BERILMU DENGAN BUKU
63 subscribers
738 photos
27 videos
20 files
532 links
Channel edukasi seputar Aqidah, Ibadah, Muamalah, Pengembangan diri dan Keluarga, Bisnis, Marketing dan Rekomendasi Buku
Download Telegram
Dosa dan kemaksiatan Dikala Sendirian


Dosa dan kemaksiatan, dua perkara yang paling banyak menggugurkan kebaikan dan memberatkan timbangan keburukan. Melakukan satu perbuatan dosa, seperti zina, atau melanggar larangan Allah Azza wa Jalla ketika sendirian, sudah cukup untuk menggugurkan kebaikan-kebaikan walaupun sebesar gunung.

Sahabat Tsauban Radhiyallahu anhu menceritakan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:

عَنْ ثَوْبَانَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ : أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

Dari Tsauban, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa Beliau bersabda, “Aku benar-benar mengetahui rombongan-rombongan orang dari umatku, mereka akan datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan-kebaikan sebesar gunung Tihamah yang berwarna putih, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikannya sebagai debu yang berhamburan”. Tsauban Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Rasulullah! Terangkan sifat mereka kepada kami! Terangkan keadaan mereka kepada kami, agar kami tidak termasuk golongan mereka padahal kami tidak mengetahui!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya mereka itu adalah saudara-saudara kamu, dan dari kulit kamu, mereka mengisi sebagian malam sebagaimana kamu mengisi, namun mereka adalah rombongan-rombongan orang yang jika menyendiri, mereka melanggar perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah”. (HR. Ibnu Majah, 4245 dishahihkan oleh syaikh al-Albani; syaikh Salim al-Hilali dan lainnya)

Oleh karena itu kewajiban kita untuk bertaqwa kepada Allah dimana saja berada, baik ketika sendirian atau ketika bersama banyak orang.
Begitulah yang diwasiatkan oleh di dalam haditsnya:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Bertaqwalah kepada Allah Azza wa Jalla dimana saja engkau berada; Iringilah keburukan dengan perbuatan baik! Niscaya kebaikan itu akan menghapusnya; Dan bergaulah dengan manusia dengan akhlaq yang baik”. (HR. Ahmad 5/153, 158, 177, 236, At-Tirmidzi, 1987; Ad-Darimi 2/323, Al-Hakim 1/54, At-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 20/145, Mu’jamul Ausath 4/125, Mu’jamus Shaghir 350. Dimuat oleh Imam Nawawi dalam Arba’in 18. Hadits dinilai sebagai hadits yang hasan oleh oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 97)
DOA TERLEPAS DARI KEFAKIRAN DAN HUTANG

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ،فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وأَغْنِنِي مِنَ الفَقْرِ
*_Ya Allah, Tuhan yang menguasai langit yang tujuh, Tuhan yang menguasai arasy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu._*

*_Tuhan yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Tuhan yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an)._*

*_Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkau-lah yang pertama, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang terakhir, setelah-Mu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang dzahir, tidak ada sesuatu di atas-Mu, Engkau-lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang menghalangi-Mu, lunasilah hutang kami dan berilah kami kekayaan hingga terlepas dari kefakiran._*
(HR. Muslim, Tirmidzi, Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah)

Tidaklah doa ini dibaca dengan hati yang ikhlas melainkan Allah akan melunasi hutangnya dan memberikannya kekayaan hingga ia terlepas dari kefakiran.

Di mana kita selama ini? mana dunia yang katanya mengeluhkan kemiskinan yang mereka alami?

mana yang mengeluh hutangnya tidak bisa dilunasi? yang sudah sedemikian stress, tertekan, depresi dan penyakit jiwa.

Di mana mereka selama ini dari bergantung kepada Allah? dan dari doa agung ini? Mana orang-orang yang mengeluh mencari pembantu rumahnya?
Seandainya doa di atas dibaca oleh seorang ibu sebelum tidur atau dibaca oleh bapak, niscaya itu lebih baik baginya daripada seorang pembantu.

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengomentari hadits ini:
وَقَدْ جُرِّبَ فَأَكْسَبَ العَبْدَ قُوَّةً عَلَى الخِدْمَةِ فِي صَباحِهِ وَعَمَلِهِ وخِدْمَةِ بَيْتِهِ
*_Doa ini telah dipraktekkan, memberikan efek kekuatan kepada seseorang untuk membantunya di waktu paginya, pekerjaannya dan urusan rumahnya_*.
PAHALA MENGAJAK KEPADA KEBAIKAN

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata :

‏فأنت يا عبد الله إن دعوت إلى خير فلك مثل أجور المهتدين على يديك ، وإن دعوت إلى شر فعليك مثل أوزارهم وآثامهم

“Apabila Anda wahai hamba Allah mengajak kepada kebaikan, Anda akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang yang mendapat hidayah dengan perantaraan Anda. Apabila Anda mengajak kepada kejelekan, Anda juga akan mendapatkan (dosa) seperti dosa-dosa mereka.”

Al-Fatawa, 6/522
*Jangan Pernah Meremehkan Dosa*

Dosa itu bisa beranak pinak. Dari melakukan satu dosa, kemudian mengharuskannya untuk melakukan dosa-dosa yang lainnya.

Ingatlah ketika saudara-saudara Nabi Yusuf meminta kepada ayah mereka untuk memohonkan ampun. Atas apa? dosa-dosa mereka.

قَالُوۡا يٰۤاَبَانَا اسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَاۤ اِنَّا كُنَّا خٰـطِــِٕيۡنَ
*_Mereka berkata, "Wahai ayah kami! Mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa)._* (QS. Yusuf:97)

Dalam ayat ini, saudara-saudara Nabi Yusuf sadar, bahwa satu kesalahan mereka melahirkan berbagai kesalahan lain, melahirkan dosa dan kekeliruan.

Di sini ada sebuah motivasi agar tidak meremehkan dosa. Karena dosa yang banyak itu lahir dari satu dosa yang dilakukan seorang hamba. Terkadang sebuah dosa mengharuskan seseorang untuk berdusta. Berdusta ini adalah dosa tambahan. Terkadang ia harus melakukan kejahatan lain agar kejahatan pertama dapat disembunyikan. Dan ini adalah dosa tambahan baginya.

Begitulah satu dosa membuka pintu dosa-dosa yang lain. Syaikh as-sa'di berkata:
يجب على الإنسان أن يحذر من الذنوب يتسلسل شرها
*_Wajib bagi setiap orang untuk berhati-hati dari dosa yang beranak-pinak_*.

Dan seorang ahli ilmu mengatakan, ternyata dosa yang paling subur, melahirkan banyak dosa demi dosa adalah pembunuhan.

Pembunuhan merupakan kejahatan terbesar kepada Allah setelah kesyirikan. Membunuh terkadang karena masalah pribadi, ingin balas dendam, atau ingin melampiaskan kemarahannya.

Ketika sudah membunuh, mulailah dosa-dosa yang lain terlahir. Sehingga dosa yang dapat beranak pinak, wajib untuk diwaspadai. Jangan sampai telapak kaki ini masuk dalam kubangannya. Karena apabila kaki sudah menapak di sana, pastilah ia akan terpeleset.

Pasti terpeleset kakinya. Akhirnya ia masuk dalam kubangan lumpur dosa dan kemaksiatan lainnya. Wal'iyaadzubillah.


*Sekolah Konselor Keluarga*
*ADAB BERSELISIH ANTARA SUAMI DAN ISTRI*

Dalam sebuah perselisihan atau perseteruan antara suami dan istri, terkadang berakhir dengan marahnya suami akibat perkataan istri yang menyinggung atau menyakitkan. Bagaimanakah Islam mendudukkan permasalahan ini? berdosakah istri karena membuat suaminya marah?

*Jawaban*

إذا كان إغضابها له بغير حق تأثم ولا يجوز لها أن تنازع ولا أن تؤذيه بالكلام, أما إذا كان بحق بأن أنكرت عليه منكر يتساهل في الصلاة فأنكرت عليه, يشرب المسكر فأنكرت عليه وناصحته فغضب فهي مأجورة غير مأزورة بل مشكورة, , وعليها الكلام الطيب, والسمع والطاعة في المعروف, لكن إذا كان هو يتعاطى المعاصي فأنكرت عليه, ونصحته, ووجهته إلى الخير, فالواجب عليه أن يقبل منها وأن يشكرها وأن لا يغضب؛ لأنها محسنة, ومأجورة, وناصحة فجزاؤها أن يزداد حبها, وأن يشكرها على ذلك. بارك الله فيكم

Apabila si istri tadi membuat marah suaminya tanpa alasan yang dibenarkan, maka ia berdosa. Tidak boleh baginya untuk menentang dan menyakiti suaminya walau dengan ucapannya.

Adapun apabila perselisihan tersebut karena ada alasan Yang benar, seperti mengingkari kemaksiatan yang ada pada suaminya, suaminya bermudah mudahan dalam masalah sholat kemudian ia mengingkarinya. Suaminya minum khomr kemudian dia mengingkari dan menasehatinya, lalu suaminya marah maka ia mendapatkan pahala dan tidak berdosa.

Namun wajib bagi sang istri untuk bertutur kata yang baik, mendengar dan taat pada perkara yang ma’ruf.
Apabila seorang suami melakukan maksiat kemudian istrinya mengingkari, menasihati dan mengarahkannya kepada yang baik, maka wajib bagi suami untuk menerimanya bahkan berterima kasih kepadanya.
Karena sejatinya sang istri sedang berbuat baik kepadanya, ia akan mendapatkan pahala karena ia menginginkan kebaikan untuk suaminya.

Maka balasan yang pantas untuk istrinya adalah hendaknya bertambah rasa cinta sang suami dan sepantasnya ia berterima kasih kepadanya. *_Barokallahu fiikum._*


(Dijawab oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah)
*MERAIH CINTA ALLAH : BERTAQARRUB KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA DENGAN AMALAN SUNNAH SETELAH YANG WAJIB*

Menunaikan yang wajib adalah taqarrub kepada Allâh Azza wa Jalla yang paling utama. Bila hamba menunaikannya dengan sempurna, ia akan mendapatkan keberuntungan, pun akan menggapai surga dan selamat dari neraka. Pernah seorang dari Najd datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam dan bertanya tentang (amalan wajib dalam) Islam. Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Lima shalat yang wajib sehari semalam.” Ia berkata, “Apa ada kewajiban (shalat) atasku yang lain?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Tidak, kecuali bila engkau melakukannya dengan suka rela (tathawwu’).” Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam juga menyebutkan tentang kewajiban puasa, juga zakat, dan orang tersebut pun bertanya; apakah ada kewajiban atasku yang lain; Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab: “Tidak, kecuali bila engkau melakukannya suka rela.” Maka orang tersebut pun pergi dengan mengatakan: “Demi Allâh, aku tidak akan menambah ataupun menguranginya.”
Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam pun bersabda: “Ia akan mendapatkan keberuntungan bila jujur.”[1]

Namun orang yang melakukan amalan-amalan tathawwu’ (sunnah) akan lebih banyak mendapatkan keberuntungan dan lebih tinggi derajatnya dari yang sekedar menunaikan yang wajib semata. Apalagi seseorang tak lepas dari kekurangan dan kealpaan saat melaksanakan amalan wajibnya.

Orang yang menunaikan hal-hal yang wajib dengan sempurna berarti ia mencintai Allâh Azza wa Jalla . Sedangkan orang yang masih menambahnya dengan amalan-amalan sunnah, ia dicintai Allâh Azza wa Jalla. Ini seperti dalam hadits qudsi:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.”[2]

Jadi, orang yang bertaqarrub dengan yang sunnah setelah yang wajib mempunyai keistimewaan lebih tinggi dari yang sekedar menunaikan yang wajib. Karena tuntutan asal atas hamba adalah melaksanakan yang wajib, di mana ia akan berdosa bila teledor atau meninggalkannya. Sehingga maksud dari bertaqarrub dengan yang sunnah adalah ketika yang wajib sudah ditunaikan, bukan orang yang melalaikannya.

Secara umum ada dua kategori dari mereka yang selamat yaitu: Pertama: Mereka yang mencintai Allâh Azza wa Jalla , yaitu yang menunaikan yang wajib, berhenti pada batasan-batasan-Nya.

Kedua: Mereka yang dicintai Allâh, yaitu mereka yang melakukan yang sunnah disamping yang wajib. Dan inilah yang dimaksud Ibnul Qayyim t dengan ucapannya: [Hal ini akan menghantarkan hamba menuju tingkatan memperoleh cinta-Nya (mahbûbiyyah) setelah menggenggam tingkatan mencintai-Nya (mahabbah)].

Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menyatakan, bahwa para wali Allâh Azza wa Jalla yang dekat dengan-Nya ada dua golongan:
1. Yang bertaqarrub dengan menunaikan yang fardhu, dengan mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang diharamkan.
Mereka ini adalah al-muqtashidûn (seperti dalam al-Qur’an surat Fâthir ayat 32) ash-hâbul yamîn (seperti dalam al-Qur’an surat Al-Wâqi’ah ayat 27). Menunaikan amalan wajib adalah amal yang paling utama seperti ucapan Umar Bin al-Khatthab Radhiyallahu anhu : “Amalan yang paling utama adalah menunaikan apa-apa yang Allâh wajibkan, dan menjauhi apa yang Allâh haramkan, serta mempunyai niat yang benar dalam menggapai apa yang ada di sisi Allâh.

2. Di samping bertaqarrub dengan yang wajib, juga bertaqarrub dengan yang sunnah.
Mereka berada pada tingkatan sâbiqun muqarrabûn (Yang bergegas menjemput kebaikan dan dekat dengan-Nya). Setelah menunaikan yang wajib, mereka giat pula melakukan yang sunnah, dan bersikap wara’ dengan tidak melakukan hal-hal yang dimakruhkan, walaupun kecil bentuknya. Ini membuat hamba mendapatkan kecintaan dari Allâh; seperti dalam hadits qudsi di atas: (Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya). Orang yang dicintai Allâh, akan diberikan untuknya kecintaan dan ketaatan kepada-Nya, selalu dzikir ingat kepada-Nya, dan mendapatkan kedudukan di sisi-Nya.[3]

Baca Juga Jangan Mengikuti Hawa Nafsu
Amalan-amalan nafilah (sunnah) dalam bertaqarrub kepada Allâh tentu banyak ragamnya; di mana intinya adalah amalan-amalan yang bersifat tambahan dari amalan-amalan yang wajib; seperti shalat, zakat, puasa, haji ataupun umrah yang bermuatan sunnah, bukan wajib.

Berikut ini kita ketengahkan penjelasan beberapa contoh dari amalan sunnah; namun karena keterbatasan ruang, kita cukupkan dengan amalan-amalan shalat sunnah saja.

NAWAFIL DALAM SHALAT
Dalam hal ini ada 3 kategori: sunnah, mustahabb, dan tathawwu’.

Yang dimaksud sunnah adalah amalan sunnah yang terus ditekuni dan dijaga oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam . Adapun mustahabb adalah amalan sunnah yang disebut memiliki keutamaan namun tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam terus menerus melakukannya. Sedangkan tathawwu’ yaitu amalan sunnah tidak masuk kategori di atas, artinya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam tidak pernah menyebutnya dalam hadits Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam namun ada riwayat yang menerangkan bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam memberikan izin untuk dilakukan.[4]

Contoh Shalat Yang Sunnah:
1. 10 rakaat saat tidak safar
Telah sah dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bahwa Beliau menjaga shalat ini. Abdullah bin Umar berkata: “Aku hafal dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam 10 rakaat: 2 rakaat sebelum dan sesudah Zhuhur, 2 rakaat setelah Maghrib di rumah beliau, 2 rakaat setelah Isya’ di rumah beliau, dan 2 rakaat sebelum shalat Shubuh.”[5] Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam tidak meninggalkan 10 rakaat ini –seperti diungkapkan Ibnul Qayyim rahimahullah – sama sekali saat berada di dalam negeri (tidak safar). Ketika 2 rakaat sebelum Zhuhur ini luput, beliau mengqadha’ nya setelah Ashar.[6]

2. Shalat 4 rakaat sebelum Zhuhur
Sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu anhuma bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam tidak meninggalkan 4 rakaat sebelum Zhuhur.[7] Hal ini karena adanya keutamaan khusus pada waktu setelah tergelincirnya matahari, di mana Beliau menyatakan bahwa saat tersebut dibukakan pintu-pintu langit, sehingga Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam suka kalau amal shalih Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salamaik ke langit pada saat tersebut.[8]

Bila seseorang melaksanakan shalat 4 rakaat sebelum shalat Zhuhur seperti dalam hadits Aisyah Radhiyallahu anhuma –menggantikan dua rakaat seperti dalam riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu an huma -, sehingga ia mendirikan 12 rakaat, maka ia telah menorehkan keutamaan seperti dalam hadits Ummu Habibah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ
Barangsiapa yang shalat 12 Rakaat sehari semalam (selain yang fardhu), maka dibangun untuknya sebuah rumah di surga dengan sebabnya.[9]

Dalam Kitab-kitab Sunan disebutkan rinciannya: 4 rakaat sebelum Zhuhur, 2 setelahnya, 2 rakaat setelah Maghrib, 2 rakaat setelah Isya, dan 2 Rakaat sebelum Shubuh.

3. Menjaga shalat Witir
Shalat ini tidak pernah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam tinggalkan, dan juga 2 rakaat sebelum Shubuh, baik saat safar ataupun tidak. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam memerintahkannya dengan bersabda:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا

Jadikanlah shalat witir sebagai akhir shalat malam kalian.[10]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Dalam safar Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam selalu menjaga sunnah fajar dan witir, lebih dari semua shalat nafilah lainnya; tidak dengan sunnah-sunnah lainnya. Dan tidak pernah dinukilkan dari beliau dalam safar bahwa Beliau melakukan shalat sunnah rawatib selain dua shalat ini.[11]

Contoh Shalat Yang Mustahabb
Shalat Dhuha
Telah datang beberapa hadits shahih menegaskan keutamaannya. Sampai-sampai Ibnul Jauzi rahimahullah memposisikannya layaknya sunnah rawatib.[12]Namun pendapat yang kuat bahwa shalat Dhuha bukan termasuk sunnah rawatib. Sebab tidak ada nukilan yang menyebutkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam menjaga dan kontinyu melanggengkannya, begitu pula dengan para sahabat senior.

Baca Juga Lorong-lorong Syetan untuk Menyesatkan Manusia
Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan dari sekelompok ulama bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam shalat Dhuha karena ada suatu sebab. Misalnya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam pernah melakukannya 8 rakaat pada Fathu Makkah karena sebab penaklukakan Mekkah. Beliau juga melakukannya di rumah Itbân Bin Malik ketika ia meminta Rasul agar shalat di rumahnya untuk ia jadikan sebagai tempat shalatnya, setelah ia buta dan ada hal yang menghalanginya pergi ke masjid. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam juga melakukannya bila datang dari bepergian; di mana bila datang dari safar, Beliau lebih dahulu shalat 2 rakaat di Masjid. Begitu pula Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam shalat Dhuha bila datang ke Masjid Quba’.[13]

Shalat Dhuha juga sebagai pengganti dari shalat malam bagi orang yang tidak bisa kontinyu melakukannya. Sebagian hadits tentang keutamaan Shalat Dhuha dibawa pada pengertian ini. Hadits-hadits dan atsar yang ada, tidak lain menunjukkan hal di atas. Sedangkan hadits-hadits tentang motivasi untuk melakukannya dan wasiat untuk melakukannya; seperti hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dan Abu Dzar Radhiyallahu anhu , maka yang shahih adalah itu tidak menunjukkannya sebagai sunnah rawatib bagi setiap orang. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam mewasiatkan Abu Hurairah dengan hal tersebut, karena seperti dalam riwayat-riwayat yang ada, bahwa Abu Hurairah disibukkan dengan mempelajari hadits pada malam hari, sehingga Rasul mewasiatkan kepadanya untuk melakukan pada waktu Dhuha, sebagai ganti dari shalat malam. Karena itulah beliau memerintahkan Abu Hurairah agar tidak tidur sampai melakukan witir terlebih dahulu. Beliau tidak memerintahkan itu kepada Abu Bakr, Umar dan juga sahabat lainnya.

Singkat kata, shalat Dhuha termasuk shalat nafilah yang mustahabb; bukan termasuk yang rawatib (yang dikontinyukan).

Contoh Shalat Yang Tathawwu’:
Dua rakaat sebelum Maghrib
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam mengizinkan para sahabat untuk melakukannya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: adapun dua rakaat sebelum Maghrib, maka tidak ada nukilan yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam melakukannya. Namun telah shahih dari Beliau bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam membenarkan (memberi penetapan) para sahabat untuk melakukannya; di mana Beliau melihat mereka melakukannya. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam tidak memerintahkan, ataupun melarangnya.[14]

Dan telah shahih pula bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam memberi pilihan kepada para sahabat untuk shalat sebelum Maghrib, sebagaimana dalam hadits Abdullah al-Muzani, di mana Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
صَلُّوا قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً

“Shalatlah sebelum Maghrib” – dan Beliau berkata pada ketiga kalinya: “bagi yang mau.” Karena Beliau khawatir kalau orang-orang menjadikannya sebagai sunnah (yang dikontinyukan).[15]

Ini sebagai contoh untuk beberapa amalan sunnah dengan sedikit perinciannya dalam shalat. Dan masih banyak amalan-amalan lain yang bermuatan sunnah, yang mungkin bisa dirujuk pada kitab-kitab yang ada.
JANJI ALLAH UNTUK RASULNYA

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّا كَفَیۡنَـٰكَ ٱلۡمُسۡتَهۡزِءِیْنَ.

“Sesungguhnya Kami memelihara engkau (Muhammad) dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olok (engkau).” (Q.S. al-Hijr: 95)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy rahimahullah mengatakan:

هذا وعد من الله لرسوله، أن لا يضره المستهزئون، وأن يكفيه الله إياهم بما شاء من أنواع العقوبة. وقد فعل تعالى فإنه ما تظاهر أحد بالاستهزاء برسول الله صلى الله عليه وسلم وبما جاء به إلا أهلكه الله وقتله شر قتلة.

“Ini merupakan janji Allah untuk RasulNya, bahwa orang-orang yang memperolok-olok beliau tidak akan membahayakan beliau. Allah pun akan melindungi beliau dari kejahatan mereka dengan menimpakan berbagai macam hukuman yang Dia kehendaki. Dan sungguh Allah ta’ala telah memenuhi janjiNya. Tidaklah ada seorang yang memperolok-olok beliau dengan terang-terangan melainkan Allah membinasakan dan membunuh orang itu dengan cara yang paling buruk.” (Tafsir as-Sa’diy 1/435)
ENAM TINGKATAN ILMU

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

وللعلم ست مراتب أولها حسن السؤال…فمن الناس من يحرمه لعدم حسن سؤاله أما لأنه لا يسأل بحال أو يسأل عن شيء وغيره أهم إليه منه كمن يسأل عن فضوله التي لا يضر جهله بها ويدع ما لا غنى له عن معرفته وهذه حال كثير من الجهال المتعلمين ومن الناس من يحرمه لسوء إنصاته فيكون الكلام والممارات آثر عنده وأحب اليه من الانصات وهذه آفة كامنة في أكثر النفوس الطالبة للعلم وهي تمنعهم علما كثيرا ولو كان حسن الفهم

“Ilmu memiliki 6 tingkatan, yang pertama adalah bagusnya pertanyaan… dan sebagian orang ada yang tidak mendapatkan ilmu karena jeleknya pertanyaan, mungkin karena dia tidak bertanya sama sekali, atau bertanya tentang sesuatu padahal disana ada sesuatu yang lebih penting yang patut ditanyakan seperti bertanya tentang sesuatu yang sebenarnya tidak mengapa kita tidak mengetahuinya dan meninggalkan pertanyaan yang harus kita ketahui, dan ini adalah keadaan kebanyakan dari para penuntut ilmu yang bodoh.”

Miftah Daris Sa’adah, 169
*AQIDAH DALAM BERDAGANG*


Dalam dagang saya mendapatkan pelajaran telak bahwa pendidikan, kemampuan, dan segala hal lainnya bukanlah penentu laris manis atau sepi.

Seorang atsari ketika dagang dia tawakkal total kepada Allah Ta'ala. Karena yang membagi rezeki adalah Allah Ta'ala. Yang mengerakkan hati manusia buat membeli adalah Allah Ta'ala. Saya mengimani hadits:
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ
*_Sesungguhnya seluruh hati-hati manusia ada diantara dua jari dari jari-jari Dzat Yang Maha Pemurah, seperti satu kalbu, Dia gerakkan sesuai kehendak-Nya._*

Saya meingimani hadits itu. Saya tak persoalkan statusnya yang ahad seperti para mutakallimin. Saya juga tetapkan lahir hadits tersebut sebagaimana kabar dari Rosulullah SAW serta ajaran para sahabat dan imam-imam mujtahidin dari salaf.

Ketika rugi puluhan juta, saya tetap tsiqoh pada Allah Ta'ala. Tak perlu saya pergi ke kuburan orang sholih lalu istighotsah pada mereka atau berdoa padanya. Atau pergi ke kiai atau ajengan atau dukun atau pesulap atau tempat-tempat pesugihan.

Cukup saya banyak beristighfar. Isti'anah dan istighotsah langsung kepada Allah. Banyak baca sholawat yang masyru' dan ma`tsur. Berbuat baik kepada manusia. Melakukan berbagai ketaatan. Saya berharap saya dicintai oleh Allah Ta'ala. Kalau Allah Ta'ala sudah cinta pada hamba-Nya maka manusia akan mencintai kita.

Saya mengimani hadits nuzul. Bahwa di sepertiga malam terakhir Allah Ta'ala turun ke langit dunia. Saya tak persoalkan status haditsnya yang ahad. Saya tak mengotak-atik hadits tersebut. Pokoknya saya iman dan percaya dengan khabar yang disampaikan baginda Nabi SAW. Karena itu, pada waktu itu saya semangat doa, istighfar, sholawat, memuji, minta, isti'anah, dan istighotsah kepada Allah Ta'ala. Kenapa? Karena Allah Ta'ala turun ke langit dunia.
Dan Dia berfirman:
مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
*_Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan kabulkan; siapa yang minta kepada-Ku maka akan aku berikan; dan siapa yang minta ampunan dari-Ku maka Aku akan ampuni._*

Intinya dagangan kita laku bukan karena kita pandai, hebat dan kuasai ini dan itu. Tapi kemurahan Allah Ta'ala.


( _Hafidin Achmad Luthfie_ )
*ILMU HILANG DENGAN KEPERGIAN MEREKA*


Ketika Umar radhiyallahu 'anhu meninggal, Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:
إِنِّي لَأَحْسَبُ تِسْعَةَ أَعْشَارِ العِلْمِ اليَوْمَ قَدْ ذَهَبَ
*_Aku merasa 9/10 ilmu telah menghilang hari ini_*. (Mu'jamu Kabir No.8808)

Ketika seorang ulama yang hatinya dipenuhi ilmu agama meninggal, berapa banyak ilmu yang hilang dengan kepergiannya? Ini yang dirasakan setiap orang, setiap kali ada ulama besar yang meninggal. Ketika seorang ulama meninggal, berapa ilmu yang menghilang?

Karena ulama adalah pembawa ilmu dan tempat manusia bertanya. Jika seorang ulama meninggal, maka ilmu pun diangkat.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّـى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.
*_Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain_*. (HR. Bukhari no.100 dan Muslim no.2673)
SYAIKH YUSUF QARADHAWY


🌾🌻Mereka berkata tentang Syaikh Yusuf bin Abdillah Al Qaradhawy🌻🌾

💥💦💥💦💥💦

Imam Hasan Al Banna berkata: "Sesungguhnya ia adalah seorang penyair yang jempolan dan berbakat."

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz mantan mufti kerajaan Saudi dan ketua Hai'ah Kibarul Ulama berkata: "Buku-bukunya memiliki bobot ilmiah dan sangat berpengaruh di dunia Islam."

Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany-ahli hadits terkemuka abad 20 berkata, "Saya diminta (al Qaradhawy) untuk meneliti riwayat hadis serta menjelaskan kesahihan dan ke dha'ifan hadis yang terdapat dalam bukunya (Halal wal Haram). Hal itu menunjukkan ia memiliki akhlak yang mulia dan pribadi yang baik. Saya mengetahui semua secara langsung. Setiap dia bertemu saya dalam satu kesempatan, ia akan selalu menanyakan kepada saya tentang hadis atau masalah fiqh. Dia melakukan itu agar ia mengetahui pendapat saya mengenai masalah itu dan ia dapat mengambil manfaat dari pendapat saya tersebut. Itu semua menunjukkan kerendahan hatinya yang sangat tinggi serta kesopanan dan adab yang tiada tara. Semoga Allah Ta'ala mendatangkan manfaat dengan keberadaannya."

Syaikh Abul Hasan Ali An Nadwi - ulama terkenal asal India berkata: "Al Qaradhawy adalah seorang 'alim yang sangat dalam ilmunya sekaligus sebagai pendidik kelas dunia."

Al 'Allamah Musthafa az Zarqa', ahli fiqh asal Suriah berkata: "Al Qaradhawy adalah Hujjah zaman ini dan ia merupakan nikmat Allah atas kaum muslimin."

Al Muhaddits Abdul Fattah Abu Ghuddah, ahli hadis asal Suriah dan tokoh Ikhwanul Muslimin berkata: "Al Qaradhawy adalah mursyid kita. Ia adalah seorang 'Allamah."

Syaikh Qadhi Husein Ahmad, amir Jamiat Islami Pakistan berkata: "Al Qaradhawy adalah madrasah ilmiah fiqhiyah dan da'awiyah. Wajib bagi umat untuk mereguk ilmunya yang sejuk."

Syaikh Thaha Jabir al Ulwani, direktur International Institute of Islamic Thought di AS - berkata: "Al Qaradhawy adalah faqihnya para dai dan dainya para faqih."

Syaikh Muhammad Al Ghazaly- dai dan ulama besar asal Mesir yang pernah menjadi guru al Qaradhawy sekaligus tokoh Ikhwanul Muslimin berkata: "Al Qaradhawy adalah salah seorang Imam kaum muslimin zaman ini yang mampu menggabungkan fiqh antara akal dengan atsar."
Ketika ditanya lagi tentang Al Qaradhawy, ia menjawab, "Saya gurunya, tetapi ia ustadzku. Syaikh dulu pernah menjadi muridku, tetapi kini ia telah menjadi guruku."

Syaikh Abdullah bin Baih -dosen Univ. malik Abdul Aziz di Saudi - berkata: "Sesungguhnya Allamah Dr. Yusuf Al Qaradhawy adalah sosok yang tidak perlu lagi pujian karena ia adalah seorang 'alim yang memiliki keluasan ilmu bagaikan samudera. Ia adalah seorang dai yang sangat berpengaruh. Seorang murabbi generasi Islam yang sangat jempolan dan seorang reformis yang berbakti dengan amal dan perkataan. Ia sebarkan ilmu dan hikmah karena ia adalah sosok pendidik yang profesional."

Lebih dari itu, sesungguhnya Syaikh al Qaradhawy bukanlah seorang faqih yang hanya menyodorkan solusi teoritis mengenai masalah-masalah umat saat ini, masalah ekonomi, sosial dan lainnya, tetapi ia adalah seorang praktisi lapangan yang tangguh dan langsung turun ke lapangan. Ia telah menyumbangkan kontribusinya yang sangat besar dalam mendirikan pusat-pusat kajian keilmuan, universitas-universitas, dan lembaga-lembaga bantuan. Ringkasnya, Al Qaradhawy adalah seorang Imam dari para Imam kaum muslimin masa kini dan ia adalah seorang Syaikhul Islam masa kini.

Jika anda sepakat dengannya, pasti anda akan merasakan kepuasan dengan alasan-alasan dan hujjah yang ia kemukakan. Jika tidak setuju dengannya, pasti anda akan menghormati pendapatnya karena pendapat yang ia lontarkan adalah pendapat seorang 'alim yang takwa. Pendapat yang tidak muncul dari kebodohan dan tidak pula dari hawa nafsu. Takwa dan ilmu merupakan syarat bagi mereka yang menerjukan diri dalam fatwa agar fatwa dan kata-kata yang dikeluarkannya dihormati dan bernilai. Dua syarat itu telah terpenuhi Syaikh Yusuf al Qaradhawy.
Ia memiliki karakter yang sangat memadai untuk disebut sebagai seorang 'alim dan Imam. Ia adalah seorang 'alim yang berilmu

sangat luar dan dalam. Pengetahuannya multidimensi. Ia mampu menggabungkan antara naqli dan aqli, antara Alquran dan Assunnah, antara pokok (ushul) dan cabang (furu), antara sastra dan bahasa.

Di samping itu, ia pun memiliki ilmu penetahuan modern yang sangat luas. Hujjah-hujjah nya sangat jelas dan keterangan- keterangannya sangat memukau. Selain itu, ia memiliki kepribadian yang menawan, jiwa yang baik, rendah hati, lidahnya bersih dan selamat dari rasa dengki. Karangannya seringkali menjadi senjata untuk membela orang-orang sezamannya seperti yang ia lakukan untuk Syaikh Al Ghazaly. Sesungguhnya Syaikh Yusuf Al Qaradhawy adalah ulama unik yang jarang kita dapatkan di masa kini."

Syaikh Abdullah Al 'Aqil-mantan sekretari Liga Muslim Dunia-berkata: "Al Qaradhawy adalah laki-laki yang tahu langkah dakwah sekaligus sebagai faqih zaman ini."

Syaikh Abul Majid Az Zindani-dai dan tokoh harakah asal Yaman-berkata, "Al Qaradhawy adalah seorang 'alim dan mujahid."

Syaikh Abdul Qadir Al Umari-mantan ketua Mahkamah Syariah Qatar-berkata, "Al Qaradhawy adalah seorang faqih yang membawa kemudahan-kemudahan."

Syaikh Muhammad 'Umar Zubair berkata, "Al Qaradhawy adalah pembawa panji kemudahan dalam fatwa dan kabar gembira dalam dakwah."

Syaikh Muhammad Fathi 'Utsman-seorang pemikir Islam terkenal-berkata, "Al Qaradhawy adalah seorang tokoh dan dai yang memiliki mata hati yang tajam dalam melihat realitas."

Syaikh Adil Husein-penulis muslim dan tokoh Partai Amal di Mesir-berkata, "Al Qaradhawy adalah seorang ahli fiqh moderat zaman ini."

Syaikh Rasyid Al Ghanusyi-tokoh harakah dan ketua Partai Nahdhah di Tunisia berkata, "Ia adalah Imam Mujaddid. Al Qaradhawy adalah lisan kebenaran yang memberikan pukulan keras kepada orang-orang munafik di Tunisia."

Syaikh Ahmad ar Rasyuni - ketua Jama'ah Tauhid di Maroko berkata, "Al Qaradhawy adalah seorang faqih yang mengerti maksud penerapan syariah."

Syaikh Umar Nashef - Direktur Univ. King Abdul Aziz berkata, "Al Qaradhawy berada pada puncak pengabdiannya pada ilmu pengetahuan."

Syaikh Adnan Zarzur -Profesor dan Ketua Dekan Fakultas ushuluddin di Univ. Qatar berkata, "Al Qaradhawy adalah seorang mujaddid. Ia adalah faqih dan mujtahid zaman ini. Al Qaradhawy telah berhasil menggabungkan ketelitian seorang faqih, semangat seorang dai, keberanian seorang mujaddid dan kemampuan seorang Imam. Al Qaradhawy telah membangun dakwah Islam dalam fiqh dan ijtihad."

Syaikh Isham Talimah mengutip perkataan seorang ulama, "Andaikata Al Qaradhawy hanya mengarang buku Fiqh Zakat, dia akan berjumpa dengan Allah Ta'ala dan telah dianggap membaktikan dirinya di bidang ilmiah untuk kepentingan Islam dan Umat Islam."

Syaikh Abul A'la al Maududi mengatakan bahwa Fiqh Zakat adalah buku zaman ini dalam fiqh Islam. Para spesialis masalah zakat mengatakan belum pernah ada satu karya pun yang menandingi Fiqh Zakat karya Al Qaradhawi.

Semoga Allah Ta'ala menjaga Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, memberkahi usianya dan menjadikan ilmunya bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Amiin.

🌿🍃🌿🍃🌿

📚 Syaikh Isham Talimah, Manhaj Fiqih Syaikh Yusuf Al Qaradhawi
MERUSAK AGAMA ATAS NAMA KEMANUSIAAN
Oleh: Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)


Bagi umat Islam, nama Freemasonry sudah tidak asing lagi. Organisasi ini pernah beroperasi di Indonesia selama 200 tahun. Dalam buku Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962, karya Dr. Th Steven dijelaskan misi organisasi yang memiliki simbol Bintang David ini: ”Setiap insan Mason Bebas mengemban tugas, dimana pun dia berada dan bekerja,untuk memajukan segala sesuatu yang mempersatukan dan menghapus pemisah antar manusia.”

Cermatilah misi Freemason ini: “menghapus pemisah antar manusia”. Dalam berbagai tulisan tokoh-tokoh Freemason, agama dianggap sebagai salah satu pemisah antar manusia. Bahkan, ada yang menerbitkan buku berjudul: When Religious Becomes Evil!.

Maka, jangan heran, jika banyak orang berteriak lantang: ”Semua agama adalah sama”. Atau, ”Semua agama adalah benar, karena merupakan jalan yang sama-sama sah untuk menuju Tuhan yang satu.” Siapa pun Tuhan itu, tidak dipedulikan.

Yang penting Tuhan! Jika seorang mengatakan bahwa semua agama saja, itu artinya ia tidak beragama. Sebab, ia telah menyamakan antara tauhid dan syirik, antara iman dan kufur, antara shirathal mustaqim dan jalan sesat.

Sejak awal abad ke-18, Freemasonry telah merambah ke berbagai dunia. Di AS, misalnya, sejak didirikan pada 1733, Freemason segera menyebar luas ke negara itu, sehingga orang-orang seperti George Washington, Thomas Jefferson, John Hancock, Benjamin Franklin menjadi anggotanya. Prinsip Freemasonry adalah “Liberty, Equality, and Fraternity”. (Lihat, A New Encyclopedia of Freemasonry, (New York: Wing Books, 1996).

Dalam buku Ksatria-kstaria Templar Cikal Bakal Gerakan Free Masonry (Terj.), mengungkap upaya kaum Freemason di Turki Utsmani untuk menggusur Islam dengan paham humanisme. Dalam suratnya kepada seorang petinggi Turki Utsmani, Mustafa Rasid Pasya, August Comte menulis, “Sekali Utsmaniyah mengganti keimanan mereka terhadap Tuhan dengan humanisme, maka tujuan di atas akan cepat dapat tercapai.” Comte yang dikenal sebagai penggagas aliran positivisme juga mendesak agar Islam diganti dengan positivisme.

Paham humanisme sekular adalah paham Freemason, yang kemudian diglobalkan – salah satunya – melalui konsep HAM. Maka, jangan heran, jika Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) yang ditetapkan tahun 1948 sarat dengan muatan humanisme dan tidak berdasarkan agama tertentu. Bahkan, sebagian pasalnya bertentangan dengan konsep Islam.

Uniknya konsep yang bertentangan dengan konsep Islam, diklaim bersifat universal. Sedangkan konsep Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw dituduh sektarian atau tidak universal.
Lihat saja, pasal 16 dan 18 DUHAM (tentang kekebasan perkawinan dan kebebasan untuk pindah agama). Dunia Islam mengajukan gagasan alternatif dalam Deklarasi Kairo yang tetap mempertahankan faktor agama dalam keabsahan konsep perkawinan dan kebebasan beragama.
*****
Kaum Yahudi tentu saja banyak yang aktif di organisasi seperti Freemason ini. Di Turki Utsmani, tokoh-tokoh Yahudi di Freemason memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran para aktivis Gerakan Turki Muda (Young Turk Movement). Bahkan, kuat sekali indikasinya, Yahudi merancang dan mendominasi arah organisasi lintas agama ini.

Dan ini sangat bisa dipahami. Selama ribuan tahun Yahudi menjadi korban penindasan kaum Kristen di Eropa. Dengan berkembangnya aktivitas Free Mason, maka secara otomatis, penindasan terhadap Yahudi bisa semakin diminimalkan.

Cukup banyak bukti yang menunjukkan besarnya pengaruh Freemason dalam pembentukan ideologi dan pemikiran Turki Muda. Ketika itu, aktivis Freemason memiliki hubungan erat dengan kelompok Osmanli Hurriyet Cemiyati (The Ottoman Freedom Society) yang dibentuk tahun 1906.
Tokoh Freemason adalah Cleanthi Scalieri, pendiri loji The Lights of the East (Envar-I Sarkiye), yang keanggotaannya meliputi sejumlah politisi, jurnalis, dan agamawan terkemuka (seperti Ali Sefkati, pemimpin redaksi koran Istiqbal dan Prince Muhammad Ali Halim, pemimpin Freemasonry Mesir).
Fakta-fakta ini menunjukkan, bahwa kepemimpinan Scalieri menentukan sejumlah elemen Gerakan Turki Muda. Sampai sekitar 1895, loji-loji Freemason sebagian besar “bermain” dalam bentuk klendestin dan menghindari kontak langsung dengan kelompok-kelompok Turki Muda.

Tetapi, faktanya, anggota-anggota loji Freemason memainkan peranan penting dalam proses liberalisasi dan oposisi terhadap Sultan Abdul Hamid II. (Lebih jauh tentang masalah ini, lihat: Adian Husaini, Tinjauan Historis Konflik Yahudi-Kristen-Islam, (Jakarta: GIP, 2004).

Meskipun mengaku bukan sebagai satu agama tersendiri, tetapi Freemason juga memiliki ajaran ketuhanan dan tata cara ritual tersendiri. Buku Dr. Th Steven dihiasi dengan banyak foto tempat-tempat pemujaan Freemason di Jakarta, Surabaya, Makasar, Medan, Palembang, dan sebagainya. Sejumlah tokoh nasional juga disebutkan menjadi anggotanya. Siapakah Tuhan yang dipuja pengikut Freemason? Tidak jelas!

Dengan memposisikan dirinya di luar agama-agama yang ada, maka Freemason mengklaim lebih mengedepankan problematika kemanusiaan bersifat lintas agama. Misi kemanusiaan yang tidak berdasarkan agama inilah yang ironisnya, kini dicoba dikembangkan dalam berbagai buku studi dan pemikiran Islam. Sadar atau tidak, masuknya misi ini dimulai dengan upaya penghilangan klaim kebenaran (truth claim).

Simaklah berbagai pernyataan berikut yang sejalan dengan pemikiran lintas agama gaya Freemason. Dalam buku berjudul ”Agama Masa Depan”, karya seorang guru besar satu kampus Islam di Jakarta, ditulis: “Kebenaran abadi yang universal akan selalu ditemukan pada setiap agama, walaupun masing-masing tradisi agama memiliki bahasa dan bungkusnya yang berbeda-beda.” (hlm. 130).

Dalam sebuah buku berjudul Kado Cinta bagi Pasangan Nikah Beda Agama (2008) dikatakan: “…bila Anda telah menancapkan komitmen untuk membangun rumah tangga beda iman, jalani dengan tenang dan sejuk dinamika ini. Tidak perlu dirisaukan dan diresahkan. Yang terpenting, mantapkan iman Anda dan lakukan amal kebaikan kepada manusia. Semua itu tidak percuma dan sia-sia. Beragama apapun Anda, amal kebaikan dan amal kemanusiaan tetap amal kebaikan. Pasti ada pahalanya dan akan disenangi Tuhan.” (hlm. 235).

Mudah-mudahan kita selalu waspada dengan berbagai upaya untuk merusak agama kita — baik yang berasal dari kaum Yahudi atau para pengikut jejak Yahudi.
*HIDUP ITU SINGKAT UNTUK TERUS LARUT DALAM KESEDIHAN*


Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَإِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ مَنْ تَحَرَّى الخَيْرَ يُعْطَهُ وَمَنْ يَتَوَقَّى الشَّرَّ يُوقَهُ

*_Sifat sabar itu dengan dilatih dan ilmu itu dengan belajar. Siapa yang berusaha mengejar kebaikan, ia akan meraihnya. Dan siapa berlindung dari keburukan, ia akan dijaga darinya._* (HR. Thabrani)

*Faedah Hadits:*

Hidup itu singkat, maka jika datang masalah yang mengacaukan jiwa, jangan bairkan masalah tersebut larut dalam hati.

Jangan habiskan usia, hanya dengan kegalauan dan kesedihan yang tak kunjung habis.

Jangan habiskan hidup hanya dengan banyak mengeluh dan bersedih. Karena ini akan mendatangkan penyakit hingga mengganggu fisik.

Darah tinggi, diabetes, dan penyakit-penyakit lainnya, sebab terbesarnya adalah karena stres. Maka hendaklah kita melatih dan menguatkan diri, dengan sabar, sebagaimana kanjeng Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ngendikan dalam hadits Thabrani di atas. Sabar itu dengan dilatih dan ilmu itu dengan belajar.

Maka kejarlah kebaikan, insyaAllah kita akan meraihnya dan berlindunglah dari keburukan, insyaAllah, Allah akan menjaga kita.

*_Wallahu a'lam bish showaab_*
*KEUTAMAAN SHOLAWAT KEPADA NABI*

إن الصلاة والسلام على رسول الله صل الله عليه و سلم من أجل الطاعات و أفضل القربات
Bersholawat dan mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah ketaatan yang sangat mulia dan ibadah yang sangat utama.

يشرح الله بها صدر العبد ويصيبه بعظيم الرحمات
Allah akan melapangkan hati orang yang bersholawat dan mengaruniakannya limpahan rahmat.

لأن من صلى عليه مرة صلى الله عليه بها عشرا
Karena orang yang bersholawat untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam satu kali, maka Allah akan bersholawat kepadanya sebanyak 10 kali.

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: من صلى علي مرة صلى الله عليه بها عشرا
Nabi bersabda:
*_Siapa yang bersholawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bersholawat untuknya 10 kali_*. (HR. Muslim No.408)

يعني أصابته الرحمة من الله عشر مرات
Maksudnya, Allah akan melimpahkan rahmat untuknya 10 kali.

وهذا مكيال عظيم وجزاء كريم
Ini adalah pahala yang sangat besar dan sangat mulia.

يفوزبه الفائزون ويناله السعداء المتقون
Pahala yang hanya akan didapatkan oleh orang-orang yang bertaqwa
*SHOLAWAT SEBAGAI SEBAB TERKABULNYA DOA*


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

من صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً. صلَّى اللَّهُ عليهِ عشرَ صلوات.وحُطَّت عنهُ عَشرُ خطيئاتٍ. ورُفِعَت لَهُ عشرُ درجات.

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali saja, maka Allah akan, Bershalawat kepadanya sepuluh kali. Terampuni sepuluh kesalahannya. Dan derajatnya dinaikkan sepuluh derajat.”

Shahih An-Nasai 1296, shahih oleh al-Albani rahimahullah

🟢 Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :

الصلاة على النبي صلى الله عليه و سلم قبل الدعاء وفي وسطه وفي آخره من أقوى الأسباب التي يرجى بها إجابة سائر الدعاء

“Membaca shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebelum berdoa, di tengah doa, dan di akhir doa, termasuk sebab terkuat yang diharapkan dengannya akan terkabul seluruh doa.”

Iqtidha’ ash-Shirath, jilid 2, hlm. 249
*MENCAIRKAN HATI YANG SEDANG MEMANAS*

Ada satu kaidah terkait akhlaq dan ini selaras dengan syariat dan akal.

Kaidah ini telah ditulis oleh Ibnu Hazm rahimahullah dalam kitabnya *Al-AKhlaq was siyar*, beliau tulis dengan sangat bagus, beliau berkata:
*_Pertemuan dapat menyembuhkan permusuhan dan hati yang dengki_*

Seakan cukup dengan saling pandang saja dapat memperbaiki hati, dan itu benar nyata.

Setiap ikatan pasti muncul persengketaan di dalamnya, entah karena kekeliruan yang terjadi antara kedua (kawan) itu, atau karena salah paham.

Maka agar setan tidak turut serta di dalamnya, dan agar permusuhan tidak muncul di hari-hari berikutnya, *keduanya harus bertemu*.

Silahkan ia sampaikan isi hatinya saudara seimannya:
*_Wahai saudaraku, bisa jadi ini hanya salah paham saja, subhanallah_*.

Dan umumnya *pertemuan* dapat memperbaiki hati. *Inilah maksud dari ucapan Ibnu Hazm*.

_*Ngopi yuk Ngopi*_
===================================
*MENGENAL IBNU HAZM*

Ibnu Hazm (bahasa Arab: ابن حزم‎) adalah seorang sejarawan, ahli fikih, dan imam Ahlus Sunnah di Spanyol Islam. Ia dikenal karena produktivitas keliteraturannya, luas ilmu pengetahuannya, dan kepakaran dalam bahasa Arab.

Ia adalah seorang pendukung dan ahli fikih yang terkemuka dari Mazhab Zhahiri dan disebutkan telah menghasilkan karya tulis sebanyak 400 judul, meski kini yang masih dapat ditemui hanya 40 judul saja, yang mencakup berbagai topik seperti hukum Islam, sejarah, etika, perbandingan agama, akidah dan lain-lain.

Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm. Ia dilahirkan pada 7 November 994 M di Córdoba, Kekhilafahan Kordoba dan wafat pada 15 Agustus 1064, di Mantha Lisha, dekat Sevilla.