*KITA BUTUH LELAH LEBIH UNTUK MENGGAPAINYA*
Di antara sunnatullah A'zza wa Jalla, bahwa segala sesuatu yang berharga membutuhkan lelah yang ekstra untuk menggapainya. Semakin berharga sesuatu, semakin ekstra lelah untuk menggapainya. Ini adalah sunnatullah.
Sifat berilmu adalah karakter paling mulia yang dimiliki manusia. Ketika ilmu itu berharga, tentu membutuhkan kesabaran ekstra dan perjuangan yang ekstra. Oleh karena itu,seorang ahli ilmu, Yahya bin Abi Katsir mengatakan:
لَا يُسْتَطَاعُ العِلْمُ بِرَاحَةِ الجَسَدِ
*_Ilmu tidak akan diraih dengan badan yang santai_*.
Demikian juga harta. Ketika harta itu dicintai oleh jiwa, tentu juga membutuhkan lelah yang ekstra untuk mendapatkannya. Umumnya harta tidaklah didapat dengan mudah. Demikian juga segala sesuatu yang berharga.
Meraih nama baik, tentu juga membutuhkan perjuangan. Juga perlu mencurahkan hal-hal yang dicintai jiwa. Sebagaimana sebuah syair terkenal dari al-Mutanabbi:
لَوْلَا المَشَقَّةُ سَادَ النَاسُ كُلُّهُمْ
*_Seandainya bukan karena jerih payah, tentu semua orang menjadi pemimpin_*.
الجُودُ يُفْقِرُ وَالإِ قْدامُ قَتَّالُ
*_Kedermawanan akan membuat jatuh miskin dan maju ke medan perang akan mengundang kematian_*.
Ini artinya, seandainya bukan karena jerih payah, kedermawanan dan maju ke medan perang, tentu semua orang menjadi pemimpin dan terhormat.
Akan tetapi kedermawanan akan membuat jatuh miskin karena orang dermawan perlu mengeluarkan banyak harta. Ia keluarkan harta untuk memuliakan tamu, membantu orang kesusahan dan menolong orang yang membutuhkan.
Tidak diragukan lagi bahwa orang dermawan akan susah payah mengeluarkan harta yang dicintainya, sehingga banyak orang memuliakannya. Oleh karena itu, orang dermawan jumlahnya sangat sedikit.
Demikian pula dengan keberanian. Keberanian perlu maju ke medan perang dan maju ke medan perang harus siap dengan resiko. Dan tidak semua orang berani mengambil resiko.
Demikianlah sunnatullah, segala sesuatu yang berharga membutuhkan lelah yang ekstra untuk menggapainya. Tancapkanlah prinsip ini di hati kita dalam-dalam, apabila kita ingin sesuatu yang berharga, kita harus menyiapkan diri untuk bersabar, sampai berhasil meraih sesuatu yang berharga tersebut.
Tidak ada satupun perkara yang sulit jika Allah mudahkan, tetapi sebaliknya perkara yang amat mudah pun tidak akan mampu dikerjakan bila disulitkan (dijadikan sulit) oleh Allah.
Maka hendaklah segala urusan, kita kembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.
Oleh karenanya rasulullah shalallahu alaihi wasallam perintahkan kita untuk berdoa memohon kemudahan pada Allah.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
*_Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah._* (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya (3/255). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah. (Lihat Jaami’ul Ahadits, 6/257, Asy Syamilah)
Maka berdoalah kepada Allah, mintalah padaNya untuk segala urusanmu.
Tetap semangat untuk semua peserta Growth Up, jangan sampai kendor. Habiskan lelahmu untuk menggapai impianmu.
إن الله معنا
*_Allah bersama kita_*
Di antara sunnatullah A'zza wa Jalla, bahwa segala sesuatu yang berharga membutuhkan lelah yang ekstra untuk menggapainya. Semakin berharga sesuatu, semakin ekstra lelah untuk menggapainya. Ini adalah sunnatullah.
Sifat berilmu adalah karakter paling mulia yang dimiliki manusia. Ketika ilmu itu berharga, tentu membutuhkan kesabaran ekstra dan perjuangan yang ekstra. Oleh karena itu,seorang ahli ilmu, Yahya bin Abi Katsir mengatakan:
لَا يُسْتَطَاعُ العِلْمُ بِرَاحَةِ الجَسَدِ
*_Ilmu tidak akan diraih dengan badan yang santai_*.
Demikian juga harta. Ketika harta itu dicintai oleh jiwa, tentu juga membutuhkan lelah yang ekstra untuk mendapatkannya. Umumnya harta tidaklah didapat dengan mudah. Demikian juga segala sesuatu yang berharga.
Meraih nama baik, tentu juga membutuhkan perjuangan. Juga perlu mencurahkan hal-hal yang dicintai jiwa. Sebagaimana sebuah syair terkenal dari al-Mutanabbi:
لَوْلَا المَشَقَّةُ سَادَ النَاسُ كُلُّهُمْ
*_Seandainya bukan karena jerih payah, tentu semua orang menjadi pemimpin_*.
الجُودُ يُفْقِرُ وَالإِ قْدامُ قَتَّالُ
*_Kedermawanan akan membuat jatuh miskin dan maju ke medan perang akan mengundang kematian_*.
Ini artinya, seandainya bukan karena jerih payah, kedermawanan dan maju ke medan perang, tentu semua orang menjadi pemimpin dan terhormat.
Akan tetapi kedermawanan akan membuat jatuh miskin karena orang dermawan perlu mengeluarkan banyak harta. Ia keluarkan harta untuk memuliakan tamu, membantu orang kesusahan dan menolong orang yang membutuhkan.
Tidak diragukan lagi bahwa orang dermawan akan susah payah mengeluarkan harta yang dicintainya, sehingga banyak orang memuliakannya. Oleh karena itu, orang dermawan jumlahnya sangat sedikit.
Demikian pula dengan keberanian. Keberanian perlu maju ke medan perang dan maju ke medan perang harus siap dengan resiko. Dan tidak semua orang berani mengambil resiko.
Demikianlah sunnatullah, segala sesuatu yang berharga membutuhkan lelah yang ekstra untuk menggapainya. Tancapkanlah prinsip ini di hati kita dalam-dalam, apabila kita ingin sesuatu yang berharga, kita harus menyiapkan diri untuk bersabar, sampai berhasil meraih sesuatu yang berharga tersebut.
Tidak ada satupun perkara yang sulit jika Allah mudahkan, tetapi sebaliknya perkara yang amat mudah pun tidak akan mampu dikerjakan bila disulitkan (dijadikan sulit) oleh Allah.
Maka hendaklah segala urusan, kita kembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.
Oleh karenanya rasulullah shalallahu alaihi wasallam perintahkan kita untuk berdoa memohon kemudahan pada Allah.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
*_Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah._* (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya (3/255). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah. (Lihat Jaami’ul Ahadits, 6/257, Asy Syamilah)
Maka berdoalah kepada Allah, mintalah padaNya untuk segala urusanmu.
Tetap semangat untuk semua peserta Growth Up, jangan sampai kendor. Habiskan lelahmu untuk menggapai impianmu.
إن الله معنا
*_Allah bersama kita_*
*MENGOBATI PENYAKIT GHIBAH MULAI DARI RUMAH*
Bertaqwalah kepada Allah dalam menjaga persaudaraan sesama muslim. Ghibah sama sekali tidak ada kebaikannya. Sangat penting sekali untuk mendidik dan membesarkan putra-putri kita, mendidik mereka untuk mengagungkan ALlah 'Azza wa Jalla dan menghormati hak muslim lainnya.
Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah:
الغيبة من الكبائر التي لا تكفرها الصلاة ولا الصدقة ولا الصيام ولا الحج [شرح رياض الصالحين
*_Ghibah termasuk dosa besar yang tidak bisa dihapus oleh sholat, shodaqoh, puasa dan haji._*
(Syarh Riyadushsholihin 6/109)
Ibnu Mubarak rahimahullah berkata :
لو كنت مغتابا أحدا لاغتبت والدي لأنهما أحق بحسناتي
*_Kalau seandainya (boleh) aku mengghibahi seseorang, niscaya aku akan mengghibahi kedua orang tuaku, karena keduanya yang paling berhak mendapatkan kebaikanku_*.
(Syarah Shohih Bukhari 9/245)
Seorang muslim yang mendidik putra-putrinya agar menjaga hak kaum muslimin, ia akan mendapatkan banyak kebaikan.
Jika engkau merendahkan orang lain karena jenis dan warna kulitnya, saat engkau duduk bersama putra-putrimu di rumah, Wallahi, engkau adalah orang yang rugi, karena anakmu akan meniru perbuatan tersebut, dan ini akan memperberat timbangan dosamu, Wal'iyaadzubillah.
Obatilah penyakit ghibah ini mulai dari rumahmu.
Seorang ibu memulai lebih dahulu, begitu pula ayah dan semua orang shalih. Tanamkan di hati anak, bahwa di sana ada kehormatan yang sangat agung, yaitu kehormatan saudara muslim lainnya.
Bertaqwalah kepada Allah dalam menjaga persaudaraan sesama muslim. Ghibah sama sekali tidak ada kebaikannya. Sangat penting sekali untuk mendidik dan membesarkan putra-putri kita, mendidik mereka untuk mengagungkan ALlah 'Azza wa Jalla dan menghormati hak muslim lainnya.
Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah:
الغيبة من الكبائر التي لا تكفرها الصلاة ولا الصدقة ولا الصيام ولا الحج [شرح رياض الصالحين
*_Ghibah termasuk dosa besar yang tidak bisa dihapus oleh sholat, shodaqoh, puasa dan haji._*
(Syarh Riyadushsholihin 6/109)
Ibnu Mubarak rahimahullah berkata :
لو كنت مغتابا أحدا لاغتبت والدي لأنهما أحق بحسناتي
*_Kalau seandainya (boleh) aku mengghibahi seseorang, niscaya aku akan mengghibahi kedua orang tuaku, karena keduanya yang paling berhak mendapatkan kebaikanku_*.
(Syarah Shohih Bukhari 9/245)
Seorang muslim yang mendidik putra-putrinya agar menjaga hak kaum muslimin, ia akan mendapatkan banyak kebaikan.
Jika engkau merendahkan orang lain karena jenis dan warna kulitnya, saat engkau duduk bersama putra-putrimu di rumah, Wallahi, engkau adalah orang yang rugi, karena anakmu akan meniru perbuatan tersebut, dan ini akan memperberat timbangan dosamu, Wal'iyaadzubillah.
Obatilah penyakit ghibah ini mulai dari rumahmu.
Seorang ibu memulai lebih dahulu, begitu pula ayah dan semua orang shalih. Tanamkan di hati anak, bahwa di sana ada kehormatan yang sangat agung, yaitu kehormatan saudara muslim lainnya.
TAUBAT YANG JUJUR
Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An Nisa 17)
🟢 Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah berkata menafsirkan ayat diatas :
“(Ayat) Ini mengisyaratkan bahwa sebaik-baik waktu bertaubat adalah bersegera di waktu sehatnya sebelum datang penyakit sehingga ia bisa melakukan amal sholih.”
(Lathoiful Ma’arif 720)
🟢 Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
لَوْ أَخْطَأْتُمْ، حَتَّى تَبْلُغَ خَطَايَاكُمُ السَّمَاءَ، ثُمَّ تُبْتُمْ، لَتَابَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ
“Seandainya kalian berbuat salah hingga dosa kalian memenuhi langit, lalu kalian bertaubat, pasti Allah akan menerima taubat kalian”
(HR. Ibnu Majah no. 4248)
Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An Nisa 17)
🟢 Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah berkata menafsirkan ayat diatas :
“(Ayat) Ini mengisyaratkan bahwa sebaik-baik waktu bertaubat adalah bersegera di waktu sehatnya sebelum datang penyakit sehingga ia bisa melakukan amal sholih.”
(Lathoiful Ma’arif 720)
🟢 Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
لَوْ أَخْطَأْتُمْ، حَتَّى تَبْلُغَ خَطَايَاكُمُ السَّمَاءَ، ثُمَّ تُبْتُمْ، لَتَابَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ
“Seandainya kalian berbuat salah hingga dosa kalian memenuhi langit, lalu kalian bertaubat, pasti Allah akan menerima taubat kalian”
(HR. Ibnu Majah no. 4248)
SEMUA HARUS KARENA ALLAH
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ
“Siapa yang cintanya karena Allah, bencinya karena Allah, memberinya karena Allah dan tidak memberi pun karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya.” (HR. Abu Dawud 4.681)
Dalam hadits ini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa cinta dan benci kita, semuanya harus diikat karena Allah. Karena cinta yang tidak diikat dengan cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala, itu menjadi cinta yang tidak bermanfaat. Al-Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Al-Fawaid ketika menyebutkan tentang 10 perkara yang tidak ada manfaatnya, diantaranya beliau berkata: Cinta yang tidak diikat dengan cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karena kalau kita mencintai seseorang karena kekayaannya, tidak berpahala sama sekali. Kkalau kita mencintai seseorang karena syahwat semata, itupun juga tidak berpahala sama sekali. Ketika seseorang mencintai seorang wanita hanya sebatas syahwat saja, karena sebatas rasa suka saja, tidak berpahala dan tidak ada manfaatnya.
Ketika seseorang mencintai harta hanya sebatas syahwat saja, tidak ada manfaatnya juga. Bahkan seringkali hal seperti itu akan memberikan dampak keburukan. Tapi ketika cinta itu kita ikat dengan cinta Allah dan cinta kita pun karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka itu menjadi cinta yang lurus.
Oleh karena itulah dalam hadits lain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa sekuat-kuat tali iman itu adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
“Sekuat-kuatnya tali iman adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Thabrani)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ
“Siapa yang cintanya karena Allah, bencinya karena Allah, memberinya karena Allah dan tidak memberi pun karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya.” (HR. Abu Dawud 4.681)
Dalam hadits ini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa cinta dan benci kita, semuanya harus diikat karena Allah. Karena cinta yang tidak diikat dengan cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala, itu menjadi cinta yang tidak bermanfaat. Al-Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Al-Fawaid ketika menyebutkan tentang 10 perkara yang tidak ada manfaatnya, diantaranya beliau berkata: Cinta yang tidak diikat dengan cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karena kalau kita mencintai seseorang karena kekayaannya, tidak berpahala sama sekali. Kkalau kita mencintai seseorang karena syahwat semata, itupun juga tidak berpahala sama sekali. Ketika seseorang mencintai seorang wanita hanya sebatas syahwat saja, karena sebatas rasa suka saja, tidak berpahala dan tidak ada manfaatnya.
Ketika seseorang mencintai harta hanya sebatas syahwat saja, tidak ada manfaatnya juga. Bahkan seringkali hal seperti itu akan memberikan dampak keburukan. Tapi ketika cinta itu kita ikat dengan cinta Allah dan cinta kita pun karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka itu menjadi cinta yang lurus.
Oleh karena itulah dalam hadits lain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa sekuat-kuat tali iman itu adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
“Sekuat-kuatnya tali iman adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Thabrani)
Ya ALLAH, KEPADA SIAPA ENGKAU SERAHKAN URUSANKU?
Sungguh manusia itu lemah. Dirinya selalu diserang oleh sedihnya musibah di dunia. Tidaklah ia melewati satu kesedihan kecuali setelah itu ia bersedih kembali. Dan tidaklah ia selamat dari satu musibah kecuali ada musibah lain yang telah menantinya.
لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِىۡ كَبَدٍؕ
*_Sesungguhnya Kami ciptakan manusia itu dalam keadaan bersusah payah_*. (al-Balad[90]:4)
Akan tetapi, tidak ada yang mampu menguatkanmu melewati kegalauan dan tidak ada yang bisa mengusir kegundahan, selain al-Hayyul Qoyyuum, Dzat yang tidak mengantuk dan tidak pula tidur.
Wahai saudaraku seiman, ALlah hanya ingin kebaikan bagimu. Ketika Dia mengujimu dengan musibah, lalu Dia membuatmu sabar melaluinya, ALlah hanya ingin kebaikan bagimu. Ketika Dia mengujimu, lalu hatimu menjadi khusyu' di hadapan-Mu, ALlah hanya ingin kebaikan bagimu. Ketika Allah seakan-akan selalu di pelupuk matamu, lalu engkau adukan kepada-Nya semua kesedihanmu, dan engkau ceritakan pada-Nya semua keperihan dan kegundahan yang kau rasakan, seakan-akan engkau berkata pada-Nya:
*_Ya rabbi, kepada siapa Engkau serahkan urusanku? kepada yang lemah yang berwajah masam padaku? atau kepada musuh yang akan menguasai urusanku?_*
Seakan-akan engkau berkata:
*_Ya Allah, Wahai Dzat yang menjawab doanya mereka yang sedang kesulitan. Aku adukan pada-Mu segala kesulitanku. Dan aku kembali pada-Mu Wahai Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi._*
Seakan-akan engkau berkata:
*_Ya ALlah, Wahai Dzat yang menghilangkan musibah dari Nabi Ayyub. Dan Engkau menghilangkan kesedihan dari Nabi Yunus, dan Engkau menghilangkan kesulitan dari para hamba. Dan Engkau menghilangkan bala' dari mereka. Maka hilangkanlah kesedihanku. Dan bebaskanlah diriku dari kegalauanku. Dan jangan Engkau jadikan aku hamba-Mu yang paling sengsara di sisi-Mu. Ya Allah, janganlah Engkau haramkan diriku dari kebaikan karena keburukan yang ada padaku_*.
Perbanyaklah doa pada-Nya, dan merengeklah di hadapan-Nya. Karena sungguh, Wallahi, lalu wallahi, Dia lebih sayang padamu daripada rsa sayangmu pada dirimu sendiri.
Ketahuilah jika engkau adukan semua pada-Nya, tulus dari hati yang percaya dan yakin pada ALlah, maka sungguh Allah tidak akan pernah mengecewakanmu.
Sungguh manusia itu lemah. Dirinya selalu diserang oleh sedihnya musibah di dunia. Tidaklah ia melewati satu kesedihan kecuali setelah itu ia bersedih kembali. Dan tidaklah ia selamat dari satu musibah kecuali ada musibah lain yang telah menantinya.
لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِىۡ كَبَدٍؕ
*_Sesungguhnya Kami ciptakan manusia itu dalam keadaan bersusah payah_*. (al-Balad[90]:4)
Akan tetapi, tidak ada yang mampu menguatkanmu melewati kegalauan dan tidak ada yang bisa mengusir kegundahan, selain al-Hayyul Qoyyuum, Dzat yang tidak mengantuk dan tidak pula tidur.
Wahai saudaraku seiman, ALlah hanya ingin kebaikan bagimu. Ketika Dia mengujimu dengan musibah, lalu Dia membuatmu sabar melaluinya, ALlah hanya ingin kebaikan bagimu. Ketika Dia mengujimu, lalu hatimu menjadi khusyu' di hadapan-Mu, ALlah hanya ingin kebaikan bagimu. Ketika Allah seakan-akan selalu di pelupuk matamu, lalu engkau adukan kepada-Nya semua kesedihanmu, dan engkau ceritakan pada-Nya semua keperihan dan kegundahan yang kau rasakan, seakan-akan engkau berkata pada-Nya:
*_Ya rabbi, kepada siapa Engkau serahkan urusanku? kepada yang lemah yang berwajah masam padaku? atau kepada musuh yang akan menguasai urusanku?_*
Seakan-akan engkau berkata:
*_Ya Allah, Wahai Dzat yang menjawab doanya mereka yang sedang kesulitan. Aku adukan pada-Mu segala kesulitanku. Dan aku kembali pada-Mu Wahai Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi._*
Seakan-akan engkau berkata:
*_Ya ALlah, Wahai Dzat yang menghilangkan musibah dari Nabi Ayyub. Dan Engkau menghilangkan kesedihan dari Nabi Yunus, dan Engkau menghilangkan kesulitan dari para hamba. Dan Engkau menghilangkan bala' dari mereka. Maka hilangkanlah kesedihanku. Dan bebaskanlah diriku dari kegalauanku. Dan jangan Engkau jadikan aku hamba-Mu yang paling sengsara di sisi-Mu. Ya Allah, janganlah Engkau haramkan diriku dari kebaikan karena keburukan yang ada padaku_*.
Perbanyaklah doa pada-Nya, dan merengeklah di hadapan-Nya. Karena sungguh, Wallahi, lalu wallahi, Dia lebih sayang padamu daripada rsa sayangmu pada dirimu sendiri.
Ketahuilah jika engkau adukan semua pada-Nya, tulus dari hati yang percaya dan yakin pada ALlah, maka sungguh Allah tidak akan pernah mengecewakanmu.
KITAB FIQH BERBAGAI MAZHAB
1. Fiqh perbandingan madzhab (8 kitab)
https://drive.google.com/folderview?id=1AzfV1MopUcX3IsIPhih2UdmYL2yNxxpj
2. Fiqh madzhab Hanafi (40 kitab)
https://drive.google.com/folderview?id=1RBUkYOLO2U8fbPQuW6yJJNVLITOLNolT
3. Fiqh madzhab Maliki (73 kitab)
https://drive.google.com/folderview?id=1R0ezeSSs_-kqcpySb1RRqHztSKnZu2ea
4. Fiqh madzhab Syafii (73 kitab)
https://drive.google.com/folderview?id=17AVUoNtu5HKoNRchOzGvff5_X0036_J3
5. Fiqh madzhab Hambali (60 kitab)
https://drive.google.com/folderview?id=1RCO_AjI3i-nTuXpbTbTGRbRwt2XFaDOl
6. Thobaqat fuqaha 4 madzhab
https://drive.google.com/folderview?id=1-Jb_uFoZkAehVtRQ7xSXN2eNBtwTduA1
#Semua kitab di atas sudah dikelompokan mulai matan, syarah, ikhtishor ataupun hasyiyah. Silahkan dibagikan ya teman² semoga bermamfaat. Aamiin 🙏🙏🙏
1. Fiqh perbandingan madzhab (8 kitab)
https://drive.google.com/folderview?id=1AzfV1MopUcX3IsIPhih2UdmYL2yNxxpj
2. Fiqh madzhab Hanafi (40 kitab)
https://drive.google.com/folderview?id=1RBUkYOLO2U8fbPQuW6yJJNVLITOLNolT
3. Fiqh madzhab Maliki (73 kitab)
https://drive.google.com/folderview?id=1R0ezeSSs_-kqcpySb1RRqHztSKnZu2ea
4. Fiqh madzhab Syafii (73 kitab)
https://drive.google.com/folderview?id=17AVUoNtu5HKoNRchOzGvff5_X0036_J3
5. Fiqh madzhab Hambali (60 kitab)
https://drive.google.com/folderview?id=1RCO_AjI3i-nTuXpbTbTGRbRwt2XFaDOl
6. Thobaqat fuqaha 4 madzhab
https://drive.google.com/folderview?id=1-Jb_uFoZkAehVtRQ7xSXN2eNBtwTduA1
#Semua kitab di atas sudah dikelompokan mulai matan, syarah, ikhtishor ataupun hasyiyah. Silahkan dibagikan ya teman² semoga bermamfaat. Aamiin 🙏🙏🙏
*MENCIPTAKAN PERNIKAHAN YANG SEDERHANA*
Pembahasan pertama adalah tentang mahar. Tentang mahar hendaknya mempertimbangkan keadaan calon suami yang faqir. Penyebab muda-mudi tidak menikah atau menunda menikah sekarang ini, malah memilih jalan haram, salah satunya adalah karena mahar beserta pernak-perniknya yang menambah biaya lebih banyak lagi.
Penghalang menikah seperti ini, tidak diragukan lagi hukumnya makruh atau bisa jadi haram.
Pesta pernikahan yang berlebihan, mubazir, serta makanan dan daging yang akhirnya terbuang, padahal tidak ada kemaslahatan untuk kedua pengantin. Ini adalah tradisi buruk yang harus diberantas dan dihilangkan. Bersihkan jalan pernikahan dari segala penghalangnya.
Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مَؤُوْنَةً
*_Wanita yang paling banyak keberkahannya adalah wanita yang paling ringan maharnya._* (HR. Ahmad No.25119)
Ringannya mahar mendatangkan keberkahan untuk istri dan menumbuhkan cinta di hati suami.
Wahai kaum muslimin, bertaqwalah kepada Allah, perbaiki fakta yang memilukan ini. Jangan ikuti gaya orang yang berlebihan dan suka mubazir.
*_Sesungguhnya orang yang mubazir adalah saudara syaithan_*. (QS. al-Isra:27)
Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata :
Resepsi-resepsi yang diselenggarakan untuk pernikahan atau acara-acara lainnya adalah seperti aktifitas-aktifitas lainnya yang dilakukan oleh seseorang. Maksudnya, apabila ia dilakukan di dalam batas-batas syariat maka tidaklah mengapa, dan apabila melebihi batas-batas syariat maka menjadi haram, sebab Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan satu kaidah umum di dalam al-Qur‘an, seraya berfirman,
وَّكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا
“Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan” (Qs. Al-A’ raf: 31)
Maka apa saja yang mengandung unsur israf (berlebih-lebihan) dan keluar dari batas-batas kewajaran adalah terlarang. Dari itu Allah memuji (orang-orang yang bertindak wajar), seraya berfirman,
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (Qs. Al-Furqan: 67).
Nasihat saya kepada saudara-saudara kaum Muslimin adalah hendaknya sederhana di dalam penyelenggaraan pesta-pesta pemikahan, baik yang menyangkut resepsinya, tempatnya ataupun pakaiannya, sebab nikah yang paling banyak berkahnya adalah nikah yang paling ringan biayanya. Biaya yang berlebih-lebihan itu dapat menjadi penghalang bagi para remaja untuk menikah, sebab beban pembelanjaan sebesar itu sangat memerlukan banyak biaya, dan beban biaya biasanya ditanggung oleh pihak lelaki yang menyunting si perempuan itu.
(Majalah Da’wah, edisi 1307)
Pembahasan pertama adalah tentang mahar. Tentang mahar hendaknya mempertimbangkan keadaan calon suami yang faqir. Penyebab muda-mudi tidak menikah atau menunda menikah sekarang ini, malah memilih jalan haram, salah satunya adalah karena mahar beserta pernak-perniknya yang menambah biaya lebih banyak lagi.
Penghalang menikah seperti ini, tidak diragukan lagi hukumnya makruh atau bisa jadi haram.
Pesta pernikahan yang berlebihan, mubazir, serta makanan dan daging yang akhirnya terbuang, padahal tidak ada kemaslahatan untuk kedua pengantin. Ini adalah tradisi buruk yang harus diberantas dan dihilangkan. Bersihkan jalan pernikahan dari segala penghalangnya.
Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مَؤُوْنَةً
*_Wanita yang paling banyak keberkahannya adalah wanita yang paling ringan maharnya._* (HR. Ahmad No.25119)
Ringannya mahar mendatangkan keberkahan untuk istri dan menumbuhkan cinta di hati suami.
Wahai kaum muslimin, bertaqwalah kepada Allah, perbaiki fakta yang memilukan ini. Jangan ikuti gaya orang yang berlebihan dan suka mubazir.
*_Sesungguhnya orang yang mubazir adalah saudara syaithan_*. (QS. al-Isra:27)
Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata :
Resepsi-resepsi yang diselenggarakan untuk pernikahan atau acara-acara lainnya adalah seperti aktifitas-aktifitas lainnya yang dilakukan oleh seseorang. Maksudnya, apabila ia dilakukan di dalam batas-batas syariat maka tidaklah mengapa, dan apabila melebihi batas-batas syariat maka menjadi haram, sebab Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan satu kaidah umum di dalam al-Qur‘an, seraya berfirman,
وَّكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا
“Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan” (Qs. Al-A’ raf: 31)
Maka apa saja yang mengandung unsur israf (berlebih-lebihan) dan keluar dari batas-batas kewajaran adalah terlarang. Dari itu Allah memuji (orang-orang yang bertindak wajar), seraya berfirman,
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (Qs. Al-Furqan: 67).
Nasihat saya kepada saudara-saudara kaum Muslimin adalah hendaknya sederhana di dalam penyelenggaraan pesta-pesta pemikahan, baik yang menyangkut resepsinya, tempatnya ataupun pakaiannya, sebab nikah yang paling banyak berkahnya adalah nikah yang paling ringan biayanya. Biaya yang berlebih-lebihan itu dapat menjadi penghalang bagi para remaja untuk menikah, sebab beban pembelanjaan sebesar itu sangat memerlukan banyak biaya, dan beban biaya biasanya ditanggung oleh pihak lelaki yang menyunting si perempuan itu.
(Majalah Da’wah, edisi 1307)
KEUTAMAAN SHOLAWAT UNTUK NABI
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ أَوْ سَأَلَ لِي الوَسِيْلَةَ حَقَّتْ عَلَيْهِ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ
“Barangsiapa bershalawat kepadaku atau meminta agar aku mendapatkan wasilah, maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat nanti.” (Hadits ini terdapat dalam Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabiy no. 50, Isma’il bin Ishaq Al Jahdiy. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim no. 408)
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ أَوْ سَأَلَ لِي الوَسِيْلَةَ حَقَّتْ عَلَيْهِ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ
“Barangsiapa bershalawat kepadaku atau meminta agar aku mendapatkan wasilah, maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat nanti.” (Hadits ini terdapat dalam Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabiy no. 50, Isma’il bin Ishaq Al Jahdiy. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim no. 408)
NEGARA MADINAH
Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi
Madinah adalah kota yang menyimpan sejuta cerita. Pada abad ke 5 dan 6 M kota Madinah hanyalah tempat pelarian Yahudi dari kejaran tentara Hadrianus dari Roma. Juga tempat pemukiman dua suku Arab, Khazraj dan Aws.
Di kota ini kisah nabi-nabi berkembang bagai legenda tapi nyata. Namun kelahiran Nabi Muhammad SAW seabad kemudian menjadi berita gembira. Hijrahnya pun (tahun 622 M) disambut dengan suka cita.
Kota ini benar-benar mencintai dan dicintai Nabi. Saking cintanya Nabi berdoa “Mudah-mudahan Madinah diberi rahmat Allah dua kali lipat lebih banyak dari Makkah”. Allah pun memberi hadiah sebongkah taman surga (Raudah min riyadil jinan) di dalam masjidnya.
Mungkin ini rahasianya mengapa Nabi meramalkan bahwa nanti Dajjal tidak akan masuk kota ini. Begitu istimewanya tempat ini - menurut hadis Nabi yang lain sehingga kota ini adalah kota terakhir yang akan dihancurkan dari muka bumi di hari kiamat nanti.
Dan yang tidak kalah menariknya kota ini sebelumnya bernama Yathrib. Buktinya dalam surah Madaniyah awal tempat ini masih disebut Yathrib (lihat al-Ahzab: 13). Tapi delapan tahun setelah hijrah (sekitar tahun 630 M) Nabi menggantinya dengan nama Madinah (lihat surah Madaniyah akhir al-Taubah: 120).
Setelah nama Yathrib diganti Madinah Nabi melarang para sahabatnya untuk menggunakan nama Yathrib lagi. Entah mengapa. Tapi yang jelas Nabi memberi nama setelah membangun tempat ini. Apa yang telah dilakukan Nabi? kita lihat.
Sejak lantunan Talaa-l-badru menggema di seantero Yathrib, Nabi sudah mengantongi dukungan warga setempat. Al-Husseim bin Sallam, seorang rabi Yahudi Yathrib langsung memeluk Islam. Jalan dakwah Nabi pun mulus tanpa paksaan. Tidak sampai satu dasawarsa, sebanyak 15 kabilah masuk Islam dengan sukarela.
Langkah Nabi selanjutnya adalah: merajut ukhuwwah Islamiyah dan mempersatukan Muslim dengan Yahudi dengan Piagam Madinah. Sebuah Negara berkonstitusi pun terbentuk dengan kekuasaan dan kedaulatan penuh.
A. Von Kramer tidak salah ketika menyimpulkan “Muhammad membawa agama baru dan sistem politik baru… dan menciptakan suatu perdamaian yang harmonis”. D.B.Macdonald mengakui, di Madinah telah terbentuk Negara Islam pertama. Thomas W. Arnold yang diamini Fazlur Rahman lebih blak-blakan lagi “Di Madinah Nabi menjadi pemimpin agama dan kepala Negara”.
Meski realitanya Nabi memang menjadi kepala Negara dan memimpin perang, tapi anehnya pemikir kontemporer Mesir, Ali abd al-Raziq (1888-1966) menafikan fakta-fakta itu semua ia mengatakan:
Jika betul Rasulullah SAW telah mendirikan sebuah negara politik atau telah memulakan pendiriannya, mengapa sebahagian besar dari dasar-dasar kenegaraan tidak wujud dalam negara itu? Mengapa cara pemilihan hakim dan walikota pada zaman baginda itu tidak diketahui? Mengapakah pula Nabi tidak pernah menjelaskan tentang sistim kerajaan dan kaedah-kaedah Syura? Mengapa beliau membiarkan para ulama sesudah beliau dalam kebingungan? (Ali Abd al-Raziq, Al-Islam wa Usul al-Hukm, Bahth fi al-Khilafah wa al-Hukumah fi al-Islam, Beirut: al-Muassasah al-Arabiyyah Li al-Dirasah wa al-Nashr, 1988), hlm. 160. )
Pandagan sekuler ini didukung oleh tokoh liberal Abdullahi Ahmad an-Naim. Kata Naim tidak ada Negara Islam, sebab Islam itu agama yang dipeluk manusia bukan oleh Negara. Selain itu, katanya, mestinya yang disebut Negara itu mestinya punya batas teritori, passport dsb. Argumentasi Naim nampak aneh memang.
Sebenarnya siapapun tidak bisa mangkir bahwa Madinah merupakan babak baru sejarah Islam. Jadi, Madinah adalah post-faktum dari faktum-faktum. Jika fakta sosial-historis bisa bias tafsir, kita pakai fakta-fakta tekstual. Ternyata perubahan Yahtrib menjadi Madinah didahului oleh perubahan kandungan wahyu.
Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi
Madinah adalah kota yang menyimpan sejuta cerita. Pada abad ke 5 dan 6 M kota Madinah hanyalah tempat pelarian Yahudi dari kejaran tentara Hadrianus dari Roma. Juga tempat pemukiman dua suku Arab, Khazraj dan Aws.
Di kota ini kisah nabi-nabi berkembang bagai legenda tapi nyata. Namun kelahiran Nabi Muhammad SAW seabad kemudian menjadi berita gembira. Hijrahnya pun (tahun 622 M) disambut dengan suka cita.
Kota ini benar-benar mencintai dan dicintai Nabi. Saking cintanya Nabi berdoa “Mudah-mudahan Madinah diberi rahmat Allah dua kali lipat lebih banyak dari Makkah”. Allah pun memberi hadiah sebongkah taman surga (Raudah min riyadil jinan) di dalam masjidnya.
Mungkin ini rahasianya mengapa Nabi meramalkan bahwa nanti Dajjal tidak akan masuk kota ini. Begitu istimewanya tempat ini - menurut hadis Nabi yang lain sehingga kota ini adalah kota terakhir yang akan dihancurkan dari muka bumi di hari kiamat nanti.
Dan yang tidak kalah menariknya kota ini sebelumnya bernama Yathrib. Buktinya dalam surah Madaniyah awal tempat ini masih disebut Yathrib (lihat al-Ahzab: 13). Tapi delapan tahun setelah hijrah (sekitar tahun 630 M) Nabi menggantinya dengan nama Madinah (lihat surah Madaniyah akhir al-Taubah: 120).
Setelah nama Yathrib diganti Madinah Nabi melarang para sahabatnya untuk menggunakan nama Yathrib lagi. Entah mengapa. Tapi yang jelas Nabi memberi nama setelah membangun tempat ini. Apa yang telah dilakukan Nabi? kita lihat.
Sejak lantunan Talaa-l-badru menggema di seantero Yathrib, Nabi sudah mengantongi dukungan warga setempat. Al-Husseim bin Sallam, seorang rabi Yahudi Yathrib langsung memeluk Islam. Jalan dakwah Nabi pun mulus tanpa paksaan. Tidak sampai satu dasawarsa, sebanyak 15 kabilah masuk Islam dengan sukarela.
Langkah Nabi selanjutnya adalah: merajut ukhuwwah Islamiyah dan mempersatukan Muslim dengan Yahudi dengan Piagam Madinah. Sebuah Negara berkonstitusi pun terbentuk dengan kekuasaan dan kedaulatan penuh.
A. Von Kramer tidak salah ketika menyimpulkan “Muhammad membawa agama baru dan sistem politik baru… dan menciptakan suatu perdamaian yang harmonis”. D.B.Macdonald mengakui, di Madinah telah terbentuk Negara Islam pertama. Thomas W. Arnold yang diamini Fazlur Rahman lebih blak-blakan lagi “Di Madinah Nabi menjadi pemimpin agama dan kepala Negara”.
Meski realitanya Nabi memang menjadi kepala Negara dan memimpin perang, tapi anehnya pemikir kontemporer Mesir, Ali abd al-Raziq (1888-1966) menafikan fakta-fakta itu semua ia mengatakan:
Jika betul Rasulullah SAW telah mendirikan sebuah negara politik atau telah memulakan pendiriannya, mengapa sebahagian besar dari dasar-dasar kenegaraan tidak wujud dalam negara itu? Mengapa cara pemilihan hakim dan walikota pada zaman baginda itu tidak diketahui? Mengapakah pula Nabi tidak pernah menjelaskan tentang sistim kerajaan dan kaedah-kaedah Syura? Mengapa beliau membiarkan para ulama sesudah beliau dalam kebingungan? (Ali Abd al-Raziq, Al-Islam wa Usul al-Hukm, Bahth fi al-Khilafah wa al-Hukumah fi al-Islam, Beirut: al-Muassasah al-Arabiyyah Li al-Dirasah wa al-Nashr, 1988), hlm. 160. )
Pandagan sekuler ini didukung oleh tokoh liberal Abdullahi Ahmad an-Naim. Kata Naim tidak ada Negara Islam, sebab Islam itu agama yang dipeluk manusia bukan oleh Negara. Selain itu, katanya, mestinya yang disebut Negara itu mestinya punya batas teritori, passport dsb. Argumentasi Naim nampak aneh memang.
Sebenarnya siapapun tidak bisa mangkir bahwa Madinah merupakan babak baru sejarah Islam. Jadi, Madinah adalah post-faktum dari faktum-faktum. Jika fakta sosial-historis bisa bias tafsir, kita pakai fakta-fakta tekstual. Ternyata perubahan Yahtrib menjadi Madinah didahului oleh perubahan kandungan wahyu.
Wahyu yang ketika di Makkah berkutat masalah tauhid, ibadah, alam semesta, penciptaan, hari akhir dan sebagainya, di Madinah berubah ke masalah ummah, ukhuwwah, jihad, kemanusiaan, keadilan, kemakmuran, kekuatan dan sebagainya. Lebih berdimensi sosial-politik. Pendek kata, di Madinah-lah tempat penerapan dan penyempurnaan konsep din yang turun di Makkah itu.
Lalu mengapa pengganti Yathrib adalah Madinah? Kajian sejarah katanya ternyata sama menariknya dengan sejarah kotanya. Kata “Madinah” adalah bentuk (wazn) kata tempat (ism al-makan) dari kata din. Biasanya kata tempat dibentuk dari kata kerja, maskan (tempat tinggal) misalnya berasal dari kata sakana (tinggal).
Tapi untuk kata Madinah tidak demikian. Dalam Arabic English Lexicon, karya Lane kata Madinah diletakkan dibawah entri din (agama).
Kata kerjanya adalah dana, yadinu yang berarti taat, berserah diri, menghamba, merendahkan diri [kepada Allah] dan menghitung. Ism-nya adalah din. Dintu lahu artinya saya taat kepadanya. Dana bi-l-Islami dinan artinya menghamba pada Allah dengan memeluk agama Islam.
Dalam al-Quran jelas dinyatakan “Siapa yang lebih baik ketaatannya (ahsanu dinan) dari orang yang berserah diri kepada Allah” (Q.S. IV: 124). Kaum pluralis sering memelesetkan ayat ini dan diartikan bahwa agama yang baik adalah yang berserah diri, dengan agama apapun. Tentu plesetan yang gagap filologi.
Dalam hadis Nabi dinyatakan “Orang cerdas adalah yang menghambakan dirinya (pada Allah) dan mengerjakan sesuatu untuk hidup sesudah mati” (al-kaysu man dina nafsahu wa amil ma bada al-maut). Atau dalam hadis lain disebut “Barangsiapa menghitung [muhasabah] dirinya maka beruntunglah dia (man dana nafsahu rabiha).
Disini din berarti taat dan berserah diri atau menghamba kepada Allah. Dan menghambakan diri [yang benar] bagi Allah adalah melalui agama Islam (inna-d-dina indallahi al-Islam).
Dari kata kerja dana, yadin yang menjadi bentuk isim din itu juga bisa dilacak dari kata dayn, artinya hutang. Kajian semantiknya, beragama adalah rasa keberhutangan kepada Tuhan. Kalau dicek pada ayat-ayat al-Quran tentu cocok.
Buktinya, Allah selalu menggunakan bahasa perdagangan dengan hambaNya. Allah telah “membeli” diri dan harta orang-orang mukmin dengan surga. (Taubah: 111). Barangsiapa “memberi pinjaman” kepada Allah suatu kebaikan, akan Allah lipat gandakan pinjaman itu (al-Baqarah: 245; al-Maidah: 12; al-Hadid: 11, 18; al-Taghabun: 17; al-Muzammil: 20), dan banyak lagi.
Jadi beragama adalah proses membayar hutang kepada sang pencipta. Inilah sebabnya mengapa dalam bahasa Arab Allah diberi julukan al-Dayyan (literalnya Yang Memberi Hutang, tapi maknanya Yang Memberi Balasan semua perbuatan). Sedangkan untuk makhluk, julukan itu tanpa alif lam yaitu Dayyan yang berarti penguasa atau gubernur. Disini beragama adalah proses membayar hutang kepada Allah dengan amal kebaikan.
Kecenderungan hidup berdasarkan aturan, sadar hukum, taat pada penguasa hukum dan hakim (berserah diri) serta hidup secara teratur adalah inti dari din. Itulah fitrah manusia dan inti keberagamaan.
Beragama tidak bisa liberal dan liar. Secara filologi saja kata din sudah menggambarkan sebuah struktur kehidupan yang sistemik. Secara realita Madinah telah menjadi tempat untuk berserah diri, untuk mentaati aturan, untuk menghamba serta membayar hutang kepada Allah dengan amal kebajikan.
Tapi menariknya ternyata kata Madinah tidak berasal dari kata madana, sebaliknya madana terbentuk setelah lahir kata Madinah. Sejarahnya begitu. Maka dari itu kata madana dalam Arabic-English Dictionary susunan Hans Wehr diartikan to found or build city; to civilize, to humanize, to refine.
Persis seperti yang dilakukan Nabi. Tapi ketika Hans Wehr mengartikan Madani menjadi secular, kita jadi bingung (confuse). Ini tentu dari pengaruh doktrin gereja. Karena kerja-kerja diluar gereja biasanya disebut dengan kerja-kerja sekuler (secular works), mereka lalu menganggap kerja-kerja diluar masjid sebagai kerja sekuler.
Lalu mengapa pengganti Yathrib adalah Madinah? Kajian sejarah katanya ternyata sama menariknya dengan sejarah kotanya. Kata “Madinah” adalah bentuk (wazn) kata tempat (ism al-makan) dari kata din. Biasanya kata tempat dibentuk dari kata kerja, maskan (tempat tinggal) misalnya berasal dari kata sakana (tinggal).
Tapi untuk kata Madinah tidak demikian. Dalam Arabic English Lexicon, karya Lane kata Madinah diletakkan dibawah entri din (agama).
Kata kerjanya adalah dana, yadinu yang berarti taat, berserah diri, menghamba, merendahkan diri [kepada Allah] dan menghitung. Ism-nya adalah din. Dintu lahu artinya saya taat kepadanya. Dana bi-l-Islami dinan artinya menghamba pada Allah dengan memeluk agama Islam.
Dalam al-Quran jelas dinyatakan “Siapa yang lebih baik ketaatannya (ahsanu dinan) dari orang yang berserah diri kepada Allah” (Q.S. IV: 124). Kaum pluralis sering memelesetkan ayat ini dan diartikan bahwa agama yang baik adalah yang berserah diri, dengan agama apapun. Tentu plesetan yang gagap filologi.
Dalam hadis Nabi dinyatakan “Orang cerdas adalah yang menghambakan dirinya (pada Allah) dan mengerjakan sesuatu untuk hidup sesudah mati” (al-kaysu man dina nafsahu wa amil ma bada al-maut). Atau dalam hadis lain disebut “Barangsiapa menghitung [muhasabah] dirinya maka beruntunglah dia (man dana nafsahu rabiha).
Disini din berarti taat dan berserah diri atau menghamba kepada Allah. Dan menghambakan diri [yang benar] bagi Allah adalah melalui agama Islam (inna-d-dina indallahi al-Islam).
Dari kata kerja dana, yadin yang menjadi bentuk isim din itu juga bisa dilacak dari kata dayn, artinya hutang. Kajian semantiknya, beragama adalah rasa keberhutangan kepada Tuhan. Kalau dicek pada ayat-ayat al-Quran tentu cocok.
Buktinya, Allah selalu menggunakan bahasa perdagangan dengan hambaNya. Allah telah “membeli” diri dan harta orang-orang mukmin dengan surga. (Taubah: 111). Barangsiapa “memberi pinjaman” kepada Allah suatu kebaikan, akan Allah lipat gandakan pinjaman itu (al-Baqarah: 245; al-Maidah: 12; al-Hadid: 11, 18; al-Taghabun: 17; al-Muzammil: 20), dan banyak lagi.
Jadi beragama adalah proses membayar hutang kepada sang pencipta. Inilah sebabnya mengapa dalam bahasa Arab Allah diberi julukan al-Dayyan (literalnya Yang Memberi Hutang, tapi maknanya Yang Memberi Balasan semua perbuatan). Sedangkan untuk makhluk, julukan itu tanpa alif lam yaitu Dayyan yang berarti penguasa atau gubernur. Disini beragama adalah proses membayar hutang kepada Allah dengan amal kebaikan.
Kecenderungan hidup berdasarkan aturan, sadar hukum, taat pada penguasa hukum dan hakim (berserah diri) serta hidup secara teratur adalah inti dari din. Itulah fitrah manusia dan inti keberagamaan.
Beragama tidak bisa liberal dan liar. Secara filologi saja kata din sudah menggambarkan sebuah struktur kehidupan yang sistemik. Secara realita Madinah telah menjadi tempat untuk berserah diri, untuk mentaati aturan, untuk menghamba serta membayar hutang kepada Allah dengan amal kebajikan.
Tapi menariknya ternyata kata Madinah tidak berasal dari kata madana, sebaliknya madana terbentuk setelah lahir kata Madinah. Sejarahnya begitu. Maka dari itu kata madana dalam Arabic-English Dictionary susunan Hans Wehr diartikan to found or build city; to civilize, to humanize, to refine.
Persis seperti yang dilakukan Nabi. Tapi ketika Hans Wehr mengartikan Madani menjadi secular, kita jadi bingung (confuse). Ini tentu dari pengaruh doktrin gereja. Karena kerja-kerja diluar gereja biasanya disebut dengan kerja-kerja sekuler (secular works), mereka lalu menganggap kerja-kerja diluar masjid sebagai kerja sekuler.
Itu kira-kira pikiran Hans Wehr. Mungkin pengaruh ini pula para cendekiawan Muslim menyamakan civil society yang sekuler itu dengan masyarakat madani. Padahal madani adalah sifat orang berbudaya, beradab dan maju dengan cara taat beragama alias menghamba pada Allah.
Dalam Kamus al-Munjid karangan Abu Luwis, kata tamaddana diartikan berperilaku penduduk kota (ahlul mudun). Kalau mudun (jamak madinah) diartikan kota tentu ini sekuler. Tapi jika diartikan sebagaimana makna filologis diatas, tamaddana berarti berperilaku seperti penduduk madinah yang berserah diri dan menghamba kepada Allah.
Oleh sebab itu tamaddana atau ber-tamaddun adalah hidup dengan din yang benar sesuai dengan hukum dan aturan. Hukum atau aturan din Islam adalah al-Quran. Kitab ini juga menyebut dirinya madubah (makanan), yakni makanan jiwa dan akal. Ketika menjadi kata kerja addaba, yuaddibu, tadiban berarti mengajar disiplin dalam berfikir dan berperilaku. Hasilnya adalah manusia beradab, yaitu yang beriman, berilmu dan berbuat sesuai dengan apa yang ada dalam madubah atau al-Quran. Itulah peradaban, tamaddun, Medeniyet, atau Madaniyat.
Dalam Kamus al-Munjid karangan Abu Luwis, kata tamaddana diartikan berperilaku penduduk kota (ahlul mudun). Kalau mudun (jamak madinah) diartikan kota tentu ini sekuler. Tapi jika diartikan sebagaimana makna filologis diatas, tamaddana berarti berperilaku seperti penduduk madinah yang berserah diri dan menghamba kepada Allah.
Oleh sebab itu tamaddana atau ber-tamaddun adalah hidup dengan din yang benar sesuai dengan hukum dan aturan. Hukum atau aturan din Islam adalah al-Quran. Kitab ini juga menyebut dirinya madubah (makanan), yakni makanan jiwa dan akal. Ketika menjadi kata kerja addaba, yuaddibu, tadiban berarti mengajar disiplin dalam berfikir dan berperilaku. Hasilnya adalah manusia beradab, yaitu yang beriman, berilmu dan berbuat sesuai dengan apa yang ada dalam madubah atau al-Quran. Itulah peradaban, tamaddun, Medeniyet, atau Madaniyat.
JIKA MELIHAT ORANG TERKENA MUSIBAH
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «مَنْ رَأَى مُبْتَلًى فَقَالَ: الحَمْدُ للهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا لَمْ يُصِبْهُ ذَلِكَ الْبَلَاءُ»
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa melihat orang yang tertimpa musibah kemudian mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari musibah yang diberikan kepadamu dan melebihkanku atas kebanyakan orang yang Dia ciptakan’, maka ia tidak tertimpa musibah tersebut.” (HR. at-Tirmidzi dengan sanad hasan)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «مَنْ رَأَى مُبْتَلًى فَقَالَ: الحَمْدُ للهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا لَمْ يُصِبْهُ ذَلِكَ الْبَلَاءُ»
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa melihat orang yang tertimpa musibah kemudian mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari musibah yang diberikan kepadamu dan melebihkanku atas kebanyakan orang yang Dia ciptakan’, maka ia tidak tertimpa musibah tersebut.” (HR. at-Tirmidzi dengan sanad hasan)
KHASIAT MUTAN SPRAY
Oleh :
Tuan Hj Ismail Hj Ahmad
( Pengarah Urusan HPA )
1.Untuk rawatan demam
-anak-anak peringkat anak kecil (bawah 1 tahun )
- Anak-anak kecil (bawah 5 tahun)
- Remaja dan Orang yang lanjut Usia ( lansia )
Cara guna :
Anak kecil demam :
-Spray di ubun-ubun, tulang belakang dan di betis
Flu :
Spray di wajah
Cara guna dewasa :
Spray di mulut
2. Jerawat dan flat hitam
3.Sakit pinggang,Tulang belakang,Sakit bahu,Sakit tengkuk dan kadang-kadang bangun pagi rasa ngilu seluruh tubuh badan.
( Di spray di wajah,bawah lidah dan di tengkuk )
4. Ketumbuhan yang naik dapat rasa,dapat pegang.
( Spray pada ketumbuhan tersebut )
5.Keradangan di dalam perut seperti Fibroid,Cyst
( Spray di pusar atau kawasan sakit )
erti kata lain semua kawasan sakit boleh di spray
Herba ini (Mutan Spray )begitu baik sekali kalau kita spray dalam air,di goncang 53 kali dan minum...
Oleh :
Tuan Hj Ismail Hj Ahmad
( Pengarah Urusan HPA )
1.Untuk rawatan demam
-anak-anak peringkat anak kecil (bawah 1 tahun )
- Anak-anak kecil (bawah 5 tahun)
- Remaja dan Orang yang lanjut Usia ( lansia )
Cara guna :
Anak kecil demam :
-Spray di ubun-ubun, tulang belakang dan di betis
Flu :
Spray di wajah
Cara guna dewasa :
Spray di mulut
2. Jerawat dan flat hitam
3.Sakit pinggang,Tulang belakang,Sakit bahu,Sakit tengkuk dan kadang-kadang bangun pagi rasa ngilu seluruh tubuh badan.
( Di spray di wajah,bawah lidah dan di tengkuk )
4. Ketumbuhan yang naik dapat rasa,dapat pegang.
( Spray pada ketumbuhan tersebut )
5.Keradangan di dalam perut seperti Fibroid,Cyst
( Spray di pusar atau kawasan sakit )
erti kata lain semua kawasan sakit boleh di spray
Herba ini (Mutan Spray )begitu baik sekali kalau kita spray dalam air,di goncang 53 kali dan minum...
KEBAIKAN ADALAH AMAL SHALIH
Ibnu Abbas dan Anas bin Malik radhiyallahu’anhum berkata :
إن للحسنة نورا في القلب، وزينا في الوجه، وقوة في البدن، وسعة في الرزق، ومحبة في قلوب الخلق
“Sesungguhnya kebaikan itu menyebabkan cahaya di hati, keindahan di wajah, kekuatan di badan, keluasan rezeki dan kecintaan di hati-hati makhluk.”
وإن للسيئة ظلمة في القلب، وشينا في الوجه، ووهنا في البدن، ونقصا في الرزق، وبغضة في قلوب الخلق
“Dan sesungguhnya keburukan itu menyebabkan kegelapan di hati, kejelekan di wajah, kelemahan di badan, kekurangan rezeki dan kebencian di hati-hati makhluk.”
(Raudhatul Muhibbin, ibnul Qoyyim, 441)
🟢 Dulu, ‘Atha Al Khurasani (Seorang Tabi’in ahli fiqih dari Hijaz) tidak akan beranjak dari majelisnya hingga mengucapkan :
اللَّهُمَّ هَبْ لَنَا يَقِينًا مِنْكَ حَتَّى تُهَوِّنَ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، وَحَتَّى نَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يُصِيبُنَا إِلَّا مَا كَتَبْتَ عَلَيْنَا، وَلَا يُصِيبُنَا مِنَ الرِّزْقِ إِلَّا مَا قَسَمْتَ لَنَا
“Ya Allah, berilah kami rasa yakin terhadap diriMu sehingga mampu menjadikan kami menganggap ringan musibah dunia yang ada, sehingga kami meyakini bahwa tidak ada yang menimpa kami kecuali apa yang telah Engkau tetapkan kepada kami, dan meyakini bahwa rezeki yang kami peroleh adalah apa yang telah Engkau bagi kepada kami.”
(Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin, 108)
Ibnu Abbas dan Anas bin Malik radhiyallahu’anhum berkata :
إن للحسنة نورا في القلب، وزينا في الوجه، وقوة في البدن، وسعة في الرزق، ومحبة في قلوب الخلق
“Sesungguhnya kebaikan itu menyebabkan cahaya di hati, keindahan di wajah, kekuatan di badan, keluasan rezeki dan kecintaan di hati-hati makhluk.”
وإن للسيئة ظلمة في القلب، وشينا في الوجه، ووهنا في البدن، ونقصا في الرزق، وبغضة في قلوب الخلق
“Dan sesungguhnya keburukan itu menyebabkan kegelapan di hati, kejelekan di wajah, kelemahan di badan, kekurangan rezeki dan kebencian di hati-hati makhluk.”
(Raudhatul Muhibbin, ibnul Qoyyim, 441)
🟢 Dulu, ‘Atha Al Khurasani (Seorang Tabi’in ahli fiqih dari Hijaz) tidak akan beranjak dari majelisnya hingga mengucapkan :
اللَّهُمَّ هَبْ لَنَا يَقِينًا مِنْكَ حَتَّى تُهَوِّنَ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، وَحَتَّى نَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يُصِيبُنَا إِلَّا مَا كَتَبْتَ عَلَيْنَا، وَلَا يُصِيبُنَا مِنَ الرِّزْقِ إِلَّا مَا قَسَمْتَ لَنَا
“Ya Allah, berilah kami rasa yakin terhadap diriMu sehingga mampu menjadikan kami menganggap ringan musibah dunia yang ada, sehingga kami meyakini bahwa tidak ada yang menimpa kami kecuali apa yang telah Engkau tetapkan kepada kami, dan meyakini bahwa rezeki yang kami peroleh adalah apa yang telah Engkau bagi kepada kami.”
(Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin, 108)
SEDIKITNYA ORANG YANG MAU BERIMAN DENGAN BENAR
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ
Dan sebagian besar manusia tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya (dengan sembahan-sembahan lain). [Yûsuf/12:106]
Semakna dengan ayat di atas, Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
Dan sebagian besar manusia tidak beriman (dengan iman yang benar) walaupun kamu sangat menginginkannya [Yûsuf/12:103]
Maksudnya, mayoritas manusia walaupun kamu sangat menginginkan dan bersunguh-sungguh untuk (menyampaikan) petunjuk (Allah), mereka tidak akan beriman kepada Allâh (dengan iman yang benar), karena mereka memegang teguh (keyakinan) kafir (dan syirik) yang merupakan agama (warisan). Dalam hadits yang shahih, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih menegaskan hal ini:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى يَعْبُدُوا الأَوْثَانَ
Tidak akan terjadi hari kiamat sampai beberapa qabilah (suku/kelompok) dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik dan sampai mereka menyembah berhala (segala sesuatu yang disembah selain Allâh)
Hadits shahih riwayat Abu Dâwud no. 4252, at-Tirmidzi no. 2219 dan Ibnu Mâjah no. 3952.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ
Dan sebagian besar manusia tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya (dengan sembahan-sembahan lain). [Yûsuf/12:106]
Semakna dengan ayat di atas, Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
Dan sebagian besar manusia tidak beriman (dengan iman yang benar) walaupun kamu sangat menginginkannya [Yûsuf/12:103]
Maksudnya, mayoritas manusia walaupun kamu sangat menginginkan dan bersunguh-sungguh untuk (menyampaikan) petunjuk (Allah), mereka tidak akan beriman kepada Allâh (dengan iman yang benar), karena mereka memegang teguh (keyakinan) kafir (dan syirik) yang merupakan agama (warisan). Dalam hadits yang shahih, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih menegaskan hal ini:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى يَعْبُدُوا الأَوْثَانَ
Tidak akan terjadi hari kiamat sampai beberapa qabilah (suku/kelompok) dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik dan sampai mereka menyembah berhala (segala sesuatu yang disembah selain Allâh)
Hadits shahih riwayat Abu Dâwud no. 4252, at-Tirmidzi no. 2219 dan Ibnu Mâjah no. 3952.
*Islam Rahmatan lil alamin*
_Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi_
Tidak lama setelah Nabi wafat umat Islam “mengusir” tentara Romawi dan “menduduki” Syria. Di zaman Umar Ibn Khatab kekaisaran Persia “ditaklukkan” dan Palestina “dikuasai”.
Pada awal abad ke delapan Spanyol dibawah kerajaan Hispania yang dikuasai oleh orang Kristen Visigoth “ditundukkan” oleh Tariq bin Ziad. Di Mesir Muslim dibawah komando Amr bin al-As “memukul mundur” pasukan Byzantium dan “mengusai” orang-orang Kristen Coptic.
Pada abad ke 15 Konstantinople, salah satu bagian dari kekaisaran Romawi “ditaklukkan” panglima muda al-Fatih. Di dunia Melayu umat Islam “mengusir” kepercayaan animism, dinamisme dan agama-agama kultural lainnya.
Istilah-istilah mengusir, menduduki, menaklukkan, menguasai, mendesak dan sebagainya adalah bahasa politik dan bersifat negatif. Tapi apa yang sebenarnya terjadi jauh dari kesan itu. Sebab ketika Islam masuk Syria orang-orang Kristen yang merasa selamat dari Romawi dan Yunani.
Michael the Elder, Patriach dari Jacobus mengakui “Tuhan telah membangkitkan putera-putera Ismail dari Selatan (maksudnya Muslim) untuk menyelamatkan kita dari Romawi”.
Ketika pasukan Muslim dibawah pimpinan Abu Ubaidah mencapai lembah Jordan, penduduk Kristen setempat menulis surat kepadanya. Isinya “kami lebih bersimpati kepada saudara daripada orang-orang Romawi, meskipun mereka seagama dengan kami. Pemerintah Islam lebih adil daripada pemerintah Byzantium”.
Pada waktu Umar memasuki Yerussalem ia menandatangai perjanjian. Diantara isinya:”…gereja tidak akan dirubah menjadi tempat kediaman, tidak akan dirusak, ….salib-salib atau harta mereka tidak akan diganggu…dan tidak seorangpun diantara mereka akan dianiaya”. Orang tidak pernah konflik dengan umat Kristen. Justru konflik antar sekte di di Gereja Holy Sepulchre, atau the Church of the Resurrection didamaikan orang Islam.
Abdul Aziz Marwan Gubernur Mesir memberi izin orang-orang Kristen pegawai istana untuk mendirikan gereja di Halwan. Di Andalus Islam, Kristen dan Yahudi hidup damai bertahun-tahun. Seorang specialist sastra Iberia di Universitas Yale, Maria Rosa Mencoal dalam karyanya berjudul The Ornament of the World (2003) berterus terang. Ia menulis "Toleransi merupakan aspek melekat pada masyarakat Andalus dan nasib non-Muslim lebih baik daripada dibawah Kristen Eropah”. Tapi berakhirnya kekuasaan Islam, berakhir pula toleransi itu.
Jika fakta-fakta ini dicermati, istilah menguasai, menaklukkan, mengusir dan bahkan menjajah tidak layak untuk dipakai. Yang lebih cocok, sesuai dengan namanya, Islam ‘menyelamatkan’ atau ‘membebaskan’ bangsa-bangsa tertindas. Maka tidak heran jika Thomas Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam menyatakan:” Kemenangan kaum Muslimin berarti kebebasan beragama (bagi non-Muslim), sesuatu yang telah berabad-abad mereka dambakan”.
Anehnya Bernard Lewis menganggap toleransi dalam Islam tidak ada asal usulnya.
Rahmat Islam yang lain ada dalam keseluruhan ajarannya. Syariatnya menjaga jiwa, keturunan, agama, harta dan akal manusia dari kehancuran.
Ritual peribadatannya menyentuh aspek jiwa dan raga, aspek sosial dan individual, aspek spiritual dan material. Prinsip hidupnya seimbang tidak materialistis dan tidak spiritualistis, tidak melulu dunia atau melulu akherat. Sayyid Qutb mensifatinya dengan istilah tawazun.
Penghargaannya pada orang kaya dan orang miskin, wanita dan laki-laki sama meski tidak harus memakai teori gender dan diklaim sosialistis atau feministis.
Konsep tuhannya “transenden” artinya jauh dan tak terjangkau. Tidak serupa apapun, karena itu tidak bisa diberhalakan. Tapi juga “immanen”, lebih dekat dari urat nadi kita. Dan yang terpenting Allah dalam Islam bersifat Alim (Maha Tahu). Karena itu wahyu yang diturunkanNya sarat dengan perintah berfikir dan mencari ilmu.
Dari kitab suci itu pula lahir berbagai disiplin ilmu. Ulum al-Qur’an, Tafsir, Hadith, Fiqih, Kalam, tasawwuf, mawarith, Nahwu dan Sarf lahir dari sebab memahami al-Qur’an.
_Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi_
Tidak lama setelah Nabi wafat umat Islam “mengusir” tentara Romawi dan “menduduki” Syria. Di zaman Umar Ibn Khatab kekaisaran Persia “ditaklukkan” dan Palestina “dikuasai”.
Pada awal abad ke delapan Spanyol dibawah kerajaan Hispania yang dikuasai oleh orang Kristen Visigoth “ditundukkan” oleh Tariq bin Ziad. Di Mesir Muslim dibawah komando Amr bin al-As “memukul mundur” pasukan Byzantium dan “mengusai” orang-orang Kristen Coptic.
Pada abad ke 15 Konstantinople, salah satu bagian dari kekaisaran Romawi “ditaklukkan” panglima muda al-Fatih. Di dunia Melayu umat Islam “mengusir” kepercayaan animism, dinamisme dan agama-agama kultural lainnya.
Istilah-istilah mengusir, menduduki, menaklukkan, menguasai, mendesak dan sebagainya adalah bahasa politik dan bersifat negatif. Tapi apa yang sebenarnya terjadi jauh dari kesan itu. Sebab ketika Islam masuk Syria orang-orang Kristen yang merasa selamat dari Romawi dan Yunani.
Michael the Elder, Patriach dari Jacobus mengakui “Tuhan telah membangkitkan putera-putera Ismail dari Selatan (maksudnya Muslim) untuk menyelamatkan kita dari Romawi”.
Ketika pasukan Muslim dibawah pimpinan Abu Ubaidah mencapai lembah Jordan, penduduk Kristen setempat menulis surat kepadanya. Isinya “kami lebih bersimpati kepada saudara daripada orang-orang Romawi, meskipun mereka seagama dengan kami. Pemerintah Islam lebih adil daripada pemerintah Byzantium”.
Pada waktu Umar memasuki Yerussalem ia menandatangai perjanjian. Diantara isinya:”…gereja tidak akan dirubah menjadi tempat kediaman, tidak akan dirusak, ….salib-salib atau harta mereka tidak akan diganggu…dan tidak seorangpun diantara mereka akan dianiaya”. Orang tidak pernah konflik dengan umat Kristen. Justru konflik antar sekte di di Gereja Holy Sepulchre, atau the Church of the Resurrection didamaikan orang Islam.
Abdul Aziz Marwan Gubernur Mesir memberi izin orang-orang Kristen pegawai istana untuk mendirikan gereja di Halwan. Di Andalus Islam, Kristen dan Yahudi hidup damai bertahun-tahun. Seorang specialist sastra Iberia di Universitas Yale, Maria Rosa Mencoal dalam karyanya berjudul The Ornament of the World (2003) berterus terang. Ia menulis "Toleransi merupakan aspek melekat pada masyarakat Andalus dan nasib non-Muslim lebih baik daripada dibawah Kristen Eropah”. Tapi berakhirnya kekuasaan Islam, berakhir pula toleransi itu.
Jika fakta-fakta ini dicermati, istilah menguasai, menaklukkan, mengusir dan bahkan menjajah tidak layak untuk dipakai. Yang lebih cocok, sesuai dengan namanya, Islam ‘menyelamatkan’ atau ‘membebaskan’ bangsa-bangsa tertindas. Maka tidak heran jika Thomas Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam menyatakan:” Kemenangan kaum Muslimin berarti kebebasan beragama (bagi non-Muslim), sesuatu yang telah berabad-abad mereka dambakan”.
Anehnya Bernard Lewis menganggap toleransi dalam Islam tidak ada asal usulnya.
Rahmat Islam yang lain ada dalam keseluruhan ajarannya. Syariatnya menjaga jiwa, keturunan, agama, harta dan akal manusia dari kehancuran.
Ritual peribadatannya menyentuh aspek jiwa dan raga, aspek sosial dan individual, aspek spiritual dan material. Prinsip hidupnya seimbang tidak materialistis dan tidak spiritualistis, tidak melulu dunia atau melulu akherat. Sayyid Qutb mensifatinya dengan istilah tawazun.
Penghargaannya pada orang kaya dan orang miskin, wanita dan laki-laki sama meski tidak harus memakai teori gender dan diklaim sosialistis atau feministis.
Konsep tuhannya “transenden” artinya jauh dan tak terjangkau. Tidak serupa apapun, karena itu tidak bisa diberhalakan. Tapi juga “immanen”, lebih dekat dari urat nadi kita. Dan yang terpenting Allah dalam Islam bersifat Alim (Maha Tahu). Karena itu wahyu yang diturunkanNya sarat dengan perintah berfikir dan mencari ilmu.
Dari kitab suci itu pula lahir berbagai disiplin ilmu. Ulum al-Qur’an, Tafsir, Hadith, Fiqih, Kalam, tasawwuf, mawarith, Nahwu dan Sarf lahir dari sebab memahami al-Qur’an.
Inilah rahasianya mengapa umat Islam menjadi rahmat dunia dengan ilmu. Dengan ilmu dan iman khazanah ilmu pengetahuan Yunani, Persia, India, Mesir dan sebagainya dihidupkan. Dari India Muslim menemukan angka nol.
Asas bagi matematik dan ilmu computer masa kini. Di Persia Ibn Syatir mengembangkan astronomi yang buku-bukunya menginspirasi Copernicus menemukan teori heliosentrisme. Di Baghdad Ibn Haitham menemukan teori optic, tanpa teori ini camera tidak akan pernah wujud.
Di zaman Umayyah di Spanyol dan Abbasiyah di Baghdad budaya ilmunya sangat tinggi. Di Cordoba saja terdapat 75 perspustakaan. Lebih ramai dari mall di zaman postmodern.
Di Baghdad koleksi seorang ulama mencapai 400.000 judul buku. Menjadi ulama lebih bergengsi daripada menjadi pengusaha. Inilah peradaban ilmu.
Tapi ilmu bukan sekedar ilmu, tapi juga menjadi amal alias teknologi. Di Spanyol irigasinya waktu itu tercanggih di dunia. Hasil panennya memberi makanan orang Spanyol yang kelaparan dan tertindas. Tata kotanya tidak ada duanya di Eropah.
Menurut Tertius Chandler dalam, Four Thousand Years of Urban Growth: An Historical Census populasi Cordoba waktu itu sekitar 500.000, mengalahkan Konstantinopel. Kemakmurannya mengalahkan penduduk Eropah. Sain dan teknologi yang lahir karena inspirasi al-Qur’an dan kecerdasan jiwa-jiwa yang beriman dan bertawhid. Itulah “misykat” kehidupan.
Tauhid inilah yang digambarkan dalam surah Ibrahim (24-25) sebagai “kalimat tayyibah” (kalimat yang baik), dan peradaban ilmunya sebagai “syajarah tayyibah” (pohon yang baik). Pohon itu memberi makan atau menghidupi orang pada setiap musimnya, dengan izin Tuhannya.
Tujuannya satu “agar mereka ingat” nikmat Tuhannya. Tapi begitulah manusia, banyak yang telah memakan buah (baca rahmat) peradaban Islam dan banyak yang tidak ingat. Allah Maha Benar.
Asas bagi matematik dan ilmu computer masa kini. Di Persia Ibn Syatir mengembangkan astronomi yang buku-bukunya menginspirasi Copernicus menemukan teori heliosentrisme. Di Baghdad Ibn Haitham menemukan teori optic, tanpa teori ini camera tidak akan pernah wujud.
Di zaman Umayyah di Spanyol dan Abbasiyah di Baghdad budaya ilmunya sangat tinggi. Di Cordoba saja terdapat 75 perspustakaan. Lebih ramai dari mall di zaman postmodern.
Di Baghdad koleksi seorang ulama mencapai 400.000 judul buku. Menjadi ulama lebih bergengsi daripada menjadi pengusaha. Inilah peradaban ilmu.
Tapi ilmu bukan sekedar ilmu, tapi juga menjadi amal alias teknologi. Di Spanyol irigasinya waktu itu tercanggih di dunia. Hasil panennya memberi makanan orang Spanyol yang kelaparan dan tertindas. Tata kotanya tidak ada duanya di Eropah.
Menurut Tertius Chandler dalam, Four Thousand Years of Urban Growth: An Historical Census populasi Cordoba waktu itu sekitar 500.000, mengalahkan Konstantinopel. Kemakmurannya mengalahkan penduduk Eropah. Sain dan teknologi yang lahir karena inspirasi al-Qur’an dan kecerdasan jiwa-jiwa yang beriman dan bertawhid. Itulah “misykat” kehidupan.
Tauhid inilah yang digambarkan dalam surah Ibrahim (24-25) sebagai “kalimat tayyibah” (kalimat yang baik), dan peradaban ilmunya sebagai “syajarah tayyibah” (pohon yang baik). Pohon itu memberi makan atau menghidupi orang pada setiap musimnya, dengan izin Tuhannya.
Tujuannya satu “agar mereka ingat” nikmat Tuhannya. Tapi begitulah manusia, banyak yang telah memakan buah (baca rahmat) peradaban Islam dan banyak yang tidak ingat. Allah Maha Benar.
PENUHI PANGGILAN ALLAH
Rabbmu memanggilmu untuk meraih rahmat-Nya. Padahal Dia tidak butuh kepadamu.
Rabbmu memanggilmu untuk mendapatkan anugerah-Nya.
Jangan pernah engkau berpaling dari Allah, saat Dia memanggilmu untuk meraih rahmat-Nya.
Tegurlah jiwamu, ketika ia lalai dari ancaman dan kekuasaan Zat yang Maha Perkasa dan Maha Mulia.
Ingatkan jiwamu akan keagungan dan kekuasaan ALlah atasmu, agar ia benar-benar fokus untuk mendekat kepada-Nya.
Dan agar jiwamu sadar, bahwa tidak ada tempat lari dan murka Allah kecuali kembali kepada-Nya.
Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata :
قد يكون الأجل قد قرب ودنا وأنت في غفلة، قد يصبح الإنسان ولا يمسي ولا يصبح، وقد ينام ولا يقوم، فَالعاقل والحازم هو الذي يعد العدة دائماً
ويكون دائماً على حذر وإعدادٍ لآخرة
“Bisa jadi ajal itu sudah dekat sementara engkau masih lalai, banyak orang yang di waktu pagi tidak mendapati waktu sore, masih di waktu sore namun tidak mendapati waktu pagi, ada yang tidur tidak bangun-bangun. Orang yang cerdas dan brilian akan selalu bersiap-siap dan berhati-hati dan persiapan menuju akhirat”
(Syarh Riyadushsholihin 1/245)
🟢 Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,
ابن آدم، إنك لست بسابق أجلك، ولا بمغلوب على رزقك، ولا بمرزوق ما ليس لك، فلم تكدح وعلام تقتل نفسك
Wahai anak Adam. Sesungguhnya, engkau tidak dapat mendahului ajalmu. Engkau juga tidak dapat dikalahkan (tidak ada yang menghalangi) dalam rizki yang telah ditetapkan untukmu, dan tidak akan diberi rizki yang bukan bagianmu.
Lantas, mengapa engkau terlalu berlebihan dalam bekerja (sehingga terlalaikan dari mengingat Allah)? Atas dasar apa engkau membinasakan dirimu?
(Mawaizh lil imam Hasan al-Bashri, hal. 91)
Rabbmu memanggilmu untuk meraih rahmat-Nya. Padahal Dia tidak butuh kepadamu.
Rabbmu memanggilmu untuk mendapatkan anugerah-Nya.
Jangan pernah engkau berpaling dari Allah, saat Dia memanggilmu untuk meraih rahmat-Nya.
Tegurlah jiwamu, ketika ia lalai dari ancaman dan kekuasaan Zat yang Maha Perkasa dan Maha Mulia.
Ingatkan jiwamu akan keagungan dan kekuasaan ALlah atasmu, agar ia benar-benar fokus untuk mendekat kepada-Nya.
Dan agar jiwamu sadar, bahwa tidak ada tempat lari dan murka Allah kecuali kembali kepada-Nya.
Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata :
قد يكون الأجل قد قرب ودنا وأنت في غفلة، قد يصبح الإنسان ولا يمسي ولا يصبح، وقد ينام ولا يقوم، فَالعاقل والحازم هو الذي يعد العدة دائماً
ويكون دائماً على حذر وإعدادٍ لآخرة
“Bisa jadi ajal itu sudah dekat sementara engkau masih lalai, banyak orang yang di waktu pagi tidak mendapati waktu sore, masih di waktu sore namun tidak mendapati waktu pagi, ada yang tidur tidak bangun-bangun. Orang yang cerdas dan brilian akan selalu bersiap-siap dan berhati-hati dan persiapan menuju akhirat”
(Syarh Riyadushsholihin 1/245)
🟢 Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,
ابن آدم، إنك لست بسابق أجلك، ولا بمغلوب على رزقك، ولا بمرزوق ما ليس لك، فلم تكدح وعلام تقتل نفسك
Wahai anak Adam. Sesungguhnya, engkau tidak dapat mendahului ajalmu. Engkau juga tidak dapat dikalahkan (tidak ada yang menghalangi) dalam rizki yang telah ditetapkan untukmu, dan tidak akan diberi rizki yang bukan bagianmu.
Lantas, mengapa engkau terlalu berlebihan dalam bekerja (sehingga terlalaikan dari mengingat Allah)? Atas dasar apa engkau membinasakan dirimu?
(Mawaizh lil imam Hasan al-Bashri, hal. 91)
*Buku 100 Hadits Viral Mudah Dihafal Gerakan Menghafal Hadits Jilid 2*
Harga: Rp. 15.000
Penulis: Tim Dai
Penerbit: Alfasyam Publishing
Tebal: 68 Halaman
Dimensi: 10 x 16 Cm
Cover: Soft Cover
Berat: 80 Gram
Judul Asli: مائة حديثا الحفظ
*Resensi:*
Sungguh mulia Nabi Muhammad. Sungguh mulia para shahabat yang membawakan sunnah-sunnah Nabi kepada kita. Sungguh mulia para rawi dan muhaddits yang menyampaikan sunnah-sunnah Nabi kepada kita hingga hari ini. Sungguh mulia siapa saJa yang membaca hadits Nabi lalu menghafalnya lalu menyampaikannya
Buku 100 Hadits Viral Mudah Dihafal (Jilid 2) ini disusun oteh tim ciati Al-Maktab At-Ta’awuni li Ad-Da’wah wa Al-Irsyad Syu’bah Tautiyat Al-Jaliyah br Az-Zulfi dalam rangka memasyarakatkan hadits dan mencetak hafizh-hafizh hadits. Kami persembahkan terjemahan buku mungil tersebut dala;in rangka mendukung proyek dakwah mencetak para penghafal hadits.
Buku hadits versi cetak jelas lebih unggul: Kualitas jumalistiknya dapat dipertanggungjawabkan; Bisa dibaca tanpa bergantung pada daya listrik dan juga gadget; Mata lebih nyaman daripada membaca buku hadits digital karena ada paparan cahaya smartphone; Pembaca pun bisa mencorat-coret untuk memberi tanda atau komentar.
Pemesanan:
wa.me/62895386894755
Harga: Rp. 15.000
Penulis: Tim Dai
Penerbit: Alfasyam Publishing
Tebal: 68 Halaman
Dimensi: 10 x 16 Cm
Cover: Soft Cover
Berat: 80 Gram
Judul Asli: مائة حديثا الحفظ
*Resensi:*
Sungguh mulia Nabi Muhammad. Sungguh mulia para shahabat yang membawakan sunnah-sunnah Nabi kepada kita. Sungguh mulia para rawi dan muhaddits yang menyampaikan sunnah-sunnah Nabi kepada kita hingga hari ini. Sungguh mulia siapa saJa yang membaca hadits Nabi lalu menghafalnya lalu menyampaikannya
Buku 100 Hadits Viral Mudah Dihafal (Jilid 2) ini disusun oteh tim ciati Al-Maktab At-Ta’awuni li Ad-Da’wah wa Al-Irsyad Syu’bah Tautiyat Al-Jaliyah br Az-Zulfi dalam rangka memasyarakatkan hadits dan mencetak hafizh-hafizh hadits. Kami persembahkan terjemahan buku mungil tersebut dala;in rangka mendukung proyek dakwah mencetak para penghafal hadits.
Buku hadits versi cetak jelas lebih unggul: Kualitas jumalistiknya dapat dipertanggungjawabkan; Bisa dibaca tanpa bergantung pada daya listrik dan juga gadget; Mata lebih nyaman daripada membaca buku hadits digital karena ada paparan cahaya smartphone; Pembaca pun bisa mencorat-coret untuk memberi tanda atau komentar.
Pemesanan:
wa.me/62895386894755
WhatsApp.com
Share on WhatsApp
WhatsApp Messenger: More than 2 billion people
in over 180 countries use WhatsApp to stay in touch with friends and
family, whenever and wherever. WhatsApp is free and offers simple, secure,
reliable messaging and calling, available…
in over 180 countries use WhatsApp to stay in touch with friends and
family, whenever and wherever. WhatsApp is free and offers simple, secure,
reliable messaging and calling, available…