BERILMU DENGAN BUKU
63 subscribers
738 photos
27 videos
20 files
532 links
Channel edukasi seputar Aqidah, Ibadah, Muamalah, Pengembangan diri dan Keluarga, Bisnis, Marketing dan Rekomendasi Buku
Download Telegram
*MENGHADIAHKAN PAHALA UNTUK ORANGTUA YANG SUDAH WAFAT*


Syarat menghadiahkan pahala untuk orang yang telah wafat harus ada contoh valid dari Nabi shallallahu'alaihi wa sallam yang membolehkannya.

Kenapa? karena yang namanya ibadah itu harus ittiba' (mengikuti) Nabi shallallahu'alaihi wa sallam.

Telah diriwayatkan dalam hadits Abi Rajin bahwasanya Nabi shallallahu'alaihi wa sallam berkata kepadanya:
حُجَّ عَنْ أَبِيْكَ وَاعْتَمِرَ
*_Hajikanlah bapakmu dan umrohkanlah_*.

Hadits ini menunjukkan bolehnya menghadiahkan pahala umroh untuk orang wafat dan orang-orang lemah. Di antaranya mengirim pahala unroh di bulan Ramadhan.

Barangsiapa yang mengerjakannya, ia mendapatkan 3 pahala sekaligus:

1. Pahala umroh. Karena barangsiapa yang menjadi sebab pahala orang lain, maka ia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. Maka anak yang mengumrohkan orangtuanya mendapatkan pahala umroh.

2. Pahala Birrul walidain, pahala silaturrahim atau berbuat ihsan kepada shahabat, dan lain-lain.

3. Pahala amal shalih. Ketika kamu pergi ke Mekkah, kamu akan mendapatkan pahala yang setara dengan 100 kali sholat. Saat thawaf tentu kamu akan berdoa plus mendapatkan pahala dari berdoa, belum lagi pahala-pahala umroh yang lain.


~ _Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri_ ~
“Islam Ragu-ragu” versi Rektor UIN Yogya
Oleh: Adian Husaini


Di kalangan akademisi muslim Indonesia, nama Prof. Dr. M. Amin Abdullah tidak asing lagi. Selain menjabat sebagai rektor Universitas Islam Negeri Yogyakarta (dulunya IAIN Yogya), dia juga pernah menjabat posisi penting di PP Muhammadiyah, sebagai Ketua Majlis Tarjih dan Pemikiran Islam. Tetapi, dalam Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang, tahun 2005, namanya terpental dari jajaran pimpinan pusat Muhammadiyah.

Dia berlatar belakang pendidikan bidang filsafat Islam. Lulus PhD dari Department of Philosophy, Faculty of Art and Sciences, Middle East Technical University (METU), Ankara, Turki, tahun 1990.

Sebagai akademisi dan penulis, tulisan Amin Abdullah tersebar di berbagai buku, jurnal, dan media massa.

Bidang yang sering ditulisnya terutama masalah filsafat dan epistemologi Islam. Tapi, karena sangat gencar mempromosikan penggunaan hermeneutika dalam penafsiran Al-Qur’an, dia kadang kala juga dijuluki “Bapak Hermeneutika Indonesia”.

Komitmennya dan kegigihannya dalam mempromosikan hermeneutika sebagai metode “tafsir baru” pengganti metode tafsir al-Quran yang klasik, tampak dalam berbagai tulisannya tentang hermeneutika.

Di UIN Yogyakarta, penggunaan metodologi hermeneutika dalam tafsir Al-Qur’an memang sangat digalakkan, sampai-sampai seorang mahasiswa yang bermaksud mengritik metode ini mengaku “akan membentur tembok”.
Di samping mempromosikan hermeneutika, Amin Abdullah tentu saja harus melakukan kritik terhadap metode tafsir Al-Qur’an. Ia menulis dalam sebuah pengantar untuk buku tentang hermeneutika, bahwa “tafsir-tafsir klasik Al-Quran tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan umat Islam.”

Penulis buku itu pun dengan semena-mena mengecam tafsir-tafsir klasik, tanpa data dan analisis yang memadai, dimana letak kekurangan dan ketidakberesan tafsir-tafsir klasik.

Ditulis dalam buku ini: “Apalagi sebagian besar tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini, sadar atau tidak, telah turut melanggengkan status quo, dan kemerosotan umat Islam secara moral, politik, dan budaya.” (Lihat, Ilham B. Saenong, Hermeneutika Pembebasan, 2002, hal. xxv-xxvi, 10).

Kecurigaan terhadap mufassir dan para ulama Islam juga tak luput dari goresan tangan Abdullah. Di dalam tulisannya yang lain, Amin Abdullah mengajak pembaca untuk mencurigai ilmu-ilmu keagamaan, tanpa membedakan antara ilmu keagamaan dalam Islam, dengan ilmu keagamaan yang muncul dalam tradisi peradaban Barat yang berlatar belakang sejarah Yahudi dan Kristen. Ia tulis, misalnya:
“Dari studi empiris-historis terhadap fenomena keagamaan diperoleh masukan bahwa agama sesungguhnya juga sarat dengan berbagai “kepentingan” yang menempel dalam ajaran dan batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan itu sendiri.” (Pengantar buku Metodologi Studi Agama, 2000, hal. 2)

Bagi mahasiswa baru dalam bidang studi Islam, pernyataan-pernyataan profesor dan rektor sebuah kampus berlabel Islam semacam itu, bisa jadi melenakan. Sebab, kata-kata yang ditebar cukup halus. Para ulama dan ilmuwan keagamaan, apa pun agamanya, adalah manusia biasa. Karena itu, mereka pasti punya kepentingan dengan ilmu-ilmu nyang disusunnya.

Sepintas, kata-kata Amin Abdullah itu logis. Padahal, jika didalami, ada kekeliruan mendasar dalam cara berpikir, karena metodologi “gebyah uyah” (serampangan) dalam menyamakan antara tradisi keilmuan Islam dengan tradisi keilmuan Barat.

Di dalam Islam, ada tradisi penyatuan antara ilmu dengan amal. Ada konsep “fasiq”, dimana seorang yang –meskipun berilmu tinggi– tetapi berbuat jahat, dapat terkena kategori fasiq, dan karena itu, periwayatan dan beritanya perlu diklarifikasi.
Jika dia fasiq, maka sebagian ulama melarangnya menjadi saksi di dalam pernikahan atau pengadilan.
Di dalam ilmu hadis, ada ilmu Jarah wa Ta’dil, yang secara terbuka membeberkan sifat-sifat buruk perawi hadits, seperti pembohong, dan sebagainya. Karena itu, di dalam tradisi keilmuan Islam, kita akan menjumpai ilmuwan-ilmuwan yang sangat tinggi ilmunya, sekaligus juga sangat shalih dalam beragama. Itu bisa kita jumpai pada Imam-imam mazhab, Imam Bukhari, Imam al-Ghazali, Ibnu Taymiyah, dan sebagainya. Mereka bukan hanya ilmuwan, tetapi juga mujahid dan ahli ibadah.

Tradisi seperti itu tidak terjadi dalam sistem keilmuan di Barat yang sekular. Di dalam tradisi ilmu yang berakar pada tradisi keilmuan Yunani, ada pemisahan antara orang pintar dan orang saleh.

Banyak ilmuwan pintar dan dihormati oleh masyarakatnya, meskipun amalnya bejat. Seorang ilmuwan di Barat, tetap dianggap sebagai ilmuwan yang dihormati, meskipun tidak jelas agamanya dan amalan-amalan agamanya.

Paul Johnson, dalam bukunya “Intellectuals” (1988), memaparkan kehidupan dan moralitas sejumlah ilmuwan besar yang menjadi rujukan keilmuan di Barat dan dunia
internasional saat ini, seperti Ruosseau, Henrik Ibsen, Leo Tolstoy, Ernest Hemingway, Karl Marx, Bertrand Russel, Jean-Paul Sartre, dan beberapa lainnya. Ruosseau, misalnya, dicatatnya sebagai “manusia gila yang menarik” (an interesting madman).

Pada tahun 1728, saat berumur 15 tahun, dia bertukar agama menjadi Katolik, agar dapat menjadi peliharaan Madame Francoise-Louise de Warens. Ernest Hemingway, seorang ilmuwan jenius, tidak memiliki agama yang jelas. Kedua orang tuanya adalah pengikut Kristen yang taat. Istri pertamanya, Hadley, menyatakan, ia hanya melihat Hemingway sembahyang selama dua kali, yaitu saat perkawinan dan pembaptisan anaknya.

Untuk menyenangkan istri keduanya, Pauline, dia berganti agama menjadi Katolik Roma. Kata Johnson, dia bukan saja tidak percaya kepada Tuhan, tetapi menganggap ‘organized religion’ sebagai ancaman terhadap kebahagiaan manusia. (He not only did not believe in God, but regarded organized religion as a menace to human happiness).

Sebagai ilmuwan, seyogyanya Rektor UIN Yogya itu memberikan klarifikasi dan penjelasan yang bertanggung jawab terhadap tulisannya, bahwa “Dari studi empiris-historis terhadap fenomena keagamaan diperoleh masukan bahwa agama sesungguhnya juga sarat dengan berbagai “kepentingan” yang menempel dalam ajaran dan batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan itu sendiri.”

Jika dia katakan, agama –termasuk Islam– adalah sarat dengan berbagai kepentingan yang menempel pada ajaran dan batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan, maka dia harus menjelaskan, apa kepentingan Sayyidina Utsman menghimpun Mushaf Al-Qur’an, apa kepentingan Imam Bukhari mengumpulkan dan menyeleksi hadits-hadits Nabi, apa kepentingan Imam Syafii menulis Kitab Risalah? Apakah kita harus mencurigai tindakan keilmuan sahabat-sahabat Rasulullah dan ulama-ulama Islam yang begitu besar jasanya terhadap pengembangan keilmuan Islam, sehingga kita harus menyatakan, bahwa mereka semua pasti punya kepentingan.

Apakah kita tidak bisa berprasangka baik terhadap mereka, dan mengakui keikhlasan dan jasa mereka yang luas biasa dalam menyusun ilmu-ilmu agama (ulumuddin)?
Metode studi Islam yang –maaf, sok– bersikap kritis ini bisa pada akhirnya berdampak kepada keragu-keraguan pada para pelajar dan mahasiswa.

Mereka yang belajar Islam dengan cara-cara seperti ini, bukan tidak mungkin akan terjebak pada keraguan dan ketidakyakinan terhadap ajaran agamanya sendiri.

Akhirnya, dari metode ini bisa lahir sarjana-sarjana yang justru rajin menghujat agamanya, ragu dengan kebenaran agamanya, dan bahkan memusuhi agamanya. Orang yang belajar ushuluddin (dasar-dasar agama), bukannya semakin yakin dengan agamanya, tetapi bisa jadi malah “ucul”-“din”nya (agamanya lepas).

Tidak sedikit para sarjana syariah lulusan perguruan tinggi Islam, yang akhirnya justru gigih menentang dan aktif menulis artikel yang menghancurkan dan menghina syariat Islam.
Kita sungguh tidak habis mengerti, misalnya, bagaimana dari sebuah kampus berlabel Islam, seperti UIN Yogya, bisa muncul tesis master yang justru menghujat Al-Qur’an, dan menyatakan, bahwa “Mushaf itu tidak sakral dan absolut, melainkan profan dan fleksibel. Yang sakral dan absolut hanyalah pesan Tuhan yang terdapat di dalamnya, yang masih dalam proses pencarian.

Karena itu, kini kita diperkenankan bermain-main dengan Mushaf tersebut, tanpa ada beban sedikitpun, beban sakralitas yang melingkupi perasaan dan pikiran kita.” (Lihat buku: “Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan” (2004), hal. 123)

Penulis tesis itu dan juga para dosen serta rektor kampus itu seolah-olah tenang-tenang saja dengan fenomena semacam itu, dan tidak takut dengan akibat yang ditimbulkan jika ada orang yang terpengaruh dengan ide sesat itu.

Apakah mereka tidak takut dengan dosa jika ada yang kemudian meragukan kebenaran Al-Qur’an, karena membaca tesis yang sudah dibukukan itu? Jika orang sudah meragukan kebenaran Al-Qur’an, lalu bagaimana dia bisa beriman dan meyakini rukun iman yang disebutkan dalam Al-Qur’an, seperti Malaikat, Hari Kiamat, dan sebagainya?

Penanaman keragu-raguan terhadap Islam bagi mahasiswa Muslim tampaknya kini banyak dilakukan oleh para dosen-dosennya sendiri. Dan itu bukan hal yang aneh, jika kita menyimak tulisan lain dari Amin Abdullah, Sang Rektor. Dalam pengantarnya untuk sebuah buku berjudul “Hermeneutika Al-Quran” (2005), Amin secara gamblang menulis, bahwa:
“Dengan sangat intensif hermeneutika mencoba membongkar kenyataan bahwa siapa pun orangnya, kelompok apapun namanya, kalau masih pada level manusia, pastilah “terbatas”, “parsial-kontekstual pemahamannya”, serta “bisa saja keliru”.
Cara berpikir Amin seperti itu sama saja dengan membongkar sistem keilmuan dalam Islam. Sebab, tidak ada lagi pemikiran yang bersifat pasti dan qath’iy.

Tidak ada tafsir yang tetap dan pasti kebenarannya. Semua terbatas dan bisa saja keliru. Juga, tidak ada lagi konsep ‘tawatur’, berita yang dipastikan kebenarannya. Kita bisa mempertanyakan kepada Rektor UIN Yogya itu, bagaimana dengan konsep “keadilan para sahabat” dan ijma’ sahabat? Pengumpulan Mushaf Utsmani adalah berdasarkan ijma’ sahabat.
Dengan cara berpikir Amin Abdullah, maka bisa saja pengumpulan Al-Qur’an itu keliru. Sebab, para sahabat Rasulullah itu adalah manusia dan kumpulan manusia. Dan selama mereka pada level manusia, maka mereka “bisa saja keliru”.

Jadi, ijma’ para sahabat Rasulullah saw itu – menurut cara berpikir Rektor UIN Yogya – bisa saja keliru.
Cara berpikir semacam itu bisa kita katakan sebagai bentuk ‘Islam ragu-ragu’. Islam yang serba tidak pasti. Tidak ada kebenaran yang pasti.
Itulah tugas hermeneutika. Malah, lanjut Sang Rektor lagi, tugas hermeneutika itu berseberangan dengan keinginan egois hampir semua orang untuk “Selalu Benar”.

Tidak mengherankan, katanya, jika kemudian kehadiran hermeneutika sebagai salah satu disiplin kajian yang mencermati proses epistemologis-ontologis pemahaman manusia banyak mendapat tantangan. Dan tentangan paling keras terhadap hermeneutika muncul dari ranah agama-agama yang harus diakui merupakan ladang paling subur bagi lahirnya “Klaim Kebenaran”.

Itulah kata-kata Sang Rektor UIN Yogya, yang sangat membanggakan hermeneutika sebagai metodologi pemahaman Al-Qur’an, yang menurutnya mampu membongkar hal-hal yang selama ini dianggap sebagai satu bentuk kepastian.

Dengan cara berpikir Rektor seperti itu, maka kita tidak heran, jika dari kampus berlabel Islam itu lahir sarjana-sarjana versi ‘Islam ragu-ragu’, alias golbin (golongan bingung) yang tidak pernah meyakini kebenaran Islam.
Tentu kita patut kasihani manusia-manusia seperti ini. Meskipun, kita tidak perlu risau dengan ulah mereka.
Biarlah yang bingung bangga dengan kebingungannya sendiri. Kita ingatkan mereka, mudah-mudahan mereka sadar. Kita yang sudah menemukan kebenaran, kewajiban kita adalah meyakini kebenaran itu, dan berusaha menegakkannya. Dan Allah SWT sudah mengingatkan kita:
“Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah engkau menjadi golongan orang-orang yang ragu.” (QS Al Baqarah:147). Wallahu a’lam. (Jakarta, 28 Oktober 2005/hidayatullah.com).
Buku Lathaiful Maarif Agenda Ibadah Muslim Dalam Setahun


Penulis: Ibnu Rajab Al-Hanbali
Penerbit: Al-Qowam Ukuran: 17,5 cm x 25 cm
Cover: Hard Cover
Berat: 1.500 Gram
Tebal: 654 halaman
Harga: Rp. 179.900,-

Resensi:
Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam dan shalawat serta salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Buku ini Buku Lathaiful Maarif Agenda Ibadah Muslim Dalam Setahun , Buku karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali ini sarat dengan pesan dan nasihat untuk meneladani sunnah-sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam yang beliau lakukan sepanjang tahun baik yang pelaksanaannya bersifat harian, mingguan, bulanan, maupun yang tahunan.
Semuanya mempunyai nilai keutamaan sesuai dengan waktu pelaksanaannya masing-masing.
Buku ini ibarat nasehat sepanjang masa, karena mengupas amalan-amalan sunnah selama selama setahun menurut penanggalan hjriyah, yakni mulai bulan muharram hingga dzul hijjah. Namun dari kedua belas bulan tersebut, ada tiga bulan yang tidak masuk bab pembahasan(Rabiul akhir, Jumadil Ula, dan Jumadil Akhir) karena tidak adanya amalan khusus yang berkaitan dengan bulan tersebut.

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali Rahimahullah telah memudahkan umat Islam dengan menulis buku ini, agar dapat menjadi acuan bagi siapa saja dalam mencari bekal guna menyongsong akhirat, sekaligus sebagai persiapan menghadapi kematian.

Semoga Allah menjadikan bagi penulis, penerbit, pengedar dan pembaca buku ini mendapatkan keridhaan dan surga-Nya.
Aamiin.

Pemesanan ke:
wa.me/62895386894755
*Kisah Lucu Orang Mengaku Bertemu Nabi dalam Mimpi*

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, menceritakan bahwa beliau teringat sebuah kisah, seorang jahil bertanya kepada salah seorang gurunya. Ia berkata:

*_Ya syaikh, aku bermimpi bertemu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam._*

Syaikh berkata:
*_Coba ceritakan mimpimu_*.

Orang itu berkata:
*_Aku melihat Nabi dengan tampilan orang yang menyukur jenggot, ia memakai jas dan dasi. Begitu penampilannya_*.

Maka syaikh pun menjelaskan kepadanya kalau orang dalam mimpi itu adalah syaithon dan bukan Nabi. Dan syaikh Abdurrazzaq menambahkan bahwa syaithon tersebut aalah syaithon Eropa.

نسأل الله العافية
*RSI IBNU SINA: INILAH AMANAH DAN CONTOH KETAJAMAN VISI DAKWAH MOHAMMAD NATSIR*

Oleh: Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia)


Hari ini, Jumat (22 Juli 2022), saya mengisi dua acara di Rumah Sakit Islam (RSI) Ibnu Sina, Kota Bukittinggi. Pertama, mengisi pengajian karyawan Rumah Sakit. Dan kedua, menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Asy-Syifa.

Di sela-sela kedua acara itu, saya diajak Direktur Rumah Sakit untuk berkeliling melihat-lihat sejumlah fasilitas dan sejarah perjalanan RSI Ibnu Sina. Ada satu objek menarik: sebuah foto Mohammad Natsir, berlatar belakang serangkaian tulisan berbunyi sebagai berikut: Kepada Yth. Engku-engku Alim Ulama dan pemuka-pemuka masyarakat Islam di Sumatera Barat.
Assalaamu’alaikum w.w. Dengan hormat. Menurut hemat saya, bahwa usaha untuk menghadapi tantangan yang sudah semakin berat terhadap aqidah umat Islam, terutama di Sumatera Barat ini, tidak mencukupi lagi kalau hanya dilakukan dengan cara-cara sebagai selama ini.Kalau cara gerak itu tidak segera kita ubah, dengan membuat amal-amal yang nyata, seperti mendirikan sebuah rumah sakit Islam di daerah ini, dan yang semacam ini, maka suatu kali umat ini akan menghadap kepada kita sendiri.Baiklah pemikiran ke arah usaha ini, engku-engku mulai. InsyaAllah pekerjaan itu nanti kita hadapi bersama-sama. Mudah-mudahan Allah SWT akan membukakan jalan untuk kita. Amin. Wassalam, ttd. M. Natsir.
*****
Surat Pak Natsir itu tertanggal 2 Juli 1968. Dalam tulisan ini, ejaannya sudah disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia. Disebutkan, bahwa surat itu adalah hasil percakapan Pak Natsir dengan HDT Tan Kabasaran, seorang tokoh Islam di Sumatera Barat. Surat inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya RSI Ibnu Sina YARSI Sumatera Barat.

Kini, YARSI Sumatera Barat mengelola enam buah Rumah Sakit. Keenam RSI itu didirikan di era Pak Natsir, yang wafat tahun 1993. RSI Ibnu Sina di Bukittinggi adalah yang pertama didirikan pada tahun 1969. Pada hari Kamis (21/7/2022), saya berkesempatan mengisi pengajian karyawan RSI Ibnu Sina di Kota Padang.

Yang menarik adalah prestasi RSI Ibnu Sina di Bukittinggi yang dikenal sebagai RS terbaik di Kota Bukittinggi. Sejarah RSI Ibnu Sina ini dimulai dengan peresmian Balai Kesehatan YARSI Sumatera Barat oleh Proklamator Mohammad Hatta pada 30 Oktober 1969.
Pada 11 Desember 2019, Komisi Akreditasi Rumah Sakit memberikan sertifikat Akreditasi Rumah Sakit dengan kelulusan tingkat PARIPURNA (Bintang Lima). Kita perlu mencermati pesan Mohammad Natsir kepada para tokoh Islam di Sumatera Barat tersebut: “Kalau cara gerak itu tidak segera kita ubah, dengan membuat amal-amal yang nyata, seperti mendirikan sebuah rumah sakit Islam di daerah ini, dan yang semacam ini, maka suatu kali umat ini akan menghadap kepada kita sendiri.”
Inilah satu contoh visi dakwah yang tajam. Pak Natsir menyampaikan gagasan dan visi dakwah yang antisipatif ke masa depan. Bahwa, dakwah bukan hanya dilakukan dalam bentuk ceramah atau tulisan, tetapi perlu juga dilakukan dalam bentuk ‘dakwah bil hal’; dalam bentuk amal yang nyata. Alhamdulillah, visi Pak Natsir itu telah menampakkan hasil yang wajib disyukuri.
*****
Dalam kajian untuk para karyawan, saya mengingatkan pesan-pesan penting Pak Natsir agar umat Islam tidak cepat puas atau berpuas diri dengan apa yang telah dihasilkan. Tahun 1951, Pak Natsir menulis artikel berjudul: “Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut.” Begini antara lain pesan Pak Natsir: ”Saudara baru berada di tengah arus, tetapi sudah berasa sampai di tepi pantai. Dan lantaran itu tangan saudara berhenti berkejauh, arus yang deras akan membawa saudara hanyut kembali, walaupun saudara menggerutu dan mencari kesalahan di luar saudara.
Arus akan membawa saudara hanyut, kepada suatu tempat yang tidak saudara ingini... Untuk ini perlu saudara berdayung. Untuk ini saudara harus berani mencucurkan keringat.
Untuk ini saudara harus berani menghadapi lapangan perjuangan yang terbentang di hadapan saudara, yang masih terbengkelai... Perjuangan ini hanya dapat dilakukan dengan enthousiasme yang berkobar-kobar dan dengan keberanian meniadakan diri serta kemampuan untuk merintiskan jalan dengan cara yang berencana.”
Pada kesempatan lain, Pak Natsir juga mengingatkan, agar umat Islam benar-benar seriusuntuk menghindarkan diri dari penyakit cinta dunia yang berlebihan: ”Salah satu penyakit bangsa Indonesia, termasuk umat Islamnya, adalah berlebih-lebihan dalam mencintai dunia.

Di negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang ”baru”, tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa Orde Lama (kecuali pada sebagian kecil elite masyarakat).

Tetapi, gejala yang ”baru” ini, akhir-akhir ini terasa amat pesat perkembangannya, sehingga sudah menjadi wabah dalam masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan saja umat Islam akan dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol, tetapi bagi bangsa kita pada umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup serius.”

Alhamdulillah, kunjungan hari kedua di Sumatera Barat ini sangat berkesan. Kita bersyukur, para tokoh dakwah di Sumatera Barat mampu mewujudkan amanah Mohammad Natsir dalam bidang dakwah melalui bidang kesehatan ini.

Tentu saja, dalam setiap keberhasilan perjuangan, senantiasa muncul tantangan baru. Semoga dakwah Islam di Sumatera Barat akan terus berlangsung dengan baik. Aamiin. (Padang Panjang, 22 Juli 2022).
بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

*Assalaamu'alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh*

*_Maukan Jadi Orang Tua Bahagia_*

💓Penulis : dr.Aisyah Dahlan, CHt., CM.NLP
💓Ukuran : 23,5 x 15,5

💓Berat Buku 350gr
💓204 Halaman
💓Hardcover
💓*Harga Pre Order: Rp. 169.000* 💓*Pre Order Hingga 31 Agustus 2022*


Alasan Kenapa Bunda Harus Segera Punya Buku Ini 💜

🧕MAUKAH JADI ORANG TUA BAHAGIA?🧕

Ditulis Oleh Pakar Neoparenting

Gak banyak orang sadar, jika buku ini sebagai panduan Ayah Bunda saat memasuki fase menjadi orangtua. KARENA, isinya berdasar teori ilmiah, ilmu psikologi dan didukung dari hadist shahih. Sehingga sangat dipercaya kebenarannya !

Asli 100 % Buku Original

Jangan salah pilih lagi Bun, ini satu-satunya buku yang diterbitkan langsung oleh penulis. Sehingga pasti awet gak mudah rusak dan terpercaya !!

🌸Bahasa Mudah Dipahami

🌸Tulisan yang ringan dan mudah dipahami, Gaya tuturnya yang khas; ringan dan renyah, sangat dekat dengan contoh keseharian. Sehingga terasa begitu asyik dinikmati alurnya

🌸Praktis Tanpa Ribet Tak perlu ragu, Bunda cukup buka lembaran buku, pilih bab yang ingin Bunda baca sesuai masalah Bunda. Insyaalah langsung ketemu solusinya. Pastinya praktis bisa Bunda bawa kemana-mana

MasyaAllah sangat istimewa bukan ?🥰

Yuk langsung dapatkan buku ini sekarang juga, Harga sangat TERJANGKAU 🥳

*Harga Pre Order: Rp. 169.000*
*Pre Order Hingga 31 Agustus 2022*
Perkiraan Ready 10 September 2022
📲 Japri sekarang !!!
BEKAL MENUJU PERSINGGAHAN AKHIRAT

👤 Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata:

من مات فقد قامت قيامته

“Barangsiapa yang meninggal dunia maka telah tegak hari kiamatnya” (binbaz.org.sa/old/3370)

👤 Seorang Penyair berkata :

تزود من التقوى فإنك لا تدري إذا جن ليل هل تعيش إلى الفجر.. وكم من صحيح مات من غير علة وكم من عليل عاش حينا من الدهر.. فكم من فتى أمسى وأصبح ضاحكا وقد نسجت أكفانه وهو لا يدري..

“Berbekallah dengan ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahu, jika tiba malam hari apakah engkau masih bisa hidup hingga esok hari… Betapa banyak orang yang sehat kemudian meninggal dunia tanpa didahului rasa sakit, dan betapa banyak orang yang sakit parah yang disangka akan meninggal dunia ternyata masih diberi umur oleh Allah… Betapa banyak pemuda yang tertawa di pagi dan petang hari, padahal kafan mereka sedang ditenun dalam keadaan mereka tidak sadar…”

🟤 Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ

“Sesungguhnya kuburan adalah awal dari persinggahan akhirat, jika selamat darinya maka yang setelahnya akan lebih mudah, dan jika tidak selamat maka yang setelahnya lebih berat darinya. (HR. Ibnu Majah 4267)

🔴 Allah Ta’ala berfirman :

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

_________________________
*HADIAH TERBAIK UNTUK SEMUA ORANG*


Kebaikan terbesar yang bisa engkau berikan kepada manusia dalah mengajaknya kepada Allah. Mendekatkan hati seseorang kepada ALlah (تَقْرِيبُ القُلُوبِ إِلَى اللهِ) dan membuatnya mencintai Allah (تَحْبِيبُ عِبَادِالله فِي الله)
adalah kebaikan yang paling agung.

Ketika Allah menyelamatkan seseorang dari kesesatan, ketika ALlah memberikannya hidayah lewat dirimu, ketika engkau mengajak orang yang jauh dari Rabbnya, ia enggan menaatiNya, lalu engkau ajak hatinya menuju ALlah, setiap kali ia melaksanakan sholat menghadap Allah, engkau pun akan mendapatkan pahala yang sama.

Setiap kali ai melakukan kebaikan apapun, engkau pun akan mendapatkan pahala yang sama sepertinya.

Nabi bersabda:
أَنَّهُ يُقَامُ ِللرَّجُلِ يَوْمَ القِيَامَةِ دِيوَانُهُ. فَتَأْتِي أَعْمالٌ كالغَمَاماتِ فَيَقُولُ يَارَبِّي مَاهَذَا؟ فَيُقَالُ سُنَنٌ هَدَيْتَ إِلَيْكَ كَانَ لَكَ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا
*_Pada hari kiamat nanti, ada seseorang yang diberikan catatan amalnya, ia mendapati amalannya sangat banyak bagaikan awan di langit. Duhai Rabbku, dari mana datangnya amalan ini? itu adalah sunnah-sunnah yang engkau ajarkan kepada orang lain. Engkau mendapatkan pahala yang sama dengannya._* (Hadits Shahih)
*Amalan yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah*

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata :

بر الوالدين من أعظم القربات ومن أفضل الطاعت، ومن أسباب تفريج الكروب وتيسير الأمورج

“Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) merupakan amalan qurbah (amalan yang dapat mendekatkan kepada Allah) yang paling Agung, ketaatan yang utama, sebab yang dapat menjadikan dilapangkannya kesulitan dan dimudahkannya suatu urusan.”

Fatawa Nur Ala Ad Darb 2/122

Kita sangat butuh untuk khusyu'. Tidak mampu untuk khusyu' adalah kerusakan agama yang hendaknya diperbaiki oleh seorang hamba.