*DOAN MOHON AMPUNAN ALLAH LENGKAP*
اللهم اغْفِرْلِي خَطَئي وجَهْلِي وإِسْرَافِي فِي أَمْرِي ومَا أَنْت أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي
اللهم اغْفِرْلِي جِدِّي وهَزْلِي وَخَطَئي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي
اللهم اغْفِرْلِي مَاقَدَّمْتُ ومَا أخَّرْتُ ومَا أسْرَرْتُ ومَاأَعْلَنْتُ ومَا أَنْت أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي
أَنْتَ المُقَدِّمُ وأَنْتَ المُؤَخّرُ وأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
(HR. Bukhari Muslim)
اللهم اغْفِرْلِي خَطَئي وجَهْلِي وإِسْرَافِي فِي أَمْرِي ومَا أَنْت أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي
اللهم اغْفِرْلِي جِدِّي وهَزْلِي وَخَطَئي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي
اللهم اغْفِرْلِي مَاقَدَّمْتُ ومَا أخَّرْتُ ومَا أسْرَرْتُ ومَاأَعْلَنْتُ ومَا أَنْت أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي
أَنْتَ المُقَدِّمُ وأَنْتَ المُؤَخّرُ وأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
(HR. Bukhari Muslim)
*ALLAH MAHA PENGAMPUN, SEGERALAH BERTAUBAT*
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.
“Dan orang-orang yang, apabila berbuat keji atau menganiaya diri sendiri, mengingat Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa, kecuali Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” [Ali ‘Imran: 135]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا.
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, (tetapi) kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An-Nisa`: 110]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.
“Dan orang-orang yang, apabila berbuat keji atau menganiaya diri sendiri, mengingat Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa, kecuali Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” [Ali ‘Imran: 135]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا.
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, (tetapi) kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An-Nisa`: 110]
*HARTA HALAL HARTA HARAM*
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
والقليل من الحلال يبارك فيه، والحرام الكثير يذهب ويمحقه الله تعالى.
“Sedikit dari harta yang halal akan diberkahi, sedangkan yang haram walaupun banyak akan lenyap dan akan dihilangkan barakahnya oleh Allah Ta’ala.”
Majmu’ul Fatawa, jilid 28 hlm. 646
🟢 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang sedekah :
لاَ يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ إِلاَّ أَخَذَهَا اللهُ بِيَمِيْنِهِ فَيُرَبِّيْهَا كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ قَلُوْصَهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ أَوْ أَعْظَمَ
“Tidak ada seseorang yang bersedekah walau dengan sebiji kurma yang diperolehnya dari penghasilan yang halal, kecuali Allah mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Dia mengembangkannya sebagaimana salah seorang dari kalian merawat anak untanya hingga menjadi sebesar gunung atau lebih besar lagi.” (HR. Muslim no. 2340)
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
والقليل من الحلال يبارك فيه، والحرام الكثير يذهب ويمحقه الله تعالى.
“Sedikit dari harta yang halal akan diberkahi, sedangkan yang haram walaupun banyak akan lenyap dan akan dihilangkan barakahnya oleh Allah Ta’ala.”
Majmu’ul Fatawa, jilid 28 hlm. 646
🟢 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang sedekah :
لاَ يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ إِلاَّ أَخَذَهَا اللهُ بِيَمِيْنِهِ فَيُرَبِّيْهَا كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ قَلُوْصَهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ أَوْ أَعْظَمَ
“Tidak ada seseorang yang bersedekah walau dengan sebiji kurma yang diperolehnya dari penghasilan yang halal, kecuali Allah mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Dia mengembangkannya sebagaimana salah seorang dari kalian merawat anak untanya hingga menjadi sebesar gunung atau lebih besar lagi.” (HR. Muslim no. 2340)
BERDOALAH WAHAI MUSLIM
Imam Syafi’i rahimahullah berkata :
أَتَهْزَأُ بِالدُّعَاءِ وَتَزْدَرِيه؟ وَمَا تَدْرِي بِمَا صَنَعَ الدُّعَاءُ ,سِهَامُ اللَّيلِ لا تُخْطِي . وَلَكِنْ لَهَا أَمَدٌ وَلِلْأَمَدِ انْقِضَاءُ
“Apakah engkau mengejek dan meremehkan doa? Engkau tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh doa, (Doa ibarat) anak panah yang dilepaskan di malam hari, tidak akan meleset. Akan tetapi anak panah tersebut ada waktunya (yang dibutuhkan) untuk mengenai (sasaran), dan setiap waktu pasti ada akhirnya.” (Diwan Imam Syafi’i)
Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
”Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Qs. Al-Mu’min 60)
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu.” (Qs. Al-Baqarah 186).
Wahai saudaraku, ketahuilah bahwasanya jika dalam hajadmu engkau berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan YAKIN dan HUSNUDZON bahwa doa tersebut akan dikabulkan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan kabulkan doamu..
Dan ketahuilah, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengabulkan doa dari orang yang hatinya lalai, yaitu orang yang berdoa tetapi tidak yakin akan dikabulkan doanya..
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin bahwa doa tersebut akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai (yang tidak yakin bahwa doanya akan dikabulkan).” (HR. Tirmidzi 3479)
Semoga kita termasuk orang-orang yang yakin dan husnudzon tatkala berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta khusyuk didalamnya..
اللهم يَارَبَّنَا يامَنْ يُجِيبُ المُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ ويَكْشِفُ السُّوءَ
نَسْأَلُكَ أَنْ تَكْشِفَ عَنَّاوعَنِ المُسْلِمِيْنَ مِنَ الشِّدَّةِ والبَلَاءِ مَالَايَكْشِفُهُ غَيْرُكَ
إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ وَ أَنْتَ أَهْلُ الرَّجَاءِ وَ أَنْتَ حَسْبُنَا وَ نِعْمَ الوَكِيْلِ
Ya Allah, wahai Rabb kami, wahai Dzat yang mengabulkan permintaan orang yang dalam kesulitan ketika ia berdoa kepadaMu
Kami memohon dan meminta agar Engkau hilangkan kesusahan dan wabah ini dari kami begitu juga dari kaum muslimin, karena tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Engkau saja.
Engkau Maha Mendengar doa, Engkau tempat berharap, Engkaulah yang mencukupi kami dan Engkaulah sebaik-baik pelindung.
Imam Syafi’i rahimahullah berkata :
أَتَهْزَأُ بِالدُّعَاءِ وَتَزْدَرِيه؟ وَمَا تَدْرِي بِمَا صَنَعَ الدُّعَاءُ ,سِهَامُ اللَّيلِ لا تُخْطِي . وَلَكِنْ لَهَا أَمَدٌ وَلِلْأَمَدِ انْقِضَاءُ
“Apakah engkau mengejek dan meremehkan doa? Engkau tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh doa, (Doa ibarat) anak panah yang dilepaskan di malam hari, tidak akan meleset. Akan tetapi anak panah tersebut ada waktunya (yang dibutuhkan) untuk mengenai (sasaran), dan setiap waktu pasti ada akhirnya.” (Diwan Imam Syafi’i)
Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
”Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Qs. Al-Mu’min 60)
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu.” (Qs. Al-Baqarah 186).
Wahai saudaraku, ketahuilah bahwasanya jika dalam hajadmu engkau berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan YAKIN dan HUSNUDZON bahwa doa tersebut akan dikabulkan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan kabulkan doamu..
Dan ketahuilah, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengabulkan doa dari orang yang hatinya lalai, yaitu orang yang berdoa tetapi tidak yakin akan dikabulkan doanya..
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin bahwa doa tersebut akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai (yang tidak yakin bahwa doanya akan dikabulkan).” (HR. Tirmidzi 3479)
Semoga kita termasuk orang-orang yang yakin dan husnudzon tatkala berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta khusyuk didalamnya..
اللهم يَارَبَّنَا يامَنْ يُجِيبُ المُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ ويَكْشِفُ السُّوءَ
نَسْأَلُكَ أَنْ تَكْشِفَ عَنَّاوعَنِ المُسْلِمِيْنَ مِنَ الشِّدَّةِ والبَلَاءِ مَالَايَكْشِفُهُ غَيْرُكَ
إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ وَ أَنْتَ أَهْلُ الرَّجَاءِ وَ أَنْتَ حَسْبُنَا وَ نِعْمَ الوَكِيْلِ
Ya Allah, wahai Rabb kami, wahai Dzat yang mengabulkan permintaan orang yang dalam kesulitan ketika ia berdoa kepadaMu
Kami memohon dan meminta agar Engkau hilangkan kesusahan dan wabah ini dari kami begitu juga dari kaum muslimin, karena tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Engkau saja.
Engkau Maha Mendengar doa, Engkau tempat berharap, Engkaulah yang mencukupi kami dan Engkaulah sebaik-baik pelindung.
*Buku Biografi 60 Ulama Ahlussunnah*
*Resensi*
Membaca mengenai biografi ulama-ulama besar Ahlus Sunnah merupakan sumber inspirasi yang paling penting agar menjadi pribadi lebih baik, kuat, unggul, mengobarkan semangat, menumbuhkan harapan dan terus berkarya.
Buku ini, akan membahas secara rinci mengenai “biografi 60 ahlussunnah” orang yang paling fenomenal dan paling otoritatif dalam Sejarah Islam.
Mereka adalah teladan dalam Iman dan Islam serta merupakan figur sejati dalam ilmu dan ibadah. Mereka telah menorehkan nama besar mereka dalam sejarah dengan tinta emas, dan kita tinggal mengambil hal-hal baik dari catatan hidup dan pengabdian mereka.
Harga Buku:
Rp. 165.000
Penerbit: Pustaka Darul Haq
Penulis: Ahmad Farid
Sangat layak dimiliki umat Islam, untuk warisan anak cucu. Segera pesan ke:
wa.me/62895386894755
*Resensi*
Membaca mengenai biografi ulama-ulama besar Ahlus Sunnah merupakan sumber inspirasi yang paling penting agar menjadi pribadi lebih baik, kuat, unggul, mengobarkan semangat, menumbuhkan harapan dan terus berkarya.
Buku ini, akan membahas secara rinci mengenai “biografi 60 ahlussunnah” orang yang paling fenomenal dan paling otoritatif dalam Sejarah Islam.
Mereka adalah teladan dalam Iman dan Islam serta merupakan figur sejati dalam ilmu dan ibadah. Mereka telah menorehkan nama besar mereka dalam sejarah dengan tinta emas, dan kita tinggal mengambil hal-hal baik dari catatan hidup dan pengabdian mereka.
Harga Buku:
Rp. 165.000
Penerbit: Pustaka Darul Haq
Penulis: Ahmad Farid
Sangat layak dimiliki umat Islam, untuk warisan anak cucu. Segera pesan ke:
wa.me/62895386894755
WhatsApp.com
Share on WhatsApp
WhatsApp Messenger: More than 2 billion people
in over 180 countries use WhatsApp to stay in touch with friends and
family, whenever and wherever. WhatsApp is free and offers simple, secure,
reliable messaging and calling, available…
in over 180 countries use WhatsApp to stay in touch with friends and
family, whenever and wherever. WhatsApp is free and offers simple, secure,
reliable messaging and calling, available…
*ISTRI DIZALIMI SUAMI*
Ada pertanyaan, apakah boleh istri mendoakan keburukan untuk suami yang zalim padanya?
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan memberikan taushiahnya.
Hendaknya sang *istri sabar*, mintalah haknya kepada suami dan ingatkan ia tentang kewajibannya. Ingatkan bahwa Allah berfirman:
ۚ وَعَاشِرُوۡهُنَّ بِالۡمَعۡرُوۡفِ
*_Bergaullah dengan para istri secara ma'ruf_*(QS. an-Nisa:19)
Suami wajib memperlakukan istrinya dengan baik. Ia wajib memberikan hak istri yang telah Allah tetapkan, seperti *nafqah*, *pakaian* dan *tempat tinggal*, ia tinggal bersama istrinya* dan *tidak boleh menzalimi istrinya*.
Jika istri melihat suami melakukan kezaliman, hendaknya ia nasihati dan meminta haknya, yang telah disebutkan di atas. Tentunya juga dengan memperhatikan hak suami, apakah juga telah istri tunaikan.
Salah satu hak suami, seperti disebutkan oleh istrinya Said Bin Al Musayyab :
ما كان نعلم أزواجنا إلا كما تعلموا أمراءكم؛ أصلحك الله، عافاك الله
*_Tidaklah kami para istri berbicara kepada suami, melainkan layaknya kalian berbicara kepada pemimpin-pemimpin kalian. Semoga Allah memperbaiki kalian dan memaafkan kalian_*.
(Al-Hilyah 5/198)
Ada pertanyaan, apakah boleh istri mendoakan keburukan untuk suami yang zalim padanya?
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan memberikan taushiahnya.
Hendaknya sang *istri sabar*, mintalah haknya kepada suami dan ingatkan ia tentang kewajibannya. Ingatkan bahwa Allah berfirman:
ۚ وَعَاشِرُوۡهُنَّ بِالۡمَعۡرُوۡفِ
*_Bergaullah dengan para istri secara ma'ruf_*(QS. an-Nisa:19)
Suami wajib memperlakukan istrinya dengan baik. Ia wajib memberikan hak istri yang telah Allah tetapkan, seperti *nafqah*, *pakaian* dan *tempat tinggal*, ia tinggal bersama istrinya* dan *tidak boleh menzalimi istrinya*.
Jika istri melihat suami melakukan kezaliman, hendaknya ia nasihati dan meminta haknya, yang telah disebutkan di atas. Tentunya juga dengan memperhatikan hak suami, apakah juga telah istri tunaikan.
Salah satu hak suami, seperti disebutkan oleh istrinya Said Bin Al Musayyab :
ما كان نعلم أزواجنا إلا كما تعلموا أمراءكم؛ أصلحك الله، عافاك الله
*_Tidaklah kami para istri berbicara kepada suami, melainkan layaknya kalian berbicara kepada pemimpin-pemimpin kalian. Semoga Allah memperbaiki kalian dan memaafkan kalian_*.
(Al-Hilyah 5/198)
*JATUH CINTA SEBELUM MENIKAH*
Rasa cinta sebelum menikah, tersebar luas bahwasanya tidak boleh, maka sebagian dari kita menyangka bahwa hal tersebut tidak benar.
Rasa cinta terbagi menjadi 2:
1) Hubb afif
2) Hubb goyru afif
Cinta yang suci adalah cinta tersembunyi di hatinya dan ia tidak menampakkannya. Cinta di dalam hati tidak akan ada yang melarangnya. Cinta yang tidak mengendalikan manusia untuk berbuat. Disebut cinta kalau sudah direalisasikan dengan yang ia cintai.
Cinta yang muncul di dalam hati juga bisa terjadi, namun apabila kita berbicara cinta dengan jalan bersamaan, bermesraan sebelum akad nikah, ini bukan cinta, akan tetapi ini perbuatan *KEJI* (al-Quran menyebutnya KEJI dan JALAN YANG BURUK - al-Isra:32). Berbicara dengannya dengan nada yang menggoda, engkau menatapnya dan ia menatapmu, semua ini jelas haram.
Akan tetapi apabila lelaki mencintai wanita kemudian engkau ingin buktikan dengan menikahinya, ini sesuatu yang baik dan hal ini baik.
Akan tetapi *jangan bercengkerama bersama sebelum menikah* (seperti tren pre-wedding). Seandainya kalian saling mencintai, kemudian diiringi dengan maksiat, jalan bersama kemudian menikah, maka menikahnya sah, akan tetapi hendaknya engkau bertaubat, menikah tidak akan menghapus kemaksiatan kalian dahulu. Demikian Syaikh Utsman al Khamis menjelaskan.
Jadi, dosa kalian ngobrol bareng, jalan bersama, dan hal-hal yang lebih buruk dari itu, bagi engkau bertaubat dari dosa ini, meskipun langkahmu untuk menikah sudah benar. Dan ingat lupakan hubungan ini, jangan diungkap, disiarkan kembali, karena ini aib, dosa dalam Islam. Misal dengan mengatakan,"Dulu dia pacar saya, sekarang jadi suami saya".
Demikianlah agama ini mengatur dengan hukum-hukumnya, agar manusia hidup dalam naungan Allah Yang Maha Tahu atas hambaNya dan di bawah Sunnah NabiNya, Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Tak ada pilihan lain bagi seorang yang mengaku mukmin dan mukminah, selain mengikuti jalan ini. Putuskan cinta yang *KEJI lagi BURUK*, menuju cinta karena Allah dan RasulNya.
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ
*_Dari Anas, dari Nabi SAW beliau bersabda: "Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka._*"[Mutafaqun alaihi]
Dan Allah mempertegas lagi dalam firmanNya:
وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ وَّلَا مُؤۡمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوۡلُهٗۤ اَمۡرًا اَنۡ يَّكُوۡنَ لَهُمُ الۡخِيَرَةُ مِنۡ اَمۡرِهِمۡ ؕ وَمَنۡ يَّعۡصِ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيۡنًا
*_Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata._*
Rasa cinta sebelum menikah, tersebar luas bahwasanya tidak boleh, maka sebagian dari kita menyangka bahwa hal tersebut tidak benar.
Rasa cinta terbagi menjadi 2:
1) Hubb afif
2) Hubb goyru afif
Cinta yang suci adalah cinta tersembunyi di hatinya dan ia tidak menampakkannya. Cinta di dalam hati tidak akan ada yang melarangnya. Cinta yang tidak mengendalikan manusia untuk berbuat. Disebut cinta kalau sudah direalisasikan dengan yang ia cintai.
Cinta yang muncul di dalam hati juga bisa terjadi, namun apabila kita berbicara cinta dengan jalan bersamaan, bermesraan sebelum akad nikah, ini bukan cinta, akan tetapi ini perbuatan *KEJI* (al-Quran menyebutnya KEJI dan JALAN YANG BURUK - al-Isra:32). Berbicara dengannya dengan nada yang menggoda, engkau menatapnya dan ia menatapmu, semua ini jelas haram.
Akan tetapi apabila lelaki mencintai wanita kemudian engkau ingin buktikan dengan menikahinya, ini sesuatu yang baik dan hal ini baik.
Akan tetapi *jangan bercengkerama bersama sebelum menikah* (seperti tren pre-wedding). Seandainya kalian saling mencintai, kemudian diiringi dengan maksiat, jalan bersama kemudian menikah, maka menikahnya sah, akan tetapi hendaknya engkau bertaubat, menikah tidak akan menghapus kemaksiatan kalian dahulu. Demikian Syaikh Utsman al Khamis menjelaskan.
Jadi, dosa kalian ngobrol bareng, jalan bersama, dan hal-hal yang lebih buruk dari itu, bagi engkau bertaubat dari dosa ini, meskipun langkahmu untuk menikah sudah benar. Dan ingat lupakan hubungan ini, jangan diungkap, disiarkan kembali, karena ini aib, dosa dalam Islam. Misal dengan mengatakan,"Dulu dia pacar saya, sekarang jadi suami saya".
Demikianlah agama ini mengatur dengan hukum-hukumnya, agar manusia hidup dalam naungan Allah Yang Maha Tahu atas hambaNya dan di bawah Sunnah NabiNya, Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Tak ada pilihan lain bagi seorang yang mengaku mukmin dan mukminah, selain mengikuti jalan ini. Putuskan cinta yang *KEJI lagi BURUK*, menuju cinta karena Allah dan RasulNya.
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ
*_Dari Anas, dari Nabi SAW beliau bersabda: "Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka._*"[Mutafaqun alaihi]
Dan Allah mempertegas lagi dalam firmanNya:
وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ وَّلَا مُؤۡمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوۡلُهٗۤ اَمۡرًا اَنۡ يَّكُوۡنَ لَهُمُ الۡخِيَرَةُ مِنۡ اَمۡرِهِمۡ ؕ وَمَنۡ يَّعۡصِ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيۡنًا
*_Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata._*
GURUNYA PARA AHLI TAFSIR
Tafsir At Thabari :
• Imam Muhammad bin Jarir At Thabari dilahirkan pada tahun 224 hijriyyah di daerah yang disebut Thabaristan, wafat pada tahun 310 hijriah diusia 86 tahun.
• Tafsirnya dinamakan: “Jami’ul Bayan Fi Ta’wili Aayatil Qur’an”.
Abu Hafidz Al Isfiraini berkata : Jika seseorang pergi ke negri Cina hanya untuk mendapatkan ilmu dari kitabnya maka hal itu sangat layak dimengerti." (Dari kitab “Thabaqaatul Mufassirin” Oleh Ad Daawidi, 2/106)
• Ibnu Khuzaimah berkata: Aku menelaah kitab Tafsirnya dari permulaan hingga akhirnya, maka aku tidak mengetahui jika ada seorang di permukaan bumi ini yang lebih mengerti dari pada Ibnu Jarir. (Dari kitab “Siyar A’laamil Nubala”, 14/273)
• Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Adapun kitab-kitab tafsir yang beredar di tengah masyarakat; maka yang paling shahih di antara kitab-kitab tafsir tersebut adalah karangan Muhammad bin Jarir At Thabari. Karena di dalamnya disebutkan perkataan para ulama salaf dengan sanad yang tidak diragukan lagi kesahihannya serta tidak ada bid’ah di dalamnya Tidak pula menukil perkataan orang-orang yang diduga dengan kedustaannya seperti Muqotil bin Bakir dan Al Kalbi. (Majmu Al Fatawa, 13/358). Dia juga mengatakan dalam kitab “Muqaddimatun Fi Ushulut Tafsir”, hal 39 tentang tafsir Ibnu Jarir, "Tafsir At Thabari adalah tafsir yang paling mulia dan paling berbobot isinya."
• Tafsir ini bersandar kepada perkataan tiga tingkatan dari tingkatan para ahli tafsir ulama salaf. Mereka adalah para sahabat, tabi’in dan tabi'ti tabi’in. Disebutkan perkataan mereka dengan sanad yang disandarkan kepada mereka dan inilah bentuk keistimewaan yang amat luar biasa dalam penulisan kitabnya yang tidak didapati dikebanyakan kitab-kitab tafsir yang ada pada kita Akan tetapi keistimewaan ini tidak sepadan dengan keadaan kaum Muslimin pada umumnya yang rata-rata tidak memiliki kemampuan untuk menelaah sanad-sanad dan mengetahui serta membedakan yang sahih dari yang dla’if. Mereka merasa cukup dan berhenti sebatas pada kebenaran sanad dan kedha’ifannya dengan ungkapan yang ringkas, jelas dan terang.
Apabila imam At Thabari telah selesai mengutarakan perkataan-perkataan para ulama, beliau merajihkan (menguatkan) atau memilih pendapat yang beliau anggap paling benar kemudian beliau sebutkan sanadnya dalam tarjih.
Tafsir At Thabari :
• Imam Muhammad bin Jarir At Thabari dilahirkan pada tahun 224 hijriyyah di daerah yang disebut Thabaristan, wafat pada tahun 310 hijriah diusia 86 tahun.
• Tafsirnya dinamakan: “Jami’ul Bayan Fi Ta’wili Aayatil Qur’an”.
Abu Hafidz Al Isfiraini berkata : Jika seseorang pergi ke negri Cina hanya untuk mendapatkan ilmu dari kitabnya maka hal itu sangat layak dimengerti." (Dari kitab “Thabaqaatul Mufassirin” Oleh Ad Daawidi, 2/106)
• Ibnu Khuzaimah berkata: Aku menelaah kitab Tafsirnya dari permulaan hingga akhirnya, maka aku tidak mengetahui jika ada seorang di permukaan bumi ini yang lebih mengerti dari pada Ibnu Jarir. (Dari kitab “Siyar A’laamil Nubala”, 14/273)
• Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Adapun kitab-kitab tafsir yang beredar di tengah masyarakat; maka yang paling shahih di antara kitab-kitab tafsir tersebut adalah karangan Muhammad bin Jarir At Thabari. Karena di dalamnya disebutkan perkataan para ulama salaf dengan sanad yang tidak diragukan lagi kesahihannya serta tidak ada bid’ah di dalamnya Tidak pula menukil perkataan orang-orang yang diduga dengan kedustaannya seperti Muqotil bin Bakir dan Al Kalbi. (Majmu Al Fatawa, 13/358). Dia juga mengatakan dalam kitab “Muqaddimatun Fi Ushulut Tafsir”, hal 39 tentang tafsir Ibnu Jarir, "Tafsir At Thabari adalah tafsir yang paling mulia dan paling berbobot isinya."
• Tafsir ini bersandar kepada perkataan tiga tingkatan dari tingkatan para ahli tafsir ulama salaf. Mereka adalah para sahabat, tabi’in dan tabi'ti tabi’in. Disebutkan perkataan mereka dengan sanad yang disandarkan kepada mereka dan inilah bentuk keistimewaan yang amat luar biasa dalam penulisan kitabnya yang tidak didapati dikebanyakan kitab-kitab tafsir yang ada pada kita Akan tetapi keistimewaan ini tidak sepadan dengan keadaan kaum Muslimin pada umumnya yang rata-rata tidak memiliki kemampuan untuk menelaah sanad-sanad dan mengetahui serta membedakan yang sahih dari yang dla’if. Mereka merasa cukup dan berhenti sebatas pada kebenaran sanad dan kedha’ifannya dengan ungkapan yang ringkas, jelas dan terang.
Apabila imam At Thabari telah selesai mengutarakan perkataan-perkataan para ulama, beliau merajihkan (menguatkan) atau memilih pendapat yang beliau anggap paling benar kemudian beliau sebutkan sanadnya dalam tarjih.
TIDAK MEMINTA-MINTA, QONA-AH DAN SABAR
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَا يَكُوْنُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ لاَ أَدَّخِرُهُ عَنْكُمْ، وَإِنَّهُ مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبّرِْهُ اللهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Kebaikan (harta) yang ada padaku tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta, Allah subhanahu wa ta’ala akan memelihara dan menjaganya. Siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta, Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikannya sabar. Siapa yang merasa cukup dengan Allah subhanahu wa ta’ala dari meminta kepada selain-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan kecukupan kepadanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. al-Bukhari no. 6470 & Muslim no. 1053)
🟢 Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :
“Dalam hadits ini ada anjuran untuk ta’affuf (menahan diri dari meminta-minta), qana’ah (merasa cukup) dan bersabar atas kesempitan hidup dan kesulitan (hal yang tidak disukai) lainnya di dunia.” (Syarah Shahih Muslim, 7/145)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَا يَكُوْنُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ لاَ أَدَّخِرُهُ عَنْكُمْ، وَإِنَّهُ مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبّرِْهُ اللهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Kebaikan (harta) yang ada padaku tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta, Allah subhanahu wa ta’ala akan memelihara dan menjaganya. Siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta, Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikannya sabar. Siapa yang merasa cukup dengan Allah subhanahu wa ta’ala dari meminta kepada selain-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan kecukupan kepadanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. al-Bukhari no. 6470 & Muslim no. 1053)
🟢 Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :
“Dalam hadits ini ada anjuran untuk ta’affuf (menahan diri dari meminta-minta), qana’ah (merasa cukup) dan bersabar atas kesempitan hidup dan kesulitan (hal yang tidak disukai) lainnya di dunia.” (Syarah Shahih Muslim, 7/145)
*Kesungguhan dalam beramal Shalih*
Amal shalih sangat dibutuhkan untuk mewujudkan dan memupuk Iman. Selain merupakan bagian dari iman itu sendiri, amal shalih juga merupakan sebab terwujudnya *keimanan*.
Maka tak pelak, kita hamba, perlu memelihara amal shalih, yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah subhanahu wata'ala.
Memelihara amal shalih merupakan salah satu sebab yang paling berpengaruh pada kekuatan dan terjaganya keimanan. Contohnya adalah sholat. Allah berfirman:
*_Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar_*. (QS. Al-Ankabut:45)
Alangkah segarnya *keimanan* yang ada di dalamnya. Alangkah dekatnya hubungan hamba dengan Allah subhanahu wata'ala dengan perantaranya.
Lihatlah diri kita, ketika kita senantiasa menjaga, mengagungkan dan perhatian dengannya, kita akan dapati pengaruhnya sangat luarbiasa dalam mewujudkan keimanan dalam hati.
Lihatlah keadaan orang yang jauh dari sholat, ketika mereka jauh dari sholat, *keimanan dalam hati mereka juga ikut lemah.
Para salaf mengatakan:
الإيمان قول وعمل. يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية
*_Iman adalah perkataan dan perbuatan. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan._*
Jadi, ketaatan itu dapat menambah dan memperkuat *keimanan*. Setiap kali ketaatan, ibadah dan taqarrub kita kepada Allah subhanahu wata'ala bertambah, maka hal ini akan menjadi sebab penolong untuk menguatkan dan memupuk keimananmu.
*Sekolah Konselor Keluarga*
Amal shalih sangat dibutuhkan untuk mewujudkan dan memupuk Iman. Selain merupakan bagian dari iman itu sendiri, amal shalih juga merupakan sebab terwujudnya *keimanan*.
Maka tak pelak, kita hamba, perlu memelihara amal shalih, yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah subhanahu wata'ala.
Memelihara amal shalih merupakan salah satu sebab yang paling berpengaruh pada kekuatan dan terjaganya keimanan. Contohnya adalah sholat. Allah berfirman:
*_Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar_*. (QS. Al-Ankabut:45)
Alangkah segarnya *keimanan* yang ada di dalamnya. Alangkah dekatnya hubungan hamba dengan Allah subhanahu wata'ala dengan perantaranya.
Lihatlah diri kita, ketika kita senantiasa menjaga, mengagungkan dan perhatian dengannya, kita akan dapati pengaruhnya sangat luarbiasa dalam mewujudkan keimanan dalam hati.
Lihatlah keadaan orang yang jauh dari sholat, ketika mereka jauh dari sholat, *keimanan dalam hati mereka juga ikut lemah.
Para salaf mengatakan:
الإيمان قول وعمل. يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية
*_Iman adalah perkataan dan perbuatan. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan._*
Jadi, ketaatan itu dapat menambah dan memperkuat *keimanan*. Setiap kali ketaatan, ibadah dan taqarrub kita kepada Allah subhanahu wata'ala bertambah, maka hal ini akan menjadi sebab penolong untuk menguatkan dan memupuk keimananmu.
*Sekolah Konselor Keluarga*
*Sunnah Melindungi Anak-anak dari Gangguan keburukan jin, setan dan sihir*
Sungguh disyariatkan untuk melindungi anak-anak dengan dzikir berikut ini:
أُعِيذُ أَوْلَادِي بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
*_Aku memohon perlindungan untuk anak-anakku dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala keburukan yang Dia ciptakan_*.
Dan boleh disebutkan anak-anak kita satu persatu. Sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa memohon perlindungan kepada Hasan dan Husain dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan, binatang berbisa dan dari 'ain (pandangan mata yang jahat).
أُعِيذُكُمْ (فلان وفلانة) مِنْ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِن كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِن كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
*_Aku memohon perlindungan untuk kalian (fulan dan fulanah) dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan, binatang berbisa dan dari 'ain (pandangan mata yang jahat)_*.
Memohon perlindungan untuk anak-anak kita adalah perkara yang disunahkan. Dan hal itu termasuk sekuat-kuatnya perlindungan untuk membentengi mereka.
Membaca dzikir setiap pagi dan petang dengan dzikir ini salah satunya adalah sebagai benteng yang kokoh untuk ayah dan bunda dalam membentengi anak-anaknya dari keburukan setan, apalagi di zaman penuh fitnah, kejahatan begitu tampak, kemaksiatan diobral, perzinaan menjadi kesukaan, dan korban utamanya adalah anak-anak muda, yang semestinya mereka harus kita jaga dari itu semua, karena dipundak merekalah masa depan Islam.
_Wallahu a'lam bishshowaab_
*Sekolah Konselor Keluarga*
Sungguh disyariatkan untuk melindungi anak-anak dengan dzikir berikut ini:
أُعِيذُ أَوْلَادِي بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
*_Aku memohon perlindungan untuk anak-anakku dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala keburukan yang Dia ciptakan_*.
Dan boleh disebutkan anak-anak kita satu persatu. Sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa memohon perlindungan kepada Hasan dan Husain dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan, binatang berbisa dan dari 'ain (pandangan mata yang jahat).
أُعِيذُكُمْ (فلان وفلانة) مِنْ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِن كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِن كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
*_Aku memohon perlindungan untuk kalian (fulan dan fulanah) dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan, binatang berbisa dan dari 'ain (pandangan mata yang jahat)_*.
Memohon perlindungan untuk anak-anak kita adalah perkara yang disunahkan. Dan hal itu termasuk sekuat-kuatnya perlindungan untuk membentengi mereka.
Membaca dzikir setiap pagi dan petang dengan dzikir ini salah satunya adalah sebagai benteng yang kokoh untuk ayah dan bunda dalam membentengi anak-anaknya dari keburukan setan, apalagi di zaman penuh fitnah, kejahatan begitu tampak, kemaksiatan diobral, perzinaan menjadi kesukaan, dan korban utamanya adalah anak-anak muda, yang semestinya mereka harus kita jaga dari itu semua, karena dipundak merekalah masa depan Islam.
_Wallahu a'lam bishshowaab_
*Sekolah Konselor Keluarga*
MAKNA ISTIQOMAH
👤 Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata :
“Istiqomah adalah meniti jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, dengan tanpa membelok ke kanan atau ke kiri. Dan istiqomah mencakup melakukan semua ketaatan yang lahir dan yang batin dan meninggalkan semua perkara yang dilarang. Maka wasiat ini mencakup seluruh ajaran agama.” (Jami’ul ‘Ulum wal-Hikam, 1 : 510)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ
“Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah.” (HR Ahmad 12636) hasan
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu secara marfuu’ dan mauquf :
إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
“Jika anak Adam memasuki pagi hari sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lisan: ‘Takwalah kepada Allah di dalam menjaga hak-hak kami, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqomah, maka kami juga istiqomah, jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang. (HR Tirmidzi 2407) hasan.
📌 KEUTAMAAN ISTIQOMAH
Tidaklah mudah untuk meraih Istiqomah. Namun seorang hamba akan mendapatkan semangat di dalam istiqomah dengan mengetahui keutamaannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang keutamaan besar yang akan diraih oleh orang-orang yang istiqomah :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu ” (Qs. Fushshilat 30)
Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿١٣﴾ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka tetap istiqomah (teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang shalih) maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-Ahqaf 13-14)
📌 DIANTARA SEBAB-SEBAB ISTIQOMAH
Sesungguhnya sebab-sebab istiqomah sangat banyak. Diantara sebab-sebab terpenting yang menjadikan seseorang istiqomah di jalan Allah Subhanahu Ta’ala ialah sebagai berikut:
1. Merenungkan isi Al-Qur’an.
2. Mengamalkan apa yang Allah dan Rasulnya perintahkan.
3. Mencintai Allah dan RasulNya melebihi yang Lainnya.
4. Mencintai dan membenci sesuatu karena Allah.
5. Meneladani para para Shalafus Shalih (shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in) dan para ulama yang istiqomah.
6. Saling berwasiat dengan al-haq(kebenaran), kesabaran, dan kasih-sayang.
7. Banyak berdoa.
8. Berdzikir.
9. Menjauhi segala pintu maksiat.
👤 Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata :
“Istiqomah adalah meniti jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, dengan tanpa membelok ke kanan atau ke kiri. Dan istiqomah mencakup melakukan semua ketaatan yang lahir dan yang batin dan meninggalkan semua perkara yang dilarang. Maka wasiat ini mencakup seluruh ajaran agama.” (Jami’ul ‘Ulum wal-Hikam, 1 : 510)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ
“Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah.” (HR Ahmad 12636) hasan
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu secara marfuu’ dan mauquf :
إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
“Jika anak Adam memasuki pagi hari sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lisan: ‘Takwalah kepada Allah di dalam menjaga hak-hak kami, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqomah, maka kami juga istiqomah, jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang. (HR Tirmidzi 2407) hasan.
📌 KEUTAMAAN ISTIQOMAH
Tidaklah mudah untuk meraih Istiqomah. Namun seorang hamba akan mendapatkan semangat di dalam istiqomah dengan mengetahui keutamaannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang keutamaan besar yang akan diraih oleh orang-orang yang istiqomah :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu ” (Qs. Fushshilat 30)
Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿١٣﴾ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka tetap istiqomah (teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang shalih) maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-Ahqaf 13-14)
📌 DIANTARA SEBAB-SEBAB ISTIQOMAH
Sesungguhnya sebab-sebab istiqomah sangat banyak. Diantara sebab-sebab terpenting yang menjadikan seseorang istiqomah di jalan Allah Subhanahu Ta’ala ialah sebagai berikut:
1. Merenungkan isi Al-Qur’an.
2. Mengamalkan apa yang Allah dan Rasulnya perintahkan.
3. Mencintai Allah dan RasulNya melebihi yang Lainnya.
4. Mencintai dan membenci sesuatu karena Allah.
5. Meneladani para para Shalafus Shalih (shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in) dan para ulama yang istiqomah.
6. Saling berwasiat dengan al-haq(kebenaran), kesabaran, dan kasih-sayang.
7. Banyak berdoa.
8. Berdzikir.
9. Menjauhi segala pintu maksiat.
MENJAGA SHOLAT
Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata :
خصلتان إذا رأيتهما في الرجل فاعلم أن ما ورائهما خير منهما : إذا كان حابسًا لسانه, محافظًا على صلاته .
” Ada dua sifat yang apabila kamu melihat kedua sifat ini ada pada seseorang maka ketahuilah bahwa buah dan manfaat dari kedua sifat ini lebih baik daripada kedua sifatnya itu sendiri :
- Menjaga lisan
- Menjaga sholat
🟢 Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda :
إنَّ الرجلَ ليُصلِّي ستِّينَ سنةً و ما تُقبَلُ له صلاةٌ ، لعله يتمُّ الركوعَ ، ولا يتمُّ السُّجودَ ، ويتمُّ السجودَ ولا يتمُّ الركوعَ .
“Sesungguhnya benar- benar ada seseorang yang telah mengerjakan sholat selama enam puluh tahun namun tidak ada yang diterima sholatnya, mungkin dia telah menyempurnakan ruku’ akan tetapi tidak menyempunakan sujud atau sebaliknya dia telah menyempurnakan sujud akan tetapi tidak menyempurnakan ruku’.”
Shahih At Targhib, 529, hasan oleh al Albani.
Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata :
خصلتان إذا رأيتهما في الرجل فاعلم أن ما ورائهما خير منهما : إذا كان حابسًا لسانه, محافظًا على صلاته .
” Ada dua sifat yang apabila kamu melihat kedua sifat ini ada pada seseorang maka ketahuilah bahwa buah dan manfaat dari kedua sifat ini lebih baik daripada kedua sifatnya itu sendiri :
- Menjaga lisan
- Menjaga sholat
🟢 Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda :
إنَّ الرجلَ ليُصلِّي ستِّينَ سنةً و ما تُقبَلُ له صلاةٌ ، لعله يتمُّ الركوعَ ، ولا يتمُّ السُّجودَ ، ويتمُّ السجودَ ولا يتمُّ الركوعَ .
“Sesungguhnya benar- benar ada seseorang yang telah mengerjakan sholat selama enam puluh tahun namun tidak ada yang diterima sholatnya, mungkin dia telah menyempurnakan ruku’ akan tetapi tidak menyempunakan sujud atau sebaliknya dia telah menyempurnakan sujud akan tetapi tidak menyempurnakan ruku’.”
Shahih At Targhib, 529, hasan oleh al Albani.
Dosa dan kemaksiatan Dikala Sendirian
Dosa dan kemaksiatan, dua perkara yang paling banyak menggugurkan kebaikan dan memberatkan timbangan keburukan. Melakukan satu perbuatan dosa, seperti zina, atau melanggar larangan Allah Azza wa Jalla ketika sendirian, sudah cukup untuk menggugurkan kebaikan-kebaikan walaupun sebesar gunung.
Sahabat Tsauban Radhiyallahu anhu menceritakan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:
عَنْ ثَوْبَانَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ : أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا
Dari Tsauban, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa Beliau bersabda, “Aku benar-benar mengetahui rombongan-rombongan orang dari umatku, mereka akan datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan-kebaikan sebesar gunung Tihamah yang berwarna putih, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikannya sebagai debu yang berhamburan”. Tsauban Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Rasulullah! Terangkan sifat mereka kepada kami! Terangkan keadaan mereka kepada kami, agar kami tidak termasuk golongan mereka padahal kami tidak mengetahui!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya mereka itu adalah saudara-saudara kamu, dan dari kulit kamu, mereka mengisi sebagian malam sebagaimana kamu mengisi, namun mereka adalah rombongan-rombongan orang yang jika menyendiri, mereka melanggar perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah”. (HR. Ibnu Majah, 4245 dishahihkan oleh syaikh al-Albani; syaikh Salim al-Hilali dan lainnya)
Oleh karena itu kewajiban kita untuk bertaqwa kepada Allah dimana saja berada, baik ketika sendirian atau ketika bersama banyak orang.
Begitulah yang diwasiatkan oleh di dalam haditsnya:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Bertaqwalah kepada Allah Azza wa Jalla dimana saja engkau berada; Iringilah keburukan dengan perbuatan baik! Niscaya kebaikan itu akan menghapusnya; Dan bergaulah dengan manusia dengan akhlaq yang baik”. (HR. Ahmad 5/153, 158, 177, 236, At-Tirmidzi, 1987; Ad-Darimi 2/323, Al-Hakim 1/54, At-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 20/145, Mu’jamul Ausath 4/125, Mu’jamus Shaghir 350. Dimuat oleh Imam Nawawi dalam Arba’in 18. Hadits dinilai sebagai hadits yang hasan oleh oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 97)
Dosa dan kemaksiatan, dua perkara yang paling banyak menggugurkan kebaikan dan memberatkan timbangan keburukan. Melakukan satu perbuatan dosa, seperti zina, atau melanggar larangan Allah Azza wa Jalla ketika sendirian, sudah cukup untuk menggugurkan kebaikan-kebaikan walaupun sebesar gunung.
Sahabat Tsauban Radhiyallahu anhu menceritakan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:
عَنْ ثَوْبَانَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ : أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا
Dari Tsauban, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa Beliau bersabda, “Aku benar-benar mengetahui rombongan-rombongan orang dari umatku, mereka akan datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan-kebaikan sebesar gunung Tihamah yang berwarna putih, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikannya sebagai debu yang berhamburan”. Tsauban Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Rasulullah! Terangkan sifat mereka kepada kami! Terangkan keadaan mereka kepada kami, agar kami tidak termasuk golongan mereka padahal kami tidak mengetahui!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya mereka itu adalah saudara-saudara kamu, dan dari kulit kamu, mereka mengisi sebagian malam sebagaimana kamu mengisi, namun mereka adalah rombongan-rombongan orang yang jika menyendiri, mereka melanggar perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah”. (HR. Ibnu Majah, 4245 dishahihkan oleh syaikh al-Albani; syaikh Salim al-Hilali dan lainnya)
Oleh karena itu kewajiban kita untuk bertaqwa kepada Allah dimana saja berada, baik ketika sendirian atau ketika bersama banyak orang.
Begitulah yang diwasiatkan oleh di dalam haditsnya:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Bertaqwalah kepada Allah Azza wa Jalla dimana saja engkau berada; Iringilah keburukan dengan perbuatan baik! Niscaya kebaikan itu akan menghapusnya; Dan bergaulah dengan manusia dengan akhlaq yang baik”. (HR. Ahmad 5/153, 158, 177, 236, At-Tirmidzi, 1987; Ad-Darimi 2/323, Al-Hakim 1/54, At-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 20/145, Mu’jamul Ausath 4/125, Mu’jamus Shaghir 350. Dimuat oleh Imam Nawawi dalam Arba’in 18. Hadits dinilai sebagai hadits yang hasan oleh oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 97)
DOA TERLEPAS DARI KEFAKIRAN DAN HUTANG
اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ،فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وأَغْنِنِي مِنَ الفَقْرِ
*_Ya Allah, Tuhan yang menguasai langit yang tujuh, Tuhan yang menguasai arasy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu._*
*_Tuhan yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Tuhan yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an)._*
*_Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkau-lah yang pertama, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang terakhir, setelah-Mu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang dzahir, tidak ada sesuatu di atas-Mu, Engkau-lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang menghalangi-Mu, lunasilah hutang kami dan berilah kami kekayaan hingga terlepas dari kefakiran._*
(HR. Muslim, Tirmidzi, Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah)
Tidaklah doa ini dibaca dengan hati yang ikhlas melainkan Allah akan melunasi hutangnya dan memberikannya kekayaan hingga ia terlepas dari kefakiran.
Di mana kita selama ini? mana dunia yang katanya mengeluhkan kemiskinan yang mereka alami?
mana yang mengeluh hutangnya tidak bisa dilunasi? yang sudah sedemikian stress, tertekan, depresi dan penyakit jiwa.
Di mana mereka selama ini dari bergantung kepada Allah? dan dari doa agung ini? Mana orang-orang yang mengeluh mencari pembantu rumahnya?
Seandainya doa di atas dibaca oleh seorang ibu sebelum tidur atau dibaca oleh bapak, niscaya itu lebih baik baginya daripada seorang pembantu.
Ibnul Qoyyim rahimahullah mengomentari hadits ini:
وَقَدْ جُرِّبَ فَأَكْسَبَ العَبْدَ قُوَّةً عَلَى الخِدْمَةِ فِي صَباحِهِ وَعَمَلِهِ وخِدْمَةِ بَيْتِهِ
*_Doa ini telah dipraktekkan, memberikan efek kekuatan kepada seseorang untuk membantunya di waktu paginya, pekerjaannya dan urusan rumahnya_*.
اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ،فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وأَغْنِنِي مِنَ الفَقْرِ
*_Ya Allah, Tuhan yang menguasai langit yang tujuh, Tuhan yang menguasai arasy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu._*
*_Tuhan yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Tuhan yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an)._*
*_Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkau-lah yang pertama, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang terakhir, setelah-Mu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang dzahir, tidak ada sesuatu di atas-Mu, Engkau-lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang menghalangi-Mu, lunasilah hutang kami dan berilah kami kekayaan hingga terlepas dari kefakiran._*
(HR. Muslim, Tirmidzi, Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah)
Tidaklah doa ini dibaca dengan hati yang ikhlas melainkan Allah akan melunasi hutangnya dan memberikannya kekayaan hingga ia terlepas dari kefakiran.
Di mana kita selama ini? mana dunia yang katanya mengeluhkan kemiskinan yang mereka alami?
mana yang mengeluh hutangnya tidak bisa dilunasi? yang sudah sedemikian stress, tertekan, depresi dan penyakit jiwa.
Di mana mereka selama ini dari bergantung kepada Allah? dan dari doa agung ini? Mana orang-orang yang mengeluh mencari pembantu rumahnya?
Seandainya doa di atas dibaca oleh seorang ibu sebelum tidur atau dibaca oleh bapak, niscaya itu lebih baik baginya daripada seorang pembantu.
Ibnul Qoyyim rahimahullah mengomentari hadits ini:
وَقَدْ جُرِّبَ فَأَكْسَبَ العَبْدَ قُوَّةً عَلَى الخِدْمَةِ فِي صَباحِهِ وَعَمَلِهِ وخِدْمَةِ بَيْتِهِ
*_Doa ini telah dipraktekkan, memberikan efek kekuatan kepada seseorang untuk membantunya di waktu paginya, pekerjaannya dan urusan rumahnya_*.
PAHALA MENGAJAK KEPADA KEBAIKAN
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata :
فأنت يا عبد الله إن دعوت إلى خير فلك مثل أجور المهتدين على يديك ، وإن دعوت إلى شر فعليك مثل أوزارهم وآثامهم
“Apabila Anda wahai hamba Allah mengajak kepada kebaikan, Anda akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang yang mendapat hidayah dengan perantaraan Anda. Apabila Anda mengajak kepada kejelekan, Anda juga akan mendapatkan (dosa) seperti dosa-dosa mereka.”
Al-Fatawa, 6/522
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata :
فأنت يا عبد الله إن دعوت إلى خير فلك مثل أجور المهتدين على يديك ، وإن دعوت إلى شر فعليك مثل أوزارهم وآثامهم
“Apabila Anda wahai hamba Allah mengajak kepada kebaikan, Anda akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang yang mendapat hidayah dengan perantaraan Anda. Apabila Anda mengajak kepada kejelekan, Anda juga akan mendapatkan (dosa) seperti dosa-dosa mereka.”
Al-Fatawa, 6/522
*Jangan Pernah Meremehkan Dosa*
Dosa itu bisa beranak pinak. Dari melakukan satu dosa, kemudian mengharuskannya untuk melakukan dosa-dosa yang lainnya.
Ingatlah ketika saudara-saudara Nabi Yusuf meminta kepada ayah mereka untuk memohonkan ampun. Atas apa? dosa-dosa mereka.
قَالُوۡا يٰۤاَبَانَا اسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَاۤ اِنَّا كُنَّا خٰـطِــِٕيۡنَ
*_Mereka berkata, "Wahai ayah kami! Mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa)._* (QS. Yusuf:97)
Dalam ayat ini, saudara-saudara Nabi Yusuf sadar, bahwa satu kesalahan mereka melahirkan berbagai kesalahan lain, melahirkan dosa dan kekeliruan.
Di sini ada sebuah motivasi agar tidak meremehkan dosa. Karena dosa yang banyak itu lahir dari satu dosa yang dilakukan seorang hamba. Terkadang sebuah dosa mengharuskan seseorang untuk berdusta. Berdusta ini adalah dosa tambahan. Terkadang ia harus melakukan kejahatan lain agar kejahatan pertama dapat disembunyikan. Dan ini adalah dosa tambahan baginya.
Begitulah satu dosa membuka pintu dosa-dosa yang lain. Syaikh as-sa'di berkata:
يجب على الإنسان أن يحذر من الذنوب يتسلسل شرها
*_Wajib bagi setiap orang untuk berhati-hati dari dosa yang beranak-pinak_*.
Dan seorang ahli ilmu mengatakan, ternyata dosa yang paling subur, melahirkan banyak dosa demi dosa adalah pembunuhan.
Pembunuhan merupakan kejahatan terbesar kepada Allah setelah kesyirikan. Membunuh terkadang karena masalah pribadi, ingin balas dendam, atau ingin melampiaskan kemarahannya.
Ketika sudah membunuh, mulailah dosa-dosa yang lain terlahir. Sehingga dosa yang dapat beranak pinak, wajib untuk diwaspadai. Jangan sampai telapak kaki ini masuk dalam kubangannya. Karena apabila kaki sudah menapak di sana, pastilah ia akan terpeleset.
Pasti terpeleset kakinya. Akhirnya ia masuk dalam kubangan lumpur dosa dan kemaksiatan lainnya. Wal'iyaadzubillah.
*Sekolah Konselor Keluarga*
Dosa itu bisa beranak pinak. Dari melakukan satu dosa, kemudian mengharuskannya untuk melakukan dosa-dosa yang lainnya.
Ingatlah ketika saudara-saudara Nabi Yusuf meminta kepada ayah mereka untuk memohonkan ampun. Atas apa? dosa-dosa mereka.
قَالُوۡا يٰۤاَبَانَا اسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَاۤ اِنَّا كُنَّا خٰـطِــِٕيۡنَ
*_Mereka berkata, "Wahai ayah kami! Mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa)._* (QS. Yusuf:97)
Dalam ayat ini, saudara-saudara Nabi Yusuf sadar, bahwa satu kesalahan mereka melahirkan berbagai kesalahan lain, melahirkan dosa dan kekeliruan.
Di sini ada sebuah motivasi agar tidak meremehkan dosa. Karena dosa yang banyak itu lahir dari satu dosa yang dilakukan seorang hamba. Terkadang sebuah dosa mengharuskan seseorang untuk berdusta. Berdusta ini adalah dosa tambahan. Terkadang ia harus melakukan kejahatan lain agar kejahatan pertama dapat disembunyikan. Dan ini adalah dosa tambahan baginya.
Begitulah satu dosa membuka pintu dosa-dosa yang lain. Syaikh as-sa'di berkata:
يجب على الإنسان أن يحذر من الذنوب يتسلسل شرها
*_Wajib bagi setiap orang untuk berhati-hati dari dosa yang beranak-pinak_*.
Dan seorang ahli ilmu mengatakan, ternyata dosa yang paling subur, melahirkan banyak dosa demi dosa adalah pembunuhan.
Pembunuhan merupakan kejahatan terbesar kepada Allah setelah kesyirikan. Membunuh terkadang karena masalah pribadi, ingin balas dendam, atau ingin melampiaskan kemarahannya.
Ketika sudah membunuh, mulailah dosa-dosa yang lain terlahir. Sehingga dosa yang dapat beranak pinak, wajib untuk diwaspadai. Jangan sampai telapak kaki ini masuk dalam kubangannya. Karena apabila kaki sudah menapak di sana, pastilah ia akan terpeleset.
Pasti terpeleset kakinya. Akhirnya ia masuk dalam kubangan lumpur dosa dan kemaksiatan lainnya. Wal'iyaadzubillah.
*Sekolah Konselor Keluarga*
*ADAB BERSELISIH ANTARA SUAMI DAN ISTRI*
Dalam sebuah perselisihan atau perseteruan antara suami dan istri, terkadang berakhir dengan marahnya suami akibat perkataan istri yang menyinggung atau menyakitkan. Bagaimanakah Islam mendudukkan permasalahan ini? berdosakah istri karena membuat suaminya marah?
*Jawaban*
إذا كان إغضابها له بغير حق تأثم ولا يجوز لها أن تنازع ولا أن تؤذيه بالكلام, أما إذا كان بحق بأن أنكرت عليه منكر يتساهل في الصلاة فأنكرت عليه, يشرب المسكر فأنكرت عليه وناصحته فغضب فهي مأجورة غير مأزورة بل مشكورة, , وعليها الكلام الطيب, والسمع والطاعة في المعروف, لكن إذا كان هو يتعاطى المعاصي فأنكرت عليه, ونصحته, ووجهته إلى الخير, فالواجب عليه أن يقبل منها وأن يشكرها وأن لا يغضب؛ لأنها محسنة, ومأجورة, وناصحة فجزاؤها أن يزداد حبها, وأن يشكرها على ذلك. بارك الله فيكم
Apabila si istri tadi membuat marah suaminya tanpa alasan yang dibenarkan, maka ia berdosa. Tidak boleh baginya untuk menentang dan menyakiti suaminya walau dengan ucapannya.
Adapun apabila perselisihan tersebut karena ada alasan Yang benar, seperti mengingkari kemaksiatan yang ada pada suaminya, suaminya bermudah mudahan dalam masalah sholat kemudian ia mengingkarinya. Suaminya minum khomr kemudian dia mengingkari dan menasehatinya, lalu suaminya marah maka ia mendapatkan pahala dan tidak berdosa.
Namun wajib bagi sang istri untuk bertutur kata yang baik, mendengar dan taat pada perkara yang ma’ruf.
Apabila seorang suami melakukan maksiat kemudian istrinya mengingkari, menasihati dan mengarahkannya kepada yang baik, maka wajib bagi suami untuk menerimanya bahkan berterima kasih kepadanya.
Karena sejatinya sang istri sedang berbuat baik kepadanya, ia akan mendapatkan pahala karena ia menginginkan kebaikan untuk suaminya.
Maka balasan yang pantas untuk istrinya adalah hendaknya bertambah rasa cinta sang suami dan sepantasnya ia berterima kasih kepadanya. *_Barokallahu fiikum._*
(Dijawab oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah)
Dalam sebuah perselisihan atau perseteruan antara suami dan istri, terkadang berakhir dengan marahnya suami akibat perkataan istri yang menyinggung atau menyakitkan. Bagaimanakah Islam mendudukkan permasalahan ini? berdosakah istri karena membuat suaminya marah?
*Jawaban*
إذا كان إغضابها له بغير حق تأثم ولا يجوز لها أن تنازع ولا أن تؤذيه بالكلام, أما إذا كان بحق بأن أنكرت عليه منكر يتساهل في الصلاة فأنكرت عليه, يشرب المسكر فأنكرت عليه وناصحته فغضب فهي مأجورة غير مأزورة بل مشكورة, , وعليها الكلام الطيب, والسمع والطاعة في المعروف, لكن إذا كان هو يتعاطى المعاصي فأنكرت عليه, ونصحته, ووجهته إلى الخير, فالواجب عليه أن يقبل منها وأن يشكرها وأن لا يغضب؛ لأنها محسنة, ومأجورة, وناصحة فجزاؤها أن يزداد حبها, وأن يشكرها على ذلك. بارك الله فيكم
Apabila si istri tadi membuat marah suaminya tanpa alasan yang dibenarkan, maka ia berdosa. Tidak boleh baginya untuk menentang dan menyakiti suaminya walau dengan ucapannya.
Adapun apabila perselisihan tersebut karena ada alasan Yang benar, seperti mengingkari kemaksiatan yang ada pada suaminya, suaminya bermudah mudahan dalam masalah sholat kemudian ia mengingkarinya. Suaminya minum khomr kemudian dia mengingkari dan menasehatinya, lalu suaminya marah maka ia mendapatkan pahala dan tidak berdosa.
Namun wajib bagi sang istri untuk bertutur kata yang baik, mendengar dan taat pada perkara yang ma’ruf.
Apabila seorang suami melakukan maksiat kemudian istrinya mengingkari, menasihati dan mengarahkannya kepada yang baik, maka wajib bagi suami untuk menerimanya bahkan berterima kasih kepadanya.
Karena sejatinya sang istri sedang berbuat baik kepadanya, ia akan mendapatkan pahala karena ia menginginkan kebaikan untuk suaminya.
Maka balasan yang pantas untuk istrinya adalah hendaknya bertambah rasa cinta sang suami dan sepantasnya ia berterima kasih kepadanya. *_Barokallahu fiikum._*
(Dijawab oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah)
*MERAIH CINTA ALLAH : BERTAQARRUB KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA DENGAN AMALAN SUNNAH SETELAH YANG WAJIB*
Menunaikan yang wajib adalah taqarrub kepada Allâh Azza wa Jalla yang paling utama. Bila hamba menunaikannya dengan sempurna, ia akan mendapatkan keberuntungan, pun akan menggapai surga dan selamat dari neraka. Pernah seorang dari Najd datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam dan bertanya tentang (amalan wajib dalam) Islam. Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Lima shalat yang wajib sehari semalam.” Ia berkata, “Apa ada kewajiban (shalat) atasku yang lain?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Tidak, kecuali bila engkau melakukannya dengan suka rela (tathawwu’).” Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam juga menyebutkan tentang kewajiban puasa, juga zakat, dan orang tersebut pun bertanya; apakah ada kewajiban atasku yang lain; Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab: “Tidak, kecuali bila engkau melakukannya suka rela.” Maka orang tersebut pun pergi dengan mengatakan: “Demi Allâh, aku tidak akan menambah ataupun menguranginya.”
Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam pun bersabda: “Ia akan mendapatkan keberuntungan bila jujur.”[1]
Namun orang yang melakukan amalan-amalan tathawwu’ (sunnah) akan lebih banyak mendapatkan keberuntungan dan lebih tinggi derajatnya dari yang sekedar menunaikan yang wajib semata. Apalagi seseorang tak lepas dari kekurangan dan kealpaan saat melaksanakan amalan wajibnya.
Orang yang menunaikan hal-hal yang wajib dengan sempurna berarti ia mencintai Allâh Azza wa Jalla . Sedangkan orang yang masih menambahnya dengan amalan-amalan sunnah, ia dicintai Allâh Azza wa Jalla. Ini seperti dalam hadits qudsi:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.”[2]
Jadi, orang yang bertaqarrub dengan yang sunnah setelah yang wajib mempunyai keistimewaan lebih tinggi dari yang sekedar menunaikan yang wajib. Karena tuntutan asal atas hamba adalah melaksanakan yang wajib, di mana ia akan berdosa bila teledor atau meninggalkannya. Sehingga maksud dari bertaqarrub dengan yang sunnah adalah ketika yang wajib sudah ditunaikan, bukan orang yang melalaikannya.
Secara umum ada dua kategori dari mereka yang selamat yaitu: Pertama: Mereka yang mencintai Allâh Azza wa Jalla , yaitu yang menunaikan yang wajib, berhenti pada batasan-batasan-Nya.
Kedua: Mereka yang dicintai Allâh, yaitu mereka yang melakukan yang sunnah disamping yang wajib. Dan inilah yang dimaksud Ibnul Qayyim t dengan ucapannya: [Hal ini akan menghantarkan hamba menuju tingkatan memperoleh cinta-Nya (mahbûbiyyah) setelah menggenggam tingkatan mencintai-Nya (mahabbah)].
Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menyatakan, bahwa para wali Allâh Azza wa Jalla yang dekat dengan-Nya ada dua golongan:
Menunaikan yang wajib adalah taqarrub kepada Allâh Azza wa Jalla yang paling utama. Bila hamba menunaikannya dengan sempurna, ia akan mendapatkan keberuntungan, pun akan menggapai surga dan selamat dari neraka. Pernah seorang dari Najd datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam dan bertanya tentang (amalan wajib dalam) Islam. Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Lima shalat yang wajib sehari semalam.” Ia berkata, “Apa ada kewajiban (shalat) atasku yang lain?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Tidak, kecuali bila engkau melakukannya dengan suka rela (tathawwu’).” Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam juga menyebutkan tentang kewajiban puasa, juga zakat, dan orang tersebut pun bertanya; apakah ada kewajiban atasku yang lain; Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab: “Tidak, kecuali bila engkau melakukannya suka rela.” Maka orang tersebut pun pergi dengan mengatakan: “Demi Allâh, aku tidak akan menambah ataupun menguranginya.”
Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam pun bersabda: “Ia akan mendapatkan keberuntungan bila jujur.”[1]
Namun orang yang melakukan amalan-amalan tathawwu’ (sunnah) akan lebih banyak mendapatkan keberuntungan dan lebih tinggi derajatnya dari yang sekedar menunaikan yang wajib semata. Apalagi seseorang tak lepas dari kekurangan dan kealpaan saat melaksanakan amalan wajibnya.
Orang yang menunaikan hal-hal yang wajib dengan sempurna berarti ia mencintai Allâh Azza wa Jalla . Sedangkan orang yang masih menambahnya dengan amalan-amalan sunnah, ia dicintai Allâh Azza wa Jalla. Ini seperti dalam hadits qudsi:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.”[2]
Jadi, orang yang bertaqarrub dengan yang sunnah setelah yang wajib mempunyai keistimewaan lebih tinggi dari yang sekedar menunaikan yang wajib. Karena tuntutan asal atas hamba adalah melaksanakan yang wajib, di mana ia akan berdosa bila teledor atau meninggalkannya. Sehingga maksud dari bertaqarrub dengan yang sunnah adalah ketika yang wajib sudah ditunaikan, bukan orang yang melalaikannya.
Secara umum ada dua kategori dari mereka yang selamat yaitu: Pertama: Mereka yang mencintai Allâh Azza wa Jalla , yaitu yang menunaikan yang wajib, berhenti pada batasan-batasan-Nya.
Kedua: Mereka yang dicintai Allâh, yaitu mereka yang melakukan yang sunnah disamping yang wajib. Dan inilah yang dimaksud Ibnul Qayyim t dengan ucapannya: [Hal ini akan menghantarkan hamba menuju tingkatan memperoleh cinta-Nya (mahbûbiyyah) setelah menggenggam tingkatan mencintai-Nya (mahabbah)].
Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menyatakan, bahwa para wali Allâh Azza wa Jalla yang dekat dengan-Nya ada dua golongan: