*AMALAN AHLI SURGA*
salah satu amalan yang membuat kita diridhoi Allah adalah rendah hati kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi saw:
إن الله أوحى إلي أن تواضعوا حتى لا يفخر أحد على أحد ولا يبغي أحد على أحد
*_Allah telah mewahyukan kepadaku supaya kalian rendah hati, sehingga tidak ada yang saling membanggakan diri, dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap orang lain._* (HR. Muslim no.2865)
Hal ini karena sombong adalah salah satu sebab yang mendatangkan kebencian dan murka Allah atas seorang hamba.
Nabi juga bersabda:
لايدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر
قالوا يا رسول الله إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسنا ونعله حسنة
فقال صلى الله عليه و سلم إن الله جميل يحب الجمال
ألكبر بطرالحق و غمط الناس
*_Orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi tidak akan masuk surga. Para sahabat berkata," Wahai Rasulullah, ada orang yang suka memakai pakaian yang bagus dan sandal bagus. Rasulullah menjawab," Allah itu Maha Indah dan Menyukai Keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia._* (HR. Muslim no.91)
Menolak kebenaran maknanya adalah mengingkari dan tidak mau mengakuinya. Adapun meremehkan manusia maksudnya adalah memandang rendah mereka. Menurunkan kedudukan mereka. Dan menyepelekan jasa atau amal mereka. Apabila ada kesombongan dalam diri maka ridho Allah akan jauh dari diri kita.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
salah satu amalan yang membuat kita diridhoi Allah adalah rendah hati kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi saw:
إن الله أوحى إلي أن تواضعوا حتى لا يفخر أحد على أحد ولا يبغي أحد على أحد
*_Allah telah mewahyukan kepadaku supaya kalian rendah hati, sehingga tidak ada yang saling membanggakan diri, dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap orang lain._* (HR. Muslim no.2865)
Hal ini karena sombong adalah salah satu sebab yang mendatangkan kebencian dan murka Allah atas seorang hamba.
Nabi juga bersabda:
لايدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر
قالوا يا رسول الله إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسنا ونعله حسنة
فقال صلى الله عليه و سلم إن الله جميل يحب الجمال
ألكبر بطرالحق و غمط الناس
*_Orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi tidak akan masuk surga. Para sahabat berkata," Wahai Rasulullah, ada orang yang suka memakai pakaian yang bagus dan sandal bagus. Rasulullah menjawab," Allah itu Maha Indah dan Menyukai Keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia._* (HR. Muslim no.91)
Menolak kebenaran maknanya adalah mengingkari dan tidak mau mengakuinya. Adapun meremehkan manusia maksudnya adalah memandang rendah mereka. Menurunkan kedudukan mereka. Dan menyepelekan jasa atau amal mereka. Apabila ada kesombongan dalam diri maka ridho Allah akan jauh dari diri kita.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*AGAR DUNIA MENGEJARMU*
Milikilah visi (tujuan/orientasi) akhirat, maka Allah akan memperbaiki urusan duniamu.
Jadikan tujuan/orientasi kita adalah akhirat, maka dunia akan datang mengejarmu.
Jiwamu akan bahagia, hatimu akan tenteram, keyakinan akan datang, rizki yang halal dan baik tidak akan terluputkan. Bahkan apa yang engkau inginkan di dunia, akan ALlah wujudkan.
Bukankah dunia ini adalah milik Allah?
*_Seandainya seluruh manusia di timur dan di barat bersatu, untuk menghalangi karunia ALlah yang telah Ia tetapkan untukmu, apakah mereka sanggup melakukannya? Ketahuilah, andai saja seluruh umat bersatu untuk memberikan karunia kepadamu, niscaya mereka tidak akan sanggup kecuali sebatas ketetapan ALlah untukmu. Dan andaipun seluruhnya ingin mencelakakanmu, mereka juga tidak akan sanggup kecuali sebatas ketetapan Allah untukmu._* (HR. at Tirmidzi no.2516)
Jika seperti ini, maka pusat kendali seluruh urusan berada di tangan Allah.
َوَمَا مِنۡ دَآ بَّةٍ فِى الۡاَرۡضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزۡقُهَا وَ يَعلَمُ مُستَقَرَّهَا وَمُستَوۡدَعَهَاؕ كُلٌّ فِىۡ كِتٰبٍ مُّبِيۡنٍ
*_Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)._* (QS. Hud:6)
Firman Allah dalam hadits Qudsi:
متئ كنت يا عبدي تسعى في رضاي سعيت في رضاك ومن بتغى رضا الله بسخط الخلق رضي الله عنه وأرضى عنه الناس وقد وعدكم بصلاح أحوالكم في نفوسكم تسعدون
*_Wahai hambaKu, kapan engkau berusaha mencari ridhoKu, Aku akan membuatmu ridho. Dan siapa yang mencari keridhoaan ALlah dengan kemarahan makhluk, ALlah akan ridho dan membuat orang-orang juga ridho kepadanya. Dan Allah telah menjanjikan untuk kalian, keadaaan yang baik dan kebahagiaan jiwa._*
*_Ketahuilah hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenteram. (QS. ar Ra'du:28)
Di antara car jitu untuk mengingat Allah adalah dengan menghadirkan pada seluruh amalmu, jangan melakukan suatu amalan, sampai engkau merasa bahwa amalan itu hanya untuk Allah semata. Ketika engkau mampu seperti ini, hatimu akan tenteram. Rumahtanggamu akan bahagia, karena engkau bisa menjadikan amal-amalmu Lillah.
Karena engkau berbuat baik kepada istrimu untuk keridhoan Allah, bukan untuk keridhoan istrimu, bukan juga untuk maksud pribadi. Akan tetapi engkau berbuat baik hanya untuk membuat ALlah ridho. Engkau memperlakukannya dengan akhlak termulia, karena Allah. Maka ALlahpun akan memberikan kebahagiaan dunia kepadamu.
Bahkan saat engkau berhubungan biologis dengannya, engkau lakukan karena Allah. Karena Allah memerintahmu untuk menyalurkan syahwat dengan yang halal. Sehingga engkau mencukupkan dengan yang halal, karena taat kepada Allah. Sehingga Allahpun ridho saat engkau menunaikan syahwatmu.
Dan akan seperti itu terus, selama engkau selalu bersama ALlah dan menjadikan amalanmu karenaNya. Allah akan menjadikan dunia datang menghampirimu. Inilah hakikat visi/tujuan/orientasi akhirat, harta benda akan ALlah datangkan di dunia. Siapa yang bertaqwa kepada ALlah, maka akan ada jalan keluar untuknya.
Jika kita melihat sejarah, kita akan dapati, terkadang ALlah memberikan kekurangan kepada sebagian wali-walinya. Akan tetapi pasti akan ada akhir yang indah di dunia mereka.
وَلَـنَبۡلُوَنَّكُمۡ بِشَىۡءٍ مِّنَ الۡخَـوۡفِ وَالۡجُـوۡعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَالۡاَنۡفُسِ وَالثَّمَرٰتِؕ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيۡنَۙ
*_Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar._* (QS. al Baqarah:155)
Allah hanya ingin melihat, apakah engkau benar-benar Lillah atau tidak. Setelah engkau teruji, maka akhir yang indah akan menjadi milikmu.
*_Dan akhir yang baik adalah milik orang-orang yang bertaqwa._* (QS. al Araf:128)
Katakanlah, siapakah yang mengaramkan perhiasan ALlah dan rezeki yang baik-baik, yang Ia sediakan untuk hamba-hambaNya?
Milikilah visi (tujuan/orientasi) akhirat, maka Allah akan memperbaiki urusan duniamu.
Jadikan tujuan/orientasi kita adalah akhirat, maka dunia akan datang mengejarmu.
Jiwamu akan bahagia, hatimu akan tenteram, keyakinan akan datang, rizki yang halal dan baik tidak akan terluputkan. Bahkan apa yang engkau inginkan di dunia, akan ALlah wujudkan.
Bukankah dunia ini adalah milik Allah?
*_Seandainya seluruh manusia di timur dan di barat bersatu, untuk menghalangi karunia ALlah yang telah Ia tetapkan untukmu, apakah mereka sanggup melakukannya? Ketahuilah, andai saja seluruh umat bersatu untuk memberikan karunia kepadamu, niscaya mereka tidak akan sanggup kecuali sebatas ketetapan ALlah untukmu. Dan andaipun seluruhnya ingin mencelakakanmu, mereka juga tidak akan sanggup kecuali sebatas ketetapan Allah untukmu._* (HR. at Tirmidzi no.2516)
Jika seperti ini, maka pusat kendali seluruh urusan berada di tangan Allah.
َوَمَا مِنۡ دَآ بَّةٍ فِى الۡاَرۡضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزۡقُهَا وَ يَعلَمُ مُستَقَرَّهَا وَمُستَوۡدَعَهَاؕ كُلٌّ فِىۡ كِتٰبٍ مُّبِيۡنٍ
*_Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)._* (QS. Hud:6)
Firman Allah dalam hadits Qudsi:
متئ كنت يا عبدي تسعى في رضاي سعيت في رضاك ومن بتغى رضا الله بسخط الخلق رضي الله عنه وأرضى عنه الناس وقد وعدكم بصلاح أحوالكم في نفوسكم تسعدون
*_Wahai hambaKu, kapan engkau berusaha mencari ridhoKu, Aku akan membuatmu ridho. Dan siapa yang mencari keridhoaan ALlah dengan kemarahan makhluk, ALlah akan ridho dan membuat orang-orang juga ridho kepadanya. Dan Allah telah menjanjikan untuk kalian, keadaaan yang baik dan kebahagiaan jiwa._*
*_Ketahuilah hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenteram. (QS. ar Ra'du:28)
Di antara car jitu untuk mengingat Allah adalah dengan menghadirkan pada seluruh amalmu, jangan melakukan suatu amalan, sampai engkau merasa bahwa amalan itu hanya untuk Allah semata. Ketika engkau mampu seperti ini, hatimu akan tenteram. Rumahtanggamu akan bahagia, karena engkau bisa menjadikan amal-amalmu Lillah.
Karena engkau berbuat baik kepada istrimu untuk keridhoan Allah, bukan untuk keridhoan istrimu, bukan juga untuk maksud pribadi. Akan tetapi engkau berbuat baik hanya untuk membuat ALlah ridho. Engkau memperlakukannya dengan akhlak termulia, karena Allah. Maka ALlahpun akan memberikan kebahagiaan dunia kepadamu.
Bahkan saat engkau berhubungan biologis dengannya, engkau lakukan karena Allah. Karena Allah memerintahmu untuk menyalurkan syahwat dengan yang halal. Sehingga engkau mencukupkan dengan yang halal, karena taat kepada Allah. Sehingga Allahpun ridho saat engkau menunaikan syahwatmu.
Dan akan seperti itu terus, selama engkau selalu bersama ALlah dan menjadikan amalanmu karenaNya. Allah akan menjadikan dunia datang menghampirimu. Inilah hakikat visi/tujuan/orientasi akhirat, harta benda akan ALlah datangkan di dunia. Siapa yang bertaqwa kepada ALlah, maka akan ada jalan keluar untuknya.
Jika kita melihat sejarah, kita akan dapati, terkadang ALlah memberikan kekurangan kepada sebagian wali-walinya. Akan tetapi pasti akan ada akhir yang indah di dunia mereka.
وَلَـنَبۡلُوَنَّكُمۡ بِشَىۡءٍ مِّنَ الۡخَـوۡفِ وَالۡجُـوۡعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَالۡاَنۡفُسِ وَالثَّمَرٰتِؕ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيۡنَۙ
*_Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar._* (QS. al Baqarah:155)
Allah hanya ingin melihat, apakah engkau benar-benar Lillah atau tidak. Setelah engkau teruji, maka akhir yang indah akan menjadi milikmu.
*_Dan akhir yang baik adalah milik orang-orang yang bertaqwa._* (QS. al Araf:128)
Katakanlah, siapakah yang mengaramkan perhiasan ALlah dan rezeki yang baik-baik, yang Ia sediakan untuk hamba-hambaNya?
Katakanlah itu semua untuk orang-orang beriman d kehidupan dunia. Ketika engkau berpegang teguh dengan syariat, maka nikmat-nikmat dunia akan datang. Tapi mungkin akan datang bersama dengan kekurangan, cobaan dan musibah. Akan tetapi di akhirat kelak, nikmat-nikmat tersebut tidak akan ada kurangnya. Nikmat yang sempurna tanpa ada cacatnya.
Mungkin akan ada orang yang mendatangimu dan berkata:
*_Aku memiliki kios, aku jual beberapa barang haram, karena barang-barang haram tadilah yang mendatangkan keuntungan bagiku._*
Subhaanallah, bagaiman bisa brang-barang haram tadi mendatangkan rezeki? yang mendatangkan rezeki itu adalah ALlah, Rabb Yang Maha Kaya.
Ia akan menjawab:
*_Nanti keuntunganku akan berkurang._*
Maka kita jawab:
*_Tenang, sabarlah sejenak, Allahlah yang akan memberikan solusi._*
Kalian pasti menyaksikan keadaan manusia, baik yang msulim ataupun kafir, saat mereka menyelisihi syariat, akan ada goncangan ekonomi dunia yang mengerikan. Dan orang yang beriman terkadang pada awalnya akan mendapat celaan dan ejekan. Ia tinggalkan sesuatu karena keharamannya. Ini adalah orang yang sukanya bikin masalah (was-was), dan orang yang tidak menimbang efek dari perbuatannya.
Dadamu akan sempit dipermulaan, akan tetapi:
*_Sungguh bersama kesulitan akan ada kemudahan, sungguh bersama kesulitan akan ada kemudahan._* (QS. al Insyirah:5-6)
Mungkin akan ada orang yang mendatangimu dan berkata:
*_Aku memiliki kios, aku jual beberapa barang haram, karena barang-barang haram tadilah yang mendatangkan keuntungan bagiku._*
Subhaanallah, bagaiman bisa brang-barang haram tadi mendatangkan rezeki? yang mendatangkan rezeki itu adalah ALlah, Rabb Yang Maha Kaya.
Ia akan menjawab:
*_Nanti keuntunganku akan berkurang._*
Maka kita jawab:
*_Tenang, sabarlah sejenak, Allahlah yang akan memberikan solusi._*
Kalian pasti menyaksikan keadaan manusia, baik yang msulim ataupun kafir, saat mereka menyelisihi syariat, akan ada goncangan ekonomi dunia yang mengerikan. Dan orang yang beriman terkadang pada awalnya akan mendapat celaan dan ejekan. Ia tinggalkan sesuatu karena keharamannya. Ini adalah orang yang sukanya bikin masalah (was-was), dan orang yang tidak menimbang efek dari perbuatannya.
Dadamu akan sempit dipermulaan, akan tetapi:
*_Sungguh bersama kesulitan akan ada kemudahan, sungguh bersama kesulitan akan ada kemudahan._* (QS. al Insyirah:5-6)
MUHASABAH ATAS KONDISI UMAT
Secara bahasa muhâsabah bermakna perhitungan. Karena itu, bagi seorang Muslim, muhâsabah an-nafs bermakna melakukan perhitungan atas diri sendiri atau mengevaluasi diri: apakah ia telah menjalankan segenap perintah dan menjauhi larangan Allah SWT ataukah belum?
Muhâsabah merupakan perintah Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kalian kepada Allah. Sungguh Allah Mahatahu atas apa saja yang kalian kerjakan (TQS al-Hasyr [59]: 18).
Imam as-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan, “Ayat ini adalah pangkal dalam hal muhâsabah diri. Setiap orang harus selalu mengevaluasi diri. Jika dia melihat adanya kekeliruan, dia segera melakukan koreksi dengan cara melepaskan diri dari kekeliruan tersebut. Dia segera bertobat secara sungguh-sungguh dan berpaling dari berbagai hal yang mengantarkan pada kekeliruan tersebut. Jika dia menilai dirinya banyak kekurangan dalam menunaikan perintah-perintah Allah, ia segera mengerahkan segala kemampuannya. Ia pun segera meminta pertolongan kepada Tuhannya untuk menggenapkan, menyempurnakan dan memperbagusnya. Ia juga akan membandingkan karunia dan kebaikan Allah kepada dirinya dengan segala kekurangannya (dalam ketaatan kepada-Nya, red.). Sungguh yang demikian seharusnya membuat dirinya merasa malu.” (As-Sa’di, Taysîr al-Karîm ar-Rahmân fî Tafsîr Kalâm al-Manân, 1/853).
Muhâsabah akan menjadikan seorang Mukmin menyadari kesalahannya, segera memohon ampunan-Nya, serta bersungguh-sungguh dalam ketaatan sebagai persiapan menuju kehidupan terbaik di akhirat kelak. Nabi saw. bersabda:
«الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلّ»
Orang yang cerdas ialah orang yang selalu mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Orang yang lemah (bodoh) ialah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan kepada Allah SWT (HR at-Tirmidzi).
‘Umar bin al-Khaththab radhiyalLâhu ‘anhu juga pernah mengatakan:
«حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا، وَزِنُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا فَإِنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا»
Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang. Hal itu akan lebih memudahkan hisab kalian kelak (di akhirat) (Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyah al-Awliyâ’, 1/25).
Muhâsabah atas Kondisi Umat
Selain muhâsabah atas diri sendiri, seorang Muslim seharusnya juga melakukan muhâsabah atas kondisi umat. Ia belum dikatakan beriman jika tidak memiliki kepedulian dan kecintaan kepada saudaranya. Bukankah hubungan sesama kaum Mukmin adalah laksana satu tubuh? Rasulullah saw. bersabda:
«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى»
Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai dan menyayangi adalah bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan demam (turut merasakan sakitnya) (HR al-Bukhari dan Muslim).
Kenyataannya, hari ini umat masih terus terperosok ke dalam jurang kemunduran. Pangkal dari segala kerusakan ini adalah akibat pembangkangan kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Secara bahasa muhâsabah bermakna perhitungan. Karena itu, bagi seorang Muslim, muhâsabah an-nafs bermakna melakukan perhitungan atas diri sendiri atau mengevaluasi diri: apakah ia telah menjalankan segenap perintah dan menjauhi larangan Allah SWT ataukah belum?
Muhâsabah merupakan perintah Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kalian kepada Allah. Sungguh Allah Mahatahu atas apa saja yang kalian kerjakan (TQS al-Hasyr [59]: 18).
Imam as-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan, “Ayat ini adalah pangkal dalam hal muhâsabah diri. Setiap orang harus selalu mengevaluasi diri. Jika dia melihat adanya kekeliruan, dia segera melakukan koreksi dengan cara melepaskan diri dari kekeliruan tersebut. Dia segera bertobat secara sungguh-sungguh dan berpaling dari berbagai hal yang mengantarkan pada kekeliruan tersebut. Jika dia menilai dirinya banyak kekurangan dalam menunaikan perintah-perintah Allah, ia segera mengerahkan segala kemampuannya. Ia pun segera meminta pertolongan kepada Tuhannya untuk menggenapkan, menyempurnakan dan memperbagusnya. Ia juga akan membandingkan karunia dan kebaikan Allah kepada dirinya dengan segala kekurangannya (dalam ketaatan kepada-Nya, red.). Sungguh yang demikian seharusnya membuat dirinya merasa malu.” (As-Sa’di, Taysîr al-Karîm ar-Rahmân fî Tafsîr Kalâm al-Manân, 1/853).
Muhâsabah akan menjadikan seorang Mukmin menyadari kesalahannya, segera memohon ampunan-Nya, serta bersungguh-sungguh dalam ketaatan sebagai persiapan menuju kehidupan terbaik di akhirat kelak. Nabi saw. bersabda:
«الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلّ»
Orang yang cerdas ialah orang yang selalu mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Orang yang lemah (bodoh) ialah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan kepada Allah SWT (HR at-Tirmidzi).
‘Umar bin al-Khaththab radhiyalLâhu ‘anhu juga pernah mengatakan:
«حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا، وَزِنُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا فَإِنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا»
Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang. Hal itu akan lebih memudahkan hisab kalian kelak (di akhirat) (Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyah al-Awliyâ’, 1/25).
Muhâsabah atas Kondisi Umat
Selain muhâsabah atas diri sendiri, seorang Muslim seharusnya juga melakukan muhâsabah atas kondisi umat. Ia belum dikatakan beriman jika tidak memiliki kepedulian dan kecintaan kepada saudaranya. Bukankah hubungan sesama kaum Mukmin adalah laksana satu tubuh? Rasulullah saw. bersabda:
«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى»
Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai dan menyayangi adalah bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan demam (turut merasakan sakitnya) (HR al-Bukhari dan Muslim).
Kenyataannya, hari ini umat masih terus terperosok ke dalam jurang kemunduran. Pangkal dari segala kerusakan ini adalah akibat pembangkangan kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (TQS ar-Rum [30]: 41).
Imam Ali ash-Shabuni dalam kitab tafsirnya, Shafwah at-Tafâsîr, menjelaskan maksud ayat di atas, yakni telah tampak musibah dan bencana di permukaan bumi dan di laut disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa manusia kepada Allah SWT.
Di negeri yang mayoritas Muslim ini bukan saja terjadi pembangkangan terhadap hukum-hukum Allah SWT. Bahkan syariah-Nya kerap distigmatisasi. Semangat dakwah untuk menegakkan agama-Nya justru dilabeli radikal dan dipandang sebagai ancaman.
Para ulamanya juga dikriminalisasi. Misalnya Habib Rizieq Shihab dan sejumlah ustadz ditahan dengan tuduhan melanggar UU Karantina Kesehatan. Saat yang sama, sejumlah pihak lainnya, dengan pelanggaran yang sama, justru mendapatkan sanksi ringan, bahkan tidak ditahan sama sekali.
Dalam paham keagamaan, umat disodori seruan moderasi beragama. Moderasi beragama diklaim dan dipropagandakan sebagai cara beragama dan berislam yang terbaik. Lawan dari radikalisme/ekstremisme. Padahal inti dari moderasi beragama adalah semangat untuk menyembelih ajaran Islam. Untuk mengelabui umat, upaya ini dikemas dengan sebutan yang sepintas islami, yakni Islam moderat atau Islam wasathiyyah. Padahal istilah dan ajaran ini bukan berasal dari Islam. Juga tidak pernah digunakan oleh para ulama dulu. Tentu karena paham moderasi beragama murni berasal dari Barat untuk melumpuhkan ajaran Islam.
Dengan dalih moderasi beragama, para pembuat kebijakan, dibantu tokoh-tokoh agama, merasa berhak menentukan ajaran Islam yang harus dibuang dan yang tetap dipertahankan. Dengan arahan Barat, hukum-hukum Islam yang bertentangan dengan prinsip sekularisme, pluralisme, liberalisme dan demokrasi harus ditiadakan. Sebutan kafir coba ditiadakan karena dianggap bertentangan dengan ajaran pluralisme. Kebebasan seksual seperti perzinaan dan LGBT juga terus diperjuangkan. Di antaranya melalui RUU TPKS (Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual) sebagai bagian dari paham liberalisme.
Kewajiban para pelajar Muslimah menutup aurat dan berjilbab dihalang-halangi melalui pasal 34 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 45 tahun 2014 tentang Pakaian Seragam Sekolah bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Intinya, sekolah tidak boleh mengimbau apalagi membuat peraturan untuk para siswi – termasuk Muslimah – agar mengenakan busana islami.
Kondisi perekonomian umat kian dicengkeram oleh sistem kapitalisme dengan lahirnya UU Omnibus Law yang menguntungkan para pengusaha, importir dan para pejabat pemburu rente. Selain dipandang merugikan kaum buruh, UU tersebut juga mengancam berbagai sektor, seperti pertanian.
Umat juga terus dicekoki dengan monsterisasi terhadap ajaran khilafah dan jihad. Potret-potret peperangan di Dunia Islam seperti Suriah, atau ISIS di Irak, sering di-framing sebagai akibat dari seruan menegakkan Khilafah dan jihad. Penipuan ini terus dilakukan terhadap umat yang tidak paham konstelasi politik di negeri-negeri Muslim. Padahal sebenarnya beragam perang dan konflik yang terjadi sengaja dipicu oleh negara-negara penjajah, seperti AS, Inggris dan Rusia. Itu adalah di antara strategi mereka yang tengah memperebutkan ‘daging’ kaum Muslim. Para penjajah itu ingin melanggengkan hegemoni dan merampok kekayaan alam umat Islam dengan menciptakan kondisi yang tak pernah stabil di kawasan tersebut.
Jauhnya umat dari ajaran Islam adalah keuntungan bagi Barat dan sebaliknya derita bagi kaum Muslim. Barat dapat mempertahankan cengkeraman mereka terhadap Dunia Islam, khususnya di negeri ini. Ideologi kapitalisme yang berpijak pada pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme) dan paham liberalisme dapat terus eksis tanpa ada yang mengusik.
Imam Ali ash-Shabuni dalam kitab tafsirnya, Shafwah at-Tafâsîr, menjelaskan maksud ayat di atas, yakni telah tampak musibah dan bencana di permukaan bumi dan di laut disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa manusia kepada Allah SWT.
Di negeri yang mayoritas Muslim ini bukan saja terjadi pembangkangan terhadap hukum-hukum Allah SWT. Bahkan syariah-Nya kerap distigmatisasi. Semangat dakwah untuk menegakkan agama-Nya justru dilabeli radikal dan dipandang sebagai ancaman.
Para ulamanya juga dikriminalisasi. Misalnya Habib Rizieq Shihab dan sejumlah ustadz ditahan dengan tuduhan melanggar UU Karantina Kesehatan. Saat yang sama, sejumlah pihak lainnya, dengan pelanggaran yang sama, justru mendapatkan sanksi ringan, bahkan tidak ditahan sama sekali.
Dalam paham keagamaan, umat disodori seruan moderasi beragama. Moderasi beragama diklaim dan dipropagandakan sebagai cara beragama dan berislam yang terbaik. Lawan dari radikalisme/ekstremisme. Padahal inti dari moderasi beragama adalah semangat untuk menyembelih ajaran Islam. Untuk mengelabui umat, upaya ini dikemas dengan sebutan yang sepintas islami, yakni Islam moderat atau Islam wasathiyyah. Padahal istilah dan ajaran ini bukan berasal dari Islam. Juga tidak pernah digunakan oleh para ulama dulu. Tentu karena paham moderasi beragama murni berasal dari Barat untuk melumpuhkan ajaran Islam.
Dengan dalih moderasi beragama, para pembuat kebijakan, dibantu tokoh-tokoh agama, merasa berhak menentukan ajaran Islam yang harus dibuang dan yang tetap dipertahankan. Dengan arahan Barat, hukum-hukum Islam yang bertentangan dengan prinsip sekularisme, pluralisme, liberalisme dan demokrasi harus ditiadakan. Sebutan kafir coba ditiadakan karena dianggap bertentangan dengan ajaran pluralisme. Kebebasan seksual seperti perzinaan dan LGBT juga terus diperjuangkan. Di antaranya melalui RUU TPKS (Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual) sebagai bagian dari paham liberalisme.
Kewajiban para pelajar Muslimah menutup aurat dan berjilbab dihalang-halangi melalui pasal 34 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 45 tahun 2014 tentang Pakaian Seragam Sekolah bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Intinya, sekolah tidak boleh mengimbau apalagi membuat peraturan untuk para siswi – termasuk Muslimah – agar mengenakan busana islami.
Kondisi perekonomian umat kian dicengkeram oleh sistem kapitalisme dengan lahirnya UU Omnibus Law yang menguntungkan para pengusaha, importir dan para pejabat pemburu rente. Selain dipandang merugikan kaum buruh, UU tersebut juga mengancam berbagai sektor, seperti pertanian.
Umat juga terus dicekoki dengan monsterisasi terhadap ajaran khilafah dan jihad. Potret-potret peperangan di Dunia Islam seperti Suriah, atau ISIS di Irak, sering di-framing sebagai akibat dari seruan menegakkan Khilafah dan jihad. Penipuan ini terus dilakukan terhadap umat yang tidak paham konstelasi politik di negeri-negeri Muslim. Padahal sebenarnya beragam perang dan konflik yang terjadi sengaja dipicu oleh negara-negara penjajah, seperti AS, Inggris dan Rusia. Itu adalah di antara strategi mereka yang tengah memperebutkan ‘daging’ kaum Muslim. Para penjajah itu ingin melanggengkan hegemoni dan merampok kekayaan alam umat Islam dengan menciptakan kondisi yang tak pernah stabil di kawasan tersebut.
Jauhnya umat dari ajaran Islam adalah keuntungan bagi Barat dan sebaliknya derita bagi kaum Muslim. Barat dapat mempertahankan cengkeraman mereka terhadap Dunia Islam, khususnya di negeri ini. Ideologi kapitalisme yang berpijak pada pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme) dan paham liberalisme dapat terus eksis tanpa ada yang mengusik.
Umat pun terus dijerat dengan utang ribawi yang pada tahun ini sudah tembus angka 423,1 miliar dolar AS atau setara Rp 6.008 triliun! Artinya, setiap orang Indonesia hari ini, termasuk bayi yang lahir, diperkirakan menanggung tagihan utang sebesar Rp 24 juta!
Umat Muslim di Tanah Air juga jatuh dalam perebutan kekuasaan asing; AS dan Cina. Kedua negara besar itu terus memainkan peran politik, ekonomi dan militer baik di kawasan Laut Cina Selatan maupun di dalam negeri. Ironinya, sebagai negeri dengan jumlah Muslim terbesar di dunia, Indonesia manut saja pada kepentingan dua negara tersebut.
Di sektor pertambangan, hampir 70 persen tambang nikel, misalnya, dimiliki perusahaan asal Cina. Beragam investasi tersebut juga membuat Indonesia menyerap banyak pengangguran di Cina. Dari level manajer hingga supir kendaraan banyak berasal dari Cina. Padahal banyak warga pribumi yang membutuhkan pekerjaan.
Khatimah
Karena itu, wahai kaum Muslim, sadarlah bahwa kondisi Anda sekalian hari ini sedang terpuruk. Satu-satunya solusi yang benar dan terbaik adalah dengan menerapkan syariah Islam secara kâffah. Keimanan kita pada Islam tentu mengharuskan kita taat secara total pada syariah-Nya. Telah terbukti sekularisme-kapitalisme dengan oligarkinya telah merusak umat dan negeri ini. Janganlah kita mengulangi kesalahan yang sama dengan tetap mempercayai sistem kehidupan selain Islam. Jika kita tetap berkubang dalam sistem kehidupan selain Islam, tentu kita akan terus terpuruk dan tidak akan pernah bisa bangkit kembali. Sebabnya, kebangkitan dari segala keterpurukan hanyalah dengan cara kita kembali pada Islam dan totalitas syariahnya.
WalLâhu a’lam bi ash-shawwâb. []
Hikmah:
Imam Malik ra. berkata:
لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا
Tidak akan pernah bisa memperbaiki kondisi generasi akhir umat saat ini kecuali apa yang telah terbukti mampu memperbaiki kondisi generasi awal umat ini. (Ibnu at-Taimiyah, Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm, 1/215). []
Umat Muslim di Tanah Air juga jatuh dalam perebutan kekuasaan asing; AS dan Cina. Kedua negara besar itu terus memainkan peran politik, ekonomi dan militer baik di kawasan Laut Cina Selatan maupun di dalam negeri. Ironinya, sebagai negeri dengan jumlah Muslim terbesar di dunia, Indonesia manut saja pada kepentingan dua negara tersebut.
Di sektor pertambangan, hampir 70 persen tambang nikel, misalnya, dimiliki perusahaan asal Cina. Beragam investasi tersebut juga membuat Indonesia menyerap banyak pengangguran di Cina. Dari level manajer hingga supir kendaraan banyak berasal dari Cina. Padahal banyak warga pribumi yang membutuhkan pekerjaan.
Khatimah
Karena itu, wahai kaum Muslim, sadarlah bahwa kondisi Anda sekalian hari ini sedang terpuruk. Satu-satunya solusi yang benar dan terbaik adalah dengan menerapkan syariah Islam secara kâffah. Keimanan kita pada Islam tentu mengharuskan kita taat secara total pada syariah-Nya. Telah terbukti sekularisme-kapitalisme dengan oligarkinya telah merusak umat dan negeri ini. Janganlah kita mengulangi kesalahan yang sama dengan tetap mempercayai sistem kehidupan selain Islam. Jika kita tetap berkubang dalam sistem kehidupan selain Islam, tentu kita akan terus terpuruk dan tidak akan pernah bisa bangkit kembali. Sebabnya, kebangkitan dari segala keterpurukan hanyalah dengan cara kita kembali pada Islam dan totalitas syariahnya.
WalLâhu a’lam bi ash-shawwâb. []
Hikmah:
Imam Malik ra. berkata:
لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا
Tidak akan pernah bisa memperbaiki kondisi generasi akhir umat saat ini kecuali apa yang telah terbukti mampu memperbaiki kondisi generasi awal umat ini. (Ibnu at-Taimiyah, Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm, 1/215). []
*KISAH YAHUDI MASUK ISLAM KARENA MENGKRITIK HADITS*
Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Hajar al Asqolani. Dahulu beliau adalah hakim tertinggi di Mesir.
Sebagaimana yang kita ketahui, hakim tertinggi disambut dengan arak-arakan.
Suatu hari, beliau naik pedati yang ditarik oleh kuda atau bagal dan diikuti oleh arak-arakan manusia.
Beliau melewati seorang Yahudi penjual minyak. Semua pakaiannya kotor dengan minyak dan ia nampak kelelahan.
Yahudi ini menghentikan arak-arakan sambil berkata,"Wahai hakim tertinggi (atau kalimat yang semisal), Nabi kalian bersabda:
الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر
*_Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir._* (HR. Muslim no.2956)
Bagaimana itu ceritanya? si Yahudi berharap jawaban. Yahudi ini berada dalam puncak kesengsaraan. Ia hanya penjual minyak, ia kelelahan, ia sangat miskin.
Sedangkan Ibnu Hajar Al Asqolani adalah seorang hafizh, pembela sunnah dan hakim tertinggi. Beliau dimuliakan dan dihormati.
Si Yahudi ini bertanya, ia ingin mengkritik hadits Nabi. Karena musuh-musuh kaum muslimin berusaha mengkritik al Quran dan Sunnah. Mereka ingin mencari celah untuk menghujat al Quran dan Sunnah. Semoga Allah melaknat mereka.
Ibnu Hajar Al Asqolani menjawab,"Benar. Saya berada dalam kenikmatan, sebagaimana yag engkau lihat. Engkau pun berada dalam kesengsaraan, sebagaimana yang engkau rasakan.
Tetapi apabila dibandingkan dengan keni'matan akhirat, keni'matan dunia yang saya rasakan ini adalah penjara. Sedangkan kesengsaraan dunia yang engkau rasakan itu adalah surga. Karena apabila Yahudi itu mati, kemana ia pergi? ke neraka, sedangkan neraka itu jauh lebih panas, والعياذ با الله.
وَقَالُوۡا لَا تَنۡفِرُوۡا فِى الۡحَـرِّؕ قُلۡ نَارُ جَهَـنَّمَ اَشَدُّ حَرًّاؕ لَوۡ كَانُوۡا يَفۡقَهُوۡنَ
*_dan mereka berkata, "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Katakanlah (Muhammad), "Api neraka Jahanam lebih panas," jika mereka mengetahui._* (QS. at Taubah:81)
Yahudi itu terbungkam, tidak dapat berucapa lagi. Karena jawaban Ibnu Hajar sangat telak. Ia pun bersyahadat:
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله
Ia beriman, karena menerapkan hadits dalam kehidupan nyata itu, akan menambah keyakinan seseorang.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Hajar al Asqolani. Dahulu beliau adalah hakim tertinggi di Mesir.
Sebagaimana yang kita ketahui, hakim tertinggi disambut dengan arak-arakan.
Suatu hari, beliau naik pedati yang ditarik oleh kuda atau bagal dan diikuti oleh arak-arakan manusia.
Beliau melewati seorang Yahudi penjual minyak. Semua pakaiannya kotor dengan minyak dan ia nampak kelelahan.
Yahudi ini menghentikan arak-arakan sambil berkata,"Wahai hakim tertinggi (atau kalimat yang semisal), Nabi kalian bersabda:
الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر
*_Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir._* (HR. Muslim no.2956)
Bagaimana itu ceritanya? si Yahudi berharap jawaban. Yahudi ini berada dalam puncak kesengsaraan. Ia hanya penjual minyak, ia kelelahan, ia sangat miskin.
Sedangkan Ibnu Hajar Al Asqolani adalah seorang hafizh, pembela sunnah dan hakim tertinggi. Beliau dimuliakan dan dihormati.
Si Yahudi ini bertanya, ia ingin mengkritik hadits Nabi. Karena musuh-musuh kaum muslimin berusaha mengkritik al Quran dan Sunnah. Mereka ingin mencari celah untuk menghujat al Quran dan Sunnah. Semoga Allah melaknat mereka.
Ibnu Hajar Al Asqolani menjawab,"Benar. Saya berada dalam kenikmatan, sebagaimana yag engkau lihat. Engkau pun berada dalam kesengsaraan, sebagaimana yang engkau rasakan.
Tetapi apabila dibandingkan dengan keni'matan akhirat, keni'matan dunia yang saya rasakan ini adalah penjara. Sedangkan kesengsaraan dunia yang engkau rasakan itu adalah surga. Karena apabila Yahudi itu mati, kemana ia pergi? ke neraka, sedangkan neraka itu jauh lebih panas, والعياذ با الله.
وَقَالُوۡا لَا تَنۡفِرُوۡا فِى الۡحَـرِّؕ قُلۡ نَارُ جَهَـنَّمَ اَشَدُّ حَرًّاؕ لَوۡ كَانُوۡا يَفۡقَهُوۡنَ
*_dan mereka berkata, "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Katakanlah (Muhammad), "Api neraka Jahanam lebih panas," jika mereka mengetahui._* (QS. at Taubah:81)
Yahudi itu terbungkam, tidak dapat berucapa lagi. Karena jawaban Ibnu Hajar sangat telak. Ia pun bersyahadat:
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله
Ia beriman, karena menerapkan hadits dalam kehidupan nyata itu, akan menambah keyakinan seseorang.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*DOA-DOA DI SAAT HATI MERASA GALAU DAN SEMPIT*
لآله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين
*_Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim._* (HR. Tirmidzi no.3505)
اَللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ بْنُ عَبْدِكَ بْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِي قَضَاؤُكَ
أَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ بِكُلِّ اسْمِ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ في كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوِاسْتَأْثَرْتَ به في عِلْمِ الغَيْبِ عِنْدَكَ
أن تجعل القرآن العظيم رَبِيْعَ قَلْبِي ونُورَ صَدْرِي وجَلَاءَ حُزْنِي وذَهَابِ هَمِّي وغَمِّي
*_Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak dari hamba laki-lakiMu dan anak dari hamba perempuanMu. Ubun-ubunku berada di tanganMu. HukumMu berlaku padaku. KetetapanMu padaku adalah adil. Ya Allah, aku memohon kepadaMu dengan semua nama yang Engkau namai diriMu dengannya, yang Engkau turunkan di dalam kitabMu, yang Engkau ajarkan kepada salah satu makhlukMu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisiMu. Agar Engkau jadikan al Quran sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penawar kesedihanku dan pelenyap dukaku._* (HR. Ahmad no.3528)
Selain dzikir di atas, ditambah dan dirutinkan dengan dzikir pagi dan sore. Karena faktor yang paling sering membuat hati sempit adalah lalai dari berdzikir mengingat Allah dan membaca wirid yang syar'i.
لآله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين
*_Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim._* (HR. Tirmidzi no.3505)
اَللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ بْنُ عَبْدِكَ بْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِي قَضَاؤُكَ
أَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ بِكُلِّ اسْمِ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ في كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوِاسْتَأْثَرْتَ به في عِلْمِ الغَيْبِ عِنْدَكَ
أن تجعل القرآن العظيم رَبِيْعَ قَلْبِي ونُورَ صَدْرِي وجَلَاءَ حُزْنِي وذَهَابِ هَمِّي وغَمِّي
*_Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak dari hamba laki-lakiMu dan anak dari hamba perempuanMu. Ubun-ubunku berada di tanganMu. HukumMu berlaku padaku. KetetapanMu padaku adalah adil. Ya Allah, aku memohon kepadaMu dengan semua nama yang Engkau namai diriMu dengannya, yang Engkau turunkan di dalam kitabMu, yang Engkau ajarkan kepada salah satu makhlukMu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisiMu. Agar Engkau jadikan al Quran sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penawar kesedihanku dan pelenyap dukaku._* (HR. Ahmad no.3528)
Selain dzikir di atas, ditambah dan dirutinkan dengan dzikir pagi dan sore. Karena faktor yang paling sering membuat hati sempit adalah lalai dari berdzikir mengingat Allah dan membaca wirid yang syar'i.
*YANG LEBIH BERBAHAYA DARI FITNAH DAJJAL*
Seorang hamba ingin dipuji orang atas ibadah yang dilakukannya, atau ingin disanjung orang atas ibadah tersebut. Sehingga ia menampakkan amal shalihnya agar orang-orang memuji dan menyanjungnya. Dan inilah hakikat *Riya*. Perbuatan ini termasuk kesyirikan, na'udzubillah.
Suatu hari Nabi Saw menemui para shahabatnya, yang ketika itu mereka sedang membahas Dajjal dan fitnah (ujian) yang dikhawatirkan darinya. Maka beliau berkata:
ألاأخبركم بما هو أخوف عليكم عندي من المسيح الدجال؟قالوا بلى يارسول الله. فقال صلى الله عليه وسلم الشرك الخفي. يقوم الرجل فيزين صلاته لما يرى من نظرالرجل اليه
*_Maukah kukabarkan kepada kalian, tentang suatu hal yang lebihku takutkan daripada Almasih Dajjal? Mereka menjawab,"Tentu Ya Rasulullah.Beliau mengatakan,"Syirik yang tersembunyi". Seorang sholat dan memperbagusnya karena ada orang yang sedang memperhatikannya._* (HR. Ibnu Majah no.4204)
Nabi Saw menamainya dengan *syirik Kecil*, juga *Syirik Rahasia*.
Perbuatan ini, membuat amalan yang dihinggapinya gugur. Tidak ada kebaikan pada amalan seorang hamba yang diharapkan dengannya pujian manusia.
Ada seorang yang mendatangi Nabi Saw, ia mengatakan:
يارسول الله أرايت الرجل يغزويلتمس الاجر والذكر أي ثناء الناس عليه؟ فقال النبي صلى الله عليه و سلم، لا شيء له. فردها الرجل ثلاث مرات. والنبي صلى الله عليه و سلم يقول لا شيءله. إن الله لا يقبل من العمل إلا ما كان له خالصا وابتغي به وجهه
*_Wahai Rasulullah, apa pendapat Anda tentang laki-laki yang berperang mengharapkan upah dan pujian manusia? Nabi menjawab, ia tidak mendapatkan apa-apa. Laki-laki tersebut mengulangi pertanyaannya hingga 3x, Nabi Saw selalu menjawab,"Ia tidak mendapatkan apa-apa. Sesungguhnya ALlah tidak akan menerima amalan, kecuali yang ikhlas dan diharapkan dengannya wajahNya saja._* (HR. an Nasai no.3140)
Nabi pernah bersabda:
من قام مقام رياء وسمعة راءى الله به وسمع به
*_Barangsiapa melakukan suatu amalan karena riya dan sum'ah, Allah akan memperlihatkan dan menyiarkan aibnya._* (HR. Ahmad no.22322)
Barangsiapa melakukan suatu amalan karena riya dan sum'ah, ia ceritakan amal shalihnya (agar dipuji), maka Allah akan buka aibnya, Allah akan menghinakannya, Allah akan merendahkannya pada hari kiamat. Allah akan memperlihatkannya dan memperdengarkannya (aibnya) pada hari kiamat.
Nabi pernah menyebutkan keadaan orang-orang yang riya pada hari kiamat kelak, Beliau bersabda:
Seorang hamba ingin dipuji orang atas ibadah yang dilakukannya, atau ingin disanjung orang atas ibadah tersebut. Sehingga ia menampakkan amal shalihnya agar orang-orang memuji dan menyanjungnya. Dan inilah hakikat *Riya*. Perbuatan ini termasuk kesyirikan, na'udzubillah.
Suatu hari Nabi Saw menemui para shahabatnya, yang ketika itu mereka sedang membahas Dajjal dan fitnah (ujian) yang dikhawatirkan darinya. Maka beliau berkata:
ألاأخبركم بما هو أخوف عليكم عندي من المسيح الدجال؟قالوا بلى يارسول الله. فقال صلى الله عليه وسلم الشرك الخفي. يقوم الرجل فيزين صلاته لما يرى من نظرالرجل اليه
*_Maukah kukabarkan kepada kalian, tentang suatu hal yang lebihku takutkan daripada Almasih Dajjal? Mereka menjawab,"Tentu Ya Rasulullah.Beliau mengatakan,"Syirik yang tersembunyi". Seorang sholat dan memperbagusnya karena ada orang yang sedang memperhatikannya._* (HR. Ibnu Majah no.4204)
Nabi Saw menamainya dengan *syirik Kecil*, juga *Syirik Rahasia*.
Perbuatan ini, membuat amalan yang dihinggapinya gugur. Tidak ada kebaikan pada amalan seorang hamba yang diharapkan dengannya pujian manusia.
Ada seorang yang mendatangi Nabi Saw, ia mengatakan:
يارسول الله أرايت الرجل يغزويلتمس الاجر والذكر أي ثناء الناس عليه؟ فقال النبي صلى الله عليه و سلم، لا شيء له. فردها الرجل ثلاث مرات. والنبي صلى الله عليه و سلم يقول لا شيءله. إن الله لا يقبل من العمل إلا ما كان له خالصا وابتغي به وجهه
*_Wahai Rasulullah, apa pendapat Anda tentang laki-laki yang berperang mengharapkan upah dan pujian manusia? Nabi menjawab, ia tidak mendapatkan apa-apa. Laki-laki tersebut mengulangi pertanyaannya hingga 3x, Nabi Saw selalu menjawab,"Ia tidak mendapatkan apa-apa. Sesungguhnya ALlah tidak akan menerima amalan, kecuali yang ikhlas dan diharapkan dengannya wajahNya saja._* (HR. an Nasai no.3140)
Nabi pernah bersabda:
من قام مقام رياء وسمعة راءى الله به وسمع به
*_Barangsiapa melakukan suatu amalan karena riya dan sum'ah, Allah akan memperlihatkan dan menyiarkan aibnya._* (HR. Ahmad no.22322)
Barangsiapa melakukan suatu amalan karena riya dan sum'ah, ia ceritakan amal shalihnya (agar dipuji), maka Allah akan buka aibnya, Allah akan menghinakannya, Allah akan merendahkannya pada hari kiamat. Allah akan memperlihatkannya dan memperdengarkannya (aibnya) pada hari kiamat.
Nabi pernah menyebutkan keadaan orang-orang yang riya pada hari kiamat kelak, Beliau bersabda:
*_Manusia yang dihakimi pertama kali pada hari kiamat ada 3, pertama, laki-laki yang mati syahid. Ia dihadirkan kemudian Allah ingatkan dengan ni'mat-ni'matnya dahulu, maka ia mengenalinya. Lalu ditanya,"Apa yang telah engkau amalkan dengan ni'mat-ni'mat tersebut?". Ia menjawab,"Kugunakan untuk berperang di jalanMu hingga aku mati syahid. Dikatakan kepadanya,"Kamu bohong, kamu berperang hanya ingin mendapatkan gelar Sang pemberani, dan sudah diberikan orang-orang. Kemudian diperintahkan agar orang ini diseret di atas wajahnya hingga ia dilempar ke neraka. _Kedua_, laki-laki yang belajar dan mengajarkan ilmu. Ia juga membaca al Quran, lalu didatangkan laki-laki ini. Allah ingatkan ni'mat-ni'mat yang pernah ia dapat, dan ia pun mengenalinya. Lalu ditanya,"Apa yang telah engkau amalkan dengan ni'mat-ni'mat tersebut? Ia menjawab,"Kugunakan untuk belajar dan mengajarkan ilmu. Aku juga membaca al Quran karenaMu. Maka dikatakan,"Kamu bohong. Kamu belajar agar engkau dijuluki Ulama. Engkau baca al Quran agar dijuluki Qori, dan itu semua sudah dikatakan orang-orang. Maka diperintahkan agar orang ini diseret di atas wajahnya hingga dilempar ke neraka. Ketiga, seorang laki-laki yang Allah luaskan hartanya, ia diingatkan dengan ni'mat tersebut, dan ia pun mengenalinya. Ditanyakan kepadanya, apa yang telah engkau amalkan dengan ni'mat tersebut? Ia menjawab,"Setiap kali ada jalan yang Engkau ingin aku berinfaq, di sana pasti aku berinfaq di sana karenaMu. Dikatakan kepadanya,"Kamu bohong. Kamu menginfaqkan harta tersebut hanya ingin dijuluki sebagai orang yang Dermawan. Dan gelar tersebut sudah diberikan orang-orang. Maka diperintahkan agar orang ini diseret di atas wajahnya hingga dilempar ke neraka._* (HR. Muslim no.1905)
Saudaraku yang kucintai, para ulama mengatakan bahwa riya, apabila menodai suatu amalan, tidak akan lepas dari 2 kemungkinan. Amalan tersebut merupakan satu kesatuan atau amalan tersebut dapat terpecah. Apabila riya menodai amalan yang berjenis satu kesatuan, seperti sholat, apabila terdapat noda riya dari awal, maka amalnya tersebut gugur dan pelakunya terancam dengan hukuman Allah, na'udzubillah.
Adapun apabila ia mengawali amalnya dengan ikhlas, lalu di tengah-tengah noda riya datang, dan terus ternodai hingga amal tersebut selesai, maka pendapat yang kuat menyatakan bahwa amalannya gugur atau tertolak. Ia terancam dengan hukuman Allah. Kaidahnya bahwa keadaan yang dianggap adalah akhirnya.
Adapaun orang yang dari awal amalnya ikhlas, kemudian datang noda riya, lalu ia berusaha untuk melawan dan berpaling darinya, dan Allah tutup amalnya dalam keadaan baik (Tidak riya), maka yang seperti ini tidak merusak amalnya. Bahkan para ulama mengatakan, ia diberi pahala karena taubatnya, dan karena ia meninggalkan riya, karena ALlah.
Adapun apabila amalan yang dihinggapi riya berjenis terpisah, seperti sedekah, maka hanya amal yang dihinggapi riya yang gugur, adapun selainnya tidak.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
Saudaraku yang kucintai, para ulama mengatakan bahwa riya, apabila menodai suatu amalan, tidak akan lepas dari 2 kemungkinan. Amalan tersebut merupakan satu kesatuan atau amalan tersebut dapat terpecah. Apabila riya menodai amalan yang berjenis satu kesatuan, seperti sholat, apabila terdapat noda riya dari awal, maka amalnya tersebut gugur dan pelakunya terancam dengan hukuman Allah, na'udzubillah.
Adapun apabila ia mengawali amalnya dengan ikhlas, lalu di tengah-tengah noda riya datang, dan terus ternodai hingga amal tersebut selesai, maka pendapat yang kuat menyatakan bahwa amalannya gugur atau tertolak. Ia terancam dengan hukuman Allah. Kaidahnya bahwa keadaan yang dianggap adalah akhirnya.
Adapaun orang yang dari awal amalnya ikhlas, kemudian datang noda riya, lalu ia berusaha untuk melawan dan berpaling darinya, dan Allah tutup amalnya dalam keadaan baik (Tidak riya), maka yang seperti ini tidak merusak amalnya. Bahkan para ulama mengatakan, ia diberi pahala karena taubatnya, dan karena ia meninggalkan riya, karena ALlah.
Adapun apabila amalan yang dihinggapi riya berjenis terpisah, seperti sedekah, maka hanya amal yang dihinggapi riya yang gugur, adapun selainnya tidak.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
PESAN PENTING GUS BAHA SOAL THARIQAH
1. Kuatkan ilmu syari'at. Kalau syariat tidak kuat rawan sesat. Karena ciri utama agama itu melahirkan khayali atau fantasi. Bila syari'at tidak kuat maka bisa melahirkan fantasi yang sesat. Jika fantasi itu dituruti maka akan melahirkan tragedi-tragedi dalam beragama.
2. Syetan pernah menyamar menjadi Nur (cahaya) kepada Syaikh Abdul Qadir Jilani, dan berkata aku ini Tuhanmu dan aku bebaskan keharaman darimu. Namun Syaikh Al-Jilani tidak tertipu, ia tahu bahwa yang menjadi Nur itu adalah setan. Karena Allah tidak mungkin memerintahkan keharaman.
3. Sebab kadang orang-orang shalih fantasinya seperti itu. Mengaku bermimpi bertemu Nabi, mimpi Nabi Khidir, melihat Nur, dan lain-lain. Maka, jika syari'at nya tidak kuat, akan melahirkan fantasi sendiri-sendiri yang bisa menyesatkan.
4. Makanya orang thariqah dikritik oleh syari'at bukan karena orang syari'at itu benci thariqahnya. Yang dikritik adalah fantasi-fantasi yang berlawanan dengan hukum syari'at. Hal itulah yang harus kita luruskan.
5. Seperti membayangkan mursyid bisa memberi syafaat di padang mahsyar. Padahal kalau kita lihat hadits soal itu ngeri. Sekelas Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan lainnya saja tidak mampu. Hanya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang diperkenankan oleh Allah (syafa'atul uzhma) Bahkan dalam hal syafaat pun Nabi Muhammad SAW tetap butuh dukungan atau amalan umatnya. Ketika ada shahabat yang minta syafaat Nabi kelak di akhirat, maka Nabi pun minta dukungan sahabat tersebut untuk memperbanyak sujud (shalat). Tambahan: Tidak mentang-mentang Nabi bisa memberi syafaat tapi rapot shalat kita merah atau buruk misalnya.
Allahul musta'an.
1. Kuatkan ilmu syari'at. Kalau syariat tidak kuat rawan sesat. Karena ciri utama agama itu melahirkan khayali atau fantasi. Bila syari'at tidak kuat maka bisa melahirkan fantasi yang sesat. Jika fantasi itu dituruti maka akan melahirkan tragedi-tragedi dalam beragama.
2. Syetan pernah menyamar menjadi Nur (cahaya) kepada Syaikh Abdul Qadir Jilani, dan berkata aku ini Tuhanmu dan aku bebaskan keharaman darimu. Namun Syaikh Al-Jilani tidak tertipu, ia tahu bahwa yang menjadi Nur itu adalah setan. Karena Allah tidak mungkin memerintahkan keharaman.
3. Sebab kadang orang-orang shalih fantasinya seperti itu. Mengaku bermimpi bertemu Nabi, mimpi Nabi Khidir, melihat Nur, dan lain-lain. Maka, jika syari'at nya tidak kuat, akan melahirkan fantasi sendiri-sendiri yang bisa menyesatkan.
4. Makanya orang thariqah dikritik oleh syari'at bukan karena orang syari'at itu benci thariqahnya. Yang dikritik adalah fantasi-fantasi yang berlawanan dengan hukum syari'at. Hal itulah yang harus kita luruskan.
5. Seperti membayangkan mursyid bisa memberi syafaat di padang mahsyar. Padahal kalau kita lihat hadits soal itu ngeri. Sekelas Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan lainnya saja tidak mampu. Hanya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang diperkenankan oleh Allah (syafa'atul uzhma) Bahkan dalam hal syafaat pun Nabi Muhammad SAW tetap butuh dukungan atau amalan umatnya. Ketika ada shahabat yang minta syafaat Nabi kelak di akhirat, maka Nabi pun minta dukungan sahabat tersebut untuk memperbanyak sujud (shalat). Tambahan: Tidak mentang-mentang Nabi bisa memberi syafaat tapi rapot shalat kita merah atau buruk misalnya.
Allahul musta'an.
*KESEDIHAN, GUNDAH DAN GALAU ADALAH DARI SYETAN*
Ada sebuah pertanyaan yang diajukan seorang pemuda sebagai berikut:
*_Aku adalah pemuda yang komitmen dengan agama ini (Islam), tapi aku tidak dapat merasakan lezatnya iman, dan aku selalu introspeksi diri, dan bertaqarrub kepada Allah dengan birrul walidain, tapi aku selalu merasa sedih dan dada terasa sempit, padahal aku sudah bertaqarrub kepada Allah dengan sholat dan hadir di majlis ilmu, di halaqah tahfidz. Aku sadar bahwa kekurangan ada pada diriku, tapi aku tidak tahu di mana kekurangannya, yang mana selalu membuatku sedih, wajazaakumullah khaira._*
Syaikh al Mukhtar Asy Syinqithi memberi jawabannya atas pertanyaan di atas.
*_Pertama dan sebelum menjawab semuanya, yang namanya sedih dan gundah itu datangnya dari syetan. Dan yang kedua, jangan sekali-kali menghukumi Rabbmu, karena tidak ada yang lebih mulia selain Allah. Allah lebih sayang kepadamu daripada dirimu sendiri._*
*_Jika kamu hidup dalam ketaatan dan berprasangka baik kepada Allah, dan engkau memegang erat wasiat ALlah bahwa yang namanya sedih itu datangnya dari syetan, dan jangan hiraukan bisikan kesedihan ini, maka tipu daya syetan tersebut akan cepat terusir darimu._*
*_Akan tetapi jika engkau menyerah, dan kamu yang menghukumi dirimu sendiri, bahwa kamu ini lagi bersedih, betapa banyak orang yang di pagi hari dalam keadaan sehat badannya dan dalam keadaan aman di sekitarnya, badannya sehat wal 'afiyat, akan tetapi masih saja mengatakan,"Aku lagi galau, aku lagi sedih, aku lagi menderita dan lain sebagainya". Karena memang dia sendiri yang membuat dirinya seperti itu._*
Tidak ada yang binasa atas ALlah kecuali orang yang binasa. Allah telah wasiatkan kepadamu dari atas langit yang tujuh supaya jangan bersedih, sebagaimana yang diwasiatkan juga oleh Nabi Saw. Beliau telah menjelaskan, bahwasanya syetanlah yang menjadikan kita sedih, sesungguhnya pembicaraan rahasia itu termasuk perbuatan syetan, agar membuat orang-orang beriman bersedih.
Oleh karena itu tidak boleh bagi seorang muslim, mendekati hal-hal yang mendatangkan kesedihan. Dan jika ia nekat melakukannya, maka dia telah menolong syetan agar membuat dirinya bersedih. Oleh karenanya Nabi Saw berlindung kepada Allah dari kesedihan.
Nabi adalah sosok yang memiliki tingkat kepekaan yang tinggi kepada shahabatnya lebih dari seorang bapak dan ibu kepada anaknya. Tatkala beliau melihat Abu Umamah duduk termenung di masjid, di luar waktu sholat. Lihatlah Nabi kita yang mulia yang mana ALlah meninggikan dan memuliakannya. Dan menjadikannya penutup para Nabi, walau begitu beliau tetap menunjukkan kepekaan terhadap para shahabatnya.
Wahai Abu Umamah, kenapa engkau duduk di masjid bukan pada waktu sholat? Ia menjawab,"Wahai Rasulullah, aku dirundung sedih dan aku dililit hutang".
Berkatalah Nabi Saw yang penuh rahmat, maukah aku tunjukkan sebuah doa yang apabila engkau baca niscaya Allah akan hilangkan kesedihanmu dan Allah akan melunasi hutangmu? Ia menjawab,"Tentu wahai Rasulullah".
Katakanlah:
اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن و أعوذ بك من العجز والكسل و أعوذ بك من غلبة الدين وقهرالرجال
*_Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kegundahan dan kesedihan. Dan aku berlindung kepadamu dari sifat lemah dan malas. Dan aku berlindung kepadaMu dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia._*
Lihatlah bagaimana Rasulullah Saw menggabungkan antara kesedihan dan sifat lemah dan malas. Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kegundahan dan kesedihan dan aku berlindung kepadaMu dari sifat lemah dan malas.
Ia berkata,"Maka aku pun membacanya". Sungguh ia (Nabi Saw) sebaik-baik yang mengajarkan dan apa yang diajarkan. Merekalah para shahabat yang apabila mendengar sesuatu dari Al Quran, mereka langsung beriman, lalu mengucapkan tapi dengan hati yang penuh keimanan. Mereka tidak mengatakan:
*_Hutangku banyak, apakah benar doa itu bisa melunasi hutang-hutangku". Hanya dengan membaca ini bisa melunasi hutangku yang jutaan hingga milyaran?_*.
Ada sebuah pertanyaan yang diajukan seorang pemuda sebagai berikut:
*_Aku adalah pemuda yang komitmen dengan agama ini (Islam), tapi aku tidak dapat merasakan lezatnya iman, dan aku selalu introspeksi diri, dan bertaqarrub kepada Allah dengan birrul walidain, tapi aku selalu merasa sedih dan dada terasa sempit, padahal aku sudah bertaqarrub kepada Allah dengan sholat dan hadir di majlis ilmu, di halaqah tahfidz. Aku sadar bahwa kekurangan ada pada diriku, tapi aku tidak tahu di mana kekurangannya, yang mana selalu membuatku sedih, wajazaakumullah khaira._*
Syaikh al Mukhtar Asy Syinqithi memberi jawabannya atas pertanyaan di atas.
*_Pertama dan sebelum menjawab semuanya, yang namanya sedih dan gundah itu datangnya dari syetan. Dan yang kedua, jangan sekali-kali menghukumi Rabbmu, karena tidak ada yang lebih mulia selain Allah. Allah lebih sayang kepadamu daripada dirimu sendiri._*
*_Jika kamu hidup dalam ketaatan dan berprasangka baik kepada Allah, dan engkau memegang erat wasiat ALlah bahwa yang namanya sedih itu datangnya dari syetan, dan jangan hiraukan bisikan kesedihan ini, maka tipu daya syetan tersebut akan cepat terusir darimu._*
*_Akan tetapi jika engkau menyerah, dan kamu yang menghukumi dirimu sendiri, bahwa kamu ini lagi bersedih, betapa banyak orang yang di pagi hari dalam keadaan sehat badannya dan dalam keadaan aman di sekitarnya, badannya sehat wal 'afiyat, akan tetapi masih saja mengatakan,"Aku lagi galau, aku lagi sedih, aku lagi menderita dan lain sebagainya". Karena memang dia sendiri yang membuat dirinya seperti itu._*
Tidak ada yang binasa atas ALlah kecuali orang yang binasa. Allah telah wasiatkan kepadamu dari atas langit yang tujuh supaya jangan bersedih, sebagaimana yang diwasiatkan juga oleh Nabi Saw. Beliau telah menjelaskan, bahwasanya syetanlah yang menjadikan kita sedih, sesungguhnya pembicaraan rahasia itu termasuk perbuatan syetan, agar membuat orang-orang beriman bersedih.
Oleh karena itu tidak boleh bagi seorang muslim, mendekati hal-hal yang mendatangkan kesedihan. Dan jika ia nekat melakukannya, maka dia telah menolong syetan agar membuat dirinya bersedih. Oleh karenanya Nabi Saw berlindung kepada Allah dari kesedihan.
Nabi adalah sosok yang memiliki tingkat kepekaan yang tinggi kepada shahabatnya lebih dari seorang bapak dan ibu kepada anaknya. Tatkala beliau melihat Abu Umamah duduk termenung di masjid, di luar waktu sholat. Lihatlah Nabi kita yang mulia yang mana ALlah meninggikan dan memuliakannya. Dan menjadikannya penutup para Nabi, walau begitu beliau tetap menunjukkan kepekaan terhadap para shahabatnya.
Wahai Abu Umamah, kenapa engkau duduk di masjid bukan pada waktu sholat? Ia menjawab,"Wahai Rasulullah, aku dirundung sedih dan aku dililit hutang".
Berkatalah Nabi Saw yang penuh rahmat, maukah aku tunjukkan sebuah doa yang apabila engkau baca niscaya Allah akan hilangkan kesedihanmu dan Allah akan melunasi hutangmu? Ia menjawab,"Tentu wahai Rasulullah".
Katakanlah:
اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن و أعوذ بك من العجز والكسل و أعوذ بك من غلبة الدين وقهرالرجال
*_Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kegundahan dan kesedihan. Dan aku berlindung kepadamu dari sifat lemah dan malas. Dan aku berlindung kepadaMu dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia._*
Lihatlah bagaimana Rasulullah Saw menggabungkan antara kesedihan dan sifat lemah dan malas. Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kegundahan dan kesedihan dan aku berlindung kepadaMu dari sifat lemah dan malas.
Ia berkata,"Maka aku pun membacanya". Sungguh ia (Nabi Saw) sebaik-baik yang mengajarkan dan apa yang diajarkan. Merekalah para shahabat yang apabila mendengar sesuatu dari Al Quran, mereka langsung beriman, lalu mengucapkan tapi dengan hati yang penuh keimanan. Mereka tidak mengatakan:
*_Hutangku banyak, apakah benar doa itu bisa melunasi hutang-hutangku". Hanya dengan membaca ini bisa melunasi hutangku yang jutaan hingga milyaran?_*.
Jawabannya, tentu saja. Wallahi jika tanggunganmu itu sepenuh bumi, atau bahkan kelipatannya, niscaya ALlah akan meluasinya bagimu, selagi Nabi kita Muhammad SAw bersabda demikian.
Ia berkata bahwa ia sedang sedih, ia menderita, apakah doa ini dapat menghilangkan kesedihan? jawabannya, Iya.
Iya ketika kamu beriman dan berserah diri kepada Rabbmu, bukan ketika imanmu lemah dan menyerah.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
Ia berkata bahwa ia sedang sedih, ia menderita, apakah doa ini dapat menghilangkan kesedihan? jawabannya, Iya.
Iya ketika kamu beriman dan berserah diri kepada Rabbmu, bukan ketika imanmu lemah dan menyerah.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*JALAN KELUAR YANG DIJANJIKAN ALLAH*
Dan bukanlah kebahagiaan ketika manusia mengabulkan permintaanmu, bukanlah kebahagiaan ketika engkau mendatangi fulan dan fulanah lalu urusanmu dimudahkan. Akan tetapi kebahagiaan itu bertambah seiring dengan doamu kepadaNya, Ya Allah...., lalu pintu langitpun terbuka untukmu.
Kebahagiaan itu ketika engkau berdoa, Ya Rabb..., engkau mengadu kepada Allah, kemudian ALlah mendengar permohonanmu dan mengangkat kesulitanmu.
Sesungguhnya di antara manusia ada yang ditimpa ujian, kesulitan dan kemalangan, ia kenal fulan, ia kenal fulanah namun dirinya tidak pernah mengeluhkan kepada seorangpun. Di antara manusia ada yang diberi kemudahan menghubungi kawannya yang kaya dan sejahtera, namun ia bertutur,*_"Aku malu kepada Allah jika harus meminta kepada selainNya"_*.
Maka ia pun ridho dengan keadaannya bersama Allah, ia mengurungkan niatnya karena Allah. Ia bergantung kepada Allah dan yakin kepada ALlah. Maka Allahpun memberikan ia jalan keluar dari tingkatan langit dan bumi.
Pernahkah engkau melihat ALlah mengecewakan hambaNya yang tulus beribadah kepadaNya? Tidak, wallahi.
Bagaimanakah kisah-kisah yang telah Allah kisahkan di dalam kitabNya? kisah-kisah yang membuat kita berlari menuju kepadaNya.
Orang paling bahagia adalah mereka yang ketika ditimpa musibah pada hartanya, ia berkata,"Akulah yang lalai, akulah yang telah berbuat dzolim dan maksiat, akulah yang kurang bersyukur kepada Allah". Akulah yang lalai Ya Rabb, aku tidak mengingatMu dengan semestinya. Aku tidak bersyukur dengan semestinya, ampunilah kelalaianku dalam mensyukuri ni'mat-ni'mat. Maka ia pun beristighfar, bertobat dan kembali kepada Allah.
Lalu kesempitan berubah menjadi lapang dan semakin lapang. Dan istighfar berubah menjadi rahmat yang mengusir sedih dan gundah.
Orang paling bahagia adalah mereka yang mengenal Allah saat musibah mendatanginya. Jika manusia diliputi gundah dan sedih, kemudian hutang dan kesukaran menghadang. Lalu ia malah semakin tergantung dan menumpahkan keluh kesahnya kepada manusia, wal'iyaadzubillah. Ia mendatangi fulan dan fulanah untuk meminta-minta, maka sungguh naif orang seperti ini.
Aku menasihati agar kalian percayakan segala urusan hanya kepada Allah, tawakkal dan husnudzon kepada Allah.
Perbanyak istighfar dan sadarilah bahwa musibah yang menimpamu dikarenakan dosa-dosa yang dilanggar. Jauhkan syetan dan hawa nafsu yang menggiring kepada keburukan, mintalah ampunan kepada Allah.
Berusahalah introspeksi, pernahkah engkau mendzalimi saudaramu sesama muslim? pernahkah engkau melukai kehormatan seorang muslim dengan menyumpahi dan mengumpatnya? sehingga engkau meminta kehalalannya dari kedzoliman dan dosamu?
Barangsiapa yang melakukannya, niscaya ujian akan berbuah kebaikan, dan yang jauh menjadi dekat, ini nasihat untuk kalian.
Istiqomah dan berpalinglah kepada Dzat yang mampu memperbaiki keadaanmu. Harus memiliki tekad dan keyakinan yang kuat bahwa pertolongan ALlah itu dekat. *_Sesungguhnya dibalik kesulitan itu ada kemudahan_*.
Tidaklah Allah memberikan kesulitan kepada seorang mukmin melainkan Dia memberikan 2 kemudahan. Percayalah kepada ALlah.
Ketahuilah jika engkau khawatir menghadapi hari esok karena kesulitanmu, engkau khawatir apa yang akan terjadi nanti, jika engkau bicara seperti ini pada dirimu, maka sesungguhnya syetan sedang mengguncang hatimu. Syetan menakut-nakutimu dengan kemiskinan. Syetan tidak menjanjikan sesuatu kecuali keburukan, ujian dan gangguan.
Berusahalah selalu bersama ALlah dan jangan pernah khawatir, yakin saja kepada ALlah, lakukan taubat dan istighfar.
Tempuh sebab-sebab yang benar dan husnudzon kepada Allah bahwa Dia akan mengangkat musibah yang menimpamu. Dan juga perbanyak doa di waktu-waktu mustajab, seperti antara adzan dan iqomah, sujud, di akhir sepertiga malam. Maka pertolongan Allah akan datang tak terduga kepadamu dan yang kau duga.
Dan bukanlah kebahagiaan ketika manusia mengabulkan permintaanmu, bukanlah kebahagiaan ketika engkau mendatangi fulan dan fulanah lalu urusanmu dimudahkan. Akan tetapi kebahagiaan itu bertambah seiring dengan doamu kepadaNya, Ya Allah...., lalu pintu langitpun terbuka untukmu.
Kebahagiaan itu ketika engkau berdoa, Ya Rabb..., engkau mengadu kepada Allah, kemudian ALlah mendengar permohonanmu dan mengangkat kesulitanmu.
Sesungguhnya di antara manusia ada yang ditimpa ujian, kesulitan dan kemalangan, ia kenal fulan, ia kenal fulanah namun dirinya tidak pernah mengeluhkan kepada seorangpun. Di antara manusia ada yang diberi kemudahan menghubungi kawannya yang kaya dan sejahtera, namun ia bertutur,*_"Aku malu kepada Allah jika harus meminta kepada selainNya"_*.
Maka ia pun ridho dengan keadaannya bersama Allah, ia mengurungkan niatnya karena Allah. Ia bergantung kepada Allah dan yakin kepada ALlah. Maka Allahpun memberikan ia jalan keluar dari tingkatan langit dan bumi.
Pernahkah engkau melihat ALlah mengecewakan hambaNya yang tulus beribadah kepadaNya? Tidak, wallahi.
Bagaimanakah kisah-kisah yang telah Allah kisahkan di dalam kitabNya? kisah-kisah yang membuat kita berlari menuju kepadaNya.
Orang paling bahagia adalah mereka yang ketika ditimpa musibah pada hartanya, ia berkata,"Akulah yang lalai, akulah yang telah berbuat dzolim dan maksiat, akulah yang kurang bersyukur kepada Allah". Akulah yang lalai Ya Rabb, aku tidak mengingatMu dengan semestinya. Aku tidak bersyukur dengan semestinya, ampunilah kelalaianku dalam mensyukuri ni'mat-ni'mat. Maka ia pun beristighfar, bertobat dan kembali kepada Allah.
Lalu kesempitan berubah menjadi lapang dan semakin lapang. Dan istighfar berubah menjadi rahmat yang mengusir sedih dan gundah.
Orang paling bahagia adalah mereka yang mengenal Allah saat musibah mendatanginya. Jika manusia diliputi gundah dan sedih, kemudian hutang dan kesukaran menghadang. Lalu ia malah semakin tergantung dan menumpahkan keluh kesahnya kepada manusia, wal'iyaadzubillah. Ia mendatangi fulan dan fulanah untuk meminta-minta, maka sungguh naif orang seperti ini.
Aku menasihati agar kalian percayakan segala urusan hanya kepada Allah, tawakkal dan husnudzon kepada Allah.
Perbanyak istighfar dan sadarilah bahwa musibah yang menimpamu dikarenakan dosa-dosa yang dilanggar. Jauhkan syetan dan hawa nafsu yang menggiring kepada keburukan, mintalah ampunan kepada Allah.
Berusahalah introspeksi, pernahkah engkau mendzalimi saudaramu sesama muslim? pernahkah engkau melukai kehormatan seorang muslim dengan menyumpahi dan mengumpatnya? sehingga engkau meminta kehalalannya dari kedzoliman dan dosamu?
Barangsiapa yang melakukannya, niscaya ujian akan berbuah kebaikan, dan yang jauh menjadi dekat, ini nasihat untuk kalian.
Istiqomah dan berpalinglah kepada Dzat yang mampu memperbaiki keadaanmu. Harus memiliki tekad dan keyakinan yang kuat bahwa pertolongan ALlah itu dekat. *_Sesungguhnya dibalik kesulitan itu ada kemudahan_*.
Tidaklah Allah memberikan kesulitan kepada seorang mukmin melainkan Dia memberikan 2 kemudahan. Percayalah kepada ALlah.
Ketahuilah jika engkau khawatir menghadapi hari esok karena kesulitanmu, engkau khawatir apa yang akan terjadi nanti, jika engkau bicara seperti ini pada dirimu, maka sesungguhnya syetan sedang mengguncang hatimu. Syetan menakut-nakutimu dengan kemiskinan. Syetan tidak menjanjikan sesuatu kecuali keburukan, ujian dan gangguan.
Berusahalah selalu bersama ALlah dan jangan pernah khawatir, yakin saja kepada ALlah, lakukan taubat dan istighfar.
Tempuh sebab-sebab yang benar dan husnudzon kepada Allah bahwa Dia akan mengangkat musibah yang menimpamu. Dan juga perbanyak doa di waktu-waktu mustajab, seperti antara adzan dan iqomah, sujud, di akhir sepertiga malam. Maka pertolongan Allah akan datang tak terduga kepadamu dan yang kau duga.
Barangsiapa yang tulus kepada Allah, maka Allah tulus kepadanya. Jauhkan prasangkamu bahwa perkaramu terlampau berat, Allahu Akbar. Allah Maha Besar dari apapun. Allah Maha Besar dari segala kesedihan, gundah, kesulitan yang menimpa, hingga kita bertemu Allah dalam keadaan diridhoiNya.
*_Ya Allah hapuskanlah kesedihan kami, hilangkanlah kegundahan kami, Ya Allah berikan jalan keluar bagi kami dari segala kesulitan. Berikan keselamatan dari segala musibah. Ya ALlah kami meminta pertolonganMu, maka tolonglah kami, kami memohon bantuan, maka bantulah kami. Ya Allah jangan Engkau abaikan kami._*
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*_Ya Allah hapuskanlah kesedihan kami, hilangkanlah kegundahan kami, Ya Allah berikan jalan keluar bagi kami dari segala kesulitan. Berikan keselamatan dari segala musibah. Ya ALlah kami meminta pertolonganMu, maka tolonglah kami, kami memohon bantuan, maka bantulah kami. Ya Allah jangan Engkau abaikan kami._*
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*URUSAN DUNIA ITU GAMPANG*
Wahai syaikh seorang bertanya, aku adalah pemuda yang sudah beberapa kali melamar seorang wanita, saya ditolak dengan sebab dan terkadang tanpa sebab, sekarang saya sedih sekali, bumi terasa sempit bagiku, mohon doakan aku agar aku dimudahkan.
Hanya doa saja? Ngga masalah :)
Semoga Allah mudahkan semua urusan kaum muslimin, aku berdoa dengan namanya Yang Maha Mulia agar memberimu istri yang solehah yang membuatmu bahagia di dunia dan di akhirat, istri yang takut kepadamu karena Allah dan bertaqwa dan memberikan keturunan yang akan membuatmu bahagia.
Ya akhi jangan engkau stress gara-gara ini, engkau mencari istri, mencari pekerjaan, mencari mobil, cari tanah, cari jabatan, akan tetapi Allah Maha Mengetahui dan terkadang belum memberikanmu, dengan ilmu Allah dan kebijaksanaan-Nya, Allah Maha Mengetahui sedangkan manusia tidak mengetahui, kadang kau suka dengan wanita itu, tapi ternyata dibaliknya ada bala' dan kesengsaraan, kau lihat dia sangat cantik, tapi keturunannya nanti tidak ada baiknya sama sekali, mungkin kau sangat kagum dengannya, tapi engkau akan selalu ditimpa musibah, jika kau kejar dia hingga menikahinya, maka ketahuilah Allah telah mengalihkanmu dari keburukannya (tapi engkau tidak sadar) sadar atau tidak sadar berpikirlah positif kepada Allah (husnudzon), dahulu orang-orang soleh selalu merasa optimis ketika mereka ingin sesuatu namun justru Allah persulit, karena rencana baik Allah hampir tidak pernah datang, kecuali setelah berletih-letih dahulu mencari pekerjaan kesana kemari sampai dia merasa sedih (karena tidak dapat pekerjaan) akan tetapi sebentar lagi Allah akan lapangkan dirinya, jalan keluar dari Allah bisa anda sadari atau juga tidak anda sadari, seseorang susah payah mencari istri, melamar kesini ditolak, kesana ditolak, lalu datanglah orang yang menawarkan kepadanya seorang wanita solihah, wanita yang baik prilaku dan agamanya, wanita yang penuh berkah pada dirinya dan pada keturunannya, maka berhusnudzon lah kepada Allah, dan hati-hati! Jangan sampai engkau lemah.
Wahai saudaraku...urusan dunia itu gampang, yang penting adalah urusan akhirat, adapun urusan dunia semuanya itu mudah, dalam doa yang sohih "Ya Allah janganlah jadikan dunia tujuan terbesar kami". Jika engkau cari pekerjaan dan belum dapat, cari istri belum dapat, cari mobil dan seterusnya urusan dunia jangan jadi keinginan terbesarmu.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
Wahai syaikh seorang bertanya, aku adalah pemuda yang sudah beberapa kali melamar seorang wanita, saya ditolak dengan sebab dan terkadang tanpa sebab, sekarang saya sedih sekali, bumi terasa sempit bagiku, mohon doakan aku agar aku dimudahkan.
Hanya doa saja? Ngga masalah :)
Semoga Allah mudahkan semua urusan kaum muslimin, aku berdoa dengan namanya Yang Maha Mulia agar memberimu istri yang solehah yang membuatmu bahagia di dunia dan di akhirat, istri yang takut kepadamu karena Allah dan bertaqwa dan memberikan keturunan yang akan membuatmu bahagia.
Ya akhi jangan engkau stress gara-gara ini, engkau mencari istri, mencari pekerjaan, mencari mobil, cari tanah, cari jabatan, akan tetapi Allah Maha Mengetahui dan terkadang belum memberikanmu, dengan ilmu Allah dan kebijaksanaan-Nya, Allah Maha Mengetahui sedangkan manusia tidak mengetahui, kadang kau suka dengan wanita itu, tapi ternyata dibaliknya ada bala' dan kesengsaraan, kau lihat dia sangat cantik, tapi keturunannya nanti tidak ada baiknya sama sekali, mungkin kau sangat kagum dengannya, tapi engkau akan selalu ditimpa musibah, jika kau kejar dia hingga menikahinya, maka ketahuilah Allah telah mengalihkanmu dari keburukannya (tapi engkau tidak sadar) sadar atau tidak sadar berpikirlah positif kepada Allah (husnudzon), dahulu orang-orang soleh selalu merasa optimis ketika mereka ingin sesuatu namun justru Allah persulit, karena rencana baik Allah hampir tidak pernah datang, kecuali setelah berletih-letih dahulu mencari pekerjaan kesana kemari sampai dia merasa sedih (karena tidak dapat pekerjaan) akan tetapi sebentar lagi Allah akan lapangkan dirinya, jalan keluar dari Allah bisa anda sadari atau juga tidak anda sadari, seseorang susah payah mencari istri, melamar kesini ditolak, kesana ditolak, lalu datanglah orang yang menawarkan kepadanya seorang wanita solihah, wanita yang baik prilaku dan agamanya, wanita yang penuh berkah pada dirinya dan pada keturunannya, maka berhusnudzon lah kepada Allah, dan hati-hati! Jangan sampai engkau lemah.
Wahai saudaraku...urusan dunia itu gampang, yang penting adalah urusan akhirat, adapun urusan dunia semuanya itu mudah, dalam doa yang sohih "Ya Allah janganlah jadikan dunia tujuan terbesar kami". Jika engkau cari pekerjaan dan belum dapat, cari istri belum dapat, cari mobil dan seterusnya urusan dunia jangan jadi keinginan terbesarmu.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*TAUHID ADALAH KUNCI SEGALA KEBAIKAN*
Tauhid adalah saat engkau memurnikan seluruh amalanmu hanya untuk Allah.
Harta yang paling mahal dan berharga bagi seorang muslim aalah tauhidnya. Dan kewajiban yang paling wajib bagi seorang hamba adalah tauhid.
Tauhid adalah kunci segala kebaikan. Pintu kebaikan hanya dibukakan untuk orang yang bertauhid.
Mentauhidkan Allah adalah syarat pertama diterimanya sebuah amalan. Tauhid adalah kewajiban yang paling wajib bagi seorang hamba.
Seorang hamba tidak akan merasa benar-benar aman sampai ia bertauhid.
اَلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَلَمۡ يَلۡبِسُوۡۤا اِيۡمَانَهُمۡ بِظُلۡمٍ اُولٰۤٮِٕكَ لَهُمُ الۡاَمۡنُ وَهُمۡ مُّهۡتَدُوۡنَ
*_Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan antara iman dengan kedzaliman (syirik), merekalah yang benar-benar mendapatkan rasa aman dan mendapatkan petunjuk._* (QS. al An'am:82)
Kedzaliman yang dimaksud dalam ayat tadi adalah kesyirikan. Karena syirik adalah kedzaliman yang paling besar.
Hanya orang yang mentauhidkan Allahlah yang memperoleh rasa aman dan mendapat petunjuk. Tauhid adalah alasan mengapa engkau diciptakan.
*_Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembahKu._* (QS. Adz Dzariyat:56)
Tauhid adalah alasan mengapa para rasul diutus.
*_Kami mengutus seorang rasul pada setiap umat untuk menyeru "Sembahlah ALlah saja dan jauhi thaghut"._* (QS. an Nahl:36)
Siapa yang menggantungkan hatinya hanya kepada Allah, hidupnya akan tenang, bahagia dan diberkahi. Jika tidak, ia akan hidup dalam kehinaan.
Tauhid adalah saat engkau memurnikan seluruh amalanmu hanya untuk Allah.
Harta yang paling mahal dan berharga bagi seorang muslim aalah tauhidnya. Dan kewajiban yang paling wajib bagi seorang hamba adalah tauhid.
Tauhid adalah kunci segala kebaikan. Pintu kebaikan hanya dibukakan untuk orang yang bertauhid.
Mentauhidkan Allah adalah syarat pertama diterimanya sebuah amalan. Tauhid adalah kewajiban yang paling wajib bagi seorang hamba.
Seorang hamba tidak akan merasa benar-benar aman sampai ia bertauhid.
اَلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَلَمۡ يَلۡبِسُوۡۤا اِيۡمَانَهُمۡ بِظُلۡمٍ اُولٰۤٮِٕكَ لَهُمُ الۡاَمۡنُ وَهُمۡ مُّهۡتَدُوۡنَ
*_Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan antara iman dengan kedzaliman (syirik), merekalah yang benar-benar mendapatkan rasa aman dan mendapatkan petunjuk._* (QS. al An'am:82)
Kedzaliman yang dimaksud dalam ayat tadi adalah kesyirikan. Karena syirik adalah kedzaliman yang paling besar.
Hanya orang yang mentauhidkan Allahlah yang memperoleh rasa aman dan mendapat petunjuk. Tauhid adalah alasan mengapa engkau diciptakan.
*_Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembahKu._* (QS. Adz Dzariyat:56)
Tauhid adalah alasan mengapa para rasul diutus.
*_Kami mengutus seorang rasul pada setiap umat untuk menyeru "Sembahlah ALlah saja dan jauhi thaghut"._* (QS. an Nahl:36)
Siapa yang menggantungkan hatinya hanya kepada Allah, hidupnya akan tenang, bahagia dan diberkahi. Jika tidak, ia akan hidup dalam kehinaan.
*MEMOTONG JENGGOT DOSA KECIL ATAU DOSA BESAR?*
Menarik jawaban yang diberikan oleh Syaikh Utsman Al Khumais ini. Bukan perkara dosa besar atau dosa kecilnya, namun bagaimana beliau memberikan kita pelajaran berpikir secara syariat, berlogika, memberikan dalil dan kemudian dengan itu semestinya menyadarkan kita bahwa dosa kecil ataupun dosa besar, keduanya wajib kita jauhi. Selamat membaca
Sebelum saya menjawab pertanyaan ini, saya tanyakan dulu, apa yang akan menjadi konsekuensi dari jawabannya? sebelum seseorang bertanya, dia menunggu jawaban, kemudian melakukan sesuatu berdasarkan jawaban yang dia dapatkan. Sekarang apa yang akan dilakukan dengan bertanya seperti ini? ketika saya bertanya maka saya katakan,"Yang Allah perintahkan itu wajib atau sunnah? yang Allah larang itu haram atau makruh? apakah itu termasuk dosa kecil atau dosa besar? apa yang akan dilakukan dengan jawaban dari pertanyaantersebut?
Apakah tidak cukup bagi kita bahwa Allah telah memerintahkan? apakah tidak cukup bagi kita bahwa Nabi telah memerintahkan? apakah tidak cukup bagi kita bahwa ALlah telah melarang? apakah tidak cukup bagi kita bahwa Nabi telah melarang? tentunya cukup dan begitulah seharusnya seorang muslim.
وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ وَّلَا مُؤۡمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوۡلُهٗۤ اَمۡرًا اَنۡ يَّكُوۡنَ لَهُمُ الۡخِيَرَةُ مِنۡ اَمۡرِهِمۡ ؕ وَمَنۡ يَّعۡصِ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيۡنًا
*_Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah da RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka?._* (QS. al Ahzab:36)
Demikianlah asalnya (seharusnya). Yang saya maksud bukan anda. Inilah sebab yang menjadikan keimanan para shahabat sangat tinggi, sementara keimanan kita sangat rendah. Kita bertanya hal-hal seperti ini untuk kita jadikan landasan suatu, namun jika pertanyaan ini hanya untuk sekedar pengetahuan, maka tidak masalah. Tapi kalau pertanyaan ini dijadikan landasan untuk beramal, maka bisa menjadi musibah.
Misalnya ketika seseorang mengatakan,"Jika itu hukumnya haram, maka aku tidak akan melakukannya. Tapi jika hanya makruh, maka aku akan melakukannya". Jika Allah memerintahkannya sebagai bentuk kewajiban, maka aku akan melaksanakannya. Tapi jika hanya sunnah, maka aku tidak akan melaksanakannya. Jika hal itu hanya dosa kecil, maka aku akan melakukannya. Namun jika itu dosa besar, maka aku tidak akan melakukannya. Tidaklah demikian akhlak para shahabat dahulu kepada Allah Jalla wa 'Alaa.
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu pernah berkata:
*_Salah seorang dari kami dahulu memandang dosa itu seakan gunung yang akan menimpanya. Adapun salah seorang dari kalian memandang dosa itu seakan lalat yang hinggap pada hidungnya kemudian dia hanya perlu untuk mengibasnya dengan tangannya seperti ini._*
Bilal bin Sa'd berkata:
*_Jangan kamu lihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah keagungan (Dzat) yang kamu bermaksiat kepadaNya. Ini yang harus diperhatikan._*
Apakah (perintah Allah) belum cukup bagi kita:
وَمَاۤ اٰتٰٮكُمُ الرَّسُوۡلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰٮكُمۡ عَنۡهُ فَانْتَهُوۡا ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ؕ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيۡدُ الۡعِقَابِۘ
*_Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya._* (QS. al Hasyr:7)
Tanpa harus melihat entah itu hukumnya wajib, sunnah, haram atau makruh. Selama Allah memerintahkan itu, maka kita taat dan bila ALlah melarangnya maka kita jauhi.
Pembahasan hukum haram atau makruh, wajib atau sunnah, ini adalah pembahasan ilmiyah saja, yang mana kadang dibangun di atasnya sebagian hukum. Misalnya jika dihadapkan suatu yang haram dengan makruh, sementara kita harus melakukan salah satu dari keduanya, maka harus dipilih yang paling kecil mafsadahnya, yaitu lakukan yang makruh dan jangan terjatuh pada yang haram. Jika dihadapkan padamu perkara yang wajib dengan perkara yang sunnah, manakah yang kamu dahulukan? maka kita dahulukan yang wajib daripada yang sunnah.
Menarik jawaban yang diberikan oleh Syaikh Utsman Al Khumais ini. Bukan perkara dosa besar atau dosa kecilnya, namun bagaimana beliau memberikan kita pelajaran berpikir secara syariat, berlogika, memberikan dalil dan kemudian dengan itu semestinya menyadarkan kita bahwa dosa kecil ataupun dosa besar, keduanya wajib kita jauhi. Selamat membaca
Sebelum saya menjawab pertanyaan ini, saya tanyakan dulu, apa yang akan menjadi konsekuensi dari jawabannya? sebelum seseorang bertanya, dia menunggu jawaban, kemudian melakukan sesuatu berdasarkan jawaban yang dia dapatkan. Sekarang apa yang akan dilakukan dengan bertanya seperti ini? ketika saya bertanya maka saya katakan,"Yang Allah perintahkan itu wajib atau sunnah? yang Allah larang itu haram atau makruh? apakah itu termasuk dosa kecil atau dosa besar? apa yang akan dilakukan dengan jawaban dari pertanyaantersebut?
Apakah tidak cukup bagi kita bahwa Allah telah memerintahkan? apakah tidak cukup bagi kita bahwa Nabi telah memerintahkan? apakah tidak cukup bagi kita bahwa ALlah telah melarang? apakah tidak cukup bagi kita bahwa Nabi telah melarang? tentunya cukup dan begitulah seharusnya seorang muslim.
وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ وَّلَا مُؤۡمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوۡلُهٗۤ اَمۡرًا اَنۡ يَّكُوۡنَ لَهُمُ الۡخِيَرَةُ مِنۡ اَمۡرِهِمۡ ؕ وَمَنۡ يَّعۡصِ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيۡنًا
*_Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah da RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka?._* (QS. al Ahzab:36)
Demikianlah asalnya (seharusnya). Yang saya maksud bukan anda. Inilah sebab yang menjadikan keimanan para shahabat sangat tinggi, sementara keimanan kita sangat rendah. Kita bertanya hal-hal seperti ini untuk kita jadikan landasan suatu, namun jika pertanyaan ini hanya untuk sekedar pengetahuan, maka tidak masalah. Tapi kalau pertanyaan ini dijadikan landasan untuk beramal, maka bisa menjadi musibah.
Misalnya ketika seseorang mengatakan,"Jika itu hukumnya haram, maka aku tidak akan melakukannya. Tapi jika hanya makruh, maka aku akan melakukannya". Jika Allah memerintahkannya sebagai bentuk kewajiban, maka aku akan melaksanakannya. Tapi jika hanya sunnah, maka aku tidak akan melaksanakannya. Jika hal itu hanya dosa kecil, maka aku akan melakukannya. Namun jika itu dosa besar, maka aku tidak akan melakukannya. Tidaklah demikian akhlak para shahabat dahulu kepada Allah Jalla wa 'Alaa.
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu pernah berkata:
*_Salah seorang dari kami dahulu memandang dosa itu seakan gunung yang akan menimpanya. Adapun salah seorang dari kalian memandang dosa itu seakan lalat yang hinggap pada hidungnya kemudian dia hanya perlu untuk mengibasnya dengan tangannya seperti ini._*
Bilal bin Sa'd berkata:
*_Jangan kamu lihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah keagungan (Dzat) yang kamu bermaksiat kepadaNya. Ini yang harus diperhatikan._*
Apakah (perintah Allah) belum cukup bagi kita:
وَمَاۤ اٰتٰٮكُمُ الرَّسُوۡلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰٮكُمۡ عَنۡهُ فَانْتَهُوۡا ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ؕ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيۡدُ الۡعِقَابِۘ
*_Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya._* (QS. al Hasyr:7)
Tanpa harus melihat entah itu hukumnya wajib, sunnah, haram atau makruh. Selama Allah memerintahkan itu, maka kita taat dan bila ALlah melarangnya maka kita jauhi.
Pembahasan hukum haram atau makruh, wajib atau sunnah, ini adalah pembahasan ilmiyah saja, yang mana kadang dibangun di atasnya sebagian hukum. Misalnya jika dihadapkan suatu yang haram dengan makruh, sementara kita harus melakukan salah satu dari keduanya, maka harus dipilih yang paling kecil mafsadahnya, yaitu lakukan yang makruh dan jangan terjatuh pada yang haram. Jika dihadapkan padamu perkara yang wajib dengan perkara yang sunnah, manakah yang kamu dahulukan? maka kita dahulukan yang wajib daripada yang sunnah.
Tapi jika tidak ada pertentangan, maka secara asal seorang muslim itu apabila diperintahkan untuk mengerjakan, dia hendaknya mengerjakannya. Dan apabila diperintahkan untuk meninggalkan sesuatu, diapun menjauhi. Selesailah perkara. Demikianlah hendanya kita bermuamalah dengan nash-nash (Syar'i). Terlebih lagi dalam perkara yang jelas haram, kemudian kita membahas apakah itu termasuk dosa besar atau dosa kecil.
Apa yang akan terjadi dengan pembahasan ini? entah hal itu termasuk dosa besar ataupun kecil, dosa besar itu berhubungan dengan hak Allah, dosa kecil pun juga begitu.
Orang yang melakukan dosa besar, dia telah melanggar hak Allah, orang yang melakukan dosa kecil, dia juga melanggar hak ALlah. Pemilik kebenaran hanya satu, yaitu Allah Jalla wa 'alaa.
Maka perkara ini jangan menjadikan kita bersikap remeh terhadap dosa, dengan alasan bahwa itu termasuk dosa kecil kemudian kita meremehkannya.
Karena dosa besarpun bertingkat-tingkat. Oleh karena itu ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang dosa yang paling besar, beliau menjawab:
*Engkau menjadikan bagi Allah suatu tandingan, padahal Dia telah menciptakanmu, kemudian ditanya apalagi (setelah itu), beliau menjawab:
*_Engkau membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu_*. Kemudian apa lagi? beliau menjawab:
*_Engkau berzina dengan istri tetanggamu._*
Jadi dosa besarpun juga bertingkat-tingkat, bahkan dosa-dosa yang membinasakan juga bertingkat-tingkat.
Lalu apakah berarti kalau dosa yang satu lebih besar dari yang lain, kemudian kita lakukan yang satu dan kita tinggalkan yang lain? tentunya tidak. Bahkan kita harus tinggalkan keduanya.
Sebagaimana kewajiban itu juga bertingkat-tingkat, seperti rukun sholat itu tidak sama dengan rukun puasa. Lalu apakah berarti kita kemudian semangat sholat dan meremehkan puasa? bukan demikian pemahamannya.
Sa'ad menggiring (unta) ke tempat minum dalam keadaan berselimut. Tidaklah demikian cara menggiring unta wahai Sa'ad. Seorang muslim hendaknya senantiasa melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, tanpa harus melihat apakah itu haram atau makruh, wajib atau sunnah, besar atau kecil. Dosa besar atau dosa yang membinasakan. Karena sebagaimana yang saya katakan, kadang ada orang yang berkata bahwa ini dosa kecil, bukan dosa besar. Kemudian orang kedua berkata:
*_Ini hanya dosa besar dan tidak termasuk dosa besar yang membinasakan._*
Kemudian orang ketiga berkata:
*_Ini hanya dosa besar yang membinasakan tapi tidak termasuk kekufuran._*.
Kita akan mendapati manusia yang berkata dengan perkataan seperti ini, mereka beralasan dengan tingkatan-tingkatan perkara dosa.
Oleh karena itu Allah tabaraka wa ta'ala berfirman:
*_Dan janganlah ikuti langkah-langkah syaithan_*. (QS. al Baqarah:208)
Allah menyebutnya dengan langkah-langkah, di mana langkah-langkah itu tahap demi tahap akan dihadapkan pada manusia, sampai syaithan mendapatkan apa yang dia inginkan. Hendaklah kita senantiasa bertaqwa kepada ALlah dalam perkara ini.
Sekarang kita jawab pertanyaannya. Memotong jenggot itu dilarang oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliau memerintahkan untuk memeliharanya. Sebagian ulama telah menjelaskan perbedaan antara dosa besar dan dosa kecil. Mereka berkata,"Dosa yang diberi ancaman dengan adzab atau hukuman di dunia atau adanya laknat atau murka Allah, maka itu termasuk dosa besar.
Ketika kita melihat permasalahan memotong jenggot, maka kita dapatkan perintah-perintah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memeliharanya. Namun kita tidak mendapati Nabi menyebutkan laknat bagi orang yang memotong jenggot, tidak pula murka ALlah, tidak pula dijauhkan dari rahmat, tidak pula hukum had atas tindakan ini. Juga tidak ada ancaman neraka atas perbuatan ini. Maka yang benar adalah bahwa memotong jenggot itu diharamkan, tidak dibolehkan.
Apa yang akan terjadi dengan pembahasan ini? entah hal itu termasuk dosa besar ataupun kecil, dosa besar itu berhubungan dengan hak Allah, dosa kecil pun juga begitu.
Orang yang melakukan dosa besar, dia telah melanggar hak Allah, orang yang melakukan dosa kecil, dia juga melanggar hak ALlah. Pemilik kebenaran hanya satu, yaitu Allah Jalla wa 'alaa.
Maka perkara ini jangan menjadikan kita bersikap remeh terhadap dosa, dengan alasan bahwa itu termasuk dosa kecil kemudian kita meremehkannya.
Karena dosa besarpun bertingkat-tingkat. Oleh karena itu ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang dosa yang paling besar, beliau menjawab:
*Engkau menjadikan bagi Allah suatu tandingan, padahal Dia telah menciptakanmu, kemudian ditanya apalagi (setelah itu), beliau menjawab:
*_Engkau membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu_*. Kemudian apa lagi? beliau menjawab:
*_Engkau berzina dengan istri tetanggamu._*
Jadi dosa besarpun juga bertingkat-tingkat, bahkan dosa-dosa yang membinasakan juga bertingkat-tingkat.
Lalu apakah berarti kalau dosa yang satu lebih besar dari yang lain, kemudian kita lakukan yang satu dan kita tinggalkan yang lain? tentunya tidak. Bahkan kita harus tinggalkan keduanya.
Sebagaimana kewajiban itu juga bertingkat-tingkat, seperti rukun sholat itu tidak sama dengan rukun puasa. Lalu apakah berarti kita kemudian semangat sholat dan meremehkan puasa? bukan demikian pemahamannya.
Sa'ad menggiring (unta) ke tempat minum dalam keadaan berselimut. Tidaklah demikian cara menggiring unta wahai Sa'ad. Seorang muslim hendaknya senantiasa melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, tanpa harus melihat apakah itu haram atau makruh, wajib atau sunnah, besar atau kecil. Dosa besar atau dosa yang membinasakan. Karena sebagaimana yang saya katakan, kadang ada orang yang berkata bahwa ini dosa kecil, bukan dosa besar. Kemudian orang kedua berkata:
*_Ini hanya dosa besar dan tidak termasuk dosa besar yang membinasakan._*
Kemudian orang ketiga berkata:
*_Ini hanya dosa besar yang membinasakan tapi tidak termasuk kekufuran._*.
Kita akan mendapati manusia yang berkata dengan perkataan seperti ini, mereka beralasan dengan tingkatan-tingkatan perkara dosa.
Oleh karena itu Allah tabaraka wa ta'ala berfirman:
*_Dan janganlah ikuti langkah-langkah syaithan_*. (QS. al Baqarah:208)
Allah menyebutnya dengan langkah-langkah, di mana langkah-langkah itu tahap demi tahap akan dihadapkan pada manusia, sampai syaithan mendapatkan apa yang dia inginkan. Hendaklah kita senantiasa bertaqwa kepada ALlah dalam perkara ini.
Sekarang kita jawab pertanyaannya. Memotong jenggot itu dilarang oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliau memerintahkan untuk memeliharanya. Sebagian ulama telah menjelaskan perbedaan antara dosa besar dan dosa kecil. Mereka berkata,"Dosa yang diberi ancaman dengan adzab atau hukuman di dunia atau adanya laknat atau murka Allah, maka itu termasuk dosa besar.
Ketika kita melihat permasalahan memotong jenggot, maka kita dapatkan perintah-perintah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memeliharanya. Namun kita tidak mendapati Nabi menyebutkan laknat bagi orang yang memotong jenggot, tidak pula murka ALlah, tidak pula dijauhkan dari rahmat, tidak pula hukum had atas tindakan ini. Juga tidak ada ancaman neraka atas perbuatan ini. Maka yang benar adalah bahwa memotong jenggot itu diharamkan, tidak dibolehkan.
Ibnul Qosim, Ibnul Hazm dan Ibnu Taimiyyah telah menukil adanya ijma' (konsensus) tentang haramnya memotong jenggot. Namun apakah termasuk dosa besar atau dosa kecil, maka yang nampak benar adalah bahwasanya bukan termasuk dosa besar, tapi hal itu merupakan kemaksiatan. Dan ilmu yang sebenarnya ada di sisi Allah Jalla wa 'Alaa.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*