BERILMU DENGAN BUKU
63 subscribers
739 photos
27 videos
20 files
535 links
Channel edukasi seputar Aqidah, Ibadah, Muamalah, Pengembangan diri dan Keluarga, Bisnis, Marketing dan Rekomendasi Buku
Download Telegram
2 MODAL MENDIDIK ANAK

1. Niat yang ikhlas Lillahi Ta'ala.
Menjaga dan mendidik anak karena Allah.

2. ILMU.
Tanpa ilmu yang baik, akan sulit memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak.

Note.
Updatelah selalu 2 modal utama mendidik anak itu.
MATA UANG PERAK VOC TAHUN 1747 M (Garis tengah: 2.3 cm - koleksi Museum Nasional)

Sisi muka bertuliskan huruf Arab dan Bahasa Arab: al Jazirat Jawa al Kabir, dengan bunga Mawaar di atasnya.

Sisi belakang bertuliskan huruf Arab dan Bahasa Arab Indonesia:
Denham Min Kompeni Welandawi, artinya Dirham dari Kompeni Belanda.

Pada abad ke 18 rakyat tidak mengenal huruf latin, hanya mengenal huruf Arab berkat pengaruh Islam, walaupun VOC penjajah tetap menghormati huruf rakyat jajahannya.

Bandingkan mata uang RI, pernah terdapat huruf Arab MElayu pada koin Pangeran Diponegoro, selanjutnya dihapuskan. Gambar mata uang RI, adanya de-Islamisasi gambar mata uang, lebih banyak menggambarkan Candi Borobudur atau Candi Prambanan, walaupun mayoritas rakyat Indonesia adalah Islam.
MATA UANG DINAR KESULTANAN GOA 1669 - 1674 M (garis tengah 0,98 cm - koleksi Museum Nasional Jakarta)


Sisi muka tertera huruf Arab: as Sultan Amir Hamzah
Sisi belakang tertera huruf Arab: Haladaulah Malik wa Sultan Amin

Sampai dengan abad 17 M, para Sultan telah memiliki konsep gambar mata uang Islami.

Bandingkan setelah proklamasi 17 Agustus 1945, walaupun Menteri keuangan dan Direktur Bank Indonesia seorang Muslim, tidak pernah melahirkan gambar mata uang dengan gambar Masjid atau prasasti Islami lainnya.
TENTANG SEJARAH


Banyak orang yang menyangka bahwa menulis sejarah atau mempelajari sejarah adalah tentang masa lalu dan kepentingannya untuk masa lalu juga, padahal sebetulnya sangat salah.

Sejarah dipelajari, ditulis, dan disampaikan bukan untuk masa lalu, tetapi untuk kepentingan manusia masa kini. Maka, kalau mempelajari, mengkaji, dan menulis sejarah tidak mengkaitkannya dengan apa kita butuhkan hari ini, justru itu adalah tindakan ahistoris; tindakan yang tidak sesuai dengan karakter dari sejarah itu sendiri yang dibutuhkan oleh manusia hari ini.

Belum banyak orang yang memahami bahwa sejarah diceritakan oleh Allah itu bukan untuk kepentingan orang-orang di masa lalu, tetapi adalah untuk kepentingan kita.

Maka, kalau kita menyadari ini, menulis sejarah berarti harus diasaskan pada satu misi tertentu yang jelas, dimana misi tersebut akan ditentukan oleh ideologi orang yang menulis atau menceritakan sejarahnya masing-masing. Apabila ideologinya benar, maka sejarahnya pun akan diceritakan dengan benar. Namun, bila ideologinya rusak, maka sejarah itu pun akan dirusak sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Oleh sebab itu, kita yang membaca sejarah harus hati-hati dalam memilah dan memilih sejarah.

Nah, bagaimana caranya agar kita tidak salah dalam mempelajari sejarah? Mari simak video berikut ini untuk mengetahui jawabannya.
BUKAN PEMBERI HARAPAN PALSU

Di dalam Al Qur'an, ada banyak sekali janji yang Allah sampaikan. Diantaranya adalah janji Allah untuk kemenangan agama ini, yaitu agama islam.

Ingat ya, kalau Allah yang beri janji, pasti ditepati. Karena yang hobby ngasih harapan palsu itu hanya manusia yang bahkan tak berkuasa terhadap dirinya sendiri.

Kalau yang janji adalah penguasa langit dan bumi. Sudah pasti akan terjadi. Mau tau apa yang Allah janjikan tentang kemenangan agama ini?

Silahkan simak baik-baik pada kajian "Dhuha penuh hikmah" di hari Jum'at yang penuh berkah bersama gurunda kita,

Pemateri : Ustadz Budi Ashari, Lc.
ema : Janji Al Quran untuk Kemenangan Islam
Live on : www.kursihikmah.id


Langsung daftarkan diri dan ajak orang lainnya untuk mengikuti Kajian Dhuha Penuh Hikmah di www.kursihikmah.id

Barakallah fiikum🧡

Kursihikmah.id
Simak kajian penuh hikmah tanpa biaya

#RamadhanBersamaKursiHikmah​
#DhuhaPenuhHikmah
Assalaamu'alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh

Ramadhan sering dikatakan sebagai syahrul quran
Syahrush shiyam
Syahrut tarbiyyah

Ramadhan adalah salah satu cara Allah mendidik hambaNya agar bertaqwa. Dengan Ramadhan Allah ingin memberi kelebihan-kelebihan dalam pahala.

Islam adalah agama ILMU, maka ILMU sangat ditekankan di dalam Islam

Nabi diutus Allah sebagai Nabi dan Rasul pada hakekatnya adalah sebagai murabbi, guru bagi kita semua umatnya.

Dalam sekolah, guru adalah bahan utama yang amat menentukan kualitas sebuah pendidikan. Gurunya baik maka insyaAllah hasil didikannya akan baik

Kenapa Indonesia (Nusantara) dapat bertahan dari penjajahan Portugis dan Belanda hingga 350 tahun lamanya?

Ini adalah kerja keras, pengorbanan harta dan nyawa dari para Ulama yang juga sebagai guru bagi anak bangsanya.

Syech Abdus Somad Falembangi, menulis buku saat itu di tengah kondisi penjajahan oleh Belanda berjudul Jihad Fii Sabilillah. Intinya buku ini mengajak rakyat untuk melawan mempertahankan agama dan negerinya yang hendak direbut penjajah.

Ulama sebagai guru mengarahkan bahwa penjajah harus dimusnahkan, keadilan harus ditegakkan.

Di tengah keputus-asaan Belanda terhadap kegigihan para ulama, santri dan rakyat yang terus melawannya, muncul seorang tokoh orientalis, Snouck Hurgronye, yang telah menyelesaikan doktornya tentang Haji. Beliau masuk Islam dan naik haji. Kelak kebohongannya ini dibongkar oleh kawannya sendiri sesama orientalis, bahwa keIslamannya hanyalah kedok semata untuk melumpuhkan perlawanan ulama dan santri.

Satu strateginya yang ampuh melawan kegigihan para ulama dan santri:

Dengan pendidikan dan pengajaran, kita lepaskan umat Islam dari belenggu agamanya.

Jadi kehebatan perlawan ulama, santri bersama rakyat saat itu adalah karena metode pendidikan Islam yang dijalankan ulama kepada masyarakat. Bukan karena mereka bangsa asing, bukan karena mereka berbeda agama, melainkan penjajah telah melakukan kedzaliman dan ketidakadilan terhadap bangsa ini.

Demikian mulianya ulama yang juga guru bangsanya, maka ada seorang guru dalam sebuah kesempatan di acara Maulid Nabi mengatakan:

Dikala kegundahan melanda, memikirkan sulitnya menaklukkan kenakalan anak didiknya, memahamkan mereka akan ilmu, memikirkan begitu banyaknya tugas yang harus diselesaikan, sang guru mengingat hadits Nabi berikut:

Innallaha wa malaaikatahu yusholluuna ala muallimin naasal khair, hattal khitan fil bahri wa namlatu fii zuhrihaa

Maka janganlah pernah seorang guru berhenti untuk belajar dan belajar. Guru adalah pejuang, walau gajinya tak sebanding dengan seorang dokter apalagi ahli IT, namun guru Allah muliakan lebih dari yang lainnya.

Wajib seseorang mengajarkan ilmu dan wajib bagi kita semua muslim untuk menuntut ILMU dari seorang guru. Tapi ingat akan tujuan kita menuntut ilmu.

Di tengah dunia yang sangat kapitalistik, semua dihargai dengan uang,kemuliaan dinilai dengan berapa banyak kekayaan yang kita miliki, membuat kita tertipu, kemudian menyekolahkan anak-anak kita agar bisa kerja di perusahaan A, bisa punya karir yang baik, bisa naik jabatan dan sebagainya. Padahal Nabi bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari hadits ini kita jadi tahu tujuan menuntut ilmu/belajar dalam Islam adalah untuk menjadi orang baik, orang shalih, untuk menggantikan generasi di depannya yang tidak amanah, korupsi, zhalim, dan ketidakbaikan lainnya untuk digantikan oleh generasi yang baik, yang shalih, yang tahu halal dan haram, yang semua tindakannya selalu berpedoman kepada al Quran dan Hadits Nabinya.

Kemudian tak lupa kita berdoa:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
Dan semoga Allah menjadikan kita hambanya yang Inna Akramakum 'Indallahi atqookum
Panglima besar Muslim Musa bin Nushair, setelah jihadnya memenuhi, dengan kepemimpinannya terhadap misi perluasan Islam Maghrib Islam (Afrika Utara dan Andalusia), lalu ia mengerahkan para penyeru kebenaran untuk meperdengarkan kebaikan pada para penduduk negri itu, hingga akhirnya mereka keluar dari kegelapan pada cahaya yg nyata. Musa bin Nushair memimpin jihad di semenanjung Andalusia saat usianya telah mencapai 75 tahun. Namun ia masih menarik tali kekang kudanya, menuruni lembah dan menaiki pegunungan wilayah tersebut.

Di dalam dirinya terus bergerak iman pada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa, sehingga dirinya terus merasa mulia, kekuatannya terus terperbaharui dan mendorongnya untuk menegakan kalimat Allah dan meninggikan panjinya di setiap tempat.

Kekuatan fisiknya pun terdorong kuat meskipun kepalanya dipenuhi dengan uban yang semakin memutih.

Desakan akidah yang lapang dan obsesi keimanan yang membara terus menuntunnya. Kalimat Allah terus menggerakkan potensinya dan kekuatan kalimat itu membuatnya terbang tinggi meninggalkan semua paradigma keduniaan.

Paradigma/pandangan keduniaan akan mengatakan "mana mungkin seorang yang telah berada di usia senja, yaitu 75 tahun, mampu untuk memimpin dan menjadi panglima perang".

Namun Musa bin Nushair telah mematahkan paradigma tersebut dengan keimanan yang tertancap begitu kokoh di dadanya. Hingga di usia senja Musa bin Nushair Mampu memberi kemenangan yang gemilang pada umat Muslim.
KABAR GEMBIRA DAN ANCAMAN UNTUK PARA PENUNTUT ILMU

Di tengah nasib guru yang sering dianggap profesi buangan, gaji kecil tak sebanding dengan gaji seorang dokter, ahli IT, bahkan saat ini perannya dalam pengajaran semakin dibatasi dengan delik hukum yang menakutkan, sehingga membuat para guru semakin sulit dan berat menjalankan fungsinya sebagai teladan yang mengajarkan kebaikan, mengajarkan adab dan akhlak kepada muridnya. Nabi memberi kabar gembira kepada mereka para guru yang ikhlas, berkomitmen untuk berjuang mencerdaskan kehidupan generasi, dengan sabdanya sebagai berikut:

“Sesungguhnya Allah, para malaikat dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bershalawat kepada muallim (orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia."
(HR. Tirmidzi)

Teruslah para guru belajar jangan pernah berhenti untuk menambah kapasitas keilmuannya, karena dengan ilmu kalianlah generasi mampu mengawal peradaban gemilang di masa depan kelak.

Tantangan untuk para penuntut ilmu, janganlah pernah engkau niatkan belajarmu hanya sekedar untuk meraih pekerjaan, memuluskan karir atau demi mengejar jabatan, karena sesungguhnya tujuan menuntut ilmu dalam agama ini adalah agar kita menjadi orang baik, yang berjalan di atas syariat Allah dan Rasul, yang bisa membedakan yang halal dan haram, menjauhi perilaku zalim, tidak adil, korupsi, tidak amanah, tidak jujur dan sifat-sifat jelek lainnya, yang mampu menjaga bumi dari kerusakan, dari menipisnya lapisan ozon, dari rusaknya tanah sehingga tidak kuasa lagi menumbuhkan tanaman untuk kebutuhan manusia, sehingga dengannya kesejahteraan, keamanan dan kedamaian tercipta dan dinikmati semua penghuni bumi, tidak hanya manusia, bahkan binatang, tumbuhan dan batu-batuanpun merasakan semua kebaikan itu.

Nabi memberi peringatan kepada para penuntut ilmu dalam sebuah haditnya:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allâh ‘Azza Wa Jalla, tetapi ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium bau Surga pada hari Kiamat. [HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, Shahîh ath-Targhib, no. 105]

Di tengah kondisi yang serba kapitalistik, semua dinilai dengan uang, semua diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri kapitalis, membuat para penuntut ilmu kehilangan fokusnya, mereka terbawa arus dan mulai berilmu untuk mengejar gaji, kekayaan, karir dan jabatan.

Melalui peringatan ini semoga kita para penuntut ilmu tersadarkan, dan mulai kembali kepada keasliannya dalam menuntut ilmu. Dan memilih jurusan atau memilih ilmu yang akan didalami tidak lagi berdasarkan kebutuhan industri semata namun juga mulai melihat kebutuhan manusia saat ini, apa yang mereka butuhkan, ilmu apa yang bisa membuat masyarakat/umat semakin cerdas, shalih serta bertaqwa. Semoga dengan bekal itu kita semua masuk ke dalam kategori orang-orang yang Allah SWT sebut dalam FirmanNya:
ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.
Kontribusi pemuda dalam peradaban

Apa yang harus mereka lakukan di masa muda kehidupan mereka?

Masa muda adalah masa mengambil, masa mengumpulkan, mengambil dan mengumpulkan sebanyak mungkin ilmu, kebaikan, teladan dan kebijaksanaan, yang mana kelak nanti pada waktunya mereka akan rasakan manfaatnya di masa mereka harus berjuang.

Berjuang melawan kezaliman, ketidakadilan, kebathilan, kesewnang-wenangan, untuk mewujudkan negara yang BALDATUN THOYYIBATUN WA RABBUN GHAFUUR.

Itulah KONTRIBUSI PEMUDA TERTINGGI SAAT INI, jangan engkau rusak wahai pemuda, masa mudamu dengan Gadget dan permainan yang melenakan yang membuatmu tak layak masuk ke dalam gerbong peradaban ini.

#pemudaIslam​ #pemudaperadaban​ #pemudaharapan

https://youtu.be/kKU0cpRgC-k
Abdurrahman Al-Awsath

Sepeninggal Al-Hakam bin Hisyam, yg menduduki posisi kepemimpinan adalah putranya adalah Abdurrahman II. Dialah kemudian yg dikenal dalam sejarah dengan nama Abdurrahman Al-Awsath (anak pertengahan antara Abdurrahman Ad-Dakhil dan Abdurrahman An-Nashir). Ia memerintah pada tahun 206 H (821 M) hingga 238 H (852 M).

Masa kepemimpinannya dianggap sebagai fase terbaik dalam sejarah Andalusia. Ia mulai menghidupkan kembali jihad menghadapi pihak kristen di bagian Utara, dan berhasil menimpakan beberapa kekalahan pada mereka.
Ia seorang yg mempunyai perilaku yg baik, berkepribadian tenang, mencintai ilmu, dan mencintai rakyatnya.

Di antara hal-hal yg menjadi keistimewaan periode Abdurrahman Al-Ausath adalah:

Perkembangan Peradaban Keilmuan

Di antara ulama yg termasyhur di masanya adalah Abbas bin Firnas (274 H/887M), kunyahnya adalah Abu Al-Qasim. Beliau penduduk Cordova, dan bertempat tinggal di Barabar (Tacrina). Abbas bin Firnas hidup di abad ke 9 Masehi.

Abbas bin Firnas adalah orang yg pertama kali menggagas pembuatan kaca dari bebatuan dan pembuatan jam untuk mengetahui waktu.
Dialah penerbang pertama yg membelah langit; ia bermaksud menerbangkan tubuhnya, maka ia menutupi tubuhnya dengan bulu lalu memasang 2 sayap. Kemudian terbang di udara dengan jarak yg cukup jauh. Ia akhirnya jatuh hingga menyebabkan punggungnya sakit, karena ia tidak membuat ekor buatan. Ia tidak tahu bahwa seekor burung itu akan jatuh karena ekornya.
As-Shafady telah memaparkan banyak sekali pujian terhadapnya, memgatakan bahwa Abbas bin Firnas mempunyai sosok manusia dengan kecerdasan jin.
Perkembangan Peradaban Fisik

Abdurrahman Al-Ausath juga memberi perhatian yg besar terhadap peradaban materil (pembangunan fisik, ekonomi, dan yang lainnya).

Karena itu, gerakan perdagangan berkembang pesat di masanya, yg menyebabkan perputaran uang semakin banyak. Penting juga kita ketahui bahwa dalam megeri Andalusia sama sekali tidak ada yg disebut "meminta-minta", karena begitu makmurnya.