*BELAJAR NIATNYA HARUS KARENA ALLAH*
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
من تعلّم علما ممّا يبتغ به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيبَ به عرضا من الدنيا لم يجد غرْفَ الجنةِ يومَ القيامة / لم يجد رائحة الجنةِ يومَ القيامة
*_Siapa mempelajari ilmu yang harusnya diniatkan untuk bisa melihat wajah ALlah, tapi ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat._* (HR. Abu Dawud No.3664)
Setelah kita mengetahui hadits shahih ini, maka jangan pernah lagi kita menyekolahkan anak-anak kita hanya sekedar untuk bekerja, mendapatkan ijazah, untuk mengejar karir dan lain sebagainya.
Niatkanlah menyekolahkan anak agar sang anak menjadi orang baik, yang mampu menjalankan hidupnya di bawah panduan Allah dan Nabinya.
Demikianlah Nabi shallallahu a'alaihi wa sallam mendidik para shahabatnya, dengan orientasi akhirat, dan ALlah malah membuka dunia bagi mereka.
Sedang kita umat Islam hari ini, 24 jam memikirkan dunia, dan duniapun tidak didapatkan, hanya sekedar yang telah ditetapkan ALlah baginya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
مُـحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْـقَضِـى
*_Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: (1) Kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus, (2) Kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan, dan (3) Kerugian yang tidak pernah berhenti._*
Allah berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
*_Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan._* [Hûd/11:15-16]
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
من تعلّم علما ممّا يبتغ به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيبَ به عرضا من الدنيا لم يجد غرْفَ الجنةِ يومَ القيامة / لم يجد رائحة الجنةِ يومَ القيامة
*_Siapa mempelajari ilmu yang harusnya diniatkan untuk bisa melihat wajah ALlah, tapi ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat._* (HR. Abu Dawud No.3664)
Setelah kita mengetahui hadits shahih ini, maka jangan pernah lagi kita menyekolahkan anak-anak kita hanya sekedar untuk bekerja, mendapatkan ijazah, untuk mengejar karir dan lain sebagainya.
Niatkanlah menyekolahkan anak agar sang anak menjadi orang baik, yang mampu menjalankan hidupnya di bawah panduan Allah dan Nabinya.
Demikianlah Nabi shallallahu a'alaihi wa sallam mendidik para shahabatnya, dengan orientasi akhirat, dan ALlah malah membuka dunia bagi mereka.
Sedang kita umat Islam hari ini, 24 jam memikirkan dunia, dan duniapun tidak didapatkan, hanya sekedar yang telah ditetapkan ALlah baginya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
مُـحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْـقَضِـى
*_Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: (1) Kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus, (2) Kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan, dan (3) Kerugian yang tidak pernah berhenti._*
Allah berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
*_Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan._* [Hûd/11:15-16]
RAJINLAH BERAMAL SHALIH MESKI ILMU MASIH SEDIKIT
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzhahullahu Ta’ala berkata :
العمل الصالح مع قليل من العلم يبارك الله فيه وأما العلم الكثير مع عدم العمل فإنه هباء منثور وصاحبه يُعذَّب قبل عبدة الأوثان
“Rajin beramal shalih meski ilmunya sedikit akan diberkahi Allah. Sebaliknya, ilmu yang banyak tanpa disertai amal ibarat debu yang berterbangan serta pemilik ilmu itu pun akan disiksa sebelum para penyembah berhala.”
(Muhadharah Washaya wa Taujihat 18/1/1441 H)
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzhahullahu Ta’ala berkata :
العمل الصالح مع قليل من العلم يبارك الله فيه وأما العلم الكثير مع عدم العمل فإنه هباء منثور وصاحبه يُعذَّب قبل عبدة الأوثان
“Rajin beramal shalih meski ilmunya sedikit akan diberkahi Allah. Sebaliknya, ilmu yang banyak tanpa disertai amal ibarat debu yang berterbangan serta pemilik ilmu itu pun akan disiksa sebelum para penyembah berhala.”
(Muhadharah Washaya wa Taujihat 18/1/1441 H)
*BONUS DEMOGRAFI, NIKMAT ATAU BENCANA?*
Bonus demografi di negara spt Indonesia adalah nyata.
Masalahnya kemudian adalah tarik menarik antara dua nilai SYUKUR atau KUFUR atas nikmat bonus demografi ini.
Baik syukur maupun kufur (terutama kufur) ada pendukungnya. Tinggal siapa yg menang di atas pentas, merekalah yg akan menentukan negeri ini di masa depan.
Fenomena yg akan muncul di lapangan hakikatnya sama, yaitu pertarungan antara MUSHLIHUN (مصلحون)dan MUFSIDUN (مفسدون).
Kelompok yg memperbaiki vs kelompok perusak.
Cuma, sekilas sy perhatikan, masalahnya, orang baik belum tentu mau memperbaiki (melakukan ishlah terhadap kerusakan), tapi orang rusak/bejat by nature pasti merusak.
-Sebuah renungan sekaligus tantangan-
=====================================
*MUSHLIHUN VERSUS MUFSIDUN*
Risalah para nabi itu ishlah (memperbaiki), membentuk generasi mushlih, bukan hanya membangun kebaikan (shalah) dan membentuk generasi shalih.
Coba simak deklarasi risalah Nabi Syuaib AS kepada kaumnya, Quran surat Hud[11]:88
_Dia (Syuaib) berkata, "Wahai kaumku! Terangkan padaku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan aku dianugerahi-Nya rezeki yang baik (pantaskah aku menyalahi perintah-Nya)? Aku tidak bermaksud menyalahi kamu terhadap apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) *perbaikan* selama aku masih sanggup. Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali._
Kita hari ini banyak yang merasa cukup menjadi shalih dan puas ketika keshalihan (kebaikan) itu masih ada.
Padahal, kita semua dituntut untuk melakukan ishlah (memperbaiki) kerusakan yang ada. Itu puncak keshalihan yang sesungguhnya, yaitu ketika kita masih bertanggung jawab memperbaiki kerusakan menjadi mushlih.
Ishlah itu manhaj para nabi.
Mushlihun itulah pengikut Nabi Saw yang sesungguhnya.
~ _KH. Asep Sobari_ ~
Bonus demografi di negara spt Indonesia adalah nyata.
Masalahnya kemudian adalah tarik menarik antara dua nilai SYUKUR atau KUFUR atas nikmat bonus demografi ini.
Baik syukur maupun kufur (terutama kufur) ada pendukungnya. Tinggal siapa yg menang di atas pentas, merekalah yg akan menentukan negeri ini di masa depan.
Fenomena yg akan muncul di lapangan hakikatnya sama, yaitu pertarungan antara MUSHLIHUN (مصلحون)dan MUFSIDUN (مفسدون).
Kelompok yg memperbaiki vs kelompok perusak.
Cuma, sekilas sy perhatikan, masalahnya, orang baik belum tentu mau memperbaiki (melakukan ishlah terhadap kerusakan), tapi orang rusak/bejat by nature pasti merusak.
-Sebuah renungan sekaligus tantangan-
=====================================
*MUSHLIHUN VERSUS MUFSIDUN*
Risalah para nabi itu ishlah (memperbaiki), membentuk generasi mushlih, bukan hanya membangun kebaikan (shalah) dan membentuk generasi shalih.
Coba simak deklarasi risalah Nabi Syuaib AS kepada kaumnya, Quran surat Hud[11]:88
_Dia (Syuaib) berkata, "Wahai kaumku! Terangkan padaku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan aku dianugerahi-Nya rezeki yang baik (pantaskah aku menyalahi perintah-Nya)? Aku tidak bermaksud menyalahi kamu terhadap apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) *perbaikan* selama aku masih sanggup. Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali._
Kita hari ini banyak yang merasa cukup menjadi shalih dan puas ketika keshalihan (kebaikan) itu masih ada.
Padahal, kita semua dituntut untuk melakukan ishlah (memperbaiki) kerusakan yang ada. Itu puncak keshalihan yang sesungguhnya, yaitu ketika kita masih bertanggung jawab memperbaiki kerusakan menjadi mushlih.
Ishlah itu manhaj para nabi.
Mushlihun itulah pengikut Nabi Saw yang sesungguhnya.
~ _KH. Asep Sobari_ ~
*DOA UNTUK KEBAIKAN IBU*
اَللَّهُمَّ ارْزُقْ أُمِّي بَرَكَةً فِي عُمُرِهَا
وَنُورًا فِي قَلْبِهَا
وَضِيَاءً فِي وَجْهِهَا
وَسِعَةً فِي رِزْقِهَا وَرِضًا فِي نَفْسِهَ
اوَاصْرِفْ عَنْهَا كُلَّ سُوءٍ وَمَرَضٍ
*_Ya Allah karuniakan kepada ibuku keberkahan selama hidupnya.
Dan cahaya yang menerangi hatinya
Dan sinar pada wajahnya.
Dan luaskanlah rezekinya serta karuniakan ia jiwa yang selalu ridho.
Dan palingkanlah ia dari segala keburukan dan penyakit._*
~ _Syaikh Ahmad An-Nufais_ ~
اَللَّهُمَّ ارْزُقْ أُمِّي بَرَكَةً فِي عُمُرِهَا
وَنُورًا فِي قَلْبِهَا
وَضِيَاءً فِي وَجْهِهَا
وَسِعَةً فِي رِزْقِهَا وَرِضًا فِي نَفْسِهَ
اوَاصْرِفْ عَنْهَا كُلَّ سُوءٍ وَمَرَضٍ
*_Ya Allah karuniakan kepada ibuku keberkahan selama hidupnya.
Dan cahaya yang menerangi hatinya
Dan sinar pada wajahnya.
Dan luaskanlah rezekinya serta karuniakan ia jiwa yang selalu ridho.
Dan palingkanlah ia dari segala keburukan dan penyakit._*
~ _Syaikh Ahmad An-Nufais_ ~
SYAHWAT PIKIRAN
Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi
Orang berzina, membunuh, mencuri itu karena syahwat. Orang korupsi, merampok, memanipulasi itu karena dorongan syahwat. Ada pula orang berbeda pendapat dan berselisih hingga bermusuhan karena syahwat. Bahkan boleh jadi ada orang bertausiyah, menyalahkan orang lain dengan penuh syahwat.
Syahwat adalah nafsu atau hawa nafsu yang dimiliki oleh manusia tapi juga dimiliki oleh hewan. Namun Allah swt memberi manusia syahwat, tapi juga memberinya akal dan ilmu. Dengan akal, syahwat manusia akan membawa kepada kebaikan. Namun tanpa akal dan ilmu syahwat akan menyesatkan. Orang sesat karena menggunakanhawa nafsunya tanpa akal dan ilmu sehingga tidak dapat ditolong (QS al-Rum 29).
Maka barangsiapa yang akalnya mengikuti syahwatnya maka ia akan sesat, bahkan lebih sesat dari binatang. Namun jika syahwatnya mengikuti atau dipimpin oleh akalnya maka boleh jadi ia lebih mulia dari Malaikat.
Maka ketika seorang sedang berzina, memperkosa, membunuh dan mencuri, sesungguhnya ia sedang dipimpin syahwatnya dan kehilangan imannya. Karena meninggalknan imannya maka ia kehilangan akalnya. Berarti seorang yang beriman itu adalah orang-orang yang cerdas menggunakan akalnya, sedangkan seorang pezina dan pencuri itu hilang akal sehingga menjadi bodoh dan derajatnya rendah serendah hewan. Namun, ada yang lebih berbahaya dari "syahwat yang menyesatkan pada perut dan kemaluan" yang juga dikhawatirkan oleh Rasulullah. Syahwat itu adalah hawa nafsu yang menyimpangkan dari jalan yang lurus." (H.RMuslim).
Jalan lurus adalah Islam dan Iman. Apa dibuat menyimpang oleh hawa nafsu boleh jadi adalah pikiran seseorang. Terbukti tidak sedikit kasus dimana pemikir, ilmuwan, cendekiawan yang pikirannya dirasuki oleh syahwat atau hawa nafsunya. Pemikir seperti ini bisa jadi menghujat agama, mencaci ulama, mencaci saudara seiman, mencari cari kesalahan orang lain dan sebagainya.
Bagaimanakah syahwat bisa membuat pikiran menyimpang? Al- Qur'an menunjukkan bahwa karena syahwat hati seseorang itu terkunci. Padahal hati itu adalah juga akalnya. Karena syahwat pendengarannya dan penglihatannya terhalang (QS. Al- Jatsiyah: 23), walhal keduanya adalah sumber ilmu. Maka wajar jika syahwat dominan akal tidak lagi berfungsi dalam menentukan baik buruk.
Selain itu dalam Islam yang dilarang bukan berfikir rasional atau menggunakan akal, tapi berfikir yang mengikuti syahwat. Sebab mengikuti hawa nafsu … akan menyesatkan manusia dari jalan Allah.." (QS. Shaad: 26). Ini sebenarnya suatu tindak ketidak adilan dalam diri seseorang. Yaitu suatu tindakan meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.
Orang yang melakukan tindakan seperti ini tentu bukan orang yang dapat disebut adil. Orang seperti itu yang dilarang untuk dijadikan pemimpin dan ditaati. Firman Allah jelas sekali: "Dan janganlah engkau taati orang yang Kami lalaikan hatinya untuk mengingat Kami dan mengikuti hawa nafsunya dan keadaannya sudah melampaui batas". (QS.Al-Kahfi : 28).
Mafhum mukhalafah ayat ini jelas. Ilmuwan dan pemimpin yang berhak ditaati manusia adalah orang yang hatinya dipenuhi dengan dzikir kepada- Nya. Pikirannya bisa menguasai hawa nafsunya sehingga ia mengetahui batas-batas kebebasan yang boleh dilakukan dan yang tidak.
Untuk mengatasi ini Imam al- Ghazzali memberikan solusnya berupa kesabaran. Sabar dalam syahwat disebut iffah; sabar dari marah adalah al-hilmu; sabar dari kelebihan adalah al-zuhdu. Semua itu dapat diperoleh dengan tiga hal yaitu puasa, ibadah yang berat-berat dan terakhir berdoa. Wallahul musta'an.
----------
Dimuat di Koran Republika, 16 Juni 2016.
Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi
Orang berzina, membunuh, mencuri itu karena syahwat. Orang korupsi, merampok, memanipulasi itu karena dorongan syahwat. Ada pula orang berbeda pendapat dan berselisih hingga bermusuhan karena syahwat. Bahkan boleh jadi ada orang bertausiyah, menyalahkan orang lain dengan penuh syahwat.
Syahwat adalah nafsu atau hawa nafsu yang dimiliki oleh manusia tapi juga dimiliki oleh hewan. Namun Allah swt memberi manusia syahwat, tapi juga memberinya akal dan ilmu. Dengan akal, syahwat manusia akan membawa kepada kebaikan. Namun tanpa akal dan ilmu syahwat akan menyesatkan. Orang sesat karena menggunakanhawa nafsunya tanpa akal dan ilmu sehingga tidak dapat ditolong (QS al-Rum 29).
Maka barangsiapa yang akalnya mengikuti syahwatnya maka ia akan sesat, bahkan lebih sesat dari binatang. Namun jika syahwatnya mengikuti atau dipimpin oleh akalnya maka boleh jadi ia lebih mulia dari Malaikat.
Maka ketika seorang sedang berzina, memperkosa, membunuh dan mencuri, sesungguhnya ia sedang dipimpin syahwatnya dan kehilangan imannya. Karena meninggalknan imannya maka ia kehilangan akalnya. Berarti seorang yang beriman itu adalah orang-orang yang cerdas menggunakan akalnya, sedangkan seorang pezina dan pencuri itu hilang akal sehingga menjadi bodoh dan derajatnya rendah serendah hewan. Namun, ada yang lebih berbahaya dari "syahwat yang menyesatkan pada perut dan kemaluan" yang juga dikhawatirkan oleh Rasulullah. Syahwat itu adalah hawa nafsu yang menyimpangkan dari jalan yang lurus." (H.RMuslim).
Jalan lurus adalah Islam dan Iman. Apa dibuat menyimpang oleh hawa nafsu boleh jadi adalah pikiran seseorang. Terbukti tidak sedikit kasus dimana pemikir, ilmuwan, cendekiawan yang pikirannya dirasuki oleh syahwat atau hawa nafsunya. Pemikir seperti ini bisa jadi menghujat agama, mencaci ulama, mencaci saudara seiman, mencari cari kesalahan orang lain dan sebagainya.
Bagaimanakah syahwat bisa membuat pikiran menyimpang? Al- Qur'an menunjukkan bahwa karena syahwat hati seseorang itu terkunci. Padahal hati itu adalah juga akalnya. Karena syahwat pendengarannya dan penglihatannya terhalang (QS. Al- Jatsiyah: 23), walhal keduanya adalah sumber ilmu. Maka wajar jika syahwat dominan akal tidak lagi berfungsi dalam menentukan baik buruk.
Selain itu dalam Islam yang dilarang bukan berfikir rasional atau menggunakan akal, tapi berfikir yang mengikuti syahwat. Sebab mengikuti hawa nafsu … akan menyesatkan manusia dari jalan Allah.." (QS. Shaad: 26). Ini sebenarnya suatu tindak ketidak adilan dalam diri seseorang. Yaitu suatu tindakan meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.
Orang yang melakukan tindakan seperti ini tentu bukan orang yang dapat disebut adil. Orang seperti itu yang dilarang untuk dijadikan pemimpin dan ditaati. Firman Allah jelas sekali: "Dan janganlah engkau taati orang yang Kami lalaikan hatinya untuk mengingat Kami dan mengikuti hawa nafsunya dan keadaannya sudah melampaui batas". (QS.Al-Kahfi : 28).
Mafhum mukhalafah ayat ini jelas. Ilmuwan dan pemimpin yang berhak ditaati manusia adalah orang yang hatinya dipenuhi dengan dzikir kepada- Nya. Pikirannya bisa menguasai hawa nafsunya sehingga ia mengetahui batas-batas kebebasan yang boleh dilakukan dan yang tidak.
Untuk mengatasi ini Imam al- Ghazzali memberikan solusnya berupa kesabaran. Sabar dalam syahwat disebut iffah; sabar dari marah adalah al-hilmu; sabar dari kelebihan adalah al-zuhdu. Semua itu dapat diperoleh dengan tiga hal yaitu puasa, ibadah yang berat-berat dan terakhir berdoa. Wallahul musta'an.
----------
Dimuat di Koran Republika, 16 Juni 2016.
DOA BERLINDUNG DARI KEBURUKAN TETANGGA/TEMAN/ANAK/PASANGAN/HARTA
Doa adalah senjatanya seorang muslim, maka perbanyaklah berdoa, apatah lagi di zaman ini yang penuh dengan fitnah, sulit membedakan yang haq dan bathil.
Ini salah satu doa yang dianjurkan, perbanyaklah do’a ini :
اللَّهُمَّ إنِّي أّعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ، وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ المَشِيبِ، وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَليَّ رَبّاً، وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابَاً، وَمِنْ خَلِيْلٍ مَاكِرٍ عَيْنُهُ تَرَانِي، وَقَلْبُهُ يَرْعَانِي؛ إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا، وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari tetangga yang jahat, dari pasangan yang menjadikanku tua (beruban) sebelum waktunya, dari anak (keturunan) yang berkuasa kepadaku, dari harta yang menjadi siksa bagiku, dan dari kawan dekat yang berbuat makar kepadaku, matanya melihat dan hatinya terus mengawasi, namun kalau melihat kebaikanku, ia timbun dan kalau melihat kejelekanku, ia sebarkan.”
HR. Thabrani, Kitab Ad-Du’a’ 3 : 1425. Syaikh Al-Albani sebutkan dalam Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah, 7 : 377, 3137
Doa adalah senjatanya seorang muslim, maka perbanyaklah berdoa, apatah lagi di zaman ini yang penuh dengan fitnah, sulit membedakan yang haq dan bathil.
Ini salah satu doa yang dianjurkan, perbanyaklah do’a ini :
اللَّهُمَّ إنِّي أّعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ، وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ المَشِيبِ، وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَليَّ رَبّاً، وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابَاً، وَمِنْ خَلِيْلٍ مَاكِرٍ عَيْنُهُ تَرَانِي، وَقَلْبُهُ يَرْعَانِي؛ إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا، وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari tetangga yang jahat, dari pasangan yang menjadikanku tua (beruban) sebelum waktunya, dari anak (keturunan) yang berkuasa kepadaku, dari harta yang menjadi siksa bagiku, dan dari kawan dekat yang berbuat makar kepadaku, matanya melihat dan hatinya terus mengawasi, namun kalau melihat kebaikanku, ia timbun dan kalau melihat kejelekanku, ia sebarkan.”
HR. Thabrani, Kitab Ad-Du’a’ 3 : 1425. Syaikh Al-Albani sebutkan dalam Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah, 7 : 377, 3137
BENARKAH UCAPAN ALFU MABRUK?
Untuk mengucapkan selamat, jangan kita mengatakan MABRUUK (مبروك). , sebab ia berasal dari kata BARAKA (برك), yang maknanya hewan ternak menderum, menekuk kedua kaki depannya.
Ucapan yang shahih (benar) adalah MUBAARAK (مبارك) atau BAARAKA (بارك), seperti ucapan:
مبارك على الفتى ما نال
Semoga keberkahan untuk pemuda itu atas yang diperolehnya.
Atau
بارك الله له فيما وهب
Semoga Allah memberi keberkahan baginya dari yang diberikanNya.
Atau
بارك الله فيك atau فيكم
Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu (laki/perempuan)/kalian.
Yang lebih salah lagi, kita mengucapkan:
Alfu mabruk, seribu mabruk.
Kata mabruk saja sudah salah, terlebih dibatasi kata seribu. Barakah atau rahmat Allah tiada batas, tak terhingga. Tak hanya seribu.
( Referensi: LATHAIF, Al Quran Wal arabiyyah - Muhammad Azhar)
Untuk mengucapkan selamat, jangan kita mengatakan MABRUUK (مبروك). , sebab ia berasal dari kata BARAKA (برك), yang maknanya hewan ternak menderum, menekuk kedua kaki depannya.
Ucapan yang shahih (benar) adalah MUBAARAK (مبارك) atau BAARAKA (بارك), seperti ucapan:
مبارك على الفتى ما نال
Semoga keberkahan untuk pemuda itu atas yang diperolehnya.
Atau
بارك الله له فيما وهب
Semoga Allah memberi keberkahan baginya dari yang diberikanNya.
Atau
بارك الله فيك atau فيكم
Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu (laki/perempuan)/kalian.
Yang lebih salah lagi, kita mengucapkan:
Alfu mabruk, seribu mabruk.
Kata mabruk saja sudah salah, terlebih dibatasi kata seribu. Barakah atau rahmat Allah tiada batas, tak terhingga. Tak hanya seribu.
( Referensi: LATHAIF, Al Quran Wal arabiyyah - Muhammad Azhar)
*JANGAN KORBANKAN AGAMAMU WAHAI PEMUDA*
Pemuda zaman ini menghadapi serangan yang sangat kuat. Agamanya diserang, akhlak, kehormatan, kemuliaan dan adabnya juga ikut diserang. Sehingga ia butuh untuk membentengi dirinya.
Tanpa benteng pemuda akan digerogoti berbaga ipenyakit. Penyakit itu menjalar sampai ke hatinya dan membahayakan dirinya.
Mengetahui ini, pencegahan untuk penyakit tersebut sangat penting, jangan sampai seseorang mengorbankan dirinya.
Jika seseorang ingin mengorbankan sesuatu, maka jangan pernah ia korbankan agamanya, karena agama adalah harta yang paling berharga.
Segala sesuatu bisa dicarikan gantinya, kecuali agama. Jika agama ini hilang, tidak ada penggantinya.
Jika seseorang rugi dalam agamanya, maka inilah kerugian yang sebenarnya. Wal'iyaadzubillah.
Pemuda zaman ini menghadapi serangan yang sangat kuat. Agamanya diserang, akhlak, kehormatan, kemuliaan dan adabnya juga ikut diserang. Sehingga ia butuh untuk membentengi dirinya.
Tanpa benteng pemuda akan digerogoti berbaga ipenyakit. Penyakit itu menjalar sampai ke hatinya dan membahayakan dirinya.
Mengetahui ini, pencegahan untuk penyakit tersebut sangat penting, jangan sampai seseorang mengorbankan dirinya.
Jika seseorang ingin mengorbankan sesuatu, maka jangan pernah ia korbankan agamanya, karena agama adalah harta yang paling berharga.
Segala sesuatu bisa dicarikan gantinya, kecuali agama. Jika agama ini hilang, tidak ada penggantinya.
Jika seseorang rugi dalam agamanya, maka inilah kerugian yang sebenarnya. Wal'iyaadzubillah.
*DOA AGAR TERLINDUNG DARI PERBUATAN SYIRIK*
Syech at Tamimy berkata:
أن يُخَلِّصَكَ من هذه الشَّبَكَةِ
*_Semoga Allah membebaskanmu dari jaring kesyirikan ini_*.
Perkataan beliau ini maksudnya adalah bebas dari kesyirikan.
Maka ini mengharuskan kita untuk mengenal hakikat kesyirikan. Mengharuskan kita untuk mewaspadai kesyirikan dan berdoa kepada ALlah 'azza wa jalla untuk melindungimu kita darinya.
Ada sebuah doa yang diajarkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para shahabat beliau. Ketika beliau bersabda:
ألشِّرْكُ فيكم أخفى من دَبِيبِ النَمْلِ
*_Syirik itu benar-benar lebih halus daripada rayapan semut._*
Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:
*_Maukah kalian aku ajarkan sebuah doa yang akan menghilangkan sedikit atau banyak kesyirikan dari kalian? sahabat menjawab: Kami mau_*.
Rasulullah bersabda:
تقولون
Bacalah
اللهم إنا نعوذبك أن نشرك بك ونحن نعلم ونستغفرك لما لا نعلم
Ya Allah kami berlindung kepadaMu dari kesyirikan yang kami sadari. Dan kami mohon ampun kepadaMu dari kesyirikan yang tidak kami sadari_* (HR. Ahmad No.19606)
Seseorang hendaknya berdoa, semoga ALlah membebaskannya dari kesyirikan, mengenal hakikat kesyirikan dan mewaspadainya.
~ _Syaikh Abdurrozaq bin Abdul Muhsin Al-Badr_ ~
Syech at Tamimy berkata:
أن يُخَلِّصَكَ من هذه الشَّبَكَةِ
*_Semoga Allah membebaskanmu dari jaring kesyirikan ini_*.
Perkataan beliau ini maksudnya adalah bebas dari kesyirikan.
Maka ini mengharuskan kita untuk mengenal hakikat kesyirikan. Mengharuskan kita untuk mewaspadai kesyirikan dan berdoa kepada ALlah 'azza wa jalla untuk melindungimu kita darinya.
Ada sebuah doa yang diajarkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para shahabat beliau. Ketika beliau bersabda:
ألشِّرْكُ فيكم أخفى من دَبِيبِ النَمْلِ
*_Syirik itu benar-benar lebih halus daripada rayapan semut._*
Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:
*_Maukah kalian aku ajarkan sebuah doa yang akan menghilangkan sedikit atau banyak kesyirikan dari kalian? sahabat menjawab: Kami mau_*.
Rasulullah bersabda:
تقولون
Bacalah
اللهم إنا نعوذبك أن نشرك بك ونحن نعلم ونستغفرك لما لا نعلم
Ya Allah kami berlindung kepadaMu dari kesyirikan yang kami sadari. Dan kami mohon ampun kepadaMu dari kesyirikan yang tidak kami sadari_* (HR. Ahmad No.19606)
Seseorang hendaknya berdoa, semoga ALlah membebaskannya dari kesyirikan, mengenal hakikat kesyirikan dan mewaspadainya.
~ _Syaikh Abdurrozaq bin Abdul Muhsin Al-Badr_ ~
*WAKTU ADALAH PEDANG*
Ada ungkapan Arab yang terkenal:
الوقت كالسيف إن لم تقطعهقطعك
*_Waktu itu bagaikan pedang, jika kamu tidak bisa memanfaatkannya, maka ia yang akan menebasmu._*
Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, memberi penjelasannya akan ungkapan ini. Menurut beliau, jika kita menghabiskan waktu untuk hal yang bermanfaat dan mengangkat derajatmu di sisi Allah, maka ia akan menebasmu.
Menebasmu ini artinya adalah waktu akan berlalu tanpa kamu bisa memanfaatkannya. Nilia kerugian yang hakiki. Kamu benar-benar rugi jika waktumu terbuang sia-sia.
Oleh karenanya di antara wasiat berharga bagi seorang muslim adalah wasiat untuk menjaga waktu. Karena ini yang paling penting. Berusaha sekuat tenaga untuk menjaga dan memperhatikan waktu, kalau tidak, waktu itu akan hilang. Karena buang-buang waktu adalah kerugian.
Ada ungkapan Arab yang terkenal:
الوقت كالسيف إن لم تقطعهقطعك
*_Waktu itu bagaikan pedang, jika kamu tidak bisa memanfaatkannya, maka ia yang akan menebasmu._*
Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, memberi penjelasannya akan ungkapan ini. Menurut beliau, jika kita menghabiskan waktu untuk hal yang bermanfaat dan mengangkat derajatmu di sisi Allah, maka ia akan menebasmu.
Menebasmu ini artinya adalah waktu akan berlalu tanpa kamu bisa memanfaatkannya. Nilia kerugian yang hakiki. Kamu benar-benar rugi jika waktumu terbuang sia-sia.
Oleh karenanya di antara wasiat berharga bagi seorang muslim adalah wasiat untuk menjaga waktu. Karena ini yang paling penting. Berusaha sekuat tenaga untuk menjaga dan memperhatikan waktu, kalau tidak, waktu itu akan hilang. Karena buang-buang waktu adalah kerugian.
*LUPAKAN MASA LALUMU YANG BURUK, BERAMAL SHALIH MULAI HARI INI HINGGA MAUT MENJEMPUT*
Fudhail bin iyadh rahimahullah berkata:
“Engkau berbuat kebaikan (amal shaleh) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (dosa-dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari kiamat) karena (dosa-dosamu) di masa lalu dan (dosa-dosamu) pada sisa umurmu.”
🟢 Nukilan dari Jaami’ul ‘uluumi wal hikam hal. 464 dan Latha-iful ma’aarif hal. 108
Fudhail bin iyadh rahimahullah berkata:
“Engkau berbuat kebaikan (amal shaleh) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (dosa-dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari kiamat) karena (dosa-dosamu) di masa lalu dan (dosa-dosamu) pada sisa umurmu.”
🟢 Nukilan dari Jaami’ul ‘uluumi wal hikam hal. 464 dan Latha-iful ma’aarif hal. 108
*SABAR LEBIH DULU BARU SHOLAT*
Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk (QS. al-Baqarah:45)
Sabar secara bahasa adalah *menahan diri*. Maksudnya adalah menahan diri untuk tidak kecewa dan marah ketika ditimpa musibah.
Begitu juga, bersabar dalam menjalankan ketaatan dan beramal shalih.
Kata sabar didahulukan daripada sholat, karena sifat sabar akan membantu dalam mengerjakan sholat. Karena jiwa merasakan berat ketika sholat dan ibadah lainnya. Sehingga harus ada kesabaran sebelum mengerjakannya. Sabar sebelum beramal, sabar saat beramal dan sabar setelah beramal.
~ _Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan_ ~
Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk (QS. al-Baqarah:45)
Sabar secara bahasa adalah *menahan diri*. Maksudnya adalah menahan diri untuk tidak kecewa dan marah ketika ditimpa musibah.
Begitu juga, bersabar dalam menjalankan ketaatan dan beramal shalih.
Kata sabar didahulukan daripada sholat, karena sifat sabar akan membantu dalam mengerjakan sholat. Karena jiwa merasakan berat ketika sholat dan ibadah lainnya. Sehingga harus ada kesabaran sebelum mengerjakannya. Sabar sebelum beramal, sabar saat beramal dan sabar setelah beramal.
~ _Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan_ ~
SABAR ADALAH IBADAH YANG MULIA
🟢 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
سلامٌ عليكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ
“Keselamatan (kesejahteraan) atas kalian dengan sebab kesabaran kalian.” (Qs. ar-Ra’du: 24)
🟢 Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata:
صَبَرُوا عَلَى مَا أُمِرُوا بِهِ وَصَبَرُوا عَمَّا نُهُوا عَنْهُ.
“Mereka bersabar dalam melakukan perintah (Allah dan Rasul-Nya) dan mereka bersabar dalam menjauhi apa yang dilarang (Allah dan Rasul-Nya).”
(Uddatu ash-Shabirin: 71)
🟢 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
سلامٌ عليكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ
“Keselamatan (kesejahteraan) atas kalian dengan sebab kesabaran kalian.” (Qs. ar-Ra’du: 24)
🟢 Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata:
صَبَرُوا عَلَى مَا أُمِرُوا بِهِ وَصَبَرُوا عَمَّا نُهُوا عَنْهُ.
“Mereka bersabar dalam melakukan perintah (Allah dan Rasul-Nya) dan mereka bersabar dalam menjauhi apa yang dilarang (Allah dan Rasul-Nya).”
(Uddatu ash-Shabirin: 71)
*MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH*
Ada yang menafsirkan makna di atas dengan *Tidak ada pencipta dan pemberi rezeki selain Allah*. Apakah ini makna yang tepat untuk kalimat tauhid?
Jik ini tafsirannya maka orang tersebut belum mengetahui makna *Laa Ilaaha Illallah*. Dan ia belum mengakui kebenaran kalimat tauhid ini.
Karena makna Laa Ilaaha Illallah bukanlah tidak ada pencipta dan pemberi rezeki selain Allah. Jika memang ini maknanya, apakah orang musyrik dahulu akan menolaknya? apakah orang musyrik dahulu tidak mengakui bahwa Allah satu-satunya pencipta? satu-satunya Pemberi Rezeki?
Kalau maknanya tidak ada pencipta dan pemberi rezeki selain Allah, orang musyrik dahulu tidak akan menolaknya.
Lalu mengapa orang-orang musyrik dahulu menolak kalimat laa ilaaha illallah? jawabannya adalah karena mereka paham betul makna laa ilaaha illallah, yaitu *Memurnikan ibadah hanya untuk Allah dan meninggalkan ibadah kepada berhala*. oleh karenanya, ketika Rasululllah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قولوا لا إله إلا الله تفلحون
*_Ucapkanlah laa ilaaha illallah, maka kalian pasti selamat_*. (HR. Ahmad No.16603)
Kemudian orang-orang musyrik menjawab:
اَجَعَلَ الألِهَةَ اِلٰهًا وَّاحِدًا ۖۚ اِنَّ هٰذَا لَشَىۡءٌ عُجَابٌ
*_Mereka menjawab,"Apakah ia ingin cukup satu saja yang kita sembah? Ini adalah hal yang aneh_*. (QS. Shad:5)
Allah berfirman:
اِنَّهُمۡ كَانُوۡۤا اِذَا قِيۡلَ لَهُمۡ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُۙ يَسۡتَكۡبِرُوۡنَۙ
وَيَقُوۡلُوۡنَ اَٮِٕنَّا لَتٰرِكُوۡۤا اٰلِهَـتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجۡـنُوۡنٍ
*_Jika dikatakan kepada mereka laa ilaaha illallah, mereka akan menolaknya dengan sombong. Mereka berkata,"apakah kita akan meninggalkan sesembahan kita yang lain, hanya karena penyair yang gila ini?_*. (QS. ash-Shaffat:35-36)
Mereka, orang-orang musyrik mengetahui makna laa ilaaha illallah, yaitu menjadikan ibadah hanya untuk Allah. Karena itulah mereka tidak mau menerimanya.
Kalau makna laa ilaaha illallah adalah sekedar tidak ada pencipta dan pemberi rezeki selain Allah, mereka akan menerima dakwah Nabi. Karena makna tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan mereka sebelumnya.
~ _Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr_ ~
Ada yang menafsirkan makna di atas dengan *Tidak ada pencipta dan pemberi rezeki selain Allah*. Apakah ini makna yang tepat untuk kalimat tauhid?
Jik ini tafsirannya maka orang tersebut belum mengetahui makna *Laa Ilaaha Illallah*. Dan ia belum mengakui kebenaran kalimat tauhid ini.
Karena makna Laa Ilaaha Illallah bukanlah tidak ada pencipta dan pemberi rezeki selain Allah. Jika memang ini maknanya, apakah orang musyrik dahulu akan menolaknya? apakah orang musyrik dahulu tidak mengakui bahwa Allah satu-satunya pencipta? satu-satunya Pemberi Rezeki?
Kalau maknanya tidak ada pencipta dan pemberi rezeki selain Allah, orang musyrik dahulu tidak akan menolaknya.
Lalu mengapa orang-orang musyrik dahulu menolak kalimat laa ilaaha illallah? jawabannya adalah karena mereka paham betul makna laa ilaaha illallah, yaitu *Memurnikan ibadah hanya untuk Allah dan meninggalkan ibadah kepada berhala*. oleh karenanya, ketika Rasululllah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قولوا لا إله إلا الله تفلحون
*_Ucapkanlah laa ilaaha illallah, maka kalian pasti selamat_*. (HR. Ahmad No.16603)
Kemudian orang-orang musyrik menjawab:
اَجَعَلَ الألِهَةَ اِلٰهًا وَّاحِدًا ۖۚ اِنَّ هٰذَا لَشَىۡءٌ عُجَابٌ
*_Mereka menjawab,"Apakah ia ingin cukup satu saja yang kita sembah? Ini adalah hal yang aneh_*. (QS. Shad:5)
Allah berfirman:
اِنَّهُمۡ كَانُوۡۤا اِذَا قِيۡلَ لَهُمۡ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُۙ يَسۡتَكۡبِرُوۡنَۙ
وَيَقُوۡلُوۡنَ اَٮِٕنَّا لَتٰرِكُوۡۤا اٰلِهَـتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجۡـنُوۡنٍ
*_Jika dikatakan kepada mereka laa ilaaha illallah, mereka akan menolaknya dengan sombong. Mereka berkata,"apakah kita akan meninggalkan sesembahan kita yang lain, hanya karena penyair yang gila ini?_*. (QS. ash-Shaffat:35-36)
Mereka, orang-orang musyrik mengetahui makna laa ilaaha illallah, yaitu menjadikan ibadah hanya untuk Allah. Karena itulah mereka tidak mau menerimanya.
Kalau makna laa ilaaha illallah adalah sekedar tidak ada pencipta dan pemberi rezeki selain Allah, mereka akan menerima dakwah Nabi. Karena makna tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan mereka sebelumnya.
~ _Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr_ ~
Hilangnya Keberkahan Ilmu Anak, Karena Prilaku Buruk Orangtua Terhadap Guru
Syekh Abdul Qadir adalah seorang ulama yang terkenal pada zamannya. Murid-muridnya berasal dari berbagai kalangan. Ada anak orang kaya, ada anak penguasa, ada juga anak pedagang dan anak-anak orang miskin. Di madrasah Syekh Abdul Qadir tidak ada dikriminasi, semua murid diperlakukan sama.
Di madrasah Syekh Abdul Qadir diperkenalkan ilmu dan lebih diutamakan adab, termasuk adab kepada guru yang dijunjung tinggi. Termasuk adab yang diajarkan adalah bagaimana murid berhikmat dan meraih keberkahan dari gurunya.
Sebuah kebiasaan bahwa ketika sang guru sedang menyantap makanan, maka murid-murid tidak ada yang ikut makan sebelum gurunya selesai, ternyata ada tradisi meraih berkah ilmu dengan memakan sisa makanan gurunya.
Syekh Abdul Qadir paham hal tersebut sehingga ia selalu menyisahkan makanannya untuk di ambil oleh murid-muridnya. Seorang tamu yang datang menjenguk anaknya melihat hal itu dan berfikir bahwa anak-anak mereka yang belajar pada Syekh Abdul Qadir diperlakukan seperti babu atau kucing. Masa mereka diberikan sisa makanan dari gurunya. Pikiran kotor inilah yang menyebabkan orang tua murid tadi memprofokasi orang tua lainnya.
Salah satu orang tua yang merupakan orang terpandang, kaya dan penguasa termakan propokasi dan datang menghadap Syekh Abdul Qadir dan mengungkapkan keberatannya atas perlakuan sang guru kepada anaknya yang dianggap melecehkan kehormatannya dan kehormatan anaknya.
Maka terjadilah dialog sebagai berikut :
“Wahai tuan syekh, saya menghantar anak saya kepada tuan syekh bukan untuk jadi pembantu atau dilakukan seperti kucing. Saya hantar kepada tuan syekh, supaya anak saya jadi alim ulama’.”
Syekh Abdul Qadir hanya jawab ringkas saja. “ Kalau begitu ambillah anakmu.”
Maka si bapak tadi mengambil anaknya untuk pulang. Ketika keluar dari rumah syekh menuju jalan pulang. Orang tua murid tadi bertanya pada anaknya beberapa hal mengenai ilmu hukum syariat, ternyata kesemua soalannya dijawab dengan tepat dan rinci. Maka bapak tadi berubah fikiran dan mengembalikan anaknya kepada tuan Syekh Abdul Qadir.
“Wahai tuan syekh terimalah anak saya untuk belajar dengan tuan kembali. Tuan didiklah anak saya. Ternyata anak saya bukan seorang pembantu dan juga diperlakukan seperti kucing. Saya melihat ilmu anak saya sangat luar biasa bila bersamamu.”
Maka jawab tuan Syekh Abdul Qadir. “Bukan aku tidak mau menerimanya kembali, tapi ALLAH sudah menutup pintu hatinya untuk menerima ILMU dariku, ALLAH sudah menutup futuhnya (Mata Hati) untuk mendapat ilmu disebabkan orang tua yang tidak beradab kepada GURU.”
Ternyata orang tua yang tidak beradab pada guru bisa menyebabkan anak-anaknya menjadi korban kehilangan keberkahan ilmu dari guru-gurunya.
Begitulah ADAB dalam menuntut ilmu. Anak, Ibu, Ayah dan siapa pun perlu menjaga adab kepada guru. Kata ulama: Satu perasangka buruk saja kepada gurumu maka Allah haramkan seluruh keberkahan yang ada pada gurumu kepadamu.
Kisah ini adalah refleksi untuk para orang tua siswa, sia-sialah kita menyekolahkan anak kita kalau pada akhirnya ilmu yang diperolehnya tidak berberkah. Karena kita sebagai orang tua yang tidak beradab kepada guru sehingga anak-anak kitapun menjadi kehilangan adab kepada gurunya.
Dalam pandangan psikologi islam, manusia itu memiliki 5 kekuatan pada dirinya, dua kekuatan yang mulia yakni Quatun Ilahiah (Potensi Ketuhanan), Quatun Mulkiah (kekuatan Malaikat), dua kekuatan yang rendah yakni Quatun Syaitaniah ( Kekuatan Syaitan) dan Quatun Bahimiyah (Kekuatan Hewan) dan satu kekuatan kunci yaitu Quatun Aqliyah (Kekuatan Aqal).
Akal manusia berfungsi untuk menimbang baik dan buruknya sesuatu. Sehingga kekuatan akal adalah penentu apakan manusia akan menanjak dengan dua kekuatan mulia ataukah dia akan terjerumus jatuh pada 2 kekuatan rendah.
Akal ibarat wadah, isinya adalah ilmu. Semakin mantap ilmu pada akal semakin besar kekuatan akal dalam mempertimbangkan segala sesuatu.
Ilmu adalah cahaya yang dengan cahaya itu kita bisa memahami warna warni kehidupan.
Syekh Abdul Qadir adalah seorang ulama yang terkenal pada zamannya. Murid-muridnya berasal dari berbagai kalangan. Ada anak orang kaya, ada anak penguasa, ada juga anak pedagang dan anak-anak orang miskin. Di madrasah Syekh Abdul Qadir tidak ada dikriminasi, semua murid diperlakukan sama.
Di madrasah Syekh Abdul Qadir diperkenalkan ilmu dan lebih diutamakan adab, termasuk adab kepada guru yang dijunjung tinggi. Termasuk adab yang diajarkan adalah bagaimana murid berhikmat dan meraih keberkahan dari gurunya.
Sebuah kebiasaan bahwa ketika sang guru sedang menyantap makanan, maka murid-murid tidak ada yang ikut makan sebelum gurunya selesai, ternyata ada tradisi meraih berkah ilmu dengan memakan sisa makanan gurunya.
Syekh Abdul Qadir paham hal tersebut sehingga ia selalu menyisahkan makanannya untuk di ambil oleh murid-muridnya. Seorang tamu yang datang menjenguk anaknya melihat hal itu dan berfikir bahwa anak-anak mereka yang belajar pada Syekh Abdul Qadir diperlakukan seperti babu atau kucing. Masa mereka diberikan sisa makanan dari gurunya. Pikiran kotor inilah yang menyebabkan orang tua murid tadi memprofokasi orang tua lainnya.
Salah satu orang tua yang merupakan orang terpandang, kaya dan penguasa termakan propokasi dan datang menghadap Syekh Abdul Qadir dan mengungkapkan keberatannya atas perlakuan sang guru kepada anaknya yang dianggap melecehkan kehormatannya dan kehormatan anaknya.
Maka terjadilah dialog sebagai berikut :
“Wahai tuan syekh, saya menghantar anak saya kepada tuan syekh bukan untuk jadi pembantu atau dilakukan seperti kucing. Saya hantar kepada tuan syekh, supaya anak saya jadi alim ulama’.”
Syekh Abdul Qadir hanya jawab ringkas saja. “ Kalau begitu ambillah anakmu.”
Maka si bapak tadi mengambil anaknya untuk pulang. Ketika keluar dari rumah syekh menuju jalan pulang. Orang tua murid tadi bertanya pada anaknya beberapa hal mengenai ilmu hukum syariat, ternyata kesemua soalannya dijawab dengan tepat dan rinci. Maka bapak tadi berubah fikiran dan mengembalikan anaknya kepada tuan Syekh Abdul Qadir.
“Wahai tuan syekh terimalah anak saya untuk belajar dengan tuan kembali. Tuan didiklah anak saya. Ternyata anak saya bukan seorang pembantu dan juga diperlakukan seperti kucing. Saya melihat ilmu anak saya sangat luar biasa bila bersamamu.”
Maka jawab tuan Syekh Abdul Qadir. “Bukan aku tidak mau menerimanya kembali, tapi ALLAH sudah menutup pintu hatinya untuk menerima ILMU dariku, ALLAH sudah menutup futuhnya (Mata Hati) untuk mendapat ilmu disebabkan orang tua yang tidak beradab kepada GURU.”
Ternyata orang tua yang tidak beradab pada guru bisa menyebabkan anak-anaknya menjadi korban kehilangan keberkahan ilmu dari guru-gurunya.
Begitulah ADAB dalam menuntut ilmu. Anak, Ibu, Ayah dan siapa pun perlu menjaga adab kepada guru. Kata ulama: Satu perasangka buruk saja kepada gurumu maka Allah haramkan seluruh keberkahan yang ada pada gurumu kepadamu.
Kisah ini adalah refleksi untuk para orang tua siswa, sia-sialah kita menyekolahkan anak kita kalau pada akhirnya ilmu yang diperolehnya tidak berberkah. Karena kita sebagai orang tua yang tidak beradab kepada guru sehingga anak-anak kitapun menjadi kehilangan adab kepada gurunya.
Dalam pandangan psikologi islam, manusia itu memiliki 5 kekuatan pada dirinya, dua kekuatan yang mulia yakni Quatun Ilahiah (Potensi Ketuhanan), Quatun Mulkiah (kekuatan Malaikat), dua kekuatan yang rendah yakni Quatun Syaitaniah ( Kekuatan Syaitan) dan Quatun Bahimiyah (Kekuatan Hewan) dan satu kekuatan kunci yaitu Quatun Aqliyah (Kekuatan Aqal).
Akal manusia berfungsi untuk menimbang baik dan buruknya sesuatu. Sehingga kekuatan akal adalah penentu apakan manusia akan menanjak dengan dua kekuatan mulia ataukah dia akan terjerumus jatuh pada 2 kekuatan rendah.
Akal ibarat wadah, isinya adalah ilmu. Semakin mantap ilmu pada akal semakin besar kekuatan akal dalam mempertimbangkan segala sesuatu.
Ilmu adalah cahaya yang dengan cahaya itu kita bisa memahami warna warni kehidupan.
Tak ada ilmu tanpa guru, tak ada ilmu maka aqal tak berdaya. Ketika akal tak berdaya maka watak yang akan tumbuh pada manusia adalah watak syeitan dan binatang yang menyingkirkan watak ketuhanan dan watak malaikat. Maka jadilah manusia tubuhnya sementara jiwanya adalah jiwa binatang.
Pada posisi ini, maka pendidikan menjadi penting bagi manusia, karena pendidikanlah yang akan mejadikan manusia mampu mengendalikan watak setan dan binatang pada dirinya dan memberdayakan kekuatan Ilahiah dan kekuatan Malaikat pada dirinya. Ruh pendidikan adalah Guru. Tanpa guru pendidikan tidak ada artinya. Apapun adanya, keberadaan guru dalam pendidikan takkan tergantikan oleh apapun.
Menyadari adanya sifat kehewanan pada diri manusia, maka tak dapat dihindari metode dalam menundukkan watak itu adalah dengan sedikit pukulan. Makanya guru kami selalu mengatakan “ yang saya pukul bukan kamu nak, tetapi sifat hewan dalam dirimu.”
Memukul adalah salah satu metode tetapi tidak sampai membuat bekas, apalagi setelah memukul siswa, guru mesti memulihkan perasan anak tersebut. Guru kami berpesan “ Kalau kau pukul anak didikmu, jangan sertai dengan amarah tetapi dengan do’a, insya Allah itu akan membuatnya sadar akan kesalahnnya.”
Masalahnya terkadang orang tua siswa tidak faham dan cenderung egois ketika anaknya mendapat sentuhan dengan pukulan oleh gurunya. Dianggaplah itu sebagai kekerasan dalam dunia pendidikan.
Ibaratnya guru adalah Dokter, dan siswa adalah Pasien. Seorang pasien yang datang berobat yang setelah didiagnosa ternyata penyakitnya ringan saja maka diberikanlah vitamin dan antobiotik oleh dokter. Tetapi ada pasien datang berobat dan ternyata pasiennya mengidap penyakit kanker dan harus dioperasi, maka tentu dokternya tidak lagi memberi resep tetapi menyarangkan langkah oprasi. Bayangkan operasi itu menyakitkan dan melukai jaringan tubuh, karena hanya dengan jalan itu pasien bisa selamat. Kalo guru sudah menegur berkali-kali, melakukan berbagai pendekatan, orang tua bahkan sudah dipanggil, sudah tanda tangan surat pertnyataan pula di BP tetapi tidak berubah wataknya, berarti anak ini sakit parah dan mungkin untuk merubahnya hanya dengan pukulan yang sifat tidak melampaui batas kewajaran. Siapa tahu dengan pukulan itu sang anak bisa terselamatkan.
Guru kami berpesan “ Bekas Pukulan guru ketika mendidik muridnya maka pada bagian bekas pukulan itu tidak akan disentuh api neraka.” Tentu apabila murid dan orang tua sabar menerimanya.
Saya berani berkata ” seandainya bukan karena pukulan guru saya tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Saya tak dapat membalas setiap kesadaran dan ilmu yang diberikan dengan Do’a.
Tulisan ini saya angkat untuk menyemangati perjuangan salah seorang rekan guru dari UPT SMP Negeri 2 Sidrap (Pak TASMIR / Guru IPS) yang sedang berjuang menghadapi gugatan salah satu orang tua siswa kelas IX.A yang melaporkan beliau ke polisi karena memukul salah seorang siswa dengan absen pada hari Rabu, 22 Januari 2020.
Mari bersama berikan dukungan moral, teman-teman guru dan segenap pemerhati pendidikan, orang tua siswa, alumni SMPN 2 Pangsid untuk bersama-sama dengan IGI mendorong kasus ini supaya selesai dengan jalan yang terbaik untuk smuanya.
Abdul Rahman, S.Pd.I., MA (Wasekum IGI Sidrap)
Pada posisi ini, maka pendidikan menjadi penting bagi manusia, karena pendidikanlah yang akan mejadikan manusia mampu mengendalikan watak setan dan binatang pada dirinya dan memberdayakan kekuatan Ilahiah dan kekuatan Malaikat pada dirinya. Ruh pendidikan adalah Guru. Tanpa guru pendidikan tidak ada artinya. Apapun adanya, keberadaan guru dalam pendidikan takkan tergantikan oleh apapun.
Menyadari adanya sifat kehewanan pada diri manusia, maka tak dapat dihindari metode dalam menundukkan watak itu adalah dengan sedikit pukulan. Makanya guru kami selalu mengatakan “ yang saya pukul bukan kamu nak, tetapi sifat hewan dalam dirimu.”
Memukul adalah salah satu metode tetapi tidak sampai membuat bekas, apalagi setelah memukul siswa, guru mesti memulihkan perasan anak tersebut. Guru kami berpesan “ Kalau kau pukul anak didikmu, jangan sertai dengan amarah tetapi dengan do’a, insya Allah itu akan membuatnya sadar akan kesalahnnya.”
Masalahnya terkadang orang tua siswa tidak faham dan cenderung egois ketika anaknya mendapat sentuhan dengan pukulan oleh gurunya. Dianggaplah itu sebagai kekerasan dalam dunia pendidikan.
Ibaratnya guru adalah Dokter, dan siswa adalah Pasien. Seorang pasien yang datang berobat yang setelah didiagnosa ternyata penyakitnya ringan saja maka diberikanlah vitamin dan antobiotik oleh dokter. Tetapi ada pasien datang berobat dan ternyata pasiennya mengidap penyakit kanker dan harus dioperasi, maka tentu dokternya tidak lagi memberi resep tetapi menyarangkan langkah oprasi. Bayangkan operasi itu menyakitkan dan melukai jaringan tubuh, karena hanya dengan jalan itu pasien bisa selamat. Kalo guru sudah menegur berkali-kali, melakukan berbagai pendekatan, orang tua bahkan sudah dipanggil, sudah tanda tangan surat pertnyataan pula di BP tetapi tidak berubah wataknya, berarti anak ini sakit parah dan mungkin untuk merubahnya hanya dengan pukulan yang sifat tidak melampaui batas kewajaran. Siapa tahu dengan pukulan itu sang anak bisa terselamatkan.
Guru kami berpesan “ Bekas Pukulan guru ketika mendidik muridnya maka pada bagian bekas pukulan itu tidak akan disentuh api neraka.” Tentu apabila murid dan orang tua sabar menerimanya.
Saya berani berkata ” seandainya bukan karena pukulan guru saya tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Saya tak dapat membalas setiap kesadaran dan ilmu yang diberikan dengan Do’a.
Tulisan ini saya angkat untuk menyemangati perjuangan salah seorang rekan guru dari UPT SMP Negeri 2 Sidrap (Pak TASMIR / Guru IPS) yang sedang berjuang menghadapi gugatan salah satu orang tua siswa kelas IX.A yang melaporkan beliau ke polisi karena memukul salah seorang siswa dengan absen pada hari Rabu, 22 Januari 2020.
Mari bersama berikan dukungan moral, teman-teman guru dan segenap pemerhati pendidikan, orang tua siswa, alumni SMPN 2 Pangsid untuk bersama-sama dengan IGI mendorong kasus ini supaya selesai dengan jalan yang terbaik untuk smuanya.
Abdul Rahman, S.Pd.I., MA (Wasekum IGI Sidrap)
MENDIDIK ANAK WANITA
1| Berbahagialah orangtua yg dikaruniakan anak wanita sebab Rasulullah telah menjamin baginya surga jika sabar dan sukses mendidiknya
2| Barangsiapa yg diuji dengan memiliki anak wanita, lalu ia asuh mereka dengan baik, maka anak itu akan menjadi penghalangnya dari api neraka (HR.Bukhari)
3| Sebagian orangtua menganggap remeh mendidik anak wanita, bahkan lebih mengunggulkan anak laki. Padahal wanita adalah tiang peradaban dunia
4| Itulah kenapa, jika gagal mendidik anak wanita berarti kita telah memutus kebaikan untuk generasi masa depan
5| Gagal mendidik anak wanita berarti kelak kita akan kekurangan #ibubaik di masa depan. Dan ujung-ujungnya rusaklah masyarakat
6| Ajarilah anak wanita kita akan keutamaan menjaga kesucian diri bukan sekedar menjaga keperawanan. Suci dan perawan itu beda !
7| Perawan terkait dengan faktor fisik, dimana selaput dara tidak robek. Sementara suci terkait dgn faktor akhlak dan sikap
8 | Banyak wanita yang bisa jadi masih perawan tapi tidak suci. Ia membiarkan badannya disentuh, bibirnya dikecup lelaki lain, asal tidak bersetubuh
9| Sementara banyak juga wanita yg tidak perawan atas sebab kecelakaan, terjatuh, tapi masih suci. Sebab ia tak biarkan lelaki lain menyentuhnya
10| Quran memberikan gelar wanita terbaik kepada Maryam tersebab ia selalu menjaga kesucian dirinya dalam kata, sikap dan tingkah laku
11| Maryam tak sembarang gaul dengan lelaki asing. Maka, saat ia dinyatakan hamil, ia tetap suci di mata Allah
12| Demikian pula dengan Bunda Khadijah, istri rasulullah yg tidak lagi perawan tapi digelari 'Ath Thohirah' atau wanita suci
13| Dari rahim wanita suci kelak muncul generasi berkualitas. Nabi Isa adalah bukti keberkahan dari wanita yg menjaga kesuciannya
14| Maka, tugas utama ortu yang memiliki anak wanita adalah mengingatkan pentingnya kesucian bukan sekedar keperawanan
15| Ajarkan anak wanita utk bersikap sepatutnya terhadap lelaki asing atau yg bukan mahram. Ramah boleh tapi tetap jaga kemuliaan diri
16| Saat anak wanita belum baligh atau masih anak2, ajarkan ia utk membedakan 3 jenis sentuhan : pantas, meragukan dan haram
17| Sentuhan pantas itu muaranya kasih sayang. Ini dilakukan oleh orang lain kepada anak wanita yg belum baligh di bagian sekitar kepala dan pundak
18| Sentuhan yg meragukan. Yakni antara kasing sayang versus nafsu. Biasanya berpindah-pindah tempat. Dari kepala turun ke bahu trus ke pinggang
19| Jika sudah melewati batas bahu, yakni ke pinggang, atau ke perut, ajarkan anak utk menolak dgn kalimat "Aku gak suka ah"
20| Terakhir, sentuhan haram yakni di wilayah sekitar kemaluan dan buah dada. Ajarkan anak kemampuan utk menolak dan menghindar
21| Dengan mengajari anak wanita kita tentang sentuhan, mengajarkan juga kepada mereka tentang berharganya tubuh mereka. Tidak sembarangan disentuh
22| Selain itu, ajarkan juga kepada anak wanita kita tentang siapa itu saudara, sahabat, kenalan dan orang asing. Sikapi dgn beda
23| Buat anak wanita tidak membutuhkan sosok lelaki lain yg jadi 'pahlawan' nya selain ayah, kakek dan kakak kandungnya
24| Saat mereka tumbuh remaja, tak jual murah dirinya demi dicintai lelaki lain. Sebab sudah ada sosok lelaki idola dalam hidupnya, khususnya ayahnya
25| Sebagian besar remaja wanita yg memutuskan untuk pacaran, karena tak punya lelaki idola di rumahnya sebagai tempat berbagi
26| Dengan ayah dan kakak kandung tidak akrab. Sehingga ia membutuhkan figur lelaki lain. Akhirnya, perlahan kesuciannya pudar. Jadilah mereka anak cabe-cabean
27| Itulah kenapa AYAH perlu hadir dalam jiwa anak wanita sedari dini. Harus ada ikatan batin di antara mrk agar anak wanita tak cari idola lain
28| Ayah harus sering berkomunikasi dengann anak wanita nya saat dalam kandungan. Saat lahir, anak mengenali suara ayahnya pertama kali yg didengar
29| Saat lahir, jadikan wajah AYAH lebih banyak discan dalam memori anak. Hadirkan ekspresi saat menggendong anak
30| Ikatan batin antara ayah dan anak wanita ini memberi pengaruh saat anak tumbuh dewasa dan mengalami persoalan hidup
1| Berbahagialah orangtua yg dikaruniakan anak wanita sebab Rasulullah telah menjamin baginya surga jika sabar dan sukses mendidiknya
2| Barangsiapa yg diuji dengan memiliki anak wanita, lalu ia asuh mereka dengan baik, maka anak itu akan menjadi penghalangnya dari api neraka (HR.Bukhari)
3| Sebagian orangtua menganggap remeh mendidik anak wanita, bahkan lebih mengunggulkan anak laki. Padahal wanita adalah tiang peradaban dunia
4| Itulah kenapa, jika gagal mendidik anak wanita berarti kita telah memutus kebaikan untuk generasi masa depan
5| Gagal mendidik anak wanita berarti kelak kita akan kekurangan #ibubaik di masa depan. Dan ujung-ujungnya rusaklah masyarakat
6| Ajarilah anak wanita kita akan keutamaan menjaga kesucian diri bukan sekedar menjaga keperawanan. Suci dan perawan itu beda !
7| Perawan terkait dengan faktor fisik, dimana selaput dara tidak robek. Sementara suci terkait dgn faktor akhlak dan sikap
8 | Banyak wanita yang bisa jadi masih perawan tapi tidak suci. Ia membiarkan badannya disentuh, bibirnya dikecup lelaki lain, asal tidak bersetubuh
9| Sementara banyak juga wanita yg tidak perawan atas sebab kecelakaan, terjatuh, tapi masih suci. Sebab ia tak biarkan lelaki lain menyentuhnya
10| Quran memberikan gelar wanita terbaik kepada Maryam tersebab ia selalu menjaga kesucian dirinya dalam kata, sikap dan tingkah laku
11| Maryam tak sembarang gaul dengan lelaki asing. Maka, saat ia dinyatakan hamil, ia tetap suci di mata Allah
12| Demikian pula dengan Bunda Khadijah, istri rasulullah yg tidak lagi perawan tapi digelari 'Ath Thohirah' atau wanita suci
13| Dari rahim wanita suci kelak muncul generasi berkualitas. Nabi Isa adalah bukti keberkahan dari wanita yg menjaga kesuciannya
14| Maka, tugas utama ortu yang memiliki anak wanita adalah mengingatkan pentingnya kesucian bukan sekedar keperawanan
15| Ajarkan anak wanita utk bersikap sepatutnya terhadap lelaki asing atau yg bukan mahram. Ramah boleh tapi tetap jaga kemuliaan diri
16| Saat anak wanita belum baligh atau masih anak2, ajarkan ia utk membedakan 3 jenis sentuhan : pantas, meragukan dan haram
17| Sentuhan pantas itu muaranya kasih sayang. Ini dilakukan oleh orang lain kepada anak wanita yg belum baligh di bagian sekitar kepala dan pundak
18| Sentuhan yg meragukan. Yakni antara kasing sayang versus nafsu. Biasanya berpindah-pindah tempat. Dari kepala turun ke bahu trus ke pinggang
19| Jika sudah melewati batas bahu, yakni ke pinggang, atau ke perut, ajarkan anak utk menolak dgn kalimat "Aku gak suka ah"
20| Terakhir, sentuhan haram yakni di wilayah sekitar kemaluan dan buah dada. Ajarkan anak kemampuan utk menolak dan menghindar
21| Dengan mengajari anak wanita kita tentang sentuhan, mengajarkan juga kepada mereka tentang berharganya tubuh mereka. Tidak sembarangan disentuh
22| Selain itu, ajarkan juga kepada anak wanita kita tentang siapa itu saudara, sahabat, kenalan dan orang asing. Sikapi dgn beda
23| Buat anak wanita tidak membutuhkan sosok lelaki lain yg jadi 'pahlawan' nya selain ayah, kakek dan kakak kandungnya
24| Saat mereka tumbuh remaja, tak jual murah dirinya demi dicintai lelaki lain. Sebab sudah ada sosok lelaki idola dalam hidupnya, khususnya ayahnya
25| Sebagian besar remaja wanita yg memutuskan untuk pacaran, karena tak punya lelaki idola di rumahnya sebagai tempat berbagi
26| Dengan ayah dan kakak kandung tidak akrab. Sehingga ia membutuhkan figur lelaki lain. Akhirnya, perlahan kesuciannya pudar. Jadilah mereka anak cabe-cabean
27| Itulah kenapa AYAH perlu hadir dalam jiwa anak wanita sedari dini. Harus ada ikatan batin di antara mrk agar anak wanita tak cari idola lain
28| Ayah harus sering berkomunikasi dengann anak wanita nya saat dalam kandungan. Saat lahir, anak mengenali suara ayahnya pertama kali yg didengar
29| Saat lahir, jadikan wajah AYAH lebih banyak discan dalam memori anak. Hadirkan ekspresi saat menggendong anak
30| Ikatan batin antara ayah dan anak wanita ini memberi pengaruh saat anak tumbuh dewasa dan mengalami persoalan hidup
31| Saat anak wanita mulai jatuh cinta, ia akan jadikan AYAH sebagai mentor cintanya. Tak ingin ditipu lelaki buaya. Nasehat ayah jadi panduan
32| Saat anak wanita siap menikah, ia mencari sosok lelaki yg seperti ayahnya. Atau setidaknya pilihan ayahnya
33| Bahkan saat anak wanita menjalani gonjang ganjing pernikahan. Ia tak butuh lelaki lain sebagai tempat curhat. Ayahnya lah yg jadi labuhan
34| Peran ayah dalam menjaga kesucian anak wanita amatlah vital. Rusaknya moral anak wanita saat ini salah satunya karena ketidakterlibatan ayah dalam mengasuh
35| Karena itu, ajaklah para ayah agar terlibat dalam pengasuhan. Tak cuma sekedar cari nafkah. Tapi peduli akan anaknya khususnya yg wanita
36| Semoga anak wanita di negeri ini selalu jaga kesuciannya sehingga lahir generasi yg diberkahi
32| Saat anak wanita siap menikah, ia mencari sosok lelaki yg seperti ayahnya. Atau setidaknya pilihan ayahnya
33| Bahkan saat anak wanita menjalani gonjang ganjing pernikahan. Ia tak butuh lelaki lain sebagai tempat curhat. Ayahnya lah yg jadi labuhan
34| Peran ayah dalam menjaga kesucian anak wanita amatlah vital. Rusaknya moral anak wanita saat ini salah satunya karena ketidakterlibatan ayah dalam mengasuh
35| Karena itu, ajaklah para ayah agar terlibat dalam pengasuhan. Tak cuma sekedar cari nafkah. Tapi peduli akan anaknya khususnya yg wanita
36| Semoga anak wanita di negeri ini selalu jaga kesuciannya sehingga lahir generasi yg diberkahi
*ANGAN-ANGANNYA PENGHUNI KUBUR*
Ia tidak akan berangan-angan tinggal di rumah megahnya dahulu. Bukan juga kendaraan yang dahulu ia naiki. Bukan juga bertemu saudara ataupun sahabatnya.
Yang ia (penghuni kubur) inginkan hanya bisa menambah tasbih dan istighfar di catatan amalnya. Ia hanya ingin melakukan amal shalih. Orang yang Allah beri taufiq akan memahami hakikat kehidupan ini.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata :
وكلما غفل قلبك واندمجت نفسك في الحياة الدنيا فاخرج الى القبور وتفكر في هؤلاء القوم
*_Setiap kali hatimu lalai dan terlarut dalam kehidupan dunia, keluarlah engkau menuju kuburan._*
وتفكر في هؤلاء القوم
*_Dan renungkanlah tentang mereka-mereka ini (para penghuni kubur)._*
الذين كانوا بالأمس مثلك على الأرض يأكلون ويشربون ويتمتعون
*_Kemarin mereka seperti dirimu berada diatas bumi, mereka makan, minum dan bersenang-senang._*
والآن أين ذهبوا
*_Dan sekarang kemana mereka pergi?_*
صاروا الآن مرتهنين بأعمالهم
*_Sekarang mereka tergadaikan dengan amalan-amalan mereka (di dalam kubur)._*
لم ينفعهم إلا عملهم كما أخبر بذلك النبي عليه الصلاة والسلام أنه قال
Tidak bermanfaat bagi mereka kecuali amalan-amalan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam :
يتبع الميت ثلاثة : ماله وأهله وعمله ، فيرجع اثنان ويبقى واحد ، يرجع أهله وماله ، ويبقى عمله
*_Akan mengiringi mayit tiga perkara, Hartanya, keluarganya dan amalannya. Maka akan kembali pulang dua perkara dan akan tinggal bersamanya satu perkara. Yang akan kembali pulang keluarganya dan hartanya, dan akan tinggal bersamanya amalannya._* (HR. Bukhori, Muslim)
ففكِّر في هؤلاء القوم
Maka renungkanlah tentang mereka-mereka ini..
Syarh Riyadhus Shalihin 3/473
Ia tidak akan berangan-angan tinggal di rumah megahnya dahulu. Bukan juga kendaraan yang dahulu ia naiki. Bukan juga bertemu saudara ataupun sahabatnya.
Yang ia (penghuni kubur) inginkan hanya bisa menambah tasbih dan istighfar di catatan amalnya. Ia hanya ingin melakukan amal shalih. Orang yang Allah beri taufiq akan memahami hakikat kehidupan ini.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata :
وكلما غفل قلبك واندمجت نفسك في الحياة الدنيا فاخرج الى القبور وتفكر في هؤلاء القوم
*_Setiap kali hatimu lalai dan terlarut dalam kehidupan dunia, keluarlah engkau menuju kuburan._*
وتفكر في هؤلاء القوم
*_Dan renungkanlah tentang mereka-mereka ini (para penghuni kubur)._*
الذين كانوا بالأمس مثلك على الأرض يأكلون ويشربون ويتمتعون
*_Kemarin mereka seperti dirimu berada diatas bumi, mereka makan, minum dan bersenang-senang._*
والآن أين ذهبوا
*_Dan sekarang kemana mereka pergi?_*
صاروا الآن مرتهنين بأعمالهم
*_Sekarang mereka tergadaikan dengan amalan-amalan mereka (di dalam kubur)._*
لم ينفعهم إلا عملهم كما أخبر بذلك النبي عليه الصلاة والسلام أنه قال
Tidak bermanfaat bagi mereka kecuali amalan-amalan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam :
يتبع الميت ثلاثة : ماله وأهله وعمله ، فيرجع اثنان ويبقى واحد ، يرجع أهله وماله ، ويبقى عمله
*_Akan mengiringi mayit tiga perkara, Hartanya, keluarganya dan amalannya. Maka akan kembali pulang dua perkara dan akan tinggal bersamanya satu perkara. Yang akan kembali pulang keluarganya dan hartanya, dan akan tinggal bersamanya amalannya._* (HR. Bukhori, Muslim)
ففكِّر في هؤلاء القوم
Maka renungkanlah tentang mereka-mereka ini..
Syarh Riyadhus Shalihin 3/473
TANDA KEMUNAFIKAN ORANG SHOLAT
🟢 Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata :
فهذه ست صفات في الصلاة من علامات النفاق
1. الكسل عند القيام إليها
2. ومراءاة الناس في فعلها
3. وتأخيرها
4. ونقرها
5. وقلة ذكر الله فيها
6. والتخلف عن جماعتها
Berikut ini adalah enam hal dalam shalat, yang termasuk tanda kemunafikan:
1. Malas ketika bangkit untuk menegakkannya.
2. Riya’ ketika mengerjakannya.
3. Menunda-nundanya.
4. Gerakannya terlalu cepat.
5. Sedikit menyebut atau mengingat Allah di dalamnya.
6. Tidak mengerjakannya secara berjamaah.”
Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha, jilid 1 hlm. 173
🟢 Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata :
فهذه ست صفات في الصلاة من علامات النفاق
1. الكسل عند القيام إليها
2. ومراءاة الناس في فعلها
3. وتأخيرها
4. ونقرها
5. وقلة ذكر الله فيها
6. والتخلف عن جماعتها
Berikut ini adalah enam hal dalam shalat, yang termasuk tanda kemunafikan:
1. Malas ketika bangkit untuk menegakkannya.
2. Riya’ ketika mengerjakannya.
3. Menunda-nundanya.
4. Gerakannya terlalu cepat.
5. Sedikit menyebut atau mengingat Allah di dalamnya.
6. Tidak mengerjakannya secara berjamaah.”
Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha, jilid 1 hlm. 173
*DOA UNTUK ORANGTUA*
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأٰبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا
اللَّهُمَّ الطُفْ بِهِمْ كَمَا لَطَفُوبِنَا
وَبِرَّهُمْ كَمَا بَرُّوبِنَا
وَتَحَنَّنْ عَلَيْهِمْ كَمَا تَحَنَّنُولَنَا
وَانْظُرْ لَهُمْ بِعَيْنِ الرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ لَهُمْ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا
وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجً
وَمِنْ كُلِّ بَلَاءٍ عَافِيَةٍ
اللَّهُمَّ مَنْ كَانَ مِنْهُمْ حَيًا فَأَعِنَّا على بِرِّهِ وطاعَتِهِ وَالإِحْسَانِ إِلَيْهِ
ونَعُوذُ بِكَ مِنَ العُقُوقِ والجُحُودِ
ومَنْ كَانَ مِنْهُمْ مَيْتًا فَاغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ
وَتَجَاوَزْ عَنْ سَيِّئَاتِهِ
وَاجْعَلْ قَبْرَهُ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ
ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Ya Allah ampunilah bapak ibu kami
Ya Allah, berlemah lembutlah kepada mereka sebagaimana mereka berlemah lembut kepada kami
Berilah mereka kebaikan sebagaimana mereka berbuat baik kepada kami
Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami
Dan pandanglah mereka dengan pandangan kasih sayang dan keridhoan
Ya Allah, jadikanlah untuk mereka kemudahan dari segala kesusahan
Dan jadikanlah untuk mereka jalan keluar dari setiap kesempitan
Berikanlah afiyah dari setiap musibah yang menimpanya
Ya Allah, siapa yang masih hidup dari mereka maka berikanlah kesempatan bagi kami untuk berbakti, taat, serta berbuat ihsan kepadanya
Kami berlindung kepadaMu dari durhaka dan membangkang
Dan siapa dari mereka yang telah wafat maka ampuni dan rahmatilah ia
Ampunilah segala keburukannya
Dan jadikanlah kuburannya taman-taman surga, Yaa arhamarraahimiin
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأٰبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا
اللَّهُمَّ الطُفْ بِهِمْ كَمَا لَطَفُوبِنَا
وَبِرَّهُمْ كَمَا بَرُّوبِنَا
وَتَحَنَّنْ عَلَيْهِمْ كَمَا تَحَنَّنُولَنَا
وَانْظُرْ لَهُمْ بِعَيْنِ الرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ لَهُمْ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا
وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجً
وَمِنْ كُلِّ بَلَاءٍ عَافِيَةٍ
اللَّهُمَّ مَنْ كَانَ مِنْهُمْ حَيًا فَأَعِنَّا على بِرِّهِ وطاعَتِهِ وَالإِحْسَانِ إِلَيْهِ
ونَعُوذُ بِكَ مِنَ العُقُوقِ والجُحُودِ
ومَنْ كَانَ مِنْهُمْ مَيْتًا فَاغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ
وَتَجَاوَزْ عَنْ سَيِّئَاتِهِ
وَاجْعَلْ قَبْرَهُ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ
ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Ya Allah ampunilah bapak ibu kami
Ya Allah, berlemah lembutlah kepada mereka sebagaimana mereka berlemah lembut kepada kami
Berilah mereka kebaikan sebagaimana mereka berbuat baik kepada kami
Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami
Dan pandanglah mereka dengan pandangan kasih sayang dan keridhoan
Ya Allah, jadikanlah untuk mereka kemudahan dari segala kesusahan
Dan jadikanlah untuk mereka jalan keluar dari setiap kesempitan
Berikanlah afiyah dari setiap musibah yang menimpanya
Ya Allah, siapa yang masih hidup dari mereka maka berikanlah kesempatan bagi kami untuk berbakti, taat, serta berbuat ihsan kepadanya
Kami berlindung kepadaMu dari durhaka dan membangkang
Dan siapa dari mereka yang telah wafat maka ampuni dan rahmatilah ia
Ampunilah segala keburukannya
Dan jadikanlah kuburannya taman-taman surga, Yaa arhamarraahimiin