BERILMU DENGAN BUKU
63 subscribers
738 photos
27 videos
20 files
532 links
Channel edukasi seputar Aqidah, Ibadah, Muamalah, Pengembangan diri dan Keluarga, Bisnis, Marketing dan Rekomendasi Buku
Download Telegram
PERINTAHKANLAH ANAKMU UNTUK SHOLAT

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ
“Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud 495) shahih.
*LATIHAN MENGHITUNG WARIS*

1. Seseorang meninggal dunia dengan harta warisan 36.000.000. Ahli waris terdiri: 2 istri, ibu dan bapak serta kakek jalur bapak. Berapa bagian yang diterima seorang istri?
a. 4.5 juta
b. 9 juta
c. 12 juta
d.15 juta

2. Seseorang meninggal dengan harta peninggalan 50 juta. Biaya pengurusan jenazah 1 juta, hutang 5 juta dan wakaf (wasiat) 2 juta. Ahli waris terdiri: bapak, ibu, kakek jalur bapak dan istri. Berapa bagian bapak?
a. 10.5 juta
b. 14 juta
c. 17.5 juta
d. 15 juta

3. Mayit meninggalkan harta warisan 96 juta rupiah. Ahli waris terdiri dari 4 istri, 1 anak laki-laki dan ibu. Berapa bagian setiap istri?
a. 3 juta
b. 12 juta
c. 16 juta
d. 68 juta

4. Apabila harta yang ditinggalkan mayit 100 juta rupiah. Sedangkan ahli waris hanya terdiri istri dan bapak. Siapa yang menerima bagian terbanyak diantara keduanya?
a. Bapak
b. Istri

5. Istri meninggal dunia, dan meninggalkan harta sebanyak 36 juta. Ahli waris terdiri dari suami, ibu dan nenek dari jalur ibu. Berapa bagian harta yang diterima nenek dari jalur ibu?
a. 12 juta
b. 18 juta
c. Tidak dapat
DUNIA ADALAH LADANGNYA AKHIRAT

Syaikh muhammad bin shalih ‘Utsaimin rahimahullah berkata :

‏الدنيا مزرعة الآخرة فإذا لم يزرع فيها لآخرته فقد خسرها وخسر آخرته

“Kehidupan dunia adalah ladang untuk kehidupan akhirat. Apabila seseorang tidak bercocok tanam di dunia untuk (mempersiapkan) akhiratnya, sungguh dia telah merugikan kehidupan dunia sekaligus merugikan akhiratnya.”

(adh-Dhiya al-Lami’ 1/65)
TADHARRU' DALAM BERDO'A


Ahli Hikmah berkata:
مَنْ أَدْمَنَ قَرْعَ الأَبْوَابِ أَوْشَكَ أَنْ يُفْتَحَ لَهُ
*_Barangsiapa semakin sering mengetuk pintu, maka pintu itu nyaris segera terbuka_*.
TENTANG KEMATIAN

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

(Qs. Jumu’ah 8)

🟢 Fudhail bin iyadh rahimahullah berkata:

“Engkau berbuat kebaikan (amal shaleh) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (dosa-dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari kiamat) karena (dosa-dosamu) di masa lalu dan (dosa-dosamu) pada sisa umurmu.”

(Nukilan dari Jaami’ul ‘uluumi wal hikam hal. 464 dan Latha-iful ma’aarif hal. 108)
SIKAP SALAF TERHADAP AMAL YANG MEREKA LAKUKAN

Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:

كان السلف يجتهدون في أعمال الخير ويعدون أنفسهم من المقصرين المفرطين المذنبين. ونحن مع إساءتنا نعد أنفسنا من المحسنين.

“Dahulu para salaf bersungguh-sungguh dalam melakukan amal-amal kebaikan, namun mereka menganggap diri mereka termasuk orang-orang yang melakukan kekurangan, menyia-nyiakan, dan banyak dosa. Sedangkan kita bersamaan dengan perbuatan buruk kita, kita menganggap diri kita termasuk orang-orang yang berbuat baik.”

Majmu’ Rasail Ibnu Rajab al-Hanbaly, jilid 1 hlm. 254
*MODEL KEBANGKITAN UMAT ISLAM*
(_*Cetakan kedua*_)

ALhamdulillah, telah terbit kembali cetakan kedua, dari buku *MODEL KEBANGKITAN UMAT ISLAM*, yang ditunggu-tunggu umat Islam, dalam rangka meraih kembali kejayaannya.

_Upaya 50 Tahun Gerakan Pendidikan Melahirkan Generasi Shalahuddin dan Merebut Palestina._

Dr. Majid 'Irsan al-Kilani, sebagai pakar pendidikan, mampu menelaah sebab-sebab keterpurukan umat Islam di era Perang Salib dengan cermat dan merumuskan konsep kebangkitan umat Islam yang dipelopori oleh Imam al-Ghazali, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan ulama-ulama lainnya.

Ini salah satu buku sejarah dan pendidikan terbaik di dunia Islam yang direkomendasikan oleh dosen Ilmu Sejarah (Dakwah) di Universitas Islam Madinah. Penting sekali dibaca, agar kita jangan salah paham dan salah jalan dalam upaya membangkitkan umat Islam dari kelemahan dan keterpurukan.

Dr. Adian Husaini (Ketua Program Doktor Pendidikan Islam, Universitas Ibn Khaldun Bogor)
----------------------------------
Model Kebangkitan Umat Islam;
Upaya 50 Tahun Gerakan Pendidikan Melahirkan Generasi Shalahuddin dan Merebut Palestina

Penulis: Dr. Majid 'Irsan al-Kilani
Sampul: Hard cover
Berat: 800 gr.
Isi: 480 halaman
Harga: Rp. 177.000,-

Pemesanan silahkan sms ke 0895386894755 atau Whatsapp:
https://wa.me/62895386894755

Syukran.
SABAR MENGHADAPI ZAMAN FITNAH


Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam bersabda :

يَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيْهِمْ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

“Akan tiba suatu zaman bagi manusia, barangsiapa di antara mereka yang bersabar berpegang teguh pada agamanya, ia ibarat menggenggam bara api.” (HR. At Tirmidzi 2260).

🟢 Al Munawi rahimahullah dalam menjelaskan hadits ini beliau berkata:

“Nabi Shallallahu‘alaihi wasallam mengibaratkan dengan perumpamaan yang bisa cerna secara inderawi. Maksudnya orang yang bersabar dalam berpegang pada hukum Al Qur’an dan As Sunnah akan mendapatkan perlakuan keras dan kesulitan-kesulitan dari ahlul bid’ah dan orang-orang menyimpang dianalogikan bagai memegang bara api dengan genggaman tangannya, bahkan lebih dahsyat dari itu” (Faidhul Qadir, 6/456).

Hendaknya hal ini tidak membuat kita menyerah, karena barang siapa yang bersabar maka keutamaanya sangatlah besar..

🟢 Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda :

إنَّ مِن ورائِكم أيامَ الصَّبرِ ، لِلمُتَمَسِّكِ فيهنَّ يومئذٍ بما أنتم عليه أجرُ خمسين منكم

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran, orang yang tetap mengamalkan ajaran agama ketika zaman itu akan mendapatkan pahala amalan 50 orang dari kalian (para sahabat Nabi).” (HR. Abu Daud 4341, Silsilah Ash Shahihah 494).
SEMAKIN BERILMU, SEMAKIN BESAR TAKUTNYA KEPADA ALLAH


Allah berfirman (yang artinya) : “..Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku” (QS. Al Ma’idah: 44). Maka takut kepada Allah (al khauf minallah) adalah ibadah dan merupakan salah satu bentuk ibadah yang semestinya dicamkan oleh setiap mukmin.

Sifat Orang Yang Bertaqwa
Takut kepada Allah adalah sifat orang yang bertaqwa, dan ia juga merupakan bukti imannya kepada Allah. Lihatlah bagaimana Allah mensifati para Malaikat, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” (QS. An Nahl: 50).


Lihat juga bagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang hamba-hambanya yang paling mulia, yaitu para Nabi ‘alahimus wassalam (artinya) : “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami” (QS. Al Anbiya: 90)

Semakin Berilmu Semakin Takut Kepada Allah
Oleh karenanya, seseorang semakin ia mengenal Rabb-nya dan semakin dekat ia kepada Allah Ta’ala, akan semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Nabi kita Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku yang paling mengenal Allah dan akulah yang paling takut kepada-Nya” (HR. Bukhari-Muslim).

Oleh karenanya para ulama, yaitu memiliki ilmu tentang agama Allah ini dan mengamalkannya, merekalah orang-orang yang paling mengenal Allah. Sehingga betapa besar rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala.

Karena orang yang memiliki ilmu tentang agama Allah akan paham benar akan kebesaran Allah, keperkasaan-Nya, paham benar betapa pedih dan ngeri adzab-Nya. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda kepada para sahabat beliau: “Demi Allah, andai kalian tahu apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian pun akan enggan berlezat-lezat dengan istri kalian di ranjang. Dan akan kalian keluar menuju tanah datang tinggi, mengiba-iba berdoa kepada Allah” (HR. Tirmidzi 2234, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)

karena rasa takut yang timbul dari ma’rifatullah yang mendalam.
*MENGAPA PERTOLONGAN ALLAH BELUM DATANG?*

Nasihat Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Dalam hadits Qudsy, Allah berfirman:
من عادى لي وليّا فقد ٱذنته بالحرب
*_Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka aku nyatakan perang kepadanya._* (HR. Bukhari no.6502)

Ini pasti, tidak perlu kita ragu. Karena Allah berfirman dalam alQuran:
وَعۡدَ اللّٰهِ حَقًّا‌ ؕ وَمَنۡ اَصۡدَقُ مِنَ اللّٰهِ قِيۡلً
*_Dan janji ALlah itu benar. Siapa yang lebih jujur perkataannya daripada Allah?_* (QS.an-Nisa:122)

Janji Allah adalah pasti, seorang muslim tidak boleh meragukannya. Namun kenapa hari ini ALlah tidak menolong kita dari musuh-musuh Allah?

Masalahnya adalah ada pada kekurangan dan kelalaian kaum muslimin itu sendiri. Bukan pada hadits atau alQuran yang telah jelas Allah berjanji akan menolong kaum muslimin. Karena janji Allah pasti ditepati dan Allah tidak pernah mengingkari janjiNya.

Allah mengingatkan kita muslimin dalam firmanNya:
وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ
*_Setiap musibah yang menimpa kalian disebabkan ulah tangan kalian sendiri. Dan Allah memaafkan banyak kesalahan kalian_*. (QS. Asy-Syura:30)

Dalam sirah, saat terjadinya perang Uhud, Allah juga berfirman:
اَوَلَمَّاۤ اَصَابَتۡكُمۡ مُّصِيۡبَةٌ قَدۡ اَصَبۡتُمۡ مِّثۡلَيۡهَا ۙ قُلۡتُمۡ اَنّٰى هٰذَا‌ؕ قُلۡ هُوَ مِنۡ عِنۡدِ اَنۡفُسِكُمۡ ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيۡرٌ
*_Mengapa ketika kalian ditimpa musibah (di perang Uhud), kalian berkata: Kenapa begini? padahal kamu telah mengalahkan mereka 2 kali lipatnya (di perang Badr)?. Katakan kepada mereka: Itu kesalahan kalain sendiri._* (QS. Ali Imran:165)

Jadi jelas, bahwa musibah yang terjadi disebabkan karena kelalaian kita sendiri. Adapun siapapun kita yang memenuhi kewajibannya, maka ALlah pasti akan menolongnya. ALlah berfirman:
اِنَّا لَنَـنۡصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا فِى الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا وَيَوۡمَ يَقُوۡمُ الۡاَشۡهَادُ

*_Kami pasti akan menolong para Rasul kami dan orang-orang beriman di kehidupan dunia dan di hari berdirinya para saksi (akhirat). (QS. Ghafir:51)

وَكَانَ حَقًّا عَلَيۡنَا نَصۡرُ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ
*_Dan Kami pasti akan menolong orang-orang beriman_*. (QS. ar Rum:47)

Maka, jika kita merasa belum ada pertolongan, masalahnya ada pada kekurangan diri kita dan kelalaian kaum muslimin sendiri, karena dosa-dosa yang menyebabkan tertundanya pertolongan itu.
SIRAH RASULULLAH - Ar-Rahiq Al-Makhtum
Penulis: Syaikh Syafiyyurrahman Al-Mubarakfuri


Banyak sudah buku yang membahas sisik melik Rasulullah ﷺ. Namun buku ini telah mendapatkan sertifikasi internasional sebagai buku sirah Nabi terbaik. Kupasannya komplit, namun mudah dipahami; tidak bertele-tele.
Memotret kejadian demi kejadian dalam kehidupan Rasulullah ﷺ -dimana beberapa buku sirah lain melewatkannya-. Segala hal dan peristiwa yang ingin Anda ketahui dari kehidupan Nabi ﷺ, ada di dalamnya. Riwayat yang digunakan penulis pun hanya berasal dari sumber yang otentik.

Itulah mengapa kemudian Rabithah Al-Alam Al-Islami menetapkannya sebagai juara 1 lomba sirah Nabi.

Kini, beberapa versi Indonesia buku itu telah terbit. Namun, buku yang ada di tangan Anda ini memiliki kelebihan dibanding buku sejenis.
Dilengkapi dengan takhrij riwayat oleh Syaikh Al-Albani dan beberapa pakar hadits lainnya. Anda pun akan diajak turut serta dalam peristiwa yang dialami Rasulullah ﷺ, dengan peta-peta klasik saat itu.
----------------------------------
Sirah Rasulullah - Ar-Rahiq Al-Makhtum
Penulis: Syaikh Syafiyyurrahman Al-Mubarakfuri
Penerbit : Ummul Qura
Ukuran: 17 x 24 cm
Sampul: Hard Cover
Isi: 864 halaman
Berat: 1,2 Kg
ISBN: 9786026579577
Harga: Rp. 178.000,-

Pemesanan silahkan sms ke 0895386894755 atau Whatsapp:
https://wa.me/62895386894755

Syukran.
MENIKAHI WANITA KARENA AGAMANYA

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan seorang pria untuk memilih perempuan yang baik agamanya. Beliau bersabda,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi”. (HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1446, dari Abu Hurairah.)


Perhatikanlah kisah berikut yang menunjukkan keberuntungan seseorang yang memilih wanita karena agamanya.

Yahya bin Yahya an Naisaburi mengatakan bahwa beliau berada di dekat Sufyan bin Uyainah ketika ada seorang yang menemui Ibnu Uyainah lantas berkata, “Wahai Abu Muhammad, aku datang ke sini dengan tujuan mengadukan fulanah -yaitu istrinya sendiri-. Aku adalah orang yang hina di hadapannya”. Beberapa saat lamanya, Ibnu Uyainah menundukkan kepalanya. Ketika beliau telah menegakkan kepalanya, beliau berkata, “Mungkin, dulu engkau menikahinya karena ingin meningkatkan martabat dan kehormatan?”. “Benar, wahai Abu Muhammad”, tegas orang tersebut. Ibnu Uyainah berkata,

مَنْ ذَهَبَ إِلىَ العِزِّ اُبْتُلِيَ بِالذَّلِّ وَمَنْ ذَهَبَ إِلَى الماَلِ اُبْتُلِيَ بِالفَقْرِ وَمَنْ ذَهَبَ إِلىَ الدِّيْنِ يَجْمَعُ اللهُ لَهُ العِزَّ وَالماَلَ مَعَ الدِّيْنِ

“Siapa yang menikah karena menginginkan kehormatan maka dia akan hina. Siapa yang menikah karena cari harta maka dia akan menjadi miskin. Namun siapa yang menikah karena agamanya maka akan Allah kumpulkan untuknya harta dan kehormatan di samping agama”.

Kemudian beliau mulai bercerita, “Kami adalah empat laki-laki bersaudara, Muhammad, Imron, Ibrahim dan aku sendiri. Muhammad adalah kakak yang paling sulung sedangkan Imron adalah bungsu. Sedangkan aku adalah tengah-tengah. Ketika Muhammad hendak menikah, dia berorientasi pada kehormatan. Dia menikah dengan perempuan yang memiliki status sosial yang lebih tinggi dari pada dirinya. Pada akhirnya dia jadi orang yang hina. Sedangkan Imron ketika menikah berorientasi pada harta. Karenanya dia menikah dengan perempuan yang hartanya lebih banyak dibandingkan dirinya. Ternyata, pada akhirnya dia menjadi orang miskin. Keluarga istrinya merebut semua harta yang dia miliki tanpa menyisakan untuknya sedikitpun. Maka aku penasaran, ingin menyelidiki sebab terjadinya dua hal ini.

Tak disangka suatu hari Ma’mar bin Rasyid datang. Kau lantas bermusyawarah dengannya. Kuceritakan kepadanya kasus yang dialami oleh kedua saudaraku. Ma’mar lantas menyampaikan hadits dari Yahya bin Ja’dah dan hadits Aisyah. Hadits dari Yahya bin ja’dah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi” (HR Bukhari dan Muslim).
Sedangkan hadits dari Aisyah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perempuan yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan biaya pernikahannya” (HR Ahmad no 25162, menurut Syeikh Syu’aib al Arnauth, sanadnya lemah).

Oleh karena itu kuputuskan untuk menikah karena faktor agama dan agar beban lebih ringan karena ingin mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di luar dugaan Allah kumpulkan untukku kehormatan dan harta di samping agama. (Tahdzib al Kamal, 11/194-195, Asy Syamilah)
BACA INI, ALLAH AKAN MENGAMPUNI DOSA-DOSAMU


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا أعلمك كلمات إذا قلتهن غفر الله لك وإن كنت مغفورا لك؟ قل

“Maukah ku beritahu beberapa kalimat, yang apabila engkau mengucapkannya maka Allah akan mengampuni dosa-dosamu, meskipun engkau telah diampuni?! Katakanlah :

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْحَكِيْمُ الْكَرِيْمُ، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ السَّمَاوَاتِ السَّبْع،ِ وَرَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Mulia. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Maha Suci Allah. Tuhan langit yang tujuh dan Tuhan Arsy yang agung. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Shahih al-Jaami’ ash-Shaghiir wa Ziyaadatuhu no. 2621)
ALLAH MENOLONG Hamba-NYA SESUAI KADAR HAMBA MENOLONG SAUDARANYA

Memperhatikan urusan orang lain, memikirkan umat Islam secara umum adalah salah satu hal penting terbukanya pertolongan Allah untuk kita.

Dalam berbagai nasihatnya, Rasulullah banyak mengatakan pentingnya orang lain bagi dirinya. Seperti, menghormati tamu, memulyakan tetangga, meringankan urusan saudaranya, dan lain sebagainya.

Terkhusus dalam tulisan ini adalah tentang pentingnya menolong orang lain, karena itu menjadi sebab Allah menolong kita. Besarnya pertolongan Allah, juga melihat seberapa besar kadar pertolongan kita kepada orang lain itu. sebagai hadits di bawah ini dan penjelasannya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Pertolongan Allah akan senantiasa menyertai seorang hamba, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, memberikan penjelasannya:

“Sungguh, Allah pasti menolong hamba-Nya sesuai dengan kadar pertolongan hamba tersebut kepada saudaranya.” (Lihat at-Ta’liqat al-Arba’in an-Nawawiyyah hlm. 119)

Jadi, setelah mengetahui ini, maka tak ada alasan kita masih mengangkat ego, hanya untuk kepentingan diri sendiri, hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, karena itu sama artinya menutup diri dari pertolongan Allah.

Mari kita bantu sekuat dan semampu yang kita miliki, ringankan urusan saudara muslimmu, bantu pekerjaannya, penuhi kebutuhannya, semoga dengan itu semua dan niat Lillah, karena Allah, maka pertolongan Allah akan turun untukmu dan juga untuk keluargamu, aamiin.
INTERAKSI SEORANG MUSLIM BERSAMA ALQURAN


🟢 Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata :

تكفل الله لمن قرأ القرآن وعمل بما فيه أن لا يضل في الدنيا ولا يشقى في الآخرة

“Allah memberikan jaminan kepada hamba yang membaca Al-Quran dan mengamalkannya, untuk tidak sesat di dunia dan tidak celaka di akhirat.”

Miftah Daar as-Sa’adah 1/58

🟢 Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، قَالَ: فَيُشَفَّعَانِ

“Puasa dan Al-Qur’an keduanya akan memberikan syafaatnya kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata : ‘Wahai Rabbku, aku telah mencegahnya dari makanan, minum dan syahwat pada siang hari, maka berilah kewenangan kepadaku untuk memberikan syafa’at kepadanya.’ Dan Al-Qur’an berkata : ‘Wahai Rabbku, Aku telah menahannya dari tidur pada malam hari, maka berilah kewenangan kepadaku untuk memberikan syafaat kepadanya.’ Maka puasa dan Al-Qur’an itu diberi izin untuk mensyafa’ati hamba tersebut.”

(HR. Ahmad no. 6626 di shahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 3882)
*HIDAYAH MEMANG MILIK ALLAH*

Subhaanallah, salah satu tanda kekuasaan Allah adalah dalam memberi hidayah orang yang dikehendaki dan membiarkan sesat orang yang dikehendaki.

Sebuah kisah sejarah yang patut dikenang, menjelang detik-detik kematian Abu Thalib, paman sekaligus pembela dakwah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ada 3 orang menjenguk Abu Thalib, yaitu Abdullah bin Abu Umayyah, Abu Jahl dan al-Musayyib,mereka semuanya adalah kafir Quraisy.

Tapi lihatlah bagaimana Allah memberikan hidayah kepada Abdullah bin Abu Umayyah, padahal dahulu saat ia menjenguk Abu Thalib, setiap kali Nabi berkata kepada Abu Thalib,"Ucapkanlah *Laa Ilaaha Illallah*, beliaulah yang membantah Nabi. Hingga akhirnya Abu Thalib meninggal di atas agama nenek moyangnya.

Namun ALlah berkehendak lain. Abdullah bin Abu Umayyah mendapatkan hidayah Islam beserta al_Musayyib. Sedangkan Abu Jahl, yang Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebut sebagai Fir'aunnya umat ini, tetap mati di atas kekafiran.

Ini termasuk keajaiban dalam hidayah. Seorang laki-laki yang selalu membantah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, agar Abu Thalib meninggal di atas agama nenek moyangnya, Allah Rabb semesta alam menghendaki dirinya untuk mendapatkan hidayah Islam. Itulah Abdullah bin Abu Umayyah.

Hidayah itu memang milik ALlah dan ada di tangan ALlah subhanahu wa ta'alaa. Nabi pun tak mampu membantu pamannya untuk mendapatkan hidayah ALlah, sebagaimana firmanNya:

اِنَّكَ لَا تَهۡدِىۡ مَنۡ اَحۡبَبۡتَ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهۡدِىۡ مَنۡ يَّشَآءُ‌ؕ وَهُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُهۡتَدِيۡنَ
*_Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk._* (QS.al-Qasas:56)

Allahpun mempertegas sisi kemanusiaan NabiNya, bahwa kewajiban Nabi hanyalah menyampaikan risalah Allah, sedangkan hidayah adalah urusan ALlah:

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
*_Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya._* (QS. Al-Baqarah: 272)


*_Fityatun Community_*
PENGHALANG DOA

Dalil bahwa do’a dengan hati yang lalai sebab do’a sulit terkabul,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai." (HR. Tirmidzi no. 3479, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)


Dalil pengaruh makanan yang haram terhadap do’a,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?“ (HR. Muslim no. 1015)
*DOAN MOHON AMPUNAN ALLAH LENGKAP*

اللهم اغْفِرْلِي خَطَئي وجَهْلِي وإِسْرَافِي فِي أَمْرِي ومَا أَنْت أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي
اللهم اغْفِرْلِي جِدِّي وهَزْلِي وَخَطَئي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي
اللهم اغْفِرْلِي مَاقَدَّمْتُ ومَا أخَّرْتُ ومَا أسْرَرْتُ ومَاأَعْلَنْتُ ومَا أَنْت أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي
أَنْتَ المُقَدِّمُ وأَنْتَ المُؤَخّرُ وأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

(HR. Bukhari Muslim)
*ALLAH MAHA PENGAMPUN, SEGERALAH BERTAUBAT*

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.

“Dan orang-orang yang, apabila berbuat keji atau menganiaya diri sendiri, mengingat Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa, kecuali Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” [Ali ‘Imran: 135]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا.

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, (tetapi) kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An-Nisa`: 110]