BERILMU DENGAN BUKU
63 subscribers
738 photos
27 videos
20 files
532 links
Channel edukasi seputar Aqidah, Ibadah, Muamalah, Pengembangan diri dan Keluarga, Bisnis, Marketing dan Rekomendasi Buku
Download Telegram
Barangsiapa yang shalat 12 Rakaat sehari semalam (selain yang fardhu), maka dibangun untuknya sebuah rumah di surga dengan sebabnya.[9]

Dalam Kitab-kitab Sunan disebutkan rinciannya: 4 rakaat sebelum Zhuhur, 2 setelahnya, 2 rakaat setelah Maghrib, 2 rakaat setelah Isya, dan 2 Rakaat sebelum Shubuh.

3. Menjaga shalat Witir
Shalat ini tidak pernah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam tinggalkan, dan juga 2 rakaat sebelum Shubuh, baik saat safar ataupun tidak. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam memerintahkannya dengan bersabda:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا

Jadikanlah shalat witir sebagai akhir shalat malam kalian.[10]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Dalam safar Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam selalu menjaga sunnah fajar dan witir, lebih dari semua shalat nafilah lainnya; tidak dengan sunnah-sunnah lainnya. Dan tidak pernah dinukilkan dari beliau dalam safar bahwa Beliau melakukan shalat sunnah rawatib selain dua shalat ini.[11]

Contoh Shalat Yang Mustahabb
Shalat Dhuha
Telah datang beberapa hadits shahih menegaskan keutamaannya. Sampai-sampai Ibnul Jauzi rahimahullah memposisikannya layaknya sunnah rawatib.[12]Namun pendapat yang kuat bahwa shalat Dhuha bukan termasuk sunnah rawatib. Sebab tidak ada nukilan yang menyebutkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam menjaga dan kontinyu melanggengkannya, begitu pula dengan para sahabat senior.

Baca Juga Lorong-lorong Syetan untuk Menyesatkan Manusia
Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan dari sekelompok ulama bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam shalat Dhuha karena ada suatu sebab. Misalnya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam pernah melakukannya 8 rakaat pada Fathu Makkah karena sebab penaklukakan Mekkah. Beliau juga melakukannya di rumah Itbân Bin Malik ketika ia meminta Rasul agar shalat di rumahnya untuk ia jadikan sebagai tempat shalatnya, setelah ia buta dan ada hal yang menghalanginya pergi ke masjid. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam juga melakukannya bila datang dari bepergian; di mana bila datang dari safar, Beliau lebih dahulu shalat 2 rakaat di Masjid. Begitu pula Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam shalat Dhuha bila datang ke Masjid Quba’.[13]

Shalat Dhuha juga sebagai pengganti dari shalat malam bagi orang yang tidak bisa kontinyu melakukannya. Sebagian hadits tentang keutamaan Shalat Dhuha dibawa pada pengertian ini. Hadits-hadits dan atsar yang ada, tidak lain menunjukkan hal di atas. Sedangkan hadits-hadits tentang motivasi untuk melakukannya dan wasiat untuk melakukannya; seperti hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dan Abu Dzar Radhiyallahu anhu , maka yang shahih adalah itu tidak menunjukkannya sebagai sunnah rawatib bagi setiap orang. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam mewasiatkan Abu Hurairah dengan hal tersebut, karena seperti dalam riwayat-riwayat yang ada, bahwa Abu Hurairah disibukkan dengan mempelajari hadits pada malam hari, sehingga Rasul mewasiatkan kepadanya untuk melakukan pada waktu Dhuha, sebagai ganti dari shalat malam. Karena itulah beliau memerintahkan Abu Hurairah agar tidak tidur sampai melakukan witir terlebih dahulu. Beliau tidak memerintahkan itu kepada Abu Bakr, Umar dan juga sahabat lainnya.

Singkat kata, shalat Dhuha termasuk shalat nafilah yang mustahabb; bukan termasuk yang rawatib (yang dikontinyukan).

Contoh Shalat Yang Tathawwu’:
Dua rakaat sebelum Maghrib
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam mengizinkan para sahabat untuk melakukannya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: adapun dua rakaat sebelum Maghrib, maka tidak ada nukilan yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam melakukannya. Namun telah shahih dari Beliau bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam membenarkan (memberi penetapan) para sahabat untuk melakukannya; di mana Beliau melihat mereka melakukannya. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam tidak memerintahkan, ataupun melarangnya.[14]

Dan telah shahih pula bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam memberi pilihan kepada para sahabat untuk shalat sebelum Maghrib, sebagaimana dalam hadits Abdullah al-Muzani, di mana Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
صَلُّوا قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً

“Shalatlah sebelum Maghrib” – dan Beliau berkata pada ketiga kalinya: “bagi yang mau.” Karena Beliau khawatir kalau orang-orang menjadikannya sebagai sunnah (yang dikontinyukan).[15]

Ini sebagai contoh untuk beberapa amalan sunnah dengan sedikit perinciannya dalam shalat. Dan masih banyak amalan-amalan lain yang bermuatan sunnah, yang mungkin bisa dirujuk pada kitab-kitab yang ada.
JANJI ALLAH UNTUK RASULNYA

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّا كَفَیۡنَـٰكَ ٱلۡمُسۡتَهۡزِءِیْنَ.

“Sesungguhnya Kami memelihara engkau (Muhammad) dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olok (engkau).” (Q.S. al-Hijr: 95)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy rahimahullah mengatakan:

هذا وعد من الله لرسوله، أن لا يضره المستهزئون، وأن يكفيه الله إياهم بما شاء من أنواع العقوبة. وقد فعل تعالى فإنه ما تظاهر أحد بالاستهزاء برسول الله صلى الله عليه وسلم وبما جاء به إلا أهلكه الله وقتله شر قتلة.

“Ini merupakan janji Allah untuk RasulNya, bahwa orang-orang yang memperolok-olok beliau tidak akan membahayakan beliau. Allah pun akan melindungi beliau dari kejahatan mereka dengan menimpakan berbagai macam hukuman yang Dia kehendaki. Dan sungguh Allah ta’ala telah memenuhi janjiNya. Tidaklah ada seorang yang memperolok-olok beliau dengan terang-terangan melainkan Allah membinasakan dan membunuh orang itu dengan cara yang paling buruk.” (Tafsir as-Sa’diy 1/435)
ENAM TINGKATAN ILMU

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

وللعلم ست مراتب أولها حسن السؤال…فمن الناس من يحرمه لعدم حسن سؤاله أما لأنه لا يسأل بحال أو يسأل عن شيء وغيره أهم إليه منه كمن يسأل عن فضوله التي لا يضر جهله بها ويدع ما لا غنى له عن معرفته وهذه حال كثير من الجهال المتعلمين ومن الناس من يحرمه لسوء إنصاته فيكون الكلام والممارات آثر عنده وأحب اليه من الانصات وهذه آفة كامنة في أكثر النفوس الطالبة للعلم وهي تمنعهم علما كثيرا ولو كان حسن الفهم

“Ilmu memiliki 6 tingkatan, yang pertama adalah bagusnya pertanyaan… dan sebagian orang ada yang tidak mendapatkan ilmu karena jeleknya pertanyaan, mungkin karena dia tidak bertanya sama sekali, atau bertanya tentang sesuatu padahal disana ada sesuatu yang lebih penting yang patut ditanyakan seperti bertanya tentang sesuatu yang sebenarnya tidak mengapa kita tidak mengetahuinya dan meninggalkan pertanyaan yang harus kita ketahui, dan ini adalah keadaan kebanyakan dari para penuntut ilmu yang bodoh.”

Miftah Daris Sa’adah, 169
*AQIDAH DALAM BERDAGANG*


Dalam dagang saya mendapatkan pelajaran telak bahwa pendidikan, kemampuan, dan segala hal lainnya bukanlah penentu laris manis atau sepi.

Seorang atsari ketika dagang dia tawakkal total kepada Allah Ta'ala. Karena yang membagi rezeki adalah Allah Ta'ala. Yang mengerakkan hati manusia buat membeli adalah Allah Ta'ala. Saya mengimani hadits:
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ
*_Sesungguhnya seluruh hati-hati manusia ada diantara dua jari dari jari-jari Dzat Yang Maha Pemurah, seperti satu kalbu, Dia gerakkan sesuai kehendak-Nya._*

Saya meingimani hadits itu. Saya tak persoalkan statusnya yang ahad seperti para mutakallimin. Saya juga tetapkan lahir hadits tersebut sebagaimana kabar dari Rosulullah SAW serta ajaran para sahabat dan imam-imam mujtahidin dari salaf.

Ketika rugi puluhan juta, saya tetap tsiqoh pada Allah Ta'ala. Tak perlu saya pergi ke kuburan orang sholih lalu istighotsah pada mereka atau berdoa padanya. Atau pergi ke kiai atau ajengan atau dukun atau pesulap atau tempat-tempat pesugihan.

Cukup saya banyak beristighfar. Isti'anah dan istighotsah langsung kepada Allah. Banyak baca sholawat yang masyru' dan ma`tsur. Berbuat baik kepada manusia. Melakukan berbagai ketaatan. Saya berharap saya dicintai oleh Allah Ta'ala. Kalau Allah Ta'ala sudah cinta pada hamba-Nya maka manusia akan mencintai kita.

Saya mengimani hadits nuzul. Bahwa di sepertiga malam terakhir Allah Ta'ala turun ke langit dunia. Saya tak persoalkan status haditsnya yang ahad. Saya tak mengotak-atik hadits tersebut. Pokoknya saya iman dan percaya dengan khabar yang disampaikan baginda Nabi SAW. Karena itu, pada waktu itu saya semangat doa, istighfar, sholawat, memuji, minta, isti'anah, dan istighotsah kepada Allah Ta'ala. Kenapa? Karena Allah Ta'ala turun ke langit dunia.
Dan Dia berfirman:
مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
*_Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan kabulkan; siapa yang minta kepada-Ku maka akan aku berikan; dan siapa yang minta ampunan dari-Ku maka Aku akan ampuni._*

Intinya dagangan kita laku bukan karena kita pandai, hebat dan kuasai ini dan itu. Tapi kemurahan Allah Ta'ala.


( _Hafidin Achmad Luthfie_ )
*ILMU HILANG DENGAN KEPERGIAN MEREKA*


Ketika Umar radhiyallahu 'anhu meninggal, Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:
إِنِّي لَأَحْسَبُ تِسْعَةَ أَعْشَارِ العِلْمِ اليَوْمَ قَدْ ذَهَبَ
*_Aku merasa 9/10 ilmu telah menghilang hari ini_*. (Mu'jamu Kabir No.8808)

Ketika seorang ulama yang hatinya dipenuhi ilmu agama meninggal, berapa banyak ilmu yang hilang dengan kepergiannya? Ini yang dirasakan setiap orang, setiap kali ada ulama besar yang meninggal. Ketika seorang ulama meninggal, berapa ilmu yang menghilang?

Karena ulama adalah pembawa ilmu dan tempat manusia bertanya. Jika seorang ulama meninggal, maka ilmu pun diangkat.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّـى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.
*_Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain_*. (HR. Bukhari no.100 dan Muslim no.2673)
SYAIKH YUSUF QARADHAWY


🌾🌻Mereka berkata tentang Syaikh Yusuf bin Abdillah Al Qaradhawy🌻🌾

💥💦💥💦💥💦

Imam Hasan Al Banna berkata: "Sesungguhnya ia adalah seorang penyair yang jempolan dan berbakat."

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz mantan mufti kerajaan Saudi dan ketua Hai'ah Kibarul Ulama berkata: "Buku-bukunya memiliki bobot ilmiah dan sangat berpengaruh di dunia Islam."

Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany-ahli hadits terkemuka abad 20 berkata, "Saya diminta (al Qaradhawy) untuk meneliti riwayat hadis serta menjelaskan kesahihan dan ke dha'ifan hadis yang terdapat dalam bukunya (Halal wal Haram). Hal itu menunjukkan ia memiliki akhlak yang mulia dan pribadi yang baik. Saya mengetahui semua secara langsung. Setiap dia bertemu saya dalam satu kesempatan, ia akan selalu menanyakan kepada saya tentang hadis atau masalah fiqh. Dia melakukan itu agar ia mengetahui pendapat saya mengenai masalah itu dan ia dapat mengambil manfaat dari pendapat saya tersebut. Itu semua menunjukkan kerendahan hatinya yang sangat tinggi serta kesopanan dan adab yang tiada tara. Semoga Allah Ta'ala mendatangkan manfaat dengan keberadaannya."

Syaikh Abul Hasan Ali An Nadwi - ulama terkenal asal India berkata: "Al Qaradhawy adalah seorang 'alim yang sangat dalam ilmunya sekaligus sebagai pendidik kelas dunia."

Al 'Allamah Musthafa az Zarqa', ahli fiqh asal Suriah berkata: "Al Qaradhawy adalah Hujjah zaman ini dan ia merupakan nikmat Allah atas kaum muslimin."

Al Muhaddits Abdul Fattah Abu Ghuddah, ahli hadis asal Suriah dan tokoh Ikhwanul Muslimin berkata: "Al Qaradhawy adalah mursyid kita. Ia adalah seorang 'Allamah."

Syaikh Qadhi Husein Ahmad, amir Jamiat Islami Pakistan berkata: "Al Qaradhawy adalah madrasah ilmiah fiqhiyah dan da'awiyah. Wajib bagi umat untuk mereguk ilmunya yang sejuk."

Syaikh Thaha Jabir al Ulwani, direktur International Institute of Islamic Thought di AS - berkata: "Al Qaradhawy adalah faqihnya para dai dan dainya para faqih."

Syaikh Muhammad Al Ghazaly- dai dan ulama besar asal Mesir yang pernah menjadi guru al Qaradhawy sekaligus tokoh Ikhwanul Muslimin berkata: "Al Qaradhawy adalah salah seorang Imam kaum muslimin zaman ini yang mampu menggabungkan fiqh antara akal dengan atsar."
Ketika ditanya lagi tentang Al Qaradhawy, ia menjawab, "Saya gurunya, tetapi ia ustadzku. Syaikh dulu pernah menjadi muridku, tetapi kini ia telah menjadi guruku."

Syaikh Abdullah bin Baih -dosen Univ. malik Abdul Aziz di Saudi - berkata: "Sesungguhnya Allamah Dr. Yusuf Al Qaradhawy adalah sosok yang tidak perlu lagi pujian karena ia adalah seorang 'alim yang memiliki keluasan ilmu bagaikan samudera. Ia adalah seorang dai yang sangat berpengaruh. Seorang murabbi generasi Islam yang sangat jempolan dan seorang reformis yang berbakti dengan amal dan perkataan. Ia sebarkan ilmu dan hikmah karena ia adalah sosok pendidik yang profesional."

Lebih dari itu, sesungguhnya Syaikh al Qaradhawy bukanlah seorang faqih yang hanya menyodorkan solusi teoritis mengenai masalah-masalah umat saat ini, masalah ekonomi, sosial dan lainnya, tetapi ia adalah seorang praktisi lapangan yang tangguh dan langsung turun ke lapangan. Ia telah menyumbangkan kontribusinya yang sangat besar dalam mendirikan pusat-pusat kajian keilmuan, universitas-universitas, dan lembaga-lembaga bantuan. Ringkasnya, Al Qaradhawy adalah seorang Imam dari para Imam kaum muslimin masa kini dan ia adalah seorang Syaikhul Islam masa kini.

Jika anda sepakat dengannya, pasti anda akan merasakan kepuasan dengan alasan-alasan dan hujjah yang ia kemukakan. Jika tidak setuju dengannya, pasti anda akan menghormati pendapatnya karena pendapat yang ia lontarkan adalah pendapat seorang 'alim yang takwa. Pendapat yang tidak muncul dari kebodohan dan tidak pula dari hawa nafsu. Takwa dan ilmu merupakan syarat bagi mereka yang menerjukan diri dalam fatwa agar fatwa dan kata-kata yang dikeluarkannya dihormati dan bernilai. Dua syarat itu telah terpenuhi Syaikh Yusuf al Qaradhawy.
Ia memiliki karakter yang sangat memadai untuk disebut sebagai seorang 'alim dan Imam. Ia adalah seorang 'alim yang berilmu

sangat luar dan dalam. Pengetahuannya multidimensi. Ia mampu menggabungkan antara naqli dan aqli, antara Alquran dan Assunnah, antara pokok (ushul) dan cabang (furu), antara sastra dan bahasa.

Di samping itu, ia pun memiliki ilmu penetahuan modern yang sangat luas. Hujjah-hujjah nya sangat jelas dan keterangan- keterangannya sangat memukau. Selain itu, ia memiliki kepribadian yang menawan, jiwa yang baik, rendah hati, lidahnya bersih dan selamat dari rasa dengki. Karangannya seringkali menjadi senjata untuk membela orang-orang sezamannya seperti yang ia lakukan untuk Syaikh Al Ghazaly. Sesungguhnya Syaikh Yusuf Al Qaradhawy adalah ulama unik yang jarang kita dapatkan di masa kini."

Syaikh Abdullah Al 'Aqil-mantan sekretari Liga Muslim Dunia-berkata: "Al Qaradhawy adalah laki-laki yang tahu langkah dakwah sekaligus sebagai faqih zaman ini."

Syaikh Abul Majid Az Zindani-dai dan tokoh harakah asal Yaman-berkata, "Al Qaradhawy adalah seorang 'alim dan mujahid."

Syaikh Abdul Qadir Al Umari-mantan ketua Mahkamah Syariah Qatar-berkata, "Al Qaradhawy adalah seorang faqih yang membawa kemudahan-kemudahan."

Syaikh Muhammad 'Umar Zubair berkata, "Al Qaradhawy adalah pembawa panji kemudahan dalam fatwa dan kabar gembira dalam dakwah."

Syaikh Muhammad Fathi 'Utsman-seorang pemikir Islam terkenal-berkata, "Al Qaradhawy adalah seorang tokoh dan dai yang memiliki mata hati yang tajam dalam melihat realitas."

Syaikh Adil Husein-penulis muslim dan tokoh Partai Amal di Mesir-berkata, "Al Qaradhawy adalah seorang ahli fiqh moderat zaman ini."

Syaikh Rasyid Al Ghanusyi-tokoh harakah dan ketua Partai Nahdhah di Tunisia berkata, "Ia adalah Imam Mujaddid. Al Qaradhawy adalah lisan kebenaran yang memberikan pukulan keras kepada orang-orang munafik di Tunisia."

Syaikh Ahmad ar Rasyuni - ketua Jama'ah Tauhid di Maroko berkata, "Al Qaradhawy adalah seorang faqih yang mengerti maksud penerapan syariah."

Syaikh Umar Nashef - Direktur Univ. King Abdul Aziz berkata, "Al Qaradhawy berada pada puncak pengabdiannya pada ilmu pengetahuan."

Syaikh Adnan Zarzur -Profesor dan Ketua Dekan Fakultas ushuluddin di Univ. Qatar berkata, "Al Qaradhawy adalah seorang mujaddid. Ia adalah faqih dan mujtahid zaman ini. Al Qaradhawy telah berhasil menggabungkan ketelitian seorang faqih, semangat seorang dai, keberanian seorang mujaddid dan kemampuan seorang Imam. Al Qaradhawy telah membangun dakwah Islam dalam fiqh dan ijtihad."

Syaikh Isham Talimah mengutip perkataan seorang ulama, "Andaikata Al Qaradhawy hanya mengarang buku Fiqh Zakat, dia akan berjumpa dengan Allah Ta'ala dan telah dianggap membaktikan dirinya di bidang ilmiah untuk kepentingan Islam dan Umat Islam."

Syaikh Abul A'la al Maududi mengatakan bahwa Fiqh Zakat adalah buku zaman ini dalam fiqh Islam. Para spesialis masalah zakat mengatakan belum pernah ada satu karya pun yang menandingi Fiqh Zakat karya Al Qaradhawi.

Semoga Allah Ta'ala menjaga Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, memberkahi usianya dan menjadikan ilmunya bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Amiin.

🌿🍃🌿🍃🌿

📚 Syaikh Isham Talimah, Manhaj Fiqih Syaikh Yusuf Al Qaradhawi
MERUSAK AGAMA ATAS NAMA KEMANUSIAAN
Oleh: Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)


Bagi umat Islam, nama Freemasonry sudah tidak asing lagi. Organisasi ini pernah beroperasi di Indonesia selama 200 tahun. Dalam buku Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962, karya Dr. Th Steven dijelaskan misi organisasi yang memiliki simbol Bintang David ini: ”Setiap insan Mason Bebas mengemban tugas, dimana pun dia berada dan bekerja,untuk memajukan segala sesuatu yang mempersatukan dan menghapus pemisah antar manusia.”

Cermatilah misi Freemason ini: “menghapus pemisah antar manusia”. Dalam berbagai tulisan tokoh-tokoh Freemason, agama dianggap sebagai salah satu pemisah antar manusia. Bahkan, ada yang menerbitkan buku berjudul: When Religious Becomes Evil!.

Maka, jangan heran, jika banyak orang berteriak lantang: ”Semua agama adalah sama”. Atau, ”Semua agama adalah benar, karena merupakan jalan yang sama-sama sah untuk menuju Tuhan yang satu.” Siapa pun Tuhan itu, tidak dipedulikan.

Yang penting Tuhan! Jika seorang mengatakan bahwa semua agama saja, itu artinya ia tidak beragama. Sebab, ia telah menyamakan antara tauhid dan syirik, antara iman dan kufur, antara shirathal mustaqim dan jalan sesat.

Sejak awal abad ke-18, Freemasonry telah merambah ke berbagai dunia. Di AS, misalnya, sejak didirikan pada 1733, Freemason segera menyebar luas ke negara itu, sehingga orang-orang seperti George Washington, Thomas Jefferson, John Hancock, Benjamin Franklin menjadi anggotanya. Prinsip Freemasonry adalah “Liberty, Equality, and Fraternity”. (Lihat, A New Encyclopedia of Freemasonry, (New York: Wing Books, 1996).

Dalam buku Ksatria-kstaria Templar Cikal Bakal Gerakan Free Masonry (Terj.), mengungkap upaya kaum Freemason di Turki Utsmani untuk menggusur Islam dengan paham humanisme. Dalam suratnya kepada seorang petinggi Turki Utsmani, Mustafa Rasid Pasya, August Comte menulis, “Sekali Utsmaniyah mengganti keimanan mereka terhadap Tuhan dengan humanisme, maka tujuan di atas akan cepat dapat tercapai.” Comte yang dikenal sebagai penggagas aliran positivisme juga mendesak agar Islam diganti dengan positivisme.

Paham humanisme sekular adalah paham Freemason, yang kemudian diglobalkan – salah satunya – melalui konsep HAM. Maka, jangan heran, jika Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) yang ditetapkan tahun 1948 sarat dengan muatan humanisme dan tidak berdasarkan agama tertentu. Bahkan, sebagian pasalnya bertentangan dengan konsep Islam.

Uniknya konsep yang bertentangan dengan konsep Islam, diklaim bersifat universal. Sedangkan konsep Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw dituduh sektarian atau tidak universal.
Lihat saja, pasal 16 dan 18 DUHAM (tentang kekebasan perkawinan dan kebebasan untuk pindah agama). Dunia Islam mengajukan gagasan alternatif dalam Deklarasi Kairo yang tetap mempertahankan faktor agama dalam keabsahan konsep perkawinan dan kebebasan beragama.
*****
Kaum Yahudi tentu saja banyak yang aktif di organisasi seperti Freemason ini. Di Turki Utsmani, tokoh-tokoh Yahudi di Freemason memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran para aktivis Gerakan Turki Muda (Young Turk Movement). Bahkan, kuat sekali indikasinya, Yahudi merancang dan mendominasi arah organisasi lintas agama ini.

Dan ini sangat bisa dipahami. Selama ribuan tahun Yahudi menjadi korban penindasan kaum Kristen di Eropa. Dengan berkembangnya aktivitas Free Mason, maka secara otomatis, penindasan terhadap Yahudi bisa semakin diminimalkan.

Cukup banyak bukti yang menunjukkan besarnya pengaruh Freemason dalam pembentukan ideologi dan pemikiran Turki Muda. Ketika itu, aktivis Freemason memiliki hubungan erat dengan kelompok Osmanli Hurriyet Cemiyati (The Ottoman Freedom Society) yang dibentuk tahun 1906.
Tokoh Freemason adalah Cleanthi Scalieri, pendiri loji The Lights of the East (Envar-I Sarkiye), yang keanggotaannya meliputi sejumlah politisi, jurnalis, dan agamawan terkemuka (seperti Ali Sefkati, pemimpin redaksi koran Istiqbal dan Prince Muhammad Ali Halim, pemimpin Freemasonry Mesir).
Fakta-fakta ini menunjukkan, bahwa kepemimpinan Scalieri menentukan sejumlah elemen Gerakan Turki Muda. Sampai sekitar 1895, loji-loji Freemason sebagian besar “bermain” dalam bentuk klendestin dan menghindari kontak langsung dengan kelompok-kelompok Turki Muda.

Tetapi, faktanya, anggota-anggota loji Freemason memainkan peranan penting dalam proses liberalisasi dan oposisi terhadap Sultan Abdul Hamid II. (Lebih jauh tentang masalah ini, lihat: Adian Husaini, Tinjauan Historis Konflik Yahudi-Kristen-Islam, (Jakarta: GIP, 2004).

Meskipun mengaku bukan sebagai satu agama tersendiri, tetapi Freemason juga memiliki ajaran ketuhanan dan tata cara ritual tersendiri. Buku Dr. Th Steven dihiasi dengan banyak foto tempat-tempat pemujaan Freemason di Jakarta, Surabaya, Makasar, Medan, Palembang, dan sebagainya. Sejumlah tokoh nasional juga disebutkan menjadi anggotanya. Siapakah Tuhan yang dipuja pengikut Freemason? Tidak jelas!

Dengan memposisikan dirinya di luar agama-agama yang ada, maka Freemason mengklaim lebih mengedepankan problematika kemanusiaan bersifat lintas agama. Misi kemanusiaan yang tidak berdasarkan agama inilah yang ironisnya, kini dicoba dikembangkan dalam berbagai buku studi dan pemikiran Islam. Sadar atau tidak, masuknya misi ini dimulai dengan upaya penghilangan klaim kebenaran (truth claim).

Simaklah berbagai pernyataan berikut yang sejalan dengan pemikiran lintas agama gaya Freemason. Dalam buku berjudul ”Agama Masa Depan”, karya seorang guru besar satu kampus Islam di Jakarta, ditulis: “Kebenaran abadi yang universal akan selalu ditemukan pada setiap agama, walaupun masing-masing tradisi agama memiliki bahasa dan bungkusnya yang berbeda-beda.” (hlm. 130).

Dalam sebuah buku berjudul Kado Cinta bagi Pasangan Nikah Beda Agama (2008) dikatakan: “…bila Anda telah menancapkan komitmen untuk membangun rumah tangga beda iman, jalani dengan tenang dan sejuk dinamika ini. Tidak perlu dirisaukan dan diresahkan. Yang terpenting, mantapkan iman Anda dan lakukan amal kebaikan kepada manusia. Semua itu tidak percuma dan sia-sia. Beragama apapun Anda, amal kebaikan dan amal kemanusiaan tetap amal kebaikan. Pasti ada pahalanya dan akan disenangi Tuhan.” (hlm. 235).

Mudah-mudahan kita selalu waspada dengan berbagai upaya untuk merusak agama kita — baik yang berasal dari kaum Yahudi atau para pengikut jejak Yahudi.
*HIDUP ITU SINGKAT UNTUK TERUS LARUT DALAM KESEDIHAN*


Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَإِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ مَنْ تَحَرَّى الخَيْرَ يُعْطَهُ وَمَنْ يَتَوَقَّى الشَّرَّ يُوقَهُ

*_Sifat sabar itu dengan dilatih dan ilmu itu dengan belajar. Siapa yang berusaha mengejar kebaikan, ia akan meraihnya. Dan siapa berlindung dari keburukan, ia akan dijaga darinya._* (HR. Thabrani)

*Faedah Hadits:*

Hidup itu singkat, maka jika datang masalah yang mengacaukan jiwa, jangan bairkan masalah tersebut larut dalam hati.

Jangan habiskan usia, hanya dengan kegalauan dan kesedihan yang tak kunjung habis.

Jangan habiskan hidup hanya dengan banyak mengeluh dan bersedih. Karena ini akan mendatangkan penyakit hingga mengganggu fisik.

Darah tinggi, diabetes, dan penyakit-penyakit lainnya, sebab terbesarnya adalah karena stres. Maka hendaklah kita melatih dan menguatkan diri, dengan sabar, sebagaimana kanjeng Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ngendikan dalam hadits Thabrani di atas. Sabar itu dengan dilatih dan ilmu itu dengan belajar.

Maka kejarlah kebaikan, insyaAllah kita akan meraihnya dan berlindunglah dari keburukan, insyaAllah, Allah akan menjaga kita.

*_Wallahu a'lam bish showaab_*
*KEUTAMAAN SHOLAWAT KEPADA NABI*

إن الصلاة والسلام على رسول الله صل الله عليه و سلم من أجل الطاعات و أفضل القربات
Bersholawat dan mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah ketaatan yang sangat mulia dan ibadah yang sangat utama.

يشرح الله بها صدر العبد ويصيبه بعظيم الرحمات
Allah akan melapangkan hati orang yang bersholawat dan mengaruniakannya limpahan rahmat.

لأن من صلى عليه مرة صلى الله عليه بها عشرا
Karena orang yang bersholawat untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam satu kali, maka Allah akan bersholawat kepadanya sebanyak 10 kali.

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: من صلى علي مرة صلى الله عليه بها عشرا
Nabi bersabda:
*_Siapa yang bersholawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bersholawat untuknya 10 kali_*. (HR. Muslim No.408)

يعني أصابته الرحمة من الله عشر مرات
Maksudnya, Allah akan melimpahkan rahmat untuknya 10 kali.

وهذا مكيال عظيم وجزاء كريم
Ini adalah pahala yang sangat besar dan sangat mulia.

يفوزبه الفائزون ويناله السعداء المتقون
Pahala yang hanya akan didapatkan oleh orang-orang yang bertaqwa
*SHOLAWAT SEBAGAI SEBAB TERKABULNYA DOA*


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

من صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً. صلَّى اللَّهُ عليهِ عشرَ صلوات.وحُطَّت عنهُ عَشرُ خطيئاتٍ. ورُفِعَت لَهُ عشرُ درجات.

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali saja, maka Allah akan, Bershalawat kepadanya sepuluh kali. Terampuni sepuluh kesalahannya. Dan derajatnya dinaikkan sepuluh derajat.”

Shahih An-Nasai 1296, shahih oleh al-Albani rahimahullah

🟢 Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :

الصلاة على النبي صلى الله عليه و سلم قبل الدعاء وفي وسطه وفي آخره من أقوى الأسباب التي يرجى بها إجابة سائر الدعاء

“Membaca shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebelum berdoa, di tengah doa, dan di akhir doa, termasuk sebab terkuat yang diharapkan dengannya akan terkabul seluruh doa.”

Iqtidha’ ash-Shirath, jilid 2, hlm. 249
*MENCAIRKAN HATI YANG SEDANG MEMANAS*

Ada satu kaidah terkait akhlaq dan ini selaras dengan syariat dan akal.

Kaidah ini telah ditulis oleh Ibnu Hazm rahimahullah dalam kitabnya *Al-AKhlaq was siyar*, beliau tulis dengan sangat bagus, beliau berkata:
*_Pertemuan dapat menyembuhkan permusuhan dan hati yang dengki_*

Seakan cukup dengan saling pandang saja dapat memperbaiki hati, dan itu benar nyata.

Setiap ikatan pasti muncul persengketaan di dalamnya, entah karena kekeliruan yang terjadi antara kedua (kawan) itu, atau karena salah paham.

Maka agar setan tidak turut serta di dalamnya, dan agar permusuhan tidak muncul di hari-hari berikutnya, *keduanya harus bertemu*.

Silahkan ia sampaikan isi hatinya saudara seimannya:
*_Wahai saudaraku, bisa jadi ini hanya salah paham saja, subhanallah_*.

Dan umumnya *pertemuan* dapat memperbaiki hati. *Inilah maksud dari ucapan Ibnu Hazm*.

_*Ngopi yuk Ngopi*_
===================================
*MENGENAL IBNU HAZM*

Ibnu Hazm (bahasa Arab: ابن حزم‎) adalah seorang sejarawan, ahli fikih, dan imam Ahlus Sunnah di Spanyol Islam. Ia dikenal karena produktivitas keliteraturannya, luas ilmu pengetahuannya, dan kepakaran dalam bahasa Arab.

Ia adalah seorang pendukung dan ahli fikih yang terkemuka dari Mazhab Zhahiri dan disebutkan telah menghasilkan karya tulis sebanyak 400 judul, meski kini yang masih dapat ditemui hanya 40 judul saja, yang mencakup berbagai topik seperti hukum Islam, sejarah, etika, perbandingan agama, akidah dan lain-lain.

Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm. Ia dilahirkan pada 7 November 994 M di Córdoba, Kekhilafahan Kordoba dan wafat pada 15 Agustus 1064, di Mantha Lisha, dekat Sevilla.
*HASBUNALLAH WA NI'MAL WAKIIL*

_CUkuplah Allah sebagai penolong dan pelindungku_

Kalimat ini merupakan kalimat yang sangat agung. Ia merupakan kalimat untuk mengungkapkan rasa *tawakal*, bersandar dan penyerahan diri kepada Allah subhanahu wa Ta'ala.

Dianjurkan bagi seorang muslim mengucapkannya untuk menghindarkan diri dari apa yang ditakutkan, baik itu berupa kegentingan, kesulitan atau musibah.

Juga dianjurkan baginya untuk mengucapkannya saat mengharapkan maslahat dan tujuan yang baik dan benar.

Banyak orang yang mengira bahwa kalimat ini hanya untuk diucapkan saat menghindarkan diri dari hal yang tidak diinginkan. Padahal ia dianjurkan untuk diucapkan saat ingin menghindarkan diri dari hal buruk dan mengharapkan hal yang baik.

Oleh sebab itu, disyariatkan bagi kita setiap keluar rumah, membaca:
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْنَا عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Kita memohon pertolongan kepada Allah dan bersandar kepadaNya subhanahu wa Ta'ala, serta kita serahkan segala urusan kita kepada Allah Jalla wa'ala.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa kalimat ini untuk diucapkan saat memohon kenikmatan juga kebaikan, adalah firman Allah:
وَلَوۡ اَنَّهُمۡ رَضُوۡا مَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ وَرَسُوۡلُهٗۙ وَقَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰهُ سَيُؤۡتِيۡنَا اللّٰهُ مِنۡ فَضۡلِهٖ وَ رَسُوۡلُهٗۙ اِنَّاۤ اِلَى اللّٰهِ رٰغِبُوۡنَ
*_Dan sekiranya mereka benar-benar ridha dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Allah dan Rasul-Nya, dan berkata, "Cukuplah Allah bagi kami, Allah dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya kami orang-orang yang berharap kepada Allah._* (At-Taubah:59)

Mereka berkata *Cukuplah Allah bagi kami*, yakni dalam keadaan itu, keadaan memohon kenikmatan.

Adapun saat penggunaan kalimat ini saat memohon perlindungan dari keburukan dan musibah, maka dalilnya adalah firman Allah:
اَلَّذِيۡنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدۡ جَمَعُوۡا لَـكُمۡ فَاخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ اِيۡمَانًا  ۖ وَّقَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰهُ وَنِعۡمَ الۡوَكِيۡلُ
*_(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, "Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka," ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, "Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung._* (Ali Imran:173)

Dua makna ini (memohon kebaikan dan perlindungan dari keburukan) dihimpun, dalam ayat yang ada dalam firman Allah:
وَلَٮِٕنۡ سَاَ لۡتَهُمۡ مَّنۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ لَيَـقُوۡلُنَّ اللّٰهُ‌ ؕ قُلۡ اَفَرَءَيۡتُمۡ مَّا تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ اِنۡ اَرَادَنِىَ اللّٰهُ بِضُرٍّ هَلۡ هُنَّ كٰشِفٰتُ ضُرِّهٖۤ اَوۡ اَرَادَنِىۡ بِرَحۡمَةٍ هَلۡ هُنَّ مُمۡسِكٰتُ رَحۡمَتِهٖ‌ ؕ قُلۡ حَسۡبِىَ اللّٰهُ‌ ؕ عَلَيۡهِ يَتَوَكَّلُ الۡمُتَوَكِّلُوۡنَ‏
*_Dan sungguh, jika engkau tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Niscaya mereka menjawab, "Allah." Katakanlah, "Kalau begitu tahukah kamu tentang apa yang kamu sembah selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan bencana kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan bencana itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat mencegah rahmat-Nya?" Katakanlah, "Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nyalah orang-orang yang bertawakal berserah diri."
_* (Az-Zumar:38)

Maksudnya dalam keadaan ini dan itu. Dalam hal mengharap rahmat dan menghilangkan mudhorot. CUkup katakan:
حسبي الله
*_Cukuplah Allah bagiku_*

Yakni dalam keadaan ini dan itu, dalam hal mengharap rahmat juga dalam hal menghilangkan keburukan dan kesulitan.
*AMALAN-AMALAN AGAR DIDOAKAN MALAIKAT*

1. Menanti sholat berjamaah di masjid (إِنْتِظَارُصَلَاةِ الجَمَاعَةِ فِي المَسْجِدِ)

إِنَّ المَلَائِكَةَ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ تَقُوْلُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَالَمْ يُحْدِثُ
*_Sesungguhnya para malaikat bersholawat untuk salah seorang di antara kalian selama masih berada di tempat duduknya. Mereka berkata,"Ya Allah ampunilah dia dan rahmatilah dia selagi dia belum berhadats"._*

وَأَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَتْ تَحْبِسُهُ الصَلَاةُ
*_Dan salah seorang di antara kalian dianggap dalam sholat selama masih menunggu sholat_*. (HR. Bukhari Muslim)

Ketika seseorang menunggu sholat, para malaikat mendoakan kebaikan untuknya dan selepas sholat apabila dia tetap duduk di tempatnya tanpa berhadats maka malaikat juga mendoakan dia.

Dia duduk seperempat jam, setengah jam, satu jam, dua jam atau sampai tiba sholat berikutnya, selama itu malaikat mendoakan kebaikan untuknya.

2. Orang sholat di shaf pertama (أَهْلُ الصَّفِّ الأَوَّلِ)

Nabi bersabda:
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَةَ يُصَلُّونَ عَلَى صُفُوفِ الأُوَلِ
*_Sesungguhnya Allah dan para malaikat bersholawat kepada yang berada di shaf-shaf pertama_*. (HR. Abu Daud an_Nasai - Hadits shahih)

Pada riwayat lain berbunyi:
عَلَى الصَّفِّ المُقَدَّمِ
*_Untuk orang yang berada di shaf terdepan_*.

3. Menuntut Ilmu (طَلَبُ العِلْمِ)

Nabi bersabda:
إِنَّ المَلَائِكَةَ لَتَضَعُ اجْنِحَتَهَارِضًا لِطَالِبِ العِلْمِ
وَإِنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الحِيتَانُ فِي المَاءِ.
وَفَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِعَلَى سَائِرِ الكَوَاكِبِ
*_Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka karena ridho kepada penuntut ilmu. Dan sungguh orang yang berilmu akan dimohonkan ampun oleh mereka yang berada di langit dan yang di bumi sampai ikan paus di dalam laut. Dan keutamaan orang berilmu daripada ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan dibandingkan seluruh bintang._*(HR. Abu Dauw dan Tirmidzi)

4. Mengajari kebaikan pada manusia (تَعْلِيْمُ النَّاسِ الخَيْرِ)


إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
*_Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia_*.(HR. Tirmidzi)

Binatang dan makhluk yang paling besar dan yang paling kecil dan tentu juga semua binatang selain kedua binatang ini, semua binatang lainnya dan makhluk lain, ALlah hanya menyebutkan yang kecil dan besar, namun keseluruhan binatang di alam semesta. Semua binatang yang berjalan di alam ini, semua binatang melata seluruh binatang melata dan semuanya.

Siapakah penduduk langit? di sana ada malaikat, bidadari-bidadari bermata jeli, anak-anak muda yang kekal kepemudaan mereka. Mereka itu adalah penduduk langit. Dan tentunya, di langit ada arwah para Nabi, syuhada dan orang-orang mulia lainnya. Dan mereka semua bershoalwat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia.

يآالله وَفِّقْنَا لِمَا يُرْضِيكَ يآالله وَفِّقْنَا لِمَا تُحِبُّ وَاجْعَلْ عَمَلَنَاخَالِصًا لِوَجْهِكَ
*_Ya ALlah berikanlah kami taufiq pada hal-hal yang membuat-Mu ridho. Ya Allah berikanlah kami taufik pada perkara-perkara yang Engkau cintai, dan jadikanlah amalan kami ikhlas hanya mengharap Wajah-Mu._*
*UNTUK ORANGTUA YANG MENGINGINKAN ANAKNYA SELAMAT DARI ZINA*

(Kisah penuh hikmah, seorang Pemuda yang selamat dari Dosa Zina Lantaran Panasnya Api Lilin yang Dinyalakannya)

***

*_Ada tujuh kelompok manusia, yang Allah menaungi mereka di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya … (salah satunya) Anak muda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah._* [Muttafaq ‘Alaih]

Ini adalah sabda Nabi-صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-, yang cocok untuk anak muda pahlawan kisah ini, anak muda bersih yang merupakan tokoh dalam riwayat kita ini.

Anak muda ini terdidik di atas keshalihan dan kelurusan sejak kecil, pertama karena karunia Allah, kemudian karena bapak ibunya mendidiknya dengan pendidikan yang baik.

Anak muda ini tumbuh dalam ibadah kepada Allah. Menginjak usia dewasa, keadaannya membuatnya harus meninggalkan rumahnya yang baik demi melanjutkan sekolahnya. Anak muda ini pergi jauh dari kedua bapak ibunya tinggal di sebuah tempat yang kecil.

Orang-orang di komplek anak muda itu tinggal mencintainya, mereka merasa bahagia dengan keberadaannya di tengah-tengah mereka.

Anak muda ini adalah teladan dalam kemuliaan akhlak, dan ini yang semakin membuat mereka mencintainya.
Anak muda ini gemar membantu mereka dan bergaul dengan mereka dengan baik. Sepertinya anak muda ini mengejar kebaikan yang tersebut dalam sabda Nabi-صلى الله عليه وسلم-,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.

Banyak kalangan membicarakannya, menyanjung, dan memuji akhlaknya yang luhur dan sifatnya yang mulia.

Di komplek tersebut ada seorang gadis belia yang cantik; dia mendengar sanjungan orang-orang kepada pemuda itu, maka dia mengagumi anak muda tersebut, dia selalu mencuri-curi pandang kepadanya, menunggu kesempatan untuk melihatnya, berangan-angan duduk bersamanya, berbincang dengannya dan memandanginya dari dekat.

Gadis ini mulai menyusun rencana untuk bisa memandang anak muda tersebut, dia ingin membuka apa yang terpendam dalam dadanya.

Pada suatu hari, saat pemuda ini berjalan di dekat rumah si gadis, gadis itu memanggilnya, si pemuda melihat kepadanya lalu buru-buru menundukkan pandangannya, kemudian si gadis mengajaknya masuk ke rumahnya dengan berkata, “Ada barang-barang yang kami tidak kuat membawanya. Apakah kamu bersedia membantu kami ?

Karena pemuda itu dikenal suka berbuat baik dan membantu orang-orang, maka dia tidak menolak. Akan tetapi anak muda itu berkata kepadanya, “Katakan kepada orang-orang di rumah, aku datang.” Dia mundur sedikit.

Pemuda itu membawa apa yang gadis itu tunjuk, kemudian dia keluar dengan segera. Gadis itu menyesalkan mengapa anak muda itu tidak berlama-lama di sisinya. Pandangan sesaat belum memuaskan hasrat gadis ini, dia ingin lebih.

Di sore yang dingin, hujan turun dengan derasnya, pemuda itu duduk di rumahnya sambil mengulang-ulang,

اَللَّهُمَّ غَيْثًا مُغِيْثًا

Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang berkah.

Di dekatnya ada lilin, dia membuka-buka sebuah buku. Tiba-tiba pintu rumah diketuk dengan keras. Pemuda tersebut memasang telinganya. Ketukan bertambah keras.

Pemuda ini mendekati pintu dengan heran, siapa yang datang malam-malam begini dalam keadaan hujan deras pula ?

Dia membuka pintu, dan ternyata di depan pintu, gadis itu jatuh luruh ke tanah di bawah kaki pemuda yang tak tahu apa yang terjadi. Beberapa saat kemudian, gadis itu berbicara, “Aku mengetuk pintu rumahku, namun keluargaku tidak membukanya. Aku datang kepadamu untuk berlindung dari dingin dan hujan.”

Gadis ini masih bersimpuh di tanah. Pemuda ini terpesona dengan kecantikan gadis yang dilihatnya, yang sekarang tergeletak di tanah.
Namun dia langsung teringat akan bahaya situasi dan musibah besar yang sedang dialaminya ini. Detak jantungnya bertambah cepat, nafasnya keluar masuk memburu.

Anak muda ini menoleh ke lilin yang dia gunakan untuk menerangi ruangannya. Ia bergegas ke sana, menjulurkan salah satu jarinya ke api, namun dia tidak merasakan apa-apa, tetapi bau daging yang terbakar tercium di ruangan.
Gadis itu melihat dengan keadaan sangat cemas dengan apa yang dilihatnya. Setelah beberapa saat, pemuda ini berteriak karena panasnya api lilin. Dia berlari keluar rumah dan meninggalkan si gadis di dalam rumahnya.

Setelah malam beranjak naik hingga berlalu mayoritas waktunya, di mana pemuda ini menghabiskannya di luar rumah, dia kembali ke rumahnya dan tidak melihat gadis tersebut. Pemuda ini mengucapkan hamdalah atas keselamatannya dari situasi dosa tersebut. Dia berkata dalam dirinya, “Bila aku tidak kuat menahan panas api lilin kecil itu, mana mungkin aku kuat menahan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu? Tidak, aku tidak akan kuat. Tidak.”

Ketika gadis itu pulang ke rumahnya, dia semakin mencintai pemuda tersebut. Gadis itu sadar bahwa pemuda itu tidak menginginkan dirinya lewat jalan haram.

Gadis itu merenungkan bagaimana jalan untuk mendapatkan pemuda itu ? Akhirnya dia berkata, “Aku harus menikah dengannya. Harus!”

Gadis itu berbicara kepada ayahnya tentang pemuda itu dan bahwa dia ingin menikah dengannya. Ayahnya yang memang tidak memiliki harapan yang lebih besar daripada menikahkan putrinya dengan pemuda yang baik dan shalih itu, langsung menemuinya esok paginya. Dia berkata, “Putraku, aku ingin menikahkanmu dengan putriku.”
Pemuda itu setuju. Saat itu sang pemuda teringat bahwa barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Saat dia meninggalkan sesuatu yang haram karena takut kepada Allah, maka Allah memberinya sesuatu itu dari jalan yang halal.

Sumber :
Dinukil dari, “Shuwarun Min al-‘Iffah”, Muhammad bin Abdurrahman al-Ajmi, ei, hal. 21-27

Amar Abdullah bin Syakir
Leluhur Kita dan Sikap Memelihara Kehormatan Diri

(Kisah Jauhnya Mereka dari Berzina)

Dulu sebelum ada minyak, mata pencaharian penduduk Kuwait adalah bekerja di laut, baik itu menyelam atau berniaga dengan mengarungi laut. Sudah dikenal di timur dan barat bahwa penduduk Kuwait adalah orang-orang yang amanah, memelihara kehormatan diri dan jujur.

Agar kami bisa membuktikan kata-kata ini maka kami mengajak pembaca kembali ke zaman penuh berkah tersebut. Zaman miskin, tetapi kaya di bidang amanah dan kesucian hati. Sebagian saudagar Kuwait berangkat dalam sebuah perjalanan niaga ke Mozambik. Nahkoda perjalanan ini adalah Haji Isa al-Utsman.

Sang nahkoda berkisah,

“Kami tiba di Mozambik, kami diterima sebagai tamu pada seorang laki-laki Oman yang tinggal di sana. Dia tinggal di sana sebagai duta untuk Inggris yang menangani urusan-urusan perdagangan di sana, seperti ekspor impor teh, gula, kayu dan lainnya. Kami tinggal padanya beberapa hari.

Saat kami hendak pulang, laki-laki Oman berkata kepadaku, ‘Nahkoda Isa,aku punya amanat yang ingin aku kirimkan ke Muskat.

Aku menjawab, ‘Apa amanat tersebut?’

Dia menjawab,’Saudara perempuanku. Dia datang dari Muskat ke sini beberapa bulan yang lalu, dia tinggal bersamaku, dan saat ini dia ingin pulang ke Oman.’

Aku menjawab, ‘Amanat yang sangat berat, seperti memikul gunung. Bagaimana sementara aku mengepalai 50 orang pelaut, perjalananku ke sana memakan waktu kurang lebih sebulan. Maaf aku tidak mampu.’

Dia berkata, ‘Demi Allah, aku sudah menimbang masak-masak, aku tidak mendapatkan orang yang aku merasa tenang menyerahkan amanatku ini kepadanya kecuali kalian wahai orang-orang Kuwait.’

Aku menjawab, ‘Boleh aku tahu alasannya. Mengapa engkau sebegitu yakin dan percaya kepada kami ?’

Dia menjawab, ‘Kalian memiliki kepribadian yang baik, yang bersumber dari agama kalian. Agama itulah yang menjaga kalian sehingga kalian tidak berbuat mungkar.’

Aku berkata sambil menepukkan salah satu tanganku ke lainnya, ‘Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah’.” Nahkoda itu bertawakkal kepada Allah.

Dia menulis surat kesepahaman yang isinya tentang nama gadis tersebut dan umurnya, dan bahwa dia adalah gadis perawan. Nahkoda itu menorehkan tanda tangan, demikian juga laki-laki Oman itu. Tak lupa para saksi ikut bertanda tangan.

Tak lama setelah itu, kapal laut bergerak membawa orang-orang Kuwait menuju negeri mereka. Mereka singgah di Muskat dan mengantarkan gadis tersebut ke keluarganya di sana.

Sepanjang perjalanan, atap mereka adalah langit dan bumi mereka adalah laut. Terjadilah apa yang diduga oleh laki-laki Oman, yaitu sikap memelihara kesucian diri dan amanah orang-orang Kuwait. Nahkoda Utsman berkata tentang awak kapalnya, bahwa tidak seorang pun dari mereka yang mendekat ke tempat di mana gadis tersebut berada. Bila seorang dari mereka memerlukan sesuatu yang penting yang ada di sana, maka mereka menemui nahkoda. Mereka meminta sang nahkoda mengambil apa yang mereka butuhkan yang ada di dekat gadis.
Gadis itu berada di salah satu sudut kapal. Saat awak kapal harus lewat, dia lewat sejauh mungkin dari si gadis dan meletakkan telapak tangannya di wajahnya agar tidak melihat si gadis. Hingga akhirnya tibalah kapal mereka di Muskat. Mereka menyerahkannya kepada keluarganya. Sebuah amanat yang sangat berat. Mereka menandatangani surat penyerahan, begitu juga saksi-saksinya.

Nahkoda Utsman berkata, “Setelah aku menyerahkannya kepada keluarganya, seolah-olah gunung diangkat dari punggungku.”

Para awak kapal yang laki-laki, seorang gadis di tengah-tengah mereka selama sebulan penuh. Mereka sama sekali tidak melihat kepadanya, tidak dengan kebaikan, tidak pula dengan keburukan, apalagi berbicara dengannya dengan keburukan atau mengganggunya.

Betapa mulia para leluhur kita tersebut, yang agama mengajari mereka tentang sikap memelihara kesucian diri, amanah dan menundukkan pandangan. Semoga Allah menjadikan kita semuanya, anak-anak yang meniti jalan hidup para leluhur kita dalam segala sifat-sifat kebaikan. Aamiin
Kisah nyata di atas, yang terjadi pada orang-orang Kuwait ini, mengingatkan saya pada sebuah kejadian di zaman manusia terbaik, Muhammad bin Abdullah-صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – . Saat Muqaiqis menghadiahi Rasulullah-صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – seorang tabib, seekor keledai dan seorang hamba sahaya, Mariyah al-Qibtiyah, yang mana menjadi Ummul Mukminin setelah Rasulullah -صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – yang mulia menikahinya.

Tahukah kalian para pembaca yang budiman, bagaimana Mariyah-رضي الله عنها – – masuk islam ?

Dia berkisah,

“Aku berangkat dari Mesir ke Madinah Munawwarah dengan berjalan kaki.” Sebuah perjalanan yang panjang. Dalam perjalanan, dia bersama beberapa orang sahabat. Mereka adalah orang-orang yang Rasulullah -صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – kirim kepada al-Muqaiqis.

Para sahabat meminta Mariyah berjalan di belakang mereka. Mariyah berkata, “Tak seorang pun dari mereka melihatku dengan pandangan yang mencurigakan … pandangan syahwat-para sahabat memang tidak mungkin berbuat demikian-. Mereka benar-benar menjagaku lebih dari saudara-saudaraku menjagaku. Maka aku sadar bahwa sebuah agama yang mengajari amanat dan memelihara kesucian diri seperti ini adalah agama akhlak dan agama yang benar. Maka aku pun masuk islam.”

Semoga Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى -meridhai para sahabat, dan semoga Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – merahmati para leluhur kita dari orang-orang Kuwait, orang-orang yang senantiasa memelihara kesucian diri dan kebersihan hati, Aamiin.


Sumber :
Dinukil dari, “Shuwarun Min al-‘Iffah”, Muhammad bin Abdurrahman al-Ajmi, ei, hal. 57-62

Amar Abdullah bin Syakir
SAYA HANBALI

Saya hanbali. Hanbalisme dalam diri sudah tumbuh ketika saya masih umur dua belas atau tiga belas tahu. Ketika masa itu saya takjub dengan pribadi Imam Ahmad dan Imam Ibnu Taimiyyah. Dan ketika kuliah di Al-Azhar saya dengan mantap memilih mandzhab hanbali.

Dengan itu saya menjadi mahasiswa Indonesia bahkan Asia Tenggara yang pertamakali muqoyyad sebagai tholib hanbali di Al-Azhar.

Jadi hanbalisme dalam diri saya bukan baru tumbuh kemarin sore dan bukan baru seumuran jagung. Justru sudah puluhan tahun. Meskipun begitu saya tidak membanggakan dan menjadi besar hati dengan hanbalisme tersebut.

Sebagai seorang hanbali saya punya ulama rujukan dalam akidah, fiqh, tashawuf, siyasah, muamalah, dan bersikap kepada orang yang berbeda.

Sebagian ikhwan yang tak bermadzhab dan sangat dipengaruhi ulama Saudi memandang aneh sikap saya yang bertarohhum dan mendoakan Syaikh Yusuf Al-Qorodhowi. Mereka memandang sikap saya berbeda dengan sebagian masyaikh Saudi yang gembira dengan wafatnya Syaikh Al-Qorodhowi.

Sebagai seorang hanbali lebih utama saya mengikuti Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, Imam Ibnu Taimiyyah, Imam Ibnu Rojab dll.

Imam Ahmad bertarohhum dan memohonkan ampunan bagi Khalifah Al-Makmun. Padahal ia seorang yang berakidah muktazilah/jahmiyyah yang punya i'tiqod kufur, menzalimi para ulama sunnah, membunuh sebagian mereka, memecat para qudhot yang tak mau ikuti kebijakannya yang kental muktazilah/jahmiyyah, serta memutus dan menyempitkan rezeki mereka.

Imam Abu Dawud bertarohhum kepada Imam Abu Hanifah. Padahal Abu Hanifah adalah salah satu imamnya kelompok yang disebut murji`ah fuqoha. Dan konon pernah diminta taubat sebanyak tiga kali. Abu Dawud tetap mengatakan: "Semoga Allah memberikan rahmat kepada Abu Hanifah. Adalah ia seorang imam."

Keluarga Tamimiyyun di Baghdad punya hubungan yang sangat dekat dengan Qodhi Abu Bakar Al-Baqillani. Dan Al-Baqillani juga merasa sangat dekat dengan mereka. Sampai-sampai ketika menjawab sebuah pertanyaan Al-Baqillani menyebut dirinya dengan "alhanbali".

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah orang yang paling antusias mendamaikan Hanabilah dan Asy'ariyyah. Imam Ibnul Qoyyim menceritakan dalam Madarij As-Salikin keagungan pribadi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:
وكان بعضُ أصحابِه الأكابرِ يقولُ: وَدِدتُ أنِّي لِأصحابي مِثلُه لِأعدائِه وخُصومِه! وما رأيتُه يَدعو على أحَدٍ منهم قَطُّ، وكان يدعو لهم. وجئتُ يَومًا مُبشِّرًا له بمَوتِ أكبَرِ أعدائِه، وأشدِّهم عداوةً وأذًى له، فنَهَرني، وتنكَّرَ لي، واستَرجَع، ثم قامَ مِن فَوْرِه إلى بَيتِ أهلِه فعَزَّاهم، وقال: إنِّي لكم مكانَه، ولا يكونُ لكم أمرٌ تحتاجون فيه إلى مُساعدةٍ إلَّا وساعَدتُكم فيه. ونَحوَ هذا مِنَ الكلامِ، فسُرُّوا به، ودعَوْا له، وعظَّموا هذه الحالَ منه، فرحمه اللهُ، ورَضيَ عنه.
"Sebagian sahabat senior dari Ibnu Taimiyyah berkata, "Saya ingin sahabat-sahabatku seperti Ibnu Taimiyyah yang bersikap baik kepada musuh-musuh dan lawan-lawannya." Saya sama sekali tak pernah melihatnya mendoakan keburukan atas seseorang dari mereka. Justru ia mendoakan kebaikan bagi mereka. Suatu hari saya datang kepadanya membawa berita gembira atas kematian musuh besarnya serta paling keras memusuhi dan menyakiti dirinya. Namun, ia justru mencelaku dan mengingkari perbuatanku serta mengucapkan istirja'. Kemudian ia berdiri dan buru-buru pergi kerumah keluarganya dan mengucapkan takziyah pada nereka. Ibnu Taimiyyah berkata: "Sesungguhnya saya sekarang menjadi pengganti kedudukan ayah kalian. Apapun keperluan kalian yang butuh bantuan padanya pasti akan aku bantu kalian." Maka, mereka sangat gembira dengan ucapan tersebut, mendoakan kebaikan baginya, serta sangat memuja keagungan pribadinya.
Semoga Allah selalu memberikan rahmat kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan meridhoinya."