BERILMU DENGAN BUKU
63 subscribers
738 photos
27 videos
20 files
532 links
Channel edukasi seputar Aqidah, Ibadah, Muamalah, Pengembangan diri dan Keluarga, Bisnis, Marketing dan Rekomendasi Buku
Download Telegram
*Tidak ada Bidadari di Dunia Ini*

Pahamilah wahai para suami, bahwa istri-istrimu memiliki tabi'at yang bengkok. Begitulah sifat wanita.

Meskipun ia adalah seorang yang berpengetahuan luas atau seorang yang berpendidikan, tidak ada wanita yang selamat dari sifat bengkok tersebut.

Oleh karenanya para suami hendaknya mengingat sifat ini, ketika bergaul dengan para istrinya. Ini adalah tabi'atnya, tidak ada wanita yang tidak memiliki sifat ini.

Ada sebuah nasihat yang indah dari seorang syaikh kepada seseorang yang berkonsultasi kepadanya, meminta saran dan masukan atas permasalahannya.

Pemuda ini menceraikan istrinya. Lalu sang syaikh menasihatinya. Sang syaikh mengatakan sebuah perkataan yang indah dan perkataan ini beliau ulang-ulang terus dalam nasihatnya. Beliau mengatakan:
يَا بُنَيَّ الدُّنْيَا مَا فِيْهَا حُوْرُ عِينٍ، الدُّنْيَا مَا فِيْهَا حُوْرُ عِينٍ
*_Duhai anakku, tidak ada bidadari di dunia ini, tidak ada bidadari di dunia ini._* (beliau mengulang-ulang perkataannya ini)

Maknanya, bahwa setiap wanita pasti ad kekurangannya. Tidak ada wanita yang sempurna.

Demikian seorang berilmu ketika memberikan nasihat, pasti dengan ilmunya yang penuh hikmah dan kebijaksanaan, yang bersumber dari AlQuran dan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Lantas, ada pertanyaan, bagaimana kedudukan wanita di dunia kelak, saat di akhirat?

هل المرأة الصالحة تكون من الحور العين يوم القيامة ؟
*_Apakah istri yang shalihah akan menjadi seperti bidadari surga pada hari kiamat kelak?_*

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab:
المَرْأَةُ الصَّالِحَةُ فِي الدُّنْيَا ءيَعْنِي الزَّوْجَةُء تَكُوْنَ خَيْراً مِنَ الحُورِ العِيْنِ فِي الآخِرَةِ، وَأَطِيْبُ وأَرْغَبُ لِزَوْجِهَا؛فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرُ أَنَّ أَوَّلَ زُمْرَةُ تَدْخُلُ الجَنَّةَ عَلَى مِثْلِ صُوْرَةِ القَمَرِ لَيْلَةِ البَدْرِ
*_Istri yang shalihah di dunia akan menjadi “lebih baik” dari pada bidadari surga di akhirat kelak,lebih indah dan lebih dicintai suaminya. Karena Nabi shallahu alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa : Rombongan pertama yang masuk surga maka mereka seperti bulan yang bersinar saat malam purnama._*

(Nur ‘alad Darb nomor kaset 282)
MENUNDA BAYAR HUTANG PADAHAL MAMPU


🟢 Dari Muhammad bin Jahsy radhiyallahu anhu berkata :

كنَّا جُلُوسًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ ، ثُمَّ وَضَعَ رَاحَتَهُ عَلَى جَبْهَتِهِ ثُمَّ قَالَ : «سُبْحَانَ اللَّهِ ! مَاذَا نُزِّلَ مِنَ التَّشْدِيدِ؟» . فَسَكَتْنَا وَفَزِعْنَا ، فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ سَأَلْتُهُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا هَذَا التَّشْدِيدُ الَّذِي نُزِّلَ ؟ فَقَالَ : «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ! لَوْ أَنَّ رَجُلا قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيِيَ ، ثُمَّ قُتِلَ ، ثُمَّ أُحْيِيَ ، ثُمَّ قُتِلَ ، وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ»

“Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, lalu Beliau mengangkat wajahnya ke langit kemudian meletakkan tangannya pada dahinya seraya berkata : “Subhanallah, kesulitan (berat) apa yang diturunkan?” (Maka) Kami pun terdiam dan ketakutan, sampai pada hari esok aku tanya Beliau : “Wahai Rasulullah kesulitan (berat) apa yang diturunkan?”

Beliau menjawab :
“Demi yang jiwaku ada ditanganNya, seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah) kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah) sementara dia punya tanggungan hutang maka dia tidak akan masuk surga sampai hutangnya dilunaskan”.”

(HR Nasa’i, Sahih Sunan Nasa’i 4367)

🟢 Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

“Menunda membayar utang dalam keadaan mampu adalah sebuah kezaliman.”

(HR. Al-Bukhari no. 2222)

🟢 Ibnu Hajar al asqolani rahimahullah berkata :

“Yang dimaksud di dalam hadits ini adalah orang yang menunda-nunda pembayaran utangnya (setelah jatuh tempo) padahal dia mampu, walaupun miskin.”

(Lihat Fathul Bari 4/531)
DOA YANG PALING BANYAK DIBACA NABI


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” (Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka).” (Qs. Al Baqarah: 200-201)

Dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, beliau berkata :

ﻛَﺎﻥَ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﺩُﻋَﺎﺀِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺁﺗِﻨَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً ، ﻭَﻓِﻰ ﺍﻵﺧِﺮَﺓِ ﺣَﺴَﻨَﺔً ، ﻭَﻗِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

“Do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Allahumma Rabbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban naar” (Ya Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka)” (HR. Bukhari 2389 dan Muslim 2690)

Ibnu Hajar al Asqolani rahimahullah berkata :

لَمْ يَدْعُ نَبِيّ وَلَا صَالِح بِشَيْءٍ إِلَّا دَخَلَ فِي هَذَا الدُّعَاء

“Tidaklah seorang nabi maupun orang shalih berdoa melainkan mereka menggunakan doa ini.” (Fathul Bari, 2: 322)
DOA BUAT ANAK-ANAK


Disyariatkan untuk membacakan doa perlindungan bagi anak-anak kita.

Aku memintakan perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan para makhlukNya.

Boleh dengan menyebutkan nama anaknya satu persatu.

Dahulu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memintakan perlindungan untuk Hasan dan Husain, dengan kalimat Allah yang sempurna, agar dilindungi dari syetan, binatang berbisa dan mata yang hasad. Jadi memintakan perlindungan untuk anak-anak ini sudah dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Doa ini akan menjadi perlindungan kuat bagi mereka. Kita bisa mendoakan mereka setiap pagi atau sore.

Doa Nabi shalallahu alaihi wasallam kepada Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma :

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّة

“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap gangguan syaitan, binatang berbisa dan setiap mata orang yang dengki.” (HR.Bukharidalam Fathul Baari VI/408 no.3371)

Atau dengan kalimat:
أُعِيْذُ أَوْلَادِي بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ شَرِّ مَا خًلَقَ
*_Aku memintakan perlindungan untuk anak-anakku dengan kalimat-Nya yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya._*

Bisa pula dengan kalimat:
أُعِيْذُ فُلَانًا ابْنِي فُلَانًا .....
*_Aku memintakan perlindungan untuk fulan bin fulan....(selebihnya sama)

Dengan izin Allah, usaha ini akan menjadi benteng kokoh yang dibuat oleh ayah dan bunda dalam melindungi anak dari keburukan. Ini adalah bentuk tawakkal kepada Allah, menyerahkan urusan berat dan membuat stress orangtua, kepada Maha Penjaga makhluk-Nya.
BERAMAL KARENA ALLAH, MENINGGALKAN AMAL KARENA ALLAH


🔴 Salamah bin Dinar rahimahullah berkata :

‏شيئان إذا عمِلت بهما أصَبْت بهما خير الدنيا والآخرة:
تعمل ما تكره إذا أحبَّه اللَّه، وتترك ما تحب إذا كرهه اللَّه.

“Ada dua perkara yang jika engkau lakukan, engkau akan meraih kebaikan dunia dan akhirat: Engkau melakukan sesuatu yang tidak engkau sukai jika Allah mencintainya, dan Engkau meninggalkan sesuatu yang engkau sukai jika Allah membencinya.”

(Al-Ma’rifah wat Tarikh, jilid 1, hlm. 381)

🔴 Malik bin Dinar rahimahullah mengatakan :

إِنَّ الْبَدَنَ إِذَا سَقَمَ لَا يَنْجَعُ فِيهِ طَعَامٌ وَلَا شَرَابٌ وَ لَا نَوْمٌ وَ لَا رَاحَةٌ. وَ كَذَلِكَ الْقَلْبُ إِذَا عَلَّقَ حُبُّ الدُّنْيَا لَمْ يَنْجِعْ فِيهِ الْمَوَاعِظُ

“Sesungguhnya apabila badan sakit, maka makan, minum, tidur, dan istirahat tidak enak baginya. Begitu juga dengan hati, apabila sudah terpaut dengan cinta kepada dunia, maka nasihat-nasihat tidak lagi berguna baginya.”

Sifatush Shafwah : 3/ 278

🔴 Syaikh muhammad bin shalih ‘Utsaimin rahimahullah berkata :

‏الدنيا مزرعة الآخرة فإذا لم يزرع فيها لآخرته فقد خسرها وخسر آخرته

“Kehidupan dunia adalah ladang untuk kehidupan akhirat. Apabila seseorang tidak bercocok tanam di dunia untuk (mempersiapkan) akhiratnya, sungguh dia telah merugikan kehidupan dunia sekaligus merugikan akhiratnya.”

(adh-Dhiya al-Lami’ 1/65)
*KISAH PASIEN YANG MENGALAMI SEKARAT*


_Malaikat Azab Di Kamar 2205_

Hari itu, sabtu, 6 Sya'ban 1406 H. Saya menerima panggilan telepon. Saya sholat maghrib di masjid rumah sakit.

Beberapa saat setelah selesai sholat, perawat menelpon saya:
"Ya dokter, pasien fulan, infus di tangan kanannya berhenti bekerja. Kami ingin anda memindahkan infusnya di tangan kirinya".

Maka akupun mendatanginya. Pasien ini telah kami tangani selama 6 bulan. 5 bulan saya berbicara dengannya dan dia berbicara denganku. Dan pada bulan ke 6, dia benar-benar dalam kondisi koma. Dan itu disebabkan kanker telah menyebar ke bagian otak, dan dia tidak bisa bergerak.

Akupun mendatanginya, dan dia sudah hilang penglihatannya. Aku mendatanginya, aku mengambil tangan kirinya mencari urat nadi. Tiba-tiba aku terkaget.

Pasien: Siapa ini?
Dokter: Khalid
Pasien: Dr. Khalid?
Dr: Ya
Pasien: Sedang mencari apa dok?
Dokter: Saya mencari urat nadimu untuk memindahkan infusnya.
Pasien: Tidak usah. Jangan bebani dirimu.
Dokter: Mengapa?
Pasien: Aku Mayit
Dokter: Tidak, anda bukan mayit

Dan aku terus mencoba, setiap kali aku mencoba dia selalu bilang,"Ya dokter, aku mayit". Aku jawab,"Anda tidak mati".

Tatkala ia berkata seperti itu, aku berusaha berkali-kali memasukkan infus, hingga ia berkata padaku,"Ya dokter, aku mayit, aku lihat apa yang anda tidak lihat".

Aku jawab,"Anda tidak mati. Dia jawab kembali,"Dokter, aku mayit, aku lihat apa yang tidak anda lihat. AKu melihat, malaikat Azab di hadapanku sekarang".

Lalu tangannya terlepas dari genggamanku. Para malaikat azab di kamar no.2205? lantai dua gedung no. 100 di Rumah Sakit Militer kota Riyadh. Para malaikat azab berada di ruangan yang aku di dalamnya?.

Ikhwani, saat itu bulu kudukku semuanya berdiri. Aku merasa seperti mereka sedang berada di belakangku.

Dapatkah anda bayangkan, anak 3 tahun ketika ada yang menakut-nakutinya?.

Kisahnya terhenti di sini, karena setelah itu sang dokter, Khalid, menggunakan bahasa amiyah (bahasa tidak baku), penerjemah tidak paham untuk mengalihbahasakan ke bahasa Indonesia.

Tapi semoga yang sedikit ini, dapat menyadarkan kita, bahwa azab sebelum kematian itu ada, kemudian azab kubur, untuk kemudian menantikan azab yang sebenarnya, di yaumil qiyamah.

Pengadilan ALlah, pengadilan adil, mengadili semua manusia-manusia yang pernah bersalah. Bagi yang mendapatkan rahmat Allah, Allah mengampuni dosa-dosanya, bagi tidak, harus masuk ke dalam neraka menerima konsekuensi dari perbuatannya selama di dunia.
Forwarded from MUSTANIR ONLINE
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
Pancasila dan NKRI Dalam Pandangan Islam | Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi
*Materi Khutbah - 14 Okt 2022*

_Benarkah Allah Tempat Bergantung Segala Sesuatu?_

(Anas Rusli, S.Si - Pendiri Sekolah Konselor Keluarga Indonesia)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَةِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ, اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْءَانِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allah berfirman:
*_Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna._* (QS. al-Isra[17]:70)

Allah mempertegas lagi dalam firman-Nya:
*_Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya_*. (QS. at-Tin[95]:4)

Juga firman-Nya:
*_Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur._* (QS. as-Sajdah[32]:9)

Penciptaan diri-diri kita ini adalah amanah yang harus dijaga, digunakan sesuai peruntukkan dan sesuai apa yang diperintahkan oleh Sang Pencipta. Pertama, untuk seluas-luasnya memakmurkan bumi beserta seluruh isinya, untuk dimanfaatkan seluruh penghuni alam semesta. Kedua, untuk menghambah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:
*_Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku._* (QS. adz-Dzariyat[51]:56)

Namun, sayangnya banyak sekali yang melupakan nikmat dan amanah ini, sehingga tidak mensyukurinya untuk kebaikan dan ketaatan kepada-Nya.

Maka penting, kita mengembalikan kehidupan kita kepada tuntunan Allah dan Rasul-Nya, agar menjadi hamba-Nya yang selalu bersyukur dengan dua hal:
1. Menggunakan segala potensi, kecerdasan, pengetahuan untuk kebaikan dan kepentingan umat manusia
2. Meniatkan semua amal perbuatan hanya untuk Allah, semata-mata menghamba kepada Allah

Dahulu, kafir Quraisy, menguji Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dengan bertanya:
صِفْ لَنَا رَبُّكَ
*_Tolong, gambarkan kepada kami Tuhanmu itu seperti apa._*

Karena pertanyaan ini, maka Allah mewahyukan kepada Rasulullah surat al-Ikhlas, yang dikatakan setara 1/3 al-Quran kandungannya. Surat ini mengajarkan kita umat Islam, fondasi tauhid yang harus mewujud dalam dada-dada setiap muslim/ah. Isi kandungannya adalah:
1. Allah itu Esa
2. Allah tempat segala sesuatu bergantung
3. Allah tidak melahirkan, juga tidak dilahirkan
4. Allah, tidak ada yang sama atau setara dengan-Nya.

Pertanyaan untuk umat Islam? apakah kalian sudah merealisasikan ke empat hal di atas dalam kehidupan? sudahkah kita menjadikan Allah satu-satunya yang kita sembah? sudahkah menjadikan Allah satu-satunya tempat bergantung, meminta, memohon kesuksesan hidup, bisnis, pekerjaan, rumah tangga, keshalihan anak, dan sebagainya? Adakah tandingan-tandingan Allah di dalam kehidupan kita?. Pertanyaan-pertanyaan yang harus jujur kita jawab. Dan ternyata jawabannya masih banyak di antara kita belum menjadikan Allah satu-satunya yang disembah, satu-satunya yang diharapkan, digantungkan, dan ternyata masih banyak di antara kita menjadikan makhluk-Nya sebagai tandingan-tandingan dalam kehidupan. Wal'iyaadzubillah.

Maka tidak ada solusi lain, kita harus kembali kepada prinsip tauhid yang benar, sesuai kandungan surat al-Ikhlas. Inilah yang membedakan kita muslim dengan kafir:
1. Menjadikan Allah satu-satunya sembahan - Mukhlishiina lahud diin
2. Menjadikan Allah satu-satunya tempat bergantung, berharap, meminta. Tidak menduakan dengan makhluk-Nya.
Semoga kita bisa istiqomah menjalankannya, menjadi hamba Rabbani, aamiin.

أقول قول هذا وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَ نَعُوْذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّأَتِ أَعْمَا لِنَا, مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ. اَللَّهُمَّ صََلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَا بِهِ وَمَنْ وَالَهُ. أَمّاَ بَعْدُ فَيَا عِبَا دَاللهِ أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ حَقَّ تَقْوَاهُ, لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ. وَالصَّلاَ ةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلإِ خْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ, وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْ بِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفُ الَّرَحِيْمٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ, وَالْمُؤْمِنَاتِ, اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ, إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ, ياَ قاَضِيَ الْحَاجَاتِ.

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقاً وَارْزُقْنَا اِتِّبَاعَهُ, وَأَرِنَا الْبَا طِلاً وَارْزُ قْنَا اجْتِنَابَهُ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًَا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاًَ مُتَقَبَّلاً.

رَبَّنَا اَتِنََا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ الِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
*KITA BUTUH LELAH LEBIH UNTUK MENGGAPAINYA*

Di antara sunnatullah A'zza wa Jalla, bahwa segala sesuatu yang berharga membutuhkan lelah yang ekstra untuk menggapainya. Semakin berharga sesuatu, semakin ekstra lelah untuk menggapainya. Ini adalah sunnatullah.

Sifat berilmu adalah karakter paling mulia yang dimiliki manusia. Ketika ilmu itu berharga, tentu membutuhkan kesabaran ekstra dan perjuangan yang ekstra. Oleh karena itu,seorang ahli ilmu, Yahya bin Abi Katsir mengatakan:
لَا يُسْتَطَاعُ العِلْمُ بِرَاحَةِ الجَسَدِ
*_Ilmu tidak akan diraih dengan badan yang santai_*.

Demikian juga harta. Ketika harta itu dicintai oleh jiwa, tentu juga membutuhkan lelah yang ekstra untuk mendapatkannya. Umumnya harta tidaklah didapat dengan mudah. Demikian juga segala sesuatu yang berharga.

Meraih nama baik, tentu juga membutuhkan perjuangan. Juga perlu mencurahkan hal-hal yang dicintai jiwa. Sebagaimana sebuah syair terkenal dari al-Mutanabbi:
لَوْلَا المَشَقَّةُ سَادَ النَاسُ كُلُّهُمْ
*_Seandainya bukan karena jerih payah, tentu semua orang menjadi pemimpin_*.

الجُودُ يُفْقِرُ وَالإِ قْدامُ قَتَّالُ
*_Kedermawanan akan membuat jatuh miskin dan maju ke medan perang akan mengundang kematian_*.

Ini artinya, seandainya bukan karena jerih payah, kedermawanan dan maju ke medan perang, tentu semua orang menjadi pemimpin dan terhormat.

Akan tetapi kedermawanan akan membuat jatuh miskin karena orang dermawan perlu mengeluarkan banyak harta. Ia keluarkan harta untuk memuliakan tamu, membantu orang kesusahan dan menolong orang yang membutuhkan.

Tidak diragukan lagi bahwa orang dermawan akan susah payah mengeluarkan harta yang dicintainya, sehingga banyak orang memuliakannya. Oleh karena itu, orang dermawan jumlahnya sangat sedikit.

Demikian pula dengan keberanian. Keberanian perlu maju ke medan perang dan maju ke medan perang harus siap dengan resiko. Dan tidak semua orang berani mengambil resiko.

Demikianlah sunnatullah, segala sesuatu yang berharga membutuhkan lelah yang ekstra untuk menggapainya. Tancapkanlah prinsip ini di hati kita dalam-dalam, apabila kita ingin sesuatu yang berharga, kita harus menyiapkan diri untuk bersabar, sampai berhasil meraih sesuatu yang berharga tersebut.

Tidak ada satupun perkara yang sulit jika Allah mudahkan, tetapi sebaliknya perkara yang amat mudah pun tidak akan mampu dikerjakan bila disulitkan (dijadikan sulit) oleh Allah.

Maka hendaklah segala urusan, kita kembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Oleh karenanya rasulullah shalallahu alaihi wasallam perintahkan kita untuk berdoa memohon kemudahan pada Allah.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
*_Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah._* (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya (3/255). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah. (Lihat Jaami’ul Ahadits, 6/257, Asy Syamilah)

Maka berdoalah kepada Allah, mintalah padaNya untuk segala urusanmu.

Tetap semangat untuk semua peserta Growth Up, jangan sampai kendor. Habiskan lelahmu untuk menggapai impianmu.
إن الله معنا
*_Allah bersama kita_*
*MENGOBATI PENYAKIT GHIBAH MULAI DARI RUMAH*


Bertaqwalah kepada Allah dalam menjaga persaudaraan sesama muslim. Ghibah sama sekali tidak ada kebaikannya. Sangat penting sekali untuk mendidik dan membesarkan putra-putri kita, mendidik mereka untuk mengagungkan ALlah 'Azza wa Jalla dan menghormati hak muslim lainnya.

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah:

الغيبة من الكبائر التي لا تكفره‍ا الصلاة ولا الصدقة ولا الصيام ولا الحج [شرح رياض الصالحين
*_Ghibah termasuk dosa besar yang tidak bisa dihapus oleh sholat, shodaqoh, puasa dan haji._*
(Syarh Riyadushsholihin 6/109)

Ibnu Mubarak rahimahullah berkata :
لو كنت مغتابا أحدا لاغتبت والدي لأنه‍ما أحق بحسناتي
*_Kalau seandainya (boleh) aku mengghibahi seseorang, niscaya aku akan mengghibahi kedua orang tuaku, karena keduanya yang paling berhak mendapatkan kebaikanku_*.
(Syarah Shohih Bukhari 9/245)

Seorang muslim yang mendidik putra-putrinya agar menjaga hak kaum muslimin, ia akan mendapatkan banyak kebaikan.

Jika engkau merendahkan orang lain karena jenis dan warna kulitnya, saat engkau duduk bersama putra-putrimu di rumah, Wallahi, engkau adalah orang yang rugi, karena anakmu akan meniru perbuatan tersebut, dan ini akan memperberat timbangan dosamu, Wal'iyaadzubillah.

Obatilah penyakit ghibah ini mulai dari rumahmu.

Seorang ibu memulai lebih dahulu, begitu pula ayah dan semua orang shalih. Tanamkan di hati anak, bahwa di sana ada kehormatan yang sangat agung, yaitu kehormatan saudara muslim lainnya.
TAUBAT YANG JUJUR


Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An Nisa 17)

🟢 Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah berkata menafsirkan ayat diatas :

“(Ayat) Ini mengisyaratkan bahwa sebaik-baik waktu bertaubat adalah bersegera di waktu sehatnya sebelum datang penyakit sehingga ia bisa melakukan amal sholih.”

(Lathoiful Ma’arif 720)

🟢 Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَخْطَأْتُمْ، حَتَّى تَبْلُغَ خَطَايَاكُمُ السَّمَاءَ، ثُمَّ تُبْتُمْ، لَتَابَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ

“Seandainya kalian berbuat salah hingga dosa kalian memenuhi langit, lalu kalian bertaubat, pasti Allah akan menerima taubat kalian”

(HR. Ibnu Majah no. 4248)
SEMUA HARUS KARENA ALLAH

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ

“Siapa yang cintanya karena Allah, bencinya karena Allah, memberinya karena Allah dan tidak memberi pun karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya.” (HR. Abu Dawud 4.681)

Dalam hadits ini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa cinta dan benci kita, semuanya harus diikat karena Allah. Karena cinta yang tidak diikat dengan cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala, itu menjadi cinta yang tidak bermanfaat. Al-Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Al-Fawaid ketika menyebutkan tentang 10 perkara yang tidak ada manfaatnya, diantaranya beliau berkata: Cinta yang tidak diikat dengan cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena kalau kita mencintai seseorang karena kekayaannya, tidak berpahala sama sekali. Kkalau kita mencintai seseorang karena syahwat semata, itupun juga tidak berpahala sama sekali. Ketika seseorang mencintai seorang wanita hanya sebatas syahwat saja, karena sebatas rasa suka saja, tidak berpahala dan tidak ada manfaatnya.

Ketika seseorang mencintai harta hanya sebatas syahwat saja, tidak ada manfaatnya juga. Bahkan seringkali hal seperti itu akan memberikan dampak keburukan. Tapi ketika cinta itu kita ikat dengan cinta Allah dan cinta kita pun karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka itu menjadi cinta yang lurus.

Oleh karena itulah dalam hadits lain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa sekuat-kuat tali iman itu adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ

“Sekuat-kuatnya tali iman adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Thabrani)
Ya ALLAH, KEPADA SIAPA ENGKAU SERAHKAN URUSANKU?

Sungguh manusia itu lemah. Dirinya selalu diserang oleh sedihnya musibah di dunia. Tidaklah ia melewati satu kesedihan kecuali setelah itu ia bersedih kembali. Dan tidaklah ia selamat dari satu musibah kecuali ada musibah lain yang telah menantinya.

لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِىۡ كَبَدٍؕ
*_Sesungguhnya Kami ciptakan manusia itu dalam keadaan bersusah payah_*. (al-Balad[90]:4)

Akan tetapi, tidak ada yang mampu menguatkanmu melewati kegalauan dan tidak ada yang bisa mengusir kegundahan, selain al-Hayyul Qoyyuum, Dzat yang tidak mengantuk dan tidak pula tidur.

Wahai saudaraku seiman, ALlah hanya ingin kebaikan bagimu. Ketika Dia mengujimu dengan musibah, lalu Dia membuatmu sabar melaluinya, ALlah hanya ingin kebaikan bagimu. Ketika Dia mengujimu, lalu hatimu menjadi khusyu' di hadapan-Mu, ALlah hanya ingin kebaikan bagimu. Ketika Allah seakan-akan selalu di pelupuk matamu, lalu engkau adukan kepada-Nya semua kesedihanmu, dan engkau ceritakan pada-Nya semua keperihan dan kegundahan yang kau rasakan, seakan-akan engkau berkata pada-Nya:
*_Ya rabbi, kepada siapa Engkau serahkan urusanku? kepada yang lemah yang berwajah masam padaku? atau kepada musuh yang akan menguasai urusanku?_*

Seakan-akan engkau berkata:
*_Ya Allah, Wahai Dzat yang menjawab doanya mereka yang sedang kesulitan. Aku adukan pada-Mu segala kesulitanku. Dan aku kembali pada-Mu Wahai Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi._*

Seakan-akan engkau berkata:
*_Ya ALlah, Wahai Dzat yang menghilangkan musibah dari Nabi Ayyub. Dan Engkau menghilangkan kesedihan dari Nabi Yunus, dan Engkau menghilangkan kesulitan dari para hamba. Dan Engkau menghilangkan bala' dari mereka. Maka hilangkanlah kesedihanku. Dan bebaskanlah diriku dari kegalauanku. Dan jangan Engkau jadikan aku hamba-Mu yang paling sengsara di sisi-Mu. Ya Allah, janganlah Engkau haramkan diriku dari kebaikan karena keburukan yang ada padaku_*.

Perbanyaklah doa pada-Nya, dan merengeklah di hadapan-Nya. Karena sungguh, Wallahi, lalu wallahi, Dia lebih sayang padamu daripada rsa sayangmu pada dirimu sendiri.

Ketahuilah jika engkau adukan semua pada-Nya, tulus dari hati yang percaya dan yakin pada ALlah, maka sungguh Allah tidak akan pernah mengecewakanmu.
KITAB FIQH BERBAGAI MAZHAB


1. Fiqh perbandingan madzhab (8 kitab)
https://drive.google.com/folderview?id=1AzfV1MopUcX3IsIPhih2UdmYL2yNxxpj

2. Fiqh madzhab Hanafi (40 kitab)
https://drive.google.com/folderview?id=1RBUkYOLO2U8fbPQuW6yJJNVLITOLNolT

3. Fiqh madzhab Maliki (73 kitab)
https://drive.google.com/folderview?id=1R0ezeSSs_-kqcpySb1RRqHztSKnZu2ea

4. Fiqh madzhab Syafii (73 kitab)
https://drive.google.com/folderview?id=17AVUoNtu5HKoNRchOzGvff5_X0036_J3

5. Fiqh madzhab Hambali (60 kitab)
https://drive.google.com/folderview?id=1RCO_AjI3i-nTuXpbTbTGRbRwt2XFaDOl

6. Thobaqat fuqaha 4 madzhab
https://drive.google.com/folderview?id=1-Jb_uFoZkAehVtRQ7xSXN2eNBtwTduA1

#Semua kitab di atas sudah dikelompokan mulai matan, syarah, ikhtishor ataupun hasyiyah. Silahkan dibagikan ya teman² semoga bermamfaat. Aamiin 🙏🙏🙏
*MENCIPTAKAN PERNIKAHAN YANG SEDERHANA*

Pembahasan pertama adalah tentang mahar. Tentang mahar hendaknya mempertimbangkan keadaan calon suami yang faqir. Penyebab muda-mudi tidak menikah atau menunda menikah sekarang ini, malah memilih jalan haram, salah satunya adalah karena mahar beserta pernak-perniknya yang menambah biaya lebih banyak lagi.

Penghalang menikah seperti ini, tidak diragukan lagi hukumnya makruh atau bisa jadi haram.

Pesta pernikahan yang berlebihan, mubazir, serta makanan dan daging yang akhirnya terbuang, padahal tidak ada kemaslahatan untuk kedua pengantin. Ini adalah tradisi buruk yang harus diberantas dan dihilangkan. Bersihkan jalan pernikahan dari segala penghalangnya.

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مَؤُوْنَةً
*_Wanita yang paling banyak keberkahannya adalah wanita yang paling ringan maharnya._* (HR. Ahmad No.25119)

Ringannya mahar mendatangkan keberkahan untuk istri dan menumbuhkan cinta di hati suami.

Wahai kaum muslimin, bertaqwalah kepada Allah, perbaiki fakta yang memilukan ini. Jangan ikuti gaya orang yang berlebihan dan suka mubazir.
*_Sesungguhnya orang yang mubazir adalah saudara syaithan_*. (QS. al-Isra:27)

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata :

Resepsi-resepsi yang diselenggarakan untuk pernikahan atau acara-acara lainnya adalah seperti aktifitas-aktifitas lainnya yang dilakukan oleh seseorang. Maksudnya, apabila ia dilakukan di dalam batas-batas syariat maka tidaklah mengapa, dan apabila melebihi batas-batas syariat maka menjadi haram, sebab Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan satu kaidah umum di dalam al-Qur‘an, seraya berfirman,

وَّكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا

“Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan” (Qs. Al-A’ raf: 31)

Maka apa saja yang mengandung unsur israf (berlebih-lebihan) dan keluar dari batas-batas kewajaran adalah terlarang. Dari itu Allah memuji (orang-orang yang bertindak wajar), seraya berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَ‍‍قُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَ‍‍قْ‍‍تُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (Qs. Al-Furqan: 67).

Nasihat saya kepada saudara-saudara kaum Muslimin adalah hendaknya sederhana di dalam penyelenggaraan pesta-pesta pemikahan, baik yang menyangkut resepsinya, tempatnya ataupun pakaiannya, sebab nikah yang paling banyak berkahnya adalah nikah yang paling ringan biayanya. Biaya yang berlebih-lebihan itu dapat menjadi penghalang bagi para remaja untuk menikah, sebab beban pembelanjaan sebesar itu sangat memerlukan banyak biaya, dan beban biaya biasanya ditanggung oleh pihak lelaki yang menyunting si perempuan itu.

(Majalah Da’wah, edisi 1307)
KEUTAMAAN SHOLAWAT UNTUK NABI


Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ أَوْ سَأَلَ لِي الوَسِيْلَةَ حَقَّتْ عَلَيْهِ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ

“Barangsiapa bershalawat kepadaku atau meminta agar aku mendapatkan wasilah, maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat nanti.” (Hadits ini terdapat dalam Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabiy no. 50, Isma’il bin Ishaq Al Jahdiy. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)


Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim no. 408)
NEGARA MADINAH
Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi


Madinah adalah kota yang menyimpan sejuta cerita. Pada abad ke 5 dan 6 M kota Madinah hanyalah tempat pelarian Yahudi dari kejaran tentara Hadrianus dari Roma. Juga tempat pemukiman dua suku Arab, Khazraj dan Aws.
Di kota ini kisah nabi-nabi berkembang bagai legenda tapi nyata. Namun kelahiran Nabi Muhammad SAW seabad kemudian menjadi berita gembira. Hijrahnya pun (tahun 622 M) disambut dengan suka cita.
Kota ini benar-benar mencintai dan dicintai Nabi. Saking cintanya Nabi berdoa “Mudah-mudahan Madinah diberi rahmat Allah dua kali lipat lebih banyak dari Makkah”. Allah pun memberi hadiah sebongkah taman surga (Raudah min riyadil jinan) di dalam masjidnya.
Mungkin ini rahasianya mengapa Nabi meramalkan bahwa nanti Dajjal tidak akan masuk kota ini. Begitu istimewanya tempat ini - menurut hadis Nabi yang lain sehingga kota ini adalah kota terakhir yang akan dihancurkan dari muka bumi di hari kiamat nanti.
Dan yang tidak kalah menariknya kota ini sebelumnya bernama Yathrib. Buktinya dalam surah Madaniyah awal tempat ini masih disebut Yathrib (lihat al-Ahzab: 13). Tapi delapan tahun setelah hijrah (sekitar tahun 630 M) Nabi menggantinya dengan nama Madinah (lihat surah Madaniyah akhir al-Taubah: 120).
Setelah nama Yathrib diganti Madinah Nabi melarang para sahabatnya untuk menggunakan nama Yathrib lagi. Entah mengapa. Tapi yang jelas Nabi memberi nama setelah membangun tempat ini. Apa yang telah dilakukan Nabi? kita lihat.
Sejak lantunan Talaa-l-badru menggema di seantero Yathrib, Nabi sudah mengantongi dukungan warga setempat. Al-Husseim bin Sallam, seorang rabi Yahudi Yathrib langsung memeluk Islam. Jalan dakwah Nabi pun mulus tanpa paksaan. Tidak sampai satu dasawarsa, sebanyak 15 kabilah masuk Islam dengan sukarela.
Langkah Nabi selanjutnya adalah: merajut ukhuwwah Islamiyah dan mempersatukan Muslim dengan Yahudi dengan Piagam Madinah. Sebuah Negara berkonstitusi pun terbentuk dengan kekuasaan dan kedaulatan penuh.
A. Von Kramer tidak salah ketika menyimpulkan “Muhammad membawa agama baru dan sistem politik baru… dan menciptakan suatu perdamaian yang harmonis”. D.B.Macdonald mengakui, di Madinah telah terbentuk Negara Islam pertama. Thomas W. Arnold yang diamini Fazlur Rahman lebih blak-blakan lagi “Di Madinah Nabi menjadi pemimpin agama dan kepala Negara”.
Meski realitanya Nabi memang menjadi kepala Negara dan memimpin perang, tapi anehnya pemikir kontemporer Mesir, Ali abd al-Raziq (1888-1966) menafikan fakta-fakta itu semua ia mengatakan:
Jika betul Rasulullah SAW telah mendirikan sebuah negara politik atau telah memulakan pendiriannya, mengapa sebahagian besar dari dasar-dasar kenegaraan tidak wujud dalam negara itu? Mengapa cara pemilihan hakim dan walikota pada zaman baginda itu tidak diketahui? Mengapakah pula Nabi tidak pernah menjelaskan tentang sistim kerajaan dan kaedah-kaedah Syura? Mengapa beliau membiarkan para ulama sesudah beliau dalam kebingungan? (Ali Abd al-Raziq, Al-Islam wa Usul al-Hukm, Bahth fi al-Khilafah wa al-Hukumah fi al-Islam, Beirut: al-Muassasah al-Arabiyyah Li al-Dirasah wa al-Nashr, 1988), hlm. 160. )
Pandagan sekuler ini didukung oleh tokoh liberal Abdullahi Ahmad an-Naim. Kata Naim tidak ada Negara Islam, sebab Islam itu agama yang dipeluk manusia bukan oleh Negara. Selain itu, katanya, mestinya yang disebut Negara itu mestinya punya batas teritori, passport dsb. Argumentasi Naim nampak aneh memang.
Sebenarnya siapapun tidak bisa mangkir bahwa Madinah merupakan babak baru sejarah Islam. Jadi, Madinah adalah post-faktum dari faktum-faktum. Jika fakta sosial-historis bisa bias tafsir, kita pakai fakta-fakta tekstual. Ternyata perubahan Yahtrib menjadi Madinah didahului oleh perubahan kandungan wahyu.
Wahyu yang ketika di Makkah berkutat masalah tauhid, ibadah, alam semesta, penciptaan, hari akhir dan sebagainya, di Madinah berubah ke masalah ummah, ukhuwwah, jihad, kemanusiaan, keadilan, kemakmuran, kekuatan dan sebagainya. Lebih berdimensi sosial-politik. Pendek kata, di Madinah-lah tempat penerapan dan penyempurnaan konsep din yang turun di Makkah itu.
Lalu mengapa pengganti Yathrib adalah Madinah? Kajian sejarah katanya ternyata sama menariknya dengan sejarah kotanya. Kata “Madinah” adalah bentuk (wazn) kata tempat (ism al-makan) dari kata din. Biasanya kata tempat dibentuk dari kata kerja, maskan (tempat tinggal) misalnya berasal dari kata sakana (tinggal).
Tapi untuk kata Madinah tidak demikian. Dalam Arabic English Lexicon, karya Lane kata Madinah diletakkan dibawah entri din (agama).
Kata kerjanya adalah dana, yadinu yang berarti taat, berserah diri, menghamba, merendahkan diri [kepada Allah] dan menghitung. Ism-nya adalah din. Dintu lahu artinya saya taat kepadanya. Dana bi-l-Islami dinan artinya menghamba pada Allah dengan memeluk agama Islam.
Dalam al-Quran jelas dinyatakan “Siapa yang lebih baik ketaatannya (ahsanu dinan) dari orang yang berserah diri kepada Allah” (Q.S. IV: 124). Kaum pluralis sering memelesetkan ayat ini dan diartikan bahwa agama yang baik adalah yang berserah diri, dengan agama apapun. Tentu plesetan yang gagap filologi.
Dalam hadis Nabi dinyatakan “Orang cerdas adalah yang menghambakan dirinya (pada Allah) dan mengerjakan sesuatu untuk hidup sesudah mati” (al-kaysu man dina nafsahu wa amil ma bada al-maut). Atau dalam hadis lain disebut “Barangsiapa menghitung [muhasabah] dirinya maka beruntunglah dia (man dana nafsahu rabiha).
Disini din berarti taat dan berserah diri atau menghamba kepada Allah. Dan menghambakan diri [yang benar] bagi Allah adalah melalui agama Islam (inna-d-dina indallahi al-Islam).
Dari kata kerja dana, yadin yang menjadi bentuk isim din itu juga bisa dilacak dari kata dayn, artinya hutang. Kajian semantiknya, beragama adalah rasa keberhutangan kepada Tuhan. Kalau dicek pada ayat-ayat al-Quran tentu cocok.
Buktinya, Allah selalu menggunakan bahasa perdagangan dengan hambaNya. Allah telah “membeli” diri dan harta orang-orang mukmin dengan surga. (Taubah: 111). Barangsiapa “memberi pinjaman” kepada Allah suatu kebaikan, akan Allah lipat gandakan pinjaman itu (al-Baqarah: 245; al-Maidah: 12; al-Hadid: 11, 18; al-Taghabun: 17; al-Muzammil: 20), dan banyak lagi.
Jadi beragama adalah proses membayar hutang kepada sang pencipta. Inilah sebabnya mengapa dalam bahasa Arab Allah diberi julukan al-Dayyan (literalnya Yang Memberi Hutang, tapi maknanya Yang Memberi Balasan semua perbuatan). Sedangkan untuk makhluk, julukan itu tanpa alif lam yaitu Dayyan yang berarti penguasa atau gubernur. Disini beragama adalah proses membayar hutang kepada Allah dengan amal kebaikan.
Kecenderungan hidup berdasarkan aturan, sadar hukum, taat pada penguasa hukum dan hakim (berserah diri) serta hidup secara teratur adalah inti dari din. Itulah fitrah manusia dan inti keberagamaan.
Beragama tidak bisa liberal dan liar. Secara filologi saja kata din sudah menggambarkan sebuah struktur kehidupan yang sistemik. Secara realita Madinah telah menjadi tempat untuk berserah diri, untuk mentaati aturan, untuk menghamba serta membayar hutang kepada Allah dengan amal kebajikan.
Tapi menariknya ternyata kata Madinah tidak berasal dari kata madana, sebaliknya madana terbentuk setelah lahir kata Madinah. Sejarahnya begitu. Maka dari itu kata madana dalam Arabic-English Dictionary susunan Hans Wehr diartikan to found or build city; to civilize, to humanize, to refine.
Persis seperti yang dilakukan Nabi. Tapi ketika Hans Wehr mengartikan Madani menjadi secular, kita jadi bingung (confuse). Ini tentu dari pengaruh doktrin gereja. Karena kerja-kerja diluar gereja biasanya disebut dengan kerja-kerja sekuler (secular works), mereka lalu menganggap kerja-kerja diluar masjid sebagai kerja sekuler.