BERILMU DENGAN BUKU
63 subscribers
738 photos
27 videos
20 files
532 links
Channel edukasi seputar Aqidah, Ibadah, Muamalah, Pengembangan diri dan Keluarga, Bisnis, Marketing dan Rekomendasi Buku
Download Telegram
*MERAWAT CUSTOMER*


Dalam bisnis tidak semata-mata bicara profit, namun bisnis adalah membangun hubungan. Dengan siapa? salah satunya adalah dengan customernya. Benar bisnis itu untuk cari untung, tapi jangan pernah lupakan hubungan ini (customer relationship). Survey mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang bertahan hingga 10 tahun, mendapatkan profit, 70% dari customer lama yang dirawat (existing customer), sisanya 30% adalah dari customer baru.

Kalau seorang customer sudah sangat enjoy dengan kita, sudah merasakan feelnya kita, maka dia akan menjadi loyalis kita. Kemanapun kita, apapun yang kita jual, akan dibelinya.

Contoh kasus, google. Yang satu ini memang sangat memanjakan customernya bahkan belum jadi customernya. Dari email saja, seseorang bisa bikin puluhan hingga ratusan email, gratis. Gak hanya itu, dalam penyimpanan data, masing-masing akun dikasi 15 GB, free.

Tanda-tanda konsumen loyalis adalah dia akan mudah menshare, me like, komen konten-konten kita dan yang bikin kita happy adalah dia rela mereview positif bisnis kita. Kalau di platform hari ini ada namanya rating, loyalis konsumen pasti akan beri kita bintang 5.

Berpikirlah sebagaimana konsumen, bukan apa kata kita. Belum lama viral seorang penumpang gojek, yang memberi bintang 1 kepada gojeker, hanya karena dia (wanita) dipanggil mbak oleh supir gojeknya.

Kuncinya adalah luwes dengan konsumen, tidak kaku, suka ngasih lebih dan yang terpenting lagi adalah semua itu dilakukan dengan tulus, bukan sekedar gimmick marketing. Soalnya modus-modus marketing itu mudah kebaca sama konsumen. Jadi memberilah secara tulus, seperti membisikkan ke telinga customer kita,"Aku padamu".

Keluwesan ini tentunya harus diikuti dengan penyediaan kualitas produk/jasa yang excellent, mengikuti tren, update terhadap maunya konsumen yang kita sasar, sehingga ketulusan kita semakin paripurna, membuat konsumen akan semakin sayang kepada kita.

Seorang inbound marketing, Sam Ipul, seorang konsultan marketing, punya sebuah grup edukasi seputar inbound marketing. Hebatnya, sam Ipul adalah selama setahun gak pernah jualan jasanya di grup, tetapi ngasih terus secara konsisten edukasi-edukasi marketing yang tentunya sangat manfaat banget bagi seluruh member grup.

Dan sekarang, kayanya gak ada pengusaha startup atau biasa disebut UKM yang gak kenal Sam Ipul. Sekarang sam Ipul adalah salah seorang dibalik kesuksesan evapora, perusahaan jasa pendidikan bisnis yang dibiayai corporate besar. Determinasinya luarbiasa, memberinya tulus dirasa, konsisten dengan tetap berkualitas sesuai kebutuhan member-membernya.

Jadi ternyata ketulusan dalam memberi adalah salah satu sebab mendatangkan profit yang sustainable. Dari siapa? ya dari konsumen yang merasa dibaikin pasti merasa harus membalas kebaikan itu, inilah yang disebut *konsep reciprocacity*. Kenapa harus tulus (ikhlas karena Allah)? karena kita muslim, agar bukan hanya profit dunia yang kita dapat tapi juga antahshula ajril ukhrowiy (mendapatkan pahala akhirat).
Ada seorang sahabat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berkata, “Budakku selalu menyakiti hatiku dan berbuat zalim kepadaku. Apa boleh saya pukul saja dia?”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
“Kamu maafkan dia 70x dalam sehari.”
(HR. Ahmad No.5635)
*MUTIARA PARA ULAMA*

Hamdun bin Al-Qishor Rahimahullahu Ta’ala pernah ditanya :
ما بال كلام السلف أنفع من كلامنا
“Apa yang membuat ucapan para salaf lebih bermanfaat dari pada ucapan kita?

Beliau menjawab :
لأنهم تكلموا لعز الإسلام ،و رضى الرحمن.. و نحن نتكلم لعز النفوس ، و طلب الدنيا ، و رضا الخلق

“Karena mereka berbicara dengan tujuan untuk mewujudkan kemuliaan islam dan mengharapkan keridhoan Allah Azza wa Jalla. Sementara kita berbicara dengan tujuan untuk mendapatkan kemuliaan diri sendiri mencari dunia dan mengharapkan keridhoan manusia.
*BATCH 2 Sekolah Konselor Keluarga*, Ahad, 27 Februari 2022, pukul 13.00 WIB : https://fb.me/e/59n1dO4hl, yuk dikomenin eventnya, biar rame dan bisa viral acara dan program ini *SEKOLAH KONSELOR KELUARGA*
Jika ada ketaatan dan kemaksiatan, hal ini tidak disebut fitnah. Ini disebut maksiat dan dosa.

Fitnah adalah saat tidak bisa membedakan antara yang benar dan salah. Lalu apa yang kita lakukan?

Allah Ta'ala berfirman:
_*Barangsiapa berpegang teguh kepada Allah, maka ia akan diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Ali Imran:101)

Berpegang teguhlah kepada Allah. Di antara cara menjauhi dampak buruk fitnah adalah bertanya kepada para ulama yang mengajak manusia kepada kitab dan sunnah.

Nabi bersabda:
'aaidzan billahi minal fitan
_*Ya Allah, lindungi aku dari fitnah. (HR. Bukhari no.7089)

Allah berfirman:
_*Jika ada berita keamanan atau ketakutan, mereka langsung menyebarkannya. Jika mereka mengembalikan kepada Rasul dan Ulil Amri, pasti akan ada yang bisa beristimbath. (QS. an Nisaa:83)

Siapa yang beristimbath? Ulama. Apa makna istimbath? menyimpulkan hukum dari al Quran dan sunnah Rasulullah SAW.

Inilah benteng dari fitnah (almalaadzu 'indal fitan). Adapun kemaksiatan, maka itu jelas bukan fitnah lagi. Caranya dengan melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.
Asas Kewarisan

1) IIJBARI, artinya wajib mengikuti apa kata Al Quran dan Hadits, gak boleh bkreasi
2) ADIL DAN MERATA,
3) HUBUNGAN KEKELUARGAAN
4) SKALA PRIORITAS
Pembagian kategori ahli waris

Ahli waris gharawain tanpa anak
Istri 1/4
Ibu 1/3
Ayah ashobah

Pembagiannya 3/12, 4/12 dan 5/12
Krn utk memenuhi keadiilan menjadi
3
3
6 bagian ayah

Suami 1/2
Ibu 1/3
Ayah ashobah
Bagiannya
6/12
4/12
2/12

Kemudian disesuaikan jadi
6
2
4
*KADAR MINIMAL ILMU AGAMA SESEORANG*

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan menjelaskan bahwa kadar minimal ilmu agama seseorang adalah yang bisa membuat agama seseorang itu tegak, seperti tentang sholat, zakat, puasa dan haji. Rukun Islam.

Semua ilmu di atas hukumnya adalah fardhu 'ain bagi seorang muslim.

Adapun selebihnya , maka itu adalah ilmu yang hukum mempelajarinya fardhu kifayah. Apabila sudah ada pakar ahli yang mencukupi maka gugur dosa dari muslim lainnya. Contohnya seperti ilmu muamalah, ilmu waris, ilmu hukum sampai akhir dari kitab fiqh.

Ini semua hukumnya faardhu kifayah, apabila sudah ada ahli yang mencukupi kebutuhan kaum muslimin, maka muslim lain gugur tanggungannya.
*Contoh dan Rujukan keluarga Terbaik Bagi Muslim*

Sebagai seorang mukmin, hendaknya kita terus berdoa untuk kebaikan diri dan keluarga, sehingga dari kebaikan itu melahirkan kecintaan dari pasangan dan anak-anak, menjadi Qurrata a'yun bagi mereka, penghuni rumah kita. Inilah kandungan firman Allah:
*_Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."_* (QS. al Furqon:74)

Selain sebagai Qurrata a'yun, Allah menitipkan pesan lain, yaitu tentang kepemimpinan. Allah menitipkan pesan kepemimpinan ini di setiap keluarga muslim. Jadi semestinya tema kepemimpinan sudah ditanamkan sejak dini oleh pasangan-pasangan muslim, tatkala mereka dikaruniai anak oleh Allah SWT. Agar lahir seorang pemimpin umat kelak, yang memang sudah disiapkan di dalam keluarga. Hari ini kita krisis pemimpin, sebabnya karena keluarga-keluarga muslim tidak memasukkan tema kepemimpinan ini di dalam visi keluarganya.

Bicara keluarga, maka sudah jelas, ALlah menjadikan laki-laki (suami) sebagai Qowwam (pemimpin). Ini artinya suami adalah pemimpin, pendidik, yang memperbaiki jika ada yang salah, menjadi hakim, dan menjadi tempat sandaran terbaik. Itulah makna yang terkandung di dalam kata Qowwam.

Ada dua syarat seorang Qowwam:
1) Memiliki kelebihan.
2) Menafqahkan sebagian hartanya

*_Laki-laki (suami) itu Qowwam bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar._* (QS. an Nisaa:34)

Maka ketika ingin membangun rumah tangga yang baik, makna yang dikandung kata Qowwam harus benar-benar dipahami seorang laki-laki, juga dipahami oleh pasangannya (istri).

Kemudian apa kedudukan istri? di surat an Nisaa ayat 34 di atas, Allah menyebut istri dengan kata Shalihat (wanita shalihah). Ada dua syarat bagi wanita shalihah:
1) Qoonitat, artinya wanita yang tunduk pada aturan Allah, taat pada suami
2) Haafidzaat, artinya wanita yang menjaga dirinya, menjaga kehormatan diri dan suami.

Inilah dua syarat rumah tangga bahagia, yang telah Nabi contohkan untuk kita praktekkan di dalam keluarga kita.

Jangan aneh, ketika rumah tangga terdiri dari suami yang menjadi qowwam dengan segala maknanya, kemudian istri yang shalihah dengan dua syarat di atas, tidak akan ditemui masalah-masalah rumah tangga yang pelik, ruwet, kisruh yang dialami kebanyakan rumah tangga yang tidak menghadirkan suami sebagai qowwam dan istri yang tidak shalihah.

Qowwamah yang berdiri tegak di dalam keluarga, diiringi dengan istri yang shalihah yang tunduk dan patuh pada aturan Allah serta senantiasa taat pada suami, akan melahirkan anak-anak berkualitas pemimpin, yang kelak menjadi pemimpin bagi orang-orang bertaqwa.

Bukan berarti konflik menjadi tidak ada, tetapi keluarga yang tegak di atas fondasi ini, akan melihat contoh nubuwwah, teladan keluarga Nabi, dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap permasalahan. Keluarga Nabi SAW adalah contoh keluarga sukses dari semua lini. Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan beliaulah yang paling baik kepada keluarganya. Maka bercermin dan ambillah contoh dari keluarga Nabi, dari semua lini kehidupan keluarga kita. Semua ada contohnya pada keluarga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

_*Allahumma shalli wa sallim wa baarik 'alaihi*_
*KEBERKAHAN DAN KEBAIKAN UNTUK PENGANTIN*

_Kalau kita menghadiri acara akad nikah, acara yang sakral itu, apa ucapan kita untuk saudara atau teman yang menikah itu?._

Ternyata ini sesuatu yang diajarkan Nabi, dan ternyata masih banyak yang harus kita koreksi.

Imam Hajar Asqolani dalam Fathul Bari, beliau mengatakan bahwa dahulu ada ucapan yang biasa diberikan orang-orang jahiliyah, tapi itu sudah dilarang, kata beliau. Sebagaimana yang disampaikan oleh seseorang dari Bani Tamim dalam riwayat Nasai dan Tabrani. Beliau berkata:
كنا نقول في الجاهلية بالرفا والبنين
Dulu kami waktu jahiliyyah, kalau ada yang menikah kami ucapkan doa Birrofaa artinya akur, tenang, damai dan anak laki-laki. Ini artinya mereka berdoa semoga kalian akur, tenang, damai dan punya anak laki-laki.

فلما جاء الاسلام علمنا نبينا
Ketika Islam datang kami diajari oleh Nabi kami:
قال قولو بارك الله لكم وبارك فيكم وبارك عليكم
Kata Nabi kami katakan, ucapkan, doakan, semoga Allah memberkahi bagi kalian, memberkahi untuk kalian, memberkahi atas kalian.

Ternyata ucapan selamat itu diatur dalam Islam untuk pernikahan. Dan ternyata sudah diganti oleh Nabi Saw, ucapan selamat untuk saudara kita yang sudah menikah. Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda:
أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا رَفَّأَ إِنْسَانًا إِذَا تَزَوَّجَ قَالَ بَارَكَ اَللَّهُ لَكَ , وَبَارَكَ عَلَيْكَ , وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْر.
Kalau ada seseorang yang menikah maka katakan: Hendaknya dia berkata/berdoa: Semoga Allah memberkahi untukmu, semoga Allah memberkahi atasmu, semoga Allah mengumpulkan kalian di dalam kebaikan.

Apa makna dari kalimat ini? Abul Hasan al Mubarakfuri dalam Mar-atul mafaatih, dia berkata,"Kalimat yang pertama Baarakallahu laka, dia menukil kata al Qori, yang dimaksud adalah ini doa khusus untuk pengantin, di mana semoga mereka diberi keberkahan, berkembang, bertambah dan bahagia.

Adapun doa kedua wa baaraka 'alaika atau 'alaikumaa, semoga Allah memberkahi atas kalian berdua adalah dengan turun karena dari atas, turunnya kebaikan, rahmat, rizki dan barakah pada keturunan. Jadi doa bukan untuk pengantin tapi untuk yang akan datang setelah mereka yaitu keturunan mereka.

Dan doa yang ketiga adalah maksudnya mengumpulkan mereka dalam kebaikan, ketaatan, kesehatan,keselamatan, akur, damai, rumah tangga yang baik dan keturunan yang banyak. Begitu yang dijelaskan al Qori dalam kitab Mar-atul Mafaatih.

Maka ini menjadi pelajaran sangat amat mahal. Mari kita ganti ucapan selamat kita untuk saudara atau teman kita yang menikah. Hilangkan ucapan-ucapan yang bukan dari Nabi Saw. Apa artinya selamat berbahagia, apa arti semoga segera mempunyai keturunan, semoga lapang rezekinya.

Memang rumah tangga memerlukan itu semua. Rumah tangga perlu bahagia, perlu keturunan, perlu rezeki. Tetapi ternyata betapa banyak rumah tangga, punya rezeki, punya anak, tetapi toh ternyata pecah juga. Karena ini kunci pertama yang hilang dari kita.

Maka bekalilah saudara kita, teman kita yang baru saja mengucapkan sumpah setianya atas nama Allah dalam ikatan pernikahan agar mereka diberikan dua hal:
1) Keberkahan dan
2) Kebaikan

dan ini menggantikan dua doa jahiliyyah yaitu arrofaa dan albaniin.

Karena itulah maka mari kita ganti ucapan dengan keberkahan dan kebaikan agar rumah tangga yang menikah, kita modali bahkan sebelum malam pertama mereka dengan keberkahan dan kebaikan.

بارك الله فيكم

والله اعلم با لصواب

(Ust. Budi Ashari)
Waqful Fuqohaa (Wakaf untuk para 'Ulama)


_*Para 'ulama fokus untuk menuntut ilmu, mengarang buku dan mengajarkan kepada masyarakat, kemudian kehidupan mereka ditopang dari wakaf-wakaf produktif*_


Rasulullah SAW istri tidak satu, anak juga tidak satu. Ketika Nabi diangkat ALlah menjadi Rasul, aktivitas mencari uang sudah berhenti karena waktunya sudah habis untuk berda'wah. Pertanyaannya, kalau begitu dari mana Nabi mendapatkan ma'isyahnya? Nabi SAW, beliau mendapatkan harta dari berbagai macam cara yang disiapkan syariat. Fai itu disediakan untuk Nabi, 1/5 ghanimah dipersilahkan Nabi untuk mengaturnya, hadiah-hadiah dari para shahabat. Tetapi Nabi dilarang mengambil sebagian dari harta syariat yaitu zakat dan shodaqoh. Nabi dan keturunannya dilarang mengambil itu.

Maka Nabi SAW diberikan hak untuk itu. Dan inilah yang justru menjadi konsep besar bagi muslimin berikutnya , di peradaban Islam bahwa muslimin menyiapkan *WAQFUL FUQOHAA* yaitu wakaf untuk para 'ulama.

(Ust. Budi Ashari)

Mari kita topang kehidupan para 'ulama, karena dengannya kehidupan masyarakat secara luas menjadi lurus, terjaga dari segala ketidakbaikan, bumi menjadi makmur, seluruh isi bumi menjadi sejahtera, manusia, batu, pohon, tanah dan seterusnya.
*PENTINGNYA ILMU*


Kuasai ilmunya, maka kita akan menjalaninya dengan fokus dan terarah dan tidak merasakan kelelahan atau minimal lelah dibanding tanpa ilmu. ini dalam bidang apapun termasuk mendidik anak di keluarga. Mendidik anak itu lelah dan melelahkan, ditambah mendidiknya tanpa ilmu.

Waktu anak masih kecil, rewel, nangis tengah malam, gak tahu waktu, orangtuanya baru saja merem, wong anaknya bangun minta susu, ya kan? gak lama kemudian berikutnya sakit, lelah.

Didik anak gedean dikit salah gaul, bapak ibunya gara-gara anaknya bilang perlu komunikasi dikasi HP, kecanduan game, mulai kenal anak gadis orang, mulai berani bawa anak orang, berduaan, bapak ibu kuatir, apalagi bapak ibu si anak perawan, takut MBA, sampai kemudian kejadian, si anak malu, menutup diri dari orangtuanya, dan akhirnya suicide (berita viral belum lama ini), wal'iyaadzubillah, semoga kita terhindar dari ini semua. Bukan hanya melelahkan namun juga mengkhawatirkan.

Begitulah memang, kalau kita tidak tahu ilmunya, seperti apa yang dikatakan Nabi Khidir dalam surat al Kahfi ayat 68:
*_Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai ilmunya?"_*

Jadi kalau kita tidak mempunyai ilmunya dalam mendidik anak, cape menjalaninya juga mengkhawatirkan. Sampai ada yang putus asa dalam mendidik anak. Karena apa? LELAH.

Kalau ingin punya kesabaran yang tinggi dalam mendidik anak, kuasai ilmunya, yaitu Ilmu mendidik anak.

*_Semangat pagi_*
*_Semangat untuk terus belajar_*
*_Jangan ampe kendor_*
*CUPLIKAN SIRAH*

Persia Romawi, begitu dzalimnya peradaban itu, saat di zaman shahabat Nabi SAW, Rasul sudah wafat kemudian masa penaklukan Persia zaman kekhalifahan Umar ibn Khattab ra.

Saat sudah berhadapan antara dua panglima (panglima muslim dan panglima Persia), muslimin mengutus salah satunya Rib'iy bin Amir, bertemu dengan panglima Persia, Rustum. Terjadi dialog. Apa yang terjadi? di antara kalimat yang terkenal, Rib'iy bin Amir menyampaikan:

*_Kami datang ke sini untuk mengeluarkan kalian dari peribadatan kepada hamba, kepada peribadatan yang menyembah yang menciptakan hamba, untuk mengeluarkan kalian dari dzalimnya agama-agama, untuk menuju keadilan Islam. Untuk mengeluarkan kalian dari sempitnya dunia ini menuju luasnya dunia dan akhirat._*

Salah satu kalimat yang menarik lainnya dari Rib'iy bin Amir adalah tidaklah kami datang ke sini kecuali karena kedzaliman kalian.

(Ust. Budi Ashari)