BERILMU DENGAN BUKU
63 subscribers
738 photos
27 videos
20 files
532 links
Channel edukasi seputar Aqidah, Ibadah, Muamalah, Pengembangan diri dan Keluarga, Bisnis, Marketing dan Rekomendasi Buku
Download Telegram
*Mengukur Kadar Keshalihan Diri Sendiri*


JIka seseorang merasakan hatinya khusyuk saat mendengarkan firman Allah. Ia selalu rindu untuk mendengarkan al Quran, berusaha mengambil manfaat dan mengamalkan al Quran. Maka ia adalah orang yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah. Ia adalah orang yang paling sempurna keshalihannya.

Tapi jika seseorang merasakan hatinya lalai dari firman Allah. Sama saja baginya mendengarkan firman Allah dan perkataan orang lain. Hatinya tidak khusyuk dan tidak terpengaruh saat membaca al Quran. Dari kelalaian tersebut, ia mengetahui berapa kadar kerusakan hatinya.

Ibnu Rajab Al-Hambaly rahimahullah berkata :

إذا كان الإنسان تسوؤه سيئته ويعمل لأجلها عملا صالحا، كان ذلك دليلا على إيمانه.

“Jika seseorang merasa sedih karena dosanya dan dia beramal shalih untuk menghapusnya, maka itu merupakan bukti atas keimanannya.”

Fathul Bary, jilid 3 hlm. 28
*BIANG KECELAKAAN DI AKHIRAT*


Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang apa amalan yang terbanyak menyebabkan manusia masuk al-jannah (surga)?

Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.”

Beliau shallallahu alaihi wasallam juga ditanya tentang apa perkara terbanyak yang menyebabkan manusia masuk an-Nar (neraka)?

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mulut dan kemaluan.”

🟢 HR. At-Tirmidzi no. 2004
*Agar Hati dekat dengan Allah*


Salah satu sebab agar hati menjadi baik dan istiqomah di atas kebaikan adalah dengan bersahabat dengan orang-orang baik, para ulama dan orang-orang shalih.

Merenungi perkataan mereka dan mengambil manfaat dari nasihat mereka. Begitu juga dengan semangat untuk selalu mendengarkan kajian ilmu. Dengan begitu Allah akan memperbaiki kerusakan hatinya.

Karena ALlah menjadikan hati hidup dengan mengingatNya. Oleh karenanya, orang yang berusaha mengisi waktunya dengan nasihat dan majelis ilmu.

Engkau akan melihatnya sangat dekat dengan Allah. Hatinya lebih dekat dengan ALlah daripada orang yang tidak demikian.

Karenanya Allah mensyariatkan hamba-hambaNya yang beriman, untuk mendengarkan nasihat dan peringatan sekali sepekan.

Allah mensyariatkan hambaNya yang beriman untuk pergi sholat jumat, agar ia bisa membersihkan kotoran-kotoran hatinya. Agar ia bisa bangun dari tidurnya dan sadar akan kelalaiannya dan agar hatinya ingat kepada Allah.
DOA MEMOHON HIDAYAH


Allah Ta’ala yang maha sempurna rahmat dan kebaikannya, memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk selalu berdoa memohon hidayah taufik kepada-Nya, yaitu dalam surah Al Fatihah:

{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}

“Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus”.

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Doa (dalam ayat ini) termasuk doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi manusia, oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk berdoa kepada-Nya dengan doa ini di setiap rakaat dalam shalatnya, karena kebutuhannya yang sangat besar terhadap hal tersebut”

Dalam banyak hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita doa memohon hidayah kepada Allah Ta’ala. Misalnya doa yang dibaca dalam qunut shalat witir:

(( اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْت))

“Ya Allah, berikanlah hidayah kepadaku di dalam golongan orang-orang yang Engkau berikan hidayah”
*BERDOALAH DI WAKTU MUSTAJAB INI*

Perhatikan firman Allah berikut ini:
كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا الۡمِحۡرَابَۙ وَجَدَ عِنۡدَهَا رِزۡقًا ‌ۚ‌ قَالَ يٰمَرۡيَمُ اَنّٰى لَـكِ هٰذَا ؕ‌ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ يَرۡزُقُ مَنۡ يَّشَآءُ بِغَيۡرِ حساب
*_Setiap Zakaria masuk menemui Maryam di Mihrab, ia dapati di sisinya makanan. Ia berkata," Hai Maryam, dari mana engkau memperoleh (makanan) ini?". Maryam menjawab,"Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah yang memberi rezeki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab"._*(QS. Ali Imran:37)

Tatkala Zakaria mengamati kejadian ini, iapun tersentuh, di Mihrab tersebut saat melihat karunia ALlah ia segera berdoa kepada Allah:
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗ‌ ‌ۚ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِىۡ مِنۡ لَّدُنۡكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً‌ ‌ ۚ اِنَّكَ سَمِيۡعُ الدُّعَآءِ
Di sanalah Zakaria berdoa kepada RabbNya seraya berkata, *Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha mendengar doa*. (QS. Ali Imran:38)

Sebagian ulama berkomentar sesungguhnya keadaan ini termasuk keadaan-keadaan dikabulkannya doa, yaitu ketika kamu melihat nikmat saudaramu muslim, maka berdoalah karena ini termasuk keadaan terkabulnya doa. Ketika engkau mendengar bahwa Fulan mendapatkan rezeki, kebaikan, maka berdoalah kepada ALlah. Mintalah untuknya taufiq dan pertolongan dan berdoalah untuk dirimu sendiri. Ini termasuk keadaan mustajab doa. Perhatikanlah firman Allah:
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗ‌
*_Di sanalah Zakaria berdoa kepada Rabbnya_*.

Begitu juga ini dapat menghilangkan penyakit hasad dalam diri.

(Syaikh Sa'ad Al-Khatslan)
*TERJERUMUS DALAM KESESATAN*

Jika kita melihat dan memperhatikan kebanyakan orang zaman ini, yang mana mereka terjatuh ke dalam berbagai bentuk penyimpangan dan kekeliruan dalam aqidah maupun ibadah, maka masalahnya kembali kepada sumber mereka dalam mengambil hukum.

Jika sumber hukumnya salah, maka salah pula hukumnya.

Oleh karenanya, seorang muslim harus semangat untuk mengambil ke sumber hukum yang murni dan putih (al Quran dan sunnah). Dari sumber inilah aqidah, ibadah dan akhlaq diambil. Sehingga agama, aqidah dan ibadahnya kepada Allah berada di atas ilmu yang benar.

Imam al-Ghazaliy rahimahullah berkata :
“Ketahuilah bahwa barang siapa menilai kebenaran melalui sosok seseorang, ia akan kebingungan dalam jurang kesesatan. Kenalilah kebenaran (dari dalil Al-Quran, sunnah dan praktek para shahabat nabi -pen) niscaya engkau mengenal siapa yang benar jika engkau memang benar ingin menempuh jalan kebenaran. Jika engkau beranggapan bahwa keunggulan seseorang cukup untuk menentukan kebenaran, jangan abaikan para Sahabat dan keunggulan mereka. Karena semua sepakat tentang keunggulan mereka. Dalam urusan agama, mereka tak bisa dikejar dan tak tertandingi. Keunggulan mereka bukan karena kata-kata, tetapi karena ilmu akhirat. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, unggul bukan karena banyak melakukan puasa dan shalat, melainkan karena sesuatu yang ada di dalam dadanya.”

📚 Ihyaa’ ‘Uluum ad-Diin, jilid 1, hlm. 23
*PAHALA MENDOAKAN KAUM MUSLIMIN*


Nabi bersabda:
مَنْ اسْتَغْفَرَ لِلمُسْلِمِيْنَ والمُسْلِمَاتِ كاَنَ لَهُ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ حَسَنَةٌ
*_Siapa yang memohon ampun untuk kaum muslimin dan muslimah, maka ia mendapatkan satu kebaikan_*. (HR. Thabrani - Musnad Syamiyyin No.2155)

Perhatikanlah, siapa yang memohonkan ampun untuk kaum muslimin dan muslimah, maka baginya satu kebaikan. Berapa pahala yang bisa kamu dapatkan? jika engkau ucapkan dalam doamu:
اللهم اغفرلِلمُسْلِمِيْنَ والمُسْلِمَاتِ والمُؤْمِنِيْنَ والمُؤْمِنَاتِ أَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ
*Ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimah, kaum mukminin dan mukminah, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal*.

Kalimat yang panjangnya tidak sampai satu baris. Berapa pahala yang bisa kamu raih? coba hitung dari zaman Nabi Adam sampai orang yang masih hidup sekarang. Untuk setiap muslimnya ada satu pahala. Ada jutaan pahala dalam doa itu.

Dan juga ketika kamu mendoakan hidayah, pertolongan, taufiq dan keselamatan untuk kaum muslimin.

Jika doa tersebut berasal dari hatimu, ini menandakan hati dan jiwamu bersih dari kedengkian terhadap saudara muslimmu.
*IBU, AKU INGIN BERBAKTI PADAMU*

Selama jantung ibumu masih berdetak, temui ibumu sebelum nyawanya dicabut. Temui ia sebelum datang tangisan penyesalan untuk setiap detik yang terlewat.

Allah masih memuliakanmu dengan hidupnya ibumu. Carilah ridhonya selama jantungnya masih berdetak. Abaikan tanggapan orang lain.

Carilah ridho Allah 'azza wa jalla, berbaktilah kepada ibumu agar mendapatkan ridho Allah subhanahu wata'ala. Dengan izin Allah 'jalla wa'alaa engkau akan bahagia.

Kami belum pernah bertemu orang yang berbakti kepada orangtuanya, terkhusus ibunya, kecuali pasti ia *sukses dunia akhirat*.

Maka bertaqwalah kepada Allah untuk berbakti kepada ibumu. Carilah keridhoannya. Dengan begitu engkau akan mendapatkan kebaikan dunia akhirat.

نسأل الله الهداية والبركة والسلامة والحياة الطيبة*
Buku Jala’ul Afham - Keutamaan Shalawat Kepada Nabi


Sangat besar sekali keutamaan bershalawat kepada Nabi Muhammad. Deengan satu shalawat saja, akan dibalaslah oleh Allah dengan balasan sepuluh kali shalawat bagi orang yang mengucapkannya. Luar biasa !

Bayangkan jika kita mendapatkan ucapan shalawat dari Allah Ta’ala? Tidak hanya sekali, tapi sepuluh kali? dan ini menjadi bertambah dengan bertambahnya shalawat yag kita lakukan.

Shalawat dapat menjadi sebab sampainya doa seseorang pada Allah ta’ala, karena do’a itu terhenti diantara langit dan bumi, tidak akan sampai pada Allah ta’ala sebelum orang yang berdo’a tersebut bershalawat untuk Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam.

Buku Jala’ul Afham adalah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang membahas mengenai keutamaan shalawat. Dalam buku ini akan terjawab berbagai pertanyaan mendasar tentang shalawat Nabi.

Buku ini akan memaparkan hadits-hadits tentang shlawat Nabi, kapan waktu-waktu di utamakan bershalawat, dan di akhiri dengan ulasan seputar shalawat dan salam untuk selain nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam.

Kelebihan buku ini adalah setiap hadits yang di bahas dilengkapi penjelasan apakah ia termasuk hadits shahih, hasan maupun yang cacat yang dijelaskan juga sebab-sebab kecacatan hadits tersebut.

Harga: Rp. 136.000
Kode: BK1497
Penulis: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
Penerbit: Al-Qowam
Tebal: 718 hlm, Hard Cover
Berat: 1 kg
Ukuran: 15 cm x 23 cm
*AMALAN YANG PALING DICINTAI ALLAH*


Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ

“Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah rasa senang (kebahagiaan) yang kau masukan pada (hati) seorang muslim.” (HR At-Thobroni no. 13646 dan dihasankan oleh Al-Albani)

CATATAN : Ini berlaku jika kita membahagiakan muslim siapapun orangnya, bahkan seorang yang jauh dari kita, bahkan yang tidak ada hubungan kekerabatan dengan kita
*WAFA*


dalam suatu kisah diceritakan, ada 3 orang Arab yang memiliki kekurangan yang berbeda-beda. Yang satu memiliki penyakit kusta dengan kulitnya yang buruk, satu orang lainnya memiliki kepala plontos dengan tidak mampunyai rambut pada kepalanya, dan satu orang lainnya mengalami kebutaan.

Malaikat diutus untuk menguji ketiga orang Arab tersebut. Orang Arab yang pertama, yakni yang memiliki penyakit Kusta, didatangi oleh Malaikat.
Malaikat bertanya, “hal apa yang kamu sangat-sangat inginkan saat ini wahai manusia?”. Tentu dengan kondisi saat ini yang sedang dilanda penyakit kulit, kulit yang bagus dan sehat adalah hal yang selalu diidam-idamkan. Maka orang Arab kusta itu menjawab, “Tentu hal yang sangat kuinginkan saat ini adalah kulit yang sehat dan baik, yang terbebas dari penyakit kusta”. Mendengar jawaban tersebut, malaikat kemudian mengusap kulitnya dan menjadikan orang Arab tersebut bebas dari penyakit kusta.
Lalu Malaikat bertanya kembali, “Lantas harta apa yang engkau inginkan?” . Orang Arab tersebut sontak menjawab, “Unta”. Maklum jika dibandingkan dengan saat ini, unta bisa disamakan dengan mobil, baik harganya ataupun fungsinya. Sama seperti keinginan sebelumnya, malaikat kemudian memberikan satu buah unta yang sedang bunting kepada orang Arab tersebut. Sambil berlalu, Malaikat tersebut berkata, “Semoga Allah memberkahi karunia yang diberikan”.

Malaikat kemudian mendatangi orang Arab kedua, yakni seorang berkepala botak. Sama dengan orang Arab pertama yang memiliki penyakit kusta, Malaikat pun bertanya hal yang sama terhadap orang Arab dengan berkepala botak tersebut, hal apa yang sangat-sangat diinginkan saat ini dan harta apa yang kamu inginkan saat ini. Orang Arab botak ini menjawab, berturut-turut, rambut untuk menutupi kepalanya dan seekor sapi. Malaikat kemudian mengusap kepala orang Arab tersebut, dan tumbuhlah rambut di kepalanya. Tidak lupa juga menganugerahkan seekor sapi yang hamil dan juga mendoakan semoga Allah memberkahi karunia yang diberikan.

Malaikat kemudian mendatangi orang Arab buta. Sama dengan dua orang sebelumnya, Malaikat bertanya mengenai hal yang diinginkan saat ini dan harta apa yang diinginkan. Orang buta itu menjawab, “Aku ingin Allah mengembalikan penglihatanku”. Dan jawaban lainnya, “ Aku ingin seekor Domba”. Kemudian malaikat mengusap matanya, dan kemudian menganugerahkan seekor kambing yang subur. Tak lupa Malaikat mendoakan, semoga Allah memberkahi karunia yang diberikan.

Beberapa lama setelah itu, ketiga orang Arab tersebut memiliki anugerah yang luar biasa dari yang Allah berikan sebelumnya. Hewan ternak yang dianugerahkan kepada mereka semakin banyak karena berkembang biak.

Orang yang dahulu berpenyakit kusta, kini memiliki kulit yang baik, ditambah unta yang banyak dari hasil seekor unta yang diberikan saat itu.
Orang yang dahulu berkepala botak, kini selain memiliki rambut di kepalanya, dari sapi yang hamil, ia juga memiliki sapi yang banyak.
Adapun orang yang buta, selain memiliki penglihatan normal, ia juga memiliki banyak kambing. Saking banyaknya, ketiganya harus mengelola hewan ternaknya pada masing-masing lembah.

Kemudian dengan kondisi sudah makmur tersebut, Malaikat hendak menguji ketiganya.

Untuk mengujinya, malaikat menyamar menjadi seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan dan memiliki penyakit kusta.
Malaikat tersebut mendatangi orang pertama dan bertanya, “Wahai orang Arab, atas karunia Allah yang telah diberikan padamu, yakni kulit yang lebih bagus dariku dan juga harta yang lebih baik dariku, bolehkah aku meminta 1 ekor unta saja untuk meneruskan perjalananku?”. Maka orang Arab yang dahulu berpenyakit kusta tersebut menjawab, “ Sudah terlalu banyak hak orang miskin yang telah saya penuhi. Maaf aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu.” Malaikat yang menyamar tersebut kemudian menjawab “ Bukankah engkau dahulu berpenyakit kusta, lalu kemudian Allah mengaruniakanmu kulit yang baik atas penyakitmu? Bukankau engkau dahulu juga miskin, kemudian Allah menganugerahkan hewan ternak yang banyak kepadamu?”. Sontak orang Arab tersebut menjawab, “ Sungguh semua harta ini adalah peninggalan dari nenek moyangku terdahulu”. Lalu Malaikat itu berkata:
*_Sungguh jika engkau bohong, sesungguhnya Allah akan mengembalikanmu pada kondisi terdahulu dimana engkau berpenyakit kusta dan juga tidak mempunyai apa-apa_*.

Kemudian Malaikat mendatangi orang Arab yang kedua, yang dahulu berkepala botak. Malaikat sama datang dengan menyamar dan bertanya/meminta hal yang sama. Adapun jawaban yang sama didapatkan seperti orang Arab yang dahulu memiliki penyakit kusta. Malaikat pun pergi seraya berkata, *_Sungguh jika engkau bohong, sesungguhnya Allah akan mengembalikanmu pada kondisi terdahulu dimana engkau berkepala botak dan juga tidak mempunyai apa-apa_*.

Malaikat kemudian mendatangi orang Arab yang ketiga, yang dahulu buta. Malaikat sama datang dengan menyamar dan bertanya/meminta hal yang sama. Orang buta itu menjawab, “ Sungguh karunia yang besar yang telah Allah anugerahkan pada saya. Dulu saya buta, kemudian Allah menganugerahkan penglihatan kepada saya. Dulu saya miskin kemudian Allah memberikan anugerah hewan ternak kepada saya. Ambilah semua apa yang engkau inginkan, dan tinggalkanlah apa yang tidak engkau inginkan.”. ”Sungguh Demi Allah saya tidak akan melupakan anugerah yang telah Allah berikan kepada saya”. Malaikat tersebut menjawab, *_Sungguh, Allah telah Ridha kepada-Mu_*.

Kisah diatas adalah contoh dari *sikap wafa* yang seyogyanya harus kita miliki. Dulu kita ndeso, sekarang kita sudah ngota. Dulu kita miskin, kita sekarang sudah kaya.
Dulu kita pengangguran, sekarang kita sudah bisa berpenghasilan. Jangan belagu! Itu adalah anugerah yang telah Allah berikan kepada kita. Sikap apa yang harus dilakukan, syukurkah? Atau sombongkah?

~ _Masjid At-Taqwa Garuda Indonesia_ ~
*MAKNA LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH*


Berikut penjelasan Syech Utsaimin. Beliau mengatakan bahwa makna Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billah adalah *Tidak ada perubahan dari satu keadaan ke keadaan lainnya*.

*Haul* maksudnya adalah perubahan. Yakni, tidak ada satu orangpun yang bisa berubah dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Tidak ada yang mampu untuk itu kecuali dengan izin Allah.

Maksudnya kecuali dengan mengingat Allah dan meminta pertolonganNya.

Oleh karenanya, kita dapati ada orang yang menginginkan sesuatu, kemudian ia berusaha mendapatkannya, namun ia tidak mendapatkannya, karena Allah tidak mengizinkannya.

Kita juga melihat, banyak orang yang menginginkan sesuatu, lalu ia minta pertolongan dan menyerahkan urusannya kepada Allah. Lalu Allah menolongnya dan memberikannya kemudahan.

Sehingga dianjurkan bagi seseorang ketika menjawab azan, saat muadzin mengucapkan *Hayya 'alash sholaah* dan hayya 'alal falaah*, ia mengucapkan Laa haula walaa quwwata illaa billah, artinya bahwa *_Aku tidak mampu dan tidak sanggup berubah dari keadaanku ini, untuk berangkat mengerjakan sholat, kecuali dengan izin Allah 'azza wa jalla.

Jadi ini adalah dzikir minta pertolongan kepada Allah, agar kita mendapatkan apa yang diinginkan.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

“Kata ini (Laa haula wala quwwata illa billah) memiliki pengaruh yang ajaib dalam menghadapi situasi sulit, agar tahan banting, tatkala menemui para penguasa dan orang-orang yang ditakuti, menghadapi keadaan pelik dan juga mempunyai pengaruh yang menakjubkan dalam menghindari kefaqiran.”

📚 al Wabilus Shoib hal.77


_Baarakallahu fiikum_
*RAHMATAN LIL AALAMIIN*
_Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi_


*_Tidak lama setelah Nabi wafat umat Islam “mengusir” tentara Romawi dan “menduduki” Syria. Di zaman Umar Ibn Khatab kekaisaran Persia “ditaklukkan” dan Palestina “dikuasai”._*

Pada awal abad ke delapan Spanyol dibawah kerajaan Hispania yang dikuasai oleh orang Kristen Visigoth “ditundukkan” oleh Tariq bin Ziad. Di Mesir Muslim dibawah komando Amr bin al-As “memukul mundur” pasukan Byzantium dan “menguasai” orang-orang Kristen Coptic. Pada abad ke 15 Konstantinople, salah satu bagian dari kekaisaran Romawi “ditaklukkan” panglima muda al-Fatih.

Di dunia Melayu umat Islam “mengusir” kepercayaan animism, dinamisme dan agama-agama kultural lainnya.

Istilah-istilah mengusir, menduduki, menaklukkan, menguasai, mendesak dan sebagainya adalah bahasa politik dan bersifat negatif. Tapi apa yang sebenarnya terjadi jauh dari kesan itu. Sebab ketika Islam masuk Syria orang-orang Kristen yang merasa selamat dari Romawi dan Yunani.
Michael the Elder, Patriach dari Jacobus mengakui “Tuhan telah membangkitkan putera-putera Ismail dari Selatan (maksudnya Muslim) untuk menyelamatkan kita dari Romawi”.

Ketika pasukan Muslim di bawah pimpinan Abu Ubaidah mencapai lembah Jordan, penduduk Kristen setempat menulis surat kepadanya. Isinya “kami lebih bersimpati kepada saudara daripada orang-orang Romawi, meskipun mereka seagama dengan kami. Pemerintah Islam lebih adil daripada pemerintah Byzantium”.

Pada waktu Umar memasuki Yerussalem ia menandatangai perjanjian. Diantara isinya:”…gereja tidak akan dirubah menjadi tempat kediaman, tidak akan dirusak, ….salib-salib atau harta mereka tidak akan diganggu…dan tidak seorangpun diantara mereka akan dianiaya”. Orang tidak pernah konflik dengan umat Kristen. Justru konflik antar sekte di di Gereja Holy Sepulchre, atau the Church of the Resurrection didamaikan orang Islam.
Abdul Aziz Marwan Gubernur Mesir memberi izin orang-orang Kristen pegawai istana untuk mendirikan gereja di Halwan. Di Andalus Islam, Kristen dan Yahudi hidup damai bertahun-tahun. Seorang specialist sastra Iberia di Universitas Yale, Maria Rosa Mencoal dalam karyanya berjudul The Ornament of the World (2003) berterus terang. Ia menulis "Toleransi merupakan aspek melekat pada masyarakat Andalus dan nasib non-Muslim lebih baik daripada di bawah Kristen Eropah”. Tapi berakhirnya kekuasaan Islam, berakhir pula toleransi itu.

Jika fakta-fakta ini dicermati, istilah menguasai, menaklukkan, mengusir dan bahkan menjajah tidak layak untuk dipakai. Yang lebih cocok, sesuai dengan namanya, Islam ‘menyelamatkan’ atau ‘membebaskan’ bangsa-bangsa tertindas. Maka tidak heran jika Thomas Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam menyatakan:” Kemenangan kaum Muslimin berarti kebebasan beragama (bagi non-Muslim), sesuatu yang telah berabad-abad mereka dambakan”. Anehnya Bernard Lewis menganggap toleransi dalam Islam tidak ada asal usulnya.

Rahmat Islam yang lain ada dalam keseluruhan ajarannya. Syariatnya menjaga jiwa, keturuan, agama, harta dan akal manusia dari kehancuran. Ritual peribadatannya menyentuh aspek jiwa dan raga, aspek sosial dan individual, aspek spiritual dan material. Prinsip hidupnya seimbang tidak materialistis dan tidak spiritualistis, tidak melulu dunia atau melulu kherat. Sayyid Qutb mensifatinya dengan istilah tawazun.
Penghargaannya pada orang kaya dan orang miskin, wanita dan laki-laki sama meski tidak harus memakai teori gender dan diklaim sosialistis atau feministis.

Konsep tuhannya “transenden” artinya jauh dan tak terjangkau. Tidak serupa apapun, karena itu tidak bisa diberhalakan. Tapi juga “immanen”, lebih dekat dari urat nadi kita. Dan yang terpenting Allah dalam Islam bersifat Alim (Maha Tahu). Karena itu wahyu yang diturunkanNya sarat dengan perintah berfikir dan mencari ilmu.
Dari kitab suci itu pula lahir berbagai disiplin ilmu. Ulum al-Qur’an, Tafsir, Hadith, Fiqih, Kalam, tasawwuf, mawarith, Nahwu dan Sarf lahir dari sebab memahami al-Qur’an.
Inilah rahasianya mengapa umat Islam menjadi rahmat dunia dengan ilmu. Dengan ilmu dan iman khazanah ilmu pengetahuan Yunani, Persia, India, Mesir dan sebagainya dihidupkan. Dari India Muslim menemukan angka nol. Asas bagi matematik dan ilmu computer masa kini. Di Persia Ibn Syatir mengembangkan astronomi yang buku-bukunya menginspirasi Copernicus menemukan teori heliosentrisme. Di Baghdad Ibn Haitham menemukan teori optic, tanpa teori ini camera tidak akan pernah wujud.
Di zaman Umayyah di Spanyol dan Abbasiyah di Baghdad budaya ilmunya sangat tinggi. Di Cordoba saja terdapat 75 perpustakaan. Lebih ramai dari mall di zaman postmodern. Di Baghdad koleksi seorang ulama mencapai 400.000 judul buku. Menjadi ulama lebih bergengsi daripada menjadi pengusaha. Inilah peradaban ilmu.

Tapi ilmu bukan sekedar ilmu, tapi juga menjadi amal alias teknologi. Di Spanyol irigasinya waktu itu tercanggih di dunia. Hasil panennya memberi makanan orang Spanyol yang kelaparan dan tertindas. Tata kotanya tidak ada duanya di Eropah. Menurut Tertius Chandler dalam, Four Thousand Years of Urban Growth: An Historical Census populasi Cordoba waktu itu sekitar 500.000, mengalahkan Konstantinopel. Kemakmurannya mengalahkan penduduk Eropah. Sains dan teknologi yang lahir karena inspirasi al-Qur’an dan kecerdasan jiwa-jiwa yang beriman dan bertawhid. Itulah “misykat” kehidupan.

Tauhid inilah yang digambarkan dalam surah Ibrahim (24-25) sebagai “kalimat tayyibah” (kalimat yang baik), dan peradaban ilmunya sebagai “syajarah tayyibah” (pohon yang baik). Pohon itu memberi makan atau menghidupi orang pada setiap musimnya, dengan izin Tuhannya.
Tujuannya satu “agar mereka ingat” nikmat Tuhannya. Tapi begitulah manusia, banyak yang telah memakan buah (baca rahmat) peradaban Islam dan banyak yang tidak ingat. Allah Maha Benar.
*MENGHADIAHKAN PAHALA UNTUK ORANGTUA YANG SUDAH WAFAT*


Syarat menghadiahkan pahala untuk orang yang telah wafat harus ada contoh valid dari Nabi shallallahu'alaihi wa sallam yang membolehkannya.

Kenapa? karena yang namanya ibadah itu harus ittiba' (mengikuti) Nabi shallallahu'alaihi wa sallam.

Telah diriwayatkan dalam hadits Abi Rajin bahwasanya Nabi shallallahu'alaihi wa sallam berkata kepadanya:
حُجَّ عَنْ أَبِيْكَ وَاعْتَمِرَ
*_Hajikanlah bapakmu dan umrohkanlah_*.

Hadits ini menunjukkan bolehnya menghadiahkan pahala umroh untuk orang wafat dan orang-orang lemah. Di antaranya mengirim pahala unroh di bulan Ramadhan.

Barangsiapa yang mengerjakannya, ia mendapatkan 3 pahala sekaligus:

1. Pahala umroh. Karena barangsiapa yang menjadi sebab pahala orang lain, maka ia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. Maka anak yang mengumrohkan orangtuanya mendapatkan pahala umroh.

2. Pahala Birrul walidain, pahala silaturrahim atau berbuat ihsan kepada shahabat, dan lain-lain.

3. Pahala amal shalih. Ketika kamu pergi ke Mekkah, kamu akan mendapatkan pahala yang setara dengan 100 kali sholat. Saat thawaf tentu kamu akan berdoa plus mendapatkan pahala dari berdoa, belum lagi pahala-pahala umroh yang lain.


~ _Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri_ ~
“Islam Ragu-ragu” versi Rektor UIN Yogya
Oleh: Adian Husaini


Di kalangan akademisi muslim Indonesia, nama Prof. Dr. M. Amin Abdullah tidak asing lagi. Selain menjabat sebagai rektor Universitas Islam Negeri Yogyakarta (dulunya IAIN Yogya), dia juga pernah menjabat posisi penting di PP Muhammadiyah, sebagai Ketua Majlis Tarjih dan Pemikiran Islam. Tetapi, dalam Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang, tahun 2005, namanya terpental dari jajaran pimpinan pusat Muhammadiyah.

Dia berlatar belakang pendidikan bidang filsafat Islam. Lulus PhD dari Department of Philosophy, Faculty of Art and Sciences, Middle East Technical University (METU), Ankara, Turki, tahun 1990.

Sebagai akademisi dan penulis, tulisan Amin Abdullah tersebar di berbagai buku, jurnal, dan media massa.

Bidang yang sering ditulisnya terutama masalah filsafat dan epistemologi Islam. Tapi, karena sangat gencar mempromosikan penggunaan hermeneutika dalam penafsiran Al-Qur’an, dia kadang kala juga dijuluki “Bapak Hermeneutika Indonesia”.

Komitmennya dan kegigihannya dalam mempromosikan hermeneutika sebagai metode “tafsir baru” pengganti metode tafsir al-Quran yang klasik, tampak dalam berbagai tulisannya tentang hermeneutika.

Di UIN Yogyakarta, penggunaan metodologi hermeneutika dalam tafsir Al-Qur’an memang sangat digalakkan, sampai-sampai seorang mahasiswa yang bermaksud mengritik metode ini mengaku “akan membentur tembok”.
Di samping mempromosikan hermeneutika, Amin Abdullah tentu saja harus melakukan kritik terhadap metode tafsir Al-Qur’an. Ia menulis dalam sebuah pengantar untuk buku tentang hermeneutika, bahwa “tafsir-tafsir klasik Al-Quran tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan umat Islam.”

Penulis buku itu pun dengan semena-mena mengecam tafsir-tafsir klasik, tanpa data dan analisis yang memadai, dimana letak kekurangan dan ketidakberesan tafsir-tafsir klasik.

Ditulis dalam buku ini: “Apalagi sebagian besar tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini, sadar atau tidak, telah turut melanggengkan status quo, dan kemerosotan umat Islam secara moral, politik, dan budaya.” (Lihat, Ilham B. Saenong, Hermeneutika Pembebasan, 2002, hal. xxv-xxvi, 10).

Kecurigaan terhadap mufassir dan para ulama Islam juga tak luput dari goresan tangan Abdullah. Di dalam tulisannya yang lain, Amin Abdullah mengajak pembaca untuk mencurigai ilmu-ilmu keagamaan, tanpa membedakan antara ilmu keagamaan dalam Islam, dengan ilmu keagamaan yang muncul dalam tradisi peradaban Barat yang berlatar belakang sejarah Yahudi dan Kristen. Ia tulis, misalnya:
“Dari studi empiris-historis terhadap fenomena keagamaan diperoleh masukan bahwa agama sesungguhnya juga sarat dengan berbagai “kepentingan” yang menempel dalam ajaran dan batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan itu sendiri.” (Pengantar buku Metodologi Studi Agama, 2000, hal. 2)

Bagi mahasiswa baru dalam bidang studi Islam, pernyataan-pernyataan profesor dan rektor sebuah kampus berlabel Islam semacam itu, bisa jadi melenakan. Sebab, kata-kata yang ditebar cukup halus. Para ulama dan ilmuwan keagamaan, apa pun agamanya, adalah manusia biasa. Karena itu, mereka pasti punya kepentingan dengan ilmu-ilmu nyang disusunnya.

Sepintas, kata-kata Amin Abdullah itu logis. Padahal, jika didalami, ada kekeliruan mendasar dalam cara berpikir, karena metodologi “gebyah uyah” (serampangan) dalam menyamakan antara tradisi keilmuan Islam dengan tradisi keilmuan Barat.

Di dalam Islam, ada tradisi penyatuan antara ilmu dengan amal. Ada konsep “fasiq”, dimana seorang yang –meskipun berilmu tinggi– tetapi berbuat jahat, dapat terkena kategori fasiq, dan karena itu, periwayatan dan beritanya perlu diklarifikasi.
Jika dia fasiq, maka sebagian ulama melarangnya menjadi saksi di dalam pernikahan atau pengadilan.
Di dalam ilmu hadis, ada ilmu Jarah wa Ta’dil, yang secara terbuka membeberkan sifat-sifat buruk perawi hadits, seperti pembohong, dan sebagainya. Karena itu, di dalam tradisi keilmuan Islam, kita akan menjumpai ilmuwan-ilmuwan yang sangat tinggi ilmunya, sekaligus juga sangat shalih dalam beragama. Itu bisa kita jumpai pada Imam-imam mazhab, Imam Bukhari, Imam al-Ghazali, Ibnu Taymiyah, dan sebagainya. Mereka bukan hanya ilmuwan, tetapi juga mujahid dan ahli ibadah.

Tradisi seperti itu tidak terjadi dalam sistem keilmuan di Barat yang sekular. Di dalam tradisi ilmu yang berakar pada tradisi keilmuan Yunani, ada pemisahan antara orang pintar dan orang saleh.

Banyak ilmuwan pintar dan dihormati oleh masyarakatnya, meskipun amalnya bejat. Seorang ilmuwan di Barat, tetap dianggap sebagai ilmuwan yang dihormati, meskipun tidak jelas agamanya dan amalan-amalan agamanya.

Paul Johnson, dalam bukunya “Intellectuals” (1988), memaparkan kehidupan dan moralitas sejumlah ilmuwan besar yang menjadi rujukan keilmuan di Barat dan dunia
internasional saat ini, seperti Ruosseau, Henrik Ibsen, Leo Tolstoy, Ernest Hemingway, Karl Marx, Bertrand Russel, Jean-Paul Sartre, dan beberapa lainnya. Ruosseau, misalnya, dicatatnya sebagai “manusia gila yang menarik” (an interesting madman).

Pada tahun 1728, saat berumur 15 tahun, dia bertukar agama menjadi Katolik, agar dapat menjadi peliharaan Madame Francoise-Louise de Warens. Ernest Hemingway, seorang ilmuwan jenius, tidak memiliki agama yang jelas. Kedua orang tuanya adalah pengikut Kristen yang taat. Istri pertamanya, Hadley, menyatakan, ia hanya melihat Hemingway sembahyang selama dua kali, yaitu saat perkawinan dan pembaptisan anaknya.

Untuk menyenangkan istri keduanya, Pauline, dia berganti agama menjadi Katolik Roma. Kata Johnson, dia bukan saja tidak percaya kepada Tuhan, tetapi menganggap ‘organized religion’ sebagai ancaman terhadap kebahagiaan manusia. (He not only did not believe in God, but regarded organized religion as a menace to human happiness).

Sebagai ilmuwan, seyogyanya Rektor UIN Yogya itu memberikan klarifikasi dan penjelasan yang bertanggung jawab terhadap tulisannya, bahwa “Dari studi empiris-historis terhadap fenomena keagamaan diperoleh masukan bahwa agama sesungguhnya juga sarat dengan berbagai “kepentingan” yang menempel dalam ajaran dan batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan itu sendiri.”

Jika dia katakan, agama –termasuk Islam– adalah sarat dengan berbagai kepentingan yang menempel pada ajaran dan batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan, maka dia harus menjelaskan, apa kepentingan Sayyidina Utsman menghimpun Mushaf Al-Qur’an, apa kepentingan Imam Bukhari mengumpulkan dan menyeleksi hadits-hadits Nabi, apa kepentingan Imam Syafii menulis Kitab Risalah? Apakah kita harus mencurigai tindakan keilmuan sahabat-sahabat Rasulullah dan ulama-ulama Islam yang begitu besar jasanya terhadap pengembangan keilmuan Islam, sehingga kita harus menyatakan, bahwa mereka semua pasti punya kepentingan.

Apakah kita tidak bisa berprasangka baik terhadap mereka, dan mengakui keikhlasan dan jasa mereka yang luas biasa dalam menyusun ilmu-ilmu agama (ulumuddin)?
Metode studi Islam yang –maaf, sok– bersikap kritis ini bisa pada akhirnya berdampak kepada keragu-keraguan pada para pelajar dan mahasiswa.

Mereka yang belajar Islam dengan cara-cara seperti ini, bukan tidak mungkin akan terjebak pada keraguan dan ketidakyakinan terhadap ajaran agamanya sendiri.

Akhirnya, dari metode ini bisa lahir sarjana-sarjana yang justru rajin menghujat agamanya, ragu dengan kebenaran agamanya, dan bahkan memusuhi agamanya. Orang yang belajar ushuluddin (dasar-dasar agama), bukannya semakin yakin dengan agamanya, tetapi bisa jadi malah “ucul”-“din”nya (agamanya lepas).

Tidak sedikit para sarjana syariah lulusan perguruan tinggi Islam, yang akhirnya justru gigih menentang dan aktif menulis artikel yang menghancurkan dan menghina syariat Islam.
Kita sungguh tidak habis mengerti, misalnya, bagaimana dari sebuah kampus berlabel Islam, seperti UIN Yogya, bisa muncul tesis master yang justru menghujat Al-Qur’an, dan menyatakan, bahwa “Mushaf itu tidak sakral dan absolut, melainkan profan dan fleksibel. Yang sakral dan absolut hanyalah pesan Tuhan yang terdapat di dalamnya, yang masih dalam proses pencarian.

Karena itu, kini kita diperkenankan bermain-main dengan Mushaf tersebut, tanpa ada beban sedikitpun, beban sakralitas yang melingkupi perasaan dan pikiran kita.” (Lihat buku: “Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan” (2004), hal. 123)

Penulis tesis itu dan juga para dosen serta rektor kampus itu seolah-olah tenang-tenang saja dengan fenomena semacam itu, dan tidak takut dengan akibat yang ditimbulkan jika ada orang yang terpengaruh dengan ide sesat itu.

Apakah mereka tidak takut dengan dosa jika ada yang kemudian meragukan kebenaran Al-Qur’an, karena membaca tesis yang sudah dibukukan itu? Jika orang sudah meragukan kebenaran Al-Qur’an, lalu bagaimana dia bisa beriman dan meyakini rukun iman yang disebutkan dalam Al-Qur’an, seperti Malaikat, Hari Kiamat, dan sebagainya?

Penanaman keragu-raguan terhadap Islam bagi mahasiswa Muslim tampaknya kini banyak dilakukan oleh para dosen-dosennya sendiri. Dan itu bukan hal yang aneh, jika kita menyimak tulisan lain dari Amin Abdullah, Sang Rektor. Dalam pengantarnya untuk sebuah buku berjudul “Hermeneutika Al-Quran” (2005), Amin secara gamblang menulis, bahwa:
“Dengan sangat intensif hermeneutika mencoba membongkar kenyataan bahwa siapa pun orangnya, kelompok apapun namanya, kalau masih pada level manusia, pastilah “terbatas”, “parsial-kontekstual pemahamannya”, serta “bisa saja keliru”.
Cara berpikir Amin seperti itu sama saja dengan membongkar sistem keilmuan dalam Islam. Sebab, tidak ada lagi pemikiran yang bersifat pasti dan qath’iy.

Tidak ada tafsir yang tetap dan pasti kebenarannya. Semua terbatas dan bisa saja keliru. Juga, tidak ada lagi konsep ‘tawatur’, berita yang dipastikan kebenarannya. Kita bisa mempertanyakan kepada Rektor UIN Yogya itu, bagaimana dengan konsep “keadilan para sahabat” dan ijma’ sahabat? Pengumpulan Mushaf Utsmani adalah berdasarkan ijma’ sahabat.
Dengan cara berpikir Amin Abdullah, maka bisa saja pengumpulan Al-Qur’an itu keliru. Sebab, para sahabat Rasulullah itu adalah manusia dan kumpulan manusia. Dan selama mereka pada level manusia, maka mereka “bisa saja keliru”.

Jadi, ijma’ para sahabat Rasulullah saw itu – menurut cara berpikir Rektor UIN Yogya – bisa saja keliru.
Cara berpikir semacam itu bisa kita katakan sebagai bentuk ‘Islam ragu-ragu’. Islam yang serba tidak pasti. Tidak ada kebenaran yang pasti.
Itulah tugas hermeneutika. Malah, lanjut Sang Rektor lagi, tugas hermeneutika itu berseberangan dengan keinginan egois hampir semua orang untuk “Selalu Benar”.

Tidak mengherankan, katanya, jika kemudian kehadiran hermeneutika sebagai salah satu disiplin kajian yang mencermati proses epistemologis-ontologis pemahaman manusia banyak mendapat tantangan. Dan tentangan paling keras terhadap hermeneutika muncul dari ranah agama-agama yang harus diakui merupakan ladang paling subur bagi lahirnya “Klaim Kebenaran”.

Itulah kata-kata Sang Rektor UIN Yogya, yang sangat membanggakan hermeneutika sebagai metodologi pemahaman Al-Qur’an, yang menurutnya mampu membongkar hal-hal yang selama ini dianggap sebagai satu bentuk kepastian.

Dengan cara berpikir Rektor seperti itu, maka kita tidak heran, jika dari kampus berlabel Islam itu lahir sarjana-sarjana versi ‘Islam ragu-ragu’, alias golbin (golongan bingung) yang tidak pernah meyakini kebenaran Islam.