sila dalam Pancasila akan dapat dicapai jika masyarakatnya menjalankan isi al Quran. Cita-cita Muhammadiyah adalah menjadikan negeri Indonesia adalah negeri yang Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS al A'raf 7:96)

Dari ayat ini jelas, bahwa penyebab negeri kita Indonesia ini banyak bencana, rakyat menjadi susah, negeri carut marut, hutang negara semakin besar, para pemimpinnya semakin kehilangan akal sehatnya, hanya memikirkan diri dan kroninya saja, adalah akibat kita mendustakan ayat-ayat Allah, kita zhalim kepada Allah.

Dan harus kita yakini bahwa dosa itu memiliki efek atau dampak yang negatif bagi kehidupan pribadi, kehidupan masyarakat dan bagi kehidupan bangsa. Inilah hikmah al Quran yang telah diajarkan oleh kanjeng Nabi Muhammad Saw kepada kita semua, al Quran adalah rahmat bagi seluruh manusia juga seluruh isi penghuni jagat alam raya ini.

Jadi jika kita menginginkan kehidupan yang baik, amalkan al Quran. Kalau kita menginginkan kehidupan kita itu menjadi sesuatu yang lebih indah, jadikan al Quran sebagai pedoman, jalankan apa yang ada di dalamnya. Teori saja tidak akan membuat kita menjadi lebih hebat lebih digdaya, hanya pengamalan terhadap ilmu yang akan menjadikan kita besar dan dikenang anak dan keturunan kita kelak.

العلم بلا عمل كشجرة بلا ثمر
Ilmu tanpa amal atau praktek seperti pohon yang tidak berbuah.

Dari seorang Kader Muhammadiyah Fii Sabiilillah
The account of the user that owns this channel has been inactive for the last 5 months. If it remains inactive in the next 19 days, that account will self-destruct and this channel will no longer have an owner.
Taqobbalallahu minnaa wa minkum Taqobbal Yaa Kariim. Semoga kita mampu menjaga kemuliaan ini dengan menjadi hamba Allah yang berTaqwa, aamiin (anas dan Keluarga)
Muslim adalah contoh terbaik mengenai hubungan kemanusiaan.

Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka” (HR. At Tirmidzi).

Maka secara fitrah bahkan sifatnya sudah perintah, manusia adalah makhluk sosial. Dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8-9, ayat ini berkenaan dengan peristiwa yang dialami anak dari Abu Bakar, yaitu Asma’.

Beliau bertanya pada Rasul, bahwa beliau ingin dikunjungi oleh ibunya yang masih musyrik dan hendak memberikan hadiah. Maka turunlah ayat ini, dimana tidak ada larangan untuk bertemu dengan orang yang tidak beriman asalkan mereka tidak mengusir mu’min.

Islam adalah agama dengan toleransi terbaik di seluruh bumi. Karena jika babnya toleransi, menyambung silaturrahmi bahkan kepada orang kafir. Quran dan hadist berbicara lengkap tentang ini. Suatu hari, Umar melihat seseorang yang sudah tua dan ngemis. Beliau membeli harta dari Baitul Maal. Kata Umar, “sungguh menjadi suatu hak yang tidak adil jika dulu kamu membayar jizyah tahunan pada Muslimin, tapi sekarang kami biarkan begitu saja.”

Muamalah yang baik, yang menguatkan hubungan pada manusia dengan akhlaq. Pada asalnya, tidak ada manusia yang ingin perang. Tapi perang pasti terjadi dalam kehidupan manusia.

Karena itulah, terdapat adab yang memandunya. Irhaabi, bahasa Al-Quran yang hari ini dipakai untuk menyebut teroris. Padahal tidak seperti itu adanya. Ayat itu berbicara tentang menakuti-nakuti musuh dengan aturan yang ditetapkan.

Baca sejarah, bagaimana semua Muslimin yang hendak perang pasti menggunakan fiqih dengan baik. Terjadinya perang karena makhluk sosial itu kalau ditekan pasti melawan. Ada orang yang mendzolimi pasti Muslimin melawan.
BAGAIMANA CARANYA MEMBEBASKAN BAITUL MAQDIS?

Bagaimana membebaskan Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis yang sekarang dijajah Zionis?

Bagaimana membebaskan Palestina dan Negeri Syam yang kini dijajah musuh-musuh Islam?

Al-Quran memerintahkan
Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam menuntunkan
Para Sahabat dan Pendahulu mencontohkan

In syaa Allah, kita bisa.

LANGKAH PERTAMA:
Meluruskan niat dan mengilmui.

Baca dan miliki
BUKU KECIL BAITUL MAQDIS
Mengenal Tanah Haram, Tanah Muqaddas, Negeri Syam dan Masjidil Aqsha

Penyusun:
Santi W Soekanto
dan Tim ISA - Institut Al-Aqsha untuk Riset Perdamaian

ISBN:
978-623-93482-5-0

Spesifikasi buku:
Ukuran A5, x + 160 hlm.
Kover Ivori 310 gram, laminasi doff-mate, spot-uv, emboss.
Isi artpaper 120 gram fullcolour.
Jahit benang dan lem panas. Kuat, nggak mudah protol.

BONUS 2 POSTER UKURAN BESAR (A2)
1. POSTER MASJIDIL AQSHA, Pusat Berkah Seluruh Dunia.
2. POSTER INFOGRAFIK, Rute Pergerakan Pasukan Pembebasan Asy-Syams dan Baitul Maqdis di Perang Ajnadin (13 H/ 634 M) dan Perang Yarmuk (15 H/ 636 M).

Mahar: 120.000 IDR

Info pembelian:

wa.me/62895386894755
BONUS PEMBELIAN BUKU KECIL BAITUL MAQDIS