BERILMU DENGAN BUKU
64 subscribers
738 photos
27 videos
20 files
532 links
Channel edukasi seputar Aqidah, Ibadah, Muamalah, Pengembangan diri dan Keluarga, Bisnis, Marketing dan Rekomendasi Buku
Download Telegram
Idul Fitri
Bergembira di Ruang Iman

A Deni
Kesungguhan mempererat hubungan transeden dengan Alloh ta'ala tidak lantas memisahkan seorang muslim dari fitrahnya.

Islam hadir justru untuk melindungi fitrah manusia, baik fitrah jasadiyah (fisik) maupun fitrah ruhiyah (jiwa), seperti diungkapkan Ibnu Asyur.

Di antara sederet fitrah manusia adalah senang dengan keindahan, suka dengan keceriaan dan kegembiraan.

Manusia pun menginginkan hiburan di tengah kepenatan dan kejenuhan, mencari pelipur lara, bercanda dengan sesama, serta fitrah lainnya yang melekat pada diri manusia.

Riang-gembira, suka cita menjalani agama ini bukan tidak mungkin menjadi penanda kerelaan seorang hamba atas ketetapan-Nya.

Salah satu momen kegembiraan, keceriaan dan suka cita di dalam Islam adalah hari raya Idul Fitri.

Ied sendiri artinya even pengulangan kegembiraan, keriangan, dan suka cita, seperti didefinisikan Abdulloh Syarqowi dalam Syarah Hikam:

الأعياد عبارة عن الأوقات العائدة على الناس بالمسرات والأفراح

Idul Fitri digelar sebagai hari bersuka cita dan bergembira bersama di ruang iman. Bersama-sama merasakan bahagia, berbagi keceriaan,
seperti dimaknai Imam Ibnu Rajab dalam karyanya Lathoiful Ma'arif.
يوم الفرح والسرور

Al-faroh atau gembira di sini memiliki konotasi positif, sebagai lawan kata 'ujub yang bermakna negatif. Faroh sendiri kegembiraan yang lahir dari kesadaran kepada Allah akan nikmat yang diterima. Sedangkan 'ujub adalah kegembiraan yang muncul semata melihat kemampuan diri.

المعجب أن ينقطع نظره عن رؤية النعم من المنعم بها فيتوهمها من نفسه

Ada banyak penanda yang menguatkan makna faroh di atas. Setidaknya bisa kita cermati dari model-model syariat di hari raya Idul Fitri.

Pertama, sunah mandi pagi hari bagi siapa saja yang mendapati hari raya. Mulai dari tua-muda, sampai anak-anak. Wanita haid sekalipun dianjurkan mandi sunah, hal yang sebenarnya dilarang di luar Idul Fitri.

Kedua, memakai wangi-wangian, memotong kuku menjadi salah satu sunah penting di hari nan fitri.

Ketiga, disunahkan mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki, terlebih pakaian baru.

Seluruh kaum muslimin diminta berperan aktif mengekspresikan kegembiraan dan keceriaan secara masif dalam kondisi badan yang segar, wangi, serta pakaian bagus.

Keempat, pada hari ini siapapun dilarang berpuasa. Di saat persediaan makanan memadai, berpuasa di hari ini menjadi kontra produktif dengan nuansa riang-gembira.

Beribadah tidak hanya mengerjakan shalat, ibadah pun dengan meninggalkan shalat saat sedang haid.

Beribadah tidak hanya dengan menjalankan puasa, ibadah pun dengan meninggalkan puasa saat Idul fitri.

Kelima, disyariatkan zakat fitrah menjelang hari raya, agar di hari ini dan hari setelahnya memiliki persediaan pangan yang memadai, sehingga tidak ada yang kelaparan dan kekurangan, yang dapat merusak berlangsungnya kegembiraan kolektif.

Keenam, dianjurkan menyampaikan tahniah, yaitu ungkapan-ungkapan suka cita di hari raya.

Ketujuh, di hari ini hendaknya setiap orang tidak membagikan hal-hal yang dapat membuat orang lain sedih.

Kedelapan, disunagkan tausi'ah ala 'iyal atau memberi kelapangan dan kegembiraan pada keluarga. Bisa dengan berbagai cara, dengan berbagi hadiah, uang, dsb.

Terakhir, seperti terekam dalam Shohih Bukhari, siti Aisyah menceritakan dua budak perempuan pada hari raya yang menampilkan kebolehannya menabuh duff, dan Nabi merestuinya.

Menampakkan kebahagiaan di hari raya, saling berbagi hadiah, tidak menampakkan kegelisahan dan keresahan, tidak juga menciptakan kesedihan yang membuat orang lain ikut bersedih menjadi penting dihadirkan di hari raya.


Wallohu 'alam
_________
KUN FAYAKUN (كن فيكون)

حِيْنَمَا حَلَّ الْبَلَاء – جِئْتُ إِلَيْكَ ذَلِيْلًا أُنَاجِي

Ketika cobaan menimpa, aku datang kepada-Mu dengan rendah hati seraya memohon

مَنْ لِيْ غَيْرُكَ رَبِّيْ – يَسْمَعُ مِنِّيْ شَكْوَاي

Siapakah yang ada untukku selain Engkau, Tuhanku – yang mendengar keluh kesahku

مَنْ يَسْتَجِيْبُ الدُّعَاء – إِلَّا الَّذِيْ قَدْ دَعَانَا إِلَيْهِ

Siapa lagi yang mengabulkan do’a – kecuali Dzat yang menyeru kita untuk berdo’a

مَنْ لِيْ غَيْرُكَ رَبِّيْ – مَعْقُوْدٌ فِيْهِ رَجَايَ

Aku tidak memiliki siapapun selain Engkau Tuhanku – kepada-Nya terpaut harapanku

لَا تُعَامِلْنِيْ بِذَنْبِيْ – يَا جَوَادُ يَا كَرِيْم

Jangan hukum aku karena dosaku – wahai Dzat Yang Maha Pemurah lagi Maha Mulia

إِنَّنِيْ عَبْدٌ ضَعِيْفٌ – حَظُّهُ لَا يَسْتَقِيْم

Sungguh aku hamba yang lemah – yang nasibnya tidak selalu lurus

لَا لَا تَحْرِمْنِيْ رَبَّيْ – مِنْ لُطْفِكَ الْعَمِيْم

Jangan haramkan aku Tuhanku – dari kelembutan-Mu yang sempurna

فَسِقَامِيْ أَتْعَبَتْنِيْ – يَا رَبِّيَ الرَّحِيْم

Sakitku melelahkanku – Wahai Tuhanku yang Maha Penyayang

قُلْ لَهُ كُنْ فَيَكُوْن

Katakan kepadanya “jadilah” makan terjadilah

يَا مُجْزِلًا بِالْعَطَاء – لَا حَوْلَ لِيْ كَيْ أُحَالَ إِلَيْهِ

Wahai yang berlimpah dengan karunia – tiada daya bagiku untuk mengatasi ini

مَنْ لِيْ غَيْرُكَ رَبِّيْ – يَسْمَعُ مِنِّيْ شَكْوَاي

Siapakah yang ada untukku selain Engkau, Tuhanku – yang mendengar keluh kesahku

يَا مَنْ لِقَلْبِيْ شِفَاء – مِنْ كُلَّ دَاءٍ خَلَقْتَ دَوَاءً

Wahai yang menyembuhkan hatiku – yang menciptakan penawar bagi setiap penyakit

مَنْ لِيْ غَيْرُكَ رَبِّيْ – يَشْفِيْنِيْ يَا مَوْلَايَ

Siapakah yang ada untukku selain Engkau, Tuhanku – yang menyembuhkanku wahai pelindungku

قُلْ لَهُ كُنْ فَيَكُوْن

Katakan kepadanya “jadilah” makan terjadilah
TA'DZIIMUL 'ILMI
(Adab dan Kaedah Memuliakan Ilmu)

Simpul Pertama: Menyucikan Wadah Ilmu

Wadah bagi ilmu adalah hati, karena setiap hal yang ingin diperoleh, memerlukan suatu wadah untuk menyimpannya, dan wadah untuk ilmu adalah hati.

Kotoran pada wadah akan mengotori dan mengubah isinya. Ilmu akan masuk ke dalam hati sesuai dengan kadar kebersihannya, dan semakin hati itu bersih, semakin besar pula kemampuannya untuk menerima ilmu.

Perumpamaan ilmu di dalam hati adalaj seperti cahaya lampu, jika kaca lampu bersih, cahayanya akan bersinar terang, namun jika kaca lampu ternoda, cahayanya akan redup.

Siapa yang ingin memperoleh ilmu, hendaknya menghiasi batinnya dan membersihkan hatinya dari segala kekotoran. Ilmu adalah permata yang mulia dan lembut, yang hanya dapat diterima oleh hati yang bersih.

Pembersihan hati kembali kepada dua pokok utama:
1. Pembersihan dari kotoran syubhat
2. Pembersihan dari kotoran syahwat

Karena kebersihan hati memiliki kedudukan yang sangat penting, Nabi saw diperintahkan untuk itu sejak awal. Sebagaimana dalam firman Allah Ta'ala di surah Al-Muddatstsir:
Wa tsiyaabaka fathohhir
(Dan pakaianmu, maka sucikanlah)
(QS. Al-Muddatstsir:4)

Nabi saw bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan amal perbuatan kalian."

Barangsiapa yang hatinya bersih, ilmu akan tinggal di dalamnya. Namun, barangsiapa yang tidak membersihkan kotoran dalam hatinya, ilmu akan meninggalkannya dan pergi.

Dan jika kamu memperhatikan keadaan sekelompok penuntut ilmu dalam hal ini (penyucian jiwa), kamu akan mendapati adanya kerusakan yang nyata. Lalu di mana pengagungan seseorang terhadap ilmu, sementara syubhat dan syahwat terus datang dan pergi dalam hati mereka?.

Dia diseru oleh gambaran yang terlarang, dan diperdaya oleh ucapan yang tercela. Hatinya dipenuhi dengan kemungkaran, dan menikmati hal-hal yang haram. Di dalamnya ada kebencian, kerusakan, iri hati, pembangkangan, kemunafikan, dan perpecahan. Bagaimana mungkin orang-orang seperti ini bisa terkait dengan ilmu? Mereka jauh darinya, dan ilmu pun tidak akan mendekat kepada mereka.

Sahl bin Abdullah berkata,"Haram bagi hati untuk diterangi cahaya (ilmu), jika di dalamnyaterdapat sesuatu yang dibenci oleh Allah.


~ Syaikh Shalih bin Abdillah bin Hammad Al-'Ushoimi ~
(Ta'dziimul 'Ilmi)
[TA'DZIIMUL ILMI
Adab dan Kaedah Memuliakan Ilmu

Simpul ketiga agar Ilmu berdampak pada diri, keluarga dan lingkungan adalah Mengumpulkan tekad jiwa untuk mencapainya.

Hati yang terpecah akan menjadi teratur dan terkumpul ketika difokuskan pada ilmu. Namun, jika hati disibukkan dengannya sekaligus hal-hal lain, ia akan semakin terpecah dan tercerai berai. Tekad untuk mencapai tujuan hanya bisa dikumpulkan dengan memperhatikan tiga hal berikut:
1. Bersemangat dalam meraih hal-hal yang bermanfaat
2. Memohon pertolongan Allah Ta'ala dalam mencapainya.
3. Tidak merasa lemah dalam mencapainya.

Nabi saw bersabda:
"Berusahalah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mohon pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah."

Kesungguhan menghasilkan kenikmatan, dan kemalasan menyebabkan penderitaan.

Ibnul Qoyyim berkata:
"Jika bintang semangat muncul di gelapnya malam kemalasan, dan disusul dengan munculnya bulan tekad, maka bumi akan bersinar dengan cahaya Rabbnya."

Abul Wafa bin Aqil melantunkan syair ketika dia berusia 80 tahun:
"Tidak pernah pudar tekadku, keteguhanku, akhlakku
Dan tidak pernah berkurang loyalitasku, agamaku, kedermawananku
Sesungguhnya yang berubah hanyalah warna rambutku
Karena uban di rambut berbeda dengan uban dalam semangat]

~ Syaikh Shalih bin Abdillah bin Hammad Al-'Ushoimi ~
(Ta'dziimul 'Ilmi)
DARI OPERATOR YANG CAPEK MENUJU CEO YANG BERPIKIR

Kenapa materi ini penting?
1. Kecepatan
2. Kejernihan
3. AI
4. Thinking time

Owner dibayar oleh kualitas keputusan
Operator dibayar oleh aktivitas
Semakin besar bisnis semakin besar keputusan yg dibayar

Peserta akan dapat:
1.

Siapakah kita? cek posisi kita hari ini
1. Sering sibuk tapi tidk maju
2. Sudah pake AI tapi blm utk keputusan
3. Sering bottleneck bisnis
4. Hampir tidak punya waktu berpikir

Thinking time adalah:
1. Disengaja waktu yg disengaja
2. Jernih, utk berpikir jernih
3. Penting tentang hal penting
4. Tepat, dg pertanyaan yg tepat

===============
How might I double sales without break the margin?
how might I improve repeat order?
How Might I reduce owner depedency?
How might I make better decisions faster?

Cara:
Sederhanakan masalah
Tidak emosional
Membuka lbh banyak kemungkinan
Bisa ditindaklanjuti
Tidak kabur

SEMUA MASALAH SERING DIMULAI DARI GOOD IDEA

1. Ide yang tlihat bagus
2. Asumsi yg tidak diuji
3. keinginan yang terlalu cepat
Dumb Tax= Good idea tanpa thinking time

3 SALAH KAPRAH TENTANG AI

1. Minta jawaban tapa konteks
2. Minta strategi tanpa angka
3. Minta keputusan tanpa pertanyaan yg tajam

AI lakukan:
Clarify
Challange

POSISI AI
STaf berpikir
Kita pemilik kputusan

DATA-INFORMASI-KNOWLEDGE-INSIGHT
Krn briefnya buruk:
tujuan tdk jelas
konteks tdk ada
angka tidk ada
batasan tdk ada
definsi sukses tidak jelas

DATA MINIMUM SEBELUM TANYA KE AI

Tujuan keputusan
Omzet dan margin
Cashflow inti
Data penjualan
Pelanggan utama
Produk utama
bottleneck
Resiko
Resource tersedia
FRAMEWORK UTAMA
Modul 4- framework ai + thinking time

Before
AI membantu framing
During
Manusia berpikir
After
AI membantu merapikan aksi
TAHAP 1SEBWLUM THINKING TIME

Merumuskan masalah
Memerakan tema
Management
Decision
Activities
Numbers

Business optic= scoreboard
Accounting Report Card
🌱 *HAK DIRAMPAS — PUTUSKAN SILATURAHMI ATAU MEMAAFKAN?*

📞 *Tanya Jawab Live Interaktif Dewan Fatwa*

💬 *Pertanyaan:*

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Izin bertanya ustadz, saya punya saudara yang namanya B. B itu mengambil harta A berupa sawah yang selama puluhan tahun diambil hasilnya oleh si B. Nah, sekarang ketika A meminta sawah itu, malah yang didapat itu fitnah dan caci maki, bahkan di media sosial dan di depan orang banyak. Tapi si A tidak membalas.

Yang saya mau tanyakan, apa yang harus dilakukan oleh A dan anak-anaknya? Karena ini kan mau lebaran ya, bolehkah tidak bertegur sapa atau silaturahmi sebagai peringatan bahwa A tidak suka dengan sikap B dan keluarganya? Syukran ustadz, _jazakallahu khair._

🎙️ *Jawaban:*

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Allah _Subhanahu wa Ta'ala_ telah memberikan solusi, saran, dan juga syariat tuntunan bagi kita untuk kita jalankan:

*ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ*

_"Balaslah kejahatan orang itu dengan perbuatan kebaikan. Karena dengan cara itu, orang yang semula mengobarkan permusuhan dan kebencian kepadamu, dia akan menjadi pembelamu yang sangat setia."_ (QS. Fussilat: 34)

Rasulullah ﷺ secara spesifik memberikan tuntunan kepada kita bagaimana caranya kita menuntut, meminta hak kita:

*رَحِمَ اللهُ امْرِئًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ، سَمْحًا إِذَا اشْتَرَى، سَمْحًا إِذَا اقْتَضَى*

_”Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa merahmati seseorang yang *samhan*, senantiasa berperilaku mudah, tidak ngeyelan, tidak ngotot, tidak menggunakan cara-cara yang keras ketika dia menjual ataupun ketika dia membeli ataupun ketika dia menagih.”_

Kenapa demikian? Kenapa kita bisa tetap _cool_ dengan tenang? Karena apa? Karena kita beriman, percaya bahwa rezeki kita tidak bisa diambil siapa pun. Rezeki kita tidak bisa dihalang-halangi siapa pun. Rezeki kita tidak bisa direnggut oleh siapa pun. Kalau memang itu rezeki kita, kita akan dapatkan dengan apa pun caranya Allah akan hantarkan kepada kita.

*لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَرَادَ أَنْ يَهْرُبَ مِنْ رِزْقِهِ كَمَا يَهْرُبُ مِنْ أَجَلِهِ لَأَتَاهُ رِزْقُهُ كَمَا أَتَاهُ أَجَلُهُ*

_"Andaipun kalian itu berusaha menghindar dari jatah rezekimu sebagaimana engkau berusaha menghindar sekuat tenaga dari ajalmu, niscaya rezekimu itu akan datang, sebagaimana ajalmu juga akan datang pada waktunya tanpa ada yang bisa menghalang atau menundanya."_

Ketika ada hak kita diambil, dirampas oleh orang lain apalagi itu masih kerabat dan keluarga, saudara, maka memang secara hak kita boleh mengajukan gugatan ke pengadilan. Kita boleh mengajukan melaporkan kepada aparat yang berwenang dalam hal ini agar diselesaikan masalahnya melalui jalur hukum.

Tetapi, menyelesaikan permasalahan melalui jalur hukum itu membutuhkan biaya yang besar, energi yang besar, dan akan melanggengkan permusuhan di antara kita. _Faslul huquq_ kata Umar bin Khattab:

*رَدُّوْا الخُصُوْمِ، فَإِنَّ فَصْلَ القَضَاءِ يُوْرَثُ الضَغَائِن*

_"Sebisa mungkin dua orang yang bersengketa itu diselesaikan masalahnya melalui jalur mediasi, jalur perdamaian. Karena menyelesaikan sengketa melalui jalur hukum itu pasti menyisakan *doghoin*, kebencian dan permusuhan."_

Nah, kalau ini sudah dikatakan dua bersaudara, maka ada dua hal penting. Yang pertama adalah hak yang terampas, yang kedua adalah kewajiban menjaga silaturahmi.

Rasulullah ﷺ menyatakan:

*لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ مَنْ يَصِلُ رَحِمَهُ إِذَا قُطِعَ*

Yang dikatakan menyambung silaturahmi adalah bukan orang yang hanya berbalas dan berbalas. Dia berkunjung kita berbalas berkunjung, dia memberi kita berbalas memberi. Bukan itu yang betul-betul dikatakan menyambung silaturahmi.

Yang betul-betul dikatakan menyambung silaturahmi adalah orang yang terus berusaha menyambung silaturahminya walaupun dari sisi lain mereka proaktif memutus, proaktif memisahkan diri, menjauh. Ketika kita terus berusaha menyambung, maka itulah sejatinya silaturahmi.
Allah kisahkan Nabi Yusuf _'Alaihissalam_, bagaimana saudara-saudaranya yang dengan sekuat tenaga berusaha memutus hubungan silaturahmi dengan dirinya. Mereka berusaha membunuhnya bahkan menjualnya. Tapi apa yang dilakukan oleh Nabi Yusuf _'Alaihissalam_? Apakah Nabi Yusuf membalas? Tidak. Apakah Nabi Yusuf mengungkit-ungkit karena kebencian dendam? Tidak. Nabi Yusuf _'Alaihissalam_ membalas kejahatan saudaranya dengan apa?

*لَا تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ*

Tidak ada alasan lagi untuk mencela kalian pada hari ini karena kalian sudah menyadari kesalahan kalian dan aku pun sudah terbukti selamat, akupun telah terbukti terbebas dari kejahatan kalian. Sudah dimaafkan, sehingga akhirnya mereka pun bersatu kembali.

Permusuhan bukan untuk dirawat, permusuhan bukan untuk diabadikan, permusuhan untuk dipadamkan agar kembali menjadi kekeluargaan.

Mari kita berpikir, apakah ketika anda memutus tali silaturahmi, tidak berkunjung dengannya, tidak bertegur sapa dengannya, apakah hak anda akan kembali? Tidak. Hak anda tidak kembali dengan cara seperti itu. Kalau tidak kembali, apa untungnya anda memutus silaturahmi dengan mereka? Kalaupun mereka berdosa, namun dengan anda memutus silaturahmi, anda ikut menjadi berdosa.

Akan lebih baik diselesaikan secara kekeluargaan, musyawarah mufakat, dinasihati. Dan kalau anda memiliki kesanggupan untuk memaafkan, maka itu adalah sebuah kemenangan yang luar biasa.

*وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ*

_"Dan jika engkau memaafkan, maka engkau semakin dekat dengan ketakwaan."_ (QS. Al Baqarah: 237)

Kalau anda maafkan demi menjaga keutuhan silaturahmi, maka itu adalah suatu keberhasilan yang luar biasa, sukses anda mempertahankan hubungan silaturahmi anda.

Dan Allah akan gantikan.

*مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلّٰهِ عَوَّضَهُ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ*

_“Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah (dalam rangka mencari ridha Allah), maka Allah akan gantikan dengan yang lebih baik di dunia ataupun di akhirat.”_

_Wallahu Ta'ala a'lam._

👤 *Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc, M.A حفظه الله*


•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

🍃 Ingin pahala terus mengalir?
Dukung pengembangan dakwah dan penyebaran ilmu yang bermanfaat melalui infaq terbaik Anda!

| Bank Muamalat (147)
No. Rek. 3880013312
a/n Alwahdah Keluarga Indonesia

📲 Konfirmasi:
wa.me/6285218104997
wa.me/6285218104997
wa.me/6285218104997
🌱 *TETAP BAHAGIA MESKI BELUM DIKARUNIAI BUAH HATI*

📞 *Tanya Jawab Live Interaktif Dewan Fatwa*

💬 *Pertanyaan:*

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Begini ustadz, saya ini kan sudah ditakdirkan tidak punya keturunan jauh sebelum menikah. Akhirnya saya memilih menikah dengan duda yang punya anak. Nah, terkadang ada saja yang bertanya, "Berapa anaknya, bu?" Saya bilang nol, artinya tidak ada.

Ada rasa kecil saya dengan bertambahnya usia semakin tua, menghadapi hari-hari tua seperti itu kadang sedih juga ustadz, tidak punya anak. Kemudian kalau kita lihat di TV, ada yang punya anak bahkan anaknya sendiri yang mengantarkan orang tuanya ke panti jompo. Jadi saya ini kadang-kadang bersyukur tidak punya anak, kadang-kadang sedih juga tidak punya anak. Mohon nasihatnya ustadz. _Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh._

🎙️ *Jawaban:*

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

_Maa syaa Allah_ ya. Ibu adalah wanita yang bijak tatkala dia tahu dia tidak bisa punya anak, kemudian dia memilih menikah dengan duda yang mungkin di situ dia berkhidmat kepada suaminya dan membesarkan anak-anak suaminya. Semoga Allah berkahi rumah tangga ibu ya.

Kalau bicara ibu sedih ketika ditanya tidak punya anak, anaknya berapa, ya katakan, "Doakan sampai sekarang belum dikasih anak sama Allah, semoga Allah kasih anak." Karena anak ini juga amanah. Jadi kalau bicara anak, Allah _Azza wa Jalla_ menyebutkan,

*الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا*

_"Harta dan anak-anak laki-laki itu perhiasan kehidupan dunia."_

Kemudian Allah mengatakan:

*إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ*

_"Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah."_

Jadi dia sesuatu yang menyenangkan, tapi dia ujian juga. Nabi _alaihi shalatu wassalam_ juga mengatakan:

*الوَلَدُ مَجْهَلَةٌ، مَبْخَلَةٌ، مَجْبَنَةٌ، مَحْزَنَةٌ*

_"Anak itu jadi sumber kesedihan, sumber kebodohan, sumber kebakhilan, sumber kepengecutan."_

Jadi ada orang tua yang gara-gara punya anak jadi bakhil ya, dia selalu berpikir, "Oh ini buat anakku, ini buat anakku," terus seperti itu buat anaknya. Jadi enggak sedekah dia.

Kadangkala orang tua bersikap bodoh. Berapa banyak kita melihat kejadian orang tua mencuri dengan dalil buat anaknya. _Mahzanah_, tempat kesedihan ya. Berapa banyak orang akhirnya sedih anaknya sakit, tadi dikatakan anaknya ngantarkan ke panti jompo. Ada anak kayak gitu. Karena anak itu juga fitnah, jadi bukan hanya perhiasan tapi mereka juga fitnah, ujian dari Allah _Azza wa Jalla._

Maka tatkala engkau nggak dikasih anak, bagaimana engkau sekarang berusaha punya bekal ketika kau meninggalkan dunia ini. Kau nggak punya anak shaleh yang mendoakan, tapi mungkin anak suami akan mendoakan engkau kalau engkau berbuat baik sama dia. Engkau mungkin bisa memiliki anak-anak didik yang engkau didik, kemudian dia mengajarkan ilmunya, engkau dapat pahala terus.

Kemudian boleh jadi engkau punya sedekah jariyah. Aisyah _radhiyallahu ta'ala ‘anha_ sampai mati nggak punya anak. Sampai mati nggak punya anak. Terus mau ngomong apa? Takdir Allah _Azza wa Jalla_ yang berlaku, bukan yang kita inginkan.

Maka berbaik sangkalah sama Allah _Subhanahu wa Ta'ala_ dan perbanyak amal saleh lainnya dengan harapan ya merekalah yang akan melanjutkan perjuangan kita nantinya, jadi pahala yang mengalir juga buat kita atau buat para suami istri yang sampai hari ini menjadi pejuang garis dua.

_Ana_ waktu lihat garis dua, "Apaan garis dua?" Ya Allah, _khair In syaa Allah_. Semoga yang belum punya anak dikasih anak, yang sudah punya anak bagaimana mendidik anaknya dengan baik dan berdoa memohon kepada Allah agar mereka jadi anak-anak shaleh dan shalehah. _Baarakallahu fiikum._

👤 *Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, Lc, M.A حفظه الله*

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

🍃 Ingin pahala terus mengalir?
Dukung pengembangan dakwah dan penyebaran ilmu yang bermanfaat melalui infaq terbaik Anda!

| Bank Muamalat (147)
No. Rek. 3880013312
a/n Alwahdah Keluarga Indonesia

📲 Konfirmasi:
wa.me/6285218104997
wa.me/6285218104997
wa.me/6285218104997
Simpul ke 5 - Menempuh Metode yang Benar dalam Menuntut Ilmu


Jalan menuju ilmu dan cara mencapainya dibangun atas dua hal:
1. Menghafal matan yang mencakup pendapat yang paling kuat (rajih), maka tidak ada jalan selain menghafal.

Tentunya matan yang komprehensif serta mengandung pendapat yang paling kuat, yang diskusi para ahli di bidangnya.
2. Mempelajari ilmu dari orang yang mampu memberikan manfaat dan nasihat.

Carilah guru yang dapat menjelaskan makna-makna ilmu kepadamu, yang memiliki dua sifat:
- Al-Ifadah, yaitu kemampuan memberikan faidah. Guru tersebut haruslah yang dikenal dengan kesungguhannya dalam menuntut ilmu dan memperolehnya hingga ia benar-benar menguasainya, dan memiliki keahlian dalam bidang tersebut.

Nabi saw bersabda:
Kalian mendengar, lalu akan didengar dari kalian, dan akan didengar dari orang yang mendengar dari kalian.
- Nasihat, yaitu yang mencakup makna sekaligus, salah satunya adalah kelayakan guru untuk dijadikan teladan, dan mengikuti petunjuk, bimbingan, serta akhlaknya.

Adapun yang lainnya, adalah pengetahuan tentang Metode pengajaran, sehingha dia mampu mengajarkan murid dengan baik, mengetahui apa yang bermanfaat baginya dan apa yang dapat membahayakannya, sesuai dengan Tarbiyah ilmiah yang dijelaskan oleh Asy-Syatibi dalam al-Muwafaqat.


~ Ta'dzim Al-Ilmi ~
MONOGAMI, UPAYA PENJAJAH BELANDA KRISTENKAN NUSANTARA
.
.
Tidak berpoligami memang mubah, tetapi sejarah menunjukkan monogami merupakan upaya penjajah Belanda mengkristenkan Nusantara. Fakta tersebut diungkap Arief Muthofifin dalam skripsinya yang berjudul 'Christiaan Snouck Hurgronje Arsitek Urusan Perdata Kolonialistik Hindia Belanda' untuk meraih gelar sarjana Ilmu Syariah Jurusan Ahwalul Syakhshiyah Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang pada 2010.
.
Sepanjang peradaban Islam tegak, mulai dari Negara Islam pertama yang dipimpin oleh Rasulullah SAW di Madinah, kemudian dilanjutkan oleh Khilafah Rasyidah, Khilafah Umayah, Khilafah Abbasiah hingga Khilafah Utsmani termasuk berbagai Kesultanan Islam di Nusantara, poligami merupakan praktik pernikahan yang halal (legal), lazim dan bukan sebagai penyebab timbulnya masalah. Justru poligami dipermasalahkan ketika Belanda berhasil menjajah Nusantara tatkala berupaya mengkristenkan penduduknya untuk meminimalisir perlawanan terhadap kolonialisasi.
.
Arief Muthofifin mencatat lima hal penting terkait monogami yang dipaksakan penjajah tersebut. Pertama, ide pernikahan harus monogami merupakan upaya kolonial ikut campur tangan dalam persolan ibadah atau agama murni. Padahal, Hurgronje dalam nasihatnya menyatakan dalam hukum yang murni agama pemerintah hendaknya netral. Poligami merupakan hukum yang murni agama.
.
Tetapi anehnya Hurgronje menginginkan kaum Muslim melakukan monogami. Pernikahan harus monogami seperti diinginkan Christiaan Snouck Hurgronje ialah bentuk reduksi atas hukum Islam. “Kekayaan khazanah hukum Islam benar-benar dikerdilkan olehnya hanya untuk mendukung cita-cita kolonialisme,” tulis Arief.
.
Kedua, agar Muslim Hindia Belanda menjadi pelaksana amaliah orang (Kristen) Eropa yang hanya boleh menikahi seorang perempuan (memiliki satu istri). Karena kolonialisme tidak hanya untuk kepentingan kekayaan (gold) yang ada di Nusantara tetapi juga kristenisasi (gospel).
.
"Meskipun tujuan mengkristenkan seluruh penduduk jajahan tidak tercapai setidaknya ajaran-ajaran Kristen diamalkan masyarakat Muslim Hindia Belanda. Dengan begitu, secara nonformal, Muslim Indonesia ialah sangat Kristen (baca: mimicry) dalam ajarannya. Sekaligus pengikut tertib hukum keluarga yang juga Kristen (Eropa). Sehingga ‘tidak ada bedanya’ antara Muslim dan Kristen karena kedua-duanya sama pelaksana ajaran sekaligus kepentingan Kristen (Eropa),” bebernya.
.
Ketiga, pernikahan monogami, seperti ini disebutkan Hurgronje akan mendorong Indonesia, ke arah dunia modern (kemajuan). Asas monogami sedang ingin memajukan Muslim Pribumi yang ‘terbelakang’ agar lebih dekat (seperti) kehidupan modern (Eropa) yang ‘lebih maju’.
.
“Di sini, umat Islam pribumi, benar-benar sedang dikebiri oleh Abdul Ghaffar atau Hurgronje sebagai manusia ‘terbelakang’. ‘Terbelakang’ dalam maksud kolonialisme adalah lebih mirip dengan moyangnya (kera). Asas monogami berupaya menjadi Muslim yang mirip kera bodoh ini semakin maju dengan mengikuti konsep keluarga Eropa yang keseluruhannya hanya monogami. Satu orang pun dilarang (haram) berpoligami (kira-kira) dengan alasan apa pun,” terang Arief.
.
Keempat, alasan kebudayaan akan pula menjelaskan kepentingan di balik asas monogami. Para ulama Nahdlatul Ulama pernah memberikan pendapatnya dari sisi budaya ini. Yakni, Eropa dan Indonesia memiliki budaya yang berbeda dan masyarakatnya juga disusun atas sistem yang berbeda. Keliru jika Indonesia kemudian disamaratakan dengan Eropa bahwa segala bentuk pernikahan harus monogami.
.
Dalam Berita Nahdlatoel Oelama No. 16, 1 Juli 1937, diterangkan suatu akibat laki-laki dilarangan beristri lebih dari satu orang perempuan. Hal ini dicontohkan di Eropa, masyarakat yang anti poligami, memunculkan budaya baru. Yaitu, laki-laki biasa memiliki perempuan lagi dengan cara yang tidak benar atau pergundikan. Bahkan, muncul perkumpulan-perkumpulan hotel (hotel-societeit) yang melegalkan pergundikan.
.
Praktik pergundikan seperti itu pula sepertinya yang telah dilakukan Hurgronje dengan menikahi secara Islam perempuan pribumi: Sangkana dan Sadijah. Bagaimana tidak? Terbukti setelah pernikahan-pernikahan dalam Islam dengan dua perempuan pribumi tadi, Hurgronje pada 1906 kembali ke Belanda, lalu dia menikahi Ida Maria pada 1910. Ida Maria merupakan putri Dr. AJ Oort pensiunan pendeta liberal di Zutphen.
.
Hubungan pernikahan dengan Ida Maria tetap terjalin sampai Hurgronje meninggal dunia (26 Juni 1936) di Leiden. Sedangkan anak-anaknya dari mengawini perempuan pribumi dilarang ke Belanda (meskipun untuk belajar) sekaligus tidak boleh memakai ‘Snouck Hurgronje’ pada tiap-tiap namanya.
.
“Fakta ini merupakan bentuk Christiaan Snouck Hurgronje tidak mengakui anak-anak Indonesianya,” simpul Arief.
.
.
WARISAN PENJAJAH
.
Arief pun menilai asas monogami dalam UU RI No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan kepanjangan tangan kolonial. Karena asas itu sebagaimana yang pernah direncanakan Hurgronje yang menghendaki pernikahan monogami dan menghapus poligami. Sebagaimana cita-citanya yang ingin melihat masyarakat Indonesia, terutama Jawa, menjalani hidup wajar dengan monogami.
.
“Artinya, poligami tidak wajar,” ujar Arief menyimpulkan logika berpikir Hurgronje.
.
Ia juga menyebutkan asas monogami ini juga selaras dengan Ordonansi Mengenai Pencatatan Pernikahan pada 1937 yang merencanakan pernikahan monogami dan dicatat. Artinya, asas monogami dalam pernikahan di Indonesia (UU No. 1/ 1974) merupakan kepanjangan tangan dari kepentingan kolonialisme.
.
Hukum perkawinan Indonesia memang tidak mengharamkan poligami. Bagi laki-laki, masih diberi kesempatan punya istri lebih dari seorang. Namun, asas monogami tidak bisa mengingkari dari sejarah kolonialnya.
.
“Jika Christiaan Snouck Hurgronje masih berusia panjang hingga saat ini pasti dirinya akan berbangga buah pikirannya dipakai dalam hukum Indonesia,” pungkasnya.[]
.
Joko Prasetyo
Dimuat pada rubrik Kisah tabloid Media Umat Edisi 237 (Pertengahan Februari 2019).