HAYU BERQURBAN
Buat yang masih mencari hewan Qurban yang *RECOMMENDED*, tanpa harus keluar rumah, tinggal pesan online, tunggu dikirim. Coba mampir ke sini: https://kurbaninaja.id/B4B121
Buat yang masih mencari hewan Qurban yang *RECOMMENDED*, tanpa harus keluar rumah, tinggal pesan online, tunggu dikirim. Coba mampir ke sini: https://kurbaninaja.id/B4B121
kurbaninaja.id
KurbaninAja.id
*LEMAH LEMBUT DALAM DAKWAH*
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits:
فَإِنَّ الرِّفْقَ لَمْ يَكُنْ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ شَانَهُ
“Sesungguhnya lemah lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan memperkeruhnya”(HR. Abu Dawud, sanad: shahih).
Hadits ini menjelaskan bahwa kelembutan akan menjadi penghias bagi sesuatu, sedangkan hilangnya kelembutan membuat suatu perkara menjadi tidak lagi indah. Di antara perkara yang membutuhkan kelembutan adalah dakwah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah contoh terbaik dalam berdakwah, beliaulah manusia yang memiliki kelembutan kepada setiap orang yang didakwahinya. Hari ini banyak di antara manusia yang menolak dakwah Islam, salah satu sebabnya adalah hilangnya kelembutan dalam dakwah tersebut. Islam ibarat mutiara sedangkan kelembutan adalah bak bungkusnya. Ketika bungkusnya tak lagi indah dan kotor, maka jangan pernah berharap manusia mau membukanya. Membuka saja tidak, apalagi menerima mutiara yang ada di dalamnya. Seseorang ketika berdakwah hendaknya memperhatikan akhlak yang mulia ini, janganlah ia sampai gegabah dan bertindak kasar dalam dakwahnya. Allah Ta’ala telah menjelaskan tiga metode dasar dakwah yang salah satu diantaranya adalah dengan hikmah. Allah Ta’ala berfirman:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An Nahl : 125).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits:
فَإِنَّ الرِّفْقَ لَمْ يَكُنْ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ شَانَهُ
“Sesungguhnya lemah lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan memperkeruhnya”(HR. Abu Dawud, sanad: shahih).
Hadits ini menjelaskan bahwa kelembutan akan menjadi penghias bagi sesuatu, sedangkan hilangnya kelembutan membuat suatu perkara menjadi tidak lagi indah. Di antara perkara yang membutuhkan kelembutan adalah dakwah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah contoh terbaik dalam berdakwah, beliaulah manusia yang memiliki kelembutan kepada setiap orang yang didakwahinya. Hari ini banyak di antara manusia yang menolak dakwah Islam, salah satu sebabnya adalah hilangnya kelembutan dalam dakwah tersebut. Islam ibarat mutiara sedangkan kelembutan adalah bak bungkusnya. Ketika bungkusnya tak lagi indah dan kotor, maka jangan pernah berharap manusia mau membukanya. Membuka saja tidak, apalagi menerima mutiara yang ada di dalamnya. Seseorang ketika berdakwah hendaknya memperhatikan akhlak yang mulia ini, janganlah ia sampai gegabah dan bertindak kasar dalam dakwahnya. Allah Ta’ala telah menjelaskan tiga metode dasar dakwah yang salah satu diantaranya adalah dengan hikmah. Allah Ta’ala berfirman:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An Nahl : 125).
*BAHKAN MEMBUNUH TIKUS PUN DENGAN CARA YANG BAIK*
● Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata :
Apabila Anda hendak membunuh tikus, dan membunuhnya adalah mustahab (dianjurkan), maka berbuat ihsan (baik) lah dalam membunuhnya, bunuhlah dengan cara yang cepat merenggut nyawanya, dan tidak menyakitinya.
● Termasuk dari menyakitinya : apa yang dilakukan oleh sebagian orang ketika meletakkan sesuatu untuk tikus dengan rekatan (lem tikus) yang membuatnya melekat, kemudian membiarkannya mati dalam keadaan lapar dan dahaga, dan seperti ini tidak diperbolehkan, maka apabila Anda meletakkan lem tikus ini maka wajib bagi Anda untuk terus mengulang-ulang menengoknya dan mengawasinya hingga jika Anda dapatkan sesuatu menempel pada lem tikus maka Anda bunuh dia.
● Adapun jika Anda membiarkan lem ini selama 2 hari atau 3 hari dan ternyata ada tikus yang terjerat padanya dan mati dalam keadaan kelaparan dan kehausan maka sesungguhnya dikhawatirkan bagi Anda untuk masuk ke dalam neraka oleh sebab itu, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
دَخَلَتِ النَّارَ اِمْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ حَبَسَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ لا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلا هِيَ أَرْسَلَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خِشَاشِ الأَرْضِ
“Masuk ke dalam neraka seorang wanita karena seekor kucing yang dia kurung hingga mati, dia tidak memberi makan kucingnya dan tidak pula membebaskannya untuk memakan dari serangga di tanah.” (HR. Bukhori dan Muslim)
● Syarah riyadhus sholihin, 4/596
● Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata :
Apabila Anda hendak membunuh tikus, dan membunuhnya adalah mustahab (dianjurkan), maka berbuat ihsan (baik) lah dalam membunuhnya, bunuhlah dengan cara yang cepat merenggut nyawanya, dan tidak menyakitinya.
● Termasuk dari menyakitinya : apa yang dilakukan oleh sebagian orang ketika meletakkan sesuatu untuk tikus dengan rekatan (lem tikus) yang membuatnya melekat, kemudian membiarkannya mati dalam keadaan lapar dan dahaga, dan seperti ini tidak diperbolehkan, maka apabila Anda meletakkan lem tikus ini maka wajib bagi Anda untuk terus mengulang-ulang menengoknya dan mengawasinya hingga jika Anda dapatkan sesuatu menempel pada lem tikus maka Anda bunuh dia.
● Adapun jika Anda membiarkan lem ini selama 2 hari atau 3 hari dan ternyata ada tikus yang terjerat padanya dan mati dalam keadaan kelaparan dan kehausan maka sesungguhnya dikhawatirkan bagi Anda untuk masuk ke dalam neraka oleh sebab itu, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
دَخَلَتِ النَّارَ اِمْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ حَبَسَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ لا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلا هِيَ أَرْسَلَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خِشَاشِ الأَرْضِ
“Masuk ke dalam neraka seorang wanita karena seekor kucing yang dia kurung hingga mati, dia tidak memberi makan kucingnya dan tidak pula membebaskannya untuk memakan dari serangga di tanah.” (HR. Bukhori dan Muslim)
● Syarah riyadhus sholihin, 4/596
*DOSA YANG MENGALIR SAMPAI KE DALAM KUBUR*
Keburukan yang ditinggalkan oleh seorang manusia, tetap akan dicatat. Jika seorang manusia meninggalkan sesuatu yang menjadi sebab orang lain bermaksiat kepada ALlah, maka keburukan dan dosa tersebut akan tetap dicatat, walaupun ia berada di kuburannya.
Sebagai contoh, seseorang membuat sebuah website yang berisi kemaksiatan. Maka setiap kali orang lain melihat gambar atau tulisan atau video di website tersebut, akan menjadi catatan dosa bagi orang yang membuatnya, sebesar dosa orang yang membuka websitenya.
Oleh karenanya, selayaknya para ahli waris memeriksa jejak digital keluarganya yang meninggal. Jika apa yang ia tinggalkan adalah hal yang buruk, maka segera dihapus. Jika apa yang ditinggalkan tersebut baik, maka usahakan untuk dikembangkan.
Ini adalah bukti bahayanya menyebarkan amal keburukan. Dosanya akan tetap terus mengalir. Tidak hanya saat ia masih hidup. Bahkan setelah ia mati, dosanya akan tetap mengalir dan tetap dicatat. Selama amalan nya yang buruk itu masih ada.
*GRIYA LEBAH AL WAHDAH*
Keburukan yang ditinggalkan oleh seorang manusia, tetap akan dicatat. Jika seorang manusia meninggalkan sesuatu yang menjadi sebab orang lain bermaksiat kepada ALlah, maka keburukan dan dosa tersebut akan tetap dicatat, walaupun ia berada di kuburannya.
Sebagai contoh, seseorang membuat sebuah website yang berisi kemaksiatan. Maka setiap kali orang lain melihat gambar atau tulisan atau video di website tersebut, akan menjadi catatan dosa bagi orang yang membuatnya, sebesar dosa orang yang membuka websitenya.
Oleh karenanya, selayaknya para ahli waris memeriksa jejak digital keluarganya yang meninggal. Jika apa yang ia tinggalkan adalah hal yang buruk, maka segera dihapus. Jika apa yang ditinggalkan tersebut baik, maka usahakan untuk dikembangkan.
Ini adalah bukti bahayanya menyebarkan amal keburukan. Dosanya akan tetap terus mengalir. Tidak hanya saat ia masih hidup. Bahkan setelah ia mati, dosanya akan tetap mengalir dan tetap dicatat. Selama amalan nya yang buruk itu masih ada.
*GRIYA LEBAH AL WAHDAH*
*MENYAMBUT 10 HARI BULAN DZULHIJJAH*
Sekarang kita sudah memasuki bulan Dzulhijjah tepatnya tanggal 5 Dzulhijjah hari ini, sudah dilalui 5 hari dari 10 hari yang penuh keberkahan. 10 hari yang utama, yaitu 10 hari bulan Dzulhijjah. Cukuplah sumpah Allah Jalla wa 'alaa dengan hari-hari ini sebagai tanda keutamaannya.
وَلَيَالٍ عَشۡرٍۙ
*_demi malam yang sepuluh_*. (QS. alFajr:2)
Allah Jalla wa 'alaa hanya akan bersumpah dengan sesuatu yang agung. 10 hari ini adalah salah satu syiar ALlah. Ini menunjukkan keutamaan hari-hari tersebut dan keutamaan beramal di dalamnya.
Syiar agama ini bisa berupa waktu, bisa juga berupa tempat. SYiar yang berupa waktu seperti 10 hari bulan Dzulhijjah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika menjelaskan keutamaan hari-hari yang penuh berkah ini, para shahabat sampai heran dengan keutamaannya. Dan ini menunjukkan keutamaan hari-hari ini sangat agung. Sehingga balasan pada hari ini pun penuh dengan keberkahan.
Karena ALlah mengagungkan dan menarik perhatian kita kepada keutamaan hari-hari ini di dalam al Quran. Maka wajib bagi seorang muslim memberikan perhatiannya untuk 10 hari ini.
Wajib mementingkan dan beramal shalih di hari-hari tersebut. Karena amal di hari-hari ini dilipatgandakan pahalanya lebih dibandingkan hari-hari lainnya.
نسأل الله الكريم أن يوفقنا و إخواننا المسلمين
*_Kita memohon kepada Allah yang Maha Dermawan, agar memberikan taufiqnya kepada kita dan saudara-saudara kita kaum muslimin._*
~ _Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan_ ~
Sekarang kita sudah memasuki bulan Dzulhijjah tepatnya tanggal 5 Dzulhijjah hari ini, sudah dilalui 5 hari dari 10 hari yang penuh keberkahan. 10 hari yang utama, yaitu 10 hari bulan Dzulhijjah. Cukuplah sumpah Allah Jalla wa 'alaa dengan hari-hari ini sebagai tanda keutamaannya.
وَلَيَالٍ عَشۡرٍۙ
*_demi malam yang sepuluh_*. (QS. alFajr:2)
Allah Jalla wa 'alaa hanya akan bersumpah dengan sesuatu yang agung. 10 hari ini adalah salah satu syiar ALlah. Ini menunjukkan keutamaan hari-hari tersebut dan keutamaan beramal di dalamnya.
Syiar agama ini bisa berupa waktu, bisa juga berupa tempat. SYiar yang berupa waktu seperti 10 hari bulan Dzulhijjah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika menjelaskan keutamaan hari-hari yang penuh berkah ini, para shahabat sampai heran dengan keutamaannya. Dan ini menunjukkan keutamaan hari-hari ini sangat agung. Sehingga balasan pada hari ini pun penuh dengan keberkahan.
Karena ALlah mengagungkan dan menarik perhatian kita kepada keutamaan hari-hari ini di dalam al Quran. Maka wajib bagi seorang muslim memberikan perhatiannya untuk 10 hari ini.
Wajib mementingkan dan beramal shalih di hari-hari tersebut. Karena amal di hari-hari ini dilipatgandakan pahalanya lebih dibandingkan hari-hari lainnya.
نسأل الله الكريم أن يوفقنا و إخواننا المسلمين
*_Kita memohon kepada Allah yang Maha Dermawan, agar memberikan taufiqnya kepada kita dan saudara-saudara kita kaum muslimin._*
~ _Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan_ ~
KEUTAMAAN BULAN DZULHIJJAH
روى البخاري رحمه الله عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر – قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun“
. وروى الإمام أحمد رحمه الله عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام أعظم ولا احب إلى الله العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد وروى ابن حبان رحمه الله في صحيحه عن جابر رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: أفضل الأيام يوم عرفة.
“Imam Ahmad, rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid
روى البخاري رحمه الله عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر – قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun“
. وروى الإمام أحمد رحمه الله عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام أعظم ولا احب إلى الله العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد وروى ابن حبان رحمه الله في صحيحه عن جابر رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: أفضل الأيام يوم عرفة.
“Imam Ahmad, rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid
Allah Menggaji Mereka yang Mengurus Dana Amal
Loh kok bisa? Ya bisa!
Literasi "Islamic Social Finance" atau Keuangan Sosial Islam memang masih sangat rendah, ditambah lagi ketika isunya digoreng oleh komunitas lintas agama yang tak paham.
Islam punya aturan baku dari "sono" nya. Dimana sistem keuangan sosial dalam Islam telah diatur sedemikian detail dan canggih. Visinya: professionalisme, bukan pengelolaan abal abal. Ada beberapa faktor yang menjadikan kita layak memandang Islamic Social Finance (ISF) sebagai sebuah sistem yang professional dan maju.
Pertama, maksud dan tujuan. Islam tidak mengenal generic model "donasi" saja. Dalam ISF kita mengenal ada Zakat, Infaq, Shodaqoh, dan Wakaf. Spiritnya semua sama: menolong sesama, memajukan umat dengan berbagai program, pemerataan ekonomi, dan wujud syukur dari si pemberi. Wujud iman dan taqwa kepada Perintah-Nya.
Jadi jika ada yang membenci sistem ISF, maka patut diduga tujuannya adalah hal hal sebaliknya dari itu. Agar umat tak tertolong, umat terbelakang, ekonomi yang timpang, dan membunuh kebiasaan umat bersyukur atas rezeki Allah SWT.
Kedua, sistemnya pun sudah cukup maju. Ada zakat yang merupakan perintah wajib sebesar seper empat puluh dari rezeki kita. Ada infaq yang sifatnya sunnah (diluar porsi zakat) yang bertujuan untuk kemaslahatah umat secara umum, ada shodaqoh yang juga sunnah dan fokus pada kemanusiaan, ada juga wakaf yang sifatnya untuk dikelola secara professional sehingga manfaatnya bisa lebih sustainable.
Ketiga, pembagiannya juga cukup jelas dan amil adalah sebuah profesi yang amat sangat dihargai oleh agama. Tak tanggung-tanggung Allah SWT mengganjar seperdelapan dana zakat terkumpul sebagai hak para amil. Dari situlah dapat disimpulkan bahwa amil adalah pekerjaan. Jadi tak perlu dengki, setiap 8 rupiah yang anda zakatkan maka 1 rupiahnya adalah hak amil. Lebih besar lagi jika itu Infaq, Shodaqoh, dan Infaq hasil pengelolaan wakaf. Maka seperlima dana terkumpul adalah hak amil.
Lalu apa maksudnya? Menurut saya Islam memang mendorong sesiapa saja untuk berlomba lomba dalam kebajikan (fastabiqul khoirot). Jadi ketika orang berlomba lomba mendirikan lembaga amal untuk penghidupan sekalipun, itu halal dan sah. Justru itulah Islam tak menginginkan umat hidup dalam kekikiran, kefakiran, dan kekufuran.. Menurut studi Baznas ada ribuan trilyun potensi dana Ziswaf (ISF) di Indonesia tiap tahun, dan itu harus dibaca sebagai potensi kebangkitan umat yang luar biasa. Ada yang tak suka? Pasti ada saja.
Coba cek Baznas, kantornyapun megah. Jadi mindset yang harus ditanamkan oleh para pemberi amal adalah bahwa ketika kita memberi maka disitu pula kita juga memberikan sebahagian dana tersebut kepada mereka yang mengelola. Dari situlah program program LUAR BIASA dilahirkan. Ingat, dengan sistem yang kikir maka program program amal juga tak bermutu, ecek ecek, dan alakadarnya. Tak demikian sistem donasi dalam Islam.
Nah kedepan tinggal dikuatkan saja badan yang mengawasi dan meng-audit pengelolaan dana dana ZISWAF tsb. Sehingga makin dan makin professional, keren, dan makin canggih.
Nah ini.. yang kemudian menjadi masalah adalah ketika dana yang dikelola menjadi jumbo. Katakanlah sebuah lembaga Ziswaf mengelola 100 Milyar Rupiah. Terbayang paling tidak 12,5 Milyar nya adalah hak amil (inilah gaji Allah untuk mereka yang mengelola dana amal). Bagaimana jika 1 Trilyun dana yang dikelola? Bisa anda bayangkan 125 Milyarnya hak siapa?
Semoga bermanfaat.. 🙏🏻
Penulis:
~ _Rezza Artha_ ~
Loh kok bisa? Ya bisa!
Literasi "Islamic Social Finance" atau Keuangan Sosial Islam memang masih sangat rendah, ditambah lagi ketika isunya digoreng oleh komunitas lintas agama yang tak paham.
Islam punya aturan baku dari "sono" nya. Dimana sistem keuangan sosial dalam Islam telah diatur sedemikian detail dan canggih. Visinya: professionalisme, bukan pengelolaan abal abal. Ada beberapa faktor yang menjadikan kita layak memandang Islamic Social Finance (ISF) sebagai sebuah sistem yang professional dan maju.
Pertama, maksud dan tujuan. Islam tidak mengenal generic model "donasi" saja. Dalam ISF kita mengenal ada Zakat, Infaq, Shodaqoh, dan Wakaf. Spiritnya semua sama: menolong sesama, memajukan umat dengan berbagai program, pemerataan ekonomi, dan wujud syukur dari si pemberi. Wujud iman dan taqwa kepada Perintah-Nya.
Jadi jika ada yang membenci sistem ISF, maka patut diduga tujuannya adalah hal hal sebaliknya dari itu. Agar umat tak tertolong, umat terbelakang, ekonomi yang timpang, dan membunuh kebiasaan umat bersyukur atas rezeki Allah SWT.
Kedua, sistemnya pun sudah cukup maju. Ada zakat yang merupakan perintah wajib sebesar seper empat puluh dari rezeki kita. Ada infaq yang sifatnya sunnah (diluar porsi zakat) yang bertujuan untuk kemaslahatah umat secara umum, ada shodaqoh yang juga sunnah dan fokus pada kemanusiaan, ada juga wakaf yang sifatnya untuk dikelola secara professional sehingga manfaatnya bisa lebih sustainable.
Ketiga, pembagiannya juga cukup jelas dan amil adalah sebuah profesi yang amat sangat dihargai oleh agama. Tak tanggung-tanggung Allah SWT mengganjar seperdelapan dana zakat terkumpul sebagai hak para amil. Dari situlah dapat disimpulkan bahwa amil adalah pekerjaan. Jadi tak perlu dengki, setiap 8 rupiah yang anda zakatkan maka 1 rupiahnya adalah hak amil. Lebih besar lagi jika itu Infaq, Shodaqoh, dan Infaq hasil pengelolaan wakaf. Maka seperlima dana terkumpul adalah hak amil.
Lalu apa maksudnya? Menurut saya Islam memang mendorong sesiapa saja untuk berlomba lomba dalam kebajikan (fastabiqul khoirot). Jadi ketika orang berlomba lomba mendirikan lembaga amal untuk penghidupan sekalipun, itu halal dan sah. Justru itulah Islam tak menginginkan umat hidup dalam kekikiran, kefakiran, dan kekufuran.. Menurut studi Baznas ada ribuan trilyun potensi dana Ziswaf (ISF) di Indonesia tiap tahun, dan itu harus dibaca sebagai potensi kebangkitan umat yang luar biasa. Ada yang tak suka? Pasti ada saja.
Coba cek Baznas, kantornyapun megah. Jadi mindset yang harus ditanamkan oleh para pemberi amal adalah bahwa ketika kita memberi maka disitu pula kita juga memberikan sebahagian dana tersebut kepada mereka yang mengelola. Dari situlah program program LUAR BIASA dilahirkan. Ingat, dengan sistem yang kikir maka program program amal juga tak bermutu, ecek ecek, dan alakadarnya. Tak demikian sistem donasi dalam Islam.
Nah kedepan tinggal dikuatkan saja badan yang mengawasi dan meng-audit pengelolaan dana dana ZISWAF tsb. Sehingga makin dan makin professional, keren, dan makin canggih.
Nah ini.. yang kemudian menjadi masalah adalah ketika dana yang dikelola menjadi jumbo. Katakanlah sebuah lembaga Ziswaf mengelola 100 Milyar Rupiah. Terbayang paling tidak 12,5 Milyar nya adalah hak amil (inilah gaji Allah untuk mereka yang mengelola dana amal). Bagaimana jika 1 Trilyun dana yang dikelola? Bisa anda bayangkan 125 Milyarnya hak siapa?
Semoga bermanfaat.. 🙏🏻
Penulis:
~ _Rezza Artha_ ~
IBNU ABBAS - AMALAN YANG LEBIH BAIK DARI JIHAD
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ditanya tentang jihad. Beliau menjawab :
ألا أدلك على خير من الجهاد؟ تبني مسجدا وتعلم فيه الفرائض والسنة والفقه في الدين.
“Maukah engkau aku tunjukkan amalan yang lebih baik daripada jihad?
Engkau membangun masjid, lalu di dalamnya engkau ajarkan hal-hal yang wajib, yang sunnah, dan fikih (mendalami) agama.”
Jami’ Bayani al-‘Ilmi wa Fadhlihi 1/38
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ditanya tentang jihad. Beliau menjawab :
ألا أدلك على خير من الجهاد؟ تبني مسجدا وتعلم فيه الفرائض والسنة والفقه في الدين.
“Maukah engkau aku tunjukkan amalan yang lebih baik daripada jihad?
Engkau membangun masjid, lalu di dalamnya engkau ajarkan hal-hal yang wajib, yang sunnah, dan fikih (mendalami) agama.”
Jami’ Bayani al-‘Ilmi wa Fadhlihi 1/38
Shalat Malam Adalah ciri orang shalih.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﻘِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺩَﺃْﺏُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْ، ﻭَﻫُﻮَ ﻗُﺮْﺑَﺔٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ، ﻭَﻣُﻜَﻔِّﺮَﺓٌ ﻟِﻠﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ، ﻣَﻨْﻬَﺎﺓٌ ﻋَﻦِ ﺍْﻹِﺛْﻢِ
“Lakukanlah shalat malam oleh kalian, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Ia pun dapat mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menghapus segala kesalahan dan mencegah dari perbuatan dosa.” [HR. Tirmidzi, Hadist hasan]
Makna dari kata “da’bu” ( ﺩَﺃْﺏُ) adalah ( ﻋَﺎﺩَﺗُﻬُﻢْ ﻭَﺷَﺄْﻧُﻬُﻢْ) yaitu kebiasaan dan hal yang menjadi perhatian. Ini adalah perhatian orang shalih, yaitu nemperhatikan shalat malam mereka, bahkan sebagian orang shalih menjadikan shalat malam sebagai salah satu gambaran kondisi keimanan mereka. Apabila mereka melakukan maksiat dan dosa, maka iman mereka akan turun dan akan sulit bangun shalat malam.
Hasan Al-Basri rahimahullah berkata,
ﺇﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻟﻴﺬﻧﺐ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﻓﻴﺤﺮﻡ ﺑﻪ ﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ
“Sesungguhnya seseorang itu ketika berbuat dosa, bisa jadi akan diharamkan (susah melakukan) shalat malam.” [Al-Mujalasah wa Jawahirul Ilmi no. 403]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﻘِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺩَﺃْﺏُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْ، ﻭَﻫُﻮَ ﻗُﺮْﺑَﺔٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ، ﻭَﻣُﻜَﻔِّﺮَﺓٌ ﻟِﻠﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ، ﻣَﻨْﻬَﺎﺓٌ ﻋَﻦِ ﺍْﻹِﺛْﻢِ
“Lakukanlah shalat malam oleh kalian, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Ia pun dapat mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menghapus segala kesalahan dan mencegah dari perbuatan dosa.” [HR. Tirmidzi, Hadist hasan]
Makna dari kata “da’bu” ( ﺩَﺃْﺏُ) adalah ( ﻋَﺎﺩَﺗُﻬُﻢْ ﻭَﺷَﺄْﻧُﻬُﻢْ) yaitu kebiasaan dan hal yang menjadi perhatian. Ini adalah perhatian orang shalih, yaitu nemperhatikan shalat malam mereka, bahkan sebagian orang shalih menjadikan shalat malam sebagai salah satu gambaran kondisi keimanan mereka. Apabila mereka melakukan maksiat dan dosa, maka iman mereka akan turun dan akan sulit bangun shalat malam.
Hasan Al-Basri rahimahullah berkata,
ﺇﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻟﻴﺬﻧﺐ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﻓﻴﺤﺮﻡ ﺑﻪ ﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ
“Sesungguhnya seseorang itu ketika berbuat dosa, bisa jadi akan diharamkan (susah melakukan) shalat malam.” [Al-Mujalasah wa Jawahirul Ilmi no. 403]
*TERUNTUK YANG SUKA MEMUKUL ISTRI*
As-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, memberikan nasihat untuk para suami-suami yang suka memukul istrinya.
Ada shahabat wanita Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengadukan perihal suaminya yang memukul istrinya. Nabipun menasihati para suami:
بلغني كذا و كذا إن أوْلئك ليسوا بخياركم
*_Aku mendengar begini dan begitu, suami yang memukul istri itu bukan orang yang baik._* (HR. Abu Dawud No. 216)
Suami itu tidak memukul istrinya kecuali saat dibutuhkan seperti istri durhaka atau kebutuhan lainnya. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَالّٰتِىۡ تَخَافُوۡنَ نُشُوۡزَهُنَّ فَعِظُوۡهُنَّ وَاهۡجُرُوۡهُنَّ فِى الۡمَضَاجِعِ وَاضۡرِبُوۡهُنَّ
*_Istri-istri yang kalian takutkan berbuat durhaka, maka nasihatilah mereka, pisah tempat tidur dan pukul mereka._* (an-Nisaa:34)
Allah letakkan izin memukul istri di paling akhir. Itupun pukulan yang tidak membekas dan saat dibutuhkan atau keadaan darurat. Tapi seorang mukmin hendaknya lebih memilih sabar dan menahan diri. Mencoba untuk memperbaiki tanpa memukul. Karena pukulan terkadang malah menambah masalah dan menyebabkan perceraian.
*GRIYA LEBAH AL WAHDAH*
As-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, memberikan nasihat untuk para suami-suami yang suka memukul istrinya.
Ada shahabat wanita Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengadukan perihal suaminya yang memukul istrinya. Nabipun menasihati para suami:
بلغني كذا و كذا إن أوْلئك ليسوا بخياركم
*_Aku mendengar begini dan begitu, suami yang memukul istri itu bukan orang yang baik._* (HR. Abu Dawud No. 216)
Suami itu tidak memukul istrinya kecuali saat dibutuhkan seperti istri durhaka atau kebutuhan lainnya. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَالّٰتِىۡ تَخَافُوۡنَ نُشُوۡزَهُنَّ فَعِظُوۡهُنَّ وَاهۡجُرُوۡهُنَّ فِى الۡمَضَاجِعِ وَاضۡرِبُوۡهُنَّ
*_Istri-istri yang kalian takutkan berbuat durhaka, maka nasihatilah mereka, pisah tempat tidur dan pukul mereka._* (an-Nisaa:34)
Allah letakkan izin memukul istri di paling akhir. Itupun pukulan yang tidak membekas dan saat dibutuhkan atau keadaan darurat. Tapi seorang mukmin hendaknya lebih memilih sabar dan menahan diri. Mencoba untuk memperbaiki tanpa memukul. Karena pukulan terkadang malah menambah masalah dan menyebabkan perceraian.
*GRIYA LEBAH AL WAHDAH*
KEUTAMAAN HARI ARAFAH
Sebaik-baik do’a adalah do’a hari Arafah -9 Dzulhijjah-. Maksudnya, do’a ini paling cepat diijabahi. Sehingga kita diperintahkan untuk konsen melakukan ibadah yang satu ini di pada hari Arafah, apalagi untuk orang yang sedang wukuf di Arafah.
Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim no. 1348).
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah.” (HR. Tirmidzi no. 3585. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Maksudnya, inilah doa yang paling cepat dipenuhi atau terkabulkan (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 10: 33).
Sebaik-baik do’a adalah do’a hari Arafah -9 Dzulhijjah-. Maksudnya, do’a ini paling cepat diijabahi. Sehingga kita diperintahkan untuk konsen melakukan ibadah yang satu ini di pada hari Arafah, apalagi untuk orang yang sedang wukuf di Arafah.
Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim no. 1348).
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah.” (HR. Tirmidzi no. 3585. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Maksudnya, inilah doa yang paling cepat dipenuhi atau terkabulkan (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 10: 33).
DOA MINTA KEKHUSYU'AN HATI
اللهم إنّا نسألك إنابة الخاشعين
اللهم إنّا نسألك إثبات المخبتين
اللهم اكسرقلوبنا بين يديك ورُدَّنا إليك
اللهم ارزقنا خشوع الخاشعين وإخبات المخبتين
اللهم اقْطَعْ عنّا دابِرَالشياطين
اللهم اقْطَعْ عنّا وَسَاوِسَهُمْ وخَطَرَاتِهِمْ المُرْدِيَةَ وَسَاوِسَهُمُ المُهْلِكَةَ إله الأوّلين والأٰخَرِيْنَ
Ya Allah karuniakan kepada kami kekhusyukan orang-orang yang khusyuk
Ya Allah tundukkan hati kami di hadapanMu dan palingkan jiwa kami hanya kepadaMu
Ya Allah karuniakan kepada kami kekhusyukan orang-orang yang khusyuk
Ya ALlah ilaahal awwaliin wal aakhiriin, lindungi kami dari godaan syetan yang membinasakan
اللهم إنّا نسألك إنابة الخاشعين
اللهم إنّا نسألك إثبات المخبتين
اللهم اكسرقلوبنا بين يديك ورُدَّنا إليك
اللهم ارزقنا خشوع الخاشعين وإخبات المخبتين
اللهم اقْطَعْ عنّا دابِرَالشياطين
اللهم اقْطَعْ عنّا وَسَاوِسَهُمْ وخَطَرَاتِهِمْ المُرْدِيَةَ وَسَاوِسَهُمُ المُهْلِكَةَ إله الأوّلين والأٰخَرِيْنَ
Ya Allah karuniakan kepada kami kekhusyukan orang-orang yang khusyuk
Ya Allah tundukkan hati kami di hadapanMu dan palingkan jiwa kami hanya kepadaMu
Ya Allah karuniakan kepada kami kekhusyukan orang-orang yang khusyuk
Ya ALlah ilaahal awwaliin wal aakhiriin, lindungi kami dari godaan syetan yang membinasakan
DOA SAMBUTAN NIKAH UNTUK KEDUA MEMPELAI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَا لَمِيْنَ. اَللهم صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي الْخَيْرِ، اللهم بِفَضْلِكَ عُمَّنَا، وَبِلُطْفِكَ حُفَّنَا وَاجْعَلْ هٰذَا اْلعَقْدَ عَقْدًا مُبَارَكًا مَعْصُوْمًا، وَأَلِّفْ بَيْنَهُمَا أُلْفَةً وَقَرَارًا دَائِمًا، وَلَا تَجْعَلْ بَيْنَهُمَا فُرْقَةً وَفِرَارًا وَخُصُوْمًا وَاكْفِهِمَا مُؤْنَةَ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Ya Allah limpahkanlah rahmat ta’dhim atas junjungan kami, yaitu Nabi Muhammad dan juga keluarga junjungan kami, yaitu Nabi Muhammad. Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan keberkahan atas pernikahan kamu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.
Ya Allah limpahkanlah anugrah-Mu kepada kami, kelilingilah kami dengan kasih sayang-Mu, jadikanlah akad ini akad yang berkah lagi terpelihara. Jinakkanlah antara keduanya secara tetap dan kekal, jangan jadikan antara keduanya perpisahan, lari dan pertengkaran, dan cukupilah keduanya kebutuhan dunia dan akhirat.”
اَللهم إِنَّا نَسْئَلُكَ أَنْ تُلْقِيَ بَيْنَهُمَا الْمَحَبَّةَ وَاْلوِدَادَ، وَأَنْ تَرْزُقَهُمَا النَّسْلَ الصَّالِحَ مِنَ الْبَنَاتِ وَاْلأَوْلَادِ حَتّٰى تُرِيَهُمَا اْلأَسْبَاطَ وَالْأَحْفَادَ. وَأَنْ تَحْفَظَهُمَا مِنْ مَكَايِدِ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ. وَأَنْ تُوَسِّعَ لَهُمَا الرِّزْقَ وَأَنْ تَجْعَلَهُمَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ. اَللهم إِنَّا نَسْئَلُكَ اْلعَافِيَةَ وَدَوَامَ اْلعَافِيَةِ، وَالشُّكْرَ عَلَى اْلعَافِيَةِ،
Ya Allah sesunggahnya kami memohon kepada-Mu untuk berkenan melimpahkan cinta dan kasih sayang pada keduanya, karuniailah keduanya keturunan yang shaleh (baik) dari anak perempuan dan laki-laki, hingga keduanya dapat melihat anak cucu keturunannya.
Jagalah keduanya dari tipu daya semua makhluk. Lapangkanlah rizki keduanya dan jadikanlah keduanya sebagai hamba-hamba-Mu yang shaleh. Ya Allah kami memohon kepada-Mu keselamatan yang kekal dan dapat menyukuri kenikmatan itu.
اَللهم أَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ أَبِيْنَا آدَمَ وَأُمِّنَا حَوَّاءَ، وَ أَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَيِّدَتِنَا خَدِيْجَةَ اْلكُبْرَى، وَ أَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ سَيِّدِنَا عَلِىٍّ وَسَيِّدَتِنَا فَاطِمَةَ الزَّهْرَاءِ، وَ أَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ الْمَاءِ وَالثَّلْجِ.
Ya Allah, jinakkanlah keduanya sebagai mana Engkau menjinakkan antara bapak kami Adam dan ibu kami Hawa, jinakkanlah keduanya sebagai mana Engkau menjinakkan antara junjungan kami Nabi Muhammad saw dan Siti Khadijah, jinakkanlah keduanya sebagai mana Engkau menjinakkan antara Sayidina Ali dan Siti Fatimah, jinakkanlah keduanya sebagai mana Engkau menjinakkan antara air dan es.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتّقِيْنَ اِمَامًا
Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami prmimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّاِر. وَصَلىَّ اللهُ عَلىٰ سَـيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلىٰ اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ ... اَلْفَاتِحَهْ
Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta jauhkanlah kami dari siksa neraka. Semoga rahmat ta’dhim Allah selalu dilimpah-kan kepada junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada keluarganya serta para sahabatnya dan semoga Allah memberi keselamatan. Al-Fatihah
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَا لَمِيْنَ. اَللهم صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي الْخَيْرِ، اللهم بِفَضْلِكَ عُمَّنَا، وَبِلُطْفِكَ حُفَّنَا وَاجْعَلْ هٰذَا اْلعَقْدَ عَقْدًا مُبَارَكًا مَعْصُوْمًا، وَأَلِّفْ بَيْنَهُمَا أُلْفَةً وَقَرَارًا دَائِمًا، وَلَا تَجْعَلْ بَيْنَهُمَا فُرْقَةً وَفِرَارًا وَخُصُوْمًا وَاكْفِهِمَا مُؤْنَةَ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Ya Allah limpahkanlah rahmat ta’dhim atas junjungan kami, yaitu Nabi Muhammad dan juga keluarga junjungan kami, yaitu Nabi Muhammad. Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan keberkahan atas pernikahan kamu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.
Ya Allah limpahkanlah anugrah-Mu kepada kami, kelilingilah kami dengan kasih sayang-Mu, jadikanlah akad ini akad yang berkah lagi terpelihara. Jinakkanlah antara keduanya secara tetap dan kekal, jangan jadikan antara keduanya perpisahan, lari dan pertengkaran, dan cukupilah keduanya kebutuhan dunia dan akhirat.”
اَللهم إِنَّا نَسْئَلُكَ أَنْ تُلْقِيَ بَيْنَهُمَا الْمَحَبَّةَ وَاْلوِدَادَ، وَأَنْ تَرْزُقَهُمَا النَّسْلَ الصَّالِحَ مِنَ الْبَنَاتِ وَاْلأَوْلَادِ حَتّٰى تُرِيَهُمَا اْلأَسْبَاطَ وَالْأَحْفَادَ. وَأَنْ تَحْفَظَهُمَا مِنْ مَكَايِدِ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ. وَأَنْ تُوَسِّعَ لَهُمَا الرِّزْقَ وَأَنْ تَجْعَلَهُمَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ. اَللهم إِنَّا نَسْئَلُكَ اْلعَافِيَةَ وَدَوَامَ اْلعَافِيَةِ، وَالشُّكْرَ عَلَى اْلعَافِيَةِ،
Ya Allah sesunggahnya kami memohon kepada-Mu untuk berkenan melimpahkan cinta dan kasih sayang pada keduanya, karuniailah keduanya keturunan yang shaleh (baik) dari anak perempuan dan laki-laki, hingga keduanya dapat melihat anak cucu keturunannya.
Jagalah keduanya dari tipu daya semua makhluk. Lapangkanlah rizki keduanya dan jadikanlah keduanya sebagai hamba-hamba-Mu yang shaleh. Ya Allah kami memohon kepada-Mu keselamatan yang kekal dan dapat menyukuri kenikmatan itu.
اَللهم أَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ أَبِيْنَا آدَمَ وَأُمِّنَا حَوَّاءَ، وَ أَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَيِّدَتِنَا خَدِيْجَةَ اْلكُبْرَى، وَ أَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ سَيِّدِنَا عَلِىٍّ وَسَيِّدَتِنَا فَاطِمَةَ الزَّهْرَاءِ، وَ أَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ الْمَاءِ وَالثَّلْجِ.
Ya Allah, jinakkanlah keduanya sebagai mana Engkau menjinakkan antara bapak kami Adam dan ibu kami Hawa, jinakkanlah keduanya sebagai mana Engkau menjinakkan antara junjungan kami Nabi Muhammad saw dan Siti Khadijah, jinakkanlah keduanya sebagai mana Engkau menjinakkan antara Sayidina Ali dan Siti Fatimah, jinakkanlah keduanya sebagai mana Engkau menjinakkan antara air dan es.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتّقِيْنَ اِمَامًا
Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami prmimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّاِر. وَصَلىَّ اللهُ عَلىٰ سَـيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلىٰ اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ ... اَلْفَاتِحَهْ
Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta jauhkanlah kami dari siksa neraka. Semoga rahmat ta’dhim Allah selalu dilimpah-kan kepada junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada keluarganya serta para sahabatnya dan semoga Allah memberi keselamatan. Al-Fatihah
TANDA KEBAHAGIAAN DAN TANDA KESENGSARAAN
Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata:
من علامة السـعادة ، أَن تُطيع ، وتَخاف ألا تُقبل ،ومِن علامة الشقَاوة ، أن تَعصي ، وتَرجو أن تنجو
“Tanda kebahagiaan adalah engkau berbuat ketaatan dan merasa khawatir tidak diterima.
Dan tanda kesengsaraan adalah engkau bermaksiat dan berharap selamat dari neraka.”
Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata:
من علامة السـعادة ، أَن تُطيع ، وتَخاف ألا تُقبل ،ومِن علامة الشقَاوة ، أن تَعصي ، وتَرجو أن تنجو
“Tanda kebahagiaan adalah engkau berbuat ketaatan dan merasa khawatir tidak diterima.
Dan tanda kesengsaraan adalah engkau bermaksiat dan berharap selamat dari neraka.”
*WAHAI ORANGTUA*
Hari ini kita memasuki tahun ajaran baru, orangtua sibuk mempersiapkan anak-anaknya, untuk maksimal dalam menghadapi tahun ajaran baru, sekolah baru, teman baru, guru baru dan seterusnya, semua kebutuhan pembelajaran mereka siapkan.
Orangtua siap mengantarkan anaknya ke sekolah dengan mobilnya, atau mereka carikan supir untuk anak mereka. Ada juga yang sampai membelikan mobil baru atau motor baru untuk anaknya. Ia penuhi segala kebutuhan duniawi anaknya.
Pertanyaannya adalah apakah mereka peduli anaknya pergi ke masjid? apakah ia peduli jika anaknya terlambat datang ke masjid? apakah ia peduli? apakah ia peduli dengan pendidikan agama anaknya? baik ia ajarkan sendiri atau ia carikan guru yang shalih untuknya. Apakah ia peduli anaknya hadir di majelis ilmu atau tidak?
Ia hanya peduli anaknya pergi ke sekolah dan berhasil dalam pelajarannya. Itu merupakan hal yang baik. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi jangan hanya pedulikan itu. Ada hal yang lebih penting dan lebih wajib, yaitu membawa anak ke masjid, membawa anak hadir di majelis ilmu. Menjaga anak dari teman-teman yang buruk. Menjaga mereka dari pemikiran-pemikiran menyimpang yang sekarang sedang digembar-gemborkan.
Di zaman ini, mabuk dan narkoba dilakukan secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Zina (baca pacaran) sudah tidak malu-malu lagi, dan sudah dianggap biasa bukan sebuah dosa. Di mana kalian saat anak-anak dan negeri kalian diserang pemikiran-pemikiran tersebut?
Negeri kaian sedang dihancurkan dari sisi moral, agama dan pemikiran. Dan kalian berlepas tangan? lempar tanggungjawab kepada orang lain?
Apakah sudah cukup dan tunai sudah tugas kita sebagai orangtua?.
Mari kita merenung dan segera sadar dan bertindak untuk perbaikan generasi masa depan.
*_Nas-alullah wa iyyaakum assalaamah wal'aafiyah_*
Hari ini kita memasuki tahun ajaran baru, orangtua sibuk mempersiapkan anak-anaknya, untuk maksimal dalam menghadapi tahun ajaran baru, sekolah baru, teman baru, guru baru dan seterusnya, semua kebutuhan pembelajaran mereka siapkan.
Orangtua siap mengantarkan anaknya ke sekolah dengan mobilnya, atau mereka carikan supir untuk anak mereka. Ada juga yang sampai membelikan mobil baru atau motor baru untuk anaknya. Ia penuhi segala kebutuhan duniawi anaknya.
Pertanyaannya adalah apakah mereka peduli anaknya pergi ke masjid? apakah ia peduli jika anaknya terlambat datang ke masjid? apakah ia peduli? apakah ia peduli dengan pendidikan agama anaknya? baik ia ajarkan sendiri atau ia carikan guru yang shalih untuknya. Apakah ia peduli anaknya hadir di majelis ilmu atau tidak?
Ia hanya peduli anaknya pergi ke sekolah dan berhasil dalam pelajarannya. Itu merupakan hal yang baik. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi jangan hanya pedulikan itu. Ada hal yang lebih penting dan lebih wajib, yaitu membawa anak ke masjid, membawa anak hadir di majelis ilmu. Menjaga anak dari teman-teman yang buruk. Menjaga mereka dari pemikiran-pemikiran menyimpang yang sekarang sedang digembar-gemborkan.
Di zaman ini, mabuk dan narkoba dilakukan secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Zina (baca pacaran) sudah tidak malu-malu lagi, dan sudah dianggap biasa bukan sebuah dosa. Di mana kalian saat anak-anak dan negeri kalian diserang pemikiran-pemikiran tersebut?
Negeri kaian sedang dihancurkan dari sisi moral, agama dan pemikiran. Dan kalian berlepas tangan? lempar tanggungjawab kepada orang lain?
Apakah sudah cukup dan tunai sudah tugas kita sebagai orangtua?.
Mari kita merenung dan segera sadar dan bertindak untuk perbaikan generasi masa depan.
*_Nas-alullah wa iyyaakum assalaamah wal'aafiyah_*
DOA DIKALA ORANG SIBUK KEPADA DUNIA
أللهم إني أسألك الثبات في الأمر والعزيمة على الرشد
وأسألك موجبات رحمتك وعزائم مغفرتك
وأسألك شكرنعمتك وحسن عبادتك
وأسألك قلبا سليما ولسانا صادقا
وأسألك من خيرماتعلم وأعوذبك من شرّماتعلم
وأستغفرك لماتعلم إنك أنت علام الغيوب
1) Ya Allah aku mohon kepadaMu keistiqomahan dan tekad untuk beramal.
2) Aku mohon kepadaMu segala hal yang mendatangkan Rahmat dan ampunanMu. 3) Aku mohon kepadaMu kemudahan mensyukuri nikmatMu dan baiknya ibadah menghadapMu.
4) Aku mohon kepadaMu hati yang selamat dan lisan yang jujur.
5) Aku memohon kepadaMu kebaikan yang Engkau ketahui dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan yang Engkau ketahui.
6) Aku memohon ampun atas dosa-dosaku yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui yang ghaib..
أللهم إني أسألك الثبات في الأمر والعزيمة على الرشد
وأسألك موجبات رحمتك وعزائم مغفرتك
وأسألك شكرنعمتك وحسن عبادتك
وأسألك قلبا سليما ولسانا صادقا
وأسألك من خيرماتعلم وأعوذبك من شرّماتعلم
وأستغفرك لماتعلم إنك أنت علام الغيوب
1) Ya Allah aku mohon kepadaMu keistiqomahan dan tekad untuk beramal.
2) Aku mohon kepadaMu segala hal yang mendatangkan Rahmat dan ampunanMu. 3) Aku mohon kepadaMu kemudahan mensyukuri nikmatMu dan baiknya ibadah menghadapMu.
4) Aku mohon kepadaMu hati yang selamat dan lisan yang jujur.
5) Aku memohon kepadaMu kebaikan yang Engkau ketahui dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan yang Engkau ketahui.
6) Aku memohon ampun atas dosa-dosaku yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui yang ghaib..
*BERQURBAN UNTUK ORANG YANG SUDAH MENINGGAL*
Qurban merupakan salah satu jenis sedekah. Mengkhususkan qurban untuk ayah (yang sudah meninggal) memiliki beberapa gambaran. _Pertama_, sang ayah telah berwasiat agar sepertiga hartanya digunakan untuk berqurban. Pada kasus ini sang anak *wajib* berqurban untuk ayahnya dari sepertiga hartanya tersebut. Contohnya (sebelum meninggal), sang ayah berkata,"Sepertiga hartaku ini, gunakanlah untuk berqurban setiap tahun". Maka wajib bagi sang anak untuk berqurban atas nama ayahnya secara khusus selama sepertiga harta tersebut masih ada.
_Kedua_, sang ayah berwasiat agar disembelihkan qurban atas namanya namun sang ayah tidak meninggalkan uang sama sekali. Pada kasus ini, menurut pendapat yang lebih kuat, sang anak *dianjurkan* untuk menunaikan wasiat ayahnya, yaitu berqurban atas namanya, karena ada perintah tadi.
_Ketiga_, si anak sukarela berqurban untuk ayahnya tersebut, namun dia juga berqurban untuk dirinya pribadi dan keluarganya. Ini hukumnya *boleh* dengan syarat, selama tidak ada unsur bangga diri, namun yang lebih baik ditinggalkan dan menjadikan niatnya umum. Maksudnya, yang lebih utama bagi sang anak adalah meniatkan qurbannya untuk dirinya sendiri dan untuk seluruh anggota keluarganya yang tidak bisa berqurban, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
Misal, ayahku kini sudah wafat (rahimallahu amwaatal muslimiin, semoga ALlah merahmati kaum muslimin yang sudah wafat). Maka aku berqurban dan aku niatkan qurban ini untuk diriku dan untuk anggota keluargaku yang tidak bisa berqurban, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Aku sertakan ayahku dan seluruh keluargaku yang belum bisa berqurban dalam qurban ini. Sama saja hukumnya antara aku menyembelih satu atau dua hewan qurban. Ini yang lebih sempurna menurut pendapat yang lebih kuat. *Boleh* juga salah satu qurbannya tadi dikhususkan untuk ayahnya yang sudah meninggal.
_Keempat_, seseorang hanya berqurban untuk mayit. Namun ia tidak berqurban untuk yang masih hidup. Yang seperti ini menyelisihi sunnah dan bahkan terlarang. Contoh, ada orang yang berkata,"Aku tidak sanggup berqurban kecuali hanya satu hewan qurban saja". Dan aku tidak ingin berqurban untuk pribadiku, begitu juga, tidak untuk anggota keluargaku. Aku hanya ingin berqurban untuk ayahku yang sudah meninggal. Kemudian ia niatkan qurbannya untuk ayahnya yang sudah meninggal. Maka kita katakan,"Jangan, jangan lakukan ini".
Niatkan qurbanmu untuk dirimu sendiri dan anggota keluargamu baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Masukkan seluruh anggota keluargamu dalam qurban tersebut.
~ _Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily_ ~
Qurban merupakan salah satu jenis sedekah. Mengkhususkan qurban untuk ayah (yang sudah meninggal) memiliki beberapa gambaran. _Pertama_, sang ayah telah berwasiat agar sepertiga hartanya digunakan untuk berqurban. Pada kasus ini sang anak *wajib* berqurban untuk ayahnya dari sepertiga hartanya tersebut. Contohnya (sebelum meninggal), sang ayah berkata,"Sepertiga hartaku ini, gunakanlah untuk berqurban setiap tahun". Maka wajib bagi sang anak untuk berqurban atas nama ayahnya secara khusus selama sepertiga harta tersebut masih ada.
_Kedua_, sang ayah berwasiat agar disembelihkan qurban atas namanya namun sang ayah tidak meninggalkan uang sama sekali. Pada kasus ini, menurut pendapat yang lebih kuat, sang anak *dianjurkan* untuk menunaikan wasiat ayahnya, yaitu berqurban atas namanya, karena ada perintah tadi.
_Ketiga_, si anak sukarela berqurban untuk ayahnya tersebut, namun dia juga berqurban untuk dirinya pribadi dan keluarganya. Ini hukumnya *boleh* dengan syarat, selama tidak ada unsur bangga diri, namun yang lebih baik ditinggalkan dan menjadikan niatnya umum. Maksudnya, yang lebih utama bagi sang anak adalah meniatkan qurbannya untuk dirinya sendiri dan untuk seluruh anggota keluarganya yang tidak bisa berqurban, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
Misal, ayahku kini sudah wafat (rahimallahu amwaatal muslimiin, semoga ALlah merahmati kaum muslimin yang sudah wafat). Maka aku berqurban dan aku niatkan qurban ini untuk diriku dan untuk anggota keluargaku yang tidak bisa berqurban, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Aku sertakan ayahku dan seluruh keluargaku yang belum bisa berqurban dalam qurban ini. Sama saja hukumnya antara aku menyembelih satu atau dua hewan qurban. Ini yang lebih sempurna menurut pendapat yang lebih kuat. *Boleh* juga salah satu qurbannya tadi dikhususkan untuk ayahnya yang sudah meninggal.
_Keempat_, seseorang hanya berqurban untuk mayit. Namun ia tidak berqurban untuk yang masih hidup. Yang seperti ini menyelisihi sunnah dan bahkan terlarang. Contoh, ada orang yang berkata,"Aku tidak sanggup berqurban kecuali hanya satu hewan qurban saja". Dan aku tidak ingin berqurban untuk pribadiku, begitu juga, tidak untuk anggota keluargaku. Aku hanya ingin berqurban untuk ayahku yang sudah meninggal. Kemudian ia niatkan qurbannya untuk ayahnya yang sudah meninggal. Maka kita katakan,"Jangan, jangan lakukan ini".
Niatkan qurbanmu untuk dirimu sendiri dan anggota keluargamu baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Masukkan seluruh anggota keluargamu dalam qurban tersebut.
~ _Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily_ ~
*TUJUH GOLONGAN YANG MENDAPATKAN NAUNGAN ALLAH PADA HARI KIAMAT*
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ؛ إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلِّقٌ بِالـمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهُ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالَهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينَهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan pada saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah subhanahu wa ta’ala:
1. Pemimpin yang adil,
2. Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah.
3. Seorang yang hatinya senantiasa terkait dengan masjid
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, bersatu dan berpisah di atasnya,
5. Seseorang yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan namun pemuda tersebut berkata, ‘Aku takut kepada Allah.
6. Seorang yang bersedekah dan ia menyembunyikan shadaqahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya,
7. Serta seorang yang berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala sendirian hingga meneteskan air mata.”
HR. Al-Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ؛ إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلِّقٌ بِالـمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهُ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالَهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينَهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan pada saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah subhanahu wa ta’ala:
1. Pemimpin yang adil,
2. Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah.
3. Seorang yang hatinya senantiasa terkait dengan masjid
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, bersatu dan berpisah di atasnya,
5. Seseorang yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan namun pemuda tersebut berkata, ‘Aku takut kepada Allah.
6. Seorang yang bersedekah dan ia menyembunyikan shadaqahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya,
7. Serta seorang yang berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala sendirian hingga meneteskan air mata.”
HR. Al-Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031
*BELAJAR NIATNYA HARUS KARENA ALLAH*
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
من تعلّم علما ممّا يبتغ به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيبَ به عرضا من الدنيا لم يجد غرْفَ الجنةِ يومَ القيامة / لم يجد رائحة الجنةِ يومَ القيامة
*_Siapa mempelajari ilmu yang harusnya diniatkan untuk bisa melihat wajah ALlah, tapi ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat._* (HR. Abu Dawud No.3664)
Setelah kita mengetahui hadits shahih ini, maka jangan pernah lagi kita menyekolahkan anak-anak kita hanya sekedar untuk bekerja, mendapatkan ijazah, untuk mengejar karir dan lain sebagainya.
Niatkanlah menyekolahkan anak agar sang anak menjadi orang baik, yang mampu menjalankan hidupnya di bawah panduan Allah dan Nabinya.
Demikianlah Nabi shallallahu a'alaihi wa sallam mendidik para shahabatnya, dengan orientasi akhirat, dan ALlah malah membuka dunia bagi mereka.
Sedang kita umat Islam hari ini, 24 jam memikirkan dunia, dan duniapun tidak didapatkan, hanya sekedar yang telah ditetapkan ALlah baginya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
مُـحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْـقَضِـى
*_Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: (1) Kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus, (2) Kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan, dan (3) Kerugian yang tidak pernah berhenti._*
Allah berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
*_Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan._* [Hûd/11:15-16]
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
من تعلّم علما ممّا يبتغ به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيبَ به عرضا من الدنيا لم يجد غرْفَ الجنةِ يومَ القيامة / لم يجد رائحة الجنةِ يومَ القيامة
*_Siapa mempelajari ilmu yang harusnya diniatkan untuk bisa melihat wajah ALlah, tapi ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat._* (HR. Abu Dawud No.3664)
Setelah kita mengetahui hadits shahih ini, maka jangan pernah lagi kita menyekolahkan anak-anak kita hanya sekedar untuk bekerja, mendapatkan ijazah, untuk mengejar karir dan lain sebagainya.
Niatkanlah menyekolahkan anak agar sang anak menjadi orang baik, yang mampu menjalankan hidupnya di bawah panduan Allah dan Nabinya.
Demikianlah Nabi shallallahu a'alaihi wa sallam mendidik para shahabatnya, dengan orientasi akhirat, dan ALlah malah membuka dunia bagi mereka.
Sedang kita umat Islam hari ini, 24 jam memikirkan dunia, dan duniapun tidak didapatkan, hanya sekedar yang telah ditetapkan ALlah baginya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
مُـحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْـقَضِـى
*_Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: (1) Kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus, (2) Kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan, dan (3) Kerugian yang tidak pernah berhenti._*
Allah berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
*_Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan._* [Hûd/11:15-16]
RAJINLAH BERAMAL SHALIH MESKI ILMU MASIH SEDIKIT
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzhahullahu Ta’ala berkata :
العمل الصالح مع قليل من العلم يبارك الله فيه وأما العلم الكثير مع عدم العمل فإنه هباء منثور وصاحبه يُعذَّب قبل عبدة الأوثان
“Rajin beramal shalih meski ilmunya sedikit akan diberkahi Allah. Sebaliknya, ilmu yang banyak tanpa disertai amal ibarat debu yang berterbangan serta pemilik ilmu itu pun akan disiksa sebelum para penyembah berhala.”
(Muhadharah Washaya wa Taujihat 18/1/1441 H)
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzhahullahu Ta’ala berkata :
العمل الصالح مع قليل من العلم يبارك الله فيه وأما العلم الكثير مع عدم العمل فإنه هباء منثور وصاحبه يُعذَّب قبل عبدة الأوثان
“Rajin beramal shalih meski ilmunya sedikit akan diberkahi Allah. Sebaliknya, ilmu yang banyak tanpa disertai amal ibarat debu yang berterbangan serta pemilik ilmu itu pun akan disiksa sebelum para penyembah berhala.”
(Muhadharah Washaya wa Taujihat 18/1/1441 H)