BERILMU DENGAN BUKU
63 subscribers
738 photos
27 videos
20 files
532 links
Channel edukasi seputar Aqidah, Ibadah, Muamalah, Pengembangan diri dan Keluarga, Bisnis, Marketing dan Rekomendasi Buku
Download Telegram
SABAR ADALAH IBADAH YANG MULIA

🟢 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

‏سلامٌ عليكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ

“Keselamatan (kesejahteraan) atas kalian dengan sebab kesabaran kalian.” (Qs. ar-Ra’du: 24)

🟢 Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata:

‏صَبَرُوا عَلَى مَا أُمِرُوا بِهِ وَصَبَرُوا عَمَّا نُهُوا عَنْهُ.

“Mereka bersabar dalam melakukan perintah (Allah dan Rasul-Nya) dan mereka bersabar dalam menjauhi apa yang dilarang (Allah dan Rasul-Nya).”

(Uddatu ash-Shabirin: 71)
*MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH*

Ada yang menafsirkan makna di atas dengan *Tidak ada pencipta dan pemberi rezeki selain Allah*. Apakah ini makna yang tepat untuk kalimat tauhid?

Jik ini tafsirannya maka orang tersebut belum mengetahui makna *Laa Ilaaha Illallah*. Dan ia belum mengakui kebenaran kalimat tauhid ini.

Karena makna Laa Ilaaha Illallah bukanlah tidak ada pencipta dan pemberi rezeki selain Allah. Jika memang ini maknanya, apakah orang musyrik dahulu akan menolaknya? apakah orang musyrik dahulu tidak mengakui bahwa Allah satu-satunya pencipta? satu-satunya Pemberi Rezeki?

Kalau maknanya tidak ada pencipta dan pemberi rezeki selain Allah, orang musyrik dahulu tidak akan menolaknya.

Lalu mengapa orang-orang musyrik dahulu menolak kalimat laa ilaaha illallah? jawabannya adalah karena mereka paham betul makna laa ilaaha illallah, yaitu *Memurnikan ibadah hanya untuk Allah dan meninggalkan ibadah kepada berhala*. oleh karenanya, ketika Rasululllah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قولوا لا إله إلا الله تفلحون
*_Ucapkanlah laa ilaaha illallah, maka kalian pasti selamat_*. (HR. Ahmad No.16603)

Kemudian orang-orang musyrik menjawab:
اَجَعَلَ الألِهَةَ اِلٰهًا وَّاحِدًا ۖۚ اِنَّ هٰذَا لَشَىۡءٌ عُجَابٌ
*_Mereka menjawab,"Apakah ia ingin cukup satu saja yang kita sembah? Ini adalah hal yang aneh_*. (QS. Shad:5)

Allah berfirman:
اِنَّهُمۡ كَانُوۡۤا اِذَا قِيۡلَ لَهُمۡ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُۙ يَسۡتَكۡبِرُوۡنَۙ
وَيَقُوۡلُوۡنَ اَٮِٕنَّا لَتٰرِكُوۡۤا اٰلِهَـتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجۡـنُوۡنٍ

*_Jika dikatakan kepada mereka laa ilaaha illallah, mereka akan menolaknya dengan sombong. Mereka berkata,"apakah kita akan meninggalkan sesembahan kita yang lain, hanya karena penyair yang gila ini?_*. (QS. ash-Shaffat:35-36)

Mereka, orang-orang musyrik mengetahui makna laa ilaaha illallah, yaitu menjadikan ibadah hanya untuk Allah. Karena itulah mereka tidak mau menerimanya.

Kalau makna laa ilaaha illallah adalah sekedar tidak ada pencipta dan pemberi rezeki selain Allah, mereka akan menerima dakwah Nabi. Karena makna tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan mereka sebelumnya.


~ _Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr_ ~
Hilangnya Keberkahan Ilmu Anak, Karena Prilaku Buruk Orangtua Terhadap Guru


Syekh Abdul Qadir adalah seorang ulama yang terkenal pada zamannya. Murid-muridnya berasal dari berbagai kalangan. Ada anak orang kaya, ada anak penguasa, ada juga anak pedagang dan anak-anak orang miskin. Di madrasah Syekh Abdul Qadir tidak ada dikriminasi, semua murid diperlakukan sama.

Di madrasah Syekh Abdul Qadir diperkenalkan ilmu dan lebih diutamakan adab, termasuk adab kepada guru yang dijunjung tinggi. Termasuk adab yang diajarkan adalah bagaimana murid berhikmat dan meraih keberkahan dari gurunya.

Sebuah kebiasaan bahwa ketika sang guru sedang menyantap makanan, maka murid-murid tidak ada yang ikut makan sebelum gurunya selesai, ternyata ada tradisi meraih berkah ilmu dengan memakan sisa makanan gurunya.

Syekh Abdul Qadir paham hal tersebut sehingga ia selalu menyisahkan makanannya untuk di ambil oleh murid-muridnya. Seorang tamu yang datang menjenguk anaknya melihat hal itu dan berfikir bahwa anak-anak mereka yang belajar pada Syekh Abdul Qadir diperlakukan seperti babu atau kucing. Masa mereka diberikan sisa makanan dari gurunya. Pikiran kotor inilah yang menyebabkan orang tua murid tadi memprofokasi orang tua lainnya.

Salah satu orang tua yang merupakan orang terpandang, kaya dan penguasa termakan propokasi dan datang menghadap Syekh Abdul Qadir dan mengungkapkan keberatannya atas perlakuan sang guru kepada anaknya yang dianggap melecehkan kehormatannya dan kehormatan anaknya.

Maka terjadilah dialog sebagai berikut :
“Wahai tuan syekh, saya menghantar anak saya kepada tuan syekh bukan untuk jadi pembantu atau dilakukan seperti kucing. Saya hantar kepada tuan syekh, supaya anak saya jadi alim ulama’.”

Syekh Abdul Qadir hanya jawab ringkas saja. “ Kalau begitu ambillah anakmu.”

Maka si bapak tadi mengambil anaknya untuk pulang. Ketika keluar dari rumah syekh menuju jalan pulang. Orang tua murid tadi bertanya pada anaknya beberapa hal mengenai ilmu hukum syariat, ternyata kesemua soalannya dijawab dengan tepat dan rinci. Maka bapak tadi berubah fikiran dan mengembalikan anaknya kepada tuan Syekh Abdul Qadir.

“Wahai tuan syekh terimalah anak saya untuk belajar dengan tuan kembali. Tuan didiklah anak saya. Ternyata anak saya bukan seorang pembantu dan juga diperlakukan seperti kucing. Saya melihat ilmu anak saya sangat luar biasa bila bersamamu.”

Maka jawab tuan Syekh Abdul Qadir. “Bukan aku tidak mau menerimanya kembali, tapi ALLAH sudah menutup pintu hatinya untuk menerima ILMU dariku, ALLAH sudah menutup futuhnya (Mata Hati) untuk mendapat ilmu disebabkan orang tua yang tidak beradab kepada GURU.”

Ternyata orang tua yang tidak beradab pada guru bisa menyebabkan anak-anaknya menjadi korban kehilangan keberkahan ilmu dari guru-gurunya.

Begitulah ADAB dalam menuntut ilmu. Anak, Ibu, Ayah dan siapa pun perlu menjaga adab kepada guru. Kata ulama: Satu perasangka buruk saja kepada gurumu maka Allah haramkan seluruh keberkahan yang ada pada gurumu kepadamu.

Kisah ini adalah refleksi untuk para orang tua siswa, sia-sialah kita menyekolahkan anak kita kalau pada akhirnya ilmu yang diperolehnya tidak berberkah. Karena kita sebagai orang tua yang tidak beradab kepada guru sehingga anak-anak kitapun menjadi kehilangan adab kepada gurunya.

Dalam pandangan psikologi islam, manusia itu memiliki 5 kekuatan pada dirinya, dua kekuatan yang mulia yakni Quatun Ilahiah (Potensi Ketuhanan), Quatun Mulkiah (kekuatan Malaikat), dua kekuatan yang rendah yakni Quatun Syaitaniah ( Kekuatan Syaitan) dan Quatun Bahimiyah (Kekuatan Hewan) dan satu kekuatan kunci yaitu Quatun Aqliyah (Kekuatan Aqal).

Akal manusia berfungsi untuk menimbang baik dan buruknya sesuatu. Sehingga kekuatan akal adalah penentu apakan manusia akan menanjak dengan dua kekuatan mulia ataukah dia akan terjerumus jatuh pada 2 kekuatan rendah.

Akal ibarat wadah, isinya adalah ilmu. Semakin mantap ilmu pada akal semakin besar kekuatan akal dalam mempertimbangkan segala sesuatu.
Ilmu adalah cahaya yang dengan cahaya itu kita bisa memahami warna warni kehidupan.
Tak ada ilmu tanpa guru, tak ada ilmu maka aqal tak berdaya. Ketika akal tak berdaya maka watak yang akan tumbuh pada manusia adalah watak syeitan dan binatang yang menyingkirkan watak ketuhanan dan watak malaikat. Maka jadilah manusia tubuhnya sementara jiwanya adalah jiwa binatang.

Pada posisi ini, maka pendidikan menjadi penting bagi manusia, karena pendidikanlah yang akan mejadikan manusia mampu mengendalikan watak setan dan binatang pada dirinya dan memberdayakan kekuatan Ilahiah dan kekuatan Malaikat pada dirinya. Ruh pendidikan adalah Guru. Tanpa guru pendidikan tidak ada artinya. Apapun adanya, keberadaan guru dalam pendidikan takkan tergantikan oleh apapun.

Menyadari adanya sifat kehewanan pada diri manusia, maka tak dapat dihindari metode dalam menundukkan watak itu adalah dengan sedikit pukulan. Makanya guru kami selalu mengatakan “ yang saya pukul bukan kamu nak, tetapi sifat hewan dalam dirimu.”

Memukul adalah salah satu metode tetapi tidak sampai membuat bekas, apalagi setelah memukul siswa, guru mesti memulihkan perasan anak tersebut. Guru kami berpesan “ Kalau kau pukul anak didikmu, jangan sertai dengan amarah tetapi dengan do’a, insya Allah itu akan membuatnya sadar akan kesalahnnya.”

Masalahnya terkadang orang tua siswa tidak faham dan cenderung egois ketika anaknya mendapat sentuhan dengan pukulan oleh gurunya. Dianggaplah itu sebagai kekerasan dalam dunia pendidikan.

Ibaratnya guru adalah Dokter, dan siswa adalah Pasien. Seorang pasien yang datang berobat yang setelah didiagnosa ternyata penyakitnya ringan saja maka diberikanlah vitamin dan antobiotik oleh dokter. Tetapi ada pasien datang berobat dan ternyata pasiennya mengidap penyakit kanker dan harus dioperasi, maka tentu dokternya tidak lagi memberi resep tetapi menyarangkan langkah oprasi. Bayangkan operasi itu menyakitkan dan melukai jaringan tubuh, karena hanya dengan jalan itu pasien bisa selamat. Kalo guru sudah menegur berkali-kali, melakukan berbagai pendekatan, orang tua bahkan sudah dipanggil, sudah tanda tangan surat pertnyataan pula di BP tetapi tidak berubah wataknya, berarti anak ini sakit parah dan mungkin untuk merubahnya hanya dengan pukulan yang sifat tidak melampaui batas kewajaran. Siapa tahu dengan pukulan itu sang anak bisa terselamatkan.

Guru kami berpesan “ Bekas Pukulan guru ketika mendidik muridnya maka pada bagian bekas pukulan itu tidak akan disentuh api neraka.” Tentu apabila murid dan orang tua sabar menerimanya.

Saya berani berkata ” seandainya bukan karena pukulan guru saya tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Saya tak dapat membalas setiap kesadaran dan ilmu yang diberikan dengan Do’a.

Tulisan ini saya angkat untuk menyemangati perjuangan salah seorang rekan guru dari UPT SMP Negeri 2 Sidrap (Pak TASMIR / Guru IPS) yang sedang berjuang menghadapi gugatan salah satu orang tua siswa kelas IX.A yang melaporkan beliau ke polisi karena memukul salah seorang siswa dengan absen pada hari Rabu, 22 Januari 2020.

Mari bersama berikan dukungan moral, teman-teman guru dan segenap pemerhati pendidikan, orang tua siswa, alumni SMPN 2 Pangsid untuk bersama-sama dengan IGI mendorong kasus ini supaya selesai dengan jalan yang terbaik untuk smuanya.

Abdul Rahman, S.Pd.I., MA (Wasekum IGI Sidrap)
MENDIDIK ANAK WANITA

1| Berbahagialah orangtua yg dikaruniakan anak wanita sebab Rasulullah telah menjamin baginya surga jika sabar dan sukses mendidiknya

2| Barangsiapa yg diuji dengan memiliki anak wanita, lalu ia asuh mereka dengan baik, maka anak itu akan menjadi penghalangnya dari api neraka (HR.Bukhari)

3| Sebagian orangtua menganggap remeh mendidik anak wanita, bahkan lebih mengunggulkan anak laki. Padahal wanita adalah tiang peradaban dunia

4| Itulah kenapa, jika gagal mendidik anak wanita berarti kita telah memutus kebaikan untuk generasi masa depan

5| Gagal mendidik anak wanita berarti kelak kita akan kekurangan #ibubaik di masa depan. Dan ujung-ujungnya rusaklah masyarakat

6| Ajarilah anak wanita kita akan keutamaan menjaga kesucian diri bukan sekedar menjaga keperawanan. Suci dan perawan itu beda !

7| Perawan terkait dengan faktor fisik, dimana selaput dara tidak robek. Sementara suci terkait dgn faktor akhlak dan sikap

8 | Banyak wanita yang bisa jadi masih perawan tapi tidak suci. Ia membiarkan badannya disentuh, bibirnya dikecup lelaki lain, asal tidak bersetubuh

9| Sementara banyak juga wanita yg tidak perawan atas sebab kecelakaan, terjatuh, tapi masih suci. Sebab ia tak biarkan lelaki lain menyentuhnya

10| Quran memberikan gelar wanita terbaik kepada Maryam tersebab ia selalu menjaga kesucian dirinya dalam kata, sikap dan tingkah laku

11| Maryam tak sembarang gaul dengan lelaki asing. Maka, saat ia dinyatakan hamil, ia tetap suci di mata Allah

12| Demikian pula dengan Bunda Khadijah, istri rasulullah yg tidak lagi perawan tapi digelari 'Ath Thohirah' atau wanita suci

13| Dari rahim wanita suci kelak muncul generasi berkualitas. Nabi Isa adalah bukti keberkahan dari wanita yg menjaga kesuciannya

14| Maka, tugas utama ortu yang memiliki anak wanita adalah mengingatkan pentingnya kesucian bukan sekedar keperawanan

15| Ajarkan anak wanita utk bersikap sepatutnya terhadap lelaki asing atau yg bukan mahram. Ramah boleh tapi tetap jaga kemuliaan diri

16| Saat anak wanita belum baligh atau masih anak2, ajarkan ia utk membedakan 3 jenis sentuhan : pantas, meragukan dan haram

17| Sentuhan pantas itu muaranya kasih sayang. Ini dilakukan oleh orang lain kepada anak wanita yg belum baligh di bagian sekitar kepala dan pundak

18| Sentuhan yg meragukan. Yakni antara kasing sayang versus nafsu. Biasanya berpindah-pindah tempat. Dari kepala turun ke bahu trus ke pinggang

19| Jika sudah melewati batas bahu, yakni ke pinggang, atau ke perut, ajarkan anak utk menolak dgn kalimat "Aku gak suka ah"

20| Terakhir, sentuhan haram yakni di wilayah sekitar kemaluan dan buah dada. Ajarkan anak kemampuan utk menolak dan menghindar

21| Dengan mengajari anak wanita kita tentang sentuhan, mengajarkan juga kepada mereka tentang berharganya tubuh mereka. Tidak sembarangan disentuh

22| Selain itu, ajarkan juga kepada anak wanita kita tentang siapa itu saudara, sahabat, kenalan dan orang asing. Sikapi dgn beda

23| Buat anak wanita tidak membutuhkan sosok lelaki lain yg jadi 'pahlawan' nya selain ayah, kakek dan kakak kandungnya

24| Saat mereka tumbuh remaja, tak jual murah dirinya demi dicintai lelaki lain. Sebab sudah ada sosok lelaki idola dalam hidupnya, khususnya ayahnya

25| Sebagian besar remaja wanita yg memutuskan untuk pacaran, karena tak punya lelaki idola di rumahnya sebagai tempat berbagi

26| Dengan ayah dan kakak kandung tidak akrab. Sehingga ia membutuhkan figur lelaki lain. Akhirnya, perlahan kesuciannya pudar. Jadilah mereka anak cabe-cabean

27| Itulah kenapa AYAH perlu hadir dalam jiwa anak wanita sedari dini. Harus ada ikatan batin di antara mrk agar anak wanita tak cari idola lain

28| Ayah harus sering berkomunikasi dengann anak wanita nya saat dalam kandungan. Saat lahir, anak mengenali suara ayahnya pertama kali yg didengar

29| Saat lahir, jadikan wajah AYAH lebih banyak discan dalam memori anak. Hadirkan ekspresi saat menggendong anak

30| Ikatan batin antara ayah dan anak wanita ini memberi pengaruh saat anak tumbuh dewasa dan mengalami persoalan hidup
31| Saat anak wanita mulai jatuh cinta, ia akan jadikan AYAH sebagai mentor cintanya. Tak ingin ditipu lelaki buaya. Nasehat ayah jadi panduan

32| Saat anak wanita siap menikah, ia mencari sosok lelaki yg seperti ayahnya. Atau setidaknya pilihan ayahnya

33| Bahkan saat anak wanita menjalani gonjang ganjing pernikahan. Ia tak butuh lelaki lain sebagai tempat curhat. Ayahnya lah yg jadi labuhan

34| Peran ayah dalam menjaga kesucian anak wanita amatlah vital. Rusaknya moral anak wanita saat ini salah satunya karena ketidakterlibatan ayah dalam mengasuh

35| Karena itu, ajaklah para ayah agar terlibat dalam pengasuhan. Tak cuma sekedar cari nafkah. Tapi peduli akan anaknya khususnya yg wanita

36| Semoga anak wanita di negeri ini selalu jaga kesuciannya sehingga lahir generasi yg diberkahi
*ANGAN-ANGANNYA PENGHUNI KUBUR*


Ia tidak akan berangan-angan tinggal di rumah megahnya dahulu. Bukan juga kendaraan yang dahulu ia naiki. Bukan juga bertemu saudara ataupun sahabatnya.

Yang ia (penghuni kubur) inginkan hanya bisa menambah tasbih dan istighfar di catatan amalnya. Ia hanya ingin melakukan amal shalih. Orang yang Allah beri taufiq akan memahami hakikat kehidupan ini.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata :

وكلما غفل قلبك واندمجت نفسك في الحياة الدنيا فاخرج الى القبور وتفكر في هؤلاء القوم
*_Setiap kali hatimu lalai dan terlarut dalam kehidupan dunia, keluarlah engkau menuju kuburan._*

وتفكر في هؤلاء القوم
*_Dan renungkanlah tentang mereka-mereka ini (para penghuni kubur)._*

الذين كانوا بالأمس مثلك على الأرض يأكلون ويشربون ويتمتعون
*_Kemarin mereka seperti dirimu berada diatas bumi, mereka makan, minum dan bersenang-senang._*

والآن أين ذهبوا
*_Dan sekarang kemana mereka pergi?_*

صاروا الآن مرتهنين بأعمالهم
*_Sekarang mereka tergadaikan dengan amalan-amalan mereka (di dalam kubur)._*

لم ينفعهم إلا عملهم كما أخبر بذلك النبي عليه الصلاة والسلام أنه قال
Tidak bermanfaat bagi mereka kecuali amalan-amalan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam :

يتبع الميت ثلاثة : ماله وأهله وعمله ، فيرجع اثنان ويبقى واحد ، يرجع أهله وماله ، ويبقى عمله
*_Akan mengiringi mayit tiga perkara, Hartanya, keluarganya dan amalannya. Maka akan kembali pulang dua perkara dan akan tinggal bersamanya satu perkara. Yang akan kembali pulang keluarganya dan hartanya, dan akan tinggal bersamanya amalannya._* (HR. Bukhori, Muslim)

ففكِّر في هؤلاء القوم
Maka renungkanlah tentang mereka-mereka ini..

Syarh Riyadhus Shalihin 3/473
TANDA KEMUNAFIKAN ORANG SHOLAT


🟢 Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata :

‏فهذه ست صفات في الصلاة من علامات النفاق

1. الكسل عند القيام إليها
2. ومراءاة الناس في فعلها
3. وتأخيرها
4. ونقرها
5. وقلة ذكر الله فيها
6. والتخلف عن جماعتها

Berikut ini adalah enam hal dalam shalat, yang termasuk tanda kemunafikan:

1. Malas ketika bangkit untuk menegakkannya.
2. Riya’ ketika mengerjakannya.
3. Menunda-nundanya.
4. Gerakannya terlalu cepat.
5. Sedikit menyebut atau mengingat Allah di dalamnya.
6. Tidak mengerjakannya secara berjamaah.”

Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha, jilid 1 hlm. 173
*DOA UNTUK ORANGTUA*


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأٰبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا
اللَّهُمَّ الطُفْ بِهِمْ كَمَا لَطَفُوبِنَا
وَبِرَّهُمْ كَمَا بَرُّوبِنَا
وَتَحَنَّنْ عَلَيْهِمْ كَمَا تَحَنَّنُولَنَا
وَانْظُرْ لَهُمْ بِعَيْنِ الرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ لَهُمْ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا
وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجً
وَمِنْ كُلِّ بَلَاءٍ عَافِيَةٍ
اللَّهُمَّ مَنْ كَانَ مِنْهُمْ حَيًا فَأَعِنَّا على بِرِّهِ وطاعَتِهِ وَالإِحْسَانِ إِلَيْهِ
ونَعُوذُ بِكَ مِنَ العُقُوقِ والجُحُودِ
ومَنْ كَانَ مِنْهُمْ مَيْتًا فَاغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ
وَتَجَاوَزْ عَنْ سَيِّئَاتِهِ
وَاجْعَلْ قَبْرَهُ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ
ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Ya Allah ampunilah bapak ibu kami
Ya Allah, berlemah lembutlah kepada mereka sebagaimana mereka berlemah lembut kepada kami
Berilah mereka kebaikan sebagaimana mereka berbuat baik kepada kami
Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami
Dan pandanglah mereka dengan pandangan kasih sayang dan keridhoan
Ya Allah, jadikanlah untuk mereka kemudahan dari segala kesusahan
Dan jadikanlah untuk mereka jalan keluar dari setiap kesempitan
Berikanlah afiyah dari setiap musibah yang menimpanya
Ya Allah, siapa yang masih hidup dari mereka maka berikanlah kesempatan bagi kami untuk berbakti, taat, serta berbuat ihsan kepadanya
Kami berlindung kepadaMu dari durhaka dan membangkang
Dan siapa dari mereka yang telah wafat maka ampuni dan rahmatilah ia
Ampunilah segala keburukannya
Dan jadikanlah kuburannya taman-taman surga, Yaa arhamarraahimiin
*PEMIMPIN SEJATI*

Di tengah perjalanan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertemu seorang penggembala, Nabi kemudian meminta susu padanya. Rasulullah dan rombongan merasa kehausan.

Lalu Rasulullah memulai memerasnya, menyodorkan perasan susu pertamanya kepada Abu Bakar. Kemudian Rasulullah memeras lagi, lagi dan lagi, lalu menyodorkannya kembali kepada semua rombongan yang ada dan terakhir kepada si penggembala sendiri, dan si penggembala itupun meminumnya. Baru setelah semua mendapat bagiannya, Rasulullah memeras kembali untuk yang terakhir kalinya dan beliau meminumnya.

Lihatlah, beliau adalah
1) Pemimpin rombongan
2) Orang yang memerasnya
3) Orang terakhir yang meminumnya

Mengamati ini, si penggembala tertegun, dan dia bertanya:
*_Siapakah engkau sesungguhnya?. Demi Allah, aku tidak pernah menjumpai orang sepertimu._*

Maa syaa Allah, sekali bertemu, meninggalkan kesan yang mendalam. Itulah Rasul kita, shallallahu 'alaihi wa sallam, orang yang seharusnya dilayani, justru melayani.

اللهم صل و سلم على رسولك محمد
BERBUAT BAIK PADA ANAK YATIM


Dari Ummu Said binti Murrah Al-Fihri, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

أَنَا وَكاَفِلُ الْيَتِيْمِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ، أَوْ كَهَذِهِ مِنْ هَذِهِ -شَكَّ سُفْيَانُ فِي الْوُسْطَى أَوِ الَّتِيْ يَلِيْ الإِبْهَامُ

“Kedudukanku dan orang yang mengasuh anak yatim di surga seperti kedua jari ini atau bagaikan ini dan ini.” [Salah seorang perawi Sufyan ragu apakah nabi merapatkan jari tengah dengan jari telunjuk atau jari telunjuk dengan ibu jari]. (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 133, hadits ini sahih sebagaimana kata Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 800).

Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah didatangi oleh seseorang yang mengeluhkan kerasnya hatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menyarankan,

أَتُحِبُّ أَنْ يَلِيْنَ قَلْبُكَ وَتُدْرِكَ حَاجَتُكَ اِرْحَمِ اليَتِيْمَ وَامْسَحْ رَأْسَهُ وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ يَلِنُ قَلْبُكَ وَتُدْرِكُ حَاجَتُكَ

“Apakah engkau suka hatimu menjadi lembut dan kamu mendapatkan hajatmu (keperluanmu)? Rahmatilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berikanlah makan kepadanya dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lembut dan niscaya kamu akan mendapatkan hajatmu.” (HR. ‘Abdurrazaq dalam mushannafnya, 11:97. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, 2544).
BERBUAT BAIK PADA JANDA DAN DHUAFA


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السَّاعِى عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ – وَأَحْسِبُهُ قَالَ ، يَشُكُّ الْقَعْنَبِىُّ – كَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ ، وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ

“Orang yang berusaha menghidupi para janda dan orang-orang miskin laksana orang yang berjuang di jalan Allah. Al-Qa’nabi–yaitu gurunya Imam Bukhari dan Muslim–berkata, aku sangka itu seperti orang yang shalat malam yang tidak pernah merasakan lelah, dan yang berpuasa yang tidak pernah berhenti berpuasa.” (HR. Bukhari, no. 5353 dan Muslim, no. 2982)
*BERADAB KEPADA ALLAH*


Bab akhlaq adalah bab yang sangat agung. Dan akhlaq yang paling tinggi adalah adab seorang hamba kepada Rabb dan Penciptanya.

Zat yang telah menganugerahkannya sebuah jasad, kesehatan, kekuatan, pancaindera dan kenikmatan-kenikmatan lainnya.

Maka hak Rabb yang Maha agung dan Maha mulia ini adalah beradab kepadaNya. Seorang hamba harus beradab kepada Allah subhanahu wata'ala.

Adab kepada Allah berarti memuliakan, mengagungkan dan memaksa diri untuk memenuhi hak-haknya.

Dan adab kepada Allah subhanahu wata'ala yang paling agung adalah benar-benar menghadirkan rasa malu kepadaNya. Sebagaimana sabda Nabi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
إِسْتَحْيُوا مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ
*_Benar-benar merasa malulah kalian kepada Allah_*. (HR. Tirmidzi No.2458)

Bukanlah bentuk sikap malu kepada Allah, ketika seorang hamba bersembunyi dari manusia ketika bermaksiat, padahal ia tahu Rabb semesta alam sedang memperhatikannya. Mereka bersembunyu dari manusia tapi tidak bersembunyi dari Allah.

ALlah berfirman:
يَّسۡتَخۡفُوۡنَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسۡتَخۡفُوۡنَ مِنَ اللّٰهِ وَهُوَ مَعَهُمۡ اِذۡ يُبَيِّتُوۡنَ مَا لَا يَرۡضٰى مِنَ الۡقَوۡلِ‌ؕ وَكَانَ اللّٰهُ بِمَا يَعۡمَلُوۡنَ مُحِيۡطًا
*_Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal ALlah bersama mereka di saat mereka membicarakan hal yang tidak Allah ridhoi di malam hari. Dan Allah Maha Meliputi terhadap apa yang mereka kerjakan._*. (QS. an-Nisa:108)

Ini merupakan petunjuk alQuran agar seorang hamba beradab kepada Allah subhanahu wata'ala.
CARA BERTAUBAT

Jika dosa yang dilakukan berkaitan dengan makhluk, apabila berupa harta, maka engkau harus mengembalikannya kepada pemiliknya.

Tidak diterima taubatmu kecuali dengan mengembalikannya. Seperti jika engkau mencuri harta seseorang, lalu engkau bertaubat, maka engkau harus mengembalikan harta yang dicuri kepada pemiliknya.

Atau engkau punya hutang dengan seseorang, lalu engkau tidak mengakuinya, kemudian engkau bertaubat. Maka engkau harus menemui kepada si pemberi hutang dan mengakui kesalahanmu, agar ia bisa mengambil haknya kembali.

Jika orang tersebut sudah meninggal, maka berikan kepada ahli warisnya, jika engkau tidak mengetahui keberadaan orang tersebut, maka sedekahkanlah hartanya atas nama orang itu. Sedekahkan atas namanya untuk berlepas diri dari harta tersebut. Biar Allah subhanahu wata'ala yang akan memberikan kepadanya. Demikian, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin memberikan jawabannya.

Jadi, taubatnya orang yang korupsi, harus mengembalikan seluruh harta yang diambil ke si empunya, taubatnya orang yang menggelapkan dana ribuan bahkan puluhan ribu orang, berarti harus mengembalikan semua uang yang digelapkan itu ke ribuan atau puluhan ribu orang tersebut, agar selesai urusanmu di dunia.


Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa:17)

👤 Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah berkata menafsirkan ayat diatas :

“(Ayat) Ini mengisyaratkan bahwa sebaik-baik waktu bertaubat adalah bersegera di waktu sehatnya sebelum datang penyakit sehingga ia bisa melakukan amal sholih.” (Lathoiful Ma’arif 720)
PAHALA AMALAN SHALIH BERLIPAT GANDA DI BULAN HARAM

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679).

Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, 207)
*Mengukur Kadar Keshalihan Diri Sendiri*


JIka seseorang merasakan hatinya khusyuk saat mendengarkan firman Allah. Ia selalu rindu untuk mendengarkan al Quran, berusaha mengambil manfaat dan mengamalkan al Quran. Maka ia adalah orang yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah. Ia adalah orang yang paling sempurna keshalihannya.

Tapi jika seseorang merasakan hatinya lalai dari firman Allah. Sama saja baginya mendengarkan firman Allah dan perkataan orang lain. Hatinya tidak khusyuk dan tidak terpengaruh saat membaca al Quran. Dari kelalaian tersebut, ia mengetahui berapa kadar kerusakan hatinya.

Ibnu Rajab Al-Hambaly rahimahullah berkata :

إذا كان الإنسان تسوؤه سيئته ويعمل لأجلها عملا صالحا، كان ذلك دليلا على إيمانه.

“Jika seseorang merasa sedih karena dosanya dan dia beramal shalih untuk menghapusnya, maka itu merupakan bukti atas keimanannya.”

Fathul Bary, jilid 3 hlm. 28
*BIANG KECELAKAAN DI AKHIRAT*


Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang apa amalan yang terbanyak menyebabkan manusia masuk al-jannah (surga)?

Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.”

Beliau shallallahu alaihi wasallam juga ditanya tentang apa perkara terbanyak yang menyebabkan manusia masuk an-Nar (neraka)?

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mulut dan kemaluan.”

🟢 HR. At-Tirmidzi no. 2004
*Agar Hati dekat dengan Allah*


Salah satu sebab agar hati menjadi baik dan istiqomah di atas kebaikan adalah dengan bersahabat dengan orang-orang baik, para ulama dan orang-orang shalih.

Merenungi perkataan mereka dan mengambil manfaat dari nasihat mereka. Begitu juga dengan semangat untuk selalu mendengarkan kajian ilmu. Dengan begitu Allah akan memperbaiki kerusakan hatinya.

Karena ALlah menjadikan hati hidup dengan mengingatNya. Oleh karenanya, orang yang berusaha mengisi waktunya dengan nasihat dan majelis ilmu.

Engkau akan melihatnya sangat dekat dengan Allah. Hatinya lebih dekat dengan ALlah daripada orang yang tidak demikian.

Karenanya Allah mensyariatkan hamba-hambaNya yang beriman, untuk mendengarkan nasihat dan peringatan sekali sepekan.

Allah mensyariatkan hambaNya yang beriman untuk pergi sholat jumat, agar ia bisa membersihkan kotoran-kotoran hatinya. Agar ia bisa bangun dari tidurnya dan sadar akan kelalaiannya dan agar hatinya ingat kepada Allah.
DOA MEMOHON HIDAYAH


Allah Ta’ala yang maha sempurna rahmat dan kebaikannya, memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk selalu berdoa memohon hidayah taufik kepada-Nya, yaitu dalam surah Al Fatihah:

{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}

“Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus”.

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Doa (dalam ayat ini) termasuk doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi manusia, oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk berdoa kepada-Nya dengan doa ini di setiap rakaat dalam shalatnya, karena kebutuhannya yang sangat besar terhadap hal tersebut”

Dalam banyak hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita doa memohon hidayah kepada Allah Ta’ala. Misalnya doa yang dibaca dalam qunut shalat witir:

(( اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْت))

“Ya Allah, berikanlah hidayah kepadaku di dalam golongan orang-orang yang Engkau berikan hidayah”
*BERDOALAH DI WAKTU MUSTAJAB INI*

Perhatikan firman Allah berikut ini:
كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا الۡمِحۡرَابَۙ وَجَدَ عِنۡدَهَا رِزۡقًا ‌ۚ‌ قَالَ يٰمَرۡيَمُ اَنّٰى لَـكِ هٰذَا ؕ‌ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ يَرۡزُقُ مَنۡ يَّشَآءُ بِغَيۡرِ حساب
*_Setiap Zakaria masuk menemui Maryam di Mihrab, ia dapati di sisinya makanan. Ia berkata," Hai Maryam, dari mana engkau memperoleh (makanan) ini?". Maryam menjawab,"Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah yang memberi rezeki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab"._*(QS. Ali Imran:37)

Tatkala Zakaria mengamati kejadian ini, iapun tersentuh, di Mihrab tersebut saat melihat karunia ALlah ia segera berdoa kepada Allah:
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗ‌ ‌ۚ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِىۡ مِنۡ لَّدُنۡكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً‌ ‌ ۚ اِنَّكَ سَمِيۡعُ الدُّعَآءِ
Di sanalah Zakaria berdoa kepada RabbNya seraya berkata, *Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha mendengar doa*. (QS. Ali Imran:38)

Sebagian ulama berkomentar sesungguhnya keadaan ini termasuk keadaan-keadaan dikabulkannya doa, yaitu ketika kamu melihat nikmat saudaramu muslim, maka berdoalah karena ini termasuk keadaan terkabulnya doa. Ketika engkau mendengar bahwa Fulan mendapatkan rezeki, kebaikan, maka berdoalah kepada ALlah. Mintalah untuknya taufiq dan pertolongan dan berdoalah untuk dirimu sendiri. Ini termasuk keadaan mustajab doa. Perhatikanlah firman Allah:
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗ‌
*_Di sanalah Zakaria berdoa kepada Rabbnya_*.

Begitu juga ini dapat menghilangkan penyakit hasad dalam diri.

(Syaikh Sa'ad Al-Khatslan)
*TERJERUMUS DALAM KESESATAN*

Jika kita melihat dan memperhatikan kebanyakan orang zaman ini, yang mana mereka terjatuh ke dalam berbagai bentuk penyimpangan dan kekeliruan dalam aqidah maupun ibadah, maka masalahnya kembali kepada sumber mereka dalam mengambil hukum.

Jika sumber hukumnya salah, maka salah pula hukumnya.

Oleh karenanya, seorang muslim harus semangat untuk mengambil ke sumber hukum yang murni dan putih (al Quran dan sunnah). Dari sumber inilah aqidah, ibadah dan akhlaq diambil. Sehingga agama, aqidah dan ibadahnya kepada Allah berada di atas ilmu yang benar.

Imam al-Ghazaliy rahimahullah berkata :
“Ketahuilah bahwa barang siapa menilai kebenaran melalui sosok seseorang, ia akan kebingungan dalam jurang kesesatan. Kenalilah kebenaran (dari dalil Al-Quran, sunnah dan praktek para shahabat nabi -pen) niscaya engkau mengenal siapa yang benar jika engkau memang benar ingin menempuh jalan kebenaran. Jika engkau beranggapan bahwa keunggulan seseorang cukup untuk menentukan kebenaran, jangan abaikan para Sahabat dan keunggulan mereka. Karena semua sepakat tentang keunggulan mereka. Dalam urusan agama, mereka tak bisa dikejar dan tak tertandingi. Keunggulan mereka bukan karena kata-kata, tetapi karena ilmu akhirat. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, unggul bukan karena banyak melakukan puasa dan shalat, melainkan karena sesuatu yang ada di dalam dadanya.”

📚 Ihyaa’ ‘Uluum ad-Diin, jilid 1, hlm. 23