*RENUNGAN PERGANTIAN TAHUN 2022 - 2023*
Allah berfirman dalam QS. Ali Imran:190-191:
*_Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka_*.
Pergantian tahun layaknya pergantian siang dan malam. Bagi kita seorang yang beriman kepada Allah, haruslah memaknai semua itu, karena adanya tanda kekuasaan Allah, tanda ke-Besaran Allah, tanda bahwa ALlah adalah Maha Berkehendak. Itulah ciri seorang ulil albab, seorang hamba Allah yang selalu mencari hikmah dan pelajaran dibalik fenomena alam yang terjadi.
Hal yang harus kita renungi hari ini di saat Allah mengganti tahun 2022 menjadi 2023 adalah tentang umur kita. Apalah arti umur manusia di dunia, jika dibandingkan dengan akhirat yang kekal?.
*_Akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui_*.(QS. Al Ankabut:64)
Dari sisi mana bisa dibandingkan? anggaplah hari ini umur kita sudah mencapai 70 tahun. Dan kita biasa tidur 8 jam sehari semalam. Berapa sisa umurnya?. Atau anggaplah umur kita hari ini adalah 60 tahun, agar mudah menghitungnya. Dan kita tidur 8 jam sehari semalam. Dan saat tidur, kita tidak dibebani aturan syariat. Maka sudah habis 20 tahun hanya untuk tidur. 15 tahun sebelum baligh juga tidak dihitung, maka tidak ada lagi sisanya. Sangat sedikit sekali umur kita yang tersisa.
Coba kita lihat kejadian pertama di akhirat. Hari itu sama dengan 50 ribu tahun (di dunia), firman Allah dalam QS. Al Ma'arij ayat 4. Apa yang bisa dibandingkan? tidak perlu kita bahas kenikmatan di sini dan yang ada di akhirat sana.
Tapi waktu dan umur yang kita habiskan, hanya untuk mencari kenikmatan dunia. Lalu menyebabkan kita tidak mendapatkan nikmat akhirat, hanya karena nikmat yang sebentar di dunia ini.
Inipun kalau kita memang diberi umur panjang. Sebagian orang, dan hanya sebagian orang saja, subhaanallah, nas alullahal 'aafiyah.
Sebagian orang pergi safar naik mobil atau naik pesawat ke negeri lain. Pergi hanya untuk bermaksiat di negeri tujuannya, ia pergi dan mati dalam perjalanannya. Bayangkan, betapa ruginya ia. Betapa besar musibah yang menimpaya.
Jangankan safar, orang yang hanya bepergian di dalam daerahnya saja bisa mati di tengah jalan.
Tidak ada satupun yang tahu kapan ia akan mati. Lalu tiba-tiba hidupnya berakhir, dalam keadaan ia tertipu dan lalai dengan kelezatan dunia. Dan akhirnya ia rugi tidak mendapatkan nikma akhirat.
Ibnul MUbarak rahimahullah ditanya:
*_Seandainya dikatakan kepada anda bahwa usia anda hanya tersisa satu hari lagi, apa yang akan anda lakukan?_*
Ibnul Mubarak menjawab:
*_Aku akan mengajarkan ilmu (agama) kepada manusia_*. (diriwayatkan oleh al Baihaqi dalam al Madkhol 1/309 no.473)
Maka, bagi kita yang mungkin telah lama bergelimang dalam dosa, camkanlah perkataan Fudhail bin iyadh rahimahullah berikut ini:
*_Engkau berbuat kebaikan (amal shaleh) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (dosa-dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari kiamat) karena (dosa-dosamu) di masa lalu dan (dosa-dosamu) pada sisa umurmu._*
Nukilan dari Jaami’ul ‘uluumi wal hikam hal. 464 dan Latha-iful ma’aarif hal. 108
Jadi, apa sebenarnya arti pergantian tahun hari ini yang kita rayakan? tiada lain hanyalah alat untuk kita bermuhasabah, menghisab amal-amal kita, menghisab dosa-dosa yang kita lakukan, untuk kemudian bertaubat, mohon ampun kepada Allah. Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, mencontohkan agar kita mengawali taubat dan istighfar kita dengan sholat dua rakaat.
Allah berfirman dalam QS. Ali Imran:190-191:
*_Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka_*.
Pergantian tahun layaknya pergantian siang dan malam. Bagi kita seorang yang beriman kepada Allah, haruslah memaknai semua itu, karena adanya tanda kekuasaan Allah, tanda ke-Besaran Allah, tanda bahwa ALlah adalah Maha Berkehendak. Itulah ciri seorang ulil albab, seorang hamba Allah yang selalu mencari hikmah dan pelajaran dibalik fenomena alam yang terjadi.
Hal yang harus kita renungi hari ini di saat Allah mengganti tahun 2022 menjadi 2023 adalah tentang umur kita. Apalah arti umur manusia di dunia, jika dibandingkan dengan akhirat yang kekal?.
*_Akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui_*.(QS. Al Ankabut:64)
Dari sisi mana bisa dibandingkan? anggaplah hari ini umur kita sudah mencapai 70 tahun. Dan kita biasa tidur 8 jam sehari semalam. Berapa sisa umurnya?. Atau anggaplah umur kita hari ini adalah 60 tahun, agar mudah menghitungnya. Dan kita tidur 8 jam sehari semalam. Dan saat tidur, kita tidak dibebani aturan syariat. Maka sudah habis 20 tahun hanya untuk tidur. 15 tahun sebelum baligh juga tidak dihitung, maka tidak ada lagi sisanya. Sangat sedikit sekali umur kita yang tersisa.
Coba kita lihat kejadian pertama di akhirat. Hari itu sama dengan 50 ribu tahun (di dunia), firman Allah dalam QS. Al Ma'arij ayat 4. Apa yang bisa dibandingkan? tidak perlu kita bahas kenikmatan di sini dan yang ada di akhirat sana.
Tapi waktu dan umur yang kita habiskan, hanya untuk mencari kenikmatan dunia. Lalu menyebabkan kita tidak mendapatkan nikmat akhirat, hanya karena nikmat yang sebentar di dunia ini.
Inipun kalau kita memang diberi umur panjang. Sebagian orang, dan hanya sebagian orang saja, subhaanallah, nas alullahal 'aafiyah.
Sebagian orang pergi safar naik mobil atau naik pesawat ke negeri lain. Pergi hanya untuk bermaksiat di negeri tujuannya, ia pergi dan mati dalam perjalanannya. Bayangkan, betapa ruginya ia. Betapa besar musibah yang menimpaya.
Jangankan safar, orang yang hanya bepergian di dalam daerahnya saja bisa mati di tengah jalan.
Tidak ada satupun yang tahu kapan ia akan mati. Lalu tiba-tiba hidupnya berakhir, dalam keadaan ia tertipu dan lalai dengan kelezatan dunia. Dan akhirnya ia rugi tidak mendapatkan nikma akhirat.
Ibnul MUbarak rahimahullah ditanya:
*_Seandainya dikatakan kepada anda bahwa usia anda hanya tersisa satu hari lagi, apa yang akan anda lakukan?_*
Ibnul Mubarak menjawab:
*_Aku akan mengajarkan ilmu (agama) kepada manusia_*. (diriwayatkan oleh al Baihaqi dalam al Madkhol 1/309 no.473)
Maka, bagi kita yang mungkin telah lama bergelimang dalam dosa, camkanlah perkataan Fudhail bin iyadh rahimahullah berikut ini:
*_Engkau berbuat kebaikan (amal shaleh) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (dosa-dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari kiamat) karena (dosa-dosamu) di masa lalu dan (dosa-dosamu) pada sisa umurmu._*
Nukilan dari Jaami’ul ‘uluumi wal hikam hal. 464 dan Latha-iful ma’aarif hal. 108
Jadi, apa sebenarnya arti pergantian tahun hari ini yang kita rayakan? tiada lain hanyalah alat untuk kita bermuhasabah, menghisab amal-amal kita, menghisab dosa-dosa yang kita lakukan, untuk kemudian bertaubat, mohon ampun kepada Allah. Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, mencontohkan agar kita mengawali taubat dan istighfar kita dengan sholat dua rakaat.
Dan ini adalah hanya sebuah alat buat kita untuk untuk menyadari bahwa hidup ini adalah ruang untuk kita mengibadahi Allah dengan berbagai ketaatan demi ketaatan. Dan mencegah dari segala dosa, maksiat.
Semoga Allah memberi kita keistiqomahan dalam menaatiNya, mengibadahiNya dan mati sebagai hamba Allah yang beriman.
*Sekolah Konselor Keluarga*
Semoga Allah memberi kita keistiqomahan dalam menaatiNya, mengibadahiNya dan mati sebagai hamba Allah yang beriman.
*Sekolah Konselor Keluarga*
BOLEHKAH MEMBIARKAN KEMUNGKARAN DI TENGAH MASYARAKAT?
Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Negara
Allah ‘azza wa jalla berfirman:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya: “Dan peliharalah diri kalian dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfaal [8]: 25)
Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya, menyatakan bahwa ayat ini merupakan peringatan dari Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman tentang fitnah, yaitu ujian dan bencana, yang tidak hanya dikhususkan bagi ahli maksiat dan pelaku dosa saja, namun berlaku umum, terhadap orang yang melakukan kemaksiatan ataupun tidak. Hal ini terjadi karena orang-orang yang tidak melakukan perbuatan dosa tadi tidak berupaya mencegah dan menghentikan kemaksiatan para ahli maksiat.
Imam At-Thabari dalam Tafsirnya, menyampaikan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu tentang ayat ini. Ibnu ‘Abbas berkata: “Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk tidak mendiamkan kemungkaran yang tampak di hadapan mereka, jika demikian (tetap mendiamkan) maka Allah akan menimpakan azab yang berlaku umum.”
Dalam Tafsir Imam Al-Baghawi, ada tambahan redaksi terhadap pernyataan Ibnu ‘Abbas ini, yaitu: “yang akan menimpa orang yang berlaku zalim dan yang tidak.”
Sebagian mufassir dari kalangan tabi’in mengkhususkan ayat ini hanya untuk sebagian kalangan shahabat saja, seperti yang dinyatakan oleh As-Suddi dan Al-Hasan. As-Suddi berkata bahwa yang dimaksud ayat ini adalah orang-orang yang terlibat dalam Perang Jamal. Sedangkan Al-Hasan lebih jelas lagi menyatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan ‘Ali, ‘Utsman, Thalhah dan Zubair rahmatullahi ‘alaihim (Lihat Tafsir Ath-Thabari). Dalam salah satu riwayat, Ibnu ‘Abbas juga menyatakan bahwa ayat ini turun tentang para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).
Namun, Mujahid menyatakan bahwa ayat ini juga berlaku untuk yang lain. Demikian juga menurut Adh-Dhahhak, Yazid bin Abi Habib, dan lainnya. Ibnu Mas’ud berkata: “Tidak ada salah seorang pun dari kalian kecuali ia terkena fitnah. Allah ta’ala berfirman: innamaa amwaalukum wa aulaadukum fitnah (sesungguhnya harta dan anak-anak kalian merupakan fitnah) (At-Taghabun [64]: 15), maka berlindunglah kepada Allah dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).
Oleh karena itu, Ibn Katsir menyatakan bahwa ayat ini berlaku untuk para shahabat dan selain mereka. Ini juga yang menjadi pendapat faqih dan mufassir kontemporer, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, sebagaimana beliau kemukakan dalam Tafsirnya.
Dari penjelasan di atas, cukup jelas bagi kita bahwa ayat ini merupakan peringatan kepada orang-orang beriman, orang-orang yang tidak suka bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bahwa yang mereka lakukan tidak cukup untuk menyelamatkan diri mereka dari bencana, jika mereka tetap membiarkan kemaksiatan dan kemungkaran merajalela di sekitar mereka.
Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Negara
Allah ‘azza wa jalla berfirman:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya: “Dan peliharalah diri kalian dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfaal [8]: 25)
Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya, menyatakan bahwa ayat ini merupakan peringatan dari Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman tentang fitnah, yaitu ujian dan bencana, yang tidak hanya dikhususkan bagi ahli maksiat dan pelaku dosa saja, namun berlaku umum, terhadap orang yang melakukan kemaksiatan ataupun tidak. Hal ini terjadi karena orang-orang yang tidak melakukan perbuatan dosa tadi tidak berupaya mencegah dan menghentikan kemaksiatan para ahli maksiat.
Imam At-Thabari dalam Tafsirnya, menyampaikan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu tentang ayat ini. Ibnu ‘Abbas berkata: “Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk tidak mendiamkan kemungkaran yang tampak di hadapan mereka, jika demikian (tetap mendiamkan) maka Allah akan menimpakan azab yang berlaku umum.”
Dalam Tafsir Imam Al-Baghawi, ada tambahan redaksi terhadap pernyataan Ibnu ‘Abbas ini, yaitu: “yang akan menimpa orang yang berlaku zalim dan yang tidak.”
Sebagian mufassir dari kalangan tabi’in mengkhususkan ayat ini hanya untuk sebagian kalangan shahabat saja, seperti yang dinyatakan oleh As-Suddi dan Al-Hasan. As-Suddi berkata bahwa yang dimaksud ayat ini adalah orang-orang yang terlibat dalam Perang Jamal. Sedangkan Al-Hasan lebih jelas lagi menyatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan ‘Ali, ‘Utsman, Thalhah dan Zubair rahmatullahi ‘alaihim (Lihat Tafsir Ath-Thabari). Dalam salah satu riwayat, Ibnu ‘Abbas juga menyatakan bahwa ayat ini turun tentang para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).
Namun, Mujahid menyatakan bahwa ayat ini juga berlaku untuk yang lain. Demikian juga menurut Adh-Dhahhak, Yazid bin Abi Habib, dan lainnya. Ibnu Mas’ud berkata: “Tidak ada salah seorang pun dari kalian kecuali ia terkena fitnah. Allah ta’ala berfirman: innamaa amwaalukum wa aulaadukum fitnah (sesungguhnya harta dan anak-anak kalian merupakan fitnah) (At-Taghabun [64]: 15), maka berlindunglah kepada Allah dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).
Oleh karena itu, Ibn Katsir menyatakan bahwa ayat ini berlaku untuk para shahabat dan selain mereka. Ini juga yang menjadi pendapat faqih dan mufassir kontemporer, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, sebagaimana beliau kemukakan dalam Tafsirnya.
Dari penjelasan di atas, cukup jelas bagi kita bahwa ayat ini merupakan peringatan kepada orang-orang beriman, orang-orang yang tidak suka bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bahwa yang mereka lakukan tidak cukup untuk menyelamatkan diri mereka dari bencana, jika mereka tetap membiarkan kemaksiatan dan kemungkaran merajalela di sekitar mereka.
Jika ada yang menyatakan bahwa Allah ta’ala berfirman: وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى (Dan seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain) (Disebutkan beberapa kali dalam al-Qur’an, yaitu pada: QS. Al-An’aam [6]: 164; QS. Al-Israa’ [17]: 15; QS. Faathir [35]: 18; dan QS. Az-Zumar [39]: 7), كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ (Tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya) (QS. Al-Muddatstsir [74]: 38), dan لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ (Baginya pahala atas (kebaikan) yang dilakukannya, dan untuknya siksa karena (kejahatan) yang dilakukannya) (QS. Al-Baqarah [2]: 286), dan ini berarti seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, seseorang hanya akan disiksa akibat perbuatan dosanya sendiri. Maka, menurut Imam Al-Qurthubi dalam kitab Tafsirnya, jawabannya adalah bahwa seseorang yang melihat kemungkaran merajalela, ia wajib mengubahnya, dan yang berdiam diri terhadap kemungkaran tersebut juga terkategori orang yang bermaksiat. Ia berdosa karena ridha terhadap kemaksiatan yang ada disekitarnya.
Kewajiban mengubah kemungkaran ini juga telah dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu hadits shahih:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
Artinya: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah ia dengan tangan, jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu, maka dengan hati (dengan menunjukkan ketidak ridhaan terhadap kemungkaran tersebut), dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim [78], Ahmad, Ibnu Majah, dan lainnya)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا، وَنَجَوْا جَمِيعًا
Artinya: “Perumpamaan orang yang komitmen terhadap ketentuan-ketentuan Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti sekelompok orang yang menumpangi sebuah kapal. Sebagian mereka berada di bagian atas, dan sebagian yang lain berada di bagian bawah. Jika orang-orang yang di bawah ingin mengambil air, mereka harus melewati orang-orang yang di atas mereka. Lalu mereka berkata: ‘Seandainya kita lubangi saja (kapal ini) pada bagian kita, kita tentu tidak akan menyusahkan orang-orang yang di atas kita’. Jika hal tersebut dibiarkan oleh orang-orang yang di atas, padahal mereka tidak menghendakinya, niscaya binasalah mereka semua, dan jika mereka mencegahnya, maka selamatlah semuanya.” (HR. Al-Bukhari [2493] Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya)
Hadits di atas menunjukkan pentingnya aktivitas al-amr bil ma’ruf dan an-nahy ‘anil munkar, jika umat Islam senantiasa melaksanakan aktivitas ini, niscaya umat ini akan selamat, dan sebaliknya jika tidak dilakukan, umat ini akan binasa secara keseluruhan, baik pelaku maksiat secara langsung maupun yang ridha dan membiarkan aktivitas mereka.
Allah bahkan mengancam orang-orang yang tidak melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar melalui lisan Rasul-Nya sebagai berikut:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ
Artinya: “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, atau Allah akan menimpakan hukuman atas kalian (karena meninggalkan aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar), kemudian kalian berdoa kepada-Nya dan tidak dikabulkan-Nya.” (HR. At-Tirmidzi [2169]. At-Tirmidzi berkata: ‘Hadits ini hasan’. Diriwayatkan juga oleh Ahmad, Ath-Thabarani, al-Baihaqi, dan yang lainnya)
================
Kewajiban mengubah kemungkaran ini juga telah dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu hadits shahih:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
Artinya: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah ia dengan tangan, jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu, maka dengan hati (dengan menunjukkan ketidak ridhaan terhadap kemungkaran tersebut), dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim [78], Ahmad, Ibnu Majah, dan lainnya)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا، وَنَجَوْا جَمِيعًا
Artinya: “Perumpamaan orang yang komitmen terhadap ketentuan-ketentuan Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti sekelompok orang yang menumpangi sebuah kapal. Sebagian mereka berada di bagian atas, dan sebagian yang lain berada di bagian bawah. Jika orang-orang yang di bawah ingin mengambil air, mereka harus melewati orang-orang yang di atas mereka. Lalu mereka berkata: ‘Seandainya kita lubangi saja (kapal ini) pada bagian kita, kita tentu tidak akan menyusahkan orang-orang yang di atas kita’. Jika hal tersebut dibiarkan oleh orang-orang yang di atas, padahal mereka tidak menghendakinya, niscaya binasalah mereka semua, dan jika mereka mencegahnya, maka selamatlah semuanya.” (HR. Al-Bukhari [2493] Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya)
Hadits di atas menunjukkan pentingnya aktivitas al-amr bil ma’ruf dan an-nahy ‘anil munkar, jika umat Islam senantiasa melaksanakan aktivitas ini, niscaya umat ini akan selamat, dan sebaliknya jika tidak dilakukan, umat ini akan binasa secara keseluruhan, baik pelaku maksiat secara langsung maupun yang ridha dan membiarkan aktivitas mereka.
Allah bahkan mengancam orang-orang yang tidak melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar melalui lisan Rasul-Nya sebagai berikut:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ
Artinya: “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, atau Allah akan menimpakan hukuman atas kalian (karena meninggalkan aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar), kemudian kalian berdoa kepada-Nya dan tidak dikabulkan-Nya.” (HR. At-Tirmidzi [2169]. At-Tirmidzi berkata: ‘Hadits ini hasan’. Diriwayatkan juga oleh Ahmad, Ath-Thabarani, al-Baihaqi, dan yang lainnya)
================
RENCANA ALLAH ADALAH YANG TERBAIK
• Saat yang terencana tak kunjung tumbuh meski hingga lelah…
• Justru yang tak terpikir tumbuh tak terduga lebih indah…
• Itulah rencana Allah…
• Itulah coretan pena yang tertulis dalam sebuah kitab disisiNya…
• 500 abad (50.000 tahun) sebelum Ia menciptakan langit dan bumi…
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim 2653)
Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhuma berkata :
من اتكل على حسن اختيار الله له، لم يتمن شيئا. وهذا حد الوقوف على الرضى بما تصرف به القضاء
“Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu selain keadaan yang Allah pilihkan untuknya. Inilah batasan sikap selalu ridha terhadap semua ketentuan takdir dalam semua keadaan yang Allah berlakukan bagi hambaNya.” (Siyaru A’laamin Nubalaa’ 3/262)
Jika engkau merasa berat ingatlah bahwasanya dibalik rencana Allah tersimpan banyak kebaikan bagimu..
فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلُ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Karena barangkali kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Qs. An Nissa 19)
• Yakinlah dengan apa yang Allah pilihkan dalam takdirmu, bahwa itulah yang terbaik…
• Karena sesuatu yang engkau inginkan belum tentu akan menjadi kebaikan dalam hidupmu…
• Tapi apa yang Allah pilihkan, pasti merupakan kebaikan bagimu…
وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Allah yang mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah 216)
__________________________
Penyusun | Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)
Disusun | 18 Jumadal Akhirah 1437 H / 28 Maret 2016
• Saat yang terencana tak kunjung tumbuh meski hingga lelah…
• Justru yang tak terpikir tumbuh tak terduga lebih indah…
• Itulah rencana Allah…
• Itulah coretan pena yang tertulis dalam sebuah kitab disisiNya…
• 500 abad (50.000 tahun) sebelum Ia menciptakan langit dan bumi…
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim 2653)
Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhuma berkata :
من اتكل على حسن اختيار الله له، لم يتمن شيئا. وهذا حد الوقوف على الرضى بما تصرف به القضاء
“Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu selain keadaan yang Allah pilihkan untuknya. Inilah batasan sikap selalu ridha terhadap semua ketentuan takdir dalam semua keadaan yang Allah berlakukan bagi hambaNya.” (Siyaru A’laamin Nubalaa’ 3/262)
Jika engkau merasa berat ingatlah bahwasanya dibalik rencana Allah tersimpan banyak kebaikan bagimu..
فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلُ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Karena barangkali kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Qs. An Nissa 19)
• Yakinlah dengan apa yang Allah pilihkan dalam takdirmu, bahwa itulah yang terbaik…
• Karena sesuatu yang engkau inginkan belum tentu akan menjadi kebaikan dalam hidupmu…
• Tapi apa yang Allah pilihkan, pasti merupakan kebaikan bagimu…
وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Allah yang mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah 216)
__________________________
Penyusun | Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)
Disusun | 18 Jumadal Akhirah 1437 H / 28 Maret 2016
SATGAS PANDEMI KERAJAAN BLAMBANGAN
Dulu di abad ke-15, terjadi pandemi di kerajaan Blambangan, Mojokerto Jatim. Ratusan penduduk sakit, termasuk putri Prabu Menak Sembuyu yg bernama Dewi Sekardadu. Semua tabib dikerahkan utk temukan obatnya, tapi hasilnya nihil. Ini gawat darurat.
Tiba2 seorang prajurit melaporkan ada tabib yg sdh menyembuhkan banyak penduduk. Patih Blambangan segera meluncur ke TKP. Ketemu. Ternyata bukan orang Jawa. Badannya tinggi besar. Wajahnya seperti saudagar2 dari Arab yg banyak berbisnis di pelabuhan Gresik Majapahit. Namanya Maulana Ishaq.
Prabu Menak Sembuyu pun mengangkat Maulana Ishaq jadi Ketua Satgas Pandemi. Singkat cerita pandemi berhasil diatasi. Maulana Ishaq pun dinikahkan dengan Dewi Sekardadu. Ini menantu idaman: pinter, ganteng, soleh pula. Begitu mungkin pikir sang Raja.
Ternyata Maulana Ishaq bukan cuma tabib. Dia juga ulama. Dia putra Sayyid Husein Jamaludin Akbar alias Syekh Jumadil Kubro; keturunan Rasulullah generasi ke-19 dari garis allawiyyin. Islam pun mulai berkembang di Blambangan.
Ternyata beberapa pejabat Blambangan tdk suka dg Maulana Ishaq. Mereka menghasut raja agar mengusirnya. Raja kemakan omongan itu. Maulana Ishaq pun keluar dari istana meninggalkan istrinya yg lg hamil, pindah dakwah ke Tuban, dan pindah lagi ke Aceh.
Di tahun itu juga, tahun 1422 Dewi Sekardadu melahirkan anak. Dikasih nama Raden Paku. Lagi2, komplotan pendengki istana menghasut raja. Raden Paku itu anaknya Maulana Ishaq. Bahaya buat kerajaan. Dan Raden Paku yg msh bayi itu dibuang, dihanyutkan ke laut.
Gimana nasib bayi kecil Raden Paku? Baca kisah lengkapnya di buku Menebar Cahaya di Negeri Sekeping Surga yang diterbitkan @bukurepublika, pesan ke wa.me/62895386894755
Dulu di abad ke-15, terjadi pandemi di kerajaan Blambangan, Mojokerto Jatim. Ratusan penduduk sakit, termasuk putri Prabu Menak Sembuyu yg bernama Dewi Sekardadu. Semua tabib dikerahkan utk temukan obatnya, tapi hasilnya nihil. Ini gawat darurat.
Tiba2 seorang prajurit melaporkan ada tabib yg sdh menyembuhkan banyak penduduk. Patih Blambangan segera meluncur ke TKP. Ketemu. Ternyata bukan orang Jawa. Badannya tinggi besar. Wajahnya seperti saudagar2 dari Arab yg banyak berbisnis di pelabuhan Gresik Majapahit. Namanya Maulana Ishaq.
Prabu Menak Sembuyu pun mengangkat Maulana Ishaq jadi Ketua Satgas Pandemi. Singkat cerita pandemi berhasil diatasi. Maulana Ishaq pun dinikahkan dengan Dewi Sekardadu. Ini menantu idaman: pinter, ganteng, soleh pula. Begitu mungkin pikir sang Raja.
Ternyata Maulana Ishaq bukan cuma tabib. Dia juga ulama. Dia putra Sayyid Husein Jamaludin Akbar alias Syekh Jumadil Kubro; keturunan Rasulullah generasi ke-19 dari garis allawiyyin. Islam pun mulai berkembang di Blambangan.
Ternyata beberapa pejabat Blambangan tdk suka dg Maulana Ishaq. Mereka menghasut raja agar mengusirnya. Raja kemakan omongan itu. Maulana Ishaq pun keluar dari istana meninggalkan istrinya yg lg hamil, pindah dakwah ke Tuban, dan pindah lagi ke Aceh.
Di tahun itu juga, tahun 1422 Dewi Sekardadu melahirkan anak. Dikasih nama Raden Paku. Lagi2, komplotan pendengki istana menghasut raja. Raden Paku itu anaknya Maulana Ishaq. Bahaya buat kerajaan. Dan Raden Paku yg msh bayi itu dibuang, dihanyutkan ke laut.
Gimana nasib bayi kecil Raden Paku? Baca kisah lengkapnya di buku Menebar Cahaya di Negeri Sekeping Surga yang diterbitkan @bukurepublika, pesan ke wa.me/62895386894755
WhatsApp.com
Share on WhatsApp
WhatsApp Messenger: More than 2 billion people
in over 180 countries use WhatsApp to stay in touch with friends and
family, whenever and wherever. WhatsApp is free and offers simple, secure,
reliable messaging and calling, available…
in over 180 countries use WhatsApp to stay in touch with friends and
family, whenever and wherever. WhatsApp is free and offers simple, secure,
reliable messaging and calling, available…
*Kode Etik Ngonten di dunia Sosmed*
Selalu pertimbangkan 3 hal ini agar kita panen pahala bukan dosa saat ngonten:
1. Kontennya benar. Kontennya valid dan sesuai syariat Islam. Bukan berisi fitnah, umpatan, celaan, hinaan baik kepada personal maupun institusi atau lembaga. Jika terdapat kata yang tak layak, walau satu kata, disarankan untuk tidak disiarkan, diposting di sosmed.
2. Niatnya harus benar. Niatkan dalam ngonten adalah wajhullah (wajah Allah, maksudnya ikhlas karena Allah). Jangan untuk tujuan nyari subscriber, dan tujuan-tujuan dunia lainnya.
3. Pastikan efek konten kita baik, ada atau bahkan banyak mashlahatnya. Membuahkan kebenaran, tersebar kebaikan, membimbing pada kebaikan. Namun apabila efek buruknya lebih besar dari efek baiknya, maka janganlah diposting atau disebarkan. Lebih baik cari konten lain yang mashlahatnya besar.
Semoga memberi inspirasi untuk selalu berbuat kebaikan, di mana pahala kebaikan amat kita dibutuhkan di saat tiada lagi penolong kecuali amal kita, sekecil apapun amal itu.
*Sekolah Konselor Keluarga*
Selalu pertimbangkan 3 hal ini agar kita panen pahala bukan dosa saat ngonten:
1. Kontennya benar. Kontennya valid dan sesuai syariat Islam. Bukan berisi fitnah, umpatan, celaan, hinaan baik kepada personal maupun institusi atau lembaga. Jika terdapat kata yang tak layak, walau satu kata, disarankan untuk tidak disiarkan, diposting di sosmed.
2. Niatnya harus benar. Niatkan dalam ngonten adalah wajhullah (wajah Allah, maksudnya ikhlas karena Allah). Jangan untuk tujuan nyari subscriber, dan tujuan-tujuan dunia lainnya.
3. Pastikan efek konten kita baik, ada atau bahkan banyak mashlahatnya. Membuahkan kebenaran, tersebar kebaikan, membimbing pada kebaikan. Namun apabila efek buruknya lebih besar dari efek baiknya, maka janganlah diposting atau disebarkan. Lebih baik cari konten lain yang mashlahatnya besar.
Semoga memberi inspirasi untuk selalu berbuat kebaikan, di mana pahala kebaikan amat kita dibutuhkan di saat tiada lagi penolong kecuali amal kita, sekecil apapun amal itu.
*Sekolah Konselor Keluarga*
*REFLEKSI 2022-2023*
*_Tak terasa ternyata hari sudah petang._*
*_Tak terasa tiba-tiba sudah seminggu berlalu_*
*_Tak terasa pula waktu yang menghampiri kita telah berjalan sekian tahun._*
*_Sungguh tak terasa, tiba-tiba._*
*_Semua terasa cepat berlalu._*
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ
*_Tidak akan terjadi hari kiamat hingga zaman berdekatan (waktu terasa singkat), setahun bagaikan sebulan, Sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, sehari bagaikan sejam dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma._* (HR. Ahmad, shahih oleh al-Albani dalam al-Jaami’ ash Shaghiir, 7299)
Wahai saudaraku dan wahai saudariku, kita menyaksikan bagaimana siang dan malam berlalu begitu cepat di tahun ini. Bahkan kita menyaksikan bagaimana umur kita juga berlalu begitu cepat. Ketahuilah, umur kita yang tersisa juga akan berlalu begitu cepat sebagaimana yang telah berlalu.
Setiap hari manusia bekerja keras di kehidupan dunia ini sampai ajal yang telah ditentukan datang. Ajal yang telah ditetapkan sebelum ia sempurna di perut ibunya.
Di kehidupan dunia ini, manusia pasti akan lelah dan capek. Setiap hari yang berlalu mengantarkan kita kepada dekatnya kematian dan negeri akhirat serta menjauhnya kita dari negeri dunia.
Setiap hari yang berlalu menjadikan umur kita berkurang dan negeri akhirat semakin dekat.
Hasan al Bashri rahimahullah berkata:
*_Wahai Ibnu Adam, engkau adalah kumpulan hari. Apabila 1 hari berlalu, maka berkuranglah jatah harimu_*.
Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullahu Ta'ala berkata :
فإنا نجد من سرعة مر الأيام ما لم نكن نجده في العصر الذي قبل عصرنا هذا، وإن لم يكن هناك عيش مستلذ ؛ والحق أن المراد نزع البركة من كل شيء ، حتى من الزمان ، وذلك من علامات قرب الساعة
*_Sungguh kita telah mendapati cepatnya hari-hari yang telah berlalu dan ini tidak kita jumpai pada masa sebelum zaman kita sekarang ini. Walaupun di masa itu tidak ada kehidupan yang terasa lezat. Dan yang benar bahwa maksud dari semua hal itu adalah dicabutnya barokah dari segala sesuatu hingga perihal masa sekalipun. Dan itu merupakan tanda dekatnya hari kiamat._* (Fathul Bari 13/19)
Kita tahu bahwa Ibnu Hajar Al Asqolany hidup jauh sebelum hari ini (773 H/1372 M – 852 H/1449 M), namun sudah mengatakan demikian, apatah zaman ini, pasti lebih berkurang lagi keberkahannya.
Maka sungguh merugi, jika kita tidak mensegerakan dan memperbanyak amal dalam kondisi ini.
Benarlah perkataan Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala, agar kita tidak merugi tentang waktu yang amat cepat berlalu, beliau rahimahullahu ta'ala berkata:
*_Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi dan penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih. Ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan (mendung). Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah pada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya. Selain itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun hanya teranggap seperti kehidupan binatang ternak. Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan, maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya._* (Kitab Al Jawabul Kafi, 109)
Aun bin ‘Abdillah rahimahullah berkata :
*_Sikapilah bahwa besok adalah ajalmu. Karena begitu banyak orang yang ingin menemui hari besok, ia malah tidak bisa menyempurnakannya. Begitu banyak orang yang berangan-angan panjang umur, ia malah tidak bisa menemui hari esok. Seharusnya ketika engkau mengingat kematian, engkau akan benci terhadap sikap panjang angan-angan._*
Beliau juga berkata :
*_Tak terasa ternyata hari sudah petang._*
*_Tak terasa tiba-tiba sudah seminggu berlalu_*
*_Tak terasa pula waktu yang menghampiri kita telah berjalan sekian tahun._*
*_Sungguh tak terasa, tiba-tiba._*
*_Semua terasa cepat berlalu._*
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ
*_Tidak akan terjadi hari kiamat hingga zaman berdekatan (waktu terasa singkat), setahun bagaikan sebulan, Sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, sehari bagaikan sejam dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma._* (HR. Ahmad, shahih oleh al-Albani dalam al-Jaami’ ash Shaghiir, 7299)
Wahai saudaraku dan wahai saudariku, kita menyaksikan bagaimana siang dan malam berlalu begitu cepat di tahun ini. Bahkan kita menyaksikan bagaimana umur kita juga berlalu begitu cepat. Ketahuilah, umur kita yang tersisa juga akan berlalu begitu cepat sebagaimana yang telah berlalu.
Setiap hari manusia bekerja keras di kehidupan dunia ini sampai ajal yang telah ditentukan datang. Ajal yang telah ditetapkan sebelum ia sempurna di perut ibunya.
Di kehidupan dunia ini, manusia pasti akan lelah dan capek. Setiap hari yang berlalu mengantarkan kita kepada dekatnya kematian dan negeri akhirat serta menjauhnya kita dari negeri dunia.
Setiap hari yang berlalu menjadikan umur kita berkurang dan negeri akhirat semakin dekat.
Hasan al Bashri rahimahullah berkata:
*_Wahai Ibnu Adam, engkau adalah kumpulan hari. Apabila 1 hari berlalu, maka berkuranglah jatah harimu_*.
Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullahu Ta'ala berkata :
فإنا نجد من سرعة مر الأيام ما لم نكن نجده في العصر الذي قبل عصرنا هذا، وإن لم يكن هناك عيش مستلذ ؛ والحق أن المراد نزع البركة من كل شيء ، حتى من الزمان ، وذلك من علامات قرب الساعة
*_Sungguh kita telah mendapati cepatnya hari-hari yang telah berlalu dan ini tidak kita jumpai pada masa sebelum zaman kita sekarang ini. Walaupun di masa itu tidak ada kehidupan yang terasa lezat. Dan yang benar bahwa maksud dari semua hal itu adalah dicabutnya barokah dari segala sesuatu hingga perihal masa sekalipun. Dan itu merupakan tanda dekatnya hari kiamat._* (Fathul Bari 13/19)
Kita tahu bahwa Ibnu Hajar Al Asqolany hidup jauh sebelum hari ini (773 H/1372 M – 852 H/1449 M), namun sudah mengatakan demikian, apatah zaman ini, pasti lebih berkurang lagi keberkahannya.
Maka sungguh merugi, jika kita tidak mensegerakan dan memperbanyak amal dalam kondisi ini.
Benarlah perkataan Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala, agar kita tidak merugi tentang waktu yang amat cepat berlalu, beliau rahimahullahu ta'ala berkata:
*_Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi dan penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih. Ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan (mendung). Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah pada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya. Selain itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun hanya teranggap seperti kehidupan binatang ternak. Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan, maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya._* (Kitab Al Jawabul Kafi, 109)
Aun bin ‘Abdillah rahimahullah berkata :
*_Sikapilah bahwa besok adalah ajalmu. Karena begitu banyak orang yang ingin menemui hari besok, ia malah tidak bisa menyempurnakannya. Begitu banyak orang yang berangan-angan panjang umur, ia malah tidak bisa menemui hari esok. Seharusnya ketika engkau mengingat kematian, engkau akan benci terhadap sikap panjang angan-angan._*
Beliau juga berkata :
إنَّ من أنفع أيام المؤمن له في الدنيا ما ظن أنَّه لا يدرك آخره
*_Sesungguhnya hari yang bermanfaat bagi seorang mukmin di dunia adalah ia merasa bahwa hari esok sulit ia temui._* (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 385)
نسأل الله السلامة والعافية
وصلاته وسلامه وبركاته عليه
~ _Shahih Fiqh_ ~
*_Sesungguhnya hari yang bermanfaat bagi seorang mukmin di dunia adalah ia merasa bahwa hari esok sulit ia temui._* (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 385)
نسأل الله السلامة والعافية
وصلاته وسلامه وبركاته عليه
~ _Shahih Fiqh_ ~
*Menciptakan Harmoni Dalam Sebuah Hubungan*
Hiasan dalam pergaulan adalah الرفق (Kelembutan). Inilah penghias pergaulan dengan keluarga, shahabat, lebih spesifik hubungan antara suami dan istri.
Langgengnya sebuah hubungan karena dibalut dengan kelembutan.
Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
*_Siapa yang diberikan sifat lembut, maka ia telah diberikan banyak kebaikan. Siapa yang tidak memiliki sifat lembut, maka ia terhalang dari banyak kebaikan_*(HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
*_Siapa yang tidak bersikap lembut, maka ia terhalang dari kebaikan_* (HR. Muslim no.2592)
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
فيجب على كلٍّ من الزوجين أن يؤدي إلى الآخر حقوقه؛ بطيبِ نفسٍ وانشراحِ صدرٍ.
*_Wajib atas masing-masing dari suami istri untuk saling menunaikan hak-hak pihak yang lain dengan hati yang senang dan lapang dada._*
( _Majmu’ul Fatawa, jilid 28 halaman 383_)
Kelembutan membuat seseorang mudah memaafkan sehingga terjaga silaturrahim. Silaturrahim adalah kebaikan yang disegerakan Allah ganjarannya, demikian Nabi mengajarkan.
Dan kelembutan itu akan menghadirkan keakraban, hubungan kasih sayang, silaturrahim terjaga, di mana tidak ada satu penghuni rumah pun yang menyambung hubungan silaturrahim lalu mereka akan kekurangan, maa syaa Allah.
Mari kita jaga harmoni dalam rumah tangga kita, dengan tetap menghadirkan kelembutan meski dalam kondisi berat ataupun ringan, susah ataupun senang.
_Sekolah Konselor Keluarga_
Hiasan dalam pergaulan adalah الرفق (Kelembutan). Inilah penghias pergaulan dengan keluarga, shahabat, lebih spesifik hubungan antara suami dan istri.
Langgengnya sebuah hubungan karena dibalut dengan kelembutan.
Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
*_Siapa yang diberikan sifat lembut, maka ia telah diberikan banyak kebaikan. Siapa yang tidak memiliki sifat lembut, maka ia terhalang dari banyak kebaikan_*(HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
*_Siapa yang tidak bersikap lembut, maka ia terhalang dari kebaikan_* (HR. Muslim no.2592)
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
فيجب على كلٍّ من الزوجين أن يؤدي إلى الآخر حقوقه؛ بطيبِ نفسٍ وانشراحِ صدرٍ.
*_Wajib atas masing-masing dari suami istri untuk saling menunaikan hak-hak pihak yang lain dengan hati yang senang dan lapang dada._*
( _Majmu’ul Fatawa, jilid 28 halaman 383_)
Kelembutan membuat seseorang mudah memaafkan sehingga terjaga silaturrahim. Silaturrahim adalah kebaikan yang disegerakan Allah ganjarannya, demikian Nabi mengajarkan.
Dan kelembutan itu akan menghadirkan keakraban, hubungan kasih sayang, silaturrahim terjaga, di mana tidak ada satu penghuni rumah pun yang menyambung hubungan silaturrahim lalu mereka akan kekurangan, maa syaa Allah.
Mari kita jaga harmoni dalam rumah tangga kita, dengan tetap menghadirkan kelembutan meski dalam kondisi berat ataupun ringan, susah ataupun senang.
_Sekolah Konselor Keluarga_
Sarung Konstituante
Sidang Konstituante pertama, tangggal 12 November 1956 di Bandung Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Ulama kharismatik dari Minangkabau itu maju ke depan. Pria 85 tahun itu, memakai jas tertutup drill dan bridal warna putih, bersarung bugis warna hitam, berkupiah haji lengkap dengan sorban, yang ujungnya tergantung di punggungnya. Ia melangkah tanpa ragu, Bangsa ini akan memulai sidang sehabis pemilu yang aduhai itu.
Sebagai ulama, Beliau membuka sidang, dimulai sidang dengan membaca Al-fatihah, kemudian disambung kata-kata pujian. Ruang sidang senyap, bagai malaikat yang lewat. Ulama yang ganjil, sudahlah bersarung bersurban, dalam sidang yang sangat nasionalis ini, anggota sidang yang berjumlah sekitar 550 orang itu, diajak menunduk membaca Al-Qur'an.
"Seperti di pondok saja" kata tokoh PKI Aidit dengan suara keras. Reaksi Aidit ini berbuntut panjang sebab kalangan atheis ingin Sulaiman dilengserkan dari pimpinan sidang.
"Mantap ini" kata Natsir dari Masyumi.
Sidang dengan susunan meja bundar itu, berlansung saat Bandung sedang bergelora, belum lama berlansung Konferensi Asia Afrika [KAA]. Pemenang pemilu 1955 dari Perti berkumpul sesudah sidang, mereka merapat pada Sulaiman, berdiskusi dan kemudian beristirahat di penginapan.
Mereka yang bersidang adalah pemenang pemilu 1955, dan Syekh Sulaiman merupakan utusan Perti bersama enam orang lainnya. Sulaiman adalah anggota tertua, yang dalam majelis dihormati, namun karena usianya 85 tahun, ia tak sekuat anak muda dalam sidang. Namun karena Aidit yang selalu usil, Sulaiman menanggapinya dengan sikap kuat kokoh.
Sidang pertama sampai ketujuh, ia tetap menjadi pemimpin sidang. Sidang-sidang itu abai akan cuaca Bandung sehingga sering berlansung hingga larut malam, sejumlah kawan dan muridnya berbicara agar Inyiek bisa beristirahat saja di hotel. Ia tak enak hati, lantas kemudian mengundurkan diri karena badannya memang mulai tidak sehat. Pimpinan sidang ia serahkan pada Ridwan dari Partai NU.
Suatu hari ia memanggil Kasim Sabil, dan memintanya menggantikan posisi beliau sebagai anggota Konstituante.
"Gantikan Buya, kau masih muda".
Kisah bermula, setelah kemerdekaan Wakil Presiden Muhammad Hatta mengeluarkan Maklumat Nomor X. Waktu itu 3 November 1945 Isinya adalah seruan agar mendirikan partai-partai politik sebagai wadah menyalurkan aspirasi rakyat. Sulaiman cepat tanggap, maka pada 22 November Perti menjadi partai dengan nama Partai Islam Perti. Namun maklumat ini terpaksa diabaikan karena Belanda melakukan agresi sampai 1949. Memasuki 1950, matahari mulai terbit di balik kabut bangsa Indonesia. Tibalah 1955 saat pemilu diadakan. Dalam pesta demokrasi itu, Perti dapat 7 kursi di Konstituante dan 4 kursi di DPRD. Karena itulah kemudian Syekh Sulaiman memimpin sidang Konstituante pertama di Bandung.
Kisah Inyiek memimpin sidang itu sampai ke Canduang, sampai kerumah, sampai ke telinga anak istri beliau, menantu dan cucu beliau Semua merasa bangga dan bahagia. Orang yang mereka hormati tampil gemilang, namun beliau Inyiek malah biasa-biasa saja.
(Pardi Syahri)
Sumber Referensi :
*] Buku "Inyiak Sang Pejuang" Oleh Khairul Jasmi.
*] Buku Ayah Kita (1978) Oleh Buya Baharuddin Rusli.
Sidang Konstituante pertama, tangggal 12 November 1956 di Bandung Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Ulama kharismatik dari Minangkabau itu maju ke depan. Pria 85 tahun itu, memakai jas tertutup drill dan bridal warna putih, bersarung bugis warna hitam, berkupiah haji lengkap dengan sorban, yang ujungnya tergantung di punggungnya. Ia melangkah tanpa ragu, Bangsa ini akan memulai sidang sehabis pemilu yang aduhai itu.
Sebagai ulama, Beliau membuka sidang, dimulai sidang dengan membaca Al-fatihah, kemudian disambung kata-kata pujian. Ruang sidang senyap, bagai malaikat yang lewat. Ulama yang ganjil, sudahlah bersarung bersurban, dalam sidang yang sangat nasionalis ini, anggota sidang yang berjumlah sekitar 550 orang itu, diajak menunduk membaca Al-Qur'an.
"Seperti di pondok saja" kata tokoh PKI Aidit dengan suara keras. Reaksi Aidit ini berbuntut panjang sebab kalangan atheis ingin Sulaiman dilengserkan dari pimpinan sidang.
"Mantap ini" kata Natsir dari Masyumi.
Sidang dengan susunan meja bundar itu, berlansung saat Bandung sedang bergelora, belum lama berlansung Konferensi Asia Afrika [KAA]. Pemenang pemilu 1955 dari Perti berkumpul sesudah sidang, mereka merapat pada Sulaiman, berdiskusi dan kemudian beristirahat di penginapan.
Mereka yang bersidang adalah pemenang pemilu 1955, dan Syekh Sulaiman merupakan utusan Perti bersama enam orang lainnya. Sulaiman adalah anggota tertua, yang dalam majelis dihormati, namun karena usianya 85 tahun, ia tak sekuat anak muda dalam sidang. Namun karena Aidit yang selalu usil, Sulaiman menanggapinya dengan sikap kuat kokoh.
Sidang pertama sampai ketujuh, ia tetap menjadi pemimpin sidang. Sidang-sidang itu abai akan cuaca Bandung sehingga sering berlansung hingga larut malam, sejumlah kawan dan muridnya berbicara agar Inyiek bisa beristirahat saja di hotel. Ia tak enak hati, lantas kemudian mengundurkan diri karena badannya memang mulai tidak sehat. Pimpinan sidang ia serahkan pada Ridwan dari Partai NU.
Suatu hari ia memanggil Kasim Sabil, dan memintanya menggantikan posisi beliau sebagai anggota Konstituante.
"Gantikan Buya, kau masih muda".
Kisah bermula, setelah kemerdekaan Wakil Presiden Muhammad Hatta mengeluarkan Maklumat Nomor X. Waktu itu 3 November 1945 Isinya adalah seruan agar mendirikan partai-partai politik sebagai wadah menyalurkan aspirasi rakyat. Sulaiman cepat tanggap, maka pada 22 November Perti menjadi partai dengan nama Partai Islam Perti. Namun maklumat ini terpaksa diabaikan karena Belanda melakukan agresi sampai 1949. Memasuki 1950, matahari mulai terbit di balik kabut bangsa Indonesia. Tibalah 1955 saat pemilu diadakan. Dalam pesta demokrasi itu, Perti dapat 7 kursi di Konstituante dan 4 kursi di DPRD. Karena itulah kemudian Syekh Sulaiman memimpin sidang Konstituante pertama di Bandung.
Kisah Inyiek memimpin sidang itu sampai ke Canduang, sampai kerumah, sampai ke telinga anak istri beliau, menantu dan cucu beliau Semua merasa bangga dan bahagia. Orang yang mereka hormati tampil gemilang, namun beliau Inyiek malah biasa-biasa saja.
(Pardi Syahri)
Sumber Referensi :
*] Buku "Inyiak Sang Pejuang" Oleh Khairul Jasmi.
*] Buku Ayah Kita (1978) Oleh Buya Baharuddin Rusli.
KEUTAMAAN TADABBUR AL QURAN
Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata :
تكفل الله لمن قرأ القرآن وعمل بما فيه أن لا يضل في الدنيا ولا يشقى في الآخرة
“Allah memberikan jaminan kepada hamba yang membaca Al-Quran dan mengamalkannya, untuk tidak sesat di dunia dan tidak celaka di akhirat.”
(Miftah Daar as-Sa’adah 1/58)
● Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
فإن الإنسان إذا قرأ القرآن وتدبره، كان ذلك من أقوى الأسباب المانعة له من المعاصي أو بعضها، وكذلك الصوم جنة.
“Sesungguhnya seseorang jika membaca al-Quran dan mentadaburinya, hal itu termasuk sebab terkuat yang menghalangi dari kemaksiatan atau dari sebagian kemaksiatan. Demikian juga puasa merupakan perisai.”
(Majmu’ul Fatawa, jilid 20, hlm. 123)
Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata :
تكفل الله لمن قرأ القرآن وعمل بما فيه أن لا يضل في الدنيا ولا يشقى في الآخرة
“Allah memberikan jaminan kepada hamba yang membaca Al-Quran dan mengamalkannya, untuk tidak sesat di dunia dan tidak celaka di akhirat.”
(Miftah Daar as-Sa’adah 1/58)
● Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
فإن الإنسان إذا قرأ القرآن وتدبره، كان ذلك من أقوى الأسباب المانعة له من المعاصي أو بعضها، وكذلك الصوم جنة.
“Sesungguhnya seseorang jika membaca al-Quran dan mentadaburinya, hal itu termasuk sebab terkuat yang menghalangi dari kemaksiatan atau dari sebagian kemaksiatan. Demikian juga puasa merupakan perisai.”
(Majmu’ul Fatawa, jilid 20, hlm. 123)
PERTANYAAN - MENERIMA UANG TIP
Saya bekerja di suatu perusahaan (jasa) garansi dengan gaji bulanan yang telah ditentukan. Tapi ketika saya bertugas ke beberapa rumah untuk perawatan (service) sebagian peralatan, para pemiliknya memaksa memberi uang tambahan kepada saya. Saya menolaknya tapi mereka tetap memaksa. Apa yang harus saya lakukan?
JAWABAN :
Yang lebih baik jangan menerimanya.
Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus seorang petugas pengumpul shadaqah yang dikenal dengan nama Abdullah bin Al-Luthbiyah. Ketika ia kembali dengan membawa shadaqah, ia mengatakan : Ini untukmu dan ini dihadiahkan kepadaku. Lalu Nabi Shallallahu alaihi wasallam berkhutbah dan mengingkari hal tersebut, beliau mengatakan :
أَفَلاَ قَعَدَ فِي بَيْتِ أَبِيْهِ أَوْ فِيْ بَيْتِ أُمِّهِ حَتَى يَنْظُرَ أَيُهدَى إِلَيْهِ أَمْ لاَ
“Cobalah ia tetap tinggal di rumah ayahnya atau di rumahnya atau rumah ibunya sampai ia melihat, apakah ia akan diberi hadiah atau tidak” (HR Bukhari, kitab Al-Hibah 2597, Muslim kitab Al-Imarah 1832)
Ungkapan : “Cobalah ia tetap tinggal di rumah ayahnya atau di rumah ibunya”
Menunjukkan faktor yang diperingatkan terhadap para petugas pelayanan umum agar tidak menerima apapun yang dihadiahkan kepada mereka. Jika anda tetap di rumah anda, tentu mereka tidak akan menghadiahkan apa-apa kepada anda.
Yang lebih selamat dan lebih hati-hati adalah tidak menerima pemberian selain gaji anda. Wallahu a’lam
● Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah
(Fatawa Lil Muwazhzhafin wal Ummal, 67-68)
Saya bekerja di suatu perusahaan (jasa) garansi dengan gaji bulanan yang telah ditentukan. Tapi ketika saya bertugas ke beberapa rumah untuk perawatan (service) sebagian peralatan, para pemiliknya memaksa memberi uang tambahan kepada saya. Saya menolaknya tapi mereka tetap memaksa. Apa yang harus saya lakukan?
JAWABAN :
Yang lebih baik jangan menerimanya.
Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus seorang petugas pengumpul shadaqah yang dikenal dengan nama Abdullah bin Al-Luthbiyah. Ketika ia kembali dengan membawa shadaqah, ia mengatakan : Ini untukmu dan ini dihadiahkan kepadaku. Lalu Nabi Shallallahu alaihi wasallam berkhutbah dan mengingkari hal tersebut, beliau mengatakan :
أَفَلاَ قَعَدَ فِي بَيْتِ أَبِيْهِ أَوْ فِيْ بَيْتِ أُمِّهِ حَتَى يَنْظُرَ أَيُهدَى إِلَيْهِ أَمْ لاَ
“Cobalah ia tetap tinggal di rumah ayahnya atau di rumahnya atau rumah ibunya sampai ia melihat, apakah ia akan diberi hadiah atau tidak” (HR Bukhari, kitab Al-Hibah 2597, Muslim kitab Al-Imarah 1832)
Ungkapan : “Cobalah ia tetap tinggal di rumah ayahnya atau di rumah ibunya”
Menunjukkan faktor yang diperingatkan terhadap para petugas pelayanan umum agar tidak menerima apapun yang dihadiahkan kepada mereka. Jika anda tetap di rumah anda, tentu mereka tidak akan menghadiahkan apa-apa kepada anda.
Yang lebih selamat dan lebih hati-hati adalah tidak menerima pemberian selain gaji anda. Wallahu a’lam
● Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah
(Fatawa Lil Muwazhzhafin wal Ummal, 67-68)
*DOAMU PASTI DIKABULKAN SELAMA MASIH ADA KEINGINAN UNTUK BERDOA*
Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :
لو لم يرد الله إجابة دعائك، لما ألهمك الدعاء (عدّة الصابرين ٦٠)
“Seandainya Allah tidak menginginkan mengabulkan doamu, Dia tidak akan mengilhamkanmu untuk berdo’a…”
(‘Uddatus Shobirin 60)
Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :
لو لم يرد الله إجابة دعائك، لما ألهمك الدعاء (عدّة الصابرين ٦٠)
“Seandainya Allah tidak menginginkan mengabulkan doamu, Dia tidak akan mengilhamkanmu untuk berdo’a…”
(‘Uddatus Shobirin 60)
*KEUTAMAAN ORANG BAIK YANG MEMBERI BAHAGIA SAUDARANYA*
Keutamaan orang yang beri kebahagiaan pada orang lain dan mengangkat kesulitan dari orang lain disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ
“Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699).
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ
“Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580).
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).
Keutamaan orang yang beri kebahagiaan pada orang lain dan mengangkat kesulitan dari orang lain disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ
“Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699).
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ
“Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580).
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).