BERILMU DENGAN BUKU
64 subscribers
738 photos
27 videos
20 files
532 links
Channel edukasi seputar Aqidah, Ibadah, Muamalah, Pengembangan diri dan Keluarga, Bisnis, Marketing dan Rekomendasi Buku
Download Telegram
Tafakkur lebih tinggi dari Tafkir

Tafakkur: Menghubungkan obyek riset/penelitian dengan manusia

Tafkir: Obyek riset terpisah dari manusia/nilai-nilai manusianya.

Nilai-nilai manusia ada di dalam aturan ALlah SWT.

Jangan berhenti hanya sampai tahap berpikir biasa, tapi harus sampai pada tafakkur, nilai-nilai manusia apa yang ada di dalam penelitian/riset itu.

Bagaimana mengukur amanah dg riset, taqwa dg riset, iman dg riset?

Tafakkur adl berpikir secara fitrah. Dan fitrah itu ada di dalam Islam.

Dinamika kolektif menentukan bangkitnya peradaban Islam kembali.

Peradaban lahir dari kesadaran realita yang bisa kita jangkau.
STANDAR WANITA YANG BAIK

Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. An-Nisaa:34)

Hadits dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ: أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ؟ قَالَ:
الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ»
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Siapakah wanita yang paling baik?" Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, "Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci."
📚 HR. Al-Nasa'i no. 3231 dan Ahmad ibn Hanbal (Musnad 2/251).


Hadits ini dinilai:
✅ Hasan oleh sebagian ulama hadits seperti Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i. Artinya hadits ini dapat dijadikan hujjah (dalil).

📖 Penjelasan Makna Singkat (Syarah)
Hadits ini menjelaskan ciri wanita terbaik dalam kehidupan rumah tangga:

تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ — menyenangkan saat dipandang
* Berakhlak baik, menjaga penampilan, dan membuat suami merasa tenteram.
* Bukan hanya fisik, tetapi sikap dan kelembutan.

تُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ — taat ketika diperintah
* Taat dalam perkara yang ma’ruf (tidak melanggar syariat).
* Bentuk keharmonisan dan kepemimpinan dalam keluarga.

لَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا مَالِهَا — menjaga diri dan harta
* Menjaga kehormatan diri saat suami tidak ada.
* Menjaga harta suami dan tidak melakukan hal yang dibenci.

👉 Intinya: hadits ini menekankan akhlak, keharmonisan, kepercayaan, dan ketenangan dalam rumah tangga.
Ilmu buat yang ingin pensiun kaya.
Hati yang Kotor Tidak dimasuki Ilmu

حرام على قلب أن يدخله النور وفيه شىء مما يكره الله عز وكل

Sahl bin Abdullah berkata:
Haram bagi hati untuk dimasuki diterangnya cahaya (ilmu), jika di dalamnya terdapat sesuatu yang dibenci oleh Allah 'azza wa Jalla.
Mau Bikin Konten AI Gratis? Coba ini:
https://www.pippit.ai/i/uqhBgUopdNBI

Langkah menggunakan Pippit AI Gratis:
1. Sign up
2. Kumpulkan Kredit untuk membuat konten AI di pippit Ai

Alhamdulillah, dari yang gratisan ini saya udah menghasilkan banyak penjualan, ud lumayan banget untuk pemula seperti saya.
Idul Fitri
Bergembira di Ruang Iman

A Deni
Kesungguhan mempererat hubungan transeden dengan Alloh ta'ala tidak lantas memisahkan seorang muslim dari fitrahnya.

Islam hadir justru untuk melindungi fitrah manusia, baik fitrah jasadiyah (fisik) maupun fitrah ruhiyah (jiwa), seperti diungkapkan Ibnu Asyur.

Di antara sederet fitrah manusia adalah senang dengan keindahan, suka dengan keceriaan dan kegembiraan.

Manusia pun menginginkan hiburan di tengah kepenatan dan kejenuhan, mencari pelipur lara, bercanda dengan sesama, serta fitrah lainnya yang melekat pada diri manusia.

Riang-gembira, suka cita menjalani agama ini bukan tidak mungkin menjadi penanda kerelaan seorang hamba atas ketetapan-Nya.

Salah satu momen kegembiraan, keceriaan dan suka cita di dalam Islam adalah hari raya Idul Fitri.

Ied sendiri artinya even pengulangan kegembiraan, keriangan, dan suka cita, seperti didefinisikan Abdulloh Syarqowi dalam Syarah Hikam:

الأعياد عبارة عن الأوقات العائدة على الناس بالمسرات والأفراح

Idul Fitri digelar sebagai hari bersuka cita dan bergembira bersama di ruang iman. Bersama-sama merasakan bahagia, berbagi keceriaan,
seperti dimaknai Imam Ibnu Rajab dalam karyanya Lathoiful Ma'arif.
يوم الفرح والسرور

Al-faroh atau gembira di sini memiliki konotasi positif, sebagai lawan kata 'ujub yang bermakna negatif. Faroh sendiri kegembiraan yang lahir dari kesadaran kepada Allah akan nikmat yang diterima. Sedangkan 'ujub adalah kegembiraan yang muncul semata melihat kemampuan diri.

المعجب أن ينقطع نظره عن رؤية النعم من المنعم بها فيتوهمها من نفسه

Ada banyak penanda yang menguatkan makna faroh di atas. Setidaknya bisa kita cermati dari model-model syariat di hari raya Idul Fitri.

Pertama, sunah mandi pagi hari bagi siapa saja yang mendapati hari raya. Mulai dari tua-muda, sampai anak-anak. Wanita haid sekalipun dianjurkan mandi sunah, hal yang sebenarnya dilarang di luar Idul Fitri.

Kedua, memakai wangi-wangian, memotong kuku menjadi salah satu sunah penting di hari nan fitri.

Ketiga, disunahkan mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki, terlebih pakaian baru.

Seluruh kaum muslimin diminta berperan aktif mengekspresikan kegembiraan dan keceriaan secara masif dalam kondisi badan yang segar, wangi, serta pakaian bagus.

Keempat, pada hari ini siapapun dilarang berpuasa. Di saat persediaan makanan memadai, berpuasa di hari ini menjadi kontra produktif dengan nuansa riang-gembira.

Beribadah tidak hanya mengerjakan shalat, ibadah pun dengan meninggalkan shalat saat sedang haid.

Beribadah tidak hanya dengan menjalankan puasa, ibadah pun dengan meninggalkan puasa saat Idul fitri.

Kelima, disyariatkan zakat fitrah menjelang hari raya, agar di hari ini dan hari setelahnya memiliki persediaan pangan yang memadai, sehingga tidak ada yang kelaparan dan kekurangan, yang dapat merusak berlangsungnya kegembiraan kolektif.

Keenam, dianjurkan menyampaikan tahniah, yaitu ungkapan-ungkapan suka cita di hari raya.

Ketujuh, di hari ini hendaknya setiap orang tidak membagikan hal-hal yang dapat membuat orang lain sedih.

Kedelapan, disunagkan tausi'ah ala 'iyal atau memberi kelapangan dan kegembiraan pada keluarga. Bisa dengan berbagai cara, dengan berbagi hadiah, uang, dsb.

Terakhir, seperti terekam dalam Shohih Bukhari, siti Aisyah menceritakan dua budak perempuan pada hari raya yang menampilkan kebolehannya menabuh duff, dan Nabi merestuinya.

Menampakkan kebahagiaan di hari raya, saling berbagi hadiah, tidak menampakkan kegelisahan dan keresahan, tidak juga menciptakan kesedihan yang membuat orang lain ikut bersedih menjadi penting dihadirkan di hari raya.


Wallohu 'alam
_________
KUN FAYAKUN (كن فيكون)

حِيْنَمَا حَلَّ الْبَلَاء – جِئْتُ إِلَيْكَ ذَلِيْلًا أُنَاجِي

Ketika cobaan menimpa, aku datang kepada-Mu dengan rendah hati seraya memohon

مَنْ لِيْ غَيْرُكَ رَبِّيْ – يَسْمَعُ مِنِّيْ شَكْوَاي

Siapakah yang ada untukku selain Engkau, Tuhanku – yang mendengar keluh kesahku

مَنْ يَسْتَجِيْبُ الدُّعَاء – إِلَّا الَّذِيْ قَدْ دَعَانَا إِلَيْهِ

Siapa lagi yang mengabulkan do’a – kecuali Dzat yang menyeru kita untuk berdo’a

مَنْ لِيْ غَيْرُكَ رَبِّيْ – مَعْقُوْدٌ فِيْهِ رَجَايَ

Aku tidak memiliki siapapun selain Engkau Tuhanku – kepada-Nya terpaut harapanku

لَا تُعَامِلْنِيْ بِذَنْبِيْ – يَا جَوَادُ يَا كَرِيْم

Jangan hukum aku karena dosaku – wahai Dzat Yang Maha Pemurah lagi Maha Mulia

إِنَّنِيْ عَبْدٌ ضَعِيْفٌ – حَظُّهُ لَا يَسْتَقِيْم

Sungguh aku hamba yang lemah – yang nasibnya tidak selalu lurus

لَا لَا تَحْرِمْنِيْ رَبَّيْ – مِنْ لُطْفِكَ الْعَمِيْم

Jangan haramkan aku Tuhanku – dari kelembutan-Mu yang sempurna

فَسِقَامِيْ أَتْعَبَتْنِيْ – يَا رَبِّيَ الرَّحِيْم

Sakitku melelahkanku – Wahai Tuhanku yang Maha Penyayang

قُلْ لَهُ كُنْ فَيَكُوْن

Katakan kepadanya “jadilah” makan terjadilah

يَا مُجْزِلًا بِالْعَطَاء – لَا حَوْلَ لِيْ كَيْ أُحَالَ إِلَيْهِ

Wahai yang berlimpah dengan karunia – tiada daya bagiku untuk mengatasi ini

مَنْ لِيْ غَيْرُكَ رَبِّيْ – يَسْمَعُ مِنِّيْ شَكْوَاي

Siapakah yang ada untukku selain Engkau, Tuhanku – yang mendengar keluh kesahku

يَا مَنْ لِقَلْبِيْ شِفَاء – مِنْ كُلَّ دَاءٍ خَلَقْتَ دَوَاءً

Wahai yang menyembuhkan hatiku – yang menciptakan penawar bagi setiap penyakit

مَنْ لِيْ غَيْرُكَ رَبِّيْ – يَشْفِيْنِيْ يَا مَوْلَايَ

Siapakah yang ada untukku selain Engkau, Tuhanku – yang menyembuhkanku wahai pelindungku

قُلْ لَهُ كُنْ فَيَكُوْن

Katakan kepadanya “jadilah” makan terjadilah
TA'DZIIMUL 'ILMI
(Adab dan Kaedah Memuliakan Ilmu)

Simpul Pertama: Menyucikan Wadah Ilmu

Wadah bagi ilmu adalah hati, karena setiap hal yang ingin diperoleh, memerlukan suatu wadah untuk menyimpannya, dan wadah untuk ilmu adalah hati.

Kotoran pada wadah akan mengotori dan mengubah isinya. Ilmu akan masuk ke dalam hati sesuai dengan kadar kebersihannya, dan semakin hati itu bersih, semakin besar pula kemampuannya untuk menerima ilmu.

Perumpamaan ilmu di dalam hati adalaj seperti cahaya lampu, jika kaca lampu bersih, cahayanya akan bersinar terang, namun jika kaca lampu ternoda, cahayanya akan redup.

Siapa yang ingin memperoleh ilmu, hendaknya menghiasi batinnya dan membersihkan hatinya dari segala kekotoran. Ilmu adalah permata yang mulia dan lembut, yang hanya dapat diterima oleh hati yang bersih.

Pembersihan hati kembali kepada dua pokok utama:
1. Pembersihan dari kotoran syubhat
2. Pembersihan dari kotoran syahwat

Karena kebersihan hati memiliki kedudukan yang sangat penting, Nabi saw diperintahkan untuk itu sejak awal. Sebagaimana dalam firman Allah Ta'ala di surah Al-Muddatstsir:
Wa tsiyaabaka fathohhir
(Dan pakaianmu, maka sucikanlah)
(QS. Al-Muddatstsir:4)

Nabi saw bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan amal perbuatan kalian."

Barangsiapa yang hatinya bersih, ilmu akan tinggal di dalamnya. Namun, barangsiapa yang tidak membersihkan kotoran dalam hatinya, ilmu akan meninggalkannya dan pergi.

Dan jika kamu memperhatikan keadaan sekelompok penuntut ilmu dalam hal ini (penyucian jiwa), kamu akan mendapati adanya kerusakan yang nyata. Lalu di mana pengagungan seseorang terhadap ilmu, sementara syubhat dan syahwat terus datang dan pergi dalam hati mereka?.

Dia diseru oleh gambaran yang terlarang, dan diperdaya oleh ucapan yang tercela. Hatinya dipenuhi dengan kemungkaran, dan menikmati hal-hal yang haram. Di dalamnya ada kebencian, kerusakan, iri hati, pembangkangan, kemunafikan, dan perpecahan. Bagaimana mungkin orang-orang seperti ini bisa terkait dengan ilmu? Mereka jauh darinya, dan ilmu pun tidak akan mendekat kepada mereka.

Sahl bin Abdullah berkata,"Haram bagi hati untuk diterangi cahaya (ilmu), jika di dalamnyaterdapat sesuatu yang dibenci oleh Allah.


~ Syaikh Shalih bin Abdillah bin Hammad Al-'Ushoimi ~
(Ta'dziimul 'Ilmi)
[TA'DZIIMUL ILMI
Adab dan Kaedah Memuliakan Ilmu

Simpul ketiga agar Ilmu berdampak pada diri, keluarga dan lingkungan adalah Mengumpulkan tekad jiwa untuk mencapainya.

Hati yang terpecah akan menjadi teratur dan terkumpul ketika difokuskan pada ilmu. Namun, jika hati disibukkan dengannya sekaligus hal-hal lain, ia akan semakin terpecah dan tercerai berai. Tekad untuk mencapai tujuan hanya bisa dikumpulkan dengan memperhatikan tiga hal berikut:
1. Bersemangat dalam meraih hal-hal yang bermanfaat
2. Memohon pertolongan Allah Ta'ala dalam mencapainya.
3. Tidak merasa lemah dalam mencapainya.

Nabi saw bersabda:
"Berusahalah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mohon pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah."

Kesungguhan menghasilkan kenikmatan, dan kemalasan menyebabkan penderitaan.

Ibnul Qoyyim berkata:
"Jika bintang semangat muncul di gelapnya malam kemalasan, dan disusul dengan munculnya bulan tekad, maka bumi akan bersinar dengan cahaya Rabbnya."

Abul Wafa bin Aqil melantunkan syair ketika dia berusia 80 tahun:
"Tidak pernah pudar tekadku, keteguhanku, akhlakku
Dan tidak pernah berkurang loyalitasku, agamaku, kedermawananku
Sesungguhnya yang berubah hanyalah warna rambutku
Karena uban di rambut berbeda dengan uban dalam semangat]

~ Syaikh Shalih bin Abdillah bin Hammad Al-'Ushoimi ~
(Ta'dziimul 'Ilmi)
DARI OPERATOR YANG CAPEK MENUJU CEO YANG BERPIKIR

Kenapa materi ini penting?
1. Kecepatan
2. Kejernihan
3. AI
4. Thinking time

Owner dibayar oleh kualitas keputusan
Operator dibayar oleh aktivitas
Semakin besar bisnis semakin besar keputusan yg dibayar

Peserta akan dapat:
1.

Siapakah kita? cek posisi kita hari ini
1. Sering sibuk tapi tidk maju
2. Sudah pake AI tapi blm utk keputusan
3. Sering bottleneck bisnis
4. Hampir tidak punya waktu berpikir

Thinking time adalah:
1. Disengaja waktu yg disengaja
2. Jernih, utk berpikir jernih
3. Penting tentang hal penting
4. Tepat, dg pertanyaan yg tepat

===============
How might I double sales without break the margin?
how might I improve repeat order?
How Might I reduce owner depedency?
How might I make better decisions faster?

Cara:
Sederhanakan masalah
Tidak emosional
Membuka lbh banyak kemungkinan
Bisa ditindaklanjuti
Tidak kabur

SEMUA MASALAH SERING DIMULAI DARI GOOD IDEA

1. Ide yang tlihat bagus
2. Asumsi yg tidak diuji
3. keinginan yang terlalu cepat
Dumb Tax= Good idea tanpa thinking time

3 SALAH KAPRAH TENTANG AI

1. Minta jawaban tapa konteks
2. Minta strategi tanpa angka
3. Minta keputusan tanpa pertanyaan yg tajam

AI lakukan:
Clarify
Challange

POSISI AI
STaf berpikir
Kita pemilik kputusan

DATA-INFORMASI-KNOWLEDGE-INSIGHT
Krn briefnya buruk:
tujuan tdk jelas
konteks tdk ada
angka tidk ada
batasan tdk ada
definsi sukses tidak jelas

DATA MINIMUM SEBELUM TANYA KE AI

Tujuan keputusan
Omzet dan margin
Cashflow inti
Data penjualan
Pelanggan utama
Produk utama
bottleneck
Resiko
Resource tersedia
FRAMEWORK UTAMA
Modul 4- framework ai + thinking time

Before
AI membantu framing
During
Manusia berpikir
After
AI membantu merapikan aksi
TAHAP 1SEBWLUM THINKING TIME

Merumuskan masalah
Memerakan tema
Management
Decision
Activities
Numbers

Business optic= scoreboard
Accounting Report Card
🌱 *HAK DIRAMPAS — PUTUSKAN SILATURAHMI ATAU MEMAAFKAN?*

📞 *Tanya Jawab Live Interaktif Dewan Fatwa*

💬 *Pertanyaan:*

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Izin bertanya ustadz, saya punya saudara yang namanya B. B itu mengambil harta A berupa sawah yang selama puluhan tahun diambil hasilnya oleh si B. Nah, sekarang ketika A meminta sawah itu, malah yang didapat itu fitnah dan caci maki, bahkan di media sosial dan di depan orang banyak. Tapi si A tidak membalas.

Yang saya mau tanyakan, apa yang harus dilakukan oleh A dan anak-anaknya? Karena ini kan mau lebaran ya, bolehkah tidak bertegur sapa atau silaturahmi sebagai peringatan bahwa A tidak suka dengan sikap B dan keluarganya? Syukran ustadz, _jazakallahu khair._

🎙️ *Jawaban:*

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Allah _Subhanahu wa Ta'ala_ telah memberikan solusi, saran, dan juga syariat tuntunan bagi kita untuk kita jalankan:

*ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ*

_"Balaslah kejahatan orang itu dengan perbuatan kebaikan. Karena dengan cara itu, orang yang semula mengobarkan permusuhan dan kebencian kepadamu, dia akan menjadi pembelamu yang sangat setia."_ (QS. Fussilat: 34)

Rasulullah ﷺ secara spesifik memberikan tuntunan kepada kita bagaimana caranya kita menuntut, meminta hak kita:

*رَحِمَ اللهُ امْرِئًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ، سَمْحًا إِذَا اشْتَرَى، سَمْحًا إِذَا اقْتَضَى*

_”Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa merahmati seseorang yang *samhan*, senantiasa berperilaku mudah, tidak ngeyelan, tidak ngotot, tidak menggunakan cara-cara yang keras ketika dia menjual ataupun ketika dia membeli ataupun ketika dia menagih.”_

Kenapa demikian? Kenapa kita bisa tetap _cool_ dengan tenang? Karena apa? Karena kita beriman, percaya bahwa rezeki kita tidak bisa diambil siapa pun. Rezeki kita tidak bisa dihalang-halangi siapa pun. Rezeki kita tidak bisa direnggut oleh siapa pun. Kalau memang itu rezeki kita, kita akan dapatkan dengan apa pun caranya Allah akan hantarkan kepada kita.

*لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَرَادَ أَنْ يَهْرُبَ مِنْ رِزْقِهِ كَمَا يَهْرُبُ مِنْ أَجَلِهِ لَأَتَاهُ رِزْقُهُ كَمَا أَتَاهُ أَجَلُهُ*

_"Andaipun kalian itu berusaha menghindar dari jatah rezekimu sebagaimana engkau berusaha menghindar sekuat tenaga dari ajalmu, niscaya rezekimu itu akan datang, sebagaimana ajalmu juga akan datang pada waktunya tanpa ada yang bisa menghalang atau menundanya."_

Ketika ada hak kita diambil, dirampas oleh orang lain apalagi itu masih kerabat dan keluarga, saudara, maka memang secara hak kita boleh mengajukan gugatan ke pengadilan. Kita boleh mengajukan melaporkan kepada aparat yang berwenang dalam hal ini agar diselesaikan masalahnya melalui jalur hukum.

Tetapi, menyelesaikan permasalahan melalui jalur hukum itu membutuhkan biaya yang besar, energi yang besar, dan akan melanggengkan permusuhan di antara kita. _Faslul huquq_ kata Umar bin Khattab:

*رَدُّوْا الخُصُوْمِ، فَإِنَّ فَصْلَ القَضَاءِ يُوْرَثُ الضَغَائِن*

_"Sebisa mungkin dua orang yang bersengketa itu diselesaikan masalahnya melalui jalur mediasi, jalur perdamaian. Karena menyelesaikan sengketa melalui jalur hukum itu pasti menyisakan *doghoin*, kebencian dan permusuhan."_

Nah, kalau ini sudah dikatakan dua bersaudara, maka ada dua hal penting. Yang pertama adalah hak yang terampas, yang kedua adalah kewajiban menjaga silaturahmi.

Rasulullah ﷺ menyatakan:

*لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ مَنْ يَصِلُ رَحِمَهُ إِذَا قُطِعَ*

Yang dikatakan menyambung silaturahmi adalah bukan orang yang hanya berbalas dan berbalas. Dia berkunjung kita berbalas berkunjung, dia memberi kita berbalas memberi. Bukan itu yang betul-betul dikatakan menyambung silaturahmi.

Yang betul-betul dikatakan menyambung silaturahmi adalah orang yang terus berusaha menyambung silaturahminya walaupun dari sisi lain mereka proaktif memutus, proaktif memisahkan diri, menjauh. Ketika kita terus berusaha menyambung, maka itulah sejatinya silaturahmi.