ALLAH MENOLONG Hamba-NYA SESUAI KADAR HAMBA MENOLONG SAUDARANYA
Memperhatikan urusan orang lain, memikirkan umat Islam secara umum adalah salah satu hal penting terbukanya pertolongan Allah untuk kita.
Dalam berbagai nasihatnya, Rasulullah banyak mengatakan pentingnya orang lain bagi dirinya. Seperti, menghormati tamu, memulyakan tetangga, meringankan urusan saudaranya, dan lain sebagainya.
Terkhusus dalam tulisan ini adalah tentang pentingnya menolong orang lain, karena itu menjadi sebab Allah menolong kita. Besarnya pertolongan Allah, juga melihat seberapa besar kadar pertolongan kita kepada orang lain itu. sebagai hadits di bawah ini dan penjelasannya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Pertolongan Allah akan senantiasa menyertai seorang hamba, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, memberikan penjelasannya:
“Sungguh, Allah pasti menolong hamba-Nya sesuai dengan kadar pertolongan hamba tersebut kepada saudaranya.” (Lihat at-Ta’liqat al-Arba’in an-Nawawiyyah hlm. 119)
Jadi, setelah mengetahui ini, maka tak ada alasan kita masih mengangkat ego, hanya untuk kepentingan diri sendiri, hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, karena itu sama artinya menutup diri dari pertolongan Allah.
Mari kita bantu sekuat dan semampu yang kita miliki, ringankan urusan saudara muslimmu, bantu pekerjaannya, penuhi kebutuhannya, semoga dengan itu semua dan niat Lillah, karena Allah, maka pertolongan Allah akan turun untukmu dan juga untuk keluargamu, aamiin.
Memperhatikan urusan orang lain, memikirkan umat Islam secara umum adalah salah satu hal penting terbukanya pertolongan Allah untuk kita.
Dalam berbagai nasihatnya, Rasulullah banyak mengatakan pentingnya orang lain bagi dirinya. Seperti, menghormati tamu, memulyakan tetangga, meringankan urusan saudaranya, dan lain sebagainya.
Terkhusus dalam tulisan ini adalah tentang pentingnya menolong orang lain, karena itu menjadi sebab Allah menolong kita. Besarnya pertolongan Allah, juga melihat seberapa besar kadar pertolongan kita kepada orang lain itu. sebagai hadits di bawah ini dan penjelasannya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Pertolongan Allah akan senantiasa menyertai seorang hamba, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, memberikan penjelasannya:
“Sungguh, Allah pasti menolong hamba-Nya sesuai dengan kadar pertolongan hamba tersebut kepada saudaranya.” (Lihat at-Ta’liqat al-Arba’in an-Nawawiyyah hlm. 119)
Jadi, setelah mengetahui ini, maka tak ada alasan kita masih mengangkat ego, hanya untuk kepentingan diri sendiri, hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, karena itu sama artinya menutup diri dari pertolongan Allah.
Mari kita bantu sekuat dan semampu yang kita miliki, ringankan urusan saudara muslimmu, bantu pekerjaannya, penuhi kebutuhannya, semoga dengan itu semua dan niat Lillah, karena Allah, maka pertolongan Allah akan turun untukmu dan juga untuk keluargamu, aamiin.
INTERAKSI SEORANG MUSLIM BERSAMA ALQURAN
🟢 Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata :
تكفل الله لمن قرأ القرآن وعمل بما فيه أن لا يضل في الدنيا ولا يشقى في الآخرة
“Allah memberikan jaminan kepada hamba yang membaca Al-Quran dan mengamalkannya, untuk tidak sesat di dunia dan tidak celaka di akhirat.”
Miftah Daar as-Sa’adah 1/58
🟢 Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، قَالَ: فَيُشَفَّعَانِ
“Puasa dan Al-Qur’an keduanya akan memberikan syafaatnya kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata : ‘Wahai Rabbku, aku telah mencegahnya dari makanan, minum dan syahwat pada siang hari, maka berilah kewenangan kepadaku untuk memberikan syafa’at kepadanya.’ Dan Al-Qur’an berkata : ‘Wahai Rabbku, Aku telah menahannya dari tidur pada malam hari, maka berilah kewenangan kepadaku untuk memberikan syafaat kepadanya.’ Maka puasa dan Al-Qur’an itu diberi izin untuk mensyafa’ati hamba tersebut.”
(HR. Ahmad no. 6626 di shahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 3882)
🟢 Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata :
تكفل الله لمن قرأ القرآن وعمل بما فيه أن لا يضل في الدنيا ولا يشقى في الآخرة
“Allah memberikan jaminan kepada hamba yang membaca Al-Quran dan mengamalkannya, untuk tidak sesat di dunia dan tidak celaka di akhirat.”
Miftah Daar as-Sa’adah 1/58
🟢 Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، قَالَ: فَيُشَفَّعَانِ
“Puasa dan Al-Qur’an keduanya akan memberikan syafaatnya kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata : ‘Wahai Rabbku, aku telah mencegahnya dari makanan, minum dan syahwat pada siang hari, maka berilah kewenangan kepadaku untuk memberikan syafa’at kepadanya.’ Dan Al-Qur’an berkata : ‘Wahai Rabbku, Aku telah menahannya dari tidur pada malam hari, maka berilah kewenangan kepadaku untuk memberikan syafaat kepadanya.’ Maka puasa dan Al-Qur’an itu diberi izin untuk mensyafa’ati hamba tersebut.”
(HR. Ahmad no. 6626 di shahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 3882)
*HIDAYAH MEMANG MILIK ALLAH*
Subhaanallah, salah satu tanda kekuasaan Allah adalah dalam memberi hidayah orang yang dikehendaki dan membiarkan sesat orang yang dikehendaki.
Sebuah kisah sejarah yang patut dikenang, menjelang detik-detik kematian Abu Thalib, paman sekaligus pembela dakwah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Ada 3 orang menjenguk Abu Thalib, yaitu Abdullah bin Abu Umayyah, Abu Jahl dan al-Musayyib,mereka semuanya adalah kafir Quraisy.
Tapi lihatlah bagaimana Allah memberikan hidayah kepada Abdullah bin Abu Umayyah, padahal dahulu saat ia menjenguk Abu Thalib, setiap kali Nabi berkata kepada Abu Thalib,"Ucapkanlah *Laa Ilaaha Illallah*, beliaulah yang membantah Nabi. Hingga akhirnya Abu Thalib meninggal di atas agama nenek moyangnya.
Namun ALlah berkehendak lain. Abdullah bin Abu Umayyah mendapatkan hidayah Islam beserta al_Musayyib. Sedangkan Abu Jahl, yang Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebut sebagai Fir'aunnya umat ini, tetap mati di atas kekafiran.
Ini termasuk keajaiban dalam hidayah. Seorang laki-laki yang selalu membantah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, agar Abu Thalib meninggal di atas agama nenek moyangnya, Allah Rabb semesta alam menghendaki dirinya untuk mendapatkan hidayah Islam. Itulah Abdullah bin Abu Umayyah.
Hidayah itu memang milik ALlah dan ada di tangan ALlah subhanahu wa ta'alaa. Nabi pun tak mampu membantu pamannya untuk mendapatkan hidayah ALlah, sebagaimana firmanNya:
اِنَّكَ لَا تَهۡدِىۡ مَنۡ اَحۡبَبۡتَ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهۡدِىۡ مَنۡ يَّشَآءُؕ وَهُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُهۡتَدِيۡنَ
*_Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk._* (QS.al-Qasas:56)
Allahpun mempertegas sisi kemanusiaan NabiNya, bahwa kewajiban Nabi hanyalah menyampaikan risalah Allah, sedangkan hidayah adalah urusan ALlah:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
*_Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya._* (QS. Al-Baqarah: 272)
*_Fityatun Community_*
Subhaanallah, salah satu tanda kekuasaan Allah adalah dalam memberi hidayah orang yang dikehendaki dan membiarkan sesat orang yang dikehendaki.
Sebuah kisah sejarah yang patut dikenang, menjelang detik-detik kematian Abu Thalib, paman sekaligus pembela dakwah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Ada 3 orang menjenguk Abu Thalib, yaitu Abdullah bin Abu Umayyah, Abu Jahl dan al-Musayyib,mereka semuanya adalah kafir Quraisy.
Tapi lihatlah bagaimana Allah memberikan hidayah kepada Abdullah bin Abu Umayyah, padahal dahulu saat ia menjenguk Abu Thalib, setiap kali Nabi berkata kepada Abu Thalib,"Ucapkanlah *Laa Ilaaha Illallah*, beliaulah yang membantah Nabi. Hingga akhirnya Abu Thalib meninggal di atas agama nenek moyangnya.
Namun ALlah berkehendak lain. Abdullah bin Abu Umayyah mendapatkan hidayah Islam beserta al_Musayyib. Sedangkan Abu Jahl, yang Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebut sebagai Fir'aunnya umat ini, tetap mati di atas kekafiran.
Ini termasuk keajaiban dalam hidayah. Seorang laki-laki yang selalu membantah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, agar Abu Thalib meninggal di atas agama nenek moyangnya, Allah Rabb semesta alam menghendaki dirinya untuk mendapatkan hidayah Islam. Itulah Abdullah bin Abu Umayyah.
Hidayah itu memang milik ALlah dan ada di tangan ALlah subhanahu wa ta'alaa. Nabi pun tak mampu membantu pamannya untuk mendapatkan hidayah ALlah, sebagaimana firmanNya:
اِنَّكَ لَا تَهۡدِىۡ مَنۡ اَحۡبَبۡتَ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهۡدِىۡ مَنۡ يَّشَآءُؕ وَهُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُهۡتَدِيۡنَ
*_Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk._* (QS.al-Qasas:56)
Allahpun mempertegas sisi kemanusiaan NabiNya, bahwa kewajiban Nabi hanyalah menyampaikan risalah Allah, sedangkan hidayah adalah urusan ALlah:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
*_Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya._* (QS. Al-Baqarah: 272)
*_Fityatun Community_*
PENGHALANG DOA
Dalil bahwa do’a dengan hati yang lalai sebab do’a sulit terkabul,
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai." (HR. Tirmidzi no. 3479, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Dalil pengaruh makanan yang haram terhadap do’a,
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?“ (HR. Muslim no. 1015)
Dalil bahwa do’a dengan hati yang lalai sebab do’a sulit terkabul,
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai." (HR. Tirmidzi no. 3479, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Dalil pengaruh makanan yang haram terhadap do’a,
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?“ (HR. Muslim no. 1015)
*DOAN MOHON AMPUNAN ALLAH LENGKAP*
اللهم اغْفِرْلِي خَطَئي وجَهْلِي وإِسْرَافِي فِي أَمْرِي ومَا أَنْت أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي
اللهم اغْفِرْلِي جِدِّي وهَزْلِي وَخَطَئي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي
اللهم اغْفِرْلِي مَاقَدَّمْتُ ومَا أخَّرْتُ ومَا أسْرَرْتُ ومَاأَعْلَنْتُ ومَا أَنْت أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي
أَنْتَ المُقَدِّمُ وأَنْتَ المُؤَخّرُ وأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
(HR. Bukhari Muslim)
اللهم اغْفِرْلِي خَطَئي وجَهْلِي وإِسْرَافِي فِي أَمْرِي ومَا أَنْت أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي
اللهم اغْفِرْلِي جِدِّي وهَزْلِي وَخَطَئي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي
اللهم اغْفِرْلِي مَاقَدَّمْتُ ومَا أخَّرْتُ ومَا أسْرَرْتُ ومَاأَعْلَنْتُ ومَا أَنْت أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي
أَنْتَ المُقَدِّمُ وأَنْتَ المُؤَخّرُ وأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
(HR. Bukhari Muslim)
*ALLAH MAHA PENGAMPUN, SEGERALAH BERTAUBAT*
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.
“Dan orang-orang yang, apabila berbuat keji atau menganiaya diri sendiri, mengingat Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa, kecuali Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” [Ali ‘Imran: 135]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا.
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, (tetapi) kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An-Nisa`: 110]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.
“Dan orang-orang yang, apabila berbuat keji atau menganiaya diri sendiri, mengingat Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa, kecuali Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” [Ali ‘Imran: 135]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا.
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, (tetapi) kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An-Nisa`: 110]
*HARTA HALAL HARTA HARAM*
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
والقليل من الحلال يبارك فيه، والحرام الكثير يذهب ويمحقه الله تعالى.
“Sedikit dari harta yang halal akan diberkahi, sedangkan yang haram walaupun banyak akan lenyap dan akan dihilangkan barakahnya oleh Allah Ta’ala.”
Majmu’ul Fatawa, jilid 28 hlm. 646
🟢 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang sedekah :
لاَ يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ إِلاَّ أَخَذَهَا اللهُ بِيَمِيْنِهِ فَيُرَبِّيْهَا كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ قَلُوْصَهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ أَوْ أَعْظَمَ
“Tidak ada seseorang yang bersedekah walau dengan sebiji kurma yang diperolehnya dari penghasilan yang halal, kecuali Allah mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Dia mengembangkannya sebagaimana salah seorang dari kalian merawat anak untanya hingga menjadi sebesar gunung atau lebih besar lagi.” (HR. Muslim no. 2340)
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
والقليل من الحلال يبارك فيه، والحرام الكثير يذهب ويمحقه الله تعالى.
“Sedikit dari harta yang halal akan diberkahi, sedangkan yang haram walaupun banyak akan lenyap dan akan dihilangkan barakahnya oleh Allah Ta’ala.”
Majmu’ul Fatawa, jilid 28 hlm. 646
🟢 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang sedekah :
لاَ يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ إِلاَّ أَخَذَهَا اللهُ بِيَمِيْنِهِ فَيُرَبِّيْهَا كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ قَلُوْصَهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ أَوْ أَعْظَمَ
“Tidak ada seseorang yang bersedekah walau dengan sebiji kurma yang diperolehnya dari penghasilan yang halal, kecuali Allah mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Dia mengembangkannya sebagaimana salah seorang dari kalian merawat anak untanya hingga menjadi sebesar gunung atau lebih besar lagi.” (HR. Muslim no. 2340)
BERDOALAH WAHAI MUSLIM
Imam Syafi’i rahimahullah berkata :
أَتَهْزَأُ بِالدُّعَاءِ وَتَزْدَرِيه؟ وَمَا تَدْرِي بِمَا صَنَعَ الدُّعَاءُ ,سِهَامُ اللَّيلِ لا تُخْطِي . وَلَكِنْ لَهَا أَمَدٌ وَلِلْأَمَدِ انْقِضَاءُ
“Apakah engkau mengejek dan meremehkan doa? Engkau tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh doa, (Doa ibarat) anak panah yang dilepaskan di malam hari, tidak akan meleset. Akan tetapi anak panah tersebut ada waktunya (yang dibutuhkan) untuk mengenai (sasaran), dan setiap waktu pasti ada akhirnya.” (Diwan Imam Syafi’i)
Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
”Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Qs. Al-Mu’min 60)
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu.” (Qs. Al-Baqarah 186).
Wahai saudaraku, ketahuilah bahwasanya jika dalam hajadmu engkau berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan YAKIN dan HUSNUDZON bahwa doa tersebut akan dikabulkan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan kabulkan doamu..
Dan ketahuilah, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengabulkan doa dari orang yang hatinya lalai, yaitu orang yang berdoa tetapi tidak yakin akan dikabulkan doanya..
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin bahwa doa tersebut akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai (yang tidak yakin bahwa doanya akan dikabulkan).” (HR. Tirmidzi 3479)
Semoga kita termasuk orang-orang yang yakin dan husnudzon tatkala berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta khusyuk didalamnya..
اللهم يَارَبَّنَا يامَنْ يُجِيبُ المُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ ويَكْشِفُ السُّوءَ
نَسْأَلُكَ أَنْ تَكْشِفَ عَنَّاوعَنِ المُسْلِمِيْنَ مِنَ الشِّدَّةِ والبَلَاءِ مَالَايَكْشِفُهُ غَيْرُكَ
إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ وَ أَنْتَ أَهْلُ الرَّجَاءِ وَ أَنْتَ حَسْبُنَا وَ نِعْمَ الوَكِيْلِ
Ya Allah, wahai Rabb kami, wahai Dzat yang mengabulkan permintaan orang yang dalam kesulitan ketika ia berdoa kepadaMu
Kami memohon dan meminta agar Engkau hilangkan kesusahan dan wabah ini dari kami begitu juga dari kaum muslimin, karena tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Engkau saja.
Engkau Maha Mendengar doa, Engkau tempat berharap, Engkaulah yang mencukupi kami dan Engkaulah sebaik-baik pelindung.
Imam Syafi’i rahimahullah berkata :
أَتَهْزَأُ بِالدُّعَاءِ وَتَزْدَرِيه؟ وَمَا تَدْرِي بِمَا صَنَعَ الدُّعَاءُ ,سِهَامُ اللَّيلِ لا تُخْطِي . وَلَكِنْ لَهَا أَمَدٌ وَلِلْأَمَدِ انْقِضَاءُ
“Apakah engkau mengejek dan meremehkan doa? Engkau tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh doa, (Doa ibarat) anak panah yang dilepaskan di malam hari, tidak akan meleset. Akan tetapi anak panah tersebut ada waktunya (yang dibutuhkan) untuk mengenai (sasaran), dan setiap waktu pasti ada akhirnya.” (Diwan Imam Syafi’i)
Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
”Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Qs. Al-Mu’min 60)
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu.” (Qs. Al-Baqarah 186).
Wahai saudaraku, ketahuilah bahwasanya jika dalam hajadmu engkau berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan YAKIN dan HUSNUDZON bahwa doa tersebut akan dikabulkan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan kabulkan doamu..
Dan ketahuilah, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengabulkan doa dari orang yang hatinya lalai, yaitu orang yang berdoa tetapi tidak yakin akan dikabulkan doanya..
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin bahwa doa tersebut akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai (yang tidak yakin bahwa doanya akan dikabulkan).” (HR. Tirmidzi 3479)
Semoga kita termasuk orang-orang yang yakin dan husnudzon tatkala berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta khusyuk didalamnya..
اللهم يَارَبَّنَا يامَنْ يُجِيبُ المُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ ويَكْشِفُ السُّوءَ
نَسْأَلُكَ أَنْ تَكْشِفَ عَنَّاوعَنِ المُسْلِمِيْنَ مِنَ الشِّدَّةِ والبَلَاءِ مَالَايَكْشِفُهُ غَيْرُكَ
إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ وَ أَنْتَ أَهْلُ الرَّجَاءِ وَ أَنْتَ حَسْبُنَا وَ نِعْمَ الوَكِيْلِ
Ya Allah, wahai Rabb kami, wahai Dzat yang mengabulkan permintaan orang yang dalam kesulitan ketika ia berdoa kepadaMu
Kami memohon dan meminta agar Engkau hilangkan kesusahan dan wabah ini dari kami begitu juga dari kaum muslimin, karena tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Engkau saja.
Engkau Maha Mendengar doa, Engkau tempat berharap, Engkaulah yang mencukupi kami dan Engkaulah sebaik-baik pelindung.
*Buku Biografi 60 Ulama Ahlussunnah*
*Resensi*
Membaca mengenai biografi ulama-ulama besar Ahlus Sunnah merupakan sumber inspirasi yang paling penting agar menjadi pribadi lebih baik, kuat, unggul, mengobarkan semangat, menumbuhkan harapan dan terus berkarya.
Buku ini, akan membahas secara rinci mengenai “biografi 60 ahlussunnah” orang yang paling fenomenal dan paling otoritatif dalam Sejarah Islam.
Mereka adalah teladan dalam Iman dan Islam serta merupakan figur sejati dalam ilmu dan ibadah. Mereka telah menorehkan nama besar mereka dalam sejarah dengan tinta emas, dan kita tinggal mengambil hal-hal baik dari catatan hidup dan pengabdian mereka.
Harga Buku:
Rp. 165.000
Penerbit: Pustaka Darul Haq
Penulis: Ahmad Farid
Sangat layak dimiliki umat Islam, untuk warisan anak cucu. Segera pesan ke:
wa.me/62895386894755
*Resensi*
Membaca mengenai biografi ulama-ulama besar Ahlus Sunnah merupakan sumber inspirasi yang paling penting agar menjadi pribadi lebih baik, kuat, unggul, mengobarkan semangat, menumbuhkan harapan dan terus berkarya.
Buku ini, akan membahas secara rinci mengenai “biografi 60 ahlussunnah” orang yang paling fenomenal dan paling otoritatif dalam Sejarah Islam.
Mereka adalah teladan dalam Iman dan Islam serta merupakan figur sejati dalam ilmu dan ibadah. Mereka telah menorehkan nama besar mereka dalam sejarah dengan tinta emas, dan kita tinggal mengambil hal-hal baik dari catatan hidup dan pengabdian mereka.
Harga Buku:
Rp. 165.000
Penerbit: Pustaka Darul Haq
Penulis: Ahmad Farid
Sangat layak dimiliki umat Islam, untuk warisan anak cucu. Segera pesan ke:
wa.me/62895386894755
WhatsApp.com
Share on WhatsApp
WhatsApp Messenger: More than 2 billion people
in over 180 countries use WhatsApp to stay in touch with friends and
family, whenever and wherever. WhatsApp is free and offers simple, secure,
reliable messaging and calling, available…
in over 180 countries use WhatsApp to stay in touch with friends and
family, whenever and wherever. WhatsApp is free and offers simple, secure,
reliable messaging and calling, available…
*ISTRI DIZALIMI SUAMI*
Ada pertanyaan, apakah boleh istri mendoakan keburukan untuk suami yang zalim padanya?
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan memberikan taushiahnya.
Hendaknya sang *istri sabar*, mintalah haknya kepada suami dan ingatkan ia tentang kewajibannya. Ingatkan bahwa Allah berfirman:
ۚ وَعَاشِرُوۡهُنَّ بِالۡمَعۡرُوۡفِ
*_Bergaullah dengan para istri secara ma'ruf_*(QS. an-Nisa:19)
Suami wajib memperlakukan istrinya dengan baik. Ia wajib memberikan hak istri yang telah Allah tetapkan, seperti *nafqah*, *pakaian* dan *tempat tinggal*, ia tinggal bersama istrinya* dan *tidak boleh menzalimi istrinya*.
Jika istri melihat suami melakukan kezaliman, hendaknya ia nasihati dan meminta haknya, yang telah disebutkan di atas. Tentunya juga dengan memperhatikan hak suami, apakah juga telah istri tunaikan.
Salah satu hak suami, seperti disebutkan oleh istrinya Said Bin Al Musayyab :
ما كان نعلم أزواجنا إلا كما تعلموا أمراءكم؛ أصلحك الله، عافاك الله
*_Tidaklah kami para istri berbicara kepada suami, melainkan layaknya kalian berbicara kepada pemimpin-pemimpin kalian. Semoga Allah memperbaiki kalian dan memaafkan kalian_*.
(Al-Hilyah 5/198)
Ada pertanyaan, apakah boleh istri mendoakan keburukan untuk suami yang zalim padanya?
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan memberikan taushiahnya.
Hendaknya sang *istri sabar*, mintalah haknya kepada suami dan ingatkan ia tentang kewajibannya. Ingatkan bahwa Allah berfirman:
ۚ وَعَاشِرُوۡهُنَّ بِالۡمَعۡرُوۡفِ
*_Bergaullah dengan para istri secara ma'ruf_*(QS. an-Nisa:19)
Suami wajib memperlakukan istrinya dengan baik. Ia wajib memberikan hak istri yang telah Allah tetapkan, seperti *nafqah*, *pakaian* dan *tempat tinggal*, ia tinggal bersama istrinya* dan *tidak boleh menzalimi istrinya*.
Jika istri melihat suami melakukan kezaliman, hendaknya ia nasihati dan meminta haknya, yang telah disebutkan di atas. Tentunya juga dengan memperhatikan hak suami, apakah juga telah istri tunaikan.
Salah satu hak suami, seperti disebutkan oleh istrinya Said Bin Al Musayyab :
ما كان نعلم أزواجنا إلا كما تعلموا أمراءكم؛ أصلحك الله، عافاك الله
*_Tidaklah kami para istri berbicara kepada suami, melainkan layaknya kalian berbicara kepada pemimpin-pemimpin kalian. Semoga Allah memperbaiki kalian dan memaafkan kalian_*.
(Al-Hilyah 5/198)
*JATUH CINTA SEBELUM MENIKAH*
Rasa cinta sebelum menikah, tersebar luas bahwasanya tidak boleh, maka sebagian dari kita menyangka bahwa hal tersebut tidak benar.
Rasa cinta terbagi menjadi 2:
1) Hubb afif
2) Hubb goyru afif
Cinta yang suci adalah cinta tersembunyi di hatinya dan ia tidak menampakkannya. Cinta di dalam hati tidak akan ada yang melarangnya. Cinta yang tidak mengendalikan manusia untuk berbuat. Disebut cinta kalau sudah direalisasikan dengan yang ia cintai.
Cinta yang muncul di dalam hati juga bisa terjadi, namun apabila kita berbicara cinta dengan jalan bersamaan, bermesraan sebelum akad nikah, ini bukan cinta, akan tetapi ini perbuatan *KEJI* (al-Quran menyebutnya KEJI dan JALAN YANG BURUK - al-Isra:32). Berbicara dengannya dengan nada yang menggoda, engkau menatapnya dan ia menatapmu, semua ini jelas haram.
Akan tetapi apabila lelaki mencintai wanita kemudian engkau ingin buktikan dengan menikahinya, ini sesuatu yang baik dan hal ini baik.
Akan tetapi *jangan bercengkerama bersama sebelum menikah* (seperti tren pre-wedding). Seandainya kalian saling mencintai, kemudian diiringi dengan maksiat, jalan bersama kemudian menikah, maka menikahnya sah, akan tetapi hendaknya engkau bertaubat, menikah tidak akan menghapus kemaksiatan kalian dahulu. Demikian Syaikh Utsman al Khamis menjelaskan.
Jadi, dosa kalian ngobrol bareng, jalan bersama, dan hal-hal yang lebih buruk dari itu, bagi engkau bertaubat dari dosa ini, meskipun langkahmu untuk menikah sudah benar. Dan ingat lupakan hubungan ini, jangan diungkap, disiarkan kembali, karena ini aib, dosa dalam Islam. Misal dengan mengatakan,"Dulu dia pacar saya, sekarang jadi suami saya".
Demikianlah agama ini mengatur dengan hukum-hukumnya, agar manusia hidup dalam naungan Allah Yang Maha Tahu atas hambaNya dan di bawah Sunnah NabiNya, Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Tak ada pilihan lain bagi seorang yang mengaku mukmin dan mukminah, selain mengikuti jalan ini. Putuskan cinta yang *KEJI lagi BURUK*, menuju cinta karena Allah dan RasulNya.
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ
*_Dari Anas, dari Nabi SAW beliau bersabda: "Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka._*"[Mutafaqun alaihi]
Dan Allah mempertegas lagi dalam firmanNya:
وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ وَّلَا مُؤۡمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوۡلُهٗۤ اَمۡرًا اَنۡ يَّكُوۡنَ لَهُمُ الۡخِيَرَةُ مِنۡ اَمۡرِهِمۡ ؕ وَمَنۡ يَّعۡصِ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيۡنًا
*_Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata._*
Rasa cinta sebelum menikah, tersebar luas bahwasanya tidak boleh, maka sebagian dari kita menyangka bahwa hal tersebut tidak benar.
Rasa cinta terbagi menjadi 2:
1) Hubb afif
2) Hubb goyru afif
Cinta yang suci adalah cinta tersembunyi di hatinya dan ia tidak menampakkannya. Cinta di dalam hati tidak akan ada yang melarangnya. Cinta yang tidak mengendalikan manusia untuk berbuat. Disebut cinta kalau sudah direalisasikan dengan yang ia cintai.
Cinta yang muncul di dalam hati juga bisa terjadi, namun apabila kita berbicara cinta dengan jalan bersamaan, bermesraan sebelum akad nikah, ini bukan cinta, akan tetapi ini perbuatan *KEJI* (al-Quran menyebutnya KEJI dan JALAN YANG BURUK - al-Isra:32). Berbicara dengannya dengan nada yang menggoda, engkau menatapnya dan ia menatapmu, semua ini jelas haram.
Akan tetapi apabila lelaki mencintai wanita kemudian engkau ingin buktikan dengan menikahinya, ini sesuatu yang baik dan hal ini baik.
Akan tetapi *jangan bercengkerama bersama sebelum menikah* (seperti tren pre-wedding). Seandainya kalian saling mencintai, kemudian diiringi dengan maksiat, jalan bersama kemudian menikah, maka menikahnya sah, akan tetapi hendaknya engkau bertaubat, menikah tidak akan menghapus kemaksiatan kalian dahulu. Demikian Syaikh Utsman al Khamis menjelaskan.
Jadi, dosa kalian ngobrol bareng, jalan bersama, dan hal-hal yang lebih buruk dari itu, bagi engkau bertaubat dari dosa ini, meskipun langkahmu untuk menikah sudah benar. Dan ingat lupakan hubungan ini, jangan diungkap, disiarkan kembali, karena ini aib, dosa dalam Islam. Misal dengan mengatakan,"Dulu dia pacar saya, sekarang jadi suami saya".
Demikianlah agama ini mengatur dengan hukum-hukumnya, agar manusia hidup dalam naungan Allah Yang Maha Tahu atas hambaNya dan di bawah Sunnah NabiNya, Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Tak ada pilihan lain bagi seorang yang mengaku mukmin dan mukminah, selain mengikuti jalan ini. Putuskan cinta yang *KEJI lagi BURUK*, menuju cinta karena Allah dan RasulNya.
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ
*_Dari Anas, dari Nabi SAW beliau bersabda: "Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka._*"[Mutafaqun alaihi]
Dan Allah mempertegas lagi dalam firmanNya:
وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ وَّلَا مُؤۡمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوۡلُهٗۤ اَمۡرًا اَنۡ يَّكُوۡنَ لَهُمُ الۡخِيَرَةُ مِنۡ اَمۡرِهِمۡ ؕ وَمَنۡ يَّعۡصِ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيۡنًا
*_Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata._*
GURUNYA PARA AHLI TAFSIR
Tafsir At Thabari :
• Imam Muhammad bin Jarir At Thabari dilahirkan pada tahun 224 hijriyyah di daerah yang disebut Thabaristan, wafat pada tahun 310 hijriah diusia 86 tahun.
• Tafsirnya dinamakan: “Jami’ul Bayan Fi Ta’wili Aayatil Qur’an”.
Abu Hafidz Al Isfiraini berkata : Jika seseorang pergi ke negri Cina hanya untuk mendapatkan ilmu dari kitabnya maka hal itu sangat layak dimengerti." (Dari kitab “Thabaqaatul Mufassirin” Oleh Ad Daawidi, 2/106)
• Ibnu Khuzaimah berkata: Aku menelaah kitab Tafsirnya dari permulaan hingga akhirnya, maka aku tidak mengetahui jika ada seorang di permukaan bumi ini yang lebih mengerti dari pada Ibnu Jarir. (Dari kitab “Siyar A’laamil Nubala”, 14/273)
• Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Adapun kitab-kitab tafsir yang beredar di tengah masyarakat; maka yang paling shahih di antara kitab-kitab tafsir tersebut adalah karangan Muhammad bin Jarir At Thabari. Karena di dalamnya disebutkan perkataan para ulama salaf dengan sanad yang tidak diragukan lagi kesahihannya serta tidak ada bid’ah di dalamnya Tidak pula menukil perkataan orang-orang yang diduga dengan kedustaannya seperti Muqotil bin Bakir dan Al Kalbi. (Majmu Al Fatawa, 13/358). Dia juga mengatakan dalam kitab “Muqaddimatun Fi Ushulut Tafsir”, hal 39 tentang tafsir Ibnu Jarir, "Tafsir At Thabari adalah tafsir yang paling mulia dan paling berbobot isinya."
• Tafsir ini bersandar kepada perkataan tiga tingkatan dari tingkatan para ahli tafsir ulama salaf. Mereka adalah para sahabat, tabi’in dan tabi'ti tabi’in. Disebutkan perkataan mereka dengan sanad yang disandarkan kepada mereka dan inilah bentuk keistimewaan yang amat luar biasa dalam penulisan kitabnya yang tidak didapati dikebanyakan kitab-kitab tafsir yang ada pada kita Akan tetapi keistimewaan ini tidak sepadan dengan keadaan kaum Muslimin pada umumnya yang rata-rata tidak memiliki kemampuan untuk menelaah sanad-sanad dan mengetahui serta membedakan yang sahih dari yang dla’if. Mereka merasa cukup dan berhenti sebatas pada kebenaran sanad dan kedha’ifannya dengan ungkapan yang ringkas, jelas dan terang.
Apabila imam At Thabari telah selesai mengutarakan perkataan-perkataan para ulama, beliau merajihkan (menguatkan) atau memilih pendapat yang beliau anggap paling benar kemudian beliau sebutkan sanadnya dalam tarjih.
Tafsir At Thabari :
• Imam Muhammad bin Jarir At Thabari dilahirkan pada tahun 224 hijriyyah di daerah yang disebut Thabaristan, wafat pada tahun 310 hijriah diusia 86 tahun.
• Tafsirnya dinamakan: “Jami’ul Bayan Fi Ta’wili Aayatil Qur’an”.
Abu Hafidz Al Isfiraini berkata : Jika seseorang pergi ke negri Cina hanya untuk mendapatkan ilmu dari kitabnya maka hal itu sangat layak dimengerti." (Dari kitab “Thabaqaatul Mufassirin” Oleh Ad Daawidi, 2/106)
• Ibnu Khuzaimah berkata: Aku menelaah kitab Tafsirnya dari permulaan hingga akhirnya, maka aku tidak mengetahui jika ada seorang di permukaan bumi ini yang lebih mengerti dari pada Ibnu Jarir. (Dari kitab “Siyar A’laamil Nubala”, 14/273)
• Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Adapun kitab-kitab tafsir yang beredar di tengah masyarakat; maka yang paling shahih di antara kitab-kitab tafsir tersebut adalah karangan Muhammad bin Jarir At Thabari. Karena di dalamnya disebutkan perkataan para ulama salaf dengan sanad yang tidak diragukan lagi kesahihannya serta tidak ada bid’ah di dalamnya Tidak pula menukil perkataan orang-orang yang diduga dengan kedustaannya seperti Muqotil bin Bakir dan Al Kalbi. (Majmu Al Fatawa, 13/358). Dia juga mengatakan dalam kitab “Muqaddimatun Fi Ushulut Tafsir”, hal 39 tentang tafsir Ibnu Jarir, "Tafsir At Thabari adalah tafsir yang paling mulia dan paling berbobot isinya."
• Tafsir ini bersandar kepada perkataan tiga tingkatan dari tingkatan para ahli tafsir ulama salaf. Mereka adalah para sahabat, tabi’in dan tabi'ti tabi’in. Disebutkan perkataan mereka dengan sanad yang disandarkan kepada mereka dan inilah bentuk keistimewaan yang amat luar biasa dalam penulisan kitabnya yang tidak didapati dikebanyakan kitab-kitab tafsir yang ada pada kita Akan tetapi keistimewaan ini tidak sepadan dengan keadaan kaum Muslimin pada umumnya yang rata-rata tidak memiliki kemampuan untuk menelaah sanad-sanad dan mengetahui serta membedakan yang sahih dari yang dla’if. Mereka merasa cukup dan berhenti sebatas pada kebenaran sanad dan kedha’ifannya dengan ungkapan yang ringkas, jelas dan terang.
Apabila imam At Thabari telah selesai mengutarakan perkataan-perkataan para ulama, beliau merajihkan (menguatkan) atau memilih pendapat yang beliau anggap paling benar kemudian beliau sebutkan sanadnya dalam tarjih.
TIDAK MEMINTA-MINTA, QONA-AH DAN SABAR
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَا يَكُوْنُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ لاَ أَدَّخِرُهُ عَنْكُمْ، وَإِنَّهُ مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبّرِْهُ اللهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Kebaikan (harta) yang ada padaku tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta, Allah subhanahu wa ta’ala akan memelihara dan menjaganya. Siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta, Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikannya sabar. Siapa yang merasa cukup dengan Allah subhanahu wa ta’ala dari meminta kepada selain-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan kecukupan kepadanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. al-Bukhari no. 6470 & Muslim no. 1053)
🟢 Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :
“Dalam hadits ini ada anjuran untuk ta’affuf (menahan diri dari meminta-minta), qana’ah (merasa cukup) dan bersabar atas kesempitan hidup dan kesulitan (hal yang tidak disukai) lainnya di dunia.” (Syarah Shahih Muslim, 7/145)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَا يَكُوْنُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ لاَ أَدَّخِرُهُ عَنْكُمْ، وَإِنَّهُ مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبّرِْهُ اللهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Kebaikan (harta) yang ada padaku tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta, Allah subhanahu wa ta’ala akan memelihara dan menjaganya. Siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta, Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikannya sabar. Siapa yang merasa cukup dengan Allah subhanahu wa ta’ala dari meminta kepada selain-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan kecukupan kepadanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. al-Bukhari no. 6470 & Muslim no. 1053)
🟢 Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :
“Dalam hadits ini ada anjuran untuk ta’affuf (menahan diri dari meminta-minta), qana’ah (merasa cukup) dan bersabar atas kesempitan hidup dan kesulitan (hal yang tidak disukai) lainnya di dunia.” (Syarah Shahih Muslim, 7/145)
*Kesungguhan dalam beramal Shalih*
Amal shalih sangat dibutuhkan untuk mewujudkan dan memupuk Iman. Selain merupakan bagian dari iman itu sendiri, amal shalih juga merupakan sebab terwujudnya *keimanan*.
Maka tak pelak, kita hamba, perlu memelihara amal shalih, yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah subhanahu wata'ala.
Memelihara amal shalih merupakan salah satu sebab yang paling berpengaruh pada kekuatan dan terjaganya keimanan. Contohnya adalah sholat. Allah berfirman:
*_Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar_*. (QS. Al-Ankabut:45)
Alangkah segarnya *keimanan* yang ada di dalamnya. Alangkah dekatnya hubungan hamba dengan Allah subhanahu wata'ala dengan perantaranya.
Lihatlah diri kita, ketika kita senantiasa menjaga, mengagungkan dan perhatian dengannya, kita akan dapati pengaruhnya sangat luarbiasa dalam mewujudkan keimanan dalam hati.
Lihatlah keadaan orang yang jauh dari sholat, ketika mereka jauh dari sholat, *keimanan dalam hati mereka juga ikut lemah.
Para salaf mengatakan:
الإيمان قول وعمل. يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية
*_Iman adalah perkataan dan perbuatan. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan._*
Jadi, ketaatan itu dapat menambah dan memperkuat *keimanan*. Setiap kali ketaatan, ibadah dan taqarrub kita kepada Allah subhanahu wata'ala bertambah, maka hal ini akan menjadi sebab penolong untuk menguatkan dan memupuk keimananmu.
*Sekolah Konselor Keluarga*
Amal shalih sangat dibutuhkan untuk mewujudkan dan memupuk Iman. Selain merupakan bagian dari iman itu sendiri, amal shalih juga merupakan sebab terwujudnya *keimanan*.
Maka tak pelak, kita hamba, perlu memelihara amal shalih, yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah subhanahu wata'ala.
Memelihara amal shalih merupakan salah satu sebab yang paling berpengaruh pada kekuatan dan terjaganya keimanan. Contohnya adalah sholat. Allah berfirman:
*_Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar_*. (QS. Al-Ankabut:45)
Alangkah segarnya *keimanan* yang ada di dalamnya. Alangkah dekatnya hubungan hamba dengan Allah subhanahu wata'ala dengan perantaranya.
Lihatlah diri kita, ketika kita senantiasa menjaga, mengagungkan dan perhatian dengannya, kita akan dapati pengaruhnya sangat luarbiasa dalam mewujudkan keimanan dalam hati.
Lihatlah keadaan orang yang jauh dari sholat, ketika mereka jauh dari sholat, *keimanan dalam hati mereka juga ikut lemah.
Para salaf mengatakan:
الإيمان قول وعمل. يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية
*_Iman adalah perkataan dan perbuatan. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan._*
Jadi, ketaatan itu dapat menambah dan memperkuat *keimanan*. Setiap kali ketaatan, ibadah dan taqarrub kita kepada Allah subhanahu wata'ala bertambah, maka hal ini akan menjadi sebab penolong untuk menguatkan dan memupuk keimananmu.
*Sekolah Konselor Keluarga*
*Sunnah Melindungi Anak-anak dari Gangguan keburukan jin, setan dan sihir*
Sungguh disyariatkan untuk melindungi anak-anak dengan dzikir berikut ini:
أُعِيذُ أَوْلَادِي بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
*_Aku memohon perlindungan untuk anak-anakku dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala keburukan yang Dia ciptakan_*.
Dan boleh disebutkan anak-anak kita satu persatu. Sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa memohon perlindungan kepada Hasan dan Husain dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan, binatang berbisa dan dari 'ain (pandangan mata yang jahat).
أُعِيذُكُمْ (فلان وفلانة) مِنْ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِن كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِن كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
*_Aku memohon perlindungan untuk kalian (fulan dan fulanah) dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan, binatang berbisa dan dari 'ain (pandangan mata yang jahat)_*.
Memohon perlindungan untuk anak-anak kita adalah perkara yang disunahkan. Dan hal itu termasuk sekuat-kuatnya perlindungan untuk membentengi mereka.
Membaca dzikir setiap pagi dan petang dengan dzikir ini salah satunya adalah sebagai benteng yang kokoh untuk ayah dan bunda dalam membentengi anak-anaknya dari keburukan setan, apalagi di zaman penuh fitnah, kejahatan begitu tampak, kemaksiatan diobral, perzinaan menjadi kesukaan, dan korban utamanya adalah anak-anak muda, yang semestinya mereka harus kita jaga dari itu semua, karena dipundak merekalah masa depan Islam.
_Wallahu a'lam bishshowaab_
*Sekolah Konselor Keluarga*
Sungguh disyariatkan untuk melindungi anak-anak dengan dzikir berikut ini:
أُعِيذُ أَوْلَادِي بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
*_Aku memohon perlindungan untuk anak-anakku dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala keburukan yang Dia ciptakan_*.
Dan boleh disebutkan anak-anak kita satu persatu. Sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa memohon perlindungan kepada Hasan dan Husain dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan, binatang berbisa dan dari 'ain (pandangan mata yang jahat).
أُعِيذُكُمْ (فلان وفلانة) مِنْ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِن كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِن كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
*_Aku memohon perlindungan untuk kalian (fulan dan fulanah) dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan, binatang berbisa dan dari 'ain (pandangan mata yang jahat)_*.
Memohon perlindungan untuk anak-anak kita adalah perkara yang disunahkan. Dan hal itu termasuk sekuat-kuatnya perlindungan untuk membentengi mereka.
Membaca dzikir setiap pagi dan petang dengan dzikir ini salah satunya adalah sebagai benteng yang kokoh untuk ayah dan bunda dalam membentengi anak-anaknya dari keburukan setan, apalagi di zaman penuh fitnah, kejahatan begitu tampak, kemaksiatan diobral, perzinaan menjadi kesukaan, dan korban utamanya adalah anak-anak muda, yang semestinya mereka harus kita jaga dari itu semua, karena dipundak merekalah masa depan Islam.
_Wallahu a'lam bishshowaab_
*Sekolah Konselor Keluarga*
MAKNA ISTIQOMAH
👤 Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata :
“Istiqomah adalah meniti jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, dengan tanpa membelok ke kanan atau ke kiri. Dan istiqomah mencakup melakukan semua ketaatan yang lahir dan yang batin dan meninggalkan semua perkara yang dilarang. Maka wasiat ini mencakup seluruh ajaran agama.” (Jami’ul ‘Ulum wal-Hikam, 1 : 510)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ
“Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah.” (HR Ahmad 12636) hasan
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu secara marfuu’ dan mauquf :
إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
“Jika anak Adam memasuki pagi hari sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lisan: ‘Takwalah kepada Allah di dalam menjaga hak-hak kami, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqomah, maka kami juga istiqomah, jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang. (HR Tirmidzi 2407) hasan.
📌 KEUTAMAAN ISTIQOMAH
Tidaklah mudah untuk meraih Istiqomah. Namun seorang hamba akan mendapatkan semangat di dalam istiqomah dengan mengetahui keutamaannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang keutamaan besar yang akan diraih oleh orang-orang yang istiqomah :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu ” (Qs. Fushshilat 30)
Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿١٣﴾ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka tetap istiqomah (teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang shalih) maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-Ahqaf 13-14)
📌 DIANTARA SEBAB-SEBAB ISTIQOMAH
Sesungguhnya sebab-sebab istiqomah sangat banyak. Diantara sebab-sebab terpenting yang menjadikan seseorang istiqomah di jalan Allah Subhanahu Ta’ala ialah sebagai berikut:
1. Merenungkan isi Al-Qur’an.
2. Mengamalkan apa yang Allah dan Rasulnya perintahkan.
3. Mencintai Allah dan RasulNya melebihi yang Lainnya.
4. Mencintai dan membenci sesuatu karena Allah.
5. Meneladani para para Shalafus Shalih (shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in) dan para ulama yang istiqomah.
6. Saling berwasiat dengan al-haq(kebenaran), kesabaran, dan kasih-sayang.
7. Banyak berdoa.
8. Berdzikir.
9. Menjauhi segala pintu maksiat.
👤 Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata :
“Istiqomah adalah meniti jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, dengan tanpa membelok ke kanan atau ke kiri. Dan istiqomah mencakup melakukan semua ketaatan yang lahir dan yang batin dan meninggalkan semua perkara yang dilarang. Maka wasiat ini mencakup seluruh ajaran agama.” (Jami’ul ‘Ulum wal-Hikam, 1 : 510)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ
“Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah.” (HR Ahmad 12636) hasan
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu secara marfuu’ dan mauquf :
إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
“Jika anak Adam memasuki pagi hari sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lisan: ‘Takwalah kepada Allah di dalam menjaga hak-hak kami, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqomah, maka kami juga istiqomah, jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang. (HR Tirmidzi 2407) hasan.
📌 KEUTAMAAN ISTIQOMAH
Tidaklah mudah untuk meraih Istiqomah. Namun seorang hamba akan mendapatkan semangat di dalam istiqomah dengan mengetahui keutamaannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang keutamaan besar yang akan diraih oleh orang-orang yang istiqomah :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu ” (Qs. Fushshilat 30)
Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿١٣﴾ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka tetap istiqomah (teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang shalih) maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-Ahqaf 13-14)
📌 DIANTARA SEBAB-SEBAB ISTIQOMAH
Sesungguhnya sebab-sebab istiqomah sangat banyak. Diantara sebab-sebab terpenting yang menjadikan seseorang istiqomah di jalan Allah Subhanahu Ta’ala ialah sebagai berikut:
1. Merenungkan isi Al-Qur’an.
2. Mengamalkan apa yang Allah dan Rasulnya perintahkan.
3. Mencintai Allah dan RasulNya melebihi yang Lainnya.
4. Mencintai dan membenci sesuatu karena Allah.
5. Meneladani para para Shalafus Shalih (shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in) dan para ulama yang istiqomah.
6. Saling berwasiat dengan al-haq(kebenaran), kesabaran, dan kasih-sayang.
7. Banyak berdoa.
8. Berdzikir.
9. Menjauhi segala pintu maksiat.
MENJAGA SHOLAT
Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata :
خصلتان إذا رأيتهما في الرجل فاعلم أن ما ورائهما خير منهما : إذا كان حابسًا لسانه, محافظًا على صلاته .
” Ada dua sifat yang apabila kamu melihat kedua sifat ini ada pada seseorang maka ketahuilah bahwa buah dan manfaat dari kedua sifat ini lebih baik daripada kedua sifatnya itu sendiri :
- Menjaga lisan
- Menjaga sholat
🟢 Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda :
إنَّ الرجلَ ليُصلِّي ستِّينَ سنةً و ما تُقبَلُ له صلاةٌ ، لعله يتمُّ الركوعَ ، ولا يتمُّ السُّجودَ ، ويتمُّ السجودَ ولا يتمُّ الركوعَ .
“Sesungguhnya benar- benar ada seseorang yang telah mengerjakan sholat selama enam puluh tahun namun tidak ada yang diterima sholatnya, mungkin dia telah menyempurnakan ruku’ akan tetapi tidak menyempunakan sujud atau sebaliknya dia telah menyempurnakan sujud akan tetapi tidak menyempurnakan ruku’.”
Shahih At Targhib, 529, hasan oleh al Albani.
Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata :
خصلتان إذا رأيتهما في الرجل فاعلم أن ما ورائهما خير منهما : إذا كان حابسًا لسانه, محافظًا على صلاته .
” Ada dua sifat yang apabila kamu melihat kedua sifat ini ada pada seseorang maka ketahuilah bahwa buah dan manfaat dari kedua sifat ini lebih baik daripada kedua sifatnya itu sendiri :
- Menjaga lisan
- Menjaga sholat
🟢 Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda :
إنَّ الرجلَ ليُصلِّي ستِّينَ سنةً و ما تُقبَلُ له صلاةٌ ، لعله يتمُّ الركوعَ ، ولا يتمُّ السُّجودَ ، ويتمُّ السجودَ ولا يتمُّ الركوعَ .
“Sesungguhnya benar- benar ada seseorang yang telah mengerjakan sholat selama enam puluh tahun namun tidak ada yang diterima sholatnya, mungkin dia telah menyempurnakan ruku’ akan tetapi tidak menyempunakan sujud atau sebaliknya dia telah menyempurnakan sujud akan tetapi tidak menyempurnakan ruku’.”
Shahih At Targhib, 529, hasan oleh al Albani.
Dosa dan kemaksiatan Dikala Sendirian
Dosa dan kemaksiatan, dua perkara yang paling banyak menggugurkan kebaikan dan memberatkan timbangan keburukan. Melakukan satu perbuatan dosa, seperti zina, atau melanggar larangan Allah Azza wa Jalla ketika sendirian, sudah cukup untuk menggugurkan kebaikan-kebaikan walaupun sebesar gunung.
Sahabat Tsauban Radhiyallahu anhu menceritakan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:
عَنْ ثَوْبَانَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ : أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا
Dari Tsauban, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa Beliau bersabda, “Aku benar-benar mengetahui rombongan-rombongan orang dari umatku, mereka akan datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan-kebaikan sebesar gunung Tihamah yang berwarna putih, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikannya sebagai debu yang berhamburan”. Tsauban Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Rasulullah! Terangkan sifat mereka kepada kami! Terangkan keadaan mereka kepada kami, agar kami tidak termasuk golongan mereka padahal kami tidak mengetahui!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya mereka itu adalah saudara-saudara kamu, dan dari kulit kamu, mereka mengisi sebagian malam sebagaimana kamu mengisi, namun mereka adalah rombongan-rombongan orang yang jika menyendiri, mereka melanggar perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah”. (HR. Ibnu Majah, 4245 dishahihkan oleh syaikh al-Albani; syaikh Salim al-Hilali dan lainnya)
Oleh karena itu kewajiban kita untuk bertaqwa kepada Allah dimana saja berada, baik ketika sendirian atau ketika bersama banyak orang.
Begitulah yang diwasiatkan oleh di dalam haditsnya:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Bertaqwalah kepada Allah Azza wa Jalla dimana saja engkau berada; Iringilah keburukan dengan perbuatan baik! Niscaya kebaikan itu akan menghapusnya; Dan bergaulah dengan manusia dengan akhlaq yang baik”. (HR. Ahmad 5/153, 158, 177, 236, At-Tirmidzi, 1987; Ad-Darimi 2/323, Al-Hakim 1/54, At-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 20/145, Mu’jamul Ausath 4/125, Mu’jamus Shaghir 350. Dimuat oleh Imam Nawawi dalam Arba’in 18. Hadits dinilai sebagai hadits yang hasan oleh oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 97)
Dosa dan kemaksiatan, dua perkara yang paling banyak menggugurkan kebaikan dan memberatkan timbangan keburukan. Melakukan satu perbuatan dosa, seperti zina, atau melanggar larangan Allah Azza wa Jalla ketika sendirian, sudah cukup untuk menggugurkan kebaikan-kebaikan walaupun sebesar gunung.
Sahabat Tsauban Radhiyallahu anhu menceritakan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:
عَنْ ثَوْبَانَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ : أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا
Dari Tsauban, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa Beliau bersabda, “Aku benar-benar mengetahui rombongan-rombongan orang dari umatku, mereka akan datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan-kebaikan sebesar gunung Tihamah yang berwarna putih, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikannya sebagai debu yang berhamburan”. Tsauban Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Rasulullah! Terangkan sifat mereka kepada kami! Terangkan keadaan mereka kepada kami, agar kami tidak termasuk golongan mereka padahal kami tidak mengetahui!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya mereka itu adalah saudara-saudara kamu, dan dari kulit kamu, mereka mengisi sebagian malam sebagaimana kamu mengisi, namun mereka adalah rombongan-rombongan orang yang jika menyendiri, mereka melanggar perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah”. (HR. Ibnu Majah, 4245 dishahihkan oleh syaikh al-Albani; syaikh Salim al-Hilali dan lainnya)
Oleh karena itu kewajiban kita untuk bertaqwa kepada Allah dimana saja berada, baik ketika sendirian atau ketika bersama banyak orang.
Begitulah yang diwasiatkan oleh di dalam haditsnya:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Bertaqwalah kepada Allah Azza wa Jalla dimana saja engkau berada; Iringilah keburukan dengan perbuatan baik! Niscaya kebaikan itu akan menghapusnya; Dan bergaulah dengan manusia dengan akhlaq yang baik”. (HR. Ahmad 5/153, 158, 177, 236, At-Tirmidzi, 1987; Ad-Darimi 2/323, Al-Hakim 1/54, At-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 20/145, Mu’jamul Ausath 4/125, Mu’jamus Shaghir 350. Dimuat oleh Imam Nawawi dalam Arba’in 18. Hadits dinilai sebagai hadits yang hasan oleh oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 97)
DOA TERLEPAS DARI KEFAKIRAN DAN HUTANG
اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ،فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وأَغْنِنِي مِنَ الفَقْرِ
*_Ya Allah, Tuhan yang menguasai langit yang tujuh, Tuhan yang menguasai arasy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu._*
*_Tuhan yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Tuhan yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an)._*
*_Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkau-lah yang pertama, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang terakhir, setelah-Mu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang dzahir, tidak ada sesuatu di atas-Mu, Engkau-lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang menghalangi-Mu, lunasilah hutang kami dan berilah kami kekayaan hingga terlepas dari kefakiran._*
(HR. Muslim, Tirmidzi, Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah)
Tidaklah doa ini dibaca dengan hati yang ikhlas melainkan Allah akan melunasi hutangnya dan memberikannya kekayaan hingga ia terlepas dari kefakiran.
Di mana kita selama ini? mana dunia yang katanya mengeluhkan kemiskinan yang mereka alami?
mana yang mengeluh hutangnya tidak bisa dilunasi? yang sudah sedemikian stress, tertekan, depresi dan penyakit jiwa.
Di mana mereka selama ini dari bergantung kepada Allah? dan dari doa agung ini? Mana orang-orang yang mengeluh mencari pembantu rumahnya?
Seandainya doa di atas dibaca oleh seorang ibu sebelum tidur atau dibaca oleh bapak, niscaya itu lebih baik baginya daripada seorang pembantu.
Ibnul Qoyyim rahimahullah mengomentari hadits ini:
وَقَدْ جُرِّبَ فَأَكْسَبَ العَبْدَ قُوَّةً عَلَى الخِدْمَةِ فِي صَباحِهِ وَعَمَلِهِ وخِدْمَةِ بَيْتِهِ
*_Doa ini telah dipraktekkan, memberikan efek kekuatan kepada seseorang untuk membantunya di waktu paginya, pekerjaannya dan urusan rumahnya_*.
اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ،فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وأَغْنِنِي مِنَ الفَقْرِ
*_Ya Allah, Tuhan yang menguasai langit yang tujuh, Tuhan yang menguasai arasy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu._*
*_Tuhan yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Tuhan yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an)._*
*_Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkau-lah yang pertama, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang terakhir, setelah-Mu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang dzahir, tidak ada sesuatu di atas-Mu, Engkau-lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang menghalangi-Mu, lunasilah hutang kami dan berilah kami kekayaan hingga terlepas dari kefakiran._*
(HR. Muslim, Tirmidzi, Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah)
Tidaklah doa ini dibaca dengan hati yang ikhlas melainkan Allah akan melunasi hutangnya dan memberikannya kekayaan hingga ia terlepas dari kefakiran.
Di mana kita selama ini? mana dunia yang katanya mengeluhkan kemiskinan yang mereka alami?
mana yang mengeluh hutangnya tidak bisa dilunasi? yang sudah sedemikian stress, tertekan, depresi dan penyakit jiwa.
Di mana mereka selama ini dari bergantung kepada Allah? dan dari doa agung ini? Mana orang-orang yang mengeluh mencari pembantu rumahnya?
Seandainya doa di atas dibaca oleh seorang ibu sebelum tidur atau dibaca oleh bapak, niscaya itu lebih baik baginya daripada seorang pembantu.
Ibnul Qoyyim rahimahullah mengomentari hadits ini:
وَقَدْ جُرِّبَ فَأَكْسَبَ العَبْدَ قُوَّةً عَلَى الخِدْمَةِ فِي صَباحِهِ وَعَمَلِهِ وخِدْمَةِ بَيْتِهِ
*_Doa ini telah dipraktekkan, memberikan efek kekuatan kepada seseorang untuk membantunya di waktu paginya, pekerjaannya dan urusan rumahnya_*.