ALlah Tabaraka wa Ta'ala mencintaimu, jika kamu memenuhi ibadah wajibmu, kemudian kamu mengamalkan amalan-amalan sunnah, kamu mendekatkan diri kepada ALlah dengan mengerjakan sholat malam, sholat rawatib, sholat dhuha, sedekah, sholat sunnah, haji sunnah, umrah, berdzikir, membaca al-Quran, menyambung silaturrahim dan amalan sunnah lainnya selain yang wajib.
(Syaikh Utsman Al-Khamis)
(Syaikh Utsman Al-Khamis)
SEBAB SHOLAT TIDAK KHUSYUK
Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah berkata :
فمتى ﺭﺃﻳﺖ ﻗﻠﺒﻚ ﻻ ﻳﺤﻀﺮ في اﻟﺼﻼﺓ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺳﺒﺒﻪ ﺿﻌﻒ اﻹﻳﻤﺎﻥ، ﻓﺎﺟﺘﻬﺪ في ﺗﻘﻮﻳﺘﻪ.
“Kapan saja engkau mendapati kalbumu tidak hadir ketika shalat, ketahuilah bahwa hal itu disebabkan lemahnya iman. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah untuk memperkuat keimanan.”
(Mukhtashar Minhaj al-Qashidin 1/30)
🟢 Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,
يا ابن آدم، وماذا يعز عليك من دينك، إذا هانت عليك صلاتك
“Duhai manusia! Ibadah apa lagi yang engkau hargai dalam agamamu, apabila shalat saja sudah engkau anggap remeh.”
(Mausu’ah Ibnu Abi ad-Dunya, jilid 1, hlm. 341)
Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah berkata :
فمتى ﺭﺃﻳﺖ ﻗﻠﺒﻚ ﻻ ﻳﺤﻀﺮ في اﻟﺼﻼﺓ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺳﺒﺒﻪ ﺿﻌﻒ اﻹﻳﻤﺎﻥ، ﻓﺎﺟﺘﻬﺪ في ﺗﻘﻮﻳﺘﻪ.
“Kapan saja engkau mendapati kalbumu tidak hadir ketika shalat, ketahuilah bahwa hal itu disebabkan lemahnya iman. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah untuk memperkuat keimanan.”
(Mukhtashar Minhaj al-Qashidin 1/30)
🟢 Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,
يا ابن آدم، وماذا يعز عليك من دينك، إذا هانت عليك صلاتك
“Duhai manusia! Ibadah apa lagi yang engkau hargai dalam agamamu, apabila shalat saja sudah engkau anggap remeh.”
(Mausu’ah Ibnu Abi ad-Dunya, jilid 1, hlm. 341)
DOA GALAU
اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ ، وَابْنُ عَبْدِكَ ، وَابْنُ أَمَتِكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu, dan anak hamba perempuanMu([2]),
نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ ، عَدْلٌ فِيَّ قَضاَؤُكَ
ubun-ubunku berada di tanganMu([3]), hukumMu berlaku terhadap diriku([4]), dan ketetapanMu adil pada diriku([5]).
أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ
Aku memohon kepadaMu dengan segala Nama yang menjadi milikMu, yang Engkau namai diriMu dengannya,
أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ ، أَوِاسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ
atau yang Engkau turunkan di dalam kitabMu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisiMu,
أَنْ تَجْعَلَ القُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَبَ هَمِّيْ
maka aku mohon dengan itu agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku, pelipur kesedihanku, dan penghilang bagi kesusahanku.”([6])
اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ ، وَابْنُ عَبْدِكَ ، وَابْنُ أَمَتِكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu, dan anak hamba perempuanMu([2]),
نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ ، عَدْلٌ فِيَّ قَضاَؤُكَ
ubun-ubunku berada di tanganMu([3]), hukumMu berlaku terhadap diriku([4]), dan ketetapanMu adil pada diriku([5]).
أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ
Aku memohon kepadaMu dengan segala Nama yang menjadi milikMu, yang Engkau namai diriMu dengannya,
أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ ، أَوِاسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ
atau yang Engkau turunkan di dalam kitabMu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisiMu,
أَنْ تَجْعَلَ القُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَبَ هَمِّيْ
maka aku mohon dengan itu agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku, pelipur kesedihanku, dan penghilang bagi kesusahanku.”([6])
AMALAN YANG PALING DICINTAI ALLAH
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ سُرُورٌ يُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ أَوْ يَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً أَوْ يَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا أَوْ يَطْرُدُ عَنْهُ جَوْعًا
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah perbuatan yang membuat bahagia saudaranya sesama muslim, atau menghilangkan kesulitannya, atau membantu melunasi utangnya, atau membebaskannya dari kelaparan (dengan memberi makan).” (hadits ini hasan dalam as-Silsilah ash-Shahihah, 2/575)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ سُرُورٌ يُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ أَوْ يَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً أَوْ يَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا أَوْ يَطْرُدُ عَنْهُ جَوْعًا
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah perbuatan yang membuat bahagia saudaranya sesama muslim, atau menghilangkan kesulitannya, atau membantu melunasi utangnya, atau membebaskannya dari kelaparan (dengan memberi makan).” (hadits ini hasan dalam as-Silsilah ash-Shahihah, 2/575)
Dosa Jariyah yang dilupakan manusia
Engkau berbuat maksiat, lalu orang lain mengikutinya, makanya dosa maksiat orang yang mengikutimu bermaksiat, juga engkau dapatkan. Berlindunglah kepada Allah dari dosa ini.
Engkau berbuat maksiat, lalu orang lain mengikutinya, makanya dosa maksiat orang yang mengikutimu bermaksiat, juga engkau dapatkan. Berlindunglah kepada Allah dari dosa ini.
TAKUT DAN HARAP HANYA KEPADA ALLAH
Allah berfirman (yang artinya) : “..Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku” (QS. Al Ma’idah: 44). Maka takut kepada Allah (al khauf minallah) adalah ibadah dan merupakan salah satu bentuk ibadah yang semestinya dicamkan oleh setiap mukmin.
Sifat Orang Yang Bertaqwa
Takut kepada Allah adalah sifat orang yang bertaqwa, dan ia juga merupakan bukti imannya kepada Allah. Lihatlah bagaimana Allah mensifati para Malaikat, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” (QS. An Nahl: 50).
Lihat juga bagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang hamba-hambanya yang paling mulia, yaitu para Nabi ‘alahimus wassalam (artinya) : “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami” (QS. Al Anbiya: 90)
Semakin Berilmu Semakin Takut Kepada Allah
Oleh karenanya, seseorang semakin ia mengenal Rabb-nya dan semakin dekat ia kepada Allah Ta’ala, akan semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Nabi kita Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku yang paling mengenal Allah dan akulah yang paling takut kepada-Nya” (HR. Bukhari-Muslim).
Oleh karenanya para ulama, yaitu memiliki ilmu tentang agama Allah ini dan mengamalkannya, merekalah orang-orang yang paling mengenal Allah. Sehingga betapa besar rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala.
Karena orang yang memiliki ilmu tentang agama Allah akan paham benar akan kebesaran Allah, keperkasaan-Nya, paham benar betapa pedih dan ngeri adzab-Nya. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda kepada para sahabat beliau: “Demi Allah, andai kalian tahu apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian pun akan enggan berlezat-lezat dengan istri kalian di ranjang. Dan akan kalian keluar menuju tanah datang tinggi, mengiba-iba berdoa kepada Allah” (HR. Tirmidzi 2234, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)
karena rasa takut yang timbul dari ma’rifatullah yang mendalam..
Allah berfirman (yang artinya) : “..Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku” (QS. Al Ma’idah: 44). Maka takut kepada Allah (al khauf minallah) adalah ibadah dan merupakan salah satu bentuk ibadah yang semestinya dicamkan oleh setiap mukmin.
Sifat Orang Yang Bertaqwa
Takut kepada Allah adalah sifat orang yang bertaqwa, dan ia juga merupakan bukti imannya kepada Allah. Lihatlah bagaimana Allah mensifati para Malaikat, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” (QS. An Nahl: 50).
Lihat juga bagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang hamba-hambanya yang paling mulia, yaitu para Nabi ‘alahimus wassalam (artinya) : “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami” (QS. Al Anbiya: 90)
Semakin Berilmu Semakin Takut Kepada Allah
Oleh karenanya, seseorang semakin ia mengenal Rabb-nya dan semakin dekat ia kepada Allah Ta’ala, akan semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Nabi kita Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku yang paling mengenal Allah dan akulah yang paling takut kepada-Nya” (HR. Bukhari-Muslim).
Oleh karenanya para ulama, yaitu memiliki ilmu tentang agama Allah ini dan mengamalkannya, merekalah orang-orang yang paling mengenal Allah. Sehingga betapa besar rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala.
Karena orang yang memiliki ilmu tentang agama Allah akan paham benar akan kebesaran Allah, keperkasaan-Nya, paham benar betapa pedih dan ngeri adzab-Nya. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda kepada para sahabat beliau: “Demi Allah, andai kalian tahu apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian pun akan enggan berlezat-lezat dengan istri kalian di ranjang. Dan akan kalian keluar menuju tanah datang tinggi, mengiba-iba berdoa kepada Allah” (HR. Tirmidzi 2234, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)
karena rasa takut yang timbul dari ma’rifatullah yang mendalam..
*TAKUT DAN HARAP HANYA KEPADA ALLAH*
Allah berfirman (yang artinya) :
ۚ فَلَا تَخۡشَوُا النَّاسَ وَاخۡشَوۡنِ
*_...Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku_*. (QS. Al Ma’idah: 44).
Maka takut kepada Allah (al khauf minallah) adalah ibadah dan merupakan salah satu bentuk ibadah yang semestinya dicamkan oleh setiap mukmin.
_Sifat Orang Yang Bertaqwa_
Takut kepada Allah adalah sifat orang yang bertaqwa, dan ia juga merupakan bukti imannya kepada Allah. Lihatlah bagaimana Allah mensifati para Malaikat, Allah Ta’ala berfirman:
يَخَافُوۡنَ رَبَّهُمۡ مِّنۡ فَوۡقِهِمۡ وَيَفۡعَلُوۡنَ مَا يُؤۡمَرُوۡنَ
*_Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)_*. (QS. An Nahl: 50).
Lihat juga bagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang hamba-hambanya yang paling mulia, yaitu para Nabi ‘alahimus wassalam (artinya) :
اِنَّهُمۡ كَانُوۡا يُسٰرِعُوۡنَ فِىۡ الۡخَيۡـرٰتِ وَ يَدۡعُوۡنَـنَا رَغَبًا وَّرَهَبًا ؕ وَكَانُوۡا لَنَا خٰشِعِيۡنَ
*_...Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami_*. (QS. Al Anbiya: 90)
Semakin Berilmu Semakin Takut Kepada Allah. Oleh karenanya, seseorang semakin ia mengenal Rabb-nya dan semakin dekat ia kepada Allah Ta’ala, akan semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Nabi kita Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: فَوَاللَّهِ إِنِّي أَعْلَمُهُمْ بِاللَّهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً
*_Sesungguhnya aku yang paling mengenal Allah dan akulah yang paling takut kepada-Nya_*. (HR. Bukhari-Muslim).
Oleh karenanya para ulama, yaitu memiliki ilmu tentang agama Allah ini dan mengamalkannya, merekalah orang-orang yang paling mengenal Allah. Sehingga betapa besar rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala.
Karena orang yang memiliki ilmu tentang agama Allah akan paham benar akan kebesaran Allah, keperkasaan-Nya, paham benar betapa pedih dan ngeri adzab-Nya.
Oleh karena itu, Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda kepada para sahabat beliau:
لَوْ تعْلمُونَ ما أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كثيراً
*_Demi Allah, andai kalian tahu apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian pun akan enggan berlezat-lezat dengan istri kalian di ranjang. Dan akan kalian keluar menuju tanah datang tinggi, mengiba-iba berdoa kepada Allah._* (HR. Tirmidzi 2234, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)
karena rasa takut yang timbul dari ma’rifatullah yang mendalam..
Allah berfirman (yang artinya) :
ۚ فَلَا تَخۡشَوُا النَّاسَ وَاخۡشَوۡنِ
*_...Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku_*. (QS. Al Ma’idah: 44).
Maka takut kepada Allah (al khauf minallah) adalah ibadah dan merupakan salah satu bentuk ibadah yang semestinya dicamkan oleh setiap mukmin.
_Sifat Orang Yang Bertaqwa_
Takut kepada Allah adalah sifat orang yang bertaqwa, dan ia juga merupakan bukti imannya kepada Allah. Lihatlah bagaimana Allah mensifati para Malaikat, Allah Ta’ala berfirman:
يَخَافُوۡنَ رَبَّهُمۡ مِّنۡ فَوۡقِهِمۡ وَيَفۡعَلُوۡنَ مَا يُؤۡمَرُوۡنَ
*_Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)_*. (QS. An Nahl: 50).
Lihat juga bagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang hamba-hambanya yang paling mulia, yaitu para Nabi ‘alahimus wassalam (artinya) :
اِنَّهُمۡ كَانُوۡا يُسٰرِعُوۡنَ فِىۡ الۡخَيۡـرٰتِ وَ يَدۡعُوۡنَـنَا رَغَبًا وَّرَهَبًا ؕ وَكَانُوۡا لَنَا خٰشِعِيۡنَ
*_...Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami_*. (QS. Al Anbiya: 90)
Semakin Berilmu Semakin Takut Kepada Allah. Oleh karenanya, seseorang semakin ia mengenal Rabb-nya dan semakin dekat ia kepada Allah Ta’ala, akan semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Nabi kita Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: فَوَاللَّهِ إِنِّي أَعْلَمُهُمْ بِاللَّهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً
*_Sesungguhnya aku yang paling mengenal Allah dan akulah yang paling takut kepada-Nya_*. (HR. Bukhari-Muslim).
Oleh karenanya para ulama, yaitu memiliki ilmu tentang agama Allah ini dan mengamalkannya, merekalah orang-orang yang paling mengenal Allah. Sehingga betapa besar rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala.
Karena orang yang memiliki ilmu tentang agama Allah akan paham benar akan kebesaran Allah, keperkasaan-Nya, paham benar betapa pedih dan ngeri adzab-Nya.
Oleh karena itu, Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda kepada para sahabat beliau:
لَوْ تعْلمُونَ ما أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كثيراً
*_Demi Allah, andai kalian tahu apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian pun akan enggan berlezat-lezat dengan istri kalian di ranjang. Dan akan kalian keluar menuju tanah datang tinggi, mengiba-iba berdoa kepada Allah._* (HR. Tirmidzi 2234, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)
karena rasa takut yang timbul dari ma’rifatullah yang mendalam..
*JANGAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH*
ALhamdulillahi Rabbil'aalamiin, anak cucu Adam banyak melakukan kesalahan.
DOsa itu ibarat kepastian bagi anak cucu Adam. Tetapi manusia terbaik adalah yang bertaubat. Nabi bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
*_Semua anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat_*. (HR. Tirmidzi)
Allah juga memberikan kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya, melalui firman-Nya:
قُلۡ يٰعِبَادِىَ الَّذِيۡنَ اَسۡرَفُوۡا عَلٰٓى اَنۡفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَةِ اللّٰهِ ؕ اِنَّ اللّٰهَ يَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِيۡعًا ؕ اِنَّهٗ هُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِيۡمُ
*_Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang._* (QS. az_zumar:53)
Allah mengampuni semua dosa yaitu bagi yang mau bertaubat. Semua dosa akan Allah ampuni bagi yang bertaubat, sekalipun dosa syirik. Apabila seseorang bertaubat dari dosa syirik, niscaya akan Allah ampuni.
Oleh karena itu janganlah kuatir ya akhi, ya ukhti memikirkan ampunan. Sebab ampunan itu datang dari Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Hendaknya fokus kita adalah taubat, bertaubat kepada Rabb kita.
Apabila dahulu engkau melampaui batas dan berbuat dosa, lalu sekarang sudah bertaubat, maka engkau sudah berhenti dari dosa tersebut, engkau juga menyesalinya, dan bertekad agar tidak mengulanginya lagi.
Apabila dosanya berkaitan dengan hak orang lain, engkau sudah mengembalikan atau meminta maaf. Jika dosanya berkaitan dengan harta atau bukan harta yang mereka ketahui maka berbahagialah.
Janganlah galau gelisah, karena taubat akan menghapus dosa yang telah lalu. Penyesalan adalah taubat.
Orang yang bertaubat dari dosa bagaikan orang tanpa dosa.
Orang yang berdosa lalu bertaubat, dosanya terhapus seakan-akan ia tidak pernah mengerjakannya.
Tetapi jadikan ingatanmu akan dosa tersebut sebagai motivasi bagimu, agar engkau tidak terjatuh dalam dosa yang sama. Dan untuk menyemangatimu agar engkau lebih memperbanyak amal shalih, setelah itu berhentilah mengingatnya.
Jangan biarkan syetan menyeretmu ke dalam keputusasaan dari Rahmat Allah. Jangan biarkan syetan menyibukkanmu dengan dosa yang telah berlalu sehingga membuatmu gusar dan jauh dari Allah. Lupakan dosa yang lalu.
Jadikan ingatanmu terhadap dosa tersebut sebagai motivasi agar engkau berubah menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang.
نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَتُوْبَ عَلَيْنَا وَأَنْ يَتَقَبَّلَ مِنَّا التَّوْبَتَ وَأَنْ يُعِيْنَنَا عَلَى مَا بَقِيَ مِنْ أَعْمَارِنَا
*_Semoga Allah memberi taubat kita semua dan menerima taubat kita semua dan menolong kita untuk beramal di sisa umur kita_*.
_Aamiin Yaa Rabbal 'aalamiin_
ALhamdulillahi Rabbil'aalamiin, anak cucu Adam banyak melakukan kesalahan.
DOsa itu ibarat kepastian bagi anak cucu Adam. Tetapi manusia terbaik adalah yang bertaubat. Nabi bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
*_Semua anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat_*. (HR. Tirmidzi)
Allah juga memberikan kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya, melalui firman-Nya:
قُلۡ يٰعِبَادِىَ الَّذِيۡنَ اَسۡرَفُوۡا عَلٰٓى اَنۡفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَةِ اللّٰهِ ؕ اِنَّ اللّٰهَ يَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِيۡعًا ؕ اِنَّهٗ هُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِيۡمُ
*_Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang._* (QS. az_zumar:53)
Allah mengampuni semua dosa yaitu bagi yang mau bertaubat. Semua dosa akan Allah ampuni bagi yang bertaubat, sekalipun dosa syirik. Apabila seseorang bertaubat dari dosa syirik, niscaya akan Allah ampuni.
Oleh karena itu janganlah kuatir ya akhi, ya ukhti memikirkan ampunan. Sebab ampunan itu datang dari Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Hendaknya fokus kita adalah taubat, bertaubat kepada Rabb kita.
Apabila dahulu engkau melampaui batas dan berbuat dosa, lalu sekarang sudah bertaubat, maka engkau sudah berhenti dari dosa tersebut, engkau juga menyesalinya, dan bertekad agar tidak mengulanginya lagi.
Apabila dosanya berkaitan dengan hak orang lain, engkau sudah mengembalikan atau meminta maaf. Jika dosanya berkaitan dengan harta atau bukan harta yang mereka ketahui maka berbahagialah.
Janganlah galau gelisah, karena taubat akan menghapus dosa yang telah lalu. Penyesalan adalah taubat.
Orang yang bertaubat dari dosa bagaikan orang tanpa dosa.
Orang yang berdosa lalu bertaubat, dosanya terhapus seakan-akan ia tidak pernah mengerjakannya.
Tetapi jadikan ingatanmu akan dosa tersebut sebagai motivasi bagimu, agar engkau tidak terjatuh dalam dosa yang sama. Dan untuk menyemangatimu agar engkau lebih memperbanyak amal shalih, setelah itu berhentilah mengingatnya.
Jangan biarkan syetan menyeretmu ke dalam keputusasaan dari Rahmat Allah. Jangan biarkan syetan menyibukkanmu dengan dosa yang telah berlalu sehingga membuatmu gusar dan jauh dari Allah. Lupakan dosa yang lalu.
Jadikan ingatanmu terhadap dosa tersebut sebagai motivasi agar engkau berubah menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang.
نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَتُوْبَ عَلَيْنَا وَأَنْ يَتَقَبَّلَ مِنَّا التَّوْبَتَ وَأَنْ يُعِيْنَنَا عَلَى مَا بَقِيَ مِنْ أَعْمَارِنَا
*_Semoga Allah memberi taubat kita semua dan menerima taubat kita semua dan menolong kita untuk beramal di sisa umur kita_*.
_Aamiin Yaa Rabbal 'aalamiin_
AHLI ALQURAN DAN AHLI PUASA
Ka’ab bin Malik radhiyallahu anhu berkata :
ينادي يوم القيامة مناد بأن كل , حارث يعطى بحرثه ويزاد غير : أهل القـــــرآن والصيـــــام , يعطون أجورهم بغير حســـاب ويشفعان له
“Nanti di hari kiamat ada yang menyeru dengan mengatakan: Setiap orang yang menanam maka akan diberikan hasilnya dan akan ditambah kecuali “Ahli Al-Qur’an dan ahli puasa” karena pahala mereka akan diberikan tanpa ada batasnya dan keduanya akan memberikan syafaat kepada pemiliknya.”
(Lathaaiful Ma’arif 171)
👤 Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata :
تكفل الله لمن قرأ القرآن وعمل بما فيه أن لا يضل في الدنيا ولا يشقى في الآخرة
“Allah memberikan jaminan kepada hamba yang membaca Al-Quran dan mengamalkannya, untuk tidak sesat di dunia dan tidak celaka di akhirat.”
(Miftah Daar as-Sa’adah 1/58)
Ka’ab bin Malik radhiyallahu anhu berkata :
ينادي يوم القيامة مناد بأن كل , حارث يعطى بحرثه ويزاد غير : أهل القـــــرآن والصيـــــام , يعطون أجورهم بغير حســـاب ويشفعان له
“Nanti di hari kiamat ada yang menyeru dengan mengatakan: Setiap orang yang menanam maka akan diberikan hasilnya dan akan ditambah kecuali “Ahli Al-Qur’an dan ahli puasa” karena pahala mereka akan diberikan tanpa ada batasnya dan keduanya akan memberikan syafaat kepada pemiliknya.”
(Lathaaiful Ma’arif 171)
👤 Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata :
تكفل الله لمن قرأ القرآن وعمل بما فيه أن لا يضل في الدنيا ولا يشقى في الآخرة
“Allah memberikan jaminan kepada hamba yang membaca Al-Quran dan mengamalkannya, untuk tidak sesat di dunia dan tidak celaka di akhirat.”
(Miftah Daar as-Sa’adah 1/58)
SERING BERDOA SEMAKIN ALLAH CINTAI
Imam Syafi’i rahimahullah berkata :
أَتَهْزَأُ بِالدُّعَاءِ وَتَزْدَرِيه؟ وَمَا تَدْرِي بِمَا صَنَعَ الدُّعَاءُ ,سِهَامُ اللَّيلِ لا تُخْطِي . وَلَكِنْ لَهَا أَمَدٌ وَلِلْأَمَدِ انْقِضَاءُ
“Apakah engkau mengejek dan meremehkan doa? Engkau tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh doa, (Doa ibarat) anak panah yang dilepaskan di malam hari, tidak akan meleset. Akan tetapi anak panah tersebut ada waktunya (yang dibutuhkan) untuk mengenai (sasaran), dan setiap waktu pasti ada akhirnya.” (Diwan Imam Syafi’i)
Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
”Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Qs. Al-Mu’min 60)
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu.” (Qs. Al-Baqarah 186).
Wahai saudaraku, ketahuilah bahwasanya jika dalam hajadmu engkau berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan YAKIN dan HUSNUDZON bahwa doa tersebut akan dikabulkan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan kabulkan doamu..
Dan ketahuilah, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengabulkan doa dari orang yang hatinya lalai, yaitu orang yang berdoa tetapi tidak yakin akan dikabulkan doanya..
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin bahwa doa tersebut akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai (yang tidak yakin bahwa doanya akan dikabulkan).” (HR. Tirmidzi 3479)
Semoga kita termasuk orang-orang yang yakin dan husnudzon tatkala berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta khusyuk didalamnya.
Imam Syafi’i rahimahullah berkata :
أَتَهْزَأُ بِالدُّعَاءِ وَتَزْدَرِيه؟ وَمَا تَدْرِي بِمَا صَنَعَ الدُّعَاءُ ,سِهَامُ اللَّيلِ لا تُخْطِي . وَلَكِنْ لَهَا أَمَدٌ وَلِلْأَمَدِ انْقِضَاءُ
“Apakah engkau mengejek dan meremehkan doa? Engkau tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh doa, (Doa ibarat) anak panah yang dilepaskan di malam hari, tidak akan meleset. Akan tetapi anak panah tersebut ada waktunya (yang dibutuhkan) untuk mengenai (sasaran), dan setiap waktu pasti ada akhirnya.” (Diwan Imam Syafi’i)
Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
”Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Qs. Al-Mu’min 60)
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu.” (Qs. Al-Baqarah 186).
Wahai saudaraku, ketahuilah bahwasanya jika dalam hajadmu engkau berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan YAKIN dan HUSNUDZON bahwa doa tersebut akan dikabulkan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan kabulkan doamu..
Dan ketahuilah, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengabulkan doa dari orang yang hatinya lalai, yaitu orang yang berdoa tetapi tidak yakin akan dikabulkan doanya..
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin bahwa doa tersebut akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai (yang tidak yakin bahwa doanya akan dikabulkan).” (HR. Tirmidzi 3479)
Semoga kita termasuk orang-orang yang yakin dan husnudzon tatkala berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta khusyuk didalamnya.
🍃🌼 MUSTARIKH DAN MUSTAROKH🌼🍃
1️⃣ Yang Pertama; Mustarih , yaitu Orang yang beristirahat dari gangguan dan cobaan di dunia,
2️⃣ Yang Kedua; Mustaroh minhu , Orang lain beristirahat dari gangguannya.
——————————
🔰 Dari shahabat Abu Qotadah -rodhiyallahu ‘anhu- , beliau mengatakan,
"Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah berpapasan dengan satu jenazah. Beliau lalu mengatakan, ”Mustarih dan mustaroh minhu."
Para sahabat bertanya, ”Apa itu ‘mustarih’ dan ‘mustaroh minhu’ ?
Beliau menjawab,
الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا،
وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
”Seorang hamba mukmin, (—ketika ia meninggal—, -pent.) ia beristirahat dari cobaan dunia dan gangguannya.
Adapun Seorang hamba fajir (yang berbuat kejahatan, -pent.) (--ketika ia meninggal--, -pent.) hamba yang lain beristirahat dari (gangguan) nya, demikian pula negeri, pepohonan, dan hewan melata.”
[ HR. Al-Bukhori no. 6512 , Muslim no. 950-(61) ]
〰️〰️〰️
✅ Jadilah seorang mukmin yang baik,
Yang menjaga lisan dan perbuatan,
Jauh dari dosa dan permusuhan.
”Semoga kita masuk yang pertama.”
Wallahul Muwaffiq. (AH)
1️⃣ Yang Pertama; Mustarih , yaitu Orang yang beristirahat dari gangguan dan cobaan di dunia,
2️⃣ Yang Kedua; Mustaroh minhu , Orang lain beristirahat dari gangguannya.
——————————
🔰 Dari shahabat Abu Qotadah -rodhiyallahu ‘anhu- , beliau mengatakan,
"Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah berpapasan dengan satu jenazah. Beliau lalu mengatakan, ”Mustarih dan mustaroh minhu."
Para sahabat bertanya, ”Apa itu ‘mustarih’ dan ‘mustaroh minhu’ ?
Beliau menjawab,
الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا،
وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
”Seorang hamba mukmin, (—ketika ia meninggal—, -pent.) ia beristirahat dari cobaan dunia dan gangguannya.
Adapun Seorang hamba fajir (yang berbuat kejahatan, -pent.) (--ketika ia meninggal--, -pent.) hamba yang lain beristirahat dari (gangguan) nya, demikian pula negeri, pepohonan, dan hewan melata.”
[ HR. Al-Bukhori no. 6512 , Muslim no. 950-(61) ]
〰️〰️〰️
✅ Jadilah seorang mukmin yang baik,
Yang menjaga lisan dan perbuatan,
Jauh dari dosa dan permusuhan.
”Semoga kita masuk yang pertama.”
Wallahul Muwaffiq. (AH)
*Tidak ada Bidadari di Dunia Ini*
Pahamilah wahai para suami, bahwa istri-istrimu memiliki tabi'at yang bengkok. Begitulah sifat wanita.
Meskipun ia adalah seorang yang berpengetahuan luas atau seorang yang berpendidikan, tidak ada wanita yang selamat dari sifat bengkok tersebut.
Oleh karenanya para suami hendaknya mengingat sifat ini, ketika bergaul dengan para istrinya. Ini adalah tabi'atnya, tidak ada wanita yang tidak memiliki sifat ini.
Ada sebuah nasihat yang indah dari seorang syaikh kepada seseorang yang berkonsultasi kepadanya, meminta saran dan masukan atas permasalahannya.
Pemuda ini menceraikan istrinya. Lalu sang syaikh menasihatinya. Sang syaikh mengatakan sebuah perkataan yang indah dan perkataan ini beliau ulang-ulang terus dalam nasihatnya. Beliau mengatakan:
يَا بُنَيَّ الدُّنْيَا مَا فِيْهَا حُوْرُ عِينٍ، الدُّنْيَا مَا فِيْهَا حُوْرُ عِينٍ
*_Duhai anakku, tidak ada bidadari di dunia ini, tidak ada bidadari di dunia ini._* (beliau mengulang-ulang perkataannya ini)
Maknanya, bahwa setiap wanita pasti ad kekurangannya. Tidak ada wanita yang sempurna.
Demikian seorang berilmu ketika memberikan nasihat, pasti dengan ilmunya yang penuh hikmah dan kebijaksanaan, yang bersumber dari AlQuran dan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Lantas, ada pertanyaan, bagaimana kedudukan wanita di dunia kelak, saat di akhirat?
هل المرأة الصالحة تكون من الحور العين يوم القيامة ؟
*_Apakah istri yang shalihah akan menjadi seperti bidadari surga pada hari kiamat kelak?_*
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab:
المَرْأَةُ الصَّالِحَةُ فِي الدُّنْيَا ءيَعْنِي الزَّوْجَةُء تَكُوْنَ خَيْراً مِنَ الحُورِ العِيْنِ فِي الآخِرَةِ، وَأَطِيْبُ وأَرْغَبُ لِزَوْجِهَا؛فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرُ أَنَّ أَوَّلَ زُمْرَةُ تَدْخُلُ الجَنَّةَ عَلَى مِثْلِ صُوْرَةِ القَمَرِ لَيْلَةِ البَدْرِ
*_Istri yang shalihah di dunia akan menjadi “lebih baik” dari pada bidadari surga di akhirat kelak,lebih indah dan lebih dicintai suaminya. Karena Nabi shallahu alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa : Rombongan pertama yang masuk surga maka mereka seperti bulan yang bersinar saat malam purnama._*
(Nur ‘alad Darb nomor kaset 282)
Pahamilah wahai para suami, bahwa istri-istrimu memiliki tabi'at yang bengkok. Begitulah sifat wanita.
Meskipun ia adalah seorang yang berpengetahuan luas atau seorang yang berpendidikan, tidak ada wanita yang selamat dari sifat bengkok tersebut.
Oleh karenanya para suami hendaknya mengingat sifat ini, ketika bergaul dengan para istrinya. Ini adalah tabi'atnya, tidak ada wanita yang tidak memiliki sifat ini.
Ada sebuah nasihat yang indah dari seorang syaikh kepada seseorang yang berkonsultasi kepadanya, meminta saran dan masukan atas permasalahannya.
Pemuda ini menceraikan istrinya. Lalu sang syaikh menasihatinya. Sang syaikh mengatakan sebuah perkataan yang indah dan perkataan ini beliau ulang-ulang terus dalam nasihatnya. Beliau mengatakan:
يَا بُنَيَّ الدُّنْيَا مَا فِيْهَا حُوْرُ عِينٍ، الدُّنْيَا مَا فِيْهَا حُوْرُ عِينٍ
*_Duhai anakku, tidak ada bidadari di dunia ini, tidak ada bidadari di dunia ini._* (beliau mengulang-ulang perkataannya ini)
Maknanya, bahwa setiap wanita pasti ad kekurangannya. Tidak ada wanita yang sempurna.
Demikian seorang berilmu ketika memberikan nasihat, pasti dengan ilmunya yang penuh hikmah dan kebijaksanaan, yang bersumber dari AlQuran dan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Lantas, ada pertanyaan, bagaimana kedudukan wanita di dunia kelak, saat di akhirat?
هل المرأة الصالحة تكون من الحور العين يوم القيامة ؟
*_Apakah istri yang shalihah akan menjadi seperti bidadari surga pada hari kiamat kelak?_*
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab:
المَرْأَةُ الصَّالِحَةُ فِي الدُّنْيَا ءيَعْنِي الزَّوْجَةُء تَكُوْنَ خَيْراً مِنَ الحُورِ العِيْنِ فِي الآخِرَةِ، وَأَطِيْبُ وأَرْغَبُ لِزَوْجِهَا؛فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرُ أَنَّ أَوَّلَ زُمْرَةُ تَدْخُلُ الجَنَّةَ عَلَى مِثْلِ صُوْرَةِ القَمَرِ لَيْلَةِ البَدْرِ
*_Istri yang shalihah di dunia akan menjadi “lebih baik” dari pada bidadari surga di akhirat kelak,lebih indah dan lebih dicintai suaminya. Karena Nabi shallahu alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa : Rombongan pertama yang masuk surga maka mereka seperti bulan yang bersinar saat malam purnama._*
(Nur ‘alad Darb nomor kaset 282)
MENUNDA BAYAR HUTANG PADAHAL MAMPU
🟢 Dari Muhammad bin Jahsy radhiyallahu anhu berkata :
كنَّا جُلُوسًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ ، ثُمَّ وَضَعَ رَاحَتَهُ عَلَى جَبْهَتِهِ ثُمَّ قَالَ : «سُبْحَانَ اللَّهِ ! مَاذَا نُزِّلَ مِنَ التَّشْدِيدِ؟» . فَسَكَتْنَا وَفَزِعْنَا ، فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ سَأَلْتُهُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا هَذَا التَّشْدِيدُ الَّذِي نُزِّلَ ؟ فَقَالَ : «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ! لَوْ أَنَّ رَجُلا قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيِيَ ، ثُمَّ قُتِلَ ، ثُمَّ أُحْيِيَ ، ثُمَّ قُتِلَ ، وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ»
“Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, lalu Beliau mengangkat wajahnya ke langit kemudian meletakkan tangannya pada dahinya seraya berkata : “Subhanallah, kesulitan (berat) apa yang diturunkan?” (Maka) Kami pun terdiam dan ketakutan, sampai pada hari esok aku tanya Beliau : “Wahai Rasulullah kesulitan (berat) apa yang diturunkan?”
Beliau menjawab :
“Demi yang jiwaku ada ditanganNya, seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah) kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah) sementara dia punya tanggungan hutang maka dia tidak akan masuk surga sampai hutangnya dilunaskan”.”
(HR Nasa’i, Sahih Sunan Nasa’i 4367)
🟢 Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ
“Menunda membayar utang dalam keadaan mampu adalah sebuah kezaliman.”
(HR. Al-Bukhari no. 2222)
🟢 Ibnu Hajar al asqolani rahimahullah berkata :
“Yang dimaksud di dalam hadits ini adalah orang yang menunda-nunda pembayaran utangnya (setelah jatuh tempo) padahal dia mampu, walaupun miskin.”
(Lihat Fathul Bari 4/531)
🟢 Dari Muhammad bin Jahsy radhiyallahu anhu berkata :
كنَّا جُلُوسًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ ، ثُمَّ وَضَعَ رَاحَتَهُ عَلَى جَبْهَتِهِ ثُمَّ قَالَ : «سُبْحَانَ اللَّهِ ! مَاذَا نُزِّلَ مِنَ التَّشْدِيدِ؟» . فَسَكَتْنَا وَفَزِعْنَا ، فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ سَأَلْتُهُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا هَذَا التَّشْدِيدُ الَّذِي نُزِّلَ ؟ فَقَالَ : «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ! لَوْ أَنَّ رَجُلا قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيِيَ ، ثُمَّ قُتِلَ ، ثُمَّ أُحْيِيَ ، ثُمَّ قُتِلَ ، وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ»
“Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, lalu Beliau mengangkat wajahnya ke langit kemudian meletakkan tangannya pada dahinya seraya berkata : “Subhanallah, kesulitan (berat) apa yang diturunkan?” (Maka) Kami pun terdiam dan ketakutan, sampai pada hari esok aku tanya Beliau : “Wahai Rasulullah kesulitan (berat) apa yang diturunkan?”
Beliau menjawab :
“Demi yang jiwaku ada ditanganNya, seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah) kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah) sementara dia punya tanggungan hutang maka dia tidak akan masuk surga sampai hutangnya dilunaskan”.”
(HR Nasa’i, Sahih Sunan Nasa’i 4367)
🟢 Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ
“Menunda membayar utang dalam keadaan mampu adalah sebuah kezaliman.”
(HR. Al-Bukhari no. 2222)
🟢 Ibnu Hajar al asqolani rahimahullah berkata :
“Yang dimaksud di dalam hadits ini adalah orang yang menunda-nunda pembayaran utangnya (setelah jatuh tempo) padahal dia mampu, walaupun miskin.”
(Lihat Fathul Bari 4/531)
DOA YANG PALING BANYAK DIBACA NABI
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” (Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka).” (Qs. Al Baqarah: 200-201)
Dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, beliau berkata :
ﻛَﺎﻥَ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﺩُﻋَﺎﺀِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺁﺗِﻨَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً ، ﻭَﻓِﻰ ﺍﻵﺧِﺮَﺓِ ﺣَﺴَﻨَﺔً ، ﻭَﻗِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
“Do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Allahumma Rabbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban naar” (Ya Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka)” (HR. Bukhari 2389 dan Muslim 2690)
Ibnu Hajar al Asqolani rahimahullah berkata :
لَمْ يَدْعُ نَبِيّ وَلَا صَالِح بِشَيْءٍ إِلَّا دَخَلَ فِي هَذَا الدُّعَاء
“Tidaklah seorang nabi maupun orang shalih berdoa melainkan mereka menggunakan doa ini.” (Fathul Bari, 2: 322)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” (Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka).” (Qs. Al Baqarah: 200-201)
Dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, beliau berkata :
ﻛَﺎﻥَ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﺩُﻋَﺎﺀِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺁﺗِﻨَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً ، ﻭَﻓِﻰ ﺍﻵﺧِﺮَﺓِ ﺣَﺴَﻨَﺔً ، ﻭَﻗِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
“Do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Allahumma Rabbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban naar” (Ya Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka)” (HR. Bukhari 2389 dan Muslim 2690)
Ibnu Hajar al Asqolani rahimahullah berkata :
لَمْ يَدْعُ نَبِيّ وَلَا صَالِح بِشَيْءٍ إِلَّا دَخَلَ فِي هَذَا الدُّعَاء
“Tidaklah seorang nabi maupun orang shalih berdoa melainkan mereka menggunakan doa ini.” (Fathul Bari, 2: 322)
DOA BUAT ANAK-ANAK
Disyariatkan untuk membacakan doa perlindungan bagi anak-anak kita.
Aku memintakan perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan para makhlukNya.
Boleh dengan menyebutkan nama anaknya satu persatu.
Dahulu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memintakan perlindungan untuk Hasan dan Husain, dengan kalimat Allah yang sempurna, agar dilindungi dari syetan, binatang berbisa dan mata yang hasad. Jadi memintakan perlindungan untuk anak-anak ini sudah dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Doa ini akan menjadi perlindungan kuat bagi mereka. Kita bisa mendoakan mereka setiap pagi atau sore.
Doa Nabi shalallahu alaihi wasallam kepada Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma :
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّة
“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap gangguan syaitan, binatang berbisa dan setiap mata orang yang dengki.” (HR.Bukharidalam Fathul Baari VI/408 no.3371)
Atau dengan kalimat:
أُعِيْذُ أَوْلَادِي بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ شَرِّ مَا خًلَقَ
*_Aku memintakan perlindungan untuk anak-anakku dengan kalimat-Nya yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya._*
Bisa pula dengan kalimat:
أُعِيْذُ فُلَانًا ابْنِي فُلَانًا .....
*_Aku memintakan perlindungan untuk fulan bin fulan....(selebihnya sama)
Dengan izin Allah, usaha ini akan menjadi benteng kokoh yang dibuat oleh ayah dan bunda dalam melindungi anak dari keburukan. Ini adalah bentuk tawakkal kepada Allah, menyerahkan urusan berat dan membuat stress orangtua, kepada Maha Penjaga makhluk-Nya.
Disyariatkan untuk membacakan doa perlindungan bagi anak-anak kita.
Aku memintakan perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan para makhlukNya.
Boleh dengan menyebutkan nama anaknya satu persatu.
Dahulu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memintakan perlindungan untuk Hasan dan Husain, dengan kalimat Allah yang sempurna, agar dilindungi dari syetan, binatang berbisa dan mata yang hasad. Jadi memintakan perlindungan untuk anak-anak ini sudah dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Doa ini akan menjadi perlindungan kuat bagi mereka. Kita bisa mendoakan mereka setiap pagi atau sore.
Doa Nabi shalallahu alaihi wasallam kepada Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma :
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّة
“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap gangguan syaitan, binatang berbisa dan setiap mata orang yang dengki.” (HR.Bukharidalam Fathul Baari VI/408 no.3371)
Atau dengan kalimat:
أُعِيْذُ أَوْلَادِي بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ شَرِّ مَا خًلَقَ
*_Aku memintakan perlindungan untuk anak-anakku dengan kalimat-Nya yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya._*
Bisa pula dengan kalimat:
أُعِيْذُ فُلَانًا ابْنِي فُلَانًا .....
*_Aku memintakan perlindungan untuk fulan bin fulan....(selebihnya sama)
Dengan izin Allah, usaha ini akan menjadi benteng kokoh yang dibuat oleh ayah dan bunda dalam melindungi anak dari keburukan. Ini adalah bentuk tawakkal kepada Allah, menyerahkan urusan berat dan membuat stress orangtua, kepada Maha Penjaga makhluk-Nya.
BERAMAL KARENA ALLAH, MENINGGALKAN AMAL KARENA ALLAH
🔴 Salamah bin Dinar rahimahullah berkata :
شيئان إذا عمِلت بهما أصَبْت بهما خير الدنيا والآخرة:
تعمل ما تكره إذا أحبَّه اللَّه، وتترك ما تحب إذا كرهه اللَّه.
“Ada dua perkara yang jika engkau lakukan, engkau akan meraih kebaikan dunia dan akhirat: Engkau melakukan sesuatu yang tidak engkau sukai jika Allah mencintainya, dan Engkau meninggalkan sesuatu yang engkau sukai jika Allah membencinya.”
(Al-Ma’rifah wat Tarikh, jilid 1, hlm. 381)
🔴 Malik bin Dinar rahimahullah mengatakan :
إِنَّ الْبَدَنَ إِذَا سَقَمَ لَا يَنْجَعُ فِيهِ طَعَامٌ وَلَا شَرَابٌ وَ لَا نَوْمٌ وَ لَا رَاحَةٌ. وَ كَذَلِكَ الْقَلْبُ إِذَا عَلَّقَ حُبُّ الدُّنْيَا لَمْ يَنْجِعْ فِيهِ الْمَوَاعِظُ
“Sesungguhnya apabila badan sakit, maka makan, minum, tidur, dan istirahat tidak enak baginya. Begitu juga dengan hati, apabila sudah terpaut dengan cinta kepada dunia, maka nasihat-nasihat tidak lagi berguna baginya.”
Sifatush Shafwah : 3/ 278
🔴 Syaikh muhammad bin shalih ‘Utsaimin rahimahullah berkata :
الدنيا مزرعة الآخرة فإذا لم يزرع فيها لآخرته فقد خسرها وخسر آخرته
“Kehidupan dunia adalah ladang untuk kehidupan akhirat. Apabila seseorang tidak bercocok tanam di dunia untuk (mempersiapkan) akhiratnya, sungguh dia telah merugikan kehidupan dunia sekaligus merugikan akhiratnya.”
(adh-Dhiya al-Lami’ 1/65)
🔴 Salamah bin Dinar rahimahullah berkata :
شيئان إذا عمِلت بهما أصَبْت بهما خير الدنيا والآخرة:
تعمل ما تكره إذا أحبَّه اللَّه، وتترك ما تحب إذا كرهه اللَّه.
“Ada dua perkara yang jika engkau lakukan, engkau akan meraih kebaikan dunia dan akhirat: Engkau melakukan sesuatu yang tidak engkau sukai jika Allah mencintainya, dan Engkau meninggalkan sesuatu yang engkau sukai jika Allah membencinya.”
(Al-Ma’rifah wat Tarikh, jilid 1, hlm. 381)
🔴 Malik bin Dinar rahimahullah mengatakan :
إِنَّ الْبَدَنَ إِذَا سَقَمَ لَا يَنْجَعُ فِيهِ طَعَامٌ وَلَا شَرَابٌ وَ لَا نَوْمٌ وَ لَا رَاحَةٌ. وَ كَذَلِكَ الْقَلْبُ إِذَا عَلَّقَ حُبُّ الدُّنْيَا لَمْ يَنْجِعْ فِيهِ الْمَوَاعِظُ
“Sesungguhnya apabila badan sakit, maka makan, minum, tidur, dan istirahat tidak enak baginya. Begitu juga dengan hati, apabila sudah terpaut dengan cinta kepada dunia, maka nasihat-nasihat tidak lagi berguna baginya.”
Sifatush Shafwah : 3/ 278
🔴 Syaikh muhammad bin shalih ‘Utsaimin rahimahullah berkata :
الدنيا مزرعة الآخرة فإذا لم يزرع فيها لآخرته فقد خسرها وخسر آخرته
“Kehidupan dunia adalah ladang untuk kehidupan akhirat. Apabila seseorang tidak bercocok tanam di dunia untuk (mempersiapkan) akhiratnya, sungguh dia telah merugikan kehidupan dunia sekaligus merugikan akhiratnya.”
(adh-Dhiya al-Lami’ 1/65)
*KISAH PASIEN YANG MENGALAMI SEKARAT*
_Malaikat Azab Di Kamar 2205_
Hari itu, sabtu, 6 Sya'ban 1406 H. Saya menerima panggilan telepon. Saya sholat maghrib di masjid rumah sakit.
Beberapa saat setelah selesai sholat, perawat menelpon saya:
"Ya dokter, pasien fulan, infus di tangan kanannya berhenti bekerja. Kami ingin anda memindahkan infusnya di tangan kirinya".
Maka akupun mendatanginya. Pasien ini telah kami tangani selama 6 bulan. 5 bulan saya berbicara dengannya dan dia berbicara denganku. Dan pada bulan ke 6, dia benar-benar dalam kondisi koma. Dan itu disebabkan kanker telah menyebar ke bagian otak, dan dia tidak bisa bergerak.
Akupun mendatanginya, dan dia sudah hilang penglihatannya. Aku mendatanginya, aku mengambil tangan kirinya mencari urat nadi. Tiba-tiba aku terkaget.
Pasien: Siapa ini?
Dokter: Khalid
Pasien: Dr. Khalid?
Dr: Ya
Pasien: Sedang mencari apa dok?
Dokter: Saya mencari urat nadimu untuk memindahkan infusnya.
Pasien: Tidak usah. Jangan bebani dirimu.
Dokter: Mengapa?
Pasien: Aku Mayit
Dokter: Tidak, anda bukan mayit
Dan aku terus mencoba, setiap kali aku mencoba dia selalu bilang,"Ya dokter, aku mayit". Aku jawab,"Anda tidak mati".
Tatkala ia berkata seperti itu, aku berusaha berkali-kali memasukkan infus, hingga ia berkata padaku,"Ya dokter, aku mayit, aku lihat apa yang anda tidak lihat".
Aku jawab,"Anda tidak mati. Dia jawab kembali,"Dokter, aku mayit, aku lihat apa yang tidak anda lihat. AKu melihat, malaikat Azab di hadapanku sekarang".
Lalu tangannya terlepas dari genggamanku. Para malaikat azab di kamar no.2205? lantai dua gedung no. 100 di Rumah Sakit Militer kota Riyadh. Para malaikat azab berada di ruangan yang aku di dalamnya?.
Ikhwani, saat itu bulu kudukku semuanya berdiri. Aku merasa seperti mereka sedang berada di belakangku.
Dapatkah anda bayangkan, anak 3 tahun ketika ada yang menakut-nakutinya?.
Kisahnya terhenti di sini, karena setelah itu sang dokter, Khalid, menggunakan bahasa amiyah (bahasa tidak baku), penerjemah tidak paham untuk mengalihbahasakan ke bahasa Indonesia.
Tapi semoga yang sedikit ini, dapat menyadarkan kita, bahwa azab sebelum kematian itu ada, kemudian azab kubur, untuk kemudian menantikan azab yang sebenarnya, di yaumil qiyamah.
Pengadilan ALlah, pengadilan adil, mengadili semua manusia-manusia yang pernah bersalah. Bagi yang mendapatkan rahmat Allah, Allah mengampuni dosa-dosanya, bagi tidak, harus masuk ke dalam neraka menerima konsekuensi dari perbuatannya selama di dunia.
_Malaikat Azab Di Kamar 2205_
Hari itu, sabtu, 6 Sya'ban 1406 H. Saya menerima panggilan telepon. Saya sholat maghrib di masjid rumah sakit.
Beberapa saat setelah selesai sholat, perawat menelpon saya:
"Ya dokter, pasien fulan, infus di tangan kanannya berhenti bekerja. Kami ingin anda memindahkan infusnya di tangan kirinya".
Maka akupun mendatanginya. Pasien ini telah kami tangani selama 6 bulan. 5 bulan saya berbicara dengannya dan dia berbicara denganku. Dan pada bulan ke 6, dia benar-benar dalam kondisi koma. Dan itu disebabkan kanker telah menyebar ke bagian otak, dan dia tidak bisa bergerak.
Akupun mendatanginya, dan dia sudah hilang penglihatannya. Aku mendatanginya, aku mengambil tangan kirinya mencari urat nadi. Tiba-tiba aku terkaget.
Pasien: Siapa ini?
Dokter: Khalid
Pasien: Dr. Khalid?
Dr: Ya
Pasien: Sedang mencari apa dok?
Dokter: Saya mencari urat nadimu untuk memindahkan infusnya.
Pasien: Tidak usah. Jangan bebani dirimu.
Dokter: Mengapa?
Pasien: Aku Mayit
Dokter: Tidak, anda bukan mayit
Dan aku terus mencoba, setiap kali aku mencoba dia selalu bilang,"Ya dokter, aku mayit". Aku jawab,"Anda tidak mati".
Tatkala ia berkata seperti itu, aku berusaha berkali-kali memasukkan infus, hingga ia berkata padaku,"Ya dokter, aku mayit, aku lihat apa yang anda tidak lihat".
Aku jawab,"Anda tidak mati. Dia jawab kembali,"Dokter, aku mayit, aku lihat apa yang tidak anda lihat. AKu melihat, malaikat Azab di hadapanku sekarang".
Lalu tangannya terlepas dari genggamanku. Para malaikat azab di kamar no.2205? lantai dua gedung no. 100 di Rumah Sakit Militer kota Riyadh. Para malaikat azab berada di ruangan yang aku di dalamnya?.
Ikhwani, saat itu bulu kudukku semuanya berdiri. Aku merasa seperti mereka sedang berada di belakangku.
Dapatkah anda bayangkan, anak 3 tahun ketika ada yang menakut-nakutinya?.
Kisahnya terhenti di sini, karena setelah itu sang dokter, Khalid, menggunakan bahasa amiyah (bahasa tidak baku), penerjemah tidak paham untuk mengalihbahasakan ke bahasa Indonesia.
Tapi semoga yang sedikit ini, dapat menyadarkan kita, bahwa azab sebelum kematian itu ada, kemudian azab kubur, untuk kemudian menantikan azab yang sebenarnya, di yaumil qiyamah.
Pengadilan ALlah, pengadilan adil, mengadili semua manusia-manusia yang pernah bersalah. Bagi yang mendapatkan rahmat Allah, Allah mengampuni dosa-dosanya, bagi tidak, harus masuk ke dalam neraka menerima konsekuensi dari perbuatannya selama di dunia.
Forwarded from MUSTANIR ONLINE
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
Pancasila dan NKRI Dalam Pandangan Islam | Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi
*Materi Khutbah - 14 Okt 2022*
_Benarkah Allah Tempat Bergantung Segala Sesuatu?_
(Anas Rusli, S.Si - Pendiri Sekolah Konselor Keluarga Indonesia)
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَةِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ, اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْءَانِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Allah berfirman:
*_Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna._* (QS. al-Isra[17]:70)
Allah mempertegas lagi dalam firman-Nya:
*_Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya_*. (QS. at-Tin[95]:4)
Juga firman-Nya:
*_Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur._* (QS. as-Sajdah[32]:9)
Penciptaan diri-diri kita ini adalah amanah yang harus dijaga, digunakan sesuai peruntukkan dan sesuai apa yang diperintahkan oleh Sang Pencipta. Pertama, untuk seluas-luasnya memakmurkan bumi beserta seluruh isinya, untuk dimanfaatkan seluruh penghuni alam semesta. Kedua, untuk menghambah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:
*_Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku._* (QS. adz-Dzariyat[51]:56)
Namun, sayangnya banyak sekali yang melupakan nikmat dan amanah ini, sehingga tidak mensyukurinya untuk kebaikan dan ketaatan kepada-Nya.
Maka penting, kita mengembalikan kehidupan kita kepada tuntunan Allah dan Rasul-Nya, agar menjadi hamba-Nya yang selalu bersyukur dengan dua hal:
1. Menggunakan segala potensi, kecerdasan, pengetahuan untuk kebaikan dan kepentingan umat manusia
2. Meniatkan semua amal perbuatan hanya untuk Allah, semata-mata menghamba kepada Allah
Dahulu, kafir Quraisy, menguji Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dengan bertanya:
صِفْ لَنَا رَبُّكَ
*_Tolong, gambarkan kepada kami Tuhanmu itu seperti apa._*
Karena pertanyaan ini, maka Allah mewahyukan kepada Rasulullah surat al-Ikhlas, yang dikatakan setara 1/3 al-Quran kandungannya. Surat ini mengajarkan kita umat Islam, fondasi tauhid yang harus mewujud dalam dada-dada setiap muslim/ah. Isi kandungannya adalah:
1. Allah itu Esa
2. Allah tempat segala sesuatu bergantung
3. Allah tidak melahirkan, juga tidak dilahirkan
4. Allah, tidak ada yang sama atau setara dengan-Nya.
Pertanyaan untuk umat Islam? apakah kalian sudah merealisasikan ke empat hal di atas dalam kehidupan? sudahkah kita menjadikan Allah satu-satunya yang kita sembah? sudahkah menjadikan Allah satu-satunya tempat bergantung, meminta, memohon kesuksesan hidup, bisnis, pekerjaan, rumah tangga, keshalihan anak, dan sebagainya? Adakah tandingan-tandingan Allah di dalam kehidupan kita?. Pertanyaan-pertanyaan yang harus jujur kita jawab. Dan ternyata jawabannya masih banyak di antara kita belum menjadikan Allah satu-satunya yang disembah, satu-satunya yang diharapkan, digantungkan, dan ternyata masih banyak di antara kita menjadikan makhluk-Nya sebagai tandingan-tandingan dalam kehidupan. Wal'iyaadzubillah.
Maka tidak ada solusi lain, kita harus kembali kepada prinsip tauhid yang benar, sesuai kandungan surat al-Ikhlas. Inilah yang membedakan kita muslim dengan kafir:
1. Menjadikan Allah satu-satunya sembahan - Mukhlishiina lahud diin
2. Menjadikan Allah satu-satunya tempat bergantung, berharap, meminta. Tidak menduakan dengan makhluk-Nya.
_Benarkah Allah Tempat Bergantung Segala Sesuatu?_
(Anas Rusli, S.Si - Pendiri Sekolah Konselor Keluarga Indonesia)
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَةِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ, اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْءَانِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Allah berfirman:
*_Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna._* (QS. al-Isra[17]:70)
Allah mempertegas lagi dalam firman-Nya:
*_Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya_*. (QS. at-Tin[95]:4)
Juga firman-Nya:
*_Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur._* (QS. as-Sajdah[32]:9)
Penciptaan diri-diri kita ini adalah amanah yang harus dijaga, digunakan sesuai peruntukkan dan sesuai apa yang diperintahkan oleh Sang Pencipta. Pertama, untuk seluas-luasnya memakmurkan bumi beserta seluruh isinya, untuk dimanfaatkan seluruh penghuni alam semesta. Kedua, untuk menghambah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:
*_Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku._* (QS. adz-Dzariyat[51]:56)
Namun, sayangnya banyak sekali yang melupakan nikmat dan amanah ini, sehingga tidak mensyukurinya untuk kebaikan dan ketaatan kepada-Nya.
Maka penting, kita mengembalikan kehidupan kita kepada tuntunan Allah dan Rasul-Nya, agar menjadi hamba-Nya yang selalu bersyukur dengan dua hal:
1. Menggunakan segala potensi, kecerdasan, pengetahuan untuk kebaikan dan kepentingan umat manusia
2. Meniatkan semua amal perbuatan hanya untuk Allah, semata-mata menghamba kepada Allah
Dahulu, kafir Quraisy, menguji Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dengan bertanya:
صِفْ لَنَا رَبُّكَ
*_Tolong, gambarkan kepada kami Tuhanmu itu seperti apa._*
Karena pertanyaan ini, maka Allah mewahyukan kepada Rasulullah surat al-Ikhlas, yang dikatakan setara 1/3 al-Quran kandungannya. Surat ini mengajarkan kita umat Islam, fondasi tauhid yang harus mewujud dalam dada-dada setiap muslim/ah. Isi kandungannya adalah:
1. Allah itu Esa
2. Allah tempat segala sesuatu bergantung
3. Allah tidak melahirkan, juga tidak dilahirkan
4. Allah, tidak ada yang sama atau setara dengan-Nya.
Pertanyaan untuk umat Islam? apakah kalian sudah merealisasikan ke empat hal di atas dalam kehidupan? sudahkah kita menjadikan Allah satu-satunya yang kita sembah? sudahkah menjadikan Allah satu-satunya tempat bergantung, meminta, memohon kesuksesan hidup, bisnis, pekerjaan, rumah tangga, keshalihan anak, dan sebagainya? Adakah tandingan-tandingan Allah di dalam kehidupan kita?. Pertanyaan-pertanyaan yang harus jujur kita jawab. Dan ternyata jawabannya masih banyak di antara kita belum menjadikan Allah satu-satunya yang disembah, satu-satunya yang diharapkan, digantungkan, dan ternyata masih banyak di antara kita menjadikan makhluk-Nya sebagai tandingan-tandingan dalam kehidupan. Wal'iyaadzubillah.
Maka tidak ada solusi lain, kita harus kembali kepada prinsip tauhid yang benar, sesuai kandungan surat al-Ikhlas. Inilah yang membedakan kita muslim dengan kafir:
1. Menjadikan Allah satu-satunya sembahan - Mukhlishiina lahud diin
2. Menjadikan Allah satu-satunya tempat bergantung, berharap, meminta. Tidak menduakan dengan makhluk-Nya.
Semoga kita bisa istiqomah menjalankannya, menjadi hamba Rabbani, aamiin.
أقول قول هذا وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَ نَعُوْذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّأَتِ أَعْمَا لِنَا, مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ. اَللَّهُمَّ صََلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَا بِهِ وَمَنْ وَالَهُ. أَمّاَ بَعْدُ فَيَا عِبَا دَاللهِ أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ حَقَّ تَقْوَاهُ, لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ. وَالصَّلاَ ةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلإِ خْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ, وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْ بِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفُ الَّرَحِيْمٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ, وَالْمُؤْمِنَاتِ, اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ, إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ, ياَ قاَضِيَ الْحَاجَاتِ.
اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقاً وَارْزُقْنَا اِتِّبَاعَهُ, وَأَرِنَا الْبَا طِلاً وَارْزُ قْنَا اجْتِنَابَهُ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًَا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاًَ مُتَقَبَّلاً.
رَبَّنَا اَتِنََا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ الِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
أقول قول هذا وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَ نَعُوْذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّأَتِ أَعْمَا لِنَا, مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ. اَللَّهُمَّ صََلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَا بِهِ وَمَنْ وَالَهُ. أَمّاَ بَعْدُ فَيَا عِبَا دَاللهِ أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ حَقَّ تَقْوَاهُ, لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ. وَالصَّلاَ ةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلإِ خْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ, وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْ بِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفُ الَّرَحِيْمٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ, وَالْمُؤْمِنَاتِ, اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ, إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ, ياَ قاَضِيَ الْحَاجَاتِ.
اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقاً وَارْزُقْنَا اِتِّبَاعَهُ, وَأَرِنَا الْبَا طِلاً وَارْزُ قْنَا اجْتِنَابَهُ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًَا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاًَ مُتَقَبَّلاً.
رَبَّنَا اَتِنََا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ الِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.