BERILMU DENGAN BUKU
63 subscribers
738 photos
27 videos
20 files
532 links
Channel edukasi seputar Aqidah, Ibadah, Muamalah, Pengembangan diri dan Keluarga, Bisnis, Marketing dan Rekomendasi Buku
Download Telegram
Gadis itu melihat dengan keadaan sangat cemas dengan apa yang dilihatnya. Setelah beberapa saat, pemuda ini berteriak karena panasnya api lilin. Dia berlari keluar rumah dan meninggalkan si gadis di dalam rumahnya.

Setelah malam beranjak naik hingga berlalu mayoritas waktunya, di mana pemuda ini menghabiskannya di luar rumah, dia kembali ke rumahnya dan tidak melihat gadis tersebut. Pemuda ini mengucapkan hamdalah atas keselamatannya dari situasi dosa tersebut. Dia berkata dalam dirinya, “Bila aku tidak kuat menahan panas api lilin kecil itu, mana mungkin aku kuat menahan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu? Tidak, aku tidak akan kuat. Tidak.”

Ketika gadis itu pulang ke rumahnya, dia semakin mencintai pemuda tersebut. Gadis itu sadar bahwa pemuda itu tidak menginginkan dirinya lewat jalan haram.

Gadis itu merenungkan bagaimana jalan untuk mendapatkan pemuda itu ? Akhirnya dia berkata, “Aku harus menikah dengannya. Harus!”

Gadis itu berbicara kepada ayahnya tentang pemuda itu dan bahwa dia ingin menikah dengannya. Ayahnya yang memang tidak memiliki harapan yang lebih besar daripada menikahkan putrinya dengan pemuda yang baik dan shalih itu, langsung menemuinya esok paginya. Dia berkata, “Putraku, aku ingin menikahkanmu dengan putriku.”
Pemuda itu setuju. Saat itu sang pemuda teringat bahwa barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Saat dia meninggalkan sesuatu yang haram karena takut kepada Allah, maka Allah memberinya sesuatu itu dari jalan yang halal.

Sumber :
Dinukil dari, “Shuwarun Min al-‘Iffah”, Muhammad bin Abdurrahman al-Ajmi, ei, hal. 21-27

Amar Abdullah bin Syakir
Leluhur Kita dan Sikap Memelihara Kehormatan Diri

(Kisah Jauhnya Mereka dari Berzina)

Dulu sebelum ada minyak, mata pencaharian penduduk Kuwait adalah bekerja di laut, baik itu menyelam atau berniaga dengan mengarungi laut. Sudah dikenal di timur dan barat bahwa penduduk Kuwait adalah orang-orang yang amanah, memelihara kehormatan diri dan jujur.

Agar kami bisa membuktikan kata-kata ini maka kami mengajak pembaca kembali ke zaman penuh berkah tersebut. Zaman miskin, tetapi kaya di bidang amanah dan kesucian hati. Sebagian saudagar Kuwait berangkat dalam sebuah perjalanan niaga ke Mozambik. Nahkoda perjalanan ini adalah Haji Isa al-Utsman.

Sang nahkoda berkisah,

“Kami tiba di Mozambik, kami diterima sebagai tamu pada seorang laki-laki Oman yang tinggal di sana. Dia tinggal di sana sebagai duta untuk Inggris yang menangani urusan-urusan perdagangan di sana, seperti ekspor impor teh, gula, kayu dan lainnya. Kami tinggal padanya beberapa hari.

Saat kami hendak pulang, laki-laki Oman berkata kepadaku, ‘Nahkoda Isa,aku punya amanat yang ingin aku kirimkan ke Muskat.

Aku menjawab, ‘Apa amanat tersebut?’

Dia menjawab,’Saudara perempuanku. Dia datang dari Muskat ke sini beberapa bulan yang lalu, dia tinggal bersamaku, dan saat ini dia ingin pulang ke Oman.’

Aku menjawab, ‘Amanat yang sangat berat, seperti memikul gunung. Bagaimana sementara aku mengepalai 50 orang pelaut, perjalananku ke sana memakan waktu kurang lebih sebulan. Maaf aku tidak mampu.’

Dia berkata, ‘Demi Allah, aku sudah menimbang masak-masak, aku tidak mendapatkan orang yang aku merasa tenang menyerahkan amanatku ini kepadanya kecuali kalian wahai orang-orang Kuwait.’

Aku menjawab, ‘Boleh aku tahu alasannya. Mengapa engkau sebegitu yakin dan percaya kepada kami ?’

Dia menjawab, ‘Kalian memiliki kepribadian yang baik, yang bersumber dari agama kalian. Agama itulah yang menjaga kalian sehingga kalian tidak berbuat mungkar.’

Aku berkata sambil menepukkan salah satu tanganku ke lainnya, ‘Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah’.” Nahkoda itu bertawakkal kepada Allah.

Dia menulis surat kesepahaman yang isinya tentang nama gadis tersebut dan umurnya, dan bahwa dia adalah gadis perawan. Nahkoda itu menorehkan tanda tangan, demikian juga laki-laki Oman itu. Tak lupa para saksi ikut bertanda tangan.

Tak lama setelah itu, kapal laut bergerak membawa orang-orang Kuwait menuju negeri mereka. Mereka singgah di Muskat dan mengantarkan gadis tersebut ke keluarganya di sana.

Sepanjang perjalanan, atap mereka adalah langit dan bumi mereka adalah laut. Terjadilah apa yang diduga oleh laki-laki Oman, yaitu sikap memelihara kesucian diri dan amanah orang-orang Kuwait. Nahkoda Utsman berkata tentang awak kapalnya, bahwa tidak seorang pun dari mereka yang mendekat ke tempat di mana gadis tersebut berada. Bila seorang dari mereka memerlukan sesuatu yang penting yang ada di sana, maka mereka menemui nahkoda. Mereka meminta sang nahkoda mengambil apa yang mereka butuhkan yang ada di dekat gadis.
Gadis itu berada di salah satu sudut kapal. Saat awak kapal harus lewat, dia lewat sejauh mungkin dari si gadis dan meletakkan telapak tangannya di wajahnya agar tidak melihat si gadis. Hingga akhirnya tibalah kapal mereka di Muskat. Mereka menyerahkannya kepada keluarganya. Sebuah amanat yang sangat berat. Mereka menandatangani surat penyerahan, begitu juga saksi-saksinya.

Nahkoda Utsman berkata, “Setelah aku menyerahkannya kepada keluarganya, seolah-olah gunung diangkat dari punggungku.”

Para awak kapal yang laki-laki, seorang gadis di tengah-tengah mereka selama sebulan penuh. Mereka sama sekali tidak melihat kepadanya, tidak dengan kebaikan, tidak pula dengan keburukan, apalagi berbicara dengannya dengan keburukan atau mengganggunya.

Betapa mulia para leluhur kita tersebut, yang agama mengajari mereka tentang sikap memelihara kesucian diri, amanah dan menundukkan pandangan. Semoga Allah menjadikan kita semuanya, anak-anak yang meniti jalan hidup para leluhur kita dalam segala sifat-sifat kebaikan. Aamiin
Kisah nyata di atas, yang terjadi pada orang-orang Kuwait ini, mengingatkan saya pada sebuah kejadian di zaman manusia terbaik, Muhammad bin Abdullah-صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – . Saat Muqaiqis menghadiahi Rasulullah-صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – seorang tabib, seekor keledai dan seorang hamba sahaya, Mariyah al-Qibtiyah, yang mana menjadi Ummul Mukminin setelah Rasulullah -صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – yang mulia menikahinya.

Tahukah kalian para pembaca yang budiman, bagaimana Mariyah-رضي الله عنها – – masuk islam ?

Dia berkisah,

“Aku berangkat dari Mesir ke Madinah Munawwarah dengan berjalan kaki.” Sebuah perjalanan yang panjang. Dalam perjalanan, dia bersama beberapa orang sahabat. Mereka adalah orang-orang yang Rasulullah -صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – kirim kepada al-Muqaiqis.

Para sahabat meminta Mariyah berjalan di belakang mereka. Mariyah berkata, “Tak seorang pun dari mereka melihatku dengan pandangan yang mencurigakan … pandangan syahwat-para sahabat memang tidak mungkin berbuat demikian-. Mereka benar-benar menjagaku lebih dari saudara-saudaraku menjagaku. Maka aku sadar bahwa sebuah agama yang mengajari amanat dan memelihara kesucian diri seperti ini adalah agama akhlak dan agama yang benar. Maka aku pun masuk islam.”

Semoga Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى -meridhai para sahabat, dan semoga Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – merahmati para leluhur kita dari orang-orang Kuwait, orang-orang yang senantiasa memelihara kesucian diri dan kebersihan hati, Aamiin.


Sumber :
Dinukil dari, “Shuwarun Min al-‘Iffah”, Muhammad bin Abdurrahman al-Ajmi, ei, hal. 57-62

Amar Abdullah bin Syakir
SAYA HANBALI

Saya hanbali. Hanbalisme dalam diri sudah tumbuh ketika saya masih umur dua belas atau tiga belas tahu. Ketika masa itu saya takjub dengan pribadi Imam Ahmad dan Imam Ibnu Taimiyyah. Dan ketika kuliah di Al-Azhar saya dengan mantap memilih mandzhab hanbali.

Dengan itu saya menjadi mahasiswa Indonesia bahkan Asia Tenggara yang pertamakali muqoyyad sebagai tholib hanbali di Al-Azhar.

Jadi hanbalisme dalam diri saya bukan baru tumbuh kemarin sore dan bukan baru seumuran jagung. Justru sudah puluhan tahun. Meskipun begitu saya tidak membanggakan dan menjadi besar hati dengan hanbalisme tersebut.

Sebagai seorang hanbali saya punya ulama rujukan dalam akidah, fiqh, tashawuf, siyasah, muamalah, dan bersikap kepada orang yang berbeda.

Sebagian ikhwan yang tak bermadzhab dan sangat dipengaruhi ulama Saudi memandang aneh sikap saya yang bertarohhum dan mendoakan Syaikh Yusuf Al-Qorodhowi. Mereka memandang sikap saya berbeda dengan sebagian masyaikh Saudi yang gembira dengan wafatnya Syaikh Al-Qorodhowi.

Sebagai seorang hanbali lebih utama saya mengikuti Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, Imam Ibnu Taimiyyah, Imam Ibnu Rojab dll.

Imam Ahmad bertarohhum dan memohonkan ampunan bagi Khalifah Al-Makmun. Padahal ia seorang yang berakidah muktazilah/jahmiyyah yang punya i'tiqod kufur, menzalimi para ulama sunnah, membunuh sebagian mereka, memecat para qudhot yang tak mau ikuti kebijakannya yang kental muktazilah/jahmiyyah, serta memutus dan menyempitkan rezeki mereka.

Imam Abu Dawud bertarohhum kepada Imam Abu Hanifah. Padahal Abu Hanifah adalah salah satu imamnya kelompok yang disebut murji`ah fuqoha. Dan konon pernah diminta taubat sebanyak tiga kali. Abu Dawud tetap mengatakan: "Semoga Allah memberikan rahmat kepada Abu Hanifah. Adalah ia seorang imam."

Keluarga Tamimiyyun di Baghdad punya hubungan yang sangat dekat dengan Qodhi Abu Bakar Al-Baqillani. Dan Al-Baqillani juga merasa sangat dekat dengan mereka. Sampai-sampai ketika menjawab sebuah pertanyaan Al-Baqillani menyebut dirinya dengan "alhanbali".

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah orang yang paling antusias mendamaikan Hanabilah dan Asy'ariyyah. Imam Ibnul Qoyyim menceritakan dalam Madarij As-Salikin keagungan pribadi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:
وكان بعضُ أصحابِه الأكابرِ يقولُ: وَدِدتُ أنِّي لِأصحابي مِثلُه لِأعدائِه وخُصومِه! وما رأيتُه يَدعو على أحَدٍ منهم قَطُّ، وكان يدعو لهم. وجئتُ يَومًا مُبشِّرًا له بمَوتِ أكبَرِ أعدائِه، وأشدِّهم عداوةً وأذًى له، فنَهَرني، وتنكَّرَ لي، واستَرجَع، ثم قامَ مِن فَوْرِه إلى بَيتِ أهلِه فعَزَّاهم، وقال: إنِّي لكم مكانَه، ولا يكونُ لكم أمرٌ تحتاجون فيه إلى مُساعدةٍ إلَّا وساعَدتُكم فيه. ونَحوَ هذا مِنَ الكلامِ، فسُرُّوا به، ودعَوْا له، وعظَّموا هذه الحالَ منه، فرحمه اللهُ، ورَضيَ عنه.
"Sebagian sahabat senior dari Ibnu Taimiyyah berkata, "Saya ingin sahabat-sahabatku seperti Ibnu Taimiyyah yang bersikap baik kepada musuh-musuh dan lawan-lawannya." Saya sama sekali tak pernah melihatnya mendoakan keburukan atas seseorang dari mereka. Justru ia mendoakan kebaikan bagi mereka. Suatu hari saya datang kepadanya membawa berita gembira atas kematian musuh besarnya serta paling keras memusuhi dan menyakiti dirinya. Namun, ia justru mencelaku dan mengingkari perbuatanku serta mengucapkan istirja'. Kemudian ia berdiri dan buru-buru pergi kerumah keluarganya dan mengucapkan takziyah pada nereka. Ibnu Taimiyyah berkata: "Sesungguhnya saya sekarang menjadi pengganti kedudukan ayah kalian. Apapun keperluan kalian yang butuh bantuan padanya pasti akan aku bantu kalian." Maka, mereka sangat gembira dengan ucapan tersebut, mendoakan kebaikan baginya, serta sangat memuja keagungan pribadinya.
Semoga Allah selalu memberikan rahmat kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan meridhoinya."
Tak berhenti di situ. Bahkan Syaikh As-Saffarini dalam Lawami' Al-Anwar mengatakan asy'ariyyah termasuk ahlussunnah. Ia mengatakan begitu padahal tahu asy'ariyyah punya penyimpangan dalam akidah. Ia berkata:
أهل السنة والجماعة ثلاث فرق: الأثرية: وإمامهم أحمد بن حنبل رضي الله عنه، والأشعرية: وإمامهم أبو الحسن الأشعري، والماتريدية: وإمامهم أبو منصور الماتريدي
"Ahlussunnah ada tiga kelompok: Atsariyyah, imamnya adalah Ahmad bin Hanbal rodhiyallahu 'anhu; Asy'ariyyah, imamnya adalah Abul Hasan Al-Asy'ari; dan Maturidiyyah, imamnya adalah Abu Manshur Al-Maturidi."

Saya sekalipun memandang asy'ariyyah keliru dalam masalah iman, asma dan sifat, mashodir talaqqi dll namun tak mengurangi sedikitpun sikap saya dalam muamalah kepada mereka yang hidup maupun yang wafat. Bahkan saya mendukung penuh ulama asy'ariyyah yang mau menegakkan syariat dan keadilan dalam bingkai NKRI.

Banyak orang yang akidahnya atsariyyah namun dalam banyak sisi mencerminkan orang zalim dan ahlul bid'ah.

Ada orang-orang yang berakidah asy'ariyyah namun dalam banyak sisi: kezuhudan, kewaroan, kesungguhan menuntut ilmu, muamalah, adab dan suluk dll justru mencerminkan imam-imam dan ulama atsariyyah.

Ikhwani, nilai orang di dunia dilihat pada tiga hal saja: ketakwaan, kewaroan, serta sikap adil dan inshofnya. Jangan melihat orang dari para pencinta maupun musuhnya. Para pembenci cenderung mencela karena hawa nafsu dan kemarahan manjauhkannya dari sikap inshof.
Sementara para pemuja cenderung memuji secara berlebihan karena kecintaan membawanya menutup mata atas kekurangan bahkan kekurangan malahan dipandang sebagai kebaikan.

(Ust. Lutfi Hafidin)
*Saat Turun Hujan*

Hujan turun kepada kita adalah karena karunia dan rahmat dari ALlah. Maka ucapan seorang mukmin saat hujan turun adalah:
الَّلهُمَّ اجْعَلْهُ صَيِّبًا نَافِعًا
*_Ya Allah jadikanlah hujan ini bermanfaat_*.

Seorang mukmin memohon keberkahan kepada Allah ta'ala dala hujan tersebut. Karena yang terpenting adalah keberkahan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
لَيْسَ السَّنَةُ أَلَّا تُمْطَرُوا وَلَكِنَّ السَّنَةَ أَنْ تُمْطَرُوا ثُمَّ تُمْطَرُو وَلَا تُنْبِتُ الأَرْضُ شَيئًا
*_Paceklik itu bukanlah tidak turun hujan, tetapi paceklik adalah hujan sering turun tetapi bumi tidak menumbuhkan apapun._* (HR. Muslim No.2904)

Makna paceklik adalah kemarau.

Maka sunnahnya ketika turun hujan adalah menyandarkan hujan kepada Allah Ta'ala dengan berdoa:
مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ الَّلهُمَّ اجْعَلْهُ صَيِّبًا نَافِعًا
*_Hujan turun kepada kita karena karunia dan rahmat Allah. Ya Allah jadikanlah hujan ini bermanfaat_*.

Kebiasaan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila turun hujan, beliau membuka kain di kepalanya, lalu membiarkan air hujan mengenai badan dan kepalanya. Lalu beliau bersabda:
إِنَّ هَذَا حَدِيْثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ
Sesungguhnya hujan ini baru dari Rabbnya_*. (HR. Muslim No.898)

Makna sabda beliau *baru dari Rabbnya*, yaitu baru diciptakan Allah Ta'ala sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.
DOA KEPASRAHAN TOTAL KEPADA ALLAH DIAWAL HARI


الَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُوا فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ
*_ Ya Allah aku berharap rahmatMu. Karena itu, janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata. Perbaikilah semua urusanku. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau._* (HR. Abu Dawud No.5090)

Pagi yang dimulai dengan doa ini menjadi pagi yang penuh kebaikan dan hari yang penuh keberkahan.

Karena engkau berlepas diri dari kekuatanmu, kecerdasanmu, pengalamanmu dan setersunya, lalu engkau serahkan urusanmu kepada Dzat Yang Mengatur Urusan.

Oleh karena itu semangatlah membaca doa yang agung ini. Doa yang berisi penyerahan diri, tawakkal dan permohonan bantuan kepada Allah subhanahu wa Ta'ala.

Barangsiapa memohon bantuan kepada ALlah, Allah akan membantunya. Barangsiapa bertawakkal kepada ALlah, Allah akan mencukupinya.
*KEUTAMAAN ABU BAKAR*

Pernah terjadi pertengkaran kecil antara Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma. Abu Bakar ash-Shiddiq memiliki tabiat yang sensitif, dan hal ini termasuk perkara fitrah manusia, perasaannya sensitif dan cepat marah.

Umar mengatakan sesuatu dan Abu Bakar juga mengatakan hal lain. Namun Abu Bakar sedikit melebihkan balasannya, sehingga ia menyesal. Maka Abu Bakar berkata pada Umar:
*_Maafkan aku atas ucapan yang aku katakan itu_*.

Tetapi Umar menjawab:
*_Aku tidak mau memberimu maaf_*. Lalu ia pergi.

Bagaimana kamu mengatakan itu padaku? Allahu a'lam, apa yang dikatakan Abu Bakar, tetapi ia mengatakan hal yang mengganggu perasaan Umar. Abu Bakar berkata,"Maafkan aku". Umar menjawab,"Aku tidak memaafkanmu". Lalu Umar pergi.

Saat Umar pergi, Abu Bakar menjadi sedih atas kejadian yang menimpanya. Maka Abu Bakar pergi menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu Abu Bakar berkata kepada beliau:
*_Ya Rasulullah, terjajdi masalah antara aku dan Umar, lalu aku emosi terhadapnya. Aku yang salah. Maka aku katakan padanya, maafkan aku, tetapi ia tak sudi memaafkanku.

Abu Bakar ingin agar Rasul menjadi penengah dan berbicara dengan Umar agar mau memaafkannya. Namun apa yang disabdakan Nabi? beliau bersabda:
يَغْفِرُ لَكَ
*_Semoga Allah yang mengampunimu_*.

Yakni, jika Umar tidak memaafkanmu, maka Allah yang akan memaafkanmu. Beliau bersabda:
*_Duduklah_*

Abu Bakar lalu duduk.

Abu Darda sebagai periwayat hadits ini berkata,"Saat Umar pulang ke rumah, ia menyesal, mengapa ia tidak memaafkan shahabatnya". Maka Umar pergi ke rumah Abu Bakar untuk menyampaikan bahwa dirinya telah memaafkannya. Namun ia tak mendapati Abu Bakar. Kemudian ia pergi dan mendapati Abu Bakar bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Abu Darda berkata,"Ketika Umar mendatangi Nabi dan Abu Bakar, Nabi melihatnya, beliau segera berdiri menghampiri Umar dalam keadaan marah. Nabi marah kepada Umar.

Maka Abu Bakar bersimpuh dengan dua lututnya di depan Nabi, karena Abu Bakar tahu kedudukannya di hati Nabi, dan dia tahu kemarahan Nabi pada Umar itu adalah demi dirinya. Maka dia bersimpuh dengan dua lututnya dan berkata,"Ya Rasulullah, aku yang lebih salah".

Abu Darda mengisahkan, dan saat itu Rasulullah tidak menoleh pada Abu Bakar, hingga beliau mendatangi Umar, lalu beliau bersabda:
مَا هِيَ يَا عُمَرُ؟ أَرْسَلَنِي اللهُ إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ كَذَبْتَ. وَ قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ صَدَقْتَ. وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُولِي صَاحِبِي
*_Apa ini ya Umar? Allah mengutus aku pada kalian, tapi kalian katakan padaku, kamu dusta. Namun Abu Bakar berkata,"Engkau benar". Lalu ia mendukungku dengan jiwa dan hartanya. Apakah kalian mau untuk tidak menyakiti shahabatku ini?._*

Di sini timbul satu pertanyaan, bukankah Umar juga shahabat Nabi? bukankah Abu Darda juga shahabat beliau? bukankah Ali juga shahabat beliau? mereka semua shahabat beliau, dulu Nabi juga memanggil mereka,"Shahabatku, shahabatku". Namun di sini seakan-akan beliau bersabda,"ini adalah shahabat istimewaku". Shahabatku ini berbeda dengan kalian. Dia yang paling istimewa. Dan memang demikian kenyataannya.

Saat Allah berfirman dalam hadits Qudsi:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
*_“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada melaksanakan apa yang Aku wajibkan kepadanya; tidaklah hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan nafilah-nafilah (nawâfil) hingga aku mencintainya._* (HR al-Bukhari & Muslim)

Maksudnya bukan berarti ALlah tidak mencintai hamba-Nya yang hanya mengamalkan amalan wajib. Akan tetapi Allah hendak menyampaikan bahwa hamba-Nya yang mengerjakan amalan sunnah mendapatkan kecintaan khusus.
ALlah Tabaraka wa Ta'ala mencintaimu, jika kamu memenuhi ibadah wajibmu, kemudian kamu mengamalkan amalan-amalan sunnah, kamu mendekatkan diri kepada ALlah dengan mengerjakan sholat malam, sholat rawatib, sholat dhuha, sedekah, sholat sunnah, haji sunnah, umrah, berdzikir, membaca al-Quran, menyambung silaturrahim dan amalan sunnah lainnya selain yang wajib.

(Syaikh Utsman Al-Khamis)
SEBAB SHOLAT TIDAK KHUSYUK


Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah berkata :

فمتى ﺭﺃﻳﺖ ﻗﻠﺒﻚ ﻻ ﻳﺤﻀﺮ في اﻟﺼﻼﺓ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺳﺒﺒﻪ ﺿﻌﻒ اﻹﻳﻤﺎﻥ، ﻓﺎﺟﺘﻬﺪ في ﺗﻘﻮﻳﺘﻪ.

“Kapan saja engkau mendapati kalbumu tidak hadir ketika shalat, ketahuilah bahwa hal itu disebabkan lemahnya iman. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah untuk memperkuat keimanan.”

(Mukhtashar Minhaj al-Qashidin 1/30)

🟢 Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

يا ابن آدم، وماذا يعز عليك من دينك، إذا هانت عليك صلاتك

“Duhai manusia! Ibadah apa lagi yang engkau hargai dalam agamamu, apabila shalat saja sudah engkau anggap remeh.”

(Mausu’ah Ibnu Abi ad-Dunya, jilid 1, hlm. 341)
DOA GALAU


اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ ، وَابْنُ عَبْدِكَ ، وَابْنُ أَمَتِكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu, dan anak hamba perempuanMu([2]),

نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ ، عَدْلٌ فِيَّ قَضاَؤُكَ
ubun-ubunku berada di tanganMu([3]), hukumMu berlaku terhadap diriku([4]), dan ketetapanMu adil pada diriku([5]).

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ
Aku memohon kepadaMu dengan segala Nama yang menjadi milikMu, yang Engkau namai diriMu dengannya,

أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ ، أَوِاسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ
atau yang Engkau turunkan di dalam kitabMu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisiMu,

أَنْ تَجْعَلَ القُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَبَ هَمِّيْ
maka aku mohon dengan itu agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku, pelipur kesedihanku, dan penghilang bagi kesusahanku.”([6])
AMALAN YANG PALING DICINTAI ALLAH

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ سُرُورٌ يُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ أَوْ يَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً أَوْ يَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا أَوْ يَطْرُدُ عَنْهُ جَوْعًا

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah perbuatan yang membuat bahagia saudaranya sesama muslim, atau menghilangkan kesulitannya, atau membantu melunasi utangnya, atau membebaskannya dari kelaparan (dengan memberi makan).” (hadits ini hasan dalam as-Silsilah ash-Shahihah, 2/575)
Dosa Jariyah yang dilupakan manusia

Engkau berbuat maksiat, lalu orang lain mengikutinya, makanya dosa maksiat orang yang mengikutimu bermaksiat, juga engkau dapatkan. Berlindunglah kepada Allah dari dosa ini.
TAKUT DAN HARAP HANYA KEPADA ALLAH


Allah berfirman (yang artinya) : “..Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku” (QS. Al Ma’idah: 44). Maka takut kepada Allah (al khauf minallah) adalah ibadah dan merupakan salah satu bentuk ibadah yang semestinya dicamkan oleh setiap mukmin.

Sifat Orang Yang Bertaqwa
Takut kepada Allah adalah sifat orang yang bertaqwa, dan ia juga merupakan bukti imannya kepada Allah. Lihatlah bagaimana Allah mensifati para Malaikat, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” (QS. An Nahl: 50).

Lihat juga bagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang hamba-hambanya yang paling mulia, yaitu para Nabi ‘alahimus wassalam (artinya) : “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami” (QS. Al Anbiya: 90)

Semakin Berilmu Semakin Takut Kepada Allah
Oleh karenanya, seseorang semakin ia mengenal Rabb-nya dan semakin dekat ia kepada Allah Ta’ala, akan semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Nabi kita Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku yang paling mengenal Allah dan akulah yang paling takut kepada-Nya” (HR. Bukhari-Muslim).

Oleh karenanya para ulama, yaitu memiliki ilmu tentang agama Allah ini dan mengamalkannya, merekalah orang-orang yang paling mengenal Allah. Sehingga betapa besar rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala.

Karena orang yang memiliki ilmu tentang agama Allah akan paham benar akan kebesaran Allah, keperkasaan-Nya, paham benar betapa pedih dan ngeri adzab-Nya. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda kepada para sahabat beliau: “Demi Allah, andai kalian tahu apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian pun akan enggan berlezat-lezat dengan istri kalian di ranjang. Dan akan kalian keluar menuju tanah datang tinggi, mengiba-iba berdoa kepada Allah” (HR. Tirmidzi 2234, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)

karena rasa takut yang timbul dari ma’rifatullah yang mendalam..
*TAKUT DAN HARAP HANYA KEPADA ALLAH*


Allah berfirman (yang artinya) :
ۚ فَلَا تَخۡشَوُا النَّاسَ وَاخۡشَوۡنِ
*_...Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku_*. (QS. Al Ma’idah: 44).

Maka takut kepada Allah (al khauf minallah) adalah ibadah dan merupakan salah satu bentuk ibadah yang semestinya dicamkan oleh setiap mukmin.

_Sifat Orang Yang Bertaqwa_
Takut kepada Allah adalah sifat orang yang bertaqwa, dan ia juga merupakan bukti imannya kepada Allah. Lihatlah bagaimana Allah mensifati para Malaikat, Allah Ta’ala berfirman:
يَخَافُوۡنَ رَبَّهُمۡ مِّنۡ فَوۡقِهِمۡ وَيَفۡعَلُوۡنَ مَا يُؤۡمَرُوۡنَ
*_Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)_*. (QS. An Nahl: 50).

Lihat juga bagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang hamba-hambanya yang paling mulia, yaitu para Nabi ‘alahimus wassalam (artinya) :
اِنَّهُمۡ كَانُوۡا يُسٰرِعُوۡنَ فِىۡ الۡخَيۡـرٰتِ وَ يَدۡعُوۡنَـنَا رَغَبًا وَّرَهَبًا ‌ؕ وَكَانُوۡا لَنَا خٰشِعِيۡنَ
*_...Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami_*. (QS. Al Anbiya: 90)

Semakin Berilmu Semakin Takut Kepada Allah. Oleh karenanya, seseorang semakin ia mengenal Rabb-nya dan semakin dekat ia kepada Allah Ta’ala, akan semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Nabi kita Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: فَوَاللَّهِ إِنِّي أَعْلَمُهُمْ بِاللَّهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً
*_Sesungguhnya aku yang paling mengenal Allah dan akulah yang paling takut kepada-Nya_*. (HR. Bukhari-Muslim).

Oleh karenanya para ulama, yaitu memiliki ilmu tentang agama Allah ini dan mengamalkannya, merekalah orang-orang yang paling mengenal Allah. Sehingga betapa besar rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala.

Karena orang yang memiliki ilmu tentang agama Allah akan paham benar akan kebesaran Allah, keperkasaan-Nya, paham benar betapa pedih dan ngeri adzab-Nya.

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda kepada para sahabat beliau:
لَوْ تعْلمُونَ ما أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كثيراً
*_Demi Allah, andai kalian tahu apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian pun akan enggan berlezat-lezat dengan istri kalian di ranjang. Dan akan kalian keluar menuju tanah datang tinggi, mengiba-iba berdoa kepada Allah._* (HR. Tirmidzi 2234, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)

karena rasa takut yang timbul dari ma’rifatullah yang mendalam..
*JANGAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH*

ALhamdulillahi Rabbil'aalamiin, anak cucu Adam banyak melakukan kesalahan.

DOsa itu ibarat kepastian bagi anak cucu Adam. Tetapi manusia terbaik adalah yang bertaubat. Nabi bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
*_Semua anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat_*. (HR. Tirmidzi)

Allah juga memberikan kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya, melalui firman-Nya:
قُلۡ يٰعِبَادِىَ الَّذِيۡنَ اَسۡرَفُوۡا عَلٰٓى اَنۡفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَةِ اللّٰهِ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ يَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِيۡعًا‌ ؕ اِنَّهٗ هُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِيۡمُ
*_Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang._* (QS. az_zumar:53)

Allah mengampuni semua dosa yaitu bagi yang mau bertaubat. Semua dosa akan Allah ampuni bagi yang bertaubat, sekalipun dosa syirik. Apabila seseorang bertaubat dari dosa syirik, niscaya akan Allah ampuni.

Oleh karena itu janganlah kuatir ya akhi, ya ukhti memikirkan ampunan. Sebab ampunan itu datang dari Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Hendaknya fokus kita adalah taubat, bertaubat kepada Rabb kita.

Apabila dahulu engkau melampaui batas dan berbuat dosa, lalu sekarang sudah bertaubat, maka engkau sudah berhenti dari dosa tersebut, engkau juga menyesalinya, dan bertekad agar tidak mengulanginya lagi.

Apabila dosanya berkaitan dengan hak orang lain, engkau sudah mengembalikan atau meminta maaf. Jika dosanya berkaitan dengan harta atau bukan harta yang mereka ketahui maka berbahagialah.

Janganlah galau gelisah, karena taubat akan menghapus dosa yang telah lalu. Penyesalan adalah taubat.

Orang yang bertaubat dari dosa bagaikan orang tanpa dosa.

Orang yang berdosa lalu bertaubat, dosanya terhapus seakan-akan ia tidak pernah mengerjakannya.

Tetapi jadikan ingatanmu akan dosa tersebut sebagai motivasi bagimu, agar engkau tidak terjatuh dalam dosa yang sama. Dan untuk menyemangatimu agar engkau lebih memperbanyak amal shalih, setelah itu berhentilah mengingatnya.

Jangan biarkan syetan menyeretmu ke dalam keputusasaan dari Rahmat Allah. Jangan biarkan syetan menyibukkanmu dengan dosa yang telah berlalu sehingga membuatmu gusar dan jauh dari Allah. Lupakan dosa yang lalu.

Jadikan ingatanmu terhadap dosa tersebut sebagai motivasi agar engkau berubah menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang.

نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَتُوْبَ عَلَيْنَا وَأَنْ يَتَقَبَّلَ مِنَّا التَّوْبَتَ وَأَنْ يُعِيْنَنَا عَلَى مَا بَقِيَ مِنْ أَعْمَارِنَا
*_Semoga Allah memberi taubat kita semua dan menerima taubat kita semua dan menolong kita untuk beramal di sisa umur kita_*.

_Aamiin Yaa Rabbal 'aalamiin_
AHLI ALQURAN DAN AHLI PUASA


Ka’ab bin Malik radhiyallahu anhu berkata :

ينادي يوم القيامة مناد بأن كل , حارث يعطى بحرثه ويزاد غير : أهل القـــــرآن والصيـــــام , يعطون أجورهم بغير حســـاب ويشفعان له

“Nanti di hari kiamat ada yang menyeru dengan mengatakan: Setiap orang yang menanam maka akan diberikan hasilnya dan akan ditambah kecuali “Ahli Al-Qur’an dan ahli puasa” karena pahala mereka akan diberikan tanpa ada batasnya dan keduanya akan memberikan syafaat kepada pemiliknya.”

(Lathaaiful Ma’arif 171)

👤 Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata :

تكفل الله لمن قرأ القرآن وعمل بما فيه أن لا يضل في الدنيا ولا يشقى في الآخرة

“Allah memberikan jaminan kepada hamba yang membaca Al-Quran dan mengamalkannya, untuk tidak sesat di dunia dan tidak celaka di akhirat.”

(Miftah Daar as-Sa’adah 1/58)
SERING BERDOA SEMAKIN ALLAH CINTAI


Imam Syafi’i rahimahullah berkata :

أَتَهْزَأُ بِالدُّعَاءِ وَتَزْدَرِيه؟ وَمَا تَدْرِي بِمَا صَنَعَ الدُّعَاءُ ,سِهَامُ اللَّيلِ لا تُخْطِي . وَلَكِنْ لَهَا أَمَدٌ وَلِلْأَمَدِ انْقِضَاءُ

“Apakah engkau mengejek dan meremehkan doa? Engkau tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh doa, (Doa ibarat) anak panah yang dilepaskan di malam hari, tidak akan meleset. Akan tetapi anak panah tersebut ada waktunya (yang dibutuhkan) untuk mengenai (sasaran), dan setiap waktu pasti ada akhirnya.” (Diwan Imam Syafi’i)

Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

”Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Qs. Al-Mu’min 60)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu.” (Qs. Al-Baqarah 186).

Wahai saudaraku, ketahuilah bahwasanya jika dalam hajadmu engkau berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan YAKIN dan HUSNUDZON bahwa doa tersebut akan dikabulkan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan kabulkan doamu..

Dan ketahuilah, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengabulkan doa dari orang yang hatinya lalai, yaitu orang yang berdoa tetapi tidak yakin akan dikabulkan doanya..

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin bahwa doa tersebut akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai (yang tidak yakin bahwa doanya akan dikabulkan).” (HR. Tirmidzi 3479)

Semoga kita termasuk orang-orang yang yakin dan husnudzon tatkala berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta khusyuk didalamnya.
🍃🌼 MUSTARIKH DAN MUSTAROKH🌼🍃

1️⃣ Yang Pertama; Mustarih , yaitu Orang yang beristirahat dari gangguan dan cobaan di dunia,
2️⃣ Yang Kedua; Mustaroh minhu , Orang lain beristirahat dari gangguannya.
——————————

🔰 Dari shahabat Abu Qotadah -rodhiyallahu ‘anhu- , beliau mengatakan,

"Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah berpapasan dengan satu jenazah. Beliau lalu mengatakan, ”Mustarih dan mustaroh minhu."

Para sahabat bertanya, ”Apa itu ‘mustarih’ dan ‘mustaroh minhu’ ?

Beliau menjawab,

الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا،
وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

”Seorang hamba mukmin, (—ketika ia meninggal—, -pent.) ia beristirahat dari cobaan dunia dan gangguannya.

Adapun Seorang hamba fajir (yang berbuat kejahatan, -pent.) (--ketika ia meninggal--, -pent.) hamba yang lain beristirahat dari (gangguan) nya, demikian pula negeri, pepohonan, dan hewan melata.”

[ HR. Al-Bukhori no. 6512 , Muslim no. 950-(61) ]

〰️〰️〰️
✅ Jadilah seorang mukmin yang baik,

Yang menjaga lisan dan perbuatan,

Jauh dari dosa dan permusuhan.

”Semoga kita masuk yang pertama.”

Wallahul Muwaffiq. (AH)
JADWAL KEBERANGKATAN BULAN NOVEMBER UMROH DAN UMROH PLUS NOVEMBER 2022
*Tidak ada Bidadari di Dunia Ini*

Pahamilah wahai para suami, bahwa istri-istrimu memiliki tabi'at yang bengkok. Begitulah sifat wanita.

Meskipun ia adalah seorang yang berpengetahuan luas atau seorang yang berpendidikan, tidak ada wanita yang selamat dari sifat bengkok tersebut.

Oleh karenanya para suami hendaknya mengingat sifat ini, ketika bergaul dengan para istrinya. Ini adalah tabi'atnya, tidak ada wanita yang tidak memiliki sifat ini.

Ada sebuah nasihat yang indah dari seorang syaikh kepada seseorang yang berkonsultasi kepadanya, meminta saran dan masukan atas permasalahannya.

Pemuda ini menceraikan istrinya. Lalu sang syaikh menasihatinya. Sang syaikh mengatakan sebuah perkataan yang indah dan perkataan ini beliau ulang-ulang terus dalam nasihatnya. Beliau mengatakan:
يَا بُنَيَّ الدُّنْيَا مَا فِيْهَا حُوْرُ عِينٍ، الدُّنْيَا مَا فِيْهَا حُوْرُ عِينٍ
*_Duhai anakku, tidak ada bidadari di dunia ini, tidak ada bidadari di dunia ini._* (beliau mengulang-ulang perkataannya ini)

Maknanya, bahwa setiap wanita pasti ad kekurangannya. Tidak ada wanita yang sempurna.

Demikian seorang berilmu ketika memberikan nasihat, pasti dengan ilmunya yang penuh hikmah dan kebijaksanaan, yang bersumber dari AlQuran dan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Lantas, ada pertanyaan, bagaimana kedudukan wanita di dunia kelak, saat di akhirat?

هل المرأة الصالحة تكون من الحور العين يوم القيامة ؟
*_Apakah istri yang shalihah akan menjadi seperti bidadari surga pada hari kiamat kelak?_*

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab:
المَرْأَةُ الصَّالِحَةُ فِي الدُّنْيَا ءيَعْنِي الزَّوْجَةُء تَكُوْنَ خَيْراً مِنَ الحُورِ العِيْنِ فِي الآخِرَةِ، وَأَطِيْبُ وأَرْغَبُ لِزَوْجِهَا؛فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرُ أَنَّ أَوَّلَ زُمْرَةُ تَدْخُلُ الجَنَّةَ عَلَى مِثْلِ صُوْرَةِ القَمَرِ لَيْلَةِ البَدْرِ
*_Istri yang shalihah di dunia akan menjadi “lebih baik” dari pada bidadari surga di akhirat kelak,lebih indah dan lebih dicintai suaminya. Karena Nabi shallahu alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa : Rombongan pertama yang masuk surga maka mereka seperti bulan yang bersinar saat malam purnama._*

(Nur ‘alad Darb nomor kaset 282)