*DAKWAH SAMA DENGAN MENGAJAR?*
Berdakwah itu apakah sama dengan mengajar murid?
Coba anda renungkan dari kisah berikut:
Sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu mengisahkan bahwa Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam selalu mendatangi perkemahan kabilah kabilah Arab yang sedang menunaikan Haji.
Beliau berkata kepada kabilah kabilah itu:
أَلا رجلٌ يَحْمِلُنِي إلى قَوْمِهِ لأبلِّغ كلام ربي، فإنَّ قُرَيْشًا قد مَنَعُونِي أنْ أُبَلِّغَ كَلامَ ربِّي
Adakah seorang lelaki yang berkenan membawaku ke kabilahnya, agar aku dapat menyampaikan wahyu dari Rabku, karena Quraisy menghalangi dari menyampaikan wahyu dari Rabku. ( riwayat Abu Dawud, At Tirmizy dll)
Ternyata dakwah itu bukan hanya duduk di masjid, namun juga menawarkan diri kepada siapa saja yang siap menerima dakwah.
Sikap menawarkan diri bukan berarti menjual diri, menghinakan diri, atau merendahkan ilmu.
Dakwah itu berkorban dengan harta, tenaga, pikiran, termasuk kehormatan diri demi terbukanya pintu hidayah bagi orang lain, atau demi tersampaikannya ilmu agama kepada masyarakat.
Menawar-nawarkan diri berarti tidak ikhlas dong?
He he he, ikhlas itu urusan hati, yang di masjid saja bisa saja tidak ikhlas dan yang menawar nawarkan dirinya juga bisa saja tidak ikhlas.
Sebaliknya juga demikian, bisa saja semuanya ikhlas.
Nawar-nawarkan diri berarti pasang tarif dong?
Bisa demikian, bisa juga tidak.
Sebagaimana yang di masjid saja juga ada kemungkinan menggantungkan dirinya dari pemberian orang, bisa juga dari bakul ilmu melalui berbagai trik.
Namun juga bisa juga ikhlas, atau mandiri dari usahanya sendiri.
Intinya untuk urusan hati, percayakan kepada yang memilikinya yaitu Allah Ta’ala semata.
Adapun saya, anda semua fokus pada bagaimana berpartisipasi menyebarkan agama Allah Ta’ala dan fokus pada perjuangan menjaga niat hati.
(Ust. DR. Arifin Baderi)
Berdakwah itu apakah sama dengan mengajar murid?
Coba anda renungkan dari kisah berikut:
Sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu mengisahkan bahwa Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam selalu mendatangi perkemahan kabilah kabilah Arab yang sedang menunaikan Haji.
Beliau berkata kepada kabilah kabilah itu:
أَلا رجلٌ يَحْمِلُنِي إلى قَوْمِهِ لأبلِّغ كلام ربي، فإنَّ قُرَيْشًا قد مَنَعُونِي أنْ أُبَلِّغَ كَلامَ ربِّي
Adakah seorang lelaki yang berkenan membawaku ke kabilahnya, agar aku dapat menyampaikan wahyu dari Rabku, karena Quraisy menghalangi dari menyampaikan wahyu dari Rabku. ( riwayat Abu Dawud, At Tirmizy dll)
Ternyata dakwah itu bukan hanya duduk di masjid, namun juga menawarkan diri kepada siapa saja yang siap menerima dakwah.
Sikap menawarkan diri bukan berarti menjual diri, menghinakan diri, atau merendahkan ilmu.
Dakwah itu berkorban dengan harta, tenaga, pikiran, termasuk kehormatan diri demi terbukanya pintu hidayah bagi orang lain, atau demi tersampaikannya ilmu agama kepada masyarakat.
Menawar-nawarkan diri berarti tidak ikhlas dong?
He he he, ikhlas itu urusan hati, yang di masjid saja bisa saja tidak ikhlas dan yang menawar nawarkan dirinya juga bisa saja tidak ikhlas.
Sebaliknya juga demikian, bisa saja semuanya ikhlas.
Nawar-nawarkan diri berarti pasang tarif dong?
Bisa demikian, bisa juga tidak.
Sebagaimana yang di masjid saja juga ada kemungkinan menggantungkan dirinya dari pemberian orang, bisa juga dari bakul ilmu melalui berbagai trik.
Namun juga bisa juga ikhlas, atau mandiri dari usahanya sendiri.
Intinya untuk urusan hati, percayakan kepada yang memilikinya yaitu Allah Ta’ala semata.
Adapun saya, anda semua fokus pada bagaimana berpartisipasi menyebarkan agama Allah Ta’ala dan fokus pada perjuangan menjaga niat hati.
(Ust. DR. Arifin Baderi)
*JANGAN PERNAH TERUCAP DALAM DOA*
Kalimat yang terlarang diucapkan dalam doa adalah:
*_Apabila Engkau berkenan Ya Allah_*
Ucapan ini menurut Syaikh Sa'ad Asy Syatsri tidak boleh, haram dan berdosa.
Begitu juga ketika kita berdoa:
*_Semoga Allah memberimu taufik_*
*_Semoga Allah memuliakanmu_*
Jangan katakan insyaAllah (انشاءالله) yang artinya jika Engkau (Allah) berkehendak. Karena berdoa, tidak boleh ada kalimat ini.
Nabi bersabda:
قاَلَ النَّبِيُّ صَلَّ الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: لَايَقُلْ اَحَدَكُمْ اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي إِنْ شِـءْتَ, اَللَّهُمَّ اغفرلي إِنْ شِـءْتَ اُرْزُقْنِي
*_Jangan katakan,"Ya Allah berilah aku rezeki kalau engkau berkenan".Ya Allah ampunilah hamba kalau Engkau berkenan._*
Mintalah dengan kalimat yang tegas. Karena tidaka da yang bisa memaksa Allah. Tidak ada karunia yang mendatangimu kecuali karena kehendak Allah. Sehingga tidak ada manfaatnya berkata,"Kalau Engkau berkenan".
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
Kalimat yang terlarang diucapkan dalam doa adalah:
*_Apabila Engkau berkenan Ya Allah_*
Ucapan ini menurut Syaikh Sa'ad Asy Syatsri tidak boleh, haram dan berdosa.
Begitu juga ketika kita berdoa:
*_Semoga Allah memberimu taufik_*
*_Semoga Allah memuliakanmu_*
Jangan katakan insyaAllah (انشاءالله) yang artinya jika Engkau (Allah) berkehendak. Karena berdoa, tidak boleh ada kalimat ini.
Nabi bersabda:
قاَلَ النَّبِيُّ صَلَّ الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: لَايَقُلْ اَحَدَكُمْ اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي إِنْ شِـءْتَ, اَللَّهُمَّ اغفرلي إِنْ شِـءْتَ اُرْزُقْنِي
*_Jangan katakan,"Ya Allah berilah aku rezeki kalau engkau berkenan".Ya Allah ampunilah hamba kalau Engkau berkenan._*
Mintalah dengan kalimat yang tegas. Karena tidaka da yang bisa memaksa Allah. Tidak ada karunia yang mendatangimu kecuali karena kehendak Allah. Sehingga tidak ada manfaatnya berkata,"Kalau Engkau berkenan".
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*UCAPAN YANG MENGANDUNG KESYIRIKAN*
Seorang mukmin hendaknya sangat waspada dari Kufur Nikmat. Jangan sampai hatinya menyandarkan nikmat kepada selain Allah. Karena hati yang meyakini bahwa nikmat yang ia terima bukan dari Allah adalah Kufur Besar. Perbuatan ini seperti perbuatan orang musyrik, sebagaimana firman Allah:
يَعۡرِفُوۡنَ نِعۡمَتَ اللّٰهِ ثُمَّ يُنۡكِرُوۡنَهَا وَاَكۡثَرُهُمُ الۡكٰفِرُوۡنَ
*_Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang yang ingkar kepada Allah._* (QS. an Nahl:83)
Adapun ucapan lisan dengan menyatakan bahwa nikmatnya datang dari selain Allah adalah syirik kecil. Contohnya, perkataan sebagai berikut:
*_Kalau saja supirnya tidak ahli pasti kita sudah terjungkir tadi atau kita pasti sudah binasa._*
ini terucap secara lisan bahwa nikmat keselamatan mereka dari keahlian supir. Meskipun hatinya masih mengakui bahwa nikmat itu dari Allah. Maka perkataan ini tetap Syirik Kecil dan seorang muslim wajib bertaubat darinya.
Contoh lainnya adalah kalimat berikut:
*_Kalau bukan karena Allah dan para tentara, pasti negara kita runtuh._*
Tidak boleh mensejajarkan Allah dengan selainNya dalam penyandaran nikmat. Namun boleh mengatakan:
*_Kalau bukan karena Allah lalu keahlian supir pasti kita binasa._*
atau perkataan:
*_Kalau bukan karena ALlah lalu para tentara, pasti negara kita terjajah._*
Kalimat ini dengan maksud untuk menyebutkan si pemberi nikmat dan sebabnya.
Tapi perlu dicatat baik-baik, pembahasan dalam hal ini adalah tentang penyandaran nikmat.
Adapun apabila hanya mengabarkan sesuatu dengan keyakinan bahwa nikmat itu datangnya dari Allah, maka boleh berkata
*_Kalau bukan karena keahlian supir, pasti mobil ini terjungkal_*.
Jadi kalimat ini dalam rangka mengabarkan kejadian, bukan dalam rangka menyandarkan nikmat. Demikian penjelasan Syaikh Sulaiman ar Ruhaili hafidzahullah.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
Seorang mukmin hendaknya sangat waspada dari Kufur Nikmat. Jangan sampai hatinya menyandarkan nikmat kepada selain Allah. Karena hati yang meyakini bahwa nikmat yang ia terima bukan dari Allah adalah Kufur Besar. Perbuatan ini seperti perbuatan orang musyrik, sebagaimana firman Allah:
يَعۡرِفُوۡنَ نِعۡمَتَ اللّٰهِ ثُمَّ يُنۡكِرُوۡنَهَا وَاَكۡثَرُهُمُ الۡكٰفِرُوۡنَ
*_Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang yang ingkar kepada Allah._* (QS. an Nahl:83)
Adapun ucapan lisan dengan menyatakan bahwa nikmatnya datang dari selain Allah adalah syirik kecil. Contohnya, perkataan sebagai berikut:
*_Kalau saja supirnya tidak ahli pasti kita sudah terjungkir tadi atau kita pasti sudah binasa._*
ini terucap secara lisan bahwa nikmat keselamatan mereka dari keahlian supir. Meskipun hatinya masih mengakui bahwa nikmat itu dari Allah. Maka perkataan ini tetap Syirik Kecil dan seorang muslim wajib bertaubat darinya.
Contoh lainnya adalah kalimat berikut:
*_Kalau bukan karena Allah dan para tentara, pasti negara kita runtuh._*
Tidak boleh mensejajarkan Allah dengan selainNya dalam penyandaran nikmat. Namun boleh mengatakan:
*_Kalau bukan karena Allah lalu keahlian supir pasti kita binasa._*
atau perkataan:
*_Kalau bukan karena ALlah lalu para tentara, pasti negara kita terjajah._*
Kalimat ini dengan maksud untuk menyebutkan si pemberi nikmat dan sebabnya.
Tapi perlu dicatat baik-baik, pembahasan dalam hal ini adalah tentang penyandaran nikmat.
Adapun apabila hanya mengabarkan sesuatu dengan keyakinan bahwa nikmat itu datangnya dari Allah, maka boleh berkata
*_Kalau bukan karena keahlian supir, pasti mobil ini terjungkal_*.
Jadi kalimat ini dalam rangka mengabarkan kejadian, bukan dalam rangka menyandarkan nikmat. Demikian penjelasan Syaikh Sulaiman ar Ruhaili hafidzahullah.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*SAYA IKUT MADZHAB YANG MANA?*
Wahai saudaraku, jika engkau tergolong 'ulama, maka engkau mengambil pendapat fiqh berdasarkan dalil. Engkau ambil dari madzhab atau ijtihad ulama fiqh yang berdiri di atas dalil (yang jelas).
Namun jika engkau tidak tahu menahu tentang seluk-beluk dalil, maka engkau adalah orang awam, maka engkau mengikuti saja (taklid) dengan salah satu madzhab yang empat, dengan cara bertanya kepada salah satu 'ulama terkait permasalahan fiqh yang tidak engkau ketahui. Setelah itu, jika ia menjawab pertanyaanmu, maka amalkan sesuai jawaban 'ulama tersebut,
*_Mazhab orang awam itu adalah mengikuti madzhab ulama yang menjawab pertanyaannya._*
(Syaikh Shalih al Fauzan)
Wahai saudaraku, jika engkau tergolong 'ulama, maka engkau mengambil pendapat fiqh berdasarkan dalil. Engkau ambil dari madzhab atau ijtihad ulama fiqh yang berdiri di atas dalil (yang jelas).
Namun jika engkau tidak tahu menahu tentang seluk-beluk dalil, maka engkau adalah orang awam, maka engkau mengikuti saja (taklid) dengan salah satu madzhab yang empat, dengan cara bertanya kepada salah satu 'ulama terkait permasalahan fiqh yang tidak engkau ketahui. Setelah itu, jika ia menjawab pertanyaanmu, maka amalkan sesuai jawaban 'ulama tersebut,
*_Mazhab orang awam itu adalah mengikuti madzhab ulama yang menjawab pertanyaannya._*
(Syaikh Shalih al Fauzan)
*KHATAMKAN ALQURAN DAN PERBANYAKLAH SHOLAT MALAM*
Wahai kalian yang sudah terbiasa membaca al Quran, dan yang sudah terbiasa membacanya lewat mushaf, teruslah baca kalam Rabb kalian.
Sisihkan waktu pada setiap harinya untuk membaca beberapa bagian yang mudah dari al Quran. Sehingga seorang muslim tidaklah melewati satu bulan kecuali ia telah mengkhatamkan al Quran, ini minimalnya.
Dulu di antara para salaf ada yang mampu mengkhatamkan al Quran dalam 10 malam, apda sholat malamnya. Bahkan di antara mereka ada yang mmapu mengkhatamkan dalam 7 malam pada sholat malam, terus seperti itu. Ada yang mampu mengkhatamkannya dalam 3 malam saja pada sholat malamnya. Bahkan ada yang mampu mengkhatamkannya hanya dengan sekali sholat malam, seperti Utsman bin Affan, Ra.
Mereka menggunakan mayoritas mala untuk sholat. Mereka tidaklah tidur kecuali sebentar saja.
Tapi bagaimanapun kita bukan mereka, jangan sandingkan diri kita dengan mereka ketika bercerita tentang mereka.
Bukanlah kebenaran jika seorang yang berjalan disamakan dengan yang duduk-duduk santai (Tidak berusaha meniru mereka).
Tapi kita terus berusaha menyisihkan sebagian malam kita untuk sholat malam, meskipun sebentar.
Kita terus berusaha membiasakan diri, karena di dalamnya terdapat banyak sekali kebaikan.
AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
Wahai kalian yang sudah terbiasa membaca al Quran, dan yang sudah terbiasa membacanya lewat mushaf, teruslah baca kalam Rabb kalian.
Sisihkan waktu pada setiap harinya untuk membaca beberapa bagian yang mudah dari al Quran. Sehingga seorang muslim tidaklah melewati satu bulan kecuali ia telah mengkhatamkan al Quran, ini minimalnya.
Dulu di antara para salaf ada yang mampu mengkhatamkan al Quran dalam 10 malam, apda sholat malamnya. Bahkan di antara mereka ada yang mmapu mengkhatamkan dalam 7 malam pada sholat malam, terus seperti itu. Ada yang mampu mengkhatamkannya dalam 3 malam saja pada sholat malamnya. Bahkan ada yang mampu mengkhatamkannya hanya dengan sekali sholat malam, seperti Utsman bin Affan, Ra.
Mereka menggunakan mayoritas mala untuk sholat. Mereka tidaklah tidur kecuali sebentar saja.
Tapi bagaimanapun kita bukan mereka, jangan sandingkan diri kita dengan mereka ketika bercerita tentang mereka.
Bukanlah kebenaran jika seorang yang berjalan disamakan dengan yang duduk-duduk santai (Tidak berusaha meniru mereka).
Tapi kita terus berusaha menyisihkan sebagian malam kita untuk sholat malam, meskipun sebentar.
Kita terus berusaha membiasakan diri, karena di dalamnya terdapat banyak sekali kebaikan.
AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*FONDASI YANG BERKAITAN DENGAN KELANCARAN KEHIDUPAN DUNIA*
Kehidupan dunia ini tidak akan berjalan mulus kecuali dengan berpegang dengan fondasi ini, ketahuilah fondasi itu adalah *Mendengar dan Patuh kepada orang yang Allah jadikan ia sebagai pemimpin kita, selama bukan dalam kemaksiatan.*
Karena kemashlatan manusia tidak akan diraih kecuali dengan adanya pemimpin. Dan keadaan al Jama'ah juga tidak akan bisa membaik kecuali dengan adanya pemimpin. Dan keadaan pemimpin tidak akan kondusif kecuali dengan didengar dan ditaati perintahnya oleh rakyatnya, selama bukan perintah untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Nabi SAW bersabda:
وَاسْمَعُ والطاعة وان تأمر عليكم عبد
*_Hendaknya kalian mendengar dan patuh (kepada pemimpin kalian). Meskipun yang memegang kuasa kepemimpinan adalah seorang hamba sahaya._* (HR. Abu Dawud no.4607)
Yang dimaksud dengan *'Abdun* di sini adalah mamluk/budak. Kenapa budak? karena tabiat manusia, tidak akan rela dipimpin seorang hamba sahaya. Sehingga seakan-akan Nabi SAW bersabda:
*_Meskipun yang memimpin kalian adalah orang yang tidak kalian setujui._*
Selama dia yang memegang kendali kepemimpinan maka dengar dan taatilah selama bukan kemaksiatan kepada Allah. Nabi SAW telah mengukuhkan bab ini dengan sangat baik.
Nabi bersabda:
*_Wajib bagi setiap muslim mendengar dan patuh (kepada pemimpin mereka), pada perintah yang disukainya maupun perintah yang dibenci selama perintah tersebut bukan kemaksiatan. Apabila ia diperintahkan untuk bermaksiat maka tidak boleh mendengar dan patuh._* (HR. Bukhari no.7144 dan Muslim no.1839)
Dan inilah sikap ideal yang dibawa oleh Nabi SAW. Kita mendengar dan patuh kepada pemimpin kita pada hal yang kita sukai maupun yang kita benci, kecuali jika diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila kita diperintahkan untuk melakukan kemaksiatan maka tidak boleh mendengar dan patuh.
Oleh karenanya Nabi SAW juga bersabda:
*_Wajib atasmu mendengar dan patuh (kepada pemimpin) disaat ada kesusahan maupun kelapangan. Pada hal yang biasa kamu geluti maupun kamu benci atau pada sesuatu yang di sana ada pengurangan hakmu._* (HR. Muslim no.1836)
Maksudnya adalah tetap wajib atasmu mendengar dan patuh (kepada pemimpin), di saat ada kelapangan pada pemerintah, begitu juga tetap wajib mendengar dan patuh (kepada pemimpin) di saat ada kesusahan dengan pemerintah.
Begitupun pada hal yang biasa kamu geluti maupun kamu benci atau pada hal yang di sana terdapat unsur pengurangan terhadap hakmu. Bahkan jika seandainya kamu melihat mereka memberikan kepada orang lain yang sebenarnya menjadi hakmu, tetap wajib bagimu mendengarkan dan patuh (kepada mereka)
Nabi bersabda:
يكون فيكم امراءُ لا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَلَا يَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، يَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينَ فِي جُثْمَانِ اِنْسٍ
*_Akan datang masa di mana para pemimpin tidak menjalankan ajaranku dan tidak menggunakan petunjukku. Orang-orang terdekatnya adalah orang yang hati mereka bak hati syaithon di dalam tubuh manusia._* (HR. Muslim no.1847)
Siapa yang mensifati (dengan sebutan hati syaithon)? Nabi sendiri. Hadits ini dibawakan oleh Imam Muslim dengan berbagai riwayatnya. Satu sama lain saling menguatkan, sehingga semakin mempertegas keshahihan hadits ini.
Inilah keadaan mereka (pemimpin yang tidak menggunakan petunjuk Nabi SAW). Lantas bagaimana keadaan orang-orang terdekatnya? Nabi mengatakan,"sekelompok orang yang hati mereka bak hatinya syaithon yang berada di dalam jiwa manusia". Bentuknya manusia, akan tetapi hatinya hati syaithon. نعوذ بآلله من هذا الحال.
Huidzaifah bertanya kepada Nabi SAW:
فماتأمرني يا رسول الله ان ادركت هذا؟
*_Apa yang engkau perintahkan wahai Rasulullah jika aku menemui masa tersebut? Nabi bersabda:
قال تسمع و تطيع للامير وان ضرب ظهرك، واُخِذَ مالك، فاسمع واطع
*_(Hendaknya) kamu tetap mendengar dan patuh kepada pemimpin, meskipun punggungmu dipukul, hartamu dirampas, tetap dengar dan patuhilah._* (HR. Muslim no.1847)
Kehidupan dunia ini tidak akan berjalan mulus kecuali dengan berpegang dengan fondasi ini, ketahuilah fondasi itu adalah *Mendengar dan Patuh kepada orang yang Allah jadikan ia sebagai pemimpin kita, selama bukan dalam kemaksiatan.*
Karena kemashlatan manusia tidak akan diraih kecuali dengan adanya pemimpin. Dan keadaan al Jama'ah juga tidak akan bisa membaik kecuali dengan adanya pemimpin. Dan keadaan pemimpin tidak akan kondusif kecuali dengan didengar dan ditaati perintahnya oleh rakyatnya, selama bukan perintah untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Nabi SAW bersabda:
وَاسْمَعُ والطاعة وان تأمر عليكم عبد
*_Hendaknya kalian mendengar dan patuh (kepada pemimpin kalian). Meskipun yang memegang kuasa kepemimpinan adalah seorang hamba sahaya._* (HR. Abu Dawud no.4607)
Yang dimaksud dengan *'Abdun* di sini adalah mamluk/budak. Kenapa budak? karena tabiat manusia, tidak akan rela dipimpin seorang hamba sahaya. Sehingga seakan-akan Nabi SAW bersabda:
*_Meskipun yang memimpin kalian adalah orang yang tidak kalian setujui._*
Selama dia yang memegang kendali kepemimpinan maka dengar dan taatilah selama bukan kemaksiatan kepada Allah. Nabi SAW telah mengukuhkan bab ini dengan sangat baik.
Nabi bersabda:
*_Wajib bagi setiap muslim mendengar dan patuh (kepada pemimpin mereka), pada perintah yang disukainya maupun perintah yang dibenci selama perintah tersebut bukan kemaksiatan. Apabila ia diperintahkan untuk bermaksiat maka tidak boleh mendengar dan patuh._* (HR. Bukhari no.7144 dan Muslim no.1839)
Dan inilah sikap ideal yang dibawa oleh Nabi SAW. Kita mendengar dan patuh kepada pemimpin kita pada hal yang kita sukai maupun yang kita benci, kecuali jika diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila kita diperintahkan untuk melakukan kemaksiatan maka tidak boleh mendengar dan patuh.
Oleh karenanya Nabi SAW juga bersabda:
*_Wajib atasmu mendengar dan patuh (kepada pemimpin) disaat ada kesusahan maupun kelapangan. Pada hal yang biasa kamu geluti maupun kamu benci atau pada sesuatu yang di sana ada pengurangan hakmu._* (HR. Muslim no.1836)
Maksudnya adalah tetap wajib atasmu mendengar dan patuh (kepada pemimpin), di saat ada kelapangan pada pemerintah, begitu juga tetap wajib mendengar dan patuh (kepada pemimpin) di saat ada kesusahan dengan pemerintah.
Begitupun pada hal yang biasa kamu geluti maupun kamu benci atau pada hal yang di sana terdapat unsur pengurangan terhadap hakmu. Bahkan jika seandainya kamu melihat mereka memberikan kepada orang lain yang sebenarnya menjadi hakmu, tetap wajib bagimu mendengarkan dan patuh (kepada mereka)
Nabi bersabda:
يكون فيكم امراءُ لا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَلَا يَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، يَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينَ فِي جُثْمَانِ اِنْسٍ
*_Akan datang masa di mana para pemimpin tidak menjalankan ajaranku dan tidak menggunakan petunjukku. Orang-orang terdekatnya adalah orang yang hati mereka bak hati syaithon di dalam tubuh manusia._* (HR. Muslim no.1847)
Siapa yang mensifati (dengan sebutan hati syaithon)? Nabi sendiri. Hadits ini dibawakan oleh Imam Muslim dengan berbagai riwayatnya. Satu sama lain saling menguatkan, sehingga semakin mempertegas keshahihan hadits ini.
Inilah keadaan mereka (pemimpin yang tidak menggunakan petunjuk Nabi SAW). Lantas bagaimana keadaan orang-orang terdekatnya? Nabi mengatakan,"sekelompok orang yang hati mereka bak hatinya syaithon yang berada di dalam jiwa manusia". Bentuknya manusia, akan tetapi hatinya hati syaithon. نعوذ بآلله من هذا الحال.
Huidzaifah bertanya kepada Nabi SAW:
فماتأمرني يا رسول الله ان ادركت هذا؟
*_Apa yang engkau perintahkan wahai Rasulullah jika aku menemui masa tersebut? Nabi bersabda:
قال تسمع و تطيع للامير وان ضرب ظهرك، واُخِذَ مالك، فاسمع واطع
*_(Hendaknya) kamu tetap mendengar dan patuh kepada pemimpin, meskipun punggungmu dipukul, hartamu dirampas, tetap dengar dan patuhilah._* (HR. Muslim no.1847)
Di sini wahai saudaraku ada poin yang penting sekali, sabda Nabi SAW yang mengatakan *Meskipun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas*, maksudnya adalah bahkan jika kamu merasa yakin telah didzalimi. Dengan kata lain, meskipun kamu yakin bahwa mereka telah menzhalimimu, akan tetapi mereka adalah orang-orang muslim. Karena jika benar dirimu telah dizhalimi oleh mereka, maka dapat dipastikan itu adalah kedzaliman, kamu sudah sangat yakin. Walaupun keadaannya seperti itu, tetap dengar dan patuhi (mereka). Itulah yang Nabi SAW sabdakan.
Subhanallah, seakan-akan Nabi SAW ketika itu sedang mengobati realita yang sedang terjadi di tengah manusia, hingga ada seorang laki-laki berdiri menuju beliau dan berkata sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih Muslim:
يا رسول الله ارايت اِنْ قاَمَتْ علينا اُمَرَاءُ يسألون حقهم ويمنعون حقنا؟
*_Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika ada pemimpin kami, yang mereka gigih meminta kita menunaikan hak mereka akan tetapi mereka menolak memberikan hak kami? (HR. Muslim no.1846)
Jadi mereka maunya hanya didengar dan dipatuhi saja tanpa peduli memberikan hak-hak kami. Maka Nabi SAW pun berpaling dari orang tersebut dan enggan menjawab. Maka orang tadi kembali menhampiri Nabi SAW untuk yang kedua kalinya dan bertanya. Maka Nabi SAW kembali berpaling dan enggan menjawab. Kemudian orang tadi kembali menhampiri Nabi SAW untuk yang ketiga kalinya. Menurut para ulama, tujuan Nabi SAW berpaling adalah agar orang-orang yang hadir memperhatikan. (mereka bertanya-tanya) Perkara apa ini yang Nabi SAW malah berpaling ketika ditanya. Maka dikali yang ketiga, orang-orangpun memperhatikan beliau. Nabi menjawabnya dengan kalimat:
اسمعوا واطيعوا
*_Dengar dan patuhi_*. (HR. Muslim no.1846)
Kemudian Nabi SAW membawakan suatu kaidah. Wahai saudaraku, saya katakan ini aalah kaidah emas dalam kehidupan:
فإنما عليهم ما حمّلوا و عليكم ما حمّلتم
*_Sesungguhnya mereka bertanggungjawab atas apa yang dibebankan kepada mereka dan kalian bertanggungjawab atas apa yang dibebankan kepada kalian._*
Wahai saudaraku, apa sebab timbul masalah di tengah manusia secara umum? yaitu seseorang menyibukkan diri pada sesuatu yang bukan urusannya. Sebab kesengsaraan manusia adalah tatkala dia menyibukkan diri dengan perkara yang bukan urusannya. Memposisikan dirinya seolah-olah ia ulama, memposisikan dirinya seakan-akan ia hakim pengadilan, memposisikan dirinya seakan-akan ia orang kaya, ia ingin menjadi segalanya pada semua hal. Perkara seperti ini sangat membahayakan manusia. Akan tetapi Nabi SAW memberikan kepada kita suatu kaidah:
*_Sesungguhnya atas mereka apa yang dibebankan kepada mereka, dan kelak mereka akan ditanya tentang tanggungjawab mereka dan atas kalian apa yang dibebankan kepada kalian dan kalian akan ditana tentang tanggungjawab kalian._*
Wahai kalian yang cerdas, sibukkan diri dengan tanggungjawab kalian. Sibuklah dengan perkara yang itu milikmu sendiri, sibuklah dengan perkara yang bisa kamu memberikan dampak positif. Jangan sekali-kali masuk ke dalam perkara yang dirimu tidak dapat memberi dampak positif.
Permasalahan ini merupakan bab yang agung, telah Nabi SAW kukuhkan hukum-hukum terkait hal tersebut.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
Subhanallah, seakan-akan Nabi SAW ketika itu sedang mengobati realita yang sedang terjadi di tengah manusia, hingga ada seorang laki-laki berdiri menuju beliau dan berkata sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih Muslim:
يا رسول الله ارايت اِنْ قاَمَتْ علينا اُمَرَاءُ يسألون حقهم ويمنعون حقنا؟
*_Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika ada pemimpin kami, yang mereka gigih meminta kita menunaikan hak mereka akan tetapi mereka menolak memberikan hak kami? (HR. Muslim no.1846)
Jadi mereka maunya hanya didengar dan dipatuhi saja tanpa peduli memberikan hak-hak kami. Maka Nabi SAW pun berpaling dari orang tersebut dan enggan menjawab. Maka orang tadi kembali menhampiri Nabi SAW untuk yang kedua kalinya dan bertanya. Maka Nabi SAW kembali berpaling dan enggan menjawab. Kemudian orang tadi kembali menhampiri Nabi SAW untuk yang ketiga kalinya. Menurut para ulama, tujuan Nabi SAW berpaling adalah agar orang-orang yang hadir memperhatikan. (mereka bertanya-tanya) Perkara apa ini yang Nabi SAW malah berpaling ketika ditanya. Maka dikali yang ketiga, orang-orangpun memperhatikan beliau. Nabi menjawabnya dengan kalimat:
اسمعوا واطيعوا
*_Dengar dan patuhi_*. (HR. Muslim no.1846)
Kemudian Nabi SAW membawakan suatu kaidah. Wahai saudaraku, saya katakan ini aalah kaidah emas dalam kehidupan:
فإنما عليهم ما حمّلوا و عليكم ما حمّلتم
*_Sesungguhnya mereka bertanggungjawab atas apa yang dibebankan kepada mereka dan kalian bertanggungjawab atas apa yang dibebankan kepada kalian._*
Wahai saudaraku, apa sebab timbul masalah di tengah manusia secara umum? yaitu seseorang menyibukkan diri pada sesuatu yang bukan urusannya. Sebab kesengsaraan manusia adalah tatkala dia menyibukkan diri dengan perkara yang bukan urusannya. Memposisikan dirinya seolah-olah ia ulama, memposisikan dirinya seakan-akan ia hakim pengadilan, memposisikan dirinya seakan-akan ia orang kaya, ia ingin menjadi segalanya pada semua hal. Perkara seperti ini sangat membahayakan manusia. Akan tetapi Nabi SAW memberikan kepada kita suatu kaidah:
*_Sesungguhnya atas mereka apa yang dibebankan kepada mereka, dan kelak mereka akan ditanya tentang tanggungjawab mereka dan atas kalian apa yang dibebankan kepada kalian dan kalian akan ditana tentang tanggungjawab kalian._*
Wahai kalian yang cerdas, sibukkan diri dengan tanggungjawab kalian. Sibuklah dengan perkara yang itu milikmu sendiri, sibuklah dengan perkara yang bisa kamu memberikan dampak positif. Jangan sekali-kali masuk ke dalam perkara yang dirimu tidak dapat memberi dampak positif.
Permasalahan ini merupakan bab yang agung, telah Nabi SAW kukuhkan hukum-hukum terkait hal tersebut.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*SHOLAT SUNNAH DI RUMAH*
(_Syaikh Al-Mukhtar Asy-Syinqithi_ )
Seharusnya seseorang bersemangat untuk sholat sunnah di rumah. Ini adalah salah satu sunnah Nabi. Karena rumah yang banyak dipakai untuk sholat akan diberikan banyak kebaikan oleh Allah. Hal ini banyak disampaikan oleh para ulama dan orang-orang shalih.
Sebagian orang bercerita,"Dulu rumahku tidak pernah lepas dari masalah".
Akupun mendatangi salah satu ulama. Ia bertanya kepadaku tentang qiyamul lail dan rawatib. Ia mengatakan,"Engkau melalaikan shalat rawatib? aku menjawab,"Ya, aku tidak shalat rawatib. Apa itu sholat rawatib? ia menjawab,"Sholat qobliyah dan ba'diyah. Ia pun mengajariku sholat rawatib qobliyah dan ba'diyah.
Kedua, ia bertanya,"Engkau tidak sholat malam? Engkau tidak sholat witir? Aku menjawab,"Ya, aku tidak sholat witir".
Ia mengatakan,"Jika demikian, rutinkan shalat rawatib dan sholatlah di rumahmu sebagaimana Nabi sholat di rumahnya. Rutinkan juga sholat witir dan jangan ditinggalkan.
Nabi bersabda:
ليس منا من لم يوتر. الوترحق، ومن لم يوتر فليس منا
*_Bukan golongan kami orang yang tidak sholat witir_*. Sholat witir itu adalah hak dan barangsiapa tidak sholat witir, ia bukan golongan kami._* (HR. Abu Dawud no.1419)
أوتروا يا اهل القرأن إن الله وتر يحبه
*_Wahai ahli Quran, sholatlah witir, karena ALlah itu Maha Esa dan menyukai ganjil_*. (HR. Abu Dawud no.1416)
إن الله أمدكم بصلاة هي خير لكم من حمر النعم وجعلها لكم ما بين صلاة العشاء وما بين صلاة الفجر
*_Sesungguhnya Allah menganugerahi kalian sholat yang lebih baik daripada unta merah dan Dia tetapkan waktunya antara sholat isya dengan sholat subuh._* (HR. Tirmidzi no.452)
Ia mengatakan,"Subhaanallah, sepekan kemudian, kondisi rumahku berubah total. Akhlak istriku berubah. Anak-anakku menjadi lebih beradab. Semua hal berubah".
فإن الله جاعل له من صلا ته في بيته خيرا
*_Sesungguhnya Allah melimpahkan kebaikan di rumahnya karena sholatnya itu._* (HR. Muslim no.778)
Kata kebaikan berbentuk nakirah. Apabila Nabi bersabda,"ALlah melimpahkan kebaikan", maka pasti menjadi kebaikan.
Sungguh benar ucapan Nabi yang tidak berbicara menurut hawa nafsunya. Tetapi hanyalah berdasarkan wahyu. Wallahu a'lam.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
(_Syaikh Al-Mukhtar Asy-Syinqithi_ )
Seharusnya seseorang bersemangat untuk sholat sunnah di rumah. Ini adalah salah satu sunnah Nabi. Karena rumah yang banyak dipakai untuk sholat akan diberikan banyak kebaikan oleh Allah. Hal ini banyak disampaikan oleh para ulama dan orang-orang shalih.
Sebagian orang bercerita,"Dulu rumahku tidak pernah lepas dari masalah".
Akupun mendatangi salah satu ulama. Ia bertanya kepadaku tentang qiyamul lail dan rawatib. Ia mengatakan,"Engkau melalaikan shalat rawatib? aku menjawab,"Ya, aku tidak shalat rawatib. Apa itu sholat rawatib? ia menjawab,"Sholat qobliyah dan ba'diyah. Ia pun mengajariku sholat rawatib qobliyah dan ba'diyah.
Kedua, ia bertanya,"Engkau tidak sholat malam? Engkau tidak sholat witir? Aku menjawab,"Ya, aku tidak sholat witir".
Ia mengatakan,"Jika demikian, rutinkan shalat rawatib dan sholatlah di rumahmu sebagaimana Nabi sholat di rumahnya. Rutinkan juga sholat witir dan jangan ditinggalkan.
Nabi bersabda:
ليس منا من لم يوتر. الوترحق، ومن لم يوتر فليس منا
*_Bukan golongan kami orang yang tidak sholat witir_*. Sholat witir itu adalah hak dan barangsiapa tidak sholat witir, ia bukan golongan kami._* (HR. Abu Dawud no.1419)
أوتروا يا اهل القرأن إن الله وتر يحبه
*_Wahai ahli Quran, sholatlah witir, karena ALlah itu Maha Esa dan menyukai ganjil_*. (HR. Abu Dawud no.1416)
إن الله أمدكم بصلاة هي خير لكم من حمر النعم وجعلها لكم ما بين صلاة العشاء وما بين صلاة الفجر
*_Sesungguhnya Allah menganugerahi kalian sholat yang lebih baik daripada unta merah dan Dia tetapkan waktunya antara sholat isya dengan sholat subuh._* (HR. Tirmidzi no.452)
Ia mengatakan,"Subhaanallah, sepekan kemudian, kondisi rumahku berubah total. Akhlak istriku berubah. Anak-anakku menjadi lebih beradab. Semua hal berubah".
فإن الله جاعل له من صلا ته في بيته خيرا
*_Sesungguhnya Allah melimpahkan kebaikan di rumahnya karena sholatnya itu._* (HR. Muslim no.778)
Kata kebaikan berbentuk nakirah. Apabila Nabi bersabda,"ALlah melimpahkan kebaikan", maka pasti menjadi kebaikan.
Sungguh benar ucapan Nabi yang tidak berbicara menurut hawa nafsunya. Tetapi hanyalah berdasarkan wahyu. Wallahu a'lam.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*TARGET YANG HARUS DICAPAI SEORANG MUSLIM SETIAP HARINYA*
diceritakan oleh Ummu Salamah ra , dalam Kitab Sunan
(Ibnu Majah no.925) dan Musnad (Ahmad no.26731), bahwa Nabi SAW setiap harinya seusai sholat subuh berdoa:
اللهم إني أسألك علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا
*_Ya Allah, aku meminta kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amalan yang diterima_*.
Dalam doa tersebut ada permintaan kepada ALlah SWT berupa rezeki yang baik. Ini sebuah pelajaran yang berharga bagi kita umat Muhammad SAW.
Waktu pagi adalah permulaan siang dan siang adalah waktunya manusia untuk bekerja dan mengusahakan kebaikan dunia dan akhirat. Target seorang muslim setiap harinya hanya ada tiga, tidak ada yang keempatnya. Tiga target tersebut disebutkan Rasulullah SAW dalam hadits ini.
Inilah 3 target seorang muslim setiap harinya, yakni:
1) Ilmu yang bermanfaat
2) Rezeki yang baik
3) Amal yang shalih
Dalam doa ini terdapat penjelasan target seorang muslim setiap harinya. Dan permohonan agar Allah SWT menolong untuk merealisasikan target tersebut. Rasulullah SAW memulai doanya dengan meminta ilmu yang bermanfaat.
Karena ilmu adalah asas untuk bisa membedakan antara rezeki yang halal dan yang haram, juga antara amal yang shalih dan yang bukan. Semuanya tidak akan bisa dibedakan kecuali dengan ilmu yang bermanfaat.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
diceritakan oleh Ummu Salamah ra , dalam Kitab Sunan
(Ibnu Majah no.925) dan Musnad (Ahmad no.26731), bahwa Nabi SAW setiap harinya seusai sholat subuh berdoa:
اللهم إني أسألك علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا
*_Ya Allah, aku meminta kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amalan yang diterima_*.
Dalam doa tersebut ada permintaan kepada ALlah SWT berupa rezeki yang baik. Ini sebuah pelajaran yang berharga bagi kita umat Muhammad SAW.
Waktu pagi adalah permulaan siang dan siang adalah waktunya manusia untuk bekerja dan mengusahakan kebaikan dunia dan akhirat. Target seorang muslim setiap harinya hanya ada tiga, tidak ada yang keempatnya. Tiga target tersebut disebutkan Rasulullah SAW dalam hadits ini.
Inilah 3 target seorang muslim setiap harinya, yakni:
1) Ilmu yang bermanfaat
2) Rezeki yang baik
3) Amal yang shalih
Dalam doa ini terdapat penjelasan target seorang muslim setiap harinya. Dan permohonan agar Allah SWT menolong untuk merealisasikan target tersebut. Rasulullah SAW memulai doanya dengan meminta ilmu yang bermanfaat.
Karena ilmu adalah asas untuk bisa membedakan antara rezeki yang halal dan yang haram, juga antara amal yang shalih dan yang bukan. Semuanya tidak akan bisa dibedakan kecuali dengan ilmu yang bermanfaat.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*KAIDAH SYAR'I TERHADAP PEMINTA-MINTA*
Allah berfirman di dalam al Quran:
وَاَمَّا السَّآٮِٕلَ فَلَا تَنۡهَرۡؕ
*_Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya)._* (Ad-Dhuha:10)
Kaidah pertama adalah tidak boleh menghardiknya. Peminta-minta tidak boleh dihardik, baik kita memberi atau tidak memberinya, ini adalah pembahasan lain. Yang utama adalah jangan menghardiknya, kita tidak boleh menghardiknya.
Bisa jadi dia meminta-minta memang ada kebutuhan atau bisa juga dia hanya ingin memperkaya diri. Kita tidak tahu, kita hanya bisa menduga-duga, bisa jadi.
Lalu kapan kita beri dan kapan tidak kita beri? Di sini tidak ada qoidahnya, ilmunya ada di sisi Allah. Dan ini kembali kepada apa yang terlintas di dalam hati kita.
Jika kita merasa di dalam hati kita mengatakan bahwa orang ini (si peminta-minta) butuh, berilah. Namun jika kita merasa di dalam hati kita bahwa orang ini tidak butuh, maka tak usah diberi.
Jadi kita bisa memperkirakan masalah ini di dalam diri kita masing-masing.
Jika kita memberinya meski ternyata dia tidak butuh, maka pahala tetap ada di sisi Allah.
_Baarakallahu fiikum, waja'alanallahu ilaikum albarakah wassalaamah fiddunya wal aakhirah_
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
Allah berfirman di dalam al Quran:
وَاَمَّا السَّآٮِٕلَ فَلَا تَنۡهَرۡؕ
*_Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya)._* (Ad-Dhuha:10)
Kaidah pertama adalah tidak boleh menghardiknya. Peminta-minta tidak boleh dihardik, baik kita memberi atau tidak memberinya, ini adalah pembahasan lain. Yang utama adalah jangan menghardiknya, kita tidak boleh menghardiknya.
Bisa jadi dia meminta-minta memang ada kebutuhan atau bisa juga dia hanya ingin memperkaya diri. Kita tidak tahu, kita hanya bisa menduga-duga, bisa jadi.
Lalu kapan kita beri dan kapan tidak kita beri? Di sini tidak ada qoidahnya, ilmunya ada di sisi Allah. Dan ini kembali kepada apa yang terlintas di dalam hati kita.
Jika kita merasa di dalam hati kita mengatakan bahwa orang ini (si peminta-minta) butuh, berilah. Namun jika kita merasa di dalam hati kita bahwa orang ini tidak butuh, maka tak usah diberi.
Jadi kita bisa memperkirakan masalah ini di dalam diri kita masing-masing.
Jika kita memberinya meski ternyata dia tidak butuh, maka pahala tetap ada di sisi Allah.
_Baarakallahu fiikum, waja'alanallahu ilaikum albarakah wassalaamah fiddunya wal aakhirah_
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*ORANG YANG PALING BAHAGIA*
Bertaqwalah kepada Allah. Ketika Allah panjangkan umurmu hingga berjumpa dengan Ramadhan. Ketika banyak orang telah wafat dan harapan mereka kandas. Allah masih memberi kesehatan, waktu luang dan banyak nikmat lainnya yang tidak mampu dihitung kecuali oleh Allah saja.
Apabila engkau memuji nikmat ALlah dan mensyukuri karuniaNya serta melengkapinya dengan amal shalih, maka engkau termasuk orang-orang yang sukses.
Akhi fillah, berhati-hatilah dari jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan, yang membuat seorang hamba lemah dari ketaatan kepada Allah.
Sadarlah dari kelalaianmu, bangunlah dari tidurmu, perbaiki sisa umurmu.
نعوذ الله العظيم من الحور بعد الكور ومن العمى بعد البصيرة
Bertaqwalah kepada Allah. Ketika Allah panjangkan umurmu hingga berjumpa dengan Ramadhan. Ketika banyak orang telah wafat dan harapan mereka kandas. Allah masih memberi kesehatan, waktu luang dan banyak nikmat lainnya yang tidak mampu dihitung kecuali oleh Allah saja.
Apabila engkau memuji nikmat ALlah dan mensyukuri karuniaNya serta melengkapinya dengan amal shalih, maka engkau termasuk orang-orang yang sukses.
Akhi fillah, berhati-hatilah dari jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan, yang membuat seorang hamba lemah dari ketaatan kepada Allah.
Sadarlah dari kelalaianmu, bangunlah dari tidurmu, perbaiki sisa umurmu.
نعوذ الله العظيم من الحور بعد الكور ومن العمى بعد البصيرة
MENGENTASKAN KEKAYAAN
Di tengah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, Rasulullah saw memutuskan untuk beristirahat sejenak. Ketika semua anggota rombongan mulai mengambil tempat untuk melepas lelah dan membuka perbekalan, tampak seorang laki-laki yang sibuk hilir mudik dekat beliau. Dari atas punggung unta yang terlihat sangat keletihan, lelaki itu melirik ke sana-kemari dengan pandangan mata yang sayu.
Rasulullah saw segera menangkap bahasa tubuh lelaki itu, maka dengan suara yang bergema dan penuh wibawa. Beliau berkata kepada seluruh sahabatnya,
“Siapa yang punya tunggangan (kendaraan) lebih, maka berikanlah kepada orang yang tidak punya kendaraan. Siapa yang punya perbekalan lebih, maka berikanlah kepada orang yang tidak punya perbekalan.” (HR. Muslim dan Abu Dawud).
Menurut Abu Sa`id al-Khudri, sahabat yang menuturkan kisah ini, selain dua jenis harta di atas, Rasulullah juga menyebut beberapa jenis harta lainnya yang mesti diperlakukan sama.
Karena begitu banyak jenis harta yang disebut, sempat terlintas dalam benak para sahabat, bahwa harta yang melebihi batas kebutuhan tidak lagi menjadi hak pemiliknya, melainkan harus diberikan kepada orang yang membutuhkan.
Peristiwa tersebut berlalu begitu cepat, tapi ajaran yang disampaikan Rasulullah saw membentuk pandangan hidup yang sangat mendalam tentang persoalan yang senantiasa aktual sepanjang waktu, yaitu kemiskinan dan kekayaan.
Fenomena miskin dan kaya diposisikan dalam Islam sebagai pasangan yang saling terkait dan tidak mungkin dipisahkan, sama seperti semua wujud ciptaan Allah di alam raya. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya,
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS adz-Dzariyat: 49)
Dengan demikian, miskin dan kaya adalah dua entitas yang tidak mungkin berdiri sendiri. Artinya, kemiskinan akan menjadi masalah jika kekayaan pun bermasalah. Generasi awal Islam memahami betul hal ini, baik dalam kapasitas individu maupun pemerintah.
Bahkan, jika boleh dibilang, mereka melihat sikap dan perilaku menyimpang orang-orang kaya adalah biang sebenarnya dari segala dampak buruk yang timbul dari kemiskinan. Tepatnya, ketika orang kaya tidak punya pandangan yang benar tentang konsep kekayaan dan tidak pernah merasa cukup karena cara konsumsi yang dipakainya tidak lepas dari israf atau tabdzir.
Maka akibatnya adalah, peredaran harta terbatas hanya pada segelintir orang kaya (dulatan bainal aghniya’), sementara orang-orang miskin tidak mendapatkan bagian yang cukup untuk sekedar mengisi perutnya.
Dalam as-Sunan al-Kubra, al-Baihaqi menuturkan pernyataan tegas Ali bin Abi Thalib ra, “Allah telah mewajibakan kepada orang-orang kaya agar memberikan hartanya sebanyak yang dapat mencukupi kebutuhan orang-orang miskin. Karena itu, jika orang-orang miskin itu kelaparan, tidak berpakaian dan menderita, maka penyebabnya adalah orang-orang kaya itu enggan memberi. Allah pasti akan menghisab dan mengazab mereka karena sikapnya itu.”
Pernyataan tegas Ali di atas mengandung banyak sekali pelajaran yang berharga untuk kita semua.
Pertama; Konsep mendasar tentang rezeki, bahwa Allah SWT menjamin rezeki seluruh manusia dengan meletakkan kecukupan bagi orang-orang miskin pada kelebihan harta orang-orang kaya.
Kedua; Harta yang wajib dikeluarkan orang-orang kaya pada dasarnya harus sesuai dengan kebutuhan orang-orang miskin, seperti makan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya. Konsekuensinya, jika zakat wajib tidak dapat mencukupi kebutuhan-kebutuhan tersebut maka orang-orang kaya masih berkewajiban mengeluarkan hartanya. Dan, inilah pandangan yang berkembang di masa generasi awal Islam. Abdullah bin Umar menyatakan, “Pada harta ada kewajiban selain zakat.”
Ketiga; Orang kaya yang bermasalah adalah biang dari berbagai dampak buruk yang timbul dari kemiskinan.
Di tengah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, Rasulullah saw memutuskan untuk beristirahat sejenak. Ketika semua anggota rombongan mulai mengambil tempat untuk melepas lelah dan membuka perbekalan, tampak seorang laki-laki yang sibuk hilir mudik dekat beliau. Dari atas punggung unta yang terlihat sangat keletihan, lelaki itu melirik ke sana-kemari dengan pandangan mata yang sayu.
Rasulullah saw segera menangkap bahasa tubuh lelaki itu, maka dengan suara yang bergema dan penuh wibawa. Beliau berkata kepada seluruh sahabatnya,
“Siapa yang punya tunggangan (kendaraan) lebih, maka berikanlah kepada orang yang tidak punya kendaraan. Siapa yang punya perbekalan lebih, maka berikanlah kepada orang yang tidak punya perbekalan.” (HR. Muslim dan Abu Dawud).
Menurut Abu Sa`id al-Khudri, sahabat yang menuturkan kisah ini, selain dua jenis harta di atas, Rasulullah juga menyebut beberapa jenis harta lainnya yang mesti diperlakukan sama.
Karena begitu banyak jenis harta yang disebut, sempat terlintas dalam benak para sahabat, bahwa harta yang melebihi batas kebutuhan tidak lagi menjadi hak pemiliknya, melainkan harus diberikan kepada orang yang membutuhkan.
Peristiwa tersebut berlalu begitu cepat, tapi ajaran yang disampaikan Rasulullah saw membentuk pandangan hidup yang sangat mendalam tentang persoalan yang senantiasa aktual sepanjang waktu, yaitu kemiskinan dan kekayaan.
Fenomena miskin dan kaya diposisikan dalam Islam sebagai pasangan yang saling terkait dan tidak mungkin dipisahkan, sama seperti semua wujud ciptaan Allah di alam raya. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya,
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS adz-Dzariyat: 49)
Dengan demikian, miskin dan kaya adalah dua entitas yang tidak mungkin berdiri sendiri. Artinya, kemiskinan akan menjadi masalah jika kekayaan pun bermasalah. Generasi awal Islam memahami betul hal ini, baik dalam kapasitas individu maupun pemerintah.
Bahkan, jika boleh dibilang, mereka melihat sikap dan perilaku menyimpang orang-orang kaya adalah biang sebenarnya dari segala dampak buruk yang timbul dari kemiskinan. Tepatnya, ketika orang kaya tidak punya pandangan yang benar tentang konsep kekayaan dan tidak pernah merasa cukup karena cara konsumsi yang dipakainya tidak lepas dari israf atau tabdzir.
Maka akibatnya adalah, peredaran harta terbatas hanya pada segelintir orang kaya (dulatan bainal aghniya’), sementara orang-orang miskin tidak mendapatkan bagian yang cukup untuk sekedar mengisi perutnya.
Dalam as-Sunan al-Kubra, al-Baihaqi menuturkan pernyataan tegas Ali bin Abi Thalib ra, “Allah telah mewajibakan kepada orang-orang kaya agar memberikan hartanya sebanyak yang dapat mencukupi kebutuhan orang-orang miskin. Karena itu, jika orang-orang miskin itu kelaparan, tidak berpakaian dan menderita, maka penyebabnya adalah orang-orang kaya itu enggan memberi. Allah pasti akan menghisab dan mengazab mereka karena sikapnya itu.”
Pernyataan tegas Ali di atas mengandung banyak sekali pelajaran yang berharga untuk kita semua.
Pertama; Konsep mendasar tentang rezeki, bahwa Allah SWT menjamin rezeki seluruh manusia dengan meletakkan kecukupan bagi orang-orang miskin pada kelebihan harta orang-orang kaya.
Kedua; Harta yang wajib dikeluarkan orang-orang kaya pada dasarnya harus sesuai dengan kebutuhan orang-orang miskin, seperti makan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya. Konsekuensinya, jika zakat wajib tidak dapat mencukupi kebutuhan-kebutuhan tersebut maka orang-orang kaya masih berkewajiban mengeluarkan hartanya. Dan, inilah pandangan yang berkembang di masa generasi awal Islam. Abdullah bin Umar menyatakan, “Pada harta ada kewajiban selain zakat.”
Ketiga; Orang kaya yang bermasalah adalah biang dari berbagai dampak buruk yang timbul dari kemiskinan.
Kini, di saat umat manusia semakin jauh dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya, masalah kemiskinan dan kekayaan tidak dipandang dengan jernih. Kemiskinan dipisahkan dari pasangannya, lalu disikapi dengan nyinyir dan dimusuhi sehingga harus diberantas atau sehalus-halusnya dientaskan.
Sementara kekayaan dan orang-orang kaya dibiarkan melenggang di atas pentas syuh (egoisme), israf dan tabdzir (hedonisme). Padahal, mengentaskan kemiskinan hanya akan menjadi jargon kosong, bahkan membuahkan pemiskinan, jika dilakukan dengan tanpa lebih dulu mengentaskan kekayaan.
(Ust Asep Sobari)
Sementara kekayaan dan orang-orang kaya dibiarkan melenggang di atas pentas syuh (egoisme), israf dan tabdzir (hedonisme). Padahal, mengentaskan kemiskinan hanya akan menjadi jargon kosong, bahkan membuahkan pemiskinan, jika dilakukan dengan tanpa lebih dulu mengentaskan kekayaan.
(Ust Asep Sobari)
*UNTUK YANG KESIANGAN SHOLAT SUBUH*
Dalam hadits disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ان النبي صلى الله عليه و سلم قال ركعتي الفجر خير من الدنيا وما فيها
*_Dua rakaat sholat subuh fajar yaitu sholat sunnah qobliyah subuh, lebih baik dari dunia dan seisinya.
Mana yang lebih agung, sholat sunnah atau sholat fardhu? sunnah qobliyah subuh atau sholat fardhu subuh?
Allah berfirman dalam hadits Qudsi:
ما تقرب الي عبدي بشيء احب الي مما افترضته عليه
*_Tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaKu yang lebih Aku cintai daripada dengan apa yang Aku wajibkan._*
Maka, jika sholat sunnah qobliyah subuh lebih baik dari dunia dan seisinya, lalu bagaimana sholat fardhu subuh? Bagaimana kedudukan sholat fardhu subuh?
Di sini, kita dapat mengetahui kerugian besar yang didapat oleh orang yang tidur dan tertinggal sholat subuh. Sungguh ia telah kehilangan dunia seluruhnya. Bahkan ia kehilangan apa yang lebih baik dari dunia seluruhnya.
Sekarang jika ditawarkan kepada seseorang salah satu kenikmatan dunia yang fana ini dan ia dipanggil kepadanya di waktu pagi-pagi buta, pasti ia bersegera pergi kepadanya dengan cepat, agar ia tidak melewatkan kenikmatan dunia yang sedikit itu.
Jadi, orang yang melewatkan sholat sunnah qobliyah subuh, berarti ia telah melewatkan pada hari itu sesuatu yang lebih baik dari duni dan seisinya.
Dan jika ia melewatkan sholat fardhu subuh, maka bayangkan apa yang telah ia lewatkan? Jika yang sunnah saja lebih baik dari dunia dan seisinya, maka lihatlah kerugian besar yang didaaptkan oleh orang yang melewatkan sholat sunnah qobliyah subuh dan juga sholat subuh.
Subhaanallah, orang yang dimuliakan oleh Allah dengan dapat memegang awal hari.
Sebagian para salaf berkata:
يومك مثل جملك إن امسكت اوله تبعك أخره
*_Harimu seperti untamu. Jika kamu memegang permulaannya, maka akhirnya juga akan mengikutinya._*
Jika seorang hamba mendapat taufik untuk dapat memegang hari sejak awal waktunya, bagaimana cara memegang hari sejak awal waktunya? Memegang hari sejak awal waktunya yaitu dengan mengerjakan sholat sunnah qobliyah subuh dan sholat subuh.
Jika ia memegang hari sejak awal waktunya, maka ia akan dijaga dan diberi kecukupan sepanjang hari.
Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Azza wa Jalla berfirman:
يقول الله عز وجل ابن أدم إركع لي اربع ركعات من اول النهارأكفك أخره
*_Wahai anak Adam, sholatlah untukKu 4 rakaat di pagi hari, maka Aku akan memberimu kecukupan hingga akhir hari._* (HR. at Titmidzi-hadits shahih)
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
هما عندي نافلة الفجر وفريضتها أوفريضة الفجر وسنتها
*_Menurutku yang di maksud adalah sholat sunnah qobliyah subuh dan sholat subuh atau sholat subuh dan sholat sunnahnya._*
Oleh karena itu, orang yang diberi taufik oleh Allah untuk menjaga pelaksanaan sholat sunnah dan fardhu subuh ini, ia akan diberi kecukupan sepanjang hari. Dan disebutkan dalam hadits lain *_maka ia berada dalam perlindungan Allah_*, yakni dalam penjagaan dan pengawasan Allah.
Jadi orang yang melalaikan sholat ini akan mendapatkan kerugian yang besar.
Dalam hadits lain disebutkan:
قالت عاءشة رضي الله عنها ما رايت رسول الله صلى الله عليه وسلم في شيء نوافل اسرع منه الى الركعتين قبل الفجر
*_'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata,"Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat bersegera melebihi ketika untuk mengerjakan sholat sunnah qobliyah subuh._*
Diriwayatkan juga bahwa Nabi 'alaihis sholaatu wassalaam:
أن النبي عليه الصلاة والسلام ماترك هاتين الركعتين لا في سفر ولا في حضر
*_Tidak pernah meninggalkan dua rakaat sebelum subuh ini baik ketika beliau sedang safar atau bermukim._*
Semoga Allah menjadikan kita bermanfaat dan memberi taufik menuju segala kebaikan.
Dalam hadits disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ان النبي صلى الله عليه و سلم قال ركعتي الفجر خير من الدنيا وما فيها
*_Dua rakaat sholat subuh fajar yaitu sholat sunnah qobliyah subuh, lebih baik dari dunia dan seisinya.
Mana yang lebih agung, sholat sunnah atau sholat fardhu? sunnah qobliyah subuh atau sholat fardhu subuh?
Allah berfirman dalam hadits Qudsi:
ما تقرب الي عبدي بشيء احب الي مما افترضته عليه
*_Tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaKu yang lebih Aku cintai daripada dengan apa yang Aku wajibkan._*
Maka, jika sholat sunnah qobliyah subuh lebih baik dari dunia dan seisinya, lalu bagaimana sholat fardhu subuh? Bagaimana kedudukan sholat fardhu subuh?
Di sini, kita dapat mengetahui kerugian besar yang didapat oleh orang yang tidur dan tertinggal sholat subuh. Sungguh ia telah kehilangan dunia seluruhnya. Bahkan ia kehilangan apa yang lebih baik dari dunia seluruhnya.
Sekarang jika ditawarkan kepada seseorang salah satu kenikmatan dunia yang fana ini dan ia dipanggil kepadanya di waktu pagi-pagi buta, pasti ia bersegera pergi kepadanya dengan cepat, agar ia tidak melewatkan kenikmatan dunia yang sedikit itu.
Jadi, orang yang melewatkan sholat sunnah qobliyah subuh, berarti ia telah melewatkan pada hari itu sesuatu yang lebih baik dari duni dan seisinya.
Dan jika ia melewatkan sholat fardhu subuh, maka bayangkan apa yang telah ia lewatkan? Jika yang sunnah saja lebih baik dari dunia dan seisinya, maka lihatlah kerugian besar yang didaaptkan oleh orang yang melewatkan sholat sunnah qobliyah subuh dan juga sholat subuh.
Subhaanallah, orang yang dimuliakan oleh Allah dengan dapat memegang awal hari.
Sebagian para salaf berkata:
يومك مثل جملك إن امسكت اوله تبعك أخره
*_Harimu seperti untamu. Jika kamu memegang permulaannya, maka akhirnya juga akan mengikutinya._*
Jika seorang hamba mendapat taufik untuk dapat memegang hari sejak awal waktunya, bagaimana cara memegang hari sejak awal waktunya? Memegang hari sejak awal waktunya yaitu dengan mengerjakan sholat sunnah qobliyah subuh dan sholat subuh.
Jika ia memegang hari sejak awal waktunya, maka ia akan dijaga dan diberi kecukupan sepanjang hari.
Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Azza wa Jalla berfirman:
يقول الله عز وجل ابن أدم إركع لي اربع ركعات من اول النهارأكفك أخره
*_Wahai anak Adam, sholatlah untukKu 4 rakaat di pagi hari, maka Aku akan memberimu kecukupan hingga akhir hari._* (HR. at Titmidzi-hadits shahih)
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
هما عندي نافلة الفجر وفريضتها أوفريضة الفجر وسنتها
*_Menurutku yang di maksud adalah sholat sunnah qobliyah subuh dan sholat subuh atau sholat subuh dan sholat sunnahnya._*
Oleh karena itu, orang yang diberi taufik oleh Allah untuk menjaga pelaksanaan sholat sunnah dan fardhu subuh ini, ia akan diberi kecukupan sepanjang hari. Dan disebutkan dalam hadits lain *_maka ia berada dalam perlindungan Allah_*, yakni dalam penjagaan dan pengawasan Allah.
Jadi orang yang melalaikan sholat ini akan mendapatkan kerugian yang besar.
Dalam hadits lain disebutkan:
قالت عاءشة رضي الله عنها ما رايت رسول الله صلى الله عليه وسلم في شيء نوافل اسرع منه الى الركعتين قبل الفجر
*_'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata,"Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat bersegera melebihi ketika untuk mengerjakan sholat sunnah qobliyah subuh._*
Diriwayatkan juga bahwa Nabi 'alaihis sholaatu wassalaam:
أن النبي عليه الصلاة والسلام ماترك هاتين الركعتين لا في سفر ولا في حضر
*_Tidak pernah meninggalkan dua rakaat sebelum subuh ini baik ketika beliau sedang safar atau bermukim._*
Semoga Allah menjadikan kita bermanfaat dan memberi taufik menuju segala kebaikan.
*NASIHAT UNTUK PARA PEKERJA*
(_Syaikh Sa'ad bin Nashir Asy-Syatsri_ )
Allah berfirman:
*_Wahai orang-orang yang beriman, tepatilah perjanjian._* (QS. al Maidah:1)
Setiap pekerja yang terikat kontrak, ia wajib mematuhi kontrak tersebut, dan wajib menjalankan tugasnya dengan baik. Dengan demikian ia telah mentaati atasannya, dan menjadikan penghasilannya halal.
Kemudian, setiap pekerja hendaknya meniatkan kerjanya itu sebagai ibadah kepada Allah SWT.
Saya ingin menekankan poin penting yaitu hendaknya akhirat selalu menjadi tujuan seluruh pekerjaan seorang hamba, ketika ia melakukan pekerjaannya, apapun itu. Ia niatkan untuk beribadah kepada Allah Jalla wa 'alaa. Ia jadikan hal itu sebagai saran menggapai ridho Allah.
Orang yang melakukan pekerjaan sesuai tuntunan, lalu meniatkannya untuk mendapat pahala akhirat, maka ini akan menjadi sebab keridhoan Allah atasnya, dan sebab meraih kedudukan yang tinggi di surga.
Saya tekankan poin penting lain, sekali lagi, jadikanlah akhirat selalu ada di depan mata kita. Caranya dengan meniatkan seluruh gerak-gerik kita untuk kebaikan di akhirat.
Allah berfirman:
*_Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia, Kami segerakan baginya apa yang Kami kehendaki. Tapi bagi siapa yang Kami kehendaki saja. Kemudian Kami masukkan ia ke neraka jahannam dalam keadaan tercela dan terusir._*
*_Barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha meraihnya dalam keadaan ia beriman, mereka itulah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik._* (QS. al Isra:18-19)
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
(_Syaikh Sa'ad bin Nashir Asy-Syatsri_ )
Allah berfirman:
*_Wahai orang-orang yang beriman, tepatilah perjanjian._* (QS. al Maidah:1)
Setiap pekerja yang terikat kontrak, ia wajib mematuhi kontrak tersebut, dan wajib menjalankan tugasnya dengan baik. Dengan demikian ia telah mentaati atasannya, dan menjadikan penghasilannya halal.
Kemudian, setiap pekerja hendaknya meniatkan kerjanya itu sebagai ibadah kepada Allah SWT.
Saya ingin menekankan poin penting yaitu hendaknya akhirat selalu menjadi tujuan seluruh pekerjaan seorang hamba, ketika ia melakukan pekerjaannya, apapun itu. Ia niatkan untuk beribadah kepada Allah Jalla wa 'alaa. Ia jadikan hal itu sebagai saran menggapai ridho Allah.
Orang yang melakukan pekerjaan sesuai tuntunan, lalu meniatkannya untuk mendapat pahala akhirat, maka ini akan menjadi sebab keridhoan Allah atasnya, dan sebab meraih kedudukan yang tinggi di surga.
Saya tekankan poin penting lain, sekali lagi, jadikanlah akhirat selalu ada di depan mata kita. Caranya dengan meniatkan seluruh gerak-gerik kita untuk kebaikan di akhirat.
Allah berfirman:
*_Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia, Kami segerakan baginya apa yang Kami kehendaki. Tapi bagi siapa yang Kami kehendaki saja. Kemudian Kami masukkan ia ke neraka jahannam dalam keadaan tercela dan terusir._*
*_Barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha meraihnya dalam keadaan ia beriman, mereka itulah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik._* (QS. al Isra:18-19)
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*MOTIVASI BEKERJA DARI ALQURAN*
Allah berfirman:
فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوۡا فِى الۡاَرۡضِ وَابۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِ اللّٰهِ وَاذۡكُرُوا اللّٰهَ كَثِيۡرًا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
*_Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan banyaklah berdzikir mengingat Allah agar kalian beruntung._* (QS. al Jumu'ah:10)
Dan carilah karunia Allah, maksudnya adalah mencari rezeki setelah selesai beribadah.
Ayat ini menunjukkan bahwa syariat Islam memotivasi umatnya untuk bekerja, baik sebagai pedagang, karyawan maupun produsen.
Setiap orang akan dimudahkan sesuai suratan takdirnya. Namun seorang hamba seharusnya berusaha sekuat tenaga untuk mengusahakan sebabnya walaupun dengan usaha yang sedikit meskipun hanya mencari kayu bakar (untuk dijual).
Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit dengan izin dan taufiq dari Allah Jalla wa 'Alaa.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
Allah berfirman:
فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوۡا فِى الۡاَرۡضِ وَابۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِ اللّٰهِ وَاذۡكُرُوا اللّٰهَ كَثِيۡرًا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
*_Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan banyaklah berdzikir mengingat Allah agar kalian beruntung._* (QS. al Jumu'ah:10)
Dan carilah karunia Allah, maksudnya adalah mencari rezeki setelah selesai beribadah.
Ayat ini menunjukkan bahwa syariat Islam memotivasi umatnya untuk bekerja, baik sebagai pedagang, karyawan maupun produsen.
Setiap orang akan dimudahkan sesuai suratan takdirnya. Namun seorang hamba seharusnya berusaha sekuat tenaga untuk mengusahakan sebabnya walaupun dengan usaha yang sedikit meskipun hanya mencari kayu bakar (untuk dijual).
Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit dengan izin dan taufiq dari Allah Jalla wa 'Alaa.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*SOLUSI PERMASALAHAN KELUARGA*
(_Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily_ )
Metode syar'i dalam menyelesaikan problematika rumah tangga, haruslah dilakukan dengan cara bertahap. Langkah pertama adalah:
1. Suami istri memperbincangkan masalah mereka dari hati ke hati, tanpa ada campur tangan pihak lain sama sekali.
Langkah pertama untuk menyelesaikan problematika rumah tangga, hanya terbatas pada suami dan istri saja. Dengan berdiskusi dari hati ke hati menggunakan perasaan, akal sehat dan hati nurani (tanpa emosi), tanpa ada campur tangan pihak lain sama sekali. Pada tahap ini suami istri saling memberi kritik dan saran dari hati ke hati.
2. Membuat peraturan (kesepakatan) bersama untuk mengantisipasi kesalahan serupa terulang.
3. Mengambil seorang penengah dari pihak keluarga, yang mana suami istri sepakat bahwa ia adalah seorang yang baik dan bijaksana, untuk membantu menyelesaikan masalah dan mendamaikan mereka. Sangat tidak disarankan untuk memperbanyak jumlah orang yang menengahi mereka, kecuali dalam keadaan darurat saja.
Sekarang ini karena mudahnya telekomunikasi terkadang ada keluarga, yang menceritakan masalah keluarganya kepada setiap orang, tanpa ada keperluan sama sekali. Akhirnya paman, bibi dan lain-lain banyak yang mengetahuinya. Bahkan terkadang para syaikh juga mengetahuinya.
Seperti ini sama sekali tidak bagus. Saya katakan apabila wanita shalihah itu adalah wanita yang tidak Khorrojah dan Wallajah yaitu tidak banyak keluar rumah tanpa ada keperluan. Begitu juga ia tidak banyak menelpon laki-laki, kecuali apabila ada perlu, itu pun hanya sebatas kadar yang diperlukan.
Intinya disarankan agar mengambil seorang penengah, dari kalangan keluarga suami atau keluarga istri, yang orang tersebut diketahui memiliki kebaikan, ilmu, kebijaksanaan dan sifat tidak tergesa-gesa. Begitu juga disarankan agar tidak membocorkan permasalahan mereka ke banyak orang.
Apabila metode syar'i ini digunakan oleh setiap pasangan suami istri yang sedang bermasalah hingga menuju perpecahan/perceraian, tentu banyak sekali problematika yang dapat teratasi, terselesaikan dan tidak menimbulkan efek buruk. Dan kita juga tidak akan menjumpai permusuhan antara suami dan istri, banyaknya keretakan, perpisahan dan putusnya hubungan kekeluargaan.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
(_Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily_ )
Metode syar'i dalam menyelesaikan problematika rumah tangga, haruslah dilakukan dengan cara bertahap. Langkah pertama adalah:
1. Suami istri memperbincangkan masalah mereka dari hati ke hati, tanpa ada campur tangan pihak lain sama sekali.
Langkah pertama untuk menyelesaikan problematika rumah tangga, hanya terbatas pada suami dan istri saja. Dengan berdiskusi dari hati ke hati menggunakan perasaan, akal sehat dan hati nurani (tanpa emosi), tanpa ada campur tangan pihak lain sama sekali. Pada tahap ini suami istri saling memberi kritik dan saran dari hati ke hati.
2. Membuat peraturan (kesepakatan) bersama untuk mengantisipasi kesalahan serupa terulang.
3. Mengambil seorang penengah dari pihak keluarga, yang mana suami istri sepakat bahwa ia adalah seorang yang baik dan bijaksana, untuk membantu menyelesaikan masalah dan mendamaikan mereka. Sangat tidak disarankan untuk memperbanyak jumlah orang yang menengahi mereka, kecuali dalam keadaan darurat saja.
Sekarang ini karena mudahnya telekomunikasi terkadang ada keluarga, yang menceritakan masalah keluarganya kepada setiap orang, tanpa ada keperluan sama sekali. Akhirnya paman, bibi dan lain-lain banyak yang mengetahuinya. Bahkan terkadang para syaikh juga mengetahuinya.
Seperti ini sama sekali tidak bagus. Saya katakan apabila wanita shalihah itu adalah wanita yang tidak Khorrojah dan Wallajah yaitu tidak banyak keluar rumah tanpa ada keperluan. Begitu juga ia tidak banyak menelpon laki-laki, kecuali apabila ada perlu, itu pun hanya sebatas kadar yang diperlukan.
Intinya disarankan agar mengambil seorang penengah, dari kalangan keluarga suami atau keluarga istri, yang orang tersebut diketahui memiliki kebaikan, ilmu, kebijaksanaan dan sifat tidak tergesa-gesa. Begitu juga disarankan agar tidak membocorkan permasalahan mereka ke banyak orang.
Apabila metode syar'i ini digunakan oleh setiap pasangan suami istri yang sedang bermasalah hingga menuju perpecahan/perceraian, tentu banyak sekali problematika yang dapat teratasi, terselesaikan dan tidak menimbulkan efek buruk. Dan kita juga tidak akan menjumpai permusuhan antara suami dan istri, banyaknya keretakan, perpisahan dan putusnya hubungan kekeluargaan.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*NAK, INI CALON SUAMIMU*
Ada seorang laki-laki datang kepada al Hasan bin Ali (semoga Allah meridhoinya da juga meridhoi bapaknya). Laki-laki tersebut berkata:
*_Aku punya seorang putri. Menurutmu, dengan siapa aku harus menikahkan putriku tersebut? aku memiliki seorang putri, menurutmu, dengan siapa aku harus menikahkan putriku tersebut?_*
Maka, al Hasan pun menjawab:
*_Nikahkan putrimu dengan seorang yang takut kepada Allah azza a jalla. Karena jika ia mencintainya pasti ia akan memuliakannya. Namun jika ia membencinya, pasti dia tidak akan mezaliminya_*.
Nikahkan putrimu dengan seorang yang takut kepada Allah azza wa jalla. Karena jika ia mencintainya, maka dia akan memuliakannya.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
Ada seorang laki-laki datang kepada al Hasan bin Ali (semoga Allah meridhoinya da juga meridhoi bapaknya). Laki-laki tersebut berkata:
*_Aku punya seorang putri. Menurutmu, dengan siapa aku harus menikahkan putriku tersebut? aku memiliki seorang putri, menurutmu, dengan siapa aku harus menikahkan putriku tersebut?_*
Maka, al Hasan pun menjawab:
*_Nikahkan putrimu dengan seorang yang takut kepada Allah azza a jalla. Karena jika ia mencintainya pasti ia akan memuliakannya. Namun jika ia membencinya, pasti dia tidak akan mezaliminya_*.
Nikahkan putrimu dengan seorang yang takut kepada Allah azza wa jalla. Karena jika ia mencintainya, maka dia akan memuliakannya.
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
*JANGAN PERNAH BERHENTI ATAU MEMBATALKAN SEBUAH KARYA*
فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain
Jangan pernah membatalkan niat baik atau sebuah karya. Berhenti sebelum selesai di akhirnya. Tuntaskan, untuk kemudian bangkit kembali dan siap mengukir karya-karya berikutnya.
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب
dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
Gantungkan semua harapan. Ketahuilah bahwa kesuksesan, keberhasilan menuntaskan karya ini adalah atas kehendak Allah, maka berdoalah, mohon agar Allah memberikan keistiqomahan, kekuatan dan kemauan yang kuat untuk menyelesaikan tugas untuk menyongsong tugas-tugas berikutnya demi lahirnya karya-karya selanjutnya.
Semoga Allah menjadikan *SEKOLAH KONSELOR KELUARGA* ini sebuah karya besar untuk umat Islam, mampu mengisi ruang-ruang kosong, demi tegaknya fondasi Islam dan peradaban Islam, aamiin.
*AlWahdah-Sekolah Konselor Keluarga*
فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain
Jangan pernah membatalkan niat baik atau sebuah karya. Berhenti sebelum selesai di akhirnya. Tuntaskan, untuk kemudian bangkit kembali dan siap mengukir karya-karya berikutnya.
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب
dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
Gantungkan semua harapan. Ketahuilah bahwa kesuksesan, keberhasilan menuntaskan karya ini adalah atas kehendak Allah, maka berdoalah, mohon agar Allah memberikan keistiqomahan, kekuatan dan kemauan yang kuat untuk menyelesaikan tugas untuk menyongsong tugas-tugas berikutnya demi lahirnya karya-karya selanjutnya.
Semoga Allah menjadikan *SEKOLAH KONSELOR KELUARGA* ini sebuah karya besar untuk umat Islam, mampu mengisi ruang-ruang kosong, demi tegaknya fondasi Islam dan peradaban Islam, aamiin.
*AlWahdah-Sekolah Konselor Keluarga*
*3 AMALAN HATI*
Tiga perasaan hati yang harus ada saat ibadah:
1) almahabbah (cinta)
2) Arroja-u (harap)
3) alKhouf (takut)
Tiga perasaan ini harus ada setiap kali engkau beribadah. Saat sholat, engkau cinta Allah, berharap pahalaNya dan takut siksaNya. Saat puasa, engkau cinta Allah, berharap pahalaNya dan takut siksaNya. Dan begitu seterusnya.
Semua ibadah harus dihadiri 3 perasaan ini. Cinta, harap dan takut. Tiga perasaan ini terkumpul dalam 1 ayat firman Allah:
*3 AMALAN HATI*
Tiga perasaan hati yang harus ada saat ibadah:
1) almahabbah (cinta)
2) Arroja-u (harap)
3) alKhouf (takut)
Tiga perasaan ini harus ada setiap kali engkau beribadah. Saat sholat, engkau cinta Allah, berharap pahalaNya dan takut siksaNya. Saat puasa, engkau cinta Allah, berharap pahalaNya dan takut siksaNya. Dan begitu seterusnya.
Semua ibadah harus dihadiri 3 perasaan ini. Cinta, harap dan takut. Tiga perasaan ini terkumpul dalam 1 ayat firman Allah:
*_Bahkan orang yang mereka jadikan tuhan, malah mencari jalan untuk dekat kepada Allah, berharap rahmatNya dan takut adzabNya. Sungguh, adzab Rabbmu perlu engkau takuti._* (QS. al Isra:57)
Dan juga 3 perasaan ini terkumpul dalam QS. al Fatihah, dalam ayat:
*_Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam_*
ada rasa cinta.
Dalam ayat:
*_Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang_
Ada rasa harap.
Dalam ayat:
*_Yang menguasai hari pembalasan_*
Ada rasa takut.
Dengan perasaan ini kita berkata:
*_Hanya kepadaMu (Ya Allah) aku beribadah kepadaMu karena:
1) Cinta. Sebagaimana dalam ayat:
*_Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam_*.
2) Karena rasa harap. Sebagaimana dalam ayat:
*_Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang_*.
3) Karena rasa takut, sebagaimana dalam ayat:
*_Yang Menguasai hari pembalasan_*.
اُولٰۤٮِٕكَ الَّذِيۡنَ يَدۡعُوۡنَ يَبۡتَغُوۡنَ اِلٰى رَبِّهِمُ الۡوَسِيۡلَةَ اَيُّهُمۡ اَقۡرَبُ وَيَرۡجُوۡنَ رَحۡمَتَهٗ وَيَخَافُوۡنَ عَذَابَهٗؕ اِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُوۡرًا
*_Bahkan orang yang mereka jadikan tuhan, malah mencari jalan untuk dekat kepada Allah, berharap rahmatNya dan takut adzabNya. Sungguh, adzab Rabbmu perlu engkau takuti._* (QS. al Isra:57)
Dan juga 3 perasaan ini terkumpul dalam QS. al Fatihah, dalam ayat:
*_Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam_*
ada rasa cinta.
Dalam ayat:
*_Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang_
Ada rasa harap.
Dalam ayat:
*_Yang menguasai hari pembalasan_*
Ada rasa takut.
Dengan perasaan ini kita berkata:
*_Hanya kepadaMu (Ya Allah), aku beribadah kepadaMu karena:
1) Cinta. Sebagaimana dalam ayat:
الحمد لله رب العالمين
2) Karena rasa harap. Sebagaimana dalam ayat:
الرحمن الرحيم
3) Karena rasa takut, sebagaimana dalam ayat:
ملك يوم الدين
Tiga perasaan hati yang harus ada saat ibadah:
1) almahabbah (cinta)
2) Arroja-u (harap)
3) alKhouf (takut)
Tiga perasaan ini harus ada setiap kali engkau beribadah. Saat sholat, engkau cinta Allah, berharap pahalaNya dan takut siksaNya. Saat puasa, engkau cinta Allah, berharap pahalaNya dan takut siksaNya. Dan begitu seterusnya.
Semua ibadah harus dihadiri 3 perasaan ini. Cinta, harap dan takut. Tiga perasaan ini terkumpul dalam 1 ayat firman Allah:
*3 AMALAN HATI*
Tiga perasaan hati yang harus ada saat ibadah:
1) almahabbah (cinta)
2) Arroja-u (harap)
3) alKhouf (takut)
Tiga perasaan ini harus ada setiap kali engkau beribadah. Saat sholat, engkau cinta Allah, berharap pahalaNya dan takut siksaNya. Saat puasa, engkau cinta Allah, berharap pahalaNya dan takut siksaNya. Dan begitu seterusnya.
Semua ibadah harus dihadiri 3 perasaan ini. Cinta, harap dan takut. Tiga perasaan ini terkumpul dalam 1 ayat firman Allah:
*_Bahkan orang yang mereka jadikan tuhan, malah mencari jalan untuk dekat kepada Allah, berharap rahmatNya dan takut adzabNya. Sungguh, adzab Rabbmu perlu engkau takuti._* (QS. al Isra:57)
Dan juga 3 perasaan ini terkumpul dalam QS. al Fatihah, dalam ayat:
*_Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam_*
ada rasa cinta.
Dalam ayat:
*_Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang_
Ada rasa harap.
Dalam ayat:
*_Yang menguasai hari pembalasan_*
Ada rasa takut.
Dengan perasaan ini kita berkata:
*_Hanya kepadaMu (Ya Allah) aku beribadah kepadaMu karena:
1) Cinta. Sebagaimana dalam ayat:
*_Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam_*.
2) Karena rasa harap. Sebagaimana dalam ayat:
*_Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang_*.
3) Karena rasa takut, sebagaimana dalam ayat:
*_Yang Menguasai hari pembalasan_*.
اُولٰۤٮِٕكَ الَّذِيۡنَ يَدۡعُوۡنَ يَبۡتَغُوۡنَ اِلٰى رَبِّهِمُ الۡوَسِيۡلَةَ اَيُّهُمۡ اَقۡرَبُ وَيَرۡجُوۡنَ رَحۡمَتَهٗ وَيَخَافُوۡنَ عَذَابَهٗؕ اِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُوۡرًا
*_Bahkan orang yang mereka jadikan tuhan, malah mencari jalan untuk dekat kepada Allah, berharap rahmatNya dan takut adzabNya. Sungguh, adzab Rabbmu perlu engkau takuti._* (QS. al Isra:57)
Dan juga 3 perasaan ini terkumpul dalam QS. al Fatihah, dalam ayat:
*_Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam_*
ada rasa cinta.
Dalam ayat:
*_Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang_
Ada rasa harap.
Dalam ayat:
*_Yang menguasai hari pembalasan_*
Ada rasa takut.
Dengan perasaan ini kita berkata:
*_Hanya kepadaMu (Ya Allah), aku beribadah kepadaMu karena:
1) Cinta. Sebagaimana dalam ayat:
الحمد لله رب العالمين
2) Karena rasa harap. Sebagaimana dalam ayat:
الرحمن الرحيم
3) Karena rasa takut, sebagaimana dalam ayat:
ملك يوم الدين
*VAKSIN COVID YANG KITA IKUTI APAKAH SEBUAH AMAL SHALIH?*
Tentunya kita menginginkan setiap aktivitas yang kita lakukan adalah aktivitas yang bernilai ibadah. Seorang ulama memberi nasihat emasnya, dengan mengatakan اجعل حياتك كلها لله(jadikanlah seluruh kehidupanmu adalah dalam rangka ibadah semata hanya untuk Allah).
Jika gaya hidup seperti ini dapat kita biasakan, maka wallahi, semua kehidupan kita akan amal shalih. Namun perlu diperhatikan bahwa tidak semua amalan itu akan menjadi amal shalih, alih-alih ingin menjadikan kehidupan yang berisi aktivitas-aktivitas yang bernilai amal shalih malah menjadi amal salah. Maka perlu kita ketahui dan kita ilmui bersama syarat amal itu menjadi amal shalih.
_Syarat Amal Shalih_
Syarat sebuah amal/aktivitas kita itu adalah amal shalih harus memenuhi dua syarat ini:
1) Amal/aktivitas yang kita lakukan diniatkan karena Allah. Kita melakukan aktivitas atau amalan tersebut pertama kali yang terlintas di hati adalah karena Allah, bukan karena sebab yang lain.
2) Amal/aktivitas yang mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (Ittiba-ur Rasuul). Kalau ia adalah amalan ibadah mahdhah, maka kita mengikuti sesuai yang dcontohkan Rasul, jika ia adalah amalan dunia, maka amalan itu masuk kategori itqonul amal (amal yang profesional,amanah dan dikerjakan dengan penuh tanggungjawab).
Pertanyaannya sekarang adalah apa niat anda dalam mengikuti vaksinasi covid 19? baik yang sudah 2 kali, bahkan sudah ada yang sampai vaksin boster? apa niat anda? apakah masuk dalam list di bawah ini;
1) Biar mudah beraktivitas
2) Takut ditegur atasan
3) Biar bisa DL ke luar kota naik pesawat dan menginap di hotel
4) Takut sanksi dari pemerintah
5) Takut diturunkan dari jabatan
6) Takut kehilangan order/kerjaan
7) dan lain sebagainya
Kalau semua poin di atas adalah alasan kita ikut vaksinasi covid 19, mari kita istighfar bareng dan bertaubat bareng, ternyata aktivitas kita semua masih tak lepas dari dunia.
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).(al Bayyinah:5)
162. Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,
163. tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).(QS. al An'aam:162-163)
*_Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar._* (An Nisaa:114)
Inilah dalil-dalil dari amalan hati yang disebut *IKHLAS*. Ikhlas adalah kamu beramal untuk mencari ridho Allah (ان تريد بأعمالك رضاالله) dan meraih pahala akhirat (والحصول على اجر الاخره).
Jangan sampai kita menyia-nyiakan amal kita, gara-gara tidak memiliki ilmu tentang hal ini. Jadikanlah seluruh kehidupan kita untuk Allah.
والله اعلم بالصواب
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*
Tentunya kita menginginkan setiap aktivitas yang kita lakukan adalah aktivitas yang bernilai ibadah. Seorang ulama memberi nasihat emasnya, dengan mengatakan اجعل حياتك كلها لله(jadikanlah seluruh kehidupanmu adalah dalam rangka ibadah semata hanya untuk Allah).
Jika gaya hidup seperti ini dapat kita biasakan, maka wallahi, semua kehidupan kita akan amal shalih. Namun perlu diperhatikan bahwa tidak semua amalan itu akan menjadi amal shalih, alih-alih ingin menjadikan kehidupan yang berisi aktivitas-aktivitas yang bernilai amal shalih malah menjadi amal salah. Maka perlu kita ketahui dan kita ilmui bersama syarat amal itu menjadi amal shalih.
_Syarat Amal Shalih_
Syarat sebuah amal/aktivitas kita itu adalah amal shalih harus memenuhi dua syarat ini:
1) Amal/aktivitas yang kita lakukan diniatkan karena Allah. Kita melakukan aktivitas atau amalan tersebut pertama kali yang terlintas di hati adalah karena Allah, bukan karena sebab yang lain.
2) Amal/aktivitas yang mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (Ittiba-ur Rasuul). Kalau ia adalah amalan ibadah mahdhah, maka kita mengikuti sesuai yang dcontohkan Rasul, jika ia adalah amalan dunia, maka amalan itu masuk kategori itqonul amal (amal yang profesional,amanah dan dikerjakan dengan penuh tanggungjawab).
Pertanyaannya sekarang adalah apa niat anda dalam mengikuti vaksinasi covid 19? baik yang sudah 2 kali, bahkan sudah ada yang sampai vaksin boster? apa niat anda? apakah masuk dalam list di bawah ini;
1) Biar mudah beraktivitas
2) Takut ditegur atasan
3) Biar bisa DL ke luar kota naik pesawat dan menginap di hotel
4) Takut sanksi dari pemerintah
5) Takut diturunkan dari jabatan
6) Takut kehilangan order/kerjaan
7) dan lain sebagainya
Kalau semua poin di atas adalah alasan kita ikut vaksinasi covid 19, mari kita istighfar bareng dan bertaubat bareng, ternyata aktivitas kita semua masih tak lepas dari dunia.
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).(al Bayyinah:5)
162. Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,
163. tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).(QS. al An'aam:162-163)
*_Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar._* (An Nisaa:114)
Inilah dalil-dalil dari amalan hati yang disebut *IKHLAS*. Ikhlas adalah kamu beramal untuk mencari ridho Allah (ان تريد بأعمالك رضاالله) dan meraih pahala akhirat (والحصول على اجر الاخره).
Jangan sampai kita menyia-nyiakan amal kita, gara-gara tidak memiliki ilmu tentang hal ini. Jadikanlah seluruh kehidupan kita untuk Allah.
والله اعلم بالصواب
*AlWahdah - Sekolah Konselor Keluarga*