Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mempelajari adab sebelum menuntut ilmu adalah sangat penting. Ternyata masih banyak dari butir-butir di atas yang lalai kita – atau dalam hal ini, penulis – amalkan. Namun, seperti kata pepatah lama “tidak ada kata terlambat”. Maka belum terlambat bagi kita yang mungkin sudah terlanjur menuntut ilmu selama belasan bahkan mungkin puluhan tahun untuk memperbaiki cara kita dalam menuntut ilmu. Dalam memperlakukan guru dan kitab serta unsur lainnya dalam kegiatan menuntut ilmu. Alangkah baiknya apabila petunjuk-petunjuk yang telah kita dapatkan dari kitab ini diteruskan kepada sahabat, murid, guru, saudara, dan orang terkasih lainnya.
Oleh: Ilma Asharina – Peserta kelas literasi Memaknai Indonesia
REFERENSI
[1] Rosnani Hashim, Imron Rossidy, Islamization of Knowledge: A Comparative Analysis of the Conceptions of Al-Attas and Al-Faruqi, Intellectual Discourse, 2000, Vol.8, No I, hlm 19-44.
[2] https://kbbi.web.id/sains diakses pada Jumat, 20 September 2019 pukul 18.40 WIB.
[3] K.H. M. Hasyim Asy’ari, 2007, Etika Pendidikan Islam, Jogjakarta: Titian Wacana, hlm. 5.
[4] Ibid, hlm. xvii
[5] http://jejakislam.net/warisan-kh-hasyim-asyari-dan-kh-wahid-hasyim/ diakses pada Jumat, 20 September 2019 pukul 19.20 WIB.
[6] K.H. M. Hasyim Asy’ari, 2007, Etika Pendidikan Islam, Jogjakarta: Titian Wacana, hlm. 21-58.
[7] K.H. M. Hasyim Asy’ari, 2007, Etika Pendidikan Islam, Jogjakarta: Titian Wacana, hlm. 59-95.
[8] K.H. M. Hasyim Asy’ari, 2007, Etika Pendidikan Islam, Jogjakarta: Titian Wacana, hlm. 1-19 dan 95-99.
[9] Ibid, hlm. 96.
Oleh: Ilma Asharina – Peserta kelas literasi Memaknai Indonesia
REFERENSI
[1] Rosnani Hashim, Imron Rossidy, Islamization of Knowledge: A Comparative Analysis of the Conceptions of Al-Attas and Al-Faruqi, Intellectual Discourse, 2000, Vol.8, No I, hlm 19-44.
[2] https://kbbi.web.id/sains diakses pada Jumat, 20 September 2019 pukul 18.40 WIB.
[3] K.H. M. Hasyim Asy’ari, 2007, Etika Pendidikan Islam, Jogjakarta: Titian Wacana, hlm. 5.
[4] Ibid, hlm. xvii
[5] http://jejakislam.net/warisan-kh-hasyim-asyari-dan-kh-wahid-hasyim/ diakses pada Jumat, 20 September 2019 pukul 19.20 WIB.
[6] K.H. M. Hasyim Asy’ari, 2007, Etika Pendidikan Islam, Jogjakarta: Titian Wacana, hlm. 21-58.
[7] K.H. M. Hasyim Asy’ari, 2007, Etika Pendidikan Islam, Jogjakarta: Titian Wacana, hlm. 59-95.
[8] K.H. M. Hasyim Asy’ari, 2007, Etika Pendidikan Islam, Jogjakarta: Titian Wacana, hlm. 1-19 dan 95-99.
[9] Ibid, hlm. 96.
kbbi.web.id
Arti kata sains - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online
Definisi/arti kata 'sains' di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah n 1 ilmu pengetahuan pada umumnya; 2 pengetahuan sistematis tentang alam dan dunia fisi
Islam datang ke Indonesia tidak ada kepentingan ekonomi, politik. Islam itu datang untuk menyebarkan ajaran Rasulullah untuk kesejahteraan manusia.
Kenapa Belanda disebut kolonialisme, penjajah, imperialisme? karena jelas belanda:
1. Merebut kekuasaan
2. Menindas
3. Menghancurkan bangunan kebudayaan yang sudah kokoh, mapan di Indonesia,
semuanya untuk kepentingan mereka sendiri.
Kenapa Belanda disebut kolonialisme, penjajah, imperialisme? karena jelas belanda:
1. Merebut kekuasaan
2. Menindas
3. Menghancurkan bangunan kebudayaan yang sudah kokoh, mapan di Indonesia,
semuanya untuk kepentingan mereka sendiri.
Shalahuddin al Ayyubi membisikkan sesuatu kepada sekretaris pribadinya:
Aku ingin meraih kematian paling terhormat, mengarungi laut Mediterania untuk melibas seluruh kekuatan salib di eropa dan menyebarkan Islam di sana.
Aku ingin meraih kematian paling terhormat, mengarungi laut Mediterania untuk melibas seluruh kekuatan salib di eropa dan menyebarkan Islam di sana.
Sayyidul Mursalin, Rasulullah Saw dilahirkan di tengah kabilah besar, Bani Hasyim di kota Makkah pada pagi hari senin, tanggal 9 rabiul awwal pada tahun tragedi pasukan bergajah atau puluh tahun dari berlalunya kekuasaan kisra anusyirwan. Juga bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April tahun 571 M sesuai Dengan analisis seorang ulama besar, Muhammad Sulaiman al-manshurfuri dan seorang astrologi (ahli ilmu Falak), Mahmud Basya.
- Sumber Sirah Nabawiyah karya Syaikh shafiyyurrahman Al-Mubarokfuri BAB kelahiran nabi paragraf 1 hlm.64
°
Referensi lain :
Mengenai tanggal dan bulan lahirnya Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, hal ini masih diperselisihkan. Ada pendapat yang mengatakan bahwa beliau lahir tanggal 8 Rabi’ul Awwal, seperti pendapat Ibnu Hazm. Ada pula yang mengatakan tanggal 10 Rabi’ul Awwal. Dan yang masyhur menurut jumhur (mayoritas) ulama adalah pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Selain itu ada yang mengatakan, beliau dilahirkan pada bulan Ramadhan, ada pula yang mengatakan pada bulan Shafar. Sedangkan ahli hisab dan falak meneliti bahwa hari Senin, hari lahir beliau bertepatan dengan 9 Rabi’ul Awwal. Dan inilah yang dinilai lebih tepat.
Jika kita meneliti lebih jauh, ternyata yang pas dengan tanggal 12 Rabi’ul Awwal adalah hari kematian Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Meski mengenai kapan beliau meninggal pun masih diperselisihkan tanggalnya. Namun jumhur ulama, beliau meninggal dunia pada tanggal 12 dari bulan Rabi’ul Awwal, dan inilah yang dinilai lebih tepat.
Jika demikian, yang mau diperingati pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal apakah kematian beliau?! Wallahul musta’an.
Perselisihan di atas juga menunjukkan bahwa perayaan Maulid Nabi tidaklah begitu urgent, karena seandainya itu ingin diperingati, maka seharusnya ada konsensus para ulama yang menetapkan tanggal pasti perayaannya biar umat tidak berselisih sebagaimana jelas untuk Idul Fithri tanggal 1 Syawal dan Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah.
- Sumber Sirah Nabawiyah karya Syaikh shafiyyurrahman Al-Mubarokfuri BAB kelahiran nabi paragraf 1 hlm.64
°
Referensi lain :
Mengenai tanggal dan bulan lahirnya Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, hal ini masih diperselisihkan. Ada pendapat yang mengatakan bahwa beliau lahir tanggal 8 Rabi’ul Awwal, seperti pendapat Ibnu Hazm. Ada pula yang mengatakan tanggal 10 Rabi’ul Awwal. Dan yang masyhur menurut jumhur (mayoritas) ulama adalah pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Selain itu ada yang mengatakan, beliau dilahirkan pada bulan Ramadhan, ada pula yang mengatakan pada bulan Shafar. Sedangkan ahli hisab dan falak meneliti bahwa hari Senin, hari lahir beliau bertepatan dengan 9 Rabi’ul Awwal. Dan inilah yang dinilai lebih tepat.
Jika kita meneliti lebih jauh, ternyata yang pas dengan tanggal 12 Rabi’ul Awwal adalah hari kematian Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Meski mengenai kapan beliau meninggal pun masih diperselisihkan tanggalnya. Namun jumhur ulama, beliau meninggal dunia pada tanggal 12 dari bulan Rabi’ul Awwal, dan inilah yang dinilai lebih tepat.
Jika demikian, yang mau diperingati pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal apakah kematian beliau?! Wallahul musta’an.
Perselisihan di atas juga menunjukkan bahwa perayaan Maulid Nabi tidaklah begitu urgent, karena seandainya itu ingin diperingati, maka seharusnya ada konsensus para ulama yang menetapkan tanggal pasti perayaannya biar umat tidak berselisih sebagaimana jelas untuk Idul Fithri tanggal 1 Syawal dan Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah.
Melalui buku “Mawaqif; Beriman dengan Akal Budi”, Dr Henri Shalahuddin berupaya untuk menjawab beberapa persoalan mendasar dalam ilmu Kalam. Apa dan bagaimana sebetulnya ilmu Kalam itu. Dr Henri berhasil menghadirkan argumentasi ilmiah bagaimana seharusnya para cendikia melihat ilmu Kalam ini; tidak dalam posisi menolak mentah-mentah, ataupun menerima begitu saja tanpa sikap kritis.
.
Di dalam bukunya, Dr Henri mengklarifikasi lebih dalam apa yang menjadi perdebatan dalam isu-isu Kalam, tanpa terjebak pada perdebatan itu sendiri. Di tangan Dr Henri, ilmu Kalam menjadi sangat rasional di satu sisi, tanpa sedikitpun keluar dari koridor dalil di sisi lainnya. Termasuk, pembuktian atas kekeliruan dalam melihat Imam al-Ghazali yang dituduh sebagai biang keladi kemunduran sains dan menolak filsafat secara total. Dengan fakta yang ada, Dr Henri justru membuktikan, bahwa Imam Ghazali menempatkan filsafat dan Kalam, fiqih dan tasawuf dalam satu kotak yang sama. Pedekatan integratif ini juga yang sebetulnya menjadi ciri khas ahlu sunnah wa al-jama’ah. Misalnya saja “al-tawassut baina aql wa naql”, keseimbangan antara penggunaan rasionalitas dan dalil. Di sini Dr Henri memperlihatkan pandangan, yang selama ini dilewatkan oleh cerdik cendekia, khususnya muslim dewasa ini. Di mana seolah-olah kebenaran wahyu tidak dapat diafirmasi oleh rasionalitas, begitu juga sebaliknya.
.
Hal yang menarik lainnya dalam buku ini adalah Dr Henri dapat meramu diskursus Kalam menjadi semakin menarik dan kaya dengan menghadirkan persoalan kontemporer yang belakangan ramai di kanal-kanal berita, baik televisi hingga jejaring sosial. Isu-isu madzahib haddamah, semisal aliran-aliran menyimpang hingga menyangkut persoalan liberalisasi pemikiran juga tidak lewat dalam pembahasan. Dr Henri secara head to head membandingkan Islam Liberal yang konon disebut-sebut sebagai neo-mu’tazilah dengan Mu’tazilah yang sebenarnya. Nyatanya, argumen juga basis epistemologi Mu’tazilah punya muatan lebih berbobot dengan Islam yang mengaku dirinya liberal itu.
.
Di dalam bukunya, Dr Henri mengklarifikasi lebih dalam apa yang menjadi perdebatan dalam isu-isu Kalam, tanpa terjebak pada perdebatan itu sendiri. Di tangan Dr Henri, ilmu Kalam menjadi sangat rasional di satu sisi, tanpa sedikitpun keluar dari koridor dalil di sisi lainnya. Termasuk, pembuktian atas kekeliruan dalam melihat Imam al-Ghazali yang dituduh sebagai biang keladi kemunduran sains dan menolak filsafat secara total. Dengan fakta yang ada, Dr Henri justru membuktikan, bahwa Imam Ghazali menempatkan filsafat dan Kalam, fiqih dan tasawuf dalam satu kotak yang sama. Pedekatan integratif ini juga yang sebetulnya menjadi ciri khas ahlu sunnah wa al-jama’ah. Misalnya saja “al-tawassut baina aql wa naql”, keseimbangan antara penggunaan rasionalitas dan dalil. Di sini Dr Henri memperlihatkan pandangan, yang selama ini dilewatkan oleh cerdik cendekia, khususnya muslim dewasa ini. Di mana seolah-olah kebenaran wahyu tidak dapat diafirmasi oleh rasionalitas, begitu juga sebaliknya.
.
Hal yang menarik lainnya dalam buku ini adalah Dr Henri dapat meramu diskursus Kalam menjadi semakin menarik dan kaya dengan menghadirkan persoalan kontemporer yang belakangan ramai di kanal-kanal berita, baik televisi hingga jejaring sosial. Isu-isu madzahib haddamah, semisal aliran-aliran menyimpang hingga menyangkut persoalan liberalisasi pemikiran juga tidak lewat dalam pembahasan. Dr Henri secara head to head membandingkan Islam Liberal yang konon disebut-sebut sebagai neo-mu’tazilah dengan Mu’tazilah yang sebenarnya. Nyatanya, argumen juga basis epistemologi Mu’tazilah punya muatan lebih berbobot dengan Islam yang mengaku dirinya liberal itu.
Jangan hanya sekedar berilmu
Ilmu bukan segala-galanya. Karena ilmu bukan segala-galanya maka kenapa tadi saya bacakan ayat dalam firman Allah di surat al Baqarah:
يعط
Ayat ini luarbiasa, karena ternyata Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengganti ilmu dengan hikmah dalam ayat itu. Allah tidak menyampaikan bahwa Allah memberikan ilmu kepada siapa yang Allah kehendaki tapi Allah menyampaikan Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki.
Karena siapa yang diberi hikmah, sungguh dia telah diberikan kebaikan yang banyak
Ilmu bukan segala-galanya. Karena ilmu bukan segala-galanya maka kenapa tadi saya bacakan ayat dalam firman Allah di surat al Baqarah:
يعط
Ayat ini luarbiasa, karena ternyata Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengganti ilmu dengan hikmah dalam ayat itu. Allah tidak menyampaikan bahwa Allah memberikan ilmu kepada siapa yang Allah kehendaki tapi Allah menyampaikan Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki.
Karena siapa yang diberi hikmah, sungguh dia telah diberikan kebaikan yang banyak
UJIAN SIRAH NABI
1. Pada usia berapa Rasulullah Saw dipulangkan ke ibunya dari Bani Sa'ad?
2. Pada tahun kenabian keberapa, Rasulullah Saw memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Habasyah?
3. Kapan Hamzah bin Abdul Muththalib dan Umar bin Khaththab masuk Islam?
4. Kapan Rasulullah Saw mencoba berdakwah ke Thaif?
5. Kapan terjadinya Pemindahan Kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram?
6. Kapan terjadinya Perang Ahzab/Khandaq?
7. Tahun berapakah Yahudi Bani Quraidzhah diperangi Rasul saw karena pengkhianatan mereka?
8. Pada tahun berapa Perjanjian Hudaibiyah diadakan?
9. Perang Mu'tah terjadi pada tahun...
10. Pada tahun berapa Haji Wada' terjadi?
1. Pada usia berapa Rasulullah Saw dipulangkan ke ibunya dari Bani Sa'ad?
2. Pada tahun kenabian keberapa, Rasulullah Saw memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Habasyah?
3. Kapan Hamzah bin Abdul Muththalib dan Umar bin Khaththab masuk Islam?
4. Kapan Rasulullah Saw mencoba berdakwah ke Thaif?
5. Kapan terjadinya Pemindahan Kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram?
6. Kapan terjadinya Perang Ahzab/Khandaq?
7. Tahun berapakah Yahudi Bani Quraidzhah diperangi Rasul saw karena pengkhianatan mereka?
8. Pada tahun berapa Perjanjian Hudaibiyah diadakan?
9. Perang Mu'tah terjadi pada tahun...
10. Pada tahun berapa Haji Wada' terjadi?
2 MODAL MENDIDIK ANAK
1. Niat yang ikhlas Lillahi Ta'ala.
Menjaga dan mendidik anak karena Allah.
2. ILMU.
Tanpa ilmu yang baik, akan sulit memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak.
Note.
Updatelah selalu 2 modal utama mendidik anak itu.
1. Niat yang ikhlas Lillahi Ta'ala.
Menjaga dan mendidik anak karena Allah.
2. ILMU.
Tanpa ilmu yang baik, akan sulit memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak.
Note.
Updatelah selalu 2 modal utama mendidik anak itu.
https://youtu.be/DWRFY7PizEY, Ayah, engkau adalah ayat Allah petunjuk Allah di muka bumi ini untuk anak-anakmu
YouTube
Engkau adalah ayat Allah di Muka Bumi
Pada video kali ini, ustadz Budi Ashari, menyampaikan tafsir tentang kisah Yusuf yang digoda oleh seorang wanita istri penguasa di zaman itu. Saat itu sang w...
MATA UANG PERAK VOC TAHUN 1747 M (Garis tengah: 2.3 cm - koleksi Museum Nasional)
Sisi muka bertuliskan huruf Arab dan Bahasa Arab: al Jazirat Jawa al Kabir, dengan bunga Mawaar di atasnya.
Sisi belakang bertuliskan huruf Arab dan Bahasa Arab Indonesia:
Denham Min Kompeni Welandawi, artinya Dirham dari Kompeni Belanda.
Pada abad ke 18 rakyat tidak mengenal huruf latin, hanya mengenal huruf Arab berkat pengaruh Islam, walaupun VOC penjajah tetap menghormati huruf rakyat jajahannya.
Bandingkan mata uang RI, pernah terdapat huruf Arab MElayu pada koin Pangeran Diponegoro, selanjutnya dihapuskan. Gambar mata uang RI, adanya de-Islamisasi gambar mata uang, lebih banyak menggambarkan Candi Borobudur atau Candi Prambanan, walaupun mayoritas rakyat Indonesia adalah Islam.
Sisi muka bertuliskan huruf Arab dan Bahasa Arab: al Jazirat Jawa al Kabir, dengan bunga Mawaar di atasnya.
Sisi belakang bertuliskan huruf Arab dan Bahasa Arab Indonesia:
Denham Min Kompeni Welandawi, artinya Dirham dari Kompeni Belanda.
Pada abad ke 18 rakyat tidak mengenal huruf latin, hanya mengenal huruf Arab berkat pengaruh Islam, walaupun VOC penjajah tetap menghormati huruf rakyat jajahannya.
Bandingkan mata uang RI, pernah terdapat huruf Arab MElayu pada koin Pangeran Diponegoro, selanjutnya dihapuskan. Gambar mata uang RI, adanya de-Islamisasi gambar mata uang, lebih banyak menggambarkan Candi Borobudur atau Candi Prambanan, walaupun mayoritas rakyat Indonesia adalah Islam.
MATA UANG DINAR KESULTANAN GOA 1669 - 1674 M (garis tengah 0,98 cm - koleksi Museum Nasional Jakarta)
Sisi muka tertera huruf Arab: as Sultan Amir Hamzah
Sisi belakang tertera huruf Arab: Haladaulah Malik wa Sultan Amin
Sampai dengan abad 17 M, para Sultan telah memiliki konsep gambar mata uang Islami.
Bandingkan setelah proklamasi 17 Agustus 1945, walaupun Menteri keuangan dan Direktur Bank Indonesia seorang Muslim, tidak pernah melahirkan gambar mata uang dengan gambar Masjid atau prasasti Islami lainnya.
Sisi muka tertera huruf Arab: as Sultan Amir Hamzah
Sisi belakang tertera huruf Arab: Haladaulah Malik wa Sultan Amin
Sampai dengan abad 17 M, para Sultan telah memiliki konsep gambar mata uang Islami.
Bandingkan setelah proklamasi 17 Agustus 1945, walaupun Menteri keuangan dan Direktur Bank Indonesia seorang Muslim, tidak pernah melahirkan gambar mata uang dengan gambar Masjid atau prasasti Islami lainnya.
TENTANG SEJARAH
Banyak orang yang menyangka bahwa menulis sejarah atau mempelajari sejarah adalah tentang masa lalu dan kepentingannya untuk masa lalu juga, padahal sebetulnya sangat salah.
Sejarah dipelajari, ditulis, dan disampaikan bukan untuk masa lalu, tetapi untuk kepentingan manusia masa kini. Maka, kalau mempelajari, mengkaji, dan menulis sejarah tidak mengkaitkannya dengan apa kita butuhkan hari ini, justru itu adalah tindakan ahistoris; tindakan yang tidak sesuai dengan karakter dari sejarah itu sendiri yang dibutuhkan oleh manusia hari ini.
Belum banyak orang yang memahami bahwa sejarah diceritakan oleh Allah itu bukan untuk kepentingan orang-orang di masa lalu, tetapi adalah untuk kepentingan kita.
Maka, kalau kita menyadari ini, menulis sejarah berarti harus diasaskan pada satu misi tertentu yang jelas, dimana misi tersebut akan ditentukan oleh ideologi orang yang menulis atau menceritakan sejarahnya masing-masing. Apabila ideologinya benar, maka sejarahnya pun akan diceritakan dengan benar. Namun, bila ideologinya rusak, maka sejarah itu pun akan dirusak sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Oleh sebab itu, kita yang membaca sejarah harus hati-hati dalam memilah dan memilih sejarah.
Nah, bagaimana caranya agar kita tidak salah dalam mempelajari sejarah? Mari simak video berikut ini untuk mengetahui jawabannya.
Banyak orang yang menyangka bahwa menulis sejarah atau mempelajari sejarah adalah tentang masa lalu dan kepentingannya untuk masa lalu juga, padahal sebetulnya sangat salah.
Sejarah dipelajari, ditulis, dan disampaikan bukan untuk masa lalu, tetapi untuk kepentingan manusia masa kini. Maka, kalau mempelajari, mengkaji, dan menulis sejarah tidak mengkaitkannya dengan apa kita butuhkan hari ini, justru itu adalah tindakan ahistoris; tindakan yang tidak sesuai dengan karakter dari sejarah itu sendiri yang dibutuhkan oleh manusia hari ini.
Belum banyak orang yang memahami bahwa sejarah diceritakan oleh Allah itu bukan untuk kepentingan orang-orang di masa lalu, tetapi adalah untuk kepentingan kita.
Maka, kalau kita menyadari ini, menulis sejarah berarti harus diasaskan pada satu misi tertentu yang jelas, dimana misi tersebut akan ditentukan oleh ideologi orang yang menulis atau menceritakan sejarahnya masing-masing. Apabila ideologinya benar, maka sejarahnya pun akan diceritakan dengan benar. Namun, bila ideologinya rusak, maka sejarah itu pun akan dirusak sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Oleh sebab itu, kita yang membaca sejarah harus hati-hati dalam memilah dan memilih sejarah.
Nah, bagaimana caranya agar kita tidak salah dalam mempelajari sejarah? Mari simak video berikut ini untuk mengetahui jawabannya.
BUKAN PEMBERI HARAPAN PALSU
Di dalam Al Qur'an, ada banyak sekali janji yang Allah sampaikan. Diantaranya adalah janji Allah untuk kemenangan agama ini, yaitu agama islam.
Ingat ya, kalau Allah yang beri janji, pasti ditepati. Karena yang hobby ngasih harapan palsu itu hanya manusia yang bahkan tak berkuasa terhadap dirinya sendiri.
Kalau yang janji adalah penguasa langit dan bumi. Sudah pasti akan terjadi. Mau tau apa yang Allah janjikan tentang kemenangan agama ini?
Silahkan simak baik-baik pada kajian "Dhuha penuh hikmah" di hari Jum'at yang penuh berkah bersama gurunda kita,
Pemateri : Ustadz Budi Ashari, Lc.
ema : Janji Al Quran untuk Kemenangan Islam
Live on : www.kursihikmah.id
Langsung daftarkan diri dan ajak orang lainnya untuk mengikuti Kajian Dhuha Penuh Hikmah di www.kursihikmah.id
Barakallah fiikum🧡
Kursihikmah.id
Simak kajian penuh hikmah tanpa biaya
#RamadhanBersamaKursiHikmah
#DhuhaPenuhHikmah
Di dalam Al Qur'an, ada banyak sekali janji yang Allah sampaikan. Diantaranya adalah janji Allah untuk kemenangan agama ini, yaitu agama islam.
Ingat ya, kalau Allah yang beri janji, pasti ditepati. Karena yang hobby ngasih harapan palsu itu hanya manusia yang bahkan tak berkuasa terhadap dirinya sendiri.
Kalau yang janji adalah penguasa langit dan bumi. Sudah pasti akan terjadi. Mau tau apa yang Allah janjikan tentang kemenangan agama ini?
Silahkan simak baik-baik pada kajian "Dhuha penuh hikmah" di hari Jum'at yang penuh berkah bersama gurunda kita,
Pemateri : Ustadz Budi Ashari, Lc.
ema : Janji Al Quran untuk Kemenangan Islam
Live on : www.kursihikmah.id
Langsung daftarkan diri dan ajak orang lainnya untuk mengikuti Kajian Dhuha Penuh Hikmah di www.kursihikmah.id
Barakallah fiikum🧡
Kursihikmah.id
Simak kajian penuh hikmah tanpa biaya
#RamadhanBersamaKursiHikmah
#DhuhaPenuhHikmah
Assalaamu'alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh
Ramadhan sering dikatakan sebagai syahrul quran
Syahrush shiyam
Syahrut tarbiyyah
Ramadhan adalah salah satu cara Allah mendidik hambaNya agar bertaqwa. Dengan Ramadhan Allah ingin memberi kelebihan-kelebihan dalam pahala.
Islam adalah agama ILMU, maka ILMU sangat ditekankan di dalam Islam
Nabi diutus Allah sebagai Nabi dan Rasul pada hakekatnya adalah sebagai murabbi, guru bagi kita semua umatnya.
Dalam sekolah, guru adalah bahan utama yang amat menentukan kualitas sebuah pendidikan. Gurunya baik maka insyaAllah hasil didikannya akan baik
Kenapa Indonesia (Nusantara) dapat bertahan dari penjajahan Portugis dan Belanda hingga 350 tahun lamanya?
Ini adalah kerja keras, pengorbanan harta dan nyawa dari para Ulama yang juga sebagai guru bagi anak bangsanya.
Syech Abdus Somad Falembangi, menulis buku saat itu di tengah kondisi penjajahan oleh Belanda berjudul Jihad Fii Sabilillah. Intinya buku ini mengajak rakyat untuk melawan mempertahankan agama dan negerinya yang hendak direbut penjajah.
Ulama sebagai guru mengarahkan bahwa penjajah harus dimusnahkan, keadilan harus ditegakkan.
Di tengah keputus-asaan Belanda terhadap kegigihan para ulama, santri dan rakyat yang terus melawannya, muncul seorang tokoh orientalis, Snouck Hurgronye, yang telah menyelesaikan doktornya tentang Haji. Beliau masuk Islam dan naik haji. Kelak kebohongannya ini dibongkar oleh kawannya sendiri sesama orientalis, bahwa keIslamannya hanyalah kedok semata untuk melumpuhkan perlawanan ulama dan santri.
Satu strateginya yang ampuh melawan kegigihan para ulama dan santri:
Dengan pendidikan dan pengajaran, kita lepaskan umat Islam dari belenggu agamanya.
Jadi kehebatan perlawan ulama, santri bersama rakyat saat itu adalah karena metode pendidikan Islam yang dijalankan ulama kepada masyarakat. Bukan karena mereka bangsa asing, bukan karena mereka berbeda agama, melainkan penjajah telah melakukan kedzaliman dan ketidakadilan terhadap bangsa ini.
Demikian mulianya ulama yang juga guru bangsanya, maka ada seorang guru dalam sebuah kesempatan di acara Maulid Nabi mengatakan:
Dikala kegundahan melanda, memikirkan sulitnya menaklukkan kenakalan anak didiknya, memahamkan mereka akan ilmu, memikirkan begitu banyaknya tugas yang harus diselesaikan, sang guru mengingat hadits Nabi berikut:
Innallaha wa malaaikatahu yusholluuna ala muallimin naasal khair, hattal khitan fil bahri wa namlatu fii zuhrihaa
Maka janganlah pernah seorang guru berhenti untuk belajar dan belajar. Guru adalah pejuang, walau gajinya tak sebanding dengan seorang dokter apalagi ahli IT, namun guru Allah muliakan lebih dari yang lainnya.
Wajib seseorang mengajarkan ilmu dan wajib bagi kita semua muslim untuk menuntut ILMU dari seorang guru. Tapi ingat akan tujuan kita menuntut ilmu.
Di tengah dunia yang sangat kapitalistik, semua dihargai dengan uang,kemuliaan dinilai dengan berapa banyak kekayaan yang kita miliki, membuat kita tertipu, kemudian menyekolahkan anak-anak kita agar bisa kerja di perusahaan A, bisa punya karir yang baik, bisa naik jabatan dan sebagainya. Padahal Nabi bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari hadits ini kita jadi tahu tujuan menuntut ilmu/belajar dalam Islam adalah untuk menjadi orang baik, orang shalih, untuk menggantikan generasi di depannya yang tidak amanah, korupsi, zhalim, dan ketidakbaikan lainnya untuk digantikan oleh generasi yang baik, yang shalih, yang tahu halal dan haram, yang semua tindakannya selalu berpedoman kepada al Quran dan Hadits Nabinya.
Kemudian tak lupa kita berdoa:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
Ramadhan sering dikatakan sebagai syahrul quran
Syahrush shiyam
Syahrut tarbiyyah
Ramadhan adalah salah satu cara Allah mendidik hambaNya agar bertaqwa. Dengan Ramadhan Allah ingin memberi kelebihan-kelebihan dalam pahala.
Islam adalah agama ILMU, maka ILMU sangat ditekankan di dalam Islam
Nabi diutus Allah sebagai Nabi dan Rasul pada hakekatnya adalah sebagai murabbi, guru bagi kita semua umatnya.
Dalam sekolah, guru adalah bahan utama yang amat menentukan kualitas sebuah pendidikan. Gurunya baik maka insyaAllah hasil didikannya akan baik
Kenapa Indonesia (Nusantara) dapat bertahan dari penjajahan Portugis dan Belanda hingga 350 tahun lamanya?
Ini adalah kerja keras, pengorbanan harta dan nyawa dari para Ulama yang juga sebagai guru bagi anak bangsanya.
Syech Abdus Somad Falembangi, menulis buku saat itu di tengah kondisi penjajahan oleh Belanda berjudul Jihad Fii Sabilillah. Intinya buku ini mengajak rakyat untuk melawan mempertahankan agama dan negerinya yang hendak direbut penjajah.
Ulama sebagai guru mengarahkan bahwa penjajah harus dimusnahkan, keadilan harus ditegakkan.
Di tengah keputus-asaan Belanda terhadap kegigihan para ulama, santri dan rakyat yang terus melawannya, muncul seorang tokoh orientalis, Snouck Hurgronye, yang telah menyelesaikan doktornya tentang Haji. Beliau masuk Islam dan naik haji. Kelak kebohongannya ini dibongkar oleh kawannya sendiri sesama orientalis, bahwa keIslamannya hanyalah kedok semata untuk melumpuhkan perlawanan ulama dan santri.
Satu strateginya yang ampuh melawan kegigihan para ulama dan santri:
Dengan pendidikan dan pengajaran, kita lepaskan umat Islam dari belenggu agamanya.
Jadi kehebatan perlawan ulama, santri bersama rakyat saat itu adalah karena metode pendidikan Islam yang dijalankan ulama kepada masyarakat. Bukan karena mereka bangsa asing, bukan karena mereka berbeda agama, melainkan penjajah telah melakukan kedzaliman dan ketidakadilan terhadap bangsa ini.
Demikian mulianya ulama yang juga guru bangsanya, maka ada seorang guru dalam sebuah kesempatan di acara Maulid Nabi mengatakan:
Dikala kegundahan melanda, memikirkan sulitnya menaklukkan kenakalan anak didiknya, memahamkan mereka akan ilmu, memikirkan begitu banyaknya tugas yang harus diselesaikan, sang guru mengingat hadits Nabi berikut:
Innallaha wa malaaikatahu yusholluuna ala muallimin naasal khair, hattal khitan fil bahri wa namlatu fii zuhrihaa
Maka janganlah pernah seorang guru berhenti untuk belajar dan belajar. Guru adalah pejuang, walau gajinya tak sebanding dengan seorang dokter apalagi ahli IT, namun guru Allah muliakan lebih dari yang lainnya.
Wajib seseorang mengajarkan ilmu dan wajib bagi kita semua muslim untuk menuntut ILMU dari seorang guru. Tapi ingat akan tujuan kita menuntut ilmu.
Di tengah dunia yang sangat kapitalistik, semua dihargai dengan uang,kemuliaan dinilai dengan berapa banyak kekayaan yang kita miliki, membuat kita tertipu, kemudian menyekolahkan anak-anak kita agar bisa kerja di perusahaan A, bisa punya karir yang baik, bisa naik jabatan dan sebagainya. Padahal Nabi bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari hadits ini kita jadi tahu tujuan menuntut ilmu/belajar dalam Islam adalah untuk menjadi orang baik, orang shalih, untuk menggantikan generasi di depannya yang tidak amanah, korupsi, zhalim, dan ketidakbaikan lainnya untuk digantikan oleh generasi yang baik, yang shalih, yang tahu halal dan haram, yang semua tindakannya selalu berpedoman kepada al Quran dan Hadits Nabinya.
Kemudian tak lupa kita berdoa:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”