TENTANG SEJARAH
Banyak orang yang menyangka bahwa menulis sejarah atau mempelajari sejarah adalah tentang masa lalu dan kepentingannya untuk masa lalu juga, padahal sebetulnya sangat salah.
Sejarah dipelajari, ditulis, dan disampaikan bukan untuk masa lalu, tetapi untuk kepentingan manusia masa kini. Maka, kalau mempelajari, mengkaji, dan menulis sejarah tidak mengkaitkannya dengan apa kita butuhkan hari ini, justru itu adalah tindakan ahistoris; tindakan yang tidak sesuai dengan karakter dari sejarah itu sendiri yang dibutuhkan oleh manusia hari ini.
Belum banyak orang yang memahami bahwa sejarah diceritakan oleh Allah itu bukan untuk kepentingan orang-orang di masa lalu, tetapi adalah untuk kepentingan kita.
Maka, kalau kita menyadari ini, menulis sejarah berarti harus diasaskan pada satu misi tertentu yang jelas, dimana misi tersebut akan ditentukan oleh ideologi orang yang menulis atau menceritakan sejarahnya masing-masing. Apabila ideologinya benar, maka sejarahnya pun akan diceritakan dengan benar. Namun, bila ideologinya rusak, maka sejarah itu pun akan dirusak sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Oleh sebab itu, kita yang membaca sejarah harus hati-hati dalam memilah dan memilih sejarah.
Nah, bagaimana caranya agar kita tidak salah dalam mempelajari sejarah? Mari simak video berikut ini untuk mengetahui jawabannya.
Banyak orang yang menyangka bahwa menulis sejarah atau mempelajari sejarah adalah tentang masa lalu dan kepentingannya untuk masa lalu juga, padahal sebetulnya sangat salah.
Sejarah dipelajari, ditulis, dan disampaikan bukan untuk masa lalu, tetapi untuk kepentingan manusia masa kini. Maka, kalau mempelajari, mengkaji, dan menulis sejarah tidak mengkaitkannya dengan apa kita butuhkan hari ini, justru itu adalah tindakan ahistoris; tindakan yang tidak sesuai dengan karakter dari sejarah itu sendiri yang dibutuhkan oleh manusia hari ini.
Belum banyak orang yang memahami bahwa sejarah diceritakan oleh Allah itu bukan untuk kepentingan orang-orang di masa lalu, tetapi adalah untuk kepentingan kita.
Maka, kalau kita menyadari ini, menulis sejarah berarti harus diasaskan pada satu misi tertentu yang jelas, dimana misi tersebut akan ditentukan oleh ideologi orang yang menulis atau menceritakan sejarahnya masing-masing. Apabila ideologinya benar, maka sejarahnya pun akan diceritakan dengan benar. Namun, bila ideologinya rusak, maka sejarah itu pun akan dirusak sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Oleh sebab itu, kita yang membaca sejarah harus hati-hati dalam memilah dan memilih sejarah.
Nah, bagaimana caranya agar kita tidak salah dalam mempelajari sejarah? Mari simak video berikut ini untuk mengetahui jawabannya.
BUKAN PEMBERI HARAPAN PALSU
Di dalam Al Qur'an, ada banyak sekali janji yang Allah sampaikan. Diantaranya adalah janji Allah untuk kemenangan agama ini, yaitu agama islam.
Ingat ya, kalau Allah yang beri janji, pasti ditepati. Karena yang hobby ngasih harapan palsu itu hanya manusia yang bahkan tak berkuasa terhadap dirinya sendiri.
Kalau yang janji adalah penguasa langit dan bumi. Sudah pasti akan terjadi. Mau tau apa yang Allah janjikan tentang kemenangan agama ini?
Silahkan simak baik-baik pada kajian "Dhuha penuh hikmah" di hari Jum'at yang penuh berkah bersama gurunda kita,
Pemateri : Ustadz Budi Ashari, Lc.
ema : Janji Al Quran untuk Kemenangan Islam
Live on : www.kursihikmah.id
Langsung daftarkan diri dan ajak orang lainnya untuk mengikuti Kajian Dhuha Penuh Hikmah di www.kursihikmah.id
Barakallah fiikum🧡
Kursihikmah.id
Simak kajian penuh hikmah tanpa biaya
#RamadhanBersamaKursiHikmah
#DhuhaPenuhHikmah
Di dalam Al Qur'an, ada banyak sekali janji yang Allah sampaikan. Diantaranya adalah janji Allah untuk kemenangan agama ini, yaitu agama islam.
Ingat ya, kalau Allah yang beri janji, pasti ditepati. Karena yang hobby ngasih harapan palsu itu hanya manusia yang bahkan tak berkuasa terhadap dirinya sendiri.
Kalau yang janji adalah penguasa langit dan bumi. Sudah pasti akan terjadi. Mau tau apa yang Allah janjikan tentang kemenangan agama ini?
Silahkan simak baik-baik pada kajian "Dhuha penuh hikmah" di hari Jum'at yang penuh berkah bersama gurunda kita,
Pemateri : Ustadz Budi Ashari, Lc.
ema : Janji Al Quran untuk Kemenangan Islam
Live on : www.kursihikmah.id
Langsung daftarkan diri dan ajak orang lainnya untuk mengikuti Kajian Dhuha Penuh Hikmah di www.kursihikmah.id
Barakallah fiikum🧡
Kursihikmah.id
Simak kajian penuh hikmah tanpa biaya
#RamadhanBersamaKursiHikmah
#DhuhaPenuhHikmah
Assalaamu'alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh
Ramadhan sering dikatakan sebagai syahrul quran
Syahrush shiyam
Syahrut tarbiyyah
Ramadhan adalah salah satu cara Allah mendidik hambaNya agar bertaqwa. Dengan Ramadhan Allah ingin memberi kelebihan-kelebihan dalam pahala.
Islam adalah agama ILMU, maka ILMU sangat ditekankan di dalam Islam
Nabi diutus Allah sebagai Nabi dan Rasul pada hakekatnya adalah sebagai murabbi, guru bagi kita semua umatnya.
Dalam sekolah, guru adalah bahan utama yang amat menentukan kualitas sebuah pendidikan. Gurunya baik maka insyaAllah hasil didikannya akan baik
Kenapa Indonesia (Nusantara) dapat bertahan dari penjajahan Portugis dan Belanda hingga 350 tahun lamanya?
Ini adalah kerja keras, pengorbanan harta dan nyawa dari para Ulama yang juga sebagai guru bagi anak bangsanya.
Syech Abdus Somad Falembangi, menulis buku saat itu di tengah kondisi penjajahan oleh Belanda berjudul Jihad Fii Sabilillah. Intinya buku ini mengajak rakyat untuk melawan mempertahankan agama dan negerinya yang hendak direbut penjajah.
Ulama sebagai guru mengarahkan bahwa penjajah harus dimusnahkan, keadilan harus ditegakkan.
Di tengah keputus-asaan Belanda terhadap kegigihan para ulama, santri dan rakyat yang terus melawannya, muncul seorang tokoh orientalis, Snouck Hurgronye, yang telah menyelesaikan doktornya tentang Haji. Beliau masuk Islam dan naik haji. Kelak kebohongannya ini dibongkar oleh kawannya sendiri sesama orientalis, bahwa keIslamannya hanyalah kedok semata untuk melumpuhkan perlawanan ulama dan santri.
Satu strateginya yang ampuh melawan kegigihan para ulama dan santri:
Dengan pendidikan dan pengajaran, kita lepaskan umat Islam dari belenggu agamanya.
Jadi kehebatan perlawan ulama, santri bersama rakyat saat itu adalah karena metode pendidikan Islam yang dijalankan ulama kepada masyarakat. Bukan karena mereka bangsa asing, bukan karena mereka berbeda agama, melainkan penjajah telah melakukan kedzaliman dan ketidakadilan terhadap bangsa ini.
Demikian mulianya ulama yang juga guru bangsanya, maka ada seorang guru dalam sebuah kesempatan di acara Maulid Nabi mengatakan:
Dikala kegundahan melanda, memikirkan sulitnya menaklukkan kenakalan anak didiknya, memahamkan mereka akan ilmu, memikirkan begitu banyaknya tugas yang harus diselesaikan, sang guru mengingat hadits Nabi berikut:
Innallaha wa malaaikatahu yusholluuna ala muallimin naasal khair, hattal khitan fil bahri wa namlatu fii zuhrihaa
Maka janganlah pernah seorang guru berhenti untuk belajar dan belajar. Guru adalah pejuang, walau gajinya tak sebanding dengan seorang dokter apalagi ahli IT, namun guru Allah muliakan lebih dari yang lainnya.
Wajib seseorang mengajarkan ilmu dan wajib bagi kita semua muslim untuk menuntut ILMU dari seorang guru. Tapi ingat akan tujuan kita menuntut ilmu.
Di tengah dunia yang sangat kapitalistik, semua dihargai dengan uang,kemuliaan dinilai dengan berapa banyak kekayaan yang kita miliki, membuat kita tertipu, kemudian menyekolahkan anak-anak kita agar bisa kerja di perusahaan A, bisa punya karir yang baik, bisa naik jabatan dan sebagainya. Padahal Nabi bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari hadits ini kita jadi tahu tujuan menuntut ilmu/belajar dalam Islam adalah untuk menjadi orang baik, orang shalih, untuk menggantikan generasi di depannya yang tidak amanah, korupsi, zhalim, dan ketidakbaikan lainnya untuk digantikan oleh generasi yang baik, yang shalih, yang tahu halal dan haram, yang semua tindakannya selalu berpedoman kepada al Quran dan Hadits Nabinya.
Kemudian tak lupa kita berdoa:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
Ramadhan sering dikatakan sebagai syahrul quran
Syahrush shiyam
Syahrut tarbiyyah
Ramadhan adalah salah satu cara Allah mendidik hambaNya agar bertaqwa. Dengan Ramadhan Allah ingin memberi kelebihan-kelebihan dalam pahala.
Islam adalah agama ILMU, maka ILMU sangat ditekankan di dalam Islam
Nabi diutus Allah sebagai Nabi dan Rasul pada hakekatnya adalah sebagai murabbi, guru bagi kita semua umatnya.
Dalam sekolah, guru adalah bahan utama yang amat menentukan kualitas sebuah pendidikan. Gurunya baik maka insyaAllah hasil didikannya akan baik
Kenapa Indonesia (Nusantara) dapat bertahan dari penjajahan Portugis dan Belanda hingga 350 tahun lamanya?
Ini adalah kerja keras, pengorbanan harta dan nyawa dari para Ulama yang juga sebagai guru bagi anak bangsanya.
Syech Abdus Somad Falembangi, menulis buku saat itu di tengah kondisi penjajahan oleh Belanda berjudul Jihad Fii Sabilillah. Intinya buku ini mengajak rakyat untuk melawan mempertahankan agama dan negerinya yang hendak direbut penjajah.
Ulama sebagai guru mengarahkan bahwa penjajah harus dimusnahkan, keadilan harus ditegakkan.
Di tengah keputus-asaan Belanda terhadap kegigihan para ulama, santri dan rakyat yang terus melawannya, muncul seorang tokoh orientalis, Snouck Hurgronye, yang telah menyelesaikan doktornya tentang Haji. Beliau masuk Islam dan naik haji. Kelak kebohongannya ini dibongkar oleh kawannya sendiri sesama orientalis, bahwa keIslamannya hanyalah kedok semata untuk melumpuhkan perlawanan ulama dan santri.
Satu strateginya yang ampuh melawan kegigihan para ulama dan santri:
Dengan pendidikan dan pengajaran, kita lepaskan umat Islam dari belenggu agamanya.
Jadi kehebatan perlawan ulama, santri bersama rakyat saat itu adalah karena metode pendidikan Islam yang dijalankan ulama kepada masyarakat. Bukan karena mereka bangsa asing, bukan karena mereka berbeda agama, melainkan penjajah telah melakukan kedzaliman dan ketidakadilan terhadap bangsa ini.
Demikian mulianya ulama yang juga guru bangsanya, maka ada seorang guru dalam sebuah kesempatan di acara Maulid Nabi mengatakan:
Dikala kegundahan melanda, memikirkan sulitnya menaklukkan kenakalan anak didiknya, memahamkan mereka akan ilmu, memikirkan begitu banyaknya tugas yang harus diselesaikan, sang guru mengingat hadits Nabi berikut:
Innallaha wa malaaikatahu yusholluuna ala muallimin naasal khair, hattal khitan fil bahri wa namlatu fii zuhrihaa
Maka janganlah pernah seorang guru berhenti untuk belajar dan belajar. Guru adalah pejuang, walau gajinya tak sebanding dengan seorang dokter apalagi ahli IT, namun guru Allah muliakan lebih dari yang lainnya.
Wajib seseorang mengajarkan ilmu dan wajib bagi kita semua muslim untuk menuntut ILMU dari seorang guru. Tapi ingat akan tujuan kita menuntut ilmu.
Di tengah dunia yang sangat kapitalistik, semua dihargai dengan uang,kemuliaan dinilai dengan berapa banyak kekayaan yang kita miliki, membuat kita tertipu, kemudian menyekolahkan anak-anak kita agar bisa kerja di perusahaan A, bisa punya karir yang baik, bisa naik jabatan dan sebagainya. Padahal Nabi bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari hadits ini kita jadi tahu tujuan menuntut ilmu/belajar dalam Islam adalah untuk menjadi orang baik, orang shalih, untuk menggantikan generasi di depannya yang tidak amanah, korupsi, zhalim, dan ketidakbaikan lainnya untuk digantikan oleh generasi yang baik, yang shalih, yang tahu halal dan haram, yang semua tindakannya selalu berpedoman kepada al Quran dan Hadits Nabinya.
Kemudian tak lupa kita berdoa:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
Dan semoga Allah menjadikan kita hambanya yang Inna Akramakum 'Indallahi atqookum
Panglima besar Muslim Musa bin Nushair, setelah jihadnya memenuhi, dengan kepemimpinannya terhadap misi perluasan Islam Maghrib Islam (Afrika Utara dan Andalusia), lalu ia mengerahkan para penyeru kebenaran untuk meperdengarkan kebaikan pada para penduduk negri itu, hingga akhirnya mereka keluar dari kegelapan pada cahaya yg nyata. Musa bin Nushair memimpin jihad di semenanjung Andalusia saat usianya telah mencapai 75 tahun. Namun ia masih menarik tali kekang kudanya, menuruni lembah dan menaiki pegunungan wilayah tersebut.
Di dalam dirinya terus bergerak iman pada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa, sehingga dirinya terus merasa mulia, kekuatannya terus terperbaharui dan mendorongnya untuk menegakan kalimat Allah dan meninggikan panjinya di setiap tempat.
Kekuatan fisiknya pun terdorong kuat meskipun kepalanya dipenuhi dengan uban yang semakin memutih.
Desakan akidah yang lapang dan obsesi keimanan yang membara terus menuntunnya. Kalimat Allah terus menggerakkan potensinya dan kekuatan kalimat itu membuatnya terbang tinggi meninggalkan semua paradigma keduniaan.
Paradigma/pandangan keduniaan akan mengatakan "mana mungkin seorang yang telah berada di usia senja, yaitu 75 tahun, mampu untuk memimpin dan menjadi panglima perang".
Namun Musa bin Nushair telah mematahkan paradigma tersebut dengan keimanan yang tertancap begitu kokoh di dadanya. Hingga di usia senja Musa bin Nushair Mampu memberi kemenangan yang gemilang pada umat Muslim.
Di dalam dirinya terus bergerak iman pada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa, sehingga dirinya terus merasa mulia, kekuatannya terus terperbaharui dan mendorongnya untuk menegakan kalimat Allah dan meninggikan panjinya di setiap tempat.
Kekuatan fisiknya pun terdorong kuat meskipun kepalanya dipenuhi dengan uban yang semakin memutih.
Desakan akidah yang lapang dan obsesi keimanan yang membara terus menuntunnya. Kalimat Allah terus menggerakkan potensinya dan kekuatan kalimat itu membuatnya terbang tinggi meninggalkan semua paradigma keduniaan.
Paradigma/pandangan keduniaan akan mengatakan "mana mungkin seorang yang telah berada di usia senja, yaitu 75 tahun, mampu untuk memimpin dan menjadi panglima perang".
Namun Musa bin Nushair telah mematahkan paradigma tersebut dengan keimanan yang tertancap begitu kokoh di dadanya. Hingga di usia senja Musa bin Nushair Mampu memberi kemenangan yang gemilang pada umat Muslim.
KABAR GEMBIRA DAN ANCAMAN UNTUK PARA PENUNTUT ILMU
Di tengah nasib guru yang sering dianggap profesi buangan, gaji kecil tak sebanding dengan gaji seorang dokter, ahli IT, bahkan saat ini perannya dalam pengajaran semakin dibatasi dengan delik hukum yang menakutkan, sehingga membuat para guru semakin sulit dan berat menjalankan fungsinya sebagai teladan yang mengajarkan kebaikan, mengajarkan adab dan akhlak kepada muridnya. Nabi memberi kabar gembira kepada mereka para guru yang ikhlas, berkomitmen untuk berjuang mencerdaskan kehidupan generasi, dengan sabdanya sebagai berikut:
“Sesungguhnya Allah, para malaikat dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bershalawat kepada muallim (orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia."
(HR. Tirmidzi)
Teruslah para guru belajar jangan pernah berhenti untuk menambah kapasitas keilmuannya, karena dengan ilmu kalianlah generasi mampu mengawal peradaban gemilang di masa depan kelak.
Tantangan untuk para penuntut ilmu, janganlah pernah engkau niatkan belajarmu hanya sekedar untuk meraih pekerjaan, memuluskan karir atau demi mengejar jabatan, karena sesungguhnya tujuan menuntut ilmu dalam agama ini adalah agar kita menjadi orang baik, yang berjalan di atas syariat Allah dan Rasul, yang bisa membedakan yang halal dan haram, menjauhi perilaku zalim, tidak adil, korupsi, tidak amanah, tidak jujur dan sifat-sifat jelek lainnya, yang mampu menjaga bumi dari kerusakan, dari menipisnya lapisan ozon, dari rusaknya tanah sehingga tidak kuasa lagi menumbuhkan tanaman untuk kebutuhan manusia, sehingga dengannya kesejahteraan, keamanan dan kedamaian tercipta dan dinikmati semua penghuni bumi, tidak hanya manusia, bahkan binatang, tumbuhan dan batu-batuanpun merasakan semua kebaikan itu.
Nabi memberi peringatan kepada para penuntut ilmu dalam sebuah haditnya:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allâh ‘Azza Wa Jalla, tetapi ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium bau Surga pada hari Kiamat. [HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, Shahîh ath-Targhib, no. 105]
Di tengah kondisi yang serba kapitalistik, semua dinilai dengan uang, semua diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri kapitalis, membuat para penuntut ilmu kehilangan fokusnya, mereka terbawa arus dan mulai berilmu untuk mengejar gaji, kekayaan, karir dan jabatan.
Melalui peringatan ini semoga kita para penuntut ilmu tersadarkan, dan mulai kembali kepada keasliannya dalam menuntut ilmu. Dan memilih jurusan atau memilih ilmu yang akan didalami tidak lagi berdasarkan kebutuhan industri semata namun juga mulai melihat kebutuhan manusia saat ini, apa yang mereka butuhkan, ilmu apa yang bisa membuat masyarakat/umat semakin cerdas, shalih serta bertaqwa. Semoga dengan bekal itu kita semua masuk ke dalam kategori orang-orang yang Allah SWT sebut dalam FirmanNya:
ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.
Di tengah nasib guru yang sering dianggap profesi buangan, gaji kecil tak sebanding dengan gaji seorang dokter, ahli IT, bahkan saat ini perannya dalam pengajaran semakin dibatasi dengan delik hukum yang menakutkan, sehingga membuat para guru semakin sulit dan berat menjalankan fungsinya sebagai teladan yang mengajarkan kebaikan, mengajarkan adab dan akhlak kepada muridnya. Nabi memberi kabar gembira kepada mereka para guru yang ikhlas, berkomitmen untuk berjuang mencerdaskan kehidupan generasi, dengan sabdanya sebagai berikut:
“Sesungguhnya Allah, para malaikat dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bershalawat kepada muallim (orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia."
(HR. Tirmidzi)
Teruslah para guru belajar jangan pernah berhenti untuk menambah kapasitas keilmuannya, karena dengan ilmu kalianlah generasi mampu mengawal peradaban gemilang di masa depan kelak.
Tantangan untuk para penuntut ilmu, janganlah pernah engkau niatkan belajarmu hanya sekedar untuk meraih pekerjaan, memuluskan karir atau demi mengejar jabatan, karena sesungguhnya tujuan menuntut ilmu dalam agama ini adalah agar kita menjadi orang baik, yang berjalan di atas syariat Allah dan Rasul, yang bisa membedakan yang halal dan haram, menjauhi perilaku zalim, tidak adil, korupsi, tidak amanah, tidak jujur dan sifat-sifat jelek lainnya, yang mampu menjaga bumi dari kerusakan, dari menipisnya lapisan ozon, dari rusaknya tanah sehingga tidak kuasa lagi menumbuhkan tanaman untuk kebutuhan manusia, sehingga dengannya kesejahteraan, keamanan dan kedamaian tercipta dan dinikmati semua penghuni bumi, tidak hanya manusia, bahkan binatang, tumbuhan dan batu-batuanpun merasakan semua kebaikan itu.
Nabi memberi peringatan kepada para penuntut ilmu dalam sebuah haditnya:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allâh ‘Azza Wa Jalla, tetapi ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium bau Surga pada hari Kiamat. [HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, Shahîh ath-Targhib, no. 105]
Di tengah kondisi yang serba kapitalistik, semua dinilai dengan uang, semua diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri kapitalis, membuat para penuntut ilmu kehilangan fokusnya, mereka terbawa arus dan mulai berilmu untuk mengejar gaji, kekayaan, karir dan jabatan.
Melalui peringatan ini semoga kita para penuntut ilmu tersadarkan, dan mulai kembali kepada keasliannya dalam menuntut ilmu. Dan memilih jurusan atau memilih ilmu yang akan didalami tidak lagi berdasarkan kebutuhan industri semata namun juga mulai melihat kebutuhan manusia saat ini, apa yang mereka butuhkan, ilmu apa yang bisa membuat masyarakat/umat semakin cerdas, shalih serta bertaqwa. Semoga dengan bekal itu kita semua masuk ke dalam kategori orang-orang yang Allah SWT sebut dalam FirmanNya:
ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.
Kontribusi pemuda dalam peradaban
Apa yang harus mereka lakukan di masa muda kehidupan mereka?
Masa muda adalah masa mengambil, masa mengumpulkan, mengambil dan mengumpulkan sebanyak mungkin ilmu, kebaikan, teladan dan kebijaksanaan, yang mana kelak nanti pada waktunya mereka akan rasakan manfaatnya di masa mereka harus berjuang.
Berjuang melawan kezaliman, ketidakadilan, kebathilan, kesewnang-wenangan, untuk mewujudkan negara yang BALDATUN THOYYIBATUN WA RABBUN GHAFUUR.
Itulah KONTRIBUSI PEMUDA TERTINGGI SAAT INI, jangan engkau rusak wahai pemuda, masa mudamu dengan Gadget dan permainan yang melenakan yang membuatmu tak layak masuk ke dalam gerbong peradaban ini.
#pemudaIslam #pemudaperadaban #pemudaharapan
https://youtu.be/kKU0cpRgC-k
Apa yang harus mereka lakukan di masa muda kehidupan mereka?
Masa muda adalah masa mengambil, masa mengumpulkan, mengambil dan mengumpulkan sebanyak mungkin ilmu, kebaikan, teladan dan kebijaksanaan, yang mana kelak nanti pada waktunya mereka akan rasakan manfaatnya di masa mereka harus berjuang.
Berjuang melawan kezaliman, ketidakadilan, kebathilan, kesewnang-wenangan, untuk mewujudkan negara yang BALDATUN THOYYIBATUN WA RABBUN GHAFUUR.
Itulah KONTRIBUSI PEMUDA TERTINGGI SAAT INI, jangan engkau rusak wahai pemuda, masa mudamu dengan Gadget dan permainan yang melenakan yang membuatmu tak layak masuk ke dalam gerbong peradaban ini.
#pemudaIslam #pemudaperadaban #pemudaharapan
https://youtu.be/kKU0cpRgC-k
YouTube
Pemuda dan Peradaban
Kontribusi pemuda dalam peradabanApa yang harus mereka lakukan di masa muda kehidupan mereka? masa muda adalah masa mengambil, mengambil sebanyak mungkin ilm...
Abdurrahman Al-Awsath
Sepeninggal Al-Hakam bin Hisyam, yg menduduki posisi kepemimpinan adalah putranya adalah Abdurrahman II. Dialah kemudian yg dikenal dalam sejarah dengan nama Abdurrahman Al-Awsath (anak pertengahan antara Abdurrahman Ad-Dakhil dan Abdurrahman An-Nashir). Ia memerintah pada tahun 206 H (821 M) hingga 238 H (852 M).
Masa kepemimpinannya dianggap sebagai fase terbaik dalam sejarah Andalusia. Ia mulai menghidupkan kembali jihad menghadapi pihak kristen di bagian Utara, dan berhasil menimpakan beberapa kekalahan pada mereka.
Ia seorang yg mempunyai perilaku yg baik, berkepribadian tenang, mencintai ilmu, dan mencintai rakyatnya.
Di antara hal-hal yg menjadi keistimewaan periode Abdurrahman Al-Ausath adalah:
Perkembangan Peradaban Keilmuan
Di antara ulama yg termasyhur di masanya adalah Abbas bin Firnas (274 H/887M), kunyahnya adalah Abu Al-Qasim. Beliau penduduk Cordova, dan bertempat tinggal di Barabar (Tacrina). Abbas bin Firnas hidup di abad ke 9 Masehi.
Abbas bin Firnas adalah orang yg pertama kali menggagas pembuatan kaca dari bebatuan dan pembuatan jam untuk mengetahui waktu.
Dialah penerbang pertama yg membelah langit; ia bermaksud menerbangkan tubuhnya, maka ia menutupi tubuhnya dengan bulu lalu memasang 2 sayap. Kemudian terbang di udara dengan jarak yg cukup jauh. Ia akhirnya jatuh hingga menyebabkan punggungnya sakit, karena ia tidak membuat ekor buatan. Ia tidak tahu bahwa seekor burung itu akan jatuh karena ekornya.
As-Shafady telah memaparkan banyak sekali pujian terhadapnya, memgatakan bahwa Abbas bin Firnas mempunyai sosok manusia dengan kecerdasan jin.
Sepeninggal Al-Hakam bin Hisyam, yg menduduki posisi kepemimpinan adalah putranya adalah Abdurrahman II. Dialah kemudian yg dikenal dalam sejarah dengan nama Abdurrahman Al-Awsath (anak pertengahan antara Abdurrahman Ad-Dakhil dan Abdurrahman An-Nashir). Ia memerintah pada tahun 206 H (821 M) hingga 238 H (852 M).
Masa kepemimpinannya dianggap sebagai fase terbaik dalam sejarah Andalusia. Ia mulai menghidupkan kembali jihad menghadapi pihak kristen di bagian Utara, dan berhasil menimpakan beberapa kekalahan pada mereka.
Ia seorang yg mempunyai perilaku yg baik, berkepribadian tenang, mencintai ilmu, dan mencintai rakyatnya.
Di antara hal-hal yg menjadi keistimewaan periode Abdurrahman Al-Ausath adalah:
Perkembangan Peradaban Keilmuan
Di antara ulama yg termasyhur di masanya adalah Abbas bin Firnas (274 H/887M), kunyahnya adalah Abu Al-Qasim. Beliau penduduk Cordova, dan bertempat tinggal di Barabar (Tacrina). Abbas bin Firnas hidup di abad ke 9 Masehi.
Abbas bin Firnas adalah orang yg pertama kali menggagas pembuatan kaca dari bebatuan dan pembuatan jam untuk mengetahui waktu.
Dialah penerbang pertama yg membelah langit; ia bermaksud menerbangkan tubuhnya, maka ia menutupi tubuhnya dengan bulu lalu memasang 2 sayap. Kemudian terbang di udara dengan jarak yg cukup jauh. Ia akhirnya jatuh hingga menyebabkan punggungnya sakit, karena ia tidak membuat ekor buatan. Ia tidak tahu bahwa seekor burung itu akan jatuh karena ekornya.
As-Shafady telah memaparkan banyak sekali pujian terhadapnya, memgatakan bahwa Abbas bin Firnas mempunyai sosok manusia dengan kecerdasan jin.
Perkembangan Peradaban Fisik
Abdurrahman Al-Ausath juga memberi perhatian yg besar terhadap peradaban materil (pembangunan fisik, ekonomi, dan yang lainnya).
Karena itu, gerakan perdagangan berkembang pesat di masanya, yg menyebabkan perputaran uang semakin banyak. Penting juga kita ketahui bahwa dalam megeri Andalusia sama sekali tidak ada yg disebut "meminta-minta", karena begitu makmurnya.
Abdurrahman Al-Ausath juga memberi perhatian yg besar terhadap peradaban materil (pembangunan fisik, ekonomi, dan yang lainnya).
Karena itu, gerakan perdagangan berkembang pesat di masanya, yg menyebabkan perputaran uang semakin banyak. Penting juga kita ketahui bahwa dalam megeri Andalusia sama sekali tidak ada yg disebut "meminta-minta", karena begitu makmurnya.
Peristiwa Bangsa Viking
Di masa Abdurrahman Al-Ausath pada tahun 230 H (845 M), suku viking menyerang Sevilla melalui jalur laut dengan membawa 54 perahu. Mereka memasukinya dengan melakukan kerusakan besar hingga memyebabkan Sevilla hancur. Mereka merampas kekayaannya, menginjak kehormatan, lalu mereka meninggalkannya menuju wilayah lain. Mereka menebarkan ketakutan dan kengerian. Inilah tabiat pertempuran yg bersifat materil secara umum. Sangat berbeda dengan penaklukan yg di lakukan kaum Muslimin.
Maka ketika Abdurrahman Al-Ausath memgetahui hal ini, ia segera menyiapkan pasukan dan perbekalannya. Dan dalam kurun waktu 100 hari tepat, pertempuran sengit antara mereka terjadi. Selama itu, 35 perahu Viking berhasil di tenggelamkan, dan Allah pun mengaruniakan kemenangan pada kaum muslimin. Bangsa Viking pun kembali ke Negeri Mereka dengan Kekalahan dan Kerugian.
Setelah itu Abdurrahman Al-Ausath tidak segera beristirahat. Ia malah bekerja untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yg menyebabkan masuknnya orang-orang Viking ke dalam Negerinya.
Akibat kekalahan Viking utusan Denmark pun datang membawa berbagai hadiah meminta belas kasih kaum muslimin dan memohon perjanjian damai dengan mereka.
Negara Islam di masa Abdurrahman ini menjadi begitu kuat hingga berbagai hadiahpun datang dari Konstantinopel.
(Bangkit dan Runtuhnya Andalusia halaman 196-199)
Di masa Abdurrahman Al-Ausath pada tahun 230 H (845 M), suku viking menyerang Sevilla melalui jalur laut dengan membawa 54 perahu. Mereka memasukinya dengan melakukan kerusakan besar hingga memyebabkan Sevilla hancur. Mereka merampas kekayaannya, menginjak kehormatan, lalu mereka meninggalkannya menuju wilayah lain. Mereka menebarkan ketakutan dan kengerian. Inilah tabiat pertempuran yg bersifat materil secara umum. Sangat berbeda dengan penaklukan yg di lakukan kaum Muslimin.
Maka ketika Abdurrahman Al-Ausath memgetahui hal ini, ia segera menyiapkan pasukan dan perbekalannya. Dan dalam kurun waktu 100 hari tepat, pertempuran sengit antara mereka terjadi. Selama itu, 35 perahu Viking berhasil di tenggelamkan, dan Allah pun mengaruniakan kemenangan pada kaum muslimin. Bangsa Viking pun kembali ke Negeri Mereka dengan Kekalahan dan Kerugian.
Setelah itu Abdurrahman Al-Ausath tidak segera beristirahat. Ia malah bekerja untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yg menyebabkan masuknnya orang-orang Viking ke dalam Negerinya.
Akibat kekalahan Viking utusan Denmark pun datang membawa berbagai hadiah meminta belas kasih kaum muslimin dan memohon perjanjian damai dengan mereka.
Negara Islam di masa Abdurrahman ini menjadi begitu kuat hingga berbagai hadiahpun datang dari Konstantinopel.
(Bangkit dan Runtuhnya Andalusia halaman 196-199)
Ustadz Dr. Musyaffa' Addariny, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📕 Kajian Tematik Ramadhan 1442H
🔈 Audio ke-14
📖 Tadabbur Ayat Al-Quran Al-Anfal: 11 Bagian Pertama
~•~•~•~•~
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ, أَمَّا بَعْدُ
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدى مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَأِنّ وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Jama'ah kaum muslimin dan muslimat yang semoga dimuliakan dan dirahmati oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Alhamdulillah pada kesempatan yang baik ini kita bisa bertemu dalam acara ini.
Acara yang mengajak kita semuanya untuk merenungi firman-firman Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Perkataan yang paling mulia, perkataan yang paling benar, perkataan yang tidak mungkin bengkok sedikitpun, tidak mungkin ada penyimpangan sedikitpun.
Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas ayat yang ke-11 dari Surat Al-Anfal. Ayat tersebut berbunyi :
إِذْ يُغَشِّيكُمُ ٱلنُّعَاسَ أَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِۦ وَيُذْهِبَ عَنكُمْ رِجْزَ ٱلشَّيْطَٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلْأَقْدَامَ
Yang artinya: “Ingatlah ketika Allāh Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan kalian mengantuk, untuk memberikan ketentraman dari Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Dan ingatlah juga ketika Allāh Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan air hujan dari langit kepada kalian, untuk mensucikan kalian dengan hujan tersebut, dan untuk menghilangkan gangguan-gangguan syaitan dari diri kalian, dan untuk menguatkan hati kalian serta memantapkan langkah kaki kalian.”
Ayat ini menjelaskan tentang kejadian yang terjadi di malam Perang Badar. Jadi Perang Badar itu di hari Jum'at, ayat ini menjelaskan tentang waktu di malam Jum'atnya. Ketika kaum muslimin sudah sampai di daerah Badar.
Ketika itu keadaan kaum muslimin sangat payah. Mereka kecapekan, mereka kehausan dan mereka tidak mendapatkan tempat yang lebih baik dari kaum musyrikin ketika itu. Akhirnya ada was-was dari syaitan. Syaitan melemparkan was-was ke hati-hati kaum muslimin.
Dia (syaitan) mengatakan, “Lihatlah keadaan kalian. Katanya kalian dalam keadaan yang benar, katanya kalian dalam keadaan yang lurus, katanya kalian hamba-hamba Allāh yang dicintai oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Lihat diri kalian. Kalian kehausan, kalian juga kelelahan, tempat kalian juga tidak baik, lebih baik kaum musyrikin. Coba sebagian dari kalian juga ada yang sampai junub, tapi tidak mendapatkan air. Ini menunjukkan bahwa kalian tidak berada di atas jalan yang benar, ini menunjukkan bahwa Allāh Subhanahu Wa Ta'ala tidak sayang kepada kalian.”
Syaitan memberikan was-was ini sehingga sebagian dari kaum muslimin hatinya menjadi kurang teguh.
Akhirnya Allāh Subhanahu Wa Ta'ala, karena sayangnya Allāh Subhanahu Wa Ta'Ala kepada kaum muslimin yang taat kepada-Nya, Allāh menurunkan hujan ketika itu. Padahal ketika itu adalah musim panas, harusnya tidak turun hujan, tapi Allāh turunkan hujan.
Allāh turunkan hujan untuk apa? Agar kaum muslimin bisa minum. Yang tadinya kehausan kaum muslimin bisa minum, kemudian kaum muslimin bisa berwudhu. Karena ketika itu belum ada syariat tayamum. Yang junub bisa mandi, sehingga was-was syaitan menjadi hilang.
Kemudian tanah yang tadinya sulit untuk dibuat berjalan, tanah tersebut ketika terkena air menjadi lebih padat dan bisa mudah untuk dijadikan sebagai jalan (dibuat berjalan menjadi mudah). Ini bantuan yang sangat besar dari Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.
📕 Kajian Tematik Ramadhan 1442H
🔈 Audio ke-14
📖 Tadabbur Ayat Al-Quran Al-Anfal: 11 Bagian Pertama
~•~•~•~•~
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ, أَمَّا بَعْدُ
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدى مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَأِنّ وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Jama'ah kaum muslimin dan muslimat yang semoga dimuliakan dan dirahmati oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Alhamdulillah pada kesempatan yang baik ini kita bisa bertemu dalam acara ini.
Acara yang mengajak kita semuanya untuk merenungi firman-firman Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Perkataan yang paling mulia, perkataan yang paling benar, perkataan yang tidak mungkin bengkok sedikitpun, tidak mungkin ada penyimpangan sedikitpun.
Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas ayat yang ke-11 dari Surat Al-Anfal. Ayat tersebut berbunyi :
إِذْ يُغَشِّيكُمُ ٱلنُّعَاسَ أَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِۦ وَيُذْهِبَ عَنكُمْ رِجْزَ ٱلشَّيْطَٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلْأَقْدَامَ
Yang artinya: “Ingatlah ketika Allāh Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan kalian mengantuk, untuk memberikan ketentraman dari Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Dan ingatlah juga ketika Allāh Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan air hujan dari langit kepada kalian, untuk mensucikan kalian dengan hujan tersebut, dan untuk menghilangkan gangguan-gangguan syaitan dari diri kalian, dan untuk menguatkan hati kalian serta memantapkan langkah kaki kalian.”
Ayat ini menjelaskan tentang kejadian yang terjadi di malam Perang Badar. Jadi Perang Badar itu di hari Jum'at, ayat ini menjelaskan tentang waktu di malam Jum'atnya. Ketika kaum muslimin sudah sampai di daerah Badar.
Ketika itu keadaan kaum muslimin sangat payah. Mereka kecapekan, mereka kehausan dan mereka tidak mendapatkan tempat yang lebih baik dari kaum musyrikin ketika itu. Akhirnya ada was-was dari syaitan. Syaitan melemparkan was-was ke hati-hati kaum muslimin.
Dia (syaitan) mengatakan, “Lihatlah keadaan kalian. Katanya kalian dalam keadaan yang benar, katanya kalian dalam keadaan yang lurus, katanya kalian hamba-hamba Allāh yang dicintai oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Lihat diri kalian. Kalian kehausan, kalian juga kelelahan, tempat kalian juga tidak baik, lebih baik kaum musyrikin. Coba sebagian dari kalian juga ada yang sampai junub, tapi tidak mendapatkan air. Ini menunjukkan bahwa kalian tidak berada di atas jalan yang benar, ini menunjukkan bahwa Allāh Subhanahu Wa Ta'ala tidak sayang kepada kalian.”
Syaitan memberikan was-was ini sehingga sebagian dari kaum muslimin hatinya menjadi kurang teguh.
Akhirnya Allāh Subhanahu Wa Ta'ala, karena sayangnya Allāh Subhanahu Wa Ta'Ala kepada kaum muslimin yang taat kepada-Nya, Allāh menurunkan hujan ketika itu. Padahal ketika itu adalah musim panas, harusnya tidak turun hujan, tapi Allāh turunkan hujan.
Allāh turunkan hujan untuk apa? Agar kaum muslimin bisa minum. Yang tadinya kehausan kaum muslimin bisa minum, kemudian kaum muslimin bisa berwudhu. Karena ketika itu belum ada syariat tayamum. Yang junub bisa mandi, sehingga was-was syaitan menjadi hilang.
Kemudian tanah yang tadinya sulit untuk dibuat berjalan, tanah tersebut ketika terkena air menjadi lebih padat dan bisa mudah untuk dijadikan sebagai jalan (dibuat berjalan menjadi mudah). Ini bantuan yang sangat besar dari Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.
Hujan memberikan kepada mereka manfaat yang sangat besar. Kemudian setelah itu Allāh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan kenikmatan kepada mereka rasa ngantuk. Mereka kelelahan, mereka berada di situasi yang sulit. Allāh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan rasa kantuk kepada mereka.
Tujuannya apa? Agar mereka bisa beristirahat dengan baik. Di malam peperangan, ketika seseorang bisa beristirahat dengan baik maka paginya dia akan semangat, dengan semangat yang penuh untuk menghadapi musuhnya.
Dengan tidur yang nyenyak jiwa menjadi tenang, dengan tidur yang nyenyak tenaga menjadi kembali fit. Dan inilah yang diinginkan oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala dari rasa kantuk tersebut.
Sehingga kaum muslimin di hari Perang Badarnya menjadi benar-benar bisa semangat untuk mengikuti perang, benar-benar bisa terbantu dalam mengalahkan musuh-musuh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.
Inilah yang dijelaskan di dalam ayat yang ke-11 ini.
Ayat yang ke-11 ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa Allāh Subhanahu Wa Ta'ala telah memberikan banyak kenikmatan kepada kaum muslimin untuk menolong mereka melawan musuh-musuh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.
Ada dua bantuan:
(1) Bantuan yang pertama berupa hujan yang sangat bermanfaat bagi kaum muslimin.
(2) Bantuan kedua atau pertolongan kedua dari Allāh Subhanahu Wa Ta'ala adalah rasa kantuk yang menyelimuti seluruh kaum muslimin tidak terkecuali. Kecuali Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ketika itu memanfaatkan malam Perang Badar itu untuk bermunajat kepada Allāh Subhanahu Wa Ta'ala sampai fajar tiba. Beliau benar-benar berdoa kepada Allāh Subhanahu Wa Ta'ala agar Allāh memenangkan pasukannya, memenangkan para sahabat beliau.
Demikian yang bisa saya sampaikan dalam kesempatan kali ini. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan bermanfaat bagi kita semuanya. Mudah-mudahan Allāh berkahi ilmu kita.
Dan mudah-mudahan Allāh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk bisa mengamalkan ilmu ini dengan baik dan mudah. Dan juga bisa menyebarkannya kepada orang lain.
آمين آمين يارب العالمين .
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين . والحمد لله ربّ العالمين .
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈•◈◉◉◈•┈┈┈•
Tujuannya apa? Agar mereka bisa beristirahat dengan baik. Di malam peperangan, ketika seseorang bisa beristirahat dengan baik maka paginya dia akan semangat, dengan semangat yang penuh untuk menghadapi musuhnya.
Dengan tidur yang nyenyak jiwa menjadi tenang, dengan tidur yang nyenyak tenaga menjadi kembali fit. Dan inilah yang diinginkan oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala dari rasa kantuk tersebut.
Sehingga kaum muslimin di hari Perang Badarnya menjadi benar-benar bisa semangat untuk mengikuti perang, benar-benar bisa terbantu dalam mengalahkan musuh-musuh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.
Inilah yang dijelaskan di dalam ayat yang ke-11 ini.
Ayat yang ke-11 ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa Allāh Subhanahu Wa Ta'ala telah memberikan banyak kenikmatan kepada kaum muslimin untuk menolong mereka melawan musuh-musuh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.
Ada dua bantuan:
(1) Bantuan yang pertama berupa hujan yang sangat bermanfaat bagi kaum muslimin.
(2) Bantuan kedua atau pertolongan kedua dari Allāh Subhanahu Wa Ta'ala adalah rasa kantuk yang menyelimuti seluruh kaum muslimin tidak terkecuali. Kecuali Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ketika itu memanfaatkan malam Perang Badar itu untuk bermunajat kepada Allāh Subhanahu Wa Ta'ala sampai fajar tiba. Beliau benar-benar berdoa kepada Allāh Subhanahu Wa Ta'ala agar Allāh memenangkan pasukannya, memenangkan para sahabat beliau.
Demikian yang bisa saya sampaikan dalam kesempatan kali ini. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan bermanfaat bagi kita semuanya. Mudah-mudahan Allāh berkahi ilmu kita.
Dan mudah-mudahan Allāh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk bisa mengamalkan ilmu ini dengan baik dan mudah. Dan juga bisa menyebarkannya kepada orang lain.
آمين آمين يارب العالمين .
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين . والحمد لله ربّ العالمين .
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈•◈◉◉◈•┈┈┈•
Ustadz Dr. Musyaffa' Addariny, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📕 Kajian Tematik Ramadhan 1442H
🔈 Audio ke-15
📖 Tadabbur Ayat Al-Quran Al-Anfal: 11 Bagian Kedua
~•~•~•~•~
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ, أَمَّا بَعْدُ
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَأِنّ وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Jama'ah kaum muslimin dan kaum muslimat yang semoga dimuliakan dan dirahmati oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Alhamdulillah pada kesempatan yang baik ini kita bisa bertemu dalam acara ini.
Acara yang mengajak kita semuanya untuk merenungi firman-firman Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Perkataan yang paling mulia, perkataan yang paling benar, perkataan yang tidak mungkin bengkok sedikitpun, tidak mungkin ada penyimpangan sedikitpun.
Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas ayat yang ke-11 dari Surat Al-Anfal. Ayat tersebut berbunyi :
إِذْ يُغَشِّيكُمُ ٱلنُّعَاسَ أَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِۦ وَيُذْهِبَ عَنكُمْ رِجْزَ ٱلشَّيْطَٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلْأَقْدَامَ
Yang artinya: “Ingatlah ketika Allāh Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan kalian mengantuk, untuk memberikan ketentraman dari Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Dan ingatlah juga ketika Allāh Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan air hujan dari langit kepada kalian, untuk mensucikan kalian dengan hujan tersebut dan untuk menghilangkan gangguan-gangguan syaitan dari diri kalian dan untuk menguatkan hati kalian serta memantapkan langkah kaki kalian.”
Jama'ah kaum muslimin dan kaum muslimat yang semoga dimuliakan dan dirahmati oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Pelajaran yang bisa kita ambil dari ayat ini sangat banyak sekali.
Di antaranya :
1. Pelajaran yang pertama, bahwa ayat ini menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Allāh Subhanahu Wa Ta'Ala kepada hamba-hamba-Nya yang sholeh. Allāh Subhanahu Wa Ta'ala tidak akan membiarkan mereka. Allāh Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan pertolongan kepada mereka. Allāh Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan taufiq kepada mereka, bagaimana berjalan dalam membela agama Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.
Lihatlah kaum muslimin yang ketika itu dalam keadaan yang payah. Mereka kelelahan, mereka juga kelaparan, kehausan. Mereka membutuhkan air, Allāh datangkan air. Mereka butuh agar kelelahan mereka hilang, Allāh datangkan rasa kantuk. Mereka butuh ketenangan hati, Allāh datangkan tidur. Allāh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan banyak pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang sholeh.
Dalam kehidupan kita juga demikian. Ketika kita benar-benar menjadi orang yang baik, kita berusaha untuk benar-benar mentaati Allāh, mentaati Rasul-Nya dengan sekuat tenaga.
Maka ketika ada kesulitan-kesulitan dalam kehidupan kita Allāh akan memberikan pertolongan kepada kita. Allāh akan memberikan pertolongan-Nya kepada kita apapun keadaannya. Sebagaimana disebutkan di dalam ayat yang lain. Di dalam QS At-Thalaq ayat 2.
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allāh Subhanahu Wa Ta'ala, Allāh akan memberikan solusi dalam kehidupannya.”
Memang bertakwa adalah sesuatu yang berat, bertakwa seringkali menjadikan seseorang terjatuh dalam masalah. Apalagi ketika zamannya sudah rusak, ketika keadaan sebagian besar masyarakat jauh dari Islam, orang yang bertakwa biasanya menemui banyak kendala. Tapi jangan sampai kita takut dengan ketakwaan kita. Allāh sudah jamin. Di dalam QS At-Thalaq ayat 2.
📕 Kajian Tematik Ramadhan 1442H
🔈 Audio ke-15
📖 Tadabbur Ayat Al-Quran Al-Anfal: 11 Bagian Kedua
~•~•~•~•~
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ, أَمَّا بَعْدُ
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَأِنّ وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Jama'ah kaum muslimin dan kaum muslimat yang semoga dimuliakan dan dirahmati oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Alhamdulillah pada kesempatan yang baik ini kita bisa bertemu dalam acara ini.
Acara yang mengajak kita semuanya untuk merenungi firman-firman Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Perkataan yang paling mulia, perkataan yang paling benar, perkataan yang tidak mungkin bengkok sedikitpun, tidak mungkin ada penyimpangan sedikitpun.
Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas ayat yang ke-11 dari Surat Al-Anfal. Ayat tersebut berbunyi :
إِذْ يُغَشِّيكُمُ ٱلنُّعَاسَ أَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِۦ وَيُذْهِبَ عَنكُمْ رِجْزَ ٱلشَّيْطَٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلْأَقْدَامَ
Yang artinya: “Ingatlah ketika Allāh Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan kalian mengantuk, untuk memberikan ketentraman dari Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Dan ingatlah juga ketika Allāh Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan air hujan dari langit kepada kalian, untuk mensucikan kalian dengan hujan tersebut dan untuk menghilangkan gangguan-gangguan syaitan dari diri kalian dan untuk menguatkan hati kalian serta memantapkan langkah kaki kalian.”
Jama'ah kaum muslimin dan kaum muslimat yang semoga dimuliakan dan dirahmati oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Pelajaran yang bisa kita ambil dari ayat ini sangat banyak sekali.
Di antaranya :
1. Pelajaran yang pertama, bahwa ayat ini menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Allāh Subhanahu Wa Ta'Ala kepada hamba-hamba-Nya yang sholeh. Allāh Subhanahu Wa Ta'ala tidak akan membiarkan mereka. Allāh Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan pertolongan kepada mereka. Allāh Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan taufiq kepada mereka, bagaimana berjalan dalam membela agama Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.
Lihatlah kaum muslimin yang ketika itu dalam keadaan yang payah. Mereka kelelahan, mereka juga kelaparan, kehausan. Mereka membutuhkan air, Allāh datangkan air. Mereka butuh agar kelelahan mereka hilang, Allāh datangkan rasa kantuk. Mereka butuh ketenangan hati, Allāh datangkan tidur. Allāh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan banyak pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang sholeh.
Dalam kehidupan kita juga demikian. Ketika kita benar-benar menjadi orang yang baik, kita berusaha untuk benar-benar mentaati Allāh, mentaati Rasul-Nya dengan sekuat tenaga.
Maka ketika ada kesulitan-kesulitan dalam kehidupan kita Allāh akan memberikan pertolongan kepada kita. Allāh akan memberikan pertolongan-Nya kepada kita apapun keadaannya. Sebagaimana disebutkan di dalam ayat yang lain. Di dalam QS At-Thalaq ayat 2.
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allāh Subhanahu Wa Ta'ala, Allāh akan memberikan solusi dalam kehidupannya.”
Memang bertakwa adalah sesuatu yang berat, bertakwa seringkali menjadikan seseorang terjatuh dalam masalah. Apalagi ketika zamannya sudah rusak, ketika keadaan sebagian besar masyarakat jauh dari Islam, orang yang bertakwa biasanya menemui banyak kendala. Tapi jangan sampai kita takut dengan ketakwaan kita. Allāh sudah jamin. Di dalam QS At-Thalaq ayat 2.
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allāh, Allāh akan berikan solusi dalam kehidupannya.”
Masalah rizki juga, jangan sampai kita khawatirkan. Dalam QS At-Thalaq ayat 3.
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ
“Allāh Subhanahu Wa Ta'ala pasti akan memberikan rizki kepada dia dari jalan yang tidak disangka-sangka.”
Ini pelajaran yang pertama yang sangat penting untuk kita fahami dengan baik. Lihatlah bala tentara Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Lihat para sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Mereka orang-orang yang sederhana tidak ada persiapan untuk perang dari Madinahnya. Mereka mengubah rencana itu ketika di tengah-tengah perjalanan. Sangat sederhana. Mereka juga jumlahnya sedikit.
Tapi lihat bagaimana Allāh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan pertolongan-Nya, pertolongan-Nya, pertolongan-Nya kepada mereka, sampai Allāh subhanahu wa ta'ala memenangkan mereka, begitu pula orang-orang yang sholeh akan mendapatkan hal yang sama. Maksudnya akan mendapatkan pertolongan dari Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.
2. Pelajaran yang kedua adalah bolehnya kita mengingatkan kebaikan kepada orang yang kita berikan kebaikan. Bolehnya kita mengingatkan kebaikan yang kita berikan kepada orang lain untuk kemaslahatan yang besar.
Lihat di dalam ayat ini Allāh Subhanahu Wa Ta'ala mengingatkan kepada kaum muslimin akan kebaikan yang Allāh berikan kepada mereka ketika itu. Agar mereka bersyukur kepada Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Agar mereka mengingat kebaikan-kebaikan Allāh Subhanahu Wa Ta'Ala kepada mereka. Agar mereka kembali kepada Allāh di saat-saat genting. Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla-lah yang mampu untuk menolong mereka.
Ketika ini diceritakan oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala di dalam ayat ini. Maka ini menunjukkan bahwa kita juga demikian. Apabila kita pernah melakukan kebaikan kepada orang lain dan di saat-saat tertentu kita butuh, kita perlu mengingatkan dia akan kebaikan kita kepada dia. Ada mashalat besar di sana, maka dibolehkan.
“Dulukan kamu pernah saya kasih seperti ini, kenapa engkau melakukan sesuatu yang tidak baik kepada saya?” Seperti ini mengingatkan kebaikan. Tapi tujuannya baik.
Agar orang tersebut tidak mendzalimi kita, agar orang tersebut ingat akan jasa-jasa kita, agar orang tersebut mau membantu kita. Tidak ada masalah. Yang penting kita masih menjaga keikhlasan kita. Dan kita tidak mengungkit-ungkit untuk tujuan yang tidak baik.
Ketika misalnya ada sebuah lembaga pendidikan yang selama 20 tahun selalu membantu masyarakatnya misalnya, kemudian setelah itu ternyata masyarakat tersebut ada yang tidak senang dengan lembaga itu. Sebagian dari masyarakat tersebut malah berniat tidak baik terhadap lembaga itu.
Maka lembaga tersebut dibolehkan untuk memberikan atau mengingatkan mereka tentang kebaikan- kebaikannya.
"Bukankah selama ini kami sudah membantu kalian? Coba ini ada dokumentasi dari tahun sekian sampai tahun sekian. Kami selalu menginginkan kebaikan untuk kalian. Kenapa kalian melakukan hal yang seperti ini kepada kami?"
Seperti ini tidak ada masalah. Karena apa? Ada mashalat yang besar di sana. Dan Allāh Subhanahu Wa Ta'ala di dalam Al-Qurān sering mengingatkan kita akan nikmat- nikmat Allāh yang Allāh berikan kepada kita. Tujuannya adalah agar kita kembali kepada Allāh, agar kita sangat bersyukur kepada Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.
Demikian yang bisa saya sampaikan dalam kesempatan kali ini. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan bermanfaat bagi kita semuanya. Mudah-mudahan Allāh berkahi ilmu kita.
Dan mudah-mudahan Allāh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk bisa mengamalkan ilmu ini dengan baik dan mudah. Dan juga bisa menyebarkannya kepada orang lain.
آمين آمين يارب العالمين
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين . والحمد لله ربّ العالمين .
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈•◈◉◉◈•┈┈┈•
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allāh, Allāh akan berikan solusi dalam kehidupannya.”
Masalah rizki juga, jangan sampai kita khawatirkan. Dalam QS At-Thalaq ayat 3.
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ
“Allāh Subhanahu Wa Ta'ala pasti akan memberikan rizki kepada dia dari jalan yang tidak disangka-sangka.”
Ini pelajaran yang pertama yang sangat penting untuk kita fahami dengan baik. Lihatlah bala tentara Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Lihat para sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Mereka orang-orang yang sederhana tidak ada persiapan untuk perang dari Madinahnya. Mereka mengubah rencana itu ketika di tengah-tengah perjalanan. Sangat sederhana. Mereka juga jumlahnya sedikit.
Tapi lihat bagaimana Allāh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan pertolongan-Nya, pertolongan-Nya, pertolongan-Nya kepada mereka, sampai Allāh subhanahu wa ta'ala memenangkan mereka, begitu pula orang-orang yang sholeh akan mendapatkan hal yang sama. Maksudnya akan mendapatkan pertolongan dari Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.
2. Pelajaran yang kedua adalah bolehnya kita mengingatkan kebaikan kepada orang yang kita berikan kebaikan. Bolehnya kita mengingatkan kebaikan yang kita berikan kepada orang lain untuk kemaslahatan yang besar.
Lihat di dalam ayat ini Allāh Subhanahu Wa Ta'ala mengingatkan kepada kaum muslimin akan kebaikan yang Allāh berikan kepada mereka ketika itu. Agar mereka bersyukur kepada Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Agar mereka mengingat kebaikan-kebaikan Allāh Subhanahu Wa Ta'Ala kepada mereka. Agar mereka kembali kepada Allāh di saat-saat genting. Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla-lah yang mampu untuk menolong mereka.
Ketika ini diceritakan oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala di dalam ayat ini. Maka ini menunjukkan bahwa kita juga demikian. Apabila kita pernah melakukan kebaikan kepada orang lain dan di saat-saat tertentu kita butuh, kita perlu mengingatkan dia akan kebaikan kita kepada dia. Ada mashalat besar di sana, maka dibolehkan.
“Dulukan kamu pernah saya kasih seperti ini, kenapa engkau melakukan sesuatu yang tidak baik kepada saya?” Seperti ini mengingatkan kebaikan. Tapi tujuannya baik.
Agar orang tersebut tidak mendzalimi kita, agar orang tersebut ingat akan jasa-jasa kita, agar orang tersebut mau membantu kita. Tidak ada masalah. Yang penting kita masih menjaga keikhlasan kita. Dan kita tidak mengungkit-ungkit untuk tujuan yang tidak baik.
Ketika misalnya ada sebuah lembaga pendidikan yang selama 20 tahun selalu membantu masyarakatnya misalnya, kemudian setelah itu ternyata masyarakat tersebut ada yang tidak senang dengan lembaga itu. Sebagian dari masyarakat tersebut malah berniat tidak baik terhadap lembaga itu.
Maka lembaga tersebut dibolehkan untuk memberikan atau mengingatkan mereka tentang kebaikan- kebaikannya.
"Bukankah selama ini kami sudah membantu kalian? Coba ini ada dokumentasi dari tahun sekian sampai tahun sekian. Kami selalu menginginkan kebaikan untuk kalian. Kenapa kalian melakukan hal yang seperti ini kepada kami?"
Seperti ini tidak ada masalah. Karena apa? Ada mashalat yang besar di sana. Dan Allāh Subhanahu Wa Ta'ala di dalam Al-Qurān sering mengingatkan kita akan nikmat- nikmat Allāh yang Allāh berikan kepada kita. Tujuannya adalah agar kita kembali kepada Allāh, agar kita sangat bersyukur kepada Allāh Subhanahu Wa Ta'ala.
Demikian yang bisa saya sampaikan dalam kesempatan kali ini. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan bermanfaat bagi kita semuanya. Mudah-mudahan Allāh berkahi ilmu kita.
Dan mudah-mudahan Allāh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk bisa mengamalkan ilmu ini dengan baik dan mudah. Dan juga bisa menyebarkannya kepada orang lain.
آمين آمين يارب العالمين
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين . والحمد لله ربّ العالمين .
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈•◈◉◉◈•┈┈┈•
AGAR MANUSIA TIDAK BIADAB
Tujuan utama Pendidikan Islam, menurut Prof. Syed
Muhammad Naquib al-Attas, dalam bukunya, Islam and Secularism,
(Kuala Lumpur, ISTAC, 1993), adalah untuk menghasilkan
orang yang baik (to produce a good man). Kata al-Attas, “The
aim of education in Islam is therefore to produce a goodman… the
fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab.” (hal. 150-151).
Siapakah manusia yang baik atau manusia beradab itu? Dalam
pandangan Islam, manusia seperti ini adalah manusia yang kenal
akan Tuhannya, tahu akan dirinya, menjadikan Nabi Muhammad
saw sebagai uswah hasanah, mengikuti jalan pewaris Nabi (ulama),
dan berbagai kriteria manusia beradab lainnya. Manusia beradab
juga harus memahami potensi dirinya dan bisa mengembangkan
potensinya, sebab potensi itu adalah amanah dari Allah swt.
Dalam al-Quran dikatakan, manusia diciptakan Allah untuk
beribadah kepada-Nya (QS adz-Dzariyat: 56) dan menjadi khalifah
Allah di muka bumi (QS al-Baqarah: 30). Manusia dikaruniai akal,
bukan hanya hawa nafsu dan naluri. Tugas manusia di bumi berbeda
dengan binatang. Manusia bukan hanya hidup untuk memenuhi
syahwat atau kepuasan jasadiahnya semata. Ada kebutuhan kebutuhan ruhaniah yang harus dipenuhinya juga. Semua fungsi
dan tugas manusia itu akan bisa dijalankan dengan baik dan benar
jika manusia menjadi seorang yang beradab.
Tujuan utama Pendidikan Islam, menurut Prof. Syed
Muhammad Naquib al-Attas, dalam bukunya, Islam and Secularism,
(Kuala Lumpur, ISTAC, 1993), adalah untuk menghasilkan
orang yang baik (to produce a good man). Kata al-Attas, “The
aim of education in Islam is therefore to produce a goodman… the
fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab.” (hal. 150-151).
Siapakah manusia yang baik atau manusia beradab itu? Dalam
pandangan Islam, manusia seperti ini adalah manusia yang kenal
akan Tuhannya, tahu akan dirinya, menjadikan Nabi Muhammad
saw sebagai uswah hasanah, mengikuti jalan pewaris Nabi (ulama),
dan berbagai kriteria manusia beradab lainnya. Manusia beradab
juga harus memahami potensi dirinya dan bisa mengembangkan
potensinya, sebab potensi itu adalah amanah dari Allah swt.
Dalam al-Quran dikatakan, manusia diciptakan Allah untuk
beribadah kepada-Nya (QS adz-Dzariyat: 56) dan menjadi khalifah
Allah di muka bumi (QS al-Baqarah: 30). Manusia dikaruniai akal,
bukan hanya hawa nafsu dan naluri. Tugas manusia di bumi berbeda
dengan binatang. Manusia bukan hanya hidup untuk memenuhi
syahwat atau kepuasan jasadiahnya semata. Ada kebutuhan kebutuhan ruhaniah yang harus dipenuhinya juga. Semua fungsi
dan tugas manusia itu akan bisa dijalankan dengan baik dan benar
jika manusia menjadi seorang yang beradab.
Apakah adab itu? Mungkin, setiap manusia Indonesia hafal
bunyi sila kedua dari Pancasila, yaitu: “Kemanusiaan yang adil
dan beradab.” Tapi, apakah banyak yang paham, sebenarnya, apa
arti kata ”adil” dan kata ”beradab” dalam sila tersebut? Mungkin
Presiden atau para pejabat negara juga tidak paham benar apa makna
kata-kata “adil” dan “beradab”, sebab faktanya, banyak pejabat yang
perilaku dan kebijakannya tidak adil dan tidak beradab. Lihatlah,
banyak pejabat menggunakan mobil dan sarana mewah dengan
uang rakyat, padahal begitu banyak rakyat yang kelaparan, kurang
gizi, tidak bisa berobat dan kesulitan biaya pendidikan.
bunyi sila kedua dari Pancasila, yaitu: “Kemanusiaan yang adil
dan beradab.” Tapi, apakah banyak yang paham, sebenarnya, apa
arti kata ”adil” dan kata ”beradab” dalam sila tersebut? Mungkin
Presiden atau para pejabat negara juga tidak paham benar apa makna
kata-kata “adil” dan “beradab”, sebab faktanya, banyak pejabat yang
perilaku dan kebijakannya tidak adil dan tidak beradab. Lihatlah,
banyak pejabat menggunakan mobil dan sarana mewah dengan
uang rakyat, padahal begitu banyak rakyat yang kelaparan, kurang
gizi, tidak bisa berobat dan kesulitan biaya pendidikan.
Seperti diketahui, rumusan sila kedua itu merupakan bagian
dari Piagam Jakarta yang dilahirkan oleh Panitia Sembilan BPUPK,
tahun 1945, dan kemudian disahkan dan diterima oleh bangsa
Indonesia, sampai hari ini. Sila kedua ini juga lolos dari sorotan
berbagai pihak yang keberatan terhadap sebagian isi Piagam Jakarta,
terutama rumusan sila pertama yang berbunyi: Ketuhanan, dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
Jika dicermati dalam sudut ”pandangan-alam Islam” (Islamic
worldview), lolosnya sila kedua sebagai bagian dari Pancasila, itu
cukup menarik. Itu menunjukkan, pengaruh besar dari konsep
Islam terhadap rumusan sila kedua tersebut. Perlu dicatat, rumusan
sila kedua itu sangat berbeda dengan rumusan yang diajukan oleh
Bung Karno pada 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPK. Ketika itu,
Bung Karno mengusulkan “lima sila” untuk Indonesia Merdeka,
yaitu: (1) Kebangsaan Indonesia (2) Internasionalisme atau
Perikemanusiaan (3) Mufakat atau Demokrasi (4) Kesejahteraan
Sosial (5) Ketuhanan.
dari Piagam Jakarta yang dilahirkan oleh Panitia Sembilan BPUPK,
tahun 1945, dan kemudian disahkan dan diterima oleh bangsa
Indonesia, sampai hari ini. Sila kedua ini juga lolos dari sorotan
berbagai pihak yang keberatan terhadap sebagian isi Piagam Jakarta,
terutama rumusan sila pertama yang berbunyi: Ketuhanan, dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
Jika dicermati dalam sudut ”pandangan-alam Islam” (Islamic
worldview), lolosnya sila kedua sebagai bagian dari Pancasila, itu
cukup menarik. Itu menunjukkan, pengaruh besar dari konsep
Islam terhadap rumusan sila kedua tersebut. Perlu dicatat, rumusan
sila kedua itu sangat berbeda dengan rumusan yang diajukan oleh
Bung Karno pada 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPK. Ketika itu,
Bung Karno mengusulkan “lima sila” untuk Indonesia Merdeka,
yaitu: (1) Kebangsaan Indonesia (2) Internasionalisme atau
Perikemanusiaan (3) Mufakat atau Demokrasi (4) Kesejahteraan
Sosial (5) Ketuhanan.