BERILMU DENGAN BUKU
63 subscribers
738 photos
27 videos
20 files
532 links
Channel edukasi seputar Aqidah, Ibadah, Muamalah, Pengembangan diri dan Keluarga, Bisnis, Marketing dan Rekomendasi Buku
Download Telegram
*ISTRI DIZALIMI SUAMI*

Ada pertanyaan, apakah boleh istri mendoakan keburukan untuk suami yang zalim padanya?

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan memberikan taushiahnya.

Hendaknya sang *istri sabar*, mintalah haknya kepada suami dan ingatkan ia tentang kewajibannya. Ingatkan bahwa Allah berfirman:
ۚ وَعَاشِرُوۡهُنَّ بِالۡمَعۡرُوۡفِ‌
*_Bergaullah dengan para istri secara ma'ruf_*(QS. an-Nisa:19)

Suami wajib memperlakukan istrinya dengan baik. Ia wajib memberikan hak istri yang telah Allah tetapkan, seperti *nafqah*, *pakaian* dan *tempat tinggal*, ia tinggal bersama istrinya* dan *tidak boleh menzalimi istrinya*.

Jika istri melihat suami melakukan kezaliman, hendaknya ia nasihati dan meminta haknya, yang telah disebutkan di atas. Tentunya juga dengan memperhatikan hak suami, apakah juga telah istri tunaikan.

Salah satu hak suami, seperti disebutkan oleh istrinya Said Bin Al Musayyab :

ما كان نعلم أزواجنا إلا كما تعلموا أمراءكم؛ أصلحك الله، عافاك الله
*_Tidaklah kami para istri berbicara kepada suami, melainkan layaknya kalian berbicara kepada pemimpin-pemimpin kalian. Semoga Allah memperbaiki kalian dan memaafkan kalian_*.

(Al-Hilyah 5/198)
*JATUH CINTA SEBELUM MENIKAH*


Rasa cinta sebelum menikah, tersebar luas bahwasanya tidak boleh, maka sebagian dari kita menyangka bahwa hal tersebut tidak benar.

Rasa cinta terbagi menjadi 2:
1) Hubb afif
2) Hubb goyru afif

Cinta yang suci adalah cinta tersembunyi di hatinya dan ia tidak menampakkannya. Cinta di dalam hati tidak akan ada yang melarangnya. Cinta yang tidak mengendalikan manusia untuk berbuat. Disebut cinta kalau sudah direalisasikan dengan yang ia cintai.

Cinta yang muncul di dalam hati juga bisa terjadi, namun apabila kita berbicara cinta dengan jalan bersamaan, bermesraan sebelum akad nikah, ini bukan cinta, akan tetapi ini perbuatan *KEJI* (al-Quran menyebutnya KEJI dan JALAN YANG BURUK - al-Isra:32). Berbicara dengannya dengan nada yang menggoda, engkau menatapnya dan ia menatapmu, semua ini jelas haram.

Akan tetapi apabila lelaki mencintai wanita kemudian engkau ingin buktikan dengan menikahinya, ini sesuatu yang baik dan hal ini baik.

Akan tetapi *jangan bercengkerama bersama sebelum menikah* (seperti tren pre-wedding). Seandainya kalian saling mencintai, kemudian diiringi dengan maksiat, jalan bersama kemudian menikah, maka menikahnya sah, akan tetapi hendaknya engkau bertaubat, menikah tidak akan menghapus kemaksiatan kalian dahulu. Demikian Syaikh Utsman al Khamis menjelaskan.

Jadi, dosa kalian ngobrol bareng, jalan bersama, dan hal-hal yang lebih buruk dari itu, bagi engkau bertaubat dari dosa ini, meskipun langkahmu untuk menikah sudah benar. Dan ingat lupakan hubungan ini, jangan diungkap, disiarkan kembali, karena ini aib, dosa dalam Islam. Misal dengan mengatakan,"Dulu dia pacar saya, sekarang jadi suami saya".

Demikianlah agama ini mengatur dengan hukum-hukumnya, agar manusia hidup dalam naungan Allah Yang Maha Tahu atas hambaNya dan di bawah Sunnah NabiNya, Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Tak ada pilihan lain bagi seorang yang mengaku mukmin dan mukminah, selain mengikuti jalan ini. Putuskan cinta yang *KEJI lagi BURUK*, menuju cinta karena Allah dan RasulNya.

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ
*_Dari Anas, dari Nabi SAW beliau bersabda: "Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka._*"[Mutafaqun alaihi]

Dan Allah mempertegas lagi dalam firmanNya:
وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ وَّلَا مُؤۡمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوۡلُهٗۤ اَمۡرًا اَنۡ يَّكُوۡنَ لَهُمُ الۡخِيَرَةُ مِنۡ اَمۡرِهِمۡ ؕ وَمَنۡ يَّعۡصِ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيۡنًا
*_Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata._*
GURUNYA PARA AHLI TAFSIR


Tafsir At Thabari :

• Imam Muhammad bin Jarir At Thabari dilahirkan pada tahun 224 hijriyyah di daerah yang disebut Thabaristan, wafat pada tahun 310 hijriah diusia 86 tahun.

• Tafsirnya dinamakan: “Jami’ul Bayan Fi Ta’wili Aayatil Qur’an”.

Abu Hafidz Al Isfiraini berkata : Jika seseorang pergi ke negri Cina hanya untuk mendapatkan ilmu dari kitabnya maka hal itu sangat layak dimengerti." (Dari kitab “Thabaqaatul Mufassirin” Oleh Ad Daawidi, 2/106)

• Ibnu Khuzaimah berkata: Aku menelaah kitab Tafsirnya dari permulaan hingga akhirnya, maka aku tidak mengetahui jika ada seorang di permukaan bumi ini yang lebih mengerti dari pada Ibnu Jarir. (Dari kitab “Siyar A’laamil Nubala”, 14/273)

• Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Adapun kitab-kitab tafsir yang beredar di tengah masyarakat; maka yang paling shahih di antara kitab-kitab tafsir tersebut adalah karangan Muhammad bin Jarir At Thabari. Karena di dalamnya disebutkan perkataan para ulama salaf dengan sanad yang tidak diragukan lagi kesahihannya serta tidak ada bid’ah di dalamnya Tidak pula menukil perkataan orang-orang yang diduga dengan kedustaannya seperti Muqotil bin Bakir dan Al Kalbi. (Majmu Al Fatawa, 13/358). Dia juga mengatakan dalam kitab “Muqaddimatun Fi Ushulut Tafsir”, hal 39 tentang tafsir Ibnu Jarir, "Tafsir At Thabari adalah tafsir yang paling mulia dan paling berbobot isinya."

• Tafsir ini bersandar kepada perkataan tiga tingkatan dari tingkatan para ahli tafsir ulama salaf. Mereka adalah para sahabat, tabi’in dan tabi'ti tabi’in. Disebutkan perkataan mereka dengan sanad yang disandarkan kepada mereka dan inilah bentuk keistimewaan yang amat luar biasa dalam penulisan kitabnya yang tidak didapati dikebanyakan kitab-kitab tafsir yang ada pada kita Akan tetapi keistimewaan ini tidak sepadan dengan keadaan kaum Muslimin pada umumnya yang rata-rata tidak memiliki kemampuan untuk menelaah sanad-sanad dan mengetahui serta membedakan yang sahih dari yang dla’if. Mereka merasa cukup dan berhenti sebatas pada kebenaran sanad dan kedha’ifannya dengan ungkapan yang ringkas, jelas dan terang.

Apabila imam At Thabari telah selesai mengutarakan perkataan-perkataan para ulama, beliau merajihkan (menguatkan) atau memilih pendapat yang beliau anggap paling benar kemudian beliau sebutkan sanadnya dalam tarjih.
TIDAK MEMINTA-MINTA, QONA-AH DAN SABAR


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَا يَكُوْنُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ لاَ أَدَّخِرُهُ عَنْكُمْ، وَإِنَّهُ مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبّرِْهُ اللهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Kebaikan (harta) yang ada padaku tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta, Allah subhanahu wa ta’ala akan memelihara dan menjaganya. Siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta, Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikannya sabar. Siapa yang merasa cukup dengan Allah subhanahu wa ta’ala dari meminta kepada selain-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan kecukupan kepadanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. al-Bukhari no. 6470 & Muslim no. 1053)

🟢 Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

“Dalam hadits ini ada anjuran untuk ta’affuf (menahan diri dari meminta-minta), qana’ah (merasa cukup) dan bersabar atas kesempitan hidup dan kesulitan (hal yang tidak disukai) lainnya di dunia.” (Syarah Shahih Muslim, 7/145)
*Kesungguhan dalam beramal Shalih*

Amal shalih sangat dibutuhkan untuk mewujudkan dan memupuk Iman. Selain merupakan bagian dari iman itu sendiri, amal shalih juga merupakan sebab terwujudnya *keimanan*.

Maka tak pelak, kita hamba, perlu memelihara amal shalih, yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah subhanahu wata'ala.

Memelihara amal shalih merupakan salah satu sebab yang paling berpengaruh pada kekuatan dan terjaganya keimanan. Contohnya adalah sholat. Allah berfirman:
*_Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar_*. (QS. Al-Ankabut:45)

Alangkah segarnya *keimanan* yang ada di dalamnya. Alangkah dekatnya hubungan hamba dengan Allah subhanahu wata'ala dengan perantaranya.

Lihatlah diri kita, ketika kita senantiasa menjaga, mengagungkan dan perhatian dengannya, kita akan dapati pengaruhnya sangat luarbiasa dalam mewujudkan keimanan dalam hati.

Lihatlah keadaan orang yang jauh dari sholat, ketika mereka jauh dari sholat, *keimanan dalam hati mereka juga ikut lemah.

Para salaf mengatakan:
الإيمان قول وعمل. يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية
*_Iman adalah perkataan dan perbuatan. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan._*

Jadi, ketaatan itu dapat menambah dan memperkuat *keimanan*. Setiap kali ketaatan, ibadah dan taqarrub kita kepada Allah subhanahu wata'ala bertambah, maka hal ini akan menjadi sebab penolong untuk menguatkan dan memupuk keimananmu.


*Sekolah Konselor Keluarga*
*Sunnah Melindungi Anak-anak dari Gangguan keburukan jin, setan dan sihir*

Sungguh disyariatkan untuk melindungi anak-anak dengan dzikir berikut ini:

أُعِيذُ أَوْلَادِي بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
*_Aku memohon perlindungan untuk anak-anakku dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala keburukan yang Dia ciptakan_*.

Dan boleh disebutkan anak-anak kita satu persatu. Sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa memohon perlindungan kepada Hasan dan Husain dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan, binatang berbisa dan dari 'ain (pandangan mata yang jahat).

أُعِيذُكُمْ (فلان وفلانة) مِنْ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِن كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِن كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
*_Aku memohon perlindungan untuk kalian (fulan dan fulanah) dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan, binatang berbisa dan dari 'ain (pandangan mata yang jahat)_*.

Memohon perlindungan untuk anak-anak kita adalah perkara yang disunahkan. Dan hal itu termasuk sekuat-kuatnya perlindungan untuk membentengi mereka.

Membaca dzikir setiap pagi dan petang dengan dzikir ini salah satunya adalah sebagai benteng yang kokoh untuk ayah dan bunda dalam membentengi anak-anaknya dari keburukan setan, apalagi di zaman penuh fitnah, kejahatan begitu tampak, kemaksiatan diobral, perzinaan menjadi kesukaan, dan korban utamanya adalah anak-anak muda, yang semestinya mereka harus kita jaga dari itu semua, karena dipundak merekalah masa depan Islam.

_Wallahu a'lam bishshowaab_

*Sekolah Konselor Keluarga*
MAKNA ISTIQOMAH

👤 Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata :

“Istiqomah adalah meniti jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, dengan tanpa membelok ke kanan atau ke kiri. Dan istiqomah mencakup melakukan semua ketaatan yang lahir dan yang batin dan meninggalkan semua perkara yang dilarang. Maka wasiat ini mencakup seluruh ajaran agama.” (Jami’ul ‘Ulum wal-Hikam, 1 : 510)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ

“Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah.” (HR Ahmad 12636) hasan

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu secara marfuu’ dan mauquf :

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

“Jika anak Adam memasuki pagi hari sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lisan: ‘Takwalah kepada Allah di dalam menjaga hak-hak kami, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqomah, maka kami juga istiqomah, jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang. (HR Tirmidzi 2407) hasan.

📌 KEUTAMAAN ISTIQOMAH

Tidaklah mudah untuk meraih Istiqomah. Namun seorang hamba akan mendapatkan semangat di dalam istiqomah dengan mengetahui keutamaannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang keutamaan besar yang akan diraih oleh orang-orang yang istiqomah :

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu ” (Qs. Fushshilat 30)

Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿١٣﴾ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka tetap istiqomah (teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang shalih) maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-Ahqaf 13-14)

📌 DIANTARA SEBAB-SEBAB ISTIQOMAH

Sesungguhnya sebab-sebab istiqomah sangat banyak. Diantara sebab-sebab terpenting yang menjadikan seseorang istiqomah di jalan Allah Subhanahu Ta’ala ialah sebagai berikut:

1. Merenungkan isi Al-Qur’an.

2. Mengamalkan apa yang Allah dan Rasulnya perintahkan.

3. Mencintai Allah dan RasulNya melebihi yang Lainnya.

4. Mencintai dan membenci sesuatu karena Allah.

5. Meneladani para para Shalafus Shalih (shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in) dan para ulama yang istiqomah.

6. Saling berwasiat dengan al-haq(kebenaran), kesabaran, dan kasih-sayang.

7. Banyak berdoa.

8. Berdzikir.

9. Menjauhi segala pintu maksiat.
MENJAGA SHOLAT

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata :

خصلتان إذا رأيتهما في الرجل فاعلم أن ما ورائهما خير منهما : إذا كان حابسًا لسانه, محافظًا على صلاته .

” Ada dua sifat yang apabila kamu melihat kedua sifat ini ada pada seseorang maka ketahuilah bahwa buah dan manfaat dari kedua sifat ini lebih baik daripada kedua sifatnya itu sendiri :

- Menjaga lisan
- Menjaga sholat

🟢 Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda :

إنَّ الرجلَ ليُصلِّي ستِّينَ سنةً و ما تُقبَلُ له صلاةٌ ، لعله يتمُّ الركوعَ ، ولا يتمُّ السُّجودَ ، ويتمُّ السجودَ ولا يتمُّ الركوعَ .

“Sesungguhnya benar- benar ada seseorang yang telah mengerjakan sholat selama enam puluh tahun namun tidak ada yang diterima sholatnya, mungkin dia telah menyempurnakan ruku’ akan tetapi tidak menyempunakan sujud atau sebaliknya dia telah menyempurnakan sujud akan tetapi tidak menyempurnakan ruku’.”

Shahih At Targhib, 529, hasan oleh al Albani.
Dosa dan kemaksiatan Dikala Sendirian


Dosa dan kemaksiatan, dua perkara yang paling banyak menggugurkan kebaikan dan memberatkan timbangan keburukan. Melakukan satu perbuatan dosa, seperti zina, atau melanggar larangan Allah Azza wa Jalla ketika sendirian, sudah cukup untuk menggugurkan kebaikan-kebaikan walaupun sebesar gunung.

Sahabat Tsauban Radhiyallahu anhu menceritakan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:

عَنْ ثَوْبَانَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ : أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

Dari Tsauban, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa Beliau bersabda, “Aku benar-benar mengetahui rombongan-rombongan orang dari umatku, mereka akan datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan-kebaikan sebesar gunung Tihamah yang berwarna putih, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikannya sebagai debu yang berhamburan”. Tsauban Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Rasulullah! Terangkan sifat mereka kepada kami! Terangkan keadaan mereka kepada kami, agar kami tidak termasuk golongan mereka padahal kami tidak mengetahui!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya mereka itu adalah saudara-saudara kamu, dan dari kulit kamu, mereka mengisi sebagian malam sebagaimana kamu mengisi, namun mereka adalah rombongan-rombongan orang yang jika menyendiri, mereka melanggar perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah”. (HR. Ibnu Majah, 4245 dishahihkan oleh syaikh al-Albani; syaikh Salim al-Hilali dan lainnya)

Oleh karena itu kewajiban kita untuk bertaqwa kepada Allah dimana saja berada, baik ketika sendirian atau ketika bersama banyak orang.
Begitulah yang diwasiatkan oleh di dalam haditsnya:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Bertaqwalah kepada Allah Azza wa Jalla dimana saja engkau berada; Iringilah keburukan dengan perbuatan baik! Niscaya kebaikan itu akan menghapusnya; Dan bergaulah dengan manusia dengan akhlaq yang baik”. (HR. Ahmad 5/153, 158, 177, 236, At-Tirmidzi, 1987; Ad-Darimi 2/323, Al-Hakim 1/54, At-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 20/145, Mu’jamul Ausath 4/125, Mu’jamus Shaghir 350. Dimuat oleh Imam Nawawi dalam Arba’in 18. Hadits dinilai sebagai hadits yang hasan oleh oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 97)
DOA TERLEPAS DARI KEFAKIRAN DAN HUTANG

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ،فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وأَغْنِنِي مِنَ الفَقْرِ
*_Ya Allah, Tuhan yang menguasai langit yang tujuh, Tuhan yang menguasai arasy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu._*

*_Tuhan yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Tuhan yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an)._*

*_Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkau-lah yang pertama, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang terakhir, setelah-Mu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang dzahir, tidak ada sesuatu di atas-Mu, Engkau-lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang menghalangi-Mu, lunasilah hutang kami dan berilah kami kekayaan hingga terlepas dari kefakiran._*
(HR. Muslim, Tirmidzi, Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah)

Tidaklah doa ini dibaca dengan hati yang ikhlas melainkan Allah akan melunasi hutangnya dan memberikannya kekayaan hingga ia terlepas dari kefakiran.

Di mana kita selama ini? mana dunia yang katanya mengeluhkan kemiskinan yang mereka alami?

mana yang mengeluh hutangnya tidak bisa dilunasi? yang sudah sedemikian stress, tertekan, depresi dan penyakit jiwa.

Di mana mereka selama ini dari bergantung kepada Allah? dan dari doa agung ini? Mana orang-orang yang mengeluh mencari pembantu rumahnya?
Seandainya doa di atas dibaca oleh seorang ibu sebelum tidur atau dibaca oleh bapak, niscaya itu lebih baik baginya daripada seorang pembantu.

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengomentari hadits ini:
وَقَدْ جُرِّبَ فَأَكْسَبَ العَبْدَ قُوَّةً عَلَى الخِدْمَةِ فِي صَباحِهِ وَعَمَلِهِ وخِدْمَةِ بَيْتِهِ
*_Doa ini telah dipraktekkan, memberikan efek kekuatan kepada seseorang untuk membantunya di waktu paginya, pekerjaannya dan urusan rumahnya_*.
PAHALA MENGAJAK KEPADA KEBAIKAN

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata :

‏فأنت يا عبد الله إن دعوت إلى خير فلك مثل أجور المهتدين على يديك ، وإن دعوت إلى شر فعليك مثل أوزارهم وآثامهم

“Apabila Anda wahai hamba Allah mengajak kepada kebaikan, Anda akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang yang mendapat hidayah dengan perantaraan Anda. Apabila Anda mengajak kepada kejelekan, Anda juga akan mendapatkan (dosa) seperti dosa-dosa mereka.”

Al-Fatawa, 6/522
*Jangan Pernah Meremehkan Dosa*

Dosa itu bisa beranak pinak. Dari melakukan satu dosa, kemudian mengharuskannya untuk melakukan dosa-dosa yang lainnya.

Ingatlah ketika saudara-saudara Nabi Yusuf meminta kepada ayah mereka untuk memohonkan ampun. Atas apa? dosa-dosa mereka.

قَالُوۡا يٰۤاَبَانَا اسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَاۤ اِنَّا كُنَّا خٰـطِــِٕيۡنَ
*_Mereka berkata, "Wahai ayah kami! Mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa)._* (QS. Yusuf:97)

Dalam ayat ini, saudara-saudara Nabi Yusuf sadar, bahwa satu kesalahan mereka melahirkan berbagai kesalahan lain, melahirkan dosa dan kekeliruan.

Di sini ada sebuah motivasi agar tidak meremehkan dosa. Karena dosa yang banyak itu lahir dari satu dosa yang dilakukan seorang hamba. Terkadang sebuah dosa mengharuskan seseorang untuk berdusta. Berdusta ini adalah dosa tambahan. Terkadang ia harus melakukan kejahatan lain agar kejahatan pertama dapat disembunyikan. Dan ini adalah dosa tambahan baginya.

Begitulah satu dosa membuka pintu dosa-dosa yang lain. Syaikh as-sa'di berkata:
يجب على الإنسان أن يحذر من الذنوب يتسلسل شرها
*_Wajib bagi setiap orang untuk berhati-hati dari dosa yang beranak-pinak_*.

Dan seorang ahli ilmu mengatakan, ternyata dosa yang paling subur, melahirkan banyak dosa demi dosa adalah pembunuhan.

Pembunuhan merupakan kejahatan terbesar kepada Allah setelah kesyirikan. Membunuh terkadang karena masalah pribadi, ingin balas dendam, atau ingin melampiaskan kemarahannya.

Ketika sudah membunuh, mulailah dosa-dosa yang lain terlahir. Sehingga dosa yang dapat beranak pinak, wajib untuk diwaspadai. Jangan sampai telapak kaki ini masuk dalam kubangannya. Karena apabila kaki sudah menapak di sana, pastilah ia akan terpeleset.

Pasti terpeleset kakinya. Akhirnya ia masuk dalam kubangan lumpur dosa dan kemaksiatan lainnya. Wal'iyaadzubillah.


*Sekolah Konselor Keluarga*
*ADAB BERSELISIH ANTARA SUAMI DAN ISTRI*

Dalam sebuah perselisihan atau perseteruan antara suami dan istri, terkadang berakhir dengan marahnya suami akibat perkataan istri yang menyinggung atau menyakitkan. Bagaimanakah Islam mendudukkan permasalahan ini? berdosakah istri karena membuat suaminya marah?

*Jawaban*

إذا كان إغضابها له بغير حق تأثم ولا يجوز لها أن تنازع ولا أن تؤذيه بالكلام, أما إذا كان بحق بأن أنكرت عليه منكر يتساهل في الصلاة فأنكرت عليه, يشرب المسكر فأنكرت عليه وناصحته فغضب فهي مأجورة غير مأزورة بل مشكورة, , وعليها الكلام الطيب, والسمع والطاعة في المعروف, لكن إذا كان هو يتعاطى المعاصي فأنكرت عليه, ونصحته, ووجهته إلى الخير, فالواجب عليه أن يقبل منها وأن يشكرها وأن لا يغضب؛ لأنها محسنة, ومأجورة, وناصحة فجزاؤها أن يزداد حبها, وأن يشكرها على ذلك. بارك الله فيكم

Apabila si istri tadi membuat marah suaminya tanpa alasan yang dibenarkan, maka ia berdosa. Tidak boleh baginya untuk menentang dan menyakiti suaminya walau dengan ucapannya.

Adapun apabila perselisihan tersebut karena ada alasan Yang benar, seperti mengingkari kemaksiatan yang ada pada suaminya, suaminya bermudah mudahan dalam masalah sholat kemudian ia mengingkarinya. Suaminya minum khomr kemudian dia mengingkari dan menasehatinya, lalu suaminya marah maka ia mendapatkan pahala dan tidak berdosa.

Namun wajib bagi sang istri untuk bertutur kata yang baik, mendengar dan taat pada perkara yang ma’ruf.
Apabila seorang suami melakukan maksiat kemudian istrinya mengingkari, menasihati dan mengarahkannya kepada yang baik, maka wajib bagi suami untuk menerimanya bahkan berterima kasih kepadanya.
Karena sejatinya sang istri sedang berbuat baik kepadanya, ia akan mendapatkan pahala karena ia menginginkan kebaikan untuk suaminya.

Maka balasan yang pantas untuk istrinya adalah hendaknya bertambah rasa cinta sang suami dan sepantasnya ia berterima kasih kepadanya. *_Barokallahu fiikum._*


(Dijawab oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah)
*MERAIH CINTA ALLAH : BERTAQARRUB KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA DENGAN AMALAN SUNNAH SETELAH YANG WAJIB*

Menunaikan yang wajib adalah taqarrub kepada Allâh Azza wa Jalla yang paling utama. Bila hamba menunaikannya dengan sempurna, ia akan mendapatkan keberuntungan, pun akan menggapai surga dan selamat dari neraka. Pernah seorang dari Najd datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam dan bertanya tentang (amalan wajib dalam) Islam. Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Lima shalat yang wajib sehari semalam.” Ia berkata, “Apa ada kewajiban (shalat) atasku yang lain?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Tidak, kecuali bila engkau melakukannya dengan suka rela (tathawwu’).” Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam juga menyebutkan tentang kewajiban puasa, juga zakat, dan orang tersebut pun bertanya; apakah ada kewajiban atasku yang lain; Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab: “Tidak, kecuali bila engkau melakukannya suka rela.” Maka orang tersebut pun pergi dengan mengatakan: “Demi Allâh, aku tidak akan menambah ataupun menguranginya.”
Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam pun bersabda: “Ia akan mendapatkan keberuntungan bila jujur.”[1]

Namun orang yang melakukan amalan-amalan tathawwu’ (sunnah) akan lebih banyak mendapatkan keberuntungan dan lebih tinggi derajatnya dari yang sekedar menunaikan yang wajib semata. Apalagi seseorang tak lepas dari kekurangan dan kealpaan saat melaksanakan amalan wajibnya.

Orang yang menunaikan hal-hal yang wajib dengan sempurna berarti ia mencintai Allâh Azza wa Jalla . Sedangkan orang yang masih menambahnya dengan amalan-amalan sunnah, ia dicintai Allâh Azza wa Jalla. Ini seperti dalam hadits qudsi:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.”[2]

Jadi, orang yang bertaqarrub dengan yang sunnah setelah yang wajib mempunyai keistimewaan lebih tinggi dari yang sekedar menunaikan yang wajib. Karena tuntutan asal atas hamba adalah melaksanakan yang wajib, di mana ia akan berdosa bila teledor atau meninggalkannya. Sehingga maksud dari bertaqarrub dengan yang sunnah adalah ketika yang wajib sudah ditunaikan, bukan orang yang melalaikannya.

Secara umum ada dua kategori dari mereka yang selamat yaitu: Pertama: Mereka yang mencintai Allâh Azza wa Jalla , yaitu yang menunaikan yang wajib, berhenti pada batasan-batasan-Nya.

Kedua: Mereka yang dicintai Allâh, yaitu mereka yang melakukan yang sunnah disamping yang wajib. Dan inilah yang dimaksud Ibnul Qayyim t dengan ucapannya: [Hal ini akan menghantarkan hamba menuju tingkatan memperoleh cinta-Nya (mahbûbiyyah) setelah menggenggam tingkatan mencintai-Nya (mahabbah)].

Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menyatakan, bahwa para wali Allâh Azza wa Jalla yang dekat dengan-Nya ada dua golongan:
1. Yang bertaqarrub dengan menunaikan yang fardhu, dengan mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang diharamkan.
Mereka ini adalah al-muqtashidûn (seperti dalam al-Qur’an surat Fâthir ayat 32) ash-hâbul yamîn (seperti dalam al-Qur’an surat Al-Wâqi’ah ayat 27). Menunaikan amalan wajib adalah amal yang paling utama seperti ucapan Umar Bin al-Khatthab Radhiyallahu anhu : “Amalan yang paling utama adalah menunaikan apa-apa yang Allâh wajibkan, dan menjauhi apa yang Allâh haramkan, serta mempunyai niat yang benar dalam menggapai apa yang ada di sisi Allâh.

2. Di samping bertaqarrub dengan yang wajib, juga bertaqarrub dengan yang sunnah.
Mereka berada pada tingkatan sâbiqun muqarrabûn (Yang bergegas menjemput kebaikan dan dekat dengan-Nya). Setelah menunaikan yang wajib, mereka giat pula melakukan yang sunnah, dan bersikap wara’ dengan tidak melakukan hal-hal yang dimakruhkan, walaupun kecil bentuknya. Ini membuat hamba mendapatkan kecintaan dari Allâh; seperti dalam hadits qudsi di atas: (Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya). Orang yang dicintai Allâh, akan diberikan untuknya kecintaan dan ketaatan kepada-Nya, selalu dzikir ingat kepada-Nya, dan mendapatkan kedudukan di sisi-Nya.[3]

Baca Juga Jangan Mengikuti Hawa Nafsu
Amalan-amalan nafilah (sunnah) dalam bertaqarrub kepada Allâh tentu banyak ragamnya; di mana intinya adalah amalan-amalan yang bersifat tambahan dari amalan-amalan yang wajib; seperti shalat, zakat, puasa, haji ataupun umrah yang bermuatan sunnah, bukan wajib.

Berikut ini kita ketengahkan penjelasan beberapa contoh dari amalan sunnah; namun karena keterbatasan ruang, kita cukupkan dengan amalan-amalan shalat sunnah saja.

NAWAFIL DALAM SHALAT
Dalam hal ini ada 3 kategori: sunnah, mustahabb, dan tathawwu’.

Yang dimaksud sunnah adalah amalan sunnah yang terus ditekuni dan dijaga oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam . Adapun mustahabb adalah amalan sunnah yang disebut memiliki keutamaan namun tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam terus menerus melakukannya. Sedangkan tathawwu’ yaitu amalan sunnah tidak masuk kategori di atas, artinya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam tidak pernah menyebutnya dalam hadits Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam namun ada riwayat yang menerangkan bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam memberikan izin untuk dilakukan.[4]

Contoh Shalat Yang Sunnah:
1. 10 rakaat saat tidak safar
Telah sah dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bahwa Beliau menjaga shalat ini. Abdullah bin Umar berkata: “Aku hafal dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam 10 rakaat: 2 rakaat sebelum dan sesudah Zhuhur, 2 rakaat setelah Maghrib di rumah beliau, 2 rakaat setelah Isya’ di rumah beliau, dan 2 rakaat sebelum shalat Shubuh.”[5] Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam tidak meninggalkan 10 rakaat ini –seperti diungkapkan Ibnul Qayyim rahimahullah – sama sekali saat berada di dalam negeri (tidak safar). Ketika 2 rakaat sebelum Zhuhur ini luput, beliau mengqadha’ nya setelah Ashar.[6]

2. Shalat 4 rakaat sebelum Zhuhur
Sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu anhuma bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam tidak meninggalkan 4 rakaat sebelum Zhuhur.[7] Hal ini karena adanya keutamaan khusus pada waktu setelah tergelincirnya matahari, di mana Beliau menyatakan bahwa saat tersebut dibukakan pintu-pintu langit, sehingga Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam suka kalau amal shalih Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salamaik ke langit pada saat tersebut.[8]

Bila seseorang melaksanakan shalat 4 rakaat sebelum shalat Zhuhur seperti dalam hadits Aisyah Radhiyallahu anhuma –menggantikan dua rakaat seperti dalam riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu an huma -, sehingga ia mendirikan 12 rakaat, maka ia telah menorehkan keutamaan seperti dalam hadits Ummu Habibah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ
Barangsiapa yang shalat 12 Rakaat sehari semalam (selain yang fardhu), maka dibangun untuknya sebuah rumah di surga dengan sebabnya.[9]

Dalam Kitab-kitab Sunan disebutkan rinciannya: 4 rakaat sebelum Zhuhur, 2 setelahnya, 2 rakaat setelah Maghrib, 2 rakaat setelah Isya, dan 2 Rakaat sebelum Shubuh.

3. Menjaga shalat Witir
Shalat ini tidak pernah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam tinggalkan, dan juga 2 rakaat sebelum Shubuh, baik saat safar ataupun tidak. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam memerintahkannya dengan bersabda:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا

Jadikanlah shalat witir sebagai akhir shalat malam kalian.[10]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Dalam safar Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam selalu menjaga sunnah fajar dan witir, lebih dari semua shalat nafilah lainnya; tidak dengan sunnah-sunnah lainnya. Dan tidak pernah dinukilkan dari beliau dalam safar bahwa Beliau melakukan shalat sunnah rawatib selain dua shalat ini.[11]

Contoh Shalat Yang Mustahabb
Shalat Dhuha
Telah datang beberapa hadits shahih menegaskan keutamaannya. Sampai-sampai Ibnul Jauzi rahimahullah memposisikannya layaknya sunnah rawatib.[12]Namun pendapat yang kuat bahwa shalat Dhuha bukan termasuk sunnah rawatib. Sebab tidak ada nukilan yang menyebutkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam menjaga dan kontinyu melanggengkannya, begitu pula dengan para sahabat senior.

Baca Juga Lorong-lorong Syetan untuk Menyesatkan Manusia
Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan dari sekelompok ulama bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam shalat Dhuha karena ada suatu sebab. Misalnya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam pernah melakukannya 8 rakaat pada Fathu Makkah karena sebab penaklukakan Mekkah. Beliau juga melakukannya di rumah Itbân Bin Malik ketika ia meminta Rasul agar shalat di rumahnya untuk ia jadikan sebagai tempat shalatnya, setelah ia buta dan ada hal yang menghalanginya pergi ke masjid. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam juga melakukannya bila datang dari bepergian; di mana bila datang dari safar, Beliau lebih dahulu shalat 2 rakaat di Masjid. Begitu pula Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam shalat Dhuha bila datang ke Masjid Quba’.[13]

Shalat Dhuha juga sebagai pengganti dari shalat malam bagi orang yang tidak bisa kontinyu melakukannya. Sebagian hadits tentang keutamaan Shalat Dhuha dibawa pada pengertian ini. Hadits-hadits dan atsar yang ada, tidak lain menunjukkan hal di atas. Sedangkan hadits-hadits tentang motivasi untuk melakukannya dan wasiat untuk melakukannya; seperti hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dan Abu Dzar Radhiyallahu anhu , maka yang shahih adalah itu tidak menunjukkannya sebagai sunnah rawatib bagi setiap orang. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam mewasiatkan Abu Hurairah dengan hal tersebut, karena seperti dalam riwayat-riwayat yang ada, bahwa Abu Hurairah disibukkan dengan mempelajari hadits pada malam hari, sehingga Rasul mewasiatkan kepadanya untuk melakukan pada waktu Dhuha, sebagai ganti dari shalat malam. Karena itulah beliau memerintahkan Abu Hurairah agar tidak tidur sampai melakukan witir terlebih dahulu. Beliau tidak memerintahkan itu kepada Abu Bakr, Umar dan juga sahabat lainnya.

Singkat kata, shalat Dhuha termasuk shalat nafilah yang mustahabb; bukan termasuk yang rawatib (yang dikontinyukan).

Contoh Shalat Yang Tathawwu’:
Dua rakaat sebelum Maghrib
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam mengizinkan para sahabat untuk melakukannya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: adapun dua rakaat sebelum Maghrib, maka tidak ada nukilan yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam melakukannya. Namun telah shahih dari Beliau bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam membenarkan (memberi penetapan) para sahabat untuk melakukannya; di mana Beliau melihat mereka melakukannya. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam tidak memerintahkan, ataupun melarangnya.[14]

Dan telah shahih pula bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam memberi pilihan kepada para sahabat untuk shalat sebelum Maghrib, sebagaimana dalam hadits Abdullah al-Muzani, di mana Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
صَلُّوا قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً

“Shalatlah sebelum Maghrib” – dan Beliau berkata pada ketiga kalinya: “bagi yang mau.” Karena Beliau khawatir kalau orang-orang menjadikannya sebagai sunnah (yang dikontinyukan).[15]

Ini sebagai contoh untuk beberapa amalan sunnah dengan sedikit perinciannya dalam shalat. Dan masih banyak amalan-amalan lain yang bermuatan sunnah, yang mungkin bisa dirujuk pada kitab-kitab yang ada.
JANJI ALLAH UNTUK RASULNYA

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّا كَفَیۡنَـٰكَ ٱلۡمُسۡتَهۡزِءِیْنَ.

“Sesungguhnya Kami memelihara engkau (Muhammad) dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olok (engkau).” (Q.S. al-Hijr: 95)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy rahimahullah mengatakan:

هذا وعد من الله لرسوله، أن لا يضره المستهزئون، وأن يكفيه الله إياهم بما شاء من أنواع العقوبة. وقد فعل تعالى فإنه ما تظاهر أحد بالاستهزاء برسول الله صلى الله عليه وسلم وبما جاء به إلا أهلكه الله وقتله شر قتلة.

“Ini merupakan janji Allah untuk RasulNya, bahwa orang-orang yang memperolok-olok beliau tidak akan membahayakan beliau. Allah pun akan melindungi beliau dari kejahatan mereka dengan menimpakan berbagai macam hukuman yang Dia kehendaki. Dan sungguh Allah ta’ala telah memenuhi janjiNya. Tidaklah ada seorang yang memperolok-olok beliau dengan terang-terangan melainkan Allah membinasakan dan membunuh orang itu dengan cara yang paling buruk.” (Tafsir as-Sa’diy 1/435)
ENAM TINGKATAN ILMU

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

وللعلم ست مراتب أولها حسن السؤال…فمن الناس من يحرمه لعدم حسن سؤاله أما لأنه لا يسأل بحال أو يسأل عن شيء وغيره أهم إليه منه كمن يسأل عن فضوله التي لا يضر جهله بها ويدع ما لا غنى له عن معرفته وهذه حال كثير من الجهال المتعلمين ومن الناس من يحرمه لسوء إنصاته فيكون الكلام والممارات آثر عنده وأحب اليه من الانصات وهذه آفة كامنة في أكثر النفوس الطالبة للعلم وهي تمنعهم علما كثيرا ولو كان حسن الفهم

“Ilmu memiliki 6 tingkatan, yang pertama adalah bagusnya pertanyaan… dan sebagian orang ada yang tidak mendapatkan ilmu karena jeleknya pertanyaan, mungkin karena dia tidak bertanya sama sekali, atau bertanya tentang sesuatu padahal disana ada sesuatu yang lebih penting yang patut ditanyakan seperti bertanya tentang sesuatu yang sebenarnya tidak mengapa kita tidak mengetahuinya dan meninggalkan pertanyaan yang harus kita ketahui, dan ini adalah keadaan kebanyakan dari para penuntut ilmu yang bodoh.”

Miftah Daris Sa’adah, 169
*AQIDAH DALAM BERDAGANG*


Dalam dagang saya mendapatkan pelajaran telak bahwa pendidikan, kemampuan, dan segala hal lainnya bukanlah penentu laris manis atau sepi.

Seorang atsari ketika dagang dia tawakkal total kepada Allah Ta'ala. Karena yang membagi rezeki adalah Allah Ta'ala. Yang mengerakkan hati manusia buat membeli adalah Allah Ta'ala. Saya mengimani hadits:
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ
*_Sesungguhnya seluruh hati-hati manusia ada diantara dua jari dari jari-jari Dzat Yang Maha Pemurah, seperti satu kalbu, Dia gerakkan sesuai kehendak-Nya._*

Saya meingimani hadits itu. Saya tak persoalkan statusnya yang ahad seperti para mutakallimin. Saya juga tetapkan lahir hadits tersebut sebagaimana kabar dari Rosulullah SAW serta ajaran para sahabat dan imam-imam mujtahidin dari salaf.

Ketika rugi puluhan juta, saya tetap tsiqoh pada Allah Ta'ala. Tak perlu saya pergi ke kuburan orang sholih lalu istighotsah pada mereka atau berdoa padanya. Atau pergi ke kiai atau ajengan atau dukun atau pesulap atau tempat-tempat pesugihan.

Cukup saya banyak beristighfar. Isti'anah dan istighotsah langsung kepada Allah. Banyak baca sholawat yang masyru' dan ma`tsur. Berbuat baik kepada manusia. Melakukan berbagai ketaatan. Saya berharap saya dicintai oleh Allah Ta'ala. Kalau Allah Ta'ala sudah cinta pada hamba-Nya maka manusia akan mencintai kita.

Saya mengimani hadits nuzul. Bahwa di sepertiga malam terakhir Allah Ta'ala turun ke langit dunia. Saya tak persoalkan status haditsnya yang ahad. Saya tak mengotak-atik hadits tersebut. Pokoknya saya iman dan percaya dengan khabar yang disampaikan baginda Nabi SAW. Karena itu, pada waktu itu saya semangat doa, istighfar, sholawat, memuji, minta, isti'anah, dan istighotsah kepada Allah Ta'ala. Kenapa? Karena Allah Ta'ala turun ke langit dunia.
Dan Dia berfirman:
مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
*_Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan kabulkan; siapa yang minta kepada-Ku maka akan aku berikan; dan siapa yang minta ampunan dari-Ku maka Aku akan ampuni._*

Intinya dagangan kita laku bukan karena kita pandai, hebat dan kuasai ini dan itu. Tapi kemurahan Allah Ta'ala.


( _Hafidin Achmad Luthfie_ )